Praktik Kolaborasi di Sekolah Inklusi

Senang sekali sore ini saya berkesempatan berbagi dan berdiskusi dengan teman-teman guru-guru dan pendidik di Rembang. Di ECCD RC saya sebagai Direktur, dan yang nanti akan coba saya bagikan adalah pengalaman-pengalaman kami di Labschool Rumah Citta dan juga pengalaman kami mendampingi PAUD-PAUD berbasis masyarakat (baik di Jawa maupun saat ini kami sedang melakukan pendampingan di Papua Barat).  Jadi ayook nanti kita lebih banyak berdiskusi saja yaaa 😃 Pertanyaan 1 : Guru Nisa : Dalam sebuah Sekolah Inklusi pastinya butuh keterlibatan dari beberapa hal salah satunya tadi ada di slide orangtua. Pertanyaannya seberapa besar keterlibatan orangtua dalam menjalankan praktik-praktik kegiatan di kelas inklusi? Dan kolaborasi yang bagaimana yang kiranya bisa memfasilitasi setiap keragaman di kelas-kelas tersebut, terutama kelas yang ada ABKnya? Jawaban : Narasumber : Baik, terima kasih pertanyaannya Mbak Nisa. Ketika orangtua mendaftarkan anaknya untuk sekolah di sekolah inklusi, pada saat yang sama pihak sekolah perlu menjalin Kesepakatan berkaitan dengan visi misi lembaga. Kalau di Rumah Citta, di awal  pendaftaran, orangtua menandatangani lembar kesepakatan tentang visi misi lembaga yang salah satunya adalah mengusung nilai keberagaman. Untuk itu ke depannya, kesepakatan ini dijadikan pegangan dan dasar dalam menjalin kerjasama dengan orangtua. Proses komunikasi dengan orangtua dijalin tidak saja melewati parents meeting, parenting, namun juga dari komunikasi harian pada saat mengantar maupun menjemput anak di sekolah.  Selain itu, keterlibatan orangtua di kelas juga bisa diwujudkan dengan menjadi guru tamu untuk topik yang sekiranya berkaitan dengan orangtua bersedia menjadi resource person. Menariknya, tentu ketika ada permasalahan atau konflik yang awalnya melibatkan anak saja, namun terbawa ke orangtua. Untuk kelas yang beragam, hal ini menjadi situasi yang tidak bisa dihindari. Anak-anak tentu sedang belajar mengenal temannya yang berbeda termasuk ABK. Sehingga kadang muncul konflik diantara anak-anak di kelas, yang dalam beberapa kasus bisa diselesaikan antar anak di kelas, namun tak jarang perlu melibatkan orangtua. Poin penting Kolaborasinya adalah Edukator perlu cermat menempatkan diri bahwa edu adalah pendamping di sekolah (atau bisa dikatakan ahlinya di sekolah) namun tetap menghargai bahwa orangtua  adalah pendamping utama di rumah (atau ahlinya di rumah). Saya rasa di situ poin pentingnya. Tanggapan : Guru Nisa : Untuk kesepakatan yang berkaitan dengan keberagaman ini apakah hanya diperuntukkan untuk wali murid ABK atau menyeluruh kepada semua wali murid? Narasumber : Media untuk kolaborasi bisa berupa Gambaran Program Mingguan yang dikomunikasikan kepada anak. Kesepakatan berkaitan dengan visi misi (terutama tentang nilai inklusi di dalamnya) wajib ditandatangani oleh semua Orangtua Mbak Nisa..jadi tidak hanya wali murid ABK saja. Karena di situlah letak peranan anggota kelas dalam mewujudkan dan mendukung kelas inklusi nantinya. Guru Nisa : Oke…siap maturnuwun sanget Mbak Ganis 😊🙏🏼 Pertanyaan 2 : Guru Lailia SM: Melihat komponen pendidikan inklusi dalam hal Kurikulum, penasaran banget nih bagaimana cara merancang kurikulum di sekolah citta dengan keragaman peserta didiknya. Selain dengan cara observasi apakah ada cara lainnya?? Dan bagaimana penerapannya antara murid ABK dengan murid reguler. Pengalaman saya di kelas TK A dengan 2 anak ABK dan 25 anak reguler, selesai proses pengobservasian anak ABK, kami guru kelas mulai merancang RPI dengan mengkomunikasikan kepada orang tua. Tapi dalam pelaksanaannya, kami masih sering fokus di kegiatan bersama anak reguler. Jawaban : Narasumber : Sebelumnya kami ingin menyampaikan bahwa Rumah Citta selama ini menggunakan Kurikulum Rumah Citta (Kuruci) yang kami bangun sejak awal berdirinya Rumah Citta. Secara ruhnya, sebenarnya, Kurtilas PAUD juga sejalan dalam hal menghargai setiap keunikan anak dan pendekatan saintifik. Pertama, mindset yang perlu dikuatkan adalah bahwa setiap anak adalah unik (mereka memiliki keunikan dalam minat, cara atau gaya belajar, dan juga mempunyai keunikan dalam mencapai setiap tugas perkembangannya). Kedua, Berangkat dari poin 1, maka edukator akan melihat setiap anak di kelasnya memiliki keunikan, untuk itu pada 1-3 bulan pertama Tahun Ajaran, adalah proses bagi edukatornya untuk melakukan asessment kepada setiap murid. Baik ABK maupun anak yang tidak ABK, kami biasa menyebut dengan anak saja, mendapatkan porsi asessment yang sama. yang membedakan antara ABK dan anak lainnya, adalah minat, cara belajar dan juga capaian tugas perkembangan). Misalnya di kelas ada anak 15 anak maka akan muncul 15 keunikan dari 3 aspek tadi. Sebagai gambaran, di kelas TK B yang berisi 14 anak, dengan 2 ABK, akan muncul “profil” gambaran 14 minat anak, 14 gaya belajar anak, dan mungkin ada 10 anak yang capaian Aspek perkembangan Bahasa sesuai dengan usia 5 tahun, dan 2 anak sesuai aspek perkembangan bahasa 4 tahun, dan 2 anak aspek perkembangan bahasanya sesuai dengan usia 6 tahun. hal yang sama juga berlaku untuk aspek kognitif, motorik dan sosial emosi. Ketiga, Nah dari hasil gambaran rentang capaian aspek perkembangan anak di kelas, maka Edukator akan meramu indikator capaian perkembangan di kelasnya yang akan dijadikan acuan dalam pembuatan program dan kegiatan sesuai tema kelas. Oh iya di Rumah Citta, tema, kegiatan dan aturan kelas semuanya berangkat dari usulan serta ide dari anak-anak sehingga mereka merasa dihargai dan dilibatkan dalam pembuatan maupuan pelaksanaanya. Taggapan : Guru Lailia SM: Kereeen. Banget Pak penjelasannya Bu ⁨Nindyah Rengganis Yogya⁩ 👍🏼👏🏻😊 Jadi peran guru sebagai fasilitator benar-benar harus teliti dengan beragam keunikan anak dikelas yang tidak lupa melihat tahapan perkembangannya untuk dikaitkan dengan indikator-indikator dari tema yang sudah melibatkan anak didalamnya 🤩😘😘😉 Pertanyaan 3 : Guru Chorid: Di pesantren itukan bisa dikatakan inklusi juga karena di dalamnya ada banyak sekali anak yang berbeda background sosial, pola pikir, lifestyle, gaya bicara, dsb. Ada anak yang sudah remaja, menurut kami dia agak kesulitan membangun interaksi dengan orang lain. Hampir setiap kali dimasukkan pesantren, pasti ada aja alasan untuk keluar. Dia merasa kalo teman-temannya itu tidak suka dan menganggapnya berbeda dari anak pada umumnya. Setelah dicari alasannya ternyata anak ini pendiam dan mudah tersinggung saat diajak bercanda atau saat diingatkan. Sudah diajak bicara, tapi malah merasa tidak didukung, bahkan sampai nangis terkadang. Bagaimana ya Bu Ganis cara yang lebih baik mengajak bicara anak yang demikian ini? Jawaban : Narasumber : Saya bisa membayangkan, tentu tantangan yang dihadapi anak (remaja) yang masuk boarding school atau pesantren jadi dobel…. tantangan menghadapi kehidupan dan rutinitas yang jauh dari keluarga dan pertemanan yang sudah dibangun sebelumnya. tantangan kedua adalah membangun pertemanan baru di lingkungan … Read more

