7 Model Media Ajar Inovatif

Pernahkah Anda mengalami kesulitan saat menjadi fasilitator murid di kelas? Apalagi mengajar murid yang beragam karakteristiknya, mengajar di jam-jam siang, mengajar di jam pembelajaran setelah pembelajaran olahraga, dan banyak faktor lainnya. Faktor-faktor tersebut kadang membuat murid menjadi bosan, tidak antusias dalam belajar. Jika mengalami kondisi tersebut, apa yang akan Anda lakukan? Tetap menjalankan pembelajaran seperti biasanya, atau mencari cara membuat murid antusias belajar. Ada berbagai macam cara yang Anda bisa lakukan untuk mengatasi kesulitan Anda tersebut, salah satunya adalah menghadirkan media ajar. Saya analogikan dengan televisi, sebuah informasi disampaikan oleh jurnalis melalui media televisi, agar informasi tersebut diterima dan dipahami oleh penonton televisi. Sama halnya dengan televisi, media ajar merupakan perantara antara guru dan murid. Membantu guru menyampaikan suatu pesan/materi agar sampai dan dipahami  murid, Dalam tahapan Wardah Inspiring Teacher 2019 (WIT 2019), peserta yang notabennya adalah guru-guru dari berbagai daerah diajak berinovasi membuat media ajar. Dalam artikel sebelumnya peserta WIT 2019 sudah diajak melakukan tahapan design thinking dalam membuat media ajar. Guru-guru mencoba berempati, menemukan masalah murid dan mencari solusi untuk memecahkan masalah yang dihadapi murid. Melalui Blended Learning, pelatih dari Kampus Guru Cikal mengajak guru-guru yang sudah mengalami tahap sebelumnya, untuk mengenal media ajar yang nantinya akan dikembangkan oleh guru-guru tersebut, apa saja media ajar yang bisa dikembangkan guru untuk pembelajaran. Berikut adalah 7 Model Media Ajar Inovatif : 1. Poster Mungkin terbilang konvensional memasukkan poster sebagai media ajar di era sekarang, namun penggunaannya yang mudah dan murah membuat poster menjadi media yang bisa dipertimbangkan untuk digunakan. Visual dalam poster bisa membantu murid memahami sebuah informasi. Apalagi visual yang digunakan dekat dengan murid. Di dalam kelas poster bisa dimodifikasi bergantung kebutuhan belajar murid. Poster bisa digunakan untuk menyampaikan informasi, poster bisa digunakan untuk memantik diskusi/pertanyaan murid, poster juga bisa digunakan untuk merekam proses/hasil belajar murid. 2. Papan atau buku interaktif Mengajak murid terlibat dalam pembelajaran, salah satu cara agar murid menjadi tidak bosan dan menjadi antusias. Salah satunya dengan membuat media yang interaktif, melibatkan murid. Memungkinkan murid untuk berinteraksi dengan komponen di dalamnya. Misalnya guru menciptakan media poster, di mana dari poster tersebut murid bisa melipat bagian tertentu, mengganti bagian yang ada di poster, menambahkan bagian yang lain, dan sebagainya. Buku pun juga bisa dirancang untuk interaktif, guru membuat buku yang mana murid bisa menambahkan karakter, merasakan tekstur buku, mengisi bagian yang kosong dsb. 3. Alat peraga Masih ingat saat Anda masih sekolah dulu dan masuk laboratorium biologi. Ada torso yang guru biologi gunakan untuk menjelaskan mengenai bagian-bagian tubuh manusia. Torso membantu guru memperlihatkan bagian-bagian tubuh manusia. Alat peraga merupakan alat yang membantu guru memperagakan suatu pengetahuan. Alat peraga 3 dimensi, untuk menjelaskan bangun ruang, torso untuk menjelaskan bagian tubuh manusia, uang kertas, uang koin, dsb. 4. Lagu Saya pernah merasakan kebingungan saat akan menyampaikan pembelajaran gurindam waktu menjadi guru Bahasa Indonesia di salah satu sekolah negeri di Jawa Tengah. Bingung karena sastra melayu lama tidak menarik lagi bagi murid-murid zaman now. Murid-murid biasanya sekadar formalitas menerima materi tanpa tahu apa tujuan mereka mempelajari ini. Saya kemudian memutar otak dan mengamati murid-murid saya. Murid-murid zaman now ternyata unik ya, banyak hal yang mereka sukai salah satunya adalah menyanyikan lagu-lagu rap, yang memang saat itu sedang heboh, dan banyak bermunculan penyanyi-penyanyi rap seperti Young Lex, Awkarin, Saykoji, dsb. Cling, kemudian terbesitlah ide. Kalau dilihat struktur gurindam dan syllables lagu rap hampir sama. Maka kemudian yang saya lakukan adalah membuat lagu rap untuk saya gunakan menyampaikan pembelajaran gurindam. Dan mengajak murid berkarya membuat lagu rap dengan gurindam. Apa yang terjadi? Murid-murid antusias sekali dalam membuat lagu, kemudian menyanyikannya bersama. Tak sadar mereka sedang belajar gurindam. Jadi lagu bisa menjadi salah satu media ajar yang bisa digunakan guru untuk berkomunikasi dengan murid dalam menyampaikan materi ataupun menyampaikan pesan, atau bahkan untuk mengakrabkan diri dengan murid. 5. Video Era sekarang sudah lazim video digunakan untuk pembelajaran. Audiovisual membantu guru menyampaikan materi. Ada berbagai jenis video yang bisa guru buat, antara lain : video penjelasan, video pengetahuan, video dan film. Tentu saja dalam membuat itu semua diperhatikkan pula apa yang murid sukai, sehingga dalam menyaksikan video, murid pun merasa antusias dan dilibatkan. Murid dalam pembelajaran menggunakan video, bisa ditempatkan pada dua posisi. Posisi sebagai konsumen, dan posisi sebagai produsen. Sebagai konsumen, murid diajak menjadi penonton video yang kadang pula diajak interaksi saat atau setelah pemutaran video, baik berupa diskusi, melakukan sesuatu, dsb. Selain itu murid juga bisa menjadi produsen, berarti murid lah yang membuat video. Era saat ini memungkinkan penilaian pembelajaran berupa video. Memanfaatkan keterampilan-keterampilan yang dimiliki murid. Seperti video-video berikut ini : 6. Permainan Siapa sih yang nggak suka main? Apalagi murid-murid. Sehingga tepat sekali jika permainan digunakan sebagai salah satu media ajar untuk membantu murid belajar. Ada beberapa jenis permainan yang guru bisa kembangkan menjadi media, antara lain :a. Permainan dalam bentuk aktivitasPermainan yang mengajak murid bergerak, seperti gobak sodor, petak umpet, engklek, dst.b. Permainan kartu/papanPermainan yang memanfaatkan kartu atau papan dalam bermainnya, seperti monopoli, ular tangga, fundora, ludo, dsb.c. Permainan berbasis alatPermainan yang dalam melakukannya membutuhkan bantuan alat, seperti galasin, enggrang, balok warna-warni, lego, boneka, dst.d. Permainan digitalPermainan yang memanfaatkan perangkat digital dalam memainkannya, seperli Mobile Legend, Pokemnon Go, Wining Eleven, dsb. 7. Aplikasi berbasis teknologi Pernah memakai aplikasi Quizizz untuk penilaian murid? Atau memakai Duolingo untuk membantu murid belajar bahasa Inggris? Dua-duanya adalah aplikasi berbasis teknologi yang merupakan media ajar. Sangat kompleks memang untuk mengembangkan media yang satu ini. Selain harus melek teknologi juga pembuatannya membutuhkan waktu yang sangat lama. Guru Anggayudha Anandarasa yang menjadi pelatih menyampaikan materi tersebut melalui Google Classroom pada Senin17 Juni 2019. Inilah salah satu keuntungan menggunakan sistem blanded learning, yaitu peserta dari berbagai daerah dan berjumlah 100an lebih bisa mengakses materinya, ada yang langsung dibuka pada saat itu juga, ada pula yang baru bisa membukannya keesokan harinya karena kesibukkan. “ “Materi kemarin di WIT tentang design thinking sangat membantu banget . Sebelum mengikuti kelas WIT, saat mengajar bangga banget kalau bisa pakai media dan yakin pasti anak-anak akan lebih mudah memahami materi. Eh, ternyata panggang jauh dari api, anak-anak justru kurang begitu berminat … Read more

Bukan Literasi Biasa

BUKAN LITERASI BIASA Literasi sering dimaknai dengan kemampuan baca, tulis dan hitung. Literasi juga seringkali dilaksanakan sesuai program 15 menit membaca. Padahal, makna literasi lebih dari hanya itu. Mengangkat judul temu pendidik, Bukan Literasi Biasa, pagi itu, guru-guru yang berasal dari Pekalongan dan sekitarnya berkumpul di MAN 1 Kota Pekalongan, untuk belajar lebih lanjut memaknai literasi. Acara yang diadakan pada hari imlek yang cerah, 5 Februari 2019 itu diawali dengan materi berjudul “Personal Documentation Video” yang disampaikan oleh Guru Madya. Beliau menceritakan tentang media video yang dipraktikkan di kelas Universitas karena melihat fenomena yang sedang trend saat ini, seperti fenomena video challenge yang berbahaya, aplikasi TikTok dan fenomena video lain yang disalahgunakan. Melihat dampak negatif yang cenderung muncul, guru Madya memanfaatkannya sebagai wadah mahasiswa untuk berekspresi dengan memanfaatkan media video ini. Dalam personal documentation video ini, mahasiswa bisa mengangkat topik yang disukai dengan menggunakan pola OMC (Opening – Main – Closing). Tahap opening dimulai dengan menjawab pertanyaan what, where, when, who. Di tahapan selanjutnya, yakni main, mahasiswa menjelaskan topik dengan panduan pertanyaan menggunakan how. Sedangkan di tahapan terakhir yakni closing, mahasiswa akan menyimpulkan rangkaian topik yang tadi di bahas. Salah satu manfaat yang didapat dari kegiatan ini adalah mahasiswa dapat melatih kepercayaan diri untuk berbicara di depan umum menggunakan Bahasa Inggris. Lebih jauh lagi, kegiatan ini juga dapat membantu jika akan menempuh study di luar negeri atau tes IELTS. Dalam kesempatan ini, beberapa guru terlihat bersemangat unjuk gigi mendeskripsikan hal yang digeluti/ disukai dalam Bahasa Inggris. Guru Zinat mendeskripsikan tentang Pemilu karena beliau adalah anggota KPPS, sementara guru Kiki membahas tentang kopi karena beliau pecinta kopi. Narasumber berikutnya, Guru Inggil yang masih berstatus mahasiswa menceritakan pengalamannya menggunakan literature circle di klub membacanya. Beliau mengawali kelas dengan meminta peserta untuk mengunduh aplikasi Farfaria sebagai salah satu sumber bacaannya. Namun, pada dasarnya, guru bisa menggunakan buku apapun. Dalam literature circle ini, guru Inggil membagi peserta temu pendidik dalam beberapa kelompok yang terdiri dari 6-8 orang. Kemudian, beliau memberikan peran kepada masing-masing anggota. Ada yang menjadi pendongeng, connector, illustrator, editor dan peramal. Masing-masing memiliki tugasnya tersendiri. Misalnya, connector bertugas untuk menghubungkan isi cerita dengan dunia nyata, dan peramal bertugas untuk meramalkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Pada kesempatan ini, peserta temu pendidik diminta membaca cerita Thumbelina, lalu mempresentasikan perannya tadi. Gelak tawa terdengar karena khayalan peramal yang kadang tak terduga, atau melihat gambar sang illustrator yang jauh dari aslinya. Lebih menarik lagi karena guru Inggril memberikan giveaway pada sesi presentasi. Acara temu pendidik kali ini ditutup oleh Guru Dias yang mengawali kelasnya dengan ice breaking “Patung Pancoran”. Beliau membagikan tentang pengalaman saat menerapkan konsekuensi di sekolahnya. Guru Dias merupakan anggota STP2K (Satuan Tugas Pelaksana Pembinaan Kesiswaan) yang sering menangani siswa terlambat dan beberapa permasalahan lain terkait para siswa. Beliau menyatakan bahwa konsekuensi adalah sesuatu yang harus diterima jika melanggar kesepakatan yang dibuat sebelumnya. Alih-alih menghukum siswa yang sering terlambat, beliau lebih mengedepankan diskusi dua arah yang memiliki efek jangka panjang. Dalam membuat konsekuensi dengan siswa, guru perlu mempertimbangkan banyaknya konsekuensi, keterlibatan semua pihak, dan kejelasan poin aturannya agar konsekuensi tersebut dapat dilakukan secara berkesinambungan. Beliau juga menyampaikan bahwa konsekuensi bersifat tidak mutlak/ dinamis. Artinya, konsekuensi dapat diubah sesuai dengan kondisi yang ada. Namun, sebelum menerapkan strategi ini, siswa harus diedukasi terlebih dahulu, akan lebih baik jika dalam bentuk cerita sehingga mereka tidak merasa digurui. Di akhir sesi, guru Dias memberikan sebuah masalah dan meminta peserta temu pendidik untuk merancang strategi konsekuensi yang akan dilakukan dalam sebuah kelompok. Lalu, mereka mempresentasikan hasilnya. Dari temu pendidik kali ini, guru belajar literasi melalui media video, merancang literature circle yang menarik serta berliterasi dalam menerapkan konsekuensi. Pada dasarnya, literasi ada di semua bidang, tidak hanya dalam pelajaran Bahasa. Temu Pendidik siang itu pun ditutup dengan memberikan berbagai informasi acara dan pelatihan yang akan dilakukan KGB Pekalongan bulan Maret. Diantaranya yaitu kegiatan trauma healing untuk korban banjir di Pekalongan dan pelatihan Melukis Kelas dengan Video.

Guru Belajar Sanggau membuat Media Pembelajaran Kekinian

Pada Kamis, 08 November 2018. Komunitas Guru Belajar Sanggau melakukan kolaborasi bersama Gugus IV, Kecamatan Tayan Hilir dalam Kegiatan Learning Adventure of KGB Sanggau, salah satu program kegiatan yang sudah dirancang KGB Sanggau sejak lama dan dikemas dalam kegiatan Temu Pendidik Daerah, mengingat kegiatan ini beberapa tim dari KGB Sanggau akan berkunjung ke daerah-daerah untuk menyebarkan Praktik baik dari kegiatan belajar atau dari hasil pembelajaran. Menjadi salah satu aksi dari TPN 2018 yaitu membagikan “Oleh-oleh TPN 2018” ke berbagai Kelompok belajar, untuk program Learning Adventure of KGB kali ini, sasaran kami adalah KKG yaitu Kelompok Kerja Guru, dimana juga secara langsung akan mengaktifkan kembali kerja KKG di berbagai daerah, tentunya dengan menanamkan kesadaran semangat Merdeka Belajar. Kegiatan ini dilaksanakan di SDN 20 Simpang Mandong, Kecamatan TayanHulu, Kabupaten Sanggau, dengan jumlah peserta lebih kurang 49 orang terdiri dari Guru Kelas, Guru Agama, Guru PJOK dan Kepala Sekolah. Dimulai pada pukul 08.00 hingga sekitar pukul 16.00 WIB. Pihak dinas pendidikan