Menyambut Panduan Pembelajaran Jarak Jauh

“Kami bukan robot, kami butuh istirahat”, begitu bunyi status WA murid kelas 3 yang kebetulan berteman dengan saya. Entah apa yang melatarbelakangi statusnya yang demikian, apakah karena tugas dari guru yang menumpuk? Bisa jadi. Memang, harus diakui, pembelajaran jarak jauh membawa guru pada kegamangan tanpa panduan. ‘Penutupan’ sekolah secara tiba-tiba membuat guru bingung harus mengajar seperti apa. Mereka belum punya gambaran sama sekali. Bahkan, bagi sebagian guru istilah itu mungkin baru didengar pertama kali. Di tengah kebingungan itu, satu-satunya cara yang diketahui oleh guru guna memastikan murid tetap belajar di rumah, hanya dengan membagikan tugas, tugas dan tugas.  Sabtu 04 Juli 2020, Pemerintah Kabupaten Bantaeng melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Bantaeng meluncurkan panduan pembelajaran jarak jauh. Guna memberikan gambaran dan rambu-rambu bagaimana melaksanakan PJJ (pembelajaran jarak jauh) yang efektif dan efisien. Panduan Pembelajaran Jarak Jauh ini, tak bersifat teknis, karena bagaimanapun—menurut Pak Kadis—kerja-kerja teknis lebih diketahui oleh guru, sebab guru tentu lebih mengenal situasi dan kondisi di lapangan. Di akhir peluncuran, Pak Kadis mengingatkan bahwasanya untuk membahas lebih mendalam panduan ini, maka beliau mengharapkan organisasi profesi guru untuk melakukan kerja-kerja kebaikan guna mengawal rekan-rekan guru pada pemahaman yang lebih komprehensif tentang bagaimana melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh yang bermakna. “ Saya berharap organisasi profesi guru bisa turut terlibat aktif merangkul teman-teman, belajar bersama, dan mendiskusikan lebih lanjut panduan ini.” Menindaklanjuti hal tersebut, Komunitas Guru Belajar (KGB) Bantaeng di TPD ke-4 mengajak para guru untuk belajar bersama merancang desain rencana pelaksanaan pembelajaran jarak jauh yang dilakukan via live streaming di channel YouTube KGB Bantaeng. Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut di antaranya: Pak Hasirun (Koordinator Pengawas Kabupaten Bantaeng), Pak Drs. Pammusu (Ketua MGMP IPA SMP) dan Pak Very Fadly (Guru PJOK SD Inpres Tindangkeke) dan dipandu langsung oleh Pak Muhammad Yaqub selaku Host. Meski dilaksanakan secara virtual untuk pertama kalinya, di tengah pandemic Covid-19. Antusiasme belajar guru sungguh luar bisa, tak kurang dari 40-an guru dengan pelbagai latar belakang jenjang pendidikan hadir dan menyaksikan diskusi tersebut. Menjadi Guru Handal dalam Pembelajaran Jarak Jauh Narasumber pertama, Bapak Hasirun memaparkan bahwa untuk mendesain pelaksanaan pembelajaran mesti dimulai dari mengenal prinsip pembelajaran itu sendiri. Salah satu prinsip yang mesti dipegang teguh oleh guru adalah interaksi positif. Interaksi yang dibangun dari kesepakatan guru-murid. Interaksi yang baik hanya bisa terjadi jika komunikasi terjalin antara keduanya. Tak selalu didominasi oleh guru. Perlu diingat pula, bahwa komunikasi mesti juga melibatkan orangtua murid, sebagai ‘teman’ belajar murid di rumah. Guru harus peka melihat kondisi murid, orangtua dan lingkungan guna menyesuaikan dengan pembelajaran yang akan dilakukan.  Nah, Pak Hasirun memberikan tips panduan bagaimana menjadi guru yang handal dalam melakukan Pembelajaran Jarak Jauh. Penasaran? Berikut tipsnya:  Pertama, guru memberikan tugas yang simple pada murid, simple dalam artian bahwa tugas yang diberikan sedapat mungkin guru memberikan tugas kepada siswa, bukan tugas yang baru, tetapi tugas yang sudah pernah diberikan sebelumnya dengan modifikasi yang lebih jauh.  Kedua, guru harus membuat jadwal kegiatan mingguan. Hal ini sangat penting, agar murid mengetahui apa pelajaran dan keterampilan yang diperoleh pekan itu. Ketiga, berani memodifikasi kurikulum. Memodifikasi kurikulum adalah bagian dari kemerdekaan yang diberikan pada guru, hal ini dimaksudkan agar guru dalam memberikan pengalaman belajar pada murid, bisa keluar dari kebiasaan yang ada. “Dengan begitu, maka ada kebebasan, keleluasaan dan keluar dari tekanan pada diri guru-murid dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan.” Lanjut Pak Korwas. Keempat, tetap menjadi guru. Menjadi guru di tengah pandemi menuntut guru untuk tahan banting. “Guru itu jangan mudah baper, terlalu tegang, dan jangan lemah, tetapi menjadilah guru seutuhnya; tegas, tapi penyayang.” Kata Pak Hasirun. Kelima, isi atau konten mata pelajaran bisa dari mana saja. Ini memungkinkan terjadinya variasi sumber belajar agar murid tidak mudah bosan. Hal-hal yang berada di sekitar murid bisa mereka jadikan sebagai sumber belajar. Misalnya, belajar menghitung dari sampah-sampah yang ada di halaman rumah. Mengajar adalah Melayani Drs. Pammusu, ketua MGMP IPA selaku narasumber kedua menjelaskan bahwa, situasi pandemi mengklasifikasi model belajar siswa menjadi dua; daring dan luring. Berlapikkan pada dua model belajar tersebut, MGMP IPA menyiapkan dua jurus jitu, yaitu; membuat video pembelajaran dan juga modul pembelajaran. Dengan dua jurus tersebut, diharapkan kedua kelompok ini bisa terlayani dengan baik. Yang memiliki gawai bisa belajar dengan melihat video pembelajaran yang dibuat sendiri oleh guru mereka, sedang yang tidak dilengkapi fasilitas akan diberikan modul kegiatan murid. Kedua perlakuan berbeda inilah yang disebut dengan diferensiasi. Guru mengidentifikasi kebutuhan dan ketersediaan fasilitas belajar murid, lalu kemudian membuat desain pembelajaran sesuai dengan konteks yang ada. Murid dilayani betul dalam proses belajarnya. “Video pembelajaran yang dibuat durasinya tidaklah panjang, cukup 8-10 menit dengan dengan penjelasan yang demonstratif agar murid tidak bosan dan bisa dipraktekkan murid di rumah secara mandiri.” Tutur Drs. Pammusu. Hal tersebut juga berlaku dengan modul luring bagi murid yang tidak dilengkapi fasilitas gawai. Modul yang diberikan sebisa mungkin memudahkan murid untuk mengerjakannya secara mandiri, mudah, tapi tidak dimudah-mudahkan. Sehingga anak benar-benar bisa berkembang kompetensinya.  “ Ini adalah bagian kecil dari sumbangsih kami kepada para murid untuk melayani proses belajar mereka.” Tutup Pak Drs. Pammusu. Baca Juga: Sekolah Lawan Corona Guru adalah Desainer “Saya memegang prinsip, anak adalah sekutu guru”, Pak Very membuka pembicaraan. Untuk menjadi sekutu yang baik, tentu harus mengenal murid dengan baik. Semakin kita mengenal murid, semakin mudah kita mengantarkan mereka pada pencapaian kompetensi. Bagaimana caranya mengenal murid? Apakah cukup dengan mengetahui nama mereka? Tentu tidak. Menurut Pak Very, mengenal murid bisa dengan membuat profil masing-masing, yang dipetakan dalam 4 hal: minat, gaya belajar, pekerjaan orangtua dan sarana prasarana. Hal ini menjadi penting, mengingat setiap anak berbeda. Karena mereka berbeda dalam banyak hal, rasanya sangat tidak bijak jika memperlakukan mereka sama dalam proses belajar. Contoh sederhananya, murid yang orangtuanya berada di tanah rantau, tak bisa diperlakukan sama dengan murid yang tinggal bersama orangtuanya. Juga murid yang sudah bisa belajar mandiri, tentu tidak bisa disamakan perlakuannya dengan murid yang masih butuh bimbingan guru. Begitu seterusnya. Pak Very juga memperkenalkan kanvas RPP merdeka belajar, yang menurutnya bisa menjadi pijakan awal sebelum membuat RPP pembelajaran jarak jauh. Kanvas ini memberikan gambaran pada guru bagaimana model pembelajaran yang akan diberikan pada murid. Isi kanvasnya terdiri … Read more

Pembelajaran Jarak Jauh dengan 5M

Masih mengangkat tema Pembelajaran 5M untuk mengoptimalkan pengalaman belajar jarak jauh anak di masa pandemi Covid-19. Memasuki hari ke -2 (dua) Temu Pendidik Daerah (TPD) dengan  kelompok guru yang berbeda di hari pertama mengingat perlu diperhatikan protokol kesehatan.  Kegiatan Komunitas Guru Belajar Makassar pada Temu Pendidik Daerah yang ke -28 pada Kamis , 23 Juni 2020 berlangsung di Ruang Guru SDIT Darussalam Makassar. Acara tersebut dimulai sejak pukul 08.00 WITA hingga pukul 10.00 WITA.  pada hari ke 2 tersebut dihadiri peserta yang berbeda  sekitar 22  orang. Masih sama seperti Temu Pendidik Sebelumnya, acara pertama diawali dengan nonton bareng video Merdeka Belajar yang menghadirkan narasumber ibu Najelaa Shihab. Masih sama dengan konsep hari pertama, Hadir menjadi narasumber dalam kegiatan workshop tersebut guru Maurensyiah guru SMK Darussalam Makassar yang juga sebagai pengurus dan sekaligus penggerak Komunitas Guru Belajar Makassar. Selanjutnya kegiatan tersebut juga menghadirkan guru Tasmin untuk membawakan materi pelatihan Office 365. Guru Tasmin adalah guru SDIT Darussalam Makassar.  Awal kegiatan masih sama dengan hari pertama, diawali dengan pemutaran video Guru Merdeka Belajar lalu dilanjutkan ke diskusi. Oleh narasumber menyampaikan materi dengan memberikan umpan balik. Kata narasumber, “menurut bapak/ibu guru seperti apakah guru merdeka itu ?” dan apakah bapak/ibu sudah merdeka ? Pertanyaan umpan balik tersebut kemudian direspon oleh para guru. Ada guru yang mengatakan bahwa guru merdeka itu adalah guru yang tahu bagaimana mengajar yang sesungguhnya. Ada juga guru yang mengatakan bahwa guru merdeka itu adalah guru yang bebas, bebas dalam teknik dan cara mengajar. Oleh narasumber dalam merespon jawaban-jawaban guru, lalu mengarahkan kembali ke tayangan video.  Oleh narasumber mengatakan guru yang merdeka seperti yang dijelaskan dalam tayangan video tersebut, bahwa guru merdeka adalah guru merdeka itu adalah guru yang yang mempunyai komitmen, guru yang  memiliki kemandirian dan guru yang mampu berefleksi atas setiap proses pembelajaran, semua demi para murid.  Selanjutnya, narasumber mulai menjelaskan lebih rinci tentang guru merdeka, hingga mengenalkan Komunitas Guru Belajar sebagai wadah untuk belajar dan berbagi. Dilanjutkan dengan penjelasan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dengan konsep 5M ala Kampus Guru Cikal yang telah digunakan oleh rekan-rekan guru anggota Komunitas Guru Belajar Nusantara. Oleh narasumber mengatakan bahwa belajar di rumah, belajar di sekolah, tetap berpihak pada anak. Bagaimana caranya? Guru dan orangtua yang berdaya menciptakan pengalaman belajar yang melibatkan anak. Sangat penting kolaborasi orangtua, guru dan murid untuk berdaya belajar dalam menghadapi situasi darurat akibat wabah virus Corona. Guru harus memastikan anak mendapatkan personalisasi pengalaman belajar yang bermakna, menantang dan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan anak. Narasumber mengatakan dalam Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), poin paling utama yang perlu guru perhatikan adalah memanusiakan hubungan. Memanusiakan hubungan yang dimaksud adalah Praktik pembelajaran yang dilandasi orientasi pada anak berdasarkan relasi positif yang saling memahami antara guru, murid dan orangtua, ini adalah konsep 5M yang pertama. Konsep 5M yang kedua kemudian kembali dijelaskan oleh  narasumber, Memahami Konsep dimana seorang guru hendaknya memahami bahwa praktik pembelajaran yang memandu murid bukan sekedar menguasai konten tapi menguasai pemahaman mendalam terhadap konsep yang dapat diterapkan di beragam konteks. Selanjutnya narasumber membahas konsep 5M yang ketiga yaitu membangun keberlanjutan. Maksud dari 5 M yang ketiga tersebut adalah Praktik pembelajaran yang memandu murid mengalami rute pengalaman belajar yang terarah dan berkelanjutan melalui umpan balik dan berbagi praktik baik. Selanjutnya 5 M yang keempat kembali dijelaskan oleh narasumber Praktik pembelajaran yang memandu murid menguasai keahlian melalui proses yang berjenjang dengan pilihan tantangan yang bermakna yaitu memilih tantangan. Dan pada 5M yang ke 5, memberdayakan konteks yaitu Praktik Pembelajaran yang memandu murid melibatkan sumber daya dan kesempatan di komunitas sebagai sumber belajar sekaligus kesempatan berkontribusi terhadap perubahan.  Baca Juga: Sekolah Lawan Corona Narasumber mengingatkan bahwa di masa pandemi seperti saat ini, guru perlu memperhatikan kondisi psikologis  murid, janganlah diberikan beban yang pada akhirnya membuat mereka bukannya merasa nyaman belajar justru stress menghadapi guru yang justru memberikan beban tugas yang sungguh tidak memanusiakan hubungan, yang ada murid justru stress. Guru harus mampu menjadi partner yang baik bagi murid dan orang tua. Caranya bangun kolaborasi yang baik. Di akhir pembicaraan narasumber menutup dengan closing statemen, jadilah guru yang berdaya, guru yang tahu bagaiman membawa para murid memperoleh pengalaman belajar yang bermakna. Dan mari belajar bersama Komunitas Guru Belajar untuk membuat perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik. Kepala sekolah SDIT Darussalam dalam merespon diskusi lalu mengatakan sangat mendukung guru-guru SDIT untuk belajar dan mengembangkan diri. Laporan Liputan oleh Maurensyiah Komunitas Guru Belajar Makassar.  Unduh Panduan Pembelajaran Jarak Jauh, klik tombol di bawah ini

Sekolah Lawan Corona Jawa Tengah

Corona membuat tidak sedikit guru merasa kebingungan untuk melakukan pembelajaran. Karena Corona pembelajaran tidak lagi dilakukan Sekolah. Dari hasil survei yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengenai Pembelajaran jarak jauh, berikut adalah kendala-kendala yang guru hadapi : 67,11 % kendala guru terkait kemampuan mengoperasikan perangkat digital, 29, 45% kendala guru terkait sarana dan prasarana, 14,47% terkait faktor internal murid dan sebagainya. Melihat masalah tersebut Kampus Guru Cikal dan Komunitas Guru Belajar sejak awal menunjukkan komitmennya dalam membantu guru. Komitmen tersebut bisa dilihat dari inisiasi yang dibuat, yaitu Sekolah Lawan Corona yang mulai berjalan sejak 16 Maret 2020. Inisiasi ini memulai dari pembuatan kegiatan rutin yaitu Temu Pendidik Spesial, membuat panduan pembelajaran jarak jauh hingga membuat surat kabar guru belajar yang berisi praktik baik pembelajaran jarak jauh para guru. Namun seiring berjalannya waktu, kami melakukan refleksi. Temu Pendidik Spesial yang kami adakan rutin setiap pukul 18.30 – 20.30 tiap harinya masih kurang efektif, kurang membangun keberlanjutan bagi para guru yang mengikuti. Banyak peserta yang mengulang-ulang pertanyaan, ada yang memulainya dari awal juga walaupun materi sudah sampai pada level tertentu. Dari refleksi ini, kemudian kami berpikir, bagaimana membantu guru belajar dari hal yang paling dasar, hingga ia bisa membuat pembelajaran jarak jauh yang bermakna untuk murid? Akhirnya dari refleksi tersebut, lahirlah kurikulum Sekolah Lawan Corona yang bisa dilihat di bawah. Kurikulum ini dimulai dari asesmen, tujuannya agar mengetahui pemahaman dan kompetensi guru mengenai pembelajaran jarak jauh. Jika dari asesmen guru tersebut berada pada level 1, maka guru masih perlu mengembangkan kompetensinya dalam penguasaan teknologi, seperti Whatsaap, Gmail, Google Meet, dsb. Sehingga para guru tidak memulai kurikulum Sekolah Lawan Corona ini pada level yang sama, ada yang memulai dari level 2, 3, bahkan ada yang bisa mulai dari level 5 jika guru tersebut melalui asesmen menunjukkan kompetensi yang perlu dimiliki guru level 5. Kurikulum Sekolah Lawan Corona pertama kali dijalankan yaitu di Jawa Tengah, hal tersebut dilakukan karena Wakil Gubernur Jawa Tengah, Bapak Taj Yasin Maimoen beserta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah sangat mendukung inisiasi ini. Program Sekolah Lawan Corona di Jawa Tengah Sendiri dibuka langsung oleh bapak Wakil Gubernur dan Bu Najelaa Shihab selaku inisiator pada tanggal 19 Mei 2020. “Inisiatif Sekolah Lawan Corona ini sebetulnya diluncurkan sebagai gerakan oleh Komunitas Guru Belajar, Kampus Guru Cikal, SekolahMu dan Keluarga Kita yang akan berlangsung di berbagai daerah.” tutur Najelaa Shihab dalam kegiatan launching tersebut. Najelaa Shihab juga menambahkan bahwa Jawa Tengah adalah daerah pertama yang mendapatkan kesempatan mengikuti Sekolah Lawan Corona, adapun pelaksanaanya akan dibagi menjadi 3 tahap berdasarkan keaktifan dan keberdayaan Komunitas Guru Belajar dalam berkolaborasi dan menggerakkan ekosistem pendidikan, yang bisa dilihat pembagiannya sebagai berikut. “Saya mendukung Sekolah Lawan Corona di Jawa Tengah ini, inisiasi ini akan membantu guru dalam beradaptasi dengan budaya baru pembelajaran.” ungkap Wakil Gubernur Jawa Tengah.  Pelaksanaan Sekolah Lawan Corona Setelah dibuka secara formal oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah, inisiasi Sekolah Lawan Corona mulai dijalankan di 5 daerah yaitu Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Semarang, Kota Semarang dan juga Kota Surakarta. Adapun jumlah peserta yang mendaftar dari 5 daerah tersebut berjumlah 881 peserta, dan dibagi ke dalam 3 tahap. Tahap 1 dimulai bulan Juni, tahap 2 dimulai Juli bersama daerah yang berada pada tahap berkembang dan tahap 3 dimulai Agustus dimulai bersama daerah yang berada pada tahap perluasan. Di tahap 1 sendiri ada 392 peserta yang memulai program dengan mengisi asesmen, dari asesmen yang diisi peserta, ternyata ada beberapa peserta di 5 daerah tersebut memulai program dari level 1, 2, 3 bahkan ada yang memulai dari level 5. Peserta yang memulai program dari level 1 mendapat pendampingan khusus oleh fasilitator melalui grup Whatsapp. Ada sebuah cerita menarik dari fasilitator Kota Surakarta, karena peserta di grup ini mengalami kesulitan koordinasi melalui Whatsapp, maka diadakan pertemuan langsung dengan mematuhi protokol kesehatan. Dalam pertemuan tersebut, Guru Nasrudin mendampingi 5 guru yang ingin menyelesaikan level 1. Ada dua tipe program dalam kurikulum Sekolah Lawan Corona, yang otomatisasi dan program diperlukan interaksi. Selain program level 1, program level 3B, 4A, dan juga 5B membutuhkan interaksi. Sehingga peserta-peserta yang sudah melewati level tersebut, akan mendapat pendampingan langsung dari fasilitator. 3B misalnya akan mendapatkan sesi refleksi mengenai pembelajaran, sesi 4A akan mendapatkan pendampingan tentang pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, dan sesi 5B akan mendapat pendampingan bagaimana membuat program di SekolahMu. “Saya senang sekali dengan modul 4B, karena di sini saya belajar banyak mengenai karakter, kebutuhan anak, dan belajar mengajak murid bertanya. Pembelajaran akan lebih aktif nantinya.” tutur guru Ambar. Yuk unduh GRATISSurat Kabar Guru Belajar EdisiSekolah Lawan CoronaKlik link di bawah ini Ingin sekolah Bapak Ibu mengikuti program Sekolah Lawan Corona juga?Yuk daftar! klik 👉 Daftar Sekarang!