Solusi Pembelajaran Jarak Jauh

Melihat kebingungan terkait solusi Pembelajaran Jarak Jauh, KGB Pekalongan menyelenggarakan TPD dengan topik PJJ, Aduh. Bagaimana solusinya?. Temu Pendidik Daerah (TPD) Daring 44 ini dilaksanakan secara daring pada hari Rabu, 1 Juli 2020 pukul 19.30 – 21.00 WIB di Grup Whatsapp. Dengan narasumber Guru Musyafiah KGB Pekalongan, SMKN 1 Karangdadap dan moderator Guru Niken Emiria Faradelia KGB Pekalongan, SMA N 1 Kajen, dan Guru Zienaat Rif’aty sebagai reporter.  Kebutuhan Psikologis Murid Narasumber memulai diskusi dengan mengajak peserta untuk masuk dan voting ke mentimeter. Kemudian mempelajari materi yang disampaikan narasumber. Banyak peserta diskusi yang sudah mengerti esensi pembelajaran jarak jauh yang fokus pada kebutuhan psikologis murid, dll. Kaitannya dengan miskonsepsi Pembelajaran jarak jauh, berdasarkan jawaban dari peserta diskusi, banyak yang sudah tahu bahwa pembelajaran tidak hanya memberikan tugas, pembelajaran jarak jauh tak harus online.  SESI TANYA JAWAB Termin Pertama Pak Wahyu Pertanyaan 1. Apakah murid yang Bu Fiah semuanya memiliki hp? 2. Jika tidak memiliki semuanya, bagaimana pembelajaran yang dilakukan untuk murid yang tidak memiliki HP? 3. Jika punya semua, mungkin punya tips yang bisa dilakukan apabila beberapa murid tidak memiliki HP Jawaban 1. Mayoritas murid saya memiliki HP. Kebetulan ketika pembelajaran jarak jauh kemarin saya hanya mengajar 2 kelas. Dari total murid (72), yang tidak punya HP hanya 1-2. Dalam perjalanan pembelajaran jarak jauh selama kurang lebih 3 bulan, ada yang HP nya rusak/ hilang, jumlahnya sedikit. hanya 1-2  2. pembelajaran jarak jauh lalu, murid yang tidak memiliki HP menyusul tugasnya saat menjelang ulangan semester. Hanya ada satu murid yang tidak memiliki HP hingga akhir semester.  3. Berdasarkan yang saya pelajari dari berbagai diskusi TPD dan kurikulum sekolah lawan Corona. Bagi murid yang tidak memiliki HP, guru inisiatif untuk mengunjungi rumah muridnya kemudian memberikan rangkaian kegiatan selama satu minggu. Atau pun memberikan rangkaian kegiatan bermakna dengan melihat TV atau mendengar siaran radio.  Bu Dias Pertanyaan Bagaimana teknik berkomunikasi dengan orang tua murid agar bisa ikut mendukung proses pembelajaran jarak jauh? Jawaban Sebenarnya saya bukan termasuk orang yang mudah membangun komunikasi. Saya masih harus banyak belajar dari teman-teman tentang cara membangun komunikasi yang efektif. Kalau yang saya lakukan dengan murid saya (ini terutama anak wali), saya membangun obrolan tentang dampak corona terhadap pekerjaan mereka dan apa kendala yang dialami anak atau orang tua dalam mendampingi anaknya belajar. Ini saya lakukan via WA. juga membuat WAG Wali Murid. mungkin di beberapa sekolah sudah umum ya, seperti sekolah anak saya. Namun, di sekolah saya sepertinya belum sampai kesitu. ketika saya membuat WAG ini membernya cuma 10. karena kebanyakan tidak punya HP/WA. Namun, dengan media ini, saya bisa mengkomunikasikan agenda-agenda sekolah. untuk kendala dan dampak corona lebih via japri. Jadi saya memulai membudayakan  komunikasi dengan orang tua. Jika belum bisa mengikuti ig keluarga kita atau sesi keluarga kita di sekolah.mu dan pelatihan sekolah lawan corona untuk lebih lanjutnya Bu Nia Pertanyaan Adab, ilmu, amal. Yang saya tahu itu harus urut. Kaitannya dengan pembelajaran jarak jauh, kita belum tahu nih apakah murid juga gurunya ketika online dalam keadaan  glusar-glusur on the bed belum mandi atau sudah berpakaian rapi dan beradab. Nah bagaimana esensi dalam hal ini ya, mengutamakan adab. Benarkah pembelajaran jarak jauh akan selalu menjadi solusinya? (Refleksi kegelisahan dengan sikap-sikap murid secara umumnya yang seperti itu sama gurunya, maksudnya sudah jadi  rahasia umum) Jawaban Berbicara tentang perilaku atau kebiasaan murid selama pembelajaran jarak jauh, memang kita sebagai guru tidak memiliki kendali penuh akan itu. Oleh karena itu, penting untuk melibatkan orang tua yang merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya. Berbicara tentang pembelajaran jarak jauh adalah solusi. pembelajaran jarak jauh bukanlah solusi untuk segala masalah pendidikan. Namun, pembelajaran jarak jauh adalah hal terkecil yang bisa guru lakukan untuk tidak menyerah terhadap keadaan. Karena kita tidak tahu kapan corona akan berakhir. Menjadi pilihan kita untuk menyerah kepada keadaan atau bergerak, beradaptasi dengan kondisi.  Baca Juga: Sekolah Lawan Corona Termin Kedua Bu Eki  Pertanyaan  1. pembelajaran jarak jauh itu RPP nya sama tidak dengan RPP Tatap muka biasa?  2. Biasanya ketika tatap muka, saya mengandalkan media boardgame agar murid lebih bersemangat dan interaktif. Dengan pembelajaran jarak jauh, bagi saya menjadi kurang helpful. Adakah rekomendasi media yang cocok digunakan di segala keadaan?  Jawaban 1. Esensi RPP tatap muka dan daring sebenarnya sama. Mencakup tujuan, asesmen dan strategi pembelajaran. Perbedaannya pada strategi atau langkah-langkah pembelajaran yang perlu disesuaikan dengan kondisi. Untuk tujuan dan asesmen juga hendaknya lebih disederhanakan, tidak semata mengejar materi. tapi lebih memberdayakan konteks. dalam asesmen juga perlu memberikan keleluasaan waktu dan pilihan jenisnya. Lebih lanjut bisa, melihat referensi RPP Daring di “Guru Berbagi” 2. Sama dengan pernyataan bahwa tidak ada strategi yang sempurna, tidak ada juga media yang sempurna yang cocok digunakan di segala keadaan. Harus menyesuaikan dengan kompetensi yang ingin dicapai. Sebagai referensi, bisa melihat berbagai contoh pembelajaran jarak jauh yang sudah launching di YouTube sekolah.mu nggih. Bu Niken  Pertanyaan Di infografis disebutkan salah satu miskonsepsi pembelajaran jarak jauh adalah dilaksanakan secara online atau daring. Nah kalau itu miskonsepsi yang benarnya yang seperti apa Bu? Jawaban pembelajaran jarak jauh bisa dilakukan meskipun tanpa koneksi internet. Salah satu contohnya yang dilakukan Pak Iwan KGB Bandung. Beliau melakukan kunjungan ke murid melalui program guru kunjung, atau yang dilakukan salah satu guru di Paninggaran, Bu Vika Inayati. Contoh lain, misalnya dengan membuat kelompok belajar antara murid yang rumahnya dekat (tapi dengan cara tidak berkerumun, misalnya maksimal 3/4). Semua ‘obat nya bisa diperoleh jika kita sudah memetakan kondisi murid di awal. Bu Rayinda Pertanyaan Selama pembelajaran jarak jauh bagaimana kira-kira seorang guru bisa mendukung gerakan pendidikan karakter selama mengajar dari rumah? Apakah masih perlu kita sebagai guru menanamkan gerakan penguatan pendidikan karakter selama murid di rumah? Kalau iya, ada saran caranya?  Jawaban  Pendidikan karakter saat memang tantangan tersendiri ya Bu. pelajaran tatap muka saja, terkadang saya kewalahan mendampingi murid-murid. Dengan kondisi ini, kita dipaksa untuk “mengembalikan keluarga/orang tua ke khittah-nya” yakni tempat pertama dan utama berlangsungnya pendidikan. Lembaga pendidikan hanyalah opsi, bukan kewajiban. Oleh karenanya, perlu banget membangun hubungan yang baik dan melibatkan orang tua. Bicara perlu atau tidak, jelas sangat perlu Bu. Sementara ini yang bisa saya lakukan … Read more

Menyambut Panduan Pembelajaran Jarak Jauh

“Kami bukan robot, kami butuh istirahat”, begitu bunyi status WA murid kelas 3 yang kebetulan berteman dengan saya. Entah apa yang melatarbelakangi statusnya yang demikian, apakah karena tugas dari guru yang menumpuk? Bisa jadi. Memang, harus diakui, pembelajaran jarak jauh membawa guru pada kegamangan tanpa panduan. ‘Penutupan’ sekolah secara tiba-tiba membuat guru bingung harus mengajar seperti apa. Mereka belum punya gambaran sama sekali. Bahkan, bagi sebagian guru istilah itu mungkin baru didengar pertama kali. Di tengah kebingungan itu, satu-satunya cara yang diketahui oleh guru guna memastikan murid tetap belajar di rumah, hanya dengan membagikan tugas, tugas dan tugas.  Sabtu 04 Juli 2020, Pemerintah Kabupaten Bantaeng melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Bantaeng meluncurkan panduan pembelajaran jarak jauh. Guna memberikan gambaran dan rambu-rambu bagaimana melaksanakan PJJ (pembelajaran jarak jauh) yang efektif dan efisien. Panduan Pembelajaran Jarak Jauh ini, tak bersifat teknis, karena bagaimanapun—menurut Pak Kadis—kerja-kerja teknis lebih diketahui oleh guru, sebab guru tentu lebih mengenal situasi dan kondisi di lapangan. Di akhir peluncuran, Pak Kadis mengingatkan bahwasanya untuk membahas lebih mendalam panduan ini, maka beliau mengharapkan organisasi profesi guru untuk melakukan kerja-kerja kebaikan guna mengawal rekan-rekan guru pada pemahaman yang lebih komprehensif tentang bagaimana melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh yang bermakna. “ Saya berharap organisasi profesi guru bisa turut terlibat aktif merangkul teman-teman, belajar bersama, dan mendiskusikan lebih lanjut panduan ini.” Menindaklanjuti hal tersebut, Komunitas Guru Belajar (KGB) Bantaeng di TPD ke-4 mengajak para guru untuk belajar bersama merancang desain rencana pelaksanaan pembelajaran jarak jauh yang dilakukan via live streaming di channel YouTube KGB Bantaeng. Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut di antaranya: Pak Hasirun (Koordinator Pengawas Kabupaten Bantaeng), Pak Drs. Pammusu (Ketua MGMP IPA SMP) dan Pak Very Fadly (Guru PJOK SD Inpres Tindangkeke) dan dipandu langsung oleh Pak Muhammad Yaqub selaku Host. Meski dilaksanakan secara virtual untuk pertama kalinya, di tengah pandemic Covid-19. Antusiasme belajar guru sungguh luar bisa, tak kurang dari 40-an guru dengan pelbagai latar belakang jenjang pendidikan hadir dan menyaksikan diskusi tersebut. Menjadi Guru Handal dalam Pembelajaran Jarak Jauh Narasumber pertama, Bapak Hasirun memaparkan bahwa untuk mendesain pelaksanaan pembelajaran mesti dimulai dari mengenal prinsip pembelajaran itu sendiri. Salah satu prinsip yang mesti dipegang teguh oleh guru adalah interaksi positif. Interaksi yang dibangun dari kesepakatan guru-murid. Interaksi yang baik hanya bisa terjadi jika komunikasi terjalin antara keduanya. Tak selalu didominasi oleh guru. Perlu diingat pula, bahwa komunikasi mesti juga melibatkan orangtua murid, sebagai ‘teman’ belajar murid di rumah. Guru harus peka melihat kondisi murid, orangtua dan lingkungan guna menyesuaikan dengan pembelajaran yang akan dilakukan.  Nah, Pak Hasirun memberikan tips panduan bagaimana menjadi guru yang handal dalam melakukan Pembelajaran Jarak Jauh. Penasaran? Berikut tipsnya:  Pertama, guru memberikan tugas yang simple pada murid, simple dalam artian bahwa tugas yang diberikan sedapat mungkin guru memberikan tugas kepada siswa, bukan tugas yang baru, tetapi tugas yang sudah pernah diberikan sebelumnya dengan modifikasi yang lebih jauh.  Kedua, guru harus membuat jadwal kegiatan mingguan. Hal ini sangat penting, agar murid mengetahui apa pelajaran dan keterampilan yang diperoleh pekan itu. Ketiga, berani memodifikasi kurikulum. Memodifikasi kurikulum adalah bagian dari kemerdekaan yang diberikan pada guru, hal ini dimaksudkan agar guru dalam memberikan pengalaman belajar pada murid, bisa keluar dari kebiasaan yang ada. “Dengan begitu, maka ada kebebasan, keleluasaan dan keluar dari tekanan pada diri guru-murid dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan.” Lanjut Pak Korwas. Keempat, tetap menjadi guru. Menjadi guru di tengah pandemi menuntut guru untuk tahan banting. “Guru itu jangan mudah baper, terlalu tegang, dan jangan lemah, tetapi menjadilah guru seutuhnya; tegas, tapi penyayang.” Kata Pak Hasirun. Kelima, isi atau konten mata pelajaran bisa dari mana saja. Ini memungkinkan terjadinya variasi sumber belajar agar murid tidak mudah bosan. Hal-hal yang berada di sekitar murid bisa mereka jadikan sebagai sumber belajar. Misalnya, belajar menghitung dari sampah-sampah yang ada di halaman rumah. Mengajar adalah Melayani Drs. Pammusu, ketua MGMP IPA selaku narasumber kedua menjelaskan bahwa, situasi pandemi mengklasifikasi model belajar siswa menjadi dua; daring dan luring. Berlapikkan pada dua model belajar tersebut, MGMP IPA menyiapkan dua jurus jitu, yaitu; membuat video pembelajaran dan juga modul pembelajaran. Dengan dua jurus tersebut, diharapkan kedua kelompok ini bisa terlayani dengan baik. Yang memiliki gawai bisa belajar dengan melihat video pembelajaran yang dibuat sendiri oleh guru mereka, sedang yang tidak dilengkapi fasilitas akan diberikan modul kegiatan murid. Kedua perlakuan berbeda inilah yang disebut dengan diferensiasi. Guru mengidentifikasi kebutuhan dan ketersediaan fasilitas belajar murid, lalu kemudian membuat desain pembelajaran sesuai dengan konteks yang ada. Murid dilayani betul dalam proses belajarnya. “Video pembelajaran yang dibuat durasinya tidaklah panjang, cukup 8-10 menit dengan dengan penjelasan yang demonstratif agar murid tidak bosan dan bisa dipraktekkan murid di rumah secara mandiri.” Tutur Drs. Pammusu. Hal tersebut juga berlaku dengan modul luring bagi murid yang tidak dilengkapi fasilitas gawai. Modul yang diberikan sebisa mungkin memudahkan murid untuk mengerjakannya secara mandiri, mudah, tapi tidak dimudah-mudahkan. Sehingga anak benar-benar bisa berkembang kompetensinya.  “ Ini adalah bagian kecil dari sumbangsih kami kepada para murid untuk melayani proses belajar mereka.” Tutup Pak Drs. Pammusu. Baca Juga: Sekolah Lawan Corona Guru adalah Desainer “Saya memegang prinsip, anak adalah sekutu guru”, Pak Very membuka pembicaraan. Untuk menjadi sekutu yang baik, tentu harus mengenal murid dengan baik. Semakin kita mengenal murid, semakin mudah kita mengantarkan mereka pada pencapaian kompetensi. Bagaimana caranya mengenal murid? Apakah cukup dengan mengetahui nama mereka? Tentu tidak. Menurut Pak Very, mengenal murid bisa dengan membuat profil masing-masing, yang dipetakan dalam 4 hal: minat, gaya belajar, pekerjaan orangtua dan sarana prasarana. Hal ini menjadi penting, mengingat setiap anak berbeda. Karena mereka berbeda dalam banyak hal, rasanya sangat tidak bijak jika memperlakukan mereka sama dalam proses belajar. Contoh sederhananya, murid yang orangtuanya berada di tanah rantau, tak bisa diperlakukan sama dengan murid yang tinggal bersama orangtuanya. Juga murid yang sudah bisa belajar mandiri, tentu tidak bisa disamakan perlakuannya dengan murid yang masih butuh bimbingan guru. Begitu seterusnya. Pak Very juga memperkenalkan kanvas RPP merdeka belajar, yang menurutnya bisa menjadi pijakan awal sebelum membuat RPP pembelajaran jarak jauh. Kanvas ini memberikan gambaran pada guru bagaimana model pembelajaran yang akan diberikan pada murid. Isi kanvasnya terdiri … Read more

Diskusi Merdeka Belajar di Mojokerto

KGB Mojokerto mengadakan Nonton Bareng dan diskusi tentang Guru Merdeka Belajar (GMB). Bertempat di ruang serba guna SMK PGRI Sooko Kabupaten Mojokerto. Dan bertepatan dengan hari Jumat tanggal 7 Agustus 2020. Pelatihan tersebut diikuti 20 peserta dengan latar belakang Pengurus KGB dan guru, mulai jenjang PAUD, SD, SMP/MTs, maupun SMA/SMK. Antusias peserta untuk mengikuti Nobar sangat tinggi, terbukti dengan dimulai acara pukul 13.00 WIB yang merupakan waktu istirahat dari aktifitas mengajar, tanpa lelah para peserta hadir dengan semangat untuk mengetahui lebih jauh apa makna merdeka belajar itu.  Nobar Guru Merdeka Belajar Mojokerto ini dikoordinatori oleh Bu Nur Lutfiyatul Khaqimah, S.Pd.I, yang di buka oleh Miss Eko Rini Rahayu sebagai Moderator. Selama kegiatan senantiasa di dampingi oleh bu Umi Hasanah, S.Pd, MPd sebagai Ketua KGB Mojokerto yang memberikan wawasan tentang gerak dan Langkah KGB Mojokerto sebagai opening.  Selanjutnya kegiatan inti yaitu acara Nobar dipandu Ibu Nur Lutfiyatul K, SPdI yang kemudian berkolaborasi dengan Miss Eko Rini Rahayu sebagai Moderator yang atraktif menghidupkan suasana Nobar dengan diskusi interaktif setelah Nobar Ibu Najelaa Shihab.  Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Diskusi yang membahas tentang miskonsepsi Guru Merdeka Belajar. Miskonsepsi yang sering terjadi dilingkungan sekitar yaitu : Guru belajar menunggu instruksi sekolah/dinas atau mendapat intensif. Miskonsepsi yang kedua guru hanya mau belajar dari pakar dan ahli. Guru hanya belajar “how to” bagaimana cara mengajar. Guru berharap belajar bisa instan. Miskonsepsi yang kelima guru bisa belajar sendirian. Miskonsepsi ditelaah dengan tujuan dapat memahami lebih dalam apa makna Merdeka Belajar. Harapannya menjadi Guru Masa Depan yang mandiri mengembangkan kompetensi, aktif berkolaborasi, mengembangkan jalur karirnya,terus mengembangkan kompetensi. Memiliki kesesuaian potensi dan aspirasinya, tak ketinggalan tentunya Merdeka Belajar.  Pada pukul 15.00 Wib yang menjadi akhir sesi Nobar Guru Merdeka Belajar. Peserta diminta untuk mengisi refleksi sudah sampai tahap apakah mereka berada. Dalam jenjang atau tahapan sebagai guru merdeka belajar jika diidentifikasi dari empat kunci pengembangan guru atau bisa disebut 4K; yaitu : Kemerdekaan, Kompetensi, Kolaborasi dan Karier. Hal ini berguna untuk menjadi landasan dan tolak ukur apa yang harus dilakukan kedepan. Dan apa kebutuhan yang harus dipenuhi untuk menjadi guru yang merdeka belajar. Para peserta berharap selalu diadakannya pelatihan yang berkelanjutan. Sehingga ada wadah yang membuat mereka semangat untuk selalu belajar secara bermakna. Dan membuat mereka berkarya dan mengembangkan karier mereka untuk kedepannya.

Membuat Video Pembelajaran dengan Toontastic

Kami belajar membuat video pembelajaran dengan aplikasi toontastic dalam rangkaian pesta kemerdekaan digelar oleh Komunitas Guru Belajar (KGB) Malang. Digelar mulai tanggal 20 Agustus 2020 hingga 31 Agustus 2020 nanti, kegiatan virtual ini mengajak guru-guru untuk menyemarakkan HUT RI ke 75 dengan aneka pembelajaran kelas merdeka belajar. Kelas merdeka belajar diawali dengan sesi kelas, “Merdeka Belajar Dengan Aplikasi Toontastic”. Melalui kelas ini, guru-guru diajak untuk belajar membuat video animasi pembelajaran dengan aplikasi toontastic. Tak dapat dipungkiri, semakin berkembangnya era digital menuntut kemerdekaan guru belajar untuk terus mencari cara untuk menyesuaikan diri dengan teknologi dalam menjawab kebutuhan belajar siswa. Kelas yang dilaksanakan pada, Kamis (20/08/2020) ini dinarasumberi langsung oleh Guru Dany Prima dari KGB Malang. Hadir juga Guru Bagus Satria yang menjadi pemandu jalannya kelas. Adanya ide ini berawal dari kegelisahan Guru Dany dalam merancang media pembelajaran yang menarik bagi siswa. Beliau mencari beberapa software animasi  untuk membuat konten pengajaran Bahasa Inggris hingga akhirnya Guru Dany berhasil menggunakan aplikasi toontastic dan membuktikan bahwa membuat media ajar animasi tak harus memiliki keahlian khusus pembuatan animasi. Aplikasi toontastic adalah aplikasi pembuat video berbasis animasi yang dipopulerkan oleh Google. Melalui aplikasi ini, pengguna dapat membuat video dengan mudah. Mulai dari pemilihan latar/background, karakter animasi, hingga pengisian suara dan efek suara yang ingin dihasilkan. Guru Dani juga mengatakan kemudahan dari aplikasi Toontastic ini,”Aplikasi ini tersedia untuk platform android dan IOS. Kerennya lagi, aplikasi ini gratis dan bisa dipakai secara offline.” Katanya. Terkait penggunaannya, aplikasi ini cukup mudah untuk digunakan oleh siapapun. “Pertama kita masuk aplikasi. Lalu, klik tanda panah. Kita dapat memilih scene yang akan diambil. Short, Classic, atau Science Story. Setelah dipilih, kita dapat memilih latar background yang ingin digunakan. Setelah itu, kita akan memilih berbagai karakter yang dapat kita gunakan. Jika ingin membuat karakter sendiri, pilih create own dan bisa digambar sendiri karakter yang akan digunakan. Untuk menambahkan suara, klik start lalu kita dapat merekam dengan suara kita sendiri. Secara otomatis aplikasi ini akan merekam dengan sendirinya. Jika suara telah terekam, bapak ibu dapat memilih apakah akan menggunakan efek suara apa tidak. Jika ya, maka suara yang sudah direkam volumenya harus lebih besar dari efek suara yang ingin ditambahkan. Terakhir klik extract untuk mengunduh video animasi yang sudah dibuat.” Jelas Guru Dani sembari memberi penayangan video yang disebar melalui WAG kelas Merdeka Belajar ini. Agar peserta tak bingung, Guru Bagus memberikan penugasan kepada peserta kelas kemerdekaan ini. Peserta diajak untuk langsung praktik membuat video animasi yang berisi perkenalan singkat masing-masing. Dengan durasi video maksimal tiga menit, masing-masing peserta mengumpulkan penugasan langsung melalui WAG. Bermacam-macam kreasi dibuat oleh para Guru KGB Malang.Guru Herlina membuat video perkenalan dengan latar dongeng, Guru Sakroni membuat video animasi dengan latar background kapal bajak laut, dan masih banyak lagi. Keseruan kelas semakin nampak ketika Guru Dani memberikan evaluasi kepada masing-masing peserta. “Video bu Herlina menarik. Pemberian suaranya pas dengan mimik dari karakter animasi. Menggunakan animasi di aplikasi Toontastic ini sangat mudah. Jika ingin menggerak-gerakkan karakter, cukup dengan menggeser-geserkan saja. Lalu, untuk menggerak-gerakkan bibir saat merekam suara karakter cukup dengan klik dan tahan karakter yang dituju.”Ujar Guru Dani. Di akhir sesi, Guru Bagus memberikan link dari program #BantuKuatkanGuru. Melalui program yang digagas oleh KGB Nasional ini, KGB Malang turut mengajak setiap orang yang ikhlas untuk memberi donasi yang akan nantinya akan didistribusikan oleh KGB Nasional kepada guru-guru dan sekolah yang terdampak pandemi Covid-19. Tak dapat dipungkiri, keberadaan guru honorer maupun sekolah banyak yang terdampak finansial akibat adanya pandemi Covid-19 memerlukan dukungan dari segenap pihak.

Pembelajaran Jarak Jauh dengan 5M

Masih mengangkat tema Pembelajaran 5M untuk mengoptimalkan pengalaman belajar jarak jauh anak di masa pandemi Covid-19. Memasuki hari ke -2 (dua) Temu Pendidik Daerah (TPD) dengan  kelompok guru yang berbeda di hari pertama mengingat perlu diperhatikan protokol kesehatan.  Kegiatan Komunitas Guru Belajar Makassar pada Temu Pendidik Daerah yang ke -28 pada Kamis , 23 Juni 2020 berlangsung di Ruang Guru SDIT Darussalam Makassar. Acara tersebut dimulai sejak pukul 08.00 WITA hingga pukul 10.00 WITA.  pada hari ke 2 tersebut dihadiri peserta yang berbeda  sekitar 22  orang. Masih sama seperti Temu Pendidik Sebelumnya, acara pertama diawali dengan nonton bareng video Merdeka Belajar yang menghadirkan narasumber ibu Najelaa Shihab. Masih sama dengan konsep hari pertama, Hadir menjadi narasumber dalam kegiatan workshop tersebut guru Maurensyiah guru SMK Darussalam Makassar yang juga sebagai pengurus dan sekaligus penggerak Komunitas Guru Belajar Makassar. Selanjutnya kegiatan tersebut juga menghadirkan guru Tasmin untuk membawakan materi pelatihan Office 365. Guru Tasmin adalah guru SDIT Darussalam Makassar.  Awal kegiatan masih sama dengan hari pertama, diawali dengan pemutaran video Guru Merdeka Belajar lalu dilanjutkan ke diskusi. Oleh narasumber menyampaikan materi dengan memberikan umpan balik. Kata narasumber, “menurut bapak/ibu guru seperti apakah guru merdeka itu ?” dan apakah bapak/ibu sudah merdeka ? Pertanyaan umpan balik tersebut kemudian direspon oleh para guru. Ada guru yang mengatakan bahwa guru merdeka itu adalah guru yang tahu bagaimana mengajar yang sesungguhnya. Ada juga guru yang mengatakan bahwa guru merdeka itu adalah guru yang bebas, bebas dalam teknik dan cara mengajar. Oleh narasumber dalam merespon jawaban-jawaban guru, lalu mengarahkan kembali ke tayangan video.  Oleh narasumber mengatakan guru yang merdeka seperti yang dijelaskan dalam tayangan video tersebut, bahwa guru merdeka adalah guru merdeka itu adalah guru yang yang mempunyai komitmen, guru yang  memiliki kemandirian dan guru yang mampu berefleksi atas setiap proses pembelajaran, semua demi para murid.  Selanjutnya, narasumber mulai menjelaskan lebih rinci tentang guru merdeka, hingga mengenalkan Komunitas Guru Belajar sebagai wadah untuk belajar dan berbagi. Dilanjutkan dengan penjelasan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dengan konsep 5M ala Kampus Guru Cikal yang telah digunakan oleh rekan-rekan guru anggota Komunitas Guru Belajar Nusantara. Oleh narasumber mengatakan bahwa belajar di rumah, belajar di sekolah, tetap berpihak pada anak. Bagaimana caranya? Guru dan orangtua yang berdaya menciptakan pengalaman belajar yang melibatkan anak. Sangat penting kolaborasi orangtua, guru dan murid untuk berdaya belajar dalam menghadapi situasi darurat akibat wabah virus Corona. Guru harus memastikan anak mendapatkan personalisasi pengalaman belajar yang bermakna, menantang dan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan anak. Narasumber mengatakan dalam Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), poin paling utama yang perlu guru perhatikan adalah memanusiakan hubungan. Memanusiakan hubungan yang dimaksud adalah Praktik pembelajaran yang dilandasi orientasi pada anak berdasarkan relasi positif yang saling memahami antara guru, murid dan orangtua, ini adalah konsep 5M yang pertama. Konsep 5M yang kedua kemudian kembali dijelaskan oleh  narasumber, Memahami Konsep dimana seorang guru hendaknya memahami bahwa praktik pembelajaran yang memandu murid bukan sekedar menguasai konten tapi menguasai pemahaman mendalam terhadap konsep yang dapat diterapkan di beragam konteks. Selanjutnya narasumber membahas konsep 5M yang ketiga yaitu membangun keberlanjutan. Maksud dari 5 M yang ketiga tersebut adalah Praktik pembelajaran yang memandu murid mengalami rute pengalaman belajar yang terarah dan berkelanjutan melalui umpan balik dan berbagi praktik baik. Selanjutnya 5 M yang keempat kembali dijelaskan oleh narasumber Praktik pembelajaran yang memandu murid menguasai keahlian melalui proses yang berjenjang dengan pilihan tantangan yang bermakna yaitu memilih tantangan. Dan pada 5M yang ke 5, memberdayakan konteks yaitu Praktik Pembelajaran yang memandu murid melibatkan sumber daya dan kesempatan di komunitas sebagai sumber belajar sekaligus kesempatan berkontribusi terhadap perubahan.  Baca Juga: Sekolah Lawan Corona Narasumber mengingatkan bahwa di masa pandemi seperti saat ini, guru perlu memperhatikan kondisi psikologis  murid, janganlah diberikan beban yang pada akhirnya membuat mereka bukannya merasa nyaman belajar justru stress menghadapi guru yang justru memberikan beban tugas yang sungguh tidak memanusiakan hubungan, yang ada murid justru stress. Guru harus mampu menjadi partner yang baik bagi murid dan orang tua. Caranya bangun kolaborasi yang baik. Di akhir pembicaraan narasumber menutup dengan closing statemen, jadilah guru yang berdaya, guru yang tahu bagaiman membawa para murid memperoleh pengalaman belajar yang bermakna. Dan mari belajar bersama Komunitas Guru Belajar untuk membuat perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik. Kepala sekolah SDIT Darussalam dalam merespon diskusi lalu mengatakan sangat mendukung guru-guru SDIT untuk belajar dan mengembangkan diri. Laporan Liputan oleh Maurensyiah Komunitas Guru Belajar Makassar.  Unduh Panduan Pembelajaran Jarak Jauh, klik tombol di bawah ini

Memahami Merdeka Belajar

Mengapa harus memahami merdeka belajar? Kata merdeka belajar pada dasarnya sudah tidak asing dikalangan para pendidik. Istilah Merdeka belajar sudah lama digaungkan oleh Menteri Pendidikan. Namun masih yang banyak salah arti terhadap kata tersebut.  Temu Pendidik Daerah ke 8 ini  dilaksanakan secara daring memanfaatkan aplikasi zoom. Hal ini dilakukan karena pandemic Covid 19 yang masih belum mereda. Tanpa Mengurangi semangat, TPD dilaksanakan secara Daring dengan peserta sejumlah 60 Guru-guru Kota Batu yang sebelumnya sudah mendaftar dan terhimpun dalam Whatsapp Grup. Para guru beranggapan mereka belajar adalah kebebasan dalam melakukan pembelajaran, bebas tidak menjelaskan, bebas menghukum, tidak membawa buku ketika mengajar dan pengertian sempit lainnya. Para guru memahami merdeka belajar adalah kebebasan siswa untuk bebas tidak mengerjakan tugas, atau belajar sesuka hatinya tanpa mematuhi aturan dan komitmen.  Kesalahpahaman dalam memahami merdeka belajar ini kami tanggapi melalui kegiatan Nonton Bareng Merdeka Belajar. Karena telah dipahami bahwa tujuan belajar tidak hanya menjawab soal, atau mengerjakan matematika saja, namun seharusnya memberi pengalaman bermakna pada siswa agar dapat menyelesaikan permasalahan hidup sehari-hari.  Nonton Bareng Video “Merdeka Belajar” Kegiatan Nobar dilaksanakan pada hari Selasa/ 07 Juli 2020. Pada Pukul 09.00-10.30 WIB. Dengan Host pak Guru Herdy, dan moderator Pak guru Yudi Herdianto yang merupakan anggota KGB Kota Batu.  10 menit sebelum kegiatan berlangsung dilakukan perkenalan dan sharing tujuan mengikuti kegiatan Nobar merdeka Belajar ini. Moderator menyampaikan peraturan selama mengikuti kegiatan Nobar, diantaranya dengan menonaktifkan speaker, dan aktif di chat untuk menuliskan pertanyaan atau pendapat dari hasil Nobar.  Berikut peraturan yang disampaikan, agar kegiatan Nobar dan diskusi dapat berlangsung dengan lancar.  Selama pelaksanaan acara, Bapak/Ibu yang bergabung melalui Zoom Meeting tidak diperkenankan log-out. Host akan menonaktifkan pelantang (microphone) Bapak/Ibu ketika berlangsung acara. Pendapat atau curhat dapat diajukan melalui raise hand di aplikasi Zoom Meeting dan melalui fasilitas chatroom. Tetap  aktif dan memantau wa grup, jika terdapat tambahan informasi.  Kegiatan Nobar berlangsung lancar dan tanpa kendala. Selama 15 menit video diputar dengan lancar. Selanjutnya dibuka sesi Tanya jawab dan diskusi. Moderator ( Pak Guru Yudi) mengatur jalannya diskusi. Berikut pertanyaan yang diungkapkan beberapa peserta dari 60 peserta Nobar.  Diantara semua miskonsepsi tadi, mana yang paling menggambarkan diri anda? Urutan jawaban terbanyak dari peserta adalah utamanya adalah  Belajar diburu target yang dipaksakan, seperti disampaikan bu Diana bahwa “ selama ini saya pribadi termasuk yang belajar diburu target. memenuhi target terasa sebagai kewajaran, sebagai tuntutan pekerjaan.  Kedua adalah kompetensi bersifat individual, seperti disampaikan bu Mustika Alam bahwa kita dapat meningkatkan kompetensi juga melalui keberadaan siswa, karena dengan memahami karakter siswa saya akan dapat meningkatkan kemampuan mengajar. Ketiga belajar memerlukan insentif/sertifikat, mematahkan miskonsepsi bahwa belajar untuk kebutuhan murid bukan kebutuhan sertifikat, pergantian kurikulum tanpa di imbangai komitmen guru juga tidaka kan berhasil, demikian yang disampaikan oleh ibu Sri Wahyuni  Ke empat belajar sebatas HOW TO, membutuhkan pemahaman dan menikmati indahnya merdeka belajar tidak terbatas, demikian disampaikan oleh Pak Fajar. Kelima belajar harus dari ahli.  Seperti dikatakan oleh saudari Sri Indayani saya belajar hanya dengan orang yang ahli dibidangnya, ternyata kurang. Ciri guru merdeka belajar adalah komitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara belajar dan melakukan refleksi. Apakah anda setuju dengan pernyataan tersebut? apa alasannya? jawaban :  Diana Librawati : setuju, karena tujuan guru adalah untuk memberi pelayanan sebaik mungkin kepada anak didik. Mustika Alam : setuju, sebab tujuan pembelajaran guru adalah menyampaikan materi sehingga diperlukan kemandirian dan refleksi Fia : setuju, dengan ciri merdeka belajar berorientasi pada komitmen terhadap tujuan, kemandirian dan refleksi Apakah anda ingin menjadi guru merdeka belajar? apa alasannya? sebagai peserta memberikan tanggapan Siap, berusaha, mencoba dan menyampaikan siap tidak siap harus siap dengan beberapa alasan antara lain karena tantangan, kebutuhan siswa, tantangan PJJ. Sebagai guru merdeka belajar, apa perubahan yang ingin anda lakukan di kelas? Sri Indayani : mengeksplor metode Rubiyati : menumbuhkan kemandirian Istiqomah : merubah pola pikir mengajar Mismiati : meningkatkan kreatifitas Evia : menumbuhkan perubahan perilaku lebih baik Fajar : mengembangkan penilaian Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Sebagai guru merdeka belajar, apa pengembangan diri yang ingin anda lakukan bersama komunitas guru belajar? Dian Anggraeni : mewujudkan tujuan belajar yang merdeka belajar Sumarmi : Berbagi praktek baik Titik Obarwati : menentukan kegiatan belajar Sri Wahyuni : mengembangkan cara/ metode/ media pembelajaran Fita Safitri : Saling berbagi ilmu Mismiati : merdeka belajar bersama teman guru Moderator memberikan kesempatan sesi curhat tentang pembelajaran selama ini : Tutik : perbedaan pembelajaran yang sebelum ada merdeka belajar  dengan setelah ada merdeka belajar terletak pada usaha sadar untuk belajar setiap saat. Guru Sri Wahyuni  menyatakan bahwa Reward atau pujian dapat menumbuhkan motivasi anak dalam belajar. Sedangkan Guru Diana  menuturkan bahwa  dengan memerdekakan diri dari tuntutan target kurikulum saya menginginkan murid saya juga merasakan merdeka dalam belajar dan berharap nantinya mendapatkan hasil belajar yang lebih baik. Kesimpulan  “ Guru yang merdeka memahami kewajiban, tetapi juga memiliki otonomi dan menggunakan otoritas dengan bijak” “ Tidak  ada guru yang bisa belajar sendirian dan tidak ada guru yang bisa merdeka belajar sendirian” Guru guru Kota Batu mengalami miskonsepsi  Miskonsepsi  1: Guru hanya akan akan belajar bila ada insentif, janji sertifikat, ataupun penghargaan. Miskonsepsi 2: Guru hanya bisa belajar dari pakar dan ahli. Miskonsepsi 3 : Guru hanya perlu mengikuti resep standar, “how to” bagaimana melakukan sesuatu. Miskonsepsi 4: Pengembangan guru bisa dilakukan instan, dipaksakan dengan target terburu-buru. Miskonsepsi 5: Kompetensi guru adalah soal kemampuan dan pengukuran individu. Guru merdeka belajar adalah kunci dari perubahan pendidikan. (Najelaa Shihab) Akhirnya  kegiatan ditutup dengan membaca hamdalah bersama dan berharap semua kegiatan di TPD ke 8 dapat memberikan manfaat dan memotivasi peserta dengan semangat untuk menjadi guru yang Merdeka Belajar. 

Bantu Kuatkan Guru bergerak Lawan Corona

Komunitas Guru Belajar (KGB) Sijunjung kembali mengadakan Temu Pendidik Daerah (TPD) untuk terus berkontribusi dalam perkembangan pendidikan Indonesia. Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin, 13 Juli 2020 melalui media WhatsApp Grup KGB Sijunjung. Dalam kegiatan ini KGB Sijunjung membahas tema “Bergerak Bersama Bantu Kuatkan Guru, Sekolah dan Guru Pilihannya Hanya Kuat” demi peran serta kampanye Bantu Kuatkan Guru Sekolah Lawan Corona yang merupakan sebuah program hasil kolaborasi antara Kampus Guru Cikal, Keluarga Kita, Sekolahmu, Semua Murid Semua Guru, Komunitas Guru Belajar serta Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan. Kegiatan Temu Pendidik ini dikoordinasi oleh guru Fitri Ahirani, penggerak dari KGB Sijunjung yang merupakan guru pada KB Kampung Bocah, Muaro Bodi, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Guru Neriliawati Yusi sebagai moderator yang merupakan guru pada SMK Negeri 1 Sijunjung, Sumatera Barat dan juga tergabung sebagai penggerak KGB Sijunjung serta dipandu oleh guru Sri Hastuti, guru SMK Negeri 2 Sijunjung yang juga penggerak dari KGB Sijunjung. Peserta yang ikut dalam kegiatan ini sejumlah 93 orang yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia seperti Bali, Kalimantan, Salatiga Jawa Tengah, Sijunjung dan sekitarnya. Sedangkan narasumber kegiatan ini adalah guru Syaifullah Godi Ismail yang merupakan guru PAI di SDN Ledok 05 Kota Salatiga. Tiga puluh menit sebelum kegiatan dimulai sudah banyak peserta yang hadir dan saling menyapa pada WhatsApp Grup tersebut. Ucapan selamat datang dari moderator menggunakan bahasa daerah sontak membuat forum ramai dan suasana menjadi semakin seru. Peserta saling menyapa dan saling memperkenalkan diri. Kesalahan sapaan Bapak jadi Ibu atau sebaliknya menjadi candaan seru yang mencairkan suasana sebelum kegiatan dimulai dan membuat kegiatan Temu Pendidik ini semakin menarik. Kemudian moderator menyampaikan kesepakatan sebelum diskusi yang disetujui oleh peserta. Moderator menggunakan sistem buka tutup chat agar diskusi bisa berjalan baik dan informasi tidak tenggelam karena komentar yang belum diperlukan. Tepat pukul 20.00 wib kegiatan dimulai dengan perkenalan singkat oleh narasumber yang kemudian menanyakan kondisi pendidikan di Sijunjung dan bagaimana kondisi awal masuk tahun ajaran baru di masa pandemi. Beragam jawaban pun muncul. Ada yang rindu senyuman murid-murid, ada yang bolak-balik ke rumah-rumah murid untuk membuat kesepakatan dengan orang tua, ada juga yang mulai membuka sekolah dengan protokol dan SOP Covid19. Dampak pandemi Covid19 juga dirasakan oleh sekolah-sekolah terutama sekolah swasta. Mereka kesulitan membayar gaji guru honorer. Hal ini disebabkan karena dalam masa pandemi ini orang tua siswa juga tidak mampu membayar SPP murid, sedangkan gaji guru honorer swasta sebagian besar diambil dari SPP tersebut. Untuk daerah Sijunjung sendiri, kondisi perekonomian orang tua murid dominan bergantung pada hasil pertanian. Alhasil karena adanya pandemi ini mereka pun kesulitan untuk membayar SPP murid hingga akhirnya guru honorer lah yang tidak dapat menerima gaji. Tantangan buat guru tidak hanya sampai di situ. Pembayaran gaji guru honorer dibayarkan berdasarkan jumlah jam mengajar, namun di situasi seperti ini kesempatan guru honorer untuk mendapatkan jam mengajar menjadi semakin kecil dan bahkan nyaris tidak ada. Oleh karena itu, Sekolah Lawan Corona sebuah program hasil kolaborasi antara Kampus Guru Cikal, Keluarga Kita, Sekolahmu, Semua Murid Semua Guru, Komunitas Guru Belajar dan Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan mengajak semua orang terlibat Bantu Kuatkan Guru dengan memberikan dukungan kepada guru swasta dan honorer, serta dukungan untuk sekolah tempat mereka mengajar. Jadi dari permasalahan adanya kondisi pandemi ini yang terdampak pada sekolah, guru, siswa maupun orang tua, maka Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) dan Kampus Guru Cikal (KGC) tergerak dan lahirlah inisiatif program #BantuKuatkanGuru. #BantuKuatkanGuru adalah gerakan kolaborasi komunitas untuk memberikan dukungan bagi guru dan sekolah untuk memastikan keberlanjutan dan peningkatan pengalaman belajar murid. Bantu guru, bantu sekolah, berarti membantu murid Indonesia mengembangkan kompetensinya. Bentuk bantuan akan optimal karena sesuai dengan kebutuhan di lapangan; kebutuhan bertahan hidup guru, kebutuhan peningkatan kompetensi guru dan kebutuhan operasional sekolah. Jika guru kuat, murid akan berdaya. Paket bantuan #BantuKuatkanGuru ditujukan pada sekolah semua jenjang (PAUD, dasar dan menengah) dan semua status (formal dan non formal) dengan guru yang terancam ketahanannya. Paket bantuan dalam bentuk barang dan program. Program ini berbasis sekolah karena kita percaya ketahanan bersifat sosial, diperjuangkan secara kolektif. Kita harus bergerak bersama dan saling peduli. Donasi yang dikumpulkan akan disalurkan berupa sembako, beasiswa program belajar jarak jauh dan dukungan untuk sekolah seperti pulsa dan listrik.  Donasi bisa diberikan oleh semua orang, guru, murid, orang tua murid atau masyarakat sekitar. Kita saling bahu membahu, tolong menolong dalam membantu rekan sesama guru yang terdampak pandemi.  Komunitas Guru Belajar (KGB) Sijunjung juga turut serta berkolaborasi untuk mendukung gerakan #BantuKuatkanGuru. Selain dengan membagikan link donasi kitabisa.com ke segala media dan instansi, tim KGB Sijunjung juga menerima sumbangan langsung dari masyarakat yang kesulitan untuk mengakses kitabisa.com. Hasil sumbangan tersebut didonasikan oleh tim penggerak KGB Sijunjung pada laman kitabisa.com/kuatkanguru. Terkadang juga KGB Sijunjung mengadakan berbagai pelatihan daring yang bermanfaat dengan ketentuan peserta yang ingin mendaftar harus menyumbang minimal 20.000 rupiah yang juga di transfer pada donasi #BantuKuatkanGuru. Tim penggerak KGB Sijunjung juga melakukan donasi sendiri dengan berjualan buku, yaitu buku Bunga Rampai hasil tulisan guru-guru Sijunjung yang dicetak ulang sebanyak 20 buku dengan harga 50.000 rupiah, yang kemudian semua hasilnya di donasikan untuk #BantuKuatkanGuru di laman kitabisa.com/kuatkanguru.  Semoga dengan adanya sharing ilmu tentang #BantuKuatkanGuru ini akan semakin banyak guru, orang tua dan murid untuk berpartisipasi sehingga kita mampu meringankan sedikit beban dari guru dan sekolah yang terdampak pandemi. Kita berharap semakin banyak yang peduli dan mau berdonasi. Tetap saling menguatkan, bergandengan tangan bersama, peduli sesama dan membantu sesama. Saya mengutip pantun penutup oleh bu Jentina dari Bali yang aktif mengikuti kegiatan diskusi hingga akhir. Berikut pantunnya. Pedihnya sabun karena buihBuih dipakai mencuci kainMeski harta belum berlebihJangan lupa fakir dan miskin Buih dipakai mencuci kainKain dicuci berwarna terangJangan lupa fakir dan miskinMembantunya harta takkan berkurang Kain dicuci berwarna terangMencuci kain sambil disikatMembantu fakir harta takkan berkurangRezeki mengalir iman mengikat Ingin ikut #BantuKuatkanGuru?

Guru Belajar Membahas Persoalan Guru

Komunitas Guru Belajar (KGB) bagi sebagian guru mungkin belum terlalu akrab di telinga. Namun ada juga yang sudah sangat akrab dan mungkin sudah mengikuti kegiatan-kegiatannya setiap hari. KGB adalah sebuah wadah bagi guru untuk membahas segala keresahan permasalahan yang dihadapi dalam menghadapi murid. Di dalam KGB antara guru yang satu dengan yang lain dapat berkolaborasi dan saling bersinergi untuk bertukar pengalaman dalam memperbaiki kualitas mengajarnya. Adanya pandemi Covid 19 telah sedikit banyak menghalangi komunitas ini untuk saling bertemu, namun begitu kecanggihan teknologi sudah bisa mengatasinya. Dengan protokol kesehatan kegiatan Nobar (Nonton Bareng) tetap dapat dilaksanakan di Semarang. Peserta Nobar adalah peserta workshop persiapan pembelajaran daring di masa pandemi covid 19 dengan jumlah peserta 40 orang dan di antaranya adalah peserta pelatihan Sekolah Lawan Corona Angkatan 1 Jawa Tengah. Bertempat di aula Korwilcam Kecamatan Bergas Kabupaten Semarang pada hari Selasa, 14 Juli 2020. Apa yang dimaksud Guru Merdeka Belajar? Sebelum menonton video Nobar, kami membahas pendapat kami tentang Guru Merdeka Belajar. “Guru yang bebas dalam merancang segala aktivitas untuk murid dan bebas dalam menentukan kriteria untuk keberhasilan murid.” Tutur Ibu Ayu, SDN Bergaslor 01. Sedangkan menurut Bapak Irkham, SDN Karangjati 03 “Guru merdeka belajar adalah guru yang tidak dituntut dengan segala administrasi kelas yang banyak sekali.” Kemudian kami menonton video penjelasan dari ibu Najelaa Shihab, Kampus Guru Cikal. Ibu Elaa memaparkan tentang pendidikan dan murid, ciri guru serta tiga dimensi Merdeka Belajar. Baca Juga Merdeka Belajar Bukan Jargon Aktivitas kami dilanjutkan untuk membahas pertanyaan “Bapak/ ibu guru setelah melihat tayangan, kita sebagai guru termasuk dalam tipe guru yang mana?” Bapak Zein, Ketua KKG PAI Kec. Bergas memaparkan pendapatnya “Saya mungkin termasuk yang baru punya komitmen, refleksi jarang sekali saya laksanakan, rata-rata kita sudah terlalu tergesa-gesa dengan waktu dan tidak memberi kesempatan kepada murid untuk sekedar berkeluh kesah tentang sesuatu yang sedang dihadapinya. Setelah ini saya akan banyak melakukan kegiatan refleksi untuk menggali lebih tentang profil murid saya sehingga pembelajaran saya bisa maksimal.” Sedangkan Bapak Achmad Eko, Ketua KKG Kelas 6 Kec. Bergas menceritakan pendapatnya “Selama ini guru kurang berkreatifitas dalam mengembangkan pengajarannya, guru hanya mengajar sesuai dengan tuntutan kurikulum, namun mengingat kondisi seperti pandemi seperti ini akan agak susah untuk sesuai dengan target kurikulum. Sekaranglah mungkin saatnya guru harus benar-benar merasakan yang namanya merdeka belajar demi menciptakan kreatifitas dalam mengajar. Satu lagi saya baru tahu kalau istilah merdeka belajar berawal dari video yang saya lihat tadi.” Setelah Nobar dan refleksi, para guru menyadari bahwa tiga hal dalam merdeka belajar komitmen, mandiri dan refleksi adalah sebuah tiga kata yang memiliki makna yang dalam dan akan dilaksanakan sebagai wujud dari guru merdeka belajar. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar? Yuk ikuti pelatihan Guru Merdeka Belajar

Nobar Video Guru Merdeka Belajar Najelaa Shihab

Saya menghadiri TPD yang mengadakan acara Nonton Bareng Video Guru Merdeka Belajar Najelaa Shihab, yang bertempat di aula Dinas Pendidikan Kabupaten Sijunjung. TPD tersebut berlangsung dari pukul 10.00 – 12.00 dan dihadiri oleh lebih kurang 15 peserta yang terdiri dari guru-guru yang mengajar di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, SD, SMP, dan SMK. Kegiatan ini dimoderatori oleh ibu Novi Edmawati selaku ketua KGB Sijunjung dan dipandu oleh dua guru penggerak KGB Sijunjung, yaitu ibu Desy Delarosa selaku narasumber untuk topik Merdeka Belajar dan ibu Sri Hastuti selaku narasumber untuk topik Miskonsepsi Belajar. Tahun 2020 menorehkan sejarah baru bagi dunia. Munculnya virus Corona ( Covid-19 ) membuat perubahan yang sangat besar dalam tatanan kehidupan masyarakat. Sebagai seorang guru, saya sangat merasakan efek dari hadirnya virus ini. Mulai dari diliburkannya sekolah sampai pada pengenalan pembelajaran dengan metode daring, yang sepertinya akan terus digunakan sesuai kondisi zaman saat ini. Tetapi, salah satu kejadian yang sangat berkesan bagi saya selama masa pamdemi ini adalah untuk pertama kalinya saya kenal dengan KGB Sijunjung. Dan semua itu bermula saat saya ikut ambil bagian dalam pembuatan RPP PJJ yang diadakan oleh KGBN dan KGC. Ini adalah TPD pertama yang diadakan setelah hampir 4 bulan diberlakukannya PSBB di kabupaten Sijunjung dengan tetap mematuhi protokoler kesehatan. Kegiatan ini diawali pembukaan oleh ketua KGB dan dilanjutkan dengan menggenalkan diri masing masing peserta sambil sedikit menceritakan awal bergabung dengan KGB. Banyak sekali cerita-cerita inspiratif yang mengalir dalam waktu yang sesingkat itu. Kegiatan selanjutnya adalah nonton bareng video Guru Merdeka Belajar. Semua guru yang hadir, khususnya guru guru yang baru bergabung dalam KGB sangat fokus dalam memperhatikan setiap slide dan penjelasan Merdeka Belajar dari ibu Najelaa Shihab pada video tersebut. “ Yang kita inginkan adalah anak-anak yang punya aspirasi tinggi, yang punya cita cita melampaui langit, sebetulnya. Melampaui batas kelas, melapaui batas dunianya. Dan ini hanya akan terjadi pada saat anak-anak memiliki kemerdekaan belajar. Dan kemerdekaan murid-murid hanya akan terjadi pada saat kita sebagai pendidik juga memiliki kemerdekaan.“. “Apakah Ibu dan Bapak Guru merasa merdeka?”.  Pernyataan dan pertanyaan yang diucapkan oleh ibu Najelaa Shihab pada menit menit awal video membuat saya tersentak. “Dalam Komunitas Guru Belajar, kita percaya pendidik yang merdeka itu punya komitmen, memiliki kemandirian dan selalu refleksi. Dan ini susahnya minta ampun.” Lanjut beliau. Setelah itu dilanjutkan dengan penjelasan beliau mengenai “Miskonsepsi Belajar” yang terasa menjadi teguran bagi para guru yang menonton pada saat itu. Setelah menonton video tersebut, saya menjadi tersadar bahwa selama ini saya belum merdeka. Padahal guru yang merdeka belajarlah yang sangat dibutuhkan oleh murid murid untuk bisa merdeka belajar juga. Begitu juga dengan Miskonsepsi Belajar yang saya lakukan selama menjadi guru. Pada sesi diskusi, ibu Sri Hastuti menjelaskan bahwa banyak pendidik yang melakukan Miskonsepsi Belajar. Hanya mau belajar bila ada insentif, hanya mau belajar dari para ahli saja, Belajar cukup terbatas “How to”, belajar diburu target yang dipaksakan, Kompetensi bersifat individual. Miskonsepsi yang paling sering saya lakukan adalah Belajar diburu target yang dipaksakan. Bahkan dalam mengajarpun yang lebih saya dulukan adalah mengejar target untuk menyelesaikan semua KD dalam pelajaran saya. Tanpa mempertimbangkan apakah murid nyaman atau tidak. Para guru yang lain pun turut menyampaikan miskonsepsi belajar yang sering mereka lakukan. Misalnya ibu Hilda, salah satu guru yang baru bergabung di KGB, menyampaikan bahwa miskonsepsi yang beliau lakukan adalah Belajar hanya dari ahli saja. Menurut beliau ada kebanggaan bila menghadiri pelatihan yang narasumbernya seorang professor dari universitas terkenal. Dan akhirnya beliau menyadari bahwa narasumber terbaik justru adalah guru guru di sekitar kita yang belajar dari banyak kegagalan sebelum akhirnya berhasil. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Saya sangat bersyukur dan bahagia, dipertemukan dengan komunitas ini. Dipertemukan dengan gurur-guru penggerak yang sangat luar biasa dan menginspirasi. Guru-guru penggerak yang merubah cara pandang saya melihat murid, melihat proses belajar, dan yang bersedia membagi praktik baik pengajaran. Masa pandemic ini membawa berkah tersendiri bagi saya. Saya akan berusaha keras untuk mematahkan miskonsepsi yang selama ini saya lakukan. Saya bertekad untuk menjadi guru yang merdeka belajar. Dan saya yakin, KGB ini adalah wadah yang tepat untuk mewujudkan hal tersebut. Saya akan turut memberikan kontribusi bagi komunitas ini karena disini kompetensi tidak bersifat individual. Kita akan sama-sama belajar, saling berbagi ilmu, sama sama menjadi guru yang memerdekakan murid-murid. Teruslah bergerak bagi pendidikan, Komunitas Guru Belajar Indonesia!! Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar? Yuk ikuti pelatihan Guru Merdeka Belajar

Literasi, Senjata Melawan Berita Hoax

Apa anda tahu bahwa beberapa waktu belakangan ini grup-grup pendidik diramaikan oleh berita hoax tentang kebijakan menteri? Apa Anda tahu siapa penyebar berita hoax tersebut? Jawabannya adalah pendidik itu sendiri. Ketika banyak pendidik sibuk menyebarkan hoax tentang kebijakan pendidikan. KGB Bandung, Cimahi, Pekalongan dan Kampus Guru Cikal, justru sibuk meningkatkan literasi dengan Bedah Buku Literasi Menggerakkan Negeri bersama Pak Bukik dan Pak Suhud di SMKN 5 Bandung. Perilaku pendidik yang kontradiktif sekali bukan? Apa yang menyebabkannya? Apakah karena  literasi yang menyebabkan perilakunya menjadi berbeda? Tak Sekadar Membaca Buku Kelas TPD Karier Bedah Buku kali ini diawali oleh Pak Suhud. Ia menyampaikan bahwa literasi tidak hanya sekadar membaca buku, dengan menunjukkan banyaknya praktik baik dalam meningkatkan literasi, seperti literasi dengan berjalan-jalan, bermain game, bercerita, dll. Diakhir pemaparan, ia bertanya, “Lantas, apa itu literasi?”. Mendengarnya membuat peserta menjadi bertanya-tanya. Selagi peserta bertanya-tanya dalam hati, kelas pun berlanjut dengan pemaparan Pak Bukik. Ia menyampaikan bahwa karya buku kolaborasi KGB dan KGC seperti ini, dapat mendorong berbagai pihak agar menjadi lebih peduli dengan pendidikan. Itulah kekuatan buku ini. “Wow, iya juga ya, dengan begini perubahan kondisi pendidikan bisa menjadi lebih cepat,” bisik salah seorang peserta. Sesi pemaparan berakhir, sesi bertanya pun dimulai. Kelas ini pun menjadi semakin seru dengan pertanyaan yang dilontarkan. Pertanyaan pertama datang dari Bu Nining. Ia menyampaikan bahwa di awal buku ini, Pak Bukik langsung menghujam tentang program membaca senyap 15 menit, hal tersebut membuatnya terkejut. Pak Bukik pun menanggapinya. Ia berkata bahwa di Permendikbud, kegiatan membaca 15 menit memang diwajibkan, namun berdasarkan kenyataan, ketika kita tidak melaksanakannya pun, tidak ada sanksi yang diberikan, terlebih bila kita bisa menunjukkan pengganti kegiatan literasi yang lebih bermakna. Hal seperti itu ia beliau sampaikan dengan maksud membuka besi-besi penjara yang rasanya telah memenjarakan guru selama ini. Ia berharap sebagai guru, kita bisa merdeka, fokus pada tujuan literasi, serta mandiri dan kreatif mencari cara yang tepat untuk murid-murid kita, yang bisa jadi caranya tidak dengan membaca senyap selama 15 menit. Cara Meningkatkan Literasi Pertanyaan berlanjut dengan pertanyaan Pak Yoga, bila bukan dengan membaca senyap 15 menit, lalu bagaimana caranya kita bisa meningkatkan literasi? Pertanyaan tersebut sebenarnya sudah terjawab oleh paparan Pak Suhud di awal kegiatan ini. Pak Bukik menanggapi bahwa akan lebih bermakna apabila murid diberikan kemerdekaan memilih buku yang disukainya dan setiap anak diizinkan memiliki target membaca yang berbeda sesuai kemampuannya. Hal tersebut sesuai dengan 5M yakni memahami konsep, memanusiakan hubungan, membangun keberlanjutan, memilih tantangan dan memberdayakan konteks. Ruangan pun menjadi ramai karena seorang guru menyatakan bahwa faktanya ada anak yang membaca UUD dan ada juga anak yang berulang-ulang membaca buku yang sama dalam satu tahun. Kuat dugaan, hal tersebut terjadi karena kegiatan membaca senyap 15 menit dipandang tidak bermakna oleh murid-murid. Pak Bukik pun menambahkan contoh lain sebagai tanggapan dari pertanyaan Pak Yoga, “Anak dapat diajak berjalan-jalan ke taman, lalu ditanya tentang warna bunga dan jumlah bunga, lalu esok harinya diajak kembali ke taman, lalu ditanya pertanyaan yang sama, dan ditanya tentang perbedaan jumlah bunga hari ini dengan hari kemarin. Ini adalah literasi matematika.” Diskusi mengalir hingga menjawab pertanyaan Pak Suhud di awal tentang “Apa itu literasi?”. Literasi dapat dimaknai sebagai cita, cara, dan cakupan. Sebagai cita, literasi dimaknai sebagai kompetensi. Sedangkan sebagai cara, literasi dicontohkan dengan membaca buku untuk menyelesaikan masalah. Sebagai cakupan, dicontohkan dengan kegiatan membaca senyap 15 menit. Hal-hal yang kedudukannya cakupan, sebenarnya dapat mudah berubah sesuai konteks. Masalah Dalam Praktik Literasi Sekolah Bedah buku kali ini rasanya benar-benar menunjukkan bahwa masalah literasi seperti kegiatan membaca senyap 15 menit itu merupakan masalah nasional yang penting untuk diselesaikan. Kegiatan tersebut mestinya dapat berubah sesuai konteks. Namun mengapa kegiatan tersebut justru diwajibkan? Sebagai guru, apa yang perlu kita lakukan? Jawabannya adalah guru merdeka belajar. Guru yang fokus pada tujuan, mandiri pada cara, dan reflektif. Bicara tentang refleksi, kegiatan tersebut ditutup oleh refleksi salah seorang peserta, dan ditutup oleh moderator. Pak Iwan selaku moderator menyampaikan bahwa praktiknya, “literasi pun dapat dimaknai sebagai ritual”. Mendengarnya, tiba-tiba terasa sesak di dada, karena pemaknaan tersebut nyata ada, namun faktanya kebanyakan ritual yang ada justru membodohkan. Pak Iwan pun mengingatkan, jangan sampai buku ini pun membuat kita terjebak dalam miskonsepsi literasi. Potensi tersebut memang ada. Terima kasih telah diingatkan. Karenanya literasi menjadi sangat penting dimiliki oleh guru, murid, dan semua orang, apalagi di era digital seperti ini. Agar tidak ada lagi realita seperti yang sekilas disampaikan di awal, agar tidak ada lagi pendidik yang dengan mudah membagikan berita hoax. Dapatkah Anda bayangkan bagaimana literasi muridnya, bila pendidiknya mudah termakan hoax? Penasaran Bagaimana Menerapkan Literasi Numerasi di Sekolah Dasar? Yuk ikuti pelatihan online klik tombol di bawah ini