Guru Merdeka Belajar, Melawan Miskonsepsi Belajar

Hari Jum’at sore tanggal 24 Mei 2019, dalam rangka Temu Pendidik Daerah (TPD), Komunitas Guru Belajar (KGB) mengadakan nonton bareng atau nobar video Guru Merdeka Belajar di salah satu rumah penggerak, Guru Niken. Sambil menunggu waktu berbuka puasa, kami mencoba mengobrol ringan sambil menonton bersama video ibu Najelaa Shihab, pendiri Kampus Guru Cikal dan Inisiator Komunitas Guru Belajar, saat berbicara di acara Temu Pendidik Nasional (TPN) 2016.  Banyak hal yang kami dapatkan setelah menonton video ini. Kami merasa mendapat sebuah pencerahan sebagai seorang guru. Pencerahan yang nantinya diharapkan dapat memberikan perubahan bagi kami. Perubahan yang sangat penting bagi kami yang mengabdikan separuh waktu dan tenaga untuk selalu menjadi bagian dari dunia pendidikan Indonesia. Apa yang kami rasakan adalah guru perlu menjadi guru yang merdeka belajar. Guru yang tidak berhenti untuk mengembangkan dirinya dan merasa terkekang. Guru yang terus berusaha melawan beberapa miskonsepsi yang terjadi di pendidikan. Dari sinilah kami menjadi paham dan menyadari bahwa setidaknya guru harus mencari solusi menjadi guru merdeka belajar di kelas untuk membawa pembelajaran di kelas lebih bermakna.  Sebelum menginjak acara inti yaitu pemutaran video guru merdeka belajar, saya sebagai fasilitator sekaligus moderator membuka acara nonton bareng dengan memberikan gambaran susunan acara. Peserta yang seluruhnya adalah guru terlihat sangat antusias. Ada sekitar 13 peserta yang hadir saat itu sehingga saya juga mengajak mereka untuk bertukar pikiran tentang hal-hal yang berkaitan dengan arti kata “merdeka”, apa sebenarnya merdeka belajar, bagaimana menciptakan kelas yang merdeka belajar, dsb. Ada beberapa jawaban mengenai apa itu merdeka belajar dari salah satu guru yang berkomentar bahwa guru merdeka belajar adalah guru yang punya kebebasan untuk belajar apapun yang tujuannya untuk selalu upgrade kemampuan diri. Setelah sesi bincang santai dilanjutkan sesi pemutaran video dengan durasi 15 menit.  Video yang berisi pemaparan dari Ibu Najelaa Shihab ini membuka jendela wawasan para peserta terutama diri saya pribadi. Video ini mampu menjawab rasa keingintahuan saya selama ini bahwa guru adalah seseorang yang perlu merasa merdeka dalam belajar. Bukan hanya saya saja yang merasakan pentingnya merdeka belajar, namun semua peserta guru merasakan hal sama. Bu Najelaa menjelaskan banyak sekali cara-cara seorang guru yang merdeka belajar. Menurut beliau ada tiga hal urgensi utama guru sebagai pendidik yang merdeka yaitu; 1) Komitmen, 2) Memiliki kemandirian, dan 3) Berefleksi. Di bawah ini akan saya paparkan secara singkat tiga hal di atas sesuai dengan apa yang Ibu Najelaa Shihab jelaskan di dalam video yang kami tonton bersama; 1). Komitmen Guru harus memiliki komitmen kuat terhadap tujuan yang akan diraih. Tujuan pembelajaran yang memberi pengaruh terhadap perkembangan anak didik di dalam kelas. Tujuan yang membawa guru untuk selalu semangat menciptakan inovasi-inovasi pembelajaran.Namun, ada saja tantangan yang dirasakan di dalam prosesnya yaitu kadangakala guru lupa membedakan mana yang termasuk cara dan tujuan komitmen. Banyak guru malah menghabiskan waktunya untuk fokus mengurus tugas administrasi, menyiapkan akreditasi, atau ketentuan birokrasi lainnya yang sebenarnya adalah cara namun kemudian menjadi prioritas dan tujuan utama. Sehingga, guru cenderung mengesampingkan komitmen awal yang dimiliki. 2). Kemandirian Dalam kemandirian, ada sebuah anak tangga tingkatan dimulai dari tingkata pertama yaitu anak tangga (1) manipulasi, (2) kesadaran, (3) interaksi/dialog, (4) masukan/konsultasi, (5) kemitraan, (6) pemberdayaan, (7) kendali, dan (8) mandiri. Menjadi guru mandiri tidaklah mudah karena ada banyak anak tangga yang perlu dilewati dan konsistensi sehingga menjadi guru yang memegang kendali atas proses belajar masing-masing dan kemudian berada di atas puncak sebagai guru mandiri.  3). Refleksi Kegiatan refleksi adalah kegiatan melihat cermin dan mengamati diri sendiri sebagai pelaku utama dalam kelas namun hal ini sulit untuk dilakukan. Akhirnya, banyak diantaranya yang selalu berdalih untuk melihat pelaku lain sebagai alasannya, seperti masyarakat belum paham, murid-murid tidak mengerti, orang tua yang menentang yang faktanya diri sendirilah yang merasa takut untuk berubah.  Ada banyak hambatan dan permasalahan untuk menjadi guru yang merdeka belajar yaitu memahami adanya miskonsepsi di dalam dunia pendidikan. Miskonsepsi yang perlu ditindaklanjuti oleh guru belajar agar dapat mewujudkan sistem pendidikan nasional, yaitu: Guru mau belajar seringnya terdorong karena motivasi eksternal (mendapat sertifikat, insentif, namun sejatinya guru perlu belajar sebagai kebutuhan alamiah. Tidak ada paksaan ataupun iming-iming saat mau belajar. Guru banyak yang ingin belajar dari para pakar pendidikan, padahal belajar antarsesama guru dapat menjadi salah satu cara efektif untuk saling bertukar informasi dan berbagi tentang praktik baik di pembelajaran. Guru hanya terbatas membangun pertanyaan dengan “how to”, tetapi secara aplikatif guru perlu mengenalkan hal-hal yang berbeda dan menarik kepada murid-muridnya. Guru yang adaptif belajar dengan tujuan dalam konteks yaitu dengan mmberikan pertanyaan-pertanyaan tentang “why” dalam setiap kondisi di dalam kelas. Guru sering fokus terhadap pemenuhan target yang dipaksakan  untuk selesai serta nilai capaian KKM dengan mengejar ketertinggalan materi di dalam kompetensi dasar pembelajaran. Namun, secara alami, proses belajar membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Seiring dengan proses belajar yang membutuhkan waktu, guru dapat menciptakan inovasi dengan baik dengan melihat dan memahami inovasi tersebut apakah sudah sesuai kebutuhan murid atau belum. Guru lebih mengutamakan kompetensi secara individual ketika belajar. Tetapi, guru merdeka belajar adalah mereka yang berani mengambil aksi untuk kompetensi tumbuh bersama lingkungan. Oleh karena itu, guru butuh teman kolaborasi untuk bertindak dan menyamakan persepsi menjadi guru merdeka belajar.  Setelah pemutaran video, sesi berikutnya adalah refleksi bersama. Di sesi refleksi, guru secara bergantian menjawab pertanyaan. Beberapa peserta menjelaskan pengalamannya berkaitan dengan miskonsepsi yang terjadi di lingkup pendidikan sekolah mereka. Pak Huda berpendapat bahwa miskonsepi yang beliau rasakan adalah belajar dikejar target materi yang terkadang membuat murid jenuh dan tertekan ditambah dengan adanya kompetisi-kompetisi atau lomba yang dapat mengurangi jam murid untuk belajar. Padahal idealnya, belajar membutuhkan waktu yang tidak sebentar (tidak bisa instan). Selain itu, masih banyak pendapat lain terkait menjadi guru merdeka belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan miskonsepsi di dunia pendidikan.  Akhirnya dari serangkaian kegiatan nonton bareng video merdeka belajar, kami sama-sama memahami bersama bahwa guru yang merdeka belajar tidak semudah yang dibayangkan. Guru merdeka belajar yaitu dia memiliki komitmen pada tujuan pencapaian, meningkatkan kemandirian, dan berusaha melakukan refleksi di setiap akhir kegiatannya. Pastinya guru merdeka belajar adalah guru yang memiliki semangat berkembang dan mandiri demi terwujudnya pendidikan Indonesia yang lebih baik.

