Memahami Karakter Generasi Z

Banyak orang tua dan atau guru bercerita tentang susahnya mendidik anak-anak usia sekolah saat ini. Sangat berbeda dengan generasi terdahulu. Sebagian menyadari ini sebagai dampak perkembangan zaman, internet, bahkan revolusi industri 4.0, tapi sebagian orang tua atau guru tetap memaksakan untuk mendidik dengan cara yang dulu mereka dapatkan. Apa yang perlu kita pahami dari anak-anak saat ini agar kita sebagai orang tua atau guru bisa menentukan bentuk pendidikan yang tepat? Yuk cek liputan KGB on Air di Ria FM Solo berikut, dengan narasumber Guru Atik Astrini, dan Agus Riyanto dari KGB Solo Raya. Dalam sebuah buku yang ditulis oleh Penguin (2004) didalamnya memuat sebuah teori generasi (Generation Theory) yang dikemukakan Graeme Codrington & Sue Grant-Marshall. Generasi manusia pasca perang dunia dibedakan 5 generasi manusia berdasarkan tahun kelahirannya, yaitu: (1) Generasi Baby Boomer, lahir 1946-1964; (2) Generasi X, lahir 1965-1980; (3) Generasi Y, lahir 1981-1994, sering disebut generasi millennial; (4) Generasi Z, lahir 1995-2010 (disebut juga iGeneration, GenerasiNet, Generasi Internet). DAN (5) Generasi Alpha, lahir 2011-2025. Menilik dari uraian di atas, maka anak-anak kita yang saat ini duduk di bangku sekolah adalah generasi Z. Generasi Z ini lahir saat internet sudah dapat diakses (di Indonesia akses internet dipegang oleh Indonet tahun 1994). Artinya generasi ini sangat akrab dengan teknologi. Mereka lahir di era digital yang semua hal dapat mereka akses secara mudah. Jika kita berbicara tentang revolusi industri 4.0 yang saat ini gencar, maka generasi ini paling terkena dampaknya. Sehingga kita sebagai guru atau orang tua memang harus mengenali hal ini. Jangan memaksakan untuk mendidik mereka dengan cara pendidikan yang kita terima. Sudah jauh berbeda, sangat berbeda. Karakter Generasi Z Melihat kondisi yang telah diuraikan tadi, bahwasanya generasi Z lebih akrab dengan teknologi dan informasi yang mereka akses melalui internet. Hal ini tentunya memutus jarang, ruang, dan waktu mereka dalam bersosialisasi terhadap orang lain di dunia nyata. Bagaimana sebenarnya karakter mereka? Betul sekali. Banyak sekali waktu mereka habis dengan dunia mereka secara digital. Mereka lebih rela menabung untuk beli kuota internet dibandingkan beli sepatu baru atau baju. Setidaknya ada beberapa karakteristik generasi Z yang perlu kita pahami.  Pertama, Fasih Teknologi , tech-savvy, web-savvy, appfriendly generation. Mereka adalah “generasi digital” yang mahir dan gandrung akan teknologi informasi dan berbagai aplikasi komputer. Mereka dapat mengakses berbagai informasi yang mereka butuhkan secara mudah dan cepat, baik untuk kepentingan pendidikan maupun kepentingan hidup kesehariannya. Kedua, Sosial. Mereka sangat intens berinteraksi melalui media sosial dengan semua kalangan. Mereka sangat intens berkomunikasi dan berinteraksi dengan semua kalangan, khususnya dengan teman sebaya melalui berbagai situs jejaring, seperti: FaceBook, twitter, atau melalui SMS. Melalui media ini, mereka bisa mengekspresikan apa yang dirasakan dan dipikirkannya secara spontan. Ketiga, Ekspresif. Mereka cenderung toleran dengan perbedaan kultur dan sangat peduli dengan lingkungan Keempat, Multitasking. Mereka terbiasa dengan berbagai aktivitas dalam satu waktu yang bersamaan. Mereka bisa membaca, berbicara, menonton, atau mendengarkan musik dalam waktu yang bersamaan. Mereka menginginkan segala sesuatunya dapat dilakukan dan berjalan serba cepat. Mereka tidak menginginkan hal-hal yang bertele-tele dan berbelit-belit. Kelima, Cepat berpindah dari satu pemikiran/pekerjaan ke pemikiran/pekerjaan lain (fast switcher). Keenam, Senang berbagi. Dari pelbagai karakter ini sebenarnya kita sebagai guru atau orang tua justru dimudahkan dalam hal pendidikan. Kita cukup memfasilitasi dan mengontrol saja dunia mereka. Yang menjadi masalah utama karena mereka jiwa sosialnya cenderung di dunia maya sehingga sedikit bertentangan dengan adat budaya kita sebagai bangsa Indonesia yang terkenal memiliki jiwa gotong royong tinggi dan kadang tidak mengenal tentangga di sekitarnya. Perilaku Generasi Z yang Dikeluhkan Orang Tua dan Guru Generasi Z dengan ciri dan karakternya tersebut sebenarnya justru memudahkan kita dalam pendidikan karena banyak sumber belajar bisa mereka akses. Mengapa justru saat ini banyak orang tua atau guru yang mengeluhkan perilaku mereka? Ada beberapa penyebab mengapa perilaku mereka terutama dalam karakter dan tatakrama yang menjadi keluhan orang tua dan guru dalam mendidik, antara lain: Pertama, kekurang pahaman orang tua atau guru tentang karakteristik anak-anak generasi Z. Kekurangpahaman ini tentu akan berakibat pada pemberian tindakan yang kurang tepat. Orang tua atau guru sadar atau tidak masih saja memaksakana model pendidikan lama. Generasi Z menyukai hal yang baru, dan tidak menyukai banyak aturan. Mereka merasa bahwa segala sesuatu bisa dilakukan secara mudah dan instan, mengapa harus bertele-tele. Hal ini membosankan bagi mereka, tidak menantang untuk dilakukan. Kedua, kesibukan orang tua atau banyaknya kegiatan guru sehingga kadang justru mengekang waktu belajar orang tua atau guru itu sendiri. Padahal sebagai orang tua atau guru, seharusnya kita berpegang teguh bahwa belajar itu sepanjang hayat. Tetapi coba kita lihat di lapangan. Orang tua kadang terlalu sibuk bekerja dan seolah menyepelekan pendidikan anaknya di rumah. Guru dengan pelbagai kegiatannya justru membiaskan kewajibannya sebagai yang digugu lan ditiru untuk terus belajar. Jika demikian dibiarkan maka karakter dan tatakrama anak pasti akan selalu seperti ini. Ketiga, kurangnya komunikasi dan rasa persahabatan antara orang tua dan atau guru dengan anak. Orang tua atau guru kadang masih menempatkan mereka pada posisi yang sederajat lebih tinggi. Memaksa anak generasi Z menghormati sungguh sangat sulit, tetapi dengan sedikit memberikan pengertian dan kedekatan hubungan akan lahirlah kesadaran dalam diri mereka tentang nilai dan karakter untuk menghormati sesama. Jadi orang tua dan guru jangan kaku, jangan konservatif, jangan minta dihormati, dan masih banyak lagi yang justru akan kontradiktif jika dilakukan terhadap generasi Z. Bagaimana Cara Memperlakukan Generasi Z Melihat beberapa penyebab tersebut, tentu kita berpikir bagaimana cara untuk memperlakukan mereka? Apapun mereka harus tetap diberikan pendidikan. Kita sebagai orang tua dan guru juga harus menyadari bahwa pendidikan sejatinya justru menekankan pada pembentukan karakter dan tatakrama sebagai indikator keberhasilannya. Bagaiman pendapat anda? Ada beberapa hal setelah kita memahami uraian-uraian tentang generasi Z tersebut sebagai titik awal dalam menentukan tindakan terbaik. Agar pendidikan yang dilakukan berhasil secara holistik (kognitif, affektif, dan psikomotor). Agar karakter dan tatakrama yang menjadi kebanggan bangsa tetap tertanam dalam jiwa anak-anak generasi Z. Pertama, belajar. Orang tua dan guru harus belajar. Menjaga agar kita semangat dalam belajar coba ikutlah dalam komunitas-komunitas. Salah satunya Komunitas Guru Belajar. Komunitas ini berprinsip bahwa semua orang bisa menjadi murid dan bisa menjadi guru. Semua tempat adalah sekolah, dan semua orang adalah guru. … Read more

Merdeka Belajar, Mewujudkan Pengalaman Belajar yang Bermakna

Pertama kali mendengar kata “merdeka belajar” cukup menggelitik hati saya. Apakah guru  bebas seenaknya mengajar, atau apakah murid bebas seenaknya belajar. Hal ini terjawab sudah setelah saya bergabung dalam KGB Pekalongan. Saya mulai mengenal KGB Pekalongan sejak mengikuti kegiatan Ransel Ramadhan tahun lalu. Mengikuti kegiatan-kegiatan KGB Pekalongan membuat semangat belajar saya semakin bertambah. Dengan mengikuti kegiatan KGB Pekalongan membuat saya sadar bahwa guru haruslah selalu meng-upgrade ilmu, guru harus selalu belajar, lebih-lebih bisa berbagi kepada teman sesama guru. Semakin lama semakin kami penasaran dengan praktek merdeka  belajar. Akhirnya ketika TPN 2018 saya memilih mengikuti kelas Guru Unun tentang Merdeka Belajar. Tidak hanya itu saja, sembari praktek merdeka belajar di kelas, agar sewaktu-waktu saya bisa kembali membuka materi, saya beli buku tentang merdeka belajar. Saya ingin praktek merdeka belajar yang positif ini menyebar di kota Pekalongan. Karena pengalaman belajar bermakna dapat terwujud karena adanya kemerdekaan belajar bagi guru dan siswa di sekolah. Dengan melobi sana sini, akhirnya ada sekolah yang bersedia untuk dijadikan tempat. Pada hari Kamis, 23 Mei 2019 pukul 13.00 WIB saya berkesempatan mengadakan nobar merdeka belajar. Tidak hanya nobar merdeka belajar saja, tetapi saya mengajak Guru Desi dan Guru Zidnil untuk berbagi. Guru Zidnil berbagi materi merdeka belajar menjelang PAT dan Guru Desi berbagi materi peningkatan literasi dengan panen tumbar. Tentang Guru Zidnil, beliau berbagi 3 kegiatan sekaligus. Yang pertama math challenge. Math challenge ini untuk mengetahui seberapa pemahaman anak terkait Matematika untuk persiapan PAT. Guru Zidnil mengolahnya dalam bentuk games. Anak tak terasa kalau masih evaluasi. Beberapa soal Matematika disebar di beberapa tempat dan anak menjelajahi beberapa sambil mengerjakan soal. Anak terlihat antusias mengerjakan dan belajar. Kegiatan kedua adalah smart id. Guru Zidnil memanfaatkan meja dan lantai untuk menempel double tip. Saling mengkaitkan dan membentuk sudut. Anak dibagi dalam beberapa kelompok dan dengan metode widow shopping. Ternyata cara ini membuat anak lebih semangat belajar daripada dengan metode ceramah saja. Kegiatan ketiga, Guru Zidnil berbagi pembelajaran dengan film memakai sinedu.id yang dipadukan dengan materi bahasa Indonesia. Anak-anak sangat senang dengan cara ini.  Selanjutnya, Guru Desi berbagi materi tentang peningkatan literasi dengan panen tumbar (papan temple dan kartu bergambar berbantuan kamus digital). Guru Desi mengajar mapel TIK. Sebelumnya guru Desi memilih musik untuk mengiringi pembelajaran. Sambil bermain dan belajar. Tiap kali music berhenti, giliran anak mencoba membaca kartu dan kemudian menempel pada papan. Kartu ini berisi gambar perangkat keras computer disertai dengan tulisan. Jadi anak tak hanya mengetahui tulisan dan pengucapan bahasa Inggris tetapi juga tahu fungsi dari alat tersebut. Jika anak masih salah dalam pelafalan maka bisa belajar sambil membuka oxford living dictionaries. Sebelum Guru Desi dan Guru Zidnil berbagi, kita mengadakan nobar merdeka belajar, kemudian dilanjut dengan diskusi, dan terakhir adalah refleksi. Kesimpulan hasil diskusi kami di antaranya adalah kita sepakat bahwa : Proses belajar membutuhkan kemerdekaan dan harus melibatkan semua pihak Pelajar dan guru yang merdeka mempunyai komitmen pada tujuan belajar. Pelajar mengetahui mengapa dan untuk apa dia belajar, begitu pun guru Pelajar dan guru merdeka adalah yang mandiri mengatur strategi untuk mencapai tujuan belajar. Seperti menekankan bahwa motivasi internal dalam belajar sangatlah penting, pelajar harus dilibatkan dalam merencanakan tujuan belajar, menjelaskan manfaat dan tujuan belajar, memberikan dukungan yang tepat, memberi kritik yang konstruktif, pelajar bertanggung jawab dalam proses belajarnya sendiri, merancang tantangan belajar, memberikan pilihan dalam proses belajar, melibatkan pelajar dalam proses asessment Pelajar dan guru merdeka harus melakukan refleksi. Memahami sejauh mana belajar, mengetahui sisi mana yang perlu dikembangkan, memantau seberapa jauh proses perjalanan belajarnya kemudian merencanakan follow up Pengalaman belajar bermakna akan terwujud jika ada kemerdekaan dalam belajar. Belajar itu tidak harus dengan ahli, tapi dengan sesama guru pun bisa belajar Belajar sebagai kebutuhan Belajar dengan tujuan dalam konteks Belajar butuh waktu Kompetensi tumbuh bersama lingkungan Merdeka belajar itu kita bisa belajar dengan siapapun, di manapun kita berada, dan kapan pun selalu belajar. Setelah nobar dan berdiskusi, saya mengajak teman-teman guru untuk berefleksi bersama. Setelah nobar kita jadi semakin sadar bahwa selama ini kita masih terkurung dengan segala miskonsepsi belajar. Padahal sebenarnya merdeka belajar adalah sebuah kebutuhan. Kita semua sepakat mengikis sedikit demi sedikit miskonsepsi yang selama ini ada dalam diri kita.

Memetakan Potensi ABK dengan Asesmen

Apa jadinya seorang ahli bedah yang dikenal hebat, terlempar ke masa di mana alat-alat bedah tidak ada. Apakah ia masih bisa melakukan praktik membedahnya?  Namanya Jyin Hyuk, seorang dokter bedah yang hidup dan tinggal di masa modern yang mengalami kejadian aneh, yang membuatnya harus terlempar jauh ke masa Dinasti Joseon. Dalam masa itu, teknologi medis masih dalam tahap awal. Banyak kasus yang dialami Jyin Hyuk ketika ia terlempar ke waktu yang berbeda. Salah satunya adalah ketika ia menemui seorang anak yang sakit perut, mual, mata tampak cekung, dan juga kulit kering.  Dari sekilas melihat kondisi anak tersebut, Jyin Hyuk meminta warga untuk menjaga kebersihan dan melakukan beberapa tindakan. Namun tak disangka, wabah melebar, ada beberapa warga yang meninggal karena penyakit tersebut. Di masa belum ada peralatan medis tersebut, Jyin Hyuk membuat alat alternatif, obat alternatif dan melakukan beberapa keputusan agar virus tersebut tidak tersebar. Asesmen, saya melihat apa yang Jyin Hyuk sebagai seorang dokter melakukan asesmen, dia memperkirakan apa yang sedang dialami si anak dari mengobservasinya, seringnya mual, sakit perut hingga kulit kering membuatnya mendiagnosis bahwa si anak terkena kolera. Ia pun tahu kalau virus itu akan cepat menyebar dan mengambil beberapa keputusan sampai membuat beberapa obat dan alat untuk mengobati yang sudah terkena dampak. Sebagai seorang guru, salah satu yang perlu dimiliki adalah kemampuan seperti dokter Jyin Hyuk, yaitu melakukan asesmen. Oleh karena itulah dalam program Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas pelatihan pertama difokuskan mengajak guru peserta program untuk bisa melakukan asesmen. Pelatihan bertema  “Pemetaan Potensi ABK Pasca Pendidikan Menengah” ini diikuti sekitar 40 guru pembimbing khusus dari SMALB, dan guru BK dari  SMA/SMK/Madrasah Inklusi di Jawa Tengah. Pelatihan yang berlangsung selama 3 hari ini (5-7 Agustus 2019) bertujuan untuk peserta memiliki persepsi yang sama mengenai tujuan pendidikan inklusi, dan mampu melakukan asesmen untuk mengidentifikasi ABK. “Sering banget terjadi miskonsepsi diantara guru mengenai pendidikan inklusi”, ujar Vitriani Sumarlis salah satu pelatih dari Kampus Guru Cikal. Oleh karena itulah di bagian awal pelatihan, peserta diajak untuk berpikir dan berdiskusi mengenai miskonsepsi pendidikan inklusi, seperti : Murid dengan disabilitas/ berkebutuhan khusus tidak akan mampu mengikuti kurikulum yang sama seperti anak-anak pada umumnya  Kurikulum khusus perlu dirancang untuk anak-anak dengan disabilitas/ kebutuhan khusus Menerima murid disabilitas/berkebutuhan khusus dalam kelas reguler hanya akan menghambat pencapaian murid-murid yang lain di kelas tersebut  Pernyataan-pernyataan tersebut membawa peserta berbeda pendapat, ada yang setuju ada pula yang tidak setuju. Dari proses inilah, kami melihat beberapa guru memang masih kebingungan mengenai tujuan pendidikan inklusi. Untuk lebih memberikan gambaran mengenai pendidikan inklusi, pelatih memutarkan sebuah video tentang praktik pendidikan inklusi di negara-negara eropa. Peserta kemudian diajak berdiskusi antarkelompok. “Saya jadi mulai memiliki gambaran sebagai guru BK menerapkan pendidikan inklusi di sekolah saya. Kalau memang pendidikan untuk semua, mengapa perlu kurikulum khusus. Saya mulai memahami bahwa untuk mencapai itu, salah satu yang perlu dilakukan adalah kolaborasi..” ujar salah satu peserta guru BK. Setelah itu pelatihan yang berlangsung di Gedung BP-Diksus, Semarang ini mengajak peserta untuk mengenali keragaman ABK (Anak Berkebutuhan Khusus). Karena jika guru mengetahui tentang keragaman ABK, guru bisa lebih mudah memberikan tindakan yang tepat sesuai ragam ABK-nya. Dalam sesi ini, peserta diajak bermain kartu Murid Istimewaku, kartu permainan yang bertujuan mengajak peserta tahu dan mengerti ragam ABK. Melalui permainan, ragam ABK yang berjumlah banyak memudahkan untuk dimengerti oleh peserta dan kemudian mengelompokkannya ke dalam area-area disabilitas, mana ragam disabilitas yang masuk area disabilitas fisik, mana yang masuk disabilitas sensori, mental, dan intelektual. “Permainannya seru, mengasah peserta untuk bisa merancang strategi agar mendapat skor banyak. Selain itu, penggunaan perbedaan warna memudahkan kami memetakan area disabilitas murid..” ujar salah satu peserta program. Harapannya setelah mengetahui tujuan pendidikan inklusi dan ragam ABK, guru bisa melakukan asesmen yang tepat untuk murid. Oleh karena itulah sesi selanjutnya yang berlangsung di hari kedua membahas tentang prinsip, tujuan dan cara asesmen.  Jika diandaikan seorang dokter Jyin Hyuk yang terlempar ke masa belum mengenal peralatan medis, dan menggunakan apa yang ada di lingkungannya untuk membantu mengobati pasien, maka sebenarnya tantangan guru adalah itu. Tidak bergantung asesmen-asesmen dari lembaga lain yang biasanya berharga tinggi melalui serangkaian tes. “Tantangannya adalah mengajak guru menggunakan apa yang ada untuk melakukan asesmen. Dari sesederhana melakukan pengamatan kepada murid, melakukan wawancara. Karena selama ini yang terjadi di kalangan guru adalah cara melakukan asesmen menggunakan alat berupa tes, yang terkadang berbiaya..” ujar Rizqy salah satu pelatih dalam tahap ini. Lewat berbagai simulasi permainan, peserta diajak untuk saling mengamati satu sama lain. Mencatat apa yang dilakukan, bagaimana perilakunya, menanyainya untuk mendapat gambaran orang tersebut.  “Memang tantangannya dalam asesmen, bagaimana melakukan asesmen tidak secara langsung dan murid mengetahui bahwa mereka sedang diamati/diwawancarai.” ujar Vitriani Sumarlis kepada peserta setelah melakukan simulasi observasi dan wawancara. Di hari terakhir, peserta diajak mengenali bakat dan minat murid melalui teori Holland. Di sesi ini peserta antusias sekali mempelajari mengenai Teori Holland, yang membagi minat menjadi 6 yaitu realistik (sang pekerja), investigatif (sang pemikir), artistik (sang kreator), sosial (sang penolong), wirausaha (sang pembujuk), dan konvensional (sang pengatur). Harapannya, para peserta memiliki pengetahuan mengenai minat sehingga bisa menumbuhkan minat-minat yang murid miliki. “Pelatihan yang berbeda dari pelatihan lainnya. Tiap hari hampir 8 jam pelatihan namun tidak terasa.” Ujar Nanik Qomariyah, salah satu peserta 

Guru Merdeka Belajar, Guru yang Mandiri

“Apa itu Merdeka Belajar?” “Apa berarti bebas tidak Belajar?” “atau justru Belajar yang seperti apa?” “Kenapa Guru harus Merdeka dalam Belajar?” Keempat pertanyaan ini merupakan pertanyaan pemantik yang saya tanyakan kepada peserta TPD KGB Lamongan pada tanggal 15 mei 2019 di MAN 1 Lamongan. Diawal diskusi peserta masih belum memahami makna merdeka belajar. Bagi peserta, merdeka belajar berarti belajar dengan cara sebebas-bebasnya, artinya belajar tidak harus berada di dalam kelas. Sayapun setuju dengan pernyataan itu, bahwa belajar tidak harus berada di dalam kelas, dimanapun tempatnya dan dengan siapapun orangnya kita dapat belajar bersama. Melalui forum ini saya menjelaskan kepada peserta bahwa konsep dari merdeka belajar sangat berkaitan dengan 4 kunci pengembangan guru, yaitu: Kemerdekaan, Kompetensi, Kolaborasi, dan Karier. Sebelum masuk ke materi kunci pengembangan guru, saya menanyakan kembali kepada peserta TPD mengenai cita-cita dari seorang guru. Seringkali sebagai seorang pendidik/guru menanyakan “Apa cita-citamu?” kepada murid, namun kita sering kali lupa akan cita-cita kita sendiri. Jawaban menarik terucap dari Guru Anis, “Saya ingin menjadi guru yang dapat berinovasi dalam pengembangan metode dan media ajar yang sesuai dengan kebutuhan murid”. Di saat saya bertanya apa alasannya Guru Anis menjawab “Agar murid saya menyukai mata pelajaran saya serta terlibat aktif dalam proses pembelajaran”.  Dari diskusi singkat tersebut dilanjutkan dengan penanyangan video merdeka belajar dari ibu Najelaa Shihab yang berdurasi 15 menit. Dalam video tersebut dipaparkan mengenai beberapa cara mejadi guru yang merdeka belajar dan miskonsepsi yang memang terjadi saat ini. Ada tiga poin utama mengenai Guru Merdeka Belajar. Pertama, guru yang merdeka belajar berarti guru yang memiliki komitmen pada tujuan. Guru yang merdeka akan memahami mengapa perlu mengajar suatu materi serta kaitannya dengan aplikasi kehidupan sehari-hari. Namun seringkali sebagai pendidik kita terjebak pada tugas-tugas administratif, akreditasi, serta ketentuan birokrasi yang sebenarnya hanyalah syarat yang kemudian berubah menjadi tujuan dan prioritas utama. Kedua, guru yang merdeka itu mandiri, selalu bergantung pada dirinya untuk mengatasi tantangan, tidak mudah menyerah menghadapi tantangan, serta tidak mudah menyalahkan orang lain dan keadaan. Ketiga, guru yang merdeka itu reflektif, artinya berani meminta umpan balik secara aktif dan menilai diri sendiri dengan objektif. Pada kenyataannya kita cenderung menutup mata menolak melihat cermin diri kita sendiri dengan seribu alasan. Kita selalu mengatakan bahwa masyarakat belum paham mengenai sistem pendidikan, anak-anak tidak mengerti, orang tua akan menentang, peraturan pemerintah yang ruwet, dan lain sebagainya. Padahal itu adalah ketakutan kita sendiri untuk menuju perubahan. Selanjutnya, dipaparkan mengenai ragam miskonsepsi yang kerap dilekatkan pada guru. Diantaranya mengenai stigma bahwa guru hanya mau belajar apabila mendapatkan sertifikat atau uang. Namun guru-guru di KGB justru melawan miskonsepsi tersebut. “Guru-guru belajar yang hadir hari ini sebetulnya belajar karena kebutuhan alamiah. Banyak yang tidak percaya bahwa rekan-rekan guru ini datang dengan biaya sendiri, tanpa janji sertifikat atau uang apapun, hanya untuk belajar,” ujar bu Najelaa.  Miskonsepsi lainnya adalah mengenai guru hanya bisa belajar dari ahli atau pakar pendidikan, faktanya di komunitas belajar, guru saling belajar dari pengalaman rekan seperjalanan. Selanjutnya mengenai miskonsepsi guru diburu target belajar yang dipaksakan, padahal guru belajar itu butuh waktu. Miskonsepsi selanjutnya adalah mengenai guru yang selama ini hanya cukup perlu diberikan cara bagaimana melakukan (how to) saja, tanpa perlu tau mengapa (why) perlu melakukan suatu hal dalam pembelajaran. Padahal Guru profesional itu sebetulnya guru yang adaptif. Kita yang ketemu anak setiap hari tahu, betapa pentingnya peran guru yang adaptif. Setiap tahun ajaran, setiap minggu, bahkan setiap hari. Setiap murid kita butuh hal yang berbeda dari kita, sehingga ‘tahu kenapa’ menjadi sangat esensial. Setelah menonton video tersebut, Guru Anis kembali bertanya “Bagaimana jika seorang guru yang ingin merdeka belajar namun tidak didukung oleh lingkungan kerjanya? Misalnya: saya sering sekali mengajak guru-guru di MAN untuk berdiskusi dan berfleksi mengenai inovasi cara atau proses belajar-mengajar dalam kelas, namun mereka selalu menolak dengan dalih lebih nyaman mengajar dengan cara text book” Pertanyaan ini mengingatkan saya pada buku yang ditulis oleh ibu Najelaa Shihab “Merdeka Belajar di Ruang Kelas”. Pada buku tersebut tertulis bahwa kemerdekaan guru membutuhkan lingkungan yang mendukung. Artinya, guru sebagai individu hanyalah potensi dan akan terwujud menjadi kompetensi bila ditumbuhkan oleh ekosistem yang mendukung. Lingkungan kerja perlu mengurangi rasa takut salah, menghormati proses pemecahan masalah bersama, optimis memfasilitasi usaha guru, memberikan umpan balik yang berdasarkan bukti dan observasi yang direncanakan.  Dari pemaparan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa menjadi guru yang merdeka belajar selain timbul dari dalam diri sendiri juga harus didukung oleh lingkungan kerja serta rekan kerja itu sendiri, dalam hal ini adalah sekolah dan rekan sesama guru. Karena sejatinya tidak ada guru yang bisa belajar sendirian dan tidak ada guru yang bisa merdeka belajar sendirian. Kemerdekaan guru adalah kapasitas individu yang didukung oleh ekosistem yang baik.  Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Merdeka Belajar, Kesadaran Sudah Dijajah Motivasi Eksternal

