Arti Guru Merdeka Belajar

Guru yang Bertanya tentang Merdeka Belajar Sebagian dari kita termasuk saya masih banyak pertanyaan tentang arti guru merdeka belajar ini, diantaranya: Apa arti guru merdeka belajar?Apakah selama ini kita sudah merdeka belajar?Bagaimanakah program guru merdeka belajar ini?dan Apa yang harus kita lakukan di guru merdeka belajar ini?Serta masih banyak pertanyaan di pikiran kita masing-masing. Pertanyaan yang muncul sejak Mas Menteri Nadiem Makarim memulai melakukan gebrakan baru di dunia pendidikan, salah satunya guru merdeka belajar. Dari pertanyaan seputar arti guru merdeka belajar itu saya sangat tertarik sekali untuk mengadakan Nonton Bareng Video Guru Merdeka Belajar. Kami pun mengadakannya di SMPN 3 Lengayang, pada Senin 16 Desember 2019. Acara kami mulai dengan perkenalan dan saling bertanya keadaan dan identitas masing-masing. Sebelum video ditayangkan kami sama-sama menulis di kertas kecil seputar pengetahuan tentang apa arti Guru Merdeka Belajar itu?. Beragam pendapat tentang Guru Merdeka Belajar ini. Tapi pada intinya semua kami yang hadir sudah dapat dikatakan sebagai Guru Merdeka Belajar, mengapa? Karena kami sudah menerapkan proses pembelajaran teknik-teknik mengajar yang menarik, bagaimana melakukan hubungan yang baik dengan siswa dan sebagainya. Penjelasan oleh Najelaa Shihab Setelah itu kami diajak oleh Narasumber untuk Nonton Bareng Video Mbak Najelaa Shihab tentang Guru Merdeka Belajar. Kami sangat tertegun dan terpelongoh melihat begitu bagusnya bahasa komunikasi dari Mbak Najelaa Shihab. Bahasa yang digunakan sangat jelas dan lantang sekali. Ketika bagian penjelasan keadaan guru, hati saya terasa teriris dan menangis. Begitu dalam beliau menjelaskan tentang Guru Merdeka Belajar ini. Saya terbayang bahwa banyak guru yang belum merdeka belajar, masih banyak yang tidak mau belajar lebih lanjut. Bagaimana memperbaiki diri lebih baik lagi agar bisa lebih berpihak dan membahagiakan peserta didik kita? Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Setelah itu kami berdiskusi, Apa yang dapat dipetik dari Video tadi?. Hampir semua kami memberikan komentar. Kebetulan ada peserta yang datang dari tingkat TK, nama beliu ibu Santi. Banyak kami belajar dari beliau. Dari penjelasan beliau “Bahwa penanaman karakter anak itu sudahdilakukan sejak sekolah dini yaitu Paud dan TK.” Lanjut beliau” Tetapi ini tidak ke tingkat selanjutnya. Sehingga karakter yang baik dari Paud dan TK itu hilang. Maka banyak permasalahan negatif yang terjadi pada murid kita.” Ada kalimat yang paling berkesan di hati saya dari beliau. “Jadikan peserta didik kita sebagai anak kita sendiri dan jadikan kita sebagai pelindung bagi mereka,” ucap beliau. Saya jadi memahami penting menjadi pelindung diantara kekurangan dan kesalahan yang murid lakukan. Mengapa? Karena masih banyak guru di Indonesia ini yang menjadi ancaman bagi murid yang melakukan kesalahan. Bahkan mereka menjadi takut dan tidak percaya diri bila bertemu dengan guru. Inilah polemik yang sesungguhnya bagi saya. “Bagaimana merubah pola pikir guru ini bisa mengajar dengan penuh cinta dan kasih sayang kepada siswanya?” “Bagaimana guru yang tidak pernah tergerak hatinya untuk belajar dan memperbaiki diri?” “Walaupun sudah beri pelatihan yang gratis, mengapa tetap mengajar dengan metode yang tidak mencerminkan guru merdeka belajar?” Saya khawatir begitu banyak murid yang bisa terdampak buruk karena guru. Bahkan ada murid yang sudah tidak mau sekolah lagi karena penanganan yang tidak manusiawi dari guru seperti ini. Setelah itu kami melakukan refleksi dan melanjutkan materi “3 Jam Baca Alquran” Demikianlah hasil dari Nonton Bareng Kami. Dari pembahasan tentang Guru Merdeka Belajar ini dan sangat banyak ilmu yang kami dapat. Kami saling berbagi pemecahan masalah di dunia pendidikan. Semoga pendidikan kita semakin maju untuk membentuk generasi muda yang jujur baik dan berakhlak mulia. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar? Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 6Unduh GratisKlik:

Menerapkan Merdeka Belajar Yuk!

