Guru Merdeka Belajar, Belajar tanpa Janji Sertifikat

“Apakah Ibu dan Bapak guru merasa merdeka? Kalau tidak merasa merdeka tidak perlu ada, datang, dan belajar, karena itu resep dasar sebetulnya,” kata Najelaa Shihab. Rabu (1/05) siang, empat orang guru menempuh perjalanan berjarak kiloan meter dari sudut-sudut yang berbeda, di dalam satu kota yang sama, Kota Cimahi. Tepat satu hari sebelum peringatan Hari Pendidikan Nasional. Mereka bergerak atas inisiatif pribadi, mengalokasikan waktu, tenaga, danbiaya untuk bisa sampai ke lokasi SD Peradaban Insan Mulia. Tempat di mana Komunitas Guru Belajar (KGB) Cimahi menggelar Nonton Bareng Merdeka Belajar (#NobarMerdekaBelajar). Kegiatan dibuka oleh Guru Suhud dengan menampilkan beberapa gambar unik, sebagai medium untuk lebih mencairkan suasana di antara peserta. Dilanjutkan dengan kegiatan pra-menonton, seluruh peserta diminta menjawab terlebih dahulu, “Apa itu Merdeka Belajar?” Peserta memperoleh kertas kecil untuk menuliskan jawaban dari pertanyaan tersebut. Selesai menulis, semua peserta mendiskusikan apa yang telah dituliskan. Beragam jawaban peserta mengenai merdeka belajar. Ada yang mendefinisikan, “Merdeka belajar artinya guru dan siswa sepakat dengan tujuan yang hendak dicapai”. Ada juga yang memandang, “Merdeka belajar adalah tanpa paksaan.”. Pendapat lainnya muncul, “Merdeka belajar adalah menjalani belajar sebagaimana fitrah manusia, alamiah dan muncul dari internal diri sendiri.” Di sesi ini, peserta hanya saling menyampaikan pendapat. Berikutnya adalah sesi pemutaran Video Merdeka Belajar. Di ruang yang redup, peserta mulai memfokuskan diri pada tayangan yang diproyeksikan ke layar. Nampak inisiator Komunitas Guru Belajar, Najelaa Shihab berada di atas panggung. Peserta #NobarMerdekaBelajar terlihat mulai membenarkan letak duduk dan memfokuskan perhatian pada apa yang ada dalam tayangan. Dibuka dengan penuturan Bu Elaa, sapaan akrab Najelaa Shihab, mengenai apa dan kenapa ‘Merdeka Belajar’. “Pada saat kita bicara merdeka belajar, Ibu dan Bapak. Saya tuh selalu terbayang anak-anak. Sebagian besar anak Indonesia itu dunianya hanya sebatas ruang kelasnya, mimpinya hanya terbatas tingginya tangan untuk menjawab pertanyaan gurunya,” kata Bu Elaa. Peserta #NobarMerdekaBelajar nampak bereaksi, terdengar tawa kecil yang satir, juga terlihat pergeseran posisi tubuh, kalimat tersebut seperti memantik kegelisahan pada peserta Nobar hari ini. “Yang kita inginkan adalah anak-anak yang punya aspirasi tinggi, yang punya cita-cita melampaui langit. Melampaui batas ruang kelas, melampaui batas dunianya. Dan ini hanya akan terjadi pada saat anak-anak punya kemerdekaan belajar. Tapi kemerdekaan belajar murid-murid hanya akanterjadi pada saat kita sebagai pendidik juga sebetulnya memiliki kemerdekaan,” lanjut Bu Elaa. Ada beberapa hal esensial yang disampaikan dalam tayangan. Dikemukakan bahwa ada 3 ciri utama pendidik yang ‘Merdeka Belajar’. Pendidik yang merdeka memiliki komitmen, memiliki kemandirian, dan selalu reflektif. Selanjutnya, dipaparkan mengenai ragam miskonsepsi yang kerap dilekatkan pada guru. Diantaranya mengenai stigma bahwa guru hanya mau belajar apabila mendapatkan sertifikat atau uang. Namun Guru-guru di KGB justru melawan miskonsepti tersebut. “Guru-guru belajar yang hadir hari ini sebetulnya belajar karena kebutuhan alamiah. Banyak yang tidak percaya bahwa rekan-rekan guru ini datang dengan biaya sendiri, tanpa janji sertifikat atau uang apapun, hanya untuk belajar,”Bu Elaa menegaskan. Miskonsepsi lainnya adalah mengenai stigma bahwa guru hanya bisa belajar dari ahli atau pakar pendidikan, faktanya di komunitas belajar, guru saling belajar dari pengalaman rekan seperjalanan; guru diburu target belajar yang dipaksakan, padahal guru belajar itu butuh waku; bahwa guru hanya cukup perlu diberikan cara bagaimana melakukan (how to) saja, tanpa perlu tau mengapa (why) perlu melakukan suatu hal dalam pembelajaran. Padahal jelas Bu Elaa,”Guru profesional itu sebetulnya guru yang adaptif, Ibu dan Bapak. Kita yang ketemu anak setiap hari tau, betapa pentingnya peran guru yang adaptif. Setiap tahun ajaran, setiap minggu, bahkan setiap hari. Setiap murid kita butuh hal yang berbeda dari kita, sehingga ‘tau kenapa’ menjadi sangat esensial.” Menit ke menit tayangan diputar, akhirnya sampai pada menit terakhir. Selepas Nobar, peserta melakukan refleksi bersama-sama. Ada daftar pertanyaan yang perlu dijawab terlebih dahulu oleh masing-masing orang, selanjutnya jawaban dari tiap orang menjadi bahan diskusi pasca-Nobar.Dari refleksi peserta yang hadir, didapati salah satu tantangan yang masih menjadi topik hangat adalah seputar ‘target belajar yang dipaksakan’ dan ‘tuntutan administratif yang kerap kali mengaburkan komitmen pada tujuan pendidikan.’ “Banyak yang tidak sadar bahwa belajar butuh waktu. Sehingga yang dikejar adalah yang penting materi (red-pelajaran) tersampaikan,” ungkap salah satu peserta Nobar, Gilang Purnama. Mengenai perubahan apa yang kemudian ingin dilakukan, peserta lain Siti Nuraini mengemukakan, “Saya ingin menanamkan motivasi intrinsik siswa, apa alasan siswa harus belajar? Sehingga siswa mempunyai kesadaran dan kebutuhan, juga dorongan untuk belajar yang berasal dari dalam dirinya sendiri.” Pertanyaan terakhir yang menjadi topik diskusi adalah “Apa yang ingin teman-teman lakukan bersama Komunitas Guru Belajar (KGB)?”. Diskusi berkembang pada bahasan lebih dalam mengenai KGB. Tentang tujuan dan nilai-nilai yang melandasi KGB. Juga dinamika yang terjadi di dalam KGB,khususnya KGB Cimahi. Dan bahasan mengenai KGB menjadi penutup kegiatan hari ini sekaligus menjadi awal bergabungnya Gilang dan Siti sebagai bagian dari ‘Penggerak KGB Cimahi’. “Kita sendiri sebagai individu itu beragam sehingga yang kita lakukan di sini adalah membuat jaringan, jaring pengetahuan juga jaring emosional. Dan saya yakin inilah sesungguhnya demokrasi dalam pendidikan. Dan saya yakin kita bisa sepakat bahwa membuat jaring-jaring ini dan memerdekakan diri kita sendiri sebetulnya esensi dari merdeka belajar. Bahwa apa yang kita lakukan adalah yang kita nanti-nantikan. Jadi kita tidak perlu menunggu siapapun untuk merdeka belajar.” Kata Bu Elaa pada menit-menit terakhir video yang “Memerdekakan diri kita sendiri sebetulnya esensi dari merdeka belajar. Bahwa apa yang kitalakukan adalah yang kita nanti-nantikan. Jadi kita tidak perlu menunggu siapapun untuk merdeka belajar.” tutup Bu Elaa dalam tayangan Video Merdeka Belajar.

Kenapa Guru Harus Melek Film?

“Wah parah ini film tidak mendidik!” “Hati-hati ya para guru, film ini tidak cocok ditonton anak-anak” Sering mendengar perkataan ini? Atau bahkan petisi? Sebenarnya yang salah filmnya atau jangan-jangan kita yang belum melek film? Nah lho…. Film selalu menjadi media belajar yang menarik bagi murid, Baik itu dari jenjang kelas paling kecil PAUD sampai tingkat SMA. Saya teringat ketika dulu waktu masih sekolah, ketika SMP saya selalu antusias ketika ada kegiatan menonton film. Sekalipun ada tugas mencatat kosata yang terdapat di dialog semua terasa menyenangkan. Banyak alasan yang membuat film menjadi media belajar yang menarik. Dalam film ada gambar dan suara sehingga cenderung lebih atraktif bahkan terkadang anak-anak bisa hanyut dalam alur ceritanya. Namun yang perlu disadari terkadang guru belum menggunakan film dengan baik dan maksimal. Waktu dulu saya mengajar, terkadang guru-guru membuat kegiatan menonton film yang tidak sesuai dengan anak. Misalnya film yang berbahasa Inggris dengan durasi panjang untuk kelas 1 SD, sedangkan anak-anak belum paham bahasa Inggris sehingga anak-anak sibuk bermain sendiri. Guru juga cenderung kebingungan membuat kegiatan setelah menonton film. Sedikit fenomena yang terjadi, membuat Sinedu bekerjasama dengan Kampus Guru Cikal mengadakan Guru Melek Film. Apa itu Guru Melek Film? Guru Melek Film merupakan program pemberdayaan guru untuk menjadi penggerak literasi film di daerahnya. Kegiatan berupa pelatihan dalam rangka peningkatan kompetensi dan pengalaman memanfaatkan film sebagai media belajar yang menarik dan bermanfaat serta mampu menciptakan interaksi dalam kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Tanggal 27 April 2019 lalu, Sinedu dan Kampus Guru Cikal mengadakan pelatihan Guru Melek Film di Pekalongan. Pernah nggak nonton film yang sebenarnya untuk umur 17+ tapi ada orang tua yang membawa anak di bioskop beberapa menit kemudian orang tua tersebut keluar dari bioskop? Pengalaman tersebut sama persis dengan yang dirasakan salah satu peserta, Pak Ahyat “Dulu saya punya pengalaman nonton sama anak saya. Kapok. Karena nggak sesuai ternyata untuk anak-anak. Sebaiknya memang menonton filmnya terlebih dahulu, sebelum menonton bersama anak-anak”  ujar beliau ketika sesi cerita pengalaman menonton film. Ada tips dari Sinedu “Bagaimana agar sebagai orang dewasa tidak salah pilih film?” Baca dulu sinopsi film Lihat dulu batasan umur filmnya Lalu, Bagaimana penggunaan film untuk pembelajaran? Seperti saat mengajak anak menonton film di bioskop, begitu pula untuk pembelajaran. Guru perlu memilih film yang tepat. Bagaimana caranya?    Memilih Film Yang Tepat Identifikasi kebutuhan pembelajaran, siswa dan guru. Cari referensi film di www.sinedu.id atau website lain. Pilih film sesuai dengan rating usia dan genre yang tepat. Tonton film dan buat catatan hal-hal menarik sepanjang film. Menurut beberapa peserta mengaku bahwa sering kali film yang dipakai tidak ditonton dulu atau terkadang asal pilih karena piihan terbatas.   Karena itu Guru harus Melek Film! Dengan guru yang melek film, guru menjadi pemikir yang kritis. Guru memiliki kemampuan evaluasi dan memahami, Di akhir sesi, peserta diajak menonton film yang ada dalam daftar website Sinedu. Setelah itu, peserta secara berkelompok membuat pembelajaran dengan menjadikan film sebagai media pembelajaran. Salah satu peserta melakukan simulasi pengajaran, setelah menonton film murid-murid diajak untuk melakukan aktivitas yang sama seperti yang ada di film. Menurut salah satu peserta mengaku bahwa sekarang menjadi lebih terbuka tentang pemanfaatan film sebagai media pembelajaran. Tidak hanya menonton lalu tanya jawab seputar film, tetapi bisa dihubungkan dengan pembelajaran lain, Misal olahraga atau bermain drama. Selain itu juga bisa dengan media atraktif seperti bermain dadu. Salah satu peserta dari KGB Pekalongan Pak Wahyu berinisiatif untuk membuat boardgames film. Guru, Belum Melek Film? Yuk ikutan Guru Melek Film yang akan diadakan di kota-kota lain. Tunggu pengumuman di Instagram Kampus Guru Cikal @KampusGuruCikal  

Udinus Berdayakan Teknologi untuk Mahasiswa Penyandang Disabilitas

“Sepuluh tahun yang lalu, ada salah satu orangtua mahasiswa yang meminta anaknya yang notabennya penyandang disabilitas untuk bisa mengenyam pendidikan di Udinus. Kami belum punya pengalaman untuk mendampingi anak berkebutuhan khusus belajar, namun bagi kami ini tantangan. Akhirnya kami terima, dan kami kemudian mencari cara agar anak tersebut bisa belajar dengan maksimal.” , tutur Prof Dr Ir Edi Noersasongko M.Kom Rektor Universitas Dian Nuswantoro Semarang (Udinus) yang kami temui Kamis (16 Mei 2019) di Gedung rektorat Udinus, Semarang. Dalam pertemuan bertajuk audiensi program Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas untuk NusantaRun 6 ini rektor Udinus menceritakan bagaimana Udinus memulai kepeduliannya dengan mahasiswa penyandang disabilitas. Seperti cerita di atas, untuk menghadapi tantangan tersebut pak Edi meminta beberapa dosennya untuk belajar, membuat riset mengenai penyandang disabilitas. Ternyata, usahanya tidak sia-sia, banyak dosen yang akhirnya tergerak membuat riset mengenai penyandang disabilitas. Misalnya Muljono S.Si, M.Kom dosen Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) yang mengembangkan Sistem Sintesis Ujaran Audio-Visual (SSUAV) untuk Bahasa Indonesia yaitu sebuah sistem yang dapat membangkitkan ujaran audiio visual secara simultan dari teks yang diinputkan, sistem tersebut memanfaatkan alat bernama Job Access With Speech (JAWS). Sistem dan alat ini mampu membantu para tunanetra untuk menggunakan komputer. Dalam kerjanya aplikasi tersebut membaca layar komputer dan mampu melafalkan teks. Selain Muljono, mahasiswa Teknik Biomedis Udinus juga menciptakan kursi roda berteknologi modern yaitu bisa berjalan hanya dengan kendali jari. Dari riset tersebut banyak mahasiswa penyandang disabilitas terbantu, salah satunya adalah Eka Pratiwi Taufanti, mahasiswa jurusan S1 Sastra Inggris Udinus ini berhasil menemukan jalan kariernya sebagai penulis saat belajar di Udinus. Berikut salah satu tulisan Eka : “Aku tentu bangga dan bahagia dengan apa yang kudapat sekarang ini. Memang yang kudapat ini belum apa-apa jika dibandingkan dengan teman-teman lainnya, namun aku tetap bersyukur karena meskipun aku harus tinggal berpisah dengan orang tuaku yang berjualan pecel serta nasi di luar jawa, namun aku bisa tetap melanjutkan pendidikanku. Pelita di kedua mataku kini memang telah tiada , terganti gulita yang sesakkan dada. Namun berkat rasa syukur dan mimpi yang berpijar dalam jiwa, gulita itu seolah bukan apa-apa. Pelita lain, pelita baru yang lebih benderang dari cahaya optic pada indera penglihatanku kini berpijar, menyinari kehidupan seorang anak manusia yang dianugerahi sebuah ketunanetraan, seorang anak manusia yang meski memiliki keterbatasan namun tetap memiliki mimpi sebesar bahkan lebih besar dari mereka; individu-individu yang sempurna secara fisik. Seseorang dengan keterbatasan nyatanya dapat menembus keterbatasan tanpa batas, berlari mengejar mimpi dengan keyakinan penuh dalam hati. Bagiku hidup adalah berawal dari mimpi, maka jangan takut bermimpi karena ketika kita takut bermimpi, kehidupan ini tak akan ada untuk kita. Kuncinya, ikhlas dengan takdir yang ada and do believe that God will give a hand for us!!” Udinus memang tak main-main dengan apa yang mereka lakukan untuk penyandang disabilitas, pada tahun 2017 Udinus mengundang perwakilan organisasi dan komunitas difabel untuk mengikuti Focuss Group Discussion (FGD) untuk menyusun bahan ajar yang aksesibel bagi mahasiswa difabel netra. Dalam audiensi tersebut, Kampus Guru Cikal yang diwakili Bukik Setiawan dan Rizqy Rahmat Hani ini mengajak Udinus menjadi salah satu perguruan tinggi tujuan calon mahasiswa penyandang disabilitas untuk program Pengembangan Murid Disabilitas. Gayung bersambut, pak rektor menyambut hangat ajakan kami.