Literasi Sebagai Proses Pembelajaran Seumur Hidup

Temu Pendidik Daring KGB- Sijunjung kali ini membahas tentang literasi. Dengan Narasumber Guru Irma Nurul dari KGB –Depok, dan moderator Widya Apri Wandini.  Berikut materi yang disampaikan oleh Guru Irma Nurul :  Perjalanan kami memahami literasi cukup panjang. Tahun 2014 kami mempunyai jam khusus untuk literasi. Saat itu literasi kami anggap kemampuan baca tulis. Murid berkunjung ke perpustakaan selama 30 menit membaca. Tahun ajaran berikutnya aktivitas membaca kami kembangkan lagi menjadi 30 menit membaca dan 30 menit menulis.  Pada tahun ini kami diliputi kegalauan. Kami memiliki kelas 9 yang diwajibkan membuat Karya Ilmiah. Kemampuan murid dalam memahami dan menginterpretasikan bacaan ilmiah masih belum sesuai dengan harapan.  Fakta ini membuat kami memikirkan ulang target kegiatan membaca dan menulis sebagai kegiatan literasi. Berpikir ulang apakah pemahaman kami akan pengertian literasi sudah tepat? Kami mulai mencari sumber dari dalam dan luar negeri. Akhirnya kami merumuskan dan  menempatkan literasi dalam bentuk kemampuan yang diasah melalui pengalaman belajar untuk meningkatkan kecintaan terhadap ilmu, eksplorasi belajar dari lingkungan sekitar dimana murid mendapatkan ilmu, membuat asosiasi antar bidang ilmu, dan menggunakannya untuk memecahkan permasalahan dalam kehidupan. Pengalaman belajar dilakukan melalui kegiatan belajar mengajar dan kegiatan kunjungan tematik. Pada rapat awal tahun ajaran setiap guru melakukan curah ide tentang pembelajaran masing-masing. Lalu bersama-sama guru akan membuat satu tema yang dapat didekati dari beberapa pelajaran. Guru membuat daftar kemampuan dan keterampilan apa saja yang dapat tercakup dari kegiatan tersebut. Setelah itu tim guru akan menentukan tempat yang sesuai dengan tema. Kunjungan tematik dilakukan setiap 2-3 bulan sekali dengan pilihan tempat yang dekat atau terjangkau transportasi massal seperti stasiun kereta api, museum, pusat budaya, perpustakaan, kantor pemerintahan, sampai bioskop.  Salah satu contoh kegiatan implementasi literasi budaya, baca tulis, dan numerasi, adalah dengan kegiatan kunjungan ke sebuah museum. Pada pelajaran Bahasa Inggris, guru bidang studi mengambil topik tour guide. Guru menjelaskan bahwa mereka akan pergi ke museum Ciputra di Jakarta. Moda transportasi tercepat apa yang bisa digunakan? Murid belajar untuk memahami peta dan menggunakan aplikasi Trafi dan dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok di kelas 7 akan mengatur perjalanan dan pembiayaan yang paling efisien untuk mencapai lokasi. Mereka akan menghitung jumlah guru, murid dan staf yang akan ikut, membaginya dalam kelompok kendaraan dan menghitung keseluruhan biaya yang dibutuhkan hingga sampai ke museum Ciputra. Murid belajar mengasah literasi visual spasialnya ketika memahami peta di Google maps dan literasi numerasi ketika memperhitungkan biaya dan moda transportasi tercepat. Setelah sampai di museum murid dipandu untuk memahami lukisan Hendra Gunawan dari lukisan naturalis ke lukisan modern kemudian diberikan pertanyaan mengenai perbedaan lukisan. Pemandu museum meminta murid mengamati lebih dekat tentang elemen garis, bentuk, dan warna. Pada sisi ruang pamer yang lain murid melihat bagian lukisan kontemporer pada era masa kini. Murid mengamati lukisan dan diperbolehkan bertanya. Membaca keterangan tentang lukisan dan mengamati kembali. Apa yang mereka rasakan ketika melihat lukisan? Elemen apa dalam lukisan yang membuat murid dapat merasa seperti itu? Apakah interpretasi mereka sama atau berbeda dengan temannya? Murid membaca teks mengenai periode dimana lukisan itu dibuat, suasana yang melatarbelakangi pelukis menghasilkan karya, dan mengaitkannya ke dalam sejarah pasca kemerdekaan Indonesia. Setelah itu dilakukan tanya jawab dengan pemandu. Kemampuan ini mengasah literasi visual dan budaya. Pengalaman melihat langsung lukisan dan berbicara langsung dengan ahlinya membuat murid mendapatkan pengalaman belajar yang lebih kaya. Pada pertemuan setelah murid melakukan kunjungan, murid membuat tulisan tentang lukisan yang paling disukainya dan penjelasan yang membekas di ingatan mereka. Tahapan selanjutnya pada pelajaran Bahasa Indonesia murid akan membuat teks deskriptif terkait kunjungan mereka dan di pelajaran Seni Budaya murid membuat lukisan kontemporer versi mereka sendiri. Dalam kegiatan ini literasi baca tulis dan visualnya berkembang. Dari kegiatan di atas disimpulkan bahwa mengasah kemampuan literasi tidak harus terfokus ke satu kemampuan literasi secara spesifik seperti baca tulis. Literasi bukan merupakan hasil akhir namun merupakan pembelajaran seumur hidup. Peningkatan literasi di berbagai bidang dapat meningkatkan kemampuan murid dalam menghargai kearifan lokal, bekerja sama dan berkolaborasi dengan banyak pihak untuk menghadapi tantangan di masa depan. Sesi Tanya Jawa Pertanyaan dari Guru Tuti  Pemahaman Literasi di sekolah sangat minim saya rasakan. Hampir seluruh guru hanya paham bahwa literasi selalu tentang baca dan atau menulis saja. Membaca praktik baik yang ibu lakukan di sekolah menginspirasi saya untuk dan harusembuka wawasan guru tentang Literasi yang sesungguhnya. Namun permasalahannya untuk sekolah SMK tentu perlu kolaborasi semua guru, dan apakah program ini dapat  dilakukan di SMK? Dan apakah dimasukkan dalam program sekolah ? Jawaban  Program literasi dapat dilaksanakan dari jenjang TK hingga SMA dan SMK. Pertama-tama untuk memulai Ibu bisa coba di pelajarannya sendiri. Jika ada satu dua orang teman guru yang bersedia kolaborasi sudah cukup. Jadi didiskusikan berdua topiknya apa dan bagaimana bentuk kolaborasinya Mencoba melihat topik yang menarik tentunya. Namun alangkah baiknya jika ini merupakan program sekolah ya Bu. Masukan buat tim literasi sekolah di bawah koordinator wakil kurikulum dan kepala pustaka ya Bu 😊? Kalau di sekolah kami langsung di bawah Kepala Sekolah. Kami mengalokasikan waktu untuk curah gagasan aktivitas literasi apa yang bermakna.  Namun bisa dimulai dari individual guru bersama rekan yang satu visi jika dari sekolah belum ada program Iya harus coba dimulai bu. Kemarin kami membuat reading workshop. Jadi setelah anak membaca satu buku mereka membuat poster atau miniatur tentang buku tersebut. Ditambahkan dengan cat, pernak pernik disana sini. Kemudian ada hari presentasi dimana murid saling mempresentasikan bukunya dan melihat karya yang beraneka ragam. Pertanyaan dari Guru Sri  Bukankah dengan strategi yang ibu gunakan itu akan membuat perpustakaan menjadi sepi pengunjung dari murid karena murid-murid   sudah diajak ke lokasi lain untuk melakukan literasi. Jadi pertanyaan saya apa fungsinya dan peranan perpustakaan lagi, terimakasih Bu Irma atas jawabannya Jawaban  Dengan strategi itu tidak membuat sepi perpustakaan. Karena buku juga menjadi salah satu rujukan referensi. Kita berusaha mengikat makna pembelajaran dengan hal-hal yang ada di keseharian. Kunjungan ke perpustakaan tetap dilakukan. Tentunya dengan aktivitas yang menyenangkan dan sesuai dengan tahapan perkembangan muridnya Pertanyaan dari Guru Rini  Saya mengajar di Kelas Tiga SD Bu, saya menerapkan literasi di semua mata pelajaran, saya suruh murid baca materi 10 menit awal, kemudian saya ajukan pertanyaan sesuai isi … Read more

Tips Bagi Orang Tua Menghadapi Anak yang Kecanduan Gawai

Banyak orang tua saat ini yang mengeluhkan bahwa putranya malasbelajar, kehilangan fokus saat belajar, atau menghabiskan waktuberjam-jam untuk bermain gawai. Mungkin sahabat ria ada juga mengalami hal demikian? Guru Agus Riyanto dan Guru Arga dari KGB Solo Raya membahas ini dalam KGB On Air – Ria FM Solo Apa hal pertama yang kita lakukan saat mendapati beberapa halseperti contoh di atas? Memarahi putra kita? Atau bahkan menyitagawai mereka? Atau mengancam akan dilaporkan guru di sekolahatau dengan perlakuan-perlakuan lain? Walau itu semua menjadi hak penuh kita selaku orang tua, tapi coba kita renungkan dulu deh, benar ngga cara-cara kekerasan seperti itu dapat menjadi solusi bagi putra kita? Kalaupun iya, benarkah bahwa besok kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi? Apakah kita harus marah-marah terus? Bukankah kelihatan konyol jika demikian adanya?! Sebagai orang tua, kita harus memaknai betul bahwa putra/i kita adalah amanah yang tak ternilai harganya. Sudah selayaknya kita memperlakukan mereka dengan penuh tanggung jawab. Orang tua harus menyadari betapa pokoknya peran kita dalam tumbuh kembang mereka. Tantangan kita dalam mendidik putra/i kita semakin hari terasa semakin berat. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadikan kita dilema. Perkembangan ini mustahil kita hindari, tapi juga jangan sampai memberangus peranan kita dalam mendidik putra/i kita terutama pada pewarisan nilai-nilai luhur kehidupan dan pewarisan norma yang berlaku di masyarakat. Teknologi adalah Musuh? Melihat perkembangan teknologi dan informasi saat ini yang sangat dinamis, apa sajakah hal-hal yang berpotensi menjadi musuh anak kita dalam tumbuh kembangnya? Setidaknya ada 4 hal yang berpotensi menjadi musuh bagi tumbuh kembang putra/i kita. Keempat hal tersebut yaitu: Gawai, Televisi, Pasar, dan Kendaraan Bermotor. Saya katakan berpotensi karena memang saat ini setidaknya mungkin kita menyesal telah membelikan gawai putra/i kita, atau membeli televisi yang menjadikan putra/i kita lebih tertarik untuk menghabiskan waktunya untuk gawai dan televisi. Kemudian untuk pasar, tempat ini sebenarnya bukan tempat yang harusdihindari juga. Hanya kita harus lebih berhati-hati saat mengajak putra/ikita ke pasar. Tempat berkumpulnya banyak orang dengan berbagai latarbelakang ini tentunya sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang putra/i kita terutama saat mereka dini (belajar berbicara). Betapa banyakkita mendengar cerita, bahwa seorang anak kecil ketika sepulang daripasar mampu mengucapkan kata-kata yang jarang kita ucapkan di rumah.Paham atau tidak paham, putra/i kita hanya menirukan, karena merekamemang peniru terbaik. Khusus kendaraan bermotor, saat ini sudah menjadi barang yang wajib dimiliki oleh semua orang. Kendaraan kita gunakan untuk mobilitas/ aktivitas kita sehari-hari. Barang ini berpotensi menjadi musuh anak jika putra/i kita yang mengendarai. Biasanya dialami oleh putra/i kita yang memasuki masa remaja. Sekitar kelas 4 SD mereka biasanya merengek untuk minta diajari atau lebih parah jika justru kita yang mengajari mereka. Memangku Teknologi Lalu bagaimana cara menghindari keempat potensi musuh bagi putra/i kita tersebut? Kita tahu bersama bahwa menghindari adalah mustahil. Sebagai orang jawa, tentu kita akrab dengan istilah pangkon. pangkon itu berfungsi untuk mangku semua aksara dalam penulisan jawa. pangkon hanya digunakan di belakang, kecuali sangat terpaksa maka wignyan digunakan di tengah, tapi ini jarang kita temui. Lalu apa kaitannya? Kaitannya sederhana saja, bahwa segala perkembangan secanggih apapun itu harus kita pangku kita dudukkan agar perkembangan tersebut tetap tunduk pada kendali kita. Potensi menjadi musuh ini tadi juga harus bisa kita pangku agar potensi ini menjadi hilang dan akan hadir kebermanfaatan. Inilah yang kita namakan berkawan dengan musuh. Toh sejatinya teknologi dibuat untuk memudahkan manusia itu sendiri bukan sebagai musuh atau ancaman. Menyikapi Potensi “Musuh” Anak Lalu bagaimana sebaiknya kita menyikapi 4 potensi musuh bagi anak-anak kita tersebut agar bisa menjadi kawan yang menyenangkan dan tidak mengganggu tumbuh kembang putra/i kita? Luangkan waktu untuk melakukan kegiatan bersama putra/i kita. Jangan sampai membiarkan mereka lebih intens bersama dengan gawai dan televisi. Luangkan waktu setengah atau satu jam untuk bermain bercengkerama bersama mereka. Kendalikan dan awasi tumbuh kembang anak kita. Berikan pendampingan saat mereka berinteraksi dengan keempat hal tersebut. Mungkin bisa dengan mengatur berapa lama boleh menggunakan gawai, berapa lama dan kapan boleh menonton televisi, kapan diajak ke pasar, dan bagus juga jika diberi pengertian kapan seseorang boleh mengendarai motor. Belajar untuk mencari tahu manfaat keempat tersebut dalam tumbuhkembang anak kita. Kita bisa memanfaatkan keempatnya sebagai media dan atau sumber belajar yang menyenangkan lho. Misal: Menggunakan gawai untuk belajar mengenal warna, nama binatang, dan lain-lain. Menonton televisi pada saat diputar film anak, dan atau diputarkan film dan lagu anak melalui vcd. Teman-teman di KGB Solo Raya pernah bekerjasama dengan inibudi.org beberapa waktu lalu membuat video pembelajaran. Pasar bisa dimanfaatkan untuk belajar jual beli, melatih keberanian anak, dan melihat orang-orang sekitar agar kita bisa mengambil hikmah. Kendaraan bermotor mungkin bisa dikenalkan tentang gas buang yang beracun, bahan baku membuat ban, bahan membuat rantai, bentuk ban dan lain-lain. Ajak putra/i kita berinteraksi dengan tetangga, ajak pergi ke rumah ibadah, dan biarkan mereka berada di dunianya. Dunia mereka sesungguhnya dunia belajar bersosialisasi, menyukai hal-hal baru, dan bermain. Dari interaksi ini akan muncul dengan sendirinya nilai-nilai kehidupan. biarkan mereka asik dengan dunia alamiahnya mereka. Paling penting yaitu keteladanan kita. Jangan sampai kita membatasi putra/i kita, tetapi pada saat yang sama kita menggunakan terutama gawai dan menonton televisi tanpa mengenal waktu. Mari mencoba untuk selalu menjadi contoh bagi putra/i kita. Kadang mereka seperti ini seperti itu, mungkin karena melihat dan meniru perilaku kita sebagai orang tuanya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah keniscayaan yang berjalan beriring dengan tumbuh kembang putra/i kita. Tugas kita sebagai orang tua adalah memastikan bahwa perkembangan iptek tadi dapat bermanfaat bagi tumbuh kembang putra/i kita. Tugas kita adalah merangkul potensi musuh tadi menjadi kawan bagi putra/i kita bukan menghindarinya. Mendampingi tumbuh kembang putra/i kita ibaratnya seperti bermain layang-layang. Layang-layang itu bisa terbang setinggi apapun, bergerak kekanan kekiri sesuai hembusan angin, tapi kita memiliki simpul untuk mengendalikannya. Simpul itu adalah kasih sayang kita.

