Berbagi Praktik Mengajar Kreatif

Agar para guru bisa saling berbagi inspirasi praktik mengajar yang kreatif. Komunitas Guru belajar (KGB) Probolinggo mengadakan Temu Pendidik Daerah (TPD). Acara diselenggarakan di aula Korwil Dinas Pendidikan Kecamatan Krejengan. Ada tiga kelas di antaranya yang pertama: mencari teman duduk dengan menggunakan kartu bilangan atau kartu benda, kedua: miskonsepsi literasi dan literasi bermakna menumbuhkan empati, dan yang ketiga: Gambar Bercerita – Media Belajar SPOK. TPD kali ini dihadiri oleh kurang lebih 50 guru dari berbagai sekolah yang ada di Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo.  Mengajar Kreatif: Mencari Teman Duduk Silvia Eka Putri, guru kelas 1 di SDN Sumberkerang, Kecamatan Gending berbagi praktik baik mengajar kreatif tentang mencari teman duduk. Setiap ajaran baru, murid kelas 1 di dalam kelas selalu berebut tempat duduk, dan tak jarang pula orang tua mereka rela mengantarkan pagi-pagi sekali hanya untuk mendapatkan kursi baris depan. Para orang tua beranggapan bahwa anak yang duduk di kursi depan cenderung lebih cerdas dan memiliki kompetensi lebih unggul dibandingkan anak yang duduk di belakang. Kejadian ini membuat kelas bu Silvi tidak kondusif. Setelah mendiskusikannya dengan wali kelas yang lain, akhirnya beliau menemukan cara untuk meminimalisir agar kejadian tersebut tidak terulang lagi. Cara ini juga sebagai media pembelajaran untuk anak-anak kelas1 lebih mengerti bilangan dan nama benda sekitar. Caranya setelah bel masuk sekolah berbunyi, anak-anak harus mengambil kartu di depan kelas. Kartu tersebut bisa berupa bilangan atau gambar benda seperti buah, hewan, dan lainnya. Kartu tersebut disesuaikan dengan kebutuhan murid. Jika kebanyakan murid kurang mengerti tentang bilangan, maka bisa menggunakan angka. Sebelum itu, setiap bangku di dalam kelas sudah ada satu kartu yang sama dengan kartu yang ada di depan kelas. Jadi, secara keseluruhan ada 3 kartu yang sama yakni 1 kartu dibangku dan 2 kartu lagi di depan kelas untuk anak-anak menemukan tempat duduk dan teman duduknya secara adil dan tanpa saling iri. Sehingga tercipta kelas yang kondusif. Orang tua pun bisa memahami dan tidak mempermasalahkan tempat duduk anak-anaknya. Media mencari tempat duduk ini juga bisa digunakan para guru untuk membagi kelompok-kelompok dalam kelas.  Literasi Bermakna Menumbuhkan Empati Kelas kedua yang berbagi praktik baik mengajar kreatif adalah bu Yulia yang mengajar di SDN Krejengan. Awalnya beliau menceritakan pengalamannya menjadi guru kelas tinggi, yang menurutnya seorang guru harus bisa memberikan apa yang dibutuhkan oleh murid. Baginya untuk menjadi guru merdeka belajar harus bisa mengaplikasikan 5M. Memahami murid merupakan praktik salah satu 5M yakni memanusiakan hubungan. Ketika di dalam kelas, kita sebagai seorang guru harus bisa memahami apa kebutuhan murid. Hal ini bisa dilakukan dengan membuat kesepakatan kelas. Meskipun untuk bisa menjalani kesepakatan kelas ini butuh ketelatenan dari guru itu sendiri. Dengan begitu rasa empati akan tumbuh, dan suasana pembelajaran akan semakin  menarik. Selain kesepakatan kelas, bisa juga melalui 5 posisi kontrol menjadi seorang guru merdeka belajar. 5M yang berikutnya adalah memahami konsep, membangun keberlanjutan, memilih tantangan dan memberdayakan konteks. Ada juga strategi literasi untuk empati di antaranya berlatih perspektif, identitas moral, kesempatan untuk berempati serta memperluas lingkaran kepedulian. Gambar Bercerita: Media Belajar SPOK Kelas ketiga yang berbagi praktik baik mengajar kreatif adalah bu Iva yang mengajar di SDN Rawan, Kecamatan Krejengan. Awalnya bu Iva menceritakan keresahannya saat mengajar tentang unsur-unsur kalimat. Bahwa tidak semua murid paham akan unsur-unsur yang ada pada kalimat. Padahal di awal pembelajaran bu Iva sudah menjelaskan definisi dari kalimat dan unsur-unsur yang terdapat di dalamnya yakni subjek, predikat, objek dan keterangan. Akan tetapi mereka masih saja kesulitan dalam menulis sebuah kalimat yang benar. Oleh karenanya, beliau berinisiatif membuat media SPOK guna memudahkan murid dalam memahami materi yang diterima. Bu Iva menggunakan media gambar pada masing-masing unsur kalimat. Misal untuk subjek menggunakan gambar kucing, untuk predikat menggunakan kartu bertuliskan memakan, objek dengan gambar ikan, dan untuk keterangan menggunakan gambar dapur. Sehingga jika digabungkan akan terbentuk kalimat “Kucing memakan ikan di dapur”. Dan ternyata dengan penggunaan media SPOK, murid menjadi lebih mudah memahami materi, lebih aktif dan berani menjawab pertanyaan. Selain  itu, suasana belajar jadi lebih menyenangkan. Sebagai penutup, bu Iva juga menyampaikan bahwa media yang digunakan memang dibuat sederhana jadi dipersilakan jika ada yang memodifikasinya atau ingin mempraktekkan media yang sama di sekolah masing-masing. Di sesi akhir dibuka sesi tanya jawab dan sharing antar sesama guru. Anda ingin mempelajari praktik mengajar yang Merdeka Belajar? Yuk ikuti pelatihan daring (online)Klik link di bawah ini

Orangtua Hilang Percaya, Guru Tak Berani Bicara

Tanggapan saat tahu anak berdarah karena murid lain di Sekolah, pasti berbeda antara satu wali murid dengan yang lain. Guru Heni Surya memaparkan cerita berkait hal tersebut pada Temu Pendidik Mingguan Edisi 115. Kemudian beliau melanjutkan dengan bagaimana hubungan antara guru dan dan orangtua dibangun di sekolahnya. Yuk simak liputan berikut. Membangun Relasi dengan Orangtua Halo perkenalkan kembali, saya Dhea yang akan memoderatori diskusi ke depan. Salam kenal semuanya berhubung saya di lokasi waktu Indo bagian barat, selamat menunaikan ibadah salat magrib bagi yang menjalankan. Saya perkenalkan dulu Narasumber kita bu Heni Surya. Beliau bergerak di Divisi Pendidikan di Yayasan Indria Jaya, Penggerak KGB Solo Raya, Relawan Keluarga Kita, Ketua Pokja IV PKK Kec Pasarkliwon dan juga Pengelola TaBAH(Taman Belajar Anak Hebat) di Rusunawa Putri Cempo. Dengan pengalamannya yang cukup panjang ini, beliau menemui berbagai macam karakter wali murid dengan berbagai background. Langsung saja kita panggil, Bu Heni. Narasumber : Halo selamat malam bapak ibu yang baik. Terima kasih sudah sangat semangat menyambut diskusi dengan tema “Membangun Relasi dengan OrangTua” malam hari ini. Saya ingat dengan tulisan saya di SKGB edisi 15 mengenai hal ini. Saya bagikan sebagai materi ya [ Inti Diskusi ] Moderator :   Terima kasih bu Heni atas materinya.Untuk teman-teman, silahkan dipelajari dahulu. Kami beri waktu 5-8 menit setelah itu sesi diskusi termin 1 akan dibuka. Berikut pertanyaan terpilih di termin pertama :  Purwani Febri dari Bekasi :  Bagaimana baiknya menyampaikan kepada orang tua murid bahwa sekolah dan rumah harus sinergis karena banyak sekali orang tua sekarang taunya sekolah itu yang membentuk akhlak siswa. Orang tua terima beres jadi pendisiplinan di sekolah dan dirumah tidak sejalan. Alhasil anak selalu mengandalkan orang tua. Bagaimana menyampaikan misi ini kepada orang tua? Narasumber :  Yang kami lakukan ada beberapa tahapan.  1. Ketika orang tua mendaftarkan anaknya di sekolah kami, kami minta untuk mengisi angket tentang kebutuhan anak dan juga kebutuhan orang tua dalam belajar. Ini kami gunakan supaya kami paham, apa yang diinginkan orang tua dan apa yang dibutuhkan anak. 2. Kami undang para orang tua baru sebelum hari pertama masuk sekolah. Ini bisa di hari Sabtu jika hari senin adalah pertama masuk sekolah. Di pertemuan ini kami sampaikan visi, misi dan tujuan sekolah menerima anak mereka. 3. Kami bentuk Komite Tambahan, Kami juga membuat grup WA per kelas yang anggotanya para orang tua ini. Sebagai pengaman Buku Penghubung. Kami sangat memahami apa maksud mereka menyekolahkan anaknya dan ini hal wajar. Purwani Febri dari Bekasi :   Untuk komite sebaiknya arahan yang bagaimana ya bu agar terlibat dan bisa satu visi juga? karena terkadang komite suka bikin acara sendiri dan di sekolah kami juga sudah ada buku penghubung bu, tapi memang pengecekannya masih kurang maksimal. Terimakasih sarannya bu jadi diingatkan kembali. Narasumber :  Saya lebih merekomendasikan grup WA bu. Oh iya. Jangan lupa save nomor para wali murid ini, kalau perlu sesekali komentar story WA nya. Ini akan lebih mendekatkan hubungan guru dan orang-tua murid. Moderator :  Baik. Sepertinya sudah bisa dilanjut ke pertanyaan kedua ya bu Heni.  Erwan Hermawan KGB Sukabumi : Di beberapa wilayah, Orang tua wali murid sebagai buruh pabrik bahkan ada buruh migran. Komitmen bersama dalam pendidikan anak diwakilkan kepada penanggung-jawab anak yang bukan ayah ibunya. Bagaimana membangun komitmen dengan wali murid (paman bibi kakek nenek) yang perhatiannya tidak sebesar ayah ibunya? Narasumber :  Halo bapak Erwan Hermawan. Sekolah kami ada di area dampak sosial, profesi para orang tua juga mayoritas buruh pabrik garmen dan plastik. Banyak anak yang dihandle oleh nenek atau tantenya. Kita sadar betul bahwa orang tua ini butuh mencari nafkah untuk keluarga. Juga menyadari bahwa para orang tua wali pun punya prioritas utama yakni keluarganya masing-masing.  Jika memang mereka yang mengasuh anak didik kita. Maka sebaiknya mereka semua diminta waktunya untuk diskusi di awal tahun ajaran baru. Jika berhalangan karena berbarengan dengan jam kerja. Kiat bs diskusikan malam hari. Ketika sudah lengang. Kita wapri, atau bahkan khusus bikin grup WA untuk guru, orang tua dan orang tua wali. Sebab kita butuh kerjasama mereka dalam hal mendidik anak mereka. Kembali lagi kekuatan ada di penyampaian kita di awal tahun ajaran baru. Yakni ketika pertemuan orang tua murid. Membangun kesepakatan dengan orang tua murid terlebih dahulu bisa kita jadikan acuan dalam mengasuh.  Di sekolah kami, yang bertugas dalam hal ini adalah saya. Bukan guru kelas anak mereka dan bukan kepala sekolah. Menurut kami memang harus ada orang ketiga yang lebih paham dan banyak waktu mengurusi ini. Orang tua murid punya banyak harapan kepada sekolah. Tugas sekolah adalah memfasilitasi dengan kesepakatan yang memanusiakan hubungan Purwani Febri : Yup betul sekali bu Heni, memang harusnya ada pihak ketiga agar wali kelas tidak terlalu terbebani, bahkan kadang sampai malam pun masih menanyakan anak. maaf malah curcol 🙏😄 Fitriyani Mustafa : Wah…menarik sekali. Bentuk angketnya seperti apa ya bu? Narasumber :  Kita bisa bikin angket yang ringan ya, tidak perlu banyak narasi. Karena kita tahu orang tua suka malas baca. Seperti jam berapa dia tidur dan makan, apa mainan favoritnya, apa tujuan orang tua menyekolahkan. Lia Camelia :  Pihak ketiga ini maksudnya siapa yah bu ? 😊 Narasumber :  Bukan guru kelas dan bukan kepala sekolah bu. Posisi saya adalah penasehat komite di struktur yayasan saya pegang divisi pendidikan Purwani Febri : Bisa diusulkan ke pengurus supaya divisi pendidikannya bisa lebih terlibat… 👍👍 Maaf bu Heni untuk yang penasehat komite ini apakah ibu mengurus semua kelas atau bagaimana ya bu? Narasumber :  Betul .Semua orang tua murid. Karena memang sudah ditugaskan. Oh iya, tips supaya para orang tua murid ini mau menjalankan perannya sebagai komite sekolah adalah Kepala Sekolah wajib membuatkan SK, struktur dan job desk untuk mereka. Adalah kebanggan jika foto mereka terpampang di ruang komite. Siti Umi Choiriyah : Kadang ada wali murid yang dari strata ekonomi rendah tidak mampu menyentuh anaknya apalagi bersinergi dengan sekolah dikarenakan sibuk mencari nafkah, jadi undangan dari sekolah dalam rapat apapun tidak bisa hadir. Maka sedikit berbagi pengalaman kadang kami pihak sekolah melakukan pendekatan sampai di tempat kerja wali murid tersebut. Misal ke pasar tempat wali murid berjualan. Duduk santai … Read more

Program Literasi Sudah Terlaksana, Anak Mahir Baca, Namun Tak Paham Artinya

Sudah mengadakan banyak program Literasi di kelas. Niatnya sih meningkatkan kemampuan literasi anak. Mulai dari membuat pojok baca, kegiatan membaca 15 menit di kelas, membaca bersama di pagi hari, berkunjung ke perpustakaan. Waktu dites sih bisa baca eh kok waktu dikasih soal pertanyaan bacaan salah semua hasilnya. Sebelum kita masuk ke materi , saya akan memperkenalkan narasumber kita pada malam hari ini. Guru Indah Nova Ida Manurung dari penabur Internasional Jakarta, KGB Jakarta Barat. Tulisannya telah terbit di media lokal dan nasional  dan Guru Ari Wibowo, Sekolah Cikal Cilandak, KGB Jakarta Selatan. Menggeluti bidang videografi dan menjadi youtuber channel pendidikan. Untuk materi yang pertama kita persilahkan pak ari untuk menyampaikannya dan dilanjutkan oleh bu Indah. Program Literasi Digital yang Memanusiakan Hubungan Ari Wibowo Malam kita akan mengelaborasi literasi. Saya akan berbagi area literasi digital. Materi yang saya sampaikan saya ambil dari buku memanusiakan hubungan dan saya sesuaikan dengan perkembangan kurikulum abad 21.  Terkait dengan literasi digital yang akan saya bagi malam ini saya akan mulai dari pengalaman belajar saya di awal karir menjadi guru di Sekolah Cikal. Apa reaksi anda jika anda bukan seorang yang berlatar belakang pendidikan dengan gelar ahli teknologi / ICT dan anda diminta untuk mengajar atau membawakan materi ajar dengan menempatkan penggunaan teknologi di ruang kelas anda? Atau sebaliknya. Tantangan inilah yang 9 tahun terakhir sampai sekarang terus saya alami di sekolah. Sejak awal, Sekolah sangat terbuka untuk memasukan teknologi dalam basis kurikulumnya. Terasa sekali waktu itu ketika tahun 2010 administrasi sekolah dan pelaporan hasil belajar siswa/i setelah kita buat dengan program Ms, Excel kita laporkan ke kepala sekolah untuk mendapat persetujuan lalu kita cetak (itu jika laporannya 100% benar maka bisa langsung cetak). Saya dan guru-guru lainnya kemudian terbantu dengan sistem akademik sekolah berbasis online yang tentunya membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk menguasai program tersebut. Yang mau saya sampaikan adalah ketika label Digital immigrant melekat di diri kita , itu membuat saya termotivasi untuk belajar, Iya, belajar mengenai teknologi yang khususnya akan bersentuhan di lingkungan sekolah dan tentunya murid-murid. Namun, pertanyaanya apakah proses pendidikan terjadi begitu saja di depan layar komputer atau ipad? Apakah murid-murid akan mendapatkan pengalaman yang sama seperti di ruang kelas ketika mereka sedang mengakses Gawai mereka? Lalu bagaimana dengan orang tua yang notabene memberikan pengaruh besar kepada murid ketika mengakses teknologi dirumah? Hubungan-hubungan inilah yang juga menjadi tantangan besar saya sebagai pengajar di abad 21 ini. Tak pernah terbayangkan dalam hidup saya bahwa profesi sebagai seorang guru yang saya jalani sekarang begitu menyenangkan dan menantang. Institusi pendidikan tempat dimana saya bernaung jika saya boleh memberikan dua jempol, kenapa? Karena selama 9 tahun saya mengajar di Sekolah ini saya sangat merasakan perubahan perubahan signifikan terhadap diri saya sebagai seorang pendidik. Oh iya, di kalimat kedua saya katakan profesi saya sebagai guru sangat menyenangkan sekaligus menantang. Kenapa demikian? Saya sadar bahwa saya hidup di abad 21 dan berhadapan dengan situasi pendidikan yang juga berevolusi dan beradaptasi dengan teknologi pendidikan yang pastinya saya dan murid-murid saya temui setiap hari. Saya sadar bahwa saya ini dikategorikan sebagai Digital immigrant sebutan untuk orang-orang yang lahir dibawah tahun 2000-an yang masa hidupnya berlangsung sebelum berkembangnya teknologi komputer seperti sekarang dan murid-murid yang saya ajar konon disebut Digital natives atau mereka sejak lahir sudah akrab dengan teknologi canggih seperti komputer, Ipad, animasi dan sebagainya. Lalu bagaimana saya menempatkan diri sebagai pengajar zaman now yang harus dan mau tidak mau meningkatkan kemampuan tidak hanya dalam menerapkan strategi belajar mengajar namun bagaimana menerapkan dan menggunakan teknologi pendidikan di kelas serta mengkomunikasikannya kepada orang tua. Harapanya setelah TPM malam ini bapak ibu bisa menerapkan kembali di lingkungan masing-masing bagaimana menjadi CERDAS DIGITAL  Beberapa “Salah Kaprah” seputar anak dan Dunia Digital Anak tidak perlu belajar keteramoilan di dunia digital, nanti akan mahir sendirinya Etika di dunia maya beda dengan dunia nyata Semua yang dipublikasikan didunia maya akan hilang dengan sendirinya Transisi antara angkatan analog dengan digital Reaksi wajah terhadap hal baru: CEMAS atau ACUH Jadi jika dianalogikan internet itu seperti pasar. Apakah bapak ibu pernah menyuruh anaknya ke pasar sendiri? Iya sendiri. Bayangkan juga jika pasar itu jauh, bayangkan juga di pasar itu ada apa saja?hmmm iyak tentu ada pedagang, pembeli,orang lain yang tidak kita kenal, penjahat, polisi dan lain lain. Bagaimana peran, guru, dan orang tua dipasar itu? Apa yang dapat anak capai di pasar itu? Bagaimana membuat dan mengatur program literasi digital di rumah dan di sekolah? WAKTU DI DEPAN LAYAR DIGITAL Pastikan waktu berimbang antara waktu di depan layar dan tidak di depan layar, serta jenis kegiatan yang dilakukan saat di depan layar. Sebagai contoh, bermain game selama 30 menit tentu berbeda dengan Skype bersama eyang selama 30 menit, walaupun sama-sama di depan layar. Selain itu membuat suasana belajar di kelas menyenangkan itu bukan datang dari teknologinya saja loh, tapi itu hasil kerja keras kita para guru dalam mempersiapkan materi ajar berminggu-minggu sebelumnya, butuh diskusi panjang untuk merencanakan kegiatan  serta memikirkan media belajar yang sesuai. Dalam memilih dan mencari video pembelajaran misalnya, saya paling sering menggunakan portal youtube untuk mencari video-video pembelajaran dan butuh waktu untuk melihat serta mensortir isi video tersebut apakah layak untuk dimasukan ke rencana pengajaran atau tidak. Murid akan sangat senang memang jika materi ajar disampaikan dan ditambah dengan adanya video tadi karena saya yakin tidak semua murid betah untuk didongengi gurunya tentang Bencana alam, Komunikasi visual, Ekonomi dan lain lain tanpa adanya bantuan teknologi visual. Dalam literasi digital ada istilah 4K dalam proses belajar efektifnya (CERDASDIGITAL.COM) yaitu: KRITIS : Berpikir sebelum berbicara/posting/kirim pesan/gambar Benar : Memeriksa apa yang dibaca, didengar, dan dilihat, di Internet (Nami, 8 tahun) Memberikan dan menyebarkan informasi dengan sadar, siapa yang meminta dan kenapa diperlukan (Liam, 13 tahun) Salah: Sekadar melarang dan berkata tidak, tanpa menjelaskan alasan atau membantu meluruskan tindakan yang tidak tepat (Fia, ibu 2 anak usia 11 tahun dan 9 tahun)  KEAMANAN: Bertanggung jawab dengan menghormati privasi, reputasi, dan etika Benar : Tidak memalsukan usia saat bermain media sosialSalah: Mengirim video/foto untuk mengejek dan mempermalukan orang lain di grup chat/pesan singkat (Amel, 13 tahun)  KOLABORASI: Bertanggung … Read more

Guru Merdeka Belajar di Pesisir Selatan

Pelatihan guru merdeka belajar yang ke-2 diselenggarakan bersama Komunitas Guru Belajar Pesisir Selatan. Pagi yang cerah dengan awan yang agak gelap dimana dengan semangat yang tinggi. Semangat untuk membangun peradaban bangsa indonesia menuju indonesia emas. Kami berjalan di waktu terbit matahari menuju tempat kami menambah ilmu. Oleh karena itu dengan ilmu yang sangat terbatas yang dimiliki disebabkan fasilitas yang serba kekurangan. Tepat pukul 08.30 guru yang datang hanya beberapa orang. Saya sangat pesimis akan sepi. Dikarenakan guru tidak difasilitasi dengan sertifikat dan biaya transportasi hanya dengan keinginan dari diri guru itu sendiri. Dan alhamdulilah rentang 1 jam ternyata banyak guru yang datang. Akhirnya mencapai 100 orang. Dengan semangat pengawas Kecamatan IV Jurai yang ingin menggerakkan guru untuk hadir dalam rangka menyukseskan pendidikan di Pesisir Selatan. Pukul 09.30 moderator Salmiati dengan membuka kegiatan pelatihan guru merdeka belajar (GMB) dengan mengucapkan Basmallah. Acara dilanjutkan sepatah kata dari ibu Rahmyanti selaku ketua Komunitas Guru Belajar. Kemudian pelatihan Guru Merdeka Belajar dibuka oleh bapak Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pesisir Selatan, Suhendri, S.Pd, M.Si. Tiga Dimensi Merdeka Belajar Usai pembukaan dilanjutkan guru berdiskusi terkait materi. Pelatihan difasilitatori oleh bapak Muhammad Abdurrahman Basyaiban yang akrab disapa pak Maman. Ada beberapa poin penting terkait ciri guru merdeka belajar, yaitu Guru yang komitmen akan tujuan terhadap kemajuan pendidikan tidak hanya mengajar tetapi mendidik dan menanamkan pendidikan karakter terhadap anak. Poin kedua mandiri, adalah guru yang mampu mengubah dirinya menjadi pribadi yang lebih baik, dan berani menghadapi tantangan. Guru yang reflektif, guru yang mengevaluasi dirinya sendiri, terhadap dunia pendidikan yang lebih baik. Kemerdekaan berarti guru mempunyai komitmen pada satu tujuan, dan konsisten pada dunia pendidikan. Guru yang merdeka adalah guru masa depan dengan mengembangkan kompetensi yang dimiliki serta aktif berkolaborasi antara guru dengan pendidik yang lain dan mengembangkan jalur karir yang sesuai dengan potensi dan aspirasinya. Paham akan penting suatu pendidikan yang terbaik, dan bisa menghadapi tantangan di masa yang akan datang. Guru merdeka tidak mengenal kata sulit dalam menghadapi cobaan di dunia pendidikan terutama terhadap perubahan kurikulum yang saat ini sering merubah pola pikir guru terhadap ketercapaian keberhasilan pendidikan. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Kemerdekaan Belajar Sebagai Kunci Kemerdekaan belajar adalah kunci utama untuk guru bisa meningkatkan kompetensi dan menyelesaikan permasalahan pembelajaran di kelas. Oleh sebab itu guru tidak hanya menerima perintah dari kepala sekolah mengikuti pelatihan yang diadakan oleh dinas pendidikan. Tetapi seharusnya guru lebih memperluas pengetahuan dan mencari sumber informasi. Menambah pengetahuan di dalam dunia pendidikan dan menjadi sumber inspirasi yang baru. Bekal yang akan digunakan dalam menyampaikan ilmu secara baik dan konsisten dalam mencapai kesuksesan. Nyatanya terjadi dilapangan yang dilihat ternyata guru mengikuti pelatihan dan tanpa diiming-imingi uang maupun sertifikat. Guru mengikuti pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan kompetensinya. Aktivitas belajar yang perlu diberi perhatian lebih agar dapat mewujudkan tujuan dengan sistem pendidikan yang lebih terarah yaitu : Guru cenderung ingin belajar karena adanya dorongan lain (godaan sertifikat, insentif, dan sebagainya). Sebut saja ini profesi guru bukan passion guru. Tidak mengakui kelebihan orang lain, terlebih jika bukan seorang ahli atau tokoh terkenal. Guru dengan “How to” hanya terbatas kepada cara atau teknis. Guru perlu lebih ekstrim dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan esensial dan fundamental. Terpaku pada administrasi, seperti Ujian Nasional yang dijadikan alat ukur kecerdasan seseorang hanya dengan tiga hari pelaksanaan.  Guru yang masih bersifat individualis. Guru merdeka belajar harusnya dapat bekerja dengan tim serta mampu berkolaborasi dalam menyatukan atau menyamakan pendapat. Pelatihan kali ini memberikan pengalaman dan ilmu yang luar biasa terhadap guru pesisir selatan. Bermanfaat demi menambah pengetahuan baru dalam rangka memajukan pendidikan di pesisir selatan yang madani. Anda ingin mempelajari praktik Merdeka Belajar? Yuk ikuti pelatihan daring (online)Klik link di bawah ini

Memahami Arti Merdeka Belajar

Mengapa harus memahami arti merdeka belajar? Kata merdeka belajar menjadi trend di kalangan guru Ketika Menteri Pendididikan mengaungkan kata tersebut. Namun tak jarang guru salah paham akan arti merdeka belajar. Apakah arti merdeka belajar adalah guru atau murid bebas untuk belajar apa saja sesuka hati atau bagaimana? Apa sebenarnya tujuan Pendidikan? Jika tujuan Pendidikan adalah untuk menjawab soal, maka kita cukup mengajarkan anak menjawab soal dengan benar. Namun jika tujuan Pendidikan adalah agar anak mampu mempelajari dan menjawab tantangan hidup, maka selaku guru kita perlu mengajarkan murid untuk merdeka belajar. Nonton Bareng Video Guru Merdeka Belajar Nah untuk menjawab penasaran tersebut, Komunitas Guru Belajar Wajo berinisiasi melakukan Nonton Bareng Merdeka Belajar. Karena adanya pandemi ini, sehingga KGB Wajo pun melaksanakan Nobar melalui aplikasi Webex. Nonton Bareng via webex dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 16 Mei pukul 13.30 WITA. Dengan host sekaligus moderator Muhammad Takdir yang juga merupakan anggota KGB yang bertugas di SMAN 6 Wajo. 15 menit sebelum acara mulai, host sudah memulai mengaktifkan room yang sudah dibuat seminggu sebelumnya, dan tak lama berselang peserta nobar pun satu persatu mulai joint dalam room meeting. Yang paling mengejutkan adalah bergabungnya Bapak Kepala Cabang DInas Wilayah IV Kab. Wajo Kab. Soppeng setelah diminta kesediannya berpartisipasi oleh penggerak KGB Wajo. Tepat pukul 13.30 WITA, acara pun dibuka oleh moderator. Jumlah peserta yang bergabung pada saat itu 15 orang yang diantaranya penggerak KGB Wajo, guru-guru yang berasal dari SMKN 1 Wajo, SMKN 2 Wajo, SMAN 2 Wajo, SMAN 6 Wajo, SMP Makassar dan Kepala Cabang DInas Wilayah IV. Acara nobar pun dimulai dengan moderator menyapa peserta pada saat itu lalu menyilahkan mengisi daftar hadir yang sudah disematkanpada kolom chat. Beberapa saat setelah itu, moderator mempersilahkan Ibu Sitti Rahmah selaku penggerak KGB untuk memberi pengantar sebelum acara inti. Memahami Arti Merdeka Belajar Dalam pengantarnya, penggerak KGB Wajo yang disapa Ibu Rahmah ini memperkenalkan KGB, mulai dari sejak deklarasi KGB pada TPN kedua di Jakarta sampai ke program KGB seperti TPD luring maupun daring yang sering dilakukan via Whatsapp. Ibu Rahmah berharap bahwa setelah bapak ibu guru memahami arti merdeka belajar, para guru yang belum bergabung menjadi tertarik untuk ikut bergabung dan mendaftar menjadi anggota KGB. Setelah memberikan pengantar, moderator pun melanjutkan dengan pemutaran video. Miskonsepsi/Salah Kaprah Guru Belajar Dalam video tersebut, Ibu Elaa mengatakan bahwa penghambat kemajuan Pendidikan di Indonesia sebenarnya adalah miskonsepsi yang membelenggu para guru dalam proses pengembangan diri. Miskonsepsi tersebut diantaranya: Miskonsepsi 1: Guru hanya akan akan belajar bila ada insentif, janji sertikat, ataupun penghargaan. Miskonsepsi 2: Guru hanya bisa belajar dari pakar dan ahli. Miskonsepsi 3 : Guru hanya perlu mengikuti resep standar, “how to” bagaimana melakukan sesuatu. Miskonsepsi 4: Pengembangan guru bisa dilakukan instan, dipaksakan dengan target terburu-buru. Miskonsepsi 5: Kompetensi guru adalah soal kemampuan dan pengukuran individu. Menyepakati tujuan dan cita-cita tidak mudah, namun saya selalu mengatakan, di dunia pendidikan, yang jauh lebih sulit adalah menyepakati cara. Kalau kita memilih pendekatan Guru Belajar, maka kita memilih cara alternatif, cara yang terasa lebih sulit, namun saya yakini menjadi titik perubahan reformasi pendidikan saat berbicara tentang pengembangan guru. Menyepakati tujuan dan cita-cita tidak mudah, namun Ibu Elaa mengatakan, di dunia pendidikan, yang jauh lebih sulit adalah menyepakati cara. Kalau kita memilih pendekatan Guru Belajar, maka kita memilih cara alternatif, cara yang terasa lebih sulit, namun Ibu Elaa yakin akan menjadi titik perubahan reformasi pendidikan saat berbicara tentang pengembangan guru. Dan guru merdeka belajar adalah kunci dari perubahan pendidikan. Dimensi Merdeka Belajar yang Perlu Diterapkan Meneguhkan komitmen adalah modal awal merdeka belajar, apa tujuan kita sebagai pendidik. Kita harus bisa membedakan cara dengan tujuan. Rangking, akreditasi, ujian, seleksi adalah cara yang saat ini seringkali menjadi tujuan dan prioritas utama diatas tujuan pendidikan nasional dan misi pribadi kita masing-masing saat memilih menjadi pendidik. Guru yang merdeka belajar adalah guru yang mandiri. Mandiri adalah proses yang kita gerakan. Mandiri dalam arti sesungguhnya adalah memegang kendali. Pendidik yang merdeka belajar terus melakukan refleksi. Refleksi itu sebuah proses yang sangat tidak nyaman dan penuh resiko. Komitmen, mandiri, refleksi. Tiga kata, tiga dimensi merdeka belajar, namun kompleksitas pendidikan yang sangat interdisiplin, membuatnya tidak mudah diwujudkan. Upaya untuk mengubah ekosistem pendidikan butuh dana lebih besar, melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan dan membutuhkan waktu lebih panjang terkadang tanpa bukti nyata keberhasilan. Tak heran pendidikan selalu dikatakan penting, tapi tidak pernah menjadi prioritas. Tak heran sebagian dari kita frustasi. Tak heran sebagian memilih keluar dari sistem, memilih “exit” bukan “voice”. Tapi guru di komunitas guru belajar yakin bahwa satu-satunya cara untuk mewujudkan merdeka belajar adalah memilih berdaya dengan bersuara lebih keras. Komunitas guru belajar tidak bisa sendirian. Melawan miskonsepsi tentang pendidikan, hanya bisa dilakukan bersama-sama. Pendidik adalah kita semua, guru, orangtua, peneliti, kepala sekolah, pemimpin komunitas dan organisasi, ketua komite, pejabat pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Praktik baik melalui proses belajar terus menerus di setiap tempat, yang hanya bisa tercapai dengan kemerdekaan belajar. Refleksi Diri Guru Diakhir pidato, Ibu Elaa dalam video tersebut menekankan bahwa merdeka bukan soal menunggu orang lain, merdeka belajar adalah percaya bahwa kita dan apa yang kita lakukan adalah apa yang kita nantikan-nantikan.Video yang berdurasi kurang lebih 14 menit tersebut pun kemudian berakhir, lalu moderator memberi kesempatan untuk berefleksi atas video tersebut dengan mengajukan beberapa pertanyaan diantaranya :Pertanyaan pertama : diantara semua miskonsepsi, mana yang paling menggambarkan diri anda? Dari semua peserta nobar, Ibu Rahmah menyatakan bahwa miskonsepsi yang menggambarkan dirinya sebelum bergabung dalam KGB adalah miskonsepsi yang kedua yakni belajar hanya dapat dari ahli atau pakar. Dia menyatakan bahwa dulu dirinya paling senang mengikuti diklat-diklat yang pematerinya adalah Professor, namun setelah mengikuti TPN 2017 dia sadar bahwa belajar pun bisa dari sesama teman guru yang nyata sudah melakukan praktik baik. Ciri Guru Merdeka Belajar Pertanyaan kedua: ciri guru merdeka belajar adalah komitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara belajar, dan melakukan refleksi. Apakah anda setuju dengan pernyataan tersebut, dan apa alasannya? Pertanyaan ini dijawab oleh Pak Asri dari SMAN 2 Wajo. Dia mengatakan bahwa saat ini masih banyak guru yang belum merdeka belajar, terutama dalam masa BDR. Guru masih terkungkung oleh format laporan yang dikirim … Read more

Merdeka Belajar Bagi Guru

Apa arti merdeka belajar bagi guru?Apa merdeka belajar itu berpengaruh pada peran guru? Kehadiran dan peran seorang guru merupakan aspek penting dalam dunia pendidikan. Dalam mengajar, sosok guru yang menginspirasi dan mencerahkan juga sudah selayaknya mampu memahami dan mengupayakan adanya proses belajar. Namun, bagaimana jika seorang guru belum mengerti makna proses belajar itu sendiri? Hal ini banyak terjadi karena umumnya belajar hanya dipahami sebagai kegiatan membaca dan menghafal. Akibatnya, daya untuk berkarya, kreasi dan berekspresi menurun. Memaknai Arti Merdeka Belajar Bagi Guru Mempelajari apa itu merdeka belajar bagi guru sebelum ke anak didik menjadi penting. Saya paham bahwa proses belajar harus saya kuasai dan jalankan dengan baik. Akan tetapi, saya merasa belum bisa merinci langkah demi langkah dan tahapan-tahapan proses belajar tersebut dengan efektif. Akhirnya kegelisahan ini terjawab. Ketika saya bergabung dengan Komunitas Guru Belajar (KGB) Bojonegoro dan KGB Surabaya beberapa tahun lalu. Hingga tahun 2019 ketika sudah menikah dan mengikuti suami, saya juga ikut dengan KGB Jombang. Saya sangat tertarik dan bersemangat untuk selalu belajar hal baru di komunitas ini dan di KGB ini lah saya mengenal merdeka belajar. Saya sangat penasaran dengan apa itu merdeka belajar, termasuk pengaruhnya bagi guru dan penerapannya. Oleh karena itu, saya mengunduh,  mencetak, dan membaca semua Surat Kabar Guru Belajar (SKGB), khususnya edisi yang memuat tentang merdeka belajar. Melihat apa manfaat dan pentingnya merdeka belajar itu bisa mempengaruhi dan mendorong motivasi, inovasi dan menuju ke pendidikan yang lebih baik, saya ingin gagasan dan praktik merdeka belajar menebar ke pendidik lain yaitu lewat Nonton Bareng (Nobar) Guru Merdeka Belajar. Awalnya saya merasa kesulitan mencari kawan sejawat yang mau menerima ide saya ini, alasannya saya dibilang idealis lah, ribet dan tidak penting. Dengan tekad kuat dan dorongan teman penggerak KGB lain ini saya tetap maju. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mencoba membuat poster dan mengunggah ke media sosial dan it works, banyak teman-teman pendidik di Jombang yang bersedia hadir.  Tak hanya Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar, saya juga menjadikannya sebagai wadah untuk saling berbagi bagi guru. Pada Rabu, 18 September 2019 pukul 18.30 acara ini dilaksankan di rumah saya yang berlokasi di sekitar lingkungan Ponpes Bahrul Ulum Jombang. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Guru Berbagi Praktik Pembelajaran diawali oleh Guru Asep, beliau berkeluh kesah bahwa mengajar pelajaran Matematika di kelas khusus putra pondok merupakan tantangan yang sangat berat. Menurutnya, murid-murid memerlukan perhatian khusus karena tidak bisa mengikuti pelajaran dengan metode pembelajaran biasa. Ketika Guru Asep mengajar di kelas, banyak murid-muridnya tidur dan mengantuk di kelas karena kegiatan mereka di pondok yang cukup padat. Oleh karena itu, Guru Asep berpikir bahwa proses belajar serta pemahaman, penguasaan atas pengetahuan yang efektif adalah yang secara langsung terkait dengan pengaruh kehidupan dan pengalaman murid itu sendiri (apa yang dilakukan dan apa yang dialami) keseharian. Dengan demikian proses belajar, pembelajaran di kelas harus kontekstual karena pengalaman belajar seperti ini diperlukan dan sangat penting ketika mereka bertumbuh menjadi orang dewasa. Senada dengan Guru Asep, Guru Eko juga berpendapat bahwa proses belajar harus dimulai dengan mempelajari keadaan nyata lingkungan sekitar atau pengalaman seseorang atau kelompok yang terlibat dalam keadaan nyata tersebut. Tantangan berat dan sulit tentunya untuk mengedepankan upaya-upaya yang menumbuhkan, bagaimana menjadi seorang pendidik mampu mendorong dalam diri murid agar dapat melakukan proses belajar untuk menyelesaikan masalah, persoalan apa saja yang dibutuhkan. Guru Eko sangat yakin bahwa adanya murid yang mengantuk, tidur dan rendahnya motivasi adalah bukti nyata bahwa proses belajar di sekolah harus mampu memenuhi kebutuhan anak yakni mendapatkan pengalaman dalam proses-proses perubahan yang terus ada dan tidak berhenti.  Keresahan Guru Ekonomi Sementara itu, Guru Barik dengan wajah kesal, lelah dan gundahnya bercerita bahwa kegiatan pembelajaran dan proses belajar yang baik masih menjadi problematis. Beliau resah karena biasanya guru datang ke kelas lalu membacakan, mempertunjukkan, atau membagikan lembar tugas yang sebelumnya sudah dipersiapkan. Sedangkan murid diharuskan untuk mendengar sambil mencatat dengan teliti. Kadang-kadang guru memberi pertanyaan atau menyuruh murid untuk mengerjakan soal-soal tertentu tentang apa yang sudah diterangkan tadi. Padahal, proses belajar demikian tidak mendorong proses berpikir yang memungkinkan murid menggali pengalamannya dan menemukan sesuatu hal dan peristiwa yang penting dari pengalaman hidupnya. Guru Barik adalah seorang guru mata pelajaran Ekonomi di sekolah MAN 3 Jombang. Menurutnya, materi terkait teori akuntansi dan penerapannya sangat sulit dipahami murid-muridnya. Kemudian, guru Barik menjelaskan dan menunjukkan tentang solusi atas masalah yang dihadapinya. Beliau tidak menyalahkan pihak manapun dan siapa pun atas tidak adanya fasilitas belajar yang bagus oleh sekolah. Guru Barik mencari alternatif cara yakni membuat media praktikum E- corner.  Dengan antusias, Guru Barik memaparkan bahwa E-corner merupakan singkatan dari Entrepreneur Corner, konsep ini mirip dengan kantin kejujuran. E-corner ini  menjual kebutuhan murid dan diletakkan di pojok kelas dan murid akan menjadi pengelolanya. Pengelolaan yang dilakukan murid salah satunya adalah pembuatan pembukuan keuangan beserta administrasinya yang mana hal ini akan sejalan dengan materi akuntansi yang mereka dapatkan. Menonton Video Merdeka Belajar Lalu saya sebagai moderator mengajak semua peserta untuk nobar video merdeka belajar. Acara dilanjut dengan sesi diskusi dan refleksi. Di akhir diskusi semua peserta setuju bahwa: Pendidikan tidak lagi merupakan sebuah kegiatan yang hanya ditujukan pada murid saja. Tanggung jawab penyelenggaraan proses belajar (menetapkan tujuan apa yang harus dipelajari dan diajarkan), seharusnya melibatkan peserta belajar itu tentunya danorang tua.  Beberapa kompetensi yang tertuang dalam merdeka belajar sangat penting untuk diterapkan karena mendukung ekosistem proses belajar yang menumbuhkan. Murid dan guru harus merdeka belajar untuk menciptakan dunia yang lebih baik dan lebih bermakna. Guru merdeka belajar harus memiliki komitmen jelas dan mampu menentukan tujuan proses belajar dengan tepat. Agar tidak terfokus pada hal-hal yang sebenarnya bisa dikompromikan seperti nilai, akreditas, dan hal-hal administratif lainnya.  Murid dan guru merdeka belajar senantiasa mandiri dalam pembaharuan proses belajar. Sudah seharusnya semua pihak yang terlibat dalam proses belajar menyadari pentingnya pembaharuan. Oleh karena itu, media belajar yang digunakan disesuaikanmenurut tahapan yang dipikiran matang. Murid dan guru merdeka belajar harus selalu refleksi. Karena suatu pelaksanaan belajar-mengajar adalah proses yang harus mencerdaskan dan bermakna. Maka dibutuhkan refleksi dan evaluasi untuk mengerti sejauh mana perkembangan potensi, apakah proses belajar yang sudah dilaksanakan sudah berjalan efektif. Refleksi jugasangat penting untuk … Read more

Ciri Merdeka Belajar Pada Guru

Guru Ismawati, mengajak teman-teman guru Sekolah Semai Jepara untuk mengenal merdeka belajar dan ciri guru yang menerapkannya melalui nobar. Pada Senin, 18 Mei 2020, sebagai koordinator, belaiu juga mengajak terutama guru-guru baru yang baru bergabung di sekolah semai. Kegiatan ini bertujuan menguatkan semangat para guru untuk menjadi lebih bermakna dengan Merdeka Belajar. Selain itu juga untuk membangun mindset dan memperbaiki miskonsepsi yang selama ini ‘dipercaya’ sebagai sesuatu ‘yang semestinya’ dalam berperan menjadi guru. Acara kali ini di pandu oleh Khajah Lailin Nisah. Acara dimulai dengan penjelaskan tentang profil apa itu komunitas guru belajar? Kemudian apa pentingnya merdeka belajar? Dan bagaimana ciri guru merdeka belajar? dari koordinator kegiatan nobar merdeka belajar guru Ismawati. Beliau menjelaskan bahwa Komunitas guru belajar merupakan salah satu komunitas yang bertujuan untuk mewadahi para guru dalam belajar bersama – sama. Selama beberapa dekade ini mengenai kompetensi guru dipandang masih kurang visioner disebabkan faktor guru sendiri yang belum bersemangat dalam belajar untuk meningkatkan kualitas dirinya dan guru juga masih berstigma bahwa yang perlu belajar adalah murid, serta guru masih belajar hanya kepada pakar pendidikan saja. Bahwa sebenarnya guru tidak hanya belajar kepada pakar pendidikan saja akan tetapi bisa belajar dengan sesama rekan guru yang lainnya. Mengenal Komunitas Guru Belajar Misi Komunitas Guru Belajar dalam berbagi praktik cerdas pengajaran dan pendidikan diwujudkan melalui: Temu Pendidik Mingguan melalui aplikasi Telegram Temu Pendidik Daerah baik daring maupun tatap muka. Temu Pendidik Nusantara yang dilaksanakan sekitar bulan Oktober setiap tahun. Komunitas Guru Belajar bertujuan untuk: Menegakkan KEMERDEKAAN belajar: membangun guru berkomitmen pada tujuan belajar, mandiri belajar, merefleksikan proses & capaian belajar. Mengembangkan KOMPETENSI: mendukung guru mengembangkan potensi diri melalui beragam cara, secara bertahap dan berjenjang Memperluas KOLABORASI: mendukung guru untuk saling berkolaborasi, mengenalkan dengan berbagai kerjasama untuk menerapkan kompetensinya. Mengembangkan KARIER: mendukung guru memilih dan mengembangkan pilihan karier protean Adapun manfaat dari bergabung di dalam Komunitas Guru Belajar adalah; pertama, mendapatkan kesempatan saling berbagi berbagi praktik pengajaran dan pendidikan yang mutakhir dan terbukti di ruang kelas, kedua mendapatkan kesempatan pengembangan kompetensi melalui berbagai macam bentuk kegiatan kanal komunikasi, ketiga mendapatkan kesempatan berkolaborasi dengan rekan guru dan komunikasi dari berbagai daerah dengan latar belakang beragam, keempat mendapatkan kesempatan mengembangkan karier potensi dengan beragam pilihan peran dan kontribusi. Dan uniknya komunitas ini terbentuk dari para guru yang tergerak hatinya yang peka terhadap tentang akan pentingnya belajar tentang pentingnya guru untuk menambah skill, ilmu dan lain sebagainya. Kampus Guru Cikal sebagai inisiator memberi dukungan berupa menyediakan fasilitator yang memandu proses pengembangan komunitas,pemandu yang mengelola dan menerbitkan pengetahuan, serta pelatih yang memberikan pelatihan yang dibutuhkan Komunitas Guru Belajar. Kolaborasi Komunitas Guru Belajar dan Kampus Guru Cikal menawarkan jalan lain dalam pengembangan guru untuk perubahan pendidikan Indonesia, jalan yang lebih penuh harapan. Menonton Video Guru Merdeka Belajar Kemudian Pemandu melanjutkan sesi berikutnya adalah sesi pemutaran video merdeka belajar. Peserta langsung memfokuskan pandangan ke proyektor layar. Tampak dalam video itu Najelaa Shihab mengenai apa dan kenapa “Merdeka Belajar”. Pada saat kita berbicara merdeka belajar, ibu dan bapak. Saya tuh selalu terbayang anak-anak. Sebagian besar anak Indonesia itu dunianya hanya sebatas ruang kelas, mimpinya hanya terbatas tingginya tangan untuk menjawab gurunya”. Kata bu Najelaa Shihab. Guru dan Tiga Dimensi Merdeka Belajar Dalam paparan video itu, terdapat lima miskonsepsi guru belajar disampaikan Najelaa, diantaranya guru hanya dapat belajar dari para ahli, guru hanya mau belajar jika ada insentif, sertifikat,dll, dan belajar itu soal kompetisi, bukan kolaborasi. “Permasalahan pendidikan memang sangat kompleks. Untuk mereformasinya pasti butuh waktu dan kesempatan dari berbagai kepentingan”lanjut Najelaa. Kutipan dari Bu Elaa “Guru tidak bisa belajar sendiri.” Lanjutnya “Ciri Guru Merdeka Belajar adalah komitmen akan tujuan, Guru yang mandiri, dan bercermin (refleksi).” Merdeka belajar adalah proses dimana seorang guru mampu memerdekakan dirinya terlebih dahulu dalam proses belajar mengajar dan mampu memberikan rasa nyaman serta rasa merdeka belajar bagi murid- muridnya. Atau dengan kata lain merdeka belajar juga adalah bagian dari proses belajar seorang guru untuk memiliki komitmen, mandiri serta reflektif, dimana seorang guru ketika belajar dan mengajar tidak terjebak pada persoalan-persoalan administratif tetapi memiliki kesadaran untuk belajar karena kebutuhan alamiah menuju tujuan yang bermakna bagi diri sendiri dan bagi orang lain. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Akhirnya sampai pada menit terakhir, setelah nobar. Para peserta merefleksikan bersama-sama dengan membagikan kertas kecil kepada para peserta. Kegiatan yang berlangsung kurang lebih satu jam ini, berlangsung dengan lancar dan tertib. Para peserta tetap mematuhi protokol pandemic covid-19. Meskipun bermasker dan berjarak, peserta tetap antusias berdiskusi dan berefleksi. Ada beberapa refeleksi yang kami rangkum diantaranya dari Guru Tari, dari konsep pemahaman beliau masih terperangkap oleh miskonsepsi merdeka belajar. Oleh guru Syamsul, mengatakan bahwa guru merdeka adalah guru yang bebas berinovasi tanpa tekanan. Tidak terjebak dan terfokus pada tugas administratif guru. Setidaknya, setelah kegiatan ini, para guru memahami bahwa tugas guru bukan sekedar transfer pengetahuan, namun membuat hubungan dan segala proses menjadi lebih berarti dari pada sekedar ‘datang, duduk, ngajar, pulang’. Kegiatan yang dimulai dari pukul 09.00 sampai 11.00 ini, diakhiri dengan refleksi yang disertai rasa syukur karena masih berkesempatan belajar dan memahami arti Merdeka Belajar untuk menjadi lebih baik dan bermanfaat. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar? Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 6Unduh GratisKlik:

Semangat Merdeka Belajar Guru Kimia Binjai

Telah berlangsung Temu Pendidik Daerah (TPD) ke 16 hasil kerjasama Komunitas Guru Belajar (KGB) Binjai dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Kimia SMA sekota Binjai pada Rabu, 4 Maret 2020. Acara ini dilaksanakan di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Jalan W.R. Mongonsidi nomor 10 Binjai. Tema yang diambil adalah Sosialisasi Merdeka Belajar. Ketika tema ini diusulkan kepada teman- teman guru di MGMP Kimia, mereka sangat semangat dan antusias karena mereka memang sangat ingin tahu bagaimana sih yang disebut dengan merdeka belajar itu, apakah sama dengan apa yang mereka pikirkan. Antusias Belajar Antusiasme para guru itu memang terlihat selama kegiatan. Diskusi yang dihadiri oleh belasan guru ini berlangsung sangat aktif, seru, dan melibatkan hampir seluruh peserta. Acara Sosialisasi Merdeka Belajar yang penuh semangat ini diawali dengan Nonton Bareng (Nobar) Video Guru Merdeka Belajar dari ibu Najelaa Shihab. Sebelum Nobar, pemandu/ moderator acara sekaligus calon penggerak KGB Binjai, Susi Suharyani menanyakan kepada peserta sejauh mana pemahaman peserta terhadap merdeka belajar. Menurut mereka, apakah itu merdeka belajar? Apakah selama ini bapak/ ibu guru sudah melakukan merdeka belajar? Kalau sudah, apa contohnya? Pemandu/ moderator acara bu Susi Suharyani yang merupakan guru Kimia MAN Binjai, meminta peserta untuk mengingat-ingat, selama sekian tahun mengajar, pernahkah di kelas mengajak peserta didik untuk melihat manfaat dari apa yang guru ajarkan untuk bekal mereka di masa depan? Apakah selama ini para guru sudah melaksanakan refleksi terhadap apa yang sudah dilakukan? Pertanyaan ini dia lontarkan, karena menurutnya guru-guru sebenarnya sudah melakukan merdeka belajar, dengan membuat belajar yang menyenangkan, lalu kemudian membuat refleksi seperti pada saat pembuatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Dan guru-guru pun menjawab dengan semangat. Bu Rini, guru Kimia dari SMA Negeri 1 Binjai mengatakan bahwa kemerdekaan itu yah bebas, bebas mengajar tentang apapun materi tidak harus berurutan, asal sesuai dengan kurikulum. Pak Randi, guru Matematika dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Binjai mengatakan bahwa merdeka belajar adalah ketika guru diberikan kebebasan seluas-luasnya sehingga bisa mengajak siswa untuk ikut aktif di setiap pelajaran. Kebebasan itu bukan harus di luar ruangan, tetapi di dalam kelas pun kita juga bisa membuat kemerdekaan belajar. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Selain guru-guru Kimia, kegiatan ini ternyata juga dihadiri oleh guru-guru non Kimia. Guru-guru dari lintas mata pelajaran dan lintas jenjang sekolah. Ada guru Matematika, guru Pendidikan Kewarganegaraan, guru MAN bahkan guru Sekolah Dasar (SD). Pada awalnya, target peserta adalahseluruh guru Kimia jenjang SMA yang ada di kota Binjai, namun karena flyer yang disebar melalui media sosial ternyata menarik, maka akhirnya guru non Kimia pun ikut dalam kegiatan ini. Mayoritas guru nonKimia yang hadir adalah guru-guru berusia muda yang baru saja ditempatkan mengajar di MAN Binjai. “Kami ingin belajar, Bu, sama seperti Bu Susi yang tetap antusias dalam belajar”, ujar mereka kepada ibuSusi Suharyani. Apa Guru Merdeka Belajar Itu? Pak Luthfi, guru MAN Binjai juga mengungkapkan mengenai apakah guru yang merdeka belajar itu artinya guru boleh mengubah kurikulum, karena selama ini mengajar selalu kejar-kejaran dengan Kompetensi Dasar (KD) yang terlalu banyak. Hal ini akhirnya menyebabkan selalu kejar tayang, dan menimbulkan anggapan yang penting materi selesai diajarkan. Menyinggung mengenai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), menurut beliau, merdeka belajar itu berarti KKM boleh dirubah. Menurutnya, bukankah sekolah yang membuat kriteria kelulusan. Kalau merdeka belajar, berarti sekolah juga merdeka. Bu Nikmar salah satu peserta yang hadir menyampaikan, guru yang merdeka berarti boleh mengajarkan aplikasi dari mata pelajaran yang diajarkannya sehingga dapat dijadikan bekal bagi peserta didik setelahtamat untuk berwirausaha, seperti bagaimana membuat jamu, membuat lilin dan sebagainya. Setelah selesai Nobar pertanyaan yang sama dilontarkan pemandu ke peserta. Ternyata dari jawabanpertama sebelum Nobar dengan sesudah Nobar, jawaban bapak/ ibu guru sudah memiliki perbedaan. Tiga Dimensi Merdeka Belajar Peserta memahami bahwa merdeka belajar bukan hanya memiliki satu dimensi mandiri menentukan cara yang mengutamakan kreatifitas, namun juga terdiri atas 2 dimensi lain, yaitu dimensi komitmen dan dimensi refleksi. Dimensi komitmen dimana guru perlu menanyakan alasan mengapa menjadi guru dan apa yang bisa guru lakukan untuk memerdekakan belajar siswa sesuai kebutuhan belajarnya.Dimensi refleksi dimana guru terus menerus belajar dan memperbaiki diri. Seusai membahas makna Merdeka Belajar para peserta menjadi bertambah semangat setelah pak Surya Herdiansyah, salah satu penggerak KGB Binjai mengajak peserta untuk melakukan yel-yel dari tiga dimensi merdeka belajar tersebut. Semua peserta berdiri sambil mengucapkan kata: komitmen – mandiri – refleksi, sambil diikuti dengan gerakan tangan seperti yang dicontohkan oleh pak Surya. Pak Surya menjelaskan tentang tiga dimensi dalam merdeka belajar, sambil diselingi dengan diskusi, apakah ada miskonsepsi yang selama ini dilakukan oleh bapak/ ibu guru. Kemudian beberapa pertanyaan yang diajukan, seperti “Siapa yang sudah merdeka?” Selanjutnya penggerak KGB Binjai, Lisza Megasari di bagian akhir membahas tentang bagaimana praktik baik mengajar di depan kelas dengan memberikan contoh-contoh yang semua itu merupakanpengalaman guru-guru yang bisa diadopsi. Bagaimana guru membuat peserta didiknya tidak merasa bodoh, dengan membuatnya bisa mengerjakan apa yang seharusnya. Bagaimana membuat peserta didikdi awal begitu guru masuk kelas merasa penasaran dengan apa yang diucapkan saat membuka pelajaran, sehingga peserta didik tertarik untuk belajar. Di akhir acara, bapak/ ibu guru yang hadir menyampaikan keinginannya untuk melanjutkan pertemuan berikutnya, yaitu mengenai bagaimana membuat canvas dan RPP merdeka belajar. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar? Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 6Unduh GratisKlik:

Sosialisasi Merdeka Belajar di Kota Binjai

Sosialisasi Merdeka Belajar dilaksanakan pada Sabtu, 7 Maret 2020. Sebagai pelaksana Komunitas Guru Belajar (KGB) Binjai rela menggunakan akhir pekannya. Kegiatan Nonton Bareng (Nobar) Guru Merdeka Belajar diadakan di salah satu yayasan pendidikan Sekolah Islam Terpadu (SIT) di Kota Binjai. SIT Al Fityah sebagai sebuah yayasan pendidikan pada kegiatan Nobar kali ini menghadirkan 62 orang para pendidik lintas jenjang sekolah mulai dari TK hingga SMA. Sosialisasi Merdeka Belajar yang Menarik Menariknya, kegiatan Sosialisasi Merdeka Belajar berupa nobar kali ini tidak hanya dihadiri oleh para guru Yayasan SIT Al Fityah. Namun juga dihadiri oleh Ketua Yayasan SIT Al Fityah, Bapak H. Abdul Latif Bangun, ST yang tampak antusias mengikuti kegiatan ini hingga selesai. Lisza Megasari, salah seorang penggerak KGB sangat mengapresiasi kehadiran ketua yayasan tersebut dan berkata, “Baru kali ini di dalam kegiatan sosialisasi Merdeka Belajar yang saya lakukan di sekolah swasta, dihadiri oleh ketua yayasan”. Selain itu hadir pula Ika Drama Yanti yang akrab dipanggil bu Ika dy. Seorang pegiat literasi Kota Binjai yang sukses menerbitkan sebuah buku yang berjudul “Purnama Yang Hilang”. Kehadiran ketua yayasan dan seorang pegiat literasi ini tentu menambah keseruan peserta yang lain. Dan juga menambah antusiasme para Penggerak KGB Binjai pada sosialisasi merdeka belajar ini. Para Penggerak KGB Binjai berharap bukan hanya guru saja yang Merdeka Belajar, tapi juga murid, kepala sekolah, yayasan, orang tua hingga komunitas-komunitas juga perlu merdeka belajar. Para pesertapun dibuat bahagia oleh moderator/ pemandu acara yang interaktif saat membuka acara. Lusiana Matondang, moderator/ pemandu acara yang sekaligus calon penggerak KGB Binjai. Mengawali acara dengan memperagakan “Tepuk Diam” kepada para peserta untuk meminta perhatian dan fokus selama berlangsungnya kegiatan. Situasi tenang ini tentu tidak disia-siakan oleh moderator, untuk menanyakan kepada para peserta sejauh mana pemahaman mereka tentang Merdeka Belajar. Nita Hardiyanti, mewakili Guru TK pada kesempatan tersebut menjelaskan bahwa Merdeka Belajar adalah kemerdekaan berfikir bagi guru dan murid untuk menentukan tujuan. Sedangkan Icha Ramadhani, mewakili guru SMP menjelaskan bahwa Merdeka Belajar adalah kemampuan guru dan muridmemberdayakan semua potensi dan fasilitas yang ada di sekolah secara bersama sama atau berkolaborasi untuk melakukan pembelajaran yang bermakna. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Setelah beberapa peserta menyampaikan pandangannya tentang Merdeka Belajar. Muamar Firman sebagai peliput acara yang juga merupakan calon penggerak KGB Kota Binjai meminta para guru untuk sesekali bertanya kepada para muridnya. “Apakah pembelajaran yang Bapak/ Ibu berikan penting menurut Bapak/ Ibu? Apakah Pembelajaran yang Bapak/ Ibu berikan selama ini dibutuhkan bagi kehidupan kita di saat ini ataupun di masa depan?”. Pertanyaan ini dia lontarkan karena menurutnya sekolah harus mampu menjadi Representasi Kehidupan. Sehingga apa yang murid dapatkan di sekolah benar-benar bermanfaat bagi kehidupan dan mampu menjawab tantangan zaman. Belajar juga menurutnya adalah bukan bercerita tentang seberapa jelas kesuksesan yang akan kita dapatkan. Tapi tentang seberapa yakin kita kepada tujuan. Karena tujuanlah yang akan menentukan dan memandu langkah dan gerakan kita. Tidak ada yang jelas dan pasti hari ini melainkan [erubahan. Maka kita harus mampu mencetak anak-anak menjadi pribadi yang adaptif. Menjadi seorang Pembelajar Sepanjang Hayat yang mampu mengikuti setiap perubahan dan perkembangan zaman. Siapa yang Merdeka Belajar? Setelah selesai Nobar, Surya Herdiansyah salah seorang Penggerak KGB Binjai juga memberikan pertanyaan-pertanyaan. Hal yang cukup memancing rasa ingin tahu (curiousity) para peserta untuk menyampaikan pendapatnya seperti Siapa yang Merdeka Belajar? Kenapa harus Merdeka Belajar dan seterusnya. Kemudian menutup sesinya dengan menyampaikan tiga dimensi Merdeka Belajar (Komitmen, Mandiri, Refleksi). Dan yel-yel Merdeka Belajar, yang cukup menambah keseruan para peserta seisi ruangan. Guru Untung, mewakili guru SD ketika ditanya “Siapa yang Merdeka?” menyampaikan pendapatnya. Menurutnya yang merdeka bukan hanya guru dan murid saja. Dinas Pendidikan dan pengawas juga harus merdeka belajar sehingga dapat mempercepat usaha untuk mengubah kualitas pendidikan menjadi lebih baik. Selanjutnya Ermawaty, penggerak KGB Binjai mengawali aksinya di depan peserta dengan memberikan contoh “Hand Sign”. Sebuah instruksi/ tanda menggunakan gerakan tangan untuk maksud tertentu yang efektif. Tanda ini dapat mengurangi ungkapan ungkapan yang mengganggu konsentrasi di saat pembelajaran. Beliau kemudian melengkapi sesinya dengan menjelaskan sekilas tentang KGB Binjai dan Temu Pendidik Nusantara (TPN) 2019. Ermawaty pada kesempatan tersebut juga menyampaikan tentang 4 Pokok Kebijakan Merdeka Belajar. Kebijakan yang merupakan gebrakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Bapak Nadiem Makarim yaitu: Mengganti USBN dengan Ujian Sekolah (Tes Tulis, Tugas Kelompok, Portofolio atau Karya Tulis) Mengganti UN dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survey Karakter (Literasi, Numerasidan Karakter) RPP Cukup 1 Halaman, dan PPDB Zonasi Arti Kemerdekaan Belajar Di akhir sesi, Lisza Megasari mampu membuat mata para peserta berkaca-kaca. Beliau menyampaikan kegelisahan dan keresahannya terhadap apa yang dia alami dan rasakan selama menjadi seorang pendidik. Bahwa betapa banyak anak-anak yang dihambat bakat dan potensinya sebab tuntutan ketercapaian kurikulum yang diberikan. Juga kecenderungan untuk memberikan gelar negatif kepada murid. Hanya karena mereka mendapatkan nilai rendah tanpa memandang potensi lain yang ada padadiri mereka. Menurutnya, potensi dan bakat murid tidak dapat diukur dari hasil ujian. Kompetensi murid akan tampak apabila ada kemerdekaan belajar pada guru dan murid. Kemerdekaan belajar di sini berarti menentukan tujuan, mandiri dalam menentukan proses dan cara, serta senantiasa reflektif mengevaluasi diri untuk terus melakukan perbaikan. Cerita praktik baik yang disampaikannya pun membuat para peserta terbawa suasana. Peserta merasa mendapatkan wawasan baru tentang bagaimana menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna. Di akhir acara Sosialisasi Merdeka Belajar Bapak H. Abdul Latif Bangun selaku ketua Yayasan SIT Al Fityah berjanji akan mengundang kembali para penggerak KGB Binjai. Melanjutkan pertemuan dengan tema Canvas dan RPP Merdeka Belajar sebagai bentuk kesungguhan yayasan untuk mendukung program Merdeka Belajar. Dan sebagai bukti nyata, bahwa bukan hanya Kepala Sekolah dan Guru SIT Al Fityah yang Merdeka Belajar. Tetapi Yayasan SIT Al Fityah juga akan Merdeka Belajar. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar? Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 6Unduh GratisKlik:

Pesisir Selatan Mendukung Merdeka Belajar

Mendukung Merdeka Belajar, 4 Kebijakan Menteri Pendidikan, Kepala Disdik Kab. Pesisir Selatan Bapak Suhendri, M.Si Tawarkan KGB Kabupaten Pesisir Selatan Berkolaborasi. Hal tersebut disampaikan di Acara Nobar Guru Merdeka Belajar di Aula Disdik Kab. Pesisir Selatan. Kamis tanggal 14 Desember 2019. Dalam sambutannya beliau mengatakan apresiasi yang sangat mendalam kepada guru-guru Ikhlas. Guru yang sudah bergerak tanpa dipaksa dan diminta dalam mendukung dan menyuarakan merdeka belajar. Beliau juga mengatakan bahwa perlu mendukung dan menindaklanjuti kegiatan ini. Mendukung dan Merealisasikan Merdeka Belajar Menurut beliau untuk menyikapi dan merealisasikan 4 kebijakan Menteri Mas Nadiem Makarim beliau berkeinginan mengajak KGB untuk berkolaborasi dalam menyukseskan kebijakan tersebut. Beliau berencana akan memberdayakan guru-guru yang tergabung di KGB menjadi narasumber untuk mendukung sosialisasi merdeka belajar. Harapan agar semua guru di Kab. Pesisir Selatan mengenal substansi merdeka belajar. Tapi wacana tersebut baru bisa terealisasi jika KGB mau bekerja sama dengan Dinas Pendidikan ucap beliau. Untuk merealisasikan kegiatan tersebut beliau menyampaikan minggu pertama Januari akan mengundang PK3S SD se Kab. Pesisir Selatan dan PMKKS seluruh Kab. Pesisir Selatan yang rencananya akan dilakukan di Gedung KPN RI Kec. Lengayang. Supaya kegiatan ini nantinya selaras dengan seluruh kepala-kepala sekolah dan dinas terkait. Program tersebut rencananya akan digulirkan pada bulan Januari sampai Maret. Harapan beliau bulan April Pemerintah Daerah akan menyambut kegiatan ini. Sehingga bulan April Pemda bisa mendeklarasikan secara resmi dukungannya terhadap Komunitas Guru Belajar. Disela-sela sambutannya beliau katakan untung ada KGB kalau tidak pasti saya akan bingung mau berbuat apa. Di akhir sambutan beliau sempat menyampaikan keheranan beliau terhadap Kebijakan Mas Menteri yang digulirkan baru-baru ini seolah-olah selaras dengan apa yang sudah disuarakan KGB selama ini. Sambil berseloroh beliau mengatakan, apakah ini hanya kebetulan atau sudah dirancang dan diadakan pertemuan sebelumnya, kemudian disambut tawa riuh peserta. Nonton bareng ini dipandu oleh Ibu Rahmiyanti. Dalam kesempatan itu beliau memberikan pertanyaan “Apa itu merdeka belajar?” Jawaban guru-guru ditulis diatas kertas sticky note kemudian dikumpulkan dan ditempelkan di selembar kertas. Banyak sekali jawaban beragam yang diberikan guru-guru” dalam kesempatan ini Pak Kadisdik juga sempat memberikan jawaban tentang mereka belajar yang beliau ketahui, yang mana merdeka belajar menurut beliau adalah memberikan keleluasaan kepada guru dan siswa untuk menciptakan suasana belajar yang mereka inginkan. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Kegiatan selanjutnya pemutaran video guru mereka belajar yang disampaikan oleh Ibu Najelaa Shihab, selesai pemutaran video kembali peserta dimintai tanggapannya tentang salah kaprah guru belajar. Ada lima salah kaprah merdeka belajar, pertama guru hanya mau belajar jika diperintah atau diberi surat tugas, yang kedua guru hanya belajar dari ahli, ketiga guru cukup perlu tahu bagaimana, keempat guru bisa belajar secara instan, guru bisa belajar sendirian. Kemudian pemandu nobar mengajukan pertanyaan kepada teman-teman guru, kira-kira mana yang paling menggambarkan diri Bapak dan Ibu. Semua tertawa ada yang menjawab sepertinya yang nomor satu dan dua mau belajar ketika diperintah oleh atasan, dan nomor dua belajar hanya dari ahli. Dari situ pemandu kembali bertanya apakah bapak/ibu kesini karena diiming-imingi uang transportasi? Apakah Bapak dan Ibu tadi datang kesini karena diperintah? Kalau jawabannya tidak itu tandanya Ibu/Bapak telah mematahkan miskonsepsi guru merdeka belajar, yang mana guru merdeka belajar menganggap bahwa belajar adalah kebutuhan, guru butuh belajar karena pengetahuan tidak menunggu dan terus berubah, guru baru layak mengajar jika sudah belajar. Kegiatan selanjutnya materi tentang Board Games dalam pembelajaran yang disampaikan oleh Bu Elvadeni, bagaimana menyajikan pembelajaran yang menyenangkan, banyak pertanyaan yang disampaikan oleh peserta mulai dari apa gunanya game ini, bagaimana cara membuatnya dan bagaimana cara mengoperasikannya dan Ibu Elvadeni menyampaikan board game ini bisa di duplikasi untuk materi lain. Curahan Hati Seorang Guru Acara dilanjutkan dengan tanya jawab dan curhat yang disampaikan oleh guru-guru. Disini guru-guru diberi waktu untuk menanyakan tentang apa saja yang belum mereka ketahui, ada yang menanyakan kapan berdirinya komunitas ini, siapa pendirinya, apakah Komunitas ini sudah ada AD/ART nya? Apakah komunitas ini resmi dan lain sebagainya. Ibu Dewi Kepala TK Pembina IV Jurai mengungkapkan kesedihannya bahwa selama ini banyak yang mengatakan “kenapa kalau di TK anak-anak disuruh main-main saja, bahkan ada yang mengatakan apakah guru TK itu kerjanya hanya main-main saja, padahal kata beliau justru masa pertumbuhan anak di TK itu memang masanya anak-anak bermain, dan permainan yang kami berikan mengasah kecerdasan kognitif, psikomotor dan sosial. Beliau juga berharap semoga cara seperti ini tidak terputus hanya sampai di TK tapi berlanjut ke jenjang yang lebih tinggi. Di sesi penutup diminta guru-guru berefleksi: Apa yang sudah dilakukan selama ini? Apa yang sudah didapatkan dalam pembelajaran hari ini? Diawali oleh Ibu yeni Fitri dari Pancung Soal, beliau mengatakan bahwa mengenal komunitas ini di Facebook. “Ternyata sudah ada komunitas ini di Pesisir Selatan.” Kemudian setelah dua bulan yang lalu beliau mulai bergabung di grup komunitas guru belajar Pesisir Selatan. Selama bergabung di komunitas ini banyak sekali manfaat yang beliau rasakan, begitu banyak Teknik-teknik mengajar yang didapatkan di diskusi-diskusi daring yang beliau ikuti di grup, metode yang selama ini beliau pakai seperti metode ceramah mulai ditinggalkan. Terakhir Ibu Warna Solmenon pengawas IV Jurai menyatakan kekagumannya kepada KGB, beliau mengatakan bahwa KGB sangat luar biasa yang pertama KGB bisa menjalin silaturahmi guru-guru, banyak penemuan-penemuan baru yang bisa mengembangkan potensi peserta didik, serta banyak metode-metode baru tentang pengajaran yang dikembangkan oleh KGB. Terakhir beliau sampaikan mudah-mudahan semua guru-guru di Kabupaten Pesisir Selatan menjadi guru-guru yang merdeka belajar. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar? Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 6Unduh GratisKlik: