Literasi lewat Dongeng, Membangun Keterampilan Berpikir Kritis.

Siapa yang waktu kecil senang mendengarkan cerita? Faktanya, mau besar atau kecil, kita senang mendengar cerita. Cerita yang bermakna bisa membangun karakter-karakter positif dalam diri. Guru punya banyak kesempatan untuk menyentuh hati murid-muridnya melalui cerita yang disampaikan di ruang kelas. Cerita yang seperti apa yang bisa membuat murid berpikir kritis? Kita akan bahas lebih lanjut dalam TPD KGB Bandung dengan topik : “Literasi lewat Dongeng, Membangun Keterampilan Berpikir Kritis.” Begitulah sepenggal caption yang mengantarkanku untuk hadir menemui Guru Titin, di SMKN 5 Bandung pada tanggal 23 Februari 2019. Aku yang telah lama menanti diangkatnya tema ini, hadir dengan membawa pertanyaan yang senada dengan caption tersebut. Pertanyaanku adalah “bagaimana menumbukan keterampilan berpikir kritis secara menyenangkan?” Mendongeng adalah jawaban dari pertanyaanku tentang kegiatan yang menyenangkan. Mendongeng adalah kegiatan literasi yang menyenangkan dan sangat kaya makna. Bu Titin yang juga aktif menjadi narasumber parenting, membagi pengalamannya sebagai contoh. Bu Titin bercerita : Saat itu suami saya karena sebuah kondisi menyebabkannya tidak dapat bekerja. Hal tersebut berbeda dengan saya yang selain berperan sebagai ibu, istri, namun juga bekerja sebagai guru. Di satu hari, saya pulang mengajar dalam kondisi basah kuyup karena kehujanan. Namun, suami saya nampak tidak mempedulikan keadaan saya. Saya pun memanggilnya, “Yah, sini deh, ada cerita.” “Cerita apa?” sahutnya sambil menghampiri saya. “Itu Bu Cinta pulang kehujanan, suaminya langsung membawakan handuk dan teh hangat, padahal Bu Cinta baru pulang main, bukan pulang kerja” kata saya. Mendengar cerita tersebut, suami saya bergerak membawakan handuk dan teh hangat, dengan mengatakan, “nih handuknya, nih teh hangatnya”. Lalu ia pergi dan kembali tenggelam dalam aktivitasnya. Tawa pun menyeruak di ruang TPD. Tawa lahir karena suami Bu Titin termotivasi untuk berperilaku baik, namun terdengar tak ikhlas. Dibalik tawa tersebut, lahir kesadaran pada peserta TPD, bahwa mendongeng itu dapat memotivasi untuk berperilaku baik, dapat membangun karakter. Dimana hal tersebut dapat terbangun bukan hanya pada penikmat dongengnya, namun juga pada pendongengnya. Pada contoh diatas nampak bahwa Bu Titin sebagai pendongeng, memilih untuk mengelola emosinya, sehingga komunikasi dapat tetap efektif memotivasi orang lain berperilaku baik, sehingga pada akhirnya dapat membangun karakter positif. Kekayaan makna pada dongeng dapat diraih, apabila dongeng menjadi sangat berkesan bagi siswa, menjadi memorable bagi siswa. Salah satu cara untuk meninggalkan kesan tersebut adalah dengan mengkritisinya. Kebiasaan kritis inilah yang pada akhirnya dapat menumbuhkan keterampilan berpikir kritis pada siswa. Bu Titin pun membagikan praktik baik kepengajarannya tentang cara-cara melatih berpikir kritis terhadap dongeng. Bu Titin mengawalinya dengan mengajak kami memikirkan “Apa kata-kata yang tepat untuk menggambarkan ini?” Dan kami diajak menceritakannya pada selembar kertas. Berbagai cerita pun bermunculan. Salah satu ceritanya adalah cerita tentang suami-suami takut istri, seperti judul sinetron di layar televisi. Lalu, kami diajak menceritakan lagi, “Tokoh mana yang disukai, dan mengapa?” Selain Bu Titin mempraktikannya langsung pada kami, Bu Titin pun menegaskan cara-caranya, yang meliputi: 1. Di tengah cerita, guru mengajak siswa membayangkan kelanjutan ceritanya, sehingga memungkinkan lahirnya cerita yang sangat variatif dari siswa. 2. Di akhir cerita, guru mengajak siswa menentukan tokoh yang disukai dan alasannya. 3. Lalu mengajak siswa berandai-andai, bila siswa menjadi salah satu tokoh di cerita tersebut, apa yang akan dilakukan dan mengapa. Bu Titin memberi contoh untuk poin nomer 3,  Bu Titin berkata, “Pada cerita Malin Kundang, bila kamu menjadi istri Malin, apa yang akan kamu lakukan dan mengapa?” Mendengar pertanyaan tersebut, sontak peserta TPD terkejut karena merasa belum pernah mendengar pertanyaan seperti itu sebelumnya. Bu Titin menyimpulkan prinsip melatih berpikir kritis adalah bertanya dengan hal yang berbeda, bukan hanya menerjemahkan atau men-translate-nya. Bu Titin pun menceritakan cerita tentang siswanya, sebagai hasil dari kebiasaan praktik baik yang dilakukannya. Singkat cerita, lahirlah siswa yang percaya diri untuk bercerita, yang merasa aman bercerita, yang bercerita tanpa merasa tertekan atau terpaksa. Dan pada sesi inilah tiba-tiba ruangan menjadi sangat hening. Bu Titin bercerita dengan mata berkaca-kaca. Peserta TPD ada yang sempat membayangkan, andaikan dirinya dulu memiliki guru seperti Bu Titin, sebagai siswa tentu akan merasa sangat bahagia. Karena saat itu, terasa bahwa ia mengajar dari hati. Disini Bu Titin berhasil menunjukkan bahwa dongeng itu dapat menyentuh hati. Keheningan kami pun disadarkan dan dipecahkan oleh moderator yang akan membuka sesi tanya jawab. Dan alhasil gaya kepengajaran Bu Titin yang mengajak kami berpikir kritis, menstimulasi antusias para peserta bertanya. Dengan kompak kami mengacungkan tangan, kami bergiliran untuk bertanya, ada yang mengalah bertanya di akhir, ada yang bertanya lebih dari satu pertanyaan, dan bahkan ada yang bertanya melebar dari topik hingga perlu dibatasi. Sebagai penutup, Bu Titin membagikan quote dari Fisher (2008) : “Good Teacher makes you think even, when you don’t want to”. Dan catatan saya menulis, “Kita bukan penyampai materi, kita tidak akan kalah dengan google, sang mesin pencari informasi.”

