Asesmen Nasional 2021, Siap(a) Berubah?

Jam menunjukkan pukul 11.00 ketika kegiatan seri webinar bertajuk “Siap Asesmen Nasional, Siap Berubah” pada 24 juni 2021 dimulai. Guru-guru sudah standby di depan gawai dan laptop masing-masing. Bahkan, saking antusiasnya para peserta, room Zoom yang disiapkan panitia tidak cukup. Hingga panitia mesti memutar otak, mengarahkan sebagian peserta untuk menonton live di YouTube. Ya, dengan sedikit usaha, kebaikan akan menemukan jalannya sendiri. Kegiatan diawali dengan doa, dilanjutkan pengantar oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bantaeng, Drs. Muhammad Haris, M.Si. Dipandu langsung oleh Bu Ilona Christina dari Kampus Guru Cikal. Dan menghadirkan Bu Elisabet Indah Susanti sebagai Narasumber, selaku ketua Kampus Guru Cikal. Dalam sambutannya Pak Kadis mengingatkan, bahwa program ini haruslah dijalankan oleh seluruh stakeholder secara integratif, hal ini guna meningkatkan kualitas pendidikan. Karenanya, kementerian pendidikan memberikan amanah kepada sekolah untuk mewujudkan murid yang memiliki profil Pancasila. Dan hal ini bagi Pak Kadis bisa dimulai dengan peningkatan kapasitas guru dan kepala sekolah. Ini menjadi fundamental, karena merupakan kunci bagi reformasi pendidikan, khususnya di Kabupaten Bantaeng. Bagi Pak Kadis, guru dan kepala sekolah adalah elemen penting dalam pembenahan tata kelola pendidikan kini. “Nah, kegiatan kita hari ini akan sangat mendukung guru dan kepala sekolah di Kabupaten Bantaeng.” Terang Pak Kadis. Ini pun sebangun dengan visi misi Pemerintah Kabupaten Bantaeng, di mana peningkatan sumber daya manusia menjadi program utamanya. Hal tersebut, jika dipilah, maka ada dua hal esensial yang mesti dipikirkan bersama. Pertama, bagaimana tata kelola Dinas Pendidikan Kabupaten Bantaeng sebagai induk dari lembaga satuan pendidikan. Kedua, pengembangan sumber daya manusia di satuan pendidikan, agar supaya selalu ada ikhtiar untuk menambah kapasitas dan kapabilitasnya dalam menjalankan peran dan fungsinya masing-masing. Lebih khusyuk, Pak Kadis kemudian memaparkan problem pendidikan di Bantaeng. Berlapik pada data Badan Pusat Statistik (BPS), mengatakan bahwa angka rata-rata lama sekolah kita, masih digolongkan rendah, dan ini memengaruhi human index development. Di mana salah satu ukuran utamanya adalah pendidikan. Inilah yang seyogianya menjadi perhatian kita bersama. Problem kedua adalah Pemetaan Mutu Pendidikan (PMP) yang masih dinilai rendah.  Problem ketiga, adalah kemampuan literasi yang rendah. Hal ini—menurut Pak Kadis—dimungkinkan karena sebagian guru tidak melakukan rencana tindak lanjut dari program yang sudah ada, yaitu Calistung (baca, tulis, dan hitung). Bagian refleksi yang seyogyanya menjadi bagian penting dari sebuah proses tampaknya tidak dimaksimalkan betul oleh guru-guru. “Saya ingin program ini berlanjut dan dibahas di forum KKKG/MGMP, serta terintegrasi dengan KKKS/MKKS agar supaya ada rencana yang berkesinambungan dari hasil refleksi. Menambah yang kurang. Memperbaiki yang salah.” Pak Kadis mengingatkan. Sebagai penutup, Pak Kadis menasihati guru dengan sebuah petuah bijak, “Hari ini kita guru, besok kita guru, dan hingga mati tetap menjadi guru. Sehingga pepatah dalam bahasa Makassar benar-benar menyata dalam hidup, jappo buku-buku tala jappo kana-kana baji (hancur tulang belulang, tidak habis cerita-cerita baik).”  Meluruskan Miskonsepsi Belajar  Membuka pembicaraan Bu Susan kemudian mengajak para guru melakukan refleksi: apakah murid inisiatif belajar meski tidak disuruh guru/orangtua? Seberapa banyak murid yang sedih ketika lonceng jam pulang berbunyi? Seberapa banyak murid yang belajar ketika jam kosong? Pertanyaan refleksi di atas sudah kita ketahui bersama jawabannya. Nah, apa sebenarnya yang terjadi dengan pendidikan kita? Murid yang tidak punya inisiatif, tidak belajar jika tak disuruh adalah bukti bahwa kita sedang menghadapi sebuah krisis pembelajaran. Memang banyak murid yang sekolah, tapi sedikit yang belajar.  Sekotahnya menjadi bahan renungan bersama. Sepertinya memang ada miskonsepsi tujuan pendidikan kita selama ini. Inilah yang kemudian dipaparkan oleh Bu Susan dengan sangat apik. Penulis pun menyadari bahwa inilah yang seyogianya menjadi perhatian utama guru jika ingin mereposisi tujuan pendidikan. Seperti, apakah tujuan pendidikan adalah siap sekolah, atau siap hidup? Nilai angka, atau kompetensi yang membekali murid dengan life skill? Ujian terstandar, atau ujian yang bermakna? Apakah murid harus menghafal, atau menalar? Murid dituntut untuk terus patuh, atau diajari untuk mandiri?  Sekolah adalah miniatur kehidupan. Karenanya, sekolah dituntut untuk bisa membekali murid dengan keterampilan-keterampilan yang membantunya kelak hidup di tengah-tengah masyarakat. Jika kita percaya bahwa menghafal tidak akan membantu, maka mulai sekarang kita mesti mengajar murid untuk menalar. Memaksimalkan akal pikiran yang dianugerahkan Tuhan.  “Murid ketika dihadapkan pada kehidupan nyata, tidak hanya dituntut untuk menghafal saja, kok. Karena belajar itu bukan hanya tentang konten/pengetahuan. Yang lebih prioritas adalah bagaimana murid untuk dapat menalar/berpikir kritis.” Terang Bu Susan. Sayangnya—menurut Bu Susan—kita masih banyak terjebak pada banyak miskonsepsi belajar. Inilah yang harus dihadapi terlebih dahulu, karena bicara soal asesmen nasional, maka dituntut perubahan paradigma berpikir tentang pelajaran. Nah, menghadapi asesmen nasional bukanlah mengondisikan murid, tetapi menyiapkan guru. Supaya guru mampu merubah praktik pembelajaran di kelasnya. Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional 2021 Nah, apa saja miskonsepsi belajar yang dimaksud Bu Susan? Check this out. Pertama, dari segi manajemen kelas. Di kelas murid masih terjajah belajar, ini ditandai dengan murid yang dituntut untuk patuh sepenuhnya. Guru mendikte aturan pada murid, sedang murid cukup melaksanakannya saja. Jika melanggar dapat hukuman, patuh dapat reward. Bagaimana idealnya? Dalam konsep merdeka belajar, murid diharapkan mandiri, dilibatkan dalam membuat kesepakatan kelas, sehingga murid juga bisa menyuarakan keinginannya. Serta dilanjutkan dengan refleksi yang dialogis. Murid dan guru melakukan komunikasi dua arah dalam proses belajar. Kedua, dari segi strategi pembelajaran. Di kelas, pembelajaran masih berorientasi target. Hanya mengacu pada kurikulum, dengan penyampaian konten yang satu arah, juga mengejar ketuntasan konten. Sayangnya, guru berhasil menuntaskan kurikulum, tapi murid tak menguasai kurikulum. Padahal dalam konsep merdeka belajar, pembelajaran seyogianya berorientasi pada murid. Kurikulum mestinya dipadukan dengan kebutuhan murid. Melakukan kegiatan yang mengarah pada penguasaan kompetensi. Bu Susan mengigatkan bahwa diksi kompetensi yang digunakan mengacu pada tiga hal: pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Serta bagaimana murid melakukan aksi guna menyelesaikan masalah. Jadi concern dari kompetensi bukan pengetahuan semata.  Ketiga, dari segi asesmen pembelajaran. Di kelas, semua penilaian digunakan untuk menentukan nilai akhir. Ulangan harian, PR, ulangan semester, ujian akhir, kesemuanya diakumulasi dengan menggunakan rumus tertentu, hingga jadilah nilai akhir. Murid tidak diberikan asesmen diagnostik dan asesmen formatif. Padahal inilah bagian yang paling menentukan. Guna meluruskan miskonsepsi ini, maka amat penting untuk melakukan asesmen yang lebih berorientasi diagnosis dan formatif. Apa sih asesmen diagnosis dan formatif itu? Asesmen diagnosis adalah asesmen yang dilakukan untuk mengidentifikasi dan memahami kondisi … Read more

Katrol Nilai Murid dengan Hasil Asesmen Formatif, Bolehkah?

Pusing dengan nilai murid menjelang rapotan? Sebelum rapot dibagikan, Bapak dan Ibu Guru mungkin memiliki kebiasaan baru (atau mungkin mengulang kebiasaan yang sudah ada), ketika makin pusing dan makin sering mengusap balsem atau minyak kayu putih di kepala, guru pun mengumpulkan seluruh catatan murid untuk mendapat nilai. Untuk apa sih? Kemungkinan besar adalah untuk mengangkat nilai murid atau yang sering disebut katrol nilai.  Loh, tapi yang mau dinilai kan kemampuan akhir murid? Kenapa para guru mengumpulkan nilai-nilai tugas yang sifatnya asesmen formatif untuk memberikan nilai akhir? Apakah praktik ini betul? Pertanyaan di atas menjadi bahasan utama dari OGMB 7. Pada tanggal 25 Mei 2021, dua narasumber, yaitu Pak Mirwan Abdul Aziz dan Ibu Amalia Jiandra,  membagikan informasi mengenai asesmen formatif berdasarkan pengalaman mereka masing-masing. Dalam obrolan yang dipandu oleh moderator Ibu Ilona Christina, Bapak dan Ibu Guru dapat mengetahui lebih jauh mengenai penggunaan asesmen formatif yang tepat dan bagaimana penggunaannya. Apa itu Asesmen Formatif? Untuk membuka OGMB, Pak Mirwan dan Bu Amel menjelaskan apa yang dimaksud dengan asesmen formatif. Pak Mirwan menjabarkan asesmen formatif sebagai “proses yang digunakan oleh guru atau murid untuk mendapatkan umpan balik”. Sesuai dengan komentar Aris Ariyanti mengenai asesmen formatif, yaitu “asesmen untuk mengecek pemahaman murid”, Pak Mirwan menjabarkan lebih lanjut manfaat asesmen formatif. Bagi murid, data asesmen formatif dapat digunakan untuk mengetahui celah pemahaman yang dimiliki dengan tujuan pembelajaran. Untuk mencapai tujuan ini, penting bagi murid untuk mengetahui tujuan pembelajaran sehingga mereka dapat melakukan refleksi diri dari hasil asesmen formatif. Di sisi lain, asesmen formatif dapat digunakan pula oleh guru. Bila diolah dengan baik, data asesmen formatif dapat dimanfaatkan untuk melakukan penyesuaian proses belajar mengajar guna meningkatkan pencapaian siswa. Dengan kata lain, asesmen formatif bukan hanya memberikan informasi bagi murid, tetapi juga untuk guru.  Bu Amel kemudian mengungkapkan beberapa miskonsepsi mengenai asesmen formatif yang sering terjadi di antara para guru. Seperti yang sudah disebutkan di atas, asesmen formatif dianggap berfungsi untuk mengatrol nilai akhir. Bila murid tampak belum paham, akan semakin banyak asesmen formatif yang diberikan guru kepada murid tersebut. Padahal asesmen formatif adalah bagian dari asesmen sebagai proses belajar, bukan asesmen terhadap belajar. Dengan kata lain, tujuan asesmen formatif berbeda dengan asesmen yang dilakukan di akhir semester, atau asesmen sumatif.  Masih terkait dengan nilai akhir, Bu Amel mengutarakan miskonsepsi lain, yaitu asesmen formatif sering digunakan untuk langsung menentukan nilai akhir, atau keputusan akhir, kemampuan yang dimiliki murid. Beliau menjelaskan miskonsepsi ini dengan analogi kesalahan diagnosis penyakit, yaitu pemberian diagnosis di saat seseorang hanya menunjukkan satu gejala. Satu kali murid gagal dalam asesmen formatif, maka guru langsung memberikan label bahwa murid tidak mampu. Praktik ini tentu berlawanan dengan proses asesmen formatif yang harusnya berlangsung selama proses belajar berlangsung. Perlu diingat juga bahwa asesmen formatif tidak bertujuan menggambarkan kompetensi yang dimiliki murid di akhir semester. Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Pengambilan Data dan Tindak Lanjut Asesmen Formatif sama Pentingnya “Saya keinget, cara Pak Mirwan ajak anak-anak refleksi, sampe ada yang nyebut “Saya ga pengen jadi baligh, nanti nanggung dosa” Artinya refleksinya bener-bener nunjukkan anak sudah paham.”, komentar Maman, salah seorang peserta OGMB. Selain refleksi, apa saja cara yang bisa dilakukan dalam asesmen formatif ya? Pak Mirwan membagikan beberapa cara yang pernah beliau lakukan dalam proses belajar mengajar di kelas. Salah satunya adalah melalui cara self-assessment. Murid diberikan sebuah kertas kosong dan diminta untuk menuliskan pemahaman dari materi yang baru saja diajarkan. Hasilnya menarik karena murid dapat menggambarkan pemahaman mereka dalam berbagai cara di kertas tersebut. Ada murid yang menjelaskan pemahaman mereka, ada pula yang membuat mind-map. Ketika masa pandemi, beliau menggunakan bantuan beberapa aplikasi agar murid dapat mengomunikasikan pemahaman mereka. Terlepas dari cara apa yang digunakan, sekali lagi Pak Mirwan berpesan agar guru tidak hanya fokus pada cara melakukan asesmen formatif, tetapi juga bagaimana menindaklanjuti data yang sudah ada. Mengaitkan dengan salah satu komentar peserta, diferensiasi merupakan bentuk tindak lanjut yang dapat dipilih oleh guru. Ini tidak berarti bahwa guru harus membedakan cara pengajaran untuk masing-masing anak. Guru justru dapat melakukan pengelompokkan murid berdasarkan asesmen formatif dan mengajak murid yang dinilai lebih mampu untuk membantu temannya yang membutuhkan bantuan dalam memahami materi, atau sering disebut tutor sebaya. Asesmen Formatif Membantu Guru dan Murid Menjadi Merdeka Belajar Terakhir, Bu Amel menekankan adanya proses berkelanjutan dari asesmen formatif. Asesmen formatif berguna bagi guru dalam memodifikasi cara pengajaran secara berkala agar dapat memfasilitasi murid untuk mencapai tujuan pembelajaran. Murid juga dapat terus menerus merefleksikan pemahaman yang dimiliki melalui adanya asesmen formatif. Pak Mirwan menambahkan pula bahwa guru perlu memahami tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dalam memilih cara melakukan asesmen formatif. Cara yang dibagikan beliau belum tentu sesuai dengan tujuan pembelajaran dan kondisi murid di sekolah yang lain. Begitu pula sebaliknya. Yang terpenting adalah guru mau mencoba melakukan asesmen formatif guna membantu murid dan menyesuaikan proses pengajarannya. Dengan begitu, guru dan murid dapat mengalami Merdeka Belajar di dalam kelas.  Baca Juga Dari penjelasan Pak Mirwan dan Bu Amel, Bapak dan Ibu Guru dapat merefleksikan pemahaman mengenai asesmen formatif. Adakah miskonsepsi tentang asesmen formatif yang Bapak dan Ibu Guru miliki selama ini? Setelah mendengar obrolan ini, adakah perubahan dalam melakukan asesmen formatif yang ingin dilakukan? Bila Bapak dan Ibu Guru melewatkan atau ingin melihat kembali Obrolan Guru Merdeka Belajar “Salah Paham Guru Terhadap Asesmen Formatif”, Bapak dan Ibu Guru dapat menyaksikan di tautan berikut ini:

Asesmen Diagnosis: Trik Jitu Supaya PJJ Tidak Lesu

“Bingung, nih. Rasanya sudah berusaha supaya PJJ-nya efektif. Ternyata murid-murid  pada bosan, pasif, dan susah ngertinya. Harus bagaimana lagi?” Pernah mengeluh atau mendengar keluhan seperti itu? Sebagai sesuatu yang baru dan tidak terduga, PJJ memang memberi banyak kisah. Umumnya berupa kebingungan dan penuh tanda tanya.  Namun, show must go on. Bagaimanapun, kegiatan belajar harus berjalan.  Tapi tidak bisa asal jalan saja kan? Harus ada usaha supaya PJJ berjalan efektif.  Tentu ingin tahu kiat-kiatnya kan? Nah, Obrolan Pemimpin Merdeka Belajar pada 3 April 2021 mengangkat topik yang ditunggu-tunggu banyak pemimpin dan guru merdeka belajar, yakni bagaimana kiat jitu pemimpin saat PJJ. Bu Natalia Lilipaly dari TK Aletheia Jember dan Bu Elisabet Indah Susanti dari Kampus Guru Cikal berbagi pengalaman dan membedah kiat jitu pemimpin dalam PJJ. Dipandu Pak Andrie Firdaus dari Sekolah Cikal, obrolan pada malam Minggu ini terasa lebih hidup. Ternyata, memang banyak guru dan sekolah yang bingung menghadapi PJJ sebagai imbas  pandemi COVID-19. Tidak ada satu pun yang siap. Semuanya sama-sama belajar dari titik nol. Bu Natalia menuturkan, menghadapi PJJ, sekolahnya memilih membuat video sebagai media belajar.  Di awal tidak ada masalah. Namun, lama kelamaan murid-murid bosan. Mereka kehilangan sesuatu. Apa itu?  Murid-murid kehilangan kesempatan berinteraksi dengan gurunya. Mereka tidak lagi bisa menyapa atau bertanya. Hanya bisa menatap wajah guru di video, tak bisa say hello. Tentu saja bukan seperti itu yang diinginkan murid. Mereka butuh terhubung dengan gurunya. Keresahan dan dan kebutuhan murid terdeteksi oleh guru-guru. Setelah mendengar informasi dan masukan dari  orang tua, guru-guru melakukan refleksi. Bagaimanapun, kebutuhan murid harus terpenuhi. Mengirimkan video pembelajaran bukan sebuah solusi holistik. Perlu cara lain agar interaksi guru dengan murid terjalin kembali. Dipilihlah untuk melakukan panggilan video per murid. Di sekolah Bu Natalia disebutnya one on one.  Di samping one on one, ada juga sesi kelompok dan sesi kelas besar. Panggilan video per murid durasinya paling lama 30 menit. Dalam satu hari, satu guru bisa berinteraksi lewat panggilan video dengan lima murid.  Sesi kelompok dilaksanakan selama 40 menit.  Ada sesi kelompok kecil yang terdiri dari 3-5 murid (25-50% dari jumlah murid).  Pada sesi ini murid-murid  bisa belajar dan berinteraksi dalam kelompok. Pembagian kelompok kecil ini di bentuk berdasarkan kesamaan tipe (gaya) belajar. Ada juga sesi untuk satu kelas, di mana mereka bisa berinteraksi dengan teman sekelas. Sedangkan sesi kelas besar merupakan gabungan dari semua kelas. Sesi ini dilaksankan dalam bentuk ibadah bersama. Nah, setelah dipraktikkan, ternyata murid-murid lebih bersemangat mengikuti PJJ. Ada sisi lain dari pelaksanaan PJJ ini. Menurut Bu Natalia, beberapa guru harus mengganti gawainya karena tidak kompatibel. Pun demikian dengan orang tua. Bukan hanya guru dan orang tua, manajemen sekolah juga harus meng-up grade kapasitas wifi sekolah supaya bisa dipakai untuk PJJ. Ternyata yang berubah bukan hanya sumber daya manusia, perangkat dan fasilitas pendukung juga perlu ditingkatkan. Sementara itu, Bu Susan menyampaikan pentingnya selalu melakukan refleksi. Ketika secara tiba-tiba pembelajaran harus berubah, mau tidak mau guru harus cepat belajar dan berusaha menemukan solusi terbaik. Bu Susan mengibaratkan, apa yang dilakukan guru sama dengan apa yang dilakukan dokter. Untuk mengetahui kondosi kesehatan seseorang secara akurat, doktek melakukan medical check up.  Semua organ tubuh diperiksa. Dari hasil pemeriksaan itulah dokter membuat diagnosis  kondisi kesehatan seseorang. Kemudian memberikan treatment yang tepat berdasarkan diagnosis tersebut. Guru pun perlu melakukan check up yang komprehensif terhadap murid-muridnya. Aspek yang diperiksa meliputi sisi kognitif, nonkognitif, emosi, dan lingkungan.  Bukan hanya tentang diri murid, kondisi keluarganya juga perlu diketahui.   Kegiatan seperti itu merupakan bagian dari asesmen diagnosis. Hal penting yang membuat asesmen diagnosis perlu dilakukan adalah agar guru tidak salah memberikan treatment kepada murid. Di samping itu, dari hasil asesmen diagnosis guru akan mengetahui kebutuhan setiap murid sehingga bisa merancang program belajar yang efektif. Asesmen diagnosis merupakan asesmen untuk pembelajaran. Bisa dilaksanakan kapan saja, tidak mesti di awal tahun pelajaran. Bisa di awal semester atau di awal materi baru. Bagaimana caranya? Strategi untuk melakukan asesmen diagnosis tergantung tujuannya. Jadi, tentukan dulu tujuannya, baru memilih strategi yang tepat.  Asesmen diagnosis bisa dilakukan lewat kuis, pretest, game, wawancara, observasi, angket, dan lain-lain. Sekali lagi, stategi yang dipakai tergantung tujuannya. Bagi  pemimpin sekolah, asesmen diagnosis merupakan bekal untuk mengambil kebijakan yang tepat. Harapan, kondisi,  serta  kebutuhan murid dan orang tua terpetakan sehingga lebuh mudah dipahami. Di akhir obrolan, Bu Natalia menyampaikan supaya sekolah (guru) berani mencoba dan membuka komunikasi dengan orang tua.  Sedangkan Bu Susan menegaskan pentingnya dilakukan asesmen diagnosis untuk lebih memahami murid. Baca Juga: Siap AN, Siap Berubah? Nah, setelah mendapatkan paparan tentang strategi pemimpin merdeka belajar saat PJJ, inspirasi apa yang Anda dapatkan? Perubahan apa yang ingin Anda lakukan? Jurus jitu apa yang akan Anda tampilkan?  selalu bergerak: membuat dan mengusahakan perbaikan. Yuk! Ingin mengikuti program pelatihan kepemimpinan sekolah?Klik tombol di bawah ini!

Membahas Asesmen Kompetensi Minimum

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim memastikan Ujian Nasional (UN) ditiadakan. Kemudian diluncurkan Asesmen Kompetensi Minimum dan survey karakter. Asesmen Kompetensi Minimum dan survey karakter bukanlah pengganti UN, karena memiliki tujuan yang berbeda dari UN. Asesmen ini akan menilai kompetensi literasi dan numerasi. Selain asesmen kompetensi, juga akan memberlakukan konsep survei karakter. Survei karakter ini digunakan untuk mengetahui karakter anak di sekolah. Untuk mengetahui ekosistem di sekolahnya bagaimana implementasi gotong-royong. Serta Survei itu, digunakan untuk menjadi tolok ukur supaya sekolah-sekolah memberikan umpan balik bagi kegiatan pembelajarannya. Selama ini  murid selalu dikejar-kejar dengan tuntutan prestasi dengan berbagai tekanan untuk mencapai nilai tinggi, selalu dibayangin keresahan dan  rasa takut untuk tidak lulus pada hasil ujian sehingga berbagai cara dilakukan untuk mendapatkannya. Tekanan itu bukan hanya dirasakan oleh murid saja tetapi juga guru karena menginginkan agar muridnya memperoleh nilai yang tinggi dan dinyatakan lulus. Hal senada disampaikan oleh Pak Ari Wibowo dari Cerita Guru Belajar yang menjadi Narasumber pada TPD KGBN Jeneponto dengan topik NGOPI (Ngobrol Pintar) Asesmen Kompetensi Minimum yang dipandu oleh Bu Ninik Angraeni penggerak KGBN Jeneponto. Pak Ari mengawali materinya dengan menyampaikan pertanyaan Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Pendidikan Kita? Dari pertanyaan tersebut tergambar bahwa yang banyak terjadi adalah masih banyaknya miskonsepsi belajar mulai dari miskonsepsi di ruang belajar, strategi pembelajaran yang berdasar target, asesmen pembelajaran yang berorientasi sumatif. Pada kesempatan ini Pak Ari mengupas habis mengenai konsep merdeka belajar di ruang kelas, pembelajaran berorientasi pada murid dan asesmen berorientasi diagnosis dan formatif. Lanjut Pak Ari, pada kesempatan ini juga menyampaikan perbandingan antara UN dan AN baik dari segi tujuan, aspek yang dinilai, jenis responden, penentuan responden, level responden, penentuan butir soal serta bentuk laporan. Pada UN bertujuan menjadi Penentuan kelulusan murid dan menjadi Pemetaan kualitas satuan pendidikan dan daerah. Aspek yang dinilai berfokus pada Penguasaan konten dari mata pelajaran yang diajarkan, murid menjadi responden tunggal yang ditentukan melalui sensus sekolah dan murid, yang pelaksanaannya pada murid tingkat akhir di setiap tingkatan, semua murid memperoleh bobot soal yang sama,bentuk laporan berdasar capaian murid. Sedangkan pada AN bertujuan Pemetaan kualitas satuan pendidikan dan daerah, Aspek yang dinilai Penguasaan kompetensi literasi dan numerasi, Penguasaan kompetensi sosial emosional yang tercakup pada Profil Pelajar. Baca Juga: Siap AN, Siap Berubah? Pancasila melalui survey karakter, Kualitas proses belajar di sekolah melalui survey lingkungan belajar, respondennya murid, guru dan kepala sekolah yang ditentukan melalui Sensus sekolah, sensus guru dan kepala sekolah, serta survei murid (sampling) level responden yakni murid Kelas 5, 8, 11, penentuan butir soal Murid mendapat butir soal yang disesuaikan atau bersifat adaptif (khusus AKM) serta bentuk laporannya tidak ada capaian murid dimana Capaian sekolah dibandingkan tahun sebelumnya. Pada sesi diskusi dan tanya jawab, salah satu peserta yakni Pak Syam menyampaikan kaitannya dengan penerapan asesmen nasional di kalangan teman-teman guru di Jeneponto masih banyak ditemukan miskonsepsi mengenai asesmen nasional dimana masih banyak guru yang beranggapan bahwa AN masih sama dengan UN yang akan menjadi penentu kelulusan murid, Bagaimana mengubah pemikiran guru yang selama ini sudah menjadikan kebiasaan mendrilling murid dengan soal-soal yang dibuku? Jawab Pak Ari, Untuk berubah memang butuh tantangan yang cukup berat dimana kita akan melalui jalan terjal dan berliku, tetapi itu bukan sebuah halangan untuk guru berubah. Pemerintah saja melakukan transformasi besar-besaran untuk sebuah perubahan. Olehnya itu Sekolah dalam hal ini Kepala Sekolah dan Guru didorong untuk melakukan kolaborasi untuk berubah. Dengan asesmen nasional miskonsepsi yang ada kita harus tinggalkan secara menyeluruh karena hasil AN bukan menjadi penentu kelulusan tetapi dikembalikan ke sekolah sebagai potret kualitas hasil pembelajaran murid di Sekolah, olehnya itu Sekolah dituntut  untuk terus melakukan terobosan berupa inovasi untuk capain mutu pembelajaran. View this post on Instagram A post shared by Kampus Guru Cikal (@kampusgurucikal) Pertanyaan berikutnya dari Pak Murdin Guru SMK. Mengapa AN diterapkan?. Lanjut Pak Ari Menjawab, Kenapa AN diterapkan karena kita ingin terhubung dengan sistem pendidikan global dengan model asesemen yang diterapkan. Pada kesempatan ini hadir pula membersamai teman guru Jeneponto ketua KGBN Pak Usman dengan memberi semangat belajar, Apakah Sekolah untuk hidup atau hidup untuk sekolah. Serta pada kesempatan ini peserta membangun komitmen bersama untuk SIAP AN, SIAP Berubah serta komitmen untuk terus belajar dan sesi ditutup dengan foto bersama. Ingin mengikuti program Siap AN, Siap Berubah?Klik tombol di bawah ini

Mempersiapkan Pameran Karya Murid Merdeka Belajar

Apa hal pertama yang muncul di pikiran Bapak Ibu ketika mendengar istilah Pameran Karya Murid? Apakah terbayang kumpulan karya murid dari kelas kesenian yang dipamerkan, kumpulan tugas-tugas yang dikerjakan murid, atau mungkin beberapa lembar kertas dimana murid menjelaskan mengenai prosesnya menghitung modal untuk jualannya? Ya, itu semua termasuk ke dalam karya murid. Namun beberapa hal tadi hanya contoh saja, pameran karya lebih luas daripada itu.  Pameran karya adalah waktu murid dapat menunjukkan hasil karya yang dibuatnya ketika pembelajaran di kelas. Inti dari pameran karya bukanlah sekedar dari seberapa bagus hasil karya yang dibuat oleh murid, namun lebih menunjukkan bagaimana proses belajar murid dan bagaimana dampaknya bagi perkembangan dirinya.  Ketika guru ingin membuat pameran karya, tentu banyak persiapan yang harus dilakukan. Mulai dari mempersiapkan lokasi, alur pembuatan karya, panduan, dan lain sebagainya. Namun, sebenarnya ada hal terpenting yang perlu dilakukan oleh guru untuk membuat pameran karya merdeka belajar, yaitu mempersiapkan murid. Ya, guru harus merancang strategi pembelajaran di kelas untuk dapat membantu murid mempersiapkan dirinya agar siap untuk membuat suatu karya. Apakah berarti mempersiapkan karya bukan hanya sekedar hal-hal teknis saja?  Pada tanggal 23 Maret 2021, Obrolan Guru Merdeka Belajar membahas mengenai topik “Bagaimana Mempersiapkan Pameran Karya Merdeka Belajar” bersama narasumber Marsaria Primadonna (Pima) dari Sekolah Cikal dan Titis Kartikawati (Titis) dari SDN 09 Sanggau. Obrolan yang dipandu oleh Ira Ari Nuraini dari Kampus Guru Cikal ini membahas lebih mendalam mengenai bagaimana pameran karya digunakan sebagai asesmen terhadap belajar (assessment as learning).  Asesmen terhadap belajar bertujuan untuk penilaian untuk mengukur pencapaian murid yang merupakan puncak dari proses belajar dan memberikan murid kesempatan untuk mendemonstrasikan apa yang telah dipelajari. Tujuannya untuk penilaian atau mengukur pencapaian murid. Asesmen ini tidak harus dilakukan di akhir pembelajaran  Asesmen Terhadap Belajar dapat berfungsi menjadi beberapa elemen seperti: menginformasikan dan meningkatkan belajar murid dalam proses pengajaran, dapat mengukur konsep dan pemahaman murid dan mendorong murid untuk melakukan aksi untuk mencapai kompetensi yang dituju. Lalu sebenarnya seberapa penting untuk guru dan sekolah melakukan pameran karya dalam proses pembelajaran? Menurut Guru Pima, pameran karya merupakan hal yang paling penting apalagi untuk pembelajaran yang berbasis proyek, “(Guru) melihat kinerja murid itu melalui apa yang dilakukan, keterampilannya, pengetahuan, dan kompetensi mereka, hasilnya pun tidak bisa sekedar angka namun juga dimensinya” tuturnya.  Sedangkan menurut Guru Titis, pameran karya merupakan sebuah perayaan belajar. Hal ini yang membuat pameran karya menjadi acara yang paling ditunggu oleh murid. Selain itu pameran karya memberikan dampak positif bagi murid dan bisa membantu guru menilai tiga aspek dari murid, “Sebenarnya ada tiga aspek yang bisa tercapai, yaitu dari sikapnya, pengetahuannya, dan keterampilannya” tutur guru SDN 09 Sanggau ini.  Baca Juga: Lebih Penting Pameran Karya atau Memajang Nilai Murid? Sebagai perayaan belajar, pameran karya perlu dipersiapkan jauh ketika mempersiapkan proses pembelajaran di sekolah. Setidaknya sekitar 6 bulan sebelum dilaksanakannya pameran karya. Hal yang harus dipersiapkan guru untuk mendampingi murid dalam membuat pameran karya dimulai dengan menentukan tema besar yang akan menjadi pembahasan selama pembelajaran. Kemudian mengajak murid untuk berdiskusi mengenai hal yang menjadi minat/passion mereka, hal yang menjadi inspirasi, dan hal yang menjadi permasalahan yang menjadi perhatian murid. Hal ini menjadikan guru lebih memahami murid-muridnya.  Dengan pola belajar design thinking, murid-murid dapat belajar juga untuk bisa berempati. Saat membuat sebuah karya atau proyek, murid perlu bisa menyampaikan dengan jelas alasan mereka memilih membuat proyek tersebut, “Memulai proses (pembuatan karya) penting untuk murid mengetahui dan menyampaikan alasan mereka membuat proyek tersebut dengan jelas. Sehingga mereka dapat benar-benar tahu seberapa bermakna proyek itu bagi mereka.” jelas Guru Pima.  Sejalan dengan yang disampaikan oleh Guru Pima, Guru Titis juga mengatakan bahwa murid harus bisa mempertanggungjawabkan setiap karya yang dibuatnya, salah satunya dengan cara menulis laporan, “Saya meminta murid membuat laporan. Setiap mereka membuat proyek, pasti ada laporannya. Berisi alasan mereka membuat proyek tersebut, latar belakangnya, tujuan, manfaatnya apa saja, sarana yang digunakan, dan cara membuatnya. Hal ini menjadi panduan untuk murid serta menjadi cara guru memahami murid.” cerita Guru Titis.  Produk pameran karya bisa sangat beragam. Dari mulai produk yang sederhana seperti poster, video pendek, lukisan, makanan, hingga yang lebih kompleks seperti alat pengisi daya dari sepeda dan augmented reality. Namun, pameran karya bukan berarti menjadi ajang kompetisi untuk ‘canggih-canggihan’ hasil produk. Melainkan semua itu kembali ke apa tujuan dari produk yang dihasilkan murid dan bisa menunjukkan apa minat/passion terbaik dari murid-murid.  Mempersiapkan pameran karya memerlukan perencanaan yang detail dan ada timeline yang tepat agar pameran karya bisa berjalan dengan lancar, “Sebulan sebelum pameran karya kita mulai membentuk tim kepanitiaan untuk teknis pameran karya, namun untuk persiapan pembelajaran tentunya disiapkan sejak awal tahun saat membuat RPP. Sebisa mungkin tujuan belajar dalam pembelajaran berbasis proyek bisa menggabungkan beberapa tujuan dari mapel yang berbeda.” jelas Guru Pima.  Pada sesi tanya jawab, ada beberapa pertanyaan yang muncul. Salah satunya dari Guru Arif Fauriyuddin, dimana ia bertanya mengenai pelaksanaan pameran karya di masa pandemi. “Masa pandemi karya siswa yang bagaimana yang bisa dipamerkan dan bagaimana cara menilainya.” tulisnya di kolom komentar.  Selama masa pandemi, bukan berarti menjadi penghalang untuk membuat pameran karya. Justru saat ini, guru bisa memanfaatkan teknologi yang ada dengan mempersiapkan pameran karya virtual. Jika biasanya karya-karya murid dipampang di sebuah ruangan, maka dengan teknologi guru bisa membuat ruang virtual untuk memajang karya murid.  “Tentunya di masa pandemi ini sudah pasti kita akan memanfaatkan teknologi yang kita punya. Apapun itu teknologinya. Biasanya pameran di tempel di tembok, sekarang kita buat tembok virtualnya. Bisa pakai Google Sites, Streamyard, dan lainnya. Anak-anak membuat presentasinya, kemudian nanti bisa dipamerkan secara virtual.” jelas Guru Pima.  Penilaiannya pun dapat dilakukan melalui bagaimana murid menjelaskan hasil karyanya melalui video presentasi dan sebagainya. Selain itu, pameran karya virtual lebih memungkinkan menjangkau lebih banyak audiens. “Saat pandemi ini justru akan bisa lebih menjangkau (banyak orang), menjangkau yang jauh-jauh juga yang gak bisa datang jika diadakan pameran secara offline. Kalau gak online gini, mana bisa dari Sanggau datang ke Cilandak gitu kan (untuk melihat pameran karya).” tambah Guru Pima sambil tertawa.  Kemudian ada pertanyaan dari akun Dokos Dokos, “Bu… Karya apa saja (yang) dibuat anak dan bagaimana (tanggapan) guru-guru maupun orang tua. … Read more

Asesmen Formatif Membuat Murid Berkembang, Guru Senang, Orang Tua Tenang

“Sudah nerapin merdeka belajar, nih. Tapi bingung, asesmen bagaimana, ya? Jangan-jangan praktik asesmen saya tidak sesuai, bahkan bertentangan dengan esensi merdeka belajar. Bagaimana, dong?” “Murid saya sebenarnya paham, tapi kalau ulangan kok hasilnya mengecewakan? Orang tua juga mempertanyakan kualitas pembelajaran setelah tahu nilai anaknya.” Punya pengalaman yang sama? Wah, jadi masalah juga kalau asasmen kita bukan asesmen merdeka belajar.  Jadinya kan tidak sinkron dengan tujuan kita.  Ini terjadi di sebuah sekolah. Seorang guru rajin sekali memberikan tugas-tugas kepada muridnya. Namun, murid tidak mendapatkan umpan balik. Tugas yang dikumpulkan hanya menumpuk saja. Guru tersebut sudah menjalin hubungan yang memanusiakan dengan murid. Juga selalu menyesuaikan materi pelajaran dengan situasi kontekstual. Namun lacur, usahanya sia-sia ketika murid-murid tidak mendapatkan umpan balik. Adakah yang seperti guru tersebut? Bagaimana langkah memperbaikinya?  Nah, Obrolan Pemimpin Merdeka Belajar pada  13 Maret 2021 menjadi tempat untuk mencari jawabannya. Menghadirkan Guru Irma Nurul Fatimah, Kepala SMP Lazuardi Al Falah, dipandu Guru Andrie Firdaus dari Sekolah CIkal, obrolan berlangsung menarik.   Tema yang diangkat memang sangat dinantikan oleh para pemimpin sekolah dan guru merdeka belajar. Terbukti, jauh sebelum acara dibuka, yang antre “di depan pintu” sudah banyak. Kolom chat di channel Youtube hangat oleh salam dan sapa penonton yang sudah menunggu. Membuka obrolan, Bu Irma menceritakan pengalamannya pada awal menjadi memimpin di sekolah. Jenjang karier adalah kesempatan belajar.  Tantangannya adalah tidak ada resep yang sama untuk menjadi kepala sekolah, sebab karakter setiap orang berbeda-beda.  Oleh karena itu, Bu Irma terus mencari mentor dan refernsi yang bisa membantunya belajar menjadi pemimpin di sekolah. Beruntung, dia menemukan Komunitas Guru Belajar. Di komunitas inilah Bu Irma bertemu banyak guru yang fokus kepada murid.  Hal itu sesuai dengan konsernnya, yakni semua masalah diselesaikan dengan mempertimbangkan kebutuhan murid.   Tantangan lainnya adalah membangun percakapan di kalangan guru di sekolahnya tentang asesmen yang lebih berpihak kepada murid. Harus disadari bahwa ketika guru mengajar, belum tentu murid belajar. Itulah mengapa perlu ada assessment as learning (asesmen sebagai proses belajar). Asesmen ini bisa dilakukan secara mandiri oleh murid, dengan syarat mereka memahami tujuan yang ingin dicapai dan indikatornya.  Ketika sudah paham tujuan dan indikator pencapaian hasil belajar, murid dapat mengukur kemajuan belajarnya. Murid mendapatkan umpan balik dan melakukan refleksi untuk mengembangkan kemampuannya. Jadi, asesmen tidak melulu tentang tes. Asesmen bisa berwujud umpan balik yang membuat murid mengetahui kualitas hasil belajarnya, dan paham bagaimana meningkatkannya.   Berbeda situasi kalau murid hanya diberi nilai angka. Dia akan membandingkan nilainya dengan nilai temannya. Kemungkinannya dua: murid tersebut puas karena merasa nilainya lebih baik atau berkeil hati sebab nilai teman lebih tinggi. Akhirnya tercipta iklim kompetisi. Yang pasti, sekadar memberikan skor tidak membuat murid mengetahui kualitas dirinya secara utuh: bagian mana yang sudah oke, hal apa yang perlu ditingkatkan.  Ketika dilakukan tes yang konvensional (paper and pencil test), beberapa murid yang saat pembelajaran sudah paham,  ternyata  tidak bisa jawab pertanyaan-pertanyaan dalam tes tersebut.  Menghadapi hal demikian, guru-guru melakukan refleksi.  Karena  belum tahu jawabannya, kemudian mencari referensi. Namun, ternyata justru muri-murid yang “menuntun” guru menemukan jawabannya.  Di kelas, ada saja murid yang pura-pura sudah tahu.  Dia menyatakan sudah paham saat ditanya, semata malu bila dianggap belum paham.  Ketika ada murid yang seperti ini, perlu pendekatan individual (personalisasi). Biasanya, kalau di kelas mereka malu atau merasa tidak nyaman menyatakan kendala yang dihadapinya. Ketika berinteraksi empat mata, mereka lebih terbuka menceritakan kesulitan yang dialami. Guru menanyakan apa yang murid sudah ketahui dan apa yang ingin mereka ketahui. Dengan demikian, guru lebih cepat mendeteksi kendali, untuk kemudian memberikan treatment yang tepat. Dengan teknik personalisasi, guru mendapatkan informasi dan dapat mendiagnosis kebutuhan personal murid. Memang lebih melelahkan, tapi kalau hal tersebut tidak dilakukan, guru tidak mendapat informasi yang akurat.  Guru tidak bisa membuat peta masalah secara akurat.  Akibatnya, perlakukan kepada murid juga tidak akan sesuai dengan kondisi murid yang bersangkutan. Personalisasi bisa dilakukan dengan dengan lebih banyak bertanya dan diskusi terbuka. Guru hendak sabar, tidak melakukan terlalu cepat melakukan intervensi.  Caranya, guru memberi kesempatan yang besar kepada murid untuk membangun percakapan di antara mereka. Selama proses belajar, guru sebaiknya tidak  memberikan jawaban. Guru menstimulasi murid-murid menemukan banyak  cara. Misalnya dengan mengajukan pertanyaan: “Kenapa kamu pakai cara itu?” Adakah cara lain yang bisa digunakan?” Ketika ada murid yang mengemukakan cara belajarnya, berikan umpan kepada murid-murid yang lain agar terjadi diskusi sehingga ditemukan cara yang paling efektif.  Nah, kepada murid yang kurang aktif, entah karena pemalu atau memang belum tahu, guru bisa mengajukan pertanyaan yang memantik dia untuk berpendapat. Misalnya, “Bagaimana menurut kamu?” Ternyata tujuan asesmen, yakni memetakan tingkat kemampuan dan perkembangang murid, bisa dilakukan dengan banyak cara. Lebih efektif bila menggunakan model pembelajaran berbasis proyek.  Dalam pembelajaran berbasis proyek, murid mendapat kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya.  Baca Juga: Siap AN, Siap Berubah? Selain itu, dalam pembelajaran berbasis proyek, murid mempunyai pengalaman belajar bersama, mengemukakan ide (gagasan) berinteraksi (bekerja sama) untuk mencapai tujuan, dan presentasi. Dengan demikian, murid terbiasa menggunakan keterampilan berpikir tingkat tinggi.  Kuncinya adalah murid mampu melakukan analisa. Supaya kemampuan analisa berkembang, setiap hari guru bisa memberikan pertanyaan-pertanyaan pemantik yang membuat murid berpikir dan berpendapat. Syaratnya, murid merasakan suasana aman dan nyaman terlebih dahulu. Aman dari cemoohan dan reaksi negatif lainnya saat melakukan kesalahan. Nyaman karena semua warga kelas respek terhadap usaha yang ditunjukkannya. Membuat guru-guru percaya, yakin, dan mau melakukan asesmen formatif itu bukan hal yang mudah. Di sekolah yang dipimpin Bu Irma, awalnya cuma ada dua guru yang mau mencoba. Namun, Bu Irma tidak patah semangat. Dari dua guru ini, kalau gerakannya berdampak, pasti asesmen formatif akan menular kepada guru yang lain. Dengan dua guru itulah Bu Irma sering berdiskusi di depan guru-guru yang lain. Tujuannya agar guru-guru yang lain mengetahui apa yang dilakukan kedua guru tersebut di kelas dan bagaiamana perkembangan murid-murid setelah ada perlakuan yang berbeda. Ternyata, guru-guru yang lain melihat hasilnya. Murid-murid di kelas kedua guru tersebut berkembang lebih baik baik. Akhirnya, mereka tertarik untuk mengikuti langkah kedua guru tersebut.  Inilah yang disebut menyebarkan “virus” kebaikan. Dimulai dari satu orang yang memulai, yang dianggap “gila” karena dinalai aneh. Kemudian muncul pengikut pertama (jumlahnya tidak selalu satu) yang mengikuti gerakan. Ketika dampak gerakan terlihat, maka orang-orang … Read more

Menghidupkan Visi Sekolah dengan Asesmen

Beberapa waktu yang lalu, Nadiem Makarim umumkan bahwa UN dihapuskan. Kabar ini menggembirakan, sekaligus membingungkan. Hal ini menggembirakan karena kebijakan yang kurang mengapresiasi keunikan murid itu telah dihapuskan. Namun, hal ini pun membingungkan bagi sebagian pemimpin sekolah. Pemimpin sekolah seakan kehilangan tujuan. Bila bukan mengejar nilai, lalu mengejar apa? Pemimpin sekolah bingung akan diarahkan kemana guru dan murid yang dipimpinnya.  Adanya keresahan ini mendorong @SekolahMerdekaBelajar mengadakan Obrolan #PemimpinMerdekaBelajar (OPMB), pada 6 Maret 2021 di YouTube. Kali ini mengundang ibu-ibu pembelajar, yang akrab disapa Bu Andri dari Lazuardi Al-Falah Klaten sebagai narasumber dan Bu Pima dari Sekolah Cikal sebagai pemandu obrolan. OPMB kali ini mengangkat judul Bagaimana Asesmen Menghidupkan Visi Sekolah.  Kembali ke Visi Ibu Andri yang sempat memiliki keresahan tersebut pun akhirnya tersadar bahwa tidak perlu merasa kehilangan tujuan, kembalikan saja lagi pada visi sekolah, dimana hal ini nampak pada profil lulusan sekolah.  Membuat Program Asesmen Untuk mewujudkan profil lulusan yang sekolah cita-citakan. Salah satu langkah awalnya adalah dengan melakukan asesmen diagnostik. Asesmen ini dilakukan bukan untuk melabeli murid atau calon murid. Asesmen ini dilakukan untuk memetakan ada di titik mana warga sekolah berada, sehingga selanjutnya dapat dirumuskan strategi-strategi untuk mewujudkan profil murid yang dicita-citakan.  Bagaimana Bu Andri melakukan asesmen? Bu Andri menjawab, “Saya pakai inkuiri. Jadi betul-betul, saya memakai kekuatan bertanya. Dan saya melihat sebenarnya proses inkuiri itu setara atau selaras dengan visi misi kita.” Ia melanjutkan, “Kenapa? Karena saya ingin kalau saya banyak bertanya, guru-guru juga banyak bertanya, dan kemudian anak-anak pun juga akan banyak bertanya.” Terdapat 3 pertanyaan yang biasa Bu Andri tanyakan, “Apa yang kira-kira sudah oke? Apa yang belum oke? Dan kalau belum oke, kira-kira saya bisa bantu apa?” Ia pun menambahkan bahwa program asesmen ini bukan hanya memetakan kognitif, melainkan juga non kognitif. Bukan hanya dilakukan pada murid, melainkan juga pada guru. Dengan memetakan murid dan guru, maka pemimpin dapat menemukan bila ada gap di antara keduanya. Lalu pemimpin dapat membantu pengembangan guru, agar guru dapat memenuhi kebutuhan murid.  Dinamika Melaksanakan Asesmen Ketika menyimak obrolan, para peserta membayangkan penerapannya di sekolah masing-masing. Tentunya juga membayangkan tantangan-tantangan yang mungkin dihadapi. Para peserta nampak begitu penasaran dengan mengajukan banyak pertanyaan. Salah satu pertanyaannya adalah “Apakah rekan pemimpin atau guru lain langsung setuju, ketika diajak untuk melakukan asesmen tersebut? Bila tidak, apa yang ibu lakukan?” Bu Andri menyatakan bahwa belum tentu guru itu menolak, ada kemungkinan bahwa guru itu ragu-ragu. Guru butuh dukungan, bantuan, dan keyakinan bahwa ia mampu melakukannya. Guru butuh rasa aman bahwa dirinya tidak akan ditinggal, sehingga pemimpin mesti siap membantu ketika guru butuh bantuan. Ketika itulah pemimpin perlu menyiapkan dengan berbagai hal dan membantu dengan berbagai cara, agar guru menjadi mampu melakukannya.  Baca Juga: Siap AN, Siap Berubah? Begitulah cara Bu Andri menjawab kebingungannya atas kebijakan Nadiem Makarim menghapus UN. Bagaimana cara Bapak/Ibu mengatasi kebingungan serupa? Apa Bapak/Ibu terinspirasi melakukan asesmen yang selaras dengan visi sekolah?

Siap AN, Siap Berubah?

Tidak dapat dipungkiri bahwa keputusan penghapusan Ujian Nasional dan penetapan Asesmen Nasional (AN) memicu tumbuhnya kegelisahan, kekhawatiran dan pertanyaan dari guru dan sekolah/madrasah. Hasil survey yang dilakukan Kampus Guru Cikal terkait kesiapan guru dalam pelaksanaan AN, menampilkan sejumlah data. Dari data tersebut diketahui bahwa 67% guru telah memahami tujuan asesmen nasional, 70% menyatakan telah paham perbedaan antara Ujian Nasional dan Asesmen Nasional, 50% guru menjawab telah memahami manfaat laporan hasil Asesmen Nasional, dan 60% menyatakan telah paham apa yang dinilai melalui Asesmen Nasional.  Meskipun demikian, dari data survey juga diketahui bahwa 56% dari responden masih memiliki kekhawatiran terkait AN. Guru khawatir murid tidak dapat melakukan Asesmen Nasional dengan baik, khawatir murid menyepelekan pembelajaran karena hanya fokus pada asesmen literasi dan numerasi, khawatir murid tidak mampu  mencapai level kompetensi yang diharapkan, khawatir akan masih banyak guru yang mengejar nilai, khawatir karena murid selama ini belum berlatih bernalar dan tidak terbiasa dengan soal-soal Higher Order Thinking Skills, serta khawatir dengan rapor AN yang akan diterima sekolah. Kekhawatiran itu pula yang mendorong sekolah-sekolah gencar melakukan tryout AN, drilling soal AKM untuk siap menghadapi AN. Guru kembali terjebak dalam malpraktik pembelajaran dalam melakukan persiapan menghadapi asesmen nasional. Kemudian muncul pertanyaan lagi. Jika drilling soal tidak diperlukan untuk persiapan AN, lalu apa yang sekolah harus lakukan? Bagaimana dengan buku latihan soal dan bimbel yang sudah disediakan? Jika tidak ada jam tambahan, itu artinya murid tanpa persiapan? Bagaimana nanti nilainya? Katanya AN terkait literasi dan numerasi. Bukankah tugas guru bahasa dan matematika yang menghadapi? Lalu apakah pelajaran yang lain masih dianggap penting oleh murid?  Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Kegelisahan dan pertanyaan tersebut jika diperhatikan masih menunjukan adanya miskonsepsi terhadap pelaksanaan AN secara khusus, sekaligus miskonsepsi terhadap belajar secara umum. Kekhawatiran yang ditunjukan dari survey, membebankan pelaksanaan dan hasil AN pada pundak murid, sebagai penentu kualitas pendidikan. Kekhawatiran dan pertanyaan tersebut juga memberikan gambaran miskonsepsi belajar secara umum yang yang berorientasi pada target penguasaan materi bukan kompetensi, serta asesmen yang terlalu berorientasi pada asesmen sumatif sehingga semua penilaian berupa skor digunakan untuk menentukan nilai akhir. Sudah seharusnya pemahaman dan kesiapan menghadapi AN dibarengi dengan perubahan paradigma guru mengenai konsep belajar dan asesmen. Bukik Setiawan, ketua Yayasan Guru Belajar mengatakan “Ada perbedaan nyata pada konsep baru tapi tidak akan bermakna bila pemahaman lama yang digunakan untuk memahami konsep baru”. Memahami Asesmen Nasional berarti memahami perubahan untuk peningkatan kualitas pembelajaran mulai dari kelas masing-masing dimana guru sebagai kuncinya. Sebagai respon terhadap keadaan ini Kampus Guru Cikal menginisiasi program  Siap AN, Siap Berubah yang diluncurkan pada Jumat, 26 Maret 2021. Elisabet Indah Susanti, Ketua Kampus Guru Cikal menjelaskan, “Program ini dirancang untuk membantu kepala sekolah dan guru menerapkan strategi pembelajaran berbasis kompetensi untuk peningkatan kualitas pembelajaran, membantu kepala sekolah dan guru menerapkan berbagai strategi asesmen untuk  mendukung pencapaian kompetensi murid, serta membantu kepala sekolah dan guru mengintegrasikan kompetensi literasi dan numerasi dalam pembelajaran dan asesmen.” View this post on Instagram A post shared by Kampus Guru Cikal (@kampusgurucikal) “Melalui program ini diharapkan guru mampu meninggalkan miskonsepsi dan membangun paradigma baru mengenai konsep belajar dan asesmen yang lebih berorientasi pada perkembangan kompetensi murid” lanjutnya. Program Siap AN, Siap Berubah – Kampus Guru Cikal ingin memberikan dampak seluas-luasnya pada guru dan kepala sekolah di seluruh Nusantara. Untuk itu progam Siap AN, Siap Berubah disediakan dalam beberapa bentuk menu belajar yang bisa dipilih oleh kepala sekolah dan guru, baik secara perorangan maupun kolektif. Menu belajar  yang disediakan terdiri dari; menu Merdeka, dimana kepala sekolah dan guru bebas memilih program dari kurikulum yang disediakan sesuai kebutuhan masing-masing; menu Kompetensi, dimana kepala sekolah dan guru secara perorangan dapat mengikuti paket kurikulum belajar secara lengkap dengan harga promo; serta Paket Beasiswa Sekolah yang bisa diadakan secara kolektif untuk guru dan kepala sekolah. Bukik Setiawan menambahkan, “Tidak ada kenyamanan dalam perubahan. Semua perubahan menuntut kita meninggalkan zona nyaman dan masuk pada zona belajar. Siapkah kita?” Salam Hangat, Ketua Kampus Guru CikalElisabet Indah Susanti Ingin mengikuti program Siap AN, Siap Berubah?Klik tombol di bawah ini

Pameran Karya Merdeka Belajar

Apa yang tertanam di benak atau yang dipikirkan jika mendengar kata “Pameran Karya” ? Apakah majalah dinding yang tertempel di papan sekolah, memajang piala-piala kejuaraan atau memamerkan karya seni yang dihasilkan oleh murid? Apa ya maksud dari pameran karya sebenarnya? Apalagi Pameran Karya Merdeka Belajar. Sebelum membahas pameran karya lebih dalam, kita akan kulik terlebih dahulu untuk menyamakan persepsi terkait apa itu pameran karya. Pameran Karya adalah sebuah program dimana anak-anak dapat menceritakan kembali apa yang sudah mereka dapatkan dan pahami dalam proses belajar, dimana anak-anak memiliki keinginan yang kuat dalam dirinya untuk  bisa membuat dan menghasilkan sebuah karya yang terbaik yang sekaligus dapat membagikan pesan yang ingin disampaikan melalui karya tersebut secara luas. Pameran karya menjadi salah satu bukti anak-anak dapat berkreasi dan bereksplorasi dengan pengetahuan, pengalaman dan kompetensi yang dimiliki, dan menjadi suatu kebanggan tersendiri ketika anak-anak dapat menghasilkan sebuah karya.   Pada Obrolan Guru Merdeka Belajar 9 Maret 2021 yang bertemakan “Pameran Karya Merdeka Belajar” tidak hanya mengajak guru menjadi narasumber tetapi turut serta mengajak murid-muridnya untuk bisa bergabung dan berbagi mengenai pameran karya yang sudah pernah dihasilkan di sekolah. Obrolan #GuruMerdekaBelajar dipandu oleh Mahayu Ismaniar dengan 4 narasumber, yaitu Dirayanti Bungawardani guru di Sekolah Cikal Serpong, Eka Priyantiningrum guru di Sekolah Pembangunan Jaya, sedangkan muridnya ada Rayyan Akman Arsyad dari Sekolah Cikal Serpong dan Ni Wayan Azalia Seca Devina murid dari Sekolah Pembangunan Jaya. Rayyan berbagi mengenai karya karya yang pernah dihasilkannya yaitu sebuah komik yang bercerita tentang sejarah kerusuhan yang terjadi pada tahun 1998, yang memiliki tujuan untuk menyelesaikan masalah kurang minatnya murid pada mata pelajaran sejarah dan adanya stigma bahwa mata pelajaran IPS yang membosankan, rumit dan banyak materi hafalan.  Sedangkan Azalia pada semester pertama membuat sebuah poster mengenai kerajaan-kerajaan di Indonesia salah satunya kerajaan Tidore, pada waktu semester kedua Azalia kembali membuat sebuah poster yang dilengkapi dengan video mengenai provinsi Kalimantan Barat yang dikerjakan secara berkelompok yang juga digunakan untuk penilaian tengah semester.  Menarik sekali hasil karya yang dihasilkan Rayyan dan Azalia yang mengangkat materi hafalan yang bisa dibilang membosankan dan kurang diminati bagi sebagian murid, justru menjadi cara belajar yang mengasyikkan melalui pameran karya ini yang membuktikan bahwa mata pelajaran apapun dapat dikemas dalam pameran karya yang unik dan menarik untuk dipelajari lebih lanjut. Pameran karya menjadi salah satu bentuk asesmen yang dilakukan untuk mengetahui pemahaman murid, kompetensi yang dikuasai sampai dapat menghasilkan sebuah karya. Eka Priyantiningrum menjelaskan bahwa dengan adanya pameran karya ini mengandung sebuah istilah “ada udang dibalik batu”, maksudnya bahwa dalam sebuah pameran karya yang dihasilkan ada hal berharga yang dibagikan oleh murid-murid. Hal-hal berharga yang dimaksud antara lain keinginan guru-guru untuk dapat mengembangkan minat dan bakat siswa yang dimiliki, membuat sebuah project bermakna (berkolaborasi antar mata  pelajaran), melatih siswa membuat perencanaan, melatih dalam berkomunikasi (guru-guru; guru-siswa; siswa-siswa), critical thinking, dan yang terakhir dapat dijadikan sebagai penilaian lengkap kinerja murid (penilaian pengetahuan,keterampilan sampai penilaian sikap). Dirayanti Bungawardani pun menambahkan bahwa asesmen dalam pameran karya menggunakan rubrik yang mencakup beberapa kompetensi, yaitu komitmen, cerdas, dan berpusat pada aksi. Melalui proses pembuatan karya dapat dilihat seberapa besar komitmen murid dalam mengerjakan dan menyelesaikan sebuah tugas, mulai dari pembuatan timeline sebagai pedoman pengerjaan, pada kompetensi cerdas dapat digunakan untuk melihat apakah murid dapat menerapkan pengetahuan yang cukup komprehensif, dan pada kompetensi berpusat pada aksi untuk dapat mengambil solusi-solusi untuk dapat menyelesaikan tantangan selama pembuatan sebuah karya.  Kali ini Azalia bercerita tentang proses bagaimana membuat poster digital dan juga video yang sudah dipamerkan. Pada saat pembuatan poster digital dimulai dari bagaimana menggunakan aplikasi, penentuan tema agar tidak saling memiliki kesamaan tema, kemudian penentuan deadline pengumpulan karyanya, yang tentunya selama proses pembuatan guru turut serta menanyakan proses pembuatannya sudah sampai mana dan apakah menemukan kendala dalam proses pembuatan poster digitalnya. Setelah poster digital dikumpulkan dan dipertontonkan secara luas ada evaluasi yang diberikan dari hasil poster digital tersebut. Pada pembuatan poster dan video provinsi Kalimantan Barat yang dilakukan secara berkelompok tentunya ada beberapa bagian yang dibagi-bagi untuk saling berdiskusi, bekerja sama dan berkolaborasi, contohnya dalam pencarian informasi mengenai peta, lagu daerahnya, tarian yang dimiliki, dan yang lainnya.  Sedangkan Rayyan bercerita awal mula memilih kerusuhan tahun 1998 dikarenakan banyak perspektif teman-temannya mengenai pelajaran terutama pelajaran sejarah yang kurang menyenangkan, sedangkan menurut Rayyan sendiri pelajaran tersebut menyenangkan untuk dipelajari, lalu timbullah ide untuk membuat sebuah karya untuk mengemas pelajaran sejarah menjadi menarik untuk dipelajari yaitu melalui komik, tantangan terbesar yang ditemui selama proses membuat project itu adalah skill-skill yang dibutuhkan pada saat membuat project itu sendiri, seperti bagaimana membuat planning yang baik, riset informasi yang mendetail, dan mencari ide yang bisa menjadi pelajaran penting dalam menghasilkan karya.  Baca Juga: Lebih Penting Pameran Karya atau Memajang Nilai Murid? Pada Obrolan #GuruMerdekaBelajar peserta diberikan kesempatan untuk bertanya dengan narasumber antara lain Amalia Tjiandra dan Ika Amaliah. Ibu Amalia Tjiandra mengajukan pertanyaan kepada Rayyan dan Azalia tentang seberapa penting adanya pameran karya yang ada di sekolah untuk murid?, menurut Azalia sangat penting karena dengan adanya pameran karya dapat menambah kreativitas dan pengetahuan bagi murid itu sendiri, dan pada pameran virtual yang dilakukan dengan kecanggihan teknologi murid dapat lebih menguasai perkembangan dalam penggunaan teknologi sekarang ini yang dapat dengan mudah untuk membagikan hasil karyanya secara luas melalui link yang dibagikan. Sedangkan menurut Rayyan ilmu atau konsep yang diaplikasikan dalam menciptakan suatu karya akan sangat bermanfaat untuk kedepannya baik untuk belajar di jenjang yang lebih tinggi atau pada waktu bekerja nantinya.  Pertanyaan berikutnya dari Ibu Ika Amaliah untuk Azalia dan Ibu Eka tentang bagaimana menyiasati anggota kelompok yang tidak aktif dan sulit bekerja sama? Dan Bagaimana membuat kelompok tetap kondusif dari perencanaan sampai eksibisi? Wah banyak dirasakan juga oleh Bapak/Ibu juga sepertinya ya. Menurut Ibu Eka sebelum membentuk sebuah kelompok dalam pameran, sebaiknya sudah melakukan observasi kelas terlebih dahulu berdasarkan penilaian dari penugasan-penugasan yang diberikan secara individual untuk mengetahui murid siap dan bisa untuk bekerjasama dalam tugas yang dilakukan secara berkelompok, sedangkan menurut Azalia untuk teman yang bisa dikatakan kurang aktif akan selalu diingatkan dan ditagih terkait tugas atau peran yang sudah dibagikan kepada masing-masing murid di awal sesuai dengan kesepakatan dalam … Read more

Konsep Asesmen di Berbagai Bidang

Sebelumnya kita sudah membahas mengenai miskonsepsi asesmen. Bagaimana pemahaman Bapak Ibu mengenai konsep asesmen sudah betul? Kali ini kita akan memperdalam pemahaman tentang konsep asesmen, apakah asesmen bisa dipraktikkan hanya digunakan di dunia pendidikan saja atau juga ada di berbagai bidang lain? Yuk, kita lihat pandangan asesmen dari berbagai sudut pandang dan latar belakang pekerjaan yang beragam. Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Seperti yang kita pahami sebelumnya, secara konsep dan praktik asesmen tidak hanya penilaian yang bentuknya angka (scoring), tetapi asesmen adalah sekumpulan kegiatan yang melibatkan pengumpulan dan analisis informasi dengan melihat kinerja murid, menginformasikan apa yang diketahui, dipahami, dapat dilakukan, dan dirasakan serta merasakan pada tahapan mana murid dalam proses pembelajaran, yang nantinya dapat dijadikan pandangan awal atau bekal dalam mempersiapkan dan menjalankan proses pembelajaran. Asesmen dalam Bidang Kedokteran yang Berpengaruh Pada Kesehatan Pasien Konsep asesmen dalam Bidang Kedokteran dijelaskan oleh FX Kristandiyoko MPH  yang berprofesi dokter di salah satu RSUD Simo Boyolali. Asesmen dalam bidang kedokteran dikenal dengan istilah asesmen pasien dimana tahapan proses dokter mengevaluasi data pasien baik data subjektif maupun data objektif dalam membuat suatu keputusan terkait status kesehatan pasien. Status kesehatan pasien ini diperlukan untuk mengetahui kondisi riwayat kesehatan, hasil pemeriksaan fisik, asesmen psikologi dan asesmen sosial ekonomi pasien, kumpulan informasi atau asesmen terbentuk menjadi kesimpulan yang disebut dengan diagnosis.  Selain asesmen pasien digunakan untuk mendiagnosa seorang pasien, asesmen pasien juga diperlukan dalam mengetahui kebutuhan pasien dalam hal perawatan, contohnya untuk menentukan pasien ditempatkan di ruang inap biasa, ruang HCU atau ICU, dan asesmen pasien digunakan untuk mengintervensi pasien dalam perbaikan atau perburukan riwayat perjalanan penyakitnya, dan yang terakhir digunakan sebagai bahan mengevaluasi pasien sudah dapat dinyatakan sembuh atau belum.  Informasi data pasien tertuang dalam rekam medis pasien yang berupa berkas yang berisi catatan dan dokumen identitas pasien, pemeriksaan pasien, pengobatan yang diberikan, tindakan medis yang sudah dan akan dilakukan, dan layanan informasi lain yang diberikan dan dibutuhkan. Asesmen pasien ini dilakukan oleh dokter sebagai penanggung jawab masing-masing pasien yang menjadi salah satu indikator mutu yang menggambarkan tentang pemenuhan harapan pasien dan tanggung jawab dokter. Asesmen adalah salah satu standar nasional akreditasi suatu rumah sakit. Begitu detail dan kompleks kebutuhan akan asesmen yang dilakukan dalam bidang kedokteran ini karena menyangkut dengan nyawa seseorang dan memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik bagi pasien.  Asesmen dalam Bidang Keuangan yang Berpengaruh pada Pembiayaan Sebuah Perusahaan Narasumber berikutnya datang dari bidang keuangan, akuntansi dan pajak yaitu Tuti Noor Ermayanti, asesmen digunakan untuk data pelaporan dengan pihak ketiga yaitu pihak perbankan, stakeholder yang memiliki andil dalam sebuah perusahaan ataupun pemerintah dalam hal pelaporan pajak dan untuk kepentingan good governance lainnya. Asesmen dalam bidang keuangan dan akuntansi dapat dibedakan kedalam 2 hal, Pertama, nilai kekayaan untuk mengetahui posisi nilai kekayaan yang dimiliki yang diukur melalui laporan neraca. Kedua, dilihat dari asesmen prestasi manajemen yang bisa dilihat melalui laporan laba-rugi. Setelah dua asesmen ini akan ada yang proses audit yang dilakukan oleh pihak ketiga untuk mengetahui apakah keuangan yang dijalani bisa dikatakan wajar atau tidak karena akan menjadi bukti pertanggungjawaban kepada pihak-pihak yang turut andil dalam keuangan tersebut. Pencatatan keuangan sendiri dilakukan berdasarkan klasifikasi atau yang sudah menjadi standar dalam hal akuntansi, yang disebut dengan Pedoman Standar Akuntansi Keuangan. Asesmen menjadi kunci untuk pihak ketiga untuk dapat menilai kinerja suatu perusahaan dan menilai kekayaan dalam perusahaan tersebut.  Asesmen prestasi manajemen untuk mengetahui perjalanan suatu perusahaan apakah mengalami profit, stagnan atau justru naik turun keuangan suatu perusahaan. Pihak ketiga sebagai seorang investor baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang akan melihat laporan analisa fundamental perusahaan kurang lebih selama 5 tahun kebelakang dalam menilai keadaan perusahaan apakah cocok atau tidak dengan melakukan analisis beberapa tahapan, seperti menilai dari angka yang terdapat pada laporan laba-rugi, laporan neraca, mengukur seberapa jauh dan seberapa bagus suatu perusahaan, kemudian menetapkan apakah akan berinvestasi atau tidak baik dalam jangka waktu yang pendek atau panjang.  Dari sisi kekayaan perusahaan dapat dilihat melalui laporan neraca perusahaan, untuk mengetahui seberapa kuat aset perusahaan untuk dapat membayar kewajiban-kewajiban yang keluar dari suatu perjanjian yang dilakukan antar perusahaan.  Asesmen dalam Perusahaan untuk Memahami Kebutuhan Kinerja Karyawan Selanjutnya akan membahas asesmen dalam bidang Talent Development (HRD)  oleh Fricilia Yesica Simbolon, dalam bidang HRD ini perusahaan bergerak dalam mengelola sumber daya manusia yang dipekerjakan dalam hal ini asesmen sangat penting terkait dalam proses perekrutan maupun ketika seseorang sudah bergabung di suatu perusahaan. Asesmen dalam perusahaan dikenal dengan istilah asesmen kinerja atau Key Performance Indicators (KPI), asesmen ini diukur berdasarkan pencapaian target perusahaan terhadap kinerja karyawannya, penilaian dapat dilakukan oleh perusahaan dalam rentang waktu bulanan, semester ataupun tahunan, walaupun pada umumnya perusahaan melakukan asesmen kinerja dalam rentang waktu tahunan.  Selain asesmen kinerja perusahaan juga memiliki asesmen pengembangan diri, yang memiliki tujuan untuk melihat kompetensi seseorang dalam bekerja. Kemudian asesmen yang dilakukan adalah talent mapping, dimana memetakan talenta ke dalam box-box, box itu sendiri terbagi menjadi 2 bagian yaitu box dari kiri bawah sampai kanan atas yang menggambarkan rentang kinerja karyawan, sedangkan box dari bawah lurus ke atas menggambarkan potensi karyawan. Melalui asesmen ini menjadi pedoman perusahaan atau HRD dalam menilai kinerja seorang atau sekelompok karyawan berada di tahapan mana, yang nanti bisa dilakukan untuk perusahaan atau karyawan yang bersangkutan merefleksikan kira-kira apa yang perlu ditingkatkan dan dikembangkan lagi. Tujuan asesmen dalam bidang HRD adalah untuk memahami kebutuhan karyawan dan perusahaan, yang nantinya dapat menghindari hal-hal yang tidak diinginkan muncul kedepannya.  Asesmen dalam Bidang Seni Peran yang Berpengaruh pada Kualitas Produksi Film Terakhir dengan Muhammad Firdaus yang menggeluti bidang cinematography atau perfilman, dalam pembuatan sebuah produk dalam hal ini adalah film ada sebuah proses mendesain berbagai macam informasi yang kemudian terbentuklah sebuah asesmen yang disebut dengan asesmen kreatif. Asesmen kreatif ini digunakan untuk menganalisa target market sebuah film akan dimasukkan pada rentang usia berapa, bagaimana penampilan karakter yang akan dimunculkan, setelah asesmen kreatif ini didiskusikan dan dianalisa akan berkembang lagi menjadi asesmen terkait dengan peralatan yang digunakan apa saja dan besaran biaya yang akan dikeluarkan. Di dunia seni peran sendiri memiliki asesmen yang disebut dengan asesmen based on competencies untuk mengetahui kemampuan dan kompetensi yang diperlukan dari … Read more