Sudahkah Kita Merdeka Belajar?

Komunitas Guru Belajar Makassar mengadakan kegiatan Temu Pendidik Daerah dengan tema “ Merdeka Belajar “ pada Kamis, 20 Juni 2019 di Kafe Temang. Kegiatan  tersebut diawali dengan nonton bareng video narasumber Najelaa Shihab, lalu dilanjutkan dengan diskusi bersama yang dipandu moderator Emi Hardiyanti yang akrab disapa miss Emy.  Acara tersebut berlangsung sejak pukul 16.00 Wita – 18.00 WITA. Miss Emy membuka diskusi dengan kalimat “Sudahkah kita merdeka belajar? lalu bagaimana anak dapat merdeka belajar?” Yang kemudian direspon oleh para peserta dengan cukup antusias.  Salah seorang peserta mengatakan bahwa menjadi guru yang paling penting adalah seorang guru harus merasa merdeka terlebih dahulu karena kalau tidak ada rasa itu dalam diri seorang guru pasti akan menimbulkan kendala. Katanya, saya berkegiatan dengan anak-anak berkebutuhan khusus, dan buat saya kelas reguler dan berkebutuhan khusus sama. Alhamdulillah saya banyak sepakat dengan konsep dari sekolah cendikia  karena dari awal kami telah melaksanakan ujian berbasis oriented. Demikian halnya dengan ibu Nurfadilla, dari SMK YPLP mengatakan mengenai masalah pendidikan. Saya dan beberapa teman saya di Pascasarjana berdiskusi dengan dosen, menemukan ada masalah dalam sistem pendidikan kita. Oleh karena itu, sebagai anak muda yang berusaha ingin menyelesaikan masalah pendidikan yang benar-benar konflik, saya dan teman-teman sedang menyelesaikan proyek konten pembelajaran berbasis psikologi. Jadi kita membuat konten pembelajaran sesuai dengan karakteristik kekuatan pembelajaran anak.  Apa yang menjadi kekuatannya serta apa yang menjadi kelemahannya. Guru Usman Djabbar juga mengatakan bahwa apakah selama ini proses belajar mengajar kita di hari pertama sekolah langsung gas materi?. Jika demikian, saya bisa bayangkan betapa stresnya anak-anak di hari pertama sekolah.  Mengubah pertanyaan anak-anak dari How to menjadi Why. Menurut Usman Djabar, guru merdeka belajar adalah guru yang mampu mengubah pertanyaan How to menjadi why.  Tidak jauh berbeda dengan guru Erni Marlina, guru SMK 7 Makassar, mengatakan miskonsepsi yang harus kita pecahkan di kelas ketika anak terpakem bahwa dia sebenarnya butuh nilai. Kalau guru mampu membangun keyakinan bahwa sebenarnya belajar untuk masa depan maka tanpa disuruh pun mereka akan belajar, tapi yang selama ini terjadi karena mereka akan belajar karena membutuhkan nilai dan hal tersebut yang harus diubah. Riset juga membuktikan bahwa mereka yang unggul secara akademis mungkin susah menyesuaikan diri dengan orang lain kenapa karena mereka cenderung mengabaikan yang lain. Ketika kita menerima rapor jangan melihat deretan angka yang ada di rapor tetapi ketika kita bertanda tangan tutup rapor kemudian berikan apresiasi kepada anak kita. Kenapa karena kadang kita juga orang tua egois selalu mengukur prestasi dari apa yang ada di rapornya. Saya rasa mari kita bersama-sama memberikan sugesti-sugesti positif ini kepada anak-anak kita, kepada orang tua kita dan kepada diri kita sendiri karena kita adalah orang tua  di rumah dan orang tua di sekolah bahwa pendidikan itu atau belajar itu harus terus menerus dilakukan bukan untuk mengejar nilai tetapi bagaimana pelajaran itu kita butuh karena kenapa ? ketika anak-anak merasa bahwa dia membutuhkan pelajaran itu maka tanpa disuruhpun dia akan termotivasi. Saya memberikan contoh salah satu sekolah di Malaysia, sekolah di Malaysia itu terbalik dengan