Guru Merdeka Belajar ,Mengulik Miskonsepsi Guru Belajar

Apa sih merdeka belajar itu?Kenapa belajar harus merdeka?Lho kok belajar ada miskonsepsinya? Bagaimana cara agar bisa merdeka belajar dan menangani miskonsepsi itu? Pada tanggal 12 Mei 2019 KGB kudus mengadakan nobar atau nonton bareng video Guru Merdeka Belajar. Apa pentingnya sih acara nobar ini?Di dalam video guru merdeka belajar ini, mengulik keseluruhan miskonsepsi dalam pendidikan di era sekarang. Banyak sekali yang menjadi penghambat guru mengembangkan dirinya, dan mungkin menyebabkan pembelajaran di kelas jadi “membosankan” alias “bikin ngantuk!”. Tidak hanya miskonsepsi yang dibahas dalam kegiatan nobar ini, ada pula cara bagaimana menjadi guru yang merdeka belajar. Nah dari sini kita bisa tau, kenapa bisa begitu? Bagaimana solusinya agar guru bisa merdeka belajar serta mengembangkan dirinya? Ada beberapa susunan acara, sebelum pemutaran video, moderator menanyakan apa yang dipahami oleh peserta tentang merdeka belajar. Guru Shofi berpendapat, “Merdeka belajar tanpa terlalu terkekang dengan administrasi”. dan ada juga yang berpendapat Guru Ayu, “Guru yang dapat memotivasi diri sendiri untuk menciptakan hal baru dalam pembelajaran dan mampu belajar terus”. Kemudian dilanjutkan dengan pemutaran video dengan durasi 15 menit. Dalam video tersebut memaparkan beberapa cara mejadi guru yang merdeka belajar dan miskonsepsi yang memang terjadi sekarang ini. Menjadi guru yang merdeka belajar terdapatbeberapa hal yang essensial, pendidik yang merdeka itu punya komitmen, memiliki kemandirian dan berefleksi. Berkomitmen dengan tujuan, yang menjadi tantangan dalam hal ini adalah kita lupa membedakan cara dengan tujuan. Kita terjebak pada tugas – tugas administratif, akkreditasi, ketentuan birokrasi yang sebenarnya semua hanya cara namun kemudian menjadi tujuan dan prioritas utama. Hal yang kedua kemandirian, ini perlu adanya tingkatan – tingkatan seperti manipulasi, kesadaran, interaksi/dialog, masukan/konsultasi, kemitraaan, pemberdayaan, memegang kendali atas proses belajar kita sendiri dan mejadi guru mandiri. Melakukan tingkatan – tingkatan tersebut bukan lah hal mudah tentunya, perlu konsistensi yang tinggi untuk menuju puncak tingkatan. Yang terakhir adalah refleksi, yang mudah dikatakan namun sulit untuk melakukan. Kita cenderung menutup mata menolak melihat cermin dengan seribu alasan. Kita selalu bilang, masyarakat belum paham, anak – anak tidak mengerti, orang tua akan menentang, padahal itu adalah ketakutan kita sendiri untuk menuju berubahan. Menjadi guru yang merdeka belajar tentu ada hambatan dan permasalahan yang kompleks di era pendidikan sekarang. Adanya beberapa miskonsepsi seperti belajar diburu target yang dipaksakan, sedangkan belajar itu sendiri butuh waktu. Bukan hanya 1 hari 2 harimateri selesai untuk mengejar kompetensi dasar untuk memenuhi nilai capaian KKM. Belajar cukup terbatas “How to?” padahal belajar harus dengan tujuan dalam konteks. Tak melulu membaca buku teks mejawab pertanyan, mengisi LKS, namun harus ada penjelasan dan contoh yang mungkin bisa berupa pengamatan sederhana dikaitkan dengan kehidupansehari- hari agar mengena. Bagaimana guru dapat mengatasi permasalahan tersebut? Jawabannya adalah guru harus merdeka belajar. Guru mau belajar kembali. Bukan belajar perlu intensif eksternal, bukan hanya untuk mendatkan sebuah poin tertentu, ataupun sebuah penghargaan namun belajar sebagai kebutuhan alamiah. Harus membaca lagi, harus melakukan riset dengan hasil inovasi pembelajar yang mampu diterapkan didalam kelas. Terakhir belajar tak melulu harus dari ahli namun bisa belajar dari sesama guru. Saling berbagi informasi dan pengalaman, materi maupun treathmen terhadap anak yang perlu perlakuan “khusus” dikelas dengan berbincang santai tapi penuh makna. Setelah pemutaran video, peserta diajak untuk merefleksikan dengan durasi 30 menit. Beberapa peserta mengutarakan pengalamannya berkaitan denga miskonsepsi tersebut. Seperti contohnya miskonsepsi belajar perlu intensif eksternal, Guru Shofi berpendapat, “Kebanyakan guru yang mau belajar hanya untuk mendapatkan sertifikat dan imbalam sekolah.” Dalam konteks miskonsepsi lainnya belajar diburu target yang dipaksakan, Guru Tika berpendapat,“Terkait administrasi dan untuk mengejar akreditasi nilai siswa harus mencapai KKM bagaimanapun caranya.” dan masih banyak pendapat lainnya yang muncul terkait miskonsepsi guru merdeka belajar dilingkungan sekolah. Selain pendapat tersebut banyak peserta yang mengemukakan pendapat untuk mengembangkan beberapa inovasi yang menjadi salah satu langkah memerdekakan kelasnya, salah satunya ingin membuat sebuah produk dari KGB Kudus yang dapat dimanfaatkan dan ditiru oleh guru-guru tidak hanya tersekat dalam ruang kelas, namum dapat memanfaatkan apa yang ada dilingkungan sekitar untuk menjadi media belajar. Melakukan sebuah perubahan dan meminimalisir miskonsepsi ini, resep utamanya adalah guru yang mau terus belajar. Mencari bagaimana cara membuat inovasi,mengembangkan diri menjadi guru yang merdeka belajar, dengan tahapan berkomitmen dengan tujuan, meningkatkan kemandirian dengan memegang kendali proses belajarnya sendiri, yang selalu membuka mata hati dan pikiran untuk melakukan refleksi diri. Tentunya dengan penuh semangat, kesadaran maupun rasa tanggung jawab agar tujuan pembelajaran tercapai dan bermakna menuju perubahan pendidikan Indonesia yang lebih baik lagi.

Pendidikan adalah Urusan Kita Bersama – Kolaborasi Komunitas Banjarnegara

Tanggal 2 Mei 2019, kita semua memperingati Hari Pendidikan Nasional. Pendidikan yang dinilai sebagai salah satu tolak ukur kemajuan bangsa, seringkali dianggap sebagai urusan sebagian orang saja. Pendidikan dianggap sebagai urusan dinas pendidikan, guru, sekolah dan pemerintah. Padahal semua orang yang pernah merasakan pendidikan, sejatinya memiliki kewajiban untuk mendidik. Semua orang sebenarnya bisa terlibat di dunia pendidikan. Berbagai kegiatan mulai dari rumah baca di sekitar lingkungan rumah kita, sampai komunitas-komunitas sosial pendidikan banyak bermunculan dengan inisiatif sebagian orang. Terkadang banyak orang seolah menutup mata dengan keberadaan rumah baca dan komunitas sosial pendidikan di sekitar mereka. Sehingga perlu diadakan kegiatan yang melibatkan semua penggerak komunitas untuk bersama-sama mengajak lebih banyak orang untuk bergabung. Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional 2019, beberapa komunitas sosial pendidikan dan rumah baca mengadakan sosialisasi di area Car Free Day Alun-alun kota Banjarnegara. Acara dimulai dari pukul 06.00 sampai 09.00 WIB. Penggerak masing-masing komunitas ternyata memiliki kendala yang sama dalam menjalankan program-programnya, yaitu kurangnya relawan yang mau terjun langsung bergerak untuk pendidikan. Oleh karena itu, mereka berinisiatif bergerak bersama untuk menunjukkan pada masyarakat, bahwa di kota Banjarnegara memiliki berbagai organisasi dan komunitas yang sangat terbuka untuk semua orang yang ingin berkontribusi di dunia pendidikan. Beberapa komunitas yang terlibat di acara ini antara lain, Sekolah Inspirasi Pedalaman Banjarnejara, Kampung Dongeng Banjarnegara, Sahabat Difabel Banjarnegara, Rumah Baca Komunitas Kauman Banjarnegara, Sekolah Cerdas (Ceria, Damai, Siaga) dan Komunitas Guru Belajar Banjarnegara. Rumah Baca Komunitas Kauman Banjarnegara mengadakan baca buku gratis untuk anak- anak dan orang dewasa. Kampung Dongeng Banjarnegara mengedukasi anak-anak melalui cerita menarik oleh Kak Mifta Resti dan boneka kecilnya Kia. Cerita yang disampaikan sesuai dengan tema dari Sekolah Cerdas, yaitu mengajarkan anak-anak untuk siap siaga terhadap bencana alam gempa bumi dan tanah longsor. Hal ini penting karena Banjarnegara sendiri adalah daerah yang rawan terhadap bencana alam gempa bumi dan tanah longsor. Sekolah Cerdas juga memberikan edukasi kesiapsiagaan bencana melalui permainan papan (board game) yang sangat menarik untuk anak-anak. Ada juga Komunitas Sahabat Difabel yang bekerjasama dengan Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia), mengadakan Kelas Bahasa Isyarat kepada para pengunjung Car Free Day secara gratis. Banyak masyarakat belum mengetahui cara berkomunikasi yang nyaman dengan teman-teman penyandang difabel rungu. Para pengunjung terlihat antusias mengikuti Kelas Bahasa Isyarat dan mengusulkan agar kegiatan ini diadakan secara rutin. Sekolah Inspirasi Pedalaman Banjarnegara melakukan sosialisasi kegiatan dan penggalangan dana dengan menjual merchandise yang keuntungannya untuk donasi kegiatan di desa Pesangkalan. Komunitas Guru Belajar Banjarnegara mengajak masyarakat khususnya yang berprofesi sebagai guru untuk mengikuti Temu Pendidik Daerah yang akan dilaksanakan setelah Car Free Day di Rumah Baca Komunitas Kauman. Temu Komunitas Pendidikan se-Banjarnegara yang awalnya hanya diinisiasi oleh 4 orang penggerak akhirnya berhasil mengajak banyak orang yang terlibat dengan sukarela. Walaupun kegiatan ini berlangsung mendadak dan terkesan kurang persiapan yang matang, namun kami yakinini tetap memberikan dampak positif untuk masyarakat Banjarnegara. Setidaknya banyak orang yang lebih mengenal komunitas sosial pendidikan dengan lebih dekat. Banyak juga relawan yang merasa lebih ringan jika bekerja bersama-sama. Karena urusan pendidikan bukan hanya urusan segelintir orang saja, maka kami memilih kerja barengan untuk pendidikan yang lebih baik.

Kobarkan Semangat Merdeka Belajar

Bertepatan dengan momentum Hari Pendidikan Nasional, KGB Semarang mempersembahkan sebuah event berbasis pelatihan bertemakan “Guru Merdeka Belajar”. Pelatihan ini tercipta dari sebuah amanah yang diberikan Kampus Guru Cikal kepada Komunitas Guru Belajar Semarang. bertempat di Qita Yoga Studio Jalan Kyai Saleh 13 Semarang, acara ini berlangsung dari pukul 08.00 hingga 12.00 WIB. Guru Merdeka Belajar, sebuah tagline yang tidak asing kita dengar namun, sudahkah semua guru memaknai arti di dalamnya? Pelatihan Guru Merdeka Belajar bertujuan supaya seorang guru mengalami pengalaman merdeka belajar, memahami hakikat belajar dan memahami miskonsepsi guru belajar. Merdeka belajar adalah sebuah pondasi untuk pengembangan diri seorang guru serta sebagai wadah untuk melakukan praktik pembelajaran yang bermakna untuk murid. Diikuti oleh kurang lebih 20 peserta, pelatihan berjalan begitu aktif dan kondusif. Acara yang berlangsung kurang lebih 3 jam ini pertama-tama dipandu oleh Guru Rosa dari KGB Semarang. Tak pernah lupa untuk mencairkan suasana pelatihan GMB ini, maka diawalilah dengan ice breaking dan beberapa games. Memasuki acara selanjutnya, yaitu orientasi yang dibawakan oleh Guru Erna. Orientasi ini meliputi pembahasan kesepakatan kelas, pengisian SIP oleh peserta pelatihan dan memastikan bahwa peserta telah mengisi assessment Pra Pelatihan GMB. Sebuah kata membuka sesi pertama acara inti ini, “Sebenarnya setiap saat seorang guru mempunyai pengalaman yang sangat berharga. namun sayang, tak ada yang mau mendengarkan pengalaman itu, termasuk guru itu sendiri.” Guru Anik sebagai narasumber lantas memaparkan beberapa masalah dan miskonsepsi yang ada di pada dunia pendidikan. Kemudian Guru Anik juga memvisualisasikannya dengan mengajak peserta pelatihan untuk role playing terhadap suatu pembelajaran di kelas menggunakan metode direct instruction dan diferensiasi. Awalnya peserta dibagi menjadi beberapa kelompok, dan setelah role playing usai, peserta diminta untuk mendiskusikan perbedaan yang ada pada dua metode. Dari hal tersebut, Guru Anik menarik benang merah tentang apa itu merdeka belajar dan bagaimana praktiknya dalam kelas. Para peserta juga melakukan refleksi individu, kemudian refleksi berkelompok terkait jenis pengajaran yang bagaiman yang harus dihentikan, mana yang dilanjutkan dan mana yang diperbaiki. Pada sesi kedua, Guru Anik memutarkan sebuah video pendek dari seorang sosok guru yang menginspirasi bernama Ameliasari dari Salatiga. Peserta dibuat terkagum-kagum akan perubahan dari Guru Amel yang awalnya hanya mementingkan hasil semata menjadi guru yang memperhatikan proses juga menginspirasi. Pelatih juga mengajak peserta untuk memahami pengembangan diri guru, kompetensi yang ada pada guru serta karier guru melalui 4 kunci pengembangan guru. Pelatihan semakin terasa kebermanfaatannya setelah memasuki sesi tanya jawab. Bahkan kisah haru pun tercurahkan dari seorang peserta pelatihan yang menceritakan tantangannya mempraktikkan dan mengajak rekan sesama pendidik mengobarkan semangat merdeka belajar dalam kelas. Tak mudah memang, apalagi sampai dibilang “Anak kemarin sore kok begitu”. Sesi pelatihan ini ditutup dengan refleksi dan pemberian challenge untuk peserta pelatihan. Binar mata seorang guru yang merdeka belajar pun mulai terpancar dari para peserta pelatihan GMB ini. Tetap kobarkan semangat merdeka belajar kepada sesama pendidik dan menjadi teladan sepanjang hayat bagi para murid. Mengajar dengan sepenuh hati, bukan lagi tergoda oleh sertifikasi maupun nilai-nilai kompetensi. Saya Guru Merdeka Belajar. Semarang, 2 Mei 2019Komunitas Guru Belajar Semarang.

Guru Merdeka Belajar, Melakukan Refleksi Terhadap Miskonsepsi Belajar

Pada hari Minggu, 5 Mei 2019 jam 09.00 WIB, Komunitas Guru Belajar (KGB) Depok mengadakan kegiatan Temu Pendidik Daerah Depok ke-14 (TPD Depok #14) bertempat di Space room Perpustakaan Umum Kota Depok. TPD Depok #14 ini memiliki kegiatan inti Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar. Kegiatan TPD Depok #14 ini dimoderatori oleh saya sendiri Lia, sebagai salah satu penggerak dari KGB Depok. Kegiatan yang seharusnya dimulai jam 09.00 ternyata baru dimulai pada pukul 09.30 dikarenakan pada jam 09.00 jumlah peserta yang datang baru 4 orang dari 18 orang yang konfirmasi hadir. Setelah menunggu 30 menit akhirnya kegiatan dibuka dengan peserta yang hadir 6 orang. Setelah Kegiatan ini dimulai dengan pembukaan dan kesepakatan bersama supayakegiatan ini berjalan nyaman dan lancer, peserta diminta untuk mengisi daftar hadir online. Meski mengalami keterlambatan acara, tetapi tidak menyurutkan semangat peserta hal ini terlihat saat saya selaku moderator menanyakan “Apa yang Anda pahami tentang Merdeka Belajar?” Walau sebagian peserta ada yang berkata bahwa mereka baru mendengar kata Merdeka Belajar tetapi mereka mau memberikan pandangannya mengenai Merdeka Belajar itu sendiri. Bagi mereka Merdeka Belajar adalah suatu kebebasan untuk guru berekspresi dalam mengajar dan berkembang dalam belajar serta tidak tertuntut administrasi yang berjubel. Masuk ke kegiatan inti yaitu nonton bareng Guru Merdeka Belajar sebuah video Ibu Najelaa Shihab pada Temu Pendidik Nusantara 2016. Selesai menonton moderator melakukan refleksi. Pada pertanyaan pertama, mengenai miskonsepsi pendidikan, peserta antusias menceritakan kondsi yang mereka alami. Salah satunya adalah Bu Levy dari MTsN 1 Depok. Beliau mengatakan bahwa rekan-rekan guru di sekolahnya masih mencari insentif dan sertifikat dalam belajar, padahal belajar adalah kebutuhan kita sebagai guru. Dan pemerintah pun memaksa kita untuk belajar pada yang ahli, sertifikat menjadi bukti bahwa kita mengikuti pelatihan dan sebagai syarat dalam kenaikan pangkat serta jenjang karir guru. Semua peserta menyetujui dan sepakat bahwa menjadi guru merdeka belajar haruslah memiliki komitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara belajar dan melakukan refleksi, walaupun menurut Kak Faiz melakukan refleksi bagi seorang guru itu cukup sulit karena terkadang ego kita seperti tidak mau disalahkan ketika kegiatan tidak berjalan sesuai rencana. Disini, semua peserta mau menjadi Guru Merdeka Belajar dan telah membuat komitmennya masing-masing dan akan melakukan perubahan pada kelasnya, salah satunya adalah Bu Pipit yang mengatakan bahwa beliau ingin lebih berkomunikasi dengan siswa-siswanya di TPA, bahwa belajar adalah kebutuhan mereka bukan karena paksaan orang tua, dan mau lebih variatif dalam mengajar sehingga siswa dapat merasakan pula kemerdekaan belajar. Sebelum kegiatan ditutup moderator meminta peserta untuk melakukan posting barengan, dan dilanjutkan dengan kegiatan foto bersama serta ramah-tamah. Pada kegiatan TPD Depok #14 ini peserta membawa makanan sendiri dan saling berbagi dengan peserta yang lain (potluck).