Sebagai ketua MGMP Bahasa Indonesia saya merasa tergerak untuk mengajak para pengurus MGMP untuk merdeka belajar. Ya, istilah Merdeka belajar pertama kali saya dapatkan saat mengikuti The Festeachval yang diselenggarakan Komunitas Guru Belajar Pekalongan tahun 2018 di Unikal. Kelas yang saya pilih dalam kegiatan tersebut yaitu Kelas Merdeka Belajar yang di pandu oleh Pak Bukik Setiawan. Setelah mengikuti kegiatan tersebut dan membaca buku Merdeka Belajar saya menjadi sadar bahwa selama ini ternyata ada motivasi-motivasi eksternal yang menjajah guru. Oleh karena itu, saya ingin mengajak para guru Bahasa Indonesia di Kota Pekalongan untuk Merdeka Belajar, mulai dari pengurus MGMP Bahasa Indonesia Kota Pekalongan. Akhirnya pada tanggal 27 Mei 2019 saya berkesempatan mengajak teman-teman pengurus MGMP Bahasa Indonesia Kota Pekalongan untuk menonton film Guru Merdeka Belajar. Kegiatan tersebut saya laksanakan di SMP 5 Pekalongan jam 09.00 sampai dengan 10.30 WIB. Memang awalnya teman-teman MGMP kurang memahami pesan film tersebut. Akhirnya setelah diskusi dan pemutaran film yang kedua kali mereka baru bisa memahami tentang miskonsepsi pendidikan dan guru merdeka belajar. Setelah menonton dan berdiskusi saya mengajak pengurus untuk melakukan refleksi. Dan teman-teman pengurus menyadari bahwa selama ini telah terjajah dengan motivasi eksternal seperti takut dengan atasan, belajar untuk sertifikat, dan lain-lain. Dan setelah tahu konsep tentang merdeka belajar saya dan teman-teman sepakat untuk bangun dari  zona nyaman dan ingin meningkatkan diri karena dorongan internal bahwa untuk mengembangkan diri dan untuk merdeka belajar memang sebuah kebutuhan.

Guru Merdeka Belajar, Guru yang Belajar Tanpa Iming-iming

Pada  hari Kamis, 16  Mei 2019 jam 9.30  WIB, Komunitas Guru Belajar (KGB) Pesisir Selatan mengadakan Temu Pendidik  Daerah ke-7 bertempat di Laboratorium Komputer SMP Negeri 1 Lengayang. TPD Pessel ke-7  ini memiliki kegiatan inti Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar. Kegiatan TPD Pessel ke-7 ini di Moderatori  oleh saya sendiri Salmiati, sebagai salah satu calon penggerak dari KGB Pessel. Kemudian pemandu nobar di lakukan oleh ibu Rahmi Yanti selaku penggerak KGB pessel yang sudah berpengalaman pada acara TPN 2018 kemaren. Selain acara nobar, TPD ke-7 Pessel ini  juga di isi dengan penyampaian materi tentang Guru Melek IT melalui pemanfaatan belajar berbasis TIK yang disampaikan oleh saya sendiri Salmiati, S.Pd . Kegiatan ini direncanakan mulai pada jam 9.30 WIB. Namun sayanganya peserta banyak yang dating terlambat. Ketika itu peserta yang datang baru 4 orang dari 10 orang yang mendaftar. Sambil menunggu peserta lainnya datang, saya selaku moderator mempersilakan peserta mengisi absen secara online menggunakan komputer di lab sekolah tersebut. Pada saat pengisian absen secara online ini, peserta kaget, sebab belum pernah menghadiri sebuah pertemuan yang mengisi absen secara online. Kegiatan ini makin menambah  antusias peserta untuk mengikuti acara ini. Tidak lama kemudian, satu persatu peserta datang dan langsung mengisi absen online. Namun sayangnya tidak semua peserta sempat mengisi absen online disebabkan oleh jaringan internet yang lemot, sehingga dilakukan absen manual dengan kertas. Kegiatan ini berjalan lancar dan peserta yang hadirpun, merupakan guru-guru yang belum pernah tahu tentang Komunitas Guru Belajar.  Berdasarkan hasil pengamatan saya, pada saat seorang peserta yang bernama ibu Poni ketika menjawab pertanyaan di absen online tentang apa yang kamu ketahui tentang guru Komunitas Guru Belajar, beliau menjawab,”Iseng-iseng dapat ilmu katanya”, sehingga peserta lain ikut tertawa mendengar jawaban peserta tersebut. Pada umumnya peserta ingin tahu tentang Komunitas Guru Belajar serta apa manfaatnya bagi kegiatan pembelajaran. Selanjutnya masuk ke kegiatan inti yaitu nonton bareng Guru Merdeka Belajar yaitu sebuah video dari ibu Najela Shihab pada  Temu Pendidik Nusantara. Kegiatan ini di pandu oleh ibu Rahmi selaku penggerak KBG Pessel sekaligus pemandu pada acara Nobar tersebur. Pada saat sebelum video di putar, bu Rahmi terlebih dahulu melemparkan pertanyaan ke peserta sebagai salah satu appersepsi untuk membuka acara seperti berikut: “Apa yang anda ketahui tentang guru merdeka belajar ?” Pada awalnya, peserta menjawab pertanyaan tersebut pada kertas stickynote , pada saat itu saya sudah menyediakan kertas tersebut dan membagikannya pada peserta, setelah semua pendapat dituliskan peserta pada kertas tersebut, barulah pemandu meminta penjelasan dari beberapa orang peserta terkait dengan jawaban yg telah mereka tuliskan. Salah satu peserta terlihat antusias dan mengacungkan tangan ketika pemandu meminta tanggapan tentang video guru merdeka belajar tersebut “Guru merdeka belajar adalah guru yang belajar tanpa paksaan dan iming-iming sesuatu,” kata bu Poni dengan sangat lantang dan jelas, sehingga semua peserta ikut serius mendengarkan penjelasannya. Selanjutnya pemandu memberikan penguatan terhadap jawaban dari bu Poni tentang konsep dari guru merdeka belajar. Berikut ini hasil cuplikan jawaban peserta tentang guru merdeka belajar sebelum video ditayangkan : Setelah penyampaian argumen tentang guru merdeka belajar tersebut, semua peserta menonton tayangan video tentang guru merdeka belajar. Terlihat beberapa peserta serius mendengar dan mengamati tayangan video tersebut. Setelah tayangan selesai, tibalah saatnya sesi refleksi, ibu Rahmi sebagai pemandu menyampaikan pertanyaan beberapa pertanyaan sesuai yang ada pada panduan Nobar. Salah satunya antara lain, ” Di antara semua miskonsepsi, mana yang paling menggambarkan diri anda?” Lalu kebanyakan guru menjawab, biasanya kalau diberi insentif guru baru mau ikut pelatihan, dan jika ada iming-iming sesuatu barulah banyak yang mau mengikuti pelatihan – pelatihan serta sebaliknya jika tidak ada semacam iming-iming seperti sertifikat, dana transpor , maka jarang yang mau mengikuti pelatihan. Selanjutnya diskusi terus berlangsung tentang konsep merdeka belajar. Akhirnya semua peserta menyetuji dan sepakat bahwa untuk menjadi guru yang merdeka belajar haruslah memiliki  komitmen pada tujuan, kemudian mandiri serta mau melakukan refleksi. Meskipun tantangan yang paling besar bagi peserta adalah komitmen pada tujuan. Seorang guru mengeluhkan sulitnya mengubah mindset menjadi guru yang merdeka belajar karena situasi dan kondisi yang kurang mendukung. Di sini semua peserta mau menjadi Guru merdeka Belajar dan telah membuat komitmennya masing-masing dan akan melakukan perubahan secara perlahan-lahan pada kelasnya. Mereka akan mulai menanamkan prinsip-prinsip guru merdeka belajar dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari hal yang kecil seperti; tidak mengharapkan insentif dan iming-iming sesuatu jika mengikuti pelatihan-pelatihan pembelajaran. Setelah acara Nobar, dilanjutkan dengan penyampaian materi tentang guru melek IT melalui pemanfaatan pembelajaran berbasis TIK. Guru – guru sangat antusias mempraktekkan langsung menggunakan komputer dan juga lewat Hp android nya masing-masing. Demikianlah liputan singkat tentang TPD Pessel ke7 dengan agenda NOBAR tentang guru merdeka belajar serta penyampaian materi tentang Guru Melek IT. Tidak ada yang tidak mungkin dilakukan jika kita komitmen terhadap tujuan. Ayo mari menjadi guru merdeka belajar, mulai dari diri sendiri dan mulai saat ini. Salam Merdeka Belajar! Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Guru Merdeka Belajar, Cukupkah Guru Sekadar Mengikuti Sistem?

Tidak ada komunikasi paling efektif selain pertemuan. Di dalam pertemuan komunikator dan komunikan dapat berkomunikasi secara langsung dengan intensif. Begitu pula dengan Temu Pendidik Sekolah. Temu Pendidik Sekolah adalah salah satu kegiatan dalam Komunitas Guru Belajar yang memfasilitasi para guru untuk dapat sharing segala hal yang dialami selama pembelajaran di sekolah. Kali ini dalam kegiatan Riyadhah Ramadhan, SMP Al-Azhar Syifa Budi bekerja sama dengan Komunitas Guru Belajar Solo Raya mengadakan kegiatan Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar. Kegiatan Temu Pendidik Sekolah ini dilaksanakan di SMP Al-Azhar Syifa Budi Solo selama 3 jam (08.00-11.00). Acara dibuka dengan salam dan perkenalan diri oleh Komunitas Guru Belajar Solo Raya. Setelah itu acara disambut oleh Kepala Sekolah yang memberikan respon positif terhadap kegiatan dan respon baik terhadap Komunitas Guru Belajar Solo Raya. “Saya mengapresiasi kegiatan ini dalam rangkaian kegiatan Riyadhah Ramadhan tahun ini. Semoga hal ini dapat menambah energi positif untuk belajar bagi para guru dan juga murid-murid. Selanjutnya, saya persilakan para guru untuk menonton video merdeka belajar yang telah disiapkan oleh Komunitas Guru Belajar”, jelas Bapak Mustaghfirin (Kepsek) Pukul 08.30 tepat kegiatan dimulai. Kegiatan pertama yaitu sosialisasi anti korupsi yang diberikan kepada murid kelas VII SMP Al-Azhar Syifa Budi selama dua jam (08.30-10.30). Sosialisasi ini disampaikan langsung oleh Penyuluh Anti Korupsi Jawa Tengah yang juga merupakan penggerak Komunitas Guru Belajar Klaten (Solo Raya) yaitu Ibu Intan Hestika, M.Pd.  Sosialisasi dimulai dengan memberikan materi mengenai Anti Korupsi kemudian refleksi dengan memberikan pertanyaan kepada murid mengenai alasan pentingnya anti korupsi. Materi dan refleksi selesai kemudian dilanjutkan dengan esbreaking yaitu tepuk integritas. Kegiatan yang terakhir yaitu bermain board game. Board game ini diciptakan oleh KPK sebagai media belajar pendidikan anti korupsi. murid dibagi menjadi tujuh kelompok dan bermain board game sesuai kelompoknya dilanjutkan refleksi dengan menuliskan pesan kesan selama mengikuti kegiatan pada hari ini. Acara inti kedua adalah nonton bareng video merdeka belajar. kegiatan ini dihadiri oleh bapak-ibu guru SMP Al-Azhar Syifa Budi dan fasilitator Taman Belajar Anak Hebat (TaBAH). Para guru menonton bersama video merdeka belajar dan menyimak dengan baik apa yang disampaikan dalam video. Setelah menonton video, Ibu Heni Surya selaku penggerak Komunitas Guru Belajar Solo Raya menyampaikan profil dari Guru Belajar Solo Raya berikut sejarah dan kegiatan yang ada di dalamnya. Kegiatan ini diikuti dengan khidmat oleh para peserta yang kemudian dilanjutkan dengan refleksi.  Pada kegiatan refleksi ini, para guru memberikan refleksi terhadap apa yang telah dilihat dalam video dan memberikan apresiasi baik terhadap Komunitas Guru Belajar. Dua perwakilan guru menyampaikan bahwa banyak ditemui sekarang guru di sekolah yang belum merdeka belajar. “Sekarang ini masih sering saya menemui bapak-ibu guru di sekolah. Artinya, Bapak-ibu yang profesinya menjadi guru. Bukan bapak-ibu guru yang perilakunya mencerminkan seorang pendidik yang memiliki banyak inovasi di dalam kelas”, tutur salah satu guru. Hal itu memang benar adanya. Masih banyak guru yang memprioritaskan obsesi penambahan materi bagi dirinya sendiri namun mengabaikan pentingnya sebuah pembelajaran bagi murid yang harus merdeka belajarnya. Masih banyak guru yang stagnan pada paradigma mengajar yang konvensional, serta hanya patuh pada sistem.  Refleksi lain disampaikan oleh guru Bahasa Inggris yang tampak antusias sedari awal hingga akhir video diputar. “Saya sangat beterima kasih atas kedatangan Komunitas Guru Belajar Solo Raya ini ke sekolah kami. Jujur, saya memang baru tahu kalau ternyata di solo ada komunitas seperti ini. Saya sangat setuju dengan apa yang telah disampaikan dalam video tersebut. Selama ini yang saya rasakan saat pembelajaran, murid dan guru hanya patuh pada sistem yang telah dibuat. Apalagi yang miris ketika MGMP, ketika ada tuntutan kepada guru tentang pembelajaran di kelas, ada guru yang menanyakan imbalannya terlebih dahulu. Bagaimana sertifikasinya, dsb.”  Salah satu ibu guru menambahkan bahwa “Dengan adanya Komunitas Guru Belajar kami berharap dapat terus belajar tentang merdeka belajar dan mengenai sistem mereka berharap para pemangku kebijakan agar dapat bekerja sama dengan baik dengan komunitas ini. Pada akhirnya kemerdekaan belajar ini diharapkan dapat dilakukan oleh seluruh pendidik di nusantara tanpa terkecuali.” Refleksi tersebut kemudian ditanggapi oleh penggerak Komunitas Guru Belajar Solo Raya, Heni Surya yang juga menyetujui pendapat guru tersebut. “Saya sangat setuju dengan pendapat bapak dan ibu. Kami sebagai penggerak di komunitas ini juga memiliki harapan untuk dapat menjembatani permasalahan-permasalahan yang terjadi di sekolah khususnya di dalam kelas. Banyak sekali kegiatan yang dapat diikuti terkait merdeka belajar dalam komunitas ini. Ada Temu Pendidik Online sehingga guru yang jauhpun dapat mengikuti kegiatan ini hanya melalui gadgetnya, Temu Pendidik Sekolah seperti ini, siaran di radio, dan masih banyak lagi. Mengenai sistem, saya setuju seperti apa yang disampaikan oleh bapak guru tadi. Kami juga sangat beharap bahwa pemangku kebijakan dapat mengetahui keberadaan pergerakan kami. Dapat kita saksikan bersama bahwa kegiatan hari ini kami bekerja sama dengan KPK. Siang nanti kami akan berdiskusi dengan Badan Narkotika Nasional kota Solo terkait dengan kegiatan kami. Kami juga berharap bahwa nantinya pergerakan kami juga akan dilihat oleh Dinas Pendidikan sehingga kolaborasi akan lebih hebat lagi.” Video guru merdeka belajar ini sebagai sarana untuk mengajak para pendidik sekolah untuk faham mengenai merdeka belajar dan menerapkannya di kelas masing-masing. Dengan adanya motivasi yang disampaikan di dalamnya guru diharapkan tidak hanya belajar dari pakar saja. Guru dapat belajar dari guru lain terutama yang memiliki kreativitas dalam mengajar. Komunitas Guru Belajar dan Kampus Guru Cikal setiap tahun mengadakan Temu Pendidik Nusantara. Pada acara tersebut guru satu dengan guru lain dapat saling belajar tentang merdeka belajar.   Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Murid Bosan, Ice Breaking Tak Mempan, Muridku Kenapa Ya?

Lia Leonita KGB Depok Setiap murid punya keunikannya masik-masing, dan ruang kelas adalah tempat berkumpulnya karakter unik ini. Terkadang kita sudah berusaha untuk membuat proses pembelajaran menyenangkan, tapi kok masih ada saja siswa yang tidak mau terlibat? masih ada saja siswa yang tetap bosan meski sudah dilakukan ice breaking? Murid saya kenapa ya? Sebelum kita masuk ke materi, saya akan memperkenalkan narasumber kita malam ini. Beliau adalah Ibu Titis Kartikawati. Guru yang mengajar di kelas 5 SDN 09 Sanggau ini mempunyai cara tersendiri dalam memahami karakter murid. Mari kita dengarkan sharing materi dari ibu Titis yang telah 16 tahun menjadi guru. Kepada Ibu Titis, saya persilakan  Titis Kartikawati KGB Sanggau Assalamualaikum, selamat malam teman-teman guru berdaya di seluruh Nusantara!! Apa kabar nih. masih semangat ya? senang dan sangat berterima kasih kepada Kampus Guru Cikal yang mengundang saya untuk berbagi praktik cerdas di TPM malam ini.Pernah punya punya murid yang berkarakter unik dan perlu perhatian khusus tidak? Kalau punya kita diskusi yuk malam ini. Alhamdulillah saya sudah mengajar selama 16 tahun dan sudah mempunyai pengalaman diberi keragaman karakter siswa. dari mulai anak yang karakter pendiam, pemarah, hiperaktif dan lain-lain. Nah saya mempunyai cerita menarik yang mungkin bisa menginspirasi teman-teman semua. dulu ketika saya mengajar di kampung saya mempunyai anak bernama Onal sebut saja seperti itu. Anaknya aktif, sering bikin onar dan kurang sopan. Kadang membuat ribut dan bermain-main di kelas. Kalau saya mengajar dan anak-anak yang lain senang, dia selalu bilang tidak tertarik bahkan pernah mendoakan saya ketika mau ke Jakarta pesawat saya meledak. Ehm rasanya menghadapi dia sangat stres waktu itu. Sering saya berdiskusi dengan teman dan suami saya bagaimana cara menghadapinya. Kata teman-teman saya mereka juga stres menghadapi di Onal ini. Dan mereka memyarankan untuk tidak memperdulikannya. Di cuekin aja bu. Nti juga dia yang akan minta maaf dan baikin ibu kata mereka Tetapi setelah saya renungkan kalau saya ikuti saran mereka nanti tingkah laku Onal akan semakin menjadi. Nah untuk mengatasi hal tersebut saya punya strategi menggunakan Buku Kejujuran (Bujur) Buku ini adalah buku tulis biasa yang saya berikan kepada Onal untuk di tulis permasalahan yang dia hadapi maupun unek-unek yang mungkin sedang memenuhi pikirannya. Bisa juga ditulis apa yang menjadi harapannya terhadap saya selaku gurunya. Saya guru yang terbuka. Tidak mudah tersinggung dengan kritikan karena itu akan menjadi bahan masukan untuk kebaikan saya Lia Leonita KGB Depok Menarik nih bu, lantas bagaimana bujur ini dalam menyelesaikan masalah anak? Titis Kartikawati KGB Sanggau Baiklah… Pertama saya sudah menyiapkan bujur itu untuk setiap siswa. Ketika ada siswa yang bermasalah saya panggil dan saling berdiskusi (hanya berdua) dan tempatnya tidak di kantor. Saya bilang ke murid saya toling kamu isi buku ini dengan tulisan unek-unek atau permasalahan yang sedang kamu hadapi. Kamu bisa cerita sama ibu tentang keluargamu dan harapan kamu terhadap ibu. Nulisnya dirumah saja sambil santai-santai. Singkat cerita, bujur itu sudah diisi sama Onal sebanyak 1 halaman. Dia menceritakan keluarganya. Ternyata dia anak angkat di keluarganya dan dia merasa kurang kasih sayang. Setiap hari tidak diberi uang jajan dan tidak boleh main sepulang sekolah. Aktivitasnya mengurus babi peliharaannya. Mencari umpan, memasaknya dan memberikannya pada babi-babinya (maaf saya mengajar di kampung yang mayoritas non muslim waktu itu). Jadi kesempatan bermain hanya di sekolah dan dia berharap saya menjadi ibu yang lain tidak seperti ibunya yang galak dan suka marah-marah Waktu itu saya sempat menangis membaca tulisannya, saya menyesal sekali sering marah dan menyalahkan Onal serta tidak berusaha memahaminya. Akhirnya saya balas juga tulisannya di buku itu sebanyak 1 halaman juga, seperti berbalas surat. Saya membalasnya dengan meminta maaf sama dia karena selama ini saya kurang memahami dan memperhatikannya. Saya juga berjanji akan menjadi ibu yang tidak galak seperti mamaknya. Tempat curhatnya Akhir cerita kami sudah sepakat untuk menjadi yang terbaik. Dia akan menjadi anak yang baik dan saya akan menjadi guru yang baik Lia Leonita KGB Depok Dari bujur, menjadi sebuah komitmen bersama. kita buka termin pertanyaan ya bu Titis Kartikawati, untuk teman-teman yang mau bertanya, silahkan untuk menyebutkan nama dan asal daerahnya. Pada termin pertama saya buka untuk 3 penanya Tya KGB Kediri Raya Nurul KGB Tulungagung Choifah KGB Jepara Tya KGB Kediri Raya Karakter siswa kan beda ya Bu. Nah buat siswa yang belum mau terbuka bagaimana apalagi baru kenal? Dan bagaimana mengatasi anak yang malas menulis misalnya, dan mempertanyakan buat apa sih Bu begitu. Intinya bagaimana mengatasi penolakan dari siswa tentang program curhat lewat buku itu? Titis Kartikawati KGB Sanggau Di sekolah yang baru saya juga pernah mengalami ini bu. Dia cenderung cuek dan tidak mau menulis bujur. Lalu saya beri pengertian kamu lebih suka cerita secara lisan atau menulis. Kalau secara lisan resikonya nti di dengar kawan-kawan dan guru yang lain. Lalu kita kasih pandangan dan alternatif lain. Nurul KGB Tulungagung Terima kasih. Ide yang super ni dari bu Titis. Dulu saat mengajar di SD dan SMA saya pernah terapkan metode ini dan alhamdulillah memang berhasil. Nah, sekarang saya mengajarnya di TK/RA Bu. Bagaimana ya secara mereka terkadang juga belum bisa memahami perasaan mereka sendiri apalagi menuliskan nya. Kalo diajak main atau ice breaking hanya sesaat saja kadang mau kadang tidak? Titis Kartikawati KGB Sanggau Memang agak susah untuk anak usia RA bu. Karena memang blm bisa menulis. Jadi strategi bujur ini memang untuk anak yang sudah bisa menulis. Tapi menurut saya kalau anak usia RA memang harus banyak diajak bercerita, menggambar emosinya dan kita ajak main. Diajak makan juga mereka akan senang. Intinya memang kita harus berhasil jadi temannnya dulu. Jadi org yang menarik perhatian dan kepercayaannya dulu Nurul KGB Tulungagung Kalo boleh menanggapi nih, misal kan ada tuh anak anak saya yang kalo diberi cerita eh, malah ngantuk padahal saya juga dah bawa boneka dan bersuara aneh aneh seperti binatang gitu heheh… Atau mungkin memang mood nya lagi ga bagus ya. Terima kasih Titis Kartikawati KGB Sanggau Mungkin cari aktifitas lain Bu, bisa kita ajak gantian dia yang bercerita Choifah KGB Jepara Menurut ibu bagaimana cara yang paling tepat menghadapi anak-anak yang butuh perhatian khusus tidur dan tidak peduli apalagi saya mengajar … Read more

Merdeka Belajar, Belajar Merupakan Kebutuhan Alamiah

Pada hari Kamis, 27 Juni 2019 Komunitas Guru Belajar Pekanbaru mengadakan acara Temu Pendidik yang bertempat di The Gade Café Pekanbaru. Sesi terakhir dari rangkaian acara Komunitas Guru Belajar yang bekerjasama dengan guru-guru di Riau adalah nonton bareng. Nonton bareng cuplikan video Najelaa Shihab yang menjelaskan terkait “Merdeka Belajar”. Acara ini dipandu oleh Dr. Zahriyah Simargolang, MA selaku penggerak KGB nonton bareng. Selain itu acara ini juga di hadiri oleh Bapak Wakil Walikota Pekanbaru yang mendukung acara untuk memberikan kata sambutan. Dalam acara ini juga ada narasumber Yoga Mahardika selaku trainer Leadership. Selanjutnya dapat diamati antusias peserta yang datang dalam kegiatan bukan hanya dari daerah namun juga luar daerah. Selain itu dari berbagai kalangan masyarakat, murid, mahasiwa guru PAUD, guru SD, guru SMP, guru SMA maupun dosen. Sebagian guru dan mahasiswa memiliki ilmu pengetahuan yang banyak sehingga mereka memerikan respon pertanyaan maupun jawaban saat kegiatan berlangsung. Sebelum video di putar menurut Ibu Zahriyah sebagai penggerak mengatakan bahwa Kegiatan Gulu Belajar ini sangat penting dilakukan agar terciptanya kualitas pendidikan yang semakin baik karena adanya wadah guru untuk saling berbagi informasi, pengalaman dan wawasan sehingga dapat menampung ide dan solusi pembelajaran di sekolah. Maka dalam video ini dijelaskan bahwa ada 2 tipe guru yang mudah menerapkan merdeka belajar dan ada juga yang sulit, disebabkan tipe pertama adalah guru memiliki prinsip bahwa belajar perlu insentif eksternal, sedangkan guru tipe kedua menyatakan bahwa belajar sebagai kebutuhan alamiah. Seorang guru yang memiliki prinsip bahwa belajar merupakan kebutuhan alamiah akan dapat memberikan motivasi pada muridnya bahwa belajar itu menyenangkan dan tidak harus ada tekanan. Nilai-nilai pendidikan yang dapat diambil dari nontong bareng ini adalah: Guru memiliki kebutuhan alamiah dalam belajar dan mengajar Guru harus memiliki komitmen dalam melaksanakan dan mencintai pendidikan Guru harus memiliki kemandirian dalam belajar dan memberikan contoh tauladan Guru harus reflektif sehingga dapat terus melakukan perbaikan diri dalam mengajarkan ilmu Melalui nonton guru merdeka belajar dapat dipahami bahwa guru harus memiliki ilmu dan wawasan serta pergaulan sosial dengan temannya sehingga mampu menjadi pribadi yang ideal yaitu cerdas interpersonal dan intrapersonal. Merdeka belajar harus dirasakan oleh semua murid, maka dalam hal ini terlebih dahulu guru harus merdeka belajar, sehingga murid akan mengikuti gurunya yang mampu merdeka belajar.  Setelah mengetahui makna guru merdeka belajar itu sangat penting, maka di harapkan setiap guru dapat menerapkannya di sekolah masing-masing. Sehingga tujuan pembelajaran dapat terlaksana. Peran orang tua, lingkungan masyarakat dan sekolah sangat mempengaruhi seseorang untuk merdeka belajar. Hal ini disebabkan faktor fisik seseorang yang berbeda, ada yang sangat semangat dalam belajar sehingga ada peserta yang dapat  disiplin dalam memanajemen waktu agar dapat datang ke lokasi kegiatan belajar dengan tepat waktu. Tipe lainnya ada beberapa peserta yang mampu bersosialisasi sehingga dia memiliki banyak teman atau relasi, bukan hanya relasi yang dia kenal namun juga pada orang lain yang tidak dia kenal di ruangan tersebut dengan cara menyapa maupun bertanya tentang kegiatan saat coffee break, hal ini disebabkan pesserta memiliki kecerdasan interpersonal. Begitu juga keadaan peserta yang lainnya ada yang merasakan tenang sehingga ia dapat tekun belajar hal ini karena mereka telah merasakan merdeka belajar. Kegiatan yang berlangsung secara lancar membuat peserta merasakan manfaat dari kegiatan guru belajar tersebut. Adanya kondisi yang berbeda pada setiap peserta maka panitia juga berusaha untuk mengubah keadaan menjadi seperti yang diharapkan yaitu peserta tetap semangat belajar dan merasakan merdeka belajar dengan melihat kondisi peserta saat mereka jenuh maka panitia memberikan game agar peserta bersemangat dalam belajar. Pada saat kegiatan berlangsung ada kejadian yang menarik perhatian yaitu saat seorang ibu dan bapak yang mengikuti kegiatan tersebut mampu aktif maju ke depan memberikan pendapat meskipun diantara mereka ada yang masih muda dan ada yang tidak muda lagi. Namun yang menyentuh hati saya ada juga yang datang dari luar kota hanya untuk mengikuti kegiatan guru belajar tersebut. Kejadian lainnya yang sedih pada saat itu adalah saya lupa membawa charger laptop sehingga saya merasa sedih tidak dapat maksimal menggunakan laptop tersebut, namun pada saat itu  ada peserta yang membawa laptop sehingga kegiatan nonton bareng pun dilanjutkan hingga selesai. Kejadian pada saat kegiatan berlangsung memberikan makna bahwa setiap permasalahan ada jalan keluarnya dan ada yang memiliki perjuangan untuk belajar dan prinsip ini sangat menarik untuk dilanjutkan semua guru bahwa belajar itu harus dari hati yang merdeka sehingga dapat kita nikmati. Sedangkan menurut panitia merdeka belajar adalah suatu kebutuhan yang datang dari jiwa pendidik sehingga hatinya tergerak untuk belajar karena mencintai anak didiknya. Selain itu merdeka belajar menurut peserta adalah keinginan seseorang untuk belajar meskipun harus menempuh jarak yang jauh. Maka sebaiknya kita mampu menggerakkan sosialisasi untuk melaksanakan guru merdeka belajar sehingga tujuan pendidikan untuk memiliki murid yang memiliki ilmu pengetahuan, wawasan dan pendidikan karakter dapat terlaksana dengan baik. Konsep guru merdeka belajar harus terus dikembangkan menjadi lebih kreatif dan inovatif.  Sebab merdeka belajar sangat membantu menuju pendidikan yang berkualitas. 

Guru Merdeka Belajar, Meluruskan Miskonsepsi Belajar

Pada  hari Sabtu, 25  Mei 2019 jam 14.00  WIB sehabis shalat zuhur, Komunitas Guru Belajar (KGB) Pesisir Selatan mengadakan Temu Pendidik  Daerah ke-8 bertempat di ruang perpustakaan UPT SDN 01 Lunang. TPD. Pessel ke-8 ini memiliki kegiatan inti Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar. Kegiatan TPD Pessel ke-8 ini di Moderatori  oleh saya sendiri Rini Suryati, sebagai salah satu anggota dari KGB Pessel. Kemudian pemandu nobar juga di lakukan oleh Rini Suryati (saya sendiri) karena Cuma ada saya di daerah paling selatan kabupaten Pesisir Selatan tepatnya sekitar 15 km jaraknya dari daerah provinsi Bengkulu Utara. Kegiatan ini direncanakan pada hari Sabtu, 18  Mei 2019, saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya mulai dari materi, slide, peralatan mulai dari laptop proyektor, speaker, dan sound system. Namun sayangnya tidak ada peserta dari sekolah lain yang datang, beberapa saat kemudian teman mengirim pesan via Whatsapp bahwa kegiatan nobar ini kita adakan di komunitas KKG (Kelompok Kerja Guru) saja, karena  hari ini sebagian guru punya kesibukan di sekolah masing – masing dan sebagian tidak dapat izin dari kepala sekolah. Akhirnya acara Nobar hari itu dibatalkan. Beberapa hari kemudian teman – teman di sekolah sendiri merasa penasaran, beberapa diantara mereka mengusulkan,”Bu Rini, bagaimana kalau kegiatan Nobarnya kita adakan saja cukup kita yang hadir di sekolah saja yang mengikutinya.” Ya menurut saya usulan mereka ada benarnya, mengapa kita harus menunggu lama sementara toh guru – guru di sekitar kita ada, sementara kalau ditunggu KKG kegiatannya sudah ditutup untuk tahun ajaran ini., dan akan dilaksanakan tahun ajaran baru nantinya. Dari pada menunggu lama akhirnya kegiatan Nobar kami lakukan pada hari Sabtu tanggal 25 Mei 2019. Kami bersama teman  – teman di sekolah kembali menyiapkan segala sesuatunya, karena yang ikut hanya guru – guru di sekolah, “Bu Rini, kegiatannya kita laksanakan di perpustaan aja ya biar agak santai.” Usul salah satu guru, kami sepakati kegiatan dilaksanakan di perpustakaan sekolah dengan jumlah guru yang hadir cuma berjumlah 10 orang, kepala sekolah tidak dapat menghadiri kerena ada acara rapat. Sebelum acara Nobar di mulai, saya membuka kegiatan dengan mengajukan pertanyaan sesuai dengan panduan,” Apa yang anda ketahui tentang merdeka belajar ?.”Sambil tertawa ringan peserta Nobar menjawab merdeka belajar itu murid tidak boleh dimarahi, apalagi dipukul, masing – masing memberi jawaban tapi jawaban tetap seputar itu. Setelah lima menit kegiatan Nobar dimulai, saya memutar video Bu Najelaa, bebrapa saat peserta fokus menonton. Lima belas menit kemudian video berakhir, mereka minta di putar sekali lagi setelah selesai tanpa dikomandoi salah satu peserta langsung berkomentar, videonya Cuma ini Bu Rini ?, “Saya kira tadi kita akan nonton tentang cara guru merdeka belajar mengajar, ada tidak ya videonya, kami juga butuh contoh lho bagaimana cara penerapan cara mengajar guru merdeka belajar.”Kata bu Milda. Saya jawab, O…yang sekarang ini dulu ya kita diskusikan, masalah  video cara penerapannya nanti kita tanya Kampus Cikal mungkin Kampus Cikal punya koleksi cara mengajar teman – teman yang sudah menerapkan cara mengajar guru merdeka belajar. “ Benar ya Bu Rini , tolong carikan biar jadi pedoman bagi kami,” pinta mereka. Kami masuk ke sesi refleksi, saya mulai mengajukan pertanyaan pertama, “Di antara miskonsepsi tadi, mana yang paling menggambarkan diri Anda?” Bu Rini kalau menurut pemahan saya selama ini belajar itu memang harus pada ahlinya, rata- rata jawaban mereka seperti itu,”Kalau begitu jika tidak ada ahlinya, apakah kita berhenti belajar?” Kata saya, semua peserta tertawa renyah, akhirnya bersama teman – teman guru kami meluruskan miskonsepsi belajar selama ini, bahwa kita belajar tidak harus menunggu para ahli atau pakar. Para ahli yang selama ini menurut kita hebat secara teori belum tentu dekat dalam praktiknya, kita guru lah yang berhadapan langsung dengan murid kita, kita gurulah yang lebih tahu permasalahan anak didik kita. Maka kita lah yang paling cocok saling berbagi tentang praktik cerdas kita dalam mengajar. “O, iya ya,” celetuk salah satu guru. Kami lanjut kan dengan mendiskusikan miskonsepsi yang lainnya, hingga kami menyepakati bahwa belajar itu butuh waktu tidak biasa dipaksakan mengejar target kurikulum akan memberikan dampak yang tidak baik bagi anak didik kita. Kompetensi murid akan tumbuh bersama lingkungan, bukan kompetensi individual. Saya mengajukan pertanyaan kedua, ciri guru merdeka belajar adalah komitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara mengajar dan melakukan refleksi. “Apakah Anda setuju dengan pernyataan tersebut? Apa alasannya?” “Setujuuuu.”Kata mereka serentak. Salah satu guru memberi alasan, kita memang harus komitmen pada tujuan, sesuai dengan penjelasan Bu Najelaa bahwa guru merdeka belajar paham mengapa perlu mengajar suatu materi dan kaitannya dalam kehidupan sehari – hari, sehingga murid merasa materi pelajaran bermakna bagi dirinya dan menumbuhkan motivasi instrinsik bahwa belajar itu berarti bagi dirinya. Guru merdeka itu mandiri, selalu bergantung pada dirinya untuk mengatasi tantangan, tidak mudah menyerah menghadapi tantangan, atau menyalahkan orang lain dan keadaan. Guru merdeka belajar juga harus reflektif, berani meminta umpan balik secara aktif, dan menilai diri sendiri dengan objektif. Pertanyaan selanjutnya pada sesi refleksi adalah Apakah Anda mau menjadi guru merdeka belajar? Apa alasannya? “Kami mau Bu Rini, tapi kadang – kadang mood ini naik turun lho, kadang semangat kadang kendor, yang jelas kami coba ya” Mereka tertawa renyah. Kami ingin menjadi guru merdeka belajar, tapi kami butuh waktu untuk merubah mindset tentang murid, kebiasaan selama ini kita sering menyalahkan murid dari pada mencari solusi, mudah – mudahan seiring perjalanan waktu kami akan menjadi guru merdeka belajar”, ungkap Bu Milda .”Wow, tepuk tangan deh diskusi kita hari ini seru banget”, kata saya menimpali ungkapan Bu, Milda. Pertanyaan ke empat “Sebagai guru merdeka belajar, apa perubahan yang ingin anda lakukan di kelas ?” Mereka menjawab, “Insyaallah kami akan memulai dengan menata kelas, membuat kesepakatan kelas, ice breking di sela- sela pembelajaran, dan berusaha menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, dan tidak lupa di akhir pembelajaran diadakan refleksi bersama murid.” Pertanyaan terakhir, “Sebagai guru merdeka belajar apa pengembangan diri yang ingin anda lakukan bersama komunitas guru belajar?” “Kami ingin belajar menulis, setidaknya kami bisa menulis PTK” Kata salah seorang peserta. Di sesi penutup saya sedikit mengulas materi bahwa guru merdeka belajar adalah guru yang komitmen pada tujuan, guru harus tahu kenapa melakukan sesuatu dan apa manfaatnya serta bagaimana cara mengaplikasikan dalam kehidupan … Read more