Apakah Merdeka Belajar Itu?

Apakah merdeka belajar adalah jargon baru?Tidak dipungkiri setelah Mas Menteri membumikan merdeka belajar banyak guru yang masih asing meskipun sebenarnya bukan hal yang baru lagi. Merdeka belajar ini sudah pernah dibumikan oleh Ki Hajar Dewantara. Dengan penggantian UN menjadi asesmen belajar banyak guru yang mulai bertanya-tanya apakah merdeka belajar itu?. Oleh karena itu, untuk menjawab ini KGB Tulungagung mengadakan temu pendidik daerah yang mengangkat topik merdeka belajar ini. Selanjutnya penggerak dan rekan guru sepakat mengadakan temu pendidik pada Minggu 22 Desember 2019 di MI Sakti modern. Mudik hari ini dihadiri 19 guru. Alhamdulillah guru yang bisa hadir di mudik hari ini bisa bertambah dari sebelumnya. Hal ini menambah motivasi kami untuk saling berkolaborasi dengan rekan seperjuangan yang mempunyai misi yang sama yaitu menjadi guru yang merdeka belajar. Perlukah Kompetisi Pada Proses Belajar? Pemantik diskusi dimulai oleh pak Anam dengan Learning is not about competition. Pak Anam memulai diskusi dengan menceritakan pendidikan di Singapura dan Finlandia. Selanjutnya pak Anam mengajak guru guru untuk berefleksi apakah pendidikan yang diwarnai dengan kompetisi bisa membuat murid bahagia dan mengerti tujuan belajarnya? Kompetisi memiliki banyak dampak diantaranya lemahnya kolaborasi murid. Kompetisi tidak selalu buruk, kompetisi juga dapat melatih murid dalam hal menghadapi tantangan. Namun, value itu tidak bisa dapat dirasakan oleh semua murid. Murid yang berhasil melalui kompetisi dianggap berhasil sedangkan murid yang gagal melalui kompetisi dianggap tidak sukses selain itu hanya murid tertentulah yang dapat mengikuti kegiatan kompetisi ketika di sekolah. Di sini letak miskonsepsi itu, semua murid berhak belajar dan berhasil setelah gagal. Kompetisi adalah satu bagian kecil dari proses belajar tentang tantangan. Sekarang saatnya guru-guru bisa mengajak murid-muridnya untuk memperbanyak kolaborasi daripada kompetisi diantaranya merancang kegiatan pembelajaran yang mendukung kerjasama antara murid yang satu dengan yang lainnya, mengadakan kegiatan belajar bersama dengan instansi atau kegiatan berbasis proyek. Tentunya kegiatan kegiatan seperti ini tidak hanya menantang murid, menyenangkan dan bermakna tentunya juga dapat melatih siswa untuk dapat survive dengan memahami bahwa keberhasilannya dalam belajar tidak semata karena usaha mandirinya tetapi teman, guru dan keluarga juga ada keterlibatan disana. Jadi murid pun juga mengerti makna bahwa manusia itu adalah makhluk sosial yang tidak cukup hidup sendiri dan hanya mengedepankan kompetisi. Apakah Merdeka Belajar Itu? Pemantik diskusi kedua oleh bu Evy Ramadina dengan topik merdeka belajar. Diskusi topik kedua ini bu Evy mengajak teman teman guru menuliskan apa yang telah diketahui tentang apakah merdeka belajar yang saat ini hangat dibicarakan se Indonesia. Menarik, ternyata sangat beragam jawaban dari teman guru. Ada yang menjawab “Merdeka belajar itu bebas, tidak ada aturan, santai, menyenangkan dsb.” Selanjutnya bu Evy memulai diskusi dengan memaparkan apa poin penting dari merdeka belajar yaitu komitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara dan mau berefleksi. Tiga hal ini merupakan suatu siklus yang saling terhubung. Selanjutnya, kami mendiskusikan contoh pembelajaran di kelas seperti apakah yang merdeka belajar itu?. Merdeka belajar bukan tanpa aturan tetapi melibatkan anak anak dalam membangun kesepakatan untuk komitmen pada tujuan belajar. Merdeka belajar merupakan pembelajaran yang mandiri terhadap cara yang memungkinkan setiap murid bahagia dengan caranya dan tetap dijalan kesepakatan bersama. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Acara terakhir rekan rekan guru melakukan refleksi bersamaApakah selama ini masih berkutat di kompetisi murid saja?Lalu apakah murid murid sudah diajak saling berkolaborasi dengan rekannya?Apakah pembelajaran di kelas selama ini sudah merdeka belajar?Dan apakah gurunya sudah merdeka belajar?Dari sini kami sepakat bahwa guru yang merdeka belajar bisa mendampingi muridnya untuk merdeka belajar. Jadi, berikutnya guru guru kembali ke sekolahnya masing masing dan menerapkan merdeka belajar di kelas. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Program Literasi di Sekolah yang Bermakna