Merdeka Belajar, Mengembalikan Tujuan Guru Belajar

“Merdeka belajar” itulah kata yang sering kita dengar di komunitas guru belajar. Guru belajar, akhir-akhir ini itulah yang dilakukan oleh banyak guru disetiap pelosok negeri salah satunya guru-guru MI Walisongo Kranji 01, Pekalongan yang terus belajar, dan salah satu bentuk realisasinya adalah dengan mengadakan In House Training atau biasa disebut IHT setiap hari senin dan juga diskusi santai yang dilakukan beberapa guru disela-sela kesibukan sekolahan. Namun seiring waktu kadang kita lupa apa itu tujuan guru belajar? Apakah berubah hanya sebagai formalitas atau adat sekolah saja tanpa ada esensi lain. Dari hal tersebutlah diadakan nonton bareng video Merdeka Belajar pada hari Kamis, 2 Mei 2019 bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Video yang ditayangkan ini adalah cuplikan dari kegiatan Temu Pendidik Nusantara tahun 2016, dimana Ibu Najelaa shihab (Pendiri Kampus Guru Cikal dan Inisiator Komunitas Guru Belajar) membahas tentang Merdeka Belajar. Banyak yang dijelaskan oleh Ibu Najelaa Shihab tentang merdeka belajar. Beliau mengatakan bahawa kemerdekaan itu bukan diberikan begitu saja, namun harus diperjuangkan yakni melalui guru yang belajar, agar sampai pada yang dinamakan guru merdeka belajar. Video ini sangat tepat untuk memantapkan sebuah tujuan dari kegiatan yang sering dilakukan oleh guru belajar sehingga menjadi menjadi sebuah komitmen. Tujuan guru belajar adalah melawan miskonsepsi tentang proses guru belajar, karena banyak yang mengatakan guru hanya mau belajar jika mendapat insentif, guru hanya mau belajar jika mendapat sertifikat atau uang. Dan guru yang belajar di MI Walisongi Kranji 01 mau membuktikan bahwa guru belajar karena kebutuhan alamiah. Miskonsepsi tentang bahwa guru hanya bisa belajar dari para ahli, dari pakar pendidikan, padahal belajar paling efektif adalah belajar dari sesama guru karena guru butuh figur yang realistis yakni adalah teman sesama guru dan masih ada miskonsepsi lain. Jadi, Apa Merdeka Belajar? Banyak dari peserta nonton bareng ini begitu antusias untuk mengajukan pertanyaan atau sekadar curhat tentang keluh kesahnya menjadi seorang guru. Salah satunya Pak Azam (Guru MI Kranji 01) yang mempertanyakan “Apakah konsep merdeka belajar sejalan dengan kompetensi guru pedagogik, kepribadian, profesional, sosial?” pertanyaan tersebut dijadikan bahan diskusi antarguru, ada yang mengatakan saling mengisi, ada yang mengatakan kedua hal itu sejalan pun juga ada yang mengatakan, “Merdeka belajar adalah praktik dari kompetensi guru tersebut.” Banyak hal yang didiskuskan di dalam acara nobar tersebut, mulai dari apa yang di maksud dengan cita-cita anak yang melampaui batas, bagaimana sudut pandang tentang bahwa anak belajar butuh waktu , sedangkan realitanya di sekolahan konvensional guru selalu dikejar waktu untuk menyelesaikan materi sesuai target bahkan terkadang tidak peduli apakahanak-anak sudah menguasai materi tersebut atau belum, juga membahas tentang bagaimana merdeka belajar di kelas. Diskusi pun berjalan hangat dan renyah. Seluruh petanyaan yang muncul setelah sesi nobar, terjawablah semuanya, dan terjawab bersama dengan cara diskusi, sehingga diakhir acara nobar terwujudlah kesepahaman. karena setiap persoalan yang muncul dalam acara tersebut diselesaikan bersama, bukan oleh hanya satu orang. Itulah yang dibutuhkan oleh seorang guru, ngobrol atau diskusi tentang persoalan pendidikan yang membuat guru menuju pada merdeka belajar yang sesungguhnya. Bukan membahas administrasi saja, tapi yang terpenting adalah ekosistem dari pembelajaran kita, belajar kita bersama anak yang kadang perlu senantiasa diobrolkan dengan sesama guru, karena dengan mengobrol sesama guru, diskusi sesama guru, belajar sesama guru adalah hal tepat karena gurulah yang secara realitas hadir disekitar anak. MI Walisongo Kranji 01 berharap kedepannya praktik positif seperti ini bisa ditularkan ke teman-teman guru lain tidak hanya di MI kranji 01. Memang saat ini belum bisa mempraktikkan seluruh praktik baik dari komunitas guru belajar namun setidaknya kita di awal memulai untuk mengadaptasi sesuatu yang setidaknya kita bisa coba terlebih dahulu.

Guru Merdeka Belajar, Reflektif dan Merancang Perubahan

Kegiatan Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar ini merupakan Temu Pendidik Sekolah (TPS) yang pertama diadakan di Aurora Fast and Fun Bandung. Kegiatan ini dilaksanakan tanggal 4 Mei 2018. Diadakan karena kesadaran bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, maka diperlukan kolaborasi dengan semua orang dan semua peran. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan ekosistem pendidikan yang lebih baik. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama Para pengajar kami memiliki peran sebagai pengajar dengan motivasi yang berbeda-beda. Tak banyak yang memiliki passion tinggi terhadap peran dan bidangnya di dunia pendidikan. Hal ini menjadi sebuah tantangan ketika membahas tentang guru merdeka belajar. Tantangannya adalah para pengajar akan merasa bahwa bahasan hari itu tidak penting. Saya membayangkan akan lahir suara-suara dalam batin para pengajar seperti : “Apa sih nih acara gak penting banget. Dengan pendidikan saja aku tak peduli. Dengan proses belajar saja aku tak suka. Apalagi membahas tentang guru merdeka belajar. Ahhh…”Karenanya menurut saya menjadi penting, bersama-sama menyadari bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Pada hari itu, kami menyimpulkan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, dengan cara mengamati bagian awal video Pesta Pendidikan 2019: Ngobrol Publik Online berikut dan video Lihatlah Pengaruh Tontonan TV pada Anak (https://youtu.be/-U5DOVoVhdU) . Salah satu yang paling mengena dari video tersebut adalah ketika anak-anak berkata bahwa selain dari orang tua dan keluarga, mereka juga belajar dari youtube. Hal itu menunjukkan bahwa anak-anak belajar dimana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja yang ada di sekitarnya. Tak masalah bila belajar dari youtube dengan content yang sesuai dengan usianya. Kenyataannya anak-anak yang alamiahnya memiliki kuriositas tinggi, akan tertarik dengan content yang menarik, tak peduli apakah content tersebut sesuai dengan usianya. Dan kenyataan inilah yang ada di sekitar kami. Dengan ini kepedulian kami terhadap pendidikan anak-anak pun meningkat. Belajar adalah kebutuhan alamiah Kepedulian terhadap belajar telah meningkat. Kesadaran bahwa belajar adalah kebutuhan pun perlu mengalami peningkatan. Bukan lagi bicara tentang suka atau tidak suka dengan belajar. Namun berbicara tentang belajar sebagai kebutuhan. Saya berpandangan bahwa seseorang akan merasa butuh, apabila ia merasakan adanya gap (kesenjangan) antara harapan dan kenyataan. Maka saya bertanya, “Sebagai orang tua atau calon orang tua, apa harapan Anda dalam mendidik anak sendiri? Sebagai pengajar, apa harapan dalam mendidik siswa? Adakah pengalaman yang menunjukkan kekuranganmasing-masing dari dIri kita, dalam mendidik mereka, dan apa dampaknya?” Penuh luapan emosi. Itu tiga kata yang menggambarkan kondisi saat itu ketika para pengajar menjawab tiga pertanyaan tersebut. Seorang pengajar di masa lalunya menginginkan agar dirinya menjadi dokter namun tidak didukung oleh orang tuanya, ia merasa masa depannya tidak ditentukan oleh dirinya sendiri, ia merasa tidak berdaya, sehingga ia bertekad tidak akan pernah mendidik dengan pola seperti itu. Seorang pengajar lain bercerita dengan mata berkaca-kaca, tentang pengalamannya yang seringkali dibanding-bandingkan dengan saudaranya, ia merasa menjadi pribadi yang pesimis dan tidak berdaya, sehingga ia pun ingin agar di masa depannya ia tidak menggunakan pola pendidikan yang seperti itu. Seorang pengajar yang lainnya bercerita tentang seorang siswa yang tak ingin lagi belajar dengannya. Ia berkata, “Hari itu adalah hari pertama dan terakhir bagi saya bertemu dengan siswa tersebut.” Pada saat ia sempat menggunakan gaya komunikasi ‘otoriter’ pada siswa tersebut, memerintah tanpa bertanya, hal itulah yang menjadikan peristiwa tersebut terjadi. Dari masalah-masalah tersebut kami dapat melihat dengan jelas adanya ketidakberdayaan siswa akibat orang dewasa yang tidak berdaya. Harapan dan kenyataan telah diungkap. Kami lanjut berdiskusi tentang bagaimana kami menyikapi kenyataan tersebut agar dapat mencapai harapan kami dalam mendidik. Seorang pengajar berkata, “Perlu ada perubahan.” Saya sangat setuju dengan hal tersebut. Saya pun berkata, “Kita perlu berubah. Dan berubah adalah hakikat dari belajar. Belajar itu dari gak tahu menjadi tahu, dari gak mau menjadi mau, dari gak bisa menjadi bisa, dari salah menjadi benar.” Hari itu kami sama-sama menyadari bahwa kami butuh belajar. Belajar untuk menjadi Guru Merdeka Belajar Sebelumnya kami telah mengungkap adanya kenyataan ketidak-berdayaan. Kenyataan seperti itulah yang melahirkan konsep Merdeka Belajar. Dimana ketidak-merdekaan seorang anak itu diakibatkan oleh ketidak-merdekaan orang dewasa di sekitarnya. Saya bertanya, “Apa itu merdeka?” Banyak pengajar dengan kompak menjawab, “Bebas”. Saya berkata, “Bebas itu terkesan negatif ya, seperti free sex, dsb. Merdeka disini maksudnya apa?” Seorang pengajar menjawabbebas yang bertanggung jawab. Seorang pengajar lain menjawab bebas yang terbatas. Kami pun mencari jawabanannya lewat video tentang Guru Merdeka Belajar () yang disampaikan oleh Mba Ela. Setelahnya kami membahas lebih detail tentang Guru Merdeka Belajar, serta penerapannya. Kami pun berefleksi hingga merancang rencana perubahan. Beberapa diantaranya adalah 1. Mengubah design RPP kami 2. Mengubah gaya kepengajaran kami Mengubah pola memotivasi yang lebih menumbuhkan motivasi internal dari pada motivasi eksternal yang berupa reward dan punishment Mengawali kelas dengan membahas bersama siswa tentang pentingnya materi pembelajaran Mengajar dengan lebih memandirikan siswa : menghindari teknik ceramah, menyalakan tanda tanya, menggunakanberbagai sumber pengetahuan, tidak hanya guru sebagai sumber pengetahuan Menutup pembelajaran dengan refleksi Melibatkan siswa dalam proses penilaian 3. Mengubah beberapa hal kaitannya dengan rekrutmen pengajar Mempertimbangkan passion calon pengajar Memperhatikan kemampuan calon pengajar dalam melibatkan siswa untuk membangun komitmen belajar Sebagai penutup. Hanya guru yang merdeka yang bisa membebaskan anak. Hanya guru yang antusias yang menularkan rasa ingin tahu. Hanya guru belajar yang pantas mengajar.