Di Jalan Sepi, tapi Selalu Ada Teman

“Kulakukan itu dalam waktu berbulan-bulan, mondar-mandir kesana-kemari cari informasi dan partisipasi dari banyak orang yang kiranya memiliki kepedulian kepada kaum difabel. Saat itu, aku hampir saja putus asa. Karena kegiatan itu sedikit banyak memakan jadwal kuliahku. Ditambah lagi tidak banyak orang yang ternyata sulit untuk bekerjasama denganku. Bahkan sebagian memberi syarat yang bagiku berat agar aku bisa mendirikan organisasi difabel.” tulis Cindy Ayu Anggraini, mahasiswa tuna rungu di Universitas  Negeri Sebelas Maret Surakarta​ (UNS), Jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) dalam esai yang ia tulis. Tulisan Cindy mengenai perjuangannya mengaktifkan kembali Gerakan Peduli Indonesia Inklusi (GAPAI) di UNS berhasil menyentuh banyak orang. GAPAI yang ia aktifkan kembali adalah sebuah komunitas mahasiswa yang membantu, memantau, mengidentifikasi mahasiswa difabel di UNS. Misalnya ada mahasiswa difabel yang kesulitan dalam membaca, relawan GAPAI yang akan membantunya dalam membaca. Di jalan yang sepi, UNS terus berjalan untuk pendidikan untuk semua. Selain mendirikan  Pusat Layanan Difabel (PLD) yang kemudian mendirikan Gerakan Peduli Indonesia Inklusi (GAPAI), kiprah UNS dalam mewujudkan pendidikan inklusi tidak main-main. Setiap mahasiswa di  Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) mendapatkan 2 SKS mata kuliah pendidikan inklusi. Harapannya calon-calon guru dari UNS memiliki bekal pendidikan inklusi ketika menjadi guru nanti dan menerapkan inklusivitas yang didapatkan saat berkuliah. Keinklusivitasan UNS itulah menjadi salah satu alasan kami untuk menjajaki kerjasama program #PendidikanUntukSemua . Selasa pagi (5/3/2019), tim Kampus Guru Cikal yang diwakili Bukik Setiawan dan Rizqy Rahmat Hani bertandang ke UNS. Memasukki UNS kami disambut oleh pohon yang rindang dan tertata rapi. Melihat kepedulian UNS terhadap lingkungan dan fasilitas, membuat kami langsung jatuh hati. Kami pun memasukki gedung Rektorat lantai 2 untuk bertemu Rektor UNS, Prof Dr Ravik Karsidi MS. Selain bertemu rektor, dalam audiensi tersebut ada pula Dr. Munawir Yusuf, M.Psi. selaku Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Kependidikan dan Asri mewakili Drs. Subagya, MSi (Ketua Pusat Layanan Difabel) yang berhalangan hadir. Bukik Setiawan selaku Ketua Kampus Guru Cikal menyampaikan tujuan kedatanganya ke UNS, bahwa ingin mengajak UNS berkolaborasi. Harapannya dengan kiprah UNS di pendidikan inklusi selama ini bisa memfasilitasi murid-murid disabilitas yang kami seleksi dalam Program Pengembangan Murid Disabilitas. Program Pengembangan Murid Disabilitas disambut baik, Dr. Munawir Yusuf, M.Psi. menceritakan tantangan yang UNS hadapi selama ini dalam menjalankan pendidikan inklusi salah satunya adalah seleksi calon mahasiswa. Selama ini ujian masuk mahasiswa difabel ke UNS bersamaan dengan jalur umum, baik melalui SMPTN, SBMPTN dan UM, tidak ada jalur khusus. Setelah melewati ujian tersebut, kemudian calon mahasiswa difabel diwawancara untuk bisa lolos menjadi mahasiswa UNS. Namun menurut Munawir hal tersebut kurang efektif, karena ada beberapa kasus mahasiswa difabel di tahun ketiganya tidak mau kuliah. Program yang ditawarkan Kampus Guru Cikal disambut baik, seperti jembatan murid difabel dan kampus. “Saya mengapresiasi program ini, program ini seperti jembatan murid difabel dan kampus yang menyediakan layanan pendidikan tinggi. Calon mahasiswa sudah dilatih, lalu diseleksi oleh Kampus Guru Cikal dan  siap belajar di perguruan tinggi” tutur Munawir Di jalan yang sepi, tapi selalu ada teman …

Menemukan Teman Seperjalanan di Jalan Sepi #PendidikanUntukSemua

Hamzah (32 tahun) seorang tuna netra dari Makassar, mengatakan ia sering menerima komentar negatif dari para guru yang mengeluhkan kinerjanya di kelas tetapi ia tidak pernah mendapatkan dukungan atau materi yang disesuaikan untuk membantu dirinya untuk terlibat. Meskipun kurangnya dorongan dari gurunya, Hamzah bersikeras untuk mengejar pendidikan tinggi seperti teman-temannya yang tidak cacat, dan bermimpi menjadi guru di sebuah sekolah Islam. Tetapi Hamzah ditolak pada tahun 2003 oleh fakultas pendidikan (tarbiyah) di Alauddin UIN. Dia diberi tahu bahwa orang buta tidak bisa menjadi guru dan institut itu tidak bisa menampungnya. Dia akhirnya diterima ke departemen sastra Inggris di UNM. Sosok Hamzah yang dituliskan oleh Dina Afrianty, peneliti La Trobe University, Australia dalam artikel berjudul “People with Disability: Locked out of Learning?” adalah salah satu contoh berhasil seorang disabilitas bisa mengenyam pendidikan tinggi. Namun masih banyak pekerjaan rumah berkait dengan akses masuk perguruan tinggi bagi murid disabilitas. “Usaha-usaha memang sudah dimulai, tapi di seluruh Indonesia belum banyak. Hanya beberapa perguruan tinggi yang mampu menyediakan fasilitas yang memudahkan civitas academica dalam belajar dan mencapai semua tempat dengan menjaga keselamatannya,” kata Staf Ahli Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) bidang Akademik, Paulina Pannen. Itulah salah satu alasan program #PendidikanUntukSemua dijalankan, memberikan akses perguruan tinggi kepada murid-murid penyandang disabilitas. Tantanganya adalah mencari perguruan tinggi yang sudah menjalankan pendidikan inklusi. Selasa (19/2/2019) Kampus Guru Cikal mulai melakukan audiensi dengan berbagai perguruan tinggi di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Audiensi ini bertujuan untuk mempelajari, sejauh mana perguruan tinggi tersebut peduli dengan mahasiswa penyandang disabilitas. Perguruan tinggi yang menjadi kunjungan awal oleh tim Kampus Guru Cikal adalah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pemilihan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta karena perguruan tinggi tersebut yang menjadi pelopor perguruan tinggi yang memfasilitasi penyandang disabilitas sejak tahun 2007. Dalam audiensi tersebut tim Kampus Guru Cikal diwakili oleh Bukik Setiawan selaku ketua Kampus Guru Cikal dan Rizqy Rahmat Hani selaku ketua program #PendidikanUntukSemua . Audiensi dilakukan di gedung PAU lantai 2 UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Kami disambut dengan hangat oleh bapak Waryono, selaku wakil rektor bidang kerjasama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Arif Maftuhin selaku ketua Pusat Layanan Difabel (PLD) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Keseriusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam menjalankan pendidikan inklusi di perguruan tinggi tidak main-main. Pusat Layanan Difabel menjadi tonggak dalam memperjuangkan pendidikan inklusi. “Mahasiswa difabel belajar bersama mahasiswa lainnya, tidak ada kelas khusus, tidak ada program khusus bagi mereka. Tugas Pusat Layanan Difabel adalah memastikan bahwa proses mereka dalam kegiatan belajar mengajar dan kegiatan akademik yang lain itu dapat terlibat secara penuh.  Misalnya kalau ada mahasiswa tuli, kita mengirimkan pendamping, baik berupa no taker maupun juru bahasa isyarat. Misalnya ada mahasiswa tuna netra, kita memfasilitasi mereka untuk mengakses materi-materi kuliah dengan proses digitalisasi. Kita mencoba agar proses menjadi inklusif itu bisa benar-benar dirasakan oleh mahasiswa yang belajar di UIN SUKA.” kata Arif Maftuhin. Dalam audiensi tersebut Kampus Guru Cikal juga menjajaki kemungkinan kerjasama untuk program #PendidikanUntukSemua dengan memberikan beasiswa NusantaRun Enam kepada murid penyandang disabilitas potensional. Gayung bersambut, PLD juga mengakomodir beasiswa untuk mahasiswa penyandang disabilitas. Namun selama ini mengalami kendala, sedikit yang mengikuti seleksi tersebut. “Kami sudah lama membuka pendaftaran mahasiswa difabel, bahkan sudah ada jalur khusus dan berbeasiswa, tapi justru yang daftar tidak banyak. Ada kuota 15, pendaftar maksimal 20” ujar Waryono. Hal tersebut dikarenakan orangtua yang masih merasa takut dan tidak percaya bahwa anaknya mampu melanjutkan ke perguruan tinggi. Tantangan ini terjawab oleh program #PendidikanUntukSemua yang menyiapkan guru, orangtua dan murid penyandang disabilitas untuk siap melanjutkan ke perguruan tinggi. “Jadi yang lebih penting sebenarnya adalah adaptasi kelas itu terhadap difabel, bukan pada prasarana fisik atau apa yang mungkin jika disiapkan belum tentu digunakan.” ujar Arif mengakhiri sesi audiensi siang itu. Apa yang UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta perjuangkan selama ini sesuai dengan program #PendidikanUntukSemua Kampus Guru Cikal, pertemuan ini seperti menemukan teman seperjalanan di jalan sepi #PendidikanUntukSemua.

Kalau Guru Senang Main Game, Bagaimana Perasaan Muridnya?

Seruuu!!! Itu komentar yang tercetus dari para peserta Mudik KGB Surabaya edisi 11 kali ini. Temu Pendidik yang dilaksanakan pada 2 Desember 2018 di Loop Station ini diikuti oleh sekitar 26 guru yang tergabung dalam Komunitas Guru Belajar Surabaya maupun dari luar KGB. Ketika para anggota KGB tahu bahwa tema mudik kali ini adalah Board game, banyak guru yang bersemangat untuk mendaftar. Banyak peserta yang ingin tahu, seperti apa sih board game itu? Bagaimana board game itu bisa diaplikasikan pada pembelajaran di kelas? Atau bahkan pertanyaan yang inspiratif seperti bagaimana / games apa yang bisa menarik perhatian anak-anak ketika lab komputer atau jam pelajaran Komputer tidak ada? Karena temanya adalah boardgame, maka narasumber mudik kali ini sangat istimewa yaitu Guru Adhi Wiryawan. Beliau adalah pencipta games LINIMASA, sebuah board game yang digunakan untuk belajar sejarah. Game LINIMASA ini telah dicobakan pada siswa kelas 5 SD dan hasil penelitian menunjukkan bahwa game ini mampu meningkatkan minat membaca siswa pada sejarah Indonesia. Kegiatan diawali dengan pertanyaan pemantik yaitu kenapa sih harus bermain? Guru Adhi menjelaskan bahwa dengan bermain kita bisa belajar banyak hal. Contoh sederhana adalah ketika kita bermain sembunyi-sembunyian. Dalam permainan itu kita bisa merangsang indera kita, mengatur taktik atau strategi, melatih visual kita, belajar untuk memahami aturan permainan, dan disiplin diri. Ketika kita bermain, hormon kitapun terlibat yaitu hormon dopamine atau hormon yang berhubungan dengan kesenangan sehingga dapat merangsang kita untuk eksplorasi terhadap permainan. Bermain juga dapat menjadi jembatan untuk memfasilitasi berbagai gaya belajar di kelas. Guru yang kadang cenderung visual harus berhadapan dengan gaya belajar siswa yang auditory atau malah kinestetik. Dalam 21st century learning outcome, anak diharapkan punya pemikiran kritis, mampu berkolaborasi, mampu beradaptasi, memiliki kelincahan (agility), punya inisiatif dan efektif dalam berkomunikasi secara lisan ataupun tertulis. Kemampuan ini dapat dipelajari melalui bermain.   Game LINIMASA adalah game yang baru dikembangkan ini berisi berbagai tokoh dan peristiwa sejarah. Salah satu cara dalam bermain adalah dengan mengurutkan peristiwa sejarah dari gambar yang ada.   Pemaparan dari Guru Adhi memantik diskusi yang seru. Guru Hariadi sebagai salah satu peserta mudik bertanya bagaimana caranya memadukan boardgame dengan mata pelajaran di level SMP? Guru Adhi kemudian menjelaskan bahwa sebelum menemukan game yang akan dipakai, maka guru harus melihat tujuan pencapaian pembelajarannya dulu. Setelah tahu tujuan pembelajarannya, maka game bisa dicari, baik dengan cara membuat sendiri dari sesuatu yang baru ataupun modifikasi dari permainan yang sudah ada. Melihat banyak peserta yang tampak antusias untuk menggunakan game sebagai salah satu model belajar, Guru Adhi menyarankan guru untuk bekerja sama dengan game designer sehingga bisa menciptakan game yang dapat dimainkan di kelas . Guru Adhi juga memberikan tips membuat game dengan sederhana yaitu belajar secara otodidak (belajar tentang games design) dan guru harus banyak bermain juga supaya punya referensi permainan yang mungkin bisa digunakan di kelas. Dari kegiatan yang seru ini, ternyata ada juga guru seru yang sudah mengaplikasikan boardgame sebagai project siswa. Guru Ratih dari level SMU mengajak para muridnya yang berada di kelas 12 untuk menciptakan boardgame sebagai tugas belajar mereka. Mereka harus melalui proses yang tidak mudah karena harus direvisi berkali-kali. Namun walau prosesnya tidak mudah, tetapi mereka tidak menyerah. Kini boardgame hasil dari anak-anak telah dapat dimainkan di kelas mereka. Puncak dari kegiatan ini adalah saat guru mencoba ikut bermain game LINIMASA. Para peserta yang mayoritas adalah guru, harus mampu menebak urutan peristiwa sejarah kemerdekaan Indonesia. Suasana sangat riuh dan seru saat permainan mulai dijalankan. Guru Herlina berkata “Gamenya seru dan bikin gak takut salah, karena ini kan permainan”. Guru Fifi ikut menimpali “Gamenya jadi bikin pengen baca lagi buku sejarah”. Kalau guru saja senang main game maka bisa dibayangkan bagaimana perasaan muridnya. Salah satu refleksi dari kegiatan ini adalah bahwa bermain tidak hanya untuk senang-senang tapi dapat juga diaplikasikan dalam kegiatan pembelajaran. Dari aktivitas ini peserta juga makin tertantang untuk lebih berani berkreasi dalam pendidikan dan mampu menyimpulkan bahwa guru bukan menjadi pekerjaan yang monoton jika kita mampu lebih kreatif dalam mengajar. Jadi, apa game kita di kelas hari ini?

Kecerdasan Potensial Anak?

Komunitas Guru Belajar Binjai mengadakan Temu Pendidik (Mudik) Daring di tengah masa liburan. Tidak disangka, banyak yang tertarik untuk berpartisipasi pada mudik 27 Desember 2018 lalu. Diskusi bahkan masih berlangsung setelah waktunya selesai. Ada yang kesulitan sinyal karena sedang hujan deras. Namun syukurlah mudik berjalan dengan baik. Narasumber kita kali ini adalah Guru Ayu. Guru Ayu adalah lulusan UIN Jakarta. Saat ini mengajar di SMP PABA Binjai, Pelajaran Prakarya dan Pendidikan Kewarganegaraan, juga bertanggung jawab di bidang kesiswaan. Guru Ayu memulai materi dengan memberikan sebuah pertanyaan menarik. Apa itu kecerdasan? Beberapa peserta mencoba memberikan jawaban. Selanjutnya Guru Ayu menjelaskan, menurut seorang psikolog, yaitu Dr. Howard Gardner, manusia itu bisa memiliki lebih dari satu kecerdasan atau yang sekarang kita kenal dengan teori multiple intelligence/kecerdasan majemuk. Dengan mengetahui potensi kecerdasan yang dimiliki oleh anak, akan membantu pendidik dalam mendukung perkembangan kecerdasan anak dengan lebih baik lagi. Ada 9 kecerdasan yang berpotensi dimiliki oleh seseorang: Kecerdasan Linguistic  Kecerdasan ini menjelaskan tentang kemampuan anak dalam memahami, mengolah dan mengutarakan kata. Anak mampu memahami bahasa dengan mudah, daya ingat terhadap kosa kata banyak, suka membaca , dan lainnya. Kecerdasan Logic-Math Dikenal juga sebagai kecerdasan logis matematik. Kecerdasan ini menerangkan kemampuan anak dalam berfikir logis, mampu berfikir secara matematis, cepat dalam hitung menghitung, mampu memahami data yang berkaitan dengan angka, mampu merespon dan memproses data secara spontan dan cepat. Kecerdasan Visual Spatial Kecerdasan ini menjelaskan kemampuan anak dalam mengingat letak, bentuk, warna suatu objek. Anak mampu memvisualisasikan hal-hal yang pernah dilihat ataupun dialami dan punya kemampuan navigasi yang baik. Kecerdasan Musical Kecerdasan ini berkaitan dengan kemampuan anak mengenali nada, suara, ritme, dsb. biasanya apapun yang dilakukan anak, akan terasa lebih baik jika dibarengi dengan musik. Kecerdasan Kinesthetic Kecerdasan ini menjelaskan tentang kemampuan anak dalam menggunakan anggota tubuhnya sesuai fungsi. Kemampuannya mengontrol gerak tubuhnya, mengkoordinasikan segala gerak tubuh sesuai dengan kebutuhannya. Kecerdasan Interpersonal Kecerdasan ini menjelaskan tentang kemampuan anak dalam memahami orang-orang di sekitarnya. Kemampuan anak dalam memilah sikap dan tindakan dalam bersosialisasi maupun dalam menanggapi orang-orang di sekelilingnya. Melalui kecerdasan ini, sikap empati anak timbul. Kecerdasan Intrapersonal Kecerdasan ini menjelaskan tentang kemampuan anak dalam memahami kebutuhan diri, mengontrol dirinya dan mengetahui apa yang harus dia lakukan untuk membuat perubahan. Kecerdasan Naturalis Kecerdasan ini berkaitan dengan kemampuan anak dalam memahami bahwa kehidupan di alam ini merupakan elemen yang saling terhubung dimana makhluk hidup lain juga memiliki perasaan yang sama, yaitu rasa ingin disayang, dilindungi, merasa aman dan damai. Dengan kesadaran itu membuat anak faham bahwa apa yang dia lakukan terhadap alam akan berdampak pula pada kehidupannya. Kecerdasan Spiritual atau Eksistensi Kecerdasan ini menjelaskan tentang kemampuan anak dalam memahami tujuan hidupnya berdasarkan kaidah spiritualnya. Anak memahami apa yang harus dan yang tidak harus dia lakukan sesuai dengan tingkat spiritualnya (hubungannya dengan tuhannya). Kecerdasan ini sebenarnya melingkupi kedelapan kecerdasan sebelumnya karena setiap kecerdasan sebelumnya pada akhirnya akan mengembalikan pola pikir anak tentang spiritualitasnya (keimanannya). Nah, termasuk kecerdasan manakah anak didik kita? Dengan mengetahuinya, akan lebih mudah bagi kita untuk mengarahkan anak didik untuk belajar dengan menggunakan kecerdasan yang dimilikinya. Untuk mengetahui kecerdasan potensial anak, ada yang menganalisa melalui sidik jari dan ada juga tes lainnya. Namun penting untuk diperhatikan, walaupun kita mengetahui kecerdasan potensial anak melalui berbagai tes, kecerdasan itu tidak akan berkembang jika lingkungan tidak mendukung. Jadi Bapak Ibu pendidik, mari kita mengamati dengan lebih baik lagi anak-anak didik kita. Apa potensi yang mereka miliki? Bagaimana kita membantu mereka mengembangkan potensi tersebut? Temu Pendidik dilanjutkan melalui sesi tanya jawab Guru Gusik : Dalam diri seorang anak terdapat berapa kecerdasan ya Bu Widayu?Apakah semuanya ada ataukah beberapa saja? Guru Ayu : Dalam satu individu bisa saja memiliki kesembilannya. Tapi jikapun memiliki kesembilannya, pasti ada yg lebih dominan diantara semuanya. Namun pada umumnya, setiap orang pasti memiliki kecerdasan lebih dari 1 kecerdasan. Guru Gusik : Untuk mengetahui dominan yang mana apakah ada test ataukah hanya dengan pengamatan saja bu? Guru Ayu : Sejauh ini saya melakukannya melalui analisa. Kalaupun tes, biasanya saya tesnya non formal. Guru Rianty : Apakah faktor gen dari orang tua dominan mempengaruhi kecerdasan potensial anak? Guru Afrida : Apakah kecerdasan seorang anak bisa terbentuk dari lingkungan nya ataupun berdasarkan pengalaman ? Guru Ayu : Kalau menurut saya,, gen bisa mempengaruhi,, tapi lingkungan dan pengalaman lapangan lebih banyak mempengaruhi,, buu.. Guru Rianty : Oke Bu terima kasih, jadi lingkungan dan pengalaman yg seperti apa yg sangat mendukung dalam terbentuk nya kecerdasan seseorang anak ? Guru Ayu : Standar atau patokan bakunya tidak ada buu.. Krna ada orang yg bisa memiliki kecerdasan majemuk dg baik di lingkungan yg krg baik dg pengalaman yg berat (menurut kita).. Ada juga yg memiliki kecerdasan majemuk di lingkungan yang serba nyaman dan pengalaman lapangan yg tidak lbh berat. Guru Afrida : Berarti belum bisa jadi penentu ya Bu ? Cerdas atau tidaknya mereka ? Guru Ayu : Tidak ada patokan yang baku, semuanya masih relatif. Bergantung kita (sebagai pengarah) mengarahkan anak pada kecerdasan potensial yang mana yang dimiliki anak. Guru Afrida : Berapa besar persentase pengaruh gen dan lingkungan?  Karena saya pernah mendapatkan murid yang secara kemampuan menceritakan tentang game yang disukainya sangat berbeda dengan kecerdasan emosionalnya. Guru Ayu : Kalau persentase, saya belum pernah mengambil data, jadi saya belum bisa menjawab Guru Rinesha : Ada anak remaja suka sekali dengan olah raga (kecerdasan kinestetik), namun tidak tertarik atau  merasa stress dengan pelajaran matematika. Apakah kita harus memfokuskan pada kinestetik saja untuk mengoptimalkan kemampuannya dan tidak terlalu menekannya dalam matematika? Mengingat di Indonesia, kurikulumnya begitu berat, banyak sekali mata pelajarannya dan ada KKM pula. Guru Ayu : Kita harus pahami dulu, apa yang membuatnya merasa stress ketika menghadapi Matematika? Setelah tahu, kita baru bisa menentukan pendekatan yang membantu dia untuk memahami materi Matematikanya. Meski tidak sepenuhnya memenuhi yang sesuai kurikulum, setidaknya kita buat dulu dia nyaman dan enjoy, baru kita bisa menemukan lagi cara untuk meningkatkan kemampuan Matematikanya. Sedangkan untuk kinestetiknya tetep difokuskan, tapi dengan kontrol juga, tidak dilepas begitu saja.. Guru Ayu memberikan satu quote sebagai penutup Dalam diri setiap anak, pasti ada minimal satu kecerdasan, jangan biarkan satu anak pun terabaikan. Mari terus semangat … Read more