dan kebudayaan turut serta hadir dalam kegiatan ini, dalam hal ini Bapak Donatus, selaku Kepala UPT Dinas Pendidikan Pemuda danOlahraga Kecamatan Tayan Hulu memberi kata sambutan sekaligus membuka kegiatan, dalam kesempatan ini bapak Ka.UPT ini mengapresiasi sekali kegiatan ini, beliau juga meminta para guru untuk aktif dan giat dalam belajar, dalam kondisi apapun sebagai seorang pendidik harus mampu ikut beradaptasi dengan perkembangan zaman yang ada, salah satunya adalah dengan cara tak henti untuk belajar. Hal ini juga diaminioleh bapak Pengawas, dan dipertegas oleh bapak Ketua Inti Gugus IV, bahwa seorang pendidik itu sudah seharusnya mau bergerak, belajar dan mencari tau, beliau mengutip pembicaraan salah satu professor “Orang yang tidak ingin maju adalah orang merugi di muka bumi, karena ilmu pengetahuan itu sangat dinamis, perkembangan zaman yang maju ini harus diikuti dan diadaptasi agar kita tidak menjadi seorang pendidik yang naif” Selaku ketua Gugus IV kecamatan Tayan, Ibu Surnia Ratih berharap kegiatan ini dapat berkelanjutan, agar memotivasi rekan-rekan guru untuk terus mengupdate kompetensi diri. KGB Sanggau melaksanakan kegiatan sharing terkait Alat Peraga dan Pembelajaran dengan narasumber Ibu Titis Kartikawati. Materi yang disampaikan merujuk pada hasil kegiatan TPN 2018, yang merupakan salah satu Aksi dari TPN 2018, yaitu membagikan oleh-oleh pengetahuan yang diperoleh dari kegiatan beberapa waktu lalu. Dalam TPD #1 ini, Ibu Titis membagikan apa yang diperolehnya di kelas Bercerita dan di kelas Maker Space. Selain itu dibahas pula terkait pembuatan Alat Peraga yang diperoleh dari Ini Budi, serta beberapa materi lain hasil inovasi beliau sendiri. Ibu Titis sangat mengapresiasi semangat belajar rekan-rekan di KKG gugus IV, Kecamatan Tayan Hulu, Kabupaten Sanggau ini. Meskipun banyak para guru yang berusia sudah lanjut namun semangat belajar mereka masih sangat kuat. Peserta kegiatan pun memberikan pesan dan kesan atau harapan akan kegiatan ini, mereka merasa benar-benar menemukan cara belajar yang mereka harapkan. Fleksibel tidak kaku, memiliki semangat keceriaan bukan sekedar menggurui. Terasa santai namun sarat makna dan pengetahuan. Mereka berharap kegiatan seperti ini akan berlanjut secara rutin. Karena melalui kegiatan ini mereka memperoleh pencerahan terkait strategi pembelajaran yang menarik dan kontekstual serta memperoleh inspirasi terkait pembuatan alat peraga inovatif yang ternyata dapat dibuat sendiri dan menggunakan bahan sederhana yang berasal dari sekitar. Dalam kegiatan ini, Ibu Titis mengajak tiap peserta terlibat aktif,  memancing para serta untuk bertanya, sharing pengalaman pribadi terkait kegiatan pembelajaran bahkan mengajak para guru membuat suatu karya sederhana berupa alat peraga dengan memanfaatkan benda yang ada disekitar mereka. Demikianlah sekilas informasi terkait kegiatan Temu Pendidik Daerah #1 Komunitas Guru Belajar Sanggau. Pada hakikatnya bahwa suatu tujuan akan dapat tercapai dengan baik jika dilakukan dengan niat baik, keyakinan, keberanian, serta kolaborasi. Karena menumbuhkembangkan kesadaran untuk belajar dan membelajarkan dengan baik adalah tugas bersama, Pendidikan itu adalah untuk semua, bukan segelintir orang, atau sebatas usia, namun lebih kepada membangun komitmen bersama demi pencapaian cita-cita. Oleh Wanti Sila Sakti, Komunitas Guru Belajar Sanggau