Inovasi Pembelajaran dengan Berempati kepada Murid

Suatu hari di pertengahan tahun 2013 saat menjadi guru di sebuah sekolah menengah negeri di Pekalongan saya mendapatan ide untuk saya sampaikan di dalam kelas. “Pasti ide ini berhasil.” batinku Seminggu setelahnya saya putarkan video yang saya buat. Video yang berisi cerita biografi orang-orang sukses seperti Bill Gates, Mark Zuckenberg dan saya kemas secara menarik. Namun entah kenapa murid biasa saja, seakan media yang saya buat sekadar menjadi media hiburan. Saat sesi membedah biografi tokoh, tidak ada ketertarikan. Murid malah mengobrol sendiri, bemain gawai, beberapa memperhatikan namun terlihat tidak antusias. “Video yang saya buat sudah bagus, sudah memakai beberapa animasi yang saya buat sendiri. Lalu apa yang salah. Mengapa murid saya tidak tertarik dengan pembelajaran yang kekinian.” Apa yang salah? Mungkin bukan saya saja yang pernah mengalami masalah di atas. Merencanakan sesuatu untuk murid di kelas namun tidak melibatkan murid. Bukan sesuatu yang murid butuh, tapi sesuatu yang guru ingin. Salah satu kutipan di produk adalah “Apakah murid Anda merasa dipahami?”. Kutipan tersebut mengingatkan guru untuk terus melibatkan murid, menjadikan murid subjek pembelajaran. Pertanyaanya selanjutnya adalah bagaimana cara melibatkan murid? Oleh karena itulah dalam Wardah Inspiring Teacher 2019, Kampus Guru Cikal memasukkan sesi melibatkan murid dalam pelatihan Mendesain untuk Perubahan. Mengajak guru berempati pada murid sebelum membuat inovasi pembelajaran. Melibatkan MuridPelatihan dua hari (13-14 April) yang diadakan di Hotel Ibis Style Jemursari, Surabaya ini diikuti kurang lebih 51 guru dari berbagai daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah dalam rangka Wardah Inspiring Teacher 2019. Di awal sebelum pelatihan dimulai, ada asesmen awal yang perlu diisi oleh guru. Dari data pra pelatihan, banyak guru yang masih belum melibatkan murid sebelum mendesain sesuatu untuk murid, baik media maupun metode belajar. Oleh karena itu kami melihat bahwa pelatihan ini diperlukan oleh guru. Pelatihan dimulai dengan mengajak guru untuk memahami tentang zaman yang sudah berkembang dan perlunya guru untuk terus belajar untuk bisa berinovasi. Karena menjadi inovator adalah sarana mencapai karier guru. Pada sesi ini Guru Ely dari Sekolah Cikal Surabaya yang memandu sesi. Untuk menjadi inovator pembelajaran yang perlu diperhatikan seperti di awal tulisan ini yaitu memahami murid. Memulai dengan berempati dengan murid yang kita ajar, tentang tahap perkembanganya serta aspek kemampuan yang murid miliki. Dalam sesi ini guru dibagi kelompok berdasar jenjang kelas yang diampunya. Guru TK – SD rendah (kelas 1-3 SD), guru SD besar (kelas 5-6 SD), guru SMP, dan guru SMK. Dari pembagian kelompok terlihat bahwa jumlah guru SMA dan SMP lebih banyak daripada guru SD. Oleh karena itu kelompok SMA dan SMP menjadi kelompok yang gemuk. Tiap kelompok mempelajari tahapan perkembangan yang sudah ada dalam modul. Kemudian, Guru Rizky Satria yang memandu sesi ini mengajak guru-guru untuk mengisi peta empati. Guru-guru diajak memahami muridnya. “Seandainya Anda jadi murid Anda apa yang murid Anda dengar, lihat, rasakan, pikir dan lakukan?” Guru-guru terlihat antusias dalam menyampaikan pendapatnya, terlihat bahwa sebenarnya guru sudah mengetahui bagaimana murid yang mereka ajar. Namun memang belum menyadari tentang tahap tersebut penting dilakukan untuk merancang sesuatu untuk pembelajaran. “Saya biasanya ya ikut-ikutan yang sedang trends saja di kalangan guru” kata seorang guru saat kami wawancara. Ada pula yang menjawab bahwa biasanya dalam merancang sesuatu dalam pembelajaran dari pelatihan yang baru saja diikuti yang biasanya hanya menjelaskan cara. Sehingga tujuan utama yaitu murid tidak menjadi fokus utama guru. Sesi mengisi peta empati ini guru seperti menemukan AHA! Momen. Sebuah cara yang sederhana namun berdampak. “Sesi ini membuka mata saya untuk lebih berempati kepada murid saya untuk menciptakan pembelajaran yang lebih peka terhadap murid saya.”, ujar Guru Yosef salah satu peserta dari Malang. Dari empati tersebut guru diajak mencari permasalahan yang dialami murid. Dalam sesi ini guru merasa kesulitan, masalah-masalah yang guru jabarkan kebanyakan berkaitan dengan sistem, metodu guru sendiri, dan lingkungan. Fokus masalah murid jarang yang ditulis guru. Seperti awal tulisan ini guru jarang memikirkan apa yang murid butuhkan, lebih sering kepada apa yang guru inginkan. Sistem, lingkungan, dan cara. Pelatih kemudian membantu guru untuk lebih memfokuskan masalah kepada murid. Akhirnya banyak masalah yang muncul seperti murid yang lebih asyik tertarik dengan hal yang lebih menarik seperti bermain gadged, mengobrol dengan teman, murid yang kesulitan dalam mengekspresikan diri, murid yang tidak mengetahui manfaat dari membaca dan lain sebagainya. Permasalahan tersebutlah yang kemudian membantu guru dalam membuat solusi yang sesuai. Banyak ide solusi yang ditawarkan guru yang muncul dari masalah tersebut, seperti : 1. Go-Viral, pemanfaatan media sosial untuk media belajar murid yang muncul dari permasalahan murid yang lebih suka bermain gawai daripada memperhatikan guru menyampaikan materi. 2. Perang Bintang, pemanfaatan permainan tukar bintang dengan bermain peran untuk mengatasi permasalahan murid-murid yang kesulitan konsentrasi. 3. Coll Laborate Acton Advanture, pembelajaran yang mengajak menciptakan petualangan antarkelompok dalam pengerjaaan soal-soal kritis yang dibuat karena latar belakang murid yang memiliki banyak minat yang berbeda. 4. Jam putar, pembelajaran matematika dengan jam yang bervisualisasi tokoh favorit murid untuk memudahkan pembelajaran matematika, inovasi ini dibuat untuk mengatasi masalah murid yang frustasi ketika menemui angka dalam pembelajaran matematika. Senang sekali rasanya melihat guru mulai berinovasi dengan cara memahami murid terlebih dahulu, Jadi pertanyaan dalam kaus Guru Belajar Esensial “Apakah murid Anda merasa dipahami?” sudah bisa terjawab dari apa yang guru lakukan di atas.

