Memaksimalkan Whatsapp dalam Pembelajaran Jarak Jauh

Apakah penggunaan Whatsapp dapat menghadirkan pembelajaran jarak jauh yang menarik, bermakna dan merdeka belajar? Yuk simak liputan berikut: Saat pukul 20.00 WITA para peserta sudah mulai masuk di ruang zoom conference, saling sapa dilakukan, menanyakan kabar sambil mengharapkan donasi kita bertambah. Narasumber : Rizqy Rahmat HaniModerator : Adelia OctorytaSelasa, 18 Agustus 202020.00-21.30 WITA Via Zoom Setelah dirasa sudah masuk semua, maka dimulai lah kegiatan kita oleh bu Adelia Octoryta dengan memperkenalkan maz Rizky sebagai tim knowledge di KGC serta bapak muda yang saat ini menetap di Pekalongan. Nah mas risky di persilahkan oleh moderator untuk mulai materinya,namun sebelum memulai  mas risky menyampaikan bahwa sekitar 1 bulan yang lalu sudah bukan di Tim Knowledge KGC namun sudah pindah ke pengembangan komunitas  Dimulailah asesmen awal menggunakan menti.com,1) Bagaimana pembelajaran Anda menggunakan Whatsapp dengan opsi-menyampaikan materi,-mengirim tugas  atau menyampaikan kesepakatan,-umpan balik,-diskusi.2) Apa tantangan selama ini menggunakan Whatsapp dalam Pembelajaran Jarak Jauh? dalam satu kata. Setelahnya dimulailah pemaparan materi dari pak Rizky. Sebelum penggunaan Whatsapp dalam Pembelajaran Jarak Jauh lakukan dulu Asesmen, bukan hanya langsung gasspol.  cari tahu bagaimana kondisi murid apakah memungkinkan penggunaan HP, kuota mereka mencukupi atau tidak. Bisa buat Flowchart untuk melakukan assessment Setelahnya disampaikan Tujuan Esensial Pendidikan yaitu Siap hidup,Kompetensi, Ujian Kebermaknaan, Menalar, Kemandirian Selanjutnya disampaikan tentang Kanvas RPP Merdeka Belajar untuk memetakan profil Murid sehingga membantu dalam tindak lanjut untuk memilih penggunaan WA Saat menjelaskan materi diatas, mas Rizky memberikan contoh materi pelajaran Bahasa Indonesia. Yang menjadi titik tekan dalam pembelajaran WA bahwa pesan suara itu mengasyikkan dan tidak menggunakan banyak kuota. Baca juga: Sekolah Lawan Corona, Sebuah Inisiasi untuk Membantu Pengajaran Jarak Jauh Tips berikutnya membuat 2 group WA, ada yang buat disksui dan ada juga buat upload meteri, supaya materinya tidak teggelam dan mudah di cari, membuat hastag awal dan akhir (sesuai kesepakatan bersama) sehingga ketika ada yang tidak ikut di waktu pembelajaran mudah mencarinya.  Di tengah penyampaian materi selalu ada gangguan sinyal juga hehe. Setelahnya dilanjut diskusi deh DISKUSI Bu Adel : WA ini efektif untuk murid yang sudah punya gawai sendiri, bagaimana dengan murid yang masih dalam pendampingan orang tua apakah efektif juga? Rizky : kelas dasar bisa banget (wjwkkjjjkwiung…. suara tidak terdengar…. karena gangguan jaringan) peran orang tua tetap dibutuhkan bukan hanya saat mau terima rapor baru gunakan WA. Emoticon apa yang tepat digunakan. Moderator mempersilakan guru lain untuk bertanya juga Anita : adakah dalam WA pengaturan font supaya bisa  berwarna-warni Rizky : saya belum eksplor, siapatau anak muda miss emmy pernah mencoba, tapi bisa digunakan emoji yang akhirnya akan membuat menarik dan interaktif serta stiker menarik. Membangun feedback yang membagun keberlanjutan (baca buku Merdeka Belajar yang tulisannya bu Puti) Emmy : Saya pegang grade 7, WAG khusus untuk kelas membuat aturan siapa saja yang bisa punya hak untuk mengatur settingan group, WA hanya utnuk share informasi link dan sebagainya karena dalam pembelajaran menggunakan Google suite.  Rizky : ini ide manrik karena memberikan peran ke murid sehingga pembelajaran berpihak ke murid.  Ada yang bertanya lagi nih kata mas Rizky Olle : Vitur Video Call WA bagusnya untuk dipakai dalam pembelajaran? Rizky : Bisa untuk dipakai diskusi langsung, namun apabila butuh conference lebih baik gunakan Aplikasi ZOOM atau Gmeet karena kalau WA terbatas orangnya, namun ingat perhatikan bahwa murid kita mempunyai cukup kuota dan sinyal bagus Bu adel : saya gunakan Video Call WA untuk mendamaikan anak yang bermasalah haha… Bury :  Kalau Video Call WA dapat memperhatikan tampilan murid (saya kalau VC suka di reject haha) Bisa kebaca tidaka sih, teks WA itu memperlihatkan kodisi seseorang RIzky: bisa salah satunya dengan pesan suara, kemudian tambah  emoji, namun yang pertama harus dilakukan ya Memanusiakan Hubungan dulu, supaya VC tidak di reject.  Eh, ditengah diskusi tampak juga dilayar anak dari bu Permata.Mas Rizky juga sudah minta izin untuk menutup sesi Diskusi karena anaknya menangis.  Wah keren yah semua bapak ibu guru yang tetap bersama anak saat belajar dan berbagi praktik baik. Yuk unduh dan pelajari Panduan Pembelajaran Jarak Jauh. Klik tombol di bawah ini!

Pengertian Merdeka Belajar

Apakah pengertian merdeka belajar itu guru bebas dari aturan administrasi yang menumpuk dan menyesakkan. Apakah pengertian merdeka belajar itu guru sesuka hati mau mengajar atau tidak. Merdeka belajar itu siswa bebas dari tugas dan PR, Merdeka Belajar itu siswa belajar dan paham pembelajaran secara mandiri. Apakah pengertian Merdeka Belajar itu demikian? Sabtu, 05 September 2020 berlokasi di Prestige Bilingual School diselenggarakan kegiatan Nobar (nonton bareng) Merdeka Belajar. Sesuai dengan protokol kesehatan, kegiatan ini dihadiri kurang dari 20 orang guru yang merupakan perwakilan guru dari Prestige Bilingual School, SDIT Ar-Raudah, dan SMA Muhammadiyah 19. Selain itu, acara Nobar ini juga dihadiri oleh perwakilan KGB (kelompok guru belajar) Binjai, yaitu Bu Ega, Pak Surya, dan Pak Arif. Kegiatan Nobar dibuka oleh koordinator, Bu Niar, Kepala SDIT AR-Raudah dan dilanjutkan oleh moderator, Bu Ade selaku Kepala Prestige Bilingual School. Moderator memulai dengan sebuah pertanyaan,” Apa yang Anda pahami tentang Merdeka Belajar?” Ms. Ina, salah satu guru Prestige Bilingual School menjawab,”Pengertian Merdeka Belajar adalah bebas berekspresi, dimana guru dan siswa memiliki kesempatan yang sama untuk mengutarakan pemikirannya, dimana guru bukanlah sumber utama dalam pembelajaran, siswa bukanlah kertas kosong.” Bunda Ulfa, salah satu guru dari SD IT Ar-Raudah mengatakan bahwa, Merdeka Belajar adalah bagaimana guru, siswa, dan serta orangtua saling belajar untuk bersinergi dalam proses pembelajaran.” Hal ini ditambahkan lagi oleh Pak Adam, salah satu guru dari SD IT Ar-Raudah. Pak Adam menambahkan bahwa yang dikatakan dengan Merdeka Belajar adalah kontekstual, dimana pembelajaran tidaklah terpatok pada dinas  ataupun kurikulum yang kaku semata, namun tetap mencapai esensi dari pembelajaran itu sendiri. Kegiatan dilanjutkan ke acara inti yaitu Nobar video Merdeka Belajar oleh Najelaa Shihab. Dalam video, Najelaa Shihab selaku Pendiri Kampus Cikal dan Inisiator Kegiatan Guru Belajar memaparkan apa itu Merdeka Belajar. Najelaa Shihab memulai pemaparannya dengan menggambarkan bahwa, sebagian besar anak- anak Indonesia hanya memiliki dunia seluas ruang kelas sekolahnya, mereka  hanya memiliki impian setinggi tunjukan tangan ketika menjawab pertanyaan guru, sedangkan yang kita harapkan adalah anak- anak yang memiliki impian dan cita-cita setinggi langit, melampaui ruang kelas melampaui dunianya. Hal tersebut akan terjadi apabila murid memiliki kemerdekaan belajar, dan murid yang merdeka belajar akan muncul apabila para pendidik juga memiliki kemerdekaan. Lebih lanjut dalam video tersebut Najelaa Shihab juga memaparkan bahwa proses untuk meraih Merdeka Belajar bukanlah hal yang mudah namun pasti bisa diraih apabila para pendidiknya telah merdeka. Dalam video tersebut juga dijelaskan, dalam Komunitas Guru Belajar, Pendidik yang merdeka adalah pendidik yang memahami dan terus melaksanakan 3 esensi dalam pendidikan yaitu komitmen pada tujuan, mandiri, serta refleksi. Selama ini kebanyakan dari pendidik dan pemangku kebijakan hanya fokus terhadap esensi yang kedua, yaitu mandiri. Fokus terhadap cara bagaimana anak- anak bisa paham, bagaimana cara guru bisa menyelesaikan buku, bagaimana sekolah tetap meraih akreditasi sempurna dari dinas dan lain sebagainya tanpa melirik esensi lain yaitu tujuan pendidikan itu sendiri dan serta refleksi terkait cara ataupun proses yang telah terlaksana.  Dalam video Merdeka Belajar yang dipaparkan oleh Najelaa Shihab juga memaparkan tentang miskonsepsi guru belajar. Dikutip dari ucapan Najelaa pada video tersebut, “banyak yang bilang pendidikan itu penting namun tidak menjadikannya prioritas.” Ada beberapa miskonsepsi tentang belajar yang dipahami banyak orang dan terjadi di sekitar masyarakat yang dipaparkan di dalam video; Guru Belajar perlu insentif eksternal, namun kenyataanya guru belajar merupakan kebutuhan alamiah. Guru hanya bisa belajar dari para ahli, namun nyatanya pembelajaran paling ampuh adalah apabila guru belajar dari sesama rekan guru.     Guru cukup belajar cara “how to”, namun nyatanya guru perlu belajar tujuan dalam konteks “why”. Guru diburu target yang dipaksakan, padahal nyatanya guru perlu waktu untuk belajar. Kompetensi bersifat individu sehingga banyak yang mejadikan guru kunci pendidikan dimana guru adalah input yang harus menghasilkan output yang bagus, nyatanya  kompetensi tumbuh bersama lingkungan. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Menutup pemaparannya dalam video, Najelaa juga menyebutkan tentang mimpi komunitas guru belajar yaitu membalikkan piramida pendidikan dimana kebijakan pendidikan yang awalnya berpusat dari pemerintah pusat, turun ke daerah, kepala sekolah, lalu guru menjadi berawal dari pemikiran dan praktik baik yang dilakukan guru menuju kepada penetapan kebijakan pendidikan di pusat. “Tidak ada pendidik yang ahli, semuanya perlu dan terus perlu belajar. Pendidik itu beragam, sehingga perlu terkoneksi satu sama lain berbagi pengetahuan dan juga emosi untuk mewujudkan tujuan pendidikan bersama. Tidak perlu menunggu siapapun untuk Merdeka Belajar, mulai dari kita” tutup Najelaa dalam video Merdeka Belajar. Setelah Nobar, Bu Ade selaku moderator mengajak para pendidik melakukan refleksi terhadap video Merdeka Belajar yang telah disaksikan bersama dengan menanyakan beberapa pertanyaan di antaranya tentang miskonsepsi guru belajar, ciri guru merdeka, dan juga praktik merdeka belajar yang sudah dilakukan oleh para pendidik yang hadir pada acara Nobar tersebut. Para pendidik yang hadir sangat antusias untuk membagikan pemikiran dan pengalaman belajar mereka. Ms. Elly (salah satu guru Prestige Bilingual School) mengatakan,” saya sangat setuju dengan guru lebih efektif belajar dari sesama guru, karena tidak semua ahli adalah guru yang turun langsung di dunia mengajar, namun jika belajar dengan sesama guru pastilah akan dapat berbagi cerita dan praktik baik selama mengajar dan belajar”. Hal itu dudukung oleh Bu Niar (kepala Sekolah SDIT Ar-Raudah), beliau mengatakan,”selama PJJ guru belajar menguasai teknologi untuk mendukung terlaksananya PJJ dengan belajar membuat video pembelajaran serta menggunakan aplikasi- aplikasi yang memang baru untuk sebagian guru dan itu dipelajari oleh sesama guru. Inilah guru yang merdeka, mengajar dan selalu siap belajar” Selain kegiatan Nobar, acara ini juga diisi pendalaman materi tentang apa itu Merdeka Belajar dan Komunitas Guru Belajar oleh KGB Binjai. “Tugas guru bukanlah sekedar menanam benih, sekedar menyampaikan apa yang ia tahu, namun lebih dari itu. Guru menumbuhi benih, menyiram, memberi pupuk, serta merawat benih tersebut sehingga menjadi tanaman yang tumbuh dan berbuah” ujar Pak Surya, penggerak KGB Binjai yang juga tergabung sebagai Pelatih Kampus Guru Cikal. “Merdeka Belajar bukanlah bebas namun harus komitmen pada tujuan” ujar Bu Ega salah satu koordinator KGB Binjai. Beliau juga mengajak para pendidik yang hadir untuk selalu melibatkan murid dalam setiap proses pembelajaran serta memanusiakan hubungan, karena guru bukanlah pemimpin yang selalu benar dan berada paling depan, namun guru adalah coach atau pembimbing yang selalu siap mendengar aspirasi … Read more

Guru Merdeka Belajar, Guru Bermartabat?

“Jadilah guru hebat, jadilah guru bermartabat!” ungkapan itu yang selalu menggetitik pikiran saya. Bagaimana  guru dikatakan hebat? Dan bagaimana pula guru dikatakan bermartabat? Sekian puluh tahun diri ini belum menemukan jawaban, walau terkadang penuh percaya diri menyatakan “Akulah guru hebat”. Setelah bertemu dengan rekan guru di Komunitas Guru Belajar di bawah naungan Kampus Guru Cikal, diri ini merasa semakin perlu belajar. Itulah yang saya rasakan. Dengan semangat 45 saya ingin belajar menjadi guru merdeka. Menjadi guru yang bermartabat. Tidak ada kata terlambat. Begitulah ungkapan saya saat mengawali acara nobar bersama teman-teman sejawat.  Panas yang terik tidak menyurutkan semangat teman-teman Smamda di acara Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar. Temu Pendidik Daerah 4 (TPD) dilaksanakan pada Rabu, 9 Oktober 2019. Acara dimulai dengan secara bergantian saling mengungkapkan motivasi kegiatan ini. Dengan sentuhan ice breaker suasana semakin hangat dan menyenangkan. “Saya  ingin menjadi guru yang baik” sederhana namun pasti saat guru Inka mengungkapkan motivasinya mengikuti kegiatan KGB ini. Berbeda dengan ungkapan guru Zakiyah pengampu mata pelajaran PKN bahwa beliau ingin belajar menjadi guru merdeka agar murid-murid bisa memahami materi yang beliau sampaikan.  Acara Nonton Bareng ini disambut dengan hati gembira oleh teman-teman sejawat. Mereka dengan penuh konsentrasi menyimak pernyataan-pernyataan yang disampaikan oleh ibu Najelaa Shihab sebagai petinggi Kampus Guru Cikal. Video Merdeka Belajar mampu menggelitik peserta bahwa belajar menjadi guru merdeka itu penting. Siswa tidak hanya diberikan materi, tetapi guru juga harus memperhatikan permasalahan dan keinginan siswa. Sementara sang guru dituntut untuk menyelesaikan administrasi yang sangat beragam. Sehingga  yang terjadi adalah sang guru kurang memperhatikan tugas utamanya sebagai pendidik. Jika ada siswa yang masih menyimpang dari karakter berbudi, lantas siapa yang bertanggung jawab. Ibu Najelaa Sihab mengungkapkan ada empat kunci pengembangan guru, yaitu kemerdekaan, kompetensi, kolaborasi, dan karier. Hal tersebut mampu mengubah pola pikir kita, bahwa seorang guru harus selalu merefleksi diri, meningkatkan kompetensi dengan terus belajar, selalu berkolaborasi dengan teman sejawat, dan yang paling penting adalah guru harus punya cita-cita. Menyikapi hal tersebut cita-cita seorang guru tidak harus menjadi kepala sekolah, namun ada banyak hal, di antaranya guru penulis, guru pengusaha, guru youtuber, dan sebagainya. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Keinginan kuat untuk menjadi guru merdeka belajar disampaikan oleh guru Astutik, bahwa selama ini beliau tidak mengembangkan ilmunya jika tidak ada surat tugas dari sekolah. Pernyataan tersebut diungkapkan ketika sesi diskusi tentang miskonsepsi yang diungkapkan oleh ibu Najelaa Shihab. Guru Astutik menyadari betul bahwa selama ini tidak meningkatkan kompetensinya dengan mandiri. Baginya, selama anak-anak menuntaskan Kompetensi Dasar dianggap sudah selesai. Beliau kurang memerhatikan kompetensi yang lain. Terutama pada ketrampikan  dan sikap siswa. Misalnya apakah siswa tersebut semangat dalam belajar, bagaimana tanggung jawab akan tuga-tugasnya, dll. Bagi guru yang mengampu mata pelajaran Sejarah ini mengeluh juga tentang beberapa siswa sering meninggalkan jam pelajarannya. Nah setelah menyimak film Guru Merdeka, beliau ingin memperbaiki semuanya, dan ingin menjadi guru yang bisa memahami keinginan siswa.  Berbeda dengan guru Daviqa, yang semula belum tahu tentang Komunitas Guru Belajar, apalagi guru merdeka, merasa tercengang menyimak apa yang ada di film tersebut. Beliau guru BK yang sering bersentuhan dengan masalah-masalah siswa. Sangat antusias ingin lebih belajar untuk mengenali permasalahan yang dihadapi siswa. Guru Viqa panggilan akrabnya, menceritakan pengalamannya saat menangani salah satu siswa istimewanya. Dikatakan istimewa karena siswa tersebut memiliki banyak potensi di bidang non akademik, namun di bidang akademik enggan dan bermalas-malasan untuk belajar. Guru Viqa cenderung mencari permasalahan yang dialami siswa, namun sampai sekarang masih belum terpecahkan. Setelah menyaksikan film guru merdeka belajar beliau dapat menarik benang merah, bahwa harus berkolaborasi dengan guru pengampu di kelas sang siswa, semoga segera bisa membantu siswa mengatasi permasalahannya.  Keseruan acara Nobar, terletak pada sesi refleksi. Masing-masing peserta berbagi kisah tentang pengalamannya. Kisah guru Nisrin yang juga bertanggung jawab pada siswa berasrama sangat mengesankan. Beliau harus bisa berperan ganda, kapan beliau menjadi guru mereka, dan kapan beliau menjadi pengganti orangtua di asrama. Sekaligus kapan beliau menjadi sahabat tempat curhat anak-anak berasrama. Oleh karena itu saat mendengar ada kegiatan Nobar begitu antusiasnya untuk menjadi peserta. Beliau berharap mendapatkan banyak pencerahan dari kegiatan Komunitas Guru Belajar ini. terutama pada pertemuan-pertemuan setelah Nobar.  Dari pengalaman-pengalaman rekan sejawat yang hadir saat itu, terlihat betapa antusiasnya mereka ingin belajar menjadi guru merdeka. Hal tersebut didukung dengan komitmen yang tinggi, dan harus bisa melawan miskonsepsi seperti yang diungkapkan oleh ibu Najelaa Sihab. Belajar tidak menunggu surat tugas dari sekolah, tapi merupakan kebutuhan alami yang mandiri. Mereka menyadari untuk menjadi guru merdeka tidak harus belajar pada orang yang ahli, tetapi bisa dilakukan bersama rekan sejawat. Belajar itu membutuhkan waktu untuk memahami dan memiliki inovasi. Dan yang terpenting adalah kompetensi guru tumbuh bersama lingkungan. Dengan demikian besar harapan kami untuk terus belajar di Temu Pendidik Mingguan, Temu Pendidik Daerah, maupun Temu Pendidik Nusantara. Tentunya bersama Kampus Guru Cikal.  Salam Guru Merdeka Belajar!!!

Membuat Animasi dengan PowerPoint

Secara daring, kami belajar membuat animasi mulut berbicara melalui power point dengan judul kegiatan, “Apa itu Animasi Mulut berbicara di PowerPoint”. Acara diselenggarakan kamis, 27 Agustus 2020 lalu. KGB Bandung mengadakan Temu Pendidik daerah yang ke 22 ini melalui aplikasi G-Meet. Kegiatan yang dilakukan secara virtual ini membuat kami belajar banyak hal dalam teknologi terutama membuat animasi di powerpoint sehingga pembelajaran bisa diberikan pada murid dengan lebih menarik.  Kelas ini diawali dengan melihat dua karakter animasi yang sedang berbicara sambil menggerakan mulut. Tayangan itu membuat kami semakin penasaran untuk segera mempelajarinya. Melalui kelas ini, guru-guru diajak untuk belajar membuat video animasi pembelajaran mulut bergerak. Setelah diajarkan cara meletakan dan menggerakan mulut dalam powerpoint, kami diajarkan mencari dan mendapatkan gambar dari sebuah situs.  Kami disarankan untuk menggunakan gambar tipe GIF untuk mulut agar dapat terlihat bergerak ketika berbicara. Kami menyadari bahwa era digital semakin berkembang dan ini menuntut kita sebagai guru yang merdeka belajar, untuk terus mencari cara dalam menyesuaikan diri dengan teknologi dalam menjawab kebutuhan belajar murid.  Kelas ini dinarasumberi oleh Pak Rahman Sapta, seorang desainer grafis dari Semarang. Selain aktif membuat konten tentang animasi di channel youtube “Dunia Kita”, beliau pun membuka kursus desain grafis “Pixel Design” di kota Semarang.  Hadir juga Pak Zaenuri Arif dari KGB Bandung yang menjadi pemandu jalannya kelas. Ide ini diinisiasi oleh ibu Dewi Djuangsih, penggerak dari KGB Bandung sekaligus fundraiser program bantu kuatkan guru. Beliau tertarik dengan animasi powerpoint berbicara, sebagai media pembelajaran yang dapat menjawab kebutuhan murid. Dari yang kami pelajari, ternyata membuat media ajar animasi dengan powerpoint ini tidak harus memiliki keahlian khusus pembuatan animasi.  Dalam pembuatannya, ada dua tipe file gambar yang digunakan. Yaitu PNG dan GIF. Kita bisa mencari tipe file GIF bisa bergerak di PowerPoint. GIF biasa dipakai juga untuk stiker pada WhatsApp atau aplikasi chat lainnya. dengan demikian kita bisa memanfaatkan file tersebut untuk membuat animasi yang bergerak dengan lebih mudah. Sedangkan file PNG adalah tipe file yang statis, tidak bergerak, tetapi memiliki background yang transparan sehingga hanya bagian gambar saja yang akan terlihat. ini cocok untuk penggunaan gambar yang akan dipasang di latarbelakang atau dasar manapun.  Di situs freepik.com, kita bisa memilih berbagai karakter yang dapat kita gunakan. Kami diajarkan mengambil gambar dari sebuah situs yaitu situs Freepik images. Cari character → free download → copy and attribute dan diubah dulu ke format EPS. Dari EPS kita kita harus mengkonversinya terlebih dahulu ke bentuk WMF lalu di download. Konversi file ini bisa dilakukan secara online pada situs cloudconvert.com.  “Untuk menambahkan suara, kita bisa merekamnya sendiri lalu klik speaker abu-abu di powerpoint dan langsung bisa dimasukan.” Jelas pak Rahman sembari memberi penayangan video di kelas Temu Pendidik Daerah ini. “Sebelumnya kita bisa mempersiapkan naskah, apa saja yang akan kita masukan dalam dialog. Bisa berupa materi pelajaran, seperti tanya jawab guru dengan murid. Atau pun hal-hal lain yang ingin kita masukan ke dalamnya. Bila kita mempersiapkannya dengan matang, hasilnya pun akan lebih baik.” Tambah pak Rahman.  Agar peserta tidak bingung, Pak Rahman mempersilahkan para peserta untuk bertanya. Ibu Dhea bertanya cara mencari gambar yang tidak berbayar karena di internet banyak sekali situs yang mengharuskan kita membayar gambar yang kita pakai. Pak Iwan juga yang bertanya tentang bagaimana caranya mengconvert powerpoint yang sudah dibuat ke dalam bentuk video, karena setelah membuat powerpoint mulut bergerak, terkadang sebagai guru beliau merasa perlu untuk menyimpannya dalam bentuk video. Diterangkan oleh pak Rahman cara melakukannya yaitu: dari file→ save and send→ create video.  Namun 90 menit memang tidak cukup untuk mempelajari powerpoint mulut bergerak ini. Masih banyak rasa penasaran kami yang belum terjawab. Sepertinya kami masih membutuhkan pertemuan lanjutan berupa praktek bersama agar lebih menguasai materi ini. Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab karena terbatasnya waktu. Hal itu membuat kami semakin penasaran sehingga pertemuan lanjutan sepertinya akan dapat menjawab kebutuhan kami. Oleh karena itu pak Rahman memberikan kesempatan pada kami untuk menghubunginya jika ada pertanyaan lebih lanjut disamping mencari waktu lain yang tepat untuk membuat sesi kedua workshop ini.  Baca Juga: 7 Model Media Ajar Inovatif Kegiatan yang diadakan dalam rangkaian mengumpulkan donasi “Bantu Kuatkan Guru” di kitabisa.com ini mendapat respon positif dari para peserta. Melalui program yang digagas oleh KGB Nusantara ini, KGB Bandung turut mengajak setiap peserta yang ikhlas dan sedang diberi kemudahan rezeki dari Tuhan Yang Maha Esa, untuk memberi donasi yang nantinya akan didistribusikan oleh KGB Nusantara kepada guru-guru dan sekolah yang terdampak pandemi Covid-19. Tak dapat dipungkiri, bahwa keberadaan guru honorer maupun sekolah banyak yang terdampak finansial akibat adanya pandemi Covid-19 memerlukan dukungan dari segenap pihak. Semoga langkah ini senantiasa diberikan kemudahan dan keberkahan dari yang Mahakuasa. Aamiin.

Mengatasi Bullying, Membangun Cinta

Kasus Bullying yang terjadi di salah satu SMP di kota  Malang membuat prihatin masyarakat sekitar. Lantas, bagaimanakah cara mengatasi bullying yang telah terjadi? Semuanya dijelaskan dalam temu pendidik Malang ke 19, dengan tema “Stop Bullying Start Loving” yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru Belajar Malang, pada Minggu (16/2) di aula MI Alam Bilingual, Sengguruh, Kepanjen. Acara yang dihadiri oleh 60 peserta dari pendidik dan orang tua ini menghadirkan empat pembicara ternama yakni Bapak Wahyudi Siswanto Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang, Ibu Sri Wahyuningsih Direktur LSM  Women and Children Crisis Center, dan Ibu Elok Candra selaku Bibi korban, dan juga Mas Heri dari Peace Generation Malang. Di awal sesi acara, Bapak Wahyudi membuka dengan berbagai ice breaking yang meramaikan suasana acara. Acara ini dibagi empat sesi sesuai dengan urutan pembiacara. Di dalam sesi pertama, Dosen sekaligus pemilik MI Alam Bilingual ini menjelaskan bahwa salah satu pencegahan bullying melalui kasih sayang orang tua dan memberikan keteladanan yang baik bagi anak-anaknya. Bukan hanya itu, memberikan kekuatan spiritual kepada anak menjadi modal awal agar kelak anak mampu melakukan hal yang baik di mana saja.  Sesi pembicara kedua, Ibu Sri Wahyuningsih menambahkan jika kata bullying, berasal dari kata bull yang berarti banteng, sedangkan bully berarti gertakan, lantas jika digabungkan menjadi bullying yang bermakna tindakan agresif berupa penindasan dan pengintimidasian yang dilakukan oleh orang seseorang atau kelompok orang yang tidak bertanggung jawab dan dilakukan berulang-ulang, serta membuat korban menderita. Beliau juga menjelaskan ada beberapa jenis 4 jenis bullying yakni verbal (menghina, mengejek dll), fisik (dibanting, dipukul dll), relasional (menghindari, mengucilkan dll), dan elektronik (menyebar foto, mengancam dll). Selain menjelaskan jenis bullying kepada para peserta, beliau juga menjelaskan alasan perundungan atau bullying itu dapat terjadi di lingkungan sekitar kita, yakni pembully ingin dianggap berkuasa dan kelihatan keren karena meniru aksi film/game, tidak memiliki perhatian orang sekitar, akhirnya dia mengalihkan perhatian pada orang lain dengan cara menghina orang lain, melempar dll, pembully sebenarnya mantan korban bully yang akhirnya mencari korban bully berikutnya.  Baca Juga: Manajemen Konflik di Kelas Berbasis Sekolah Mantan Dosen hukum Universitas Brawijaya tersebut juga menjelaskan bahwa ada kajian hukum terhadap bullying anak yang tertuang dalam UU No 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPS) yakni (1) anak yang berkonflik dengan hukum yaitu anak menjadi terduga pelaku tindak pidana, (2) anak korban tindak pidana, dan (3) anak yang menjadi sasksi tindak pidana. Maka Bullying anak dapat dikategorikan sebagai tindak pidana yang dilakukan oleh anak, terhadap anak, ada saksi anak, karena bullying anak tersebut sudah mengancam keselamatan anak.  Lantas, tindakan apakah yang tepat ketika bullying terjadi di sekolah? Direktur LSM WCC itu menjelaskan bahwa perlunya urun rembug bagi upaya penyelesaian dengan cara pemulihan psikologis korban maupun pelaku. Jika dari pelaku diberi dukungan dan motivasi untuk bisa bersemangat sekolah lagi, sedangkan para pelaku diberi pendampingan psikologis untuk meminta maaf kepada korban, membimbing dan menyadarkan perilaku tersebut bukanlah perilaku yang baik dan dapat berakibat tindak pidana jika terulang lagi.  Di sesi ketiga, Ibu Elok Candra selaku bibi korban, menjelaskan jika kondisi korban saat ini mulai membaik dan mau sekolah lagi. Jika ditanya perihal apakah ingin pindah sekolah, ternyata korban tidak mau pindah sekolah dan tetap sekolah di sana, sebab banyak teman baik yang mendukung dan memberi semangat kepadanya, sehingga dia mau bersekolah lagi.  Di sesi pembicara terakhir yakni Mas Heri Susilo dari komunitas Peace Generation menjelaskan jika pelaku bullying sebenarnya diperlukan tindakan konsekuensi dan penguatan mental yang bagus agar pelaku mengetahui konsekuensi atau resiko yang didapat dari bullying, sehingga pembully mampu membatalkan rencananya untuk melakukan pembullyian. Bukan hanya itu, mas Heri juga mengajak masyarakat untuk menjadi pelopor perhentian bully dan mengawali semua tindakan dengan saling menghargai satu sama lain.  Acara yang berlangsung 4 jam ini ditutup dengan menulis surat kecil yang berisi harapan kepada Dinas Pendidikan Malang dalam mengatasi masalah perundungan agar Malang menjadi salah satu kota yang bebas dengan budaya bully. Ingin mengikuti pelatihan Manajemen Emosi Guru Merdeka Belajar?

Cara Menggambar dengan Fun Drawing

Ketika ada instruksi menggambar dalam waktu 60 detik, yang muncul di benak kita adalah cara menggambar gunung, sungai, matahari dan awan. Bukan menggambar objek lainnya. Kira-kira apa penyebab orang menyukai gambar gunung secara turun temurun? Semua itu dijelaskan dalam acara workshop komik literasi dan media pembelajaran yang diselenggarakan oleh komunitas guru belajar Malang bekerja sama dengan Vohasi Young Scientis SMKN 1 Singosari, Sabtu (23/2) di aula SMKN 1 Singosari.  Acara yang dihadiri kurang lebih 30 peserta ini terdiri dari guru dan siswa, baik dari SMKN 1 Singosari maupun sekolah luar ini menghadirkan trainer couple dari Tangerang, yakni Bapak Cahyo Al-Mansyur (Founder Rumah Asah Asih Asuh dan Fun Drawing Nusantara) dan istrinya Ibu Nurhasanah (Owner dan Psikolog Rumah Psikologi Hasanah serta Ketua PUSPAGA Tangerang).  Di sesi pertama, Ketua PUSPAGA Tangerang ini menjelaskan fungsi belahan otak kiri dan kanan, seringkali orang menggambar menggunakan otak kiri, sehingga menggambar terkesan terstruktur, mengingat contoh dan meniru, sehingga tidak heran jika gambar gunung menjadi gambar turun temurun karena sebagian orang menggambar dengan cara meingat-ingat contoh guru yang telah lakukan di masa sekolah dasar dulu. Butuh otak kanan dalam menggambar, sehingga menggambar menjadi hal yang paling menyenangkan, luwes, dan bebas Baca Juga: Menulis Praktik Baik Pembelajaran Di sesi selanjutnya, Bapak Cahyo mempraktekkan langsung cara menggambar dengan otak kanan menjadi hal yang menyenangkan, dengan cara menyuruh peserta menggambar suatu objek dengan menggunakan angka dan huruf. Hasilnya, rata-rata peserta sering menggunakan otak kirinya dalam menggambar, seperti disuruh menggambar melalui angka 2, hasilnya menjadi angsa, padahal angka 2 bisa menjadi benda lainnya. Founder Fun Drawing Nusantara ini kemudian mencontohkan menggambar dengan menggunakan otak kanan dengan berimajinasi sekreatif mungkin dan tanpa perlu menggunakan struktur menggambar secara formal, kemudian beliau mencontohkan menggambar jerapah menggunakan fun drawing melalui huruf J. dengan menarik ke atas menjadi leher dan kepala, kemudian bagian tengah menjadi tubuhnya. Sangat sederhana dan tanpa harus berpikir lama-lama dalam menggambar.   Setelah mempraktekkan menggambar dengan hal yang menyenangkan dan imajinatif, tahap berikutnya peserta diajak untuk membuat rancangan dasar pembuatan komik. Ada tiga tahap pembuatan komik.  Pertama, membuat story board, yakni menentukan tokoh disertasi dengan karakternya, setting (tempat, suasana, dan waktu) dan juga konflik. Kedua, tahap penerapan. Peserta disuruh membuat tiga kolom untuk mengaplikasi storyboard yang telah dibuat menjadi komik kasaran. Ketiga, melipat dua kertas dan membuat komik sesungguhnya dari rancangan yang telah disusun sebelumya.  Terakhir, di sesi penutupan Owner Rumah Psikologi Hasanah ini menjelaskan jika pengaruh menggambar dengan fun drawingitu menimbulkan reaksi yang bagus pada otak reptile manusia. Di dalam otak repril tersebut menimbulkan suatu hal yang membuat seseorang merasa senang, sehingga akan meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan inovatif.

Critical Thinking Skill dalam Pembelajaran Jarak Jauh

Pandemi Covid-19 ini telah memberikan dampak luar biasa kepada kegiatan pembelajaran yang kita jalani. Pembelajaran jarak jauh yang beberapa waktu ini kita jalani pun, tidak lepas dari berbagai permasalahan: (1) tempat belajar murid yang kurang kondusif (2) akses gawai yang tidak memadai (3) kendala konektivitas internet (4) tidak siapnya institusi pendidikan dengan pembelajaran jarak jauh (5) dukungan keluarga dan pihak sekolah terhadap kondisi belajar murid (6) kurangnya kemampuan murid dalam critical thinking skills serta (7) kurang beragamnya sumber belajar yang inspiring. Pada Temu Pendidik Daring KGB Surakarta, Selasa, 07 Juli. 2020, Ibu Rizky Setyaningrum menyampaikan materi mengenai Critical Thinking Skill dalam pembelajaran jarak jauh. Menurut data OECD, 1 dari 9 murid di Indonesia mampu membedakan fakta dan opini berdasar clue implisit dari sumber informasi. Apa artinya? Artinya bimbingan dan bantuan guru sangat penting untuk mengarahkan murid melakukan cara berpikir lebih tinggi (HOTS) dalam PJJ ini. Apa saja poin yang mesti guru perhatikan dalam Pembelajaran Jarak Jauh yang mengarahkan pada Critical Thinking Skills? Mendemostrasikan keterampilan yang akan diajarkan. Menyediakan kesempatan untuk berpikir lebih tinggi (HOTS). Menganjurkan dan mendorong murid untuk bertanya. Pembelajaran dan penilaian lebih berfokus pada pelaksanaan assessment for learning (formatif). Memberikan sumber belajar tambahan yang mengeksplor critical thinking skills. Menyediakan aktivitas ‘guided writing’ dan dorongan untuk berpikir. Memberikan feedback yang memberi contoh critical thinking skills. Lebih focus pada penilaian yang menggabungkan HOTS dan mengevaluasi kerja murid berdasarkan analisis, aplikasi, dan kreasi (penciptaan) daripada penilaian yang bersifat penggalian memori. Meyakinkan murid bahwa tidak ada satu-satunya jawaban yang benar, selama murid memberikan alasan yang valid dalam tugas mereka. Bila murid gagal dalam menunjukkan penguasaan suatu konsep atau keterampilan, guru dapat memberikan kesempatan untuk mencoba kembali dengan memasukkan refleksi yang mendorong murid untuk mempertimbangkan ‘bagaimana’ dan ‘kenapa’. Keterampilan apa saja yang bisa digunakan guru saat membuat worksheet yang mengarah pada critical thinking skills? Mengidentifikasi Fakta dan Opini (identify facts and opinions) Memiliki kemampuan untuk membedakan fakta dan opini adalah hal penting untuk mengembangkan critical thinking skills. Opini bersifat subjective, sementara fakta adalah kebenaran yang dapat dibuktikan.  Contoh fakta: Musim gugur dimulai bulan September. Contoh opini: Musim gugur adalah musim terindah sepanjang tahun. Mencari persamaan dan perbedaan (compare and contrast) Analisis comparatif (mencari persamaan) dan analisis kontras (mencari perbedaan) adalah latihan yang baik untuk mengembangkan critical thinking skills. Contoh: guru dapat meminta murid untuk mencari persamaan dan perbedaan musim semi dan musim gugur. Mensortir dan mengklasifikasi (sort and classify) Mengkategorikan objek berdasar kriteria tertentu juga merupakan latihan yang baik untuk mengembangkan critical thinking skills.  Contoh: guru memberikan murid daftar kota dan atau negara dan meminta mereka untuk mensortir ke dalam kelompok-kelompok tertentu berdasarkan kriteria-kriteria yang bervariasi.  Membuat prediksi (making predictions) Mintalah murid untuk berhenti sejenak dan membuat prediksi ketika membaca. Keterampilan berpikir ini dapat dipraktikkan dengan memberikan beberapa kalimat kepada murid dan meminta murid untuk memprediksikan apa yang akan terjadi atau meminta murid untuk menuliskan ending nya. Selanjutnya guru meminta murid untuk membagikan prediksi mereka dan mendiskusikan perbedaan pendapat antar murid serta alasan dibalik pendapat mereka. Menduga dan menyimpulkan (inferring & drawing conclusions) Menduga adalah membuat kesimpulan berdasarkan bukti. Contoh: ada sepiring kukis di dapur. Satu-satunya yang masuk ke dapur adalah anjingmu. Kukis-kukis tersebut hilang. Apa menurutmu yang terjadi dan kenapa kamu berpikir demikian? Mempraktikkan keterampilan-keterampilan berpikir tersebut dapat membantu murid mengembangkan kemampuan mereka menganalisis informasi. Berikut ini contoh kegiatan pembelajaran yang melibatkan critical thinking skills untuk materi narrative. Tanya-Jawab Bagaimana tips jitu mengaktifkan siswa saat kita menggunakan hots ini ? (Ibu Yayu Arundina) Ketika seorang murid menjawab, akan saya lempar balik ke teman lainnya untuk setuju/tidak setuju dan alasannya. Lama-lama mereka membuat reasoning dan terciptalah nuansa HOTS. Bagaimana cara ibu membuat critical thinking terasa mudah dijalani bagi murid? (Bapak Dewo Uwo KGB Surakarta) Biasanya, saya tidak akan bilang bahwa ini adalah langkah berpikir tingkat tinggi supaya anak tidak khawatir dan takut. Saya Cuma bilang, bahwa siapa pun boleh berpendapat dan tidak boleh ada teman yang saling mengejek pendapat teman lainnya karena semua jawaban bisa jadi benar asalkan disertai alasan yang masuk akal. Bagaimana mengkomunikasikan pembelajaran HOTS pada ortu? (Ibu Kristijorini KGB Surakarta) Biasanya sih saya hanya menjelaskan materi pada ortu dan siswa dan mempersilakan mereka untuk bertanya. Asalkan mereka mengikuti steps by steps kegiatan pembelajaran, mereka tidak akan terasa bahwa sebenarnya sudah masuk kegiatan yang bersifat critical thinking skills Ingin mengikuti PelatihanMerancang Pembelajaran Jarak Jauh Merdeka Belajar?

Menyusun RPP PJJ Merdeka Belajar

Pada hari Selasa tanggal 23 Juni 2020. Komunitas guru Belajar Pesisir selatan mengadakan Temu Pendidikan Sekolah (TPS) yang ke-1 di UPT SDN 01 Pancung Soal. Saya (Yeni Fitri) sebagai narasumber penyusunan RPP Satu lembar dan RPP PJJ. Acara ini diselenggarakan dalam rangka Lokakarya Guru UPT SDN 01 dan 05 Pancung Soal. TPS dihadiri 22 orang peserta. Peserta terdiri dari majelis guru UPT SDN 01 Pancung Soal, dan majelis guru UPT SDN 05 Pancung Soal. Dimoderatori oleh ibu Ferlindiati, S.Pd selaku Kepala UPT SDN 05 Pancung Soal. Koordinator acara ini ibu Suryati Ningsih, S.Pd selaku Kepala UPT SDN 01 Pancung Soal. TPS ini merupakan kegiatan hari kedua lokakarya bagi majelis guru UPT SDN 01 dan UPT SDN 05 Pancung Soal. Setelah sebelumnya mereka membahas tentang instrumen dan kelengkapan bahan penyusunan KTSP di satuan pendidikan yang dipandu oleh ibu Ita Jumaidarti, S.Pd selaku Pengawas UPT SD Kecamatan Pancung soal. Walaupun ini merupakan hari kedua lokakarya. Namun semangat dan kemauan para majelis guru UPT SDN 01 dan SDN 05 Pancung Soal untuk terus belajar tetap berkobar. Dapat dilihat dari antusiasnya peserta dalam mengikuti lokakarya. Terbukti dengan hadirnya seluruh majelis guru dari kedua sekolah tersebut. Walau ada beberapa orang guru dari UPT SDN 05 Pancung Soal yang terlambat hadir karena ada keperluan lain. Namun mereka tetap menyempatkan diri untuk hadir dan belajar bersama di ruang pertemuan UPT SDN 01 Pancung Soal ini. Karena ini sudah merupakan hari kedua dari kegiatan lokakarya. Maka acara pembukaan dari moderator tidak terlalu panjang lebar, dan kata sambutan dari koordinator pun disampaikan dengan singkat dan padat. Beliau berharap agar peserta dapat mengimplementasikan ilmu yang telah didapat. Baik itu terkait dengan merdeka belajar. Maupun cara pembuatan RPP Merdeka Belajar dan RPP PJJ yang nantinya akan disampaikan oleh narasumber. Saya mengenalkan dulu konsep merdeka belajar yang telah dicetuskan oleh Kampus Guru Cikal (KGC) dan Komunitas Guru Belajar (KGB). Saya menanyakan persepsi dari rekan guru yang hadir terlebih dahulu. Apa konsep merdeka belajar yang selama ini mereka tau dan mereka dengar. Ada yang berpendapat bahwa merdeka belajar itu murid bebas dalam belajar. Adapula yang mengatakan bahwa merdeka belajar itu kebebasan bagi guru dalam mengajar. Melengkapi pendapat sebelumnya guru Vhera dari UPT SDN 05 Pancung Soal ikut berpendapat bahwa merdeka belajar itu kebebasan bagi guru dalam memilih proses pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan murid Terkait dengan konsep merdeka belajar, saya mengenalkan tentang KGB dan KGC kepada para peserta workshop, apa itu KGB dan KGC. Apa saja yang dihadirkan KGC untuk membantu meningkatkan kompetensi guru. Serta praktik baik rekan guru di seluruh Nusantara yang tergabung dalam anggota KGB dan pengalaman saya selama bergabung dengan KGB. Hal ini sebagai gambaran bagi peserta TPS untuk ikut bergabung  dan belajar bersama di Komunitas Guru Belajar (KGB). Untuk lebih memberikan pemahaman dan kesamaan persepsi tentang merdeka belajar dan Guru Merdeka Belajar. Saya mengajak peserta Temu Pendidik Sekolah (lokakarya) melakukan Nobar Guru Merdeka Belajar. Menonton video pemaparan ibu Najelaa Shihab pada Temu Pendidik Nusantara (TPN) tahun 2016. Peserta tampak antusias sekali dalam menyaksikan video tersebut. Setelah selesai menyaksikan video Guru Merdeka Belajar, saya mengajak para peserta untuk berefleksi tentang miskonsepsi Guru Merdeka Belajar. Dari sekian banyak miskonsepsi Merdeka belajar yang dikemukakan oleh ibu Elaa, kira-kira poin mana yang mencerminkan diri peserta. Banyak diantara peserta yang mengaku bahwa mereka masih terjebak dalam miskonsepsi belajar. Belajar jika hanya ada perintah dari atasan, belajar jika hanya mendapatkan sertifikat, belajar jika hanya ada uang transportasi dan akomodasi, dan lain sebagainya. Peserta masih merasa merupakan cerminan dari. Dari sini saya mengajak rekan guru yang hadir pada saat itu untuk melakukan perubahan. Berubah menjadi Guru yang Merdeka Belajar, yang bisa membawa perubahan terhadap proses belajar peserta didik. Saya juga sampaikan konsep pendidikan KI Hajar Dewantoro. Guru adalah teladan dan panutan bagi muridnya, untuk itu kita harus mampu menjadi guru yang belajar agar murid kita juga bisa menjadi murid yang belajar. Guru harus menjadi guru merdeka belajar, supaya murid juga bisa menjadi murid yang merdeka belajar. Kegiatan dilanjutkan dengan cara penyusunan RPP satu lembar. MembahasSurat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 14 tahun 2019. Disini saya sampaikan kembali bahwa esensi RPP satu lembar bukan terletak di banyak lembarannya, tetapi bagaimana kita guru mampu merancang proses pembelajaran yang berorientasi dan berpihak pada murid. Di KGB RPP ini dikenal dengan istilah RPP Merdeka Belajar. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Saya juga sampaikan penyusunan RPP Merdeka Belajar ini harus memperhatikan profil murid. Semuanya dapat dituangkan dalam Kanvas Strategi Pembelajaran yang merupakan alat bantu dalam penyusunan RPP. Saya tayangkan dan sampaikan kepada peserta apa itu Kanvas strategi pembelajaran. Apa-apa saja poin yang terkandung di dalamnya, serta bagaimana cara menyusunnya. Pada saat saya menyampaikan cara memetakan profil murid, ada peserta yang bertanya. Apakah profil tersebut boleh ditambah dengan poin lain, selain pekerjaan orang tua minat dan cara belajar? Jawabannya boleh, sesuai dengan kebutuhan kita. Kemudian ada juga peserta yang bertanya bagaimana jika minat anak itu banyak, tidak hanya 3 itu saja. Saya jelaskan kembali, untuk kesemuanya itu kita bisa pilih yang mayoritas dulu. Dan ketika sampai pada pemaparan materi pemilihan strategi pembelajaran. Saya sampaikan Strategi 5M Kampus Guru Cikal dalam memilih strategi pembelajaran yang berpihak kepada murid. Tampak sekali antusias peserta dalam mengikuti kegiatan ini. Hal ini dapat dilihat dari banyak nya pertanyaan, sanggahan, serta masukan dan pendapat tentang strategi ini. Seperti saat saya sampaikan strategi 5 M dengan memilih tantangan sesuai dengan bakat dan kemampuan. Bahwa dalam proses pembelajaran kita harus memperhatikan kemampuan murid yang beragam. Maka proses dan evaluasi juga bisa beragam, sesuai dengan kemampuan murid. Hasil pembelajaran tidak hanya  mengutamakan capaian akhir, tetapi juga proses yang sudah dilakukan murid.  Disini saya mendapat sanggahan dari salah seorang guru SDN 01 Pancung soal ibu Sri Desmiati. Beliau  berkata bagaimana kita tidak mengutamakan hasil akhir, sedangkan kita dituntut dengan capaian KKM yang harus dituntaskan murid. Saat ini murid tidak dibenarkan untuk tinggal kelas. Semua murid harus mencapai KKM. Sehingga murid yang tidak mampu disulaplah nilai nya untuk mencapai KKM tadi. Hal ini jelas sekali bertentangan dengan prinsip 5M. Disinilah letak kekeliruan kita selama ini. Kita … Read more

Strategi PJJ dengan Coaching

Sudah berbulan-bulan sekolah di Indonesia melakukan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Akibat pandemi yang terjadi berdampak pada berbagai aspek termasuk ke bidang pendidikan. Hal ini bukan sesuatu yang mudah bagi guru, bagi anak dan bagi orang tua. Situasi dan kondisi antara rumah dan sekolah yang berbeda tentunya sangat mempengaruhi mood murid dan tidak semua murid memiliki device yang mumpuni, sehingga menjalin kerjasama dengan orang tua menjadi coach yang sinergi menjadi kunci keberhasilan dalam pengembangan anak, orang tua dan guru harus menjadi partner. Lalu bagaimana peran pendidik dan orang tua terutama saat PJJ? Untuk itu pada kegiatan temu pendidik daerah kali ini akan mencoba mengupas tentang bagaimana peran guru dan orang tua dalam mengembangkan anak. Tema yang diangkat adalah “Teachers and Parents as Coaches” dimana yang menjadi narasumbernya adalah Mharta Adji Wardana, beliau aktif dalam dunia pendidikan dan pengajaran serta pengembangan karakter.\ Sebagai pembuka narasumber memberikan pernyataan tentang apa arti ‘Coach’ itu sendiri adalah seseorang yang mendampingi coachee nya untuk berkembang lebih baik lagi. Lalu kenapa dihubungkan dengan pendidikan? karena pada hakikatnya pendidikan sendiri adalah membawa seseorang untuk lebih beradab karena pendidikan itu sendiri adalah membawa orang menjadi lebih baik lagi dari waktu ke waktu. Saat ini dunia berubah secara eksponensial, sehingga tantangan saat ini untuk para pendidik adalah pendidik harus segera berbenah meningkatkan kualitasnya mengingat sekarang kita melakukan pembelajaran jarak jauh dimana pendidikan sudah berubah ke era digital dan mau tidak mau guru adalah elemen utama dalam dunia pendidikan, sehingga guru harus meninjau ulang pada diri masing-masing apa performa yang harus ditingkatkan? Bisakah kita mempertahankan kualitas kita saat mengajar langsung dengan saat kita mengajar daring? PJJ ini menjadi momentum bagaimana kita untuk bisa membuat pembelajaran yang berpusat pada murid dan tugas kita memfasilitasi murid untuk tahu tentang bagaimana cara belajar, membangun motivasi intrinsik anak agar tidak selalu bergantung kepada guru dan anak diharapkan menjadi pembelajar mandiri. Jika anak masih tergantung pada guru berarti motivasi intrinsik anak belum tersentuh, untuk itu penting untuk menguatkan anak bahwa dia punya kehebatan/kemampuan. Saat ini pendidikan menggunakan teknologi dijadikan teman untuk murid belajar, sehingga guru harus dapat membuat sebuah kualitas konten pembelajaran jarak jauh. Konten (kualitas pengajaran/materi) dan motivasi belajar mengajar saat PJJ memiliki porsi 50:50. Sebelum masuk ke konten yang perlu kita benahi adalah paradigma kita tentang kesediaan kita untuk berperforma lebih baik lagi sebagai pengajar yaitu paradigma inside out bukan outside in. PJJ Daring membutuhkan platform, maka kegiatan yang dapat dilakukan seperti: Video Conference Dubbing Video Materi Pelajaran Share Slide Materi Live Whiteboarding Open -ended question/project/portfolio Kegiatan saat ini harus mulai bergerak ke arah open-ended question/project/portfolio dimana anak melakukan sesuatu dalam jangka waktu tertentu. Materi dikemas dalam sebuah tugas dimana indikatornya dapat tercapai semua melalui hasil karya murid, dimana hasilnya tidak akan sama, murid berkreasi sendiri. Makna coaching sendiri adalah : Mengarahkan murid melalui pertanyaan ‘What do you want?’ (bukan directing). Sehingga tugas kita adalah mendampingi/menampung untuk menggerakkan, kita bukan mengarahkan anak maunya kemana, kata kuncinya adalah pertanyaan. Coach berorientasi pada kebahagiaan dan ketenangan hati sang coachee untuk terus berkembang sesuai dengan resources yang ia miliki. Teachers and parent as a coach Prinsip coaching: 1. Bangun kedekatan :Setelah kita bangun kedekatan kita bisa memberikan follow up, sebisa mungkin anak merasa nyaman. Jika anak masih pasif biasanya karena anak belum merasa percaya. Bisa dilakukan dengan pendekatan secara personal2. Berikan pertanyaan yang berorientasi pada penggalian potensi anak kita Penggalian potensi dengan memberikan banyak pertanyaan terbuka dan provokatif yang memancing murid untuk berpikir kritis.3. Hibur dan semangati Narasumber menceritakan sebuah kisah nyata tentang perjuangan dan dedikasi dari seorang yang bernama Dasrath Mnadji dan hikmah yang dapat dapat diambil dari kisah Dasrath Manji tersebut adalah dedikasi dan semangat yang tinggi untuk berkontribusi (purpose of life), sehingga kisah ini dapat kita jadikan acuan dalam mendidik yaitu ‘Educating with purpose’ (mendidik murid dengan tujuan mulia), untuk itu kita dapat mulai mencobanya dengan membuat purpose statement yang diawali dengan tiga pertanyaan: 1. (ACTION) Hal menyenangkan apa yang akan Anda lakukan ? Misalnya : Membuat video pengajaran Mengajar dengan semangat dan keceriaan Melakukan penelitian 2. (PEOPLE) Kepada siapa anda ingin memberi manfaat sebesar besarnya ? Misalnya : Anak saya Murid-murid saya Institusi saya 3. (HELPING) Jika Anda memiliki kekuatan lebih, apa yang akan Anda lakukan untuk membantu orang lain ? Misalnya : Mengembangkan Memajukan Memberdayakan Lalu buatlah purpose statement itu dalam rangkaian sebuah kalimat, seperti: “Dalam upaya menjadi pendidik terbaik saya ingin mengembangkan, memajukan, memberdayakan anak saya, murid-murid saya, dan institusi saya dengan membuat video pengajaran, mengajar dengan semangat dan penuh keceriaan, dan melakukan penelitian sebaik mungkin” Harapannya dengan kita membuat purpose statement ini kita ingat apa yang kita punya, sesuai dengan habbit 2 (begin with the end in mind), sebagai pengajar kita tahu bahwa apa yang kita tuju itu apa? Saat kita ingat purpose kita, maka kita akan punya dorongan yang lebih kuat untuk meningkatkan kualitas performa di tempat masing-masing. Di sesi akhir sharing TPD kali ini, narasumber memberikan sebuah kutipan yang memberikan semangat bagi kita para pengajar agar terus selalu berusaha lebih baik, “Selagi kita masih dimampukan untuk olah pikir dan olah rasa kembangkan pemikiran dan lakukan kebaikan semaksimal mungkin kita bisa, meski dihadapkan dengan rintangan dan kendala jangan sekali kali kita berputus asa karena Tuhan sangat bangga melihat kita terus berjuang dan berusaha, karena kita ditugaskan oleh Tuhan menjadi pelopor mengembangkan murid sehingga kita bisa maksimal selama kita bisa.” Ingin mengikuti pelatihan Merancang Pembelajaran Jarak Jauh?

Membahas Merdeka Belajar di Masa Pandemi

Perlukah membahas Merdeka Belajar di masa pandemi?Mengapa harus merdeka belajar dan harus memahami konsep tersebut? Apakah merdeka belajar hanya sekedar trend yang digaungkan?Apakah guru sudah memahami arti dari merdeka belajar sebelum menerapkan merdeka belajar itu sendiriApakah merdeka belajar lantas membuat guru terbebas dari tugasnya sebagai seorang pendidik? dan memberikan kebebasan sepenuhnya kepada siswa untuk belajar tentang apa saja yang mereka sukai dan mereka inginkan? Untuk menjawab pertanyaan dan menuntaskan rasa penasaran tersebut, Komunitas Guru Belajar Wajo berinisiasi melaksanakan Temu Pendidik Daerah. Namun karena nobar guru merdeka belajar dilaksanakan di masa pandemi, maka dilakukan melalui aplikasi Zoom Meeting. Nonton bareng melalui aplikasi Zoom Meeting ini dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 17 Agustus 2020 pukul 13.30 WITA. Yang bertindak sebagai host Besse Tenriola yang merupakan anggota KGB Wajo dan bertugas di SMP Negeri 1 Majauleng. Kemudian yang bertindak sebagai moderator adalah Lewa, M.Pd. yang merupakan anggota KGB Wajo yang bertugas di SMP Negeri 2 Majauleng. 30 menit sebelum acara dimulai host memulai untuk mengaktifkan room yang sudah dibua sebelum hari pelaksannan nobar. Tepat pukul 13.00 WITA, host memulai kegiatan dengan menjelaskan kepada peserta tentang aturan/tata tertib selama pelaksanaan berlangsung. Setelah itu dilanjutkan oleh moderator. Jumlah peserta yang bergabung diantaranya penggerak KGB Wajo, guru SMPN 1 Majauleng, Guru SMPN 3 Majauleng, Guru SMP Kec. Tanasitolo, Guru SMP Kab. Jeneponto, dan guru SD kabupaten Bulukumba. Acara  nobar dimulai dengan disapanya peserta oleh moderator, kemudian menyilahkan peserta untuk mengisi daftar hadir yang telah disematkan oleh host di kolom chat.kemudian selanjutnya moderator memberikan kesempatan kepada Ibu Sitti Rahmah untuk memberikan pengantar sebelum masuk ke inti acara. Dalam pengantarnya, Ibu Rahmah memperkenalkan tentang KGB Wajo dari awal terbentuknya sampai sekarang ini aktif menyelenggarakan kegiatan-kegiatan seperti ini. Ibu Rahmah juga menyampaikan harapan agar dengan diselenggarakannya acara ini guru bias lebih memahami konsep merdeka belajar dan meminimalisir adanya miskonsepsi tentang merdeka belajar itu sendiri. Setelah memberikan pengantar, moderator melanjutkan dengan pemutaran video. Dalam video tersebut yang menjadi pembicara adalah Ibu Najelaa Shihab, beliau adalah seorang pakar pendidikan sosok dibalik terbentuknya Komunitas Guru Belajar dan Merdeka Belajar. Dalam video tersebut Ibu Najelaa yang akrab disapa Bu Ela mengatakan bahwa salah satu tantangan utama guru sekarang ini adalah membedakan antara cara dan tujuan. Banyak murid maupun guru yang masuk kelas tanpa tujuan dan kejelasan. Tak heran saat ditanya bagaimana kelas hari ini, atau apa yang dipelajari hari ini, jawaban langganan adalah biasa saja atau tidak tahu. Kemudian lanjutnya pendidik yang merdeka adalah yang memiliki komitmen, mandiri, dan refleksi.  Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Komitmen seseorang yang merdeka belajar adalah ketekunannya dalam perjalanan menuju tujuan yang bermakna bagi diri sendiri. Ada beberapa pertanyaan yang langsung terbersit begitu mendengar definisi ini, terutama bagi kita yang jarang mempertanyakan tujuan, dan sekadar ikut saja dalam perjalanan. Proses yang memerdekakan terus menekankan pada kekuatan internal; setiap anak bisa memperbaiki kesalahan asal dijelaskan langkah menuju tujuan dan disiapkan bekal dalam perjalanan. Di sinilah fungsi guru yang sesungguhnya, memindahkan kompas dari tangannya ke tangan anak. Dalam proses yang ideal, tidak seharusnya ada murid yang ketergantungan pada guru, murid yang menyalahkan nasib atau mengandalkan kecurangan. Komitmen berarti bertanggung jawab, dan sebagaimana namanya hal ini tidak mungkin terjadi instan. Untuk bisa menumbuhkan komitmen yang berkelanjutan, murid membutuhkan kemampuan memahami tujuan belajar dan peran guru dalam mengajar. Banyak dari kita yang masuk kelas, tanpa memberikan gambaran tujuan dan rute perjalanan kita pada murid, seberapa jauh mereka akan ikut serta dan kapan mereka akan mandiri. Apakah kita menggunakan kegiatan dan melakukan interaksi yang membantu mencapai tujuan adalah bagian dari percakapan harian. Tentu jawabannya tidak akan 100% sempurna, tapi terus membahasnya atau mengingatnya dengan menempel tujuan besar dan tujuan antara di mading kelas, akan membantu semua orang berkomitmen bersama. Memberikan dan memahami instruksi bukan sekadar soal 2-3 poin di lembar kerja di setiap jam pelajaran, dalam belajar-mengajar instruksi demi instruksi adalah alat mencapai tujuan yang bukan sekedar menyelesaikan tugas atau mengikuti apa yang disuruh guru. Untuk bisa menumbuhkan komitmen berkelanjutan, murid membutuhkan kemampuan memusatkan perhatian, berkaitan dengan pencapaian tujuan harian maupun jangka panjang.  Selanjutnya menurut Bu Ela mandiri adalah proses yang kita gerakkan. Mandiri dalam arti sesungguhnya adalah memegang kendali. Dalam percakapan dengan guru belajar dari Sukabumi, saya terhenyak oleh masih banyaknya praktek manipulasi yang terjadi saat berbicara tentang pengembangan guru; uang, kepentingan dan jabatan – mengotori semangat belajar. Tingkat pelibatan publik di Indonesia sebetulnya cukup tinggi, secara umum data menunjukkan tingkat keterlibatan di negara berkembang memang lebih baik dibanding negara maju. Namun, saat kita melihat tahapan pelibatan publik, lebih banyak guru yang kemudian berhenti sampai di tingkat konsultasi atau kemitraan, belum sampai ke tingkat berdaya dan mengendalikan. Padahal perubahan nyata membutuhkan tingkat keterlibatan tertinggi. Kemampuan refleksi merupakan salah satu hal penting bagi seorang guru merdeka belajar.  Refleksi ini mudah dikatakan, namun sulit dilakukan. Sebagian dari kita menolak membuka mata dan melihat cermin, dengan seratus alasan, masyarakat belum siap, orangtua tidak mendukung, murid tidak paham, dan seterusnya. Transparansi dan akuntabilitas pendidik disederhanakan sampai kehilangan maknanya sekedar skor dan mengisi form. Refleksi selesai dengan selesainya tugas administrasi, tanpa percakapan yang bermakna dan mendorong kita untuk berubah.. sejatinya refleksi dilakukan untuk mendapatkan sesuatu yang bermakna yang akan memberikan semangat dan dasar perubahan ke yang lebih baik lagi. Yang menjadi penghambat pendidikan di Indonesia adalah terjadinya miskonsepsi yang mengungkung guru dalam pengembangan mengembangkan diri. Miskonsepsi yang dinyatakan oleh Bu Ela diantaranya : Miskonsepsi 1 : Guru hanya akan belajar bila ada insentif, janji sertifikat, atau penghargaan Miskonsepsi 2 : Guru hanya bisa belajar dari pakar dan ahli. Miskonsepsi 3 : Guru hanya perlu mengikuti resep standar “how to” bagaimana melakukan sesuatu.  Miskonsepsi 4 : Pengembangan guru bisa dilakukan instan, dipaksakan dengan target terburu-buru. Miskonsepsi 5 : Kompetensi guru adalah soal kemampuan dan pengukuran individu. Guru juga perlu figur yang realistis bukan yang ahli. Belajar dengan tujuan  dalam konteks, guru yang profesional adalah guru yang adaptif yang tahu apa yang dibutuhkan siswa. Guru belajar butuh waktu untuk belajar inovasi, kompetensi dan tumbuh bersama lingkungan. Guru yang merdeka belajar adalah kunci, bukan hanya pernyataan bahwa guru adalah kunci. Untuk melawan dan menaklukkan miskonsepsi tersebut Komunitas Guru … Read more