Miskonsepi Literasi

Ternyata Literasi Tak Cuma Soal Baca Tulis Selama ini banyak sekali kekeliruan dalam menafsirkan dan memaknai konsep dari literasi. Padahal konsep literasi itu bersifat dinamis. Di masa kini, ada banyak perubahan dan perluasan makna literasi yang sudah berbeda dari makna kata dasarnya. Pada Temu Pendidik Mingguan ke-81 yang dilaksanakan di telegram.me/mudikmingguan hari Jum’at, 18 Januari 2019, pukul 18.30 – 20.30 WIB, dibahas mengenai berbagai miskonsepsi literasi yang perlu dipahami. Ibu Najelaa Shihab, Pendiri Kampus Guru Cikal dan Inisiator Komunitas Guru Belajar, menjadi Narasumber pada Temu Pendidik Mingguan kali ini dan dipandu oleh Ibu Rani Indriani Kusumah, Guru Sekolah Cikal Amri Setu dan KGB JakartaTimur, sebagai moderator. Profil Narasumber Pendidikan adalah belajar, bergerak dan bermakna. Pendidik adalah kita, “semua murid semua guru.” Hal tersebut yang mendorong Najelaa Shihab terus berusaha berkontribusi dalam reformasi pendidikan Indonesia yang utuh melalui karya-karya nyata. Najelaa Shihab menyelesaikan studi S1 dan S2 di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan setelah memulai karirnya di kampus yang sama, memutuskan untuk mendirikan Sekolah Cikal pada 1999, saat ini berada di 9 lokasi di berbagai kota di Indonesia, melayani ribuan murid – mulai tingkat pra sekolah sampai dengan Sekolah Menengah Atas dan Kampus Guru Cikal. Lahir 11 September 1976 dari keluarga dengan nilai-nilai mendalam mengenai pendidikan dan kehidupan menumbuhkan keyakinannya untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya pada masyarakat. Elaa, panggilan akrabnya, dikaruniai tiga orang anak. Kontribusinya di dunia pendidikan selama puluhan tahun, dilakukan dengan meluncurkan berbagai inisiatif dan mendirikan organisasi pendidikan. Najelaa bukan hanya sekedar peduli pada kebutuhan anak-anak di berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga sangat yakin bahwa perubahan yang cepat yang terjadi di dunia saat ini, membuat kolaborasi dengan pemerintah, pendidik/guru, orang tua, keluarga, mutlak diperlukan untuk masa depan anak-anak kita. Mendirikan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) sejak 2007, Keluarga Kita dengan RANGKUL (relawan keluarga kita) sejak 2012, inibudi.org yang mengajak Guru Berbudi dan Teman Belajar sejak 2012, IslamEdu sejak 2013, Komunitas Guru Belajar Nusantara dengan penggerak-nya sejak 2014, Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK) di 2015, Sinedu, serta Youthmanual sejak 2016. Najelaa menginisiasi Pesta Pendidikan di tahun 2016, yang mengawali jaringan Semua Murid Semua Guru (SMSG). Jaringan ini bertujuan untuk menjadi simpul kolaborasi antar pemangku kepentingan pendidikan. SMSG juga berupaya meningkatkan kapasitas komunitas dan organisasi pendidikan untuk berinovasi dan memberikan contoh praktik baik dalam berbagai isu pendidikan yang penting disebarluaskan. Saat ini lebih dari 400 komunitas/organisasi yang beroperasi di 252 kota di Indonesia telah bergabung dalam jaringan. Merdeka Belajar, Merdeka dari Miskonsepsi Literasi Membaca adalah memahami rangkaian makna, bukan sekadar mengeja bahan pustaka. Artinya, pandai membaca adalah proses yang terus dipelajari, jauh sesudah kita bisa menggabungkan suku kata yang berarti. Karenanya, pembaca jagoan adalah yang terus mengusahakan pengenalan lingkungan, bukan sekadar melafalkan tulisan. Belajar membaca tidak sederhana. Dimulai dari bayi yang membaca emosi diri dan mengobservasi apa yang terjadi. Anak yang membedakan kanan dan kiri, mengeksplorasi bunyi dan pengalaman lain yang kadang tidak disadari, tapi sebenarnya bagian dari persiapan literasi dini. Berada di lingkungan yang kaya tulisan, seperti papan pengumuman atau koran di meja makan cukup untuk menunjukkan ke anak tentang pentingnya peraturan dan membuatnya mengenal pesan. Namun tidak ada yang lebih berkesan daripada orang dewasa dan teman sebaya yang meneladankan kegemaran bertukaran pikiran setelah menikmati bacaan. Karena dengan terlibat percakapan, anak belajar mendengarkan dan membuktikan kekuatan gagasan. Cita-cita agar literasi bisa membumi di negeri ini terasa hanya sekadar janji. Selama ini proses pendidikan menumbuhkan kegemaran membaca dengan sangat terbatas, menghafal lagu tentang vokal dan konsonan, kadang kala ditakuti ujian masuk sekolah dasar. Saat anak belum menguasai mekanik membaca, semua pemangku kepentingan “bekerjasama” membuatnya cepat bisa menamatkan buku. Guru PAUD khawatir dilabel tidak kompeten, orangtua ingin pamer anak pintar pada tetangga, toko buku bahkan tempat les membaca menyediakan sebanyak-banyaknya pilihan untuk anak usia dini. “Konspirasi” bertolak belakang terjadi saat anak sudah “bisa” membaca. Tugas bacaan di buku pegangan makin tidak relevan, semangat orang tua membacakan cerita tidak lagi jadi prioritas, bahkan penerbit dan pengarang buku pun tidak tertarik berusaha karena anggaran membeli bacaan terkalahkan biaya jajan atau permainan. Tidak heran hasil tes internasional menunjukkan walau anak Indonesia cukup mampu bersaing di pengukuran kemampuan dasar membaca usia dini, saat diukur beberapa tahun kemudian kita terus turun peringkat karena gagal memahami bacaan atau mengevaluasi informasi berkualitas. Tidak perlu tercengang, saat rasio antara warga dan perpustakaan kita cukup tinggi, pengunjung rutin bangunannya sering bisa dihitung jari. Dalam literasi kita seringkali mudah puas dengan pencapaian tujuan jangka pendek. Sulit untuk bisa mengharapkan ada perubahan signifikan bila propaganda pemerintah 72 tahun setelah kemerdekaan masih sekadar kesuksesan pemberantasan buta huruf. Tantangan masyarakat masa kini dan masa depan sudah banyak disuarakan, satu hal yang perlu reformasi segera adalah melek literasi. Reformasi tersebut adalah perjuangan melawan miskonsepsi literasi agar upaya menuju melek literasi mengarah pada tujuan esensial, bukan hanya untuk memenuhi kepentingan jangka pendek. Inilah lima miskonsepsi literasi Bukan hanya kemampuan membaca tapi juga kemampuan menalarLiterasi berkait kompetensi berpikir dan memproses informasi, karenanya bukan hanya soal keterampilan membaca apalagi mengeja. Seseorang dengan tingkat literasi tinggi, mempunyaikemampuan penalaran dan pemecahan masalah dalam berbagai bidang, berkait sains dan numerasi juga finansial. Belajar untuk membaca tapi tidak membaca untuk belajarBelajar untuk membaca berkait dengan kemampuan bahasa dalam mengenal huruf, mengeja dan instruksi yang cendrung lebih sederhana, bisa dikuasai di tingkat dasar dalam waktu singkat. Membaca untuk belajar adalah kemampuan lintas disiplin yang menempatkan membaca sebagai alat untuk memahami dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan. Membaca bukan tujuan akhir, tapi alat untuk tujuan belajar yang lebih besar. Aktif membaca tapi tidak membaca aktifMembaca banyak tulisan, tidak otomatis meningkatkan kemampuan, malah terkadang menurunkan minat atau menghasilkan pengetahuan yang tidak tepat. Kunci keberhasilan dari setiap aktivitas membaca adalah membaca aktif. Memprediksi isi bacaan atau berempati dengan latar belakang penulis sebelum membaca, mempertanyakan argumen dan beridentifikasi dengan karakter selama membaca, menyimpulkan dan mengaplikasikan dengan hal yang relevan dalam kehidupan sesudah membaca. Jangan bangga pada jumlah buku atau lama waktu membaca, belajar terjadi dari interaksi dengan literasi. Tidak menghubungkan kemampuan menulis dengan kemampuan membacaSalah satu cara paling efektif meningkatkan kemampuan sebagai penulis adalah pelajaran dari bacaan berkualitas. Semakin beragam bacaan, dari sudut genre, format ataupun penulis yang dipaparkan … Read more

Strategi Menyenangkan untuk Ulangan Harian

“Besok ulangan ya?” Tiba-tiba wajah murid menjadi berubah. Seakan-akan akan menemui monster yang menakutkan. Ulangan menjadi momok bagi sebagian murid. Tantanganya adalah membuat ulangan menjadi menyenangkan. Bukan hal yang menakutkan. Sebagai pembuka Guru Nazila mengajukan pertanyaan Rekan-rekan diskusi menimpaliSeriiing Bu!Sering BangetBudaya NyataDengar ulangan, anak-anak langsung galauBersorak huu! Nah, banyak hal yangg kita sering jumpai ya.Lantas, apa yg akan kita lakukan untuk mengatasi hal tersebut? Kali ini Guru Gia akan berbagi pengalamannyamerancang penilaian yang menarik dan mengasikkannamun tetap bermakna. Assalamualaikum w.w. teman-teman Pendidik! Saya sungguh bersyukur sekali bisa berada di tengah teman-teman pendidik semua. Rasanya seperti mendapatkan saudara baru,teman belajar baru yang selalu berusaha memberikan yang terbaik.Karena saya meyakini bahwa guru yang baik adalah guru yang selalu memberikan yang terbaik dari dirinya untuk siswa-siswanya dan lingkungan di sekitarnya. Pada kesempatan malam ini, saya mohon izin untuk berbagai sesuatu kepada teman-teman pendidik semua tentang sesuatu hal yang telah membuat saya bahagia. Ilmu saya masih minim sekali, tapi saya punya keinginan yang besar untuk terus belajar memberikan yang terbaik. Perkenalkan, nama saya Sitti Ghaliyah. Biasa dipanggil Gia. Alhamdulillah saya diberi kesempatan belajar untuk menjadi Pendidik dan Wakil Kepala MTs Ibad ArRahman di Pandeglang, Banten. Saya mengampu mata pelajaran Fisika tingkat SMA/MA. Oia, saya suka sekali menulis, tapi belum juga menulis buku solo. Doakan yaaa. Saat ini saya aktif menulis #CatatanIbuGuruGia di instragam @giaghaliyah. Kalau yang belum follow boleh banget, semoga kita bisa tetap bersilaturahim. Sebelum ke materi utama, saya mau menyampaikan cemilan dulu yaaa. Tentang 7 Prinsip Seorang Pendidik Pembawa Perubahan. Insyaallah akan terkait dengan materi utama kita. Jujur deh… Sebagai guru, pernahkah teman-teman melihat ekspresi dan respon murid Anda ketika Anda mengumumkan bahwa pekan depan akan Ulangan Harian? Bagaimana ekspresi murid Anda? Sedih? Bingung? Muram? Atau, ada gak yang punya pengalaman justru murid Anda bilang, “Horeeeee!”? Terus, bagaimana responnya? Gak mau Ulangan Harian? Minta diundur waktunya? Saat awal-awal saya mengajar, jujur saya belum peka memahami murid saya. Apalagi ketika saya mengumumkan, “Nak, pekan depan Ulangan Harian Fisika Bab Dinamika yaaa! Mohon belajar semaksimal mungkin.” Ekspresi murid satu kelas langsung berubah tegang. Raut wajahnya menjadi muram. Terlihat sekali bahwa mereka merasa terbebani untuk menghadapi Ulangan Harian Fisika pekan depan. Responnya juga kompak, mereka bilang, “Buuuu Ulangan Harian Fisikanya diundur ajaa dong buuuu!” Awalnya saya berpikir, “Ah, wajarlah mereka begitu. Fisika kan emang salah satu mata pelajaran yang susah. Jadi wajarlah kalau mereka takut Ulangan Harian Fisika.” Oh, saya salah besar! Saya gak boleh menanggap bahwa hal itu merupakan sebuah kewajaran! Akhirnya, saya berusaha untuk merefleksi diri saya sendiri mencari apa penyebab sebenarnya. Menurut teman-teman semua, kira-kira apa yaa penyebab ekspresi dan respon yang kurang bersahabat dari siswa kita ketika akan Ulangan Harian? Mungkinkah ada rasa trauma dengan suasana kelas yang begitu mencekam? Bosen mengerjakan soal UH dengan duduk diam terpaku selama berpuluh-puluh menit? Izinkan saya mencoba menganalisis dari hasil refleksi yang telah saya lakukan berdasarkan pengalaman saya sendiri. Saya masuk kelas. Lalu, saya bilang, “Hari ini siap yaa Ulangan Harian Fisika. Sudah belajar semua?” Terus seluruh siswa diam. Kayaknya sih takut dan deg-degkan banget deh. “Kok diam semua? Tenang, soal yang keluar insyaAllah yang sudah kita pelajari bersama-sama, kok. Santai aja yaaa,” kata saya membuat mereka tenang. “Iya, bu,” jawab mereka dengan ekspresi tidak antusias. Ada juga yang masih terlihat grogi dengan keringat yang sudah mengembun di keningnya. Lalu, saya bagikan kertas soal Ulangan dan lembar jawabnya satu persatu. Tak lupa, saya pun bilang, “Ayo posisi duduknya saling dijauhkan. Pokoknya gak boleh ada yang menyontek ya!” Jujur, saya menginginkan murid saya duduk dengan tertib ketika Ulangan Harian berlangsung. 80 menit berlalu. Ada yang masih mengerjakan soal Ulangan Harian, ada juga yang sudah selesai. Biasanya yang sudah selesai akan menaruh kepalanya di atas meja, tanda menunjukkan bahwa murid tersebut sudah merasa bosan. Ya begitulah. Saya pelototin mereka ketika mengerjakan soal Ulangan Harian. Mungkin itu yang membuat murid menjadi takut dan grogi banget. Belum lagi mereka harus duduk diam terpaku, gak bisa bergerak-gerak. Lalu, bagaimana dengan kebosanan yang melanda mereka? Ok, saya harus mengubah metode Ulangan Harian menjadi sesuatu hal yang menyenangkan dan penuh tantangan. Saya ingin mereka justru antusias mengerjakan soal-soal Ulangan Harian. Tapi, bagaimana ya caranya? Ada 7 Prinsip Ulangan Harian yang sangat penting untuk kita ketahui bersama 1. Valid Buatlah soal-soal Ulangan Harian sesuai dengan tujuan pembelajaran, kompetensi dasar yang telah ditentukan, dan juga indikator-indikator pencapaian kompetensi yang telah dijabarkan dan telah diajarkan. Penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan kamampuan yang diukur. 2. Mendidik Ulangan Harian harus bisa menjadi penghargaan yang memotivasi bagi murid yang berhasil dan sebagai pemicu semangat untuk meningkatkan hasil belajar bagi yang kurang berhasil. Saya pernah punya pengalaman, murid saya trauma dan pasrah menyerah sebelum Ulangan Harian Fisika. Katanya, “Ah bu, saya sudah belajar maksimal sesuai dengan kemampuan saya, tapi palingan nanti hasilnya saya remedial lagi, dan lagi.” Lho kenapa murid saya jadi pasrah menyerah ya? Pasti ada sesuatu yang salah dari cara Ulangan Harian yang saya terapkan kepadanya. Walaupun ia pernah remedial di Ulangan Harian pertama, maka Ulangan Harian selanjutnya selanjutnya bisa menjadi pemicu semangatnya untuk bisa berhasil mendapatkan nilai yang bagus juga. 3. Berorientasi pada Kompetensi Nah, untuk prinsip yang ketiga ini, kita harus membuat soal-soal Ulangan Harian yang mengacu pada pencapaian kompetensi ya. Jangan sampai, apa yang sudah kita ajarkan di kelas, tidak sesuai dengan soal Ulangan Harian yang kita berikan untuk murid. Kita pun harus benar-benar merancang soal yang baik, yang sesuai dengan kompetensi dalam kurikulum. 4. Adil dan Objektif Tentu cukup beragam latar belakang murid kita di kelas. Jangan mentang-mentang kita dekat dengan salah satu orang tua murid, maka kita berlaku tidak adil kepada murid tersebut saat Ulangan Harian. Nggak boleh, ya! Guru harus adil dan objektif, tidak ada murid kesayangan, tidak ada rasa pilih kasih kepada murid-murid tertentu saja. 5. Terbuka Maksudnya adalah guru harus ada bukti yang jelas tentang nilai-nilai Ulangan Harian murid. Mulai dari lembar jawaban Ulangan Harian, lembar penilaian Ulangan Harian, dll. Semua harus terarsip dengan baik ya. Begitupun dengan kriteria penilaian Ulangan Harian. 6. Berkesinambungan Guru harus telah merancang program semester, terutama sudah merancang mau berapa kali … Read more