Sudah membuat program literasi sekolah, namun nyatanya kegiatan tidak meninggalkan jejak pada murid. Murid sudah membaca buku tapi masih tetap saja tidak paham isinya. Atau sudah paham tentang literasi tetapi minim ragam kegiatan yang bermakna. Ternyata memang masih banyak kerikil  miskonsepsi tentang literasi. Termasuk di dalamnya bahwa literasi hanya berkutat pada buku, teks, kegiatan membaca atau menulis. Lalu apa pentingnya literasi untuk murid jika tidak memberikan perubahan bahkan tidak memberikan daya. Karena seharusnya literasi yang bermakna akan menjadikan murid semakin berdaya. Nah, dari persepsi inilah kita akan mengurai tentang miskonsepsi literasi yang nyatanya telah membudaya berakar bertahun tahun dalam persepsi pendidik. Temu Pendidik Daerah Kegiatan Temu Pendidik Daerah (TPD) adalah sebuah pertemuan antarpendidik di daerah Tulungagung. Peserta dari berbagai jenjang mulai PAUD, TK, SD, SMP, SMA maupun perguruan tinggi. Dalam pertemuan ini kami saling berkolaborasi membahas tentang tema yang kami angkat yaitu Literasi untuk Berdaya. Tema ini kami angkat berkaitan dengan masih banyak miskonsepsi tentang apa itu literasi? Bagaimana program literasi? TPD dilaksanakan pada hari minggu tanggal 6 Oktober 2019. Bertempat di Omah Dolan Pelangi, Jln. Teuku Umar, Dusun, Gluduk, Desa Ariyojeding, Kec. Rejotangan. Kab.Tulungagung. Pemantik diskusi adalah Bunda Ilmi yang merupakan Penggerak KBG Blitar dan Bunda Pelangi Penggerak KGB Tulunggagung. Peserta yang hadir ada 7 orang. Di antara mereka memiliki motivasi ikut karena memang belum pernah mendengar adanya Komunitas Guru Belajar. Adapula yang sudah dengar tetapi belum pernah mengikuti kegiatannya. Maka menjadi lumrah saat baru datang di lokasi peserta masih malu-malu untuk berinteraksi dan komunikasi. Untuk mencairkan suasana Bunda Ilmi mengajak peserta untuk memperkenalkan diri. Kemudian peserta diajak saling bertukar informasi tentang aktivitas dan motivasi mengikuti agenda TPD. “Motivasi saya ikut adalah tertarik pada tema yang diangkat, karena kebetulan di sekolah saya belum ada program literasi.” Ungkap Bu  Gilang yang merupakan guru SD Sentul Blitar. “Saya sebelumnya belum pernah mendengar ada KGB makanya saya datang karena saya penasaran.” Kata Bu Nur yang rumah dan tempat mengajarnya cukup dekat dengan lokasi TPD. Miskonsepsi Literasi Sebelum pemantik diskusi menyampaikan pemaparan tentang praktik baik literasi yang berdaya, para peserta diajak mengemukakan pendapatnya tentang apa itu literasi Jawabannya pun beragam seperti kata pak Satrio Guru SD di Buntaran “Literasi itu ya kegiatan membaca buku.” Berbeda dengan Pak Denny mengungkapkan “Literasi itu adalah kegiatan belajar yang tidak hanya dari buku tetapi juga dalam aktivitas berkreasi.” Setelah  merangkum pendapat peserta, bu Ilmi kemudian memulai mengurai tentang miskonsepsi literasi. Bahwa literasi bukan hanya berkutat pada diktat, buka selalu dengan buku, bukan tentang kegiatan membaca dan menulis saja. Tetapi semua aktivitas mencari informasi, mengolah informasi kemudian mengkomunikasikannya kembali dalam bentuk yang lebih bermakna. Dari pemaparan bu Ilmi sedikit terbukalah paradigm peserta. Ada yang kaget juga karena konsep tentang literasi yang mereka pahami selama ini masih keliru. Ada juga yang kemudian tersenyum lega karena ternyata kegiatan literasi bukan hanya membaca buku. Maklum ternyata ada beberapa peserta yang tidak menyukai kegiatan membaca. Setelah Bu Ilmi memantik diskusi tentang Miskonsepsi Literasi, Bunda Pelangi yang merupakan pemilik Omah Dolan Pelangi memaparkan tentang Praktik baik Literasi yang bermakna di jenjang dasar ( PAUD, TK,SD ). Salah satunya adalah dengan sosiodrama. Kemudian permainan Board Game karakter baik, belajar cerita dan dongeng. Literasi yang berbasis eksplorasi sains. Mengaitkan pembiasaan atau kegiatan sehari hari dengan literasi. Baca Juga: Miskonsepsi Literasi Refleksi Kegiatan Dari hasil diskusi peserta mulai ada ide baru untuk membuat ragam kegiatan literasi yang bermakna. Semuanya dimulai dari pemahaman pendidiknya terlebih dahulu, pada sesi penutupan bu Ilmi menyampaikan “Keterampilan yang harus dimiliki baik pendidik maupun murid di era 4.0 adalah keterampilan berkomunikasi dan berpikir kritis dan inilah bagian dari sebuah literasi yang berdaya.” Sementara Bunda Pelangi menyampaikan “Bukan bagaimana anak itu bisa membaca akan tetapi bagaimana anak itu suka membaca, untuk kegiatan literasi yang bermakna perlu adanya kegiatan pasca membaca.” Sebuah refleksi juga diberikan salah satu peserta TPD yaitu Bu Reza “Kegiatan siang hari ini sangat bermanfaat, membuka pikiran yang selama ini literasi saya anggap hanya tentang membaca. Sangat santai sehingga bisa lebih enjoy dalam memahami. Semoga bulan depan ada agenda lagi dengan teman yang lebih banyak.” Kami tawarkan kepada peserta tentang tema pada pertemuan TPD yang selanjutnya. Dari berbagai masukan dan pendapat ternyata banyak diantara peserta yang ingin berbagai praktik baik pembelajaran literasi. Maka Call to Action nya adalah peserta TPD akan mendapatkan tantangan membuat skenario pembelajaran literasi yang bermakna . Tidak lupa juga kami agendakan awal  bulan depan untuk TPD lagi dengan bahasan Ragam Kegiatan Literasi yang Bermakna, kami rencanakan akan berbagi praktek baik tentang literasi dari semua jenjang sekolah. Penasaran Bagaimana Menerapkan Literasi Numerasi di Sekolah Dasar? Yuk ikuti pelatihan online klik 

Guru Penggerak Jombang dan Merdeka Belajar

Melihat kabar teman-teman di grup Penggerak Komunitas Guru Belajar Nasional. KGB berbagai daerah bercerita tentang perkembangan mereka yang sudah mulai sosialisasi tentang Merdeka Belajar. Penggerak dari Komunitas Guru Belajar Jombang pun ngiler. Ingin Jombang segera punya agenda tersebut. Sungguh, setelah hampir satu bulan akhirnya kami pun mendapat kesempatan itu. Tepatnya tanggal 22 januari Pak Ubed mendapat kabar jika KKG MI Kelas 1 dan PAUD menghendaki kita untuk menjadi narasumber untuk belajar memaknai Merdeka Belajar. Segera penggerak Komunitas Guru Belajar merapat untuk membahas hal tersebut, untuk menyamakan konsep dan membagi tugas saat kegiatan nanti. Ternyata, hampir semua penggerak yang akan ikut andil acara ini merasa nervous . Saya yang biasanya akan presentasi merasa biasa saja, ini rasanya agak mules-mules gitu, hahaha. Ya, secara kita akan menyebarkan salah satu kebijakan yang lagi hot. Tim kami pertama datang pun ada adegan lucu. Kami dikira anak-anak akan menyuntik. Lalu saya bertanya ”Apakah wajah kami seperti dokter, Nak?”. Mereka menjawab, “Iya, Bu.” Kami tertawa dan setelah mereka pergi, kami tertawa. Dalam hati berkata, ya nak kami akan menyuntik semangat Merdeka Belajar untuk bapak ibu guru. Acara dimulai pada hari Kamis tanggal 30 Januari 2020 jam 9.30 di MISS 2 Bandung, Kecamatan Diwek karena sambil menunggu peserta datang. Peserta yang datang pada saat itu ada 26 orang. Acara dimulai dengan sambutan ketua dan dilanjutkan dengan moderator, mbak Utari membuka acaranya. Sebelum memasuki presentasi beliau mengajak semua peserta untuk melakukan aksi gerakan tangan “Merdeka Belajar”. Mereka terlihat senang, dan antusias mengikuti. Setelah itu, memasuki acara presentasi ganti saya yang handle. Menceritakan tentang Komunitas Guru Belajar dan Kampus Guru Cikal juga 4 kunci pengembangan kompetensi guru. Saya ceritakan juga tentang KGB Jombang. Guru Penggerak Menyebarkan Merdeka Belajar Sebelum memutar video, saya mengajak teman-teman untuk menuliskan dahulu pemahaman mereka tentang apa itu merdeka belajar. Segera kami bagi post it dan menempel kertas plano. Dari hasil tempelan tersebut, rata-rata belum menggambarkan 3 kunci merdeka belajar. Nak, saat akan memutar video notebook saya tidak bisa mengeluarkan suaranya. Ada tim bagian teknisi, saya tetap handle teman-teman dengan mengajaknya yel-yel merdeka belajar. Akhirnya dicoba dengan notebook satunya. Ternyata sama juga, kami pun tak kehilangan akal. Akhirnya dua notebook dinyalakan dengan berbagi tugas, antara tayangan gambar dan suara hahahaha. Melihat tayangan video peserta tampak bersemangat. Hingga pemutaran video selesai, saya lanjutkan dengan mengajak teman-teman berdiri untuk berkelompok setelah saya menghitung 2-6. Semua sudah berkelompok. Dan mereka pun lanjut diskusi tentang refleksi setelah melihat video. Sepuluh menit kemudian, ada perwakilan kelompok presentasi. Setelah presentasi, ketua bertanya ke saya, “Jika saya saat mengajar sudah menyampaikan tujuan ke murid, pengajaran pun saya beri kesempatan murid untuk memilih materi mana dulu yang disukainya. Tidak lupa di akhir pembelajaran saya tanya ke murid untuk refleksi”. “Apakah pengajaran ini sudah merdeka belajar Bapak Ibu?” Saya tidak langsung menjawab. Tapi, saya ajak untuk memasuki materi selanjutnya untuk segera bisa menjawab sendiri apakah sudah merdeka belajar apa belum.  Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Hingga akhirnya sampai pada sesi, teman-teman saya ajak untuk berdiri. Karena ruangan tidak memadai untuk bergeser ke kanan atau kiri, maka saya ajak untuk mengacungkan tangan saja. Jika setuju dengan pernyataan tersebut mengacungkan tangan kanan dan sebaliknya. Rata-rata dari jawaban mereka sudah benar. Ketika saya membacakan tentang puisi merdeka belajar, duh rasanya merinding saya. Keren abis itu puisi. Pasti yang membuat pakai hati hingga bisa masuk ke hati. Refleksi Pengajaran Merdeka Belajar Materi sudah tersampaikan. Saya kemudian membawa hal yang saya dapat dari Pelatihan Guru Merdeka Belajar yang pernah saya ikuti. Tentang praktik 2 adegan pengajaran. Setelah itu, saya ajak teman-teman untuk refleksi rasa yang mereka rasakan saat menjadi murid. Perwakilan teman-teman maju ke depan untuk menyampaikan perasaannya. Jelas mereka lebih senang saat pengajaran ke-2  karena murid merasa dihargai, penyampaian materi langsung pada praktik, dan suasana terbangun dengan hangat. Sebelum saya akhiri, saya menyampaikan bahwa kegiatan ini akan berlanjut lagi, dengan kanvas merdeka belajar dan lain-lain tentang Komunitas Guru Belajar. Tidak lupa kami promosikan produk KGB yang bisa diperoleh di dan saya juga menunggu kabar baik dari teman-teman tentang praktik baiknya di sekolah. Dan tentunya, akan menerbitkannya menjadi buku. Akhirnya moderator menutup acara. Setelah itu, kami lanjutkan dengan refleksi dan tindak lanjut. Sayangnya, kami belum membaca hasilnya dibawa ketua. Tapi, itu PR kami untuk menanyakan hasil refleksi dan tindak lanjut teman-teman. Tidak lupa acara ditutup dengan foto-foto memakai banner keren KGB Jombang dan banner keren dari KKG MI Kelas 1. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Membahas Arti Merdeka Belajar

Apakah arti Merdeka Belajar itu? Bagaimana melaksanakannya? Apa yang didapatkan oleh guru dan siswa dengan merdeka belajar? Lalu bagaimana “Meneropong Konsep Merdeka Belajar Kemendikbud” dalam hal ini guru merdeka belajar melalui  Kebijakan Menteri Pendidikan? Pertanyaan –pertanyaan dan rasa penasaran membahas arti merdeka belajar muncul dari guru-guru Yayasan Al Hikmah, Maros. Komunitas Guru Belajar Maros berkolaborasi KGB Makassar meramu Temu Pendidik Daerah (TPD). TPD ini berisi kegiatan Nonton bareng Guru Merdeka Belajar pada Sabtu, 21 Desember 2019 di SDIT Al Hikmah Maros. Dalam diskusi kali ini sebagai narasumber adalah Ketua KGB Makassar dan para penggerak KGB Makassar. Seluruh sesi dipandu oleh moderator Pak Rudy.  Acara nonton bareng dilanjutkan dengan diskusi membahas arti merdeka belajar diantara para guru. Acara Nobar Guru merdeka dibuka oleh ibu kepala sekolah SDIT Al Hikmah, dalam sambutannya beliau mengatakan sangat senang dengan adanya kegiatan seperti ini, karena sebelumnya beliau punya  harapan ingin berdiskusi tentang bagaimana kebijakan menteri yang baru, dan sangat bersyukur Komunitas Guru Belajar hadir menjadi fasilitator dalam kegiatan tersebut. Hal tersebut juga diapresiasi oleh kepala sekolah TKIT Al Hikmah Maros, sangat senang dengan adanya diskusi seperti ini.  Sudahkah kita memahami arti Merdeka Belajar? Oleh Pak Rudy selaku moderator dalam acara nonton bareng tersebut, membuka dengan kalimat sudahkah kita merdeka belajar? Beliau memberikan contoh sebagai guru IPA dengan keterbatasan fasilitas LAB dan bahwa mengajar IPA tidak pumya LAB jatuhnya ke hafalan. Benarkah demikian? Menurutnya tidak seperti itu. harus kreatif dan tidak dibatasi kondisi fasilitas yang ada. Dia kemudian memberikan contoh dengan materi lensa cekung yang menggunakan sendok makan sebagai contoh.  Lanjut Pak Rudy, mengatakan bahwa bagaimana anak dapat merdeka belajar? Caranya sangat mudah, manfaatkan media yang ada di sekitar kita.  Ibu Guru Anita  Taurisia Putri selaku narasumber dalam diskusi nobar tersebut memberikan penjelasan mengenai empat kebijakan baru menteri pendidikan, bapak Nadien.  Termasuk tentang konsep guru merdeka berdasarkan konsep Komunitas Guru Belajar. Oleh Guru Indra dari KGB Maros, dari konsep pemahaman beliau masih terperangkap oleh miskonsepsi merdeka belajar. Oleh  guru Kasmiatang, mengatakan bahwa guru merdeka adalah bahwa membahas tentang guru endingnya adalah berawal dan berakhir di murid, guru merdeka  adalah guru yang bebas berinovasi tanpa tekanan. Tidak terjebak dan terfokus pada tugas administratif guru. Lain halnya oleh pak guru Irfan, menurutnya pendidikan adalah dakwah. Pernahkah guru mengeluh bahwa murid itu nakal ? Mengajar murid yang nakal adalah bagian dari dakwah juga.  Itulah tantangan dakwah. Visi pendidikan membawa murid ke surga, katanya. Dengan meningkatkan potensi amal, mari sinkronkan keinginan antara anak, orang tua dan guru. Memperjelas objek dakwah, kita harus mengambil sudut pandang pada anak-anak, jangan menggunakan sudut pandang pribadi sebagai guru untuk mengukur anak. Oleh pak guru Irfan mengatakan bahwa guru harus mampu memahami murid. Beliau memberikan contoh, kegiatan kepramukaan misalnya membagi pola pendidikan sesuai pola umur (1-4 tahun Siaga, Penggalang umur 5-6-7-8-9 Tahun dan penegak untuk SMA dan Mahasiswa). Pendidik yang Merdeka Belajar Sebagai pendidik harus bisa menyesuaikan dengan objek pendidikan kita dalam hal ini anak didik. Menurut pak Arif, bagaimana guru akan menjadi perwakilan Allah di muka bumi ini? Seorang guru harus memahami murid, mereka belajar (murid) adalah bagian dari tantangan belajar yang juga bagian dari dakwah. Misalnya rasanya keliru anak diminta belajar sementara orang tua sibuk main HP.  Oleh guru Adel, Penggerak KGB Makassar  mengatakan memanfaatkan potensi yang ada, memahami murid sesuai kebutuhan dan keadaan.Memahami murid menjadi rambu bagi muridnya. Guru mengikuti pola yang disenangi, dimasukkan kedalam pelajaran. Apa yang dibutuhkan anak itu yang harus diajarkan. Satu pesan dari Bu Guru Permata dari SMK Darussalam “Cukup jadi diri sendiri jika ingin menjadi ” Menjadi guru merdeka itu harus kreatif tidak mengajar karena tuntutan pimpinan tetapi karena beban moril, bahwa mengajar dengan baik adalah tanggungjawab di akhirat. Menjadi Guru Merdeka adalah guru yang kreatif dan inovatif dalam mengajar, memahami apa yang dibutuhkan oleh seorang murid.  Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Kutipan dari Bu Elaa “Guru tidak bisa belajar sendiri”-“Ciri Guru Merdeka Belajar adalah Komitmen akan tujuan, Guru yang mandiri, dan Guru yang Bercermin (refleksi)” Merdeka belajar adalah proses dimana seorang guru mampu memerdekakan dirinya terlebih dahulu dalam proses belajar mengajar dan mampu memberikan rasa nyaman serta rasa merdeka belajar bagi siswa- siswanya. Atau dengan kata lain Merdeka belajar juga  adalah bagian dari proses belajar seorang guru untuk memiliki komitmen, mandiri serta reflektif, dimana seorang guru ketika belajar dan mengajar tidak terjebak pada persoalan-persoalan administratif tetapi memiliki kesadaran untuk belajar karena kebutuhan alamiah menuju tujuan yang bermakna bagi diri sendiri dan bagi orang lain.

Konsep Merdeka Belajar di Sijunjung

Agar memahami konsep merdeka belajar. Komunitas Guru belajar Sijunjung mengadakan Temu Pendidik Daerah (TPD) ke–18. Acara ini dilaksanakan pada Jumat, 17 Januari 2020 pukul 13.30 – 17.00. Bertempat di kediaman Bu Sri hastuti Kecamatan Sijunjung, Kabupaten Sijunjung. TPD ini memiliki kegiatan nonton bareng. Dimoderatori oleh Ibu Novi Edmawati, sebagai salah satu penggerak dari KGB Sijunjung. Peserta yang hadir lebih kurang 15 orang, berasal dari Guru Kelompok bermain ( KB),SD,SMP, dan SMK. Kegiatan Nobar dipandu oleh Ibu Sri hastuti yang sudah mengikuti (Temu Pendidik Nusantara) tahun 2018 dan tahun 2019. Beliau juga aktif di Komunitas Guru Belajar.  Beliau adalah sosok yang mengayomi dan mampu menjadi teladan bagi Guru–guru yang ada di Sijunjung. Keresahan Guru pada Pendidikan Kegiatan Temu pendidik diawali dengan saling mengenalkan diri. Ada beberapa teman yang baru bergabung di Komunitas Guru Belajar Sijunjung ini. Kegiatan ini berlangsung 15 menit. Kemudian kegiatan dilanjutkan oleh  Bu Sri hastuti tentang Komunitas Guru belajar. Beliau menjelaskan Latar belakang komunitas ini. Komunitas terbentuk karena timbulnya keresahan dari para guru tentang Pendidikan Di Indonesia. Bu Tuti menayangkan tentang video guru Merdeka belajar. Guru–guru yang hadir antusias dalam menonton dandiajak memperhatikan penjelasan Konsep Merdeka belajar dan  miskonsepsi belajar. Setelah selesai menonton, peserta melakukan refleksi “Apakah yang sudah diketahui tentang konsep guru merdeka belajar?” Saya sebagai guru merasa Bahagia bisa berada di Komunitas ini. Berada di antara Guru–guru hebat. Bukan hanya hebat di Sijunjung saja tapi sudah sampai ke Jakarta. Orang–orang pilihan yang dianugerahkan Allah kepada saya untuk bisa bergaul dengan mereka. Komunitas ini membuka cakrawala saya tentang belajar itu seperti apa. Bagaimana Guru yang Merdeka Belajar? adalah guru yang komitmen pada tujuan, guru yang bisa mandiri dalam mengatasi masalah yang dihadapinya dan guru yang selalu refleksi, berkaca diri atas apa yang telah ia lakukan. Merupakan guru yang memerdekakan murid. Guru dan murid merasa merdeka dalam proses pembelajaran. Guru merdeka adalah orang yang selalu mengembangkan dirinya untuk menjadi lebih baik. Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Bu Tuti  juga menjelaskan tentang miskonsepsi selama ini yang terjadi di kalangan pendidik dan dunia pendidikan barangkali. ada pernyataan yang salah kaprah atau miskonsepsi belajar seperti satu, Guru belajar karena insentif eksternal. Dua, Guru belajar harus dari ahli, tiga, Belajar cukup terbatas “How to”. empat, belajar diburu target yang dipaksakan,lima, Kompetensi bersifat individual. Miskonsepsi yang ada pada diri saya yaitu Belajar cukup terbatas “How to”. Selama ini mungkin saya mengajar hanya tahu cara tanpa saya tahu tujuan yang sebenarnya. Saya datang ke sekolah mengajar setiap materi yang dituntut kurikulum tanpa memahami tujuan akhir yang akan dicapai  peserta didik. Maka saya bertekad untuk mematahkan miskonsepsi belajar ini. Saya akan berusaha memahami tujuan dari apa yang akan saya lakukan. Saya akan terus bergabung di komunitas ini dan akan selalu menjadi guru yang merdeka belajar. Guru yang komitmen yang pada tujuan, mandiri dalam menyelesaikan kendala yang dihadapi, dan selalu refleksi atas apa yang sudah dilakukan. Saya akan terus bergabung di komunitas Guru belajar ini karena saya mendapatkan pencerahan dan memberikan energi positif yang harus selalu dipupuk agar berkembang menjadi lebih baik.

Disiplin Positif Cara Mendisiplinkan Murid

Disiplin positif menjadi hal yang perlu didekatkan dengan guru. Sehingga kami pilih menjadi topik dalam rangkaian tiga gelombang pelatihan. Pelatihan ini sengaja kami bagi menjadi  tiga gelombang. Dengan harapan pelaksanaannya bisa efektif dan berjalan kondusif. Tujuan kami mengadakan kegiatan ini mengenalkan keberadaan KGB Jember.  Selain itu, mencoba mengenalkan penerapan Disiplin Positif sebagai salah satu alternatif solusi cara mendisiplinkan murid/anak. Mengapa Perlu Penerapan Disiplin Positif?  Kita semua tahu masih banyak praktek pengajaran yang menggunakan kekerasan sebagai cara mendisiplinkan murid. Guru menggunakannya karena anggapan bahwa murid tidak akan patuh kalau tidak ada yang ditakuti. Karena itulah, guru perlu menggunakan kekerasan supaya murid takut ketika hendak melakukan pelanggaran. Ada juga yang beranggapan bahwa murid tidak akan menghormati guru yang terlalu sabar. Para murid juga akan menjadi anak-anak yang manja jika terlalu disabari. Tetapi ada juga yang berpendapat sebaliknya berkaitan dengan disiplin ini. Bahwa sebagian guru merasa khawatir adanya UU Perlindungan anak.  Mereka takut ketika hendak menindak murid yang melakukan pelanggaran. Mereka takut dikenai hukuman. Akibatnya para guru banyak yang mengabaikan pelanggaran yang dilakukan muridnya. Mereka bingung harus melakukan apa. Mungkin diatasi, tapi tidak ditangani secara serius. Sehingga pelanggaran demi pelaggaran terus terjadi. Baca Juga: Penerapan Disiplin positif adalah jawaban yang selama ini kami anggap paling efektif sebagai cara mendisiplinkan murid tanpa kekerasan. Disiplin positif adalah cara menumbuhkan disiplin yang bersumber dari dalam diri murid itu sendiri.  Dalam penerapannya tidak mengenal peraturan. Semua ketetapan yang berlaku dibuat berdasarkan kesepakatan bersama. Semua kesepakatan  itu dibuat oleh seluruh warga kelas berdasarkan hasil musyawarah.  Ketika menerapkan disiplin positif juga tidak berlaku adanya hukuman. Yang ada adalah konsekuensi. Jadi ketika ada murid yang melanggar kesepakatan bersama, maka murid tersebut harus menerima konsekuensinya. Konsekuensi ini juga hasil dari musyawarah yang telah disepakati dan berkait langsung dengan pelanggaran. Disiplin positif  mengajak murid tumbuh dan berkembang melewati prosesnya dengan mengutamakan proses berpikir. Jadi bukan dengan menasehati, mendikte, atau mendoktrinnya. Tidak memvonis murid ketika melakukan kesalahan. Karena kami meyakini bahwa yang dibutuhkan anak-anak adalah proses mengalami, memahami, menganalisa, kemudian menyimpulkan sebelum sampai pada tindakan memperbaiki kesalahan. Semua tindakan yang dilakukannya tidak sekedar patuh atau mengikuti seperti orang mabuk, tetapi lebih kepada proses berpikir.  Pelatihan Disiplin Positif KGB Jember Pelatihan gelombang 1 dilaksanakan tanggal  13 September 2019, tempatnya di Perpustakaan Bank Indonesia. Gelombang 2 dilaksanakan tanggal 27 September 2019, yang bertempat di Warung Dalung. Sementara gelombang 3 dilaksanakan tanggal 11 Oktober 2019 di Gedung Telkomsel Jember. Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari Jumat,  mulai pukul 13.30- 16.00. Peserta yang mengikuti pelatihan ini sangat beragam. Mulai dari orang tua, guru-guru mulai dari jenjang TK sampai SMA/MA/SMK, guru BK, dan juga ada beberapa pemerhati pendidikan.  Pelatihan ini berbentuk diskusi, baik diskusi saat praktek dalam membuat kesepakatan kelas, konsekuensi, maupun dalam mempelajari  contoh kasus di materi video. Video yang kami putar tiap pelatihan tidak sama. Tujuannya agar kami juga bisa mengenali sekaligus mempelajari situasi, kondisi, dan pendapat yg beragam. Kami sengaja memilih metode diskusi karena percaya bahwa setiap peserta memiliki pengalaman yang beragam. Mereka juga sudah terbiasa menangani dan memecahkan masalah-masalah yang terjadi bersama anak/muridnya. Sehingga yang kami harapkan dari diskusi ini adalah semua ide/pendapat/masukan nantinya bisa menjadi kesepakatan bersama untuk kemudian bisa diterapkan di tempat masing-masing.  Berbagai Aktivitas Adapun tahapan-tahapan pelaksanaannya sebagai berikut: Peserta diajak membuat kesepakatan bersama sebelum memulai kegiatan dengan cara berdiskusi. Lalu bermusyawarah untuk membuat/menetapkan konsekuensi dari setiap pelanggaran pada penerapan disiplin positif. Peserta menonton video kasus kekerasan di sekolah, sambil mencari penyebab/sumber permasalahan dari kasus tersebut. Memusyawarahkan /saling tukar pendapat tentang penyebab terjadinya kasus di video tersebut. Kemudian semua pendapat yang telah disepakati ditulis. Setelah menemukan sumber/penyebab permasalahannya, para peserta diajak utuk mencari solusinya.   Seperti dugaan kami, selama diskusi para peserta aktif bertanya maupun berbagi ide/pendapatnya. Meskipun mungkin awalnya banyak yang berupa curhatan. Akhirnya, diskusi bisa mengarah ke pemecahan masalah. Seperti, ada peserta yang bertanya, ” Bukankah kita sudah memiliki aturannya, bahwa kalau mendidik itu tidak boleh menggunakan kekerasan. Tapi mengapa masih banyak yang melakukannya?” Jawaban kami, “Karena itulah KGB Jember hadir di sini. Tujuannya adalah untuk memberikan alternatif solusi cara mendisiplinkan murid yang tanpa menggunakan kekerasan.” Refleksi Peserta Begitu banyak kesan yang mengharukan selama pelatihan maupun sesudahnya. Kami memang sengaja membuka ruang tanya jawab lewat grup atau pribadi, jika masih ada yang ingin ditanyakan berkaitan dengan materi pelatihan.  Seperti yang disampaikan oleh salah satu peserta, beliau guru di salah satu SMP di Ambulu. Beliau mengatakan, “Saya senang mendapat pencerahan hati. Sehingga mengajar tidak perlu marah-marah pada anak yg nakal. Kita harus selalu berpikiran positif pada anak. Karena anak itu belum paham tentang kebenaran yg hakiki. Saya yakin dia akan berubah pikirannya suatu saat karena sadar dan paham tentang sesuatu.” Tujuan yang baik adalah harapan dari semua pendidik. Kami percaya setiap pendidik memiliki tujuan ingin mendisiplinkan muridnya. Akan tetapi, tujuan baik ini tidak diiringi penggunaan cara yang baik. Kita seringkali terjebak pada cara mendisiplikan untuk tujuan sesaat. Seolah-olah  disiplin. Padahal mereka sedang menunggu kesempatan berikutnya untuk melanggar. Mengapa? Karena mereka disiplin bukan karena kesadaran. Tapi disiplin karena faktor dari luar dirinya. Seperti disiplin karena diiing-imingi hadiah atau sogokan. Disiplin yang disebabkan takut dihukum atau sanksi berat. Maka, agar pembiasaan disiplin ini berdampak lama dan  menjadi kebiasaan dalam kesehariannya, penerapan disiplin positif inilah solusinya.

Guru Sejarah Merdeka Belajar

Guru Merdeka Belajar menjadi topik yang diangkat Komunitas Guru Belajar Makassar. Kegiatan bertajuk Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar dilaksanakan berkolaborasi dengan Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI). Tidak hanya dari satu provinsi, ASGSI yang ikut berasal dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah. Diselenggarakan pada Sabtu, 14 Desember 2019 Pukul 08.00 – 10.00 WITA. Kegiatan bertempat di Gedung Guru Jusuf Kalla Disdik Sulsel, Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10 Makassar. Acara Nonton bareng Guru Merdeka Belajar yang dipandu oleh penggerak KGB Makassar. Aktivitas ini berlangsung di awal kegiatan sebelum acara Seminar Nasional dimulai. Pada sesi ini diputar video Guru Merdeka Belajar Najelaa Shihab. Nobar dipandu oleh guru Maurensyiah P., S.S., M.Pd dari SMK Darussalam Makassar yang biasa disapa Permata Hati.  Berikutnya, acara dilanjutkan dengan diskusi diantara para guru-guru sejarah 3 provinsi yang disebut tadi serta salah satu perwakilan Asosiasi Guru Sejarah Gorontalo. Acara Nobar Guru Merdeka Belajar sangat tepat ditampilkan dalam kegiatan AGSI kali ini, dan sesuai dengan tema yang diusung oleh panitia yaitu Sejarah Lokal : “Tantangan & Masa Depan “. Sudahkah Guru Sejarah Merdeka Belajar? Pemandu mengucap kalimat “Sudahkah guru-guru sejarah merdeka belajar?” Lalu, riuh muncul dari guru sejarah bahwa mereka adalah guru merdeka belajar. Jawaban spontan muncul “Ya, sudah pasti Guru Merdeka Belajar dong!” “Lalu, bagaimana anak dapat merdeka belajar?” “Dan bagaimana seorang guru sebagai guru yang merdeka dalam berinovasi mengajar”. Guru mampu memberikan inovasi-inovasi pembelajaran sejarah yang lebih kreatif. Bagaimana membangun kesan belajar sejarah bukanlah hal yang membosankan? Umpan pertanyaan ini lalu direspon beberapa guru. Guru Wartawati Damar dari  kabupaten Wajo menyatakan, “Guru sejarah itu harus kreatif menciptakan inovasi pembelajaran dan termasuk kreatif dalam mengenalkan literasi melalui karya tulisan sejarah.” Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Pemandu mengatakan “Cukup jadi diri sendiri jika ingin menajadi Guru Merdeka Belajar.” “Tidak perlu menjadi orang lain, perbaiki saja niat, tumbuhkan semangat dan ciptakan hal-hal yang kreatif dalam pembelajaran sehingga siswa akan menjadi nyaman dalam belajar.” Kreatif dalam berinovasi. Sebagai guru sejarah administrasi pembelajaran memang penting akan tetapi jangan dijadikan beban dan momok dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik. Sempat membagi pengalaman inovasi pembelajaran tentang belajar sejarah melalui video dokumenter, komik sejarah dan majalah sejarah yang diberi nama COMAAGTOON.  Guru Zulkifli mengatakan bahwa guru sejarah itu harus energik, karena guru sejarah tidak hanya mengajarkan masa lalu tapi juga mengajarkan masa kini dan masa yang akan datang karenanya dibutuhkan kreativitas mengajar yang baik. Guru Sejarah harus banyak berkarya lewat tulisan sejarah sebagai salah satu bentuk mengenalkan sejarah dan budaya bangsa kita. Dan bahwa literasi menulis dan literasi berupa lawatan sejarah adalah bagian atau wujud dari guru merdeka belajar. Guru sejarah memiliki potensi tersebut.  Diskusi tidak bisa berlangsung lebih lama lagi. Karena agenda utama seminar nasional telah siap dimulai dan dibuka dan presiden AGSI bapak Sumardiansyah Perdana Kusuma. Beliau yang akrab disapa mas Ryan telah tiba di lokasi kegiatan. Iringan musik dan tarian penyambutan telah bersiap-siap. Diskusi nobar guru merdeka belajar akhirnya berakhir. Harapannya diskusi akan hal tersebut akan kembali berulang di waktu yang akan datang. Arti Merdeka Belajar Di akhir diskusi pemandu kembali menyampaikan kutipan dari Bu Elaa “Guru tidak bisa belajar sendiri.”-“Ciri Guru Merdeka Belajar adalah Komitmen akan tujuan, Guru yang mandiri, dan Guru yang Bercermin (refleksi).” Merdeka belajar adalah proses dimana seorang guru mampu memerdekakan dirinya terlebih dahulu dalam proses belajar mengajar. Guru mampu memberikan rasa nyaman serta rasa merdeka belajar bagi siswa- siswanya. Atau, dengan kata lain Merdeka belajar juga  adalah bagian dari proses belajar seorang guru untuk memiliki komitmen, mandiri serta reflektif. Seorang guru ketika belajar dan mengajar tidak terjebak pada persoalan-persoalan administratif. Tetapi memiliki kesadaran untuk belajar karena kebutuhan alamiah menuju tujuan yang bermakna bagi diri sendiri dan bagi orang lain.

Nasehat Tak Mempan, Masuk Kuping Kiri, Keluar Kuping Kanan

Nia Kurniati: Assalamualaikum Bapak dan Ibu Guru Hebatnya Indonesia! Gimana kabarnya malam ini? Semoga Bapak dan Ibu masih terus semangat ya mengikuti ajang sharing mingguan kita, di TPM. Judul diskusi malam ini “Nasihat Tak Mempan, Masuk kuping Kiri, Keluar Kuping Kanan”. Hai, Bapak/Ibu yang sudah gabung, siap berbagi kisahnya terkait dengan tema kita ya? Faristya Eni: Waaaaaah apalagi saya sebagai guru BK, sering sekali mengalami kaya gini Bu. Sehari dinasihati kadang bisa langsung tobat kadang juga masih kumat.  Nia Kurniati: Sadarkah Bapak dan Ibu, anak-anak zaman sekarang , alias anak zaman milenial, mengalami tantangan yang luar biasa dalam hidupnya? Tantangan sekaligus pengaruh dari perkembangan teknologi yang membentuk mereka menjadi generasi yang dinilai canggih dalam hal teknologi, namun mengalami degradasi nilai. Salah satu hal yang sering terjadi adalah sulitnya memberikan masukan atau nasihat kepada anak-anak. Pernahkah Bapak dan Ibu mengalami kesulitan dalam hal ini? Nurul Badriyah: Tantangan yang luar biasa menghadapi sikap anak zaman sekarang. Pasti banyak faktor yang mempengaruhi sikap anak. Nia Kurniati:  Oiya, sebelumnya, perkenalkan, saya Nia yang akan memoderatori diskusi kita malam ini. Ziqi: Kalau dengan anak-anak saya biasanya ajak bertukar pikiran, mendengarkan apa yang menjadi harapan mereka dan kondisi riil yang mereka lakukan. Ya tapi harus siap dengan berbagai jawaban mereka, ada yang bertahan diam, ada yang mendebat kritis, dan ada pula yang mendebat sekenanya. Kharisma Fassra: Memang benar kita sulit sekali memberikan nasihat. Sampai saya menyadari bahwa saya harus masuk ke dunia mereka. Mereka senang membuat film, saya beri layanan membuat film dengan tema-tema yang sesuai dengan perkembangan mereka, yang membuat mereka jauh mengerti apa yang harus dan tidak boleh dilakukan. Oh ya perkenalkan saya Kharisma guru BK SMA N 3 Demak Jateng. Fathiah Salma: Terkadang anak-anak berantem dan ngobrol sendiri, tidak mau untuk mendengarkan penjelasan dari saya, Bu. Nia Kurniati:  Selama ini bagaimana penanganannya jika siswa Bapak/Ibu tidak juga berubah setelah diberi nasihat ? Ziqi: Setiap sekolah tentu memiliki treatment berbeda menyesuaikan karakteristik dan lingkungan, semangat berbagi semuanya. Waniy: Nggeh, Bu. Mereka minta didengarkan harapannya dan perasaannya tapi masih lupa untuk mendengarkan nasihat. Novi: Dipenuhi kebutuhannya, Bu. Kalau perlu ngobrol dengan temannya dipersilahkan tapi di luar kelas Umy Adhwa (Fitriani): Menurut Pandangan saya, banyak faktor yang menyebabkan hal demikian. Baik pengaruh personal siswa karena kebiasaan pola asuh dan pola didik yang salah, atau karena kurangnya strategi dan metode yang dilakukan oleh Guru. Terkadang kita harus mampu melihat duduk persoalannya. Karena tidak selamanya letak kesalahan terletak pada anak. Terkadang pengamatan saya siswa demikian karena figur guru dan cara pengajarannya kurang berkenan di hati siswa. Siswa merasa tidak nyaman dengan guru tersebut, sehingga apa yang diberi kepada Siswa tidak bisa diterima dengan Baik. Mohon koreksi jika ada yang salah pada perkataan saya. Kharisma Fassra: Sebenarnya jika kami sebagai guru BK, kita lebih mengajak atau mengeksplor apa yang terjadi pada dirinya.sehingga mereka menyadari apa yang dilakukannya itu tidak benar. Dan mereka juga kami ajak untuk mendapatkan solusi dari konsekuensi yang telah mereka lakukan. Memang tidak mudah dan butuh waktu konseling beberapa kali untuk mencapainya. A.Ninik Angraeni M: Perkenalkan saya A.Ninik Angraeni guru Bid. Studi Bhs. Inggris di SMPN 1 Arungkeke, KAB. Jeneponto, Sulawesi SelatanBaru-baru ini,  di sekolah saya ada siswa pindahan dari sekolah Madrasah. Kebetulan dimasukkan ke kelas saya. Jadilah yang bersangkutan anak wali saya,..nah ternyata setelah 2 minggu di sekolah, udah beberapa pelanggaran yang dia lakukan, seperti tidak ikut sholat dhuhur berjamaah, yang ini alasannya karena gak tahu, jadi saya jelaskan ke dia tentang jadwal sholat kelasnya. Terus yang kedua, selama pindah, ternyata dia tidak pernah masuk pada mapel Matematika. Saya tanya kenapa alasannya. Gak jelas, Bu. Terus sudah berjanji mau ikut, tapi terakhir kemarin jadwal MTK ternyata gak ke sekolah lagi, katanya telat bangun. Terus yang terakhir dia kedapatan sedang merokok di area kebun sekolah pada saat jam istirahat, siswa tersebut dibuatkan surat perjanjian oleh Bagian kesiswaan sebagai peringatan terakhir. Nah, Bu, kira-kira saya selaku wali kelasnya, bagusnya bagaimana yah dengan siswa tersebut? Nia Kurniati : Bapak/Ibu, bagaimana perasaan Bapak dan Ibu menghadapi siswanya yang sepertinya kok ya ga mendengarkan nasihat kita sebagai gurunya ? Novi Cakra: Sedih tapi harus evadir (evaluasi diri) Umy Adhwa (Fitriani): Saya merasa tertantang Bu. Selain sebagai Guru Agama, saya juga harus berperan sebagai Guru BK. Saya senang melakukan terhadap siswa yang demikian. Ternyata banyak penyebabnya. Namun setelah berbagai pendekatan kita bisa menentukan langkah untuk mendapatkan solusi terbaik. Entah dengan kolaborasi ataupun Referal jika perlu tenaga khusus A.Ninik Angraeni M: Iya bu, saya bahkan jadi jaminannya kalau dia berbuat kesalahan lagi…. Sejauh ini saya hanya melakukan pendekatan personal ke dia, kalau dia tidak ke sekolah, saya chat dan tanyain alasannya, selain itu saya harus gimana lagi yah, Bapak/Ibu? Nia Kurniati:  Sedih pasti ya Bapak dan Ibu. Tapi sebagai guru, itu jadi tantangan yang luar biasa….Dan seperti Bu Novi sampaikan, sebagai guru, perlu juga kita melakukan evadir   Nah, Bapak dan Ibu, untuk membahas lebih jauh tentang hal ini, kita akan ditemani 2 narasumber untuk menggali lebih dalam tentang topik malam ini. Untuk itu, saya perkenalkan narasumber-narasumber hebat kita Pak Huda dan Bu Rani. Pak Huda dari Sekolah MI Al Huda Malang, Bapak dan Ibu. Dan Ibu Rani dari Sekolah Menengah Cikal Jakarta Timur. Huda : Assalamu’alaikum bapak/ibu guru Indonesia.. selamat datang d acara diskusi temu pendidik mingguan. Rani Indirani : Assalamu’alaikum Bapak dan Ibu semuaaa.. Haiii.. Saya Rani, dari Sekolah Menengah Cikal Amri Setu, Jakarta Timur. Huda: Terimakasih ibu moderator atas kesempatan yang diberikan, sungguh kesempatan yang luar biasa bagi kami di malam hari ini untuk berbagi dan belajar bersama-sama dalam temu pendidik mingguan seri ke 113. Pada kesempatan ini saya ingin mengambil tema “MotivAksi-Menyelaraskan antara semangat dan Aksi” Suatu hari saat menjelang Ujian akhir nasional, kami mengumpulkan siswa kelas 6 untuk mengikuti kegiatan motivasi di aula, kami mendatangkan motivator yang berpengalaman, banyak materi yang disampaikan oleh motivator, saat sesi renungan para siswa pada nangis karena tersentuh dengan kata-kata sang motivator, mereka menangis sambil memeluk orangtua dan bersalaman meminta maaf bapak/ibu guru. Hari itu suasana haru di aula begitu berkesan, tapi selang beberapa hari kemudian bisa ditebak bagaimana ceritanya, mereka kembali … Read more

Guru yang Merdeka Belajar, Guru Adaptif

“Bagaimanakah pendidik yang adaptif itu?”Pertanyaan yang diajukan guru Niam membuat peserta Nonton bareng video Guru Merdeka Belajar dari Najelaa Shihab di TPN 2016 terhenyak. Kemarin tepatnya pada hari Sabtu, tanggal 21 September 2019 telah dilaksanakan nonton bareng video guru Merdeka Belajar yang dipandu oleh saya sendiri, Mahendrayana. Kegiatan ini dilakukan di kediaman saya yang berlokasi di Jl. Pembangunan 2, Pekalongan. Penonton tampak serius menyaksikan menit demi menit video rekaman ibu Najelaa Shihab tersebut. Beberapa penonton nobar terlihat penasaran, ketika sesi diskusi, berbagai ide dan pandangan mulai dituangkan satu per satu oleh para peserta Nobar yang terdiri dari Guru Niam, Guru Madya, Guru Eki, Guru Li’lli, Guru Danny dan Guru Uzly. Ada beberapa pertanyaan yang langsung terbersit begitu mendengar definisi ini, terutama bagi kita yang jarang mempertanyakan tujuan, dan sekadar ikut saja dalam perjalanan. Komitmen seseorang yang Merdeka Belajar adalah ketekunannya dalam perjalanan menuju tujuan yang bermakna bagi diri sendiri. Banyak murid maupun guru yang masuk kelas tanpa tujuan dan kejelasan. Tak heran saat ditanya bagaimana kelas hari ini, atau apa yang dipelajari hari ini, jawaban langganan adalah biasa saja atau malah tidak tahu. Padahal, negara menganggarkan tak sedikit untuk pendidikan dari APBN, bahkan telah diatur di pasal 31 UUD 1945 bahwa sedikitnya 20% anggaran digunakan untuk sektor Pendidikan. Tujuan pendidikan yang mencerdaskan bangsa lewat jalan demokratis tak boleh menyia-nyiakan anggaran tersebut.  Sangat diperlukan proses belajar yang bermakna mensyaratkan kemerdekaan guru dan murid dalam menentukan tujuan dan cara belajar agar menciptakan proses pembelajaran yang sangat efektif. Murid merdeka menetapkan tujuan belajar bersama, memilih cara belajar yang efektif, dan terbuka melakukan refleksi bersama guru.  “Sebagian besar anak Indonesia mimpinya hanya sebatas tingginya tangan saat menjawab pertanyaan guru di kelas” begitu yang disampaikan Ibu Najelaa. Hal ini dibenarkan oleh pendapat Guru Niam yang menceritakan pengalamannya ketika menjadi kepala sekolah. “Sekarang, zaman sudah berubah, guru di sekolah saya harus menjadi guru merdeka belajar…” tuturnya.  Padahal seharusnya lewat pendidikan, anak-anak mampu memiliki aspirasi yang tinggi. Menurut video tersebut, kondisi ini hanya terjadi saat anak-anak memiliki kemerdekaan belajar. “Jadi, tak hanya gurunya saja yang merdeka, namun juga muridnya” begitu pendapat dari guru Eki.  Proses kemerdekaan belajar baik itu dari sisi murid maupun guru, adalah bukan sesuatu yang diberikan melainkan sesuatu yang diusahakan. Ada hal yang sangat esensial dalam kemerdekaan belajar yaitu Komitmen, Mandiri, dan Refleksi.  Komitmen artinya adalah tetap berpegang teguh pada tujuan. Tentu hal ini tak mudah. Pendidik sering terjebak pada tugas-tugas administratif, ketentuan birokratis, akreditasi, ujian, nilai, yang semua itu adalah cara atau teknis pelaksanaan, bukan tujuan. Cara dilakukan untuk mencapai tujuan dari pendidikan, akan tetapi prioritas seolah mengunggulkan cara lebih tinggi daripada tujuan. Kemandirian memiliki banyak tingkatan yang harus dilewati yaitu manipulasi, kesadaran, dialog, kemitraan, masukan, kendali, pemberdayaan. Sebagian dari pendidik tak mampu melewati tingkatan kemandirian karena terhalang bahkan sejak awal langkahnya. Masih banyak manipulasi dan kemandegan dialog serta kemitraan di lingkungan pendidikan.  Refleksi sering susah dilakukan sebab kita takut akan perubahan. Yang ada kita beralasan murid belum paham, orang tua menentang, dan lain sebagainya.  Diskusi makin serius ketika membahas permasalahan ruwetnya kemerdekaan belajar di sistem pendidikan di Indonesia. Ibu Najelaa memaparkan mengenai kompetensi yang beragam dan sering tak sesuai dengan siswa. Hal ini memicu guru Uzly untuk beropini tentang kasus yang pernah ditemui. Bagaimana ada seorang guru mengampu beberapa mata pelajaran yang sangat berbeda dikarenakan kurangnya tenaga pendidik.  Reformasi pendidikan butuh waktu, bahkan dalam video disebutkan “Lebih susah dibanding menerbangkan Apollo”. Hal ini menyangkut pemangku kepentingan, sumberdaya, dan keberhasilan itu sulit dilihat.  Hal yang sekarang perlu dilakukan oleh pendidik adalah melawan miskonsepsi tentang proses guru belajar. Banyak yang bilang guru itu mau belajar jika ada insentif dan sertifikat. Padahal seharusnya belajar adalah proses alamiah, yang akan terjadi terus menerus. Miskonsepsi selanjutnya adalah guru hanya mampu belajar dari ahli atau pakar. Guru yang Merdeka Belajar mampu belajar dengan sesama guru. Dan cara inilah yang paling efektif. “Guru tak perlu figur sempurna, guru itu perlu figur realitis, guru lain yang belajar dan mempraktekkan apa yang dia pelajari” papar Najelaa Shihab. Guru cukup belajar how to nya? Resepnya? Oh ternyata, guru belajar adalah guru yang paham konsep, belajar dengan tujuan dalam konteks. Guru yang profesional adalah guru yang adaptif, sebab kebutuhan setiap murid akan berbeda setiap harinya.  Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Ingin mengubah dunia pendidikan ke arah yang jauh lebih maju adalah impian saya sejak masih di bangku sekolah. Saya tergolong sangat awam di dunia pendidikan, profesi saya yang jauh dari inner circle pendidikan, bahkan beberapa rekan saya menyayangkan saya ketika mendaftar untuk menjadi anggota Komunitas Guru Belajar. Namun ketika mendengar ibu Najelaa bilang “Guru yang merdeka belajar adalah kunci pendidikan” rasanya ini sangat memacu untuk lebih banyak mencari tahu soal ini. Pada saat bicara guru merdeka belajar adalah kunci, maka ini bukan menyangkut individu melainkan ekosistem. Sebab tidak ada guru yang bisa belajar sendirian, perlu adanya jaring-jaring saling mengisi kompetensi antar guru.  “Bahwa kita dan apa yang kita lakukan adalah yang kita nanti-nantikan, jadi kita tak perlu menunggu siapapun untuk merdeka belajar” tutup Ibu Najelaa Shihab yang disambut tepuk tangan peserta nobar. “Sepakat untuk bersama-sama mewujudkan guru merdeka belajar” ucap Guru Niam sebagai refleksi atas video. “Siap melewati tingkatan menuju kemandirian” sambut guru Eki. Saya sebagai pemandu acara nobar ini senang sekali dengan antusiasme yang diperlihatkan teman-teman. Pada nobar Merdeka Belajar ini boleh jadi saya baru bisa mengajak 6 peserta, namun hal ini justru menguatkan semangat saya untuk mengajak lebih banyak lagi teman-teman agar konsep merdeka belajar ini semakin meluas efeknya. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar? Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 6Unduh GratisKlik:

Merdeka Belajar di Tengah Kepungan Asap

Siang itu (21/09/2019), setelah anak-anak kembali ke rumahnya masing-masing, Guru-gurunya menggantikan posisi mereka di tengah ruang kelas, mereka memenuhi ajakan saya untuk mengadakan temu pendidik daerah pertama, nonton bareng video Guru Merdeka Belajar.  Ini bukan Riau ataupun Kalimantan belakangan ini menjadi pusat perhatian kita semua karena kekelabuan keadaan yang menyandera mereka akibat aktivitas pembakaran hutan. Tempat ini adalah sebuah dusun kecil yang menjadi sebuah batas desa, Kampung Jawa namanya, sebuah daerah yang ditempuh Sembilan jam  dari Kota Terbesar ketiga di Indonesia yaitu Kota Medan. Bersentuhan dengan pendidik adalah rutinitas saya sehari-hari kini dan beberapa waktu ke depan. Namun di  tempat ini saya melihat ada kesenjangan antara semangat belajar dengan kesempatan yang hadir diantara mereka. Awal saya membersamai mereka, Salah seorang guru mengatakan  ini adalah penantian yang cukup panjang buat mereka. Selama ini kami ingin mengembangkan diri sebagai seorang guru, tetapi bingung mau ke mana dan ke siapa. Di mereka saya menemukan nyala kesadaran Merdeka Belajar telah hadir dan harus diperkuat, sehingga awal Temu Pendidik Daerah ini saya mengawalinya dari mereka.  Temu Pendidik Daerah pertama di Kabupaten Labuhanbatu menjadi langkah awal untuk mendekatkan kesempatan belajar ke guru-guru daerah, dimana seringkali perhatian untuk pengembangan guru hanya mendatangkan guru bukan mendatangi mereka. Seringnya juga pelatihan untuk pengembangan guru sering hanya untuk guru itu-itu saja, tidak ada ruang kesempatan ke guru-guru yang lain, sehingga sungguh perlu memang menghadirkan temu pendidik daerah ini mengakomodir keinginan-keinginan guru daerah yang turut ingin berkembang.  Temu Pendidik Daerah pertama yang kita laksanakan pada hari Sabtu, 21 September 2019 di MTs Uswatun Hasanah, Kampung Dalam Labuhanbatu. Sengaja Temu Pendidik Daerah ini dilaksanakan di sana karena wilayah tersebut adalah perkampungan yang cukup jauh dari Ibukota Kabupaten dan beberapa sekolah juga berdiri di sana.  Madrasah ini menjadi pemutus mata rantai persoalan anak-anak putus sekolah, didirikan dari sebuah kepedulian seorang Ibu yang melihat banyak anak-anak di sana yang tak melanjutkan sekolah karena ketiadaan sekolah dan jikalau ada sekolah tersebut sangat jauh dari pemukiman mereka.  Kegiatan Temu Pendidik Daerah ini dilaksanakan selama dua jam, tanpa aktivitas yang terlalu formal. Di buka dengan mengenalkan apa itu Kampus Guru Cikal, menyampaikan misi tentang kedepan kita harus optimis, pengembangan guru akan menjadi upaya terus-terusan, guru-guru bisa punya kesempatan belajar dan membahas persoalan-persoalan apa saja yang membuat guru sulit berkembang.  Peserta yang tengah hadir antusias melihat sambutan Bu Najelaa Shihab di dalam Video Guru Merdeka Belajar. Mereka mencatat poin-poin yang disampaikan Bu Elaa mengenai 3 Karakteristik Guru Merdeka Belajar diantaranya adalah Komitmen, Mandiri, Relflektif.  Dalam kesempatan itu lewat Miskonsepsi yang diutarakan oleh Bu Elaa kita melaksanakan refleksi mengenai keadaan hari ini. Di tengah kegiatan muncul pertanyaan, sudahkah kita semua menjadi Guru Merdeka Belajar? Berbagai jawaban baik muncul dari peserta dan saya yang berperan dalam memoderatori pertemuan tersebut sangat tersentuh dengan masing-masing jawaban peserta.  Salah seorang yang hadir adalah Pak Supriadi, Pak Supriadi merefleksikan diri sebagai merdeka belajar dengan mengutarakan betapa ia selama ini salah menilai bahwa belajar harus ke ahli, sehingga dalam benaknya begitu sulit untuk menemukan tempat belajar, begitu sulit baginya untuk menemukan sosok yang tepat untuk ditanyai, lewat pertemuan pendidik daerah ia membuka pemahamannya mengenai guru bisa belajar ke guru.  “Saya yakin Bapak/Ibu Guru yang hari ini akan merdeka belajar, akan menjadi tempat belajar saya kelak”, ujarnya. Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Salah seorang pendidik lain Ibu Kasni mengirimkan pesan optimis kedepan lewat Komunitas Guru Belajar dan kesempatan Temu Pendidik Daerah mendatang ia akan menemukan dirinya yang baru, dirinya akan terbekali hal-hal baik agar proses mengajar di kelas menjadi sesuatu hari baik untuk siswa/i nya.  “Kualitas saya kedepan semoga menjadi lebih baik untuk anak-anak murid saya, ini seperti menjawab penantian panjang yang mendera kami semua”, katanya.  Setelah refleksi, peserta diajak narasumber untuk menganalisis diri mereka sendiri sebagai seorang guru yang akan merdeka belajar, analisis ini dilaksanakan dengan SWOT, Menjawab segenap harapan yang muncul dalam kegiatan Temu Pendidik Daerah tersebut, mampukah kita semua menjawabnya? Besarkah kemungkinan untuk menghadirkan ruang-ruang belajar murah-mudah yang berkualitas untuk para pendidik-pendidik di daerah ini?  Ini menjadi satu pertanyaan yang mendasar dan tidak sekadar untuk bisa dijawab. Ke depan barangkali kesadaran untuk mendekatkan kesempatan belajar menjadi hal penting untuk kita himpun bersama, agar optimisme-optimisme guru-guru yang hadir pada temu pendidik daerah itu bisa kita sambut bersama.  Gagasan yang lahir adalah kita bisa berbagi dengan apa saja, tidak melulu dengan kompetensi yang kita miliki, tapi dengan hal-hal yang bisa kita fasilitasi. Saat ruang belajar guru sudah hadir barangkali kita bisa menitipkan semangat lewat berbagai titipan hal-hal yang akan mendukung dari ruang belajar tersebut.  Kita bisa memfasilitasi banyak hal, dari kebutuhan pembelajaran seperti ATK, kebutuhan Transportasi dan lain-lain. Kita juga bisa melakukan upaya berbeda lainnya. Mengutip kalimatnya Bu Elaa tidak cukup dengan hanya mengatakan jika guru adalah kunci pendidikan, karena kunci pendidikan justru ada pada Guru yang Merdeka Belajar. Mari kita dorong bersama. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar? Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 6Unduh GratisKlik: