Merancang Pembelajaran yang Bermakna

Moderator : Abdurakhman Hardiyanto (Unikal – KGB Pekalongan)Narasumber : Rizqy Rahmat Hani (Kampus Guru Cikal – KGB Pekalongan) Rizqy : Three Idiots adalah salah satu film favoritku, ada sebuah adegan yang membuatku terinspirsi yaitu adegan  Pia, dan teman-temannya sedang mencari Rancho yang lama telah menghilang. Setelah mencari ke bebrapa tempat, akhirnya mereka sampai  di sebuah sekolah. Ketika mereka turun, yang mereka lihat pertama adalah seorang anak dengan sebuah mesin sederhana mencampurkan bahan-bahan membuat kue, kemudian mata mereka tertuju kepada seorang anak yang memutar pedal sepeda sebagai daya pencukur  bulu domba, dan di samping mereka ada dinding sekolah yang nerwarna-warni. Adegan itulah yang membuat pandanganku mengenai pendidikan berubah. Suara jangkrik malam itu menemaniku yang sedang mempersiapkan materi ajar untuk esok hari. Aku  buka-buka lagi buku kuliahku tentang karya ilmiah. Aku buka-buka lagi Karya ilmiah yang pernah aku buat dan kirimkan untuk lomba sewaktu aku kuliah. “Baiklah, besok aku akan menjelaskan tentang apa itu karya ilmiah dan bagian-bagiannya.” Keesokan harinya, karena sudah mempersiapkannya, aku dengan kepercayaan diri masuk ke kelas. Langsung kubagikan karya ilmiah yang pernah kubuat kepada anak-anak. Kemudian kutulis sebuah kalimat di papan tulis. “Apa itu karya ilmiah?” Sengaja kutulis besar agar bisa terlihat oleh siswa yangpaling belakang. “Halo, nah coba Kalian baca sebentar mengenai karya ilmiah yang bapak berikan ya?” “Bapak beri waktu 5 menit untuk kemudian setiap anak wajib memaparkan pengertian seperti yang diketahuinya. Nanti jawaban yang paling keren Bapak kasih hadiah”. Saya yakin dengan hadiah anak akan lebih aktif, lebih senang belajar. Semua tampak senang dan berlomba-lomba menemukan arti dari karya ilmiah. Aku tersenyum karena merasa sudah menjadi guru yang keren, yang membuat anak-anak senang belajar. Belum ada lima menit ada seorang anak yang maju dan menuliskan jawaban di papan tulis. Dilanjutkan anak-anak yang lainnya. Dan semua antusias menuliskannya di papan tulis “pengertian dari karya ilmiah’. “Terima kasih, jawaban Kalian keren-keren!” Kemudian dari jawaban-jawaban tersebut, akhirnya kami saring menjadi jawaban yang paling benar. “Sekarang coba ada yang bisa menuliskan bagian karya ilmiah apa saja?” Semua diam. Kelas menjadi hening. Aku melupakan sesuatu. Hadiah. Maka dengan cekatan, aku langsung menawari hadiah kepada anak-anak. “Ehmm, kali ini bapak punya sesuatu bagi yang mau menyebutkan” Belum ada beberapa menit, seorang anak berdiri dan menyebutkan apa yang aku perintahkan. “Latar belakang, rumusan masalah, …. metode penelitian …, pembahasan… daftar pustaka” jawab saah satu siswa. Hari itu aku sangat yakin, kalau metodeku ini adalah metode keren. Anak-anak pasti bisa menjawab soal Ujian Nasional dengan baik. -Itulah yang aku lakukan 3 tahun di awal-awal menjadi guru. Mengajarkan anak menghafal. Senang, karena saat ulangan, anak-anak berhasil menjawab soal-soal pilihan ganda yang memuat materi-materi tersebut. Senang  karena nilai anak-anak selalu bagus di pelajaran Bahasa Indonesia yang artinya aku sebagai guru berhasil dan pastinya akan dipandang oleh pihak sekolah. Pemahamanku waktu itu mengenai sekolah adalah tempat mendapatkan nilai. Sampai akhirnya suatu hari saat tidak sengaja membaca tulisan siswaku. Bahwa selepas pulang sekolah, ia sering membantu ayahnya membuat batu bata. Maka ia tak suka jika gurunya memberikan PR, yang itu artinya ia harus meninggalkan bapaknya sendirian bekerja. Kejadian itu yang membuat aku merenung. “Apa benar, sekolah hanya mengejar nilai?” “Lalu mendapat ijazah” “Apa benar nilai-nilai di ijazah itu akan berguna bagi kehidupan mereka” Aku mulai merasa bahwa apa yang aku lakukan selama ini menjadi guru salah. Guru yang masih berorientasi nilai, guru yang tidak memperhatikan siswa yang diajarnya, guru yang tidak melibatkan siswa. “Bukan pengertian Karya Ilmiah yang siswa butuhkan” “Bukan mengetahui bagian-bagian Karya Ilmiah yang siswa butuhkan” “Lebih dari itu. Siswa Harus tahu bahwa ada sesuatu yang bisa dilakukan dari karya ilmiah bagi kehidupannya” Aku mencoba berefleksi dari kejadian di atas. Mencoba menjadi guru yang lebih baik. Karena aku sadar, bahwa menjadi guru adalah perjalanan, tidak ada garis finisnya. Perjalananya adalah proses belajarnya. – Di tahun berikutnya, aku mencoba mengubah konsep pembelajaran Karya Ilmiah. Kali ini mencoba melibatkan anak dalam prosesnya. “Di sekolah ada tempat-tempat apa aja sih?” tanyaku di depan kelas. “Toilet Pak” “Tempat Parkir Pak” “Ruang Guru” “Hutan sekolah” “Musala” “Kantin” Daftar tempat yang disebutkan siswa aku tulis di papan tulis, kemudian aku meminta siswa untuk mengurutkan tempat-tempat tersebut jika dilalui mulai dari ruang kelas dan kembali lagi ke ruang kelasnya. Akhirnya didapatkan rute untuk penjelajahan sekolah. “Jika kita seorang detektif yang mau meneliti tempat di sekolah, apa aja yang akan Kalian teliti?” “Kegunaanya Pak?” “Maksudnya Kegunaanya” tanyaku “Misalnya Perpustakaan Pak, perpustakaan pada dasarnya adalah tempat baca, jika digunakan untuk tempat mengobrol, tempat menonton televisi kan tidak digunakan semestinya” “Yang lain?” tanyaku lagi. “Kelengkapan Pak” “Apa lagi itu?” “Di tempat parkir misalnya Pak, sering terjadi pencurian helm. Itu karena CCTV yang belum ada Pak” Dari obrolan reflektif itu akhirnya kami mendapatkan rubrik-rubrik yang akan diteliti. Rubrik-rubrik tersebut yang akan digunakan siswa untuk melakukan penjelajahan sekolah secara berkelompok. Penjelajahan Sekolah pun berlangsung. Saat penjelajahan sekolah ada banyak diskusi di setiap kelompok. Misalnya saat di Perpustakaan, ada kelompok yang mendiskusikan penempatan kursi Perpustakaan yang masih kurang, hingga mendiskusikan peminjaman buku yang belum maksimal dilakukan, masih banyak siswa yang tidak mengembalikan buku. Kelompok lain saat melewati musala dan mengamati seorang guru yang berwudhu, mereka melihat banyak air wudhu yang terbuang sia-sia saat guru tersebut berwudhu. Lainnya melihat banyak tanaman yang mati di hutan sekolah dan tanaman yang berada di pot depan kelas. Dan masih banyak masalah yang mereka temui. (Padahal tiap hari mereka lewati, dan baru sadar setelah menjelajahi sekolah dengan rubrik). Sesampainya di kelas, akhirnya kami mendata bersama permasalahan yang ditemukan di sekolah. Dari permasalahan yang sudah didata, akhirnya kami sekelas mencoba mem-brainstroming ide-ide kami. “Saya yakin, Kalian adalah orang-orang keren di masa depan. Nah jika kalian mendapati masalah seperti ini (sambil menunjuk papan tulis) apa yang akan Kalian lakukan, ayo berikan kontribusi Kalian!” tantangku di depan kelas. “Saya akan mencoba membuat sistem barcode untuk perpustakaan Pak, agar peminjaman buku semakin mudah” “Aku akan mencoba meneliti, kenapa masih banyak anak pergi ke Kantin daripada ke Perpustakaan Pak saat jam kosong dan istirahat” “Aku akan mencoba membuat alat agar tumbuhan-tumbuhan di hutan sekolah atau depan kelas tidak layu Pak” Ide-ide yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. … Read more

