Guru Merdeka Belajar di Lamongan, Apa Tugas Utama Guru?

Nonton bareng atau umumnya dikenal dengan istilah nobar. Nobar ala Komunitas Guru Belajar Lamongan salah satunya adalah menyaksikan video tentang Guru Merdeka Belajar berisi rekaman Ibu Najelaa Shihab pada Temu Pendidik Nusantara di Oktober 2017. Saya siap mengadakan nobar dan siap menjadi penggerak Komunitas Guru Belajar. Optimis saja meski di nobar pertama, yang hadir hanya saya dan bu Sarah Aulia. Tetapi di nobar kedua ini, alhamdulillah bertambah peminatnya. Alhamdulillah kami berdua tak kenal kata putus asa. Semangat kami bergerak semoga berbuah hasil maksimal. Saya, Anis Choirun Niswah, dari MAN 1 Lamongan. Pada hari Jumat, tepatnya tanggal 21 Juni 2019, jam 13.00, saya mengadakan nobar guru merdeka belajar bersama teman-teman penggerak KGB Lamongan, acara nobar di awali dengan sosialisasi KGB dan dilanjutkan nobar. Kami mengadakan nobar, bertujuan untuk mensosialisasikan Komunitas Guru Belajar, agar kita sebagai pendidik maupun praktisi pendidikan menyebarkan semangat yang lebih untuk terus belajar. Belajar bagaimana memahami pendidikan yang terus menerus berubah seiring perkembangan zaman dan perkembangan teknologi. Kegiatan nobar kali ini dihadiri oleh sebelas orang, alhamdulillah meningkat jumlahnya dari acara nobar guru merdeka belajar pertama kali di Lamongan yang hanya dihadiri oleh tiga orang saja. Sebagai guru pada khususnya, kegiatan guru belajar di Lamongan, masih jarang sekali peminatnya, kalaupun ada tentu kami berasal dari daerah yang menyebar dari berbagai penjuru kecamatan di Kabupaten Lamongan. Pada waktu itu, kami sudah menyebar banner undangan acara sosialisasi KGB Lamongan ini. Acara sosialisasi dan nobar Guru Merdeka Belajar ini dipandu oleh saudari Sarah Aulia dari KGB Lamongan. Meskipun berdomisili di Malang, ia senantiasa menjadi pendukung saya dalam kegiatan KGB ini.  Acara pertama dipandu oleh saudari Sarah Aulia tentang nobar “Apakah KGB Itu dan Kampus Guru Cikal”. Tampak di layar, ada ibu Najelaa Shihab yang sedang bertutur panjang tentang lebar tentang pertemuan guru se-nusantara. Ya Allah, merinding hati ini, ingin juga bisa berjumpa dengan para guru, pendidik, dan praktisi pendidikan yang loyalitasnya tanpa batas.  Acara kedua yaitu sosialisasi dan sharing dari saya tentang bagaimana bergabung ke KGB Lamongan. Keikutsertaan saya menjadi penggerak di KGB Lamongan. Saya mengenal KGB dari salah seorang teman diklat di lingkungan Kemenag. Kemudian saya mencari tahu siapa saja anggotanya, kemudian mata saya tertuju pada sebuah nama dan ternyata dia adalah anak murid saya. Tertariklah saya kemudian saya hubungi dan menanyakan lebih lanjut tentang Komunitas Guru Belajar. Selanjutnya saya menceritakan bagaimana nyamannya belajar di grup guru belajar. Bagaimana mengikuti diklat gratis yang hampir setiap hari dan bagaimana mengikuti diklat online jarak jauh. Meskipun jarak jauh, ilmu yang didapatkan tetap daging kualitas terbaik hal ini dikarenakan para tentor yang ilmunya tak pelit untuk dibagi-bagi dengan tujuan semuanya mendapatkan manfaat terbaik. “Setelah mengikuti nobar ini mengatakan bahwa garis besar dari komunitas ini adalah menyadarkan guru akan tugas utamanya, kemudian adanya momen-momen seperti KGB ini sangat baik untuk guru-guru karena bisa sharing dan hearing, berdiskusi, berbagi cerita, berbagi solusi, menambah tali silaturahmi demi terlaksananya pendidikan yang lebih baik”. Demikian menurut Pak Alif yang mengajar di MTs. Al Hidayah (Lamongan) dan SMA Saudi Nusantara (Solo), yang waktu itu ikut hadir pada nobar setelah melihat banner yang berseliweran di medsos kami.  Baca Juga Merdeka Belajar Bukan Jargon Ibu Lathifa Akmaliyah (Guru MI Thoriqul Ulum) pun mengutarakan kesenangannya mengikuti kegiatan nobar ini. “Dengan mengikuti kegiatan nobar guru belajar, saya bisa mendapatkan pengetahuan baru tentang dunia pendidikan berdasarkan kebutuhan siswa, metode dan cara mengajar yang baik bagi siswa, serta teknik belajar yang benar. Selain itu saya juga bisa sharing dengan teman-teman nobar guru belajar tentang kesulitan-kesulitan belajar siswa yang saya alami berikut solusi dari segala permasalahan yang saya alami selama menjadi guru”. Begitupun dengan Bu Ade Amiroh (SMP Al Amin, Paciran-Lamongan) yang menyatakan rasa bersyukurnya bisa ikut nobar dan meski sedikit kecewa karena tidak sesuai bayangannya sebab pesertanya hanya sedikit. Kenapa hanya sedikit yang datang? Karena tidak semua guru mau bergerak ketika sudah berada pada posisi aman dan sejahtera. Meski demikian, Bu Ade Amiroh tetap bersemangat dan mengaku ingin terlibat dengan Komunitas Guru Belajar ini. Tak ada gading yang tak retak, tetapi bagaimana kita sebagai guru harus membuat diri untuk belajar agar dapat memenuhi kebutuhan murid belajar. Semua murid semua guru, saya sebagai peserta KGB juga sebagai manusia yang bergerak untuk acara nobar dan sosialisasi Komunitas Guru Belajar, senantiasa berdoa agar hari-hari ke depan semakin banyak para guru yang terbuka. Terbuka terhadap perputaran dunia yang tak bisa dipungkiri bahwa pergeseran manfaat itu semakin hilang. Tetapi dengan adanya KGB ini, kami berharap dapat mengembalikan citra pendidikan yang memanusiakan hubungan dan mengerti kebutuhan murid demi murid-murid itu sendiri, salah satunya adalah menjadi murid dan guru yang merdeka belajar. Ingin Tahu Bagaimana Praktik Merdeka Belajar di Kelas? Klik link di bawah ini

Merdeka Belajar, Belajar Tanpa Paksaan

Rabu siang (01/05) kami dari berbagai penjuru kota Cimahi berkumpul di SD Prima untuk melakukan Temu Pendidik Daerah “Nonton bareng merdeka belajar”. Tidak ada kata lelah yang tersirat dari raut muka Bapak / Ibu guru yang hadir meskipun menempuh jarak belasan kilometer dari sekolah tempat mengajar,  karena kami datang berdasarkan kesadaran pribadi untuk terus mengembangkan kompetensi dalam mengajar. Acara TPD Nonton bareng dibuka oleh Guru Suhud dengan menampilkan beberapa gambar unik untuk mencairkan suasana dan  memantik semangat untuk belajar. Guru – guru nampak bersemangat dalam melihat gambar tersebut untuk menjawab pertanyaan yang diberikan. Selanjutnya acara dilanjutkan dengan penayangan beberapa video yang membahas berbagai masalah di bidang pendidikan, terlihat perubahan raut muka dari beberapa guru hal ini karena permasalahan yang muncul di dalam video tersebut sangat nyata di dalam proses pembelajaran di kelas. Setelah itu kami diberikan beberapa pertanyaan yang harus ditulis di kertas kecil untuk kemudian kami diskusikan bersama. Pertanyaan pertama yang muncul adalah apa itu kemerdekaan belajar ?  Ada yang mendefinisikan, “Merdeka belajar adalah belajar atas dasar kesadaran sendiri dan tanpa paksaan.“ Ada juga yang berpendapat “Merdeka belajar adalah menjalani belajar sebagaimana fitrah manusia, alamiah dan muncul dari internal dari diri sendiri” “ Apakah Ibu dan Bapak guru sudah merasa merdeka belajar? Kalau tidak merasa merdeka belajar tidak perlu ada, datang dan belajar, karena itu resep dasar sebetulnya,” Kata Najelaa Shihab Kalimat tersebut mengawali sesi nonton bareng merdeka belajar, guru – guru nampak membetulkan posisi duduknya untuk fokus memahami kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Bu Elaa sapaan akrab bu Najelaa Shihab. Pertanyaan besar muncul di benak saya, lantas apa itu kemerdekaan belajar ? “Kemerdekaan berarti guru mempunyai komitmen pada tujuan. Guru yang merdeka paham kenapa harus mengajar suatu materi dan kaitannya dengan aplikasi sehari – hari. Guru yang merdeka itu mandiri, selalu bergantung pada dirinya untuk mengatasi tantangan, tidak mudah menyerah menghadapi tantangan atau menyalahkan orang lain dan keadaan. Guru yang merdeka itu reflektif, berani meminta umpan balik secara aktif dan menilai diri sendiri dengan objektif.” kata Bu Elaa, seakan  menjawab pertanyaan di benak saya. Kemerdekaan belajar adalah kunci utama untuk guru – guru bisa meningkatkan kompetensi dan menyelesaikan permasalahan pembelajaran di kelas. Guru tidak menunggu perintah dari kepala sekolah untuk mengikuti pelatihan dan tidak perlu diiming- imingi uang dan sertifikat untuk terus meningkatkan pengetahuannya. “Pada saat kita bicara merdeka belajar, Ibu dan Bapak. Saya tuh selalu terbayang anak – anak. Sebagian besar anak Indonesia itu dunianya hanya sebatas ruang kelasnya, mimpinya hanya terbatas tingginya tangan untuk menjawab pertanyaan gurunya” kata Bu Elaa “Yang kita inginkan adalah anak – anak yang punya aspirasi tinggi, yang punya cita – cita melampaui langit. Melampaui batas ruangan kelas, melampaui batas dunianya. Dan  ini hanya akan terjadi pada saat anak – anak punya kemerdekaan belajar. Tapi kemerdekaan belajar murid – murid hanya akan terjadi pada saat kita sebagai pendidik memiliki kemerdekaan “ lanjut Bu Elaa. Ada beberapa miskonsepsi yang dijelaskan dalam pemaparan video tersebut yang kerap dikaitkan dengan guru yaitu guru hanya mau belajar apabila mendapatkan sertifikat atau uang dan guru belajar dari ahli atau pakar pendidikan, faktanya melalui temu pendidik daerah guru – guru melawan miskonsepsi tersebut dengan belajar secara sukarela dan tanpa paksaan, dan guru belajar dari rekan sesama guru yang sudah berhasil dalam melakukan praktik baik dalam mengajar. Ada tiga ciri utama seorang pendidik yang merdeka belajar yaitu memiliki komitmen, memiliki kemandirian dan selalu reflektif. Hal tersebut sangat esensial bagi guru untuk mendorong semangat mengembangkan kompetensi dan belajar kapanpun dan dimanapun tak terbatas dari seminar atau workshop yang diselenggarakan oleh pemerintah dan kegiatan guru – guru di KGB dilakukan untuk memenuhi kebutuhan belajar guru. Ada beberapa pertanyaan tambahan yang diberikan, dari beberapa pertanyaan yang diberikan terdapat topik hangat yang ingin diselesaikan yaitu mengenai target belajar yang masih dipaksakan dan tuntutan administrasi yang bisa membuat tujuan pendidikan melenceng sehingga guru kerap kali lebih disibukkan perihal masalah administrasi dibandingkan dengan membuat metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Pertanyaan terakhir yang menjadi topik diskusi adalah “Apakah yang ingin teman – teman lakukan bersama Komunitas Guru Belajar (KGB) ? Kemudian diskusi berkembang mengenai tujuan dan nilai – nilai dasar yang melatarbelakangi terbentuknya KGB. Juga berbagai situasi yang dialami KGB khususnya di KGB Cimahi. dan bahasan mengenai KGB Cimahi menjadi penutup dalam TPD Nonton Bareng KGB Cimahi sekaligus menjadi awal bergabungnya Gilang dan saya terlibat sebagai penggerak di KGB Cimahi. Saya harap dapat lebih berkontribusi untuk meningkatkan kemerdekaan belajar guru – guru di kota Cimahi. Karena saya percaya kota Cimahi mempunyai potensi yang besar di bidang pendidikan ini terlihat dari banyaknya sekolah yang terdapat di kota Cimahi serta adanya dua Sekolah tinggi keguruan dan ilmu pendidikan di Kota Cimahi sebagai sumber pencetak guru – guru berkualitas khususnya di kota Cimahi.

Apakah Kegiatan Literasi di Sekolah Bisa Berdampak pada Murid?

Hari Minggu adalah hari yang ditunggu bapak/ibu guru, karena ada mudik (temu pendidik) dengan konsep yang asik dan menarik. 17 Maret 2019, pagi itu gerimis datang tetapi tidak menyurutkan semangat bapak/ibu guru untuk belajar di SD Muhammadiyah 02 Bendan Pekalongan bersama guru Nazilatul Khusna dan guru Zidnil Karomah. Temu pendidik dengan tema “Kegiatan Literasi Bermakna” merupakan temu pendidik yang ke-23 yang dilaksanakan oleh KGB (Komunitas Guru Belajar) Pekalongan. Nazilatul Khusna adalah guru di SD Baitussalam 01 Pekalongan yang menyampaikan materi tentang “Membangun Budaya Literasi di Sekolah.“ Tahun 2018 yang lalu, di sekolah saya baru memulai kurikulum 2013. Tetapi dengan adanya kurikulum tersebut, justru menjadi keresahan bagi guru. Terlebih guru kelas satu dan empat, karena di dalam kurikulum 2013, terdapat program yang mewajibkan anak setiap harinya harus membaca selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Okey, jika membaca 15 menit diterapkan di kelas empat, ya memungkinkan saja, karena murid-murid sudah bisa membaca dengan lancar. Namun, jika hal itu diterapkan di kelas satu, bagaimana? Susah! Apalagi untuk murid yang belum bisa membaca. Jangankan membaca, hampir keseluruhan murid belum hafal huruf. Duh, bagaimana coba?!”, paparnya. Peserta mudik sangat antusias mendengarkan pemaparan bu Nazil tentang keresahannya dalam menghadapi kurikulum K13. Mengenai program literasi, beliau tidak menggembar-gemborkan apa itu literasi kepada murid-muridnya. Tetapi, sebisa mungkin beliau mencoba untuk memperkenalkan program literasi di sekolah. “Apa sih literasi itu? Apakah hanya sekedar membaca? Apakah dengan membaca 15 menit sebelum memulai pelajaran akan berdampak pada murid?” Guru Nazil memulai materinya dengan bertanya tentang literasi dan membuka sudut pandang peserta mudik tentang literasi. “Tantangan terbesar di kelas bagi saya adalah menjelaskan materi. Terlebih masih ada beberapa murid kelas dua belum lancar membaca, dan juga ada yang malas sekali menulis. Saya sering kewalahan ketika menyampaikan materi. Suatu hari ketika pelajaran bahasa Indonesia, saya mengajak murid-murid mengunjungi perpustakaan. Kemudian saya menyuruh mereka mengambil buku cerita, lalu menugaskan untuk membuat rangkuman terhadap apa yang sudah mereka baca. Sebelumnya saya telah menjelaskan berkali-kali materinya, tetapi setelah saya menyuruh mereka demikian, hasilnya nihil alias gagal. Hanya beberapa murid saja yang paham. Dari situlah saya mulai berpikir. Aduh bagaimana ya? Apakah ada yang salah dengan cara saya? Atau jangan-jangan macam literasi itu banyak”, kata beliau. Beliau melanjutkan ceritanya: “Saya mencoba menelusuri dengan mengikuti temu pendidik di KGB Pekalongan dan bertanya-tanya kepada guru-guru saya juga. Ternyata, literasi itu sangat luas. Makna literasi sesungguhnya adalah belajar. Literasi tidak hanya sekedar membaca, menulis pun termasuk literasi. Nyatanya kemampuan membaca dan kemampuan menulis sangat erat hubungannya. Membaca tanpa menulis, maka akan mengakibatkan lupa. Sedangkan menulis tanpa membaca, maka proses menuliskannya tidak akan berkembang”. Melalui ilmu yang diperolehnya beliau langsung mencoba mengaitkan antara kemampuan membaca dan kemampuan menulis murid. Dalam materi yang disampaikannya, beliau bercerita tentang salah satu siswanya yang bernama Tiara: “Tiara adalah anak pendiam dan selalu menjadi bahan perbincangan anak-anak karena nilainya selalu saja rendah. Memang, kemampuannya dari awal kelas satu berada di bawah rata-rata teman-temannya. Namun, Alhamdulilah dia bersikap biasa-biasa saja atau cuek ketika diejek temannya. Setelah kelas dua, saya mengamati bahwa dia sudah mengalami perubahan dalam hal membaca. Kemampuan membacanya hingga sekarang cukup baik. Akan tetapi, ketika disuruh menulis dia belum sempurna, walaupun dia hanya menyalin tulisan saya di papan tulis. Mengapa masih saja salah-salah? Ini nih menjadi bagian penting dari literasi. Korelasi antara membaca dan menulis harus diperhatikan”. Beliau berusaha untuk menyelesaikan permasalahan mengenai miskonsepsi literasi selama ini. Beliau melanjutkan ceritanya: “Suatu ketika, mata pelajaran bahasa Indonesia membahas tentang puisi. Setelah selesai menjelaskan dan memberi beberapa contoh puisi, saya mencoba memberikan tugas kepada murid-murid untuk membuat puisi bertema ibu. Membebaskan imajinasi mereka sendiri. Saya berjalan dari meja ke meja guna melihat kreasi murid-murid. Beberapa murid merasa kebingungan menuliskan hingga saya pun akhirnya membantu menyebutkan kata-kata. Akan tetapi, beberapa murid yang lain ada pula yang berusaha sendiri, termasuk Tiara (anak yang mampu membaca tapi tidak mampu menulis dengan benar). Hasil karya Tiara membuat saya takjub. Berikut karyanya: Kemudian beliau mengakhiri ceritanya: “Ternyata dibalik kekurangan Tiara yang demikian, nyatanya dia mampu menuliskan kata-kata mesra untuk ibunya. Disitulah saya tersadar bahwa kemungkinan daya mengarangnya cukup baik. Dia mampu berimajinasi. Nah, itu merupakan proses literasi lhoo…!! Literasi bukan sekedar memahami huruf abjad. Tapi proses merangkai kata pun bisa”. Guru Nazil pun menutup pembahasannya dengan memberikan sebuah kalimat bermakna: “Dunia sekarang cepat sekali berubah. Jika saya tidak MEMULAI, maka saya akan TERTINGGAL”. Peserta temu pendidik sangat antusias mendengarkan pengalaman beliau dalam melaksanakan praktik pembelajaran di kelas. Selanjutnya, materi disampaikan oleh guru Zidnil Karomah yang merupakan guru di SD Muhammadiyah 02 Bendan Pekalongan. Guru Zidnil menyampaikan materi “Literasi Asik, Ajak Anak Aktif”. Literasi sering dihubungkan dengan kegiatan membaca. Membaca merupakan kata kerja yang sering dipasangkan dengan objek berupa buku. Apakah literasi itu lingkupnya hanya kegiatan membaca buku? tentu semua sepakat jawabannya TIDAK. Ketika program literasi di sekolah hanya terpusat pada aktivitas siswa untuk membaca 15 menit di awal pembelajaran saja, kemudian mencatat halaman buku yang telah selesai mereka baca di kartu baca (literasi), maka kegiatan tersebut lama-lama akan membosankan. Guru akan menjumpai siswa yang lebih senang bercerita dengan teman-temannya dibandingkan membaca buku cerita mereka. Bagaimana usaha guru sebagai pendidik untuk membuat kegiatan literasi yang asik, yang bisa mengajak mereka untuk aktif? Beliau menjawab: “ Salah satu usaha yang saya lakukan adalah mengajak siswa untuk membaca tetapi melalui video. Video tersebut berupa cerita pendek (kartun animasi) yang ada subtitlenya dalam bahasa Inggris. Saya mendapatkan video tersebut dari youtube. Banyak sekali jenis videonya, oleh karena itu kita juga harus menyesuaikan dengan tema atau materi yang akan kita sampaikan”. Kemudian beliau menampilkan video dan mengatakan: “Saya menggunakan video yang berjudul “The Old Lion and the Fox”, ketika saya harus mengajarkan materi tentang hewan (animals). Pertama, saya putarkan full video tersebut. Siswa tampak antusias mengamati dan mendengar cerita dari video yang diputar. Setelah itu, saya ajak mereka untuk berdiskusi tentang isi ceritanya, kira-kira tentang apa?” Di awal sebagian jawaban siswa adalah hasil dari pengamatan gambar videonya saja, yaitu siswa belum memahami arti dari bacaan cerita bahasa inggris tersebut. Dari informasi yang siswa dapatkan, semua ditampung untuk selanjutnya dirangkai bersama-sama menjadi cerita yang utuh. Termasuk didalamnya … Read more

Membangun Semangat Melawan Miskonsepsi Belajar dari Sanggau

Minggu, 8 September 2019 dimulai pada pukul 08.00 WIB, merupakan suatu momen yang sangat bermakna dan tak akan terlupakan bagi para guru yang tergabung dalam Komunitas Guru Belajar Kabupaten Sanggau. Pada hari libur tersebut, tak menyurutkan semangat para guru untuk belajar, memaknai semangat merdeka belajar yang selama ini sering mereka dengar. Komunitas Guru Belajar Kabupaten Sanggau sangat berbangga dan berbahagia karena masuk kedalam list daerah yang menjadi wilayah terkunjungi event Roadshow TPN 2019 oleh tim Kampus Guru Cikal. Pada kesempatan ini, Pelatihan Guru Merdeka Belajar Angkatan I di Kabupaten Sanggau, didampingi oleh ibu Amalia Jiandra dari Kampus Guru Cikal Jakarta, wanita muda yang sangat energik, inspiratif dan memotivasi semangat para guru di Kabupaten Sanggau. Pelatihan GMB Angkatan I ini diawali dengan pembukaan oleh pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sanggau, dalam hal ini diwakili oleh bapak Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sanggau, Drs. Maskun Hamri, MM. Beliau dalam sambutannya sangat mengapresiasi semangat para guru untuk terus meningkatkan kompetensi diri mengikuti pelatihan ini, meski dalam suasana libur. Beliau juga dalam event ini turut berkontribusi mengikuti pelatihan dengan semangat.  Kegiatan Pelatihan ini, diisi dengan berbagai aktivitas yang diikuti dengan antusias dari para peserta pelatihan. Melalui bermain peran, diskusi, presentasi, curah pendapat bahkan beberapa games, yang diikuti peserta hingga selesai atau berakhir pada pukul 15.00 WIB. Pelatihan Guru Merdeka Belajar sendiri adalah upaya untuk memfasilitasi dan menggali informasi dari para guru terkait kebutuhan mereka akan peningkatan kompetensi diri, dan pemahaman mereka terkait Merdeka Belajar. Merdeka belajar sendiri memberikan pemahaman kepada para guru untuk melawan atau menghentikan miskonsepsi belajar yang selama ini banyak terjadi.  Adapun miskonsepsi belajar tersebut adalah Belajar hanya untuk ujian, kendali belajar berada pada pengajar, pelajar mempunyai kebutuhan dan minat belajar yang sama, belajar itu menghafal dan menggunakan rumus, keberhasilan belajar dimulai ditandai dengan nilai angka terstandar dan penilaian belajar sepenuhnya wewenang pengajar, itu adalah 6 (enam) dari miskonsepsi belajar. Selain miskonsepsi belajar, adapula miskonsepsi guru belajar. Miskonsepsi tersebut yaitu Guru belajar menunggu instruksi sekolah/dinas atau mendapat intensif, Guru hanya mau belajar dari pakar dan ahli, guru hanya belajar “how to” bagaimana cara mengajar, Guru berharap belajar bisa instan dan guru bisa belajar sendirian. Melalui Pelatihan Guru Merdeka Belajar ini, diharapkan guru-guru tersadarkan bahwa sudah waktunya miskonsepsi tersebut dihentikan dan diperbaiki menuju arah yang yang lebih baik, tentunya dimulai melalui refleksi diri, sedang berada di tahap apakah kita sebagai guru.  Karena pada hakikatnya Guru Masa Depan yang sangat dinantikan itu adalah guru yang memiliki kesesuaian potensi dan aspirasinya, mengembangkan jalur karirnya, aktif berkolaborasi, terus mengembangkan kompetensi dan tentunya Merdeka Belajar. Di akhir sesi Pelatihan GMB Tahap 1 ini, peserta diminta untuk menilai diri sendiri sudah sampai tahap apakah mereka berada dalam jenjang atau tahapan sebagai guru merdeka belajar jika diidentifikasi dari empat kunci pengembangan guru; yaitu Kemerdekaan, Kompetensi, Kolaborasi dan Karier. Hal ini berguna untuk mengetahui kebutuhan dasar apa yang diperlukan para guru. Memasuki sesi makan siang, Ketua KGB, ibu Titis Kartikawati beserta para penggerak KGB mendesain kegiatan Pelatihan GMB ini dengan konsep yang menarik. Berlatar di SMAN 1 Sanggau, di sesi makan siang digelar juga galeri kuliner daerah khas Sanggau dengan konsep Makan Berami, menu khas daerah dibawa masing-masing peserta disajikan untuk dinikmati bersama. Kegiatan pelatihan GMB ini berakhir pada pukul 15.00 WIB, para peserta berharap kegiatan pelatihan ini akan tetap berlangsung secara berkelanjutan, karena mereka merasa dengan menanamkan kesadaran merdeka belajar mereka lebih merasa dapat bermakna, berdaya dan berkarya, tentunya dengan semangat kolaborasi yang selalu ada.

Apa Peranan Orangtua dalam Mendidik Anak di Era Disrupsi?

Dunia saat ini berada dalam masa peralihan yang begitu dinamis. Perubahan ini lebih familier kita sebut era disrupsi. Banyak hal yang kemarin baru saja berubah, saat ini sudah berubah lagi, dan beberapa saat kemudian perubahan itu semakin tak terbendung. Perubahan tersebut otomatis juga terjadi pada dunia pendidikan. Bagaimana Komunitas Guru Belajar menyikapi hal ini? Yuk simak liputan dari KGB Solo Raya on Air di Ria FM Solo! Sahabat Ria yang berbahagia, perubahan zaman adalah keniscayaan. Disrupsi artinya tergantikannya semua hal dengan yang baru. Termasuk didalamnya juga peran orang tua/ guru dalam mendidik anak. Komunitas Guru Belajar justru hadir untuk menjawab semua hal tersebut. Mengubah paradigma belajar pola lama dengan paradigma baru dan masa depan. Dengan prinsip belajar siapapun bisa menjadi guru dan dimanapun bisa menjadi kelas, kami berusaha memanfaatkan segala hal yang ada saat ini untuk meramu dan merajut masa depan pendidikan. Hal yang paling mudah kita manfaatkan di era disrupsi ini adalah keberadaan internet dan gawai (gadget). Hampir semua orang sudah memiliki akses untuk kedua hal tersebut. Bagian inilah yang juga menjadi perhatian KGB untuk dioptimalkan dalam mendidik anak. Orangtua dan Guru Terhadap Gawai Keberadaan gawai dan internet memang sangat membantu dalam banyak hal. Kita bisa mengakses apapun, dimanapun, dan kapanpun. Disisi lain fenomena yang terjadi di tengah masyarakat, banyak kita jumpai anak yang justru lebih dekat dengan gawai terutama untuk game dari pada dengan orang tuanya sendiri. Apa yang bisa kita lakukan sebagai orangtua/ guru? Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan dalam pemanfaatan gawai dan internet oleh anak-anak kita. KGB mengajak sahabat Ria menyimak pengakuan dari tokoh-tokoh pembuat teknologi dunia dalam memperlakukan anak-anaknya. Bill Gates – Founder of Microsoft Corporation. Beliau tidak memberikan akses (screen time) kepada anaknya hingga anaknya berusia 14 tahun. Hal ini agar anaknya mendapat waktu tidur yang semestinya. Steve Jobs – CEO of Apple Inc. Beliau membatasi screen time pada anaknya. Bahkan menurutnya terlalu banyak mengakses gawai adalah hal yang buruk. Kebiasaan keluarganya adalah makan malam bersama dan diskusi tentang buku dan sejarah. Mark Zuckerberg – CEO of Facebook. Beliau lebih menginginkan anak-anaknya bermain di taman dan melihat indahnya bunga-bunga. Hal ini disebabkan masa kecil hanya sekali dalam hidup, dan saat dewasa mereka tidak bisa mengulanginya. Evan Williams – CEO of Twitter. Beliau menerapkan aturan yang ketat pada anak-anaknya. Bahkan beliau lebih memilih membelikan buku dibanding tablet (gawai). Sahabat ria, dari beberapa pernyataan beberapa tokoh disrupsi tersebut, kita harus bisa belajar bahwa ada batasan akses gawai oleh anak-anak kita. Jangan sampai kita memberikan akses berlebihan dan atau jangan sampai kita justru membiarkan mereka mengakses gawai tanpa kendali. Pola Asuh Orang Tua Sangat menarik saat mendengarkan pengakuan tokoh-tokoh penguasa jagat teknologi saat ini. Mereka justru memperlakukan anak-anaknya seperti orang tua zaman dulu. Mereka justru meminta anak-anaknya untuk bermain, membaca buku, dan tidur yang cukup. Bagaimana KGB melihat hal ini? Sahabat Ria, kami di KGB selalu percaya bahwa pengalaman adalah hal terbaik. Kami menyebutnya sebagai praktik cerdas. Pengakuan tokoh-tokoh tersebut tentu harus kita yakini, karena mereka pembuat dan pasti tahu resiko-resiko gawai dan internet saat diakses oleh anak-anak. Dampak buruk yang ditimbulkan oleh keberadaan gawai dalam pola asuh dan pendidikan anak harus kita antisipasi sedini mungkin. Sebagai orang tua/ guru kita harus bisa memanfaatkan internet dan gawai untuk mendidik anak. Keberadaannya harus kita manfaatkan untuk memperoleh banyak informasi agar tidak salah melangkah. Ada beberapa hal yang perlu kita lakukan: Batasi akses gawai kepada anak-anak, bahkan jangan sampai mereka mengakses sendiri. Upayakan keberadaan kita (guru/orang tua) pada setiap kegiatan mereka. Arahkan anak untuk gemar membaca buku Pancing kreativitas anak dengan mengeksplor benda-benda sekitar untuk dijadikan mainan atau benda yang lebih bermanfaat Ajak anak berdiskusi tentang hal-hal sederhana. Pancing anak untuk bercerita tentang keseharian dan apa yang mereka rasakan. Ajak mereka bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Beri contoh dengan tidak menggunakan/ batasi penggunakaan gawai ketika berada di dekat anak Ajak anak untuk bebrbicara tentang efek dari gawai sesuai usianya. Kerjasama Pengendalian Penggunaan Gawai Sahabat Ria, upaya pengendalian penggunaan gawai oleh anak, tentu akan menuai hasil optimal jika terjadi kerjasama yang solid antar pihak yang berada di lingkungan sekitar anak. Dalam hal ini orang tua, guru, pengasuh, keluarga lain seperti bibi, paman, kakaek, atau nenek juga perlu sama-sama memiliki satu pemikiran dan bersama-sama berkomitmen untuk menghindarkan anak dari efek kecanduan gawai yang sangat membahayakan anak. Jika kerjasama  ini dapat berjalan baik, maka bukan tidak mungkin anak akan lebih mudah untuk dididik di tengah gencarnya perubahan era disrupsi ini. Manfaat yang dapat dirasakan antara lain 1. Anak lebih dekat dengan keluarga Hal ini dikarenakan banyak waktu anak untuk berinteraksi dengan keluarga  dalam segala aktivitas daripada berada di depan layar gawai. 2. Orang tua lebih mudah membangun kelekatan dengan anak Kelekatan anak dengan orang tua sangat dibutuhkan di tengah derasnya arus disrupsi untuk mencegah efek negative daripadanya. Melalui kelekatan ini peran ortu melalui pendidikan dalam keluarga dapat menanamkan norma kehidupan yang akan menjadi filter bagi anak menghadapi kehidupan.  3. Orang tua akan dan anak akan lebih mudah mengungkapkan pemikiran dan perasaan Tanpa kecanduan gawai baik ortu maupun anak akan lebih mudah menyampaikan pemikiran and perasaan. 4. Terjadi kontak mata dan kontak fisik sebagai arti kasih sayang dalam keluarga Keluarga adalah tempat pertama dan utama dalam pendidikan awal anak, di mana didalamnya anak akan belajar pola interakasi sosial. Belajar tentang bagaimana proses stimulus dan respon dalam berinteraksi sosial aktivitas non gawai dapat menjadi arena belajar yang sangat baik bagi pertumbuhan sosial anak. 5. Anak lebih konsentrasi dalam belajar sesuai perkembangannya. Anak yang tidak kecanduan gawai tentu akan lebih mudah berkonsentrasi dalam belajar, memahami tujuan belajarnya, dan tahu apa yang menjadi tugas belajarnya. Sahabat Ria, demikian kompleksnya efek gencarnya perubahan di era disrupsi bagi perkembangan anak. Tentu semua akan menjadi baik jika kita sebagai orang tua, guru, atau orang yang  yang berada di lingkungan sekitar anak turut mengambil bagian dalam upaya menyelematkan anak dari efek negatif gawai.

Sudahkah Kita Merdeka Belajar?

Komunitas Guru Belajar Makassar mengadakan kegiatan Temu Pendidik Daerah dengan tema “ Merdeka Belajar “ pada Kamis, 20 Juni 2019 di Kafe Temang. Kegiatan  tersebut diawali dengan nonton bareng video narasumber Najelaa Shihab, lalu dilanjutkan dengan diskusi bersama yang dipandu moderator Emi Hardiyanti yang akrab disapa miss Emy.  Acara tersebut berlangsung sejak pukul 16.00 Wita – 18.00 WITA. Miss Emy membuka diskusi dengan kalimat “Sudahkah kita merdeka belajar? lalu bagaimana anak dapat merdeka belajar?” Yang kemudian direspon oleh para peserta dengan cukup antusias.  Salah seorang peserta mengatakan bahwa menjadi guru yang paling penting adalah seorang guru harus merasa merdeka terlebih dahulu karena kalau tidak ada rasa itu dalam diri seorang guru pasti akan menimbulkan kendala. Katanya, saya berkegiatan dengan anak-anak berkebutuhan khusus, dan buat saya kelas reguler dan berkebutuhan khusus sama. Alhamdulillah saya banyak sepakat dengan konsep dari sekolah cendikia  karena dari awal kami telah melaksanakan ujian berbasis oriented. Demikian halnya dengan ibu Nurfadilla, dari SMK YPLP mengatakan mengenai masalah pendidikan. Saya dan beberapa teman saya di Pascasarjana berdiskusi dengan dosen, menemukan ada masalah dalam sistem pendidikan kita. Oleh karena itu, sebagai anak muda yang berusaha ingin menyelesaikan masalah pendidikan yang benar-benar konflik, saya dan teman-teman sedang menyelesaikan proyek konten pembelajaran berbasis psikologi. Jadi kita membuat konten pembelajaran sesuai dengan karakteristik kekuatan pembelajaran anak.  Apa yang menjadi kekuatannya serta apa yang menjadi kelemahannya. Guru Usman Djabbar juga mengatakan bahwa apakah selama ini proses belajar mengajar kita di hari pertama sekolah langsung gas materi?. Jika demikian, saya bisa bayangkan betapa stresnya anak-anak di hari pertama sekolah.  Mengubah pertanyaan anak-anak dari How to menjadi Why. Menurut Usman Djabar, guru merdeka belajar adalah guru yang mampu mengubah pertanyaan How to menjadi why.  Tidak jauh berbeda dengan guru Erni Marlina, guru SMK 7 Makassar, mengatakan miskonsepsi yang harus kita pecahkan di kelas ketika anak terpakem bahwa dia sebenarnya butuh nilai. Kalau guru mampu membangun keyakinan bahwa sebenarnya belajar untuk masa depan maka tanpa disuruh pun mereka akan belajar, tapi yang selama ini terjadi karena mereka akan belajar karena membutuhkan nilai dan hal tersebut yang harus diubah. Riset juga membuktikan bahwa mereka yang unggul secara akademis mungkin susah menyesuaikan diri dengan orang lain kenapa karena mereka cenderung mengabaikan yang lain. Ketika kita menerima rapor jangan melihat deretan angka yang ada di rapor tetapi ketika kita bertanda tangan tutup rapor kemudian berikan apresiasi kepada anak kita. Kenapa karena kadang kita juga orang tua egois selalu mengukur prestasi dari apa yang ada di rapornya. Saya rasa mari kita bersama-sama memberikan sugesti-sugesti positif ini kepada anak-anak kita, kepada orang tua kita dan kepada diri kita sendiri karena kita adalah orang tua  di rumah dan orang tua di sekolah bahwa pendidikan itu atau belajar itu harus terus menerus dilakukan bukan untuk mengejar nilai tetapi bagaimana pelajaran itu kita butuh karena kenapa ? ketika anak-anak merasa bahwa dia membutuhkan pelajaran itu maka tanpa disuruhpun dia akan termotivasi. Saya memberikan contoh salah satu sekolah di Malaysia, sekolah di Malaysia itu terbalik dengan kita. Kalau kita menunggu anak-anak di depan pagar dan segala macam untuk dia menyalami. Sekolah itu justru anak-anak yang menunggu dan menyalami gurunya. Mereka berbaris di depan kelas kemudan menunggu gurunya masuk. Saya sangat merindukan itu apakah kemungkinan suatu saat nanti di Indonesia atau di sekolah kita sendiri bisa terjadi. Guru Luktfi Alam mengatakan bahwa tanpa bertanya saya harapkan adalah bagaimana hubungan guru dan pesera didiknya. Makanya rekan-rekan guru menyiapkan hal yang administratif. Sebagai contoh ; sebelumnya pemerintah mengambil alih kelulusan tetapi tiga tahun belakangan pemerintah telah mengembalikan kelulusan ke sekolah, semestinya pihak guru dan sekolah memahami sebenarnya hal tersebut apa esensinya . Bahwa sebenarnya kurikulum nasional telah memberikan sinyal untuk merdeka belajar contohnya peniadaan rangking, pengembalian kelulusan ke satuan pendidikan dan perangkat-perangkat pembelajaran yang lain, hanya saja pihak guru dan pihak sekolahnya saja yang biasa kurang paham apa sih maksud kurikulum meniadakan ranking? padahal maksudnya adalah bagaimana setiap anak itu semua punya potensi. Apa coba maksudnya pemerintah mengembalikan kelulusan ke satuan pendidikan,, yah pihak sekolah diberikan kemerdekaan untuk mengapresiasi muridnya. Mengapa kurikulum menginstruksikan agar penilaian sebaiknya lebih banyak portofolio itu tidak lain agar penilaian menjadi utuh yg mampu merekam aktifitas pelajar secara komprehensif, Nilai 80 yang dilengkapi dengan narasi dan catatan yang merekam potensi murid lebih bermakna dibanding dengan nilai 95 tanpa keterangan, diam,membisu. Demikian halnya dengan guru Maurensyiah yang akrab disapa Permata Hati guru SMK Darussalam “hal yang pertama kita harus lakukan sebelum memerdekakan anak-anak dalam belajar adalah memerdekakan diri sendiri terlebih dahulu. Bagaimana caranya ? lepaskan beban-beban administratif, perasaan harus sama dengan orang lain, cukup menjadi diri sendiri jika ingin menjadi Guru Merdeka Belajar, karena mengajar itu bukan menyenangkan manusia dalam hal ini kepala sekolah tetapi mengajar bagian dari amanah yang kelak akan kita pertanggungjawabkan di akhirat, jadi mengajarlah dengan ikhlas  untuk memanusiakan manusia”  Diskusi ditutup oleh moderator dengan kutipan dari narasumber Najelaa Shihab “Guru tidak bisa belajar sendiri”-“Ciri Guru Merdeka Belajar adalah Komitmen akan tujuan, Guru yang mandiri, dan Guru yang Bercermin (refleksi)”.  Pendidikan, dalam hal ini pendidikan di sekolah, pada era modern (atau postmodern) ini memiliki tantangan yang lebih berat daripada masa sebelum tahun 2000-an. Pada masa dahulu, seperti masa kita sebagai guru berada pada posisi murid kita, bersekolah adalah bagaimana agar murid dapat melanjutkan pendidikan pada tingkat universitas atau secepatnya mendapatkan pekerjaan selepas sekolah menengah atas. Sekolah menjadi tempat bagi pembentukan, dengan term Althusser, know-how. Sekolah menjadi perpanjangan tangan pemilik modal bagi penyiapan tenaga-tenaga kerja potensial yang kelak akan digunakan oleh pemilik-pemilik modal tersebut melanjutkan nafas perusahaannya. Apakah pada saat ini, di era milenium, peran sekolah sebagai ladang penyemaian bibit-bibit potensial bagi tenaga kerja dalam sistem kapitalistik sudah tidak terjadi lagi?. Sayangnya, hal tersebut masih berlanjut, bahkan lebih parah lagi. Persaingan ekonomi global, terutama pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean, menjadikan sekolah-sekolah semakin giat dalam mereproduksi tenaga kerja dengan spesifikasi keahlian kualitas tinggi. Pertanyaannya, apakah hal tersebut adalah sesuatu yang salah?. Menjawab “ya” atau “ tidak” secara bulat bukanlah jawaban yang pas. Pada kenyataannya realitas adalah campur aduk antara benar dan salah. Kenyataan dunia yang semakin kapitalistik, tidak serta merta diikuti sekolah dengan mereproduksi … Read more

Guru Merdeka Belajar di Pekanbaru, Belajar Tanpa Paksaan

Awalnya saya ragu untuk mengadakan Nonton bareng (Nobar) Video Guru Merdeka Belajar yang akan saya lakukan di Kota Pekanbaru. Rasa percaya diri saya seolah hilang karena melihat berbagai sisi kesibukan para guru ataupun berbagai steakholder yang akan saya ajak untuk “Nobar”. Ditambah lagi masyarakat Pekanbaru kurang mengerti atau belum tau apa itu “Komunitas Guru Belajar (KGB)”.  Di tengah keraguan itu muncul keberanian saya untuk mengalahkan ego pribadi, kapan lagi saya akan berbagi informasi penting kepada para guru-guru berdaya, penerus estafet peradaban bangsa, yang selalu berbagi pengalaman dan pengetahuan kepada peserta didik yang memasuki era milenial ini. Melihat perkembangan yang sangat cepat lalu diimbangi dengan berbagai inovasi pembelajaran yang mudah diakses dan dipelajari maka saya mencoba mengenalkan dan memulai menggugah emosi para guru walaupun hanya beberapa orang sekitar 10 orang  tapi rasanya saya bahagia dapat berdiri tegap dihadapan para guru. Mulailah saya rancang waktu pelaksanaan Nobar Merdeka Belajarkarena berbagai kesibukan saya pilih hari Jumat tanggal 28 Juni 2019 bertempat di Café Kopi Kirapa Jl. Ahmad Dahlan yang terkenal dengan nama Jl. Pelajar. Pelaksanaan dimulai pukul 14.00 mula-mula saya khawatir soalnya setelah saya sampai di Café Kopi Kirapa tepatnya pukul 13.00, belum terlihat orang-orang yang saya undang melalui grup WA ada juga yang melalui telpon dan sms langsung di tempat acara. Lalu saya mulai bertanya jangan-jangan mereka lupa atau para guru memilih berlibur bersama keluarga dari pada menghadiri undangan “Nobar Merdeka Belajar KGB Pekanbaru” yang belum jelas ini.  Setelah kurang lebih 30 Menit saya menunggu, akhirnya harapan saya mulai cerah untuk kesuksesan acara nobar beberapa guru mulai datang, pertama adalah Ibu Atika Hermansyah, M.Pd. yang sudah lama malang melintang di dunia KGB bahkan menurut informasi yang saya dapatkan beliau adalah utusan TPN dari riau tahun 2016 yang lalu, yang lebih luar biasa di sela-sela kesibukannya studi S3 di Padang menyempatkan waktu balik ke Pekanbaru untuk menghadiri acara Nobar yang saya buat. Setelah itu ada beberapa kawan-kawan guru dari sekolah lain turut hadir dan peserta mencapai 12 orang. Rasanya luar biasa saya tidak dapat membayangkan baru sekali saya melaksanakan Nobar Merdeka Belajar KGB Pekanbaru 12 orang yang antusias. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Setelah menyiapkan berbagai alat perlengkapan Nobar mulai dari proyektor, pengeras suara, dan sebagainya maka kegiatan Nobar dilaksanakan. Pada awal sebelum memulai saya mengajak kepada seluruh peserta untuk menjawab dan menyatukan berbagai pandangan mengenai informasi tentang apa itu merdeka belajar? Pak Ripi salah satu guru berdaya di MA Ma’arif Nahdlatul Ulama Riau mencoba memberikan argumentasinya tentang konsep merdeka belajar. Menurut beliau “Merdeka belajar adalah sebuah kebebasan untuk mencari informasi tentang segala hal terkait ilmu pengetahuan”. Setelah memberikan jawaban itu saya menguatkan jawaban beliau luar biasa jawaban bapak.  Ibu Sri dari salah satu sekolah ternama di Siak menambahkan jawaban terkait merdeka belajar menurut beliau merdeka belajar adalah belajar yang melekat kepada siapapun tanpa ada paksaan, tanpa embel-embel, hadiah, sertifikat untuk terus belajar. Setelah selesai saya menguatkan dan mengapresiasi jawaban peserta. Setelah mencoba memberikan pertanyaan tentang merdeka belajar saya coba pecahkan suasana bertanya kepada peserta apakah bapak/ibu guru ingin merdeka belajar’. Mereka serentak menjawab “Iya” Baiklah setelah selesai dengan sedikit pengetahuan tentang merdeka belajar saya ajak bapak ibu guru untuk menyaksikan video yang sudah disiapkan oleh Kampus Guru Cikal di web. Dimulailah video tersebut para peserta hening. Suasana menjadi hangat dan sepi semuanya dengan seksama menonton dan menyimak betul penjelasan dari bu Najelaa tentang apa itu merdeka belajar dan bagaimana ibu Najelaa mencoba menggugah suasana batin bapak ibu yang hadir dengan menjelaskan berbagai miskonsepsi belajar yang selama ini dimiliki oleh bapak ibu guru di seluruh Indonesia. Ada semacam ide-ide baru yang muncul dari gagasan yang disampaikan Ibu Najelaa terhadap kondisi pendidikan di Indonesia ini dan banyak tidak terpikirkan oleh para guru di seluruh Indonesia. Miskonsepsi-miskonsepsi ini yang nantinya saya diskusikan kepada para peserta Nobar yang saya lakukan. Setelah pemutaran video nobar, saya mengajukan 5 pertanyaan penting dari kegiatan nobar kepada para peserta. Kemudian saya mencoba mengulas sedikit tentang berbagai miskonsepsi dari penjelasan Ibu Najelaa, antara lain guru belajar menunggu sertifikat, uang pesangon, belajar hanya kepada ahli, individual, dan lain-lain. Mengawali dari tanggapan atau refleksi setelah melihat video itu ibu atika memberikan refleksi atau tanggapannya. Beliau mengatakan video tersebut membuat saya tergugah karena 20 tahun mbak Najelaa berkecimpung dalam dunia mendidik banyak salah kaprah dalam memahami arti belajar. Banyak aturan-aturan yang malah tidak membuat kreativitas guru meningkat, malah jarang sekali terjadi inovasi dalam pembelajaran.  Ibu Rini juga menambahkan beliau merasa terharu setelah nonton video tersebut beliau merasa selama 15 tahun mengajar belum memberikan yang terbaik untuk peserta didik sampai saat ini, oleh karena itu kedepan saya akan lebih baik lagi dan berusaha untuk melakukan inovasi pembelajaran. Maklum karena peserta sedikit dan pertama kali mereka masih malu-malu untuk bercerita santai tentang kemajuan pendidikan yang selama ini, hanya dua orang yang mau berefleksi, hehehe. Walaupun demikian rasanya luar biasa sudah bergabung dan bersama-sama untuk nobar dan mendapatkan pengalaman baru gagasan pendidikan kedepan. Di akhir pertemuan kami bersepakat untuk menumbuhkan semangat baru mengeksplor berbagai pengetahuan dalam diri, menjadikan “KGB” sebagai sarana untuk berubah dan berkembang. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Guru Merdeka Belajar, Ikut Pelatihan Tanpa Berharap Insentif

Pada  hari Rabu, 3 Juli 2019 pukul 10.00  WIB, Komunitas Guru Belajar (KGB) Pesisir Selatan mengadakan Temu Pendidik  Daerah ke-9 bertempat di SDN 26 Painan Selatan kecamatan IV Jurai. TPD Pessel ke-9  ini memiliki kegiatan inti Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar. Kegiatan TPD Pessel ke-9 ini di Moderatori  oleh saya sendiri Nofri Mayasril, sebagai salah satu calon penggerak dari KGB Pessel. Perkenalkan saya mengajar di SDN 03 Pelangai Gadang Ranah Pesisir, Pesisir Selatan. Kemudian pemandu nobar di pimpin oleh Ibu Rahmi Yanti selaku penggerak KGB Pessel yang sudah berpengalaman pada acara TPN 2018. Selain acara nobar, TPD ke-9 Pessel ini  juga diisi dengan penyampaian materi tentang Langkah-langkah menulis Essay dan bagaimana cara mempublikasikannya, yang disampaikan oleh saya sendiri Nofri Mayasril, S.Pd Kegiatan ini direncanakan mulai pada jam 10.00 WIB. Namun sayangnya peserta banyak yang datang terlambat, dikarenakan jarak dan lokasi tempuh dan luas nya Pesisir Selatan. Ketika itu peserta yang datang baru 5 orang dari 10 orang yang mendaftar. Sambil menunggu peserta lainnya datang, saya selaku moderator mempersilakan peserta mengisi absen secara online menggunakan media ponsel dari link yang telah ada. Pada saat pengisian absen secara online ini, peserta kaget, sebab belum pernah menghadiri sebuah pertemuan yang mengisi absen secara online. Kegiatan ini makin menambah  antusias peserta untuk mengikuti acara ini. Tidak lama kemudian, satu persatu peserta datang dan langsung mengisi absen online. Namun tidak semua peserta bisa mengisi absen, dikarenakan gangguan internet, nah disinilah dituntut kebersamaan dan saling membantu, sukses dan belajar bersama yang kita kemukakan. Kegiatan ini berjalan lancar dan peserta yang hadir pun, merupakan guru-guru yang belum pernah tahu tentang Komunitas Guru Belajar.  Berdasarkan hasil pengamatan saya, pada saat seorang peserta yang bernama Ibu Dani ketika menjawab pertanyaan di absen online tentang apa yang kamu ketahui tentang guru Komunitas Guru Belajar, beliau menjawab, ”Menambah  ilmu yang bermanfaat katanya.” Pada umumnya peserta ingin tahu tentang Komunitas Guru Belajar. Masuk ke kegiatan inti yaitu nonton bareng Guru Merdeka Belajar sebuah video ibu Najelaa Shihab pada Temu Pendidik Nusantara. Kegiatan ini di pandu oleh ibu Rahmi penggerak KBG Pessel, sebelum video di putar, beliau melemparkan pertanyaan ke peserta. “ Apa yang anda ketahui tentang guru merdeka belajar “ Saya sendiri termasuk awam dengan kegiatan ini, tidak pernah tau sebelum nya, Ibu rahmi pun menanyakan hal ini kepada saya, Beliau berkata silakan di jawaban Pak Nofri, silakan jawab apa yang terlintas apa yang Bapak pahami dengan Guru merdeka belajar. Saya pun menjawab, yang saya pahami dari Guru Merdeka Belajar, tidak ada keterikatan seorang Guru dalam mengajar dan belajar untuk mencapai tujuan. Kemudian para peserta lain pun menyampaikan hal apa yang mereka ketahui tentang Guru merdeka. Setelah penyampaian argumen tentang guru merdeka belajar tersebut, semua peserta menonton tayangan video tentang guru merdeka belajar. Terlihat antusias peserta serius mendengar dan mengamati tayangan video tersebut. Setelah tayangan selesai, tibalah saatnya sesi refleksi, ibu Rahmi menyampaikan pertanyaan “Diantara semua miskonsepsi, mana yang paling menggambarkan diri anda?” Lalu kebanyakan guru menjawab, kalau diberi insentif guru baru mau ikut pelatihan pada umumnya. Selanjutnya diskusi terus berlangsung tentang konsep merdeka belajar. Akhirnya semua peserta menyetujui dan sepakat bahwa untuk menjadi guru yang merdeka belajar haruslah memiliki  komitmen pada tujuan, kemudian mandiri serta mau melakukan refleksi. Meskipun tantangan yang paling besar bagi peserta adalah komitmen pada tujuan. Seorang guru mengeluhkan sulitnya mengubah mindset menjadi guru yang merdeka belajar karena situasi dan kondisi yang kurang mendukung.  Saya juga memahami dari hasil nobar hari ini. Komitmen seorang Guru Merdeka belajar adalah ketekunannya dalam perjalanan menuju tujuan yang bermakna bagi diri itu sendiri banyak hal yang terjadi di lapangan, ketidakpedulian seorang Guru terhadap murid bahkan terhadap dirinya sendiri.Tak heran saat di tanya bagaimana kelas hari ini dan apa yang dipelajari di kelas jawabannya biasa saja, seperti hari-hari yang lalu, bahkan murid ditanya ada yang tidak tau apa yang terjadi di kelas nya padahal si murid mengikuti proses belajar mengajar di kelas. Di sini semua peserta mau menjadi Guru merdeka Belajar dan telah membuat komitmennya masing-masing dan akan melakukan perubahan secara perlahan pada kelasnya. Mereka akan mulai menanamkan prinsip-prinsip guru merdeka belajar dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari hal yang kecil seperti; tidak mengharapkan insentif dan iming-iming sesuatu jika mengikuti pelatihan-pelatihan pembelajaran. Setelah acara Nobar, dilanjutkan dengan penyampaian materi tentang langkah-langkah menulis Essay dan bagaimana cara mempublikasikannya menjadi sebuah buku ber-ISBN. Peserta sangat antusias mendengarkan penyampaian materi. Kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab antara pemateri dan peserta tentang bagaimana cara menulis Essay, apa saja yang harus dipahami dan bagaimana cara mempublikasikannya. Di pertemuan perdana saya Nofri Mayasril, S.Pd bergabung dengan KGB sangat menarik, sangat memotivasi dalam menambah ilmu, saling berbagi dengan teman dan juga sebagai wadah komunikasi antar Guru dalam berbagi ilmu dan permasalahan yang ditemui dalam proses belajar mengajar di sekolah.  Demikian lah laporan singkat tentang liputan nobar Guru Merdeka Belajar. Tidak ada yang tidak mungkin dilakukan jika kita komitmen terhadap tujuan. Ayo mari kita benahi diri kita masing-masing sebagai seorang Guru, jadilah Guru yang Merdeka, berilmu dan melahirkan generasi penerus bangsa yang madani, tetap fokus dengan tujuan. Berkomitmen berarti bertanggung jawab, semua dilalui dengan tahap dan proses, tidak instan. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Guru Merdeka Belajar, Guru yang Berdaya dengan Berkolaborasi

Komunitas Guru Belajar Hulu Sungai Tengah (KGB HST) Kalimantan Selatan menyelenggarakan  Temu Pendidik Daerah dengan nonton bareng Guru Merdeka Belajar, Kamis 20 Juni 2019. Temu Pendidik Daerah ini mengambil tempat di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang dihadiri oleh sekitar 63 pendidik SD, SMP, dan Madrasah Aliyah. Dalam sambutannya Ketua KGB HST, Abdul Mujib melaporkan bahwa kegiatan ini mengawali dibentuknya KGB HST yang merupakan transformasi dari Komunitas Guru Menulis HST (KGM HST). Abdul Mujib juga menambahkan bahwa dia tidak menyangka kegiatan nobar tersebut mendapat respon positif dari para guru di Hulu Sungai Tengah yang semula dia mengira hanya akan dihadiri oleh sekitar 20 orang. Dalam 2 hari, pendaftaran peserta dibuka lewat formulir online, terpaksa harus ditutup dengan jumlah 63 pendaftar karena memperhitungkan kapasitas tempat acara. Dalam struktur kepengurusan KGB HST ada 3 orang, Abdul Mujib sebagai ketua, Taufik Rachman sebagai sekretaris dan Elizabeth Novita Y.L sebagai bendahara. KGB HST juga memiliki penasehat dari pengawas SMP Ibu Anton Nortasiah Rahmi yang juga hadir memberi sambutan pada agenda pembukaan. Dalam sambutannya Ibu Anton menegaskan bahwa guru tidak bisa berdaya sendirian, guru bisa berdaya dengan berbagi, bekerjasama dan berkolaborasi.    Temu Pendidik Daerah KGB HST dimulai dari jam 09.00 Wita juga dihadiri oleh Ibu Jumratil Kiptiah Kabid Bina SD mewakili Kepala Dinas Pendidikan HST bersama Bapak Muhammad Arsyad Kabid GTK dan Bapak Misran Kabid Paud Dikmas. Kepala Disdik HST dalam kesempatan ini diwakili Ibu Jumratil Kiptiah membuka acara, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas inisiatif dan inovasi guru-guru Hulu Sungai Tengah dalam berkumpul untuk berbagi dan bisa mengatasi permasalahan dengan duduk bersama.  Beliau juga menambahkan bahwa Disdik HST berharap lewat Komunitas Guru Belajar HST merupakan kumpulan orang-orang yang ingin maju bisa berkontribusi besar dalam memajukan pendidikan di bumi Murakata. Setelah seremoni pembukaan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan mengisi formulir daftar hadir secara online yang disediakan linknya oleh Kampus Guru Cikal. Pengisian tersebut dilaksanakan secara bersama-sama dan dipandu oleh Bapak Taufik Rachman. Kemudian acara dilanjutkan dengan nonton bareng video Guru Merdeka Belajar yang disampaikan  oleh ibu Najelaa Shihab, inisiator dan pendiri Kampus Guru Cikal. Sebelum pemutaran video, KGB HST melakukan survey kuisioner lewat aplikasi online (kahoot.it) kepada peserta. Survey berisi 8 pertanyaan tentang konsep merdeka belajar dan miskonsepsi yang ada dikalangan guru selama ini. Peserta nobar terlihat sangat antusias dan menikmati menjawab survey tersebut, dan beberapa peserta merasa kagum dengan penggunaan media digital dalam melakukan survey dan mereka menyatakan baru pertama kali melihatnya.  Video paparan tentang konsep merdeka belajar berdurasi sekitar 14 menit. Dalam video tersebut ibu Najelaa Shihab menyampaikan bahwa guru yang merdeka belajar adalah pendidik yang punya komitmen, memiliki kemandirian dan selalu reflektif. Beliau juga mengemukakan bahwa Guru Indonesia sulit untuk belajar karena sedang melawan banyak miskonsepsi yaitu: belajar perlu insentif, belajar harus dari ahli, belajar cukup tentang ‘how to’, belajar harus dengan target waktu, kompetensi bersifat individual, dan peran masyarakat adalah mensukseskan program pemerintah. Komunitas Guru Belajar hadir untuk membalik semua miskonsepsi tersebut. Dengan Komunitas Guru Belajar, guru bisa belajar sebagai kebutuhan alamiah, guru bisa belajar dengan efektif dari sesama guru sebagai figur realistis, guru bisa belajar dengan tujuan dalam konteks, guru bisa belajar dengan waktu yang tidak terbatas, guru bisa menumbuhkan kompetensi bersama lingkungan, dan Komunitas Guru Belajar punya mimpi dan harapan agar peran pemerintah bisa menguatkan praktik baik dari masyarakat. Selama pemutaran video tersebut seluruh peserta tampak memperhatikan dengan hikmat tayangan paparan konsep Merdeka Belajar. Selama 14 menit seisi ruangan tidak terdengar suara kecuali paparan dari video tersebut. Setelah tayangan video berakhir, rundown acara dilanjutkan dengan refleksi. Pada kegiatan refleksi ini dipandu oleh bapak Abdul Mujib dan peserta kegiatan duduk secara berkelompok dalam 6 kelompok kecil. Dalam kelompok, peserta melakukan kegiatan TPS (Think-Pair-Share). Peserta mendiskusikan refleksi mengikuti arahan 5 pertanyaan dari narasumber. Pertanyaan berisi tentang: gambaran miskonsepsi mana yang paling menggambarkan diri peserta? setujukah peserta dengan konsep merdeka belajar dan alasannya apa? inginkah peserta menjadi guru merdeka belajar? dan perubahan apa yang akan dilakukan di kelas sebagai guru merdeka belajar?. Ibu Barlian dari MAN 3 Hulu Sungai Tengah mengemukakan bahwa guru merupakan refleksi bagi peserta didiknya, apa yang dilakukan guru akan digugu dan ditiru peserta didiknya. Bapak Darlan guru MAN 3 HST juga menambahkan bahwa selain menjadi refleksi diri bagi peserta didik, guru merupakan saluran informasi utama bagi perserta didik untuk saling memberi dan menerima ilmu pengetahuan satu sama lain. Setelah diskusi dalam kelompok, peserta menuliskan refleksi mereka pada sticky note dan menempelkannya pada poster di dinding. Satu poster untuk catatan refleksi 2 kelompok. Selain membuat refleksi pada poster dinding, seluruh peserta juga memposting catatan refleksi mereka pada akun media sosial masing-masing dengan #NobarMerdekaBelajar #GuruBelajar dan #kgbhst. Acara nobar  diakhiri dengan foto bareng seluruh pendidik. Tampak raut kebahagian dalam kebersamaan Komunitas Guru Belajar HST. Apakah sahabat guru berdaya sudah atau ingin Merdeka Belajar? Mari bergabung bersama kami dalam wadah persaudaraan satu tujuan Komunitas Guru Belajar Hulu Sungai Tengah. Semua murid, semua guru.  Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Memahami Murid untuk Membangun Kesepakatan Kelas

Rameeee… Mudik KGB yang ke 13 ini diadakan di Warung Upnormal Lidah Wetan Surabaya pada tanggal 24 Juni 2019 jam 18.00. Tema Membangun Kesepakatan Kelas cukup menarik minat para pendidik yang ada di Surabaya. Hal ini terlihat dari tingkat partisipasi anggota KGB di mana ada 20 orang peserta yang hadir dalam kegiatan ini.  Mudik kali ini sangat beragam pesertanya. Ada Guru Pendamping Khusus yang mengajar di SMP negeri, guru BK. guru SD, guru SMP, guru SMK maupun aktivis pendidikan. Suasana terasa sangat heterogen dimana peserta bisa saling belajar dari masing-masing jenjang.  Acara dibuka oleh Ibu Shanti selaku moderator. Pertanyaan seperti : Apa itu kesepakatan kelas, bagaimana membuat kesepakatan kelas, apa perlunya kesepakatan kelas, menjadi topic yang menarik untuk dibicarakan. Topik ini dipandu oleh 2 narasumber yaitu Bu Amel dan Bu Ely yang membantu untuk menyampaikan praktik baik yang pernah dilakukan.  Sesi pertama diisi oleh Ibu Amalia Jiandra Tiasari dari Kampus Guru Cikal. Karena suasana di warung Upnormal cukup ramai, maka Ibu Amel membagi peserta secara berpasangan. Setelah itu masing-masing pasangan diharapkan dapat bercerita mengenai pandangannya tentang apa yang harusnya dilakukan saat memulai tahun ajaran baru bersama murid. Salah satu pasangan menceritakan pengalamannya saat menjadi murid dan mahamurid. Dosen ataupun guru tidak mengajak anak-anak untuk berdiskusi mengenai apa tujuan yang ingin dicapai atau membuat kesepakatan kelas. Bahkan muncul kalimat yang menarik “Tahun ajaran baru tapi kok ndak ada yang baru” Ketika waktu mempresentasikan sharingnya  telah habis, bu Amel mengambil kesimpulan bahwa  mengenal murid menjadi hal yang utama sebelum masuk ke agenda atau jadwal belajar yang disusun. Mengenal ini bukan hanya sekedar mengenal nama, melainkan juga mengenal minat murid supaya Guru bisa mencari sela-sela murid saat memulai hubungan di tahun ajaran tersebut. Setelah pengenalan karakter dan minat murid, baru kemudian dibuat kesepakatan kelas. Yang perlu diingat adalah kesepakatan ini dipatuhi oleh kedua belah pihak yaitu pihak sang guru maupun murid. Kegiatan selanjutnya adalah mencari games yang bisa dijadikan sebagai ice breaking untuk mengenal murid. Hasil diskusi peserta mudis mengenai games yang bisa dipakai untuk mengenal murid langsung dibagikan juga ke grup WA KGB Surabaya, sehingga guru yang tidak hadir bisa mendapat informasi dari kegiatan mudik kali ini. Sesi berikutnya diisi oleh Ibu Ely dari Sekolah Cikal Surabaya, Di sesi ini bu Ely membagikan pengalamannya membuat kesepakatan kelas bersama para murid. Bu Ely menjelaskan bahwa dalam membangun kesepakatan kelas, maka yang menjadi dasar pemikiran adalah dialog yang diarahkan pada kebutuhan murid sehingga murid tidak diabaikan dalam pembuatan kesepakatan itu. Bu Ely mengajarkan bahwa murid juga harus dapat memahami tujuan pembuatan kesepakatan kelas dan poin-poin kesepakatan. Murid diajak untuk berdiskusi kesepakatan macam apa saja yang hendak diterapkan dan menggali pemahaman mereka, mengapa kesepakatan itu dibuat, dan apa akibatnya apabila kesepakatan itu dilanggar. Dari pemahaman akan akibat pelanggaran, maka murid diharapkan dapat menjaga diri untuk berperilaku sesuai dengan kesepakatan di kelas. Bu Ely juga mengajarkan, walau mungkin kesepakatan yang dibuat dengan murid dirasa tidak efektif, namun bukan berarti harus dihentikan sama sekali, melainkan harus dievaluasi dalam pelaksanaannya. Evaluasi bisa dilakukan sebulan sekali, per-semester, atau bahkan seminggu sekali jika diperlukan. Kesepakatan kelas itu sendiri bersifat fleksibel,  bisa berkurang atau bertambah sesuai dengan kebutuhan dan tentu saja disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak.  Setelah bercerita mengenai praktik yang pernah dilakukan, bu Ely kemudian membagi menjadi 2 kelompok untuk mencoba membuat kesepakatan kelas. Para peserta tampak antusias dan bersedia untuk sharing mengenai contoh kesepakatan yang dibuat di kelas. Tak terasa diskusi yang sangat informatif ini berlangsung selama 3 jam. Ada banyak kesan dan pesan yang disampaikan oleh para peserta mudik. Bu Rida yang terpaksa absen beberapa kali dari kegiatan mudik KGB menyatakan bahwa mudik kali ini mengobati kangennya. Pak Gharud pun menimpali “mudik ini sangat menarik, apalagi karena banyak yang datang”. Pak Gharud berharap semoga makin banyak acara yang diadakan oleh KGB agar makin banyak ide untuk belajar dan berkembang bersama para murid.