Manfaat Guru Belajar Membuat Video

oleh Rizqy Rahmat Hani Pernahkah Anda melihat murid Anda belajar memakai hijab dari video di youtube? Atau belajar kunci gitar lagu-lagu Nisa Sabyan dengan melihat tutorial  di internet? Di zaman sekarang, murid terbiasa belajar melalui video yang ada di internet. Selain itu murid juga tidak sekadar menjadi konsumen. Beberapa di antaranya menggunakan video sebagai media berkarya dan berpendapatnya. Ada Agung Hapsah yang mulai membuat video youtube dari sejak SMP. Lifia Naila, youtubers anak yang fokus videonya adalah tentang permainan anak-anak. Pun anak Deddy Corbuzier yaitu Azka Corbuzier yang beberapa kali menyampaikan pendapatnya di videonya. Tantanganya ialah sebagai guru apakah sudah memahami murid dengan belajar dari anak? Memfasilitasi apa yang menjadi ketertarikan anak seperti video? Video can be a powerful professional learning tool for nurturing the culture of teaching, learning, and connecting ideas and innovations. Ultimately, the more we develop and grow as teachers, the more we grow our students as learners. – Edutopia Melihat fenomena saat ini, keterampilan membuat video menjadi keterampilan yang penting dimiliki oleh guru. Oleh karena itu Inibudi.Org dan Kampus Guru Cikal mengadakan pelatihan pembuatan video bagi Guru Belajar. Beberapa daerah yang sudah kami sambangi bersama antara lain Labuan Bajo, Bali, Palembang, Tangerang, Jakarta Timur, Bogor dan sebagai pamungkas road show tersebut kami memilih Solo. Komunitas Guru Belajar Solo Raya sangat antusias dalam mempersiapkan kegiatan ini, terlihat dari penyambutan yang dilakukan yaitu adanya penampilan gamelan, paduan suara hingga angkulng dari murid-murid SD Kristen Widya Wacana Jamsaren. Guru-guru yang datang dari berbagai daerah sekitaran Solo pun ikut terbius dengan penampilan murid-murid tersebut. Guru pun mulai belajar membuat skenario dengan kelompoknya, pengambilan gambar, hingga editing sederhana menggunakan handphone. Keterampilan-keterampilan di atas bisa digunakan guru sebagai modal dalam memfasilitasi anak di kelas. Di dalam kelas dengan video guru bisa membuat pembelajaran yang berpusat pada murid.  Ada beberapa jenis video yang bisa guru gunakan untuk membantu memfasilitasi murid, antara lain  1.Tutorial  VideoBanyak tutorial yang  dibuat anak-anak ada di youtube, seperti tutorial hijab, tutorial game, tutorial foto, tutorial alat musik, bahkan membagikan resep-resep masakan yang mereka rancang. Berikut contoh-contoh video tutorial buatan murid : Resep Makanan – Adit Sekolah Cikal Tutorial foto makanan oleh murid SMA 1 Sragi, Pekalongan 2. Membuat Produk Video Guru bisa memfasilitasi murid dengan menggunakan video sebagai tugas akhir dalam pembelajaran. Seperti tugas akhir dari murid saya ini. Video tersebut merupakan tugas yang mengintergrasikan beberapa kompetensi dasar antara lain menulis biografi, wawancara, menyampaikan isi berita, dsb.  3. Video TanggapanGuru bisa menggunakan video sebagai media untukmengumpulkan pendapat murid mengenai sesuatu. Seperti misalnya pendapat murid tentang puisi Chairil Anwar, pendapat murid tentang fenomena yang terjadiakhir-akhir ini. Video tersebut pun bisa digunakan guru sebagai bahan penilian. 4. Video RefleksiGuru bisa menggunakan video sebagai bahan refleksi. Guru bertanya tentang pembelajaran dan meminta murid untuk menyampaikan hasil refleksinya. Video tersebut bisa dilihat lagi untuk refleksi guru di pembelajaran selanjutnya. Video saya di atas membantu saya untuk menjadi guru yang lebih baik di pertemuan berikutnya.  Banyak jenis video yang bisa guru gunakan seperti contoh-contoh di atas, namun yang terpenting adalah  apakah kita siap menjadi guru bagi murid zaman now? Jika siap, yuk belajar membuat video bersama kami. Silakan tulis ‘mau’ beserta alasannya di kolom komentar ya!

Sudah Jadi Guru Kok Belajar Menulis?