Kerja Barengan untuk Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas

“Saya sangat senang sekali dengan program ini. Bahwa benar seorang guru harus belajar dan belajar terus, karena saya ingin sekali mengoptimalkan kembali potensi yang dimiliki oleh anak, biar anak-anak itu bisa.” ungkap Septi Mardianti seorang guru dari SLBN Kota Tegal yang mengikuti kegiatan Sosialisasi Program Pengembangan Murid Disabilitas oleh Kampus Guru Cikal, Jumat 3 April 2019 di Gedung B Aula Ki Hajar Dewantara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah yang dihadiri 120 Kepala Sekolah SMA, SMK, MA Inklusi serta SLB di Jawa Tengah Kegiatan sosialisasi ini merupakan kegiatan awal dari serangkaian kegiatan dalam program Pengembangan Murid Disabilitas yang dilakukan oleh Kampus Guru Cikal. Pendanaan dari program ini didapatkan dari donasi yang digalang melalui lari ultra marathon yang diadakan NusantaRun pada 7-9 Desember 2018 lalu. Upaya penggalangan dana oleh para pelari tersebut berhasil mengumpulkan dana sejumlah 2,65 miliar. Hasil donasi tersebut yang digunakan untuk membiayai Program Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas di Jawa Tengah dan DIY. Ada 3 subjek yang menjadi sasaran dalam program ini, yaitu murid penyandang disabilitas, guru BK dan orangtua. Murid penyandang disabilitas selain mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, juga mendapat pelatihan keterampilan belajar untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Guru BK mendapatkan pelatihan pendidikan inklusi dan pelatihan bimbingan karier. Harapannya dari pelatihan tersebut guru BK memiliki keterampilan dalam mendampingi murid penyandang disabilitas untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Orangtua juga menjadi sasaran program karena dukungan orangtua penting bagi keberhasilan pendidikan murid penyandang disabilitas. Dalam sosialisasi program pengembangan murid disabilitas, Bukik Setiawan selaku ketua Kampus Guru Cikal menyatakan bahwa ekosistem pendidikan kita membutuhkan murid penyandang disabilitas yang melanjutkan pendidikan tinggi sebagai kisah sukses agar semakin banyak dukungan bagi pendidikan inklusi. “Layaknya seorang petani yang menanam bibit tanaman dengan metode yang ia gunakan, maka jika berhasil akan bisa ditiru oleh petani lainnya. Program ini akan berjalan jika ada keterlibatan banyak pihak, baik dinas, sekolah, guru, dan juga masyarakat” ujar Bukik dalam acara tersebut. Sejalan dengan Bukik Setiawan, wakil gubernur Jawa Tengah Taj Yasin yang hadir dalam acara tersebut mengatakan bahwa perlu jangkauan yang lebih luas untuk pendidikan inklusi, jika pemerintah provinsi saja jangkauannya kecil. Program yang digagas NusantaRun merupakan dukungan nyata dari masyarakat dalam mendukung cita-cita pendidikan untuk semua.