Di Jalan Sepi, tapi Selalu Ada Teman

“Kulakukan itu dalam waktu berbulan-bulan, mondar-mandir kesana-kemari cari informasi dan partisipasi dari banyak orang yang kiranya memiliki kepedulian kepada kaum difabel. Saat itu, aku hampir saja putus asa. Karena kegiatan itu sedikit banyak memakan jadwal kuliahku. Ditambah lagi tidak banyak orang yang ternyata sulit untuk bekerjasama denganku. Bahkan sebagian memberi syarat yang bagiku berat agar aku bisa mendirikan organisasi difabel.” tulis Cindy Ayu Anggraini, mahasiswa tuna rungu di Universitas  Negeri Sebelas Maret Surakarta​ (UNS), Jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) dalam esai yang ia tulis. Tulisan Cindy mengenai perjuangannya mengaktifkan kembali Gerakan Peduli Indonesia Inklusi (GAPAI) di UNS berhasil menyentuh banyak orang. GAPAI yang ia aktifkan kembali adalah sebuah komunitas mahasiswa yang membantu, memantau, mengidentifikasi mahasiswa difabel di UNS. Misalnya ada mahasiswa difabel yang kesulitan dalam membaca, relawan GAPAI yang akan membantunya dalam membaca. Di jalan yang sepi, UNS terus berjalan untuk pendidikan untuk semua. Selain mendirikan  Pusat Layanan Difabel (PLD) yang kemudian mendirikan Gerakan Peduli Indonesia Inklusi (GAPAI), kiprah UNS dalam mewujudkan pendidikan inklusi tidak main-main. Setiap mahasiswa di  Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) mendapatkan 2 SKS mata kuliah pendidikan inklusi. Harapannya calon-calon guru dari UNS memiliki bekal pendidikan inklusi ketika menjadi guru nanti dan menerapkan inklusivitas yang didapatkan saat berkuliah. Keinklusivitasan UNS itulah menjadi salah satu alasan kami untuk menjajaki kerjasama program #PendidikanUntukSemua . Selasa pagi (5/3/2019), tim Kampus Guru Cikal yang diwakili Bukik Setiawan dan Rizqy Rahmat Hani bertandang ke UNS. Memasukki UNS kami disambut oleh pohon yang rindang dan tertata rapi. Melihat kepedulian UNS terhadap lingkungan dan fasilitas, membuat kami langsung jatuh hati. Kami pun memasukki gedung Rektorat lantai 2 untuk bertemu Rektor UNS, Prof Dr Ravik Karsidi MS. Selain bertemu rektor, dalam audiensi tersebut ada pula Dr. Munawir Yusuf, M.Psi. selaku Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Kependidikan dan Asri mewakili Drs. Subagya, MSi (Ketua Pusat Layanan Difabel) yang berhalangan hadir. Bukik Setiawan selaku Ketua Kampus Guru Cikal menyampaikan tujuan kedatanganya ke UNS, bahwa ingin mengajak UNS berkolaborasi. Harapannya dengan kiprah UNS di pendidikan inklusi selama ini bisa memfasilitasi murid-murid disabilitas yang kami seleksi dalam Program Pengembangan Murid Disabilitas. Program Pengembangan Murid Disabilitas disambut baik, Dr. Munawir Yusuf, M.Psi. menceritakan tantangan yang UNS hadapi selama ini dalam menjalankan pendidikan inklusi salah satunya adalah seleksi calon mahasiswa. Selama ini ujian masuk mahasiswa difabel ke UNS bersamaan dengan jalur umum, baik melalui SMPTN, SBMPTN dan UM, tidak ada jalur khusus. Setelah melewati ujian tersebut, kemudian calon mahasiswa difabel diwawancara untuk bisa lolos menjadi mahasiswa UNS. Namun menurut Munawir hal tersebut kurang efektif, karena ada beberapa kasus mahasiswa difabel di tahun ketiganya tidak mau kuliah. Program yang ditawarkan Kampus Guru Cikal disambut baik, seperti jembatan murid difabel dan kampus. “Saya mengapresiasi program ini, program ini seperti jembatan murid difabel dan kampus yang menyediakan layanan pendidikan tinggi. Calon mahasiswa sudah dilatih, lalu diseleksi oleh Kampus Guru Cikal dan  siap belajar di perguruan tinggi” tutur Munawir Di jalan yang sepi, tapi selalu ada teman …

Menemukan Teman Seperjalanan di Jalan Sepi #PendidikanUntukSemua

Hamzah (32 tahun) seorang tuna netra dari Makassar, mengatakan ia sering menerima komentar negatif dari para guru yang mengeluhkan kinerjanya di kelas tetapi ia tidak pernah mendapatkan dukungan atau materi yang disesuaikan untuk membantu dirinya untuk terlibat. Meskipun kurangnya dorongan dari gurunya, Hamzah bersikeras untuk mengejar pendidikan tinggi seperti teman-temannya yang tidak cacat, dan bermimpi menjadi guru di sebuah sekolah Islam. Tetapi Hamzah ditolak pada tahun 2003 oleh fakultas pendidikan (tarbiyah) di Alauddin UIN. Dia diberi tahu bahwa orang buta tidak bisa menjadi guru dan institut itu tidak bisa menampungnya. Dia akhirnya diterima ke departemen sastra Inggris di UNM. Sosok Hamzah yang dituliskan oleh Dina Afrianty, peneliti La Trobe University, Australia dalam artikel berjudul “People with Disability: Locked out of Learning?” adalah salah satu contoh berhasil seorang disabilitas bisa mengenyam pendidikan tinggi. Namun masih banyak pekerjaan rumah berkait dengan akses masuk perguruan tinggi bagi murid disabilitas. “Usaha-usaha memang sudah dimulai, tapi di seluruh Indonesia belum banyak. Hanya beberapa perguruan tinggi yang mampu menyediakan fasilitas yang memudahkan civitas academica dalam belajar dan mencapai semua tempat dengan menjaga keselamatannya,” kata Staf Ahli Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) bidang Akademik, Paulina Pannen. Itulah salah satu alasan program #PendidikanUntukSemua dijalankan, memberikan akses perguruan tinggi kepada murid-murid penyandang disabilitas. Tantanganya adalah mencari perguruan tinggi yang sudah menjalankan pendidikan inklusi. Selasa (19/2/2019) Kampus Guru Cikal mulai melakukan audiensi dengan berbagai perguruan tinggi di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Audiensi ini bertujuan untuk mempelajari, sejauh mana perguruan tinggi tersebut peduli dengan mahasiswa penyandang disabilitas. Perguruan tinggi yang menjadi kunjungan awal oleh tim Kampus Guru Cikal adalah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pemilihan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta karena perguruan tinggi tersebut yang menjadi pelopor perguruan tinggi yang memfasilitasi penyandang disabilitas sejak tahun 2007. Dalam audiensi tersebut tim Kampus Guru Cikal diwakili oleh Bukik Setiawan selaku ketua Kampus Guru Cikal dan Rizqy Rahmat Hani selaku ketua program #PendidikanUntukSemua . Audiensi dilakukan di gedung PAU lantai 2 UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Kami disambut dengan hangat oleh bapak Waryono, selaku wakil rektor bidang kerjasama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Arif Maftuhin selaku ketua Pusat Layanan Difabel (PLD) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Keseriusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam menjalankan pendidikan inklusi di perguruan tinggi tidak main-main. Pusat Layanan Difabel menjadi tonggak dalam memperjuangkan pendidikan inklusi. “Mahasiswa difabel belajar bersama mahasiswa lainnya, tidak ada kelas khusus, tidak ada program khusus bagi mereka. Tugas Pusat Layanan Difabel adalah memastikan bahwa proses mereka dalam kegiatan belajar mengajar dan kegiatan akademik yang lain itu dapat terlibat secara penuh.  Misalnya kalau ada mahasiswa tuli, kita mengirimkan pendamping, baik berupa no taker maupun juru bahasa isyarat. Misalnya ada mahasiswa tuna netra, kita memfasilitasi mereka untuk mengakses materi-materi kuliah dengan proses digitalisasi. Kita mencoba agar proses menjadi inklusif itu bisa benar-benar dirasakan oleh mahasiswa yang belajar di UIN SUKA.” kata Arif Maftuhin. Dalam audiensi tersebut Kampus Guru Cikal juga menjajaki kemungkinan kerjasama untuk program #PendidikanUntukSemua dengan memberikan beasiswa NusantaRun Enam kepada murid penyandang disabilitas potensional. Gayung bersambut, PLD juga mengakomodir beasiswa untuk mahasiswa penyandang disabilitas. Namun selama ini mengalami kendala, sedikit yang mengikuti seleksi tersebut. “Kami sudah lama membuka pendaftaran mahasiswa difabel, bahkan sudah ada jalur khusus dan berbeasiswa, tapi justru yang daftar tidak banyak. Ada kuota 15, pendaftar maksimal 20” ujar Waryono. Hal tersebut dikarenakan orangtua yang masih merasa takut dan tidak percaya bahwa anaknya mampu melanjutkan ke perguruan tinggi. Tantangan ini terjawab oleh program #PendidikanUntukSemua yang menyiapkan guru, orangtua dan murid penyandang disabilitas untuk siap melanjutkan ke perguruan tinggi. “Jadi yang lebih penting sebenarnya adalah adaptasi kelas itu terhadap difabel, bukan pada prasarana fisik atau apa yang mungkin jika disiapkan belum tentu digunakan.” ujar Arif mengakhiri sesi audiensi siang itu. Apa yang UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta perjuangkan selama ini sesuai dengan program #PendidikanUntukSemua Kampus Guru Cikal, pertemuan ini seperti menemukan teman seperjalanan di jalan sepi #PendidikanUntukSemua.

Cikal PYP Exhibition : Proyek Murid yang Bermakna

“Melihat proses belajar di Cikal PYP Exhibition ini dekat sekali dengan kehidupan. Latar belakang murid membuat sebuah proyek tidak jauh dengan kehidupan mereka” ujar Ahdiyat seorang guru dari SMP Fitrah Insani yang datang bersama murid-muridnya. PYP (Primary Years Program) Exhibition adalah kegiatan tahunan bagi kelas 5 Sekolah Cikal dalam bentuk pameran. Sebelum pameran ada tahap penelitian yang dilakukan murid kelas 5. Dimulai dari menemukan isu dan masalah dalam kehidupan sehari-hari dan memikirkan solusi untuk kontribusi kepada masyarakat. Bagaimana agar murid kelas 5 SD bisa menemukan isu yang ada dalam kehidupan sehari-hari? Serunya di sini, isu yang diangkat murid tidak tiba-tiba muncul, ada tahapan bernama Tuning In. Dalam #CikalPYPX tahun ini yang bertema sains, guru-guru mengajak murid untuk berkunjung ke museum IPTEK. Dengan pertanyaan-pertanyaan esensial, guru mencoba menggali inkuiri murid. Setelah Tuning In, ada tahapan Finding Out, murid mencari informasi awal berdasar pertanyaan esensial. Sorting Out, memikirkan, menganalisis, dan memvisualkan hasil observasi. Dan terakhir adalah Going Futher, tahapan di mana murid memikirkan dan merencanakan tindakan dari hasil olahan informasi. Sampai akhirnya karya bisa dilihat dalam pameran. Karena bertema sains, maka karya-karya yang ditampilkan pada Rabu dan Kamis (13 dan 14 Februari 2019) ini memiliki konsep sains. Dari proyek membuat alat untuk menurunkan kecemasan murid, kertas yang terbuat dari ubi kuning, robot yang bisa diajak latihan anggar, tangan elektronik yang dibuat karena terinspirasi atlet disabilitas, sarung tangan yang berfungsi sebagai remote control mobil, es krim yang terbuat dari sayuran dan masih banyak yang lainnya. Murid yang mengerjakan proyek ini dengan antusias menjelaskan bagaimana karya ini bisa jadi kepada pengunjung yang notabennya dari berbagai kalangan. Di sini terlihat murid memang menguasai apa yang ia lakukan. Selain itu murid tak canggung menyampaikan kegagalan yang ia lakukan selama mengerjakan proyek. Dan menuliskannya dalam kolom refleksi. Dan juga meminta umpan balik kepada para pengunjung. “Saya berharap kalau hari ini sekedar prototipe, maka suatu hari nanti apa yang dibuat anak-anak ini bisa diteruskan menjadi karya yang berdampak” ujar Emil, salah satu orangtua murid Sekolah Cikal. Apa yang saya lihat hari ini mengingatkanku kepada dua hal. Satu, teringat adegan terakhir film 3 Idiots, di mana murid-murid di sekolah yang Rancho buat, berkarya membuat alat-alat yang berguna bagi kehidupan. Kedua, teringat akan puisi karangan WS Rendra berjudul “Seonggok Jagung”. Seonggok JagungWS Rendra Seonggok jagung di kamar Dan seorang pemuda Yang kurang sekolahan Memandang jagung itu Sang pemuda melihat ladang Ia melihat petani Ia melihat panen Dan suatu hari subuh Para wanita dengan gendongan Pergi ke pasar Dan ia juga melihat Suatu pagi hari Di dekat sumur Gadis-gadis bercanda Sambil menumbuk jagung Menjadi maisena Sedang di dalam dapur Tungku-tungku menyala Di dalam udara murni Tercium bau kue jagung Seonggok jagung di kamar Dan seorang pemuda Ia siap menggarap jagung Ia melihat menggarap jagung Ia melihat kemungkinan Otak dan tangan Siap bekerja Tetapi ini Seonggok jagung di kamar Dan seorang pemuda tamat S.L.A Tak ada uang, tak bisa jadi mahasiswa Hanya ada seonggok jagung di kamarnya Ia memandang jagung itu Dan ia melihat dirinya terlunta-lunta Ia melihat dirinya ditendang dari discotheque Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase Ia melihat sainganya naik sepeda motor Ia melihat nomer-nomer lotere Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal Seonggok jagung ia di kamar Tidak menyangkut pada akal Tidak akan menolongnya Seonggok jagung di kamar Tak akan menolong seorang pemuda Yang pandangan hidupnya berasal dari buku Dan tidak dari kehidupan Yang tidak terlatih dalam metode Dan hanya penuh hafalan kesimpulan Yang hanya terlatih sebagai pemakai Tetapi kurang latihan bebas berkarya Pendidikan telah memisahkanya dari kehidupanya Aku bertanya : Apakah gunanya pendidikan Bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing Di tengah kenyataan persoalanya?? Apakah gunanya pendidikan Bila hanya mendorong seseorang Menjadi layang-layang di ibukota Kikuk pulang ke daerahnya?? Apakah gunanya seseorang Belajar filsafat,teknologi,ilmu kedokteran,atau apa saja. Ketika ia pulang ke daerahnya,lalu berkata : “disini aku merasa asing dan sepi”

Merayakan Kebaikan

“Menyenangkan hatiMenempati lazuardi, melintasiAnganku cemerlangBerhiasakan warna-warna..” Lirik lagu berjudul Warna-Warna yang dinyanyikan Andien menjadi pamungkas yang tepat untuk acara Rayakan Kebaikan. Dengan berbagai warna-warna kostum bertema pantai, para pelari, media, pihak yang terlibat dalam penggalangan dan penyaluran dana berkumpul di ONBC NISP Tower, Kuningan Jakarta Selatan pada Sabtu, 9 Februari 2019 untuk merayakan kebaikkan. Acara ini diadakan dalam rangka penyerahan donasi kepada Kampus Guru Cikal yang dipercaya untuk merancang dan melaksanakan program Pengembangan Murid Disabilitas di Jawa Tengah dan DIY. Seperti nama acaranya Rayakan Kebaikkan, runtutan acara pun memperlihatkan kebaikan-kebaikkan yang ada dalam proses penggalangan dana oleh para pelari. Cerita pak Rahmat salah satu pelari tertua yang berhasil menyelesaikan 169 Km, cerita para relawan yang dengan sigap membantu para pelari, cerita media tentang event ini, cerita Jurian Andika dan Cristopher Tobing sebagai founder NusantaRun tentang awal mula mereka melakukan ini, cerita Syn film mengapa mereka mau berkontribusi dalam event ini, cerita yayasan IOA tentang apa yang mereka lakukan dalam program sebelumnya, cerita Kampus Guru Cikal tentang program yang akan dilakukan dan cerita Andien melalui lagu Warna-Warna yang menyiratkan bahwa kontribusi dari berbagai warna akan disalurkan kepada murid-murid disabilitas dengan berbagai warna. Dana yang terkumpul dari penggalangan dana pelari sebesar Rp 2.650.073.357. Dana tersebut akan digunakan oleh Kampus Guru Cikal untuk program Pengembangan Murid Disabilitas di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Program ini dilakukan karena hanya 54,26% penyandang disabilitas yang berpendidikan SD ke atas, bandingkan dengan non disabilitas yang mencapai angka 87,31%.  Selain itu penyandang disabilitas yang berpartisipasi dalam pasar kerja hanya 51,2 %, bandingkan dengan non disabilitas yang mencapai 70,40%. Beberapa penyebab mengapa ada angka-angka tersebut salah satunya karena faktor persepsi keluarga, guru dan masyarakat yang menjadi hambatan utama bagi penyandang disabilitas untuk mendapatkan akses pendidikan dan pekerjaan. Faktor lain: perlakuan diskriminatif, sarana dan prasarana yang tidak menunjang. Oleh karena itu dalam program ini, Kampus Guru Cikal tidak sekadar fokus kepada murid penyandang disabilitasnya, namun sistem pendukungnya juga akan menjadi fokus program ini. Guru, orangtua, lingkungan sekolah, perguruan tinggi akan menjadi fokus program Pengembangan Murid Disabilitas Jawa Tengah dan Yogyakarta. Harapan dari program ini antara lain : Adanya kesadaran sekolah, guru dan orangtua untuk memberikan dukungan bagi anak penyandang disabilitas Adanya guru bimbingan karier yang bisa mengarahkan dan memberi dukungan bagi anak penyandang disabilitas Adanya komunitas guru belajar bimbingan karier sebagai sistem dukungan bagi anak penyandang disabilitas Pengembangan diri dan penyediaan beasiswa pendidikan tinggi bagi murid penyandang disabilitas. Adanya kerjasama dengan perguruan tinggi yang bersedia menerima dan mendukung murid penyandang disabilitas Tongkat estafet yang diberikan oleh para pelari ini masih panjang perjalanannya, ada banyak tantangan di depan dalam menjalankan program ini. Namun kebaikan teman-teman akan menjadi semangat bagi Kampus Guru Cikal.

Belajar dari NusantaRun Chapter 6

Di usianya yang ke 19 bulan, anak itu mengidap suatu penyakit yang membuatnya menjadi tuna netra dan tuna rungu. Bagaimana masa depannya? Bagaimana cara dia berkomunikasi nanti dengan dunia luar? Bertahun-tahun ia menjalani kehidupannya dengan marah-marah, sering memukul meja, frustasi karena sulit mengungkapkan apa yang ia rasakan. Secercah harapan muncul ketika usianya 7 tahun, Anne Mansfield Sulivan dari Tuscumbia datang menjadi gurunya. Anne mengajari anak itu berkomunikasi dengan cara-cara yang unik, yang kemudian membuat anak tersebut bisa berkomunikasi, dan akhirnya bisa berbicara. Sekarang kita mengenal anak tersebut dengan nama Hellen Keller, seorang pejuang kemanusiaan. Tanpa Anne dan lingkungan yang mendukung, Hellen mungkin sulit menjadi seseorang yang memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, dan menerbitkan puluhan buku. Itulah yang saya bayangkan, banyak Hellen-Hellen lain di Indonesia, anak-anak penyandang disabilitas, namun lingkungannya belum banyak mendukung. Seperti wawancara saya dengan bu Purwanti dari SLBN Temanggung menurut beliau masih banyak orangtua yang overprotected terhadap anaknya. “Orangtua kurang membuka diri, masih menganggap anak-anak terbatas.” ujar Bu Purwanti. Menurut pak Pungguh, guru SLBN 1 Gunung Kidul hal lain adalah karena setelah lulus anak-anak biasanya bingung akan melakukan apa. Beberapa di antaranya malah kembali ke sekolah, mendaftar menjadi karyawan di sekolah. Orangtua yang memandang sebelah mata, guru yang tidak memiliki kemampuan mengembangkan murid penyandang disabilitas, sarana prasarana bahkan akses pendidikan yang belum mendukung membuat anak-anak penyandang disabilitas kadang harus memendam mimpinya. Bersama demi #PendidikanUntukSemua Seorang pelari memakai baju pemadam kebakaran memasuki arena finish lari NusantaRun Chapter 6. Ia lari menuju garis finish yang sudah berada di depannya, air matanya mulai mengalir, dan menjadi tumpah ketika ia mencapai garis finish. Sebuah yel-yel dari murid dan guru membuat suasana siang itu menjadi tambah sendu. “Terima kasih..terima kasih pelari NusantaRunSudah dukung… sudah dukung Pendidikan untuk Semua” Kemudian Gita seorang anak disabilitas dari SLBN 1 Gunung Kidul menghampirinya, memakaikan gelang dan memberikan bunga sebagai wujud apresiasi kepada pelari tersebut yang telah berjuang lari puluhan kilometer. Bunga dan gelang merchandise untuk pelari adalah hasil karya murid-murid disabilitas di Solo dalam workshop yang diadakan Komunitas Guru Belajar Solo. Teman-teman Guru Belajar Solo juga hadir di garis finish NusantaRun chapter 6 untuk mengapresiasi para pelari. Masih banyak pelari lain yang mencapai garis finish dengan bangga bahkan membawa anggota keluarga. Siang itu (9 Desember 2018) di Pantai Sepanjang saya melihat kekuatan dari kontribusi. Seorang pemadam kebakaran,bankir, pengusaha, guru, murid, bahkan staf ahli presiden bersama-sama melakukan aksi untuk perubahan. Saya jadi teringat kutipan dari Hellen Keller Alone we can do so little ,together we can do so much. Anda ingin ikut terlibat dalam #PendidikanUntukSemua klik https://kitabisa.com/nusantarun

Half Point, Setengah Perjalanan untuk Pendidikan

Seorang pelari perempuan dengan langkah kesusahan memasukki area half point. Sambutan meriah membuat langkahnya menjadi lebih baik.Beberapa pelari di half point yang mengambil kategori half course menghampirinyadan menepuk pundaknya. Setengah jam berikutnya ia bersiap melanjutkan lagi setengah perjalannnya .  “Apa yang Kamu cari”, ucapnya kepada salah seorang teman sambil berlalu meniggalkannya. Kalimat tersebut membuat saya berpikir dan mendalaminya. Benar juga, apa yang dicari? Apa ya yang dicari pelari ? Sampai harus merogoh kocek untuk sampai Gunung Kidul dan kembali ke tempat asalnya. Apa ya yang dicari pelari ? Sampai harus cuti beberapa hari dari pekerjannya. Apa yang dicari pelari? Sampai harus mengumpulkan donasi minimal 3,5 juta, baru ia bisa berlari mengikuti event ini. Apa yang dicari pelari? Sampai harus menempuh jalanan menanjak, menurun, datar sejauh 169 km. Hal-hal itu jika dipikir memakai akal sehat sulit sekali diterima. “Di NusantaRun bukan cuma berlari,  juga  membuat para pelari memiliki value yang berbeda, dan selalu ada nilai-nilai kebaikkan di acara ini. Saya sudah empat kali ikut, dan setiap kali ikut optimisme saya selalu bertambah karena melihat banyak orang baik di Indonesia. Saya lebih percaya bahwa Indonesia bisa maju.” Ujar Adita salah seorang pelari perempuan. Itulah mengapa seorang pelari full course terlihat menangis melepas nomor peserta lari, ia tidak bisa melanjutkan larinya karena cidera di half point. Sementara itu sebanyak 121 pelari baru akan berjuang dari Balai Desa Karangwuni, Wates (Sabtu, 10 Desember 2018) menuju Pantai Sepanjang Gunung Kidul sejauh 83 Km.  Kampus Guru Cikal melibatkan Komunitas Guru Belajar Yogyakarta untuk  berkontribusi di half point. Sama halnya di garis start Kledung Pass, beberapa relawan dari Komunitas Guru Belajar terbagi dalam beberapa peran. Ada yang membantu di meja registrasi ulang, menempelkan tattoo dan juga membuat yel-yel untuk pelari yang akan dan melanjutkan perjalannya. “Di sini saya belajar banyak hal melihat semangat para pelari. Ternyata yang peduli akan pendidikan banyak, dari pelari, beberapa sponsor, dan relawan-relawan dari lintas profesi. Jadi nggak Cuma kami guru dari pendidikan.” Widy, Guru Belajar Yogyakarta. Tepat pukul 16.00 WIB, garis start di half point dibuka. “Tetap semangat… tetap semangatPelari NusantaRun..Untuk dukung.. untuk dukungPendidikan untuk semua” Yel-yel dari Komunitas Guru Belajar Yogyakarta mengalun untuk memberi tambahan energy kepada pelari menuju Pantai Sepanjang Gunung Kidul.

Murid Penyandang Disabilitas Ikut Berkontribusi di Garis Start NusantaRun Chapter 6

Noriko adalah murid penyandang tuna daksa yang memiliki hobi komputer serta memiliki cita-cita menjadi ahli komputer jika besar nanti. Sore itu di kursi roda yang sering dipakai di sekolah, ia dibantu pak Waluya gurunya menuju stand relawan. Matanya berbinar,senyumnya mengembang dan terkadang ia meminta gurunya untuk mempercepat langkahnya.  “Noriko mau pilih yang mana? Mau membantu kakak-kakak memasang tatoo kilometer? Atau itu (menunjuk) membantu kakak-kakak drop bag ke pelari? Atau yang ini, memberikan formulir daftar ulang ke pelari” tanya Harry salah seorang panitia NusantaRun chapter 6 “Aku mau ini aja.” Ujar Noriko dengan menunjuk stand bagian formulir. Ia mulai bertugas membantu relawan lainnya yang bersal dari berbagai daerah memberikan formulir kepada pelari. Noriko adalah satu diantara 12 murid dari SLBN Temanggung yang memilih menjadi relawan NusantaRun chapter 6 di garis start. Selain Noriko ada Rizki murid penyandang disabilitas tuna rungu ini dengan antusias menjadi relawan pemasang tattoo kilometer. Ia menempelkan kertas putih ke lengan pelari, kemudian menggosok-gosokkannya dan terakhir ia melepaskan kertas putih tersebut. Tatto kilometer pun terpasang di lengan pelari. Lain cerita dengan Noriko dan Rizki, adapun Bagas murid penyandang disabilitas dengan asik memilah ukuran-ukuran kaus. Bagas asik cerita dengan relawan lainnya tentang pengalamannya menjuarai turnamen futsal di Semarang. “Malam ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi anak-anak. Mungkin besok mereka akan berceloteh dengan teman-temannya di sekolah tentang apa yang mereka alami malam ini” ujar Guru Ina kepala SLBN Temanggung. Di perhelatan ini tampak #PendidikanUntukSemua , murid-murid penyandang disabilitas sejak awal memasukki lokasi start sudah disambut dengan hangat oleh para pelari. Beberapa di antaranya menghampiri anak-anak dengan Bahasa isyarat. Ada pula yang mengajak berswafoto tanpa ada sekat di antara mereka. Bertempat di pelataran hotel Kledung Pass (Jumat, 7 Desember 2018) sebanyak 80 pelari memantapkan diri mengambil kategori full course, ini artinya mereka akan berlari sejauh 169 km dari Kledung Pass sampai Pantai Sepanjang di Wonosobo dan melewati 16 titik point peristirahatan. “Saya memilih ikut NusantaRun bukan sekedar karena event larinya, tapi karena dampaknya. Dampaknya untuk pendidikan Indonesia” Ujar Adam seorang pelari dari Jakarta. Waktu menunjukkan pukul 06.45 beberapa pelari melakukan pengecekan perlatan yang dibawa, yang lainnya sudah siap berlari di garis start. Adapun murid-murid penyandang disabilitas sudah berkumpul di depan garis start. Sebelum memulai lari, Christhoper Tobing Co-Founder NusantaRun meminta pelari, dan pengunjung yang ada di garis start mengheningkan cipta untuk salah seorang pelari yang seminggu sebelum race minggal karena stroke. Setelah itu, Eriska murid  penyandang disabiltas dari SLBN Temanggung langsung memimpin menyanyikan lagu Indonesia Raya. “Indonesia tanah airku… tanah tumpah darahku…” Murid lainnya penyandang tuna rungu menyanyi menggunakan bahasa isyarat. “Garis start dan finish bukan Wonosobo atau Gunung Kidul, di rumah kita masing-masing. Safety first!” ujar Christopher sebelum melepas pelari. Diiringi lagu Tulus Manusia Kuat, malam itu pukul 19.00 WIB sebanyak 80 pelari mulai menapakkan langkahnya menuju Gunung Kidul. “Manusia… manusia kuat.. itu kita…. Jiwa. Jiwa yang kuat.. itu kitaaa” Sayup-sayup lagu tersebut sudah tidak terdengar lagi, pelari sudah mulai menjauh dari garis start. Malam itu di dinginya Wonosobo pelari menyusuri jalan.

Berlari dan Berkontribusi untuk Pendidikan Murid Disabilitas

“Saya tidak pernah absen menjadi pelari sekaligus fundriser NusantaRun sejak chapter pertama. Awalnya saya pikir kaki saya bisa copot setelah mengikuti NusantaRun yang menempuh puluhan bahkan ratusan kilometer.”, Sandy, salah satu pelari NusantaRun chapter 6 bercerita tentang pengalamanya berlari di NusantaRun. NusantaRun Chapter 6 adalah perhelatan tahunan yang mengusung ultra marathon for charity. Bukan sekadar event lari, namun juga wujud nyata pelari dalam berkontribusi untuk pendidikan di Indonesia. “Jika para pelari ingin berlari, banyak event yang bisa diikuti. Kalau pelari mau ikut event lari sekaligus bisa berkontribusi, bisa melakukannya di NusantaRun” ujar Chirtopher Tobing, co-founder NusantaRun. Dalam event lari NunsantaRun selain berlari, para pelari tidak hanya berlari puluhan kilometer. Namun juga menggalang donasi. Untuk chapter 6 ini penggalangan donasi dimulai sejak 24 Agustus 2018 dan akan berakhir 11 januari 2019. Adapun target yang ingin dicapai NusantaRun adalah sebesar 2,5 milyar. Donasi tersebut akan digunakan untuk program Pengembangan Pendidikan Murid Penyandang Disabilitas di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang bekerjasama dengan Kampus Guru Cikal. Berdasarkan riset potret pendidikan  inklusi di dua provinsi tersebut sudah ada arah untuk mengembangkan pendidikan inklusi, ini terlihat dari kebijakan dan pertaturan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah. Namun di lapangan, implementasi kebijakan tersebut masih jauh dari harapan. “Melalui program tersebut kami berharap ada contoh nyata keberhasilan pendidikan inklusi yang dapat meyakinkan orangtua, guru, dan masyarakat luas mengenai potensi murid penyandang disabilitas”, ujar Najelaa Shihab, pendiri Kampus Guru Cikal Najelaa Shihab menyebut bahwa ada tiga pilar utama untuk program yang akan dijalankan yaitu : 1) menyiapkan guru bimbingan karier yang bisa mengarahkan dan memberi dukungan bagi anak penyandang disabilitas, 2) pengembangan Komunitas Komunitas Guru Belajar Bimbingan Karier sebagai sistim dukungan bagi murid penyandang disabilitas, dan 3) pengembangan diri dan penyediaan beasiswa pendidikan tinggi bagi murid penyandang disabilitas. Pada chapter 6 ini akan dilaksanakan dari tanggal 7 Desember hingga 9 Desember 2018. Ada dua kategori yang akan ditempuh pelari, yaitu half course (86 km) dan full course (169 km) yang akan berjuang menuju garis finish di Pantai Sepanjang, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Walaupun menuju garis finish yang sama, namun kedua kategori tersebut memulai lari dari garis start yang berbeda. Pelari kategori full course akan mulai berlari di garis start yang berada di Kledung Pass Hotel, Wonosobo, Jawa Tengah dan pelari half course akan mulai berlari di garis start yang berada di Kantor Kepala Desa Karangwuni, Wates, Daerah Istimewa Yogyakarta. “Untuk  chapter 6 ini saya sudah menyiapkannya dari bulan Januari tahun ini. Mulai darilatihan 5 km, 10 km dan juga mengikuti beberapa race.” Ujar Irene peserta lariNusantaRun 6 ini yang tidak pernah melewatkan ajang lari ini. Kolaborasi dari berbagai pihak dalam mendorong kemajuan pendidikan bagi penyandang disablitias menjadi semangat yang ingin disebarkan NusantaRun tahun ini. “Kami meyakini bahwa siapapun dapat berkontribusi memajukan pendidikan Indonesia. Dengan semangat power of contribution serta fokus terhadap isu pendidikan bagi penyandang disabilitas, kami berharap dapat membuka mata banyak orang bahwa sejatinya pendidikan harus dapat diakses oleh siapapun tanpa terkecuali.’ Kata Cristopher. “Benar, bahwa kolaborasi antarpihak yang dilakukan oleh NusantaRun ini penting. Karena pendidikan bukan sekedar urusan guru dan murid yang berkecimpung langsung di masyarakat, namun juga urusan bersama” ujar Najelaa Shihab.