Selepas salat Subuh guru Novi mengambil tas dan meminggulnya, lalu ia menghampiri suami dan anak-anaknya. Ia pamit untuk menuju Painan, sebuah kecamatan di Pesisir Selatan mengikuti pelatihan menulis. Ia harus berangkat Subuh karena memang Kecamatan Tapan, tempatnya tinggal berjarak kurang lebih 140 km dari lokasi pelatihan. “Saya tahu pelatihan ini tidak dapat sertifikat. Saya tahu pelatihan ini tidak menginap di hotel mewah. Saya tahu pelatihan ini tidak dapat uang transport. Tapi saya datang bukan karena itu. Saya datang karena memang ingin bisa menulis” kata Guru Novi di salah satu sesi pelatihan. Tidak hanya guru Novi, rekan-rekan seperjuanganya dari Tapan dan kecamatan lain di Pesisir Selatan pun sama. Harus menempuh ratusan kilometer untuk mengikuti pelatihan yang dilaksanakan di pusat kabupaten.  Karena memang Kabupaten Pesisir Selatan adalah kabupaten yang memanjang, sehingga jarak antarkecamatan pun berjauhan.  Kalau saya bisa menganalogikan, jarak Tapan sampai ke Painan, lokasi pelatihan menulis seperti perjalanan saya naik motor dari Tegal hingga Kudus yang melewati 7 kabupaten. Jadi bisa dibayangkan betapa memanjangnya sebuah kabupaten bernama Pesisir Selatan. Akhirnya Guru Novi dan beberapa rekan seperjuanganya sampai di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Pesisir Selatan pukul 08.00 WIB untuk mengikuti pelatihan menulis dari Kampus Guru Cikal. Pelatihan ini merupakan pelatihan pamungkas dari 3 pelatihan sebelumnya : Pelatihan Merdeka Belajar, pelatihan Memanusiakan Hubungan, dan pelatihan Numerasi dan Literasi. Guru Belajar Menulis Di awal, pelatih dari Kampus Guru Cikal, Mahayu Ismaniar mengajak peserta untuk bersepakat tentang tujuan belajar menulis. Peserta diminta untuk membuat kepanjangan dari akronim kata MENULIS. “Menurut saya, M-enulis itu menyampaikan pikiran, E-nak dan tidaknya N-amun selalu dituliskan, U-ntuk diketahui oleh orang lain, L-alu kita curahkan I-si hati pada S-emua pembaca” tulis seorang peserta di kertas yang kami bagikan. Tidak sampai di situ, akronim yang dibuat kepanjanganya tersebut diolah peserta dan kelompoknya menjadi kemasan yang menarik, seperti pantun, nyanyian, puisi, dan sebagainya. Akhirnya kami bersepakat keterampilan menulis penting dimiliki oleh guru. “Saya kadang ketika akan menulis itu sudah kebayang dulu tulisan orang-orang yang bagus, bagus dari segi kebahasaan, ejaan, serta pemilihan kata yang digunakan. Jadi dalam bayang-bayang saya, menulis itu susah.” Kata pak Afdhal saat sesi membongkar salah kaprah menulis. Dalam sesi membongkar salah kaprah menulis ada kejadian yang menarik. Adanyaperdebatan saat pelatih menyampaikan poin “Menulis seperti masak mie instan”.Guru Erna setuju bahwa menulis itu seperti memasak mie instan “Menulis itubukan hal yang sulit. Misalnya kita mendapat pengalaman waktu ini, bisalangsung dituliskan.” Guru Afdhal memiliki persepsi lain tentang menulis, bahwamenjadi penulis yang profesional tidaklah mudah. Butuh waktu untuk mengasahtulisannya menjadi bagus. Namun diakhir pendapatnya guru Afdhal berucap “Nah perbedaan pendapat dengan Bu Erna pun ini salah satu yang harus penulis punya, yakin dengan apa yang dituliskannya.” Setelah bersepakat tentang tujuan, membongkar salah kaprah menulis akhirnya kami menawarkan sebuah formula menulis yang biasanya kami gunakan untuk formula penulisan di Surat Kabar Guru Belajar, yaitu formula ATAP. ATAP memiliki kepanjangan awal, tantangan, aksi dan perubahan. Mahayu Ismaniar menganalogikan ATAP dengan bentuk gunung. Diawali dengan awal yang biasa saja, kemudian mulai menanjak ketika mendapati tantangan, lalu mulai menurun kembali ketika menemukan aksi untuk mengatasi tantangan sebelumnya, dan kembali normal saat adanya perubahan. Peserta mulai belajar formula ATAP dengan membuat tulisan singkat 4 kalimat proses mereka menuju lokasi pelatihan. Dilihat dari tulisan, peserta sudah mulai mengerti mengenai ATAP. “Saya senang dengan dengan formula ATAP ini. Mudah untuk diaplikasikan. Saya yang sebelumnya tidak suka menulis terbantu dengan formula ini.” Jelas Guru Son di akhir pelatihan. Memang jika dilihat format ATAP bisa dijumpai di alur sebuah novel, pada struktrur jurnal, dan sebagainya. Tantangan mulai menanjak, kalau di awal peserta hanya diminta menulis proses mereka menuju lokasi pelatihan. Di sesi siang peserta diminta mengidentifikasi topik pengajaran yang berhubungan dengan literasi dibantu oleh peserta lain dalam satu kelompok. Setelah mendapat topik yang berkaitan, peserta membuat ATAP 4 kalimat. Saat sesi ini setelah dikoreksi, banyak peserta yang masih kesulitan membedakan antara bagian awal dan tantangan. Di bagian awal peserta banyak yang menuliskan permasalahan yang mereka hadapi, bukan tujuan yang akan dituju atau tanggung jawab sebagai guru. Setelah diberi umpan balik, peserta memperbaikinya. Formula ATAP tersebut dikembangkan menjadi tulisan yang utuh oleh peserta dengan cara didiskusikan bersama kelompok. Peserta menyampaikan 4 kalimat ATAP-nya kemudian peserta lain dalam satu kelompok bertanya apapun untuk menggali tulisan tersebut. Dalam hal ini dimaksudkan agar peserta mengetahui bahwa proses menulis dan pencarian ide juga bisa dilakukan dengan mengobrol dengan orang lain. Akhirnya peserta mengembangkan 4 kalimat ATAP yang mereka buat. Peserta antusias dalam menulis, dalam waktu 30 menit beberapa guru menyerahkan tulisannya. Dan terlihat sudah mulai paham mengenai ATAP. “Pelatihan kali ini membuka pikiran saya, ternyata menulis itu adalah sebuah proses yang memang harus dimulai saja dulu. Saya jadi tahu formula yang memudahkan saya dalam menulis. Saya akan lebih banyak menulis setelah ini.” Kata Guru Rini di sesi akhir pelatihan. Anda Guru, kapan terakhir Anda menulis? Yuk ikut Klub Guru Menulis yuk !