Budaya Literasi Pendidik

Semua proses pembelajaran itu pahit. Mengapa pahit? Karena ada proses panjang dan tidak enak harus dilalui untuk meraih sebuah tujuan. Mereka yang ingin bergabung di dunia pendidikan adalah mereka yang rindu dengan masa lalu. Masa lalu saat awal belum mengenal baca dan tulis sampai akhirnya meraih impian yang sejak dulu di impikan baik sesuai cita-citanya maupun berbeda dengan cita-citanya. Ketika melihat gurunya, ia akan ingat masa lalu saat masih sekolah. Ketika melihat anak bersekolah, ia akan ingat kenangan masa lalu. Kenangan mengingat siapa itu guru, mengingatkan saya waktu masih duduk di kelas 3 SD, ada sebuah kegiatan yang dilakukan yaitu “Setor Moco” apa itu? Ya. Karena di kelas 3 nantinya ada tes kemampuan dasar, setiap 5 hari sekali kami harus menyetorkan buku fiksi yang harus selesai kami baca dan dibuat resume, awalnya memang terasa sangat malas, membosankan, menghabiskan waktu bahkan mengurangi jam bermain. Ternyata, setelah dilaksanakan asyik juga, maklum saja buku fiksi merupakan salah satu buku yang menjadi favorit anak karena terdapat gambar dan alur cerita yang seru. Semenjak itu saya juga suka bercerita dan mengekspresikan apa yang saya alami ke dalam sebuah cerita yang sering kita sebut dengan buku diari. Ternyata melalui sebuah pembudayaan dapat memberikan dampak positif bagi kita. Pengalaman waktu masih SD dulu tentang membaca, coba saya terapkan saat menjadi guru, bagaimana cara mengajak anak untuk menyukai bacaaan, menyukai judul buku, menyukai isi buku, bahkan beberapa yang awalnya sama sekali tidak tertarik untuk melihat buku, sekarang menjadi terbiasa untuk membaca. Bukan hanya sekedar membaca tetapi memahami isi bacaan buku, menjadi aktif membaca. Pernah suatu ketika saya sangat malas mengajak anak untuk membuka buku cerita yang tersedia di lemari, biasanya sebelum istirahat ada waktu “Semaan Baca” seperti kegiatan membaca anak satu persatu, lalu ada anak yang mendekat dan bilang “Bu, kenapa saya tidak disuruh untuk membaca? Saya tidak mau istirahat sebelum diminta untuk membaca”. Semenjak saat itu membaca bukan lagi sebuah keharusan tetapi menjadi sebuah kebudayaan yang melekat bagi anak. Kebudayaan yang sering kita sebut dengan budaya literasi. Melalui Temu Pendidik Daerah Komunitas Guru Belajar Kudus yang dilaksanakan pada 13 Januari 2019 yang lalu, Guru Galih Adhyatomo sebagai narasumber mengajak membahas topik budaya literasi ini. Literasi, Sebagian besar orang  hanya menganggap bahwa literasi identik dengan membaca, sebenarnya lebih dari itu literasi bukan hanya tentang membaca. Dengan literasi seorang mampu membaca sekitar. Setelah melihat,  membaca dan memahami ia mampu memprediksi isi bacaan, latar belakang penulis bahkan dapat diaplikasikan dalam tulisan maupun kehidupan sehari-hari. Dengan mengembangkan literasi maka akan berkembang pula skill seseorang dalam membaca aktif. Bagaimana ia mampu  mengaplikasikan hasil bacaan baik dengan buku maupun tidak. Semakin banyak sumber yang dibaca seseorang, maka semakin banyak pula kosakata yang di miliki. Sebagian besar orang mengukur kecakapan atau kemampuan seseorang dari bahasanya. Sebenarnya semua orang sama, tidak ada yang cerdas dan tidak. Hanya saja orang yang cerdas sering mendengar, melihat, dan memahami bahasa orang lain serta mampu menyinkronkan keduanya menjadi tulisan dan rangkaian kata. Salah satu cara pengaplikasikan budaya literasi memang sedikit sulit untuk diterapkan. Dibutuhkan keseriusan serta kesabaran untuk mengajak membudayakan literasi. Murid merupakan gambaran dari gurunya. Guru perlu mampu untuk menjalin hubungan dengan murid secara memanusiakan. Memanusiakan hubungan itu perlu. Apalagi hubungan berdasarkan emosi, sosial, hubungan guru, anak, orang tua dan steakholder. Belajar membaca Membaca dimulai dari mengenal huruf, mengenal kosa kata, mengenal kata, dan mengenal kalimat. Baru mengenal membaca secara aktif. Berdasarkan data tentang literasi yang dikumpulkan oleh beberapa lembaga survey menunjukkan bahwa warga Indonesia lebih mempercayai media sosial dan langsung menjadikannya sebagai sumber tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu. Dan yang lebih mencemaskan lagi warga Indonesia dalam kurun waktu 1 tahun hanya mampu menghabiskan 2 buku untuk dibaca. Ini menunjukkan bahwa minat baca warga Indonesia sangat rendah. Untuk apa murid kita diminta untuk membaca banyak tanpa mengetahui isi bacaan dan hanya sekedar membaca. Dibutuhkan panutan seperti guru yang mampu mendorong murid untuk mau membaca. Mudik dilanjutkan dengan sesi pertanyaan Sebagai penanya pertama Guru Etika Puspa Sari mengajukan. “Bagaimana cara membudayakan kebiasaan literasi bertahan lebih lama?” Di sekolah saya setiap hari sabtu diadakan pojok literasi, siswa bisa membaca buku yang mereka bawa sendiri dari rumah. Kegiatan membaca hanya bertahan beberapa menit saja dan selebihnya ramai sendiri, bagi yang memang memiliki hobi membaca ia akan melanjutkan bacaannya namun yang tidak memiliki hobi membaca meraka akan gaduh. Guru Galih Adhyatomo sebagai narasumber memaparkan bahwa anak SMP dan SMA merupakan masa dimana anak berada di tahap peralihan jati diri, rasa ingin tahu tinggi terhadap segala hal, kembali kita sebagai guru mencoba msauk ke dunia mereka, karena mereka berada di fase peralihan dari Tayo-Tayoan ke Black Pink. Buat mereka menyukai dulu apa itu membaca, buat mereka menceritakan dalam tulisan apa yang merekan sukai kemudian memaparkan isi cerita tersebut ke depan kelas, pasti sangat seru dan menyenangkan. Diskusi dilanjutkan melalui pertanyaan kedua Guru Shofi. “Bagaimana menerapkan budaya literasi yang lebih identik dengan membaca aktif untuk kelas 1 dan 2, yang notabennya ada beberapa anak yang belum bisa membaca?” Menurut Guru Galih, untuk kelas rendah bisa dengan cara mendongeng atau guru mencontohkan. Karena pada fase ini anak lebih banyak meniru dan melihat, belum mampu menuliskan lewat kata-kata. Kita bisa memancing mereka dengan hal-hal yang ringan dulu yang menjadi kesukaan meraka. Seperti tayo-tayo, spiderman, dan lain-lain. Sesekali pancing mereka untuk bercerita sebelum masuk materu yang berat-berat. Kalau kadang orang dewasa saja merasa malas untuk membaca buku yang tebal apalagi anak-anak. Anak lebih tertarik dengan buku yang memiliki warna dan gambar yang beragam. Tanggapan datang dari Guru Arif tentang cara untuk menyesuaikan pada perkembangan anak kelas bawah. Anak bisa menonton tayangkan film yang mengacu untuk berpikir lebih kritis. Seperti pada film anak “Jalan Sesama” ada salah satu tokoh yang bernama Jabrik, dalam cerita di jelaskan bahwa jabrik akan pergi ke stasiun untuk melihat peswat terbang, kemudian salah satu temannya menegur jabrik bahwa di stasiun tidak ada pesawat terbang. Dan di akhir cerita baru diketahui bahwa di stasiun jabrik ingin melihat pesawat terbang yang dibawa oleh pamannya. Pada certia tersebut dapat dijadikan sebagai pemacu anak untuk lebih menalar. Sebagai penanya terakhir Guru Nailil turut bertutur tentang pengalaman dirinya. Saya mengajar di … Read more

Berbagi Kisah Belajar dengan Guru Se-Nusantara

Taraaa… Akhirnya Temu Pendidik Daerah (TPD) Ke-3 dengan Tema “Tebar Ilmu TPN 2018” dari Komunitas Guru Belajar (KGB) Jombang dapat terealisasi, setelah sempat maju mundur syantiiikk. Kegiatan TPD ke-3 KGB Jombang dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 28 Oktober 2018 pukul 09.00-11.00 mundur 1 jam dari jadwal karena masih ada proses pengambilan pemesanan merchandise Kampus Guru Cikal pada saat Temu Pendidik Nusantara (TPN) 2018. Sambil menunggu satu demi satu rekan seperjuangan datang. Saya kaget, karena kami kedatangan dua rekan seperjuangan dari Nganjuk yang menempuh jarak sekitar 40 km, yaitu Bu Hus dan Bu Nuraini. Mengetahui acara ini melalui info yang dibagi  Bu Alfi di grup-grup WA, ikut karena penasaran dan ingin tahu tentang KGB. Rekan lain, yaitu bu Pinta, meski belum masuk di KGB Jombang, pun tertarik mengikuti TPD, beliau bertiga akhirnya bergabung di KGB Jombang. Temu Pendidik kali ini dimulai dengan jumlah peserta 14 orang. Kegiatan KGB diawali dengan pembukaan oleh moderator, Ibu Rukiatin. Ibu yang gaul dan dapat mencairkan suasana dengan banyolannya. Selanjutnya, pengenalan narasumber Alfi Lailatin. Narasumber Bu Umaiyyah dari KGB Lamongan tidak dapat hadir karena ada anggota keluarganya yang sakit. Bu Alfi membagikan fotokopi hasil ringkasan ilmu yang diperoleh dari TPN 2018. Bayangkan, 13 materi kami diskusikan untuk pertemuan kali ini. Tetapi, untuk lebih rinci akan kami bahas di TPD selanjutnya. Kami sengaja tidak memakai LCD Proyektor agar diskusi berjalan tidak kaku dan lebih komunikatif antara peserta dengan narasumber. Pembukaan dimulai dengan kutipan dari Bu Ella: “Kalau kamu melakukan satu hal dan kamu tidak takut itu berarti yang kamu lakukan biasa saja, tapi jika kamu melakukan satu hal dan kamu takut berarti yang kamu lakukan itu luar biasa”. Sederhana tapi merupakan percikan semangat bagi kami. Karena ilmu yang kami dapatkan dari komunitas ini, memang tidak sama dengan yang umum ada di luar sana.  Tetapi, memang inilah yang harus kami lakukan, yaitu bergerak untuk perubahan yang bermakna bagi murid kita. Pemaparan materi oleh Bu Alfi tentang tebar ilmu dari kelas penggerak. Hal ini dilakukan agar tumbuh penggerak-penggerak yang lain di KGB Jombang. Beliau menyampaikan bagaimana beliau dapat mengikuti acara Kece ini dengan fasilitas gratis. Intinya bukan karena gratisnya, tetapi kesempatan untuk  mengikuti acara yang penuh dengan tebaran ilmu rekan seperjuangan se-Nusantara. Wowwww… keren dan pingin banget tahun depan bisa ikut. Pemaparan kedua, ilmu dari kelas kemerdekaan pertama yang Bu Alfi ikuti yaitu perubahan pengajaran pada lingkup sekolah.  Hal ini dilakukan dengan perumusan pertanyaan di Lesson Study sebagai ruang belajar dan inspirasi guru serta evaluasi Kurikulum Sekolah, Pertemuan Agung, dan memanusiakan ruang kelas. Pemaparan ketiga, ilmu dari Kelas Kemerdekaan kedua, yaitu mengembangkan kesepakatan, menjalankan konsekuensi. Pemaparan keempat dengan ilmu dari Kelas Kompetensi. Kelas pertama yang dibagikan beliau adalah Ragam Strategi Memahami Murid. Kelas kedua yang dibagikan beliau adalah Merancang Musik untuk Belajar Apapun. Kelas ketiga pun tak kalah seru, yaitu pemaparan tentang kelas kolaborasi. Yaitu Menyebar praktik baik melalui buku. Dan pemaparan kelima dari kelas karier dipaparkan tentang Dongeng Dialektika, Guru Merdeka – Guru Berdaya, Karier Protean – Karier Guru di Abad Ke-21, dan Batik folder, Belajar Melalui Budaya Lokal. Acara tanya jawab kemudian dilanjutkan dan diserahkan kepada moderator. Moderator untuk bertanya lanjut dari ringkasan yang telah dibagikan dan disajikan oleh narasumber. Sesi yang pertama dibuka dengan sharing Ibu Hus. Beliau bercerita, punya anak asuh, karena kedua orang tuanya sibuk. Tetapi, sikap anak ini khusus. Dia tipe anak yang temperamen dan belum dapat mengikuti pembelajaran di kelas, sehingga sering membuat masalah di kelasnya. Lalu Bu Hus bertanya, bagaimana cara menangani anak tersebut. Pertanyaan kedua oleh Bu Ennay, yang bertanya lebih lanjut tentang sesi kelas perdamaian, karena beliau mempunyai murid yang sering mengalami perundungan dan guru yang lain sering menganggap sebelah mata murid tersebut. Moderator selanjutnya memberikan waktu untuk narasumber. Selain jawaban dari narasumber, rekan yang lain pun, saling memberikan solusi dari praktik baik yang pernah mereka lakukan. Demikian juga untuk pertanyaan bu Ennay. Pada acara ini pun kami mendapat tambahan ilmu, melalui diskusi tentang “Sampahku Tanggung Jawabku” meski di luar materi, tetapi ini juga merupakan materi yang ada di TPN, sayangnya narasumber tidak mengikuti kelas tersebut. Tetapi, dari berbagi praktik cerdas rekan-rekan seperjuangan ini menambah pengingat dan gerakan kita. Sebelum ditutup, Bu Alfi menunjukkan buku Memanusiakan Hubungan yang diberikan oleh Kampus Guru Cikal kepada KGB Jombang untuk dipinjamkan kepada anggota secara bergantian. Bu Alfi menutup dengan pesan “Kami tunggu praktik cerdas rekan-rekan seperjuangan di kelasnya, untuk dibagi dengan rekan yang lainnya dan diupload di Grup Whatsapp”. Refleksi sebagai penutup dengan mengajak rekan untuk menuliskan apa saja yang didapatkan dari kegiatan TPD ini. Bu Nadroh, sangat senang sekali akhirnya dapat menemukan KGB Jombang. Karena, awalnya beliau mengikuti Temu Pendidik Mingguan di Telegram. Sehingga, beliau sangat mendukung sebuah komunitas yang isinya peduli dan mau bergerak untuk perubahan pendidikan yang lebih baik. Selesai acara, kami pun melakukan pemilahan sampah bungkus makanan yang kami. Sebagai bukti langsung praktik kita dalam TPD kali ini.

