Pameran Karya Sekolah: Lebih dari Sekadar Promosi

Memamerkan karya anak dalam gelaran pameran karya murid di sekolah / madrasah bukan hanya soal promosi. Banyak hal yang terangkai di sana. Apa saja? Menurut Marsaria Primadona, Manajer Program Sekolah Cikal dalam Obrolan #PemimpinMerdekaBelajar Minggu (21/2), tujuan pameran karya adalah berbagi. Karena dengan berbagi itu, anak/murid bahkan gurunya akan belajar dari tanggapan yang dilontarkan. Yakni, dari mereka yang menonton atau menyaksikan pameran karya tersebut. “Selain belajar percaya diri untuk memamerkan karyanya, juga mencari umpan balik dari karya-karya tersebut,” ungkapnya.  Dipandu oleh Niamil Hida, Ketua Jaringan Sekolah Madrasah Belajar (JSMB), Primadonna atau yang akrab disapa Pima dalam acara yang diunggah dalam youtube channel Sekolah Merdeka Belajar ini juga mengatakan bahwa yang terpenting dari itu semua, justru bukan hasil atau produk akhirnya. Melainkan proses yang dilakukan anak.  Pengalamannya di Sekolah Cikal, apa yang dipamerkan anak memang bukan hanya produk akhir hasil karya anak. Tetapi juga proses dari awal sampai jadi. “Jadi anak mempresentasikan proses itu,” sambungnya. Sebelumnya Pameran ini diadakan di GSG Cikal. Tata caranya murid presentasi dan ada tamu yang dijadwalkan untuk melihat dan menyimak presentasi dari murid. Jadi murid mempresentasikan proses.  Dalam praktiknya, ia kerap menggunakan formula ATAP, yakni awal, tantangan, aksi, dan perubahan ketika melihat anak melakukan proses karyanya. Di mana anak bisa memulai sendiri karyanya, dari tugas-tugas yang diberikan di hari-hari biasa, hingga menemukan tantangan, aksi, dan memberikan refleksi atas apa yang sudah mereka mulai.  Pima menyebut konsep ini sebagai berpikir desain (design thinking). Di mana dalam menentukan karya awal yang dibuat diawali dari berempati (empathize). Yaitu wawasan utuh mengenai apa yang akan mereka kerjakan dengan alasan-alasan yang diutarakan si murid sendiri. Sebelum kemudian menetapkannya (define), menguji masalah tersebut dengan ide-ide mereka (ideate), lalu melakukan uji coba awal dan mengetesnya (prototype and testing). Setelah rentetan hal tersebut dilakukan, maka produk karya murid siap dipamerkan/diluncurkan (launch). Di setiap pameran karya selalu ada lapisan mentoring, lapisan pameran karya yang dilakukan sebagai berikut: Murid memilih Tema dengan didampingi oleh bu Pima dan Guru Kelas. Murid-murid memilih mentor. Mentor bisa dari guru subjek atau dari guru jenjang lainnya asal tetap satu sekolah. Contoh, murid SD dibimbing oleh guru TK. Intinya murid berpasang dengan mentor yang memiliki passion tema yang sama. Sinergi. Setelah memilih mentor, jenjang berikutnya mentor ini dikoordinatori oleh guru kelas. Optimalisasi. Guru-guru kelas inilah yang dimentori oleh manajer/koordinator/kepala sekolah, dalam hal ini adalah Bu Pima. Dengan adanya lapisan mentor seperti di atas, langkah pertama ialah mentor briefing menggunakan jamboard. Mentor Briefing ini dilaksanakan oleh guru kelas dan Pima. Isian kegiatanya ialah pertanyaan, jadi Pima dan guru kelas bertanya untuk brainstorming. Terkadang murid masih bertanya lagi tentang pertanyaan yang diajukan, jadi guru harus menanyakan dengan pertanyaan berlapis atau bisa disebut lebih rinci dan dapat ditangkap oleh murid. Usai brainstorming, baru membuat kesepakatan untuk menentukan kapan diskusi tentang persiapan pameran karya. Baca Juga: Lebih Penting Pameran Karya atau Memajang Nilai Murid?  Biasanya dengan kegiatan pameran karya seperti ini, guru menganggap tugas tambahan dan belum siap mengatur. Langkah yang dilakukan Pima ialah gerilya dan menanyakan ke guru apa saja yang perlu dibantu agar siap menjadi mentor. Bermula dari hal itu, Pima paham kebutuhan guru yang akan jadi mentor. Pima juga menawarkan bantuan dan siap terjun untuk membantu jika ada kesulitan di tengah mentoring. Ketika membentuk mentoring, harus ada perbandingan mentor dan murid. Agar seimbang dan sesuai target. “Bu, bagaimana cara kita berempati dengan kebutuhan murid? Saya mengajar SMK dengan 300-an murid?” tanya Bu Eka Yuliana. Di Cikal murid diberikan pilihan antara Pameran Karya atau Presentasi. Jadi tidak semua memilih pameran dan presentasi. Ada pula juga yang memilih kelompok, sebab bersinggungan dengan tugas mata pelajaran.  Dalam komunikasi yang dilakukan, murid diberikan pilihan untuk menentukan. Jika ini dilakukan di SMK, malah lebih canggih dan bisa dibentuk kepanitiaan. Jadi murid bisa dilibatkan dalam penyelenggaraan. Jika di TK, bisa melibatkan orangtua. “Itu teknik-teknik percakapan yang menggerakkan ya, Bu?” tanya Bu Umi Kalsum.  Tentu saja, harus ada komunikasi yang terjalin antarguru, orangtua, dan murid. Hal ini akan memudahkan penyelenggaraan pameran. Maupun dalam proses menuju ke sana. Proses inilah yang nantinya akan memberikan percakapan-percakapan yang semakin mendekatkan guru dan murid, maupun para orangtua.  Perkembangan saat ini, Bu Pima mengatakan memang dibutuhkan adaptasi untuk menggelar pameran karya di sekolah. Mengingat adanya pandemi dan semua dilakukan serba online. Namun menurutnya, hal itu malah menjadi keuntungan. Karena guru dan murid bisa makin kreatif dalam menyajikan proses dan hasil karyanya. (*) Silakan tonton ulang Program Obrolan Pemimpin Merdeka Belajar di bawah ini.

Lebih Penting Pameran Karya atau Memajang Nilai Murid?

Pernahkah kita berpikir, apa esensi sekolah? Mengapa sekolah harus menerbitkan rapor murid dan menyerahkannya kepada orangtua? Pentingkah nilai-nilai itu? Atau, sebenarnya sekolah harusnya punya visi misi lain yang lebih bermakna? Mengapa nilai murid lebih sering dipajang, namun jarang ada pameran karya? Dalam obrolan #PemimpinMerdekaBelajar yang digelar 13 Februari 2021, hal itulah yang jadi topik pembahasan. Dipandu oleh bu Puti Almirsha, obrolan kali ini berfokus pada bagaimana sebenarnya esensi sekolah. Mengapa sekolah didirikan dan menjadi bagian belajar murid? Termasuk hubungannya dengan pameran karya sebagai instrumen pembelajaran.  Pak Bukik Setiawan, Ketua Yayasan Guru Belajar (YGB) sebagai narasumber menyatakan pemahaman yang tepat atas sekolah ini sangat penting. Apalagi, ketika dihadapkan dengan realita saat ini. Di mana, dunia sudah begitu terbuka. Sekat-sekat karir yang sebelumnya terbatasi dalam segmentasi tertentu, kini menjadi lebih cair dan beragam. “Di zaman ini, siapa yang menduga, menjadi youtuber bisa menjadi karir,” ujar Bukik.  Menurutnya, realitas yang berkembang ini harus diimbangi dengan kesadaran bahwa sekolah harus kembali mencari tujuan yang tepat. “Bagaimana sebenarnya sekolah itu?” sambungnya dalam obrolan #PemimpinMerdekaBelajar yang ditayangkan channel You Tube Sekolah Merdeka Belajar ini.  Pak Bukik mengatakan, pemahaman tentang sekolah atau madrasah ini, akan menentukan mau seperti apa output yang dicapai. Jika misalnya, sekolah dimaknai sebagai lembaga birokrasi, maka tentu saja output yang dihasilkan adalah laporan pertanggungjawaban keuangan dan program. Laporan yang disampaikan kepada lembaga birokrasi yang lebih tinggi. Begitu seterusnya.  Demikian halnya, ketika sekolah dipandang sebagai lembaga penyuplai sumber daya manusia (SDM). Maka output yang dihasilkan adalah daftar panjang tentang sejauh mana SDM dalam hal ini murid berkembang. Sebatas keterangan tentang penilaian (scoring) dan rangking.   Apakah kedua konsepsi ini tepat? Pak Bukik mengatakan realitas itu terjadi. Tapi menurutnya, sekolah seharusnya menjadi tempat pendidikan anak. Tempat anak belajar. “Pertanggungjawaban sekolah itu adalah menunjukkan bukti bahwa anak di sekolah/madrasah itu telah belajar,” ujarnya.  Dengan cara apa? Di sinilah, lanjut Pak Bukik, pameran karya bisa menjadi solusi. Di mana, pameran karya siswa akan menjadi semacam etalase sekolah untuk menunjukkan proses belajar yang telah dilakukan. Sehingga, tidak perlu menunggu sampai lulus dan menunjukkan profil lulusan mereka, sekolah/madrasah bisa memulainya dengan membuat pameran karya anak, yang bisa dikerjakan dalam rentang yang lebih pendek.  Misalnya, lanjut Pak Bukik, sekolah/madrasah bisa mendorong para guru untuk membuat check point asesmen formatif dalam bentuk karya. Waktunya bisa 1 – 3 bulan sekali. “Dan, karena ini formatif, tidak perlu di-grading atau digunakan untuk menentukan nilai akhir,” ujarnya. Yang penting, lanjutnya, pemeran karya ini diharapkan bisa menjadi bahan percakapan antar murid  maupun murid dengan gurunya. “Sekaligus bukti anak belajar di sekolah/madrasah,” bebernya.    Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Membuka Mata Stakeholder Pendidikan  Tentu, selain mempunyai fungsi idealis, yakni menjadi bukti belajar murid di sekolah, pameran karya juga memiliki fungsi pragmatis. Pak Bukik mengatakan, dalam kenyataan di lapangan, tak bisa dipungkiri sekolah/madrasah membutuhkan murid. Keberlanjutan sebuah sekolah/madrasah bergantung dari banyak sedikitnya murid. Jika banyak, maka akan lebih lama bertahan, karena dana bantuan operasional sekolah (BOS) yang terkucur semakin banyak. Jika sedikit, maka akan sempoyongan berdiri karena BOS yang diterima juga sedikit.   Maka dari itu, sekolah memerlukan sebuah ‘pertunjukkan’ yang bisa dilihat oleh banyak orang. Sehingga, hasil pembelajaran di sekolah terlihat secara masif oleh para stakeholder pendidikan. Jika rapor hanya menghubungkan hasil pendidikan murid, dari guru ke orangtua masing-masing, maka pameran karya menjadi solusi agar sekolah/madrasah bisa dikenal lebih luas.  Banyak yang akan melihat, jika misalnya satu sekolah berhasil menampilkan karya murid-muridnya yang punya karakter. Daya tarik itulah yang diharapkan bisa membuat sekolah mendapatkan banyak murid. “Ini sisi pragmatisnya,” ujar Pak  Bukik.   Lihat Potensi, lalu Kolaborasi  “Jangan melihat yang tidak ada,” kata pak Bukik menjawab pertanyaan dari seorang guru yang bertanya soal hambatan penyelenggaraan pameran karya di sekolah/madrasah kampung. Dengan kondisi anggaran terbatas dan fasilitas seadanya, apalagi mungkin jaringan internet yang sulit, menyelenggarakan pameran karya memang butuh upaya ekstra. Tapi pak Bukik mengatakan yang paling penting, bukan soal itu. Tetapi bagaimana sekolah/madrasah bisa membaca apa saja yang ada dan menarik untuk menjadi karya. “Lihat potensinya,” tandasnya.  Menurut pak Bukik, misalnya di sebuah desa, orangtua murid mencari nafkah dengan menjual tempe, maka tugas anak/murid harus berkaitan dengan itu. Mulai dari proses produksi misalnya, hingga ke pemasaran dan inovasi produk. “Pekerjaan orangtua dikolaborasikan dengan tugas murid,” bebernya.  Tentang pandemi dan kegiatan yang serba virtual? Pak Bukik mengatakan, bahkan jika pameran karya dilakukan secara luar jaringan (luring/offline), maka ia menyarankan agar ada upaya untuk memvirtualisasikan atau mengunggahnya ke media-media sosial. Baik guru, orangtua, atau murid sendiri.  Karena hal itu, lanjutnya, akan berdampak pada proses mengenalkan sekolah dalam cakupan yang lebih luas. “Keterbatasan adalah kesempatan untuk kreativitas kita,” tegas pak Bukik.  Karya yang Jadi Bahan Percakapan Dalam pameran karya ini, pak Bukik menyampaikan sekolah sebaiknya memamerkan karya yang otentik. Dalam artian, merupakan karya asli murid, dengan beraneka imajinasi dan kreativitasnya.  Menukil Alfie Kohn, dalam bukunya Memilih Sekolah Terbaik Untuk Anak: Mendobrak cara ajar Tradisional (2010), pak Bukik menyatakan bahwa secara umum, yang ditampilkan sekolah/madrasah biasanya adalah artifisial. Bukan hanya saat pameran karya, tetapi juga ornamen di dinding-dinding kelas. “Biasanya buatan guru atau barang-barang pabrikan,” ungkapnya. Jika yang sajikan dalam pemeran karya demikian, maka tidak akan ketemu tujuannya. Karena buat apa menyajikan karya yang biasa. Tidak unik karena sudah diproduksi pabrik. Karena jangankan dilirik, hal itu justru tidak sehat dan memicu pandangan miring bagi pendidikan di sekolah/madrasah. “Semakin otentik, maka akan semakin jadi bahan percakapan,” ujar pak Bukik. (*) 

Asesmen Nasional : Memperpanjang Derita atau Sebaliknya?

Senin lalu, 01 Februari 2021, lepas tengah hari, saat orang-orang bergegas pulang dari aktivitas  kerja, tepatnya pukul 16.00 Wita, Komunitas Guru Belajar Nusantara Makassar kembali menggelar Temu Pendidik Daerah di awal tahun dengan topik Asesmen Nasional sebagai  Pemetaan Pendidikan. Apa yang Harus Dilakukan Sekolah, Guru, dan Murid?  Topik ini sedang hangat-hangatnya jadi buah bibir dan akan digadang-gadang sebagai tema besar  Temu Pendidik Nusantara VIII nantinya. Lewat kanal Youtube KGB Makassar, Pak Ari Wibowo,  Pelatih Kampus Guru Cikal, sebagai pembicara, praktis dengan tegas dan terukur memulai webinar dengan pernyataan penolakan Ujian Nasional yang dulu telah lama dicetuskan oleh  Menteri Pendidikan Nasional era Kabinet Indonesia Bersatu, Bambang Sudibyo,sejak tahun 2005.  “Ujian Nasional sudah tidak relevan menjadi alat ukur dalam menentukan kompetensi murid.”  terang Pak Ari.  Sederet Menteri pun ikut menggaungkan wacana tersebut. Mulai dari M. Nuh, Anies Baswedan,  dan Muhadjir Effendy. Bahkan, saya dulu menganggap bahwa penghapusan Ujian Nasional merupakan hal utopis.  Tapi siapa sangka, di bawah Nadiem Makarim, hal itu terwujud. Kegaduhan terjadi dibanyak  tempat. Sekolah dan guru akhir-akhir ini sibuk tak karuan setelah Menteri Pendidikan dan  Kebudayaan mengeluarkan kebijakan yang tak terduga: Menghapus Ujian Nasional dan  menghadrikan Asesmen Nasional yang meliputi, Asesmen Kompetensi Minimum, Survei  Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.  Di tengah jalannya webinar, salah satu peserta, Emi Hardyanti, tiba-tiba mencurahkan  kegelisahannya di kolom live chat, “Bagaimana, Pak? Di luar sana banyak agen yang menawarkan  buku latihan untuk Asesmen Nasional, nyaris dipahami bahwa Asesmen Nasional merupakan  pengganti Ujian Nasional.”   Lalu disusul juga oleh Ibu Permata Hati, seperti namanya, komentarnya di kolom live chat ia  sampaikan dengan penuh emosional, “Sekarang banyak pelatihan pembuatan soal Asesmen  Kompetensi Minimum, bahkan buku pembahasannya juga ada. Apakah ini tidak berdampak pada  persaingan nilai? Jadinya, tujuan Asesmen Kompetensi Minimum malah tersamarkan.”  Dua celetukan dari peserta webinar membuat pembicara dan pemandu, Pak Multazam, Guru  MTsN 2 Maluku Tenggara yang baru saja hijrah dari Makassar, menahan tawa dengan sedikit rasa  heran. “Iya, Bu. Masih ada oknum-oknum yang memanfaatkan momen-momen seperti ini,” kata  Pak Ari.  Kedua komentar dari peserta menggambarkan bahwa selama ini tercipta miskonsepsi. Apa yang  diresahkan oleh peserta Temu Pendidik Daerah, mungkin itu juga yang dirasakan sebagian  teman-teman guru yang lain. Jadinya, guru kembali lagi terjebak pada konsep yang lama dan  menyamarkan tujuan cita-cita Asesmen Nasional.  Pembicara lanjut menyampaikan materinya, ia mengutip pernyataan dari Mas Bukik Setiawan,  “Ada perbedaan yang nyata pada konsep baru, tapi tidak akan bermakna bila pemahaman lama  yang digunakan untuk memahami konsep baru.”  Pada Temu Pendidik Daerah kali ini, pembicara berusaha mendobrak gap tersebut. Ia  menerangkan tiga dasar tujuan Asesmen Nasional. Pertama, ingin melihat kualitas pembelajaran  di sekolah. Kedua, mendapatkan umpan balik peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah.  Ketiga, menjadi dasar untuk penyusunan program-program dalam meningkatkan proses  pembelajaran di sekolah.  “Pak, kenapa siswa yang menjadi target Asesmen Kompetensi Minimum hanya diperuntukkan  bagi siswa yang berada di kelas 5, 8, dan 11?” tanya peserta lagi.  Pertanyaan dari peserta langsung direspon oleh pembicara dengan menampilkan tabel  perbandingan Asesmen Nasional dan Ujian Nasional. Tabel itu menggambarkan tujuh perbedaan  dari masing-masing program.  Lanjut, pembicara mulai menjelaskan tiap-tiap perbandingan. Ia menegaskan sekali lagi bahwa  dalam Asesmen Kompetensi Minimum, tujuannya bukan untuk menilai hasil akhir, tapi keinginan  perbaikan yang diharapkan oleh pemangku kebijakan. Dengan menjadikan siswa kelas 5, 8, dan  11 sebagai sasaran, tujuannya tentu agar tahun depan siswa yang sudah naik tingkat ke kelas 6,  9, dan 12 ikut merasakan perubahan iklim yang berada di sekolah.  Jika Ujian Nasional mendapat bobot butir soal yang sama untuk mengukur kompetensi, Asesmen  Kompetensi Minimum malah bersifat adaptif yang menekankan pada kompetensi Literasi dan  Numerasi. Semuanya ini, bertolak pada hasil PISA beberapa tahun belakangan ini.  Bahkan, sasaran juga tidak hanya ditujukan kepada siswa, melainkan guru dan kepala sekolah  dalam ranah survei karakter yang termaktub dalam profil pelajar Pancasila dan survei lingkungan  belajar untuk melihat kualitas proses belajar mengajar di sekolah.  Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Jadi sudah menjadi barang yang jelas, bahwa Asesmen Nasional tidak berpacu pada target  seberapa banyak siswa yang berhasil lulus, tetapi berpacu pada target capaian sekolah tahun tahun sebelumnya agar tercipta peradaban dalam lingkungan sekolah.  Untuk mencapai itu, pembicara memaparkan lima strategi yang harus dilakukan sekolah, terlebih  pemimpin sekolah dalam hal ini kepala sekolah. Langkah pertama, kepala sekolah tidak  mengambil jalan pintas, misalnya menghimbau guru dan siswa untuk melakukan latihan  pengerjaan soal, tapi melihat kesemua sisi.   Kedua, kepala sekolah harus memprioritaskan waktu dan energi lebih banyak untuk memandu  perencanaan, pendampingan, dan refleksi proses pembelajaran dan melibatkan seluruh elemen,  termasuk orang tua murid. Ketiga, melakukan pembelajaran yang kolaboratif. Maksudnya, kepala  sekolah memastikan semua mata pelajaran harus terintegrasi pada kompetensi literasi, numerasi  dan karakter.  Keempat, mengembangkan kebiasaan berbagi praktik baik di lingkungan sekolah sebagai wadah  bertukar pikiran, karena belajar yang nyata itu ialah belajar dengan sesama rekan seperjuangan.  Terakhir, hapus program-program yang sudah tidak relevan, apalagi memakan anggaran yang  cukup banyak dan segera memulai menyusun program-program jangka panjang yang lebih relevan.  Nah, pilihan itu bergantung pada kita semua. Saya harap, setelah ini, ajaklah murid belajar untuk  hidup, bukan sekadar belajar untuk ujian. Sebab kata Einstein, “Seni tertinggi guru adalah  membangun kegembiraan dalam ekspresi kreatif dan pengetahuan.”

Pengertian Asesmen, Apakah Kita Terjebak Miskonsepsi?

Apa pengertian asesmen? Kalau ulangan,ujian tentu sudah menjadi hal biasa bukan? Tapi kalau asesmen bagaimana? Kita tahu saat ini asesmen sedang menjadi perbincangan hangat di dunia pendidikan, tak lain karena tahun 2021 akan mulai diterapkannya Asesmen Nasional untuk pendidikan di Indonesia. Bukan hanya perbincangan, tapi juga menjadi ketakutan sendiri bagi guru untuk menjalankannya. Orientasi yang salah sudah menjadi budaya sejak pendidikan dasar yang mengagung-agungkan nilai dan melupakan aspek lain yang saling terkait dalam perkembangan setiap murid yang perlu menjadi perhatian. Miskonsepsi menjadi awal pemahaman guru terkait asesmen menjadi tantangan terbesar yang harus dilepaskan, karena dengan begitu akan lebih mudah menerima informasi yang kredibel dan komprehensif. Pemahaman konsep pengertian asesmen yang benar akan membawa dampak yang bermakna tidak hanya kepada guru tapi juga murid ikut merasakannya sebagai subjek belajar dalam pendidikan. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Kampus Guru Cikal mengenai pemahaman Asesmen, dihasilkan bahwa 78% responden masih mengalami kebingungan akan  pengertian konsep asesmen itu sendiri, sedangkan 22% memilih sudah paham dengan asesmen. Seperti pertanyaan yang diajukan oleh Fatrica Ivana Dabukke sebagai moderator dalam acara Obrolan #GuruMerdekaBelajar yang diinisiasi oleh Kampus Guru Cikal mengajukan pertanyaan kepada peserta “Apa itu asesmen?” banyak yang mengatakan bahwa asesmen adalah penilaian proses belajar murid. Apa betul begitu? Atau asesmen hanya sebutan lain dari ujian? Nah, sudah sampai mana pemahaman asesmennya? Apa sudah benar pemahaman kita? Yuk cari tahu bersama! Berdasarkan paparan awal Elisabet Indah Susanti salah satu narasumber dalam OGMB menjelaskan “Asesmen adalah sekumpulan kegiatan yang melibatkan pengumpulan data dan analisis informasi tentang kinerja murid dan dirancang untuk menginformasikan, mengidentifikasi apa yang murid ketahui, pahami, dapat lakukan, dan rasakan pada tahapan yang berbeda di proses pembelajaran”. Melalui obrolan #GuruMerdekaBelajar ini meluruskan miskonsepsi yang selama ini menjadi pemahaman guru-guru bahwa asesmen itu terkait dengan ujian dan penilaian adalah scoring akhir ulangan atau ujian murid, padahal secara esensialnya asesmen adalah penilaian kinerja murid pada waktu sebelum, selama dan sesudah proses pembelajaran dilakukan, jadi tidak hanya menilai berdasarkan hasil ulangan atau ujian secara individu, tetapi berdasarkan proses pemahaman pembelajaran yang dilakukan dan dirasakan oleh murid dan sekolah secara komprehensif. Anggi Rizka Pustika guru dari SD Negeri Bogem 2 Sleman narasumber dalam obrolan tersebut menjelaskan bahwa  sudah melakukan asesmen dalam proses pembelajarannya bahwa ada perbedaan asesmen zaman dulu dengan asesmen zaman sekarang dijalani, dimana dulu dalam melakukan guru melakukan penilaian murid berdasarkan hasil akhir dari ulangan atau ujian dalam bentuk angka atau grade yang juga menjadi salah satu bentuk tuntutan dari orang tua yang ingin tahu anaknya berada di peringkat berapa atau sekadar ingin tahu nilai berapa diperoleh. Peringkat sudah menjadi patokan turun temurun yang membuat anak hanya mengejar untuk memperoleh nilai tinggi, tanpa mengetahui esensi atau tujuan kenapa mereka perlu belajar. Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Pengertian konsep asesmen yang benar menjadi jawaban bagaimana meningkatkan dan mengembangkan pendidikan Indonesia menjadi lebih merdeka, dimana guru, murid dan orang tua dituntut saling berkolaborasi dan bekerjasama menciptakan pembelajaran dengan melakukan strategi pembelajaran. Ketika guru-guru sudah memahami konsep asesmen yang sesuai dan benar bahwa yang menjadi orientasi adalah murid yang terus berkembang kompetensinya, bukan sekadar pencapaian nilai akhir, guru akan lebih memahami murid dengan melakukan berbagai macam strategi yang sesuai, dan orang tua perlu turut diberikan pemahaman bahwa asesmen tidak hanya sekadar skor. Obrolan tersebut juga mengulik mengenai prinsip asesmen terbagi menjadi tiga, yang pertama Asesmen Untuk Belajar (Asesmen Diagnostik) adalah asesmen yang dilakukan untuk mempersiapkan murid melakukan pembelajaran, adanya analisa yang dilakukan guru untuk melihat sudah sejauh mana kemampuan dan pemahaman murid, hasilnya untuk menindaklanjuti strategi apa yang cocok dengan murid; kedua Asesmen Sebagai Proses Belajar ini adalah asesmen yang dilakukan terhadap proses belajar yang berlangsung, murid menilai proses belajar yang terjadi pada dirinya sendiri sebagai subjek belajar mengenai pemahaman, ketercapaian, perbaikan yang perlu dilakukan atau tantangan yang dirasakan; ketiga  Asesmen Terhadap Belajar dimana pencapaian yang dilakukan adalah asesmen terhadap pembelajaran murid sebagai puncak selesainya kegiatan pembelajaran melalui indikator-indikator yang menjadi acuan pencapaian pembelajaran. Ketiga prinsip asesmen ini saling berkaitan satu sama lain untuk mengukur capaiannya yang diawali dengan persiapan, kemudian latihan-latihan sampai puncak proses pembelajaran selesai yang membawa hasil capaian murid secara komprehensif yang lebih luas. Pelaksanaan asesmen membawa dampak yang bermakna bagi guru, murid dan orang tua. Guru lebih memahami apa yang menjadi kebutuhan murid, strategi apa yang cocok untuk digunakan, perkembangan peningkatan yang terjadi pada murid, dan guru merasa terbantu karena beban kerja yang terasa lebih ringan karena menerapkan asesmen, sementara murid merasakan dampaknya dengan merasa lebih nyaman, berani dan percaya diri dalam menyampaikan sesuatu yang berkaitan dengan proses pembelajaran ataupun capaian yang telah mereka lakukan sendiri dan guru berikan yang tidak hanya berorientasi pada nilai, sedangkan orang tua lebih memahami dan menerima anak-anak memiliki kebutuhan dan keunikan sendiri yang tidak bisa disamakan dan dibandingkan satu sama lain, berujung pada tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan.Ini yang menjadi harapan kita semua bukan? Yuk merenung dan menjawab dalam hati apakah sudah sesuai pengertian konsep kita mengenai asesmen? Apakah kita memang terjebak atau justru sudah melakukan asesmen tetapi tidak menyadarinya? Yuk berefleksi… Ingin menonton ulang Video Obrolan Guru Merdeka Belajar edisi ini?Silakan tonton di bawah ini

Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional

“Sekolah saya sekolah pinggiran, jika ujian nasional saja kesulitan, bagaimana saat Asesmen Nasional diterapkan?” Tahun 2021 mulai diberlakukan Asesmen Nasional, apa yang harus sekolah persiapkan? Menyelenggarakan PJJ saat pandemi saja kewalahan, apalagi dengan Asesmen Nasional di tahun depan. Hhhmm dilihat-lihat banyak permasalahan ya?Apa Bapak Ibu juga begitu atau permasalahannya justru lebih akut nih? Waduuh, daripada terus-terusan memikirkannya, lebih baik kita kupas saja apa itu Asesmen Nasional, agar hilang rasa takut Bapak Ibu dan tidak ada kata ragu diantara kita *eh tidak ada ragu dengan Asesmen Nasional maksudnya. Konsep Asesmen Sebelum membahas Asesmen Nasional, sebenarnya Apa sih asesmen itu? Jika dilihat dari fungsinya ada tiga jenis asesmen, yaitu asesmen terhadap proses belajar, asesmen untuk belajar,  dan asesmen sebagai proses belajar. Pada AN penilaian tidak berpatokan pada hasil belajar murid atau angka perolehan tetapi proseslah yang dinilai, penilaian mengenai proses pembelajaran di  kelas, potret layanan dan kinerja dari sekolah/madrasah,  dan pemahaman murid dari tujuan atau esensi dari proses belajar yang berlangsung. Jika diperdalam lagi pendidikan Indonesia dari tahun ke tahun sampai sekarang ini masih menggunakan pola pembelajaran yang sama. Wah apa ini maksudnya? Mungkin bapak Ibu ada yang tahu? Ok kita lanjutkan kalau begitu ya, maksud dari penggunaan pola pembelajaran yang sama ini, anak-anak atau murid dituntut untuk menghafalkan materi, rumus-rumus, dan murid diberikan beban tugas yang banyak dari setiap mata pelajaran setiap harinya, wah bisa dibayangkan bagaimana murid merasakan capek dan tentunya Bapak Ibu juga merasakan capek bukan kalau harus menyiapkan beberapa tugas untuk murid, lalu para guru dan sekolah lebih mengapresiasi murid yang pintar, yang nanti dapat mengkatrol nilai murid-murid lain yang merasa tertinggal baik secara akademik maupun non akademik. Jika dibandingkan dengan menjalankan Asesmen Nasional baik murid dan guru tidak ada yang merasa terbebani, karena pola pembelajaran jadi menitikberatkan pada penalaran dan literasi, pemberian tugas atau PR dengan meningkatkan kualitas soal bukan pada kuantitasnya, dan penilaian yang akan diambil secara sampling dari setiap sekolah/madrasah masing-masing. Tidak akan ada lagi membandingkan dengan sekolah tetangga. Bagaimana menghadapi Asesmen Nasional? Nah, Bapak Ibu mau tahu bagaimana caranya bisa lulus Asesmen Nasional? Kita lihat jawabannya pada Obrolan #GuruMerdekaBelajar yang bertajuk Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional, Bagaimana Seharusnya Guru & Kepala Sekolah menyikapi AN? Pada Obrolan ini ada Pak Bukik Setiawan selaku Narasumber dan Ibu Elisabet Indah Susanti sebagai Pemandu. Acara melalui live di kanal youtube Kampus Guru Cikal ini penuh dengan pertanyaan dan rasa penasaran dari para peserta mengenai Asesmen Nasional, tampak beberapa komentar dari para peserta, terlihat Ibu Mahayu Ismaniar yang mengatakan“Enak nih jadi murid! Ga ditanyain hafalan mulu 🙁 terus dibandingin sama murid yang lebih pinter” Ibu Puti Hamid dengan sangat antusias mengatakan“bagus nih, aplikasi lintas mata pelajaran jadi berkesinambungan dari perencanaan-pembelajaran-asesmen-laporan perkembangan,”yang selaras dengan yang diungkapkan Ibu Theresia Tri Darini bahwa Asesmen Nasional dapat dimanfaatkan untuk refleksi proses pembelajaran. Cukup seru obrolan #GuruMerdekaBelajar malam itu membahas topik yang sedang hangat-hangatnya, pasti banyak pro dan kontra dengan kebijakan baru ini, jika ditilik lebih jauh Asesmen Nasional memiliki banyak manfaat yang bisa dirasakan baik oleh pengajar, peserta didik dan satuan pendidikan sekalipun, dengan Asesmen Nasional akan mengetahui sampai sejauh mana proses keberhasilan dan ketercapaian tujuan proses pembelajaran, tahu bahwa manfaatnya bisa dirasakan oleh murid, guru dan sekolah, serta apa yang perlu dikurangi (baik dari segi pemberian atau penyampaian materi dan kualitas tugas yang diberikan), mengetahui layanan dan kinerja apa yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan, dalam segi pengajar, guru secara tidak langsung juga mengalami penurunan beban kerja tetapi dengan peningkatan kualitas kerja yang lebih baik.Wah asyik nih Bapak Ibu! Bagaimana mengetahui keberhasilan dan ketercapaian Asesmen Nasional yang sudah dijalankan? Semakin banyak yang bisa kita kupas mengenai Asesmen Nasional ini, berdasarkan pemaparan Pak Bukik dalam obrolan live tersebut dijelaskan bahwa AN memiliki 3 bagian, yaitu Asesmen Kompetensi Minimal (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar. Pada pedoman AKM nantinya akan ada rubrik penilaian yang memiliki 4 urutan tingkat kompetensi, yaitu perlu intervensi khusus, dasar, cakap dan mahir. AKM dirancang untuk mengukur capaian murid dari hasil belajar kognitif, yaitu kompetensi literasi dan numerasi. Rubrik penilaian pada AKM diambil secara sampling atau survei yang dapat memberikan gambaran secara jelas mengenai ketercapaian asesmen yang mengarah pada penguasaan kompetensi literasi, numerasi dan karakter apakah sudah berhasil dan mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya. Rubrik penilaian inilah yang akan menjadi pegangan untuk menjalankan asesmen selanjutnya.  Tips Menghadapi Asesmen Nasional Dari Obrolan seru #GuruMerdekaBelajar Pak Bukik turut memberikan tips untuk mempersiapkan dalam menjalankan Asesmen Nasional Tahun 2021 bagi pemimpin Sekolah/Madrasah dan Guru.Siapa yang mau tahu tipsnya? Kira-kira apa saja tips yang bisa dilakukan? Tips tersebut antara lainPertama, setiap pemimpin Sekolah/Madrasah diharapkan dapat mengajak guru untuk melakukan analisis terhadap tujuan. Tujuan bahwa dengan menjalakan Asesmen Nasional untuk memperbaiki sistem proses pembelajaran ke arah yang lebih baik, baik pihak guru, sekolah bahkan murid bisa mendapatkan manfaat dari proses pembelajaran yang kita berikan;Kedua, kegiatan dan konten pembelajaran yang berpotensi pada mengembangkan kompetensi literasi, numerasi dan karakter, melakukan perencanaan pembelajaran kolaboratif berbasis pada murid yang diajar;Ketiga, melakukan forum berbagi praktik baik pembelajaran berbasis kompetensi yang mengarah pada penguasaan kompetensi literasi numerasi dan karakter. Sedangkan tips yang bisa diterapkan oleh guru antara lainPertama, melakukan asesmen di awal pembelajaran untuk memahami kompetensi awal murid;Kedua, melakukan dan memperbanyak pelaksanaan asesmen formatif berbasis kompetensi literasi,numerasi dan karakter sebagai dasar untuk penyesuaian pembelajaran;Ketiga, mengurangi jumlah tugas sekaligus meningkatkan kualitas tugas yang diberikan kepada murid. Video selengkapnya dapat ditonton di bawah ini Pilih tips yang mana nih Bapak Ibu? atau semua tips mau dicoba? Tuntutan perubahan dan tantangan yang akan dihadapi kedepannya. Diperlukan adanya rasa ingin tahu dan rasa ingin belajar yang kuat antar semua pihak yang berkepentingan. Seiring berjalannya waktu akan dirasakan manfaat dan tujuan dari suatu program yang dibentuk. Pro-kontra pasti akan selalu ada dan selalu mengiringi setiap perubahan, karena dengan pro-kontra tersebutlah akan menciptakan resep bumbu perubahan ke arah yang lebih baik, dan terasa semakin kuat rasa semangat untuk dapat menciptakan perubahan pendidikan Indonesia untuk berani bersaing dengan dunia.  Nah, sudah jelas bukan, Asesmen Nasional adalah jawaban dari kita semua untuk perbaikan mutu pendidikan kita. Tidak perlu diragukan dan meragukan lagi. Tentunya tidak perlu mengikuti bimbingan belajar dan drilling … Read more