Peran Ayah dalam Pendidikan Anak

Mendidik anak tentu bukan hanya tanggung jawab seorang ibu. Sangat diperlukan sosok seorang ayah agar pendidikan terhadap anaknya dapat berjalan secara optimal. Lalu bagaimana kenyataan di lapangan saat ini?
Guru Agus Riyanto dari KGB Solo Raya dan Guru Siska Yuniyati dari Sukoharjo membahas ini dalam KGB On Air – Ria FM Solo

Guru Merdeka Belajar, Guru yang Tidak Takut untuk Berubah

Kami semua memutuskan untuk menjadi guru yang merdeka belajar dengan menjadi guru yang berdaya dan memegang kendali atas proses belajar kami sendiri. Kami percaya bahwa pendidikan itu penting dan harus dijadikan prioritas. Perubahan yang ingin kami lakukan yaitu belajar dengan tujuan dalam konteks. Kami harus menjadi Guru professional yang adaptif, karena kami sendirilah yang paling memahami siswa kami sendiri. Kami juga akan selalu mencoba untuk berinovasi dalam pendidikan “trial and error” sehingga suatu hari inovasi yang kami kembangkan bisa diterapkan di dalam kelas.

Uji Coba, Umpan Balik dan Media Inovatif yang Bermakna

Seandainya Anda adalah seorang yang suka masak dan ingin memasarkan masakan Anda. Apa yang Anda lalukan? Langsung menjualnya? Atau ada hal lain yang harus Anda lakukan sebelum Anda memasarkannya? Waktu itu di tahun 2013 saya bersama teman-teman berencana membuka warung makan kerang. Saya mencari resep di internet, bertanya kepada saudara yang ahli masak. Jadilah beberapa varian menu bumbu kerang : saus tiram, asam manis, sambal kacang, hingga saus padang. Setelah itu, untungnya saya tidak langsung menjualnya. Setelah beberapa kali gagal, lalu menyicipi sendiri bumbunya, merasa kurang, coba lagi dengan memadupadankan bahan bumbu lainnya lalu saya mengundang beberapa tester di antaranya teman-teman saya penikmat kuliner, saudara saya pengusaha kuliner, dsb. Dari aktivitas testing itulah saya mendapat banyak umpan balik dari yang datang.  Saya perbaiki lagi bumbunya, sesuai masukkan tester waktu itu. Kemudian saya berani membuka warung kerang. Banyak yang suka dan akhirnya menjadi langganan warung. Saya belajar banyak dari situ, proses testing sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas produk yang kita miliki. Bagaimana dengan media ajar? Media ajar yang dibuat guru untuk murid di kelas. Apakah media yang guru buat bisa langsung dipraktikkan di dalam kelas? Apakah media ajar yang dibuat bisa langsung dipasarkan? Sama halnya dengan kerang tadi, media ajar yang dibuat haruslah melalui tahapan testing (uji coba). Agar bisa mengetahui apakah media ajar yang kita buat sudah sesuai sasaran, sudah bermakna dan berguna untuk murid. Namun pertanyaannya adalah uji coba yang seperti apa? Jangan sampai sudah meluangkan waktu melakukan uji coba, namun tidak tepat sasaran. Bukannya mendapat umpan balik yang sesuai, malah membuat media ajar kita jauh dari harapan.  Kembali lagi ke atas? Coba saat saya akan membuka warung, tester saya bukanlah orang tepat, bumbu kerang saya akan menjadi amburadul. Oleh karena itu dalam tahapan Wardah Inspiring Teacher 2019 di Kota Surabaya, Kampus Guru CIkal mengajak guru-guru yang sudah membuat rancangan media dari tahap pra pelatihan melakukan uji coba dalam pelatihan “Validasi Karya melalui Uji Coba Bermakna” .  Di awal pelatihan guru-guru diajak untuk mulai merancang uji coba dari : Menentukan siapa yanng akan mengujicoba media yang dibuat. Mencari cara uji coba yang akan dilakukan. Membuat pertanyaan yang sesuai agar mendapat umpan balik yang diinginkan. Melakukan refleksi diri Menjadi guru berkarier Kegiatan pelatihan 2 wardah Inspiring Teacher ini bertempat di Hotel Ibis Style Jemur Sari Surabaya diikuti 33 guru dari berbagai jenjang dan daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dalam sesi ini, guru-guru diwajibkan membawa rancangan media yang ia buat dari sesi sebelumnya. Beragam media yang guru bawa, dari media papan permainan bernama Battlefield Trigonometri, yang dibuat untuk memudahkan belajar trigonometri. Kartu Walisongo, memudahkan orang mengetahui proses walisongo dalam menyebarkan Islam, Spin lembaga pemerintah, lingkaran bergerak untuk membantu murid belajar dan memahami fungsi lembaga-lembaga pemerintahm dan masih banyak lainnya. Dari sesi uji coba banyak yang terbantu, salah satunya adalah Ibu Tri Mutmainah seorang guru yang membuat video tutorial untuk memudahkan murid membuat baju. Bu Tri Mutmainah mendapat banyak feedback dari rekan-rekannya, seperti suara yag kurang jelas, yang menganggu pemahaman, video yang kurang ilustrasi, hingga gaya bahasa yang digunakan.  “Umpan balik yang diberikan membantu saya dalam memperbaiki videonya.” ujar Tri Mutmainah. Sejalan dengan Tri Mutmainah, guru Hibatun Wafiroh juga merasakan dampak dari tahapan uji coba.  “Pelatihan ini sangat penting bagi saya. Saya semakin tahu, bahwa setelah membuat media ada langkah yang sering kali tidak saya pikirkan yaitu uji coba. Dari uji coba tadi, saya mendapat banyak umpan balik. Insya Allah Setelah ini media yang saya buat bisa lebih baik.” ucap Guru Hibatun Wafiroh, salah satu peserta WIT dari Lamongan.

Menjadi Guru Merdeka Belajar di Sekolah Biasa Saja

View this post on Instagram A post shared by Kampus Guru Cikal (@kampusgurucikal) on Jun 28, 2019 at 2:04am PDT Mendengar nama sekolahnya saja aku udah malas membayangkan ada di dalamnya. Apalagi menjadi guru di sana, nggak pernah terpikirkan sama sekali. Sebuah sekolah yang dianggap sekolah buangan. Sekolah yang muridnya merupakan buangan dari sekolah lain yang tidak menerimanya.  Namanya SMA 1 Sragi, sekolah negeri yang terletak di pinggiran Kabupaten Pekalongan, 17 Km menuju Kota Pekalongan. Tapi apa dikata, waktu lulus kuliah hanya sekolah itu yang membuka lowongan pekerjaan guru Bahasa dan Sastra Indonesia. “Coba daftar di sana ya!” pinta bapakku. “Tapi kan SMA Sragi Pak..” jawabku Hampir seminggu aku mengurungkan diri dan memikirkan ajakan bapakku untuk mendaftar menjadi guru di sana. Akhirnya setelah menimbang-nimbang, aku pun mendaftarkan diri di sana. Dan mungkin sudah jalannya, aku diterima di sekolah itu menjadi guru. Mau seneng karena keterima sebagai guru, tapi ngajarnya di sekolah yang nggak favorit. Bakal ketemu murid-murid yang “bermasalah”. Ditambah soal fasilitas, pasti ketinggalan jauh sama sekolah-sekolah favorit. Aku bakalan susah menjadi guru kreatif. Akhirnya aku menjadi guru di sana. Di awal-awal mengajar memang selalu menyalahkan banyak hal, seperti : “Ah seandainya ngajar murid-murid kayak sekolah itu, pasti nggak bakal secapek ini.” “Ah seandainya fasilitasnya lengkap, aku pasti udah ini.. Pasti udah itu..” “Ah sedandainya di sekolah sana, guru-gurunya pasti bisa diajak berdiskusi..” Di tahun kedua kemudian saya mulai berefleksi, bagaimana agar aku bisa mengajar dengan baik tanpa menyalahkan faktor-faktor lain? Aku mulai belajar, mengamati murid. Lalu yang aku lakukan adalah menggali tentang siapa yang saya ajar saat ini, dengan melakukan proyek berbicara Kemudian membuat formulir identitas diri yang bisa di isi murid. Saya baca satu per satu bagaimana murid saya, ternyata memang dari latar belakang yang berbeda, ada seorang murid yang hanya tinggal dengan neneknya di rumah, murid yang setelah pulang sekolah bekerja sebagai pembuat batu bata, murid yang bekerja sebagai pencuci piring, murid yang orangtuanya cerai, dsb. Selain itu, banyak murid yang memiliki kebergaman kesukaan, dari yang suka nyanyi, main handphone, mengaji, menggambar, balap motor, mekanik, dsb. “Aku harus buat sesuatu yang membuat apa yang mereka miliki bisa berkembang.” Akhirnya aku mulai merancang pembelajaran dengan memperhatikkan hasil observasi yang aku lakukan untuk mengakomodir murid-murid tersebut. Aku membuat pembelajaran gurindam menjadi panggung rap murid. Aku membuat pembelajaran pantun seperti layaknya Indonesian Idol dengan memanfaatkan diksi-diksi hal-hal yang ada di sekitar murid. Aku mengajak membuat video reportase tentang apapun yang ada di sekitar mereka. Aku mengajak murid membuat video reka ulang adegan perjuangan seseorang yang ada di sekitar mereka. Aku mengajak murid membuat penelitian/karya yang bisa membantu diri mereka/lingkungan mereka. Walau SMA Sragi tidak banyak memiliki fasilitas untuk melaksanakan itu semua, yang aku lakukan adalah memanfaatkan fasilitas yang ada. “Menggunakan laptopku untuk mengganti ketidakadaan proyektor” “Menggunakan handphone untuk mengganti ketidakadaan kamera dan perekam suara” “Menggunakan alat-alat sekitar untuk mengganti ketiadaan alat musik” Akhirnya dari mendobrak keterbatasan itu, lahir banyak karya dari murid-murid dari sekolah yang katanya buangan itu. Karya-karya murid SMA 1 Sragi bisa dilihat di akun Ngeselin Cinema Bagus Satria: Saya rasa waktu membaca sudah cukup. Diskusi kali ini saya buka 2 termin ya… setiap termin saya tunjuk 2 penanya. Bila ingin bertanya, tolong sebut nama. Lilik Nur Indah Apa yang membuat Pak Rizky akhirnya berefleksi? Ada hal apa hingga Pak Rizky terdorong berefleksi hingga bisa menemukan mekanisme belajar yang memanusiakan murid?  Rizky Rahmat Hani Pertayaanya bagus! Hal yang belum saya tulis di atas. Pertama melihat murid yang belajar di sekolah. Aku melihat sekolah sekadar untuk formalitas dapat ijazah. Datang tepat waktu, belajar, dapat nilai, pulang. Namun apa yang dipelajari tidak bisa bantu murid. Aku sedih melihat murid seperti tidak tau tujuan apa yang mereka ingin dapatkan dari sekolah. Sekadar ikut orangtua?Sekadar ingin dapat rangking 1, 2 dapat piala? Kalau belajar membuat mereka senang, pasti nggak perlu ditakut-takuti dulu dengan hukuman. Kalau mereka benar-benar mau belajar, tidak perlu diming-imingi peringkat, hadiah dulu. Itulah yang buat saya refleksi. Kemudian mencoba menghubungkan dengan apa yang disuka murid untuk mejadi jembatan mereka belajar. Fauzan Fajar Bagaimana Pak Rizky mengajak murid membuat suatu karya? Dan bagaimana bapak mengakomodir murid-murid menjadi tertarik dengan bapak?  Rizky Rahmat Hani  Kuncinya,  Jangan memaksa. Saya percaya tiap murid itu unik dan punya peran. Dan yakinkan bahwa setiap peran itu unik. Observasi yang saya lakukan membantu mengetaui peran-peran itu. Saya tahu ada yang suka dance, fotografi, mengaji, suka nulis, suka akting. Dari situ saya mulai berpikir. Bagaimana agar bakat-bakat itu tersalurkan dengan mengakomodir semua.  Jadi bukan kebalikan. Kita punya ide apa, lalu mengajak murid. “Bukan Mau Guru, Tapi Mau Murid” Sayangnya kadang kita kebanyakan gitu. Pengen ini pengen itu, tapi tidak tau sebenarnya apa yang kita (guru) pengen itu, beneran murid pengen tidak? Diah Nurtiara Apakah selama ini ada tekanan sosial terkait keputusan Bapak yang tidak bekerja di sekolah favorit, baik dari segi prestise maupun gaji yang tidak seberapa? Bagaimana bapak menyikapinya? Rizky Rahmat Hani  Ada Bu. Dari teman satu sekolah yang nggak suka lihat saya bikin ini itu. Dari keluarga juga, yang katanya gajinya dikit tapi malah sibuk banget bikin ini itu. Karena menjalaninya dengan senang, malah itu semua membuahkan hasil.Mungkin gaji nggak tinggi. Namun di belakang itu ternyata banyak yang didapat. Bisa masuk Metro TV, Net Tv, jadi pembicara di beberapa pelatihan. Bisa mengembangkan karir jadi guru pelatih, guru videografer. Umi Azizah Kalau untuk anak sekolah dasar yang punya kelebihan hiperaktif bagaimana cara mengaturnya? Karena seringkali mengganggu aktivitas teman lainnya. Rizky Rahmat Hani  Wah ini murid saya banget.Masak pas saya ngajar di kelas ada yang lari. Ada yang main meja. Pokoknya tidak bisa diam. Seperti tadi diawal, akomodir itu semua mejadi aktivitas pembelajaran.Aku pernah bikin kelas Jelajah Sekolah buat belajar Karya Ilmiah. Murid jadi bisa jalan-jalan sambil belajar. Dwi Rudi Seringkali guru-guru di sekolah tidak favorit ogah-ogahan dan  malas berkreasi. Bagaimana supaya kita istiqomah di jalan mengajar yang benar?Bagaimanakah tanggapan dari guru-guru lainnya? Rizky Rahmat Hani  Setuju Pak. Untung saya ikut Komunitas Guru Belajar Pekalongan. Saat lagi down, malas. Ikut temu pendidik di KGB serasa di-charge. Muncul semangat baru. Sering juga kok saya down, beruntung banyak … Read more

Merdeka Belajar, Tak Sesempit Arti Bebas

Pada hari Senin, 27 Mei 2019 yang bertepatan dengan 22 Ramadhan 1440, Komunitas Guru Belajar Solo Raya mengadakan acara Temu Pendidik Sekolah yang bertempat di MIM PK Kateguhan Boyolali. Sesi terakhir dari rangkaian acara Komunitas Guru Belajar yang bekerja sama dengan Guru-guru MIM PK Kateguhan Boyolali adalah nobar. Nonton bareng cuplikan video Najelaa Shihab (Bu Elaa) yang menjelaskan terkait “Merdeka Belajar” dalam acara Temu Pendidik Nusantara pada tahun 2016.  Acara ini dipandu oleh Kak Una, selaku anggota dari KGB Solo Raya. Kemudian sebelum video diputar ada beberapa untaian kata dari Bu Heni selaku Penggerak dari KGB Solo Raya, beliau mengatakan bahwa adanya Komunitas Guru Belajar ini sebagai wadah untuk menampung segala ide praktek belajar, tempat berbagi materi cerdas mengajar kepada guru-guru dari berbagai media. Bu Elaa dalam video tersebut menjelaskan bahwa sebagian besar anak Indonesia itu dunianya hanya sebatas ruang kelasnya, mimpinya hanya sebatas tingginya tangan untuk menjawab pertanyaan gurunya, yang kita inginkan adalah anak-anak yang mempunyai aspirasi tinggi, memiliki cita-cita yang melampaui langit, menembus batas, melampaui dunianya dan ini hanya terjadi pada saat anak-anak memiliki kemerdekaan belajar, tapi kemerdekaan belajar murid-murid hanya akan terjadi pada saat kita semua sebagai pendidik juga sebetulnya memiliki kemerderkaan. Dan kita sangat percaya bahwa proses kemerdekaan itu sebetulnya bukan sesuatu yang diberikan tapi sesuatu yang kita gerakkan dan harus diperjuangkan. Sebagai pendidik yang merdeka belajar adalah harus memiliki komitmen, memiliki kemandirian dan selalu reflektif. Pada saat kita berbicara tentang komitmen kita sebetulnya berbicara tentang komitmen terhadap tujuan, tapi semua dari kita yang setiap hari bergerak pasti dia tahu betapa susahnya untuk bisa konsisten terhadap tujuan. Tantangan utamanya adalah membedakan cara dengan tujuan, kita terjebak pada tugas-tugasadministratif, ketentuan-ketentuan birokrasi sehingga ujian, akreditasi, seleksi, nilai, yang sebetulnya semua hanya cara kemudian menjadi tujuan dan menjadi prioritas utama. Selanjutnya terkait kemandirian, kemandirian juga sulit, karena sebetulnya pada saat ketika kita melihat proses kemandirian pada tingkatan-tingkatannya itu banyak sekali. seperti manipulasi, kesadaran, interaksi/dialog, masukan/konsultasi, kemitraaan, pemberdayaan, Kenyataan dilapangan dalam upaya pengembangan guru yang penuh dengan manipulasi, banyak ketentuan, sebagian dari kita mungkin berhenti pada tingkatan ketiga yaitu menjadi teman konsultasi atau memberikan masukan, tapi masih jauh perjalanannya untuk sampai berdaya dan memegang kendali atas proses belajar kita sendiri. Kemudian hal yang menjadi bagian dari pendidik yang merdeka belajar adalah kemampuan untuk refleksi, refleksi ini mudah dikatakan tapi sulit sekali dilakukan, sebagian dari kita cenderung menutup mata menolak untuk melihat cermin dengan seribu satu alasan. Kita bilang masyarakat belum faham, kita bilang anak-anak tidak mengerti, kita bilang orang tua akan menentang, padahal itu sebetulnya alasan dari ketakutan diri kita sendiri untuk menuju  perubahan. Kita itu sedang melawan miskonsepsi, melawan miskonsepsi tentang guru belajar. Banyak yang bilang guru itu mau belajar kalau ada insentifnya, guru mau belajar kalau mendapatkan sertifikat atau uang, seharusnyaadalah guru-guru yang belajar berdasarkan kebutuhan alamiah. Banyak juga yang bilang bahwa guru itu hanya bisa belajar dari yang ahli,  dari pakar pendidikan, di temu pendidik ini kita buktikan bahwa guru itupaling belajar efektif dari sesama guru. Guru itu tidak perlu figur sempurna yang serba ahli, guru itu perlu figur yang realistis, yang belajar, mempraktekan apa yang dia pelajari, yang belajar banyak sekali kegagalan sebelum akhirnya berhasil. Guru profesional itu sebenarnya guru yang adaptif, kita yang ketemu anak setiap hari pasti tahu betapa pentingnya peran guru yang adaptif, setiap tahun ajaran, setiap pekan bahkan setiap hari, setiap murid kita butuh hal yang berbeda dari kita, sehingga tahu kenapa menjadi sangat esensial. Kita melawan target-target belajar yang diburu-buru dan dipaksakan, guru belajar itu butuh waktu. Pendidikan itu tidak pernah kekurangan inovasi, banyak sekali inovasi yang terjadi setiap saat, yang selalu kita katakan adalah guru butuh waktu, butuh waktu untuk memahami inovasi, butuh waktu untuk memiliki inovasi, butuh waktu untuk membuktikan apakah inovasi itu sesuatu yang sesuai atau sesuatu yang tidak bisa dipakai. Kita juga membuktikan bahwa kompetensi itu bukan soal individu, perlu kita sadari bahwa guru adalah kunci dalam pendidikan itu tidak cukup, tapi guru yang merdeka belajar adalah kunci. Karena pada saat orang bicara guru adalah kunci, sebetulnya yang sering ada dalam bayangannya adalah ini pabrik, gurunya input sehingga dia menjadi kunci terhadap sebuah output yang dihasilkan murid-murid kita, tapi pada saat kita bicara guru yang merdeka belajar adalah kunci maka kita yakin bahwa kompetensi itu bukan kompetensi individual. Kompetensi itu adalah potensi individu yang didukung oleh ekosistem yang baik, tidak ada guru yang bisa belajar sendirian, tidak ada guru yang bisa kompeten sendirian dan tidak ada guru yang bisa merdeka belajar sendirian. Setelah nonton bareng Kak Una selaku pemandu acara ini, kemudian mengajak para guru untuk merefleksikan terkait video merdeka belajar yang dipadukan dengan pengalaman praktek dilapangan. Pada acara itu, yang pertama memberikan ulasan adalah Bu Erma, beliau mengatakan: “Pertama, kami ucapkan terima kasih sekali kepada komunitas guru belajar solo raya, yang telah berkenan dan membagi ilmunya di sekolah kami. Alhamdulillah sudah membuka mindset kami semua, bahwa belajar yang sesungguhnya adalah yang seperti itu, kita bisa merasakan merdeka, dalam keadaan yang tak terbatasi dengan kelas, dengan kurikulum dsb. Namun, di lapangan kita masih sering terjebak dengan hal itu. Sebenarnya, jika sesi ini bisa dilanjutkan lagi, kami ingin lebih fokus; misalnya inspirasi mengelola kelas, untuk memanajemen peserta didik dan menelurkan materi-materi dalam media-media yang menarik, karena bapak-ibu guru yang ada di kelas atau sekolah tingkat dasar ini sangat memerlukan sekali. Supaya guru dan murid bisa belajar sambil bermain atau bermain sambil belajar. Kami harap pertemuan yang singkat ini, bisa berlanjut ketahapan selanjutnya secara off-air atau on-air, offline ataupun online.” Kemudian dilanjutkan oleh Bu Narni, beliau mengatakan: “Senang sekali, siang ini bisa menikmati salah satu figur tentang Kampus Guru Cikal. Beberapakali di sosial media saya pernah melihat ada teman yang ikut juga, cuma saya tidak terlalu mengikuti lebih mendalam. Ternyata, sebuah komunitas yang menarik, gimana dengan tajuknya ‘merdeka belajar’. Ketika melihat kondisi kelas yang sekarang, mulai murid masuk kelas duduk, ya sepertinya belum merdeka belajar ya Bu.. sama yang diungkapkan oleh Ibu Kepala tadi, maka tantangannya kalau ingin merdeka belajar itu, gimana caranya jika dilihat sendiri misalnya sekolah formal kecuali memang mereka yang home schooling atau mereka yang … Read more

Perilaku Guru Merdeka Belajar

“Sebagai seorang guru kita semestinya selalu berinovasi, open mind dan percaya bahwa kita tidak sendirian untuk membawa perubahan, cari rekan sejawat yang sevisi. Nah di KGB ini, kita dapatkan partner belajar yang siap untuk diajak berkolaborasi”. Tutur Pak Rolis Salah satu ungkapan gelora Baper (bawa perubahan) pada siang itu memenuhi area kelas SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo (22/05/19). Ada pancaran LCD yang menyala, ternyata para guru di Komunitas Guru Belajar Sidoarjo sedang nonton bareng. Wah, nontonnya gak segambarangan. Mereka menyaksikan Film Merdeka belajar. Kegiatan tersebut digagas olehkomunitas guru belajar nusantara & kampus guru cikal dalam rangka menyambut Hardiknas 2019. Nonton bareng Film Merdeka belajar hadir sebagai ajang bagi para pendidik untuk berefleksi terhadap upaya-upaya kita dalam mendidik anak. Pasalnya setelah nobar, para guru berdiskusi mengenai bagaimana pembelajaran yang selama ini disajikan. Analisis mengenai Kebemaknaan belajar siswa, seberapa dekat hubungan yang terjalin dengan siswa, realisasi praktik literasi sampai upaya yang akan dilakukan para guru menyikapi masalah & tantangan yang ada. Seperti pernyataan Guru Enik berikut. “Di acara ini, kita bisa berbagi praktik baik melalui aktivitas refleksi terhadap pembelajaran yang telah kita laksanakan mulai dari miskonsepsi literasi, kebiasaan copypaste RPP dan sebagainya. Selain itu, selepas acara ini, kita akan kolaborasi bersama untuk menularkan virus merdeka belajar di lingkungan sekolah masing-masing”. Keseruan acara nobar terletak pada sesi refleksi. Pada seremoni ini, kami berbagi kisah, pengalaman bahkan curhat menjadi bagian yang penuh balutan emosi. Kisah Guru Syifa menarik perhatian peserta kala itu. “Anak itu tidak pernah tersenyum. Ia selalu terlihat murung. Sesekali terlihat merenung. Ada apa sebenarnya? Berbagai cara kucoba untuk membuatnya tersenyum, mulai dari mengajaknya untuk tersenyum, bercerita humor, senam wajah tapi belum berhasil. Kucoba cari tahu. Home visit pun aku tunaikan. Ternyata akar masalahnya ada pada kebiasaan si anak & orang tua. Saat di rumah, si ibu asyik sendiri dengan HP-nya. si anak dibiarkan belajar dengan sendirinya. Dari situlah, sang anak menjadi pribadi yang pemurung. Sejak saat itu, kubangun komuikasi dengan orang tua. Kusarankan pada ibunya agar sebelum tidur, si anak diajak untuk tersenyum dan ditemani saat belajar serta diajak komunikasi mengenai aktivitas harian si anak. Tak hanya itu, di kelas aku sampaikan mengenai hadits tentang pahala orang yang tersenyum, membiasakan anak-anak untuk tesenyum saat awal & akhir KBM serta saat saat berpapasan/ bertemu dengan teman, guru dan orang lain di jalan seraya berucap salam. Alhasil upayaku berhasil. Sungguh kebahagian yang tiada tara sebagai pendidik saat sukses menghantarkan anak didiknya”. Dari pengalaman Guru Syifa dan para guru lain yang saat itu hadir, kami sadar bahwa menjadi guru merdeka belajar harus memiliki komitmen yang diwujudkan dengan kemandirian untuk menemukan paduan yang pas antara kurikulum, kebutuhan murid dan situasi lokal. Kemudian, guru merdeka juga harus reflektif, berani meminta umpan balik secara aktif danmenilai diri sendiri dengan objektif. Mulai sekarang, kami sepakat bahwa pengembangan kemerdekaan guru bukan sekadar soal mengubah kebijakan, tetapi perilaku harian yang muncul dari kita, dari pembelajaran yang kita hadirkan, seberapa jauh mejangkau diferensiasi murid dan seberepa dekat kita memanusiakan hubungan dengan murid. Sebagaimana ungkapan Bu Najelaa Shihab, “Guru Merdeka itu tak hanya memahami kewajiban, tetapi juga memiliki otonomi dan menggunakan otoritas dengan bijak”. Terima kasih Kampus guru cikal yang telah menggerakkan para guru se-nusantara untuk menjadi guru pembelajar sepanjang hayat. Salam Guru Merdeka Belajar!!!

Menyebarluaskan Prinsip Merdeka Belajar

Bulan ini adalah waktu sibuk bagi kami guru menjelang akhir tahun. Kesibukan menyelesaikan materi dan menjelang PAT. Perasaan yang sangat acak kami rasakan. Di tengah perasaan ini, alarm ajakan untuk menjadi guru merdeka belajar berbunyi. Seketika cukup menggetarkan hati kami, para guru yang tergabung dalam Komunitas Guru Belajar Pekalongan. Ada semangat untuk memulai aktivitas menjadi penggerak karena keresahan yang kami rasakan, namun di sisi lain kami sebagai calon penggerak barumerasa bingung. Menjadi penggerak itu yang bagaimana, sudahkah aktivitas merdeka belajar itu hadir di kelas-kelas kami atau belum. Semangat terus naik namun beriringan dengan kebimbangan yang terus muncul. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk berdiskusi dan mencari tahu, bagaimana aktivitas merdeka belajar yang sesungguhnya. Salah satu hal yang saya senangi di Komunitas Guru Belajar Pekalongan adalah membaurnya penggerak dengan anggota. Mungkin itu juga yang akhirnya menarik minat banyak anggota untuk turut serta bergerak dalam pendidikan yang lebih baik di Pekalongan. Kami (penggerak dan anggota) mendiskusikan bersama tentang apa itu merdeka belajar dan mekanisme menjadi penggerak. Tak ada sekat yang menghalangi kami untuk berdiskusi. Penggerak yang sudah aktif dengan senang hati menawarkan diri untuk membantu, sekedar memfasilitasi pertanyaan dengan tim Kampus Guru Cikal sampai ada yang menawarkan rumah dan peralatan nobar bagi calon penggerak. Kampus Guru Cikal sedang menyuarakan gerakan nobar Guru Merdeka Belajar. Akhirnya disepakati untuk mencari jawaban melalui kegiatan nobar tersebut. Penggerak yang sudah aktif memberikan kesempatan kepada calon penggerak untuk menjadi moderator dan memprakarsai acara, dari sejak awal membuat poster, mendaftarkan acara ke tim Kampus Guru Cikal, mengkoordinir peserta untuk nobar, dan mengadakan nobar kemudian membuat laporan. Saya adalah calon penggerak pertama yang mengadakan sesi nobar dengan bantuan penggerak yang sudah aktif. Awal kali bersepakat untuk mengadakan nobar di rumah Guru Niken, namun karena ada beberapa hal yang perlu disesuaikan jadwalnya dengan rapat ransel, akhirnya diputuskan nobar diadakan di rumah Guru Niam, tanggal 18 Mei 2019. Sebelum memulai nobar, saya mencoba membuka kembali obrolan tentang apa itu merdeka belajar ? Apa yang sudah kita pahami selama ini tentang merdeka belajar ? Beberapa guru menjawab merdeka belajar adalah bebas untuk belajar tanpa ada paksaan. Rata-rata jawaban berkutat seputar itu. Karena sudah tidak ada jawaban lain lagi, saya putarlah video merdeka belajar dari Bu Ela untuk mencari pencerahan bersama-sama, apa sih sebenarnya makna merdeka belajar itu. Dari penanyangan video tersebut, kami menemukan jawaban bahwa merdeka belajar itu berangkat dari keresahan bahwa dunia anak-anak hanya terbatas di ruang kelas. Mimpinya hanya terbatas oleh tingginya tangan mereka untuk menjawab pertanyaan guru. Padahal yang kita inginkan adalah anak-anak yang memiliki aspirasi yang tinggi, cita-cita yang tinggi melampui langit. Dan ini hanya baru akan terjadi ketika anak-anak itu memiliki kemerdekaan belajar dalam diri mereka. Sementara itu, agar anak-anak memiliki kemerdekaan belajar dalam diri mereka, pendidik harus terlebih dahulu memiliki kemerdekaan belajar.Beberapa kalimat tersebut membuat peserta nobar semakin bertanya, lantas apa itu sebenarnya merdeka belajar ? dan inilah hasil pembelajaran yang kami dapatkan. Ada beberapa esensi merdeka belajar, yaitu : komitmen, kemandirian, dan refleksi. Komitmen. Komitmen adalah fokus terhadap tujuan. Permasalahan kita sebagai pendidik saat ini adalah sulitnya membedakan antara cara dan tujuan. Kita masih terjebak pada tugas administratif dan keterikatan dengan birokrasi, yang seharusnya itu semua hanyalahcara kemudian menjadi tujuan dan prioritas bahkan lebih tinggi dari tujuan awal menjadi pendidik itu sendiri. Kemandirian. Banyak upaya pengembangan guru yang penuh manipulasi berupa insentif atau tunjangan lain yang membuat guru menjadi sulit untuk memegang kendali atas proses belajar dan mencapai kemandirian dalam belajar. Refleksi. Sebagian dari kita cenderung menutup mata dan menolak untuk melihat cermin namun lebih suka menyalahkan pihak lain di luar diri kita. Inilah yang sebenarnya menghambat kita untuk menjadi pendidik yang merdeka. Dari 3 esensi menjadi guru merdeka belajar di atas, saya melemparkan beberapa pertanyaan refleksi. Diskusi berjalan dengan sangat mengalir, satu sama lain saling bersahut memberikan refleksi tanda memiliki keresahan yang sama. 1. Apa yang dipahami tentang merdeka belajar setelah menonton video tersebut ? “Merdeka belajar adalah memiliki komitmen yang kuat terhadap pendidikan yaitu membuat murid menjadi berdaya, memiliki kemandirian terhadap kelas yang kita ajar dan selalu refleksi di akhir pembelajaran. Namun saya membayangkan ini adalah hal yang cukup sulit untuk dilakukan. Mungkin bisa jadi awalnya kita sudah idealis memiliki tujuan kemudian merumuskan cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut, namun seringkali cara tersebut tidak berjalan saat kita dihadapkan pada tekanan-tekanan eksternal, misalnya waktu ulangan yang semakin mepet, agenda sekolah yang semakin sedikit karena penyesuaian kebijakan dan sebagainya. Ditambah lagi, kita masih sering lupa refleksi. Padahal refleksi yang akan membantu kita untuk mengevaluasi diri, proses mana yang terlewat dalam menerapkan merdeka belajar di ruang kelas kita. Hasilnya, penerapan cara yang masih sulit karena banyaknya tekanan dari luar tadi kurang terefleksikan. Proses mengajar berasa menjadi sebuah rutinitas tanpa mengarah pada tujuan” ucap Guru Rayinda 2. Apakah selama ini kita sudah menjadi pendidik yang menerapkan kemerdekaan dalam belajar ? “Saya tidak tahu apakah saya sudah bisa disebut sebagai guru merdeka belajar atau belum, sebab selama ini saya sendiri juga masih terbawa tuntutan untuk mengikuti berbagai macam yang terkadang aturan-aturan tersebut melupakan kemerdekaan belajar bagi murid. Namun sebisa mungkin saya berusaha untuk tetap bisa mengendalikan suasana belajar di kelas saya. Suatu malam tiba-tiba muncul ide untuk menerapkan pembelajaran dengan film, sebagaimana pelatihan yang sudah saya dapatkan melalui KGB Pekalongan bekerja sama dengan Sinedu dan Kampus Guru Cikal. Respon anak-anak luar biasa, mereka bisa refreshing sambil belajar, tanpa menghilangkan sisi pembelajaran. Kebetulan waktu itu adalah watunya belajar tentang unsur intrinsik dan ekstrinsik. Namun itu tadi, terkadang sulit untuk mengatur ritme karena ada tuntutan aturan dari lingkungan ekosistem tempat kami bekerja.” Ucap GuruZidnil 3. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya untuk menerapkan merdeka belajar ? Guru Niam sebagai pendamping kegiatan nobar kami memberikan jawaban yang mencerahkan dan membangun semangat kami kembali. “Oleh karena itu agar kita tidak terlalu kesulitan untuk menerapkan kemerdekaan belajar, hal yang harus kita lakukanadalah dengan mengajak sebanyak-banyaknya teman yang berada di lingkungan ekosistem kita untuk sama-sama merdeka. Dengan begitu kita akan lebih memiliki power untuk bergerak bersama menjadi guru merdeka belajar”. Ya betul, disadari peserta nobar yang datang kala itu berasal dari sekolah yang berbeda-beda. Artinya … Read more