Hibernasi dan Berefleksi

Would you know my nameIf I saw you in heavenWill it be the sameIf I saw you in heavenI must be strong,and carry onCause I knowI don’t belong Here in heaven Lagu lawas dari Eric Clapton itu mengiringiku menulis pagi ini. Lagu yang bersejarah bagi Eric. Tanggal 20 Maret 1991, Connor Clapton anaknya meninggal karena jatuh dari sebuah apartemen. Hari itu sampai 9 bulan setelahnya Eric berkabung. Eric sangat-sangat terpukul kehilangan anak. Ia berdiam diri di rumah, ia memilih untuk tidak tampil, ia konsentrasi kepada apa yang baru menimpanya. Sembilan bulan setelahnya, ia kembali. Eric kembali dengan perbedaan. Musiknya lebih lembut, reflektif dan kuat. Salah satunya ia tunjukkan di lagu Tears in Heaven, lagu yang ia tujukkan untuk Connor Clapton. “Sering kali kita memang butuh berdiam diri, merefleksikan apa yang dilakukan dan memulai kembali dengan semangat yang baru” Itulah mengapa tim Kampus Guru Cikal Jumat, 16 November 2018 melakukan sebuah perjalanan ke Honje Ecolodge di Ujung Kulon. Salah satunya adalah untuk berefleksi. Setiap hari dihadapkan dengan Komunitas Guru Belajar yang ada di 145 daerah dengan beragam aktivitasnya dari Temu Pendidik Daerah, Temu Pendidik Mingguan, Temu Pendidik Nusantara, Surat Kabar Guru Belajar, Guru Promotor, konten harian, penggerak. Tiap hari ada puluhan percakapan di grup, media sosial. Ini yang saya salut dari teman-teman di Kampus Guru Cikal. Bergerak setiap hari. Dan kami memang membutuhkan waktu untuk berdiam. Waktu untuk berefleksi dari semua itu. Jumat siang itu kami memutuskan untuk melakukan perjalanan yang berbeda. Kami bisa saja menyewa mobil dan tidur sampaillah kami di tempat yang kami tuju. Tapi kami memilih naik KRL kemudian disambung naik angkot. Tapi yang terjadi dalam perjalanan tersebut sungguh luar biasa. Banyak obrolan yang kami lakukan. Belum sampai lokasinya saja, banyak refleksi dari obrolan singkat nan bermakna. Seperti yang saya tulis di awal, bahwa kegiatan kami ke Ujung Kulon adalah refleksi. Maka tiap aktivitas pun dirancang agar kami berefleksi. Nah mungkin ide-ide di bawah ini bisa di-ATM (Amati – Tirukan –Modifikasi) di sekolah Bapak Ibu untuk melakukan refleksi. A. Hunting Foto Bukan sekadar hunting foto, tapi hunting foto bermakna. “Ya jadi dalam hunting foto ini masing-masing harus mengambil dua foto. Satu foto tentang ‘perubahan positif’ dan satunya lagi tentang ‘harapan’. Kemudian nanti kita presentasikan ya! Waktunya satu jam dalam mengambil foto.” Kami pun menyebar untuk mencari foto yang sesuai  dua frasa tersebut. Ada yang ke bagian barat pantai, ada yang ke timur, ada yang masuk ke dalam penginapan, ada yang berdiam diri. Semua mencari foto sambil menikmati ‘waktu sendiri’. Akhirnya seperti waktu yang ditentukkan, kami pun berkumpul di gazebo depan penginapan untuk membahas foto yang diambil. Ada yang mengambil gambar karang, pohon, buku, kano. Satu per satu anggota KGC mempresentasikan hasil jepretannya. “Aku tu ambil foto ini karena mpresentasikan perubahan positif aku semenjak di KGC…..” “Nah ini adalah harapanku ke depan, kayak penginapan kita ini. Mmebangun namun tidak menggerus…” Senang sekali mendengar hasil presentasi teman-teman.   B. Mengutarakan “Tampak seperti dan tidak tampak seperti” Nah setelah sesi foto, masih di tempat yang sama. Pak Maman meminta kami untuk mengungkapkan apa yang sudah sesuai dan tidak sesuai dengan prinsip Cikal. “Medianya bebas apa saja, boleh menggambar, boleh menulis, boleh juga menyanyi” Kami pun melakukan apapun yang membuat kami nyaman mengungkapkanya. Dari sesi ini akhirnya aku pribadi tahu, masih banyak sekali hal yang kurang selama ini. Masih banyak evaluasi yang perlu diperbaiki. Dan masukan teman-teman menambah semakin tahu apa yang perlu diperbaiki ke depannya. C. Menggambar Malam hari, kami semua di kumpulkan di depan penginapan untuk sesi berikutnya. Kalau sebelumnya adalah sesi refleksi individu, sekarang sesi refleksi ketua KGC, yaitu mas Bukik. Kami diminta menggambar apa saja yang menggambarkan ketua KGC, pun dengan pemilihan warna spidol, harus memiliki arti. Ada yang gambar pohon, ada yang gambar tangga, dan lain sebagainya. Aku pribadi menggambar tangga, karena aku merasa banyak tantangan baru saat mas Bukik menjadi ketua KGC, dan tantangan-tantangan itu semakin membuatku belajar. Selain hal positif, kami juga mengutarakan hal-hal evaluasi mas Bukik sebagai ketua. Seneng banget karena dari sini bisa lebih leluasa mengutarakan apapun. Dan suka dengan apa yang mas Bukik lakukan. Suatu saat kalau jadi pemimpin akan kayak dia ah.. hehhe D. Tukar Kado Setelah sesi refleksi ketua KGC, kegiatan berikutnya yaitu tukar kado. Kami telah menyiapkan kado sebelumnya, dan malam itu kado kami saling ditukar. Kadonya lucu-lucu. Tapi rahasia ya. Dari sesi ini kami merasa semakin dekat satu sama lain di tim KGC. E. Truth and Dare Ini adalah aktivitas yang menakutkan buatku. Dengan botol di tengah, setiap orang berhak memutarkan botol tersebut secara bergantian. Setelah botol diputar, dan ujung botol mengarah ke seseorang, maka seseorang tersebut harus melmilih untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pemutar botol dengan jujur atau memilih melakukan aktivitas yang diinginkan oleh pemutar botol. Ini sesi yang membuat kami tertawa bersama malam itu. Membuat kami semakin tahu satu sama lain. Dan entah kenapa 2 hari tersebut benar-benar membuat kami semakin semangat untuk bareng-bareng berjuang bersama mendampingi teman-teman Komunitas Guru Belajar. Seperti Eric Clapton, semoga apa yang kami lakukan bisa membuat kami benar-benar berefleksi dan melakukan hal dengan lebih baik dalam mendampingi teman-teman KGB.