Kolaborasi untuk Berbagi Praktik Baik Pengajaran

Melalui kolaborasi dengan MTs Nurul Islam KGB Pekalongan berbagi praktik yang menarik untuk diterapkan dikelas. Hal ini dimaksudkan untuk menciptakan inovasi dalam proses belajar. Siang itu langit terlihat sedikit mendung. Nampak beberapa guru yang tetap semangat duduk melingkar di ruang perpustakaan MTs Nurul Islam Krapyak Pekalongan. Mereka saling bertukar cerita, mulai dari rekan guru yang baru pertama kali mengikuti TPD KGB Pekalongan hingga yang beberapakali tetap setia mengikuti. Kehangatan begitu terasa saat kepala madrasah menyambut para guru dengan senyum ramah. Jika biasanya KGB Pekalongan mengadakan agenda harus mencari tempat terlebih dahulu, namun kali ini MTs Nurul Islam justru mengajak KGB Pekalongan berkolaborasi untuk membangkitkan gairah guru dalam mengajar sehingga tercipta inovasi dalam memberi ilmu kepada muridnya. Sebagaimana ditegaskan oleh Guru Nikmah selaku kepala Madrasah bahwa dengan adanya TPD ini beliau  mengharapkan agar guru-guru di MTs Nurul Islam dan guru lainya dapat menciptakan inovasi dalam proses pembelajaran. Belajar Membaca Harus Melihat Tahap Perkembangan? Kegiatan dibuka oleh guru Rayinda. Sebagai pembuka ia berbagi tentang Memahami Anak untuk Merancang Strategi Membaca. Banyak yang tertegun dengan apa yang Guru Rayinda paparkan. Bahwasanya mengajarkan anak bukan hanya sekedar megenali huruf namun juga memepertimbangkan tahap perkembangan anak. Terutama saat anak memasuki golden age dimana daya tangkap sangat baik jika dimanfaatkan untuk mengingat berbagai gambar atau bentuk literasi lain yang dapat membantu anak mengenali lingkungan. Selain itu, wanita berkacamata ini juga memutarkan video yang menjadikan peserta TPD mengerti bahwa dalam tahap membaca terdapat tahapan phoenemic awarness (kesadaran fonemik). Dalam video tersebut anak-anak diajak mengenali benda-benda disekitar mereka dan melafalkan serta membedakanya dengan bunyi huruf lain. Diakhir pemaparanya Guru Rayinda mengungkapkan bahwa merancang strategi membaca pada anak sangat penting karena kadang anak dituntut untuk mengerti makna suatu kata padahal pada tahapan tersebut sebenarnya ia belum mampu. Nah, sebagai guru dan orangtua tentu materi ini menjadi bahasan yang sangat menarik karena dapat dipraktikan langsung pada anak-anak dirumah. Posisi Menentukkan Prestasi Sesi selanjutnya diisi oleh Guru Zinat. Ia menyampaikan materi mengenai Posisi Tempat Duduk Mempengaruhi Prestasi. Pada sesi ini peserta diajak untuk keluar kelas dan membentuk lingkaran besar. Lalu mereka berkelompok sesuai dengan urutan bulan dan tanggal lahir tanpa menggunakan aba-aba. Rona wajah ceria menghiasai wajah para peserta. Keseruan tak hanya berhenti disitu, guru yang mengampu mata pelajaran Sistem Kebudayaan Islam ini juga mengajak peserta untuk membuat janji pada jam 3, 6, 9 dan 12. Dalam satu waktu peserta hanya boleh membuat janji dengan 1 orang. Game tersebut berhasil membuat guru-guru tersenyum lebar Ia menyampaikan bahwa game semacam ini sering ia lakukan untuk membuat murid tidak jenuh dalam belajar. Apalagi, ia mengampu mata pelajaran SKI yang notabene menjadi momok bahwa mata pelajaran tersebut menjenuhkan karena bahan bacaan yang panjang. Tidak lupa, ia juga membagikan materi mengenai pola tempat duduk yang memanusiakan hubungan. Sehingga murid belajar lebih antusias serta hubungan antara guru dan murid juga terjalin hangat. Menurutnya, posisi tempat duduk yang monotan juga memberikan efek bosan dan murid cenderung berkelompok karena kurangnya interaksi antar murid lain yang duduk tidak berdekatan. Belajar dengan Berkomunikasi Secara Visual Sebagai materi pamungkas, guru Najib membagikan materi Desain Grafis untuk Komunikasi. Ternyata, melalui komunikasi visual menjadikan murid tertarik terhadap materi yang disampaikan. Selama ini kita hanya terpaut pada teks dibuku saja tanpa menyajikan materi agar lebih menarik bagi murid. Konten visual juga lebih banyak diproses 60.00 kali lebih cepat dari konten teks selain itu dengan memadu-padankan warna menjadikan materi lebih terlihat menarik untuk dilihat. Jika biasanya desain grafis dibuat menggunakan corel draw atau photoshop yang terlihat rumit dan tidak semua orang mengerti, Guru Najib justru membongkar stigma tersebut. Dengan menggunakan smartphone kita bisa membuat desain grafis yang menarik. Kali ini ia mengajak rekan guru menggunakan aplikasi canva yang sangat simpel dan mudah digunakan. Beberapa peserta terlihat menikmati saat jari tangannya mulai memilah backgound serta font teks yang akan digunakan. Hasil desain yang dibuatpun terlihat menarik dan menjadikan candu untuk mencobanya kembali. Acara ditutup dengan refleksi. Guru Watik mengungkapkan bahwa ia sangat terkesan dengan acara ini dan ingin mempraktikanya setelah pulang dari MTs Nurul Islam. Selain diterapkan pada murid ia juga ingin mempraktikan pada anaknya dirumah.