Bersenang-senang dalam Belajar, Apakah Tujuan Belajarnya Tercapai?

Saya sudah sering mengajak murid bersenang-senang di kelas.Tapi terkadang kok yang diingat murid hanya bagian senangnya,Tujuan belajar tidak tercapaiBagaimana ya? Jam baru menunjukkan angka 11.00 WITA namun kala itu cuaca sudah amat terik diikuti oleh angin yang kencang. Nampak sebuah mobil sedan AVANZA berwarna abu-abu sedang parkir di depan RuSun alias Rumah Susun, Ya RuSun menjadi basecamp sementara KGB Jeneponto selama kegiatan pelatihan dalam program “POPANG (Playground of Ujung Pandang)” berlangsung hingga selesai. Setelah semua barang keperluan kegiatan pelatihan diangkut ke atas mobil, kami pun akhirnya menuju ke lokasi pelatihan yang berjarak sekitar ± 20 KM, tepatnya di SD 13 Allu, Kecamatan Bangkala. Jumat, 06 Desember 2019 merupakan merupakan pelaksanaan pelatihan pertama “Aktivitas Belajar Bermakna dengan Permainan Papan” hal ini merupakan follow up dari kegiatan kelas Kompetensi CKOM014 pada kegiatan Temu Pendidik Nusantara 2019 Oktober lalu. Pelatihan tahap satu berbasis Kelompok Kerja Guru (KKG), sasarannya ialah guru SD kelas 4-6 yang berada pada KKG Gugus 1 Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto. Pukul 13.00 WITA nampak beberapa peserta sudah berdatangan, kami pun selaku pelaksana kegiatan mengarahkan para peserta yang sudah hadir untuk mengisi formulir pendaftaran dan daftar hadir pelatihan secara online dan berbasis Barcode. Ternyata banyak peserta yang belum memiliki aplikasi QR Barcode Scanner, sehingga mereka kami arahkan untuk terlebih dahulu mengunduh ataupun berbagi lewat aplikasi shareit, darn hal ini ternyata menguras waktu sekitar 30 menit, namun akhirnya semua peserta dapat melakukan presensi secara online. Total peserta yang mengikuti pelatihan tahap 1 ini ialah 63 orang. Pukul 14.00 WITA acara pun kami mulai. Berawal dari sambutan Pengawas Sekolah Gugus 1 Kec. Bangkala bapak H. Abdul Thalib, S.Pd., M.Pd. yang sekaligus akan membuka kegiatan pelatihan secara resmi. Dalam sambutannya, beliau sangat bersyukur dan berterima kasih dengan kedatangan KGB Jeneponto. Beliau berjanji akan mengikuti kegiatan hari ini hingga selesai. “Kita sangat bersyukur karena gugus kita didatangi oleh KGB, oleh karena ilmu itu sangat mahal, mendatangkan pemateri tidaklah mudah dan tentunya semua itu memerlukan biaya, namun pada hari ini kita sangat senang dan berterima kasih karena KGB mau berkunjung berbagi ilmu dan pengalaman secara cuma-cuma” ucap pak Thalib. Beliaupun memaparkan bahwa pemanfaatan teknologi khususnya android sangatlah urgent di era 4.0 ini.  Hal ini mendapatkan tepuk tangan yang meriah dari peserta, hore. Acara pun dibuka secara resmi oleh bapak Thalib. Acara dilanjutkan oleh pak Syam Mahadi, S.Pd., M.Si. selaku salah satu pelatih dalam kegiatan tersebut. Pak Syam dengan suaranya yang khas mulai menyapa peserta pelatihan yang sudah sejak tadi sangat antusias. Pak Syam kemudian menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan “Ole-ole TPN 2019”. Dia pun menyampaikan bahwa KGB Jeneponto menerima bantuan board game dari Kampus Guru Cikal sebanyak 2000 yang kemudian akan menyasar dan dibagikan ke 250 guru SD yang ada di Kabupaten Jeneponto, termasuk bapak ibu guru yang hadir pada hari ini. Terdengar tepukan tangan yang meriah dari peserta, hore. Masuk pada sesi perkenalan peserta, kegiatan dipandu oleh Ibu Hasmawati Hafid, S.Pd. Dengan kaos merah dan kerudung merah sontak menarik perhatian para peserta. Bu Hasma pun memandu peserta untuk melakukan perkenalan yaitu dengan membuat 2 kalimat berirama seperti “Perkenalkan nama saya Hasmawati, saya tidak suka melatih”. Wah perkenalannya HOTS banget ya, haha. Peserta diberikan waktu untuk membuat kalimat perkenalan. Kini Pak Syam dan Bu Hasma berkolaborasi memandu kegiatan, diajaklah peserta yang menghafal 3-5 orang temannya. Salah seorang peserta kemudian menyebutkan nama teman yang sudah diajak berkenalan, pertama ada ibu Hatija yang di jalan suka hati-hati, pak Asis yang tidak suka krisis, ada ibu Sahriani yang jelas bukan saudaranya Syahrini, hiihii, ada pak Subair Tutu Sikatutuiki Ribajika (Saling menjaga dalam kebaikan), ibu Rahmawati yang suka mawar melati dan ibu Sunarti yang namanya punya arti. Arti apa ya, hehe. Sesi perkenalan akhirnya selesai dengan sangat menyenangkan. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 14.45 WITA, bu Hasma kembali memandu kegiatan dengan mengarahkan peseta mengisi format S dan I, S adalah apa yang peserta sudah ketahui tentang bermain yang bermakna dan I adalah apa yang ingin diketahui oleh peserta tentang bermain yang bermakna. Beberapa peserta nampak kebingungan pada aktivitas ini, namun berkat kerjasama KGB Jeneponto akhirnya semua peserta bisa menuliskan form S dan I yang kemudian ditempel pada kertas plano. Beberapa menuliskan bahwa yang mereka sudah pahami tentang bermain bermakna ialah bermain yang tidak hanya menyenangkan tapi tujuan tersampaikan, ada pula yang menuliskan bermain yang membuat murid senang, nyaman dan aktif dalam menerima pelajaran. Dan yang ingin diketahui peserta ialah tata cara penerapan belajar bermakna dengan bermain dalam kelas serta beberapa orang ingin mengetahui jenis-jenis permianan yang bisa digunakan dalam pembelajaran. Kegiatan dilanjutkan pada kesepakatan belajar. Semua peserta sepakat dengan apa yang sudah ditawarkan oleh pelatih dengan penambahan “No Smoking”. Setelah Kesepakatan belajar selesai, kami mengundang Kak Ommenk (sapaan akrab Pak Usman Djabbar) selaku Ketua KGB Nusantara untuk memperkenalkan tentang KGB. Kak Ommenk pun dengan gayanya yang kece tampil ke depan peserta memaparkan tentang KGB, tentang bagaimana literasi baca pada murid, pelibatan murid dalam pembelajaran, dan bagaimana penggunaan boardgame yang akan dilatihkan pada hari ini bisa membangun empati murid, serta bagaimana para guru bisa mengkritisi ataupun melakukan modifikasi pada permainan yang akan dibagikan nantinya. Tampak atensi peserta yang begitu antusias dengan penjelasan dari kak Ommenk. Waktu terus bergulir, setelah Ishoma acara kembali dilanjutkan. Namun sebelumnya peserta diberikan ice breaking oleh Bu Hasma dan Pak Syam, namanya “Cui Cui”, nampak peserta antusias dan kembali segar setelah melakukan ice breaking tersebut. Acara dilanjutkan dengan penentuan desain pembelajaran. Setiap kelompok diminta untuk menentukan desain melalui diskusi kelompok. Kelompok dari SD 13 Allu naik mempresentasikan hasil diskusi kelompok mereka, namun sebelumnya mereka menampilkan sebuah yel-yel. Pak Rasihun nampak begitu semangat memandu yel-yel kelompok mereka “Mana semangatmu, kahe, sekali lagi kahe, berkali-kali kahe kahe kahe” sambil mereka menggerakkan anggota badan ke depan, yel-yel yang sungguh unik dan menantang. Kemudian pak Rasihun perwakilan dari SD 13 Allu menyampaikan hasil diskusi kelompok mereka. Dia memaparkan bahwa dalam mendesain pembelajaran, hal yang paling utama ialah menentukan tujuan sebagai acuan dalam melakukan pengajaran, kemudian dilanjutkan dengan pemahaman terhadap murid. “Setelah penetapan tujuan, kita identifikasi kemampuan murid kita” ucak pak Rasihun, lalu kita tentukan strategi yang sesuai dengan kemampuan … Read more

Belajar dari Karaeng Pattingalloang

“Siapa yang pernah mendengar tentang Karaeng Pattingalloang?”“Beliau adalah salah satu Raja dari Kerajaan Gowa Tallo dan lahir pada tahun 1600-an. Beliau tokoh yang cinta pengetahuan. Mari coba Bapak Ibu, boleh cari info mengenai beliau di HP masing-masing” Kalimat ini disampaikan pada 15 November, saya Syamsuddin Mahadi diberi amanah menjadi pemateri pada kelompok kerja guru (KKG) gugus 1 Binamu di SDN No. 48 Bontosunggu Kota. Pada kegiatan KKG tersebut saya membawakan materi tentang papan permainan Jelajah Nusantara dan sekaligus melakukan sosialisasi Komunitas Guru Belajar Jeneponto. Kegiatan tersebut diikuti oleh 40 Guru yang tergabung dalam KKG Gugus 1 Binamu. Di awali dengan memperkenalkan boardgame Kareng Pattingaloang dan selanjutnya melakukan dinamika kelompok untuk membagi peserta dalam beberapa keompok kecil dan membimbing kelompok untuk berbagi peran atau tugas dalam setiap kelompok yang sudah terbentuk. Sebelum masuk pada dinamika kelompok kami melakukan aktivitas ice breaking dengan kata petunjuk “Hitung Mundur Bilangan Genap dan Ganjil”, dimana peserta diajak untuk konsentrasi dan memahami setiap petunjuk yang diberikan, hitung mundur bilang genap atau ganjil, satu orang akan menyebutkan 1 angka sesuai urutan yang disepakatilevel 10 dari angka 10-1level 20 dari angka 20-1 dst.Peserta membentuk lingkaran besar lalu diberi instruksi dimulai dari kata konsentrasi sambil bertepuk tangan. Level 10, hitung mundur bilangan genap 10-8-6-4-2, atau hitung mundur bilangan ganjil 9-7-5-3-1. Dari petunjuk ini maka setiap orang akan menyebut salah satu angka dari urutan tersebut Setelah itu setiap kelompok diberikan penjelasan mengenai tugas dan tanggung jawab dalam kelompoknya dan yang bertugas sebagai juru logistik di masing-masing kelompok diperintahkan untuk mengambil papan permainan yang sudah disiapkan. Selanjutnya yang bertugas sebagai juru bicara ditugaskan untuk mempelajari petunjuk permainan dan melakukan permainan berdasar petunjuk permainan yang ada dalam kegiatan awal permainan ternyata kelompok pada umumnya tidak mengikuti petunjuk permainan dan di situlah awal keseruan dan kehebohan permainan ini karena ada kelompok yang hanya membagi rata kartunya menganggap permainannya sudah selesai. Pada sesi berikutnya dengan petunjuk dan arahan pemateri dan teman KGB yang menyempatkan hadir dalam kegiatan KKG, permainan semakin terarah dan setiap kelompok semakin paham dan mengerti bagaimana bermain papan permainan Jelajah Nusantara. Di akhir sesi kita membuat simpulan mengenai papan permainan dan kaitannya dengan pengajaran, aktivitas literasi serta karakter yang terbentuk dari permainan papan.  Pandangan Ketua KKG ibu Marhaeni Baso, S.Pd. “Terkait dengan papan permainan Karaeng Pattingalloang sungguh luar biasa karena dapat memotivasi kita untuk meningkatkan minat belajar, mengidentifkasi nilai-nilai karakter yang terbangun dari permainan tersebut.” Ibu Sudiarti, S.Pd. pun menyatakan “Permainannya sangat seru dan sempat bingung bagaimana cara memainkannya karena awal memainkan tidak membaca petunjuk permainan.” Dari pelatihan ini guru bisa belajar menggunakan permainan papan, mengajak murid memahami tujuan belajar dan nilai-nilai yang dipetik dari karakter yang ada. Anda pernah juga menggunakan permainan papan untuk pengajaran di kelas? Unduh Permainan Papan Jelajah Nusantaraklik tombol di bawah ini

Bermain Sambil Belajar, Perlukah?

Bermain sambil belajar. Hal ini sering dianggap sebagai solusi untuk agar tertarik belajar. Sebelum kita bahas lebih lanjut, yuk lihat percakapan berikut:A: “Si W ternyata setiap pulang sekolah kalau tidak ke warnet gim, ya ke rental playstation, pantas nilainya turun”B: “Lhah kalau Si X, Y, Z kata orangtua si X kalau di rumah suka main game di HP bersama di teras sampai maghrib, kewalahan buat memberi tahu”A: “Pantas nilai mereka turun, kapan belajarnya “ Familiar dengan percakapan ini?Kita mungkin pernah menyimpulkan bahwa murid lebih mementingkan hobi, atau bahkan bermain dibanding sekolahnya. Lalu guru tertentu justru menjadikan hobi murid, dan bermain sambil belajar sebagai media atau sumber belajar. Seperti yang bisa dilihat pada kolom komentar post instagram.com/kampusgurucikal ini View this post on Instagram A post shared by Kampus Guru Cikal (@kampusgurucikal) on Nov 3, 2019 at 4:19am PST Dari kolom komentar kita dapat temui guru yang bercerita pernah membahas permainan kesukaan murid, dan bahkan mengajak murid bermain sambil belajar di kelas. Namun sebenarnya perlukah kita memakai permainan di dalam kelas saat proses pengajaran? Pada Temu Pendidik Nusantara 26 Oktober 2019 yang lalu. Kampus Guru Cikal menyajikan topik “Aktivitas Belajar Bermakna Melalui Permainan Papan”. Kelas ini menjadi salah satu kelas kompetensi yang bisa dipilih peserta. Ada 27 orang termasuk 6 orang guru Jeneponto dari Program Playground of Ujung Pandang menjadi peserta kelas ini. Kami belajar mengurai miskonsepsi belajar melalui permainan. Belajar sambil bermain. Kita juga belajar menyusun pengajaran bermakna melalui permainan papan Jelajah Nusantara Edisi Ujung Pandang. Kelas ini dipandu oleh 2 orang pelatih, Guru Maman Basyaiban dan Guru Hadrawi. Guru Maman dari Kampus Guru Cikal sedangkan Guru Hadrawi dari Komunitas Guru Belajar Regional Sulawesi Selatan. Agar membangun keakraban antarpeserta yang juga berasal dari berbagai daerah. Di sesi awal pelatih mengajak bermain peserta melalui berkenalan dengan menyusun kalimat berima. “Perkenalkan nama saya Maman, saya suka menyiram tanaman”. Setelah mencari diksi yang tepat untuk kalimatnya, peserta “berburu.” Apa yang diburu? Peserta berburu untuk berkenalan satu sama lain. Muncullah kalimat seperti “Nama saya Misbah yang tetap Tabah”. Adapula “Saya biasa dipanggil Joko, dan saya orang jowo” dll. Usai perkenalan dan pembagian kelompok. Kelas dilanjutkan dengan drama dua cara pengajaran bermain sambil belajar dengan Tema Jual Beli. Peserta berperan sebagai murid, pelatih sebagai guru. Tidak hanya bertindak sebagai murid, peserta akan mendiskusikan perbedaan pengajaran 1 dan pengajaran 2 dari sudut pandang murid. Saat pengajaran satu, guru mengajak murid bermain sambil belajar. Permainan dilakukan dengan bernyanyi lagu Naik Delman membentuk lingkaran. Sembari lagu dinyanyikan kartu bergambar barang-barang yang dijual di pasar diedarkan. Barang kemudian berpindah tangan antarmurid. Saat lagu berhenti maka kartu yang dipegang adalah kartu yang didapat murid. Guru kemudian mengajak murid menulis barang yang didapat sesuai gambar di kartu. Guru meminta murid secara acak untuk segera mengumpulkan tugas dengan batasan waktu 3 menit. Berpindah ke pengajaran 2. Guru membuka kelas dengan menanyakan aktivitas apa yang sering dilakukan saat di rumah. Murid menyebutkan berbagai aktivitas dari bermain, berkumpul keluarga, hingga dimintai tolong orang tua. Obrolan guru murid ini berlanjut pada topik membantu orangtua, hingga guru mengajak murid melakukan bermain sambil belajar. Permainan dilakukan dengan kartu membantu orangtua belanja. Pemain harus menghapal daftar belanjaan dari kartu yang teks dan gambarnya berbeda. Selesai permainan guru mengajak murid mendiskusikan. “Apa yang sulit saat berbelanja dalam permainan?” Murid mengatakan lupa daftar belanja. Guru pun meminta murid berdiskusi bagaimana tips agar bisa belanja dengan baik. Beragam jawaban dipresentasikan oleh murid. Dari mengucap berulang, fokus, membawa catatan, membawa contoh barang dll. Guru dan murid memberikan umpan balik atas jawaban yang muncul. Setelah mengalamai dua cara pengajaran dengan permainan. Peserta pelatihan mengidentifikasi perbedaan dari pikiran, perasaan, perilaku murid. Peserta pun menyatakan bahwa cara pengajaran 1 bagian seru hanya di awal saat menyanyi. Namun pengajaran 1 saat penugasan tidak dikoreksi. “Guru memburu-buru pengerjaan tugasnya jadi kadang takut.” “Tugas akhirnya hanya begitu saja.” Sedangkan di pengajaran 2 permainan mengajak murid merasa tertantang. Murid boleh berpikir menemukan cara sendiri untuk solusi permasalahan yang ada sehari-hari. Peserta menyepakati bahwa pengajaran nomor 2 adalah pengajaran dengan bermain yang bermakna. Kelas berlanjut dengan diskusi bagaimana desain strategi belajar dengan permainan yang bermakna. Peserta menyusun puzzle kanvas desain pengajaran. Puzzle disusun di kelompok masing-masing kemudian dipresentasikan. Diskusi begitu dinamis. Beberapa peserta menyusun sambil berargumen dengan memaparkan struktur RPP. Adapula yang mengurutkan dengan alur aktivitas yang biasa dilakukan saat merancang RPP. Di tengah diskusi, bapak Nadiem Makarim. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Datang mengunjungi kelas kami. Beliau ingin mendengar apa yang dirasakan para guru di daerah masing-masing.”Ketika harus mengurus berkas ke provinsi, kadang harus meninggalkan kelas, karena jarak dari sekolah ke provinsi sampai lebih dari 3 jam, belum lagi jika mengurusnya tidak bisa sehari jadi.” Ujar Guru Vivi dari Pesisir Selatan. Dengan antusias kami kemudian melakukan foto bersama. Ada peserta yang mengatakan “Saya pasang foto ini di medsos, kemudian diberi komentar, jadi orang Jeneponto pertama berfoto dengan Mas Menteri yang baru dilantik”. Belajar Memandu Permainan Papan menjadi topik selanjutnya. Peserta mempelajari panduan permainan. Secara bergantian mencoba menjadi pemain dengan pemandu yang berbeda antarkelompok. Pada percobaan pertama beberapa pemandu nampak langsung mengeluarkan semua komponen permainan papan dan menjelaskannya. Peserta tampak menunggu, karena permainan tidak segera dimulai. Pada percobaan kedua, semakin banyak pemandu yang fokus mengikuti alur yang ada pada panduan pemainan. Selesai bermain kami melakukan refleksi. Kondisi apa yang membingungkan peserta? Penjelasan seperti apa yang akhirnya membuat paham? Salah satu peserta mengatakan “Tadi saya bingung, karena melihat pemandu membolak-balik komponen, mengeluarkan semuanya, namun belum dipakai. Pemandunya bingung pemainnya ikut bingung. Sedangkan kami jadi paham ketika pemandu tidak buru-buru dan menjelaskan alurnya satu persatu.” Kami kemudian membuat simpulan Tips Memandu Permainan Papan dengan tabel tampak seperti dan tidak tampak seperti. Selesai sesi memandu permainan papan, peserta menanyakan lebih lanjut tentang permainan papan Jelajah Nusantara. Kita membahas tentang ilustrasi yang dibuat murid-murid Cikal, serta tokoh yang ada dalam permainan. Guru Syam, peserta dari Jeneponto ikut berbicara “Kami orang Sulawesi jadi tahu, tentang Karaeng Pattingalloang, ternyata ada raja dari Gowa-Tallo yang cinta pengetahuan, tadi saya juga mengabarkannya lewat chat ke teman-teman guru yang lain tentang tokoh ini.” Permainan ini menjadi media yang dibongkar … Read more

Apa Arti Merdeka Belajar?

“Apa sih arti Merdeka Belajar itu?”Pertanyaan yang muncul dari rasa penasaran saya setelah membaca frasa “Merdeka Belajar”. Saya mendapat informasi mengenai Pelatihan Guru Merdeka Belajar yang dilaksanakan di Kota Makassar dimana akan dibahas Arti Merdeka Belajar. Info pelatihan pada Sabtu 14 September 2019 tersebut, saya peroleh dari Story Whatsapp salah seorang teman. Agar memahami apa arti merdeka belajar. Akhirnya saya pun mengikuti pelatihan tersebut dengan menempuh jarak ±120 km. Menggunakan sepeda motor dari Kabupaten Jeneponto tempat saya tinggal dan mengabdi sebagai seorang guru honorer di sekolah menengah negeri.  Setelah mengikuti pelatihan tersebut, akhirnya saya memahami bahwa Merdeka Belajar memiliki 3 dimensi : 1. Komitmen pada tujuan, 2. Madiri pada cara, 3. Refleksi. Selain itu saya juga megetahui tentang adanya Komunitas Guru Belajar yang diinisiasi oleh Kampus Guru Cikal Jakarta. Komunitas Guru Belajar (KGB) ini sendiri sudah tersebar di lebih dari 145 daerah di seluruh Indonesia, guru belajar bersama berbagi praktik pengajaran untuk mencapai cita-cita bersama. Egois namanya ketika seorang pendidik seperti saya telah mendaptkan ilmu baru namun pelit untuk membagikannya ke sesama, olehnya saya sangat tergerak untuk bisa membagi ilmu dan pengetahuan saya mengenai KGB dan Merdeka Belajar kepada rekan-rekan pendidik di sekolah saya. Mengenal Komunitas Guru Belajar “Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta”, seperti itulah bunyi sebuah pepatah yang menginisiasi saya untuk melakukan kegiatan nonton bareng Merdeka Belajar. Hingga sepakatlah saya dengan guru-guru SMP Negeri 1 Arungkeke untuk melaksanaknnya pada Jumat, 4 Oktober 2019 di SMP Negeri 1 Arungkeke, Kabupaten Jeneponto sebagai langkah awal mengenalkan tentang Komunitas Guru Belajar dan konsep Merdeka Belajar. Segala sesuatu pun saya siapkan dibantu oleh rekan guru dari sekolah lain yaitu Muh. Akbar Adnan (Guru IPA SMPN 1 Tarowang) dan dibimbing oleh Pak Maman Basyaiban (sapaan akrab bapak Muhammad Abdurrahman) dari Kampus Guru Cikal Jakarta melalui Whatsapp. Acara nobar ini berlangsung selama ±90 menit. Diawali dengan pembukaan oleh saya sendiri, menceritakan sekilas tentang KGC dan KGB. Mengajak peserta untuk mengisi daftar hadir online. Hingga akhirnya sebelum masuk pada acara inti yaitu nobar, saya melontarkan sebuah pertanyaan “Mendengar frasa Merdeka Belajar, apa yang timbul dalam pikiran bapak ibu?”. Salah seorang peserta menjawab “Arti Merdeka Belajar adalah Belajar tanpa tekanan” (Ibu Rahmawati Salim, guru mapel Bhs. Indonesia). Kembali seorang staff berpendapat “Arti Merdeka Belajar yaitu Belajar kapan dan di mana saja”. Sementara guru mapel SBD, Hj. Nuryanti Bahar menjawab bahwa Merdeka Belajar berarti bebas belajar. Sungguh jawaban yang luar biasa dari rekan-rekan guru. Ahirnya saya pun mengajak mereka untuk nobar video Merdeka Belajar. Video diawali dengan munculnya ibu Najelaa Shihab memberikan statement “Selalu tidak enak bicara sesudah anak-anak karena saya yakin tidak ada pembicara yang lebih baik dan lebih ekspresif dibandingkan anak-anak yang sudah tampil tadi”. Melihat dan mendengar hal ini ternyata menarik perhatian peserta yang hadir hari itu, mereka begitu Nampak serius menyaksikan video tersebut, beberapa pernyataan dari ibu Najelaa Shihab dalam video termasuk arti merdeka belajar diiyakan oleh peserta.  Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Setelah video tersebut selesai diputar dan dinonton bersama, tibalah saatnya tahap refleksi. Selaku pemandu acara, saya melontarkan beberapa pertanyaan terkait isi video : “Di antara semua miskonsepsi tadi, mana yang paling menggambarkan diri anda?” Beberapa peserta hampir bersamaan menjawab tentang miskonsepsi yang paling pertama yaitu bahwa guru hanya mau belajar karena ingin mendapatkan insentif atau sertifikat. Hal ini mengundang peserta lain untuk bersuara. Salah seorang guru mapel IPS (Rahmiati, S.Pd) menambahkan bahwa miskonsepsi yang terjadi selama ini ialah guru belajar diburu target yang dipaksakan, sementara belajar sebenarnya butuh waktu, butuh waktu untuk memahami inovasi dan butuh waktu untuk memiliki inovasi, pun butuh waktu untuk mebuktikan bahwa inovasi itu sesuai atau tidak sesuai. Dua miskonsepsi tersebut ialah yang paling menggambarkan diri para guru yang ada di SMPN 1 Arungkeke. Apakah anda ingin menjadi Guru Merdeka Belajar? Selanjutnya pertanyaan yang membuat bapak ibu guru antusias ialah saat ditanyakan “Apakah anda ingin menjadi Guru Merdeka Belajar? Apa alasannya?” Semua peserta menjawab “Mau”. Bapak Mukhtar salah seorang guru mapel Bhs. Inggris mengatakan bahwa sesungguhnya kita telah merdeka dalam belajar, hanya saja kita belum merasa merdeka karena keinginan dari dalam. Pernyataan ini membuat peserta lain terpancing dan merasa bingung. Hingga ibu Sutriani, salah satu guru mapel Bhs. Indonesia memberikan tanggapannya “Iya, saya ingin Merdeka Belajar. Kita seringkali terkendala dengan begitu banyaknya birokrasi yang harus dipenuhi. Kita sebagai guru hampir tidak merasa merdeka atau bahkan belum bisa dikatakan merdeka.” Pernyatan ibu Sutri tersebut mendapat anggukan dari sebagian besar peserta yang hadir dalam acara nobar tersebut, hingga suasana pun semakin hangat dan cair. Jam sudah menunjukkan pukul 11.00 WITA. Sebentar lagi memasuki waktu sholat Jumat hingga kegiatan refleksi pun kami akhiri. Kami mengajak peserta untuk menuliskan hasil refleksi Nobar Merdeka Belajar di media sosial masing-masing. Dan terakhir mengajak mereka untuk foto bareng. Di penghujung acara salah seorang peserta melontarkan sebuah pertanyaan tentang apa follow up dari kegiatan KGB maupun KGC itu sendiri? Apa dampak positifnya, apakah pemerintah mau mendengar suara kita? Hal ini merupakan pertanyaan yang cukup berat sehingga harus dikomunikasikan dengan pak Maman. Melalui panduan beliau saya pun menyampaikan bahwa KGC sudah sering bekerja sama dengan pihak pemerintah. Konsep berbagi praktik baik pengalaman masing-masing juga mulai diterapkan pemerintah di program tertentu. Nampaknya jawaban ini belum memberikan rasa puas kepada ibu Sutri. Saya dan pak Akbar mengajak dia dan rekan guru yang lain untuk ikut bergabung dalam grup Komunitas Guru Belajar Jeneponto untuk lebih mengenal program-program yang bisa membawa dampak positif. Salam Merdeka Belajar! Ingin Mengikuti Pelatihan Guru Merdeka Belajar? Klik link di bawah ini

Perayaan Kerja Barengan: Pesta Pendidikan Kota Batu 2019

Hampir satu tahun Kampus Guru Cikal bersama dengan Keluarga Kita, Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan dan Inibudi sepakat untuk melakukan kerja barengan melalui Kolaborasi Literasi Bermakna di Kota Batu. Hari Sabtu, 16 November 2019 kami merayakan kerja barengan melalui Pesta Pendidikan Batu 2019, perayaan kerja barengan Kolaborasi Literasi Bermakna-INOVASI, Sekolah Mitra, Dinas Pendidikan Kota Batu serta pemangku kepentingan yang mendukung ekosistem pendidikan yang lebih baik. Peserta yang hadir pun bervariasi dari sekolah mitra dan sekolah non mitra, juga berasal dari Batu, Malang, Lamongan dan Probolinggo.

photo6278447094272469572

Read more

Guru Merdeka Belajar adalah Pelajar Sepanjang Hayat

Siang terik tak menyulutkan semangat pada calon penggerak untuk melaksanakan kegiatan Nobar Merdeka Belajar, TPD III – Komunitas Guru Belajar Sidoarjo (KGB). Perubahan kondisi tempat, membuat ide-ide kreatif calon penggerak untuk tetap mempersiapkan acara Nobar tetap terlaksana, mulai dari mengkondisikan tempat, menyiapkan perlengkapan yang unik karena layar proyektor menggunakan kain polos kepunyaan pendidik yang tergabung dalam KGB yang kemudian disandarkan pada etalase Warung Barokah yang di atasnya diberi tumpukkan minuman supaya kain tidak bergeser tempat. Selain itu, tidak lupa menyiapkan camilan dan minuman sederhana yang nantinya akan menemani kegiatan sampai selesai, dan dibeli dari dana pribadi pak Zen penggerak KGB Sidoarjo.  Saya hanya berdecak kagum dalam hati, begitu berdaya teman-teman calon penggerak yang mau ikut berkontribusi agar acara bisa terlaksana. Agenda nonton bareng Film Merdeka Belajar hadir untuk memfasilitasi para pendidik merefleksikan diri dan berbagi solusi tentang keresahan yang dihadapi saat pembelajaran dikelas. “Agenda nonton bareng ini tidak hanya sekadar menjadi agenda nonton bareng, tapi punya aspek yang bermanfaat lainnya, yang berguna bagi para pendidik yang tergabung dalam KGB,” ungkap Zen Penggerak KGB Sidoarjo.  Ternyata kegiatan nonton bareng ini mampu menghidupkan forum, untuk bersama-sama sesama pendidik merefleksikan diri dan berbagi pengalaman bagaimana menjadi guru merdeka belajar. Satu persatu teman pendidik menyampaikan bahwa apa motivasi mereka mengikuti kegiatan nonton bareng yang difasilitasi KGB Sidoarjo, seperti halnya bu Ainun yang menjawab “Motivasi saya ikut kegiatan nonton bareng KGB Sidoarjo adalah agar bisa belajar dan mempunyai motivasi menjadi pembelajar”. “Belajar tidak memandang usia, karena usia bukan pembatas untuk berhenti belajar”, ujar Bu Nafisa guru dari sekolah AN-NAHL Sidoarjo.  “Jejaring komunitas seperti ini, ibarat lilin seketika lilin yang menyala salah satunya padam, maka masih ada lilin lainnya yang tetap menyala dan menyinari”, ungkap Bu Anggi calon penggerak KGB Sidoarjo. Kegiatan yang membawa manfaat ini sangat berdampak bagi kami yang siang itu datang mengikuti kegiatan nonton bareng video Merdeka Belajar sampai selesai. Guru Merdeka belajar mempunyai 3 makna yaitu komitmen, mandiri dan refleksi. Komitmen terkait pengakuan dalam diri untuk mampu dan mau menjadi guru pembelajar dengan ikhlas ingin memberikan ilmu yang bermanfaat, mandiri dalam arti bagaimana mencari solusi keresahan yang dialami pendidik, menggali kebutuhan dan minat belajar murid. Yang ketiga adalah refleksi, dan mempunyai makna bahwa setiap pendidik harus bercermin apakah model, media, cara pembelajaran yang sudah diterapkan sesuai atau tidak dengan kebutuhan peserta didik, sudah nyamankah mereka belajar bersama kita di dalam kelas.  Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Masuk pada sesi refleksi ada ungkapan yang mendalam diucapkan oleh beberapa pendidik terkait pertanyaan moderator yaitu “Apa perubahan di dalam kelas yang ingin dilakukan setelah mengikuti KGB?”.  “ Komitmen terkait menjaga dan menata niat kita, yang mengutip pernyataan KH. Maimoen Zubair, bahwa ketika kita menjadi guru jangan menuntut murid kita pintar, nanti yang ada malah kita marah-marah, cukup doakan saja agar kelak dia bermanfaat”, ungkap Bu Ainun.  Rangkaian kegiatan hari ini yang begitu membawa banyak manfaat bagi teman-teman pendidik maupun diri saya pribadi, bahwa dengan bersama-sama merefleksikan diri secara tidak langsung kita bergegas dan bergerak menjadi Guru Merdeka Belajar. Dan mulai sekarang kami bersepakat bahwa menjadi guru merdeka belajar adalah mengawali diri untuk mau menjadi guru pembelajar sepanjang hayat bukan hanya memenuhi kewajiban tetapi berkomitmen menjalankan kewajiban untuk ikut berperan dalam tujuan pendidikan nasional. Terima Kasih KGB Sidoarjo, terima kasih teman-teman pendidik, terima kasih Kampus Guru Cikal yang telah mempertemukan dan memfasilitasi kami para pendidik dengan kegiatan yang sangat bermanfaat. Salam Guru Merdeka Belajar Ingin Tahu Bagaimana Praktik Merdeka Belajar di Kelas? Klik link di bawah ini

Harapan Menuju Merdeka Belajar

Keberhasilan pendidikan tidak mutlak berada di tangan guru. Tetapi membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa guru memegang peranan penting. Keberhasilan pendidikan akan mudah dicapai apabila tercipta Merdeka Belajar. Untuk menciptakan kondisi tersebut, maka perlu pemahaman tentang Merdeka Belajar. Setelah aktif mengikuti akun media sosial  Kampus Cikal Guru, saya tergerak untuk bergabung membuat perubahan menuju Merdeka Belajar. Khususnya di daerah tempat tinggal saya, yaitu di Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara. Sebagai langkah awal, saya mengajak guru-guru di Langkat untuk nonton bareng video motivasi dari Kampus Cikal Guru. Ajakan saya tujukan kepada guru-guru yang mengajar di sekolah tempat saya mengajar. Undangan untuk nonton bareng juga saya sebarkan melalui grup MGMP IPS Langkat, sesuai mapel yang saya ampu. Guru-guru di sekolah kami sangat antusias untuk nonton bareng. Hal tersebut menjadi cambukan semangat buat saya. Sementara guru-guru yang tergabung dalam MGMP IPS Langkat, tidak hadir. Karena keterbatasan jarak dan waktu. Acara nonton bareng diadakan pada hari Sabtu tanggal 24 Agustus 2019. Saya sebagai tuan rumah menjadi moderator pada Temu Pendidik ini.  Untuk bantuan teknis dukungan diberikan oleh operator sekolah. Kegiatan nonton bareng ini diadakan di aula kantor guru di SMP Negeri 2 Tanjung Pura. Setelah banyak guru yang sudah berkumpul, acara langsung saya mulai. Sebagai kata-kata pembuka, saya menggugah rasa ingin tahu peserta nonton bareng. Sebagian besar peserta tergelitik mendengar judul Merdeka Belajar. Mereka menduga, kegiatan ini terkait dengan HUT RI ke 74. Karena kegiatan ini diadakan bertepatan dengan momen peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Sebagian besar peserta berpendapat bahwa “Merdeka” berarti bebas dari penderitaan.  Dan “Merdeka Belajar” mereka tafsirkan sebagai kebebasan dalam belajar yang tanpa aturan. Ibu Umi Hidayah, Guru mapel Matematika, mengatakan : “Merdeka Belajar berarti libur, tidak ada pembelajaran.” Dan hal tersebut mengundang gelak tawa peserta yang lain. Pemutaran video pun segera dimulai. Saya ajak peserta untuk menyaksikan video dengan seksama dan meresapi setiap kata-kata ibu Najelaa Shihab selaku pembicara dalam video tersebut.  Setelah video selesai diputar, sebagian besar peserta mengungkapkan sedikit kekecewaan. Karena video yang ditayangkan terasa sangat singkat. Mereka butuh lebih banyak penjelasan. Mereka butuh contoh konkrit untuk mewujudkan “Merdeka Belajar”. Mereka menyadari banyak miskonsepsi yang mereka lakukan selama ini. Terlihat dari gerak mulut dan sedikit suara “Oo…” pada saat mereka menonton bagian miskonsepsi. Pada sesi refleksi, saya mengajak peserta untuk kembali mengingat miskonsepsi  yang dijelaskan dalam video. Lalu saya bertanya kepada mereka :” Di antara semua miskonsepsi tadi, mana yang paling menggambarkan diri Anda?”. Beberapa peserta mempunyai jawaban yang sama yaitu belajar perlu insentif eksternal. Sebagai pembelajar Andragogi, guru perlu motivasi yang dianggap menguntungkan secara ekonomi agar mau belajar. Dan melalui forum nonton bareng ini, mereka menyadari bahwa belajar sebagai kebutuhan alamiah. Mereka bersedia hadir mengikuti kegiatan nonton bareng tanpa imbalan insentif ataupun sertifikat. Mereka aktif mengikuti sesi refleksi dan tanya jawab. Tanpa mereka sadar bahwa kegiatan ini juga merupakan suatu pembelajaran. Pak Gunawan, wakil kepala sekolah berkata: “Miskonsepsi yang paling menggambarkan diri saya yaitu beranggapan bahwa kompetensi bersifat individual. Karena karakteristik manusia itu berbeda-beda. Dan pastinya tingkat kompetensinya juga berbeda.” Pernyataan Pak Gunawan ditanggapi oleh Pak Syufri Effendi, guru mapel Bahasa Inggris, “ Saya juga sependapat dengan Pak Gunawan. Apalagi dengan pernyataan bahwa Guru adalah kunci. Saya rasa hal itu  benar. Tanpa guru, maka pendidikan tidak akan berhasil, maka guru adalah kuncinya”. Saya memberi tanggapan terhadap pernyataan mereka. Jika guru adalah kunci, berarti output pendidikan yang dihasilkan menjadi tanggung jawab guru. Jika baik hasilnya, berarti kuncinya baik. Jika buruk hasilnya, maukah guru dikatakan tidak baik? Mereka serempak menjawab.”Tidak!!”. Oleh karena itu, saya ajak peserta untuk bersama memahami miskonsepsi yang selama ini terjadi. Dan berusaha untuk merubah miskonsepsi tersebut. Dalam video dijelaskan bahwa ciri Guru Merdeka Belajar adalah Komitmen pada tujuan, Mandiri terhadap cara belajar, dan Melakukan refleksi. Sebagian besar peserta setuju dengan pernyataan tersebut. Karena ketiga hal tersebut merupakan kunci menjadi guru yang baik bagi sebagian besar peserta.  Namun ada tantangan di balik pernyataan mereka. Tantangan yang sedikit menciutkan semangat saya untuk melakukan perubahan. Mereka beranggapan bahwa usia merupakan hambatan menuju Guru Merdeka Belajar. Sebagian peserta adalah guru yang sudah mengabdi puluhan tahun di sekolah kami. Mereka mendukung gerakan Guru Merdeka Belajar. Tetapi mereka pesimis dengan kemampuan mereka. Karena usia yang sudah tidak muda lagi. Dan tidak cakap dalam penguasaan IT. Mereka sudah beberapa kali mengikuti pelatihan untuk mengasah kompetensi pedagogik maupun profesional. Hasilnya hanya beberapa yang mereka terapkan dalam proses pembelajaran. Dan akhirnya kembali ke metode pengajaran konvensional. Karena rasa pesimis yang begitu besar. Walau kadar semangat menurun, saya berusaha bangkit. Kembali menyampaikan motivasi bagi mereka. Saya kaitkan dengan pernyataan pembicara dalam video.  Saya harus yakin bahwa ada setitik asa untuk mewujudkan perubahan dalam pola pikir mereka. Salah satu nya yaitu kesediaan mereka untuk hadir dalam forum ini. Dan juga dukungan dari beberapa orang guru baru di sekolah kami. Kehadiran 4 orang guru baru di sekolah kami, membawa angin segar dalam mewujudkan gerakan Guru Merdeka Belajar. Selain karena usia yang masih muda, semangat mereka juga masih menyala. Mereka menyatakan ingin menjadi Guru Merdeka Belajar. Bu Risma Muntia dan Pak Surya Aldi menyatakan kesiapan mereka menjadi Guru Merdeka Belajar. Alasan Bu Risma adalah karena dirinya belum memiliki banyak pengalaman dalam dunia pendidikan, sehingga ingin sekali belajar lebih banyak lagi. Sementara alasan Pak Surya ingin menjadi Guru Merdeka Belajar adalah karena dia ingin siswanya merasakan Merdeka Belajar. Belajar tanpa paksaan. Bu Wahyuni Hasibuan berkata: ”Saya sangat ingin menjadi Guru Merdeka Belajar. Saya akan berusaha membuat teknik mengajar yang menyenangkan. Dan menyelipkan ice breaking di sela-sela pembelajaran. Sehingga siswa tidak jenuh.” Sementara Pak Edy Hermawan menyatakan akan menciptakan suasana kelas yang nyaman, bersih dan indah. Sehingga siswa betah belajar dalam ruangan. Dia juga akan membuat pojok baca di dalam kelas, yang didesain unik dan menarik. Sehingga memotivasi siswa untuk tertarik berliterasi. Mendengar pernyataan dari beberapa guru baru tersebut, sedikit mengubah mindset guru yang lain. Terlihat dari pernyataan Bu Debbie Sukraini yang bertanya  tentang kelanjutan kegiatan ini. Apabila ada forum lanjutan ataupun komunitas penggerak Guru Merdeka Belajar, ia bersedia untuk bergabung. Bu Zulfah Riza juga menyatakan kesediaannya untuk mengikuti forum lanjutan. Dan akan menyebarkan informasi … Read more

Komunitas Guru Belajar dan Tradisi Bertanya

Kepada yang TerhormatMas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RIDi Jakarta. Tabik. Semoga Tuhan yang Maha Kuasa meridhoi semua usaha dan aktivitas hari ini. Perkenalkan, nama saya Usman Djabbar Mappisona, mewakili Komunitas Guru Belajar Nusantara. Hari ini, kami bergembira. Betapa senangnya mendapatkan undangan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Perkumpulan guru yang baru saja mendeklarasikan dirinya sebagai organisasi profesi guru, hari ini bisa berkumpul dengan Mas Menteri, kawan-kawan Asosiasi Profesi, para pakar dan tokoh pendidikan di negeri ini. Di undangan yang dikirimkan kepada kami, tertera kesediaan untuk menuliskan dua atau tiga masalah yang mendesak yang harus segera diselesaikan oleh kita semua. Masalah-masalah itu tentu saja versi kami, berdasarkan pengalaman kawan-kawan guru di berbagai daerah. Masalah yang kami ungkap adalah aspirasi yang disampaikan rekan-rekan sejawat kami pada Kongres pertama yang berlangsung baru-baru ini. Pada sesi kebutuhan dan kontribusi daerah. Apa masalah yang dihadapi oleh kawan-kawan guru di daerah dan kontribusi apa yang bisa diberikan. Kebutuhan dan kontribusi tersebut kemudian kami padatkan menjadi tiga poin. Mas Menteri yang terhormat, Poin pertama, sesungguhnya sudah dilakukan pihak kementerian minggu ini: mendengarkan masalah-masalah yang harus segera diselesaikan. Jujur Mas, kami sudah lama menunggu untuk ditanya-tanya. Diajak bicara. Membangun percakapan. Apa saja masalah yang terjadi setiap hari di sekolah, ruang kelas dan ruang lain sepulang murid-murid dari sekolah. Puji Tuhan, hari ini pihak kementerian mewujudkannya. Harapan kami, ini menjadi tradisi saling bertanya. Menjadi budaya dari atas sampai bawah. Dimulai dari kementerian, kepala dinas pendidikan provinsi/kabupaten, kepala sekolah dan para guru di ruang kelas. Betapa berdampaknya tradisi ini: setiap guru akan selalu bertanya pada setiap murid-muridnya. Mohon izin Mas Menteri, kami memberi satu contoh.Tentang kemerdekaan guru memilih pelatihan sendiri. Kami merasa saat ini belum pernah ditanya-ditanya jenis pelatihan apa saja yang paling kami butuhkan. Setiap undangan yang datang ke sekolah hanya untuk menghadiri. Apalah daya kami untuk menolak? Akibatnya jelas. Kegiatan pelatihan bersifat rutin, membosankan dan kehilangan daya tarik sama sekali. Banyak yang merasa terpaksa mengikuti diklat karena perintah pimpinan bukan karena kebutuhannya. Cerita yang berserakan, kerap terdengar. Bagaimana diklat gratis di hotel berbintang hanya untuk memenuhi kuota peserta, bukan karena benar-benar dibutuhkan. Bagaimana seharusnya? Siapkanlah formulir yang berisi pertanyaan: untuk meningkatkan keterampilan Anda sebagai guru, jenis pelatihan apa yang dibutuhkan? Percayalah, kami pasti menjawab sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi di ruang kelas. Hasilnya pasti dahsyat. Tersedia semacam bank data kebutuhan pelatihan. Sebutlah dengan pemetaan. Sudilah pihak kementerian memfasilitasi kawan-kawan guru kami mengikuti satu atau beberapa diklat yang diminati, yang sesuai dengan kebutuhan, yang cocok dengan situasi kelas yang dihadapinya. Percayalah. Jika tradisi bertanya ini terus dirawat, maka akan berlanjut ke ruang kelas. Para guru juga akan terbiasa untuk bertanya pada murid-muridnya: ‘mengapa penting menguasai’, bukannya ‘bagaimana menguasainya’. Mengapa penting untuk belajar, bukan bagaimana harus belajar. Keduanya berbeda. Mas Menteri yang terhormat. Tradisi bertanya yang kami rawat ini kemudian mengarahkan pada soal yang kedua. Menjawab pertanyaan-pertanyaan murid dan sejumlah masalah yang kami hadapi di ruang kelas kemudian berkembang menjadi praktik baik. Besar keinginan kami untuk menyampaikan kepada bapak Menteri bahwa dihari deklarasi kemarin kawan-kawan kami di daerah telah menulis dan berbagi 293 praktik baik pengajaran. Semua praktik baik ini kami rangkum dalam Surat Kabar Guru sebanyak 23 edisi dan empat buku. Praktik baik yang ditulis oleh guru, editornya berasal dari guru dan dipraktikkan kembali oleh guru. Praktik belajar putaran ganda. Kawan kami dari kabupaten Sanggau mengembangkan kecakapan literasi murid-muridnya dengan membuat adonan kue. Dari merumuskan rencana kegiatan, menyiapkan bahan, membuat adonan sampai proses akhir: melakukan refleksi. Pada bagian mana yang harus diperbaiki? Kawan kami dari Makassar memainkan Congklak bersama murid-muridnya untuk melatih keterampilan memutuskan. Guru Pekalongan mengembangkan keterampilan berbahasa Indonesia melalui minat dan kegemaran murid-muridnya. Lalu apa masalahnya? Kawan-kawan kami di daerah masih merasa berjalan sendirian. Praktik baik belum menjadi tradisi sekolah, tradisi dinas pendidikan atau mungkin tradisi kementerian. Kami gembira mendengar bahwa kegiatan berbagi praktik mengajar juga telah diampu pihak kementerian melalui kegiatan pengembangan kompetensi guru berbasis zonasi. Semoga saja program ini berkelanjutan, tidak berhenti hanya sebagai bahan ajar pelatihan. Mas Nadiem Makarim. Poin ketiga yang ingin kami sampaikan adalah terkait dukungan terhadap organisasi profesi. Kami percaya bahwa persoalan pendidikan tidak bisa dilakukan sendirian. Kompetensi guru bukan hanya urusan kementerian saja. Mesti serempak dan berbarengan. Kami ingin terlibat. Setelah melakukan perjalanan panjang selama lima tahun, kami telah telah melakukan ribuan temu pendidik. Akhirnya, pada tanggal 25 Oktober 2019, 1.300 guru sepakat, Komunitas Guru Belajar mendeklarasikan dirinya sebagai salah organisasi profesi guru. Benar. Kami masih sangat muda usia. Harus belajar sebanyak-banyaknya dari berbagai pihak. Tapi percayalah Mas, kami punya niat yang baik untuk mengajak rekan guru saling menguatkan dan berkolaborasi. Kami ingin berdiri dan bergerak bersama kawan-kawan dari perkumpulan guru yang telah berdiri lebih awal. Kami ingin melibatkan diri memajukan profesi guru. Bukankah ini maksud dan tujuan pertemuan kita? Mohon dukungannya. Demikian tiga hal yang menurut kami perlu untuk disampaikan. Terima kasih telah diundang hadir. Jakarta, 4 November 2019Usman Djabbar MappisonaKetua UmumKomunitas Guru Belajar Nusantara

Membangun Kemampuan Literasi dengan Komikstrip, Memahami Murid dengan Bahasa Cinta

Pagi itu matahari begitu terik, padahal waktu baru menunjukkan pukul sembilan pagi. Satu persatu orang mulai berdatangan sambil membawa tentengan di tangan, yang sepertinya berisi jajan. Ya, pagi itu adalah kegiatan Temu Pendidik (mudik) pertama Komunitas Guru Belajar (KGB) Pekalongan setelah libur lebaran. Ada sekitar tiga puluh peserta yang hadir dalam kegiatan mudik itu.  Sekitar pukul 09.30, semua peserta sudah siap dan duduk melingkar. Sebelum acara dimulai, terlebih dahulu dibuka oleh Guru Anifah, sebagai moderator yang memandu perkenalan antar anggota. Cukup unik metode perkenalan yang dipakai. Setiap anggota wajib memperkenalkan namanya, tempat mengajarnya, dan teman yang sebelumnya. Jika sebelumnya ada empat teman yang sudah memperkenalkan diri, maka kita harus menyebutkan nama empat orang tersebut. Misalnya saya yang duduk di lingkaran agak tengah, maka saya harus menyebutkan cukup banyak teman sebelum saya. Begini bunyinya : nama saya Lilik – saya mengajar les private khusus anak SD – saya adalah temannya Bu Anif, Pak Lukman, Pak Septiar, Pak Wahyu, Pak Maman Basyaiban, Bu Laily, dan Bu Zidnil. Begitupun bila posisi duduk berada di ujung lingkaran, artinya harus menyebutkan semua teman-teman yang sudah memperkenalkan diri sebelumnya. Sebuah perkenalan yang cukup esensial untuk mencapai target tahu nama dan orangnya sekaligus. Selesai perkenalan, moderator langsung memperkenalkan dua narasumber yang sudah hadir dan siap berbagi praktik baik pengajaran. Mudik kali ini dikemas dalam konsep kelas kemerdekaan, sehingga tanpa pertanyaan dan praktik. Komikstrip Untuk Literasi Berbicara tentang miskonsepsi literasi, telah kita ketahui bersama bahwa media literasi bukan hanya buku saja. Banyak media yang bisa kita jadikan bahan penunjang literasi, salah satunya adalah komikstrip.  Komikstrip adalah komik singkat. Guru Lukman Hakim (Ukluk) memaparkan, berbeda dengan komik yang kita kenal pada umumnya, komikstrip hanya terdiri dari 4 / 5 / 6 panel saja. Bahkan ada komikstrip yang tanpa percakapan sama sekali, namun tetap bisa dipahami oleh pembaca. Hal ini dikarenakan bentuk komikstrip memiliki gambar yang berbeda dan berurutan, sehingga bisa memberikan penjelasan meskipun tanpa tulisan.  Komikstrip bisa digunakan sebagai media untuk menyampaikan poin-poin pembelajaran, khususnya pembelajaran yang memiliki materi yang lumayan kompleks. Penggunaan komikstrip akan memudahkan guru untuk menampilkan bentuk sederhana penjelasan tersebut.  “Lalu bagaimana penerapannya di pembelajaran ? apakah guru yang membuat kemudian menyampaikan ke murid, atau murid diajak untuk membuat komikstrip ?” Karena komikstrip ini adalah media ajar, maka bentuk penerapannya adalah dimulai dari guru. Guru yang membuat komikstrip untuk membantu mempermudah penjelasan atau untuk memberikan visualisasi kepada murid tentang materi yang sedang disampaikan. Cara membuat komikstrip tidak harus menggunakan gambar manual dengan tangan. Bisa juga menggunakan foto dan kemudian diedit dengan menambahkan pitch bentuk balon untuk menampilkan dialog. Demikian penyampaian penggunaan komikstrip untuk menunjang pembelajaran di kelas oleh Guru Ukluk. Sebelumnya, Guru Ukluk juga sudah membuka kelas komikstrip dalam acara Ransel yang digelas Bulan Ramadhan kemarin oleh Komunitas Guru Belajar Pekalongan. Kelas komikstrip lumayan diminati oleh peserta yang terdiri dari siswa SMP dan SMA di Pekalongan. Bahasa Cinta Untuk Murid Di sesi bahasa cinta, Guru Muchamad Arifin (Ipin) memberikan peserta sepuluh lembar sticky notes dengan warna yang berbeda. Masing-masing warna memiliki makna yang berbeda sesuai dengan aturan pemateri. Kuning 🡪 berkumpul  Hijau 🡪 motivasi  Pink 🡪 pelukan  Jingga 🡪 pelayanan  Peserta diajak untuk bermain menggunakan sticky notes yang sudah dibagikan. Aturan mainnya sebagai berikut : Peserta harus berkeliling dan menanyakan kepada peserta lainnya tentang apa yang menjadi kebutuhannya  Bila jawaban peserta yang ditanyai itu sesuai dengan warna yang dipegang oleh penanya, maka penanya wajib memberikan satu sticky notes kepada penjawab Dilakukan terus untuk menanyai peserta lainnya hingga sticky notes habis.  Para peserta nampak sangat menikmati permainan tersebut. Bertanya dan ditanya oleh peserta lainnya tentang kebutuhannya. Bukankah sebuah kebahagiaan jika kita ditanya tentang apa yang menjadi kebutuhan kita ? semacam ada yang mau memperhatikan kita begitu.  Sepuluh menit permainan selesai. Yang baru saja dilakukan bersama adalah simulasi menanyakan kebutuhan murid. Dalam profesi kita sebagai guru, menanyakan apa yang menjadi kebutuhan murid adalah hal yang sangat penting untuk kita dilakukan sebelum kita memulai proses belajar mengajar. Kebutuhan murid adalah input utama bagi kita sebagai guru untuk menyusun bahan belajar. Dengan begitu, rencana dan proses belajar yang kita buat benar-benar berangkat dari murid. Setiap murid pasti memiliki satu kebutuhan dominan. Entah itu kebutuhan berkumpul, motivasi, pelukan, atau pelayanan.  Penerapan bahasa cinta ini membutuhkan latihan dan kecerdasan guru. Jangan sampai setelah melakukan pemetaan kebutuhan ini kemudian kita menjadi terjebak, tidak bisa menjadikannya sebagai formulasi bahan belajar mengajar. Misalnya ada anak yang kebutuhan dominannya adalah motivasi, kemudian dia hanya mau belajar dengan diberikan cerita-cerita motivasi saja dan mata pelajaran lainnya diabaikan. Hal ini tidak boleh. Kebutuhan dominan adalah inputan bagi kita untuk memberikan penyikapan yang tepat sesuai dengan kondisi murid, bukan untuk mengikuti apa maunya murid kemudian mengabaikan proses belajar. Dengan mengetahui kebutuhan dominan, kita akan tahu kemampuan murid dan bagaimana kita memposisikan diri untuk menjadi teman belajar murid kita, tanpa memaksa atau memberikan target belajar yang jauh dari kondisi realistis murid.  Sepintar dan sekreatif apapun, bila kita tidak menggunakan cinta maka proses belajar tidak akan diterima dengan baik oleh murid.  Mudik kali ini memberikan wawasan baru kepada kita tentang media literasi, yaitu komikstrip. Komikstrip yang selama ini hanya kita kenal hanya sebagai media hiburan atau meme di media sosial, ternyata bisa juga kita gunakan sebagai media untuk proses pembelajaran kita di kelas.  Di sesi kedua, Guru Ipin kembali mengingatkan kita untuk memulai awal tahun ajaran baru dengan membuat pemetaan tentang kebutuhan murid. Dengan mengetahui kebutuhan murid, kita akan bisa membuat sistem pembelajaran yang memanusiakan hubungan di kelas, yang berangkat dari murid. 

Merdeka Belajar dan Passion Guru

Berawal dari kata Remedial. Remedial kali ini tidak mengartikan kekecewaan karena saya harus mengulang, namun menjadikan saya lebih semangat atas dukungan dan energy positif yang diberikan Bapak Ibu Guru dari Komunitas Guru Belajar Makassar.  Remedial kali ini berbeda dengan makna ujian ulang yang saya kenal sejak dulu. Melainkan sebuah simbol, bahwa belajar tidak mengenal kata STOP. Saya dengan segenap keberanian mengajukan jadwal Nonton Bareng Video Guru Merdeka Belajar, tepat pada hari Kamis 8 Agustus 2019 bertempat di Sekolah Lazuardi Athaillah GIS. Kegiatan ini serangkaian dengan jadwal sharing di Sekolah saya sebut saja Teacher to Teacher, hampir semua guru Lazuardi ikut dalam kegiatan nonton bareng. Narasumber dari kegiatan ini adalah Ibu Guru Najelaa Shihab, pendiri Kampus Guru Cikal saat mengisi acara sebagai pembicara di Temu Pendidik Nasional (TPN) 2016. Sebelum pemutaran Video Ibu Guru Elaa dimulai, terlebih dahulu saya sebagai fasilitator sekaligus moderator memberikan pengantar terkait narasumber dan video yang akan ditonton. Antusias teman-teman guru membuat saya harus segera memulai pemutaran videonya yang merupakan acara inti dari kegiatan ini. Setelah video selesai ditonton, saya pun membuka sesi diskusi dengan pertanyaan awal, “Sebenarnya makna kata merdeka itu seperti apa teman-teman?’ Setiap teman guru memiliki persepsi dan jawaban yang berbeda-beda, salah satu nya diungkapkan oleh Pak Guru Nas “Merdeka itu memiliki definisi yang luas, saya pernah mendengar sebuah ungkapan terkait pendidikan di lingkungan Sekolah bahwa Sekolah itu lebih buruk dari penjara, mengapa? Karena seseorang yang terkurung dalam penjara cukup duduk diam saja, tidak sama halnya dengan sebuah sekolah di mana kita terkurung di dalamnya dan membaca buku secara terpaksa dalam hal ini sekolah dengan aneka ragam aturannya”. Ada tiga poin penting terkait ciri guru merdeka belajar, yaitu Guru yang komitmen akan tujuan Guru yang mandiri, yang pada akhirnya berada pada puncak di mana guru yang memegang kendali atas dirinya Guru yang reflektif, guru yang mengevaluasi dirinya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan terkait miskonsepsi yang dipaparkan pada video, kemudian menjadi sesi yang alot kami diskusikan setelah pemahaman kata merdeka sebelumnya. “Cukup bayar saya dengan kopi!” Ungkap salah satu guru. Pak Guru Alamsyah adalah salah satu guru Bahasa Indonesia di Unit SMP, sebelum bergabung dengan Lazuardi hingga saat ini beliau mengelolah salah satu blog yang menampung tulisan-tulisan menarik namun mengkritik ☺. Pak Anca sapaan akrabnya, sangat senang jika diajak menjadi relawan dengan bayaran Kopi plus diskusi, “Saya mengajar bukan karena butuh uang melainkan karena ingin belajar dari pengalaman dan siswa saya nantinya bisa mengingat apa yang telah saya ajarkan, itulah tujuan saya”. Salah satu ciri guru merdeka belajar yang disampaikan oleh Ibu Elaa adalah komitmen akan tujuan. Memang tidak mudah untuk menjadi guru yang komitmen akan tujuan namun yang saya pahami  tentang makna seorang guru yang merdeka belajar adalah guru yang mampu memerdekakan dahulu anak didik di dalam kelasnya. Fasilitas dan sarana belajar yang lengkap belum bisa menjadi indikator seorang anak merdeka dalam belajar, lalu bagaimana dengan anak pelosok? Anak yang tinggal di daerah yang sulit dalam penggunaan teknologi?, pertanyaan saya ini dijawab langsung oleh Ibu Guru dian Ayu “Guru merdeka belajar adalah guru yang menemukan solusi dalam kesulitan!”.  Miskonsepsi yang terjadi di sekitar kita, dirasakan oleh setiap guru  dengan banyak cerita dan pengalaman dalam menghadapinya. Banyak rintangan untuk menjadi seorang guru yang merdeka belajar, bukan hanya guru Karena profesi melainkan guru yang merupakan passion. Passion yang tidak pernah bosan untuk dilakukan, mengorbankan segala hal demi mencapai tujuan mulia, serta tidak pernah memperhitungkan untung rugi yang telah dilakukan. Miskonsepsi yang perlu diberi perhatian lebih agar dapat mewujudkan tujuan dengan sistem pendidikan yang lebih terarah yaitu : Guru cenderung ingin belajar karena adanya dorongan lain (godaan sertifikat, insentif, dan sebagainya). Sebut saja ini profesi guru bukan passion guru. Tidak mengakui kelebihan orang lain, terlebih jika bukan seorang ahli atau tokoh terkenal. Guru dengan “How to” hanya terbatas kepada cara atau teknis. Guru perlu lebih ekstrim dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan esensial dan fundamental. Guru fokus administrasi, seperti Ujian Nasional yang dijadikan alat ukur kecerdasan seorang anak hanya dengan tiga hari pelaksanaan.  Guru yang masih bersifat individualis. Guru merdeka belajar harusnya dapat bekerja dengan tim serta mampu berkolaborasi dalam menyatukan atau menyamakan pendapat. Dari serangkaian kegiatan Nobar ini, saya dan teman-teman dapat menarik kesimpulan bahwa menjadi seorang guru yang merdeka belajar tidak semudah seperti yang dipikirkan. Banyak hambatan dan rintangan yang harus dihadapi. Kami sepakat bahwa cukuplah profesi guru itu disandang sebelum kegiatan ini, sekarang mari sama-sama kita aplikasikan “Guru adalah Passionku dan Passionmu”. Semangat ini akan menjadi pendorong dan motivasi dalam mengembangkan diri dan mandiri demi mencapai sebuah tujuan pendidikan “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”