Membaca & Menulis, Terampilkah Kita? Mari Belajar Mengembangkannya

Narasumber : Rosmayanti Mutiara & Elisabet Indah SusantiHari, Tanggal : Jum’at – Sabtu, 24-25 Agustus 2018Tempat : Rumah Kreatif Wadas Kelir & SMP Permata Hati, Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah. Membaca dan menulis merupakan kegiatan yang selalu ada sejak kita membuka mata pagi hari hingga sebelum kita tertidur kembali. Mulai dari membaca dan menulis pesan melalui gawai, membaca koran media cetak, membaca iklan yang terpampang di sepanjang jalan, membaca jurnal, menulis surat elektronik, menulis catatan singkat, dan masih banyak lagi aktifitas membaca dan menulis dalam kehidupan keseharian kita. Bahkan mulai sebelum kita sekolah dan hingga kini bekerja, baik membaca dan menulis sudah dilakukan sejak dahulu. Karena merupakan kegiatan harian yang selalu ada sejak dahulu, maka mudahkah membaca dan menulis itu? Apakah tetap diperlukan keterampilan untuk membaca dan menulis? Kembali, Kampus Guru Cikal yang diprakarsai oleh NusantaRun memberikan pelatihan kepada guru-guru di SMP Permata Hati Purwokerto. Topik yang diangkat kali ini adalah keterampilan membaca dan menulis. Selama dua hari kegiatan pelatihan ini, tepatnya, 24-25 Agustus 2018, mulai pukul 08.00 – 15.30 WIB. Pelatihan ini dipandu oleh rekan-rekan guru Sekolah Cikal, yaitu Ibu Rosmayanti Mutiara & Ibu Elisabet Indah Susanti. Sedikit mengulas tentang Ibu Rosmayanti, yang kerap disapa Yanti yang kini menjabat sebagai kepala sekolah di Sekolah Cikal Serpong yang memiliki pengalaman mengajar selama kurang lebih 19 tahun, sedangkan Ibu Susan merupakan pengajar di Sekolah Cikal Serpong dan telah memiliki pengalaman mengajar hampir 15 tahun. Selain itu, belajar kali ini sangatlah berbeda, dengan mengambil tempat belajar di Rumah Kreatif Wadas Kelir (RKWK), sehingga kami harus mengendarai transportasi umum “angkot” untuk menuju ke sana. Biasanya kami hanya berjalan kaki ke Sekolah Permata Hati. Kurang lebih 30 menit menuju lokasi RKWK dan tibalah kami di sana. Langsung disambut hangat oleh Bapak Heru Kurniawan M.A, sebagai penggagas RKWK. Didirikan pada tahun 2013 karena keprihatinan pada pendidikan masyarakat sekitar. Dengan fokus pada dunia pendidikan, RKWK menyelenggarakan berbagai kegiatan edukatif pada masyarakat secara berkesinambungan. Dari kegiatan-kegiatan inilah, RKWK kemudian berkembang dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan pendidikan yang dikelola oleh Relawan, Remaja, dan Masyarakat. RKWK terus melakukan berbagai kegiatan pendidikan setiap harinya tanpa henti dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat melalui pendidikan. Harapannya, dengan memberikan pendidikan terbaik pada masyarakat, semoga kelak dari Rumah Kreatif Wadas Kelir akan lahir pemimpin-pemimpin bangsa yang akan memajukan bangsa kita tercinta: Indonesia.   Menulis Dengan RasaTeriknya Kota Purwokerto saat itu tidak menyurutkan keinginan kami untuk belajar bersama. Pelatihan keterampilan membaca dan menulis ini diperuntukkan bagi guru yang kesulitan membantu anak untuk membaca dan menulis, belum memahami tujuan dari kegiatan membaca dan menulis, memaknai membaca sebagai tugas perkembangan yang hanya selesai pada usia sekolah dasar, demikian pula halnya dengan menulis, serta tidak memiliki atau mengetahui strategi apa saja yang bisa digunakan untuk membaca dan menulis bersama anak di kelas.Selama kurang lebih 3 jam, Pak Guru begitu sapaan bersahabat rekan relawan kepada Pak Heru, mengemukakan tentang dasar-dasar penulisan. Beliau mengemukakan standar tulisan berliterasi harus memiliki 4 syarat, yaitu benar, baik, bermanfaat dan menginspirasi. Ke empat hal ini wajib dalam sebuah tulisan esai. Tulisan dapat membahas suatu masalah di sekolah dari sudut pandang penulis dan dielaborasi dengan pengalaman dan pengetahuan penulisnya. Tambahnya lagi, bawah dalam menulis tidak lupa untuk memasukan unsur rasa, sehingga pembaca dapat pula mengalami atau turut merasakan apa yang dialami atau rasakan oleh penulisnya. Hal ini dialami oleh Bu Yani, salah seorang peserta sampai tidak sanggup membacakan hasil tulisannya karena tulisannya sanggup menyentuh rasa bagi diri dan orang lain yang mendengarnya, sehingga harus dibantu oleh Ibu Gayuh dalam membaca tulisan tersebut. Kegiatan belajar bersama pak guru pun berakhir. Sedangkan Ibu Yanti dan Ibu Susan menambahkan, bahwa ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan dalam menulis, yaitu: Pra-writing: gagasan atau ide tulisan. Drafting: gagasan atau ide tulisannya dibuat dalam bentuk draft (pengorganisasian gagasan/ide). Sharing: penulis mendapat masukan dari pembaca/pendengar terhadap draft kasar yang dibuatnya. Revising: melakukan refleksi terhadap draft dan melakukan perubahan berdasarkan ciri-ciri penulisan. Editing: mengkoreksi tulisan yang meliputi pengecekan tanda baca, huruf besar dan kecil, ejaan, paragraf dan penggunaan grammar. Publishing: tulisan yang sudah dikemas dengan baik Dalam kesempatan pelatihan menulis ini dipaparkan pula tentang salah kaprah dalam menulis dan tingkatan kemampuan anak dalam menulis, sebagai berikut: Emerging/Scribble:  Anda mungkin tidak dapat memahami gambar ini; namun Anda perlu menaruh perhatian pada tahap awal anak mulai menggambar. Pictoral: Anak mulai menggambar lebih jelas dan memiliki arti. Anak mulai dapat mengimitasi gambar. Pre-communicative: Mulai dapat menulis huruf secara acak, namanya, maupun bentuk lain yang dilihat di sekitarnya. Mencoba menuliskan pesan yang tidak dapat dimengerti karena belum memiliki makna. Semi-phonetic: Mulai menggunakan dan menuliskan huruf untuk disamakan dengan bunyinya. Biasanya menulis dari kiri ke kanan. Masih menulis huruf dengan terbalik. Phonetic: Dapat mengeja dan menuliskan kata dengan awalan dan akhiran bunyi konsonan. Anak mungkin menambahkan huruf vokal. Pada tahap ini tulisan anak mulai dapat dimengerti. Transitional: Dapat menuliskan kata sesuai bunyinya. Terkadang menuliskan huruf yang sama dua kali.Dapat menulis lebih dari satu kalimat. Dapat membuat spasi antar kata dan dapat mengeja banyak kata dengan benar. Conventional: Dapat mengeja banyak kata dengan benar; meskipun masih berdasarkan dasar bunyi fonik.Dapat mengeja kata yang sudah dipelajari. Mulai menggunakan huruf kapital, huruf kecil serta tanda baca seperti tanda titik dan tanda tanya. Traditional: Dapat mengeja kata dan  menggunakan banyak kosa kata.  Memakai tanda baca seperti tanda tanya, tanda koma dan tanda seru secara tepat. Membuat paragraf dengan baik. Membaca memahami makna Sejenak beristirahat, kami pun melanjutkan kegiatan pelatihan berikutnya, yakni keterampilan membaca. Ibu Yanti dan Ibu Susan menanyakan kepada para peserta, apa sebenarnya membaca dan peserta kemudian menuliskan serta mengemukakan pendapatnya mengenai membaca. Dipaparkan pula, bahwa masih terdapat konsepsi yang tidak tepat terhadap konsep membaca. Membaca, selain menambah kosakata dan perbendaharaan kata, namun sesungguhnya membaca adalah memahami makna. Untuk memahami makna tersebut ada tahapan-tahapan dalam membaca sehingga pengamalan membaca jadi semakin menyenangkan. Agar pengalaman membaca menjadi menyenangkan, maka dibutuhkan pula strategi yang dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti: bercerita  membaca tanda dan simbol di sekitar sekolah, bermain drama, visualisasi (tulisan ke gambar), atau juga dapat mengajukan pertanyaan yang cukup kompleks untuk melatih dan meningkatkan pemahaman (sebelum, ketika, dan setelah membaca). … Read more

