Memetakan Potensi ABK dengan Asesmen

Apa jadinya seorang ahli bedah yang dikenal hebat, terlempar ke masa di mana alat-alat bedah tidak ada. Apakah ia masih bisa melakukan praktik membedahnya?  Namanya Jyin Hyuk, seorang dokter bedah yang hidup dan tinggal di masa modern yang mengalami kejadian aneh, yang membuatnya harus terlempar jauh ke masa Dinasti Joseon. Dalam masa itu, teknologi medis masih dalam tahap awal. Banyak kasus yang dialami Jyin Hyuk ketika ia terlempar ke waktu yang berbeda. Salah satunya adalah ketika ia menemui seorang anak yang sakit perut, mual, mata tampak cekung, dan juga kulit kering.  Dari sekilas melihat kondisi anak tersebut, Jyin Hyuk meminta warga untuk menjaga kebersihan dan melakukan beberapa tindakan. Namun tak disangka, wabah melebar, ada beberapa warga yang meninggal karena penyakit tersebut. Di masa belum ada peralatan medis tersebut, Jyin Hyuk membuat alat alternatif, obat alternatif dan melakukan beberapa keputusan agar virus tersebut tidak tersebar. Asesmen, saya melihat apa yang Jyin Hyuk sebagai seorang dokter melakukan asesmen, dia memperkirakan apa yang sedang dialami si anak dari mengobservasinya, seringnya mual, sakit perut hingga kulit kering membuatnya mendiagnosis bahwa si anak terkena kolera. Ia pun tahu kalau virus itu akan cepat menyebar dan mengambil beberapa keputusan sampai membuat beberapa obat dan alat untuk mengobati yang sudah terkena dampak. Sebagai seorang guru, salah satu yang perlu dimiliki adalah kemampuan seperti dokter Jyin Hyuk, yaitu melakukan asesmen. Oleh karena itulah dalam program Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas pelatihan pertama difokuskan mengajak guru peserta program untuk bisa melakukan asesmen. Pelatihan bertema  “Pemetaan Potensi ABK Pasca Pendidikan Menengah” ini diikuti sekitar 40 guru pembimbing khusus dari SMALB, dan guru BK dari  SMA/SMK/Madrasah Inklusi di Jawa Tengah. Pelatihan yang berlangsung selama 3 hari ini (5-7 Agustus 2019) bertujuan untuk peserta memiliki persepsi yang sama mengenai tujuan pendidikan inklusi, dan mampu melakukan asesmen untuk mengidentifikasi ABK. “Sering banget terjadi miskonsepsi diantara guru mengenai pendidikan inklusi”, ujar Vitriani Sumarlis salah satu pelatih dari Kampus Guru Cikal. Oleh karena itulah di bagian awal pelatihan, peserta diajak untuk berpikir dan berdiskusi mengenai miskonsepsi pendidikan inklusi, seperti : Murid dengan disabilitas/ berkebutuhan khusus tidak akan mampu mengikuti kurikulum yang sama seperti anak-anak pada umumnya  Kurikulum khusus perlu dirancang untuk anak-anak dengan disabilitas/ kebutuhan khusus Menerima murid disabilitas/berkebutuhan khusus dalam kelas reguler hanya akan menghambat pencapaian murid-murid yang lain di kelas tersebut  Pernyataan-pernyataan tersebut membawa peserta berbeda pendapat, ada yang setuju ada pula yang tidak setuju. Dari proses inilah, kami melihat beberapa guru memang masih kebingungan mengenai tujuan pendidikan inklusi. Untuk lebih memberikan gambaran mengenai pendidikan inklusi, pelatih memutarkan sebuah video tentang praktik pendidikan inklusi di negara-negara eropa. Peserta kemudian diajak berdiskusi antarkelompok. “Saya jadi mulai memiliki gambaran sebagai guru BK menerapkan pendidikan inklusi di sekolah saya. Kalau memang pendidikan untuk semua, mengapa perlu kurikulum khusus. Saya mulai memahami bahwa untuk mencapai itu, salah satu yang perlu dilakukan adalah kolaborasi..” ujar salah satu peserta guru BK. Setelah itu pelatihan yang berlangsung di Gedung BP-Diksus, Semarang ini mengajak peserta untuk mengenali keragaman ABK (Anak Berkebutuhan Khusus). Karena jika guru mengetahui tentang keragaman ABK, guru bisa lebih mudah memberikan tindakan yang tepat sesuai ragam ABK-nya. Dalam sesi ini, peserta diajak bermain kartu Murid Istimewaku, kartu permainan yang bertujuan mengajak peserta tahu dan mengerti ragam ABK. Melalui permainan, ragam ABK yang berjumlah banyak memudahkan untuk dimengerti oleh peserta dan kemudian mengelompokkannya ke dalam area-area disabilitas, mana ragam disabilitas yang masuk area disabilitas fisik, mana yang masuk disabilitas sensori, mental, dan intelektual. “Permainannya seru, mengasah peserta untuk bisa merancang strategi agar mendapat skor banyak. Selain itu, penggunaan perbedaan warna memudahkan kami memetakan area disabilitas murid..” ujar salah satu peserta program. Harapannya setelah mengetahui tujuan pendidikan inklusi dan ragam ABK, guru bisa melakukan asesmen yang tepat untuk murid. Oleh karena itulah sesi selanjutnya yang berlangsung di hari kedua membahas tentang prinsip, tujuan dan cara asesmen.  Jika diandaikan seorang dokter Jyin Hyuk yang terlempar ke masa belum mengenal peralatan medis, dan menggunakan apa yang ada di lingkungannya untuk membantu mengobati pasien, maka sebenarnya tantangan guru adalah itu. Tidak bergantung asesmen-asesmen dari lembaga lain yang biasanya berharga tinggi melalui serangkaian tes. “Tantangannya adalah mengajak guru menggunakan apa yang ada untuk melakukan asesmen. Dari sesederhana melakukan pengamatan kepada murid, melakukan wawancara. Karena selama ini yang terjadi di kalangan guru adalah cara melakukan asesmen menggunakan alat berupa tes, yang terkadang berbiaya..” ujar Rizqy salah satu pelatih dalam tahap ini. Lewat berbagai simulasi permainan, peserta diajak untuk saling mengamati satu sama lain. Mencatat apa yang dilakukan, bagaimana perilakunya, menanyainya untuk mendapat gambaran orang tersebut.  “Memang tantangannya dalam asesmen, bagaimana melakukan asesmen tidak secara langsung dan murid mengetahui bahwa mereka sedang diamati/diwawancarai.” ujar Vitriani Sumarlis kepada peserta setelah melakukan simulasi observasi dan wawancara. Di hari terakhir, peserta diajak mengenali bakat dan minat murid melalui teori Holland. Di sesi ini peserta antusias sekali mempelajari mengenai Teori Holland, yang membagi minat menjadi 6 yaitu realistik (sang pekerja), investigatif (sang pemikir), artistik (sang kreator), sosial (sang penolong), wirausaha (sang pembujuk), dan konvensional (sang pengatur). Harapannya, para peserta memiliki pengetahuan mengenai minat sehingga bisa menumbuhkan minat-minat yang murid miliki. “Pelatihan yang berbeda dari pelatihan lainnya. Tiap hari hampir 8 jam pelatihan namun tidak terasa.” Ujar Nanik Qomariyah, salah satu peserta 

Uji Coba, Umpan Balik dan Media Inovatif yang Bermakna

Seandainya Anda adalah seorang yang suka masak dan ingin memasarkan masakan Anda. Apa yang Anda lalukan? Langsung menjualnya? Atau ada hal lain yang harus Anda lakukan sebelum Anda memasarkannya? Waktu itu di tahun 2013 saya bersama teman-teman berencana membuka warung makan kerang. Saya mencari resep di internet, bertanya kepada saudara yang ahli masak. Jadilah beberapa varian menu bumbu kerang : saus tiram, asam manis, sambal kacang, hingga saus padang. Setelah itu, untungnya saya tidak langsung menjualnya. Setelah beberapa kali gagal, lalu menyicipi sendiri bumbunya, merasa kurang, coba lagi dengan memadupadankan bahan bumbu lainnya lalu saya mengundang beberapa tester di antaranya teman-teman saya penikmat kuliner, saudara saya pengusaha kuliner, dsb. Dari aktivitas testing itulah saya mendapat banyak umpan balik dari yang datang.  Saya perbaiki lagi bumbunya, sesuai masukkan tester waktu itu. Kemudian saya berani membuka warung kerang. Banyak yang suka dan akhirnya menjadi langganan warung. Saya belajar banyak dari situ, proses testing sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas produk yang kita miliki. Bagaimana dengan media ajar? Media ajar yang dibuat guru untuk murid di kelas. Apakah media yang guru buat bisa langsung dipraktikkan di dalam kelas? Apakah media ajar yang dibuat bisa langsung dipasarkan? Sama halnya dengan kerang tadi, media ajar yang dibuat haruslah melalui tahapan testing (uji coba). Agar bisa mengetahui apakah media ajar yang kita buat sudah sesuai sasaran, sudah bermakna dan berguna untuk murid. Namun pertanyaannya adalah uji coba yang seperti apa? Jangan sampai sudah meluangkan waktu melakukan uji coba, namun tidak tepat sasaran. Bukannya mendapat umpan balik yang sesuai, malah membuat media ajar kita jauh dari harapan.  Kembali lagi ke atas? Coba saat saya akan membuka warung, tester saya bukanlah orang tepat, bumbu kerang saya akan menjadi amburadul. Oleh karena itu dalam tahapan Wardah Inspiring Teacher 2019 di Kota Surabaya, Kampus Guru CIkal mengajak guru-guru yang sudah membuat rancangan media dari tahap pra pelatihan melakukan uji coba dalam pelatihan “Validasi Karya melalui Uji Coba Bermakna” .  Di awal pelatihan guru-guru diajak untuk mulai merancang uji coba dari : Menentukan siapa yanng akan mengujicoba media yang dibuat. Mencari cara uji coba yang akan dilakukan. Membuat pertanyaan yang sesuai agar mendapat umpan balik yang diinginkan. Melakukan refleksi diri Menjadi guru berkarier Kegiatan pelatihan 2 wardah Inspiring Teacher ini bertempat di Hotel Ibis Style Jemur Sari Surabaya diikuti 33 guru dari berbagai jenjang dan daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dalam sesi ini, guru-guru diwajibkan membawa rancangan media yang ia buat dari sesi sebelumnya. Beragam media yang guru bawa, dari media papan permainan bernama Battlefield Trigonometri, yang dibuat untuk memudahkan belajar trigonometri. Kartu Walisongo, memudahkan orang mengetahui proses walisongo dalam menyebarkan Islam, Spin lembaga pemerintah, lingkaran bergerak untuk membantu murid belajar dan memahami fungsi lembaga-lembaga pemerintahm dan masih banyak lainnya. Dari sesi uji coba banyak yang terbantu, salah satunya adalah Ibu Tri Mutmainah seorang guru yang membuat video tutorial untuk memudahkan murid membuat baju. Bu Tri Mutmainah mendapat banyak feedback dari rekan-rekannya, seperti suara yag kurang jelas, yang menganggu pemahaman, video yang kurang ilustrasi, hingga gaya bahasa yang digunakan.  “Umpan balik yang diberikan membantu saya dalam memperbaiki videonya.” ujar Tri Mutmainah. Sejalan dengan Tri Mutmainah, guru Hibatun Wafiroh juga merasakan dampak dari tahapan uji coba.  “Pelatihan ini sangat penting bagi saya. Saya semakin tahu, bahwa setelah membuat media ada langkah yang sering kali tidak saya pikirkan yaitu uji coba. Dari uji coba tadi, saya mendapat banyak umpan balik. Insya Allah Setelah ini media yang saya buat bisa lebih baik.” ucap Guru Hibatun Wafiroh, salah satu peserta WIT dari Lamongan.

7 Model Media Ajar Inovatif

Pernahkah Anda mengalami kesulitan saat menjadi fasilitator murid di kelas? Apalagi mengajar murid yang beragam karakteristiknya, mengajar di jam-jam siang, mengajar di jam pembelajaran setelah pembelajaran olahraga, dan banyak faktor lainnya. Faktor-faktor tersebut kadang membuat murid menjadi bosan, tidak antusias dalam belajar. Jika mengalami kondisi tersebut, apa yang akan Anda lakukan? Tetap menjalankan pembelajaran seperti biasanya, atau mencari cara membuat murid antusias belajar. Ada berbagai macam cara yang Anda bisa lakukan untuk mengatasi kesulitan Anda tersebut, salah satunya adalah menghadirkan media ajar. Saya analogikan dengan televisi, sebuah informasi disampaikan oleh jurnalis melalui media televisi, agar informasi tersebut diterima dan dipahami oleh penonton televisi. Sama halnya dengan televisi, media ajar merupakan perantara antara guru dan murid. Membantu guru menyampaikan suatu pesan/materi agar sampai dan dipahami  murid, Dalam tahapan Wardah Inspiring Teacher 2019 (WIT 2019), peserta yang notabennya adalah guru-guru dari berbagai daerah diajak berinovasi membuat media ajar. Dalam artikel sebelumnya peserta WIT 2019 sudah diajak melakukan tahapan design thinking dalam membuat media ajar. Guru-guru mencoba berempati, menemukan masalah murid dan mencari solusi untuk memecahkan masalah yang dihadapi murid. Melalui Blended Learning, pelatih dari Kampus Guru Cikal mengajak guru-guru yang sudah mengalami tahap sebelumnya, untuk mengenal media ajar yang nantinya akan dikembangkan oleh guru-guru tersebut, apa saja media ajar yang bisa dikembangkan guru untuk pembelajaran. Berikut adalah 7 Model Media Ajar Inovatif : 1. Poster Mungkin terbilang konvensional memasukkan poster sebagai media ajar di era sekarang, namun penggunaannya yang mudah dan murah membuat poster menjadi media yang bisa dipertimbangkan untuk digunakan. Visual dalam poster bisa membantu murid memahami sebuah informasi. Apalagi visual yang digunakan dekat dengan murid. Di dalam kelas poster bisa dimodifikasi bergantung kebutuhan belajar murid. Poster bisa digunakan untuk menyampaikan informasi, poster bisa digunakan untuk memantik diskusi/pertanyaan murid, poster juga bisa digunakan untuk merekam proses/hasil belajar murid. 2. Papan atau buku interaktif Mengajak murid terlibat dalam pembelajaran, salah satu cara agar murid menjadi tidak bosan dan menjadi antusias. Salah satunya dengan membuat media yang interaktif, melibatkan murid. Memungkinkan murid untuk berinteraksi dengan komponen di dalamnya. Misalnya guru menciptakan media poster, di mana dari poster tersebut murid bisa melipat bagian tertentu, mengganti bagian yang ada di poster, menambahkan bagian yang lain, dan sebagainya. Buku pun juga bisa dirancang untuk interaktif, guru membuat buku yang mana murid bisa menambahkan karakter, merasakan tekstur buku, mengisi bagian yang kosong dsb. 3. Alat peraga Masih ingat saat Anda masih sekolah dulu dan masuk laboratorium biologi. Ada torso yang guru biologi gunakan untuk menjelaskan mengenai bagian-bagian tubuh manusia. Torso membantu guru memperlihatkan bagian-bagian tubuh manusia. Alat peraga merupakan alat yang membantu guru memperagakan suatu pengetahuan. Alat peraga 3 dimensi, untuk menjelaskan bangun ruang, torso untuk menjelaskan bagian tubuh manusia, uang kertas, uang koin, dsb. 4. Lagu Saya pernah merasakan kebingungan saat akan menyampaikan pembelajaran gurindam waktu menjadi guru Bahasa Indonesia di salah satu sekolah negeri di Jawa Tengah. Bingung karena sastra melayu lama tidak menarik lagi bagi murid-murid zaman now. Murid-murid biasanya sekadar formalitas menerima materi tanpa tahu apa tujuan mereka mempelajari ini. Saya kemudian memutar otak dan mengamati murid-murid saya. Murid-murid zaman now ternyata unik ya, banyak hal yang mereka sukai salah satunya adalah menyanyikan lagu-lagu rap, yang memang saat itu sedang heboh, dan banyak bermunculan penyanyi-penyanyi rap seperti Young Lex, Awkarin, Saykoji, dsb. Cling, kemudian terbesitlah ide. Kalau dilihat struktur gurindam dan syllables lagu rap hampir sama. Maka kemudian yang saya lakukan adalah membuat lagu rap untuk saya gunakan menyampaikan pembelajaran gurindam. Dan mengajak murid berkarya membuat lagu rap dengan gurindam. Apa yang terjadi? Murid-murid antusias sekali dalam membuat lagu, kemudian menyanyikannya bersama. Tak sadar mereka sedang belajar gurindam. Jadi lagu bisa menjadi salah satu media ajar yang bisa digunakan guru untuk berkomunikasi dengan murid dalam menyampaikan materi ataupun menyampaikan pesan, atau bahkan untuk mengakrabkan diri dengan murid. 5. Video Era sekarang sudah lazim video digunakan untuk pembelajaran. Audiovisual membantu guru menyampaikan materi. Ada berbagai jenis video yang bisa guru buat, antara lain : video penjelasan, video pengetahuan, video dan film. Tentu saja dalam membuat itu semua diperhatikkan pula apa yang murid sukai, sehingga dalam menyaksikan video, murid pun merasa antusias dan dilibatkan. Murid dalam pembelajaran menggunakan video, bisa ditempatkan pada dua posisi. Posisi sebagai konsumen, dan posisi sebagai produsen. Sebagai konsumen, murid diajak menjadi penonton video yang kadang pula diajak interaksi saat atau setelah pemutaran video, baik berupa diskusi, melakukan sesuatu, dsb. Selain itu murid juga bisa menjadi produsen, berarti murid lah yang membuat video. Era saat ini memungkinkan penilaian pembelajaran berupa video. Memanfaatkan keterampilan-keterampilan yang dimiliki murid. Seperti video-video berikut ini : 6. Permainan Siapa sih yang nggak suka main? Apalagi murid-murid. Sehingga tepat sekali jika permainan digunakan sebagai salah satu media ajar untuk membantu murid belajar. Ada beberapa jenis permainan yang guru bisa kembangkan menjadi media, antara lain :a. Permainan dalam bentuk aktivitasPermainan yang mengajak murid bergerak, seperti gobak sodor, petak umpet, engklek, dst.b. Permainan kartu/papanPermainan yang memanfaatkan kartu atau papan dalam bermainnya, seperti monopoli, ular tangga, fundora, ludo, dsb.c. Permainan berbasis alatPermainan yang dalam melakukannya membutuhkan bantuan alat, seperti galasin, enggrang, balok warna-warni, lego, boneka, dst.d. Permainan digitalPermainan yang memanfaatkan perangkat digital dalam memainkannya, seperli Mobile Legend, Pokemnon Go, Wining Eleven, dsb. 7. Aplikasi berbasis teknologi Pernah memakai aplikasi Quizizz untuk penilaian murid? Atau memakai Duolingo untuk membantu murid belajar bahasa Inggris? Dua-duanya adalah aplikasi berbasis teknologi yang merupakan media ajar. Sangat kompleks memang untuk mengembangkan media yang satu ini. Selain harus melek teknologi juga pembuatannya membutuhkan waktu yang sangat lama. Guru Anggayudha Anandarasa yang menjadi pelatih menyampaikan materi tersebut melalui Google Classroom pada Senin17 Juni 2019. Inilah salah satu keuntungan menggunakan sistem blanded learning, yaitu peserta dari berbagai daerah dan berjumlah 100an lebih bisa mengakses materinya, ada yang langsung dibuka pada saat itu juga, ada pula yang baru bisa membukannya keesokan harinya karena kesibukkan. “ “Materi kemarin di WIT tentang design thinking sangat membantu banget . Sebelum mengikuti kelas WIT, saat mengajar bangga banget kalau bisa pakai media dan yakin pasti anak-anak akan lebih mudah memahami materi. Eh, ternyata panggang jauh dari api, anak-anak justru kurang begitu berminat … Read more

