Implementasi Asesmen Diagnosis untuk Membangun Disiplin Murid

Merasa pusing ketika mendisiplinkan murid? Lelah memikirkan cara agar murid bisa mengumpulkan tugas secara disiplin,  tepat waktu dan sesuai ketentuan? Apalagi ketika pandemi datang dan PJJ diberlakukan, rasa-rasanya hal tersebut menjadi semakin pelik meski sekadar dibayangkan. Apakah perkara-perkara tersebut masih sering mengganggu pikiran Bapak dan Ibu guru hingga tidur pun rasanya tidak nyenyak? Jangan Khawatir Bapak Ibu! Seperti kata pepatah “Di balik setiap masalah pasti ada solusi”. Pilihan yang tepat ketika Bapak dan Ibu sedang membaca tulisan ini maka Bapak dan Ibu guru juga akan menemukan solusi dari permasalahan yang kini tengah menghantui seperti yang telah disebutkan di atas. Lalu apa kaitannya dengan asesmen diagnosis ya? Bagaimana implementasi Asesmen Diagnosis bisa membangun disiplin murid? Simak penjelasannya di bawah ini ya! Sejak dicetuskannya Asesmen Nasional (AN) pada tahun 2020 sebagai pengganti Ujian Nasional (UN), mau atau tidak mau, siap atau tidak siap semua sekolah harus mengimplementasikannya, maka semua guru juga harus memahaminya. Meskipun asesmen menjadi trending topik kala itu, nyatanya masih banyak yang bingung bahkan terjadi miskonsepsi di antara pendidik maupun orangtua murid. Bersumber dari Surat Kabar Guru Belajar (SKGB) No.28 dengan judul Asesmen untuk Personalisasi Belajar, ada kisah guru belajar yang menghadapi masalah serupa. Guru tersebut bernama Ida Widaningsih, guru di SMP Negeri 160 sekaligus anggota Komunitas Guru Belajar (KGB) Jakarta Timur. Layaknya guru-guru lain, Guru Ida juga pernah mengalami miskonsepsi tentang asesmen. Padahal jauh sebelum AN dicetuskan, Guru Ida sudah sering mendengar dan membaca tentang asesmen, sayangnya semua itu bagai angin lalu. Awalnya Guru Ida menganggap asesmen hanya digunakan untuk mengetahui capaian belajar murid di akhir pembelajaran, namun kini Guru Ida tahu justru yang penting adalah bagaimana penilaian mampu meningkatkan kemampuan murid dalam proses belajar. Setelah mengetahui betapa esensialnya asesmen, Guru Ida segera mempelajari lebih lanjut mengenai Asesmen. Guru Ida mencari dan membuka berbagai sumber yang terkait dengan asesmen. Guru Ida mulai menonton konten-konten di Kanal Youtube KGBN (Komunitas Guru Belajar Nusantara), Kanal Youtube Kemendikbud dan membaca buku-buku yang membahas mengenai asesmen. Dari sini Guru Ida membuat kesimpulan bahwasannya selama ini dia belum paham sepenuhnya tentang tiga macam asesmen, yakni assessment for learning, assessment as learning, dan assessment of learning. Assessment for learning (asesmen diagnosis) mempunyai fungsi yang mirip dengan assessment as learning (asesmen formatif), yakni sebagai formatif dan dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung. Sedangkan assessment of learning (asesmen sumatif) merupakan penilaian yang dilakukan setelah proses pembelajaran selesai dan tidak selalu di akhir tahun. Baca juga: Fungsi Asesmen Formatif: Mendukung Murid Belajar Ketika berbicara mengenai asesmen diagnosis, tidak dapat dipisahkan dengan pemahaman akan 5M (Memanusiakan hubungan, Memahami Konsep, Membangun keberlanjutan, Memilih tantangan, Memberdayakan konteks) karena secara tidak langsung sangat berkaitan erat. Untuk asesmen diagnosis sendiri dibagi menjadi dua yaitu asesmen diagnosis kognitif dan nonkognitif. Guru Ida mengaitkan asesmen diagnosis nonkognitif dengan 5M, yakni pada elemen Memanusiakan hubungan dengan mencari tahu profil murid dan elemen kedua, yakni Membangun keberlanjutan dengan memberikan tugas yang beragam sesuai minat murid. Pada awal pembelajaran jarak jauh (PJJ) Guru ida memang lebih fokus pada implementasi asesmen diagnosis nonkognitif, ia melihat adanya keberagaman situasi sosial dari profil murid. Guru Ida mencari tahu keadaan atau kondisi murid dengan mengajak mereka mengobrol santai melalui WA pribadi. Dan data pengamatan langsung sebelum diberlakukannya PJJ. Ternyata ada murid yang dengan tertatih berusaha mengumpulkan tugasnya. Dari obrolan tersebut terlihat kesungguhan murid, meski dalam keadaan yang serba sulit karena berasal dari keluarga kurang mampu. Itu contoh murid Guru Ida yang berasal dari kalangan menengah ke bawah. Guru Ida sangat memperhatikan kondisi murid dan tidak memaksakan tugas harus dikumpulkan pada hari itu juga. Murid tersebut tidak mempunyai gawai sendiri dan harus meminjam gawai milik anggota keluarga lain. Yang membuat Guru Ida bangga murid tersebut menabung untuk membeli gawai karena menganggap benda itu menjadi kebutuhan yang sangat penting untuk menunjang pembelajaran. Guru Ida mengajar materi tentang ikhtiar, tawakal, dan optimisme yang berkenaan dengan pandemi Covid-19 dan berhubungan dengan anjuran pemerintah. Dengan menerapkan diferensiasi dalam penyelesaian tugas, Guru Ida memberi kesempatan muridnya untuk mengerjakan tugasnya sesuai dengan minat masing-masing, sehingga mereka mengerjakan dengan suka cita, tanpa beban. Ada yang memilih untuk membuat video, PPT, poster, dll. Hasilnya sungguh di luar dugaan. Murid lebih bersemangat mengerjakan karena sesuai minatnya. Selain itu waktu yang diberikan juga longgar tapi bukan berarti tidak tegas. “Saya kagum akan kompetensi mereka yang beragam, termasuk kompetensi menulis, menggambar, atau bercerita yang selama ini terpendam.” (Ida Widaningsih) Menurut Guru Ida, ternyata dengan memperhatikan asesmen diagnosis non kognitif dapat memberikan ruang kepada murid untuk bereksplorasi dan memberikan kemerdekaan belajar. Tugas yang mereka kerjakan menjadi beragam. Guru Ida juga dapat mengetahui minat belajar murid. Dan guru tidak akan stres atau marah-marah lagi kepada murid. Kesimpulannya dengan dapat memahami asesmen khususnya asesmen diagnosis beserta implementasi-nya, guru dapat memahami muridnya. Guru jadi tahu keadaan murid dan alasan murid tidak mengumpulkan tugas secara disiplin, tepat waktu dan sesuai ketentuan. Dari pengalaman Guru Ida yang dilakukannya untuk menyikapi masalah tersebut adalah dengan mengubah sistem pengumpulan tugas dengan menerapkan diferensiasi penyelesaian tugas sesuai minat murid dan kelonggaran waktu pengumpulan. Apakah pening di kepala Bapak dan Ibu guru sudah hilang setelah membaca kisah Guru Ida di atas? Atau Bapak dan Ibu guru masih membutuhkan kisah inspiratif dan solutif lainnya? Yuk langsung aja daftar di Temu Pendidik Nusantara (TPN) VIII dengan tema Merayakan Asesmen, Mendesain Ekosistem Merdeka Belajar yang akan diselenggarakan pada tangga 20-21 November 2021. Di sini Bapak Ibu akan mendapatkan inspirasi dari #1000Pembicara. Langsung aja klik tpn.gurubelajar.org

Praktik Asesmen Formatif dalam Pembelajaran Jarak Jauh

Bapak dan ibu guru merasa lebih susah mengajar saat pandemi? Lantas, apakah bapak dan ibu guru juga merasakan kebingungan dan ketidakpastian dalam beradaptasi dengan proses belajar mengajar selama pandemi ini? Pandemi ini ternyata mulai mengubah tatanan kehidupan, tak terkecuali pada dunia pendidikan di Indonesia. Proses belajar mengajar yang semula dilakukan dengan tatap muka, namun kini proses belajar mengajar dilakukan secara jarak jauh dengan memanfaatkan jaringan internet, serta teknologi informasi dan komunikasi. Hal ini pun memengaruhi juga dalam penerapan asesmen yang diberikan baik praktik asesmen formatif dan sumatif yang dilakukan oleh bapak dan ibu guru. Dari segi manfaat, dilakukannya pembelajaran jarak jauh telah menjejakkan proses pendidikan di Indonesia ke arah digitalisasi. Namun di sisi lain, hal itu juga menimbulkan beberapa tantangan. Tantangan berupa bagaimana menerapkan praktik asesmen formatif maupun sumatif, dan juga bagi daerah yang mengalami kendala akses internet dan ketiadaan gawai yang dimiliki murid karena beberapa hal, ini menjadikan pembelajaran jarak jauh cukup sulit untuk dilakukan. Lantas bagaimana menjawab tantangan mengenai pembelajaran jarak jauh dan juga penerapan praktik asesmen formatif dari perspektif guru? Berikut kita simak cerita dari Ibu Arni Idawati, guru di SMA Negeri 5 Sinjai, Sulawesi Selatan. Seperti yang dirasakan oleh guru-guru lain di Indonesia, awalnya Ibu Arni juga merasakan jika tantangan mengajar lebih besar saat pandemi ini, beliau pun juga mencoba beradaptasi dengan proses belajar mengajar di tengah kebingungan dan ketidakpastian selama pandemi ini. Ibu Arni pun mencoba untuk  mendesain cara dan metode pembelajaran terbaik yang karakternya sangat berbeda dengan pembelajaran tatap muka, dengan harapan tujuan pembelajaran yang beliau  rancang tersebut dapat tercapai. Meski demikian, masih ditemukan murid yang belum aktif, seperti tidak mengikuti saat online class berlangsung atau tidak bisa dihubungi saat online class berlangsung.. Imbasnya, murid tersebut tidak memahami konten, dan tentunya tidak mampu menggunakannya dalam konteks kehidupan nyata. Kondisi tersebut diketahui oleh Ibu Arni dari hasil penilaian yang beliau praktikkan. Ternyata Ibu Arni hanya fokus kepada asesmen sumatif yang menekankan perolehan hasil belajar murid. Padahal, murid lebih membutuhkan pengalaman belajar yang berorientasi kepada proses, umpan balik, dan tindak lanjut pencapaian belajar. Bukan sekadar penugasan melalui tes dan pemberian nilai. Baca juga: Asesmen Formatif Membuat Murid Berkembang, Guru Senang, Orang Tua Tenang Berangkat dari hal tersebut, dalam pembelajaran tentang fluida (zat yang dapat mengalir) di kelas XI IPA, Ibu Arni menerapkan asesmen diagnosis untuk mendapatkan informasi tingkat kompetensi murid dalam ranah sikap, pengetahuan, maupun keterampilan. Diketahui jika murid di kelas tersebut rata-rata berusia 16 – 17 tahun, dengan komposisi putra-putri sebesar 1:2. Sebagian besar murid suka menonton YouTube, belajar menggunakan ponsel, dan terbiasa menggunakan ponsel dalam aktivitas sehari-hari. Data ini beliau peroleh dari diagnosis awal yang dilakukan pada awal tahun pelajaran. Adapun tujuan pembelajaran yang hendak dicapai dalam materi fluida adalah murid dapat menjelaskan tekanan, memformulasikan tekanan, menjelaskan tekanan hidrostatis, memformulasikan tekanan hidrostatis, menerapkan tekanan hidrostatis dalam kehidupan sehari-hari. Ibu Arni pun melakukan praktik asesmen formatif karena beliau benar menyadari bahwa murid membutuhkan penilaian yang berorientasi kepada proses pembelajaran agar mereka memperoleh umpan balik dari guru untuk memperbaiki capaian belajar. Melalui bimtek guru belajar di masa pandemi yang diselenggarakan oleh Kemendikbud secara daring melalui Sim PKB, beliau semakin paham bahwa pada masa pandemi praktik asesmen formatif jauh lebih penting dibandingkan praktik asesmen sumatif untuk mengetahui perkembangan penguasaan kompetensi. Saat melakukan praktik asesmen formatif, Ibu Arni juga mengumpulkan informasi yang bisa membantu beliau dalam memberi umpan balik dan tindak lanjut proses belajar, serta membantu murid memperbaiki cara belajar dengan menentukan kembali strategi belajar yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Skenario pembelajaran untuk memperbaiki proses dan hasil pembelajaran, yang dibuktikan dengan kemampuan murid menerapkan konten materi dalam kehidupan sehari-hari, dapat Ibu Arni gambarkan seperti berikut ini. Pada awal pertemuan, Ibu Arni memberi tautan Google Teams kepada muridnya. Mereka menonton video yang menjelaskan kompetensi dasar fluida statis dalam materi tekanan hidrostatis. Setelah itu, beliau meminta murid untuk menjawab beberapa pertanyaan untuk mengetahui tingkat pemahaman awal mereka. Pertanyaan-pertanyaan yang beliau berikan seperti ini: 1. Mengapa paku dibuat runcing?  2. Apa hubungan antara paku runcing dengan tekanan?  3. Mengapa ban mobil jip berbeda dengan ban mobil sedan? 4. Apa hubungannya dengan tekanan? Kemudian, saya berikan pertanyaan lagi pertanyaan simpulan tentang persamaan tekanan. Setelah murid mendefinisikan materi tekanan, beliau pun bertanya, “Mengapa struktur jembatan semakin ke bawah semakin tebal?” Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut murid dapat menjelaskan dan memformulasikan persamaan tekanan hidrostatis. Selanjutnya murid mengerjakan soal-soal latihan sederhana tentang formulasi persamaan tekanan dan tekanan hidrostatis menggunakan Google Form. Berikutnya, beliau meminta murid menyaksikan tayangan video singkat tentang tekanan hidrostatis dan pembuktian materi ini dengan percobaan sederhana menggunakan botol bekas. Murid membuat lubang di kedalaman yang berbeda, kemudian mengamati dan menghitung jarak pancuran air di kedalaman yang berbeda. Lalu, murid mengamati bagaimana pancuran air jika botol dalam keadaan terbuka dan bagaimana jika botol dalam keadaan tertutup. Mereka menjatuhkan botol dari ketinggian tertentu untuk menyelidiki ada tidaknya pengaruh gravitasi terhadap air yang keluar pada botol. Pada tahap ini, murid belajar mandiri, secara kontekstual membuktikan teori. Mulai dari tahap identifikasi, pengumpulan data, pengolahan data, pembuktian, dan menarik kesimpulan. Selain itu, murid dilatih berpikir kreatif dalam pemecahan masalah dan pembuktian konsep. Akhirnya, tiba saatnya murid mengaplikasikan konten dalam kehidupan nyata, yakni melakukan percobaan bersama kelompoknya. Sebagai tagihan, murid mendesain produk berupa sebuah video pembuktian materi tekanan hidrostatis dengan menggunakan botol bekas. Ada hal yang sangat membuat Ibu Arni bangga. Desain yang dirancang murid beragam. Mulai dari melakukan pengamatan langsung struktur jembatan/pelabuhan; kemudian merumuskan masalah dari berdasarkan hasil pengamatan, menjelaskan materi, melakukan percobaan untuk membuktikan teori, sampai kepada kesimpulan akhir. Video yang dihasilkan menunjukkan keragaman cara, teknik, dan model yang digunakan dalam percobaan. Berarti murid dapat meningkatkan kompetensi dengan cara yang berbeda-beda, tapi tetap bermakna.  Ada kelompok yang melakukan percobaan dengan menggunakan dua botol bekas. Dari kedua botol itu, ada yang dilubangi secara vertikal untuk mengamati pancuran air dari lubang di kedalaman yang berbeda. Botol yang lain dilubangi secara horizontal. Dalam percobaan ini, murid mengamati jarak pancuran jika botol dilubangi secara horizontal, bagaimana pancuran air ketika botol dalam keadaan tertutup dan dalam keadaan terbuka, apa hubungannya dengan tekanan hidrostatis, apa yang terjadi jika botol dijatuhkan pada ketinggian tertentu, dan adakah pengaruh gravitasi terhadap … Read more

Fungsi Asesmen Formatif: Mendukung Murid Belajar

Apakah Bapak dan Ibu guru sering bingung ketika mengisi penilain Kompetensi Dasar murid di akhir semester? Biasanya Bapak dan Ibu isi dengan apa? Nilai tugas akhir atau ulangan akhir murid yang hanya berupa angka? Apakah Bapak dan Ibu guru yakin penilaian semacam itu akurat dan dapat dipertanggungjawabkan? Dengan adanya standar pencapaian angka tertentu untuk mengukur keberhasilan murid dan memunculkan pelabelan terhadap murid seperti bisa atau tidak bisa, bukankah hal itu sudah termasuk tindak penghakiman? Dan bagaimana sih rasanya jadi orang yang dihakimi? Tertekan, takut, tidak nyaman, pengin marah atau protes tapi tidak bisa. Mungkin perasaan semacam itu yang sekarang dirasakan oleh murid Bapak dan Ibu. Atau mungkin yang Bapak dan Ibu rasakan sewaktu jadi murid dulu? Lalu apa kaitannya dengan Asesmen Formatif? Apa itu asesmen formatif dan fungsi-nya dalam kegiatan pembelajaran? Harap tenang! Bapak dan Ibu guru jangan risau karena pada tulisan kali ini akan membahas solusi dari pertanyaan-pertanyaan di atas. Bersumber dari Surat Kabar Guru Belajar (SKGB) Edisi ke-3 tahun keenam dengan tema Asesmen Formatif sebagai Upaya Merawat Kemerdekaan Belajar, terdapat kisah guru belajar yang mengalami masalah serupa. Guru Maryati Hulalata namanya, mengajar di SMP Lazuardi dan anggota Komunitas Guru Belajar Depok. Lalu bagaimana beliau mengatasi pertanyaan-pertanyaan yang meresahkan di atas? Semuanya akan diulas dalam tulisan ini. Yuk Bapak dan Ibu segera simak kisahnya di bawah ini! Setiap awal tahun pelajaran, guru-guru diminta menyiapkan berbagai instrumen administrasi, seperti Program Tahunan , Program Semester, dan Program Project Plan atau yang sering dikenal dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Tidak hanya masalah administrasi, intrumen pra-mengajar pun tidak kalah penting untuk disiapkan, salah satunya adalah Rencana Asesmen. Namun Guru Maryati sering mengenyampingkannya, beliau hanya akan menyalin file tahun lalu yang sering kali sudah tidak relevan. Hingga Pandemi datang dan PJJ diberlakukan, Guru Maryati bingung untuk memberi nilai Kompetensi Dasar murid-muridnya karena pembelajaran seluruhnya dilakukan secara online. Pasalnya semua penugasan langsung diberikan skor tanpa ada masukan perbaikan dan penyesuaian pengajaran di dalam kelas online-nya. Guru Maryati merasa seperti kembali ke masa lalu ketika penilaian berpatok pada angka dan penghakiman bisa atau tidak bisa dan tahu atau tidak tahu. Memberi nilai layaknya sebuah ulangan harian waktu sekolah dulu. Ulangan harian yang kemudian menjadi nilai tambah nilai ujian akhir. Guru Maryati menganggap penilaian semaca itu tidaklah akurat dan kurang dapat dipertanggungjawabkan. Beliau merasa kecolongan, ketika kelas yang dibawakan sudah demikian menarik, penugasan proyek yang menantang, eh nilai diberikan begitu saja tanpa memberi masukan berkala. Setelah menyadari kekeliruan besar yakni dengan tidak menerapkan Asesmen Formatif dalam pembelajarannya, Guru Maryati segera membuka catatan ketika mengikuti pelatihan asesmen yang pernah diselenggarakan sekolahnya dan berdiskusi dengan rekan guru lainnya. Selain itu, Guru Maryati juga amat terbantu dengan konten-konten yang membahas mengenai asesmen dari media sosial Kampus Guru Cikal dan Komunitas Guru Belajar. Beliau membaca dan berusaha memahami kembali mengenai asesmen. “Asesmen sejatinya merupakan alat bantu kita untuk mengetahui kemajuan murid dan membantu mereka mencapai target pembelajaran. Asesmen tidak melulu sesuatu yang diberi nilai, berupa angka dan dilakukan di akhir” (Maryati Hulalata) Baca juga: Merdeka Belajar di PAUD, Bagaimana Menerapkannya? Guru Maryati melakukan refleksi pembelajaran selama satu semester yang lalu. Sudahkah memberikan kesempatan murid-muridnya untuk merefleksikan pembelajaran dan mengevaluasi diri sendiri? Sudahkah memberi umpan balik sepanjang proses belajar yang membantu murid melakukan perbaikan? Menyadari betapa esensialnya peran sebuah asesmen khususnya fungsi asesmen formatif, di awal semester baru Guru Maryati menyediakan waktu untuk menyusun rencana asesmen dengan memperhatikan asesmen formatif secara seksama dan dilaksanakan dengan benar agar tujuan asesmen tercapai. Berbekal format yang diberikan sekolahnya, Guru Maryati memulai dari tujuan belajar yang diambil dari Kompetensi Dasar. 1.      Tujuan belajar ini dibuat lebih pendek penjelasannya dan langsung pada kegiatan yang akan dilakukan di kelas. 2.      Di sebelah kolom Learning Goals, ada kolom jenis asesmen yang dilakukan. Ini penting, sebagai bentuk informasi kegiatan apa yang membutuhkan masukan intensif dan mana yang bisa diambil penilaian berupa angka. 3.      Menuliskan bentuk asesmen. Tidak kalah penting karena membantu untuk mempersiapkan proses asesmen agar menjadi lebih terarah sesuai dengan tujuan pembelajaran. 4.      Terdapat kolom untuk rencana diferensiasi (akomodasi) dan rubrik. Kolom diferensiasi disiapkan sebagai tindakan awal , meskipun saat pelaksanaan sangat bisa disesuaikan sesuai kebutuhan. Sedangkan kolom rubrik hanya sebagai pelengkap dan pengingat. Dengan merencanakan asesmen secara matang, kini Guru Maryati sudah tidak pusing untuk memberi penilaian di akhir pembelajaran saat kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring. Dan yakin jika penilaian yang diberikan sudah akurat dan dapat dipertanggungjawabkan serta tidak menghakimi. Guru Maryati tidak ingin keliru lagi dan berupaya memastikan efektivitas asesmen formatif dan memaksimalkan fungsi-nya dalam proses belajar murid. Selain itu murid juga terbantu dengan adanya asesmen ini. mereka menyadari keberadaan guru yang siap membantu dan peran rekan sebaya yang masukannya membantu mereka memperbaiki kualitas kerja. Bagaimana Bapak dan Ibu guru, apakah kisah guru belajar di atas sudah meyakinkan Bapak dan Ibu guru untuk memberi nilai kepada murid secara akurat dengan menerapkan Aseesmen Formatif? Atau Bapak dan Ibu guru masih membutuhkan kisah-kisah inspiratif dan solutif dari  guru belajar lainnya? Tenang, semua yang Bapak dan Ibu guru cari bisa didapatkan dengan mengikuti Temu Pendidik Nusantara VIII yang akan diselenggarakan pada 20-21 November 2021 dengan tema Merayakan Asesmen, Mendesain Ekosistem Merdeka Belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000Pembicara. Caranya gimana? Gampang banget, tinggal klik tpn.gurubelajar.org

Penerapan Asesmen Sumatif di PAUD, Bagaimana?

Apakah Bapak dan Ibu pernah bingung dalam mendesain asesmen yang pas untuk diberikan ke murid? Atau bapak dan ibu guru pernah mendengar miskonsepsi jika asesmen cenderung dilakukan hanya untuk mengukur hasil belajar murid? Mendesain pembelajaran di awal tahun pelajaran merupakan sebuah hal yang biasa dilakukan oleh bapak dan ibu guru. Desain pembelajaran tersebut juga harus dilengkapi dengan asesmen baik asesmen formatif maupun asemen sumatif.  Ternyata Asesmen bukanlah sekadar untuk mengetahui pencapaian hasil belajar murid. Asesmen dapat meningkatkan kemampuan murid dalam proses belajar mengidentifikasi murid yang membutuhkan bantuan. Hal penting lainnya tentang asesmen bagi guru ialah untuk mengecek pemahaman dan pencapaian murid serta merencanakan dan merancang personalisasi pembelajaran dalam proses belajar. Pentingnya asesmen ini bukan hanya diperlukan oleh murid jenjang dasar sampai menengah, tetapi juga di jenjang anak usia dini. Di jenjang pendidikan usia dini, murid-murid perlu mendapatkan asesmen dalam aspek tumbuh kembangnya. Aspek tersebut meliputi perkembangan motorik, sosial emosi, bahasa, kognisi, moral, agama, dan seni. Lalu, bagaimana esensi “penting” dalam penerapan asesmen sumatif di jenjang usia dini? Berikut kita akan bahas cerita Ibu Anik Puspowati dari KGB Semarang yang mengajar di Fatiha Edu tentang pentingya penerapan asesmen sumatif di PAUD. Awalnya sebagai seorang guru yang mengajar anak-anak usia dini, Ibu Anik merasa bahwa dirinya memerlukan data untuk mengetahui capaian perkembangan murid-muridnya, sekaligus sebagai bahan refleksi dalam mengelola pembelajaran di kelasnya, tentang apa yang perlu beliau evaluasi dan apa yang sudah baik dari perencanaan pembelajaran yang sudah beliau tentukan. Menurut Ibu Anik, jika beliau tidak memiliki data maka tidak akan mampu menganalisis ketercapaian tujuan belajar murid-muridnya. Tanpa data, beliau juga tidak mempunyai bukti untuk melaporkan perkembangan murid-muridnya saat pertemuan dengan orang tua nanti. Oleh karena itu, beliau berinisiatif untuk menentukan metode yang saya butuhkan untuk mengumpulkan informasi. Baca juga Asesmen Nasional 2021, Siap(a) Berubah? Beliau pun memilih untuk mencoba melakukan teknik observasi dan mendokumentasikan kegiatan atau percakapan maupun perilaku murid, baik saat bermain sendiri maupun ketika dalam kelompok kecil atau kelompok besar, serta melalui catatan anekdot. Beliau juga mencoba dengan berinteraksi ringan dengan murid-muridnya, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, lalu mencatat semua respons mereka. Tidak lupa, Ibu Anik juga menggunakan ceklis untuk mencatat perkembangan spesifik, misalnya keterampilan motorik muridnya, sosial emosi, dan sebagainya. Berikutnya, beliau juga mengumpulkan hasil karya murid-muridnya, baik itu gambar, prakarya, atau penugasan lainnya. Dan terakhir, beliau juga intens bertanya kepada orang tua/wali murid terkait perkembangan anak mereka di rumah. Yang mana ada kalanya perilaku murid muncul di rumah tetapi tidak muncul di sekolah. Beliau juga mencari tahu dan mencatat keterangan dari guru-guru sebelumnya.  Ketika sudah memiliki begitu banyak data dari setiap murid, lantas Ibu Anik berpikir tentang  bagaimana membuat asesmen sumatif dari sekian banyak data yang beliau peroleh? Perlukah merencanakan asesmen tersendiri untuk kebutuhan penilaian akhir tema dan akhir semester? Jika iya, beliau merasa pasti akan kewalahan dalam mengelolanya. Akhirnya, Ibu Anik  mengumpulkan semua data yang ada, lalu menentukan mana yang akan dijadikan basis data untuk asesmen formatif dan mana yang dijadikan penilaian sumatif. Oleh beliau semua data tersebut dikelola dengan dikumpulkan dalam portofolio berdasarkan tanggal dan identitas murid. Hasil dari kumpulan data tersebut berupa foto hasil karya murid, rekaman suara, video kegiatan, dan sebagainya. Ibu Anik menyimpan seluruh data pertumbuhan dan perkembangan murid di dalam satu folder penilaian dan menyiapkan satu folder untuk setiap anak dalam Google Drive sehingga memudahkan beliau ketika mencarinya. Ibu Anik melakukan pengolahan data secara berkala, mingguan dan bulanan dengan menggunakan skala. Beliau menetapkan empat skala capaian perkembangan murid, yaitu BB (belum berkembang), MB (mulai berkembang), BSH (berkembang sesuai harapan), dan BSB (berkembang sangat baik). Beliau memasukkan semua data yang terkumpul setiap minggunya ke dalam format bulanan. Untuk menentukan capaian akhir setiap bulan, beliau melihat capaian tertinggi yang dicapai sepanjang bulan itu. Ketika Ibu Anik ingin mendapatkan hasil penilaian satu semester, maka memasukkan capaian akhir bulan di format bulanan untuk setiap bulan dalam satu semester ke format penilaian akhir semester. Untuk menentukan capaian akhir semester, beliau memilih capaian tertinggi yang telah dicapai murid pada setiap akhir bulan. Hasil capaian ini menjadi dasar untuk pembuatan laporan perkembangan anak pada semester tersebut. Ibu Anik biasanya menyampaikan laporan ini dengan dilakukan secara tatap muka sehingga tercipta hubungan dan informasi timbal balik antara guru dengan orang tua. Namun, dikarenakan dalam masa pandemi ini penyampaian laporan perkembangan, beliau lakukan melalui media daring dalam bentuk PDF (lewat e-mail atau WhatsApp orang tua). Laporan Perkembangan Anak biasanya beliau tulis langsung dalam bentuk narasi, sehingga dapat membaca laporan tersebut tidak hanya berupa data melainkan sebuah cerita singkat. Ketika waktu menyampaikan Laporan Perkembangan Anak, Ibu Anik juga menyampaikan keadaan murid, yaitu saat murid belajar secara fisik, sosial, dan emosional di sekolah. Selanjutnya, beliau melaporkan hal berupa kemampuan atau kompetensi yang sudah dan yang belum dikuasai murid. Kemudian yang terakhir, beliau menyampaikan apa saja yang harus dilakukan orang tua untuk membantu dan mengembangkan murid lebih lanjut. Waktu penyampaian Laporan Perkembangan Anak kepada orang tua dilakukan satu semester sekali, pada setiap akhir semester tahun pelajaran. Ibu Anik merasa jika strategi dalam mengelola asesmen ini membantunya dalam banyak hal, termasuk dalam mengelola waktu dan energi. Beliau belajar bahwa sebagai guru kita perlu untuk benar-benar memahami murid dan mampu membuat analisa dari data yang ada supaya tidak salah dalam menilai perkembangan murid. Bagi beliau, seorang guru memerlukan semua informasi tentang tingkat pencapaian dan perkembangan hasil belajar murid secara nyata yang bersumber pada data otentik dan berdasarkan fakta. Selanjutnya, guru membutuhkan strategi untuk mengelola dan menganalisanya supaya akurat dan bisa dipertanggungjawabkan. Terakhir, Ibu Anik mengatakan jika hal yang jauh lebih penting adalah refleksi terhadap apa yang kita lakukan sebagai guru dalam melihat hasil belajar murid-murid, lalu menggunakan refleksi tersebut untuk mendesain pembelajaran yang lebih baik kedepannya. Bagaimana Bapak dan Ibu Guru, Apakah cerita tersebut memberikan insight tentang pentingnya asesmen sumatif di jenjang usia dini? Temukan lebih banyak cerita menarik guru-guru lainnya dengan mengikuti Temu Pendidik Nusantara VIII pada 19-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem merdeka belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000 Pembicara. Mari #BelajarDiTPNVIII!  Klik https://tpn.gurubelajar.org Sumber Buku: Surat Kabar Guru Belajar  Edisi IV Tahun Keenam

Praktik Asesmen pada Perilaku Murid

Bapak dan Ibu Guru sedang mengalami permasalahan perilaku murid? Seperti murid sering marah-marah, teriak, guling-guling, dan sampai menangis? Praktik asesmen apa saja yang perlu dilakukan? Jangan khawatir pertanyaan tersebut akan terjawab dalam pengalaman Bu Amalia Ahadini. Bu Amalia Ahadini adalah guru yang mengajar di Sekolah Luar Biasa Negeri Pembina, Yogyakarta. Ketika bulan Agustus, Bu Amalia mendapatkan informasi bahwa akan ada murid pindahan dari sekolah lain. Secara prosedur, praktik asesmen kepada murid baru dilakukan oleh tim asesmen sekolah, seperti mendata murid tentang profil keluarga dan kemampuan umum yang akan menjadi bahan materi dalam praktik asesmen yang dilakukan oleh tim sekolah. Hasil data dari tim sekolah selanjutnya diserahkan kepada Bu Amalia yang akan menjadi guru kelas bagi murid baru pindahan dari sekolah lain. Setelah diamati hasil datanya, ternyata masih banyak hal yang perlu Bu Amalia ketahui sebagai guru kelasnya.  Bu Amalia mulai menghubungi Ibu calon murid barunya melalui WhatsApp. Bu Amalia meminta ibu calon muridnya untuk mengisi asesmen non-kognitif, asesmen kemampuan bahasa, asesmen kemampuan berhitung, asesmen prakarya, dan asesmen kemampuan kemandirian melalui Google Form. Sebelumnya murid Bu Amalia juga mengisi instrumen asesmen yang sama pada awal tahun ajaran baru. Ibu calon murid menjelaskan perilaku anaknya yang sering marah di rumah dalam asesmen non-kognitif. Bu Amalia juga melakukan komunikasi yang intensif dengan ibu calon murid, serta melakukan asesmen non-formal melalui pesan WhatsApp. Dengan begitu Bu Amalia mengetahui gambaran tentang kemampuan murid dalam bidang menghitung, bahasa, prakarya, dan kemandirian. Tetapi, ternyata Bu Amalia juga mengetahui bahwa murid barunya memiliki beberapa hambatan. Ibunya bercerita tentang perilaku anaknya yang tidak ingin belajar dan setiap hari selalu minta uang jajan sampai tiga kali sambil marah-marah, berkata kurang baik, dan suka bermain di luar rumah seharian. Beberapa tetangga sering menegur ibu calon murid untuk mendidik anaknya dengan benar. Bu Amalia meminta tolong kepada ibu calon murid barunya untuk merekam perilaku anaknya di rumah secara diam-diam, karena untuk mendapatkan informasi dan gambaran yang lengkap tentang perilaku murid barunya. Setelah menerima rekaman, ternyata benar bahwa murid barunya marah-marah dengan berteriak, berguling-guling sampai menangis karena meminta uang. Bu Amalia mengirimkan pesan motivasi untuk memberikan dukungan dan menguatkan ibu calon murid supaya tabah dan sabar. Menurut Bu Amalia mungkin, anggapan murid barunya ketika ibunya menolak untuk memberikan uang, permintaannya dianggap sepele bagi ibunya, sehingga murid barunya berperilaku marah-marah sampai menangis. Bu Amalia bersama ibu calon murid membuat prioritas masalah yang harus ditemukan solusinya. Sebelumnya ibu calon murid ingin memperbaiki kemampuan kognitif anaknya.Bu Amel menyakinkan ibu calon murid bahwa ketika belum ada kepatuhan dari anaknya, pasti tetap tidak mau belajar. Bu Amalia akhirnya membuat beberapa pertanyaan dasar tentang perilaku, lalu dilanjutkan berkomunikasi menggunakan WhatsApp. Setelah itu, Bu Amalia mencari instrumen yang sudah sesuai terkait perilaku. Bu Amalia mempraktikan asesmen menggunakan skala asesmen motivasi yang juga dapat disebut motivation assessment scale (MSA) yang didapatkan pada waktu mengikuti diklat. Bu Amalia mencoba mencari tahu penyebab perilaku yang kurang baik pada murid barunya dengan bertanya tentang pola pengasuhan, trauma masa kecil, dan hukuman yang pernah dialami murid barunya. Data praktik asesmen yang didapatkan langsung dianalisis dan dikonsultasikan dengan guru yang memiliki pengalaman tentang permasalahan perilaku. Hasil praktik asesmen Bu Amalia lalu disampaikan kepada ibu calon murid barunya. Bu Amalia menyampaikan bahwa perilaku anaknya yang suka marah-marah terjadi karena objek atau kegiatan tertentu (tangible). Maka agar tidak terjadi perilaku tersebut harus menghindari pemicunya. Berdasarkan asesmen, menunjukan bahwa ibu calon murid baru adalah single parent yang tinggal bersama orang tuanya. Tantangan terbesar mendidik anak dengan kakek dan nenek biasanya disebut inkonsistensi pengasuhan. Baca Juga :  Meningkatkan Motivasi Belajar pada Praktik Merdeka Belajar Ibu calon murid juga bercerita bahwa sering terjadi, pada saat anaknya meminta uang dan tidak diberi, anaknya akan teriak-teriak, marah dan menangis, tetapi neneknya terburu-buru menenangkan anaknya dengan memberikan uang. Alasan neneknya bertindak seperti itu karena tidak tega mendengar cucunya menangis minta uang. Pola pengasuhan yang berbeda dalam satu rumah akan membuat anak kebingungan. Anak akan mencari dan memilih tempat yang nyaman ketika merasa terancam seperti dimarahi. Ibu calon murid setuju perbedaan pola pengasuhan adalah penyebab yang mempengaruhi perilaku anaknya. Bu Amalia meminta ibu calon muridnya dalam memastikan anaknya menjadi bagian dalam keluarganya serta melibatkan anak berperan aktif di dalam rumah. Bu Amalia mengajak ibu, nenek, dan murid baru untuk membuat kesepakatan bersama. Contohnya pada saat murid tidak menunjukkan perilaku yang kurang baik, maka murid berhak mendapatkan kesempatan untuk menonton selama 15 menit. Proses perubahan perilaku pasti tidak mudah. Maka Bu Amalia selalu menguatkan ibu calon murid untuk sabar. Setelah itu, seluruh anggota keluarga diajak untuk membuat rutinitas yang terprediksi. Contohnya, ketika pagi hari setelah ibadah, mandi, dan makan, murid baru diajak neneknya ke warung. Murid baru diajarkan perilaku pengganti yang wajar. Jika biasanya murid berteriak dan berkata kurang baik ketika meminta sesuatu, murid diajari untuk berkata baik dan sopan saat meminta sesuatu. Peran nenek adalah memberikan motivasi cucunya. Setelah strategi dicoba ternyata perubahan perilaku murid belum terlihat. Akhirnya Bu Amalia membuat kesepakatan baru yaitu setiap hari, tugas murid adalah melakukan tiga kebaikan dengan bukti foto ketika murid melakukan kebaikan, dan ibunya memberikan pujian yang sesuai setelah anaknya melakukan kebaikan. Ternyata, strategi tersebut berhasil. Setiap hari murid baru dengan senang hati melakukan tiga tugas kebaikan. Kebaikan yang dilakukan seperti makan sendiri, mengembalikan piring ke tempat cuci piring, membantu mencuci sepeda motor, dan kegiatan baik lainnya. Tugas melakukan kebaikan ini merupakan strategi yang berfokus pada kegiatan perilaku baik. Solusi dalam menangani permasalahan perilaku yang kurang baik adalah dengan menumbuhkan perilaku yang baik melalui kegiatan kebaikan. Ibu calon murid merasa senang atas perubahan perilaku anaknya, meskipun terkadang masih marah ketika keinginan anaknya tidak dituruti, tetapi sudah tidak berkata kotor lagi. Bu Amalia menyadari pentingnya asesmen yang diterapkan seiring proses belajar akan membuat perubahan perilaku murid menjadi lebih baik. Bagaimana Bapak dan Ibu Guru apakah pengalaman Bu Amalia menginspirasi? Bapak dan Ibu Guru mari ikuti Temu Pendidik Nusantara VIII 19-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000 Pembicara. Mari daftar di Temu Pendidik Nusantara VIII!  Klik : https://tpn.gurubelajar.org

Meningkatkan Motivasi Belajar pada Praktik Merdeka Belajar

Apakah murid Bapak dan Ibu guru malas belajar? Tampak kurang memiliki motivasi belajar? Ketika pembelajaran murid menundukkan kepala di atas meja, pasif, dan cuek. Bingung bagaimana cara untuk mengatasinya? Bu Ameliasari Tauresia Kesuma  adalah guru yang mengajar pelajaran Ekonomi dan Akuntansi di Madrasah Aliyah Negeri Salatiga. Bu Amel akan berbagi pengalamannya dalam meningkatkan motivasi belajar pada praktik merdeka belajar. Bu Amel memiliki satu kelas yang istimewa dengan jumlah 20 murid laki-laki dan 15 murid perempuan berusia sekitar 16-17 tahun. Murid laki-laki ini kurang  menunjukkan motivasi belajarnya. Mereka juga belum melakukan empati karena mereka sering rebahan di meja, mendengarkan musik, dan bermain gawai. Selain itu mereka juga sering melakukan membolos dan terlambat masuk kelas. Latar belakang ekonomi keluarga murid laki-laki sebagian besar kurang mampu dan ada yang keluarganya bercerai. Bu Amel merasa kesulitan ketika belajar bersama mereka di dalam kelas karena tugas yang diberikan dikerjakan secara setengah-setengah. Pernah diputarkan video inspiratif tetapi komentar mereka menunjukkan ketidakpeduliannya dan ketika dijelaskan mereka malah cuek. Keadaan semakin parah,  Bu Amel sampai membuat kesepakatan jika terlambat masuk kelas, konsekuensinya adalah harus ke ruang bimbingan konseling untuk mengambil surat izin masuk kelas. Setelah dari ruang bimbingan konseling mereka mendapatkan surat pernyataan yang tertulis mereka tidak akan mengulangi perbuatannya. Tetapi pada kenyataannya mereka tidak menyesali perbuatanya, sehingga Bu Amel merobek surat pernyataan mereka. Bu Amel tidak suka permintaan maaf yang palsu dan terkesan formalitas saja. Semua guru yang mengajar di kelas istimewa ternyata juga mengeluhkan hal yang sama seperti yang dirasakan Bu Amel. Bu Amel merasa kasihan karena ada 15 murid perempuan yang tentu akan terganggu karena sikap murid laki-laki. Bu Amel teringat tentang murid-muridnya Erin Gruwell dalam film Freedom Writer, Louanne Johnson, Dangerous Mind, dan Ron Clark. Bu Amel kemudian mendapatkan inspirasi dari film Freedom Writer. Rencananya jam pelajaran ke-3 dan ke-4 dialihkan untuk ulangan harian. Bu Amel memberikan selembar kertas putih untuk kemudian membuat jadwal apa yang ingin mereka lakukan saat pelajarannya selama tiga minggu menjelang ujian akhir semester. Bu Amel juga memberikan pilihan belajar yang sesuai rincian silabus pembelajaran seperti membaca artikel, membaca buku, mendengarkan musik, dan kegiatan sesuai yang murid inginkan seperti menggambar, mempelajari pelajaran lain, tidur, main gawai, merenung, dan apa saja. Bagi murid yang tidak belajar dengan Bu Amel, diwajibkan menulis kisahnya saat belajar bebas tentang apa yang ditemukan, dirasakan, atau apa saja. Setelah itu Bu Amel merekap data jadwal muridnya dan menempelkan di kelas. Dengan cara seperti itu semua tau apa yang diinginkan saat belajar bersama Bu Amel. Bu Amel mencoba menghargai keinginan murid-muridnya, tetapi tetap kondusif. Setelah itu Bu Amel merekap jadwal yang sudah dibuat murid-murid di komputer. Ketika pertemuan berikutnya Bu Amel menampilkan rekapan jadwal di depan kelas. Murid-murid yang tidak ingin belajar dengan Bu Amel diberikan selembar kertas untuk menuliskan apa saja yang akan mereka lakukan. Sebagian murid yang ingin belajar dengan Bu Amel mengerjakan berbagai worksheet yang sudah dipersiapkan. Bu Amel merasa tidak sabar karena menunggu hasil tulisan murid yang tidak ingin belajar bersamanya. Muncul pertanyaan apakah mereka mau menuliskan kisahnya sendiri?. Dan hasilnya ternyata, mereka mau menuliskan kisahnya sendiri. Tulisan yang mereka tulis sangat menarik ada yang lucu, menyenangkan, dan mengharukan. Bu Amel terkejut ketika membaca bahwa ada yang menulis meminta untuk didoakan supaya cepat sadar dan semangat karena sudah di kelas akhir dan sebentar lagi akan ujian nasional. Ada juga yang menjelaskan tentang perasaannya yang mau malas-malasan atau rajin mengikuti kelas dengan Bu Amel. Sebagian ada juga yang menulis tentang balapan, modifikasi motor, dan sepak bola. Baca juga : Gaya Belajar Murid & Merdeka Belajar Bu Amel merasa heran ketika pertemuan berikutnya bahwa murid-murid yang sebelumnya tidak ingin ikut belajar bersamanya, menjadi ingin ikut pelajaran. Mereka beralasan malu karena menulis. Padahal Bu Amel menyukai tulisan mereka dan ingin terus membaca serta mengetahui apa saja yang mereka sampaikan. Bu Amel juga merasa kaget ketika mereka meminta untuk tambahan waktu belajar bersamanya. Pada saat motivasi internal murid sudah muncul, maka merdeka belajar dapat dilakukan. Ternyata tujuan mereka adalah lulus ujian nasional. Hal itu memberikan tantangan Bu Amel untuk mengubah pola pikir mereka. Mungkin mereka tidak tahu bahwa ada tujuan lainnya ketika belajar Akuntansi. Bu Amel mengajak mereka mengobrol tentang menjadi pengusaha, berdagang, menghitung laba, menghitung kekayaan dan akhirnya mereka tau manfaatnya. Bu Amel mengajarkan berbagai metode belajar yang dapat dipilih murid-muridnya supaya membantu dalam belajar akuntansi. Bu Amel membuat asesmen akhir menjadi nyaman karena penilaian kemampuan didiskusikan bersama. Murid yang biasanya mendapatkan rangking akan merasa heran karena tidak ada yang baik dan jelek. Sehingga tidak ada persaingan, tetapi yang ada adalah saling membantu untuk maju bersama dan paham bersama. Bu Amel sangat menyadari karena butuh energi yang banyak untuk mengubah pola pikir merdeka belajar. Dengan begitu Bu Amel dan murid-murid akhirnya tau apa yang yang mereka inginkan saat belajar, mereka merasa dihargai dan didengarkan. Tumbuhnya kesadaran karena hidup membutuhkan belajar. Bagaimana Bapak dan Ibu Guru, apakah pengalaman Bu Amel menginspirasi dan memberikan solusi? Jangan lupa Bapak dan Ibu Guru mari ikuti Temu Pendidik Nusantara VIII 19-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem merdeka belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000 Pembicara. Mari daftar di Temu Pendidik Nusantara VIII!  Klik : https://tpn.gurubelajar.org

Merdeka Belajar di PAUD, Bagaimana Menerapkannya?

Menerapkan merdeka belajar di PAUD susah? Bagaimana cara menetapkan tujuan belajarnya, kan harus melibatkan murid? Lalu cara menentukan asesmennya bagaimana, kan mereka masih kecil? Namun akan sangat sayang sekali kalau tidak segera diimplementasikan, karena merdeka belajar ini menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna sehingga murid menjadi berdaya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadikan guru khususnya di jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) masih ragu dan bimbang untuk menerapkan merdeka belajar pada muridnya. Keraguan ini juga pernah dialami oleh Bu Anik Puspowati, guru di TK Sekolah Alam Arridho Semarang.  Berawal ketika mengikuti pelatihan Guru Merdeka Belajar, dari sini Bu Anik paham untuk menjadi pendidik yang merdeka belajar, perlu memiliki tiga hal esensial antara lain: komitmen pada tujuan, mandiri, dan reflektif. Awalnya Bu Anik sempat ragu untuk menerapkan proses menentukan tujuan belajar bersama anak usia dini. Namun Bu Anik tetap memberanikan diri untuk mencoba. Bu Anik menyatakan bahwa masa prasekolah merupakan masa yang sangat krusial dalam pendidikan seorang anak. Usia 0-6 tahun sering disebut sebagai masa emas perkembangan anak, karena otak anak mampu menyerap informasi hingga 80  persen. Di masa-masa ini, anak mulai terbentuk aspek perkembangannya: kognisi, bahasa, fisik-motorik, sosial-emosi, moral, kemandirian, dan seni. Bu Anik ingin memaksimalkan aspek-aspek perkembangan muridnya tersebut secara menyenangkan dan bermakna. Bu Anik mengidentifikasi gaya pembelajaran yang cocok dengan muridnya adalah gaya belajar kinestetik. Anak bisa mengeksplorasi dengan pancaindranya secara langsung pada objek pembelajaran dan secara tidak langsung hal tersebut mampu menumbuhkan aspek-aspek perkembangan mereka. Bu Anik menganggap belajar langsung dari objek belajarnya membuat anak lebih senang dan memiliki pengalaman bermakna. Metode yang digunakan Bu Anik adalah outing (belajar di luar kelas) atau belajar bersama alam istilahnya. Waktu itu tema pembelajaran mengenai ternak, kebetulan di dekat sekolah Bu Anik ada peternakan kuda pacu. Maka Bu Anik memanfaatkan tempat tersebut sebagai tempat pembelajaran yang kebetulan relevan dengan tema pembelajarannya. Sebelum berangkat mereka bersepakat tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama perjalanan dan ketika berkunjung. Ketika sampai di peternakan kuda, Bu Anik dan murid-muridnya berkumpul melingkar dan melakukan ice breaking. Hal seperti itu memang sudah biasa mereka lakukan sebelum memulai kegiatan. Lalu Bu Anik segera mengeluarkan kertas dan menempelkannya di papan tulis. Bu Anik mengajak tanya jawab murid-muridnya seputar apa yang mereka ketahui tentang ternak. Ada yang menjawab “ingin mengenal macam-macam binatang ternak (dalam hal ini kuda)”, dan lebih mengejutkan lagi ada yang menjawab “biar sayang sama ciptaan Allah”. Dan jawaban-jawaban tersebut ditulis Bu Anik sebagai tujuan pembelajaran. Dilanjutkan pembuatan rubrik penilaian sederhana ala anak-anak usia dini. Kriteria beserta dimensinya ditentukan bersama oleh Bu Anik dan murid-muridnya. Mereka menggunakan kriteria keren banget, keren dan keren sedikit. Keren banget untuk mengukur capaian kriteria tertinggi, keren berada di tengah antara capaian tertinggi dan terendah. Sebagai contoh, jika anak tidak berani mendekati kuda masuk kriteria keren sedikit, takut tapi mau mendekat masuk kriteria keren dan berani mendekat dan tidak takut masuk kriteria keren banget. Rubrik penilaian ini yang dijadikan sebagai bentuk asesmen. Berikut gambarannya. Secara umum rubrik penilaian seperti gambar di atas juga bisa digunakan untuk mengukur capaian murid dalam menguasai pembelajaran. Baca juga Memahami Merdeka Belajar Di tempat pembelajaran, anak-anak seolah sudah mengerti akan apa yang akan mereka lakukan. Mereka bahkan tidak sungkan untuk bertanya langsung (wawancara) dengan bapak-bapak pengurus istal di sana. Bertanya apa saja yang ingin mereka ketahui tanpa takut dan sungkan. Setelah outing, mereka kembali berdiskusi tentang apa yang mereka dapatkan atau mereka pelajari di tempat outing. Mereka merefleksikannya bersama. Anak-anak sangat antusias bercerita tentang apa yang telah mereka dapatkan melalui pancaindranya. Anak mampu belajar mengenai warna, ukuran besar-kecil, juga mampu belajar dengan indra peraba (kasar atau halus) ketika mengelus kuda. Mereka bahkan juga mendapatkan kosakata baru. Beberapa murid berinisiatif memberi makan kuda dan bahkan mencabut rumput untuk diberikan pada anak kuda. Ada juga anak yang awalnya takut mendekati kuda, lama kelamaan meminta Bu Anik untuk menemaninya mendekati kuda dan akhirnya berani mengelus dan tersenyum dengan senang. Tidak ada paksaan dan tekanan bagi murid yang masih takut. Bu Anik merasa tugasnya sebagai fasilitator belajar murid jauh lebih asyik dan mudah, karena pembelajaran dengan metode ini dirasa lebih mengakomodasi kebutuhan anak yang berbeda-beda. Dari cerita Bu Anik Puspowati yang bersumber dari buku Merdeka Belajar di Ruang Kelas karya Najelaa Shihab dan Komunitas Guru Belajar di atas dapat disimpulkan bahwasanya merdeka belajar bisa diterapkan pada murid usia dini. Yang perlu dilakukan guru adalah paham konsep merdeka belajar dan berani menerapkannya dengan kreatifitas masing-masing. Yang menunda keberhasilan bukanlah kegagalan melainkan keraguan dan ketakutan untuk mencoba. Nah, bagaimana Bapak Ibu guru? Apakah cerita guru merdeka belajar di atas sudah menjawab keraguan Bapak Ibu? Sebenarnya masih banyak lho cerita guru merdeka belajar yang inspiratif dan solutif lainnya. Dan semuanya akan Bapak Ibu temukan di Temu Pendidik Nusantara VIII dengan tema Merayakan Asesmen, Mendesain Ekosistem Merdeka Belajar yang akan diselenggarakan pada 20-21 November 2021. Yuk buruan daftar dengan klik tpn.gurubelajar.org dan jangan lupa catat tanggalnya ya!

Asesmen Diagnosis adalah Langkah Agar Murid Gemar Belajar!

Sebal menghadapi murid yang malas belajar saat pandemi? Sudah menggunakan Asesmen Diagnosis? Asesmen Diagnosis adalah langkah menyelenggarakan pembelajaran yang berorientasi pada murid. Lalu bagaimana merancangnya di situasi pandemi? Pembelajaran berorientasi pada murid dalam situasi ruang kelas yang sama saja masih manjadi keresahan dan tantangan guru, apa lagi saat pandemi. Dimana keberagaman situasi setiap murid sangat mempengaruhi pembelajaran. Ketersedian sarana prasarana memadai, pendampingan orang dewasa untuk murid jenjang bawah, juga kondisi keluarga setiap murid menjadi tambahan pertimbangan guru merancang strategi pembelajaran berorientasi pada murid. Tentunya setelah guru memahami pribadi setiap murid, minatnya, modalitas belajarnya, juga tahapan perkembangan kognitifnya. Untuk itu hal yang penting bagi guru lakukan adalah asesmen diagnosis, untuk mengetahui dan memahami profil setiap murid. Dari hasil asesmen diagnosis tersebut menjadi acuan guru merancang strategi pembelajaran yang sesuai bagi murid. Kamis, 8 Juli 2021 rekan guru di Kabupaten Lamongan mempersiapkan melakukan asesmen diagnosis dengan mengadakan Temu Pendidikan Daerah (TPD) Kabupaten Lamongan dalam Webinar Asesmen Diagnosis bersama Ibu Elisabet Indah Susanti sebagai narasumber dari Kampus Guru Cikal Webinar dibuka dengan mendengar sambutan dari Bapak Chusnul Yuli Setyo selaku Kadisdikbud Kabupaten Lamongan yang menekankan soal upaya mempersiapkan PTM terbatas dengan aman. Menurut beliau ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu: 1) Persiapkan Lembaga; 2) Persiapan Guru; dan 3) Persiapan Strategi Pembelajaran. Bapak Setyo juga mengungkapkan bahwa persiapan yang dilakukan perlu didukung oleh literasi digital. Hal ini dikuatkan oleh Kepala Kemenag Kabupaten Lamongan Bapak Firdaus Markus dalam sambutannya yang mengungkapkan, “ajarilah anak sesuai zamannya”. Menurut beliau sesungguhnya murid mudah beradaptasi dengan literasi digital, namun guru juga harus berapatasi sehingga mampu menemukan formula dan strategi pengajaran tepat pada masa pandemi. Hal yang tidak kalah penting diungkapkan Pak Firdaus dalam sambutannya ialah semangat dan motivasi belajar murid-murid yang perlu dipertahankan dengan merancang strategi pembelajaran sesuai kondisi setiap murid.  Setelah melakukan refleksi mengenai kata belajar & asesmen, Bu Elisabet Indah Susanti sebagai narasumber menyampaikan “sayangnya dalam praktik pembelajaran masih terdapat miskonsepsi belajar”. Setidaknya terdapat dua kriteria miskonsepsi berlajar, yaitu:  strategi pembelajaran yang masih berorientasi pada target, dengan hanya mengacu pada kurikulum, penyampaian satu arah untuk mengejar ketuntasan konten dan  asesmen pembelajaran yang masih berorientasi pada asesmen sumatif sebagai nilai akhir tanpa membedakan dengan pengambilan nilai asesmen formatif.  Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Seharusnya guru dalam merancang strategi pembelajaran berorientasi pada murid, dengan memadukan kurikulum dan kebutuhan murid. Aktivitas yang dilakukan beragam untuk penguasaan kompetensi, serta tentunya dengan pertimbangan kemampuan awal murid. Dalam proses dari merancang, manjalankan, sampai mencapai tujuan belajar untuk kompetensi diperkuat dengan asesmen pebelajaran. Tentunya dengan prinsip asesmen yang ideal. Terdapat 3 prinsip asesmen, yaitu:  asesmen untuk belajar, melalui asesmen diagnosis untuk menggali & menganalisis kebutuhan setiap murid dalam merancang pembelajaran. asesmen sebagai proses belajar, melalui asesmen formatif salah satunya menggunakan beragam metode yang menggali strategi belajar dan cara berpikir murid. asesmen terhadap hasil belajar, untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan orangtua dan pihak lain terkait capaian kurikulum. Ini baru berbicara soal nilai akhir rekan guru belajar melalui asesmen sumatif. Selama ini kita salah kaprah terhadap proporsi dari ketiga prinsip asesmen tersebut. Kita lebih banyak fokus pada asesmen terhadap hasil belajar dengan mengejar nilai. Kurangnya asesmen sebagai proses belajar, bahkan tidak melakukan asesmen untuk belajar dengan mendiagnosis kebutuhan belajar murid. Ada beragam cara untuk melakukan asesmen diagnosis, salah satunya bisa dengan tes, wawancara, atau observasi.  Dengan demikian tujuan asesmen untuk mendapatkan informasi bagi guru dan murid mengenai proses belajar dan pencapaian belajar secara berkala akan tercapai. Jadi kalaupun melihat kurikulum hanya dijadikan acuan untuk meningkatkan kompetensi yang kontekstual. Sehingga diharapkan rekan guru dapat membangun keberlajutan dengan mengaitkan antara rancangan pengajaran, pembelajaran, dan juga asesmen menjadi satu kesatuan proses yang saling berhubungan.  Jika kita memperhatikan arah perubahan pendidikan dengan adanya penyederhanaan aturan administrasi, orientasi pada murid, serta perubahan sistem asesmen rasanya kita diberi ruang dan waktu lebih banyak untuk mengenali masing-masing murid melalui asesmen diagnosis. Dalam melakukan asesmen ini, guru dapat dianalogikan bagai dokter bagi murid-muridnya. Seorang dokter itu tugasnya melakukan asesmen, bentuknya pemeriksaan kalau dokter. Pemeriksaan terhadap gejala, kemudian mengevaluasi, lalu tindak lanjut dengan memberikan resep obat sebagai solusi. Ketika kita sebagai guru melakukan asesmen diagnosis, berarti kita melakukan medical check up kepada murid-murid kita. Dengan hasil asesmen diagnosis, kita punya indikator analisis untuk mendapatkan informasi tentang kebutuhkan murid masing-masing. Lalu apa yang harus dilakukan setelah itu? Maka sama seperti dokter akan melakukan tindak lanjut dari gejala yang didapatkan. Guru pun akan melakukan tindak lanjut dengan merancang strategi pembelajaran yang berorientasi pada murid. Setelah Bu Susan selesai menyampaikan materi, rekan guru yang tergabung dalam Webinar Asesmen Diagnosis antusias bertanya dan berdiskusi. Pertanyaan yang cukup penting  adalah yang ditanyakan moderator dalam akun zoom Anis Ceha, apakah asesmen diagnosis hanya dilakukan kepada murid saja atau orang tua juga? “Pertanyaan bagus Bu” ungkap Bu Susan memberikan apresiasi. Asesmen diagnosis selain dilakukan kepada murid juga perlu dilakukan pada orang tua, karena latar belakang orang tua akan mempengaruhi proses belajar murid. Pengaruhnya terhadap inisiatif murid dan juga dukungan orang tua selam proses belajar. Pertanyaan berikutnya dari Bu Fatma, kalau untuk murid baru pada tingkat SD/MI pendekatan seperti apa yang digunakan untuk mengenali karakter murid pada saat PJJ? Secara kan murid barunya dari TK. “Perlu interaksi personal pada setiap murid lebih banyak. Strateginya bisa dengan kelas dikelompokan kecil” jawab Bu Susan yang juga mengingatkan untuk memberi waktu lebih banyak mendengarkan murid bercerita. Diskusi dan tanya jawab yang tidak semua dapat dituliskan, ditutup oleh penyataan penutup dari Bu Susan, “Asesmen diagnosis hal yang mungkin tidak kita alami dulu sebagai murid, namun untuk pembelajaran yang berpihak pada murid hal ini sangat esensial dan perlu dilakukan. Apalagi pada situasi pandemi saat ini.” Bagaimana rekan guru belajar  metode apa yang akan dipilih untuk melakukan asesmen diagnosis? Metode apapun yang akan Anda pilih, pada intinya hasil dari asesmen diagnosis diperlukan untuk merancang pembelajaran berorientasi pada murid. Sehingga akhirnya akan tercipta pembelajaran yang merdeka belajar. Salam Merdeka Belajar Neneng Nurbaeti 

Observasi Kelas Merdeka Belajar

Pusing menghadapi murid yang acuh dalam belajar khususnya saat PJJ? Ragu akan pentingnya observasi dalam pembelajaran di kelas? Bingung cara apalagi yang bisa dilakukan untuk melakukan asesmen selain asesmen kognitif? Yuk ikuti Obrolan Guru Merdeka Belajar (OGMB)! Deretan pertanyaan di atas terjawab tuntas pada Obrolan Guru Merdeka Belajar pada hari Selasa tanggal 31 Agustus 2021 secara live streaming di youtube. Obrolan berupa bincang seru ini dihadiri oleh dua narasumber keren. Ada ibu Cornelia Amita atau yang akrab disapa bu Mita yang juga berprofesi sebagai konselor middle school di Sekolah Cikal Serpong. Selain itu hadir juga ibu Anik Puspowati seorang guru PAUD di Fatif Edu. Bincang seru ini digawangi oleh moderator keren ibu Ira Ari Nuraini dari Kampus Guru Cikal. Perbincangan yang berlangsung secara santai selama tapi sarat makna dan kaya pengetahuan serta berdasarkan pengalaman empiris dua nara sumber yang mumpuni di bidangnya ini benar-benar mencerahkan. Peserta yang berasal dari guru-guru pembelajar seluruh Indonesia, dosen dan praktisi pendidikan ini membahas tentang pentingnya melakukan observasi yang dapat berfungsi sebagai asesmen di kelas-kelas merdeka belajar. Waktu 90 menit berlalu tak terasa karena diskusi mengalir dengan lugas dan berkualitas. Ketika membahas tentang pentingnya observasi bagi murid, bu Anik  memaparkan agar guru bisa memahami muridnya. Kenapa murid A begini. Guru bisa mengidentifikasi kemampuan dan aspek perkembangannya. Saat ditanya tentang caranya agar bisa mengenal murid lebih baik secara kognitif maupun nonkognitif, kedua narasumber sepakat melakukannya melalui observasi di kelas merdeka belajar. Menurut bu Mita, observasi adalah melakukan pengamatan dengan tujuan. Apalagi saat PJJ dimana kita hanya ketemu murid melalui tatap maya. Sebagian murid remaja menurut bu Mita cenderung untuk off cam karena sebagian murid usia remaja ini feeling insecure dengan penampilan fisiknya di layar. “Sebaiknya kita buat suatu kesepakatan bersama atau essential agreement dimana 10 menit pertama mereka harus buka kamera”, saran bu Mita. Beliau juga menjelaskan bahwa dari penampilan fisik murid, chatnya di WAG kelas dan memfollow IG nya, kita bisa mendapatkan data primer tentang murid. Selain itu, kita bisa mendapatkan dokumen sekunder dari rekaman, video bersama orang tuanya dan informasi dari guru sebelumnya. Baca juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Sementara itu, bu Anik yang merupakan seorang pendidik di tingkat PAUD justru menemukan kalau murid-muridnya lebih senang, kalau wajahnya kelihatan di kamera, karena usia seperti memang lebih suka melakukan eksplorasi dengan memencet tombol yang ada di piranti gawai atau laptop saat PJJ daring. Setelah itu, para murid akan berlari-lari terang bu Anik. Sama dengan bu Mita, bu Anik juga setuju, kalau dengan mengamati rekaman sesi zoomnya dan obrolan di WAG wali murid, data tentang murid akan didapatkan. Mengenai hal apa yang perlu disiapkan sebelum melakukan asesmen observasi di kelas merdeka belajar, kedua narasumber sepakat mengenai perlunya persiapan khusus. Menurut bu Anik, kita perlu mempersiapkan apa, kapan, bagaimana cara serta metodenya. Persiapan menyangkut format check list, anecdote, foto, HP , kertas dan sticky note. Sementara bu Mita lebih melihat ke tujuan asesmennya dan evaluasi kegiatan sebelumnya. Disamping itu, menurut beliau hendaknya ada semacam guidelines, check list, dan template untuk memasukkan foto dan video. Sasaran observasi menyangkut murid, orang tua atau teman-temannya juga perlu dipersiapkan agar bisa lebih fokus. Bu Ira sebagai pemandu diskusi juga menanyakan tentang sasaran yang tepat untuk observasi. Bu Anik menegaskan bahwa semua anak bisa diobservasi. Murid dilihat tumbuh kembangnya, orang tua diobservasi kondisi keluarganya serta bagaimana mereka berinteraksi dengan anaknya. Warga sekolah berupa orang dewasa sekitar anakpun tak luput menjadi sasaran observasi. Bu Mita menyatakan hal yang sama bahwa semua anak berhak, dan harus diobservasi. Observasi bisa berupa semacam personal treatment dan preferences yang hanya dimiliki anak. Atau dengan kata lain ada benchmark bagi setiap anak. Kita biasanya cenderung mengingat anak yang paling pintar atau paling sulit belajar. Ketika ditanya adakah cerita menarik selama melakukan observasi, keduanya kompak menjawab. Menurut bu Mita, di awal tahun ajaran baru selalu ada kejutan seperti murid kelihatan lebih cantik atau ganteng. Terkadang kita kaget dengan respon murid yang out of the box secara akademik. Makanya kita janganlah membatasi informasi yang masuk karena kita punya standar sendiri. Sering terjadi kejutan saat asesmen atau saat belajar. Menurut bu Anik, beliau kadang terkejut dengan anak yang bertambah tinggi badannya pas saat masuk sekolah lagi. Hal yang mengagetkan menurut beliau, kadang saat daring mereka berlarian, tapi saat luring bisa lebih fokus belajarnya. Bahkan murid yang hanya merepon dengan mengangguk atau menggeleng saat daring , bisa memberikan respon lebih saat luring. Berbicara soal tindak lanjut yang tepat setelah mendapatkan data observasi primer dan sekunder, kedua narasumber menyampaikan kalau mereka amat paham dengan beban administrasi guru yang banyak. Bu Mita mengingatkan para guru agar lebih teliti dalam menyeleksi data dan bukti pembelajaran, lalu melakukan kompilasi sehingga lebih paham akan tujuan observasi. Disamping itu, disarankan untuk sharing dengan guru kelas dalam rangka pengerucutan data serta mendiskusikan hasilnya dengan orang tua murid. Sedangkan bu Anik juga mengungkapkan hal yang senada. Data yang didapat disimpulkan, diinterpretasi dan hasilnya dibawa untuk bahan diskusi dengan orang tua. Hasil observasi disusun dalam google drive. Setelah sebulan, data tersebut diidentifikasi tindak lanjutnya sehingga didapat informasi aktual misalnya masih ada anak yang belum bisa mewarnai di usianya dan menggambar tidak sesuai dengan kemauannya. Pertanyaan terakhir dari bu Ira sebagai pemandu jalannya diskusi menyangkut bagaimana mengaitkan berbagai asesmen seperti proyek, observasi, wawancara, tugas dan tes tertulis. Hal ini dijawab secara lugas oleh bu Mita bahwa keseluruhan asesmen di atas saling terkait dan dapat dijadikan bahan untuk saling memperkaya pemahaman terhadap anak sehingga kita memiliki pemahaman yang utuh terhadap seorang anak. Bu Anik menambahkan perlu adanya penekanan pada aspek mana yang akan disasar dan tujuan pembelajarannya. Intinya menurut beliau, sebagai guru kita harus cerdas dalam memilih asesmen. Sementara itu, peserta terlihat sangat antusias dengan mengajukan berbagai pertanyaan di kolom chat. Diantaranya ada Ibu Supadmi yang meminta contoh observasi di tingkat SD dan kapan pelaksanaanya. Ada lagi ibu Anggun Dwi Lestari yang menanyakan bagaimana bentuk asesmen murid dengan tingkat kognitif rendah saat PJJ. Ibu Ayu Ade Irene ingin tahu adakah bentuk asesmen khusus untuk observasi. Berikutnya ada ibu Carla Adi Pramono yang bertanya tentang pengalaman empiris terkait asesmen observasi  yang digunakan … Read more