Kebutuhan Belajar

Sewaktu SMA saya tidak berani ke ibukota sendirian, karena kabar-kabar dari televisi, dari omongan orang bahwa ibukota kejam, tidak aman, macet dan sulit tranportasinya. Namun beberapa tahun belakangan ini, banyak murid saya seusia SMA yang sudah bolak-balik ke ibukota. Ketakutan-ketakutan saya dulu sepertinya sudah mulai berkurang. “Kamu kok berani ke Jakarta sendirian?” tanyaku.“Sekarang apa-apa mudah kok Pak. Kemarin beli tiket kereta saja tidak perlu ke stasiun. Kalau udah sampai Jakarta juga mudah Pak, ada banyak ojek online, langsung sampai rumah orangtua di Jakarta”, jawabnya. Apa yang menjadi masalahku sewaktu SMA dulu ada jawabannya sekarang. Masyarakat butuh kenyamanan, kemudahan dan keamaan dalam memakai transportasi umum, muncullah aplikasi transportasi online. Masyarakat butuh kemudahan dalam pembelian tiket, pemesanan hotel muncullah Traveloka, Airbnb,dsb. Masyarakat butuh kemudahan berbelanja, muncullah tokopedia, bukalapak, shopee dan sebagainya. Startup-startup di atas memahami masalah yang ada pada masyarakat dan kemudian menciptakan solusi, menjawab persoalan kebutuhan yang selama ini tidak terpikirkan. Ya, kebutuhan! Seringkali kita lupa hal yang mendasar yaitu kebutuhan. Sebagai guru contohnya : Menghabiskan uang untuk membeli media-media pembelajaran, sampai berjuta-juta. Namun nyatanya hanya untuk pajangan di kelas. Membeli rencana pelaksanaan pembelajaran, yang nyatanya apa yang ada di dalamnya tidak sesuai dengan murid yang diajar. Ikut-ikutan trends tidak memberikan tugas di rumah, ikut-ikutan cara mengajar guru di suatu sekolah yang nyatanya tidak pas diterapkan di lingkungan tempat kita mengajar. Tidak pernah bertanya pada diri sendiri “Apa sekolahku butuh ini ya?”, “Apa kelasku butuh ini ya?” “Apakah murid yang aku ajar benar-benar butuh?” Para pendiri strartup-startup tahu benar apa yang dibutuhkan masyarakat, melakukan riset bertahun-tahun, memetakkan apa yang dibutuhkan, menciptakan jawaban dari kebutuhan itu. Pertanyaanya adalah sudahkah kita melakukan riset di kelas? Memetakkan apa yang menjadi kebutuhan belajar murid?

Pelatihan Pembuatan Video dengan Handphone

Setiap mengisi pelatihan video, pertama kali yang ditanyakan guru menjelang pelatihan antara lain : “Apa saja alat yang harus saya bawa? Apakah saya harus membawa laptop? Wah saya tidak punya laptop?” Saya biasanya menjawab, “Cukup bawa handphone saja dan semangat untuk belajar”. Mungkin Anda yang membaca ini langsung mengernyitkan dahi, dan bertanya hal serupa dengan calon peserta pelatihan tadi “Hah! Handphone, memangnya bisa”. Agar percaya silakan lihat video-video di bawah ini. Video yang dibuat oleh guru Dian hanya menggunakan handphone. Oleh karena itulah seminggu sebelum pelatihan pembuatan video pembelajaran di Palembang, 4 Agustus 2018, kami (Kampus Guru Cikal dan Inibudi.org) melakukan diskusi bersama calon peserta. Diskusinya dimulai dari pembuatan kelompok, ide skenario pembelajaran yang akan dibuat, hingga media yang digunakan dalam pembuatan video. Saya menyarankan kepada peserta untuk mengunduh aplikasi Kinemaster di handphonenya masing-masing. Aplikasi tersebutlah yang akan digunakan dalam editing video nanti. Dasar-dasar Kinemaster. Diskusi di grup Whatsapp calon peserta memudahkan kami dalam memetakan kebutuhan guru dan membuat efektif serta efisien waktu pelatihan. Benar saja, saat pelatihan berlangsung di Singapore Indonesia School peserta lebih terkoordinir. Alat dan bahan untuk keperluan shooting sudah dibawa, dan di setiap handphone peserta sudah terinstal aplikasi Kinemaster. Pelatihan dimulai dengan membentuk lingkaran besar, kemudian setiap peserta mencari pasangan untuk mengobrol mengenai tujuan mereka mengikuti pelatihan pembuatan video. Dari hasil obrolan tersebut didapatkan kesimpulan bahwa kebanyakan peserta ingin menjadi Guru Zaman Now yang menyampaikan pembelajaran menggunakan video. “Murid-muridnya sudah canggih, masa’ gurunya ketinggalan” sahut salah satu peserta ketika diminta menyampaikan tujuannya di depan khalayak. Penyampaian tujuan merupakan salah satu bagian dari kunci merdeka belajar, selain merdeka terhadap cara dan refleksi. Setelah itu, peserta langsung menuju ke kelompoknya masing-masing yang sudah dibentuk melalui grup Whatsapp. Bu Upik yang merupakan ketua dari Inibudi.org menyampaikan proses pembuatan video pembelajaran, dari pencarian ide, format skenario, hingga teknis dalam pengambilan gambar. Tak lebih dari satu jam, materi tersebut selesai. Peserta langsung mengonsep apa saja yang perlu ditambahkan dari skenario yang sudah dibuat sebelumnya. Waktu menunjukkan pukul 11.00 WIB, beberapa peserta sudah mulai mengambil gambar. Ada yang mengambil di kelas, ada yang di dekat musala, ada yang naik-naik ke lantai atas mencari lokasi yang sesuai dengan skenario yang dibuatnya. Ini adalah prinsip kedua dari merdeka belajar yaitu merdeka terhadap cara. Selain bebas menentukan lokasi yang nyaman untuk shooting, peserta juga dibebaskan untuk mengonsep videonya. Ada yang menggunakan role playing, menyanyi, berpuisi, dan ada juga yang menggunakan animasi untuk mengemas pembelajaran dalam video jadi menyenangkan. Pengambilan gambar selesai pukul 14.00 WIB, dilanjutkan materi editing. Terlihat sangat antusias peserta saat materi ini. Karena mungkin rasa penasaran yang besar dengan aplikasi editing video mobile ini. Hal ini terlihat, setelah pemateri menyampaikan materi tentang dasar-dasar Kinemaster, banyak pertanyaan yang muncul dari peserta. “Bagaimana cara menaik-turunkan volume?” “Bagaimana memasukkan video lain di tengah-tengah video yang sudah ada?” “Bagaimana mengganti background?” “Berapa ukuran video agar kualitas masih terjaga?” Akhirnya pelatihan ditutup dengan refleksi oleh peserta. “Pak saya dari Muara Enim, 4 jam perjalanan dari sini. Saya ingin sekali mengembangkan chanel youtube saya setelah mengikuti pelatihan video ini.” sahut salah satu peserta diskusi. Jika kita selalu terbatas, maka kapan kita akan menembus batas?

Refleksi Diri : Memanusiakan Hubungan

Supir bus Sinar Jaya memasuki bus yang sudah penuh dengan penumpang yang tak sabar bertemu sanak saudara di kampung halaman. Dengan gaya yang necis ia memasuki bus dan langsung menyalakan televisi. “Halo Bapak, Ibu hari ini ingin memutar lagu apa untuk menemani perjalanan?” tanyanya sambil berdiri di depan layar televisi 32 inch yang ada di dalam bus tersebut. “Via Valen wae Pak..” “Muter film Dono aja..” “Dangdut koplo mantap Kang..” Suara saling bersautan menyampaikan apa yang ingin menjadi keinginanya. Pak supir, menengahinya dengan memilih memutar video kompilasi dangdut koplo yang menjadi pilihan terbanyak sore itu. Bus melaju kencang, seorang penumpang menghampiri supir dan memintanya untuk menurunkan suhu AC. Pak supir langsung menurunkan suhu AC, dan penumpang kembali tertidur nyenyak. Tak sampai di situ, setiap penumpang turun ia selalu bilang ‘terima kasih’. Hampir setiap minggu aku pulang kampung, namun tidak pernah menjumpai supir yang seperti ini. Biasanya naik bus – memutar lagu sesukanya dengan volume sesukanya – memaki-maki penumpang jika meminta AC diturunkan – cuek dan kadang memarahi penumpang yang turun sewaktu-waktu. Kalau saya menyebutnya adalah supir yang memanusiakan manusia, menganggap penumpangnya adalah sesama manusia yang memiliki hati dan pikiran. Maka proses interaksi yang terjadi adalah selayaknya dengan manusia. Bukan dengan robot. Hal yang sama juga aku temui saat mengisi pelatihan videografi bersama Inibudi.org di Palembang akhir minggu kemarin (4 Agustus 2018). Selesai pelatihan video, Inibudi.org menyempatkan diri untuk membuat profil salah satu pengusaha makanan tradisional Palembang, yaitu Bunda Raya. Selama proses shooting Bunda Raya menceritakan prosesnya hingga menjadi seperti sekarang ini. Ada beberapa poin yang saya pelajari dari cerita Bunda Raya tersebut. Ia adalah sosok yang selalu suka mengobrol dengan pelangganya, apapun obrolannya ia selalu layani. Beberapa malah ada yang mengobrol tentang rumah tangga. Pengikutnya di akun Instagram sudah 20.000 (yang sebelumnya sudah mencapai 40.000 namun terkena hack), dan ia selalu memposting apapun sendiri tanpa bantuan admin. Setiap komentar ia balas satu per satu dengan bahasa khasnya. “Saya kadang tidur jam 12 malam karena harus membalas semua pesan WA dan Instagram” tuturnya di akhir sesi wawancara. Itulah kunci dari sukses usaha yang digeluti Bunda Raya, memanusiakan pelanggan. Seperti supir tadi, ia menganggap pelangganya adalah manusia yang memiliki hati dan pikiran. Kini banyak artis ibukota yang jika datang ke Palembang selalu mengunjungi toko Bunda Raya, dengan sukarela mempromokan di akun instagramnya. Saya belajar banyak dari Bunda Raya dan Pak Supir, sebagai manusia harus memanusiakan hubungan dengan manusia, apapun profesinya. Karena kita hidup di bumi manusia…

Guru Belajar Manajemen Kelas bersama NusantaRun

Apa itu manajemen kelas? Dari mana memulainya? Bagaimana menetapkan peraturannya? Strategi apa yang ingin dipakai? Apa pentingnya manajemen kelas bagi guru? Pertanyaan tersebut selalu muncul dan tentu masih banyak pertanyaan lainnya muncul dari para guru, dan hal ini selalu dihadapi dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Mau tahu lebih lanjut mengenai manejemen kelas? Nah, Kampus Guru Cikal bersama NusantaRun memberikan pelatihan kepada guru-guru di SMP Permata Hati Purwokerto. Sudah hampir satu tahun kegiatan pelatihan rutin ini dilakukan, dan guru-guru SMP Permata Hati tetap semangat mengikutinya. Selama dua hari kegiatan pelatihan manajemen kelas ini, tepatnya,  27 – 28 Juli 2018, mulai pukul 08.00 – 15.30 WIB. Pelatihan ini dipandu oleh rekan-rekan guru Sekolah Cikal, yaitu Ibu Boki Nur Astuty & Bapak Mohammad Rizky Satria. Sedikit mengulas tentang Ibu Boki selain sebagai guru di Sekolah Cikal yang memiliki pengalaman mengajar selama kurang lebih 10 tahun & juga menjabat instruktur nasional kompetensi guru, sedangkan Pak Rizky pengajar guru SMP di Sekolah Cikal dan juga menjabat sebagai editor di Kampus Guru Cikal. Kelas pelatihan dimulai dengan melakukan asesmen kepada guru mengenai apa itu manajemen kelas menggunakan KWL chart. Hal ini dilakukan untuk mengetahui pemahaman dasar mengenai topik yang akan dibahas. Ternyata guru memahami pengetahuan dasar mengenai manajemen kelas hanya sebatas pengaturan ruang belajar sehingga suasana belajar menjadi menyenangkan. Namun, apakah pengaturan ruang saja sudah cukup bisa disebut dengan manajemen kelas? Dan akhirnya berbagai pertanyaan muncul dari para guru terkait dengan manajemen kelas ini. Setelah melakukan perkenalan antara pemateri dan peserta yang diselingi dengan kegiatan pembuka, dan kelas pelatihan pun dimulai. Ibu Boki menjelaskan bahwa manajemen kelas adalah segala sesuatu yang guru lakukan untuk mengorganisasikan murid, ruang, waktu dan materi pembelajaran, sehingga instruksi dalam pembelajaran bisa terlaksana dan murid dapat belajar dengan baik. Tambahnya lagi, bahwa terdapat 3 elemen penting dalam manajemen kelas, yaitu mengatur lingkungan fisik; memelihara iklim belajar yang kondusif; dan menguatkan interaksi positif. Pembahasan dan praktek mengenai 3 elemen ini dilakukan dalam 2 hari pelatihan ini. Mengatur Lingkungan Fisik Bagaimana suasana kelas anda saat ini? Apa yang anda lihat, apa yang anda rasakan dan apa yang anda dengar? Dibuka dengan kegiatan refleksi, guru diminta untuk menggambarkan suasana kelas yang diajarkannya pada saat ini. Ruang kelas guru saat ini adalah menggambarkan guru itu  sendiri. Karena ruang kelas yang diajarkan dapat merefleksikan gaya mengajar dan karakteristik pribadi anda sebagai guru. Kelas berantakan dan tidak teratur, itulah anda, namun sebaliknya kelas yang rapi dan teratur menggambarkan bahwa anda adalah guru yang siap mengajar. Selain itu lingkungan fisik dan suasana/atmosfir kelas yang baik dapat turut membantu murid dalam penguatan aspek akademik, sosial dan emosional, karena: Memaksimalkan kemampuan guru untuk melihat dan terlihat; Memfasilitasi kemudahan bergerak; Meminimalisir gangguan; Menyediakan ruang pribadi; Presentasi dan materi yang ditampilkan dapat mudah terlihat. Berikut ini beberapa ciri pengaturan kelas yang baik: Ada pembagian ruang yang jelas sesuai dengan kegunaannya dan memastikan setiap siswa tahu perilaku yang diharapkan di tiap area tersebut. Pengaturan duduk yang memfasilitasi interaksi sosial antar siswa. Guru mempunyai pandangan yang jelas, dan juga sebaliknya. Tempatkan siswa berkebutuhan khusus atau mempunyai masalah perilaku dekat dengan meja guru. Jaga ruang kelas agar tetap teratur dan terorganisasi dengan baik. Memelihara Iklim Belajar yang Kondusif Pada hari kedua pelatihan dipandu oleh Pak Rizky, yang membahas pentingnya iklim belajar yang kondusif sebagai elemen penting manajemen kelas. Tambahnya lagi bahwa guru yang efektif memperkenalkan kesepakatan, prosedur, dan rutin di hari pertama belajar dan melanjutkannya sepanjang tahun ajaran. Pada sesi ini dibahas mengenai jadwal rutin harian, transisi, pengelompokan, disiplin dan prosedur kelas yang didiskusikan bersama antara guru dan murid. Berikut ini beberapa syarat dalam kesepakatan bersama sebaiknya yang sebaiknya :  Dibuat – Disetujui – Diikuti oleh semua anggota kelas (guru dan murid); dibuat berdasarkan kebutuhan kelas; dan gunakan gambar atau tanda yang menarik perhatian dengan kata-kata sederhana untuk ditampilkan di kelas. Lebih lanjutnya lagi, dalam membuat peraturan sebaiknya memperhatikan hal berikut ini: Peraturan harus dinyatakan secara positif dan fokus pada tujuan jangka panjang; Batasi jumlah peraturan, utamakan hubungan antar individu; Penerapan peraturan tidak secara terburu-buru; Jadilah reflektif, bersedia mengganti peraturan yang tidak berjalan dengan baik; Keterlibatan siswa adalah suatu keharusan dan sebaiknya disesuaikan dengan kelompok usia siswa; Ketika seseorang melanggar peraturan, harus ada konsekuensi logis yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sebaiknya konsekuensi harus relevan, masuk akal dan penuh rasa hormat.   Menguatkan Interaksi Positif Kegiatan pelatihan diakhiri dengan menguatkan interaksi positif. Interaksi antar sesama anggota kelas pasti terjadi, bukan hanya antar sesama murid, namun juga antar murid dan guru atau sebaliknya. Interaksi ini bukanlah merupakan hal yang mudah. Bisa saja terdapat interaksi yang tidak menyenangkan, oleh sebab itu perlu sekali membangun interaksi positif di sekolah. Dijelaskan oleh kedua pemateri bahwa dalam meningkatkan interaksi  positif perlu dilakukan dengan mempertimbangkan hal berikut: intonasi suara dalam berbicara, bahasa dan sikap tubuh, teknik bertanya, pemilihan bahasa dan kontak fisik. Dengan mempertimbangkan ke 3 elemen dalam manajemen kelas tadi, diharapkan akan mampu membuat lingkungan belajar yang kondusif, karena terdapat struktur yang jelas, melibatkan pengaturan ruang fisik dan komunikasi dengan anak, sehingga dapat membangun rasa percaya diri pada anak dan guru dapat dijadikan sebagai panutan, yang terpenting pula adalah persiapan guru di kelas. Narasumber : Boki Nur Astuty & Mohammad Rizky Satria Hari, Tanggal : Jum’at – Sabtu, 27 – 28 Juli 2018 Tempat : SMP Permata Hati, Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah

Bantu Guru Belajar Berkomunikasi dengan Orangtua

Orang tua dan guru di sekolah memiliki keterlibatan dan peran yang sama pentingnya dalam pendidikan dan mengembangkan anak. Hanya saja, terkadang orang tua merasa posisinya lebih superior karena sudah membayar uang sekolah dan berbagai biaya lain yang dibebankannya, sedangkan guru merasa lebih inferior, sehingga merasa tak berdaya, jadi orang yang dibayar dan tanggung jawab sepenuhnya ada pada dirinya dalam pendidikan anak. Guru merasa posisinya menjadi kalah tinggi dengan orang tua. Semestinya tidaklah demikian, oleh sebab itu perlu sekali membangun hubungan yang bersifat positif antara guru dan orang tua jadi sangatlah penting. Namun, apa yang diperlukan oleh seorang guru untuk hal itu? Salah satu caranya adalah dengan membangun komunikasi positif guru dan orang tua. Pada pelatihan di Bekasi, Sabtu, 28 Juli 2018, “Membangun Komunikasi Positif Guru & Orang Tua” dijadikan topik untuk berdiskusi. Sebelum membahas hal ini lebih lanjut, ada baiknya mengetahui beberapa harapan orang tua terhadap guru bagi anaknya. Berikut ini hasil riset kecil melalui media sosial yang dilakukan pemateri terkait harapan orang tua terhadap guru: Komunikatif, Responsif, Perhatian, Mendidik, Memberikan kasih sayang, Memberikan kabar tentang anak di sekolah. Masih banyak harapan orang tua terhadap anaknya di sekolah, baik dalam hal akademik maupun non-akademik. Dan apa yang diharapkan orang tua untuk mencapai hal tersebut berdasarkan hasil riset kecil tadi adalah komunikasi. Komunikasi dua arah menjadi penting dan perlu dibangun berdasarkan ketiga nilai yang dianggap perlu oleh kedua belah pihak, yaitu kepercayaan, kepedulian & kerjasama. Tentunya tidak mudah dalam membangun 3 hal tersebut. Masing-masing pihak baik orang tua dan guru perlu mengetahui perannya di sekolah. Baik orang tua dan guru harus sama-sama mengetahui adanya kebijakan, sistem dan prosedur di sekolah yang membatasi agar tidak salah dalam bertindak. Sudah menjadi tugas guru untuk melakukan dan menjalankan kegiatan belajar dan mengajar di kelas, selain itu guru juga menjadi penghubung antara sekolah dan orang tua. Karena fungsinya sebagai penghubung dan menduduki peran penting dalam hal ini, maka hal yang mendasari hubungan ini adalah komunikasi. Oleh sebab itu perlu bagi guru untuk mengembangkan keterampilan berkomunikasi. Dalam berkomunikasi terdapat etika yang perlu diketahui, diantaranya adalah: Sikap: posisi berdiri atau duduk dengan tegak, menatap lawan bicara, tenang dan tersenyum. Yang diperlukan juga adalah “no gadget” ketika berbicara dengan orang tua; Pahami isi pembicaraan: jangan membicarakan hal-hal yang tidak perlu dan tidak dikuasai, karena dapat berakibat salah pengertian. Sebaiknya catat terlebih dahulu topik yang akan dibicarakan; Gunakan selalu kalimat positif: hindari menggunakan kata-kata yang tidak pantas dan tidak sesuai. Fokus pada solusi: orang tua berharap guru sebagai mitra dalam tugas mengembangkan anak. Sudah sewajarnya, jika ada masalah yang terjadi dapat memberikan solusi, dan bukan malahan semakin memperkeruh suasana. Diharapkan dengan terbangunnya komunikasi yang baik antara guru dan orang tua dapat menciptakan proses kolaborasi yang baik pula, sehingga tercapailah tujuan semua pihak.   Pada pelatihan ini, guru yang hadir mengajar di level yang berbeda. Terdapat 51 guru sebagai peserta pelatihan yang berasal dari area Bekasi dan sekitarnya. Suasana pelatihan terbangun kondusif, hal ini terlihat pada saat pemaparan, diskusi dan presentasi yang berlangsung baik pemateri maupun peserta terjalin komunikasi intens. Guru semakin berdaya, guru semakin percaya. Yuk Bantu Guru Belajar Lagi di Kampus Guru Cikal.   Narasumber : Irene Puti Damayanti Hari, Tanggal : Sabtu, 28 Juli 2018 Tempat : SMK Kesehatan Driewanti Husada Mandiri, Bekasi

Bantu Guru Belajar Melibatkan Orangtua Murid

Ada banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai guru, orang tua dan warga sekolah untuk turut berkontribusi dalam menumbuhkan potensi dan memaksimalkan prestasi dan potensi anak didik. Pada hari Sabtu, 21 Juli 2018 bertempat di SMK Kesehatan Driewanti Husada Mandiri Bekasi, rekan-rekan Kampus Guru Cikal dan tim Rumah Main Cikal Bintaro kembali belajar bersama pada kegiatan Bantu Guru Belajar Lagi. Kali ini topik yang diangkat adalah “Pelibatan Orang Tua dalam Kegiatan di Sekolah.” Mengapa topik ini dianggap perlu diberikan? Hal ini dirasa perlu karena saat ini keterlibatan orang tua di sekolah sangatlah sedikit. Semakin besar usia dan kelas seorang anak, maka semakin kecil pula keterlibatan orang tuanya. Padahal peran orang tua dalam hal keterlibatannya di sekolah bisa dikatakan krusial. Dan pastinya akan ada pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar anaknya. Namun, pertanyaan sebaliknya, apakah sekolah juga memberikan tempat bagi orang tua untuk berperan di sekolah? Apakah pihak sekolah merasa takut jika melibatkan orang tua yang akhirnya dapat mengganggu stabilitas sekolah itu sendiri? Nah, sekolah yang baik, sejatinya memberikan tempat bagi orang tua untuk turut membantu anak dalam hal pendidikannya. Diharapkan dari pelatihan ini para guru percaya dapat mengoptimalisasi peran guru di kemudian hari. Kegiatan pelatihan yang dipandu oleh Ibu Irene Puti Damayanti dan Tim Guru Rumah Main Cikal Bintaro ini mengemukakan hubungan yang sebenarnya bisa terjadi antara orang tua dengan sekolah; konteks apa saja orang tua dapat berhubungan langsung dengan sekolah (Administrasi, Akademik & Kegiatan Sekolah), dan bentuk kegiatan di sekolah yang turut melibatkan orang tua dan sekolah. Ada beberapa alasan mendasar yang dapat dipergunakan orang tua untuk beralasan sehingga keterlibatan orang tua menjadi kecil berdasarkan, yaitu : Waktu: sibuk bekerja, sehingga orang tua tidak memiliki cukup waktu untuk ambil bagian dalam kegiatan sekolah, Bahasa: terkadang terdapat istilah akademik yang tidak dikuasai orang tua, ataupun cara penyampaian bahasa yang sulit sehingga tidak diketahui oleh orang tua dan menjadi enggan untuk turut berpartisipasi, Pengetahuan: orang tua merasa tidak memiliki pengetahuan yang cukup dan kurang paham, sehingga menyerahkan seluruhnya kepada sekolah, Ketidaknyamanan : tentunya tantangan tersendiri bagi orang tua untuk ambil bagian terlibat dalam kegiatan sekolah, sehingga ekspresi yang muncul jadi merasa tidak nyaman karena harus melakukan banyak tugas dan tanggung jawab yang terkait dengan pengorganisasian, perencanaan, dan hal-hal kecil lainnya. Motivasi: adanya motivasi yang salah dari orang tua yang merasa perlu dihargai dan diterima atas pengorbanan waktu dan usaha yang telah dilakukannya. Oleh sebab itu, perlunya diciptakan kegiatan-kegiatan sederhana yang dapat membantu orang tua. Berikut ini beberapa hal keterlibatan orang tua yang dapat dilakukan, diantaranya: Membaca & memberikan informasi melalui buku penghubung dari sekolah; Terlibat dalam forum orang tua & aktif dalam diskusi group jika ada hal yang terkait dengan sekolah; Mendukung anak dalam kegiatan ekstrakulernya; Membantu anak dalam menyelesaikan proyek sekolahnya; Berkomunikasi dengan guru kelasnya Disampaikan pula oleh Ibu Puti, bahwa penting sekali menjaga hubungan antara orang tua dan sekolah, salah satu caranya adalah dengan mengenali orang tua lebih dalam dengan mengetahui beragam karakter yang ada pada orang tua. Pelatihan kali ini diakhiri dengan menganalisis isu-isu yang biasanya terjadi antara hubungan sekolah dengan pihak orang tua. Tak terasa 6 jam pelatihan berakhir, sementara antusiasme peserta pelatihan dalam diskusi mulai dari awal hingga akhir sangat baik. Hal ini tercermin dari beberapa komentar peserta pelatihan berikut ini: Alhamdulillah terimakasih @bantugurubelajarlagi dan @kampusgurucikal , kegiatan ini bener2 sangat bermanfaat, saya sangat bersyukur sekali ada kegiatan ini, jadi bisa terus mengupgrade ilmu, karena belajar dan terus belajar. – Ririn Banyak pengetahuan yang didapat, diskusi & pembahasan yang menarik, tidak monoton – Nurul Fadhila. Saya jadi paham dan mengerti betapa pentingnya keterlibatan orang tua dan guru dalam pendidikan anak, serta pengaruh dari kedekatan guru & orang tua Oleh sebab itu, pelibatan orang tua di sekolah merupakan faktor penting yang prosesnya bersifat dinamis dan berlangsung sepanjang waktu. Jika pelibatan ini sudah berjalan dengan baik, niscaya dapat membantu meningkatkan lingkungan belajar yang kondusif dan membangun relasi yang positif setara dengan guru. – Win   Narasumber : Tim Rumah Main Cikal Bintaro Hari, Tanggal : Sabtu, 21 Juli 2018 Tempat : SMK Kesehatan Driewanti Husada Mandiri, Bekasi

Komitmen Pada Tujuan

“Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya .” Pramoedya Ananta Toer (Rumah Kaca) Malam itu menjadi malam yang sangat sibuk bagi saya, guru Nunuk dan guru Najib. Ketiganya sama-sama mengisi Temu Pendidik Dalam Jaringan (daring). Saya menjadi narasumber di grup whatsapp Komunitas Guru Belajar (KGB) Palembang, guru Nunuk menjadi narasumber di grup whatsapp KGB Pekalongan, pun dengan guru Najib menjadi moderator mendampingi guru Nunuk di Pekalongan. Karena temu pendidiknya adalah daring, sehingga dibutuhkan jaringan internet. Dan sialnya, malam itu jaringan provider yang saya gunakan sedang bermasalah dan di kos tidak ada wifi. Setengah jam sebelum diskusi langsung mencari counter untuk membeli kartu perdana provider lain agar mendapatkan sinyal. Alhamdulilah 15 menit sebelum diskusi kartu sudah terbeli. Namun ternyata untuk mengaktifkan kartu tersebut harus mendaftarkan terlebih dahulu menggunakan nomor Kartu Kelurarga (KK) dan nomor KTP. Saya pun buru-buru untuk mendaftarkan. Send, pesan pendaftaran kartu perdana terkirim. Nunggu satu menit belum ada tanda-tanda terdaftar, 5 menit masih nihil. Sampai waktu menunjukkan 19.28 WIB masih belum muncul tanda-tanda itu. Padahal 19.30 WIB temu pendidik akan segera dimulai. Tanpa pikir panjang, langsung memasukkan laptop ke dalam tas, lari menuju ke sekolah untuk mendapatkan wifi. Alhamdulilah sekitar pukul 19.32 WIB sudah stand by dan bisa belajar bersama guru-guru di KGB Palembang. Sama halnya denganku, permasalahannya adalah sinyal, namun cerita guru Nunuk lebih tragis. Guru Nunuk adalah seorang guru yang mengajar di sebuah daerah yang jauh dari perkotaan dan untuk mencapainya dibutuhkan waktu kurang lebih 2,5 jam perjalanan. Kisah Guru Nunuk .Setelah menumpuh perjalanan yang lama sekitar pukul 18.30 WIB ia pun sampai rumah. Dibukanya laptop yang akan ia gunakan dalam mengisi diskusi. Namun tak dinaya, ternyata wifi di rumah guru Nunuk mati. Sinyal provider yang ia gunakan juga tidak begitu kuat. Ia harus menuju kota, ke tempat yang ada wifi yang lumayan kencang. Ia pun mengendarai motor trail-nya untuk mengejar waktu. Padahal baru saja ia sampai rumah. Cerita guru Najib mungkin yang paling menakjubkan. Ia tahu, malam hari ia akan menjadi moderator temu pendidik KGB Pekalongan, dan malam itu pulalah ia akan mengobservasi dan mendirikan tenda untuk kemah muridnya esok hari. Lokasi perkemahan cukup jauh dari kota. Oleh karena itu siang hari, ia sudah siap dengan membeli kartu perdana yang dirasa ada sinyal di lokasi perkemahahan. Menjelang waktu diskusi teman-teman guru Najib mulai turun, karena sudah selesai mengobservasi dan mendirikan tenda. Guru Najib tidak bisa turun terlebih dahulu karena akan mengisi temu pendidik. Ia pun tinggal sendirian di pinggir hutan sambil memegangi handphone dan memimpin temu pendidik di WA KGB Pekalongan. (untung ya Pak, nggak ada yang nggondeli dari belakang). Seminggu sebelumnya, KGB Pekalongan menghadirkan seorang narasumber dari Seruyan, Kalimantan Tengah namanya guru Panji. Untuk bisa menemani guru-guru Pekalongan belajar, guru Panji pun harus mengendarai kendaraan 25 Km agar mendapatkan sinyal yang stabil. Itulah mengapa saya menggunakan kutipan Pramoedya untuk mengawali tulisan ini. Tujuan membawa guru Nunuk rela kembali lagi ke kota padahal baru sampai rumah untuk mendapatkan sinyal. Guru Najib melawan kedinginan dan kengerian hutan agar bisa menjadi moderator, dan juga guru Panji rela menerbas malam, melawan dingin, dan menempuh perjalanan puluhan kilo untuk menemani guru-guru belajar. Semua cara dilakukan, jika cara pertama belum berhasil, mencari cara lain, jika belum juga, cari lagi. Apa jadinya jika seorang supir mengendarai kendaraan namun tidak tahu kemana ia akan pergi, apa yang akan ia tuju? Supir yang sudah tahu tujuan mana yang akan dituju, jika jalan A tidak bisa dilewati, maka akan mencari jalan lain. Karena saya percaya komitmen pada tujuan akan memunculkan merdeka terhadap cara.