Menyebarluaskan Prinsip Merdeka Belajar

Bulan ini adalah waktu sibuk bagi kami guru menjelang akhir tahun. Kesibukan menyelesaikan materi dan menjelang PAT. Perasaan yang sangat acak kami rasakan. Di tengah perasaan ini, alarm ajakan untuk menjadi guru merdeka belajar berbunyi. Seketika cukup menggetarkan hati kami, para guru yang tergabung dalam Komunitas Guru Belajar Pekalongan. Ada semangat untuk memulai aktivitas menjadi penggerak karena keresahan yang kami rasakan, namun di sisi lain kami sebagai calon penggerak barumerasa bingung. Menjadi penggerak itu yang bagaimana, sudahkah aktivitas merdeka belajar itu hadir di kelas-kelas kami atau belum. Semangat terus naik namun beriringan dengan kebimbangan yang terus muncul. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk berdiskusi dan mencari tahu, bagaimana aktivitas merdeka belajar yang sesungguhnya. Salah satu hal yang saya senangi di Komunitas Guru Belajar Pekalongan adalah membaurnya penggerak dengan anggota. Mungkin itu juga yang akhirnya menarik minat banyak anggota untuk turut serta bergerak dalam pendidikan yang lebih baik di Pekalongan. Kami (penggerak dan anggota) mendiskusikan bersama tentang apa itu merdeka belajar dan mekanisme menjadi penggerak. Tak ada sekat yang menghalangi kami untuk berdiskusi. Penggerak yang sudah aktif dengan senang hati menawarkan diri untuk membantu, sekedar memfasilitasi pertanyaan dengan tim Kampus Guru Cikal sampai ada yang menawarkan rumah dan peralatan nobar bagi calon penggerak. Kampus Guru Cikal sedang menyuarakan gerakan nobar Guru Merdeka Belajar. Akhirnya disepakati untuk mencari jawaban melalui kegiatan nobar tersebut. Penggerak yang sudah aktif memberikan kesempatan kepada calon penggerak untuk menjadi moderator dan memprakarsai acara, dari sejak awal membuat poster, mendaftarkan acara ke tim Kampus Guru Cikal, mengkoordinir peserta untuk nobar, dan mengadakan nobar kemudian membuat laporan. Saya adalah calon penggerak pertama yang mengadakan sesi nobar dengan bantuan penggerak yang sudah aktif. Awal kali bersepakat untuk mengadakan nobar di rumah Guru Niken, namun karena ada beberapa hal yang perlu disesuaikan jadwalnya dengan rapat ransel, akhirnya diputuskan nobar diadakan di rumah Guru Niam, tanggal 18 Mei 2019. Sebelum memulai nobar, saya mencoba membuka kembali obrolan tentang apa itu merdeka belajar ? Apa yang sudah kita pahami selama ini tentang merdeka belajar ? Beberapa guru menjawab merdeka belajar adalah bebas untuk belajar tanpa ada paksaan. Rata-rata jawaban berkutat seputar itu. Karena sudah tidak ada jawaban lain lagi, saya putarlah video merdeka belajar dari Bu Ela untuk mencari pencerahan bersama-sama, apa sih sebenarnya makna merdeka belajar itu. Dari penanyangan video tersebut, kami menemukan jawaban bahwa merdeka belajar itu berangkat dari keresahan bahwa dunia anak-anak hanya terbatas di ruang kelas. Mimpinya hanya terbatas oleh tingginya tangan mereka untuk menjawab pertanyaan guru. Padahal yang kita inginkan adalah anak-anak yang memiliki aspirasi yang tinggi, cita-cita yang tinggi melampui langit. Dan ini hanya baru akan terjadi ketika anak-anak itu memiliki kemerdekaan belajar dalam diri mereka. Sementara itu, agar anak-anak memiliki kemerdekaan belajar dalam diri mereka, pendidik harus terlebih dahulu memiliki kemerdekaan belajar.Beberapa kalimat tersebut membuat peserta nobar semakin bertanya, lantas apa itu sebenarnya merdeka belajar ? dan inilah hasil pembelajaran yang kami dapatkan. Ada beberapa esensi merdeka belajar, yaitu : komitmen, kemandirian, dan refleksi. Komitmen. Komitmen adalah fokus terhadap tujuan. Permasalahan kita sebagai pendidik saat ini adalah sulitnya membedakan antara cara dan tujuan. Kita masih terjebak pada tugas administratif dan keterikatan dengan birokrasi, yang seharusnya itu semua hanyalahcara kemudian menjadi tujuan dan prioritas bahkan lebih tinggi dari tujuan awal menjadi pendidik itu sendiri. Kemandirian. Banyak upaya pengembangan guru yang penuh manipulasi berupa insentif atau tunjangan lain yang membuat guru menjadi sulit untuk memegang kendali atas proses belajar dan mencapai kemandirian dalam belajar. Refleksi. Sebagian dari kita cenderung menutup mata dan menolak untuk melihat cermin namun lebih suka menyalahkan pihak lain di luar diri kita. Inilah yang sebenarnya menghambat kita untuk menjadi pendidik yang merdeka. Dari 3 esensi menjadi guru merdeka belajar di atas, saya melemparkan beberapa pertanyaan refleksi. Diskusi berjalan dengan sangat mengalir, satu sama lain saling bersahut memberikan refleksi tanda memiliki keresahan yang sama. 1. Apa yang dipahami tentang merdeka belajar setelah menonton video tersebut ? “Merdeka belajar adalah memiliki komitmen yang kuat terhadap pendidikan yaitu membuat murid menjadi berdaya, memiliki kemandirian terhadap kelas yang kita ajar dan selalu refleksi di akhir pembelajaran. Namun saya membayangkan ini adalah hal yang cukup sulit untuk dilakukan. Mungkin bisa jadi awalnya kita sudah idealis memiliki tujuan kemudian merumuskan cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut, namun seringkali cara tersebut tidak berjalan saat kita dihadapkan pada tekanan-tekanan eksternal, misalnya waktu ulangan yang semakin mepet, agenda sekolah yang semakin sedikit karena penyesuaian kebijakan dan sebagainya. Ditambah lagi, kita masih sering lupa refleksi. Padahal refleksi yang akan membantu kita untuk mengevaluasi diri, proses mana yang terlewat dalam menerapkan merdeka belajar di ruang kelas kita. Hasilnya, penerapan cara yang masih sulit karena banyaknya tekanan dari luar tadi kurang terefleksikan. Proses mengajar berasa menjadi sebuah rutinitas tanpa mengarah pada tujuan” ucap Guru Rayinda 2. Apakah selama ini kita sudah menjadi pendidik yang menerapkan kemerdekaan dalam belajar ? “Saya tidak tahu apakah saya sudah bisa disebut sebagai guru merdeka belajar atau belum, sebab selama ini saya sendiri juga masih terbawa tuntutan untuk mengikuti berbagai macam yang terkadang aturan-aturan tersebut melupakan kemerdekaan belajar bagi murid. Namun sebisa mungkin saya berusaha untuk tetap bisa mengendalikan suasana belajar di kelas saya. Suatu malam tiba-tiba muncul ide untuk menerapkan pembelajaran dengan film, sebagaimana pelatihan yang sudah saya dapatkan melalui KGB Pekalongan bekerja sama dengan Sinedu dan Kampus Guru Cikal. Respon anak-anak luar biasa, mereka bisa refreshing sambil belajar, tanpa menghilangkan sisi pembelajaran. Kebetulan waktu itu adalah watunya belajar tentang unsur intrinsik dan ekstrinsik. Namun itu tadi, terkadang sulit untuk mengatur ritme karena ada tuntutan aturan dari lingkungan ekosistem tempat kami bekerja.” Ucap GuruZidnil 3. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya untuk menerapkan merdeka belajar ? Guru Niam sebagai pendamping kegiatan nobar kami memberikan jawaban yang mencerahkan dan membangun semangat kami kembali. “Oleh karena itu agar kita tidak terlalu kesulitan untuk menerapkan kemerdekaan belajar, hal yang harus kita lakukanadalah dengan mengajak sebanyak-banyaknya teman yang berada di lingkungan ekosistem kita untuk sama-sama merdeka. Dengan begitu kita akan lebih memiliki power untuk bergerak bersama menjadi guru merdeka belajar”. Ya betul, disadari peserta nobar yang datang kala itu berasal dari sekolah yang berbeda-beda. Artinya … Read more

Guru Merdeka Belajar, Belajar tanpa Janji Sertifikat

“Apakah Ibu dan Bapak guru merasa merdeka? Kalau tidak merasa merdeka tidak perlu ada, datang, dan belajar, karena itu resep dasar sebetulnya,” kata Najelaa Shihab. Rabu (1/05) siang, empat orang guru menempuh perjalanan berjarak kiloan meter dari sudut-sudut yang berbeda, di dalam satu kota yang sama, Kota Cimahi. Tepat satu hari sebelum peringatan Hari Pendidikan Nasional. Mereka bergerak atas inisiatif pribadi, mengalokasikan waktu, tenaga, danbiaya untuk bisa sampai ke lokasi SD Peradaban Insan Mulia. Tempat di mana Komunitas Guru Belajar (KGB) Cimahi menggelar Nonton Bareng Merdeka Belajar (#NobarMerdekaBelajar). Kegiatan dibuka oleh Guru Suhud dengan menampilkan beberapa gambar unik, sebagai medium untuk lebih mencairkan suasana di antara peserta. Dilanjutkan dengan kegiatan pra-menonton, seluruh peserta diminta menjawab terlebih dahulu, “Apa itu Merdeka Belajar?” Peserta memperoleh kertas kecil untuk menuliskan jawaban dari pertanyaan tersebut. Selesai menulis, semua peserta mendiskusikan apa yang telah dituliskan. Beragam jawaban peserta mengenai merdeka belajar. Ada yang mendefinisikan, “Merdeka belajar artinya guru dan siswa sepakat dengan tujuan yang hendak dicapai”. Ada juga yang memandang, “Merdeka belajar adalah tanpa paksaan.”. Pendapat lainnya muncul, “Merdeka belajar adalah menjalani belajar sebagaimana fitrah manusia, alamiah dan muncul dari internal diri sendiri.” Di sesi ini, peserta hanya saling menyampaikan pendapat. Berikutnya adalah sesi pemutaran Video Merdeka Belajar. Di ruang yang redup, peserta mulai memfokuskan diri pada tayangan yang diproyeksikan ke layar. Nampak inisiator Komunitas Guru Belajar, Najelaa Shihab berada di atas panggung. Peserta #NobarMerdekaBelajar terlihat mulai membenarkan letak duduk dan memfokuskan perhatian pada apa yang ada dalam tayangan. Dibuka dengan penuturan Bu Elaa, sapaan akrab Najelaa Shihab, mengenai apa dan kenapa ‘Merdeka Belajar’. “Pada saat kita bicara merdeka belajar, Ibu dan Bapak. Saya tuh selalu terbayang anak-anak. Sebagian besar anak Indonesia itu dunianya hanya sebatas ruang kelasnya, mimpinya hanya terbatas tingginya tangan untuk menjawab pertanyaan gurunya,” kata Bu Elaa. Peserta #NobarMerdekaBelajar nampak bereaksi, terdengar tawa kecil yang satir, juga terlihat pergeseran posisi tubuh, kalimat tersebut seperti memantik kegelisahan pada peserta Nobar hari ini. “Yang kita inginkan adalah anak-anak yang punya aspirasi tinggi, yang punya cita-cita melampaui langit. Melampaui batas ruang kelas, melampaui batas dunianya. Dan ini hanya akan terjadi pada saat anak-anak punya kemerdekaan belajar. Tapi kemerdekaan belajar murid-murid hanya akanterjadi pada saat kita sebagai pendidik juga sebetulnya memiliki kemerdekaan,” lanjut Bu Elaa. Ada beberapa hal esensial yang disampaikan dalam tayangan. Dikemukakan bahwa ada 3 ciri utama pendidik yang ‘Merdeka Belajar’. Pendidik yang merdeka memiliki komitmen, memiliki kemandirian, dan selalu reflektif. Selanjutnya, dipaparkan mengenai ragam miskonsepsi yang kerap dilekatkan pada guru. Diantaranya mengenai stigma bahwa guru hanya mau belajar apabila mendapatkan sertifikat atau uang. Namun Guru-guru di KGB justru melawan miskonsepti tersebut. “Guru-guru belajar yang hadir hari ini sebetulnya belajar karena kebutuhan alamiah. Banyak yang tidak percaya bahwa rekan-rekan guru ini datang dengan biaya sendiri, tanpa janji sertifikat atau uang apapun, hanya untuk belajar,”Bu Elaa menegaskan. Miskonsepsi lainnya adalah mengenai stigma bahwa guru hanya bisa belajar dari ahli atau pakar pendidikan, faktanya di komunitas belajar, guru saling belajar dari pengalaman rekan seperjalanan; guru diburu target belajar yang dipaksakan, padahal guru belajar itu butuh waku; bahwa guru hanya cukup perlu diberikan cara bagaimana melakukan (how to) saja, tanpa perlu tau mengapa (why) perlu melakukan suatu hal dalam pembelajaran. Padahal jelas Bu Elaa,”Guru profesional itu sebetulnya guru yang adaptif, Ibu dan Bapak. Kita yang ketemu anak setiap hari tau, betapa pentingnya peran guru yang adaptif. Setiap tahun ajaran, setiap minggu, bahkan setiap hari. Setiap murid kita butuh hal yang berbeda dari kita, sehingga ‘tau kenapa’ menjadi sangat esensial.” Menit ke menit tayangan diputar, akhirnya sampai pada menit terakhir. Selepas Nobar, peserta melakukan refleksi bersama-sama. Ada daftar pertanyaan yang perlu dijawab terlebih dahulu oleh masing-masing orang, selanjutnya jawaban dari tiap orang menjadi bahan diskusi pasca-Nobar.Dari refleksi peserta yang hadir, didapati salah satu tantangan yang masih menjadi topik hangat adalah seputar ‘target belajar yang dipaksakan’ dan ‘tuntutan administratif yang kerap kali mengaburkan komitmen pada tujuan pendidikan.’ “Banyak yang tidak sadar bahwa belajar butuh waktu. Sehingga yang dikejar adalah yang penting materi (red-pelajaran) tersampaikan,” ungkap salah satu peserta Nobar, Gilang Purnama. Mengenai perubahan apa yang kemudian ingin dilakukan, peserta lain Siti Nuraini mengemukakan, “Saya ingin menanamkan motivasi intrinsik siswa, apa alasan siswa harus belajar? Sehingga siswa mempunyai kesadaran dan kebutuhan, juga dorongan untuk belajar yang berasal dari dalam dirinya sendiri.” Pertanyaan terakhir yang menjadi topik diskusi adalah “Apa yang ingin teman-teman lakukan bersama Komunitas Guru Belajar (KGB)?”. Diskusi berkembang pada bahasan lebih dalam mengenai KGB. Tentang tujuan dan nilai-nilai yang melandasi KGB. Juga dinamika yang terjadi di dalam KGB,khususnya KGB Cimahi. Dan bahasan mengenai KGB menjadi penutup kegiatan hari ini sekaligus menjadi awal bergabungnya Gilang dan Siti sebagai bagian dari ‘Penggerak KGB Cimahi’. “Kita sendiri sebagai individu itu beragam sehingga yang kita lakukan di sini adalah membuat jaringan, jaring pengetahuan juga jaring emosional. Dan saya yakin inilah sesungguhnya demokrasi dalam pendidikan. Dan saya yakin kita bisa sepakat bahwa membuat jaring-jaring ini dan memerdekakan diri kita sendiri sebetulnya esensi dari merdeka belajar. Bahwa apa yang kita lakukan adalah yang kita nanti-nantikan. Jadi kita tidak perlu menunggu siapapun untuk merdeka belajar.” Kata Bu Elaa pada menit-menit terakhir video yang “Memerdekakan diri kita sendiri sebetulnya esensi dari merdeka belajar. Bahwa apa yang kitalakukan adalah yang kita nanti-nantikan. Jadi kita tidak perlu menunggu siapapun untuk merdeka belajar.” tutup Bu Elaa dalam tayangan Video Merdeka Belajar.

Guru Merdeka Belajar ,Mengulik Miskonsepsi Guru Belajar

Apa sih merdeka belajar itu?Kenapa belajar harus merdeka?Lho kok belajar ada miskonsepsinya? Bagaimana cara agar bisa merdeka belajar dan menangani miskonsepsi itu? Pada tanggal 12 Mei 2019 KGB kudus mengadakan nobar atau nonton bareng video Guru Merdeka Belajar. Apa pentingnya sih acara nobar ini?Di dalam video guru merdeka belajar ini, mengulik keseluruhan miskonsepsi dalam pendidikan di era sekarang. Banyak sekali yang menjadi penghambat guru mengembangkan dirinya, dan mungkin menyebabkan pembelajaran di kelas jadi “membosankan” alias “bikin ngantuk!”. Tidak hanya miskonsepsi yang dibahas dalam kegiatan nobar ini, ada pula cara bagaimana menjadi guru yang merdeka belajar. Nah dari sini kita bisa tau, kenapa bisa begitu? Bagaimana solusinya agar guru bisa merdeka belajar serta mengembangkan dirinya? Ada beberapa susunan acara, sebelum pemutaran video, moderator menanyakan apa yang dipahami oleh peserta tentang merdeka belajar. Guru Shofi berpendapat, “Merdeka belajar tanpa terlalu terkekang dengan administrasi”. dan ada juga yang berpendapat Guru Ayu, “Guru yang dapat memotivasi diri sendiri untuk menciptakan hal baru dalam pembelajaran dan mampu belajar terus”. Kemudian dilanjutkan dengan pemutaran video dengan durasi 15 menit. Dalam video tersebut memaparkan beberapa cara mejadi guru yang merdeka belajar dan miskonsepsi yang memang terjadi sekarang ini. Menjadi guru yang merdeka belajar terdapatbeberapa hal yang essensial, pendidik yang merdeka itu punya komitmen, memiliki kemandirian dan berefleksi. Berkomitmen dengan tujuan, yang menjadi tantangan dalam hal ini adalah kita lupa membedakan cara dengan tujuan. Kita terjebak pada tugas – tugas administratif, akkreditasi, ketentuan birokrasi yang sebenarnya semua hanya cara namun kemudian menjadi tujuan dan prioritas utama. Hal yang kedua kemandirian, ini perlu adanya tingkatan – tingkatan seperti manipulasi, kesadaran, interaksi/dialog, masukan/konsultasi, kemitraaan, pemberdayaan, memegang kendali atas proses belajar kita sendiri dan mejadi guru mandiri. Melakukan tingkatan – tingkatan tersebut bukan lah hal mudah tentunya, perlu konsistensi yang tinggi untuk menuju puncak tingkatan. Yang terakhir adalah refleksi, yang mudah dikatakan namun sulit untuk melakukan. Kita cenderung menutup mata menolak melihat cermin dengan seribu alasan. Kita selalu bilang, masyarakat belum paham, anak – anak tidak mengerti, orang tua akan menentang, padahal itu adalah ketakutan kita sendiri untuk menuju berubahan. Menjadi guru yang merdeka belajar tentu ada hambatan dan permasalahan yang kompleks di era pendidikan sekarang. Adanya beberapa miskonsepsi seperti belajar diburu target yang dipaksakan, sedangkan belajar itu sendiri butuh waktu. Bukan hanya 1 hari 2 harimateri selesai untuk mengejar kompetensi dasar untuk memenuhi nilai capaian KKM. Belajar cukup terbatas “How to?” padahal belajar harus dengan tujuan dalam konteks. Tak melulu membaca buku teks mejawab pertanyan, mengisi LKS, namun harus ada penjelasan dan contoh yang mungkin bisa berupa pengamatan sederhana dikaitkan dengan kehidupansehari- hari agar mengena. Bagaimana guru dapat mengatasi permasalahan tersebut? Jawabannya adalah guru harus merdeka belajar. Guru mau belajar kembali. Bukan belajar perlu intensif eksternal, bukan hanya untuk mendatkan sebuah poin tertentu, ataupun sebuah penghargaan namun belajar sebagai kebutuhan alamiah. Harus membaca lagi, harus melakukan riset dengan hasil inovasi pembelajar yang mampu diterapkan didalam kelas. Terakhir belajar tak melulu harus dari ahli namun bisa belajar dari sesama guru. Saling berbagi informasi dan pengalaman, materi maupun treathmen terhadap anak yang perlu perlakuan “khusus” dikelas dengan berbincang santai tapi penuh makna. Setelah pemutaran video, peserta diajak untuk merefleksikan dengan durasi 30 menit. Beberapa peserta mengutarakan pengalamannya berkaitan denga miskonsepsi tersebut. Seperti contohnya miskonsepsi belajar perlu intensif eksternal, Guru Shofi berpendapat, “Kebanyakan guru yang mau belajar hanya untuk mendapatkan sertifikat dan imbalam sekolah.” Dalam konteks miskonsepsi lainnya belajar diburu target yang dipaksakan, Guru Tika berpendapat,“Terkait administrasi dan untuk mengejar akreditasi nilai siswa harus mencapai KKM bagaimanapun caranya.” dan masih banyak pendapat lainnya yang muncul terkait miskonsepsi guru merdeka belajar dilingkungan sekolah. Selain pendapat tersebut banyak peserta yang mengemukakan pendapat untuk mengembangkan beberapa inovasi yang menjadi salah satu langkah memerdekakan kelasnya, salah satunya ingin membuat sebuah produk dari KGB Kudus yang dapat dimanfaatkan dan ditiru oleh guru-guru tidak hanya tersekat dalam ruang kelas, namum dapat memanfaatkan apa yang ada dilingkungan sekitar untuk menjadi media belajar. Melakukan sebuah perubahan dan meminimalisir miskonsepsi ini, resep utamanya adalah guru yang mau terus belajar. Mencari bagaimana cara membuat inovasi,mengembangkan diri menjadi guru yang merdeka belajar, dengan tahapan berkomitmen dengan tujuan, meningkatkan kemandirian dengan memegang kendali proses belajarnya sendiri, yang selalu membuka mata hati dan pikiran untuk melakukan refleksi diri. Tentunya dengan penuh semangat, kesadaran maupun rasa tanggung jawab agar tujuan pembelajaran tercapai dan bermakna menuju perubahan pendidikan Indonesia yang lebih baik lagi.

Kobarkan Semangat Merdeka Belajar

Bertepatan dengan momentum Hari Pendidikan Nasional, KGB Semarang mempersembahkan sebuah event berbasis pelatihan bertemakan “Guru Merdeka Belajar”. Pelatihan ini tercipta dari sebuah amanah yang diberikan Kampus Guru Cikal kepada Komunitas Guru Belajar Semarang. bertempat di Qita Yoga Studio Jalan Kyai Saleh 13 Semarang, acara ini berlangsung dari pukul 08.00 hingga 12.00 WIB. Guru Merdeka Belajar, sebuah tagline yang tidak asing kita dengar namun, sudahkah semua guru memaknai arti di dalamnya? Pelatihan Guru Merdeka Belajar bertujuan supaya seorang guru mengalami pengalaman merdeka belajar, memahami hakikat belajar dan memahami miskonsepsi guru belajar. Merdeka belajar adalah sebuah pondasi untuk pengembangan diri seorang guru serta sebagai wadah untuk melakukan praktik pembelajaran yang bermakna untuk murid. Diikuti oleh kurang lebih 20 peserta, pelatihan berjalan begitu aktif dan kondusif. Acara yang berlangsung kurang lebih 3 jam ini pertama-tama dipandu oleh Guru Rosa dari KGB Semarang. Tak pernah lupa untuk mencairkan suasana pelatihan GMB ini, maka diawalilah dengan ice breaking dan beberapa games. Memasuki acara selanjutnya, yaitu orientasi yang dibawakan oleh Guru Erna. Orientasi ini meliputi pembahasan kesepakatan kelas, pengisian SIP oleh peserta pelatihan dan memastikan bahwa peserta telah mengisi assessment Pra Pelatihan GMB. Sebuah kata membuka sesi pertama acara inti ini, “Sebenarnya setiap saat seorang guru mempunyai pengalaman yang sangat berharga. namun sayang, tak ada yang mau mendengarkan pengalaman itu, termasuk guru itu sendiri.” Guru Anik sebagai narasumber lantas memaparkan beberapa masalah dan miskonsepsi yang ada di pada dunia pendidikan. Kemudian Guru Anik juga memvisualisasikannya dengan mengajak peserta pelatihan untuk role playing terhadap suatu pembelajaran di kelas menggunakan metode direct instruction dan diferensiasi. Awalnya peserta dibagi menjadi beberapa kelompok, dan setelah role playing usai, peserta diminta untuk mendiskusikan perbedaan yang ada pada dua metode. Dari hal tersebut, Guru Anik menarik benang merah tentang apa itu merdeka belajar dan bagaimana praktiknya dalam kelas. Para peserta juga melakukan refleksi individu, kemudian refleksi berkelompok terkait jenis pengajaran yang bagaiman yang harus dihentikan, mana yang dilanjutkan dan mana yang diperbaiki. Pada sesi kedua, Guru Anik memutarkan sebuah video pendek dari seorang sosok guru yang menginspirasi bernama Ameliasari dari Salatiga. Peserta dibuat terkagum-kagum akan perubahan dari Guru Amel yang awalnya hanya mementingkan hasil semata menjadi guru yang memperhatikan proses juga menginspirasi. Pelatih juga mengajak peserta untuk memahami pengembangan diri guru, kompetensi yang ada pada guru serta karier guru melalui 4 kunci pengembangan guru. Pelatihan semakin terasa kebermanfaatannya setelah memasuki sesi tanya jawab. Bahkan kisah haru pun tercurahkan dari seorang peserta pelatihan yang menceritakan tantangannya mempraktikkan dan mengajak rekan sesama pendidik mengobarkan semangat merdeka belajar dalam kelas. Tak mudah memang, apalagi sampai dibilang “Anak kemarin sore kok begitu”. Sesi pelatihan ini ditutup dengan refleksi dan pemberian challenge untuk peserta pelatihan. Binar mata seorang guru yang merdeka belajar pun mulai terpancar dari para peserta pelatihan GMB ini. Tetap kobarkan semangat merdeka belajar kepada sesama pendidik dan menjadi teladan sepanjang hayat bagi para murid. Mengajar dengan sepenuh hati, bukan lagi tergoda oleh sertifikasi maupun nilai-nilai kompetensi. Saya Guru Merdeka Belajar. Semarang, 2 Mei 2019Komunitas Guru Belajar Semarang.

Merdeka Belajar, Mengembalikan Tujuan Guru Belajar

“Merdeka belajar” itulah kata yang sering kita dengar di komunitas guru belajar. Guru belajar, akhir-akhir ini itulah yang dilakukan oleh banyak guru disetiap pelosok negeri salah satunya guru-guru MI Walisongo Kranji 01, Pekalongan yang terus belajar, dan salah satu bentuk realisasinya adalah dengan mengadakan In House Training atau biasa disebut IHT setiap hari senin dan juga diskusi santai yang dilakukan beberapa guru disela-sela kesibukan sekolahan. Namun seiring waktu kadang kita lupa apa itu tujuan guru belajar? Apakah berubah hanya sebagai formalitas atau adat sekolah saja tanpa ada esensi lain. Dari hal tersebutlah diadakan nonton bareng video Merdeka Belajar pada hari Kamis, 2 Mei 2019 bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Video yang ditayangkan ini adalah cuplikan dari kegiatan Temu Pendidik Nusantara tahun 2016, dimana Ibu Najelaa shihab (Pendiri Kampus Guru Cikal dan Inisiator Komunitas Guru Belajar) membahas tentang Merdeka Belajar. Banyak yang dijelaskan oleh Ibu Najelaa Shihab tentang merdeka belajar. Beliau mengatakan bahawa kemerdekaan itu bukan diberikan begitu saja, namun harus diperjuangkan yakni melalui guru yang belajar, agar sampai pada yang dinamakan guru merdeka belajar. Video ini sangat tepat untuk memantapkan sebuah tujuan dari kegiatan yang sering dilakukan oleh guru belajar sehingga menjadi menjadi sebuah komitmen. Tujuan guru belajar adalah melawan miskonsepsi tentang proses guru belajar, karena banyak yang mengatakan guru hanya mau belajar jika mendapat insentif, guru hanya mau belajar jika mendapat sertifikat atau uang. Dan guru yang belajar di MI Walisongi Kranji 01 mau membuktikan bahwa guru belajar karena kebutuhan alamiah. Miskonsepsi tentang bahwa guru hanya bisa belajar dari para ahli, dari pakar pendidikan, padahal belajar paling efektif adalah belajar dari sesama guru karena guru butuh figur yang realistis yakni adalah teman sesama guru dan masih ada miskonsepsi lain. Jadi, Apa Merdeka Belajar? Banyak dari peserta nonton bareng ini begitu antusias untuk mengajukan pertanyaan atau sekadar curhat tentang keluh kesahnya menjadi seorang guru. Salah satunya Pak Azam (Guru MI Kranji 01) yang mempertanyakan “Apakah konsep merdeka belajar sejalan dengan kompetensi guru pedagogik, kepribadian, profesional, sosial?” pertanyaan tersebut dijadikan bahan diskusi antarguru, ada yang mengatakan saling mengisi, ada yang mengatakan kedua hal itu sejalan pun juga ada yang mengatakan, “Merdeka belajar adalah praktik dari kompetensi guru tersebut.” Banyak hal yang didiskuskan di dalam acara nobar tersebut, mulai dari apa yang di maksud dengan cita-cita anak yang melampaui batas, bagaimana sudut pandang tentang bahwa anak belajar butuh waktu , sedangkan realitanya di sekolahan konvensional guru selalu dikejar waktu untuk menyelesaikan materi sesuai target bahkan terkadang tidak peduli apakahanak-anak sudah menguasai materi tersebut atau belum, juga membahas tentang bagaimana merdeka belajar di kelas. Diskusi pun berjalan hangat dan renyah. Seluruh petanyaan yang muncul setelah sesi nobar, terjawablah semuanya, dan terjawab bersama dengan cara diskusi, sehingga diakhir acara nobar terwujudlah kesepahaman. karena setiap persoalan yang muncul dalam acara tersebut diselesaikan bersama, bukan oleh hanya satu orang. Itulah yang dibutuhkan oleh seorang guru, ngobrol atau diskusi tentang persoalan pendidikan yang membuat guru menuju pada merdeka belajar yang sesungguhnya. Bukan membahas administrasi saja, tapi yang terpenting adalah ekosistem dari pembelajaran kita, belajar kita bersama anak yang kadang perlu senantiasa diobrolkan dengan sesama guru, karena dengan mengobrol sesama guru, diskusi sesama guru, belajar sesama guru adalah hal tepat karena gurulah yang secara realitas hadir disekitar anak. MI Walisongo Kranji 01 berharap kedepannya praktik positif seperti ini bisa ditularkan ke teman-teman guru lain tidak hanya di MI kranji 01. Memang saat ini belum bisa mempraktikkan seluruh praktik baik dari komunitas guru belajar namun setidaknya kita di awal memulai untuk mengadaptasi sesuatu yang setidaknya kita bisa coba terlebih dahulu.

Menjadi Guru yang Berdaya

Menjadi guru adalah pilihan, bukan paksaan. Guru tak terbatas ruang dan waktu sampai kapan pun dan dimana pun guru tetaplah teladan bagi murid-muridnya. Maka menjadi seorang guru didasarkan atas kesadaran. Sadar bahwa dirinya ingin berubah menjadi lebih baik, mau belajar terus-menerus. Sumber belajar bisa dari mana saja, buku, internet, SKGB (Surat Kabar Guru Belajar) dll. Tak jarang guru hanya menyampaikan materi saja, namun melupakan tujuan utama, yaitu mengapa materi itu penting disampaikan. Dalam praktiknya guru menyampaikan materi dan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh murid. Di hari berikutnya guru bertanya, siapa yang sudah mengerjakan tugas dan siapa yang tidak mengerjakan tugas. Bagi murid yang tidak mengerjakan akan mendapatkan hukuman tertentu, misalnya berlari di lapangan, berdiri di bawah teriknya matahari, atau membersihkan kamar mandi. Sebelum menghukum murid, guru tak pernah bertanya kenapa murid tak mengerjakan tugas. Selama dua hari berlangsung, 23-24 Desember 2018 sekolah Islam Umar Harun mengadakan Pelatihan Guru Merdeka Belajar dan Manajemen Kelas untuk para guru. Mereka berasal dari berbagai daerah di antaranya Rembang, Jepara, Pati, dan Tuban. Meskipun di hari liburan, mereka tetap giat mengikuti pelatihan ini. Bahkan hujan deras pun tak memadamkan api semangat mereka. Mereka benar-benar ingin menjadi guru yang siap berubah untuk lebih baik. Selama pelatihan berlangsung, dua narasumber keren, Guru Bukik Setiawan dan Guru Ari Wibowo akan memandu perjalanan selama pelatihan. Ada tujuh topik yang disampaikan oleh narasumber yaitu manajemen kelas, tata ruang kelas, kesepakatan kelas, kebiasaan kelas, strategi pengelompokan, disiplin positif, dan strategi memotivasi. Sebelum pelatihan dimulai guru Ari mengajak para guru untuk es breaking agar suasana lebih cair. Barulah para guru diminta untuk membentuk kelompok kecil yang terdiri dari enam orang. Di antara mereka ada yang menjadi juru catat, juru logistik, juru bicara, dan juru kemudi, yang masing-masing mempunyai peranan penting dalam kelompok. Menurut saya, model pembelajaran dengan pengelompokan seperti ini sangat efektif karena masing-masing anggota memungkinkan untuk menyampaikan pendapat tanpa malu-malu. Pelatihan ini sangat penting untuk menunjang belajar guru. Guru kok masih belajar?. Apa sih yang harus dibenahi?. Sebenarnya ada banyak salah kaprah yang sering dilakukan oleh para guru saat mengajar murid-muridnya, bahkan salah kaprah tersebut dilestarikan oleh generasi selanjutnya. Hampir saja para guru tak percaya adanya salah kaprah dalam belajar mengajar. Guru Bukik menjelaskan bahwa salah kaprah itu banyak contohnya. Misalnya, tujuan utama belajar adalah agar nilai ujian nasional memuaskan. Lantas bagaimana dengan mereka yang nilai ujiannya tak memuaskan, apakah dicap sebagai manusia yang gagal dalam hidup?. Saat mendengarkan penjelasan dari guru Bukik para guru tersadar betapa pentingnya menjelaskan tujuan belajar kepada murid, jangan sampai tujuan belajar diartikan sempit. Kemudian para guru diajak untuk merefleksikan cara mengajar mereka. Sungguh terasa aneh dan lucu, ternyata mereka mengakui terbiasa melakukan salah kaprah, misalnya yang sering terjadi murid yang tak mengerjakan tugas dihukum berdiri di depan kelas tanpa memberi kesempatan untuk berpendapat dan membenahi kesalahannya. Bukannya mereka sadar yang terjadi adalah tingkah laku mereka semakin menjadi-jadi. Dengan demikian, sudah seharusnya model semacam itu diubah. Praktiknya, murid tersebut diajak berpendapat mengapa tak mengerjakan tugas, apakah ada kesulitan, atau memang murid tersebut belum paham cara mengerjakannya. Menurut saya pelatihan GMB ini sangat asyik. Saya baru pertama kali mengikuti pelatihan yang modelnya seperti ini. Semua peserta membentuk kelompok kecil yang terdiri dari enam atau tujuh orang kemudian setiap peserta diajak terlibat dalam diskusi, ada yang bagian logistik, ada yang bagian pengemudi agar diskusi mengarah pada tujuan, dan ada juga yang bagian pembicara atau mempresentasikan hasil diskusi. Sedangkan kelompok yang lain ikut andil dalam memberikan feedback. Ini benar-benar pelatihan yang memberdayakan semua peserta. “Guru merdeka itu guru yang selalu merefleksikan strategi mengajarnya.” Guru Bukik.

Guru Merdeka Belajar, Reflektif dan Merancang Perubahan

Kegiatan Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar ini merupakan Temu Pendidik Sekolah (TPS) yang pertama diadakan di Aurora Fast and Fun Bandung. Kegiatan ini dilaksanakan tanggal 4 Mei 2018. Diadakan karena kesadaran bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, maka diperlukan kolaborasi dengan semua orang dan semua peran. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan ekosistem pendidikan yang lebih baik. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama Para pengajar kami memiliki peran sebagai pengajar dengan motivasi yang berbeda-beda. Tak banyak yang memiliki passion tinggi terhadap peran dan bidangnya di dunia pendidikan. Hal ini menjadi sebuah tantangan ketika membahas tentang guru merdeka belajar. Tantangannya adalah para pengajar akan merasa bahwa bahasan hari itu tidak penting. Saya membayangkan akan lahir suara-suara dalam batin para pengajar seperti : “Apa sih nih acara gak penting banget. Dengan pendidikan saja aku tak peduli. Dengan proses belajar saja aku tak suka. Apalagi membahas tentang guru merdeka belajar. Ahhh…”Karenanya menurut saya menjadi penting, bersama-sama menyadari bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Pada hari itu, kami menyimpulkan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, dengan cara mengamati bagian awal video Pesta Pendidikan 2019: Ngobrol Publik Online berikut dan video Lihatlah Pengaruh Tontonan TV pada Anak (https://youtu.be/-U5DOVoVhdU) . Salah satu yang paling mengena dari video tersebut adalah ketika anak-anak berkata bahwa selain dari orang tua dan keluarga, mereka juga belajar dari youtube. Hal itu menunjukkan bahwa anak-anak belajar dimana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja yang ada di sekitarnya. Tak masalah bila belajar dari youtube dengan content yang sesuai dengan usianya. Kenyataannya anak-anak yang alamiahnya memiliki kuriositas tinggi, akan tertarik dengan content yang menarik, tak peduli apakah content tersebut sesuai dengan usianya. Dan kenyataan inilah yang ada di sekitar kami. Dengan ini kepedulian kami terhadap pendidikan anak-anak pun meningkat. Belajar adalah kebutuhan alamiah Kepedulian terhadap belajar telah meningkat. Kesadaran bahwa belajar adalah kebutuhan pun perlu mengalami peningkatan. Bukan lagi bicara tentang suka atau tidak suka dengan belajar. Namun berbicara tentang belajar sebagai kebutuhan. Saya berpandangan bahwa seseorang akan merasa butuh, apabila ia merasakan adanya gap (kesenjangan) antara harapan dan kenyataan. Maka saya bertanya, “Sebagai orang tua atau calon orang tua, apa harapan Anda dalam mendidik anak sendiri? Sebagai pengajar, apa harapan dalam mendidik siswa? Adakah pengalaman yang menunjukkan kekuranganmasing-masing dari dIri kita, dalam mendidik mereka, dan apa dampaknya?” Penuh luapan emosi. Itu tiga kata yang menggambarkan kondisi saat itu ketika para pengajar menjawab tiga pertanyaan tersebut. Seorang pengajar di masa lalunya menginginkan agar dirinya menjadi dokter namun tidak didukung oleh orang tuanya, ia merasa masa depannya tidak ditentukan oleh dirinya sendiri, ia merasa tidak berdaya, sehingga ia bertekad tidak akan pernah mendidik dengan pola seperti itu. Seorang pengajar lain bercerita dengan mata berkaca-kaca, tentang pengalamannya yang seringkali dibanding-bandingkan dengan saudaranya, ia merasa menjadi pribadi yang pesimis dan tidak berdaya, sehingga ia pun ingin agar di masa depannya ia tidak menggunakan pola pendidikan yang seperti itu. Seorang pengajar yang lainnya bercerita tentang seorang siswa yang tak ingin lagi belajar dengannya. Ia berkata, “Hari itu adalah hari pertama dan terakhir bagi saya bertemu dengan siswa tersebut.” Pada saat ia sempat menggunakan gaya komunikasi ‘otoriter’ pada siswa tersebut, memerintah tanpa bertanya, hal itulah yang menjadikan peristiwa tersebut terjadi. Dari masalah-masalah tersebut kami dapat melihat dengan jelas adanya ketidakberdayaan siswa akibat orang dewasa yang tidak berdaya. Harapan dan kenyataan telah diungkap. Kami lanjut berdiskusi tentang bagaimana kami menyikapi kenyataan tersebut agar dapat mencapai harapan kami dalam mendidik. Seorang pengajar berkata, “Perlu ada perubahan.” Saya sangat setuju dengan hal tersebut. Saya pun berkata, “Kita perlu berubah. Dan berubah adalah hakikat dari belajar. Belajar itu dari gak tahu menjadi tahu, dari gak mau menjadi mau, dari gak bisa menjadi bisa, dari salah menjadi benar.” Hari itu kami sama-sama menyadari bahwa kami butuh belajar. Belajar untuk menjadi Guru Merdeka Belajar Sebelumnya kami telah mengungkap adanya kenyataan ketidak-berdayaan. Kenyataan seperti itulah yang melahirkan konsep Merdeka Belajar. Dimana ketidak-merdekaan seorang anak itu diakibatkan oleh ketidak-merdekaan orang dewasa di sekitarnya. Saya bertanya, “Apa itu merdeka?” Banyak pengajar dengan kompak menjawab, “Bebas”. Saya berkata, “Bebas itu terkesan negatif ya, seperti free sex, dsb. Merdeka disini maksudnya apa?” Seorang pengajar menjawabbebas yang bertanggung jawab. Seorang pengajar lain menjawab bebas yang terbatas. Kami pun mencari jawabanannya lewat video tentang Guru Merdeka Belajar () yang disampaikan oleh Mba Ela. Setelahnya kami membahas lebih detail tentang Guru Merdeka Belajar, serta penerapannya. Kami pun berefleksi hingga merancang rencana perubahan. Beberapa diantaranya adalah 1. Mengubah design RPP kami 2. Mengubah gaya kepengajaran kami Mengubah pola memotivasi yang lebih menumbuhkan motivasi internal dari pada motivasi eksternal yang berupa reward dan punishment Mengawali kelas dengan membahas bersama siswa tentang pentingnya materi pembelajaran Mengajar dengan lebih memandirikan siswa : menghindari teknik ceramah, menyalakan tanda tanya, menggunakanberbagai sumber pengetahuan, tidak hanya guru sebagai sumber pengetahuan Menutup pembelajaran dengan refleksi Melibatkan siswa dalam proses penilaian 3. Mengubah beberapa hal kaitannya dengan rekrutmen pengajar Mempertimbangkan passion calon pengajar Memperhatikan kemampuan calon pengajar dalam melibatkan siswa untuk membangun komitmen belajar Sebagai penutup. Hanya guru yang merdeka yang bisa membebaskan anak. Hanya guru yang antusias yang menularkan rasa ingin tahu. Hanya guru belajar yang pantas mengajar.