Siang hari itu cerah sekali. Matahari bersinar terang. Para penggerak Komunitas Guru Belajar (KGB) Binjai dengan semangat sudah mempersiapkan bahan dan alat di ruangan yang disediakan pihak café Seven Stars Binjai. Berbagai sumber belajar KGB diletakkan di dekat tempat duduk peserta, diantaranya Buku Memanusiakan Hubungan berisi kumpulan kisah guru yang mempraktikkan memanusikan hubungan, buku Merdeka Belajar di Ruang Kelas yang membahas konsep merdeka belajar dan cerita para guru yang sudah menerapkan merdeka belajar, Buku Literasi Menggerakkan Negeri, Buku Differensiasi, dan beberapa cetakan Surat Kabar Guru Belajar (SKGB). Semangat Guru Penggerak KGB Binjai Hari ini, Jumat, tanggal 27 Desember 2019, KGB Binjai melaksanakan TPD yang ke-12 dengan judul ‘Nobar dan Meet up KGB Binjai’. Acara seharusnya dimulai jam 13.30, sesuai dengan waktu yang tertulis di brosur. Namun saat ini, waktu telah menunjukkan jam 14.00, tetapi masih belum ada peserta yang hadir. Para guru penggerak sempat gelisah, namun tidak berputus asa. Para guru penggerak pun mulai menghubungi peserta yang telah mengkonfirmasi untuk hadir. Banyak yang mengatakan akan datang terlambat. Para penggerak akhirnya menunggu lagi. Saat jam menunjukkan pukul 14.30, satu per satu peserta mulai muncul. Tidak disangka, akhirnya ada 6 peserta yang hadir. Menjelang jam 15.00 sore, TPD pun dimulai. Kegiatan dibuka oleh Pak Surya. Pak Surya mengajak peserta untuk melakukan yel-yel Merdeka Belajar. Setelah itu, satu per satu peserta diminta untuk memperkenalkan diri. Tidak disangka beberapa peserta yang hadir adalah guru-guru berprestasi yang telah memenangkan beberapa penghargaan. Setelah perkenalan diri selesai, Pak Surya mengajak semua untuk menonton bersama video Merdeka Belajar. Para peserta terlihat mengangguk-angguk saat Bu Najelaa memaparkan tentang Merdeka Belajar di dalam video yang ditayangkan. Setelah video selesai, belum diadakan diskusi, karena waktu yang tidak memungkinkan. Café hanya menyediakan tempat hingga jam 18.00. Karena setelah jam 18.00, ada yang menyewa ruangan yang dipakai saat ini. Pak Surya menjelaskan kepada peserta bahwa kita akan mengadakan diskusi dan tanya jawab setelah materi Merdeka Belajar disampaikan oleh Bu Ega. Bu Ega menyampaikan dengan antusias materi Merdeka Belajar yang telah disampaikan oleh Pak Bukik, ketua Kampus Guru Cikal, dan Pak Usman, Ketua KGBN, di grup Telegram pada Temu Pendidik Spesial tanggal 15 Desember 2019. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Setelah pemaparan materi selesai, tidak disangka peserta sangat bersemangat memberikan respon. Para penggerak menjadi terpacu untuk menjelaskan lebih banyak hal kepada peserta. Waktu seakan tidak cukup. Pak Firman merespon sangat positif terhadap apa yang disampaikan di video Merdeka Belajar. Pak Firman berharap semua yang disampaikan dalam video dapat tercapai. Penyederhanaan administrasi sangat penting. Menurutnya, kesejahteraan guru dapat mempengaruhi tercapainya standar dalam pendidikan. UN memang sebaiknya diganti. Perlu adanya penilaian karakter, penekanan di literasi dan numerasi, serta assessment yang benar. Terakhir, Pak Firman membuat kita geli. Karena saking semangatnya merespon, Pak Firman lupa akan pertanyaan yang hendak disampaikan. Bagaimana Menerapkan Merdeka Belajar? Bu Lia mempertanyakan lebih lanjut tentang Tujuan, Cara, dan Refleksi dalam menerapkan Merdeka Belajar. Mengingat kurikulum yang harus dikejar, kondisi kelas yang beragam, dan motivasi belajar sebagian murid yang rendah. Setelah dijelaskan para penggerak, ternyata Bu Lia mengatakan bahwa selama ini dia sudah melakukan berbagai variasi strategi dalam mengajar. Namun belum sampai tahap melibatkanmurid. Hal ini menjadi sesuatu yang baru dan menantang baginya. Bu Lia juga merespon tentang dana yang dibutuhkan untuk sarana dan prasarana menerapkan Merdeka Belajar. Untuk hal ini, disarankanuntuk kembali melihat apa tujuan pembelajaran. Apakah peralatan yang mahal diperlukan. Belajar seharusnya tidak mahal. Semua bahan belajar tersedia di sekeliling kita. Kisah Pak Nuno Riza yang mengajar komputer tanpa sarana komputer di sekolah pun disampaikan agar para guru jangan mau terhalang oleh sarana pra sarana saat mengajar. Kesadaran untuk Menerapkan Merdeka Belajar Bu Susi mempertanyakan bagaimana membuat guru sadar untuk menerapkan Merdeka Belajar. Para penggerak KGB Binjai menceritakan pengalaman selama menjalankan KGB. Memang tidak mudah, namun harus terus diupayakan. Dengan terus berbagi praktik baik dalam pengajaran. Bu Susi juga mempertanyakan tentang berbagai komunitas guru, MGMP, dan beberapa aturan dalam pemerintah yang menyulitkan gerakan guru. Para penggerak menceritakan bagaimana KGB hadir karena keresahan para guru. Perjuangan belum selesai. Para penggerak mengajak peserta untuk terus bergerak bersama. Bu Lusi memberikan dukungan kepada KGB. Saran yang diberikan adalah agar KGB memberikan program konkret yang memenuhi kebutuhan anggota. Bagi penggerak, TPD kali ini cukup spesial karena respon yang penuh semangat dari peserta. Waktu sudah tidak memungkinkan lagi, namun masih banyak yang ingin dibahas. Peserta diajak untuk mengikuti TPD yang akan datang. Juga diajak untuk menulis di SKGB, membagikan praktik baikpengajaran yang pernah dilakukan. Belajar Melalui Temu Pendidik Daerah Guru Penggerak KGB Binjai menawarkan untuk melaksanakan kelas kemerdekaan di Temu Pendidik Daerah (TPD) mendatang, disambut dengan penuh antusiasme oleh peserta. Penggerak KGB Binjai sungguh mengucap syukur melihat antusiasme para peserta kali ini. Kelelahan pasti karena mempersiapkan kegiatan ini di tengah tengah padatnya kegiatan akhir tahun. Tapi semua terbayarkan saat melihat wajah-wajah para peserta yang penuh semangat setelah TPD selesai. Terima kasih Bapak Ibu guru. Semangat kalian terasa mengalir juga kepada kami. Ayo, mari kita terus bergerak untuk anak didik kita semua. Salam Merdeka Belajar! Sampai jumpa di TPD KGB Binjai yang selanjutnya! Anda masih penasaran tentang penerapan merdeka belajar? Yuk ikuti pelatihan daring Klik:

Implementasi Merdeka Belajar di Pesisir Selatan

Kegiatan nonton bareng komunitas guru belajar adalah kegiatan yang menyenangkan. Hal ini terlihat dari antusias peserta yang hadir. Kali ini kita akan membahas tentang ciri guru yang melakukan implementasi Merdeka Belajar. Peserta terlihat semangat dan aktif dalam proses kegiatan. Kegiatan dilaksanakan di Upt SDN 04 Nanggalo yang terdiri dari guru-guru baik guru kelas maupun bidang studi. Narasumber pada kegiatan Nobar adalah Ermaida, S.Pd, SD, M.Pd, dimoderatori oleh Darmayuni, S.Pd dan Pemandu Nobar Wella Agnes Alba, S.Pd. kegiatan diawali pembukaan oleh moderator, kemudian membaca Alquran yang dibacakan oleh Diki Yulhendra dan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang di pimpin oleh Yolanda Adri, S.Pd. Acara berikutnya dilanjutkan penyampaian materi oleh Ibu Ermaida, S.Pd, SD, M.Pd beliau menayangkan link untuk pengisisan absen secara online. Kegiatan dilanjutkan dengan bertanya tentang ciri guru yang melakukan implementasi Merdeka Belajar kepada peserta yang hadir. Peserta menuliskan pengetahuannya tentang Guru Merdeka Belajar pada kertas yang dibagikan. Setelah guru menuliskan pengetahuannya tentang guru merdeka belajar, mereka menempelkan ke depan. Guru Ermaida membacakan beberapa jawaban dari peserta dan memberi beberapa ulasan. Kegiatan dilanjutkan dengan menonton bersama video dari ibu Najelaa Shihab tentang guru merdeka belajar. Peserta sangat antusias. Setelah selesai penanyangan video peserta diminta menyampaikan informasi yangdidapat dari video yang ditayangkan. Bagaimana Ciri Guru yang Melakukan Implementasi Merdeka Belajar? Peserta sangat antusias menyampaiakan pendapatnya tentang guru merdeka belajar, di antaranya ada guru Darmayuni dan guru Wella. Mereka saling bertanya jawab tentang apa guru merdeka belajar. Menurut Guru Darmayuni guru merdeka belajar adalah guru yang dalam mengajar memiliki kebebasan dalam melaksanakan proses pembelajaran yang selama ini guru belum memiliki kebebasan seperti banyaknya tuntutan administrasi, sehingga guru cendrung menyelesaikan administrasi dari pada melaksanakan pembelajaran, jadi guru merdeka belajar itu adalah guru yang bebas dalam implementasi pembelajaran tanpa tuntutan administrasi yang begitu banyak tetapi dapat mencapai tujuan pembelajaran. Menurut ibu wella Guru merdeka belajar dilihat dari segi kata yaitu Guru merdeka, adalah pendidik yang memilki kebebasan dalam implementasi pembelajaran. Yaitunya bebas memilih media, metode, kegiatan dan tempat pembelajaran yang sesuai dengan aturan dan tanpa adanya tekanan dari atasan tapi harus sesuai dengan aturan yang ada. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Menurut bapak Eliwardi guru merdeka belajar adalah guru yang memiliki dan melakukan implementasi 3 hal, yaitu: komitmen, mandiri dan refleksi. Komitmen adalah seorang guru yang merdeka adalah guru yang memiliki komitmen yang teguh pada tujuan. Guru yang memiliki belajar yaitu guru yang terus belajar menambah pengetahuannya agar meningkatkan proses pembelajaran. Belajar disini yaitu guru yang selalu belajar tak pernah putus belajar sepanjang hayat. Guru merdeka belajar adalah guru yang mandiri yaitu guru yang mampu menemukan sendiri sumber belajarnya baik itu melalui buku, media social, internet, teman sebaya. Dan menerapkannya dalam pelaksanaan pembelajaran. Guru merdeka belajar adalah guru yang mampu merefleksi pelaksanaan belajar. Hasil refleksi tersebut dijadikan tindak lanjut untuk memperbaiki proses pembelajaran. Penindaklanjutan tersebut harus dilaksanakan dengan komitmen, mandiri dan kembali refleksi. Setelah melaksanakan kegiatan Guru Ermaida mengajak semua peserta untuk mengubah tindakan dalam peranan sebagai seorang pendidik. Yaitu menjadi guru yang melakukan implementasi merdeka belajar. Tidak hanya melaksanakan pembelajaran dengan metode ceramah tapi gunakanlah berbagai metode pembelajaran. Belajarlah dengan berbagai cara yaitu membaca buku, bertanya kepada teman. Guru merdeka belajar adalah guru yang komitmen pada tujuan, memiliki proses pemikiran yang secara mandiri, memiliki kompentensi seorang pendidik, dan senantiasa melakukan refleksi. Guru merdeka belajar itu penting untuk meningkatkan proses pembelajaran di sekolah. Anda ingin tahu praktik guru yang melakukan implementasi merdeka belajar? Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 6Unduh GratisKlik: 

Video Guru Merdeka Belajar – Pendidikan yang Lebih Unggul

Video Merdeka Belajar menjadi hal yang kami perbincangkan pada Senin, 30 September 2019. Mengikuti satu kegiatan Komunitas Guru Belajar (KGB) yang merupakan bentuk dari sosialisasi sebuah Komunitas, seyogyanya kegiatan berbentuk Nonton Bareng (Nobar) Video Guru Merdeka Belajar ini dilaksanakan pukul 09.20 – 11.00 WIB. Tapi berhubung karena bersamaan dengan Kegiatan Tengah Semester (KTS) beberapa teman guru mengikutinya secara bergantian karena menyelingi KTS tersebut, sehingga durasi jadi terasa lebih Panjang. Menggerakkan Guru di Karo Sumatra Utara Kegiatan saya buka sendiri karena di Karo belum ada KGB dengan menyampaikan tujuan kegiatan Nobar hari ini, harapan saya setelah menyaksikan video tentang Guru Merdeka Belajar ini akan ada guru penggerak-penggerak selanjutnya yang senantiasa akan saling mendukung. Kemudian saya sebagai pemandu meminta pendapat awal dari 3 temanguru tentang “Apa itu Merdeka Belajar?”. “Merdeka itu tidak terikat dan variasi biar gak bosan” Yang lain berpendapat bahwa “Merdeka Belajar itu bebas tapi masih dalam koridor RPP”. Lalu yang lain lagi mengungkapkan bahwa “Merdeka Belajar itu bebas. Bebas memberikan pendapat, memberi jawaban, tidak didikte dan tidak dituntut. Sesi awal ini peserta nobar hanya bisa berpendapat. Lalu dilanjut dengan sesi pemutaran video guru merdeka belajar. Tampak pada layar bu Najelaa Shihab dengan tampilan yang sederhana. Beliau mengatakan bahwa tidak ada yang lebih ekspresif dibanding anak-anak. Pernyataan bu Najelaa sangat benar. Mendengar ini peserta mulai terlihat semakin serius. Mereka meminta video guru merdeka belajar untuk dibagi ke grup wa sekolah atau wa pribadi, dengan alasan supaya bisa diulang-ulang di rumah. Menarik, respon yang lumayan bagus meski suara Bu Najelaa kadang-kadang menghilang di tengah suara peserta didik yang lumayan hilir mudik di depan kantor karena lomba vokal grup bertempat di sekitar kantor. Namun, kata-kata Bu Najelaa tentang anak-anak yang merdeka belajar yang memiliki aspirasi setinggi langit seperti menggugah hati teman guru sehingga mereka mulai tampak semakin menyimak setiap kata yang diucapkan ibu Najelaa. Merdeka belajar pada peserta didik hanya akan terjadi pada saat anak-anak punya kemerdekaan belajar. Kemerdekaanbelajar peserta didik hanya akan terjadi pada saat pendidik atau guru juga memiliki kemerdekaan. Refleksi Para Guru Deg, rasanya di jantung. Sudahkah selama ini menjadi guru/pendidik yang merdeka? Banyak tanya menggelayuti. Walaupun sebenarnya saya sendiri belum paham betul apa yang dimaksud merdeka belajar. Pendapat saya masih sama seperti pendapat 3 teman guru di atas. Peserta lainpun sudah semakin serius menyimak setiap kata yang disampaikan hinggavideo guru merdeka belajar selesai. Lalu masuk ke sesi refleksi, ada 5 pertanyaan yang harus kami jawab tentang merdeka belajar. Pertanyaan pertama,”Di antara miskonsepsi tadi, mana yang paling menggambarkan diri anda?” Salah satu di antara kami menyatakan “Selama ini menurut saya kita harus belajar sama yang sudah ahli, ya bu De” Rata-rata jawaban secara umum begitu. “Lalu kalau tidak ada yang ahli, apa kita jadi berhenti belajar?” tanya saya. Serentak meskipun lirih mereka menjawab “Ya tidak lah,” dan kami pun meluruskan miskonsepsi itu. Belajar tidak harus menunggu keberadaan sang ahli, terkadang yang kita sebut sebagai ahli hanya mampu secara teoritis tapi tidak pada praktiknya. Seorang ahli atau pakar kadang hanya melihat di lingkungannya, sementara hal itu bisa jadi tidak sama dengan kondisi di lingkungan yang lain. Kita para guru, kitalah yang mengetehui permasalahan anak didik kita. Jadi kita (guru) lah yang menemukan cara yang cocok dalam mengajar, apa dan bagaimana praktik baik di dalam kelas untuk setiap pokok bahasan. Jadi tidak harus ada penyeragaman. “Iya kan,” celetuk salah satu teman guru. Diskusipun berlanjut hingga kami menemukan kesepakatan bahwa belajar butuh waktu, belajar tidak bisa dipaksakan mengejar target kurikulum, belajar harus memberi efek perubahan bagi peserta didik ke arah yang positif. Kompetensi peserta didik harus tumbuh dari lingkungan bukan secara individu. Ciri Guru Merdeka Belajar Pertanyaan kedua saya bacakan, “ciri guru merdeka belajar adalah komitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara belajar dan melakukan refleksi. Apakah Anda setuju dengan pernyataan tersebut? Apa alasannya?”. “setujuuuu, jawab mereka kompak. Bu Peber memberi alasan, kita memang harus komitmen pada tujuan, seperti maksud dari pemaparan Bu Najelaa Shihab bahwa guru merdeka belajar itu harus paham mengapasebuah materi itu perlu diajarkan dan apa kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, agar peserta didik merasa materi yang dipelajari ini bermakna untuk dirinya dan mampu menumbuhkan motivasi secara instrinsik bahwa belajar itu memang perlu. Guru Merdeka Belajar itu mandiri, selalu bersemangat menyelesaikan setiap tantangan, tidak mudah menyerah dan menyalahkan orang lain atau keadaan. Guru merdeka belajar harus bisa melakukan refleksi, berani meminta umpan balik secara aktif dan menilai diri sendiri secara subjektif. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Pertanyaan ketiga untuk sesi refleksi ini adalah “Apakah Anda ingin menjadi Guru Merdeka Belajar? Apa Alasannya?”, “mauuuuu” lagi-lagi mereka menjawab serentak. “Hanya saja kadang-kadang kami kehilangan semangat, kadang-kadang lagi mood baik kami lakukan praktik baik pembelajaran sehingga belajar menjadi bermakna tapi kadang-kadang kami bad mood. Sambil tersenyum salah seorang dari teman guru menjawab, dan yang lain angguk-angguk tanda setuju bahwa yang dialami adalah sama. Tapi kami mau kok menjadi Guru merdeka belajar dan kami perlu waktu untuk itu. Kami harus merubah mindset kami tentang belajar dan peserta didik. Kami akan mencoba mencari solusi dari permasalahan tentang peserta didik ketimbang menyalahkan mereka. Mudah-mudahanseiring berjalannya waktu kami pun akan menjadi guru merdeka belajar”. Ungkap Bu Meini. “Sip, beri tepuk tangan untuk diskusi hari ini, seru ya”, kata saya memberi semangat kepada Bu Meini dan peserta yang lain, meskipun yang tepuk tangan hanya saya. Masuk pertanyaan keempat “Sebagai Guru Merdeka Belajar, apa perubahan yang ingin Anda lakukan di kelas?”. “Kami akan memulai dengan menata kelas, berdialog dengan peserta didik tentang aturan kelas, membuat ice breaking di sela-sela pembelajaran agar tidak bosan, mencoba melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan dan tidak lupa mengadakan refleksi di akhir pembelajaran”. Guru Merdeka Belajar, Guru yang Mengembangkan Diri Pertanyaan terakhir, “Sebagai Guru Merdeka Belajar, apa pengembangan diri yang ingin Anda lakukan Bersama Komunitas Guru Belajar?”, “Kami ingin belajar menulis, kami ingin bisa menulis PTK sendiri” Kata salah seorang peserta. “Hmmm, bagus sekali itu Bu”, jawab saya. Akhirnya sebagai penutup sesi saya mengulas sedikit bahwa guru merdeka belajar adalah guru yang berkomitmen pada tujuan belajar, mengetahui kenapa melakukan sesuatu dan apa manfaatnya serta bagaimana cara mengaplikasikan hasil belajar tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari sehingga peserta … Read more

Membahas Makna Merdeka Belajar

Apa makna Merdeka Belajar?Apa yang terbesit dalam benak para guru ketika mendengar kata MerdekaBelajar?Apakah bebas tidak melakukan tugas administrasi yang seabrek?Atau membebaskan materi yang diajarkan di kelas?Itulah pertanyaan pembuka di acara Nobar Guru Merdeka Belajar. Acara yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru Belajar yang diinisiasi Kampus Guru Cikal. Acara ini dilaksanakan pada Sabtu, 05 Desember 2019 yang lalu di Aula SD Gagas Ceria Kota Bandung. Kegiatan Nobar Guru Merdeka Belajar menghadirkan 4 penggerak Komunitas Guru Belajar Bandung: Luthfia Nurrahmi dari Cendekia Leadership School, Ela Nurlaela dari Sekolah PAUD, Khaerudin Sodiq dari MI Manba’ul Huda, dan Wina Rosmelawati dari SD IT Uswatun Hasanah Baleendah serta Bu Budiyanti, Pak Zaenuri Arif, Bu Karin dan Pak Iwan. Kegiatan puncak dalam acara Temu Pendidik Daerah Bandung adalah menonton video bersama mengenai makna ‘Apa itu Merdeka Belajar?’ oleh Najelaa Shihab, selaku Pendiri Kampus Guru Cikal dan Inisiator Komunitas Guru Belajar. Tiga Dimensi Merdeka Belajar Video tersebut membuka perspektif baru bahwa kemerdekaan belajar bukanlah sesuatu yang diberikan namun proses yang harus digerakan layaknya proses emansipasi. Beliau memaparkan tiga hal esensial yang harus dimiliki pendidik jika ingin merdeka belajar: KomitmenTantangan terbesar pendidik masa kini adalah membedakan cara dan tujuan. Adapun Komitmen dan konsisten terhadap tujuan pembelajaran merupakan hal yang sulit dilakukan karena pendidik masih terjebak pada hal-hal administratif dan birokratif yang bukanlah tujuan dari pendidikan itu sendiri. Tujuan dalam pendidikan adalah hal yang akan membawa pendidik ke ruang yang lebih luas untuk berkreasi dan menciptakan inovasi-inovasi pembelajaran. MandiriUntuk meraih kemandirian belajar, pendidik harus melewati berbagai proses panjang yang sulit ditempuh, dimulai dari pahamnya manipulasi yang terjadi, kesadaran atas kegiatan yang bersifat manipulatif, interaksi atau dialog yang positif antar rekan pendidik, masukan atau konsultasi untuk menunjang keberlangsungan belajar, kemitraan karena pendidikan tidak bisa dilaksanakan oleh satu pihak saja, pemberdayaan potensi baik guru dan murid, dan proses terakhir adalah kendali. Untuk dapat mandiri kita harus memegang kendali atas keseluruhan proses pembelajaran kita sendiri. RefleksiRefleksi adalah cermin diri atas apa yang kita lakukan dan meninjau kembali proses baik yang telah dilakukan sebagai pendidik. Ketiga hal esensial ini saling terhubung membentuk karakter guru merdeka belajar, guru merdeka belajar ini diharapkan mampu melahirkan kompetensi yang berdampak pada murid yang diharapkan menumbuhkan potensi individunya, menumbuhkan jiwa kolaborasi dalam ekosistem pendidikan dan mampu membangun peran dan jenjang karir tak hanya sebagai pendidik di kelas, contohnya menjadi penulis aktif yang dapat menginspirasi pendidik lain. Salah satu tugas yang diemban guru merdeka belajar adalah melawan miskonsepsi-miskonsepsi yang ada di dunia pendidikan itu sendiri. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Setelah menonton penjelasan makna Merdeka Belajar dari video, Bu Juliasih selaku MC membawakan acara dan membagi peserta yang hadir menjadi 4 kelompok dan masing-masing kelompok didampingi oleh penggerak sebagai mentor untuk berdiskusi serta merefleksikan bersama hasil dari pemaparan video. Pertanyaan refleksi terbagi menjadi 5 : Terdapat miskonsepsi seperti : 1) guru belajar hanya mau dari pakar pendidikan 2) guru hanya ingin belajar jika terdapat motivasi eksternal seperti sertifikat atau uang intensif 3) guru hanya berfokus pada urusan administratif 4) guru mengajar terbatas pada “how to atau bagaimana mengajarkan melakukan sesuatu namun kurang mencakup pada dasar berfikir yang lain seperti membangun rasa ingin tahu “why”. Dari miskonsepsi tersebut adakah salah satunya yang melekat pada diri Anda? Ciri Guru Merdeka Belajar Ciri Guru Merdeka Belajar adalah Komitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara belajar dan melakukan refleksi.Apakah setuju dengan pernyataan tersebut? Apa alasannya?Apakah Anda ingin menjadi Guru Merdeka Belajar? Apa Alasannya?Sebagai Guru Merdeka Belajar, apa perubahan yang ingin Anda lakukan di kelas?Sebagai Guru Merdeka Belajar, apa pengembangan diri yang ingin Anda lakukan Bersama Komunitas Guru Belajar? Terdapat pertanyaan dan pernyataan yang menarik terkait diskusi refleksi yang dilontarkan oleh beberapa peserta yang hadir. Dalam kelompok yang saya pandu, salah satu pendidik memiliki kegelisahan mengenai membangun semangat membaca pada murid di kelasnya terutama murid yang belum bisa membaca. Beliau mengatakan bahwa program membaca yang ia berikan di kelas memberi kesan kaku dan hanya melanjutkan program yang sudah dijalankan. Ia ingin memberikan perubahan pembelajaran lebih menyenangkan dan tidak terasa monoton dengan bertanya bagaimana membuat pembelajaran lebih menarik. Dengan mengikuti Komunitas Guru Belajar, Beliau berharap dapat mengembangkan diri dalam hal membangun strategi baik dalam pembelajaran dan mencari inspirasi dalam mengajar yang lebih kreatif dan inovatif. Adapun pernyataan lain dari pendidik daerah terkait pertanyaan refleksi adalah diperlukan dorongan positif dari sesama pendidik yang ingin melakukan perubahan dalam wajah belajar-mengajar disekolahnya. Hal tersebut membuktikan bahwa para pendidik sudah memiliki bekal untuk menjadi ‘Guru Merdeka Belajar’. Mereka memiliki semangat dalam melakukan perubahan di ruang kelas melalui sikap kolaborasi aktif serta mau belajar dari sesama guru. Mereka membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, baik rekan guru, kepala sekolah, beserta jajaran instansi dan pemangku kepentingan. Dari hasil kegiatan Temu Pendidik Daerah ini saya belajar bahwa di Komunitas Guru Belajar ini kita dapat memandang pendidikan dari sisi lain yang lebih positif dan optimis dengan melihat semangat kolektif pendidik yang ingin wajah pendidikan lebih baik. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Pelatihan Guru – Praktik Baik Pengajaran dengan Video di Semarang bersama Nusantarun

Wah apa ini Praktik Baik Pengajaran dengan video? Kita tidak punya keterampilan untuk video dan mengeditnya! Guru-guru terlihat kebingungan dan sedikit khawatir ketika akan mulai pelatihan di hari ke 2. Walaupun merasa ragu akan bisa mengikuti  pelatihan, guru-guru tetap semangat untuk belajar lebih banyak. Sebelum memulai pelatihan, guru-guru diminta untuk membuat lingkaran berdasarkan urutan abjad dari judul film yang mereka sukai. Selesai membuat lingkaran, pak Rizqy meminta guru-guru berpasangan dengan teman di sebelah kanan atau kirinya. Dan guru-guru diminta untuk saling  menceritakan film yang mereka sukai dan pesan apa yang bisa disampaikan dari film tersebut untuk pendidikan. Semua guru terlihat sangat antusias untuk bercerita dengan temannya, setelah selesai saling bercerita pak Rizqy meminta beberapa guru untuk memberikan informasi yang didapat dari temannya.  Memasuki materi pelatihan, guru-guru sudah membentuk kelompoknya yang terdiri dari 5-7 orang dalam satu kelompok. Pak Rizqy dan pak Kumar mulai menjelaskan materi pelatihan, dengan menayangkan salah satu contoh video Praktik Baik. Guru-guru bisa menggunakan tulisan praktik baik yang kemarin sudah dibuat sebagai naskah untuk pembuatan video, pak Rizqy dan pak Kumar menjelaskan bagaimana alur pembuatan video yang tepat, mereka juga menjelaskan bagaimana cara pengambilan gambar untuk video. Setelah mendengarkan penjelasan dari pak Rizqy dan pak Kumar, guru-guru bersama kelompoknya melakukan pengambilan gambar atau syuting dari salah satu cerita anggota kelompoknya.  Baca Juga: Pelatihan Pembuatan Video dengan Handphone Semua guru sangat antusias ketika melakukan proses syuting, ada yang berperan sebagai guru kelas, murid bahkan orang tua. Ketika semua sudah selesai melakukan proses syuting. Peserta kembali mendengarkan penjelasan pak Rizqy dan pak Kumar. Mulai dari aplikasi yang bisa akan digunakan untuk mengedit video sampai bagaimana proses mengedit video menggunakan aplikasi tersebut. Guru-guru bersama kelompoknya mengikuti penjelasan dengan seksama. Peserta sesekali menanyakan hal yang  sulit dipahami kepada pak Rizqy atau pak Kumar. Bahkan bertanya dengan temannya yang sudah lebih paham. Selesai mengedit video guru-guru merasa sangat senang dengan materi pelatihan yang mereka terima. Beberapa bahkan berencana akan membuat video praktik baik dari cerita yang mereka tulis. Ingin mengikuti Pelatihan Online Kampus Guru Cikal? Silakan klik: Pelatihan Guru Merdeka Belajar

Pelatihan Menulis Praktik Baik Pengajaran

Apa itu menulis praktik baik pengajaran? Saya tidak bisa menulis, bagaimana cara melakukannya? Raut wajah bingung namun penasaran muncul dari guru-guru berkumpul di gedung Dieng, BP2KLK Semarang untuk mengikuti Pelatihan Menulis Praktik Baik. Kampus Guru Cikal berkolaborasi dengan Nusantarun mengadakan pelatihan untuk guru dan murid. Pelatihan diselenggarakan secara paralel di hari Selasa, 10 Maret 2020 dan Rabu, 11 Maret 2020. Guru-guru mengikuti pelatihan bersama pak Rizky Rahmat Hani, pak Ratno Kumar dan kak Fatrica sebagai pelatih di ruangan lantai dua. Sebelum mulai praktik menulis. Sebagai narasumber dan fasilitator pak Rizqy, pak Kumar dan kak Fatrica memperkenalkan diri kepada guru-guru. Kemudian 3 orang tadi mengajak guru-guru untuk melakukan Ice Breaking, agar suasana pelatihan menjadi lebih santai.  Penulis, Salah Satu Karier Protean Guru Memasuki sesi materi pelatihan pak Rizqy dan pak Kumar menjelaskan Karir Protean. Bahwa guru-guru bisa mengembangkan karirnya tidak hanya sebagai koordinator sekolah atau kepala sekolah. Tapi guru-guru bisa mengembangkan karirnya melalui bakat atau keterampilan lain yang dimilikinya tanpa meninggalkan profesi utamanya sebagai guru. Sebagai contoh yang sudah ada adalah Pak Nunuk. Beliau melihat kebutuhan belajar murid-muridnya di dalam kelas dan keterampilannya dalam membuat board game. Pak Nunuk menciptakan banyak board game untuk membantu belajar murid-muridnya. Selain pak Nunuk ada pak Eka Wardana yang aktif sebagai penulis buku. Pak Eka mengembangkan karirnya dengan membuka penerbit buku bagi guru-guru.  Dari penjelasan pak Rizqy dan pak Kumar tentang karier protean. Guru-guru semakin penasaran bagaimana cara memiliki karir protean. Sedangkan tidak memiliki banyak keterampilan dan masih harus tetap fokus mengajar di kelas. Pak Rizqy dan pak Kumar menambahkan, bahwa dengan menulis praktik baik di kelas guru-guru bisa mengembangkan karier protean. Di Kampus Guru Cikal, guru-guru bisa menulis praktik baik yang pernah dilakukan dan mengirimkannya ke Kampus Guru Cikal. Tulisan kemudian akan diterbitkan di Surat Kabar Guru Belajar atau dimuat dalam buku yang Kampus Guru Cikal terbitkan. Pelatihan Menulis dengan Formula ATAP Di Sesi berikutnya pak Rizqy dan pak Kumar mulai menjelaskan cara menulis. Formula yang digunakan adalah ATAP yang dimiliki Kampus Guru Cikal. A yang pertama adalah Awalan. Bagian yang menceritakan situasi awal meliputi tanggung jawab sebagai guru dan tujuan pembelajaran yang harus dicapai. T adalah Tantangan. Bagian yang menceritakan tantangan atau kesulitan yang harus dicapai untuk mencapai tujuan pembelajaran. Kemudian A yang kedua adalah Aks. Bagian yang menceritakan strategi dan pelaksanaan strategi belajar termasuk penyesuaian strategi bila ada. Dan yang terakhir P yang berarti Perubahan atau Pelajaran, bagian yang menceritakan pelajaran hasil refleksi terhadap keseluruhan proses.  Setelah pak Rizqy dan pak Kumar memberikan penjelasan ATAP. Guru-guru dibagikan kanvas pengerjaan ATAP, dan mereka diminta untuk memetakan praktik baik yang sudah dilakukan. Setelah selesai memetakan praktik baik, pak Rizqy meminta guru-guru untuk menuliskan kanvas ATAP tersebut dalam bentuk paragraf. Semua guru mulai menuliskan kanvas ATAP mereka dalam bentuk paragraf. Saat itu ada 3 orang guru yang datang terlambat saat pak Rizqy dan pak Kumar menjelaskan penulisan ATAP. Sehingga mereka terlihat kebingungan ketika akan menuliskan dalam paragraf. Kak Fatrica mencoba bantu dengan menjelaskan kembali penulisan di kanvas ATAP. Kak Fatrica juga memberikan contoh-contoh yang lebih mudah dipahami. 3 orang guru tersebut akhirnya bisa menyusul teman-temannya yang lain untuk menulis ATAP dalam bentuk paragraf. Selesai menuliskan praktik baik dalam bentuk ATAP. Pelatih mengingatkan para guru untuk menyimpan catatannya. Esok hari masih ada pelatihan Dokumentasi Praktik Baik dan akan menggunakan tulisan mereka sebagai materi video. Ingin mengikuti Pelatihan Menulis Kampus Guru Cikal? Klik link di bawah iniPelatihan Online: Penulisan Praktik Baik Pembelajaran

Definisi Merdeka Belajar

Berawal dari pertanyaan teman tentang kegiatan saya bersama beberapa teman di Komunitas Guru Belajar. Definisi Guru Merdeka Belajar beberapa kali menjadi topik pembicaraan kami. Karena mau mememenuhi rasa ingin tahu teman saya, saya pun memberanikan diri untuk menawarkan nonton bareng (nobar) video Guru Merdeka Belajar. Video berisi pembahasan definisi Merdeka Belajar yang disampaikan oleh ibu Najelaa Shihab. Senin, 27 Januari 2020 atas nama Komunitas Guru Belajar (KGB) Sijunjung saya dan teman teman mengadakan Nonton Bareng bertempat di SMP Negeri 28 Sijunjung. Kegiatan dilaksanakan setelah proses belajar mengajar yaitu jam 13.30 sampai dengan 16.30. Kegiatan ini dipandu oleh saya sendiri Desy Delarosa dan Alia Yovica sebagai moderator. Peserta yang hadir 15 orang, seluruhnya berasal dari SMP Negeri 28 Sijunjung, guru maupun pegawai TU. Tiga komponen yang menjadi penanda merdeka belajar dibahas dalam video Merdeka Belajar tersebut. Peserta nobar oun merefleksikan kembali bahwa tiga komponen Merdeka Belajar tersebut adalah Komitmen pada tujuan, Mandiri dengan cara dan refleksi untuk memantau proses belajar. Merdeka Belajar menjadi dambaan guru dan siswa, karena merdeka belajar siswa dapat mengemukakan hasil maksimalnya.  Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Selain nobar juga disampaikan tentang Komunitas Guru Belajar Sijunjung dan kegiatannya. Pada Komunitas Guru Belajar kita berjejaring dengan sesama guru lintas sekolah dan jurusan. Kegiatan dalam Komunitas Guru Belajar menularkan praktik baik pembelajaran, membangun kolaborasi antar anggota dan luar anggota, berbagi dan saling dorong untuk dapat meniti karier dan selalu berusaha meningkatkan kompetensi guru. Komunitas Guru Belajar membuat guru bisa menjadi pembelajar dengan bergantian menjadi narasumber untuk teman. Dengan memperkenalkan Komunitas Guru Belajar sekaligus mengajak kawan kawan di SMP Negeri 28 Sijunjung untuk bergabung di Komunitas Guru Belajar Nusantara. Miskonsepsi Belajar Guru Dengan kegiatan Nonton Bareng video merdeka belajar ibu Najelaa Shihab, diharapkan guru memahami miskonsepsi belajar guru. Beberapa miskonsepsi guru belajar yang disebutkan adalah kegiatan belajar hanya untuk mengetahui how to nya saja, dimotivasi dengan adanya insentif, hanya bisa belajar dari pakar, belajar dengan target, perubahan terjadi seketika dan capaian hanya dinilai secara individual. Bu Imma, kepala SMP Negeri 28 Sijunjung mengatakan “Miskonsepsi yang dia alami adalah belajar harus dari ahli dan hari ini saya sadar bahwa belajar bisa dengan siapa saja, terutama sesama guru”. “Kita harus patahkan dengan belajar dengan siapa saja, dengan murid juga dengan teman guru,” sambung beliau. Bu Deri juga menyampaikan “Pencerahan dari video ini diharapkan dapat memberikan perubahan bagi saya nantinya”. “Perubahan yang sangat penting bagi saya adalah belajar tidak mengharapkan sertifikat atau uang”, kata bu Deri. Ada juga yang berpendapat berbeda dan sedikit menggelitik yang disampaikan oleh guru senior bernama pak Jasril. Pak Jasril berkata, “ Boleh merdeka asal jangan kebablasan.”Saya menanggapi bahwa definisi merdeka belajar yang dimaksud memiliki tiga komponen merdeka belajar. Saya pun mengulangi penjelasan tentang iga komponen tadi. Komitmen terhadap tujuan dengan mengetahui mengapa tujuan (kompetensi) itu harus dicapai. Mandiri menentukan cara mencapainya dan merefleksi sejauh mana cara tersebut telah mencapai tujuan. Peserta ingin Menjadi Guru yang Belajar Lagi Terakhir sebelum kegiatan berakhir, bu Imma menyampaikan bahwa sangat berterima kasih dengan adanya kegiatan Nobar guru merdeka belajar ini. Beliau  merasakan pentingnya untuk saling berbagi sesama guru untuk memecahkan masalah di kelas.  Peserta juga menyampaikan masih penasaran dengan merdeka belajar dan kaitannya dengan RPP satu lembar. Bagaimana merancang pembelajaran yang merdeka belajar. Kita menawarkan untuk bergabung di komunitas guru belajar Sijunjung dan mendaftar di KGBN melalui link .  Harapannya peserta dapat mengikuti kegiatan komunitas guru belajar secara luring maupun daring. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Tulisan yang Melipatgandakan Dampak

Saya memikirkan tentang dampak tulisan, ketika saya ingat memiliki rekan guru yang pengajarannya bermakna. Melihatnya mengajar, saya tertarik untuk menerapkan apa yang guru tersebut lakukan untuk saya duplikasi di kelas saya. Cara guru tersebut memulai pengajaran, berkomunikasi dengan murid sampai strategi pengajaran yang ia gunakan saya praktikkan dan sesuaikan di kelas saya. Saya pun merasakan perubahan yang terjadi pada murid saya. Saya membayangkan, jika teman saya tersebut menuliskan praktik pengajarannya lalu menyebarkannya lewat media sosial, banyak guru seperti saya yang akan terbantu. Mungkin bukan teman saya saja, banyak guru lain di luar sana yang memiliki pengajaran bermakna namun hanya di simpan untuk dirinya sendiri. Publikasi praktik baik pengajaran menurut saya penting bagi guru. Selain bisa menginspirasi guru lain, juga akan membantu guru yang melakukan publikasi tersebut menjadi berdaya, salah satunya menjadi guru penulis. Di Kampus Guru Cikal dalam mengembangkan Komunitas Guru Belajar memiliki siklus Guru Belajar untuk membiasakan publikasi di kalangan guru. Siklus Guru Belajar bisa dilihat di gambar di bawah ini : Kalau dilihat dari gambar di atas, maka bagian publikasi adalah salah satu yang penting. Jika tidak ada publikasi, maka bagian yang lain tidak akan berjalan. Di awali guru MENEMUKAN praktik baik pengajaran guru lainnya, dari proses menemukan tersebut, guru melakukan PENALARAN, mempelajarinya dan menyesuaikan untuk kelasnya. Setelah itu, guru melakukan PRAKTIK pengajaran di kelasnya, dari praktik itulah guru melakukan PUBLIKASI. Publikasi tersebutlah yang akan ditemukan lagi oleh guru lainnya. Dari satu yang menulis publikasi, bisa banyak guru yang mempraktikkan dan mempublikasikannya ulang. Semakin melipatgandakan dampak. Namun, sekali lagi, masih banyak yang belum mengetahui manfaat dari publikasi praktik baik pengajaran. Terlihat dari media sosial guru-guru. Pelatihan Menulis Praktik Baik PengajaranTantangannya adalah mengajak guru membiasakan menulis praktik baik pengajaran. Ini salah satu yang dilakukan Kampus Guru Cikal, memasukkan pelatihan menulis praktik baik pengajaran pada tiap program. Salah satunya adalah program Pendidikan untuk Semua. Program Pendidikan untuk Semua merupakan program yang sudah berjalan hampir satu tahun. Program ini berfokus pada pengembangan murid penyandang disabilitas di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Sebelumnya Kampus Guru Cikal sudah beberapa kali melakukan pelatihan guru, seminar orangtua, dan audiensi ke perguruan tinggi hingga pemerintah provinsi terkait. Oleh karena itu, di fase akhir program diadakan pelatihan menulis, agar praktik-praktik guru yang didapatkan dari pelatihan sebelumnya bisa terpublikasi dan berdampak tidak hanya kepada guru tersebut, tetapi kepada guru lainnya. Pelatihan diadakan di BP2KLK Jawa Tengah yang terletak di kompleks SLBN 1 Semarang pada 10 Maret 2020. Pelatihan ini diisi oleh 3 pelatih dari Kampus Guru Cikal, yaitu Guru Rizqy, Guru Ratno dan Guru Fatrica. Ternyata banyak peserta yang memang jarang bahkan belum pernah menulis praktik baik pengajaran. Ini salah satu tantangan kami, para pelatih untuk menyampaikan materi tentang menulis. Oleh karena itu, di awal kami ajak peserta untuk memahami konsep mengenai menulis praktik baik dengan formula ATAP (Awal, Tantangan, Aksi dan Pelajaran). Kami kaitkan dengan keseharian guru-guru. “Coba amati cerita membeli donat ini..” kataku pada peserta. Saya membuat kerangka ATAP dengan contoh membeli donat, dan meminta peserta mengidentifikasikan bagian ATAP. Senang rasanya, dengan analogi seperti ini membuat peserta lebih bisa memahami konsep. Lalu mereka mencoba menulis formula ATAP dari permasalahan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Ada yang menulis tentang permasalahan dalam membuat masakan, perjalanan ke lokasi pelatihan, hingga permasalahan melakukan permainan dengan anak di rumah. Setelah itu, kami ajak peserta lebih dalam, yaitu ke proses menulis praktik baik pengajaran. Kami mendetailkan konsep ATAP, kami kenalkan kanvas menulis ATAP, dan akhirnya para peserta praktik serta memberi umpan balik tulisan peserta lain. Senang rasanya membaca tulisan praktik baik guru-guru tersebut. Guru yang awalnya merasa menulis adalah kegiatan yang membosankan, menyulitkan, setelah ikut pelatihan merasa menulis bukan untuk orang berbakat saja. Berikut adalah testimoni guru-guru yang telah mengikuti pelatihan menulis. Saya jadi ingat salah satu kutipan dari Pramoedya Ananta Toer yaitu,“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” – Pramoedya Ananta Toer.

Apa Itu Merdeka Belajar?

Apa merdeka belajar itu berpengaruh pada peran pendidik?Kehadiran dan peran seorang pendidik merupakan aspek penting dalam dunia pendidikan. Dalam mengajar, sosok guru yang menginspirasi dan mencerahkan juga sudah selayaknya mampu memahami dan mengupayakan adanya proses belajar. Namun, bagaimana jika seorang pendidik belum mengerti makna proses belajar itu sendiri? Hal ini banyak terjadi karena umumnya belajar hanya dipahami sebagai kegiatan membaca dan menghafal. Akibatnya, daya untuk berkarya, kreasi dan berekspresi menurun. Mempelajari Apa itu Merdeka Belajar Sebelum ke anak didik, saya paham bahwa proses belajar harus saya kuasai dan jalankan dengan baik. Akan tetapi, saya merasa belum bisa merinci langkah demi langkah dan tahapan-tahapan proses belajar tersebut dengan efektif. Akhirnya kegelisahan ini terjawab ketika saya mulai bergabung dengan Komunitas Guru Belajar (KGB) Bojonegoro dan KGB Surabaya beberapa tahun lalu. Hingga tahun 2019 ketika sudah menikah dan mengikuti suami saya juga ikut dengan KGB Jombang. Saya sangat tertarik dan bersemangat untuk selalu belajar hal baru di komunitas ini dan di KGB ini lah saya mengenal merdeka belajar. Saya sangat penasaran dengan apa itu merdeka belajar dan penerapannya. Oleh karena itu, saya mengunduh,  mencetak, dan membaca semua Surat Kabar Guru Belajar (SKGB), khususnya edisi yang memuat tentang merdeka belajar.  Melihat apa manfaat dan pentingnya merdeka belajar itu bisa mempengaruhi dan mendorong motivasi, inovasi dan menuju ke pendidikan yang lebih baik, saya ingin gagasan dan praktik merdeka belajar menebar ke pendidik lain yaitu lewat Nonton Bareng (Nobar) Guru Merdeka Belajar. Awalnya saya merasa kesulitan mencari kawan sejawat yang mau menerima ide saya ini, alasannya saya dibilang idealis lah, ribet dan tidak penting. Dengan tekad kuat dan dorongan teman penggerak KGB lain ini saya tetap maju. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mencoba membuat poster dan mengunggah ke sosial media dan it works, banyak teman-teman pendidik di Jombang yang bersedia hadir.  Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Tak hanya Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar, pada hari Rabu, 18 September 2019 pukul 18.30 di rumah saya yang berlokasi di sekitar lingkungan Ponpes Bahrul Ulum Jombang, saya juga memanfaatkan acara ini sebagai wadah untuk saling berbagi. Guru Berbagi Praktik Pembelajaran Diawali oleh Guru Asep, beliau berkeluh kesah bahwa mengajar pelajaran Matematika di kelas khusus putra pondok merupakan tantangan yang sangat berat. Menurutnya, siswa-siswa memerlukan perhatian khusus karena tidak bisa mengikuti pelajaran dengan metode pembelajaran biasa. Ketika Guru Asep mengajar di kelas, banyak siswa-siswa nya tidur dan mengantuk di kelas karena kegiatan mereka di pondok yang cukup padat. Oleh karena itu, Guru Asep berpikir bahwa proses belajar serta pemahaman, penguasaan atas pengetahuan yang efektif adalah yang secara langsung terkait dengan pengaruh kehidupan dan pengalaman siswa itu sendiri (apa yang dilakukan dan apa yang dialami) keseharian. Dengan demikian proses belajar, pembelajaran di kelas harus kontekstual karena pengalaman belajar seperti ini diperlukan dan sangat penting ketika mereka bertumbuh menjadi orang dewasa.  Senada dengan Guru Asep, Guru Eko juga berpendapat bahwa proses belajar harus dimulai dengan mempelajari keadaan nyata lingkungan sekitar atau pengalaman seseorang atau kelompok yang terlibat dalam keadaan nyata tersebut. Tantangan berat dan sulit tentunya untuk mengedepankan upaya-upaya yang menumbuhkan, bagaimana menjadi seorang pendidik mampu mendorong dalam diri siswa agar dapat melakukan proses belajar untuk menyelesaikan masalah, persoalan apa saja yang dibutuhkan. Guru Eko sangat yakin bahwa adanya siswa yang mengantuk, tidur dan rendahnya motivasi adalah bukti nyata bahwa proses belajar di sekolah harus mampu memenuhi kebutuhan anak yakni mendapatkan pengalaman dalam proses-proses perubahan yang terus ada dan tidak berhenti.  Keresahan Guru Ekonomi Sementara itu, Guru Barik dengan wajah kesal, lelah dan gundahnya bercerita bahwa kegiatan pembelajaran dan proses belajar yang baik masih menjadi problematis. Beliau resah karena biasanya guru datang ke kelas lalu membacakan, mempertunjukkan, atau membagikan lembar tugas yang sebelumnya sudah dipersiapkan. Sedangkan siswa diharuskan untuk mendengar sambil mencatat dengan teliti. Kadang-kadang guru memberi pertanyaan atau menyuruh siswa untuk mengerjakan soal-soal tertentu tentang apa yang sudah diterangkan tadi. Padahal, proses belajar demikian tidak mendorong proses berpikir yang memungkinkan siswa menggali pengalamannya dan menemukan sesuatu hal dan peristiwa yang penting dari pengalaman hidupnya.  Guru Barik adalah seorang guru mata pelajaran Ekonomi di sekolah MAN 3 Jombang. Menurutnya, materi terkait teori akuntansi dan penerapannya sangat sulit dipahami siswa-siswanya. Kemudian, guru Barik menjelaskan dan menunjukkan tentang solusi atas masalah yang dihadapinya. Beliau tidak menyalahkan pihak manapun dan siapa pun atas tidak adanya fasilitas belajar yang bagus oleh sekolah. Guru Barik mencari alternatif cara yakni membuat media praktikum E- corner.  Dengan antusias, Guru Barik memaparkan bahwa E-corner merupakan singkatan dari Entrepreneur Corner, konsep ini mirip dengan kantin kejujuran. E-corner ini  menjual kebutuhan siswa dan diletakkan di pojok kelas dan siswa akan menjadi pengelolanya. Pengelolaan yang dilakukan siswa salah satunya adalah pembuatan pembukuan keuangan beserta administrasinya yang mana hal ini akan sejalan dengan materi akuntansi yang mereka dapatkan. Menonton Video Merdeka Belajar Lalu saya sebagai moderator mengajak semua peserta untuk nobar video merdeka belajar. Acara dilanjut dengan sesi diskusi dan refleksi. Di akhir diskusi semua peserta setuju bahwa: Pendidikan tidak lagi merupakan sebuah kegiatan yang hanya ditujukan pada siswa saja. Tanggung jawab penyelenggaraan proses belajar (menetapkan tujuan apa yang harus dipelajari dan diajarkan), seharusnya melibatkan peserta belajar itu tentunya dan orang tua.  Beberapa kompetensi yang tertuang dalam merdeka belajar sangat penting untuk diterapkan karena mendukung ekosistem proses belajar yang menumbuhkan. Siswa dan guru harus merdeka belajar untuk menciptakan dunia yang lebih baik dan lebih bermakna. Guru merdeka belajar harus memiliki komitmen jelas dan mampu menentukan tujuan proses belajar dengan tepat. Agar tidak terfokus pada hal-hal yang sebenarnya bisa dikompromikan seperti nilai, akreditas, dan hal-hal administratif lainnya.  Siswa dan guru merdeka belajar senantiasa mandiri dalam pembaharuan proses belajar. Sudah seharusnya semua pihak yang terlibat dalam proses belajar menyadari pentingnya pembaharuan. Oleh karena itu, media belajar yang digunakan disesuaikan menurut tahapan yang dipikiran matang. Siswa dan guru merdeka belajar harus selalu refleksi. Karena suatu pelaksanaan belajar-mengajar adalah proses yang harus mencerdaskan dan bermakna. Maka dibutuhkan refleksi dan evaluasi untuk mengerti sejauh mana perkembangan potensi, apakah proses belajar yang sudah dilaksanakan sudah berjalan efektif. Refleksi juga sangat penting untuk mengetahui hal-hal mana yang harus diperbaiki dan ditingkatkan.  Sesi Nobar dan saling berbagi ini sungguh menyenangkan. … Read more