kita. Kalau kita menunggu anak-anak di depan pagar dan segala macam untuk dia menyalami. Sekolah itu justru anak-anak yang menunggu dan menyalami gurunya. Mereka berbaris di depan kelas kemudan menunggu gurunya masuk. Saya sangat merindukan itu apakah kemungkinan suatu saat nanti di Indonesia atau di sekolah kita sendiri bisa terjadi. Guru Luktfi Alam mengatakan bahwa tanpa bertanya saya harapkan adalah bagaimana hubungan guru dan pesera didiknya. Makanya rekan-rekan guru menyiapkan hal yang administratif. Sebagai contoh ; sebelumnya pemerintah mengambil alih kelulusan tetapi tiga tahun belakangan pemerintah telah mengembalikan kelulusan ke sekolah, semestinya pihak guru dan sekolah memahami sebenarnya hal tersebut apa esensinya . Bahwa sebenarnya kurikulum nasional telah memberikan sinyal untuk merdeka belajar contohnya peniadaan rangking, pengembalian kelulusan ke satuan pendidikan dan perangkat-perangkat pembelajaran yang lain, hanya saja pihak guru dan pihak sekolahnya saja yang biasa kurang paham apa sih maksud kurikulum meniadakan ranking? padahal maksudnya adalah bagaimana setiap anak itu semua punya potensi. Apa coba maksudnya pemerintah mengembalikan kelulusan ke satuan pendidikan,, yah pihak sekolah diberikan kemerdekaan untuk mengapresiasi muridnya. Mengapa kurikulum menginstruksikan agar penilaian sebaiknya lebih banyak portofolio itu tidak lain agar penilaian menjadi utuh yg mampu merekam aktifitas pelajar secara komprehensif, Nilai 80 yang dilengkapi dengan narasi dan catatan yang merekam potensi murid lebih bermakna dibanding dengan nilai 95 tanpa keterangan, diam,membisu. Demikian halnya dengan guru Maurensyiah yang akrab disapa Permata Hati guru SMK Darussalam “hal yang pertama kita harus lakukan sebelum memerdekakan anak-anak dalam belajar adalah memerdekakan diri sendiri terlebih dahulu. Bagaimana caranya ? lepaskan beban-beban administratif, perasaan harus sama dengan orang lain, cukup menjadi diri sendiri jika ingin menjadi Guru Merdeka Belajar, karena mengajar itu bukan menyenangkan manusia dalam hal ini kepala sekolah tetapi mengajar bagian dari amanah yang kelak akan kita pertanggungjawabkan di akhirat, jadi mengajarlah dengan ikhlas  untuk memanusiakan manusia”  Diskusi ditutup oleh moderator dengan kutipan dari narasumber Najelaa Shihab “Guru tidak bisa belajar sendiri”-“Ciri Guru Merdeka Belajar adalah Komitmen akan tujuan, Guru yang mandiri, dan Guru yang Bercermin (refleksi)”.  Pendidikan, dalam hal ini pendidikan di sekolah, pada era modern (atau postmodern) ini memiliki tantangan yang lebih berat daripada masa sebelum tahun 2000-an. Pada masa dahulu, seperti masa kita sebagai guru berada pada posisi murid kita, bersekolah adalah bagaimana agar murid dapat melanjutkan pendidikan pada tingkat universitas atau secepatnya mendapatkan pekerjaan selepas sekolah menengah atas. Sekolah menjadi tempat bagi pembentukan, dengan term Althusser, know-how. Sekolah menjadi perpanjangan tangan pemilik modal bagi penyiapan tenaga-tenaga kerja potensial yang kelak akan digunakan oleh pemilik-pemilik modal tersebut melanjutkan nafas perusahaannya. Apakah pada saat ini, di era milenium, peran sekolah sebagai ladang penyemaian bibit-bibit potensial bagi tenaga kerja dalam sistem kapitalistik sudah tidak terjadi lagi?. Sayangnya, hal tersebut masih berlanjut, bahkan lebih parah lagi. Persaingan ekonomi global, terutama pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean, menjadikan sekolah-sekolah semakin giat dalam mereproduksi tenaga kerja dengan spesifikasi keahlian kualitas tinggi. Pertanyaannya, apakah hal tersebut adalah sesuatu yang salah?. Menjawab “ya” atau “ tidak” secara bulat bukanlah jawaban yang pas. Pada kenyataannya realitas adalah campur aduk antara benar dan salah. Kenyataan dunia yang semakin kapitalistik, tidak serta merta diikuti sekolah dengan mereproduksi … Read more

Guru-guru yang Resah Belajar Bersama

Enggan dipanggil ibu. “Panggil Miss saja pak”, tulisnya di WA. Awal maret saya mengajaknya menjadi pembicara Temu Pendidik Daring di KGB Makassar. Sebagai pembelajar sejati, beliau bersedia. Bagaimana guru menggunakan aplikasi google sebagai media pembelajaran di kelas.  Begitulah awal mula perkenalan saya dengan miss Emy Hardianty, salah satu pengajar di Lazuardi Athaillah GIS Makassar.  Miss Emy memiliki kerisauan yang sama dengan kawan-kawan di Komunitas Guru Belajar Makassar. Bahwa guru yang berhak mengajar sejatinya adalah mereka yang tidak berhenti belajar. Resah dengan kemerdekaan belajar. Guru yang merdeka adalah mereka yang paham kenapa harus mengajar. Hanya guru yang merdeka yang bisa memerdekakan murid-muridnya: kenapa harus belajar.  Masih muda, penuh energi. Pandanglah akun media sosialnya. Bejibung kegiatan belajar terpampang di sana. Saya salah satu pengikutnya.  “Berani gak Lazuardi menjadi tuan rumah Temu Pendidik Daerah bulan depan?” “Siap. Saya konsultasikan dengan pihak sekolah pak. Saya kabari kembali.” Tidak butuh waktu lama. Keesokan harinya, saya dikabari: Lazuardi siap menjadi tuan rumah. “Apa yang harus kami persiapkan?” “Hanya butuh ruangan dan media belajar lainnya. Konsumsi akan disiapkan masing-masing peserta.” “Baik pak. Kami persiapkan.” —- Sabtu, 27 April 2019.  Kelas dibagi tiga. Kelas pertama diampu oleh bapak Abdur Rahman, analis mutu pendidikan LPMP Sulawesi Selatan. Selain di LPMP, pak Rahman juga aktivis Cegat Makassar. Tahun lalu, KGB Makassar dibawakan narasumber dari Australia. Mr. Brandon. Melalui jaringan lembaganya.  Materinya keren: mencari keterampilan hidup di sekolah. Materi ini juga hasil penelitiannya di berbagai sekolah yang kemudian dia tulis dalam satu tulisan menarik: runtuhnya sekolah kami. Bahwa sekolah tidak lagi menjadi benteng kreativitas anak. Anak hanya sebagai objek pelampiasan materi. Kawan-kawan guru merasa hanya berkewajiban menuntaskan seluruh seluruh materi di ruang kelas. Anak hanya berkewajiban datang dan mendengarkan di sekolah. Mereka dikondisikan belajar tanpa tahu untuk apa mereka belajar. Ada ruang yang hampa.  Pak Ammank juga sedikit mengomentari tentang berbagai program yang terkesan dadakan, penuh citra. Misalnya program literasi atau sebutlah program pendidikan karakter. Kesannya di sekolah adalah program tersebut sesuatu yang terpisah dari kegiatan sekolah. Program literasi dan pendidikan karakter itu seakan bukan tujuan sekolah. Padahal bukankah aktivitas sekolah diperuntukkan untuk literasi dan pendidikan karakter?? Kualifikasi pekerjaan anak-anak kita di masa depan sudah tentu berbeda dengan kualifikasi hari ini. Untuk mengakses itu, dibutuhkan dua belas jenis keterampilan. Mulai dari manajemen diri sampai kemampuan diplomasi yang tinggi. Saya belum melihat wilayah ini dikuatkan di ruang kelas.  “Hari ini saya bersyukur dipertemukan dengan kawan-kawan guru dengan keresahan yang sama. Percayalah bahwa langkah kawan-kawan KGB sudah di jalur yang tepat.” Pemaparan pak Ammank mengingatkan saya dengan tulisan ibu Najelaa di surat kabar guru edisi ke 20. Bahwa guru sudah merasa nyaman mengajar tapi anak belum tentu merasa nyaman belajar. Ada kutub yang berlawanan. Tujuan guru belum sinergi dengan tujuan peserta didik. Problem mendasar yang harus diretas secepatnya.  Kelas kedua diisi oleh pak Asrar, kepala SMA Negeri 2 Makassar. Awalnya saya sangsi. Seorang kepala sekolah mau datang berbagi dengan guru-guru. Gratis lagi. Tapi kawan penggerak, ibu Anita Taurisia Putri terus meyakinkan: “Percayalah. Saya sudah menghubungi beliau dan bersedia. Malah beliau sangat senang karena ada komunitas guru yang berminat melibatkan kepala sekolah dalam kegiatan belajar.” Penelitian Tindakan Kelas. Dua pertimbangan. Pertama, dinas pendidikan provinsi Sulawesi Selatan lagi semangat-semangatnya memerangi PTK yang ditengarai palsu.  Di beberapa tempat, bapak kepala dinas pendidikan selalu menyuarakan ini. Sungguh ironis, seorang guru yang mengabarkan kejujuran dan budi baik malah menjebak dirinya sendiri dengan perilaku yang kurang terpuji: pemalsuan PTK. Pesan berantai di beberapa kanal media sosial isinya begini: naik pangkatlah secara terhormat.  Kedua, menindaklanjuti materi daring yang pernah disajikan guru Nur Rahma Sangkala. Nur Rahma pernah berbagi praktik tentang lesson study hasil pengalamannya di International School of Utrecht Belanda. Dengan Lesson Study maka guru dapat melihat pembelajaran murid lebih detil; mencari tahu apa yang guru duga dengan apa yang murid pelajari; mencari tahu bagaimana merencanakan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan murid dan juga mengubah praktik mengajar guru.  Keempatnya disajikan dalam model penelitian tindakan kelas. Nah, kawan-kawan KGB Makassar tidak ingin kehilangan kesempatan mempelajari keempatnya. Pak Asrar sangat paham materinya. Nilai tambahnya adalah kehadiran pak Asrar di KGB kemudian mengubah sedikit cara pandang saya terhadap laku kepala sekolah. Narasumber ketiga adalah pak Amal Hasan. Leader of Google Educators Group Sulawesi Selatan. Saya tidak kenal beliau sebelumnya. Sehari sebelum kegiatan, adiknya, Husni Hasan kirim pesan.  “Salam sama narasumbernya ya. Sibuk semuami. Tidak teman, tidak kakak, samaji semua sibuknya”, tulis Unny setelah lihat status saya di WA. Baru ketahuan mereka saudara. Husni Hasan itu kawan saya di kampus. Beda jurusan.  Begitulah KGB digerakkan. Percaya dengan kekuatan jaringan. Miss Emy berkawan dengan pak Amal. Karena mudik, akhirnya KGB Makassar juga sudah berkawan. Kawan guru, apa saja yang dipaparkan pak Amal? Saya tersentak. Guru menganjurkan, mengajarkan tentang pentingnya keterampilan kolaborasi pada anak didiknya. Sayangnya, sang guru juga belum terampil mengelola kegiatan kolaborasi di sekolahnya. Jleb.  Guru jalan sendiri-sendiri. Mengajar sendiri-sendiri. Menilai sendiri-sendiri. Mereka bicara bersama hanya pada waktu-waktu tertentu. Pada saat rapat sekolah salah satunya. Selebihnya, ya jalan sendiri-sendiri.  “Google sudah menyiapkan berbagai teknologi kolaborasi untuk di sekolah. Sayang sekali kalau tidak dimanfaatkan.”  Karena materi ini banyak, kami minta kesediaan narasumber untuk mengenalkan satu persatu teknologi itu. Sebutlah dengan pendalaman materi. Dilain kesempatan dengan waktu yang lebih banyak.  Akhirnya ucapan terima kasih kepada kawan-kawan guru di Lazuardi Makassar. Semoga pertemanan ini menjadi kekuatan untuk menggerakkan lebih banyak lagi guru yang merdeka belajar.

KGB Makassar : Membaca Bawakaraeng (Bagian 2)

Jumat, 1 Maret 2019 10Coffe. Coffeshop. Letaknya depan gerbang ke Royal Sprint, jalan Arupala. Tempatnya tidak terlalu luas, tapi lumayanlah untuk pertemuan yang direncanakan tiba-tiba. Menjelang magrib, kami bertemu di sana. Pak Amran Azis bersama istrinya. Saya kembali berdua dengan Wawan Rurung. Saya pesan kopi susu. Tebal atau tipis? Pilih yang tipis. Akhir-akhir ini tidak kuat lagi dengan yang tebal. Saya juga fakir dengan menu yang lain, walaupun tersedia. Ada Espresso, Capuccino, Latte, Moccacino, Macchiato dan berbagai varian cafe lainnya. Bagiku, ini Makassar bung. Menumu boleh variatif. Racikan kopimu juga boleh beragam. Tapi ingat hukumnya: kopi susu mesti sajian utama. Jika ingin bertahan lebih lama. “Baiklah dinda. Selain koordinasi peserta, apa lagi yang bisa saya bantu”?, tanya Pak Korwil Tinggimoncong. “Hmm. Begini kanda. Kami hanya bisa siapkan narasumber. Ruangan jadi tanggung jawab teman-teman di SMA 4 Gowa. Konsumsi biasanya ditanggung bersama. Budaya yang terbangun selama ini di komunitas guru adalah barengan. Apa saja diupayakan bersama-sama. Konsumsi salah satunya”, jawabku. “Kalau begitu konsumsi saya yang siapkan. Peserta cukup datang belajar saja”, ucap Pak Amran kembali. “Jika ada waktuta, singgah di dinas pendidikan kabupaten untuk menyampaikan kegiatan ini. Hanya mengabarkan saja.” “Siap, kami usahakan.” Setelah persiapan tuntas dibicarakan, kami bubar. Pak Amran pamit kembali ke Malino, kami pun balik ke Pallangga. Dengan perasaan yang penuh. Riang gembira. Kawan, apa yang lebih menggembirakan bertemu dengan sekutu baik hati seperti Pak Amran? Betapa menyenangkannya bercakap dengan guru yang paham tujuannya. Di perjalanan pulang, saya bahagia mendengar Bono dan kawan-kawannya: Beatifull Day. … It was a beatiful dayDon’t let it get awayA beatiful dayTouch me, take to that other placeReach me, sweety, I know I’m not a hopeless case. —Tiga hari sebelum kegiatan, kami mengunjungi dinas pendidikan kabupaten. Janji harus dipenuhi. Mengabarkan pesan seperti permintaan kawan kami. Tiga hari sebelum kegiatan, kami mengunjungi dinas pendidikan kabupaten. Janji harus dipenuhi. Mengabarkan pesan seperti permintaan kawan kami. Luar biasa. Pak kepala dinas pendidikan menerima kami sebaik-baik tamu. Sebagai bentuk dukungan, Wawan Rurung minta jepret-jepret bareng Pak Kadis. Peranku jelas. Tukang foto. Eh, tanpa sengaja, pandangan kami tertuju pada salah satu gambar di ruangan Pak Kadis. Di gambar itu ada Ibu Elaa, Ibu Nisa Felicia, Pak Hamid Muhammad, Pak Kamaruddin dan Pak kadis waktu menjadi pembicara di beranda PSPK jilid XI. Ya, cerita memanjang kembali. Jumat, 8 Maret 2019. Perjalanan ke Malino kali ini terasa lebih panjang. Lebih lama dari tahun-tahun sebelumnya. Beberapa ruas jalan nampaknya butuh perbaikan. Paling parah di sekitar Mala’lang. Tampak para pekerja sibuk membersihkan sisa-sisa longsoran yang menumpuk di ruas jalan. Kami tiba juga di Malino. Jumat malam. Bukan malam jumat. Di depan hotel Celebes Malino, laju kendaraan saya perlambat. Tepat di samping hotel itu kediaman pak Sanusi. Rumahnya saya sebut dengan rumah kopi. Sebelas tahun menyesap kopi, belum ada yang bisa kalahkan aroma dan rasa kopinya. Kopi arabika bisa tumbuh di banyak tempat, ditanam oleh siapa saja. Tidak dengan proses pengolahannya. Butuh ketelatenan, pengalaman dan kemurnian hati. Tidak boleh serampangan. Bara apinya dijaga betul, matangnya mesti merata, tungku dari tanah. Di rumah kopi, tidak sah minum kopi jika tdak ada penganan pisang goreng. Percayalah, pisang gorengnya khas. Anda tidak akan menemukannya di tempat lain. Mengolah pisang hanya sebagian dari keramahan yang dimiliki Dg Lela, istri pak Sanusi. Kami tidak singgah. Besok saja. Di halaman rumahnya masih terparkir motor bebek honda 700 warna merah. Itu sudah cukup menanda bahwa Pak Sanusi sekeluarga baik-baik saja. Rombongan kami langsung ke Puskesmas Tinggimoncong. Depan puskesmas itu pernah mangkal penjual sate madura yang enak. Saus kacangnya kental. Sayang sekali, malam itu tidak lagi ditemukan di sana. Mungkin pindah ke tempat lain. Mungkin sudah tutup. Mungkin juga sudah pulang kampung. Di sini, agak susah menemukan jajanan semacam itu setelah salat Isya. Ada sih, jagung bakar di hutan pinus. Tapi untuk romantisme, kesannya terlalu biasa. Pak Yusuf Islam menelpon. “Dg Kio, posisi di mana sekarang? Kalau sudah di Malino, langsung menuju rumah. Sudah menunggu abahnya Ima sama Pak Zul. Pak Luktfy Alam juga menuju ke sini.” “Siappp.” Dari nomor lain, panggilan ibunda Hj Nurlia juga masuk. Makan malam sudah tersaji katanya. Selain kabar tentang makan malam, beliau juga berkepentingan tahu apa kami sudah sampai di Malino atau belum. Inayah Ridhayanti, anaknya bunda aji, ikut dengan rombongan kami. Anda bingung? Begini: Inayah Ridhayanti itu selain perannya sebagai salah satu penggerak KGB Makassar, selain sebagai aktivis sekolah perjalanan, juga anak sulung bunda Aji Nurlia, rekan kerja di SMA Tinggimoncong dulu. Tujuh tahun lalu masih sebagai murid. Tahun ini sudah jadi rekan kerja. Betapa beruntungnya kami ini. Dikelilingi oleh orang-orang baik dengan hati yang terbuka seluas-luasnya. Salah satu alasan kenapa Malino selalu dirindukan. Malam itu diputuskan akan makan malam di rumah Inayah kemudian ngopi di rumah pak Yusuf. Setelah makan, kami pamit menuju rumah Pak Yusuf. Masih ada persiapan teknis yang harus dibicarakan dengan teman-teman panitia lokal. Ibu Adelia, Ibu Olle Hamid dan Ibu Anita sekeluarga menginap di rumah bunda Hj Nurlia. Di rumahnya Inayah. —Pak Yusuf Islam berasal dari Moncongkomba Takalar. Kuliah Pendidikan Matematika di IAIN Alauddin Makassar. Terangkat sebagai guru di SMA Negeri 1 Tinggimoncong. Menikah dengan gadis Malino. Beliau satu angkatan dengan Pak Saing Omchaa sebagai guru pelopor diawal berdirinya sekolah tersebut. Saat ini jadi kepala sekolah di Bontolempangan. Sebagai kolega yang baik hati, pernah mengajarkan logika dan epistemologi waktu tinggal di asrama sekolah. Beliau yang memperkenalkan Mulla Sadra, Rumi sampai Baqir Sadr. Malam ini pelajaran itu kembali diulas dengan versi yang lebih baru. Rupanya kami sudah ditunggu banyak kawan. Selain Pak Yusuf sebagai tuan rumah, telah berkumpul pula Pak Zulkifly, Pak Madjid dan Pak Luktfy Alam. Dengan Pak Zulkifly saya masih awam. Kepala sekolah SMA Negeri 4 Gowa yang baru. Tapi saya percaya kekuatan jaringan: dari teman ke teman. Benar. Percakapan sampai larut malam, saya mengenal beliau lebih jauh, lebih banyak, lebih dalam. Ternyata, tujuan kita sama. Setiap guru tidak boleh berhenti belajar. Pendidikan tidak boleh menjadi hak sekelompok orang, mesti sebagai milik bersama. Murid tidak boleh lagi diorganisasi berdasarkan pengalaman masa lalu kita semata. Mereka punya masa kini sendiri-sendiri. “Saya senang dengan gerakan Guru Belajar. Apapun kebutuhan teman-teman KGB, tolong disampaikan. Tidak perlu … Read more

KGB Makassar : Membaca Bawakaraeng (Bagian 1)

Akhirnya ke Malino lagi. Selain untuk belajar, saya akan mengunjungi beberapa kawan lama. Pernah mengajar di sini. Sembilan tahun. Berangkat senin subuh, pulang kamis sore. Naik motor bersama Wawan Rurung, Omchaa, Luktfy Alam & Naim Miyala. Tiga tahun lalu, saya pindah ke Pallangga. Kunjungan kali ini masih berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar. Bedanya, dulu datang mengajar di sekolah, hari ini sebagai peserta belajar. Saya mau belajar di Temu Pendidik Daerah (TPD) yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru Belajar Makassar bekerjasama dengan UPT Pendidikan kecamatan Tinggimoncong. Di Malino. Bagi kawan guru yang masih asing tentang Malino, silahkan googling. Percayalah banyak keajaiban tersedia di sana. Jika Anda ketik ‘Malino’ di mesin pencari, ada 3.210.000 penjelasan. Kalau Anda iseng menambah katanya menjadi ‘Malino Sulawesi Selatan’, tersedia 431.000 pilihan. Jika tidak ada pekerjaan lain, silahkan ketik ‘Malino daerah mana’, Anda akan disuguhi 331.000 petunjuk. Jika dirasa belum cukup, ketiklah ‘Malino kota bunga’, maka muncul 243.000 jawaban. Mau lebih spesifik lagi? Ada 55.400 petunjuk jika Anda masih berminat mengetik ‘Malino Tinggimoncong’. Dengan petunjuk dan penjelasan itu, saya tidak khawatir Anda tersesat. Biarlah catatan ini berisi peristiwa yang belum dikisahkan di sana. —- Pengalaman bertugas Malino menyisakan banyak kenangan. Kecelakaan di Parangloe salah satunya. Malam itu kami mengejar waktu. Leader memutuskan lewat jalur pintas: Parangloe-Pattallassang. Karena rutenya menurun, saya mengerem lebih dalam. Celaka. Tumpahan oli berceceran di badan jalan. Ban depan melincir, motor jatuh meluncur tidak terkendali. Saya tersangkut di pohon jati. Kap motor hancur, sadel tidak ditemukan. Butuh waktu untuk berdiri kembali. Bahuku terkilir. Beberapa luka lecet di lutut, telapak tangan dan juga siku kanan. Masih lekat dalam ingatan. Kami pernah mengunjungi siswa yang ingin berhenti sekolah. Karena jalan belum bisa diakses kendaraan, motor dititip di rumah warga. Kami susuri jalan sempit dan berlumpur. Magrib kami sampai. Orang tuanya menyambut sangat baik. Ada kopi Parigi plus ubi jalar. Tentu saja kami lahap. Sayang, siswa yang dicari sudah merantau ke Kalimantan. Malam itu juga kami pamit pulang. Hujan deras. Derita kami bertambah karena si biru (Suzuki Thunder tersayang) lupa pakai lampu. Pulang bergelap ria. Pengalaman mengajar lainnya nanti saya ceritakan di buku ‘Anak Gunung Membaca Bawakaraeng’. Banyak kisah aneh terselip di sana. Misalnya bagaimana kami para guru yang baru terangkat bisa ditipu oleh pengumpul benda antik. Kami takjub benar dengan emas palsu yang ditengarai dimunculkan dari dunia gaib. Jangan khawatir, kisah berfaedah juga banyak. Kami pernah menyiksa diri melakukan pendakian gunung selama enam jam perjalanan hanya untuk membuktikan bahwa danau Ramma adalah salah satu spot memancing terbaik. Percayalah. Itu hasutan terbaik yang pernah dilakukan Wawan Rurung. Catatan ini dibuat khusus tentang Temu Pendidik Daerah yang dilaksanakan di sekolahku yang lama. SMA Negeri 4 Gowa. Kenapa Temu Pendidik di Malino? Ada beberapa alasan. Pertama, alasan ideologis. Saya percaya. Kawan-kawan saya juga percaya. Hanya guru yang belajar yang pantas mengajar. Kata guru dan belajar tidak boleh terpisah. Saya membaca percakapan antara seniman Asrul Sani dengan guru pamong Taman Siswa: Said Reksohadiprojo. Sejatinya guru adalah seorang pamong. Menjadi pamong berarti harus belajar terus menerus, haus pengetahuan. Jika gurunya berhenti belajar, maka pada saat itu juga dia sudah terbunuh. Di Malino, sangat mudah menemukan guru-guru yang mau belajar. Butuh contoh? Baiklah. Ini cerita kawan kita, Korwil UPTD Dinas Pendidikan kecamatan Tinggimoncong.  “Biasanya guru meminta untuk ditempatkan tidak jauh dari kota kecamatan. Ya, sebutkan dengan kemudahan akses”, cerita pak Amran Azis. “Tidak dengan guruku yang satu itu. Dia minta ditempatkan didaerah terpencil. Saya penuhi permintaannya. Apa yang dia lakukan? Kreativitas guruku itu tidak bisa dibatasi oleh fasilitas yang terbatas. Dinding sekolahnya dipenuhi lukisan mata pelajaran. Ada lukisan tentang benda-benda planet, tentang benda-benda bersejarah, tentang rumus matematika dasar, juga tentang manusia”. Kedua, kami menemukan sekutu. Selain murid, sekutu utama guru adalah sesamanya guru. Saya punya banyak kawan-kawan guru di Malino. Kami ingin membangun persekutuan dengan mereka bahwa pendidikan ini tidak boleh menjadi urusan satu orang saja. Sebagai bagian dari kaum intelegensia, kata Bung Hatta, guru tidak boleh pasif, hanya berdiam diri dalam rutinitas paling membosankan: menghabiskan materi dalam kelas. Kami percaya bahwa kerja-kerja pendidikan butuh dukungan banyak pihak. Di Malino kami yakin bisa mendapatkan dukungan itu. Benar. Malam itu sebelum pembukaan, kami disambut dengan percakapan sampai larut oleh dua kepala sekolah : SMA Negeri 1 Tinggimoncong dan SMA Negeri 1 Bontolempangan. Keduanya bukan hanya teman diskusi. Tapi juga sebagai sekutu utama, turut terlibat mensukseskan kegiatan. Pada bagian lain saya akan sebutkan sebutkan satu persatu siapa saja kawan-kawan guru yang baik itu. Karena alasan-alasan itulah, sehingga Malino diputuskan sebagai tuan rumah TPD. Bersambung ke KGB Makassar : Membaca Bawakaraeng (Bagian 2)