Autisme 101 : Belajar Bersama Guru Belajar Denpasar

Temu Pendidik Daerah KGB Denpasar Apa jadinya jika guru-guru berkumpul dan berdiskusi?PECAH!! (bahasa anak muda jaman Now.) Demikian pula yang terjadi ketika komunitas para guru ini bertemu. Minggu, 04 November 2018 dipilih sebagai waktu untuk bertemu kembali oleh anggota KGB Denpasar. Pertemuan bulanan ini adalah kegiatan Temu Pendidik Daerah ke-8 yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru Belajar Denpasar, yang bertujuan menggerakkan semangat belajar di ekosistem pendidikan Indonesia. #MerdekaBelajar. Bertempat di sekolah Inklusi Youth Shine Academy, Denpasar, kegiatan dimulai dari pukul 09.30 wita. Hadir pada saat itu 9 anggota yang berasal dari sekolah PAUD sampai jenjang SMA. Suasana jelas terlihat akrab dan hangat bahkan selama acara berlangsung terasa antusiasme para anggota yang hadir. Diawali dengan perkenalan dan mengisi daftar hadir online, narasumber pertama, ibu @jentinapakpahan memulai diskusi tentang intervensi dini mengenal autisme dan segala hal terkait tipe, ciri dan penanganannya. Fokus pada pertemuan ini adalah mengubah paradigma anggota KGB para rekan guru untuk lebih mengerti panduan penanganan ketika proses belajar mengajar berlangsung. Salah satu kutipan dari narasumber tentang anak-anak kebutuhan khusus adalah, “Anak-anak adalah aset bukan liabilitas. Pergunakan waktu sekarang untuk berproses daripada menyesali dikemudian hari”. Banyak contoh pengalaman dan berbagai file tentang autisme serta berbagai saran terapi penanganan yang disampaikan oleh narasumber. Salah satunya adalah terapi wicara yang disarankan untuk anak-anak dengan gangguaan komunikasi serta terapi perilaku yang diperuntukkan bagi anak dengan gangguan hiperaktif. Diskusi tentang berbagai masalah penanganan dikelas banyak diungkapkan terkait cara pengelolaan emosi guru dan siswa. Banyak ide yang dilontarkan untuk selanjutnya dapat dipraktekkan dikelas termasuk pola displin positif bagi siswa untuk membuat kelas bisa tetap kondusif. Narasumber kedua, ibu @devianasafitri berbagi pengalamannya mengikuti Temu Pendidik Nusantara, Oktober lalu di Jakarta. Fokus pembahasan adalah tentang memahami cara guru untuk memanusiakan hubungan. Banyak contoh permainan edukasi dan presentasi saat kelas yang diikuti bu Devi membuat anggota yang lain menjadi bersemangat untuk mengikuti TPN 2019. Salah satu kutipan yang menarik dari narasumber yaitu,”Perubahan tidak menunggu kebijakan, tetapi praktik baik yang dilakukan dikelas, ketika para guru bertemu dan berinteraksi dengan para siswa. Sentuh HOT BOTTOM mereka dan nantikan perubahan terjadi pada anak, pada rekan kerja bahkan pemegang kebijakan”. Narasumber juga memandu para anggota untuk melakukan teknik bernafas agar mengurangi ketegangan emosi saat mengajar dikelas. Diskusi mengalir dengan berbagai pertanyaan seputar TPN dan komunitas guru belajar. Salah satu ide adalah mendukung rencana KGB bisa segera dilaksanakan di Singaraja, agar rekan-rekan guru tidak perlu jauh ke kota Denpasar untuk melaksanakan Temu Pendidik Daerah. Puncaknya adalah ketika ibu Wanda, anggota terjauh dari kota Singaraja, membagikan buku berjudul “Sulitkah mengasuh anak” terbitan dari Yayasan Gemah Ripah Pacung ke semua orang yang hadir secara gratis dan juga buku “Memanusiakan Hubungan” dari Komunitas Guru Belajar untuk dipinjamkan ke semua anggota bergantian. KGB Denpasar mendukung gerakan Literasi dengan cara membuat jadwal peminjaman buku milik KGB Denpasar, yang sementara akan diberikan saat Temu Pendidik berlangsung setiap bulannya. Saat sesi refleksi, ada ungkapan menarik dari para anggota, salah satunya dari ibu Marli, yang baru pertama kali mengikuti TPD. Ibu Marli sangat antusias karena akhirnya menemukan komunitas guru yang saling melengkapi, merdeka berbagi dan bisa menambah wawasan untuk berkembang. Begitu pula saat ibu Wanda, merasa diingatkan kembali kepada panggilannya ketika memilih profesinya sebagai guru. Meskipun kadang berbenturan dengan kebijakan atau peraturan dilembaga yang mengikat kebebasan untuk bereksplorasi. Ada momen ketika ibu Jentina berbagi pengalamannya sebagai pendidik anak kebutuhaan khusus selama 16 tahun terakhir, mengutarakan proses jatuh bangunnya untuk tetap bertahan dengan mereka karena ia percaya profesi ini adalah panggilan hidupnya bukan sekedar untuk bekerja dan mendapatkan penghasilan. Beberapa orang lagi mengutarakan kesungguhan untuk lebih lagi berbuat sesuatu daripada mengeluhkan kebijakan atau sekedar mengajar demi akreditasi. Pada sesi penutup, para penggerak meminta kepada semua anggota untuk lebih aktif memulai Temu Pendidik Sekolah serta mendorong anggota untuk bersedia jika diminta mengisi sebagai narasumber dan moderator untuk berbagi ilmu dan mengembangkan diri. Termasuk membuka kesempatan untuk setiap anggota bisa memposting karya dan ide mereka dalam surat kabar KGB. Para penggerak juga memperkenalkan berbagai kelas online yang guru dapat ikuti selanjutnya untuk menambah ilmu dan wawasan serta jaringan. Untuk itu akan ada pertemuan lanjutan terkait penyusunan agenda dan rencana kegiatan tahun 2019. Karena semangat dari komunitas ini adalah semua murid semua guru, yang memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi semua guru untuk aktif dan berkembang.

Guru Berkolaborasi Menguatkan Pesan dengan Video

Berangkat ke Temu Pendidik Komunitas Guru Belajar di Bogor sambil bertanya dalam hati “Saya pernah ke sana belum ya?” Sebab meski merasa belum ke sana sebelumnya, bisa jadi saat kecil pernah. Sudah, nanti coba kutanya orang tua di rumah saat pulang kampung. Perjalanan saya lalui dengan kondisi Matahari yang betah dibalik mendung. Dan akhirnya bisa bertemu rekan-rekan Komunitas Guru Belajar Bogor, Depok dan Inibudi.org di SDIT Aliya, lokasi Pelatihan Membuat Video Pembelajaran. Sampai di sana cukup pagi pukul 06.30, berharap waktu yang ada sebelum acara bisa saya gunakan untuk mengakrabkan diri dengan panitia. Mengatur layout ruangan jadi satu hal yang seru untuk memulai pagi bersama penggerak Komunitas Guru Belajar Bogor. Mata sambil melihat ke sekeliling, rak-rak di ruang kelas yang kami pakai begitu rapi, karya-karya anak dan beberapa ayat suci juga menjadi dekorasi. Sesekali saya menanyakan tentang kebiasaan komunitas, dan ternyata 1-2 panitia mendadak dibutuhkan oleh sekolah masing-masing, sehingga belum bisa hadir di awal waktu. Setengah jam sebelum acara dimulai tim inibudi.org hadir dan langsung membuka semua peralatan yang akan digunakan nanti, pengecekan proyektor karena kami akan banyak belajar dengan bantuan visual. Pembukaan ditandai dengan sapaan oleh Penggerak KGB Bogor, KGB Depok dan saya, kami menyampaikan tentang identitas Komunitas yang melakukan kolaborasi di pelatihan video ini. Pengalaman di KGB menjadi bahan bahasan. Ada berbagai pilihan kompetensi yang dapat mendukung karier guru, termasuk sebagai penyedia media pembelajaran berupa video, dan bahkan Youtuber.  Kemudian sambutan Ibu Kepala SDIT Aliya menjadi penanda acara dimulai. Inibudi.org memberikan apersepsi sebelum pelatihan dimulai,  sambil menularkan semangat untuk memberikan variasi cara belajar, salah satunya dengan menghadirkan video sebagai media belajar yang menarik. Perkenalan kami lakukan bersama dengan menyebutkan tontonan favorit. Keberagaman kami begitu tampak dari sini meski banyak Pak Guru yang menyukai bola, namun kanal youtube yang kami ikuti tak selalu sama. Ada yang suka mendengar siraman rohani, tutorial memasak, review, hingga sesuatu yang tampaknya jarang kita temui, hobi menonton proses menempa logam. Semua dalam ruangan semakin semangat saat menentukkan topic video, beragam pilihan muncul. Saking semangat ada kelompok  berkeinginan untuk memasukkan banyak konten, namun tentu saja harus mengurungkan niat karena durasi video yang pendek. Dari sini kami belajar, video yang menguatkan pesan adalah yang merincikan dan mencirikan topik. Salah satu peserta berpendapat, bahwa ini seperti strategi pengajaran yang beliau lakukan. “Murid jadi lebih paham dengan materi, saat satu KD saya bagi lagi dan mendalamkannya. Misal saat pembahasan kata tanya, saya akan memilih untuk membahas kata ‘apa’ hingga anak menyusun lima kalimat menggunakan kata tersebut, dibanding langsung mengajak mereka membuat dua kalimat menggunakan kata ‘apa’, dua kalimat menggunakan kata ‘kapan’, dan satu kalimat menggunakan kapan.” Kreatifitas kami kembali tertantang saat menentukkan properti apa yang akan digunakan dalam video. Salah satu kelompok meminjam rukuh dan bantal milik sekolah, saya kira rukuh akan dipakai untuk memeragakan salat, ternyata malah dijadikan sarung bantal serta selimut. Semua kelompok berusaha jeli melihat sekeliling, selain mencari alat bantu penjelasan materi juga tentu saja setting lokasi pengambilan gambar. Pengalaman mengambil video yang penuh perjuangan meski hanya 2 ½ menit ini, membuat para guru yang menjadi talent belajar banyak melatih intonasi, raut muka, bahkan gesture. Rekan-rekan jadi tahu, untuk membuat video yang berkualitas, latihan perlu dilakukan terus menerus, dan tentu didukung naskah yang disusun dengan sungguh-sungguh. Sembari mengamati proses pengambilan gambar secara profesional, Guru-guru juga didampingi mengatur komposisi ketika melakukan perekaman dengan kamera ponsel. Usai semua rekaman yang kami butuhkan diperoleh, kami belajar editing video sederhana dengan handphone melalui aplikasi KineMaster, saya mengajak melakukan pemanfaatan efek transisi, peletakkan teks dan membahas bersama teks dengan ciri bentuk dan warna seperti apa yang nyaman di baca di video. Antusiasme untuk belajar editing tetap ada, meskipun sudah berada di sesi foto-foto untuk pulang. Acara pelatihan memang sudah berakhir di pukul 16.00 namun Penggerak Komunitas Guru Belajar Bogor melakukan diskusi dan memetakan gerakan yang akan dilakukan ke depan, dimulai dari analisis kebutuhan rekan-rekan, sampai rencana untuk berbagi oleh-oleh Temu Pendidik Nusantara. Sebelum pulang saya dihentikan, dititipi buah tangan berupa buku dari Pak Eka Wardana dan Pak Asep memberi Brownies Bogor, lalu Pak Angga mengajak saya untuk menumpang, karena beliau akan pergi ke Jakarta. Proses belajar di tanggal 27 Oktober 2018 ini membuat saya semakin yakin, semakin banyak kolaborasi yang dilakukan di bidang pendidikan, akan semakin kaya dan menarik hal-hal yang bisa kita bawa ke dalam kelas. Ingin belajar membuat video? Mari bergabung di Klub Guru Belajar Komunikasi Visual

Perjuangan dan Kesenangan Belajar Temu Pendidik Regional Jawa Timur

Apakah bisa kegiatan pengembangan guru dilakukan tanpa iming-iming uang transportasi dan surat penugasan dari dinas atau sekolah? Apa ada guru yang mau ikut kegiatan di hari libur dan jauh dari tempat tinggalnya? Mungkin dua pertanyaan di atas yang terkadang membuat kita pesimis untuk melakukan kegiatan pelatihan atau pertemuan guru, karena asumsi sebagian orang bahwa guru hanya akan mengikuti pelatihan jika ada uang transportasi dan surat penugasan, guru kurang punya semangat untuk mengembangkan kompetensi dan mengikuti perkembangan dunia pendidikan yang bergerak begitu pesat. Untuk menjawab keraguan itu, komunitas guru belajar mengadakan Temu Pendidik Regional Jawa Timur. Temu Pendidik Regional Jawa Timur adalah pertemuan tahunan yang mempertemukan pendidik di wilayah Jawa Timur untuk berbagi praktik baik pengajaran, mengembangkan kompetensi, membangun kolaborasi dan merintis karier. Kegiatan ini berawal dari inisiasi Komunitas Guru Belajar Surabaya yang ingin mengadakan “pemanasan” sebelum kegiatan besar tahunan komunitas guru belajar yaitu Temu Pendidik Nusantara 2018. Kegiatan ini terdiri dari 5 sesi, yaitu kelas kemerdekaan, kelas kolaborasi, kelas kompetensi, kelas karier dan acara puncak. Acara diselenggarakan pada Sabtu, 1 september 2018 di Sekolah Cikal Surabaya, dalam pertemuan ini ada 36 kelas yang dihadiri oleh 180 guru yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur. Perjuangan mereka untuk mengikuti acara ini sangat besar, selain meluangkan hari libur selama 1 hari untuk belajar bersama, ada 8 orang guru yang harus berangkat jam 04.00 WIB dari rumahnya untuk dapat hadir tepat waktu, dan ada sekitar 15 orang guru dari berbagai daerah yang karena jarak kegiatan yang jauh mereka harus berangkat satu hari sebelum acara dimulai dan sampai di Surabaya jam 23.00 WIB. Mereka berbagi dan bercerita tentang perkembangan Komunitas Guru Belajar di wilayahnya, setelah itu mereka menginap di lokasi acara, tidur di dalam kelas menggunakan kantung tidur bersama-sama. Ya.. Anda tidak salah baca, tidur di dalam kelas menggunakan kantung tidur bersama rekan guru merdeka belajar lainnya. Kenapa merdeka belajar? Karena para guru tahu tujuan mengikuti Temu Pendidik Regional. Mereka sadar bahwa dalam kegiatan ini mereka akan bertemu rekan-rekan guru lainnya yang memiiki semangat belajar internal, bukan dari pihak eksternal yang memaksa mereka untuk hadir. Para guru mandiri terhadap cara, tidak tergantung keadaan atau fasilitas yang disiapkan. Mereka juga memiliki pilihan, bukan hanya sebagai peserta, namun beberapa dari mereka juga menjadi narasumber dari kegiatan ini, mereka tidak hanya disodorkan kelas-kelas apa saja yang harus mereka harus ikuti, tapi mereka bisa memilih topik apa yang mereka anggap sesuai dengan kebutuhan, Dan setelah mengikuti acara ini, mereka berkomitmen untuk membagikan semangat dan pengetahuan yang mereka dapatkan ke rekan di komunitas guru belajar daerahnya sambil berefleksi. Acara ditutup oleh penampilan “GBN”, singkatan dari Guru Bisa Nge-band yang anggotanya adalah anggota Komunitas Guru Belajar Surabaya, mereka membawakan beberapa lagu bertema pendidikan, para peserta bahkan sampai beranjak dari tempat duduknya dan berkumpul di depan panggung, untuk ikut bernyanyi bersama. https://www.instagram.com/p/BnQYTAih0pd/?tagged=tprjatim2018 Kegiatan ini menjawab keraguan tentang guru belajar. Ternyata motivasi internal itu lebih kuat dan abadi dari iming-iming yang tanpa disadari meracuni dan merusak kesenangan yang kita dapatkan dari proses belajar, ternyata belajar itu bukan hanya dari para ahli yang terkadang tidak menginjakkan kaki di kelas seperti para guru, tapi rekan seperjuangan yang memiliki semangat yang sama untuk perbaikan pendidikan yang dapat menjaga api semangat untuk terus belajar sepanjang hayat.

Merdeka Belajar di Lereng Gunung Slamet

Temu Pendidik Daerah Ke-18 Komunitas Guru Belajar Purwokerto Merdeka Belajar di Lereng Gunung Slamet Narasumber : Guru Isrodin Hari, tanggal : Minggu, 22 juli 2018 Tempat : MTS Pakis Pesawahan Gunung Lurah, Cilongok Banyumas Untuk mencapai yang indah memang jalan yang ditempuh tidak mudah. Hal sederhana bukan berarti tidak bisa jadi luar biasa. Hal yang biasa bisa jadi Istimewa. Dari pinggir hutan bisa jadi nasional. Beberapa kata yang bisa menggambarkan MTS Pakis, Pesawahan Gunung Lurah. Jauh dari keramaian kota , jauh dari gelimangan teknologi yang biasa memanjakan kita setiap harinya. Jauh di Kampung Pesawahan Desa Gunung Lurah ada sekolah bernama MTS Pakis yang diperjuangkan oleh guru Isrodin dan para relawan. Sekolah ini berhasil membuka mata kita, bahwa ternyata masih banyak sekali potensi-potensi di sekitar kita. Sekolah ini berhasil mencambuk kesadaran kita sebagai pendidik bahwa sumber belajar bisa dari apa saja. Kita belajar banyak dari anak-anak desa yang bersahabat dengan alam sebagai ruang belajarnya. Semangat belajar mereka luar biasa. MTs Pakis bulan Juli 2018 sempat viral di televisi nasional. Karena saat tahun ajaran baru kemarin, sistem pembayaran pendaftaran muridnya menggunakan sayuran dan hasil bumi lainnya. Hal inilah yang membuat Komunitas Guru Belajar Purwokerto tertarik menggali lebih dalam apa yang ada di MTs Pakis, menggali apa yang telah dilakukan guru Isrodin. Rute perjalanan menuju MTs Pakis kita disuguhi bukit-bukit hijau di kanan kiri setelah memasuki desa Gunung Lurah. Sesampainya di MTs Pakis murid-murid sedang membuat kripik tempe dan sebagian di dalam kelas sedang belajar. Di depan MTs ada kolam ikan dan di belakang ada kebun cabai, tambah membuat kami penasaran dengan keunikan madrasah yang satu ini. Akhirnya Temu Pendidik Komunitas Guru Belajar Purwokerto dibuka pukul 10.00 WIB saat suhu udara mencapai 24 derajat celcius. Guru Daru selaku penggerak Komunitas Guru Belajar membuka temu pendidik kali ini dengan menceritakan profil KGB Purwokerto dan perkenalan anggota KGB. Selanjutnya Guru Isrodin selaku tuan rumah memperkenalkan relawan-relawan di MTs Pakis (di Madrasah ini tidak ada guru tetap semua yang mengajar adalah relawan). “Diawali dari kegelisahan yang sama tentang pendidikan dan anak-anak. Saya bertekad membagikan apa yang saya bisa, apa yang saya ketahui untuk anak-anak MTs Pakis. Saya bisa membuat kripik tempe jadi saya berinisiatif mengajari anak-anak membuat kripik tempe. Awalnya ada pertanyaan : Apakah anak-anak bisa melakukannya? Tapi saya percaya, ilmu apapun bisa dipelajari ketika kita tahu metodenya. Murid MTs Pakis itu istimewa , karena istimewa jadi butuh perlakuan istimewa.”, ujar salah satu relawan MTs Pakis Anak-anak di sekitar MTs Pakis sudah terbiasa membantu orang tuanya bekerja maka dari itu didirikannya MTs Pakis bertujuan untuk mengenalkan literasi ekonomi sejak dini. Sekolah ini lahir dari kegelisahan para relawan melihat kondisi masyarakat kampung Pesawahan. Satu kampung hanya satu anak yang lulus SMA. Lainya putus sekolah dan perkawinan dini. Pendidikan anak-anak kampung inilah sebenarnya berdampak langsung pada kemajuan peradaban desa. Langkah awal dilakukan dengan menumbuhkembangkan kebanggaan sebagai petani. Mandiri menanam, mandiri merawat, mandiri memanen. Belajar mengenal potensi kampung, mendata dan mengenali potensi persoalan di kampung. Berujung pada simpulan, Anak desa harus sekolah. Sekolah dengan kearifan lokal, belajar dengan alam sekitar adalah pilihan bijak guru Isrodin dan relawan. Guru Isrodin yang lebih suka dipanggil Kang Isrodin ini mulai menjemput satu persatu anak kampung tepian hutan ini untuk bersekolah. Bukan hal yang mudah, tetapi melihat binar kebahagian di raut wajah mereka dan orangtuanya, membuat Guru Isrodin semakin semangat mengajak mereka bersekolah. Perjalanan MTs Pakis dimulai dari 2011 saat itu guru Isrodin dan para relawan blusukan menyensus 97 KK dan terdapat 170 lebih warganya. Dari 170 warganya tersebut hanya ada 1 warga saja yang tamat SMA. Warga yang lain putus sekolah dan drop out. Pada saat itu guru Isrodin membuat rumah baca & membentuk gerakan sedekah buku. Guru Isrodin mempunyai mimpi setiap desa di Banyumas ada rumah bacanya . Berkat data hasil sensus yang pernah dilakukan pada tahun 2013. Guru Isrodin menyebar informasi lowongan pekerjaan untuk mengajar di MTs Pakis. Saat itu ada 26 guru yang mendaftar rata-rata adalah S2 dan S1. Mereka dikumpulkan, guru Isrodin menayangkan foto-foto keadaan MTs Pakis yang masih gubuk di pinggir telaga & hanya mempunyai 13 siswa. Para pelamar tidak ada satupun yang berlanjut setelah melihat keadaan MTs Pakis. Jadi sampai sekarang tidak ada guru tetap di MTs Pakis. Sampai saat ini yang mengajar adalah guru Isrodin dan para relawan yg rela memberikan ilmu yg mereka miliki untuk diberikan kepada anak anak MTS Pakis. Pada angkatan pertama jumlah murid yang masuk 13, yang lulus 4 murid (yang lain menikah & tidak bisa melanjutkan sekolah). Angkatan kedua berjumlah 9, yang lulus 3. Angkatan ketiga berjumlah 4 dan tidak ada yg lulus karna mereka putus sekolah semua. Angkatan keempat berjumlah 10 anak dan lulus 8 anak. Angkatan kelima berjumlah 11 anak lulus 10 dan sekarang berjumlah 14 anak. Sekolah tanpa seragam, tidak perlu bersepatu, tidak perlu bayar SPP bulanan ini memilih menekuni bidang pertanian kehutanan. Lahan yang cukup luas milik Perhutani ini dijadikannya sebagai lahan praktik kehidupan. Nilai-nilai kepribadian luhur ditumbuh kembangkan di sekolah ini. Merdeka Belajar versi Mts Pakis Pakis sendiri memiliki filosofi yaitu harapan agar anak-anak dapat tumbuh seperti pohon pakis ynag dapat beradaptasi di lingkungan lembab maupun kering. Artinya anak-anak dapat beradaptasi di lingkungan manapun kelak mereka berada. Anak-anak diajarkan untuk bersepakat menentukan tujuan belajarnya, menyukai apa yang sedang dilakukannya. Menentukan strategi atau cara belajar secara mandiri. Lalu melakukan refleksi dengan cara presentasi di depan teman-temanya. Pada saat ada anak yang tidak masuk sekolah, guru Isrodin dan anak-anak lainnya berkunjung ke rumah anak yang tidak masuk untuk belajar bersama di rumah anak tersebut. Sehingga anak tetap bisa belajar bersama. Terkadang mereka belajar di bawah pohon pinus , di pinggir telaga. Guru Isrodin membiasakan kepada murid bahwa segala sesuatu bisa menjadi sumber belajar. Murid-murid pun sudah dibiasakan belajar mandiri karena terkadang beliau tidak bisa berangkat sekolah dan tidak ada relawan. Saat tidak ada yang mengajar mereka belajar sendiri. Mereka mencatat hal yang hari itu mereka amati dan dipresentasikan kepada teman-teman yang lainnya menggunakan bahasa mereka sendiri sehingga mereka dapat belajar bersama dari masing-masing hal berbeda yang mereka dapatkan. Dengan berbagai keterbatasan, mereka mengubah hal sederhana menjadi … Read more