Tingkatkan Budaya Literasi dengan Masak Bareng

Kaum milenial nggak akan jauh dengan namanya gadget,  barang super penting dalam kehidupan mereka. Bicara tentang literasi,  sekarang tak akan mudah jika hanya disajikan dalam keadaan mentah seperti baca buku,  tulis menulis atau diskusi, namun tampaknya terobosan melalui literasi ketrampilan dalam hal ini keterampilan memasak perlu diuji coba dalam sajian menu baru untuk literasi generasi kita, terlebih salah satu hobi yang sedang diminati remaja yang kekinian adalah membahas tentang kuliner. Perlu ide segar,  kreativitas tanpa batas dan konsistensi dalam hal itu,  mengingat akan goal dari kegiatan ini adalah menghasilkan anak muda yang literat, peka terhadap hal sederhana dan akhirnya menjadikan mindset lebih berkembang. Melalui ketrampilan memasak, akan menjadikan pengalaman literasi yang berkesan bukan??   Naah gimana dan apa ya hubungannya memasak dgn literasi? Pada Temu Pendidik Daerah secara daring di whatsapp grup Komunitas Guru Belajar Wonogiri yang dilakukan pada hari Rabu tanggal 27 Maret 2019 membahas tentang “Tingkatkan Budaya Literasi dengan Masak Bareng”. Pada diskusi ini, materi dan pengalaman akan dibagikan oleh Heni Surya yang merupakan Founder TaBAH (Taman Belajar Anak Hebat) dan juga merupakan salah satu Penggerak Komunitas Guru Belajar Solo Raya. Beliau adalah pengelola Taman Belajar Anak Hebat. Taman yang difasilitator i oleh para penggerak Komunitas Guru Belajar Solo Raya ini lebih memberikan tempat yang nyaman untuk para anak – anak mengerjakan tugas sekolahnya. Lanjut tentang “Apa hubungan literasi dengan memasak”, pada diskusi lalu dibahas tentang bagaimana memulai budaya literasi melalui dapur? Pernah dengar acara masak bareng Chef di daerahmu? Seorang Chef datang dan membacakan resep, peserta mencatat. Sebelum memasak diskusi ringan hal kadar gizi dan manfaat masakan yang akan dibuat. Kemudian praktek bersama. Hingga akhirnya peserta melakukan hal yang sama di rumah atau tempat lain. Urutan seperti ini literasi, bukan? Menggunakan moment memasak untuk meningkatkan literasi anak adalah sangat efektif. Sebab kegiatan memasak adalah kegiatan kita sehari-hari. Mengajak anak melakukan literasi dasar yakni kemampuan dasar dalam membaca, menulis mendengarkan dan berhitung. Melalui memasak anak diminta aktif membaca resep menu di awal, mendapat tantangan untuk mempraktekkan di dapur, menggali dan memikirkan lamanya proses memasak spt (menggoreng, merebus dan sejenisnya) serta yang paling penting bisa mengemukakan bagaimana rasa dari masakannya sendiri. Menyampaikan ini enak dan kurang enak. Bahkan membuat anak mencoba ulang untuk mendapatkan hasil masakan yang lebih enak. Saya pikir kemampuan berliterasi bisa ditingkatkan melalui kuliner, dan memasak pada khususnya. Saat kita sedang lengang, ajak anak mempraktikkan apa itu memasak bersama-sama di rumah. Apa saja manfaatnya bagi peningkatan budaya literasi anak? Meningkatkan kemampuan berhitung atau matematika. Memasak adalah cara terampuh untuk belajar matematika. Saat memasak tanpa terasa ia harus mengukur takaran makanan dari resep yang ada, misalnya tiga butir telur, 1/2 sendok makan mentega, dan lain-lain. Membangun pemahaman. Meskipun Si Kecil belum bisa membaca, dengan memasak ia dapat membangun pemahaman tentang konsep step by step. Mulai dari langkah pertama misalnya mengupas bahan makanan, lalu memotong, memberi bumbu hingga dimasak sampai matang. Dari segi sains, bisa belajar sains. Memasak adalah bagian dari percobaan sains. Terlalu banyak garam atau baking soda dan terlalu sedikit tepung dapat menyebabkan adonan menjadi gagal. Hal ini sama saja dengan belajar sains. Selain itu, memasak dapat melatih percaya diri. Dapat menghasilkan suatu karya termasuk masakan dapat meningkatkan percaya diri anak. Agar lebih maksimal, beri label pada hasil masakannya dengan menggunakan nama Si Anak, misalkan Ayam Geprek meleleh ala chef Luna, atau puding roti manis syakira. Selanjutnya, manfaat memasak bagi peningkatan budaya literasi anak adalah membangun keahlian berkomunikasi. Atmosfer santai di dapur atau kelas memasak dapat membuat Anak lebih relaks untuk berbicara tentang apapun. Momen ini dapat dimanfaatkan orangtua untuk berbicara dari hati ke hati dengan anak. Nah, jika ia ikut serta dalam kelas memasak, ia bisa bersosialisasi dengan teman sebaya, Life skill. Dalam diskusi kali ini, ada 2 sesi diskusi, sesi pertama, dibuka dengan tiga penanya: Pertama, Muhammad Gangga dari Palembang : Untuk memasak, jika salah memasak atau hasil kurang memuaskan otomatis kita kecewa karena beberapa aspek salah satu nya biaya atau bahan yang dikeluarkan terlalu banyak atau besar. Bagaimana mengatasi itu ? Jawab: Kita bahas soal literasi melalui metode memasak ya. Bersama anak sepakati dulu dari awal. Mengenai kemungkinan berhasil dan tidak saat memasak. Sehingga akan meminimalisir perasaan kecewa, atau bahkan akan berganti antusias untuk menggali lebih jauh kenapa bisa gagal dan kenapa bisa tidak enak. Perihal rugi biaya ini akan tertutup dengan semangat anak berliterasi tadi. Saya ada tips untuk mengatasi gagal dalam memasak bersama anak, jika kita membaca satu resep. Maka kita bisa praktekkan memasak separuh resep dulu. Misalnya membuat brownies, jika resep menggunakan 8 telur kita coba 4 dulu. Penanya kedua Wuri Handayani dari Sragen: Saya sering membawa alat memasak seperti termos, wajan, susruk penggorengan, untuk menerangkan perbedaan isolator dan konduktor, apa ini termasuk literasi memasak? Kadang juga mencontohkan mencelupkan sendok ke air panas untuk konduksi, dan praktek merebus air untuk konveksi (aliran panas). Jawab:Senang sekali jika semua ibu bs melakukan ini disela memasak. Sambil memasak sambil belajar tentunya.. Terima kasih sudah menginspirasi. Saya kira ini literasi, seperti yang saya sampaikan di atas. Bahwa memasak bagian dari percobaan sains, jika SD ada IPA, jenjang lebih tinggi ada fisika nya. Jadi tidak akan rugi memasak bersama anak. Karena Literasi dalam hal ini adalah proses pembelajaran hidup. Anak akan mengetahui sebab dan akibat dari suatu peristiwa, pun dalam hal merebus dan menggunakan api” Penanya ketiga Indri Fatma dari Sragen: Memasak untuk meningkatkan budaya literasi ini kira – kira bisa diterapkan kepada anak – anak mulai usia berapa? Jawab:” Saya mengajarkan memasak pada keponakan saya di usia 1,5 tahun. Ketika dia bisa  bicara dan berjalan. Saat saya merebus air untuk membuat susu dia. Saat itu dia teriak api. Dan saya menjawab, iya ini api, untuk merebus air supaya panas dan buat susu kakak. Kejadian berulang seperti ini dirumah terus menerus dia ingat dan dia pahami bahwa api bisa untuk merebus air untuk membuat susu. Saat ada api atau kompor dimanapun dia melihat dia akan otomatis berkata, api – panas – untuk – masak air – bikin susu. Ketika anak mencoba mencari tahu, disitulah peluang untuk mensisipkan literasi sejak dini. Termasuk dalam momen memasak. … Read more

KGB Makassar : Membaca Bawakaraeng (Bagian 2)

Jumat, 1 Maret 2019 10Coffe. Coffeshop. Letaknya depan gerbang ke Royal Sprint, jalan Arupala. Tempatnya tidak terlalu luas, tapi lumayanlah untuk pertemuan yang direncanakan tiba-tiba. Menjelang magrib, kami bertemu di sana. Pak Amran Azis bersama istrinya. Saya kembali berdua dengan Wawan Rurung. Saya pesan kopi susu. Tebal atau tipis? Pilih yang tipis. Akhir-akhir ini tidak kuat lagi dengan yang tebal. Saya juga fakir dengan menu yang lain, walaupun tersedia. Ada Espresso, Capuccino, Latte, Moccacino, Macchiato dan berbagai varian cafe lainnya. Bagiku, ini Makassar bung. Menumu boleh variatif. Racikan kopimu juga boleh beragam. Tapi ingat hukumnya: kopi susu mesti sajian utama. Jika ingin bertahan lebih lama. “Baiklah dinda. Selain koordinasi peserta, apa lagi yang bisa saya bantu”?, tanya Pak Korwil Tinggimoncong. “Hmm. Begini kanda. Kami hanya bisa siapkan narasumber. Ruangan jadi tanggung jawab teman-teman di SMA 4 Gowa. Konsumsi biasanya ditanggung bersama. Budaya yang terbangun selama ini di komunitas guru adalah barengan. Apa saja diupayakan bersama-sama. Konsumsi salah satunya”, jawabku. “Kalau begitu konsumsi saya yang siapkan. Peserta cukup datang belajar saja”, ucap Pak Amran kembali. “Jika ada waktuta, singgah di dinas pendidikan kabupaten untuk menyampaikan kegiatan ini. Hanya mengabarkan saja.” “Siap, kami usahakan.” Setelah persiapan tuntas dibicarakan, kami bubar. Pak Amran pamit kembali ke Malino, kami pun balik ke Pallangga. Dengan perasaan yang penuh. Riang gembira. Kawan, apa yang lebih menggembirakan bertemu dengan sekutu baik hati seperti Pak Amran? Betapa menyenangkannya bercakap dengan guru yang paham tujuannya. Di perjalanan pulang, saya bahagia mendengar Bono dan kawan-kawannya: Beatifull Day. … It was a beatiful dayDon’t let it get awayA beatiful dayTouch me, take to that other placeReach me, sweety, I know I’m not a hopeless case. —Tiga hari sebelum kegiatan, kami mengunjungi dinas pendidikan kabupaten. Janji harus dipenuhi. Mengabarkan pesan seperti permintaan kawan kami. Tiga hari sebelum kegiatan, kami mengunjungi dinas pendidikan kabupaten. Janji harus dipenuhi. Mengabarkan pesan seperti permintaan kawan kami. Luar biasa. Pak kepala dinas pendidikan menerima kami sebaik-baik tamu. Sebagai bentuk dukungan, Wawan Rurung minta jepret-jepret bareng Pak Kadis. Peranku jelas. Tukang foto. Eh, tanpa sengaja, pandangan kami tertuju pada salah satu gambar di ruangan Pak Kadis. Di gambar itu ada Ibu Elaa, Ibu Nisa Felicia, Pak Hamid Muhammad, Pak Kamaruddin dan Pak kadis waktu menjadi pembicara di beranda PSPK jilid XI. Ya, cerita memanjang kembali. Jumat, 8 Maret 2019. Perjalanan ke Malino kali ini terasa lebih panjang. Lebih lama dari tahun-tahun sebelumnya. Beberapa ruas jalan nampaknya butuh perbaikan. Paling parah di sekitar Mala’lang. Tampak para pekerja sibuk membersihkan sisa-sisa longsoran yang menumpuk di ruas jalan. Kami tiba juga di Malino. Jumat malam. Bukan malam jumat. Di depan hotel Celebes Malino, laju kendaraan saya perlambat. Tepat di samping hotel itu kediaman pak Sanusi. Rumahnya saya sebut dengan rumah kopi. Sebelas tahun menyesap kopi, belum ada yang bisa kalahkan aroma dan rasa kopinya. Kopi arabika bisa tumbuh di banyak tempat, ditanam oleh siapa saja. Tidak dengan proses pengolahannya. Butuh ketelatenan, pengalaman dan kemurnian hati. Tidak boleh serampangan. Bara apinya dijaga betul, matangnya mesti merata, tungku dari tanah. Di rumah kopi, tidak sah minum kopi jika tdak ada penganan pisang goreng. Percayalah, pisang gorengnya khas. Anda tidak akan menemukannya di tempat lain. Mengolah pisang hanya sebagian dari keramahan yang dimiliki Dg Lela, istri pak Sanusi. Kami tidak singgah. Besok saja. Di halaman rumahnya masih terparkir motor bebek honda 700 warna merah. Itu sudah cukup menanda bahwa Pak Sanusi sekeluarga baik-baik saja. Rombongan kami langsung ke Puskesmas Tinggimoncong. Depan puskesmas itu pernah mangkal penjual sate madura yang enak. Saus kacangnya kental. Sayang sekali, malam itu tidak lagi ditemukan di sana. Mungkin pindah ke tempat lain. Mungkin sudah tutup. Mungkin juga sudah pulang kampung. Di sini, agak susah menemukan jajanan semacam itu setelah salat Isya. Ada sih, jagung bakar di hutan pinus. Tapi untuk romantisme, kesannya terlalu biasa. Pak Yusuf Islam menelpon. “Dg Kio, posisi di mana sekarang? Kalau sudah di Malino, langsung menuju rumah. Sudah menunggu abahnya Ima sama Pak Zul. Pak Luktfy Alam juga menuju ke sini.” “Siappp.” Dari nomor lain, panggilan ibunda Hj Nurlia juga masuk. Makan malam sudah tersaji katanya. Selain kabar tentang makan malam, beliau juga berkepentingan tahu apa kami sudah sampai di Malino atau belum. Inayah Ridhayanti, anaknya bunda aji, ikut dengan rombongan kami. Anda bingung? Begini: Inayah Ridhayanti itu selain perannya sebagai salah satu penggerak KGB Makassar, selain sebagai aktivis sekolah perjalanan, juga anak sulung bunda Aji Nurlia, rekan kerja di SMA Tinggimoncong dulu. Tujuh tahun lalu masih sebagai murid. Tahun ini sudah jadi rekan kerja. Betapa beruntungnya kami ini. Dikelilingi oleh orang-orang baik dengan hati yang terbuka seluas-luasnya. Salah satu alasan kenapa Malino selalu dirindukan. Malam itu diputuskan akan makan malam di rumah Inayah kemudian ngopi di rumah pak Yusuf. Setelah makan, kami pamit menuju rumah Pak Yusuf. Masih ada persiapan teknis yang harus dibicarakan dengan teman-teman panitia lokal. Ibu Adelia, Ibu Olle Hamid dan Ibu Anita sekeluarga menginap di rumah bunda Hj Nurlia. Di rumahnya Inayah. —Pak Yusuf Islam berasal dari Moncongkomba Takalar. Kuliah Pendidikan Matematika di IAIN Alauddin Makassar. Terangkat sebagai guru di SMA Negeri 1 Tinggimoncong. Menikah dengan gadis Malino. Beliau satu angkatan dengan Pak Saing Omchaa sebagai guru pelopor diawal berdirinya sekolah tersebut. Saat ini jadi kepala sekolah di Bontolempangan. Sebagai kolega yang baik hati, pernah mengajarkan logika dan epistemologi waktu tinggal di asrama sekolah. Beliau yang memperkenalkan Mulla Sadra, Rumi sampai Baqir Sadr. Malam ini pelajaran itu kembali diulas dengan versi yang lebih baru. Rupanya kami sudah ditunggu banyak kawan. Selain Pak Yusuf sebagai tuan rumah, telah berkumpul pula Pak Zulkifly, Pak Madjid dan Pak Luktfy Alam. Dengan Pak Zulkifly saya masih awam. Kepala sekolah SMA Negeri 4 Gowa yang baru. Tapi saya percaya kekuatan jaringan: dari teman ke teman. Benar. Percakapan sampai larut malam, saya mengenal beliau lebih jauh, lebih banyak, lebih dalam. Ternyata, tujuan kita sama. Setiap guru tidak boleh berhenti belajar. Pendidikan tidak boleh menjadi hak sekelompok orang, mesti sebagai milik bersama. Murid tidak boleh lagi diorganisasi berdasarkan pengalaman masa lalu kita semata. Mereka punya masa kini sendiri-sendiri. “Saya senang dengan gerakan Guru Belajar. Apapun kebutuhan teman-teman KGB, tolong disampaikan. Tidak perlu … Read more

KGB Makassar : Membaca Bawakaraeng (Bagian 1)

Akhirnya ke Malino lagi. Selain untuk belajar, saya akan mengunjungi beberapa kawan lama. Pernah mengajar di sini. Sembilan tahun. Berangkat senin subuh, pulang kamis sore. Naik motor bersama Wawan Rurung, Omchaa, Luktfy Alam & Naim Miyala. Tiga tahun lalu, saya pindah ke Pallangga. Kunjungan kali ini masih berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar. Bedanya, dulu datang mengajar di sekolah, hari ini sebagai peserta belajar. Saya mau belajar di Temu Pendidik Daerah (TPD) yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru Belajar Makassar bekerjasama dengan UPT Pendidikan kecamatan Tinggimoncong. Di Malino. Bagi kawan guru yang masih asing tentang Malino, silahkan googling. Percayalah banyak keajaiban tersedia di sana. Jika Anda ketik ‘Malino’ di mesin pencari, ada 3.210.000 penjelasan. Kalau Anda iseng menambah katanya menjadi ‘Malino Sulawesi Selatan’, tersedia 431.000 pilihan. Jika tidak ada pekerjaan lain, silahkan ketik ‘Malino daerah mana’, Anda akan disuguhi 331.000 petunjuk. Jika dirasa belum cukup, ketiklah ‘Malino kota bunga’, maka muncul 243.000 jawaban. Mau lebih spesifik lagi? Ada 55.400 petunjuk jika Anda masih berminat mengetik ‘Malino Tinggimoncong’. Dengan petunjuk dan penjelasan itu, saya tidak khawatir Anda tersesat. Biarlah catatan ini berisi peristiwa yang belum dikisahkan di sana. —- Pengalaman bertugas Malino menyisakan banyak kenangan. Kecelakaan di Parangloe salah satunya. Malam itu kami mengejar waktu. Leader memutuskan lewat jalur pintas: Parangloe-Pattallassang. Karena rutenya menurun, saya mengerem lebih dalam. Celaka. Tumpahan oli berceceran di badan jalan. Ban depan melincir, motor jatuh meluncur tidak terkendali. Saya tersangkut di pohon jati. Kap motor hancur, sadel tidak ditemukan. Butuh waktu untuk berdiri kembali. Bahuku terkilir. Beberapa luka lecet di lutut, telapak tangan dan juga siku kanan. Masih lekat dalam ingatan. Kami pernah mengunjungi siswa yang ingin berhenti sekolah. Karena jalan belum bisa diakses kendaraan, motor dititip di rumah warga. Kami susuri jalan sempit dan berlumpur. Magrib kami sampai. Orang tuanya menyambut sangat baik. Ada kopi Parigi plus ubi jalar. Tentu saja kami lahap. Sayang, siswa yang dicari sudah merantau ke Kalimantan. Malam itu juga kami pamit pulang. Hujan deras. Derita kami bertambah karena si biru (Suzuki Thunder tersayang) lupa pakai lampu. Pulang bergelap ria. Pengalaman mengajar lainnya nanti saya ceritakan di buku ‘Anak Gunung Membaca Bawakaraeng’. Banyak kisah aneh terselip di sana. Misalnya bagaimana kami para guru yang baru terangkat bisa ditipu oleh pengumpul benda antik. Kami takjub benar dengan emas palsu yang ditengarai dimunculkan dari dunia gaib. Jangan khawatir, kisah berfaedah juga banyak. Kami pernah menyiksa diri melakukan pendakian gunung selama enam jam perjalanan hanya untuk membuktikan bahwa danau Ramma adalah salah satu spot memancing terbaik. Percayalah. Itu hasutan terbaik yang pernah dilakukan Wawan Rurung. Catatan ini dibuat khusus tentang Temu Pendidik Daerah yang dilaksanakan di sekolahku yang lama. SMA Negeri 4 Gowa. Kenapa Temu Pendidik di Malino? Ada beberapa alasan. Pertama, alasan ideologis. Saya percaya. Kawan-kawan saya juga percaya. Hanya guru yang belajar yang pantas mengajar. Kata guru dan belajar tidak boleh terpisah. Saya membaca percakapan antara seniman Asrul Sani dengan guru pamong Taman Siswa: Said Reksohadiprojo. Sejatinya guru adalah seorang pamong. Menjadi pamong berarti harus belajar terus menerus, haus pengetahuan. Jika gurunya berhenti belajar, maka pada saat itu juga dia sudah terbunuh. Di Malino, sangat mudah menemukan guru-guru yang mau belajar. Butuh contoh? Baiklah. Ini cerita kawan kita, Korwil UPTD Dinas Pendidikan kecamatan Tinggimoncong.  “Biasanya guru meminta untuk ditempatkan tidak jauh dari kota kecamatan. Ya, sebutkan dengan kemudahan akses”, cerita pak Amran Azis. “Tidak dengan guruku yang satu itu. Dia minta ditempatkan didaerah terpencil. Saya penuhi permintaannya. Apa yang dia lakukan? Kreativitas guruku itu tidak bisa dibatasi oleh fasilitas yang terbatas. Dinding sekolahnya dipenuhi lukisan mata pelajaran. Ada lukisan tentang benda-benda planet, tentang benda-benda bersejarah, tentang rumus matematika dasar, juga tentang manusia”. Kedua, kami menemukan sekutu. Selain murid, sekutu utama guru adalah sesamanya guru. Saya punya banyak kawan-kawan guru di Malino. Kami ingin membangun persekutuan dengan mereka bahwa pendidikan ini tidak boleh menjadi urusan satu orang saja. Sebagai bagian dari kaum intelegensia, kata Bung Hatta, guru tidak boleh pasif, hanya berdiam diri dalam rutinitas paling membosankan: menghabiskan materi dalam kelas. Kami percaya bahwa kerja-kerja pendidikan butuh dukungan banyak pihak. Di Malino kami yakin bisa mendapatkan dukungan itu. Benar. Malam itu sebelum pembukaan, kami disambut dengan percakapan sampai larut oleh dua kepala sekolah : SMA Negeri 1 Tinggimoncong dan SMA Negeri 1 Bontolempangan. Keduanya bukan hanya teman diskusi. Tapi juga sebagai sekutu utama, turut terlibat mensukseskan kegiatan. Pada bagian lain saya akan sebutkan sebutkan satu persatu siapa saja kawan-kawan guru yang baik itu. Karena alasan-alasan itulah, sehingga Malino diputuskan sebagai tuan rumah TPD. Bersambung ke KGB Makassar : Membaca Bawakaraeng (Bagian 2)

Persiapan Menulis Anak Autisme

Persiapan Menulis Anak AutismeNarasumber : Siwi Parwati (Praktisi Autisme)Moderator : Kristijorini (Guru di TK Widya Wacana Pasar Legi)16 Maret 2019di bit.ly/gurubelajarsoloraya Menulis itu butuh konsentrasi dan koordinasi antara jari tangan, pikiran dan mata.  Jika anak Taman Kanak-kanak, untuk latihan menulis butuh tahapan melemaskan jari dengan banyak merangsang jari-jari tangan melalui meremas, merobek, memegang benda pipih dan mainan. Lalu baru tahapan mencoret tak beraturan hingga membentuk garis dan lain-lain baik dengan buku dan pensil maupun media lain. Bagaimana pengenalan menulis untuk anak autistik? Penasaran kan? Moderator : Bagaimanalah persiapan menulis untuk anak-anak autisme? Mari bunda Siwi silakan menjelaskan ke kami. Sudah penasaran ini Narasumber :  Pertama: Kenapa sih saya memilih topik ini,Soal tulis menulis? Karena belakangan ini banyak keluhan dari ortu soal anak mereka yang sulit diajari menulis Ada yang melihat pensil aja udah nangis. Ada yang mogok pegang pensil aja nggak mau. Ada yang  bilang goresannya terlalu tipis. Ada yang bilang anaknya cuma mau tulis 3 huruf habis itu kalau dibujuk malah jerit jerit. Mari kita bedakan antara anak autistik dengan non autistik Kadang anak anak yang menolak menulis ini kemudian mendapat tuduhan malas, bodoh, pembangkang dsb. Padahal biasanya kalau anak autistik sampai menolak sampai nangis bahkan histeris itu merupakan indikator adanya gangguan motorik ketika kita minta melakukan suatu tugas yang sekecil apapun mereka seakan akan memberontak. Padahal itu karena mereka merasa tidak berdaya. Contohnya yang terjadi pada anak saya dulu sekali. Dia sampai tendang meja. Ternyata jari jarinya tidak mampu memegang pensil Kalau mau menulis pensilnya merosot nggak terpegang, Jadi memegang pensil pun dia tidak mampu, mana mungkin akan menarik garis? Membuat titik? Membuat lengkungan? Akhirnya dia marah, lebih kepada diri sendiri karena menghadapi ketidakmampuannya, juga sedih,putus asa, Bukannya tidak mau patuh,tapi nggak mampu. Moderator : Silakan jika ada yang mau bertanya! Penanya 1  : Anak2 di TK kan udah belajar menulis. Beberapa kali pas ke Taman Pancasila nemu buku yang dijual bebas belajar menulis yang hurufnya dipisah-pisah jadi titik-titik. Nah, kalau tidak didampingi bisa bahaya juga ternyata karena anak-anak saya yang SD menulis itu hurufnya nggak karu-karuan. Misalnya : huruf A dan G itu sejajar. Narasumber:  Nah ini soal teknis menulis, memang benar anak-anak harus diajari cara menulis yang benar, bagaimana arah garisnya , bagaimana bentuknya , karena kalau sekali salah dan permanen maka akan sulit diperbaiki di kedepan hari Penanya 2 : Selamat malam Bu Siwi,,  treatment menulis ini sudah boleh diberikn pada saat anak autistik usia berapa? Narasumber :  Bukan masalah boleh atau tidak boleh, tapi kapan anak ketahuan mengalami gangguan motorik. Pada anak-anak yang menjalani terapi sejak usia dini biasanya gangguan itu ditemukan oleh psikolog klinis atau terapis mereka. Maka biasanya anak anak ini sudah langsung ditolong dengan  materi terapi okupasi. Masalahnya kan kita ini yang jadi guru di sekolah ternyata harus menerima kenyataan bahwa ada di antara anak anak autistik ini belum mendapatkan terapi sesuai kondisi dan kebutuhannya, karena itulah kita sekarang bahas soal persiapan menulis ini Di atas sudah saya sampaikan paparan awal kalau  tahapan – tahapan dalam menulis adalah :membuat garis, membuat titik dan membuat kurva, dll. Satu hal yang mungkin tidak terlintas dalam pikiran kita bahwa kelemahan jari jemari anak-anak autistik ini berawal dari kelemahan lengan, bahu dan punggung, itu sebabnya sebenarnya kita perlu memberikan latihan latihan yang tampaknya tidak ada hubungannya dengan persiapan menulis, mungkin kita akan mendapat complain dari orangtua,  tapi kita memang harus melakukan penguatan pada lengan, bahu dan punggung anak. Caranya antara lain : Bergelantungan pada monkey bar, Ini akan memperkuat genggaman jari, lengan, bahu dan punggung. Nah pada anak autistik kita tidak nunggu sampai kriteria umur berapa, kita lakukan semuanya sedini mungkin. Penanya 3 : 1. Ada tidak assesmen di TK umum untuk  mendeteksi hal di atas? 2. Misalnya anak sudah terlanjur menulisnya tidak sesuai, bagaimana cara mengajarinya? Narasumber : Dikoreksi, diajarkan membentuk huruf sejak awal lagi, Ini terjadi juga pada anak saya dulu, Karena dia umur 2 tahun sudah berusaha menulis sendiri , akhirnya bentuk huruf kacau karena memang tidak dipandu. Jadi begini yah, Kita harus  punya niat tulus untuk “Memperbaiki” anak anak autistik ini. tidak ada perbaikan yang mudah untuk mereka. Bagi yang diperbaki dan yang memperbaiki akan banyak sama sama frustrasinya, tapi kembali kepada niat semula , mau memperbaiki atau merelakan dia dalam kondisi “aneh” seperti itu? Assesmennya  untuk anak autisik  (seperti malas) menulis ini tetap saya haruskan konsul ke psikologi klinis. Nah selain gelantungan di monkey bar , ada banyak cara untuk mengupayakan kekuatan jari lengan dan bahu, yaitu dengan senam. Jadi, sebenarnya sebaiknya kita sarankan orangtua untuk mengikutkan anaknya terapi OT. Tapi kita tahu banyak karakter ortu yang ternyata susah terima dan setuju dan mau melakoni anaknya diterapi. Maka yang kita bahas ini merupakan upaya kita semata mata demi membantu siswa kita. Tips lain adalah terapi beban dengan dumbel. Bisa kita gunakan botol air mineral dengan isinya, mulai dari ukuran kecil sampai besar disesuaikan dengan kemampuan anak, ayun- ayun  dari paha ke atas samping kiri kanan, angkat setinggi bahu, dari bahu angkat le atas kepala, dari atas kepala turun ke setinggi bahu atau bahkan turun sampai ke paha. Untuk latihan motorik halus mungkin ada beberapa tips lagi Kita sediakan manik manik kecil di nampan, minta anak membuat huruf atau garis menggunakan kuas. Menggunakan pasir warna, anak membentuk huruf dengan jari Membentuk huruf di atas lem putih : Pasta berwarna dalan kantong plastik klip Membentuk huruf dengan cotton bud Menggunting Menyortir biji – bijian dan manik Membentuk huruf dengan cetak stensil. Lalu kita kasih materi menjepit, pake jepitan kue yang ada silicon di ujungnya, minta anak ambil huruf tertentu, warna tertentu. Menjepit dengan sumpit. Yang disumpitin bisa benda benda kecil apa saja, selanjutnya untuk latihan menjepit jepit kita bisa gunakan jepitan jemuran, kita sediakan macam macam jepitan jemuran, kecil, besar , yang mudah dibuka, yang keras bukaannya , jepitkan ke berbagai ketebalan karton, karton berebentuk segiempat, segitiga, bentuk mistar, bentuk bulat, dll.Itu semua utk melatih kekuatan jari Kesimpulannya Kegiatan yang kelihatannya seperti main-main ini sebenarnya berperan penting dalam upaya persiapan menulis.Pada saat anak sedang menulis lalu berhenti sebelum tugasnya selesai itu … Read more

Bukan Literasi Biasa

BUKAN LITERASI BIASA Literasi sering dimaknai dengan kemampuan baca, tulis dan hitung. Literasi juga seringkali dilaksanakan sesuai program 15 menit membaca. Padahal, makna literasi lebih dari hanya itu. Mengangkat judul temu pendidik, Bukan Literasi Biasa, pagi itu, guru-guru yang berasal dari Pekalongan dan sekitarnya berkumpul di MAN 1 Kota Pekalongan, untuk belajar lebih lanjut memaknai literasi. Acara yang diadakan pada hari imlek yang cerah, 5 Februari 2019 itu diawali dengan materi berjudul “Personal Documentation Video” yang disampaikan oleh Guru Madya. Beliau menceritakan tentang media video yang dipraktikkan di kelas Universitas karena melihat fenomena yang sedang trend saat ini, seperti fenomena video challenge yang berbahaya, aplikasi TikTok dan fenomena video lain yang disalahgunakan. Melihat dampak negatif yang cenderung muncul, guru Madya memanfaatkannya sebagai wadah mahasiswa untuk berekspresi dengan memanfaatkan media video ini. Dalam personal documentation video ini, mahasiswa bisa mengangkat topik yang disukai dengan menggunakan pola OMC (Opening – Main – Closing). Tahap opening dimulai dengan menjawab pertanyaan what, where, when, who. Di tahapan selanjutnya, yakni main, mahasiswa menjelaskan topik dengan panduan pertanyaan menggunakan how. Sedangkan di tahapan terakhir yakni closing, mahasiswa akan menyimpulkan rangkaian topik yang tadi di bahas. Salah satu manfaat yang didapat dari kegiatan ini adalah mahasiswa dapat melatih kepercayaan diri untuk berbicara di depan umum menggunakan Bahasa Inggris. Lebih jauh lagi, kegiatan ini juga dapat membantu jika akan menempuh study di luar negeri atau tes IELTS. Dalam kesempatan ini, beberapa guru terlihat bersemangat unjuk gigi mendeskripsikan hal yang digeluti/ disukai dalam Bahasa Inggris. Guru Zinat mendeskripsikan tentang Pemilu karena beliau adalah anggota KPPS, sementara guru Kiki membahas tentang kopi karena beliau pecinta kopi. Narasumber berikutnya, Guru Inggil yang masih berstatus mahasiswa menceritakan pengalamannya menggunakan literature circle di klub membacanya. Beliau mengawali kelas dengan meminta peserta untuk mengunduh aplikasi Farfaria sebagai salah satu sumber bacaannya. Namun, pada dasarnya, guru bisa menggunakan buku apapun. Dalam literature circle ini, guru Inggil membagi peserta temu pendidik dalam beberapa kelompok yang terdiri dari 6-8 orang. Kemudian, beliau memberikan peran kepada masing-masing anggota. Ada yang menjadi pendongeng, connector, illustrator, editor dan peramal. Masing-masing memiliki tugasnya tersendiri. Misalnya, connector bertugas untuk menghubungkan isi cerita dengan dunia nyata, dan peramal bertugas untuk meramalkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Pada kesempatan ini, peserta temu pendidik diminta membaca cerita Thumbelina, lalu mempresentasikan perannya tadi. Gelak tawa terdengar karena khayalan peramal yang kadang tak terduga, atau melihat gambar sang illustrator yang jauh dari aslinya. Lebih menarik lagi karena guru Inggril memberikan giveaway pada sesi presentasi. Acara temu pendidik kali ini ditutup oleh Guru Dias yang mengawali kelasnya dengan ice breaking “Patung Pancoran”. Beliau membagikan tentang pengalaman saat menerapkan konsekuensi di sekolahnya. Guru Dias merupakan anggota STP2K (Satuan Tugas Pelaksana Pembinaan Kesiswaan) yang sering menangani siswa terlambat dan beberapa permasalahan lain terkait para siswa. Beliau menyatakan bahwa konsekuensi adalah sesuatu yang harus diterima jika melanggar kesepakatan yang dibuat sebelumnya. Alih-alih menghukum siswa yang sering terlambat, beliau lebih mengedepankan diskusi dua arah yang memiliki efek jangka panjang. Dalam membuat konsekuensi dengan siswa, guru perlu mempertimbangkan banyaknya konsekuensi, keterlibatan semua pihak, dan kejelasan poin aturannya agar konsekuensi tersebut dapat dilakukan secara berkesinambungan. Beliau juga menyampaikan bahwa konsekuensi bersifat tidak mutlak/ dinamis. Artinya, konsekuensi dapat diubah sesuai dengan kondisi yang ada. Namun, sebelum menerapkan strategi ini, siswa harus diedukasi terlebih dahulu, akan lebih baik jika dalam bentuk cerita sehingga mereka tidak merasa digurui. Di akhir sesi, guru Dias memberikan sebuah masalah dan meminta peserta temu pendidik untuk merancang strategi konsekuensi yang akan dilakukan dalam sebuah kelompok. Lalu, mereka mempresentasikan hasilnya. Dari temu pendidik kali ini, guru belajar literasi melalui media video, merancang literature circle yang menarik serta berliterasi dalam menerapkan konsekuensi. Pada dasarnya, literasi ada di semua bidang, tidak hanya dalam pelajaran Bahasa. Temu Pendidik siang itu pun ditutup dengan memberikan berbagai informasi acara dan pelatihan yang akan dilakukan KGB Pekalongan bulan Maret. Diantaranya yaitu kegiatan trauma healing untuk korban banjir di Pekalongan dan pelatihan Melukis Kelas dengan Video.

Menuju Kolaborasi #PendidikanUntukSemua

Dalam pelaksanaan program Pengembangan Murid Disabilitas di Jawa Tengah dan DIY, butuh beberapa pihak untuk membuat program tersebut berjalan baik. Selain perguruan tinggi sebagai lembaga yang akan menerima murid penyandang disabilitas, butuh pihak sebagai sistem pendukung murid disabilitas tersebut, yaitu sekolah, guru dan orangtua. Oleh karena itulah langkah berikutnya yang kami lakukan adalah melakukan audiensi kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah dan Kementrian Agama Kanwil Jawa Tengah. Dalam audiensi tersebut, kami juga bertemu dengan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen. Beruntunglah kami, karena Jawa Tengah sedang membangun diri menjadi pioner pendidikan inklusi di Indonesia. Sebulan sebelum kami mengajak bekerjasama, ternyata sudah ada pertemuan yang dilakukan oleh pemerintah Provinisi Jawa Tengah berkaitan dengan inklusi. Artikel bisa dibaca di sinihttps://jatengprov.go.id/publik/sekolah-inklusi-dorong-abk-tak-minder-bersosialisasi/ “Saya ingin Jawa Tengah yang menjadi pionir tumbuhnya pendidikan inklusi. Kami ingin mendorong bahwa Jawa Tengah peduli dan tidak membeda-bedakan antara anak yang berkebutuhan khusus dan anak-anak yang normal,” ucap Gus Yasin dalam pertemuan tersebut. Gus Yasin juga menceritakan anak keduanya yang bersekolah di sekolah inklusi di sebuah sekolah di Rembang, terlihat berbeda dalam bersikap. Lebih peduli dan berjiwa sosial. Apa yang menjadi mimpi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sejalan dengan misi program Pendidikan Murid Disabilitas. Mimpinya sama-sama mencipttakan ekosistem pendidikan untuk semua. Sehingga apa yang Kampus Guru Cikal presentasikan di depan 3 pihak, langsung disepakati untuk dijalankan bersama. “Bagaimana kalau kegiatan tersebut kita laksanakan di Balai Pengembangan Pendidikan Khusus, karena kami memiliki gedung BP-Diksus di Jalan Elang. Sehingga kegiatan 3 acara tersebut bisa dilaksanakan di satu tempat. Lebih efisien.” Ungkap Dr. Padmaningrum, kepala bidang Pembinaan Pendidikan Khusus (Diksus) Dindikbud Jawa Tengah. Setelah berpamitan dengan Wakil Gubernur dan Kabid Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Jawa Tengah, akhirnya tim Kampus Guru Cikal dan tim Bidang Pendidikan Khusus Dindikbud menuju lokasi. Gedung yang berjejeran dengan SLBN Semarang ini sering digunakan untuk kegiatan-kegiatan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Ada beberapa kamar dan aula untuk pertemuan. Pertemuan dengan berbagai pihak, dari perguruan tinggi hingga dinas yang terkait semata-mata untuk mewujudkan pendidikan inklusi. Harapannya dengan adanya murid-murid disabilitas yang menempuh hingga perguruan tinggi, bisa menjadi bukti, menjadi penyemangat bagi semua pelaku pendidikan, baik orangtua, guru bahwa murid disabilitas pun punya potensi dan harus diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggi.

Siapa Bilang Kesepakatan Hanya Bisa Dijalankan Orang Dewasa?

Semangattt… Hari ini (24/02/2019) penggerak KGB Rembang mengadakan TPD yang ke-15. Ada dua kelas, kelas Strategi Dasar Sekolah Inklusi dan Kesepakatan Kelas: Membangun Motivasi Intrinsik. Satu hari sebelumnya kedua narasumber dan moderator telah merancang alur berjalannya diskusi. Langsung saja kita simak liputan berikut, Hari ini penggerak KGB Rembang mengadakan TPD yang ke -15. Ada dua kelas, kelas Strategi Dasar Sekolah Inklusi dan Kesepakatan Kelas: Membangun Motivasi Intrinsik. Satu hari sebelumnya kedua narasumber dan moderator telah merancang alur berjalannya diskusi. Langsung saja kita simak liputan berikut, Strategi Dasar Sekolah Inklusi Sampai detik ini, Sekolah Inklusi atau Pendidikan Inklusi sangatlah cetar membahana di khalayak umum, sedang naik daun katanya. Tapi sampai detik ini juga, masih banyak yang  belum tahu sebenarnya apa itu sekolah inklusi atau pendidikan inklusi tersebut. Nah, di TPD ke 15 ini teman-teman guru dari berbagai sekolah di daerah Rembang akan mendapatkan pencerahan tentang Sekolah Inklusi  dan bagaimana penerapannya pada sebuah instansi sekolah, bersama Guru Fiqoh sebagai narasumbernya dan Guru Joko sebagai moderatornya. Sebelum kegiatan dimulai terlihat Guru Fiqoh mempersiapkan segala macam buku tentang Inklusi yang didapatkannya dari perpustakaan Umar Harun, sedangkan Guru Joko terlihat mempersiapkan peralatan untuk kegiatan ice breakingnya. Perlu sekali dalam sebuah kegiatan seperti TPD seorang moderator menyiapkan ice breaking untuk menghindari kebosanan saat kegiatan berlangsung. Tepat pada pukul 13.35 kegiatan sudah mulai dibuka oleh Guru Joko, dengan peserta yang berjumlah 5 guru dari Sekolah Islam Umar Harun. Guru Joko membuka salam pembuka dengan penuh semangat, hingga semua peserta juga terbawa oleh semangatnya,  karena ternyata semangat itu menular. Di ruang kelas TK A kegiatan berlangsung dengan sajian snack gorengan tempe dan ote-ote khas Sarang disertai buah pencuci mulut yang merah merona buah semangka. Sambil menikmati snack yang telah tersedia, Guru Joko mengajak untuk menebak hitungan jarinya yang diawal Guru Joko tanpa kita sadari sudah menyebutkan kata kunci dari jawaban tebak-tebakannya. Riuh rendah suara kami di kelas , berebut untuk bisa menjawab tebakan tersebut. Tapi dari kami berlima belum ada yang bisa menjawab dengan tepat, hingga akhirnya kami menyerah. Guru Joko pun membeberkan semua jawaban dari tebakannya. “Ooo…begitu jawabannya”, serentak itu yang keluar dari mulut kami masing-masing. Terlihat susah tapi ternyata sangat mudah. Permainan tersebut dapat melatih konsentrasi untuk memahami arahan. Ice breaking selesai, langsung dilanjut Guru Fiqoh mulai membuka laptopnya menampilkan sebuah tulisan yang terdapat dalam buku yang berjudul “Menjadi Guru Yang Kreatif” dari Sekolah Tumbuh Yogyakarta.  Sebelum Guru Fiqoh menjelaskan semua tulisan yang sudah ditampilkannya, Guru Fiqoh menggali pengetahuan peserta tentang makna Sekolah Inklusi itu sendiri. “Sekolah Inklusi adalah memfasilitasi segala macam latar belakang anak didik”, ungkap Guru Rodliyah. Guru Amal juga berpendapat, “Sekolah Inklusi adalah memfasilitasi kegiatan pembelajaran anak didik sesuai dengan kebutuhannya”. Sebagai moderator, Guru Joko ikut andil melengkapi pendapat teman guru lainnya,”Sekolah Inklusi adalah memfasilitasi semua keberagaman anak didik dari berbagai sudut pandang”. Luar biasa antusiasme peserta terlihat mendominasi saat  itu, tidak ada yang terlihat menguap atau tertidur. Merasa sudah cukup, Guru Fiqoh merangkum semua pendapat teman-teman dengan membaca buku “Menjadi Guru Yang Kreatif”, “Sekolah Inklusi adalah sekolah yang mengakomodasi keberagaman siswa termasuk keberagaman kebutuhan dan kemampuan. Guru memiliki peran dalam mengembangkan kurikulum sehingga semua siswa dapat berpartisipasi dalam pembelajaran. Pengembangan kurikulum di sini dimulai dari pemetaan kelas, pemetaan indikator belajar, menentukan metode belajar, merancang kegiatan pembelajaran, hingga menyusun evaluasi pembelajaran”. Setelah selesai membacakan buku tersebut, terlihat ada empat guru berdatangan, guru dari Sekolah Islam Umar Harun dan SMK Al Anwar. Jumlah peserta pun menjadi sembilan peserta. Guru Fiqoh melanjutkan kegiatan tersebut dengan strategi diskusi, terdapat dua kelompok diskusi yaitu kelompok guru laki-laki dan perempuan. Diskusi berjalan sangat mengalir dan aktif. Keaktifan diskusi salah satunya terlihat oleh Guru Dhorif yang selalu menyertakan referensi dari setiap tanggapannya. Semua peserta merasa nyaman dengan strategi diskusi yang dibuat oleh Guru Fiqoh. Peserta mempunyai kesempatan untuk berpendapat dan saling menghargai  tanpa harus menyalahkan pendapat satu sama lain. Hal yang sama begitu juga dirasakan oleh Guru Fiqoh bahwa narasumber di sini bukanlah satu-satunya sumber belajar. So, apa kesimpulan dari Pendidikan Inklusi? Pendidikan Inklusi adalah pendidikan yang terbuka dan ramah, dengan mengedepankan tindakan menghargai dan merangkul perbedaan. Difrensiasi atau sikap menghargai dan memfasilitasi keragaman ini harus ada pada setiap sisi dari pendidikan, baik dalam konten, proses, produk maupun lingkungan belajar. Hal ini tentu disesuaikan dengan kesiapan, minat, dan profil pembelajaran. Kunci sukses pendidikan Inklusi : Hadir bersama, Adanya capaian/ target yang jelas , dan Partisipasi. Waktu telah menunjukkan pukul 15.15 saatnya memasuki kegiatan selanjutnya. Guru Joko mengambil alih untuk memimpin peserta. Memberikan pilihan kegiatan selanjutnya, refleksi atau ice breaking terlebih dahulu. Peserta sepakat untuk refleksi terlebih dahulu. Guru Joko mempersilahkan semua peserta untuk menyiapkan alat tulis berupa buku dan pena. Guru Joko memberikan waktu sekitar 10 menit untuk peserta menuliskan aksi  yang akan dilakukan setelah mengetahui Pendidikan Inklusi . Tepat 10 menit, Guru Joko menyudahi kegiatan menulis refleksi dan mempersilahkan salah satu peserta untuk mempresentasikan aksi refleksinya. Ada Guru Dhorif yang menyatakan aksinya yaitu akan berusaha memahami murid dari latar belakang yang berbeda-beda melalui observasi harian dan meninggalkan labeling. Guru Joko seketika mengajak peserta untuk memberikan tepuk tangan sebagai apresiasi untuk Guru Dhorif yang sudah bersedia membacakan aksinya. Ice breaking penutup sudah siap dipimpin oleh Guru Joko dan terlaksana dengan sangat meriah, karena ice breaking penutup ini sifatnya membangun kerjasama dan kekompakan tim. Sebelum kegiatan ditutup dengan salam dari narasumber dan moderator, Guru Fiqoh menguatkan dengan kalimat penutupnya, ‘’ Inklusi tidak hanya pada guru atau sekolah, tapi lingkungan pun harus  Inklusi’’. Alhamdulillah,,,semua kegiatan TPD ke 15 hari ini berjalan dengan lancar dan penuh dengan aura semangat dari peserta. Itu membuktikan bahwa jumlah peserta bukanlah menjadi satu-satunya  penentu suksesnya suatu kegiatan, tapi semangat belajarlah yang akan menggiring kita menemukan kesuksesan itu sendiri. Kesepakatan Kelas: Membangun Motivasi Intrinsik Siapa bilang kesepakatan hanya bisa dijalankan orang dewasa? Anak-anak usia dini pun bisa. Menurut saya, dalam acara-acara TPD yang lalu pasti semua peserta terlibat dalam diskusi, seluruh waktu bukan milik narasumber. Begitu juga dengan acara TPD yang ke-15 ini, semua peserta terlibat untuk membahas tentang sebuah kesepakan kelas. Guru Ulya, sebagai narasumber mengajak para peserta untuk sharing pengalaman tentang membuat kesepakatan kelas. … Read more

Merancang Pembelajaran yang Bermakna

Moderator : Abdurakhman Hardiyanto (Unikal – KGB Pekalongan)Narasumber : Rizqy Rahmat Hani (Kampus Guru Cikal – KGB Pekalongan) Rizqy : Three Idiots adalah salah satu film favoritku, ada sebuah adegan yang membuatku terinspirsi yaitu adegan  Pia, dan teman-temannya sedang mencari Rancho yang lama telah menghilang. Setelah mencari ke bebrapa tempat, akhirnya mereka sampai  di sebuah sekolah. Ketika mereka turun, yang mereka lihat pertama adalah seorang anak dengan sebuah mesin sederhana mencampurkan bahan-bahan membuat kue, kemudian mata mereka tertuju kepada seorang anak yang memutar pedal sepeda sebagai daya pencukur  bulu domba, dan di samping mereka ada dinding sekolah yang nerwarna-warni. Adegan itulah yang membuat pandanganku mengenai pendidikan berubah. Suara jangkrik malam itu menemaniku yang sedang mempersiapkan materi ajar untuk esok hari. Aku  buka-buka lagi buku kuliahku tentang karya ilmiah. Aku buka-buka lagi Karya ilmiah yang pernah aku buat dan kirimkan untuk lomba sewaktu aku kuliah. “Baiklah, besok aku akan menjelaskan tentang apa itu karya ilmiah dan bagian-bagiannya.” Keesokan harinya, karena sudah mempersiapkannya, aku dengan kepercayaan diri masuk ke kelas. Langsung kubagikan karya ilmiah yang pernah kubuat kepada anak-anak. Kemudian kutulis sebuah kalimat di papan tulis. “Apa itu karya ilmiah?” Sengaja kutulis besar agar bisa terlihat oleh siswa yangpaling belakang. “Halo, nah coba Kalian baca sebentar mengenai karya ilmiah yang bapak berikan ya?” “Bapak beri waktu 5 menit untuk kemudian setiap anak wajib memaparkan pengertian seperti yang diketahuinya. Nanti jawaban yang paling keren Bapak kasih hadiah”. Saya yakin dengan hadiah anak akan lebih aktif, lebih senang belajar. Semua tampak senang dan berlomba-lomba menemukan arti dari karya ilmiah. Aku tersenyum karena merasa sudah menjadi guru yang keren, yang membuat anak-anak senang belajar. Belum ada lima menit ada seorang anak yang maju dan menuliskan jawaban di papan tulis. Dilanjutkan anak-anak yang lainnya. Dan semua antusias menuliskannya di papan tulis “pengertian dari karya ilmiah’. “Terima kasih, jawaban Kalian keren-keren!” Kemudian dari jawaban-jawaban tersebut, akhirnya kami saring menjadi jawaban yang paling benar. “Sekarang coba ada yang bisa menuliskan bagian karya ilmiah apa saja?” Semua diam. Kelas menjadi hening. Aku melupakan sesuatu. Hadiah. Maka dengan cekatan, aku langsung menawari hadiah kepada anak-anak. “Ehmm, kali ini bapak punya sesuatu bagi yang mau menyebutkan” Belum ada beberapa menit, seorang anak berdiri dan menyebutkan apa yang aku perintahkan. “Latar belakang, rumusan masalah, …. metode penelitian …, pembahasan… daftar pustaka” jawab saah satu siswa. Hari itu aku sangat yakin, kalau metodeku ini adalah metode keren. Anak-anak pasti bisa menjawab soal Ujian Nasional dengan baik. -Itulah yang aku lakukan 3 tahun di awal-awal menjadi guru. Mengajarkan anak menghafal. Senang, karena saat ulangan, anak-anak berhasil menjawab soal-soal pilihan ganda yang memuat materi-materi tersebut. Senang  karena nilai anak-anak selalu bagus di pelajaran Bahasa Indonesia yang artinya aku sebagai guru berhasil dan pastinya akan dipandang oleh pihak sekolah. Pemahamanku waktu itu mengenai sekolah adalah tempat mendapatkan nilai. Sampai akhirnya suatu hari saat tidak sengaja membaca tulisan siswaku. Bahwa selepas pulang sekolah, ia sering membantu ayahnya membuat batu bata. Maka ia tak suka jika gurunya memberikan PR, yang itu artinya ia harus meninggalkan bapaknya sendirian bekerja. Kejadian itu yang membuat aku merenung. “Apa benar, sekolah hanya mengejar nilai?” “Lalu mendapat ijazah” “Apa benar nilai-nilai di ijazah itu akan berguna bagi kehidupan mereka” Aku mulai merasa bahwa apa yang aku lakukan selama ini menjadi guru salah. Guru yang masih berorientasi nilai, guru yang tidak memperhatikan siswa yang diajarnya, guru yang tidak melibatkan siswa. “Bukan pengertian Karya Ilmiah yang siswa butuhkan” “Bukan mengetahui bagian-bagian Karya Ilmiah yang siswa butuhkan” “Lebih dari itu. Siswa Harus tahu bahwa ada sesuatu yang bisa dilakukan dari karya ilmiah bagi kehidupannya” Aku mencoba berefleksi dari kejadian di atas. Mencoba menjadi guru yang lebih baik. Karena aku sadar, bahwa menjadi guru adalah perjalanan, tidak ada garis finisnya. Perjalananya adalah proses belajarnya. – Di tahun berikutnya, aku mencoba mengubah konsep pembelajaran Karya Ilmiah. Kali ini mencoba melibatkan anak dalam prosesnya. “Di sekolah ada tempat-tempat apa aja sih?” tanyaku di depan kelas. “Toilet Pak” “Tempat Parkir Pak” “Ruang Guru” “Hutan sekolah” “Musala” “Kantin” Daftar tempat yang disebutkan siswa aku tulis di papan tulis, kemudian aku meminta siswa untuk mengurutkan tempat-tempat tersebut jika dilalui mulai dari ruang kelas dan kembali lagi ke ruang kelasnya. Akhirnya didapatkan rute untuk penjelajahan sekolah. “Jika kita seorang detektif yang mau meneliti tempat di sekolah, apa aja yang akan Kalian teliti?” “Kegunaanya Pak?” “Maksudnya Kegunaanya” tanyaku “Misalnya Perpustakaan Pak, perpustakaan pada dasarnya adalah tempat baca, jika digunakan untuk tempat mengobrol, tempat menonton televisi kan tidak digunakan semestinya” “Yang lain?” tanyaku lagi. “Kelengkapan Pak” “Apa lagi itu?” “Di tempat parkir misalnya Pak, sering terjadi pencurian helm. Itu karena CCTV yang belum ada Pak” Dari obrolan reflektif itu akhirnya kami mendapatkan rubrik-rubrik yang akan diteliti. Rubrik-rubrik tersebut yang akan digunakan siswa untuk melakukan penjelajahan sekolah secara berkelompok. Penjelajahan Sekolah pun berlangsung. Saat penjelajahan sekolah ada banyak diskusi di setiap kelompok. Misalnya saat di Perpustakaan, ada kelompok yang mendiskusikan penempatan kursi Perpustakaan yang masih kurang, hingga mendiskusikan peminjaman buku yang belum maksimal dilakukan, masih banyak siswa yang tidak mengembalikan buku. Kelompok lain saat melewati musala dan mengamati seorang guru yang berwudhu, mereka melihat banyak air wudhu yang terbuang sia-sia saat guru tersebut berwudhu. Lainnya melihat banyak tanaman yang mati di hutan sekolah dan tanaman yang berada di pot depan kelas. Dan masih banyak masalah yang mereka temui. (Padahal tiap hari mereka lewati, dan baru sadar setelah menjelajahi sekolah dengan rubrik). Sesampainya di kelas, akhirnya kami mendata bersama permasalahan yang ditemukan di sekolah. Dari permasalahan yang sudah didata, akhirnya kami sekelas mencoba mem-brainstroming ide-ide kami. “Saya yakin, Kalian adalah orang-orang keren di masa depan. Nah jika kalian mendapati masalah seperti ini (sambil menunjuk papan tulis) apa yang akan Kalian lakukan, ayo berikan kontribusi Kalian!” tantangku di depan kelas. “Saya akan mencoba membuat sistem barcode untuk perpustakaan Pak, agar peminjaman buku semakin mudah” “Aku akan mencoba meneliti, kenapa masih banyak anak pergi ke Kantin daripada ke Perpustakaan Pak saat jam kosong dan istirahat” “Aku akan mencoba membuat alat agar tumbuhan-tumbuhan di hutan sekolah atau depan kelas tidak layu Pak” Ide-ide yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. … Read more

Mengelola Keragaman Dalam Kelas Inklusi

Moderator: Guru Filla Nova Mariyana (Sekolah Islam Umar Harun, Rembang) Narasumber : Guru Yanuar Khaldun (Sekolah Cikal Surabaya) Profil Narasumber : Anggota KGB Surabaya, mengajar di Sekolah Cikal Surabaya sebagai guru SSC ( student support center),  memberikan pelayanan kepada anak anak yang membutuhkan layanan khusus. Kegiatan : Diskusi Online Hari / Tanggal : Minggu, 10 Februari 2019 Pukul : 15.30 – 17.30 WIB PEMBUKAAN Narasumber : Sebelumnya saya ke materi, gambaran  pendidikan inklusi menurut bapak dan ibu itu seperti apa sih? TANGGAPAN PESERTA Bu Lia : Pendidikan Inklusi adalah pendidikan untuk semuaBu Shaumi : Pendidikan yang bebas untuk siapa sajaPak Shoffa: Kalau saya, pendidikan inklusi itu yang semua model latar belakang anak bisa sekolah. Fisik, ekonomi, ras, suku, agamaPak Joko : Pendidikan Inklusi menurut hemat saya adalah pendidikan yang tidak memandang beda pada muridnya. Semuanya tetep mendapatkan jatah pendidikan yang sama, namun dengan cara yang beda-beda karena semua anak memiliki tahapan perkembangannya masing-masingBu Partilah : Pendidikan yang melayani anak berkebutuhan khususBu Shaha: Sekolah dengan anak yang memiliki kebutuhan berbeda dari biasa sampai luar biasa, dari khusus sampai sangat khususBu Ulya : Pendidikan yang menghargai keberagamanBu Nisa : Pendidikan yang menfasilitasi berbagai keragaman.Bu Fiqoh : Pendidikan inklusi adalah pendidikan untuk semua tanpa pilih kasihBu Muflihah : Pendidikan inklusi adalah  pendidikan yang tidak membeda-bedakan keadaan (kondisi) anak, baik ABK atau non ABK.Bu Riroh : pendidikan untuk siapa sajaBu Mufidah : Semua murid diperlakukan samaBu Zahro : Menurut saya pendidikan inklusi adalah pendidikan yang tidak membatasi keberagaman peserta didiknya.Bu Hani’ : Sebuah pendekatan untuk membangun dan mengembangkan sebuah lingkungan yg semakin terbuka, mengajak masuk dan mengikutsertakan semua orang dgn berbagai perbedaan latar belakang MATERINarasumber : Wah, keren keren jawabannya. Pendidikan inklusi menerapkan model diferensiasi  dalam pembelajaran. Jadi pendidikan inklusi juga menerima anak anak yang berkebutuhan khusus. Ketika sekolah menjadi sebuah sekolah inklusi, maka secara tidak langsung sekolah tersebut harus siap dengan kedatangan ABK di sekolah tersebut. Namun banyak kejadian di lapangan sekolah umum masih bingung dengan model pelayanan di sekolah inklusi seperti apa. Banyak guru juga masih  kesulitan bagaimana memodifikasi kurikulum, menentukan bagaimana model penilaian yang akan digunakan dan cara mengajar bagi anak berkebutuhan khusus yang bersekolah di sekolah inklusi. Di SKGB 18 saya menceritakan tentang bagaimana saya menghandle siswa ADHD di kelas inklusi. Dia berusia 3 tahun pada saat itu sangat aktif sekali. Setiap hari ada kejadian temannya yang tertarik, terdorong dan tertendang. Saya mempelajari pola siswa saya. Dengan mengidentifikasi permasalahan siswa saya terlebih dahulu, merancang program, melibatkan orang tua untuk program dirumah, dan monitoring di tiap tengah semester. Prosesnya cukup panjang. Hampir satu tahun, saya juga mencari taktik untuk meyakinkan orang tua. Dikarenakan siswa saya anak tunggal, jadi perilaku tersebut tidak muncul di rumah. Munculnya ketika di sekolah. Hasilnya memang tidak instant, perlu proses. Saya juga berusaha mengkondisikan teman-temannya agar selalu berfikiran positif pada siswa dampingan saya. Orang tua cukup kooperatif jadi dari rekomendasi yang saya berikan dillakukan. Nah ini tugas dasar dari seorang guru :1. Memperoleh kerja sama dengan siswa 2. Mencapai keteraturan dengan melakukan kerja sama dengan siswa dan memeliharanya dalam kegiatan pembelajaran 3. Tidak sekedar menangani “perilaku mengganggu” secara efektif, namun juga : – Membuat tuntutan perilaku dan akademis yang sesuai dengan siswa– Memberikan petunjuk yang jelas bagi siswa – Memperlancar peralihan pelajaran – Memprediksikan permasalahan dan mencegahnya – Memilihkan & mengurutkan kegiatan sehingga tercapai keteraturan & kelancaran belajar, dll  4. Kegiatan berbeda membutuhkan keterampilan pengelolaan kelas yang berbeda DISKUSIBu Rodliyah : Di kelas saya ( kelas 1 SD), ada 20 anak dengan 1 anak berkebutuhan khusus ( dulu diagnosanya autis). Saya ingin tanya bagaimana perencanaan kegiatan pada ABK, apakah ada rencana B dan C, mengingat apa yang kita rencanakan ternyata anak tersebut belum siap  mengikuti kegiatan? Mengingat juga kebutuhan yang berbeda, seringnya bentuk kegiatan juga berbeda dari mayoritas anak2 di kelas, meski beberapa kali juga terlihat bisa bergabung Narasumber : Dalam memberikan materi pembelajaran ke anak ABK kita perlu melihat usia mental anak. Jika anak kelas 1 dengan usia 7 tahun, tetapi kemampuannya seperti anak usia 5 tahun berarti kita menyiapkan materi sesuai dengan anak usia 5 tahun. Kita merencanakan program sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh anak. Misalnya anak sudah bagus di berbahasa tetapi kemandirian, berhitung dan sosial masih kurang baik. Maka kita harus buat program untuk berhitung, kemadirian dan sosial. Bu Rodliyah : Menurut bapak, apakah dalam kelas itu, memungkinkan kegiatan ABK butuh pendampingan khusus? Sebenarnya dari saya, perencanaan pembelajaran ABK belum begitu optimal, tapi kami juga mempertimbangkan usia tahap perkembangannya pak. Narasumber : Tidak semua ABK perlu didampingi. Kita melihat kondisi dan karakteristik siswa. Jika anak memiliki perilaku yang masih tiba-tiba marah dan bisa melukai teman-teman lainnya maka dia perlu didampingi. Tetapi jika siswa tersebut memiliki masalah akademik, kita lihat yang perlu pendampingan di mata pelajaran apa. Bu Rodliyah : Memang observasi anak itu penting untuk merencanakan programnya hingga tercapai tujuan dan tahapan perkembangan. Terima kasih banyak, pak Bu Khoridah : Di kelas kami ada ABK. Sudah ada program yg didiskusikan bersama orangtua, tapi kami merasa program tersebut sulit tercapai karena seakan-akan hampir tidak ada effort dari si anak. Dan pernah kami berkunjung ke rumahnya, ternyata program yang sudah disepakati bersama itu kurang diindahkan oleh pihak keluarga di rumah. Dari situ kami berpikir, mungkin karena program sekolah dan rumah ini tidak berjalan beriringan jadi sulit perkembangannya. Bagaimana kami sebagai guru menyikapi ini pak? 🙏🏼 Narasumber : Orang tua memang terkadang kurang kooperatif. Membebankan kepada guru pembelajaran anak-anaknya. Nah, untuk menyiasati seperti ini, saya biasanya membuat checklist tugas untuk di rumah dan mana yang di sekolah. Dari checklist tersebut kita dapat mengevaluasi kenapa perkembangan anak stagnan. Jika dari checklist ternyata pihak ortu yang tidak melakukan dengan baik, kita bisa merefleksikan. Mengundang orang tua  ke sekolah, apa kesulitan yang di hadapi di rumah. Bu Lia : Terimakasih atas kesempatan berharga sore ini. Menarik sekali materi sore ini tentang keragaman. Sungguh indah sekali apabila kita bisa memahami keragaman yang ada di kelas. Di kelas saya ada 2 anak ABK (sama-sama linguistiknya yang masih perlu ditingkatkan) apabila diajak berbicara keduanya sudah memahaminya. Dari keseharian bersama mereka saya … Read more