Memulai Blended Learning

Saya punya hobi fotografi dan juga videografi, bahkan hobi saya tersebut akhirnya menjadi pekerjaan saya. Bagaimana saya memulai itu semuanya, padahal pendidikan formal yang saya ambil tidak ada kaitannya dengan dua keterampilan tersebut? Jawabannya adalah internet. Adanya internet membantu saya bisa belajar di mana saja dan kapan saja. Ilmu-ilmu dasar foto dan video saya dapatkan melalui kegiatan berselancar di internet. Membaca artikel di beberapa website, saya padukan dengan menonton video di youtube dan tak jarang mengikuti diskusi di grup-grup Facebook. Dan sesekali mengikuti pelatihan atau kelas tatap muka. Internet mengubah kebiasaan belajar zaman dulu. Belajar di tempat formal seperti sekolah, dan lembaga pelatihan. Belajar yang waktu dan tempatnya sudah ditentukan, sehingga kita yang ingin ikut belajar harus mengikuti waktu dan lokasi yang sudah ditentukan. Dan itu kadang membuat kita tidak leluasa. Oleh karena itulah Kampus Guru Cikal dalam program Wardah Inspiring Teacher 2019 (WIT 2019) menggunakan konsep Blended Learning dalam pelaksanaan pelatihan. Peserta WIT 2019 diajak merasakan pembelajaran bermakna dengan konsep Blended Learning. Konsep yang menggabungkan berbagai macam metode belajar, baik luar jaringan (luring) dengan tatap muka, atau dalam jaringan (daring) melalui aplikasi digital. Sebelumnya sekitar bulan April 2019 yang lalu Kampus Guru Cikal sudah memberikan pelatihan tatap muka di 4 daerah yaitu Yogyakarta, Bandung, Surabaya dan Jakarta untuk memulai berinovasi untuk menciptakan media ajar. Dalam kesempatan tersebut, peserta mendapatkan pengetahuan mengenai langkah awal untuk berinovasi dengan design thinking . Peserta baru melaksanakan 3 langkah design thinking, yaitu 1) empati (memahami murid), 2) mendefinisikan masalah yang dihadapi murid saat belajar, dan 3) mencari solusi dari permasalahan murid. Masih ada dua tahapan lagi yang perlu peserta ikuti yaitu 4) membuat portofolio (purwarupa) media ajar, dan terakhir adalah 5) melakukan uji coba/testing. Untuk itulah tahapan 4 dan 5 akan dimulai dari pembelajaran dalam jaringan (daring). Untuk memudahkan pembelajaran daring Kampus Guru Cikal menggunakan dua platform yaitu aplikasi Whatsapp dan Google Classroom. Alasan digunakannya Whatsapp karena sudah umum di kalangan guru, sehingga memudahkan untuk berkomunikasi. Adapun penggunaan Google Classroom digunakan untuk menyajikan materi dan asesmen, dan memudahkan mengecek peserta siapa saja yang sudah membaca materi dan mengirimkan tugas yang diberikan. Seperti tulisan Badrul H.Khan dalam artikel yang berjudul The Global E-Learning Framework, salah satu prinsipnya yaitu aspek pedagogis, di mana pelaksana E-Learning terlebih dahulu harus menganalisis kebutuhan pelatihan dari pesertanya, konten, media yang digunakan, strategi pembelajarannya. Sehingga peserta bisa belajar dengan efektif dan efisien. Seperti yang Kampus Guru Cikal lakukan sebelum pelaksanaan Blended Learning, yaitu mengadakan sesi diskusi pengenalan platform yang akan digunakan. Sesi diskusi dipandu oleh Anggayuda Anandarasa dari Kampus Guru Cikal. Ternyata dari sesi diskusi yang dilakukan tersebut, banyak peserta yang belum pernah menggunakan Google Classroom. Sehingga sesi perkenalan dengan platform tepat dilaksanakan karena membantu peserta mengenal lebih dulu sebelum menggunakannya. “Ini pertama kali saya memakai Google Classroom. Terima kasih ilmunya Kampus Guru Cikal.” ungkap salah satu peserta setelah sesi diskusi berakhir. Beberapa peserta yang tidak bisa mengikuti diskusi di waktu yang ditentukan masih bisa mempelajari Google Classroom. Karena memang kelebihan pembelajaran ini yaitu fleksibilitas. Peserta bisa mengakses materi kapan saja dan di mana saja.

Udinus Berdayakan Teknologi untuk Mahasiswa Penyandang Disabilitas

“Sepuluh tahun yang lalu, ada salah satu orangtua mahasiswa yang meminta anaknya yang notabennya penyandang disabilitas untuk bisa mengenyam pendidikan di Udinus. Kami belum punya pengalaman untuk mendampingi anak berkebutuhan khusus belajar, namun bagi kami ini tantangan. Akhirnya kami terima, dan kami kemudian mencari cara agar anak tersebut bisa belajar dengan maksimal.” , tutur Prof Dr Ir Edi Noersasongko M.Kom Rektor Universitas Dian Nuswantoro Semarang (Udinus) yang kami temui Kamis (16 Mei 2019) di Gedung rektorat Udinus, Semarang. Dalam pertemuan bertajuk audiensi program Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas untuk NusantaRun 6 ini rektor Udinus menceritakan bagaimana Udinus memulai kepeduliannya dengan mahasiswa penyandang disabilitas. Seperti cerita di atas, untuk menghadapi tantangan tersebut pak Edi meminta beberapa dosennya untuk belajar, membuat riset mengenai penyandang disabilitas. Ternyata, usahanya tidak sia-sia, banyak dosen yang akhirnya tergerak membuat riset mengenai penyandang disabilitas. Misalnya Muljono S.Si, M.Kom dosen Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) yang mengembangkan Sistem Sintesis Ujaran Audio-Visual (SSUAV) untuk Bahasa Indonesia yaitu sebuah sistem yang dapat membangkitkan ujaran audiio visual secara simultan dari teks yang diinputkan, sistem tersebut memanfaatkan alat bernama Job Access With Speech (JAWS). Sistem dan alat ini mampu membantu para tunanetra untuk menggunakan komputer. Dalam kerjanya aplikasi tersebut membaca layar komputer dan mampu melafalkan teks. Selain Muljono, mahasiswa Teknik Biomedis Udinus juga menciptakan kursi roda berteknologi modern yaitu bisa berjalan hanya dengan kendali jari. Dari riset tersebut banyak mahasiswa penyandang disabilitas terbantu, salah satunya adalah Eka Pratiwi Taufanti, mahasiswa jurusan S1 Sastra Inggris Udinus ini berhasil menemukan jalan kariernya sebagai penulis saat belajar di Udinus. Berikut salah satu tulisan Eka : “Aku tentu bangga dan bahagia dengan apa yang kudapat sekarang ini. Memang yang kudapat ini belum apa-apa jika dibandingkan dengan teman-teman lainnya, namun aku tetap bersyukur karena meskipun aku harus tinggal berpisah dengan orang tuaku yang berjualan pecel serta nasi di luar jawa, namun aku bisa tetap melanjutkan pendidikanku. Pelita di kedua mataku kini memang telah tiada , terganti gulita yang sesakkan dada. Namun berkat rasa syukur dan mimpi yang berpijar dalam jiwa, gulita itu seolah bukan apa-apa. Pelita lain, pelita baru yang lebih benderang dari cahaya optic pada indera penglihatanku kini berpijar, menyinari kehidupan seorang anak manusia yang dianugerahi sebuah ketunanetraan, seorang anak manusia yang meski memiliki keterbatasan namun tetap memiliki mimpi sebesar bahkan lebih besar dari mereka; individu-individu yang sempurna secara fisik. Seseorang dengan keterbatasan nyatanya dapat menembus keterbatasan tanpa batas, berlari mengejar mimpi dengan keyakinan penuh dalam hati. Bagiku hidup adalah berawal dari mimpi, maka jangan takut bermimpi karena ketika kita takut bermimpi, kehidupan ini tak akan ada untuk kita. Kuncinya, ikhlas dengan takdir yang ada and do believe that God will give a hand for us!!” Udinus memang tak main-main dengan apa yang mereka lakukan untuk penyandang disabilitas, pada tahun 2017 Udinus mengundang perwakilan organisasi dan komunitas difabel untuk mengikuti Focuss Group Discussion (FGD) untuk menyusun bahan ajar yang aksesibel bagi mahasiswa difabel netra. Dalam audiensi tersebut, Kampus Guru Cikal yang diwakili Bukik Setiawan dan Rizqy Rahmat Hani ini mengajak Udinus menjadi salah satu perguruan tinggi tujuan calon mahasiswa penyandang disabilitas untuk program Pengembangan Murid Disabilitas. Gayung bersambut, pak rektor menyambut hangat ajakan kami.

Kerja Barengan untuk Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas

“Saya sangat senang sekali dengan program ini. Bahwa benar seorang guru harus belajar dan belajar terus, karena saya ingin sekali mengoptimalkan kembali potensi yang dimiliki oleh anak, biar anak-anak itu bisa.” ungkap Septi Mardianti seorang guru dari SLBN Kota Tegal yang mengikuti kegiatan Sosialisasi Program Pengembangan Murid Disabilitas oleh Kampus Guru Cikal, Jumat 3 April 2019 di Gedung B Aula Ki Hajar Dewantara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah yang dihadiri 120 Kepala Sekolah SMA, SMK, MA Inklusi serta SLB di Jawa Tengah Kegiatan sosialisasi ini merupakan kegiatan awal dari serangkaian kegiatan dalam program Pengembangan Murid Disabilitas yang dilakukan oleh Kampus Guru Cikal. Pendanaan dari program ini didapatkan dari donasi yang digalang melalui lari ultra marathon yang diadakan NusantaRun pada 7-9 Desember 2018 lalu. Upaya penggalangan dana oleh para pelari tersebut berhasil mengumpulkan dana sejumlah 2,65 miliar. Hasil donasi tersebut yang digunakan untuk membiayai Program Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas di Jawa Tengah dan DIY. Ada 3 subjek yang menjadi sasaran dalam program ini, yaitu murid penyandang disabilitas, guru BK dan orangtua. Murid penyandang disabilitas selain mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, juga mendapat pelatihan keterampilan belajar untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Guru BK mendapatkan pelatihan pendidikan inklusi dan pelatihan bimbingan karier. Harapannya dari pelatihan tersebut guru BK memiliki keterampilan dalam mendampingi murid penyandang disabilitas untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Orangtua juga menjadi sasaran program karena dukungan orangtua penting bagi keberhasilan pendidikan murid penyandang disabilitas. Dalam sosialisasi program pengembangan murid disabilitas, Bukik Setiawan selaku ketua Kampus Guru Cikal menyatakan bahwa ekosistem pendidikan kita membutuhkan murid penyandang disabilitas yang melanjutkan pendidikan tinggi sebagai kisah sukses agar semakin banyak dukungan bagi pendidikan inklusi. “Layaknya seorang petani yang menanam bibit tanaman dengan metode yang ia gunakan, maka jika berhasil akan bisa ditiru oleh petani lainnya. Program ini akan berjalan jika ada keterlibatan banyak pihak, baik dinas, sekolah, guru, dan juga masyarakat” ujar Bukik dalam acara tersebut. Sejalan dengan Bukik Setiawan, wakil gubernur Jawa Tengah Taj Yasin yang hadir dalam acara tersebut mengatakan bahwa perlu jangkauan yang lebih luas untuk pendidikan inklusi, jika pemerintah provinsi saja jangkauannya kecil. Program yang digagas NusantaRun merupakan dukungan nyata dari masyarakat dalam mendukung cita-cita pendidikan untuk semua.

Inovasi Pembelajaran dengan Berempati kepada Murid

Suatu hari di pertengahan tahun 2013 saat menjadi guru di sebuah sekolah menengah negeri di Pekalongan saya mendapatan ide untuk saya sampaikan di dalam kelas. “Pasti ide ini berhasil.” batinku Seminggu setelahnya saya putarkan video yang saya buat. Video yang berisi cerita biografi orang-orang sukses seperti Bill Gates, Mark Zuckenberg dan saya kemas secara menarik. Namun entah kenapa murid biasa saja, seakan media yang saya buat sekadar menjadi media hiburan. Saat sesi membedah biografi tokoh, tidak ada ketertarikan. Murid malah mengobrol sendiri, bemain gawai, beberapa memperhatikan namun terlihat tidak antusias. “Video yang saya buat sudah bagus, sudah memakai beberapa animasi yang saya buat sendiri. Lalu apa yang salah. Mengapa murid saya tidak tertarik dengan pembelajaran yang kekinian.” Apa yang salah? Mungkin bukan saya saja yang pernah mengalami masalah di atas. Merencanakan sesuatu untuk murid di kelas namun tidak melibatkan murid. Bukan sesuatu yang murid butuh, tapi sesuatu yang guru ingin. Salah satu kutipan di produk adalah “Apakah murid Anda merasa dipahami?”. Kutipan tersebut mengingatkan guru untuk terus melibatkan murid, menjadikan murid subjek pembelajaran. Pertanyaanya selanjutnya adalah bagaimana cara melibatkan murid? Oleh karena itulah dalam Wardah Inspiring Teacher 2019, Kampus Guru Cikal memasukkan sesi melibatkan murid dalam pelatihan Mendesain untuk Perubahan. Mengajak guru berempati pada murid sebelum membuat inovasi pembelajaran. Melibatkan MuridPelatihan dua hari (13-14 April) yang diadakan di Hotel Ibis Style Jemursari, Surabaya ini diikuti kurang lebih 51 guru dari berbagai daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah dalam rangka Wardah Inspiring Teacher 2019. Di awal sebelum pelatihan dimulai, ada asesmen awal yang perlu diisi oleh guru. Dari data pra pelatihan, banyak guru yang masih belum melibatkan murid sebelum mendesain sesuatu untuk murid, baik media maupun metode belajar. Oleh karena itu kami melihat bahwa pelatihan ini diperlukan oleh guru. Pelatihan dimulai dengan mengajak guru untuk memahami tentang zaman yang sudah berkembang dan perlunya guru untuk terus belajar untuk bisa berinovasi. Karena menjadi inovator adalah sarana mencapai karier guru. Pada sesi ini Guru Ely dari Sekolah Cikal Surabaya yang memandu sesi. Untuk menjadi inovator pembelajaran yang perlu diperhatikan seperti di awal tulisan ini yaitu memahami murid. Memulai dengan berempati dengan murid yang kita ajar, tentang tahap perkembanganya serta aspek kemampuan yang murid miliki. Dalam sesi ini guru dibagi kelompok berdasar jenjang kelas yang diampunya. Guru TK – SD rendah (kelas 1-3 SD), guru SD besar (kelas 5-6 SD), guru SMP, dan guru SMK. Dari pembagian kelompok terlihat bahwa jumlah guru SMA dan SMP lebih banyak daripada guru SD. Oleh karena itu kelompok SMA dan SMP menjadi kelompok yang gemuk. Tiap kelompok mempelajari tahapan perkembangan yang sudah ada dalam modul. Kemudian, Guru Rizky Satria yang memandu sesi ini mengajak guru-guru untuk mengisi peta empati. Guru-guru diajak memahami muridnya. “Seandainya Anda jadi murid Anda apa yang murid Anda dengar, lihat, rasakan, pikir dan lakukan?” Guru-guru terlihat antusias dalam menyampaikan pendapatnya, terlihat bahwa sebenarnya guru sudah mengetahui bagaimana murid yang mereka ajar. Namun memang belum menyadari tentang tahap tersebut penting dilakukan untuk merancang sesuatu untuk pembelajaran. “Saya biasanya ya ikut-ikutan yang sedang trends saja di kalangan guru” kata seorang guru saat kami wawancara. Ada pula yang menjawab bahwa biasanya dalam merancang sesuatu dalam pembelajaran dari pelatihan yang baru saja diikuti yang biasanya hanya menjelaskan cara. Sehingga tujuan utama yaitu murid tidak menjadi fokus utama guru. Sesi mengisi peta empati ini guru seperti menemukan AHA! Momen. Sebuah cara yang sederhana namun berdampak. “Sesi ini membuka mata saya untuk lebih berempati kepada murid saya untuk menciptakan pembelajaran yang lebih peka terhadap murid saya.”, ujar Guru Yosef salah satu peserta dari Malang. Dari empati tersebut guru diajak mencari permasalahan yang dialami murid. Dalam sesi ini guru merasa kesulitan, masalah-masalah yang guru jabarkan kebanyakan berkaitan dengan sistem, metodu guru sendiri, dan lingkungan. Fokus masalah murid jarang yang ditulis guru. Seperti awal tulisan ini guru jarang memikirkan apa yang murid butuhkan, lebih sering kepada apa yang guru inginkan. Sistem, lingkungan, dan cara. Pelatih kemudian membantu guru untuk lebih memfokuskan masalah kepada murid. Akhirnya banyak masalah yang muncul seperti murid yang lebih asyik tertarik dengan hal yang lebih menarik seperti bermain gadged, mengobrol dengan teman, murid yang kesulitan dalam mengekspresikan diri, murid yang tidak mengetahui manfaat dari membaca dan lain sebagainya. Permasalahan tersebutlah yang kemudian membantu guru dalam membuat solusi yang sesuai. Banyak ide solusi yang ditawarkan guru yang muncul dari masalah tersebut, seperti : 1. Go-Viral, pemanfaatan media sosial untuk media belajar murid yang muncul dari permasalahan murid yang lebih suka bermain gawai daripada memperhatikan guru menyampaikan materi. 2. Perang Bintang, pemanfaatan permainan tukar bintang dengan bermain peran untuk mengatasi permasalahan murid-murid yang kesulitan konsentrasi. 3. Coll Laborate Acton Advanture, pembelajaran yang mengajak menciptakan petualangan antarkelompok dalam pengerjaaan soal-soal kritis yang dibuat karena latar belakang murid yang memiliki banyak minat yang berbeda. 4. Jam putar, pembelajaran matematika dengan jam yang bervisualisasi tokoh favorit murid untuk memudahkan pembelajaran matematika, inovasi ini dibuat untuk mengatasi masalah murid yang frustasi ketika menemui angka dalam pembelajaran matematika. Senang sekali rasanya melihat guru mulai berinovasi dengan cara memahami murid terlebih dahulu, Jadi pertanyaan dalam kaus Guru Belajar Esensial “Apakah murid Anda merasa dipahami?” sudah bisa terjawab dari apa yang guru lakukan di atas.

Playground of Ujung Pandang : Perayaan Belajar yang Bermakna

Tidak sedikit masyarakat yang menyesalkan dengan perkembangan yang ada saat ini. Teknologi yang melesat, masuknya budaya global dan gaya hidup pop culture. Hal tersebut membuat sebagian orang bergeming tentang nasib budaya lokal. “Bagaimana warisan budaya nenek moyang nantinya? Apakah akan terus terjaga? Bagaimana jika suatu saat nanti hilang di telan zaman?” Menganggap seakan bahwa generasi penerusnya tidak akan melestarikan, menganggap bahwa perkembangan yang ada adalah suatu bahaya bagi budaya lokal. Alih-alih menyalahkan generasi penerus, Sekolah Cikal mengajak para murid mengenal budaya dengan cara yang menarik, yaitu dengan Playground. Playground merupakan perayaan belajar murid yang mengintegrasikan antara pelajaran, minat bakat, budaya Indonesia dan aksi sosial yang berkontribusi terhadap kualitas pendidikan Indonesia. Pada tahun ini, Cikal Playground memilih Ujung Pandang sebagai fokus yang dipelajari para murid sehingga disebut sebagai Playground of Ujung Pandang. “Ujung Pandang terkenal dengan Kapal Phinisinya, kapal terbesar dari Asia Tenggara yang berhasil mengelilingi dunia, itulah salah satu alasan mengangkat Ujung Pandang.” Ujar Pia Adiprima, Ketua Penyelenggara Playground of Ujung Pandang Perayaan keberhasilan belajar ini dikemas menjadi dua, yaitu berupa pameran dan pertunjukan. Saya sendiri sudah mengikuti 2 kali playground, yaitu Pobal (Playground of Bali) dan Pomin (Playground of Minang), dan keduanya berhasil membuat saya takjub. Bahwa mengenalkan budaya ternyata bisa dengan cara yang menarik, salah satunya diintergrasikan ke dalam pembelajaran. Hari ini (Jumat, 5 April 2019) saya berkesempatan datang di playground untuk ketiga kalinya, yaitu di Popang (Playground of Ujung Pandang) di Sekolah Cikal Cilandak. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yang melangsungkan pameran dan pertunjukan di gedung pertunjukkan di luar sekolah. Kali ini beda, karena diselenggarakan di dalam sekolah. “Ini pertama kalinya panggung di dalam sekolah ya, sebelumnya tidak. Ini bagi orangtua dapat lebih dekat dengan anak, dan anak lebih percaya diri.” Afand orangtua murid. Salah satu yang spesial adalah pengunjung bisa masuk kelas-kelas yang berisi pameran hasil belajar murid. Ada layang-layang bermotif kain Ujung Pandang yang mana dihasilkan dari intergrasi pembelajaran seni dan matematika. Adapula tempelan-tempelan tentang tokoh, benda, dan sesuatu dari Ujung Pandang yang merupakan hasil pembelajaran bahasa. Selain itu ada pula beberapa barang yang dilelang kepada pengunjung, yang notabennya adalah karya murid. Seperti tahun sebelumnya di Pomin (Playground of Minang) hasil penjualan barang dan tiket akan disulurkan di suatu daerah. Tahun ini rencananya akan menyasar 250 guru dan 10.000 murid di Jeneponto, Sulawesi Selatan. Karena yang kita butuhkan bukan keluhan dan menyalahkan, namun harapan dan sebuah gerakan untuk kelestarian dan kemajuan Indonesia.

Melek Literasi dengan Memanusiakan Hubungan

Berawal dari sapaan di aplikasi Telegram di tengah malam, berakhir pada perubahan prak- tik pengajaran di Pesisir Selatan. Kok bisa? Selamat malam Pak Bukik Selamat malam Bu. Ada keperluan apa? Begini Pak. Saya tertarik dengan Komunitas Guru Belajar Apa Ibu bersedia menjadi Penggerak Komunitas Guru Belajar? Bersedia Pak. Itulah penggalan obrolan saya dengan Bu Rahmiyanti yang mengawali interasi Kampus Guru Cikal dengan rekan guru di Pesisir Selatan. Ketika pertama mendengar Pesisir Selatan, terus terang tidak terbayang dimana letak daerah tersebut. Saya menduga di Kalimantan, namun saya sadar dugaan itu keliru ketika mencari di mesin pencari. Di tengah semangat belajar seorang guru perempuan di Pesisir Selatan, Cikal menggelar Playground of Minang. Minang kebetulan menjadi pilihan fokus belajar pada tahun 2018. Setiap tahun fokus belajar Playgroud berganti-ganti dari budaya daerah yang satu ke budaya daerah yang lain. Playground meru- pakan perayaan belajar murid yang mengintegrasikan antara pelajaran, minat bakat, budaya Indonesia dan aksi sosial yang berkontribusi terhadap kualitas pendidikan Indonesia. Kegiatan ini melibatkan murid, guru, orangtua, dan manajemen dari Rumah Main Cikal, Sekolah Cikal dan Kampus Guru Cikal. Guru merancang proses belajar yang memandu murid mempelajari pelajaran dan mengembangkan minat bakat yang terintegrasi dengan budaya Minang. Budaya Minang menjadi konteks bagi murid Cikal dari jenjang PAUD, Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah dalam mempelajari Bahasa Indonesia, Matematika, Sains, Kewarganegaraan hingga Seni Budaya. Hasil belajarnya ditampilkan dalam bentuk pameran dan panggung seni. Tiket masuk pagelaran Playground of Minang dan hasil lelang karya murid digunakan untuk membiayai aksi sosial. Bayangkan ribuan murid Cikal dari berbagai suku dan agama belajar dan berkontribusi tentang dan dalam konteks Budaya Minang. Itulah wujud nyata kecintaan pada Indonesia. Unduh Surat Kabar Guru Belajar edisi khusus KGB Pesisir Selatan DI SINI

Menuju Kolaborasi #PendidikanUntukSemua

Dalam pelaksanaan program Pengembangan Murid Disabilitas di Jawa Tengah dan DIY, butuh beberapa pihak untuk membuat program tersebut berjalan baik. Selain perguruan tinggi sebagai lembaga yang akan menerima murid penyandang disabilitas, butuh pihak sebagai sistem pendukung murid disabilitas tersebut, yaitu sekolah, guru dan orangtua. Oleh karena itulah langkah berikutnya yang kami lakukan adalah melakukan audiensi kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah dan Kementrian Agama Kanwil Jawa Tengah. Dalam audiensi tersebut, kami juga bertemu dengan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen. Beruntunglah kami, karena Jawa Tengah sedang membangun diri menjadi pioner pendidikan inklusi di Indonesia. Sebulan sebelum kami mengajak bekerjasama, ternyata sudah ada pertemuan yang dilakukan oleh pemerintah Provinisi Jawa Tengah berkaitan dengan inklusi. Artikel bisa dibaca di sinihttps://jatengprov.go.id/publik/sekolah-inklusi-dorong-abk-tak-minder-bersosialisasi/ “Saya ingin Jawa Tengah yang menjadi pionir tumbuhnya pendidikan inklusi. Kami ingin mendorong bahwa Jawa Tengah peduli dan tidak membeda-bedakan antara anak yang berkebutuhan khusus dan anak-anak yang normal,” ucap Gus Yasin dalam pertemuan tersebut. Gus Yasin juga menceritakan anak keduanya yang bersekolah di sekolah inklusi di sebuah sekolah di Rembang, terlihat berbeda dalam bersikap. Lebih peduli dan berjiwa sosial. Apa yang menjadi mimpi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sejalan dengan misi program Pendidikan Murid Disabilitas. Mimpinya sama-sama mencipttakan ekosistem pendidikan untuk semua. Sehingga apa yang Kampus Guru Cikal presentasikan di depan 3 pihak, langsung disepakati untuk dijalankan bersama. “Bagaimana kalau kegiatan tersebut kita laksanakan di Balai Pengembangan Pendidikan Khusus, karena kami memiliki gedung BP-Diksus di Jalan Elang. Sehingga kegiatan 3 acara tersebut bisa dilaksanakan di satu tempat. Lebih efisien.” Ungkap Dr. Padmaningrum, kepala bidang Pembinaan Pendidikan Khusus (Diksus) Dindikbud Jawa Tengah. Setelah berpamitan dengan Wakil Gubernur dan Kabid Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Jawa Tengah, akhirnya tim Kampus Guru Cikal dan tim Bidang Pendidikan Khusus Dindikbud menuju lokasi. Gedung yang berjejeran dengan SLBN Semarang ini sering digunakan untuk kegiatan-kegiatan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Ada beberapa kamar dan aula untuk pertemuan. Pertemuan dengan berbagai pihak, dari perguruan tinggi hingga dinas yang terkait semata-mata untuk mewujudkan pendidikan inklusi. Harapannya dengan adanya murid-murid disabilitas yang menempuh hingga perguruan tinggi, bisa menjadi bukti, menjadi penyemangat bagi semua pelaku pendidikan, baik orangtua, guru bahwa murid disabilitas pun punya potensi dan harus diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggi.