Guru Merdeka Belajar, Cukupkah Jadi Pendidik? Atau Perlu Jadi Penggerak?

Awalan pen- pada kata pendidik menyatakan pekerjaan seseorang, sebagaimana awalan pen- pada kata pedagang, pengusaha, maupun penggerak. Istilah pendidik sudah pasti telah dipahami oleh masyarakat sedangkan penggerak masih sedikit yang mengetahuinya. Istilah “penggerak” sendiri sebenarnya  sudah banyak diperbincangkan dalam Komunitas Guru Belajar.  Apa itu penggerak? Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi (UU No. 20 Tahun 2003, PSL 39 (2)). Pelaksanaan tugas pendidik tersebut juga harus disesuaikan dengan kurikulum pendidikan nasional yang semakin berkembang dan terus mengalami perubahan. Tanpa disadari pada akhirnya sebagian besar pendidik lebih memprioritaskan pencapaian target dengan  mengesampingkan proses.  Mengajar hanya dilakukan sebagai ritual wajib setiap harinya bukan kebutuhan. Pembelajaran menjadi tidak bermakna dalam hati murid.  Yang dimaksud penggerak dalam Komunitas Guru Belajar adalah ia yang menjadikan kegiatan mengajar sebagai  kegiatan yang bermakna bagi murid. Penggerak ialah pendidik yang mau belajar meningkatkan kompetensi tidak hanya diri sendiri, tetapi juga kompetensi pendidik lain di lingkungannya, bukan sekadar pendidik yang mengajar hanya untuk meraih sertifikasi. Pendidik Yes, Penggerak Why Not? Terdapat sebagian pendidik yang merasa telah melakukan segala upaya agar mendapatkan hasil yang terbaik tetapi yang ia peroleh adalah hal yang sebaliknya. Terdapat sebagian lagi yang telah menyadari kekeliruannya dalam mengajar dan berhasil memperbaiki kompetensi diri tetapi enggan untuk berbagi kepada sesama di lingkungannya. Pendidik tipe yang kedua inilah yang secara sadar atau tidak ikut menjadi bagian dari pendidik yes but penggerak no. Padahal bangsa kita sangat mengenal filosofi sapu lidi: apabila lidi hanya satu tidak punya kekuatan dan mudah dipatahkan, tetapi apabila beberapa lidi diikat menjadi satu akan membentuk kekuatan yang tidak mudah dipatahkan. Apabila seorang diri dapat menghasilkan suatu hal yang baik maka dengan bersama-sama akan menciptakan hal yang luar biasa. Oleh karena itu, menjadi pendidik saja belum cukup melainkan diperlukan penggerak-penggerak  Komunitas Guru Belajar yang saling menularkan semangat mengajar mereka, berbagi metode-metode mengajar yang efektif di kelas, trik pengelolaan kelas yang baik, pengalaman keberhasilan dalam mengajar sehingga pada akhirnya setiap murid dapat mengalami apa yang disebut merdeka belajar di ruang kelas. Berkebalikan dengan pendidik yes but penggerak no, generasi pendidik yes and penggerak why not? merupakan mereka yang rela meluangkan waktu, tenaga, dan pemikirannya untuk menggerakkan komunitasnya. Belajar tuntas dan tuntas belajar adalah dua hal yang tak sama Menjadi seorang penggerak  memang tidak bisa instan untuk itu diadakan nonton bareng part 2 video Merdeka Belajar oleh Komunitas Guru Belajar Pemalang pada hari Jumat, 31 Mei 2019 dan dilanjutkan dengan acara buka bersama beberapa guru dari SMK N 1 Pemalang.  Kegiatan diawali dengan penayangan cuplikan dari kegiatan Temu Pendidik Nusantara tahun 2016 yang menampilkan Pendiri Kampus Guru Cikal dan Inisiator Komunitas Guru Belajar, Najelaa shihab. Dalam video tersebut beliau membahas tentang apa itu Merdeka Belajar. Beliau mengatakan bahwa menjadi penggerak itu bukan diberikan begitu saja, namun harus diperjuangkan.  Selama penayangan video para peserta mendapat pemahaman baru tentang bagaimana merdeka belajar sebenarnya. Beberapa guru terlihat sesekali mengangguk seolah sependapat dengan isi video. Salah satu yang paling membuat suasana hidup yaitu ketika video menayangkan beberapa miskonsepsi guru. Dipaparkan bahwa guru bisa belajar dengan sesama guru bahkan belajar dari murid bukan hanya bisa menerima dari seorang ahli, miskonsepsi bahwa belajar bisa instan dan sebenarnya belajar butuh waktu, dan miskonsepsi-miskonsepsi lainnya.  Kegiatan yang dilaksanakan di kediaman Ibu Emi Sri Kadarwati yang terletak di desa Banjaran ini dimulai pada pukul 16.05 dan berjalan dengan baik terlihat dari antusias peserta nobar salah satunya Bu Nanik yang menceritakan keluh kesahnya. Ia mengatakan, “Tuntutan kurikulum agar murid  harus tuntas pada semua kompetensi di semua mata pelajaran membuat saya secara pribadi merasa mengajar seperti dikejar target. Bagaimana dengan teman guru yang lain?”. Pendapat tersebut ditanggapi oleh Bu Dwi Rahmawati yang merasa sependapat bahwa tuntutan tuntas belajar membuat murid hanya memahami  pengetahuan sebatas permukaan saja tanpa mendalami lebih melalui proses belajar tuntas. Padahal belajar tuntas merupakan proses yang perlu dilalui anak sehingga kondisi merdeka belajar dalam ruang kelas dapat tercapai.  Selain konsep tersebut muncul pertanyaan dari Bu Farah, “Bagaimana agar murid tertarik dengan pelajaran matematika sehingga tidak lagi mejadi momok yang menakutkan?”. Berbagai saran pun diberikan seperti datang ke pasar ketika sedang mempelajari aritmatika sosial, menggunakan metode story telling, mengajak bermain gim, mengajak bernyanyi, sampai memberikan soal yang mudah kepada murid. Topik ini menjadi bahan diskusi sampai acara buka bersama berlanjut dan acara ditutup pukul 18.50 dengan penyampaian kesan tuan rumah, “Ini adalah acara yang langka. Dalam acara ini, saya tidak hanya tahu apa itu guru merdeka belajar tetapi saya juga bisa mengenal teman-teman lebih dekat bersama keluarga dalam buka bersama malam ini. Terima kasih telah menyempatkan waktu datang ke kediaman kami”, ujar Bu Emi. Komunitas Guru Belajar Pemalang berharap kedepannya guru SMK N 1 Pemalang dapat mempraktikkan hakihat dari merdeka belajar dan menjadi bagian dari Komunitas Guru Belajar. Menjadi Pendidik sekaligus Penggerak Komunitas Guru Belajar, kenapa tidak? Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Membuka Jalur Karier Guru yang Tak Hanya Kepala Sekolah

Bagaimana guru bisa menjadi profesi yang juga tidak hanya mengajar dan belajar, tapi juga bisa sebagai inovator? Apakah bisa? Ternyata dalam pelatihan selama Wardah Inspiring Teacher ini, pertanyaan tersebut bisa terjawab. Pelatihan Wardah Inspiring Teacher 2019 ini dimulai dari belajar Proses Berpikir Desain, dimana para guru dalam pelatihan ini ditantang untuk menjadi guru yang berinovasi. Apa yang para guru ini akan inovasi? Yaitu media belajar yang digunakan untuk sehari-hari mengajarkan konsep atau pengetahuan yang menjadi tujuan pembelajarannya. Pelatihan yang diadakan pada tanggal Sabtu, 14 Juli 2019 di Ruang Ballroom Hotel Crystal Lotus, Yogyakarta ini merupakan tahap lanjutan dari proses Pelatihan Wardah Inspiring Teacher 2019. Kira-kira 20 orang peserta yang datang dari berbagai penjuru daerah Jogjakarta dan sekitarnya dimulai dengan meninjau kembali sampai dimana perjalanan para guru dalam belajar berinovasi. Para peserta diajak melihat kembali tahapan berpikir desain, dan menilai diri sendiri melalui yang disebut Pohon Blob, sampai dimana perjalanan mereka, dan diskusi dengan teman sebelahnya mengapa menurut mereka tahap itulah yang mereka pilih. Salah satu peserta berbagi dengan temannya dengan menganalogikan dirinya dengan gambar orang sedang bergantung kepada dahan pohon, “Karena saya masih coba untuk memanjat pohon seperti saya sedang dalam proses mencapai puncak pembelajaran saya.” Begitu kata salah satu guru menjelaskan tentang proses perjalanannya.  Pelatihan lanjutan kali ini berfokus kepada bagaimana para peserta bisa memperoleh umpan balik untuk media ajar yang dibuatnya. Diskusi mengenai pertanyaan apa saja yang bisa menjadi umpan balik, kemudian para peserta juga belajar untuk memberikan umpan balik kepada dirinya sendiri, dengan menggunakan perangkat rubrik yang memudahkan pembuat media belajar untuk menilai medianya sendiri.  Bagian paling seru dan dinanti-nantikan dalam pelatihan ini adalah dimana para peserta menguji coba media belajarnya dalam kelompok. Berbagai produk media belajar yang sudah didesain oleh para peserta dipresentasikan, diuji coba, dan diberikan umpan balik oleh peserta lainnya. Hampir semua produk media belajar yang ditampilkan sangat menarik untuk diulas, namun berikut beberapa yang memancing banyak komentar maupun umpan balik: Keran Wudhu dan Urutannya, media untuk belajar urutan berwudhu dalam pelajaran agama, dibuat dengan gambar di atas keran, sehingga siswa tinggal mengikuti urutan wudhu dalam belajar urutan wudhu dengan benar. Video Biografi, video buatan guru yang menginspirasi bagaimana cara membuat Biografi yang menggugah dan menginspirasi orang yang menontonnya. Berbagai modifikasi Board Games dan Flash Card, belajar tentang sains maupun bahasa Inggris. Pelatihan ditutup dengan bintang tamu dua orang guru yang sudah menjadi inspirasi di komunitasnya yaitu Pak Nuno dari Petungkriyono yang menggunakan media belajar Asesmen dengan QR Codenya sempat dimuat surat kabar lokal maupun nasional, beliau memperluas ranah medianya ke Board Games, sehingga mendapatkan proyek permainan yang bertema pelestarian binatang bernilai jutaan dari sebuah badan konservasi. Perjalanan belajar dari Pak Nuno, membuktikan bahwa guru yang berinovasi yang bermulai dari masalah, bisa membawanya menuju karier protean, yaitu jenjang karier yang bisa capai oleh guru, selain menjadi kepala sekolah, wakil kepala sekolah atau pengawas.  Salah satu narasumber lainnya yaitu ibu Pima Aditya dari Sekolah Cikal, beliau adalah koordinator kurikulum SD Cikal Cilandak yang juga mengembangkan karirnya sebagai Teknologi Integrator, walaupun Ibu Pima tidak punya latar belakang IT maupun Komputer Sains. Beliau terpilih menjadi salah satu Apple Distinguished Educator dari Indonesia. Pekerjaan sehari-hari ibu Pima adalah memetakan kurikulum dan proses belajar dengan teknologi. Menurut ibu Pima Pendidikan adalah Teknologi dan Teknologi adalah Pendidikan, tidak bisa dipisahkan. Oleh karena itu, para guru harus berani menghadapi perubahan, dan juga membuat perubahan dengan berinovasi melalui media belajar. Acara pelatihan ditutup oleh video yang mengatakan: The Future of Education is You.  Masa depan pendidikan adalah: anda, sang guru.

Guru Merdeka Belajar, Apakah Kita Melakukan Miskonsepsi Guru Belajar?

Dalam sebuah adegan persidangan akademik akibat menjalankan praktik pengobatan tanpa lisensi, Hunter “Patch” Adams, mahasiswa Sekolah Tinggi Kedokteran Virgina, mengajukan pembelaannya bahwa mahasiswa kedokteran perlu berkolaborasi secara erat dengan perawat.  Perawatlah yang tiap hari berinteraksi dengan pasien dan, karena itu, mereka dapat menceritakan berbagai hal tentangnya. Perawat punya begitu banyak kekayaan pengalaman yang sangat bermanfaat bagi calon dokter. Setidaknya kesan itu yang terlukis jelas di film Patch Adams. Hal yang sama agaknya juga berlaku di dunia pendidikan. Pihak yang setiap hari berhubungan dengan murid adalah guru. Merekalah yang memiliki keragaman pengalaman pengajaran untuk dibagi kepada rekan guru lain dan diolah menjadi solusi-solusi pembelajaran. Melalui itu, guru tidak hanya belajar perihal materi pelajaran, tetapi juga macam-macam metode pembelajaran yang cocok di situasi tertentu, kelas tertentu, atau bahkan murid tertentu. Itu lah yang kiranya sedikit tergambar di acara Nonton Bareng  (Nobar) Guru Merdeka Belajar di SMK Negeri 1 Karangdadap, Pekalongan, Jumat (31/5/2019), yang dihadiri belasan guru sekolah itu. Merdeka Belajar dan Kebiasaan Mengajar “Saat bicara tentang merdeka belajar, selalu terbayang anak-anak,” kata Najelaa Shihab, pembicara dalam video yang dinikmati peserta. Merdeka belajar, yang mulai bergaung luas berkat giatnya Komunitas Guru Belajar (KGB) atas inisiasinya, merupakan cara pandang yang humanis dan terpusat pada murid. Diawali dengan pengenalan miskonsepsi guru belajar, peserta nobar kemudian membandingkan praktik pembelajaran yang lazim dilakukannya dengan miskonsepsi tersebut.  “Yang sesuai dengan keadaan saya ada di poin tiga, yaitu cukup tahu ‘how to’ dalam mengajar,” kata Guru Yeni, pengajar Matematika. Lebih jauh, ia juga menceritakan pengalaman mengajarnya yang amat berkesan, yakni saat mendapati muridnya mengerjakan salah satu soal Matematika dengan cara yang bahkan tidak terpikirkan sebelumnya oleh Guru Yeni.  “Bagi saya ini termasuk merdeka dalam memilih cara, dan saya membebaskan murid yang punya ide-ide seperti ini,” lanjutnya dengan semangat. Guru Musyafiah selaku fasilitator mengatakan, hadirnya guru-guru SMK Negeri 1 Karangdadap dalam acara tersebut merupakan bukti tindakan yang menegasikan salah satu miskonsepsi tadi, yakni ‘guru hanya mau belajar jika ada iming-iming sertifikat atau motivasi eksternal lainnya’. Dipaparkan dalam video itu, setidaknya terdapat lima miskonsepsi guru belajar yang disampaikan Najelaa, diantaranya yaitu guru hanya mau belajar jika ada iming-iming sertifikat, guru hanya dapat belajar dari para ahli,  dan belajar itu soal kompetisi, bukan kolaborasi.  “Permasalahan pendidikan memang sangat kompleks. Untuk mereformasinya pasti butuh waktu dan kesepakatan dari berbagai kepentingan,” lanjut Najelaa.  Oleh karenanya menjadi guru belajar adalah sebuah proses. Selanjutnya guru Musyafiah memaparkan tiga ciri guru belajar, antara lain komitmen pada tujuan, mandiri, dan refleksi, yang mendapat beragam respon dan pertanyaan dari peserta. Menanggapi ciri guru belajar tersebut, Guru Fullu, pengajar matematika, mengatakan, “Kita sebenarnya perlu mencari banyak aplikasi ilmu matematika dalam kehidupan sehari-hari agar murid tahu dan sadar bahwa belajar matematika punya manfaat praktis.” Ia juga melanjutkan, manfaat matematika muncul sesuai dengan profesi yang dijalani. Sebagai pedagang dan peneliti, misalnya, murid akan melihat bagaimana mapel itu diterapkan. Ketika ditanya mengenai aktivitas refleksi, semua peserta setuju bahwa langkah itu telah dilakukan, hanya saja tidak didokumentasikan.  “Refleksi harus dicoba, dilakukan dengan variasi cara, dan didokumentasikan,” ujar Guru Musyafiah memberi tanggapan. Refleksi membantu guru dalam melihat  dampak pembelajaran yang telah guru dan murid lakukan. Hal ini perlu dilakukan sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk pembelajaran selanjutnya. Antusiasme  Ketika hendak menutup sesi refleksi bersama, baik mengenai miskonsepsi merdeka belajar maupun ciri guru belajar, sebagai akhir acara nobar, salah satu peserta menginterupsi fasilitator dengan pertanyaan.  Meski pada awalnya menolak, Guru Musyafiah, yang juga penggerak KGB Pekalongan, akhirnya memberikan tanggapan. Tidak hanya kepada satu penanya, bahkan empat hingga lima penanya. Diskusi pun berlangsung. Pertanyaan peserta lebih berupa kemungkinan bagaimana mewujudkan konsep merdeka belajar daripada sikap keputusasaan. Melihat antusiasme guru SMK Negeri 1 Karangdadap di acara Nobar Guru Merdeka Belajar itu, Guru Musyafiah mengajukan tawaran apakah berminat untuk mengadakan Temu Pendidik Sekolah (TPS). “Saya yakin sebenarnya bapak dan ibu guru ingin mengadakan TPS, terlihat dari pertanyaan yang panjenengan semua sampaikan ke saya beberapa waktu lalu.” ungkapnya diakhir acara. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Guru Merdeka Belajar, Mengajar dengan Tujuan Bukan Karena Tuntutan

Kegiatan mengajak kepada yang belum pernah tahu atau belum tahu itu sangat membuat hati deg-degan. Kenapa tidak, berada dalam lingkungan yang biasanya selalu bersifat rutin dan selalu itu-itu saja pasti susah untuk membuat sebuah hal baru dan berharap hal baru tersebut bisa diterima dan dijalani bersama. Sebagai guru kita tidak akan lepas dengan sesama teman guru, itu pasti. Namun menjadi guru yang hanya datang untuk mengajar murid-muridnya dengan cara biasa saja itu akan sangat menyayangkan bagi diri kita sendiri sebagai guru dan tentunya akan berdampak buruk bagi murid kita nantinya.  Mengajar mungkin bagi sebagian orang itu suatu yang mudah dan tak perlu apapun. Mungkin mengajar itu hanya memberikan pengetahuan yang dimiliki oleh guru kepada muridnya. Namun semua yang tersebut itu adalah sebuah kesalahan besar. Menjadi guru itu harus memiliki yang pertama adalah niat atau bisa dikatakan panggilan dari hati yang paling dalam tanpa itu guru tidak dapat menikmati dengan indah dan yang kedua guru itu harus punya rasa merdeka yang muncul dari hati terdalam juga. Niat dan kemerdekaan, keduanya itu adalah suatu hal yang musti dimiliki semua guru. Tanpa ada dua itu akan sulit untuk menjalankan kewajiban sebagai guru. Kalau niat, insyaallah sudah ada kalau memang ditanamkan. Nah, bagaimana dengan merdeka belajar? Merdeka belajar memiki tiga dimensi, yaitu komitmen pada tujuan, kemandirian dan senantiasa melakukan refleksi. Pada saat ini, perasaan merdeka itu sudah jarang ditemui di sekitar,yang ada bagi sebagian besar guru mengajar karena tuntutan, tuntutan atasan, tuntutan kebijakan dan masih banyak tuntutan-tuntutan lain. Sehingga tuntutan tersebut lebih didahulukan daripada komitmen pada tujuan awal. Padahal semestinya kebijakan itu bukanlah sebuah tuntutan, namun itu semua adalah sebuah teman yang mendukung tercapainya tujuan belajar dan mengajar. Untuk mengajak semua guru agar merasakan kemerdekaannya itu banyak sekali tantangan, namun dengan kekuatan tekad tantangan itu harus dilalui agar tercapai rasa merdeka itu ada di setiap hati guru. Salah satu kegiatan yang menjadi langkah awal saya yaitu dengan mengajak guru d ilingkungan madrasah atau sekolah untuk ikut serta dalam kegiatan nonton bareng film guru merdeka, kegiatan itu dilaksanakan hari rabu tanggal 29  mei 2019 bertempat di RM Serba Sambal Jepara, sembari menunggu waktu buka bersama dan dihadiri oleh 20 guru yang berada satu madrasah.  Kegiatan nonton bareng ini sangat menarik karena adanya respon positif dari peserta. Menjadi sebuah pelajaran berharga mengenai tentang kemerdekaan bagi guru yang sesungguhnya. Tanggapan positif itu muncul hampir dari semua peserta karena sangat antusias untuk melakukan perubahan ke lebih baik untuk bersama-sama saling belajar. Menyadarkan diri akan pentingnya belajar sesama guru atau pendidik untuk menemukan hal baru atau menyelesaikan permasalahan bersama. Sungguh banyak yang bisa diambil dari pertemuan pendidik sekolah ini. Selain nonton bareng ada juga diskusi tentang literasi yang lebih dalam, dengan adanya pengetahuan baru, semakin meyakini bahwa ternyata pertemuan diskusi kepadasesama guru atau pendidik itu sangat penting dan sebagai akhir di kegiatan ini kami semua sepakat akan ada diskusi atau pertemuan lagi untuk bersama-sama saling mendengarkan dengan saling memberi dan menerima pengetahuan serta pengalaman bersama. Demikian liputan nonton bareng film guru merdeka dan diskusi tentang literasi, itu sungguh belum cukup dan akan lanjut setelah itu. Bagaimana dengan guru-guru yang lain, mari kita lanjutkan belajar ini, bukan hanya murid yang belajar namun guru itu juga harus tetap belajar dan memiliki kemerdekaan. Salam Merdeka Belajar!

Guru Merdeka Belajar, Melawan Miskonsepsi Belajar

Hari Jum’at sore tanggal 24 Mei 2019, dalam rangka Temu Pendidik Daerah (TPD), Komunitas Guru Belajar (KGB) mengadakan nonton bareng atau nobar video Guru Merdeka Belajar di salah satu rumah penggerak, Guru Niken. Sambil menunggu waktu berbuka puasa, kami mencoba mengobrol ringan sambil menonton bersama video ibu Najelaa Shihab, pendiri Kampus Guru Cikal dan Inisiator Komunitas Guru Belajar, saat berbicara di acara Temu Pendidik Nasional (TPN) 2016.  Banyak hal yang kami dapatkan setelah menonton video ini. Kami merasa mendapat sebuah pencerahan sebagai seorang guru. Pencerahan yang nantinya diharapkan dapat memberikan perubahan bagi kami. Perubahan yang sangat penting bagi kami yang mengabdikan separuh waktu dan tenaga untuk selalu menjadi bagian dari dunia pendidikan Indonesia. Apa yang kami rasakan adalah guru perlu menjadi guru yang merdeka belajar. Guru yang tidak berhenti untuk mengembangkan dirinya dan merasa terkekang. Guru yang terus berusaha melawan beberapa miskonsepsi yang terjadi di pendidikan. Dari sinilah kami menjadi paham dan menyadari bahwa setidaknya guru harus mencari solusi menjadi guru merdeka belajar di kelas untuk membawa pembelajaran di kelas lebih bermakna.  Sebelum menginjak acara inti yaitu pemutaran video guru merdeka belajar, saya sebagai fasilitator sekaligus moderator membuka acara nonton bareng dengan memberikan gambaran susunan acara. Peserta yang seluruhnya adalah guru terlihat sangat antusias. Ada sekitar 13 peserta yang hadir saat itu sehingga saya juga mengajak mereka untuk bertukar pikiran tentang hal-hal yang berkaitan dengan arti kata “merdeka”, apa sebenarnya merdeka belajar, bagaimana menciptakan kelas yang merdeka belajar, dsb. Ada beberapa jawaban mengenai apa itu merdeka belajar dari salah satu guru yang berkomentar bahwa guru merdeka belajar adalah guru yang punya kebebasan untuk belajar apapun yang tujuannya untuk selalu upgrade kemampuan diri. Setelah sesi bincang santai dilanjutkan sesi pemutaran video dengan durasi 15 menit.  Video yang berisi pemaparan dari Ibu Najelaa Shihab ini membuka jendela wawasan para peserta terutama diri saya pribadi. Video ini mampu menjawab rasa keingintahuan saya selama ini bahwa guru adalah seseorang yang perlu merasa merdeka dalam belajar. Bukan hanya saya saja yang merasakan pentingnya merdeka belajar, namun semua peserta guru merasakan hal sama. Bu Najelaa menjelaskan banyak sekali cara-cara seorang guru yang merdeka belajar. Menurut beliau ada tiga hal urgensi utama guru sebagai pendidik yang merdeka yaitu; 1) Komitmen, 2) Memiliki kemandirian, dan 3) Berefleksi. Di bawah ini akan saya paparkan secara singkat tiga hal di atas sesuai dengan apa yang Ibu Najelaa Shihab jelaskan di dalam video yang kami tonton bersama; 1). Komitmen Guru harus memiliki komitmen kuat terhadap tujuan yang akan diraih. Tujuan pembelajaran yang memberi pengaruh terhadap perkembangan anak didik di dalam kelas. Tujuan yang membawa guru untuk selalu semangat menciptakan inovasi-inovasi pembelajaran.Namun, ada saja tantangan yang dirasakan di dalam prosesnya yaitu kadangakala guru lupa membedakan mana yang termasuk cara dan tujuan komitmen. Banyak guru malah menghabiskan waktunya untuk fokus mengurus tugas administrasi, menyiapkan akreditasi, atau ketentuan birokrasi lainnya yang sebenarnya adalah cara namun kemudian menjadi prioritas dan tujuan utama. Sehingga, guru cenderung mengesampingkan komitmen awal yang dimiliki. 2). Kemandirian Dalam kemandirian, ada sebuah anak tangga tingkatan dimulai dari tingkata pertama yaitu anak tangga (1) manipulasi, (2) kesadaran, (3) interaksi/dialog, (4) masukan/konsultasi, (5) kemitraan, (6) pemberdayaan, (7) kendali, dan (8) mandiri. Menjadi guru mandiri tidaklah mudah karena ada banyak anak tangga yang perlu dilewati dan konsistensi sehingga menjadi guru yang memegang kendali atas proses belajar masing-masing dan kemudian berada di atas puncak sebagai guru mandiri.  3). Refleksi Kegiatan refleksi adalah kegiatan melihat cermin dan mengamati diri sendiri sebagai pelaku utama dalam kelas namun hal ini sulit untuk dilakukan. Akhirnya, banyak diantaranya yang selalu berdalih untuk melihat pelaku lain sebagai alasannya, seperti masyarakat belum paham, murid-murid tidak mengerti, orang tua yang menentang yang faktanya diri sendirilah yang merasa takut untuk berubah.  Ada banyak hambatan dan permasalahan untuk menjadi guru yang merdeka belajar yaitu memahami adanya miskonsepsi di dalam dunia pendidikan. Miskonsepsi yang perlu ditindaklanjuti oleh guru belajar agar dapat mewujudkan sistem pendidikan nasional, yaitu: Guru mau belajar seringnya terdorong karena motivasi eksternal (mendapat sertifikat, insentif, namun sejatinya guru perlu belajar sebagai kebutuhan alamiah. Tidak ada paksaan ataupun iming-iming saat mau belajar. Guru banyak yang ingin belajar dari para pakar pendidikan, padahal belajar antarsesama guru dapat menjadi salah satu cara efektif untuk saling bertukar informasi dan berbagi tentang praktik baik di pembelajaran. Guru hanya terbatas membangun pertanyaan dengan “how to”, tetapi secara aplikatif guru perlu mengenalkan hal-hal yang berbeda dan menarik kepada murid-muridnya. Guru yang adaptif belajar dengan tujuan dalam konteks yaitu dengan mmberikan pertanyaan-pertanyaan tentang “why” dalam setiap kondisi di dalam kelas. Guru sering fokus terhadap pemenuhan target yang dipaksakan  untuk selesai serta nilai capaian KKM dengan mengejar ketertinggalan materi di dalam kompetensi dasar pembelajaran. Namun, secara alami, proses belajar membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Seiring dengan proses belajar yang membutuhkan waktu, guru dapat menciptakan inovasi dengan baik dengan melihat dan memahami inovasi tersebut apakah sudah sesuai kebutuhan murid atau belum. Guru lebih mengutamakan kompetensi secara individual ketika belajar. Tetapi, guru merdeka belajar adalah mereka yang berani mengambil aksi untuk kompetensi tumbuh bersama lingkungan. Oleh karena itu, guru butuh teman kolaborasi untuk bertindak dan menyamakan persepsi menjadi guru merdeka belajar.  Setelah pemutaran video, sesi berikutnya adalah refleksi bersama. Di sesi refleksi, guru secara bergantian menjawab pertanyaan. Beberapa peserta menjelaskan pengalamannya berkaitan dengan miskonsepsi yang terjadi di lingkup pendidikan sekolah mereka. Pak Huda berpendapat bahwa miskonsepi yang beliau rasakan adalah belajar dikejar target materi yang terkadang membuat murid jenuh dan tertekan ditambah dengan adanya kompetisi-kompetisi atau lomba yang dapat mengurangi jam murid untuk belajar. Padahal idealnya, belajar membutuhkan waktu yang tidak sebentar (tidak bisa instan). Selain itu, masih banyak pendapat lain terkait menjadi guru merdeka belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan miskonsepsi di dunia pendidikan.  Akhirnya dari serangkaian kegiatan nonton bareng video merdeka belajar, kami sama-sama memahami bersama bahwa guru yang merdeka belajar tidak semudah yang dibayangkan. Guru merdeka belajar yaitu dia memiliki komitmen pada tujuan pencapaian, meningkatkan kemandirian, dan berusaha melakukan refleksi di setiap akhir kegiatannya. Pastinya guru merdeka belajar adalah guru yang memiliki semangat berkembang dan mandiri demi terwujudnya pendidikan Indonesia yang lebih baik.

Membaca Tanpa Terpaksa

Pastinya tiap guru/orangtua memiliki strategi Yang berbeda. Kalau saya melakukan tiga langkah yakni pre-reading, whilst reading Dan post reading. Rincian kegiatannya dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Namun, ini saya lakukan dalam pertemuan di kelas untuk membahas satu teks tertentu ya Selama saya mengajar baik di SD, Les atau pun di SMK tempat saya mengajar sekarang. Strategi tersebut selalu berhasil Dan bikin kelas pecah Pertanyaan dari Guru Tuti  Saya masih belum terbayang seperti apa kira-kira pembelajarannya. Karena bisa jadi ini dapat diterapkan but anak-anak saya mohon penjelasannya Bu Jawaban  Kurang lebihnya Karena saya mengampu mapel Bahasa Inggris, maka di awal saya memperkenalkan dulu kosakata yang akan digunakan dalam pembelajaran. Caranya dengan memperagakan, pronunciation drill dan melengkapi kalimat. Sesudah itu, saya membagikan potongan kertas berisi satu paragraf Dalam teks yang akan dibaca. Sesudah itu, siswa mencari bagian paragraf lain, Dan menyusun menjadi teks yang runtut. Di sinilah secara tidak sadar siswa membaca. Di bagian akhir, Ada kegiatan wawancara terkait isi teks dan evaluasi. Bedanya evaluasi disini yakni dengan memberikan kertas berisi jawaban kepada semua anak, baru melontarkan pertanyaan. Apakah bisa dipahami Ibu?. Pertanyaan dari Guru Siyohelpiyanti Membaca dalam mata pelajaran bahasa (Bahasa Inggris)  atau umum? Jawaban Saya mengajar Bahasa Inggris, namun bisa juga diterapkan Dalam mapel lain yang membutuhkan pemahaman bacaan. Misalnya, Sejarah, PKN, dll Pertanyaan dari Guru Novie Bagaimana gambaran pelaksanaan pembelajaran jika bidang studi yang saya ampu adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Apakah dalam kegiatan pengenalan kosakata,kita perkenalkan kata-kata tersebut termasuk kelompok kata apa, atau bagaimana Bu? Mohon penjelasannya Jawaban  Untuk Bahasa Indonesia bisa saja dengan kelompok kata seperti yang Ibu bilang, atau penggunaan istilah-istilah asing yang ada pada bacaan. Bisa juga di skip ke kegiatan intinya jika dirasa siswa sudah paham semua kosakata. Pertanyaan dari Guru Popi Ramlan  Saya pernah mencobakan dengan memberi siswa potongan  paragraf yang berbeda di tandai dengan warna dengan, pertama siswa duduk berkelompok dengan paragraf dengan no yang sama, dan di diskusikan, kemudian siswa duduk dikelompok berbeda berdasarkan nomor pada paragraf, apa sma dengan yang saya lakukan Bu? Jawaban Sepertinya agak berbeda, Bu. Kegiatan yang saya lakukan tanpa diskusi. Saat siswa mencari bagian paragraf yang lain mereka kadang blank. Alih-alih mencari paragraf lain malah berkelompok dengan paragraph yang sama. Siswa juga harus mencari tahu sendiri jumlah paragrafnya yang membutuhkan kemampuan analisis Apakah wawancaranya kita guru yang menyediakan pertanyaannya bu? Jawaban Untuk wawancara pertanyaan boleh disiapkan oleh guru utk anak usia muda. Tapi utk SMK, mereka bisa membuat sendiri agar merangsang kemampuan bertanya juga Pertanyaan dari Guru Priska  Strategi yang ibu sampaikan tadi sangat menarik, namun apakah strategi ini bisa juga di gunakan dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yaitu dalam membaca dalil-dalil Al-Qur’an maupun dalil-dalil hadits? Mohon penjelasannya Bu Jawaban  Menurut saya bisa banget Bu. Pre-readingnya bisa dengan memperkenalkan kosakata dalam dalil yang akan dibahas. Whilst readingnya Sama dengan kegiatan saya. Jika dalil pendek bisa dipecah berdasarkan kata, jika panjang dipecah berdasarkan ayat per ayat. Untuk wawancara nya bisa menyesuaikan dengan dalil yang dibahas. Evaluasi bisa menggunakan strategi yang serupa. Pasti seru Oh ya, supaya gambaran ya lebih jelas, Misal membahas satu teks berisi 5 paragraf. Nantinya beberapa siswa akan mendapat paragraf yang Sama. Jadi pembagiannya diusahakan dengan jumlah siswa di kelas agar semua mendapat kelompok Membaca, seringkali menjadi  tantangan tersendiri. Apalagi di kelas Bahasa asing. Namun, dengan melibatkan siswa, memberikan kesempatan untuk berkolaborasi dan berkomunikasi, maka belajar membaca akan menjadi menyenangkan dan penuh gelak tawa.

Guru-guru yang Resah Belajar Bersama

Enggan dipanggil ibu. “Panggil Miss saja pak”, tulisnya di WA. Awal maret saya mengajaknya menjadi pembicara Temu Pendidik Daring di KGB Makassar. Sebagai pembelajar sejati, beliau bersedia. Bagaimana guru menggunakan aplikasi google sebagai media pembelajaran di kelas.  Begitulah awal mula perkenalan saya dengan miss Emy Hardianty, salah satu pengajar di Lazuardi Athaillah GIS Makassar.  Miss Emy memiliki kerisauan yang sama dengan kawan-kawan di Komunitas Guru Belajar Makassar. Bahwa guru yang berhak mengajar sejatinya adalah mereka yang tidak berhenti belajar. Resah dengan kemerdekaan belajar. Guru yang merdeka adalah mereka yang paham kenapa harus mengajar. Hanya guru yang merdeka yang bisa memerdekakan murid-muridnya: kenapa harus belajar.  Masih muda, penuh energi. Pandanglah akun media sosialnya. Bejibung kegiatan belajar terpampang di sana. Saya salah satu pengikutnya.  “Berani gak Lazuardi menjadi tuan rumah Temu Pendidik Daerah bulan depan?” “Siap. Saya konsultasikan dengan pihak sekolah pak. Saya kabari kembali.” Tidak butuh waktu lama. Keesokan harinya, saya dikabari: Lazuardi siap menjadi tuan rumah. “Apa yang harus kami persiapkan?” “Hanya butuh ruangan dan media belajar lainnya. Konsumsi akan disiapkan masing-masing peserta.” “Baik pak. Kami persiapkan.” —- Sabtu, 27 April 2019.  Kelas dibagi tiga. Kelas pertama diampu oleh bapak Abdur Rahman, analis mutu pendidikan LPMP Sulawesi Selatan. Selain di LPMP, pak Rahman juga aktivis Cegat Makassar. Tahun lalu, KGB Makassar dibawakan narasumber dari Australia. Mr. Brandon. Melalui jaringan lembaganya.  Materinya keren: mencari keterampilan hidup di sekolah. Materi ini juga hasil penelitiannya di berbagai sekolah yang kemudian dia tulis dalam satu tulisan menarik: runtuhnya sekolah kami. Bahwa sekolah tidak lagi menjadi benteng kreativitas anak. Anak hanya sebagai objek pelampiasan materi. Kawan-kawan guru merasa hanya berkewajiban menuntaskan seluruh seluruh materi di ruang kelas. Anak hanya berkewajiban datang dan mendengarkan di sekolah. Mereka dikondisikan belajar tanpa tahu untuk apa mereka belajar. Ada ruang yang hampa.  Pak Ammank juga sedikit mengomentari tentang berbagai program yang terkesan dadakan, penuh citra. Misalnya program literasi atau sebutlah program pendidikan karakter. Kesannya di sekolah adalah program tersebut sesuatu yang terpisah dari kegiatan sekolah. Program literasi dan pendidikan karakter itu seakan bukan tujuan sekolah. Padahal bukankah aktivitas sekolah diperuntukkan untuk literasi dan pendidikan karakter?? Kualifikasi pekerjaan anak-anak kita di masa depan sudah tentu berbeda dengan kualifikasi hari ini. Untuk mengakses itu, dibutuhkan dua belas jenis keterampilan. Mulai dari manajemen diri sampai kemampuan diplomasi yang tinggi. Saya belum melihat wilayah ini dikuatkan di ruang kelas.  “Hari ini saya bersyukur dipertemukan dengan kawan-kawan guru dengan keresahan yang sama. Percayalah bahwa langkah kawan-kawan KGB sudah di jalur yang tepat.” Pemaparan pak Ammank mengingatkan saya dengan tulisan ibu Najelaa di surat kabar guru edisi ke 20. Bahwa guru sudah merasa nyaman mengajar tapi anak belum tentu merasa nyaman belajar. Ada kutub yang berlawanan. Tujuan guru belum sinergi dengan tujuan peserta didik. Problem mendasar yang harus diretas secepatnya.  Kelas kedua diisi oleh pak Asrar, kepala SMA Negeri 2 Makassar. Awalnya saya sangsi. Seorang kepala sekolah mau datang berbagi dengan guru-guru. Gratis lagi. Tapi kawan penggerak, ibu Anita Taurisia Putri terus meyakinkan: “Percayalah. Saya sudah menghubungi beliau dan bersedia. Malah beliau sangat senang karena ada komunitas guru yang berminat melibatkan kepala sekolah dalam kegiatan belajar.” Penelitian Tindakan Kelas. Dua pertimbangan. Pertama, dinas pendidikan provinsi Sulawesi Selatan lagi semangat-semangatnya memerangi PTK yang ditengarai palsu.  Di beberapa tempat, bapak kepala dinas pendidikan selalu menyuarakan ini. Sungguh ironis, seorang guru yang mengabarkan kejujuran dan budi baik malah menjebak dirinya sendiri dengan perilaku yang kurang terpuji: pemalsuan PTK. Pesan berantai di beberapa kanal media sosial isinya begini: naik pangkatlah secara terhormat.  Kedua, menindaklanjuti materi daring yang pernah disajikan guru Nur Rahma Sangkala. Nur Rahma pernah berbagi praktik tentang lesson study hasil pengalamannya di International School of Utrecht Belanda. Dengan Lesson Study maka guru dapat melihat pembelajaran murid lebih detil; mencari tahu apa yang guru duga dengan apa yang murid pelajari; mencari tahu bagaimana merencanakan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan murid dan juga mengubah praktik mengajar guru.  Keempatnya disajikan dalam model penelitian tindakan kelas. Nah, kawan-kawan KGB Makassar tidak ingin kehilangan kesempatan mempelajari keempatnya. Pak Asrar sangat paham materinya. Nilai tambahnya adalah kehadiran pak Asrar di KGB kemudian mengubah sedikit cara pandang saya terhadap laku kepala sekolah. Narasumber ketiga adalah pak Amal Hasan. Leader of Google Educators Group Sulawesi Selatan. Saya tidak kenal beliau sebelumnya. Sehari sebelum kegiatan, adiknya, Husni Hasan kirim pesan.  “Salam sama narasumbernya ya. Sibuk semuami. Tidak teman, tidak kakak, samaji semua sibuknya”, tulis Unny setelah lihat status saya di WA. Baru ketahuan mereka saudara. Husni Hasan itu kawan saya di kampus. Beda jurusan.  Begitulah KGB digerakkan. Percaya dengan kekuatan jaringan. Miss Emy berkawan dengan pak Amal. Karena mudik, akhirnya KGB Makassar juga sudah berkawan. Kawan guru, apa saja yang dipaparkan pak Amal? Saya tersentak. Guru menganjurkan, mengajarkan tentang pentingnya keterampilan kolaborasi pada anak didiknya. Sayangnya, sang guru juga belum terampil mengelola kegiatan kolaborasi di sekolahnya. Jleb.  Guru jalan sendiri-sendiri. Mengajar sendiri-sendiri. Menilai sendiri-sendiri. Mereka bicara bersama hanya pada waktu-waktu tertentu. Pada saat rapat sekolah salah satunya. Selebihnya, ya jalan sendiri-sendiri.  “Google sudah menyiapkan berbagai teknologi kolaborasi untuk di sekolah. Sayang sekali kalau tidak dimanfaatkan.”  Karena materi ini banyak, kami minta kesediaan narasumber untuk mengenalkan satu persatu teknologi itu. Sebutlah dengan pendalaman materi. Dilain kesempatan dengan waktu yang lebih banyak.  Akhirnya ucapan terima kasih kepada kawan-kawan guru di Lazuardi Makassar. Semoga pertemanan ini menjadi kekuatan untuk menggerakkan lebih banyak lagi guru yang merdeka belajar.

Guru Merdeka Belajar, Guru yang Adaptif

Peran guru sangat signifikan apabila kita melihat konteks pendidikan secara utuh, sehingga perlu adanya peningkatan kualitas guru untuk memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia. Guru belajar merupakan hal yang tidak mudah diperjuangkan, tapi pengembangan guru melalui Guru Belajar dapat menguatkan peran guru di masin masing jenjang pendidikan, sehingga perlu adanya forum diskusi untuk guru-guru. Temu Pendidikan Nasional adalah salah satu kegiatan dalam Komunitas Guru Belajar yang memfasilitasi atau memberikan wadah kepada guru-guru untuk dapat bertukar pikiran / sharing, berdiskusi mengenai masalah-masalah yang di alami selama pembelajaran di sekolah dan bagaimana cara menemukan penyelesaian dari masalah tersebut. Dalam pertemuan sesama pendidik kita akan banyak belajar dan menemukan inovasi-inovasi baru dalam pembelajaran. Kali ini dalam kegiatan Pesantren Ramadhan, SD Negeri Gadingan 2 bekerja sama dengan Komunitas Guru Belajar Solo Raya mengadakan kegiatan Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar. Kegiatan Temu Pendidik Sekolah ini dilaksanakan di SD Negeri Gadingan 2 selama 3 jam (13.00 – 16.00). Ada sebanyak 15 pendidik dan 104 murid kelas I – VI yang mengikuti Temu Pendidik Sekolah. Pukul 13.00 tepat acara dibuka dengan salam dan perkenalan diri oleh Komunitas Guru Belajar Solo Raya, setelah itu Kepala Sekolah memberikan sambutannya. Beliau mengapresiasi dan sangat senang dengan kedatangan kami, “saya pribadi sangat senang dan mengapresiasi kedatangan Komunitas Guru Belajar Solo Raya, perlu diketahui semenjak kedatangan Pak Arga (salah satu penggerak Komunitas Guru Belajar Solo Raya) sekolah kami menunjukkan progress naik. Semoga acara seperti ini tidak hanya sekali dilakukan dan saya berharap kedepannya dapat memberikan dampak positif untuk pendidik dan murid. Untuk selanjutnya saya persilahkan untuk melakukan kegiatan nonton bareng”, jelas Ibu Kepala Sekolah kepada kami. Pukul 13.25 tepat kegiatan dimulai. Kegiatan pertama yaitu pemutaran film  Sahabat Pemberani KPK yang di ikuti oleh siswa kelas I – VI selama kurang lebih 30 menit yang dipandu oleh Kak Winda selaku koordinator acara ini. Anak anak sangat antusias sekali dalam kegiatan ini, terbukti saat diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan film, mereka saling berebut. Kegiatan untuk siswa di akhiri dengan BoardGame. Board Game merupakan produk ciptaan dari Komunitas KPK sebagai salah satu media pembelajaran. Siswa dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing kelompok ada fasilitatornya untuk memandu jalannya game. Setelah melakukan board game selama 20 menit, siswa diminta untuk merefleksi kegiatannya dengan cara menuliskan pesan, kesan dan pembelajaran apa yang bisa di ambil dari board game tersebut. Kemudian hasil refleksi di tempel di papan tulis. Ada satu tulisan yang membuat penulis berdecak kagum “Sahabat Pemberani harus bersikap jujur, adil, disiplin dan mandiri” tulisan itu seperti sebuah tamparan untuk kita sendiri, salah satu sifat  yang harus dimiliki seorang guru dan mereka juga guru untuk kita, karena semua murid semua guru. Acara inti selanjutnya adalah nonton bareng guru merdeka belajar, kegiatan yang dihadiri oleh Bapak/Ibu Guru SD Negeri Gadingan 2 ini bertambah ramai manakala ada tamu dari politeknik Indonusa yang ingin mengadakan workshop tentang pembuatan musik dari suara mainan anak anak atau sejenis musik aransemen. Pemandu kegiatan nonton bareng ini adalah kak Rosi, sebelum dimulai kegiatannya Kak Rosi memberikan paparan dan pembukaan di lanjutkan dengan Kak Winda memberikan penjelasan dengan apa itu Komunitas Guru Belajar Solo Raya. Para guru menonton bersama video guru merdeka belajar dan mendengarkan, menyimak dengan baik apa yang disampaikan Ibu Najelaa Shihab. Setelah menonton video dengan durasi sekitar 15 menit, dilanjut dengan refleksi. Pada kegiatan refleksi ini, para guru memberikan refleksi terhadap apa yang di lihat dan didengarkan dalam video dan memberikan apresiasi positif terhadap Komunitas Guru Belajar. masing masing guru diminta menuliskan refleksinya dalam selembar kertas. Refleksi salah satu guru bernama Bu Eni, beliau menuliskan ”Guru terbebani administrasi yang banyak sehingga waktu tersita banyak untuk membuat administrasi”. Hal ini memang benar adanya, seperti yang disampaikan Ibu Najelaa Shihab,” salah satu tantangan kita saat ini adalah membedakan cara dengan tujuan, kita terjebak pada tugas tugas administratif,kita terjebak pada ketentuan-ketentuan birokrasi sehingga ujian, akreditasi,seleksi, nilai yang sebetulnya semua hanya cara kemudian menjadi tujuan dan menjadi prioritas utama, bahkan lebih tinggi dari prioritas tujuan nasional sendiri”. Setiap pendidik harus memiliki komitmen yang kuat untuk menjadi guru merdeka belajar. Refleksi lain disampaikan oleh Kak Catur Ayudiono, “Video merdeka belajar membuka wawasan untuk para pengajar lebih mengeksplor cara mengajar,tentunya dengan kreatif dan inovatif”. Guru yang profesional adalah guru yang adaptif, setiap siswa kita membutuhkan hal yang berbeda dari kita, sehingga kreativitas dan inovasi dalam pembelajaran sangat esensial.Video guru merdeka belajar merupakan sebuah renungan dan introspeksi kita sebagai pendidik “Sudahkan kita menjadi Guru Merdeka Belajar?”. Setelah pemutaran video ini, kita berharap kita mampu mengubah tujuan kita sebagai pendidik yang sebenarnya dan merdeka, semua dapat kita capai dengan tetap pada komitmen, mandiri dan refleksi. Seorang guru tidak ada yang belajar sendirian, maka dibentuklah wadah komunitas guru belajar. Guru dapat belajar dari guru lain, sama hal nya membuat jaring-jaring pengetahuan.  Acara penutup ditutup dengan pemaparan sedikit dari Kak Catur, beliau adalah seorang pengaransemen lagu dengan mengubah musik dalam lagu bersumber dari suara berbagai mainan anak- anak. Masing masing guru di minta untuk mengambil alat mainan anak anak yang dibawanya, dan kita diminta untuk membunyikan satu-satu. Komunitas Guru Belajar Solo Raya dan Sragen juga membuat sebuat video dengan Kak Catur dengan mengaransemen musik sebuah lagu menggunakan alat mainan anak anak. Rencana kami akan mengadakan workshop bekerjasama dengan kak Catur dalam waktu dekat. Disini pelajaran yang disampaikan kak Catur adalah bahwa semua yang ada di sekitar kita bisa dimanfaatkan untuk media belajar, asal kita ada kemauan pasti bisa. Inovasi dalam dunia pendidikan tidak pernah habis, mari kita sebagai pendidik memulai untuk memerdekan diri sendiri sebagai guru merdeka belajar, memiliki kemauan dan komitmen untuk menjadi guru profesional, walaupun semua ini membutuhkan proses yang tidak singkat tapi setidaknya kita berani untuk menghadapi perubahan untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.Dan inilah acara penutupan yang berakhir dengan ceria.

Guru Merdeka Belajar, Guru yang Menggerakkan

Salah satu ciri-ciri hidup adalah bergerak. Dan salah satu hidup yang bermakna adalah menggerakkan. Menggerakkan apa? Apapun yang digerakkan, tentu orientasinya pada kebaikan. Demikian halnya ketika guru ingin menggerakkan diri sendiri maupun orang lain agar mau belajar. Mestinya seorang guru pantang mengajar jika tidak mau belajar lagi. Apalagi melihat dinamika hidup yang terus berkembang. Rata-rata guru yang merupakan produk Abad ke-19 harus sering beradaptasi menghadapi murid-murid abad ke-21 yang tentu lebih kompleks tantangannya. Bagaimana mungkin kita tidak mau belajar lagi, sedangkan hidup terus memberikan pembelajaran?  Salah satu cara memotivasi guru untuk terus belajar adalah dengan cara melaksanakan kegiatan nonton bareng video guru merdeka belajar. Saya tertarik untuk mengajak teman-teman menonton video ini dengan harapan dapat menginspirasi teman-teman lain tentang guru merdeka belajar. Maka, kami mengagendakan kegiatan ini pada hari Kamis, 23 Mei 2019 di SMP Negeri 2 Kedungpring Lamongan ini. Tentu sebelumnya kami publikasikan dulu adanya kegiatan ini baik secara langsung dari mulut ke mulut maupun melalui media sosial. Alhamdulillah sampai hari yang ditentukan ada sepuluh teman yang bersedia hadir.  Sebelum kegiatan nobar video, terlebih dahulu saya mengajak teman-teman untuk berdiskusi dan berbagi tentang pengalaman belajar ketika menjadi guru. Saya pun mengawali bercerita. Pada awal menjadi guru, saya sering mendengar komentar negatif ketika melakukan kegiatan belajar. Ada orang yang mengatakan bahwa masa belajar guru adalah dulu saat sekolah dan kuliah. Sekarang saatnya mengajar, dan tak perlu lagi belajar. Ada pula yang berkomentar, “Enak cari sertifikat saja. Bayar sedikit sudah cukup. Daripada menghabiskan waktu untuk belajar atau pelatihan.” Dan yang lebih parah lagi saat saya menjadi juara I dalam sebuah kompetisi guru, ada guru lain yang berkomentar, “Cari sensasi saja!”. Tapi itu dulu, saat saya masih belajar sendirian dan butuh waktu untuk mengajak belajar teman-teman lainnya.  Apa yang saya ceritakan di atas ternyata diiyakan dan dialami oleh teman- teman yang lain. Bahkan ada yang merasa dijauhi teman-temannya karena dianggap guru yang sok ilmiah. Juga ada yang mendapatkan sikap sinis dan komentar, “Mau jadi apa kok ikut pelatihan, seminar, komunitas, dan organisasi? Mau cepat jadi Kepala Sekolah?”, dan lain-lain. Namun, dengan berlalunya waktu dan juga berkembangnya kebutuhan, sebagian guru sudah ikut semangat belajar. Meski sebagian lainnya masih mempertahankan pola pikir lamanya. Namun saya yakin perlahan-lahan kondisi ini akan membaik. Setelah kegiatan sharing tadi, saya mulai mengenalkan komunitas guru belajar. Keresahan dan keprihatinan yang selama ini saya rasakan, terjawab saat mengenal Komunitas Guru Belajar (KGB), Komunitas guru atau pendidik yang mau berbagi praktik cerdas pengajaran dan pendidikan yang diinisiasi Kampus Guru Cikal. Perkembangan KGB Lamongan juga menjadi materi kami.  Perlu diketahui bahwa KGB Lamongan selama ini telah menyelenggarakan Temu Pendidik Mingguan (TPM) sebanyak 6 kali secara daring. Saya menjadi narasumber pada TPM perdana, tanggal 7 Maret 2019 dengan moderator Sarah Aulia. Menyelenggarakan TPM Perdana bukan hal yang mudah. Apalagi bagi teman- teman yang belum terbiasa diskusi secara online. Dengan dibatasi waktu dan respon agak lambat, saya dan moderator sepakat untuk bekerja sama menghidupkan diskusi ini. Alhamdulillah semua terlaksana dengan baik dan TPM selanjutnya berjalan lancar.  Pada Temu Pendidik Daerah (TPD) perdana, saya dan Sarah Aulia sepakat untuk berbagi tentang kegiatan Wardah Inspiring Teacher yang kebetulan kami ikuti berdua. TPD kami jadwalkan pada tanggal 21 April 2019, bertepatan dengan hari Kartini. Namun ternyata yang hadir hanya 4 orang termasuk kami berdua. Sedih? Tentu. Namun, itu tak membuat kami patah semangat. TPD yang kedua adalah nobar di MAN I Lamongan. Saya kebetulan berhalangan hadir karena jatuh dari sepedamotor. Berapa yang hadir? Hanya Sarah dan satu teman lagi.  Kami tak menyerah. Saya berinisiatif mengadakan nobar lagi. Barangkali di Lamongan sebelah barat kejauhan jika harus ke Lamongan kota. Maka terlaksanalah kegiatan Nobar Video Guru Merdeka Belajar ini sesuai jadwal, yaitu  Kamis, 23 Mei 2019 pukul 13.00-15.00 WIB. Kegiatan nobar ini bertujuan : (1) adanya komunitas perintis yang mulai membuat kegiatan, dan (2) adanya pemahaman tentang merdeka belajar baik oleh anggota maupun penggerak.  Sebagai pengantar sesi nobar, saya sedikit mengulas tentang empat kunci dalam pengembangan kompetensi guru menurut kampus guru cikal yaitu: (1) kemerdekaan belajar adalah prasyarat agar setiap pelajar, guru, komunitas, dan organisasi melatih otonomi untuk tumbuh berkembang secara optimal, (2) kompetensi guru adalah fondasi terselenggaranya pendidikan berkelanjutan yang berkualitas, (3) kolaborasi memberdayakan guru dan semua pemangku kepentingan untuk saling dukung dan menghasilkan dampak positif terhadap ekosistem pendidikan, dan (4) karier guru yang jelas dan beragam menjadi daya dorong bagi guru untuk terus menerus berkarya dan berkontribusi pada negeri ini.  Pada point pertama yaitu kemerdekaan belajar merupakan materi yang didiskusikan dalam pertemuan TPD III ini. Semua peserta yang hadir menyimak video Merdeka Belajar yang berisi penjelasan tentang Merdeka Belajar oleh pemateri Najelaa Shihab. Najelaa Shihab menjelaskan bahwa ada tiga ciri-ciri merdeka belajar yaitu komitmen pada tujuan, mandiri untuk belajar yang berarti, dan refleksi berkala dalam pembelajaran.  Najelaa Shihab mengatakan, “Memerdekakan diri kita sendiri dimulai dari pembuktian bahwa kita dan perubahan yang kita lakukan adalah yang kita nanti- nantikan. Jadi, tidak perlu menunggu siapapun untuk merdeka belajar.” Guru yang merdeka belajar memiliki ketekunan dalam perjalanan menuju tujuan yang bermakna bagi dirinya. Tidak hanya memahami kewajiban, tetapi juga memiliki otonomi dan menggunakan otoritas dengan bijak. Guru yang merdeka juga memiliki kemandirian dalam meningkatkan kompetensi dirinya dan juga bisa memotivasi dan menumbuhkan kemandirian pada murid-muridnya. Dan yang tak kalah penting, guru merdeka belajar melakukan refleksi berkala dalam pembelajaran yang telah dilaksanakan. Refleksi ini penting dilakukan untuk mengevaluasi, memperbaiki, dan merencanakan apa yang akan dilakukan di masa mendatang.  Yenni Rinawati, guru termuda dari SMPN 2 Kedungpring mengungkapkan pendapatnya tentang kegiatan ini, “Wah,perlu juga nobar yang begini ini ya. Dapat ilmu dan motivasi dari Bu Najelaa.” Sementara itu Santhy Rahayu, guru SMK Muhammadiyah 7 Kedungpring menyatakan senang dapat mengikuti kegiatan ini. “Kegiatan ini sangat bermanfaat. Kalau selama ini kita menunggu diundang pelatihan dari pemerintah, maka susah mendapatkan kesempatan belajar. Tetapi dengan konsep guru merdeka belajar ini, kita jadi semangat untuk belajar dimanapun dan kepada siapapun,”ungkapnya.  Materi nobar ini juga dapat meluruskan miskonsepsi yang selama ini sering ditemui. Bahwa belajar itu harus ada insentif dari eksternal misalnya. Yang betul belajar itu sebagai kebutuhan alamiah kita. Banyak guru yang selama ini berpendapat bahwa belajar itu … Read more

Guru Merdeka Belajar, Mempertanyakan Proses Pendidikan

Bulan Mei ini jadwal guru se-Indonesia Raya semakin padat. Diawali dengan menyambut Ramadhan, pengumuman kelulusan siswa kelas XII dan IX, persiapan Penilaian Akhir Tahun, pelaksanaan hingga proses pengolahan nilainya. Hari ini, di sela-sela kesibukan mengolah nilai siswa di kantor, kami terlibat obrolan hangat terkait hasil UNBK yang telah diumumkan beberapa waktu yang lalu. Secara mengejutkan, perolehan nilai rata-rata untuk sekolah kami naik secara signifikan, menempatkan sekolah kami (SMAN 3 Teluk Keramat, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat) pada posisi 10 besar sekolah dengan perolehan nilai UNBK tingkat SMA/SMK/MA terbaik di kabupaten Sambas. Sebuah berita yang membanggakan seharusnya, namun kami malah tersenyum kecut, mengingat proses panjang berliku selama tiga tahun terakhir dan bagaimana kami telah mengenal dengan baik karakter siswa kami sendiri. Belum lagi jika membayangkan nasib siswa cemerlang tersebut ketika masa SMA berakhir, yang seringkali tak secemerlang nilainya. Disisi lain, nilai bertabur bintang ini menjadi kebanggaan dan lantas dibandingkan dengan perolehan nilai sekolah, kabupaten dan provinsi lain, untuk kemudian menjadi tolak ukur keberhasilan program dan landasan untuk menentukan arah program berikutnya bagi pejabat pembuat kebijakan di tingkat pusat. Obrolan kami kemudian bermuara pada beberapa pertanyaan; Apakah tujuan hakiki sistem pendidikan kita dan apa indikatornya? Lalu dimana peran guru seharusnya ditempatkan dalam sistem ini? Sangat wajar jika pertanyaan ini muncul, mengingat seringnya bongkar-pasang kurikulum yang diterapkan di negeri ini, yang seringkali tidak sesuai dengan daya dukung sekolah dan kebutuhan dunia kerja.  Saya kemudian teringat sebuah video “merdeka belajar” yang pernah dibagikan oleh teman saya, dan mengajak teman-teman untuk sejenak ikut menontonnya. Sebuah laptop dengan pengeras suara ditata sekenanya. Ada kesan kaget, heran di raut wajah teman-teman ketika menontonnya, terutama pada bagian penjelasan piramida pendidikan di Indonesia. Spontan, kami membandingkan apa yang dijelaskan dalam video tersebut dengan apa yang kami rasakan selama ini. Kami semua sudah paham alur kebijakan pendidikan di Indonesia dan menyadari ada yang salah dengan itu. Guru sebagai garda terdepan pendidikan yang lebih mengenal medannya, selama ini diatur oleh pembuat kebijakan yang berada di belakang.  Dan penjelasan tentang membalik piramida tersebut membuka pikiran kami, bahwa seharusnya seperti ini lah sistem pendidikan dijalankan. Lalu kami sampai pada diskusi, apa bedanya program ini dengan program Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan yang telah digagas oleh pemerintah beberapa tahun yang lalu? Program Merdeka Belajar membuka kesempatan bagi setiap orang untuk berperan dalam sistem dan belajar berproses dari bawah, menikmati jatuh bangunnya, karena belajar bukan hanya dari pakar, namun bisa dari mereka yang sama seperti kami, yang lebih memahami kondisi nyata yang kami hadapi. Akhirnya kami menyadari, bahwa suara kami sendiri tidak akan berpengaruh untuk perubahan, namun akan sangat berperan jika kami bersatu dalam komunitas. Perubahan itu seharusnya dimulai dari diri kami sendiri sebagai pendidik, dan kemauan untuk berubah itu sudah seharusnya ditularkan kepada semua yang merasa bahwa pendidikan kita butuh perhatian.