Memahami Konsep dengan Teknologi

Teknologi merupakan sejumlah kompetensi, metode dan proses menghasilkan produk atau layanan untuk mencapai tujuan sedangkan. Memahami Konsep adalah menguasai pemahaman terhadap konsep yang dapat diterapkan di beragam konteks. Nah apakah teknologi dapat membuat murid lebih memahami konsep yang esensial? Pada Temu pendidik daerah ke 44 yang berlangsung pukul 16:00, sabtu tanggal 21 Oktober 2020 pada kanal youtube komunitas guru belajar makassar, yang di pandu oleh Ibu Rienda Noor Asyifa yang sering disapa ibu Noor dengan tema Teknologi untuk Memahami Konsep yang dibawakan langsung oleh Ketua KGB Makassar Ibu Anita Taurisia Putri yang sering disapa ibu Anita. Mengawali materinya ibu Anita menjelaskan beberapa miskonsepsi yang kerap terjadi dalam penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran utamanya pada masa pandemi saat ini yakni, miskonsepsi yang pertama pendayagunaan teknologi pendidikan hanya sekedar untuk latihan soal atau penjelajahan pengetahuan. Padahal sesungguhnya murid menggunakan aplikasi untuk mendukung keterampilan berpikir tingkat tinggi, dalam proses pembelajaran yang dilakukan bu Anita dalam menggunakan aplikasi dengan murid-murid yang pertama bu Anita lakukan bukan sekedar mengirimkan soal-soal dengan menggunakan learning manajemen sistem (LMS), namun apakah dengan menggunakan aplikasi LMS terbaru murid dapat menggunakan kemampuan berpikir kritisnya? Sebagai contoh ketika guru mengirimkan soal menggunakan aplikasi apakah murid akan menggunakan kemampuan berpikir kritis untuk menjawab soal tersebut atau murid hanya sekedar menjawab soal-soal. Miskonsepsi yang kedua Penggunaan teknologi membuat proses memahami konsep dalam belajar menjadi lebih cepat, padahal sesungguhnya teknologi membuat proses memahami konsep lebih terstruktur secara personal. Integrasi digital yang membangun pemahaman utuh. Sebagai contoh ketika guru bertanya tentang suatu aplikasi dalam proses pembelajaran, namun ada murid yang mengalami kendala dalam hal aplikasi tersebut, ketika terjadi hal tersebut menurut bu Anita guru seharusnya menggunakan Teknologi yang secara personal bisa digunakan secara menyeluruh oleh semua murid. Miskonsepsi yang ketiga Platform digital hanya dinilai dari jumlah kumpulan konten yang diproduksinya, padahal sesungguhnya integrasi digital memungkinkan kesempatan kolaborasi dengan berbagai sumber pengetahuan yang ada. Di Masa awal PJJ yang bu Anita lakukan dalam menerapkan teknologi dalam memahami konsep dengan menentukan strategi pembelajaran, dalam pembelajaran yang pertama bu Anita lakukan adalah memetakan lokasi murid yang berbeda, karena seluruh murid bu Anita tersebar di beberapa kabupaten kota di Indonesia sehingga diperlukan pemetaan terkait kondisi jaringan. Memetakan kondisi orang tua hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana peran orang tua dalam PJJ. Berkomunikasi dengan orang tua/wali murid hal ini dilakukan agar capaian tujuan belajar dan teknologi yang digunakan dalam PJJ dapat terjangkau oleh semua murid dan orang tua. Memandu murid dalam pembelajaran jarak jauh.  Memandu murid untuk menguasai pemahaman mendalam konsep di beragam konteks. Mengapa hal tersebut dilakukan ibu Anita karena keseharian dari murid sebelum PJJ yang tinggal di pesantren terbiasa tidak menggunakan gawai dan PC. “Teknologi akan menjadi pembeda ketika guru melakukan proses pembelajaran. Teknologi mempunyai potensi membantu murid untuk mengembangkan pemahaman, mengkonstruksi pengetahuan dan mengembangkan kemampuan bernalar murid yang harus dipegang sebagai guru” – Anita Taurisia Putri Menurut bu Anita dalam melakukan praktik pembelajaran di kelas dalam hal menggunakan teknologi, masih banyak miskonsepsi seperti halnya banyak guru yang menggunakan teknologi hanya sekedar proses mengunduh materi seperti mengunduh materi di youtube. Bu Anita ingin Teknologi bukan hanya sampai pada proses mengunduh tetapi murid dapat menggunakan kemampuannya untuk memilih berbagai jenis proses belajar seperti, memverifikasi, menemukan pembeda, membandingkan, mensintesis, mengklarifikasi, berdiskusi, menguji/coba dan memproduksi pengetahuan. Bu Anita juga memberikan contoh proses proses belajar yang dialami semasa dirinya di sekolah dimana buku yang menjadi sumber belajar utama, berbeda dengan yang dialami anaknya sekarang yang duduk di bangku SMP dengan menggunakan teknologi murid dapat berkreasi dan mencipta dengan teknologi yang dikuasai oleh murid sehingga inilah yang menjadi pembeda proses belajar dengan adanya teknologi agar kemampuan bernalar murid menjadi berkembang. Baca Juga: Pembelajaran Jarak Jauh dengan 5M Salah satu contoh penggunaan teknologi untuk memahami konsep yang dibagikan oleh ibu Anita yakni “Mengajar Berekspresi dengan Roda Emosional” yang dilakukan oleh Elia Yovan Chandra dari KGB Tangerang Selatan Sekolah Cikal serpong. Dalam proses ini guru Elia Yovan mengajarkan murid untuk berekspresi. sehingga membantu murid-murid untuk memahami konsep berekspresi saat bermain dengan menggunakan roda emosional. Dengan bermain murid menjadi termotivasi sehingga konsep lebih mudah mengendap dengan roda emosional. “tolak ukur dari keberhasilan sebuah pembelajaran ialah bagaimana guru mampu membuat murid-muridnya tidak hanya sekedar paham materi tetapi juga mampu mengaplikasikan materi tersebut” Apa peran Asesmen dalam teknologi?” Pertanyaan dari salah satu peserta TPD. Dengan menggunakan teknologi. Teknologi biasa digunakan sebagai asesmen formatif dan asesmen sumatif, namun bu Anita memberikan saran agar sekolah menyepakati terlebih dahulu teknologi apa yang akan digunakan sehingga murid tidak menjadi bingung. Bagaimana Tips menyusun panduan belajar terkait teknologi agar murid dapat memahami konsep ? Tips menyusun panduan belajar terkait teknologi agar murid dapat memahami konsep. Dalam Menyusun panduan belajar sebelum memilih teknologi guru diharapkan Backward Thinking (Berpikir Mundur) dengan membuat profil murid, sehingga bisa dituangkan dalam RPP Merdeka Belajar sehingga guru lebih mudah nantinya dalam memilih teknologi dan membuat panduan belajar. Sebagai kesimpulan bahwa memahami konsep dalam usia belajar butuh proses yang tidak instan, kapan dan bagaimana teknologi digunakan konten serta integrasi digital seperti apa yang dipilih dalam rute pembelajaran sesungguhnya ditentukan oleh tujuan. Tujuan pembelajaran memastikan bahwa pengalaman belajar bukan hasil berisi ceklis informasi yang perlu diketahui yang tidak terintegrasi. Dalam membangun pemahaman utuh tentang hubungan antara tujuan pembelajaran dan pada akhirnya mampu memberikan umpan balik pada semua pemangku kepentingan tentang capaian pemahaman. Ingin mendapat inspirasi pembelajaran jarak jauh?Unduh Surat Kabar Guuru belajar Edisi Sekolah Lawan CoronaKlik gambar di bawah ini

Kecerdasan Buatan akan Menggantikan Guru

Apakah judul tulisan tentang kecerdasan buatan ini mengada-ada?Apakah Bapak Ibu guru sudah merasakan “ancaman” kecerdasan buatan? Kecerdasan buatan atau istilah kerennya Artificial Intellegence (AI) semakin mudah ditemui. Sebut saja Google Asisten di Android, Siri di perangkat Apple, Cortana di Microsoft Windows dan Alexa di Amazon. Betapa mudahnya kita meminta bantuan pada kecerdasan buatan ini, dari aktivitas sebagai mesin pencari, pemandu jalan, melakukan panggilan, bahkan menyalakan perangkat listrik di rumah yang sudah tersambung.“Ah itu kan aktivitas sederhana”Oke, coba lihat betapa “mengerikannya” kecerdasan buatan. Di media sosial kita bisa disuguhkan informasi yang didasarkan apa yang kita suka. Iklan-iklan yang muncul berdasarkan kebiasaan kita, dengan memanfaatkan kecerdasan buatan yang mampu mengenali karakteristik jenis foto/gambar yang kita sukai, juga notifikasi/pemberitahuan yang disesuaikan sehingga kita betah berlama-lama. Bahkan ada kecerdasan buatan yang dapat “berkembang kecerdasannya” seperti yang ditanam pada game sepak bola. Pemain yang dijalankan komputer bisa memahami kondisi lapangan, berhati-hati agar melakukan tackle tanpa melanggar aturan. Sadar akan waktu pertandingan dan bahkan menyesuaikan cara bermain lawan. Terdapat pula fitur yang dapat menganalisis hingga memberikan gelar man of the match pada pemain terbaik di pertandingan. Kecanggihan kecerdasan buatan juga sudah dihadirkan di berbagai film baik dokumenter maupun fiksi ilmiah. Mulai dari The Social Dilemma di Netflix, film terkenal Terminator, tayangan anak Kamen Rider Zero-One, hingga AI yang bisa menyembuhkan orang sakit di Transcendence. Bayangkan, bagaimana jika anak bisa difasilitasi belajarnya oleh kecerdasan buatan?Kecerdasan buatan yang akan memberikan informasi baik teks, gambar, video hingga simulasi digital sesuai topik yang sedang dipelajari.Kecerdasan buatan yang akan memberi notifikasi agar murid tenang saat belajar. Kecerdasan buatan yang akan menunjukkan warna merah, suara mengerikan, saat murid melanggar aturan. Kecerdasan buatan yang akan memberikan banyak bintang saat murid berbuat baik. “Kan kecerdasan buatan tidak ada sentuhan personal yang memanusiakan?”Lho, justru teknologi bisa melakukan diagnosis perilaku, dan memberikan personalisasi yang dapat disesuaikan dengan pengguna secara cepat. Bukankah personalisasi yang memanusiakan itu malah jadi tantangan berat jika kita melakukan pembelajaran sekadar dengan cara ceramah? Lalu bagaimana agar guru tidak digantikan kecerdasan buatan? Semangat menghadirkan teknologi masa depan, di pembelajaran masa kini dilakukan oleh #1000Pembicara beserta 3460 peserta saat #BelajarDiTPN7 (Temu Pendidik Nusantara). Terdapat lebih dari 380 kelas di acara yang diselenggarakan Komunitas Guru Belajar Nusantara dan Kampus Guru Cikal ini. Pada 12 – 13 Desember 2020 para guru saling belajar dan berbagi praktik baik pembelajaran. Alih-alih menyalahkan teknologi, para guru justru mengombinasikannya dengan pedagogi. Para guru yang tidak sekadar menggunakan teknologi untuk mempermudah pembelajaran direpetisi. Tidak sekadar menjadikan teknologi sebagai alat mengalirkan informasi. Bukti bahwa kecerdasan buatan tidak bisa menggantikan para guru ini. Baca Juga: Pasar Praktik Baik itu Bernama Kelas Kemerdekaan Seperti apa pembelajaran yang dibagikan dan dipelajari di Temu Pendidik Nusantara ke-7?Seperti apa guru yang sulit digantikan kecerdasan buatan?Yaitu guru yang menerapkan pembelajaran 5M (Memanusiakan Hubungan, Memahami Konsep, Membangun Keberlanjutan, Memilih Tantangan, Memberdayakan Konteks). 1. Pembelajaran dengan Teknologi untuk Memanusiakan HubunganPara guru memanfaatkan teknologi untuk membangun relasi dengan murid dan orangtua. Sehingga pembelajaran yang dirancang menyesuaikan kondisi mereka. Seperti apa penerapannya?Pembuatan media pembelajaran yang diawali dengan proses empati. Memanfaatkan media untuk memahami emosi murid. Penggunaan formulir asesmen diagnostik untuk menentukkan cara yang akan digunakan dalam pembelajaran. Juga pemanfaatan teknologi untuk menghadirkan belajar dengan kegembiraan. Sehingga guru mampu mengajak murid belajar tanpa iming-iming reward seperti bintang, maupun hukuman. Apakah hal serupa sudah Bapak Ibu lakukan? 2. Pembelajaran dengan Teknologi untuk Memahami Konsep“Kalau hanya memberi informasi, google lebih jago.”Saat ini jika orang penasaran, maka google di genggaman tangan akan menjadi jawaban. Para guru belajar di Temu Pendidik Nusantara ke-7 tidak ingin menjadi guru yang sekadar memberi informasi. Para guru ini melawan miskonsepsi, tidak mau jika hanya memindahkan ceramah ke media virtual. Alih-alih demikian, guru memodifikasi permainan, lagu, video, dan bahkan strategi pembelajaran dengan mengangkat konteks lingkungan untuk membantu murid membangun pemahaman. 3. Pembelajaran dengan Teknologi untuk Membangun KeberlanjutanJika sekadar memberikan tanda benar dan salah pada jawaban murid, serta memberi nilai berupa angka pada lembar soal, tentu beragam tools sudah tersedia. Nah, saat #BelajarDiTPN7 para guru membahas cara memberikan umpan balik, proses refleksi, hingga memperluas manfaat pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi. Dari proses memberi umpan balik melalui permainan, hingga menyebarkan praktik baik pembelajaran ke lebih banyak jangkauan. 4. Pembelajaran dengan Teknologi untuk Memilih Tantangan“Mengapa banyak orang kecanduan gawai, tapi sedikit yang kecanduan belajar?”Tahukah Bapak Ibu apa yang membuat game bikin ketagihan? Dan mengapa pembelajaran membuat bosan?Game memberikan berbagai pilihan dan jenjang tantangan. Karena jika hanya ada satu pilihan yang terlalu sulit, maupun satu pilihan saja yang terlalu mudah, sama-sama membuat bosan dan bahkan stres.Apakah pembelajaran di kelas kita juga demikian? #BelajarDiTPN7 menghadirkan para guru yang sudah memberikan pilihan jenis dan cara mengerjakan tugas. Karena para guru ini sadar, bahwa tidak mungkin semua murid diminta membuat tugas berupa video, atau bahkan hanya boleh menulis di kertas folio. Apalagi di saat pandemi mewabah, fasilitas belajar di rumah tidak seperti di sekolah. 5. Pembelajaran dengan Teknologi untuk Memberdayakan Konteks Bapak Ibu bisa melihat beragam kelas kolaborasi di TPN ke-7, silakan klik di sini. Para guru berbagi bagaimana tetap berdaya di tengah pandemi. Tidak hanya sendiri, namun menggerakkan orang lain dan batas jarak pun dilampaui. Gerakan membagikan praktik baik selama pandemi dengan komik digital, media sosial, hingga berbagi panggung virtual. Banyak sekolah yang saling belajar bersama, meskipun berasal dari daerah yang berbeda. Panduan Pembelajaran 5M bisa diunduh di sini Jadi, apakah Bapak Ibu siap digantikan kecerdasan buatan?Atau pembelajaran 5M akan Bapak Ibu terapkan?Poin mana yang akan Bapak Ibu lakukan?Yuk tulis di komentar, dan juga sebarluaskan!

Kemerdekaan Belajar Bukan Diberikan Tetapi Kita Gerakkan

“Yang kita inginkan adalah anak-anak yang punya aspirasi tinggi, yang punya cita cita melampaui langit, sebetulnya. Melampaui batas ruang kelas, melampaui batas dunianya. Dan ini hanya akan terjadi pada saat anak-anak punya kemerdekaan belajar. Tapi kemerdekaan murid-murid hanya akan terjadi pada saat kita sebagai pendidik juga sebetulnya  memiliki kemerdekaan”. Penggalan kalimat di atas adalah pernyataan awal penyemangat dari ibu Najelaa Shihab lewat video nonton bareng atau nobar yang sebelumnya diunduh di sebuah link yang tertulis pada  buku panduan nonton bareng video Kampus Guru Cikal dan Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN). Dalam pemaparan Inisiator Guru Merdeka Belajar ini, menyampaikan pesan tersirat sarat makna yang meminta guru untuk serius menjadi guru merdeka belajar.  “Apakah Ibu dan Bapak Guru sudah merasa merdeka?” ungkap ibu Elaa, panggilan akrab ibu Najelaa Shihab dengan nada tanya. Setelah itu ia lanjutkan lagi dengan narasi yang sangat menyentuh empati diri kita sebagai guru, bahwa kalau tidak merasa merdeka tidak perlu ada datang dan belajar.  Pertanyaan dan pernyataan ibu Elaa tersebut, bukan tanpa sebab atau bukan tanpa alasan. Semua sudah melewati fase realitas perjalanan dan pandangan mata di kehidupan guru dengan beragam cara dan kemampuan guru di sekitarnya. Tentunya dalam memaknai diri untuk maju dan paham akan tugas dan tanggung jawabnya sejak mengemban amanah sebagai guru.  Asumsi pemahaman tentang guru merdeka belajar ini menjadi titik fokus para guru di KGB Sinjai dengan digelar nonton bareng hari Ahad, 25 Oktober 2020 lalu. Mengingat situasi masih dalam masa pandemi Covid 19, kegiatan nobar ini digelar secara daring melalui aplikasi Microsoft Teams yang dimulai pukul 10.00 Wita.  Acara ini dipandu langsung guru Arni Idawati dengan tim teknis daring via Teams guru Takdir Kahar dan guru Hj Yuliani, ketiga guru ini adalah Penggerak KGB Sinjai. Kegiatan ini diikuti 35 peserta dari berbagai tingkatan sekolah seperti guru sekolah dasar, guru sekolah menengah pertama, dan guru sekolah menengah atas. Bukan hanya itu, kegiatan nobar guru merdeka belajar ini juga diikuti  dua  pengawas sekolah dalam lingkup Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan. Memaknai Merdeka Belajar Sebelum nobar Guru Merdeka Belajar diputar via Microsoft Teams, Moderator acara yang dipandu guru Arni Idawati memulai dengan menyapa semua peserta Nobar yang sebelumnya sudah mendaftar via link Microsoft Forms serta sudah bergabung dalam grup WhatsApp Nobar MGMB KGB Sinjai. Melihat semangat peserta yang begitu tinggi untuk segera melihat paparan video konsep Guru Merdeka Belajar dari Ibu Najelaa Shihab, maka tak berlama-lama di pembukaan acara, langsung moderator melempar pertanyaan reflektif ke peserta nobar, bahwa apa yang mereka pahami tentang Merdeka Belajar? Tak pelak saja, tidak sampai satu menit setelah pertanyaan di lempar langsung disambut sejumlah analogi peserta tentang pemahaman mereka tentang guru merdeka belajar. Seperti pernyataan guru Anshar dari SMAN 12 Sinjai, bahwa merdeka belajar itu ketika guru memiliki kemampuan dan semangat untuk belajar. Hal sama juga diungkapkan  guru Fariati dari SMAN 10 Sinjai, bahwa merdeka belajar itu adalah merdeka dalam belajar kepada siapapun dan merdeka dalam mengajar dengan kewenangan guru menentukan sendiri metode pembelajaran tanpa keluar dari tujuan pembelajaran. Ada juga pernyataan mengejutkan dari guru Rosdiana dari SDN 1 Balangnipa Sinjai. Bahwa guru merdeka belajar itu ketika sang guru mampu membuat perubahan kelas menjadi kelas yang menyenangkan. Bukan hanya itu, sebagai guru harus yakin bahwa dirinya adalah guru yang memiliki sisi lain yang luar biasa untuk selalu belajar dan bermanfaat bagi orang lain.  Senada dengan guru Hj Hasniar dari SMAN 3 Sinjai memberi sebuah gambaran, bahwa hakikat guru merdeka memiliki ciri-ciri  yaitu punya tujuan dan komitmen pada tujuan, guru harus memiliki sikap kemandirian, serta  selalu melakukan refleksi untuk  mencari sisi masukan dan penguatan dari pembelajaran yang selesai dilaksanakan. Pernyataan penguatan tentang apa itu merdeka belajar juga disampaikan pak Madalle Aqil, koordinator pengawas pendidikan untuk wilayah Kabupaten Sinjai dan Kabupaten Selayar Provinsi Sulawesi Selatan.  Dijelaskan bahwa guru merdeka itu adalah guru yang selalu belajar sepanjang hayat dengan memiliki tiga hakikat dasar sebagai guru. Pertama, guru merdeka belajar harus memiliki sifat dan sikap keikhlasan. Artinya, aktivitas guru yang mewarnai dalam kegiatan pembelajarannya di ruang-ruang kelas,  siap menerima segala tantangan dan terpenting selalu melakukan perbaikan. Kedua, guru merdeka belajar mampu mempraktikkan aksi atau tindakan. Artinya, segala tindakan yang dilakukan  adalah nyata karena sesuai dengan yang dibutuhkan  saat ini. Ketika salah maka dicoba dan dilakukan lagi atau tidak mudah putus asa. Ketiga, guru merdeka belajar terus belajar. Artinya, bukan berarti ketika sudah selesai mengajar, maka dianggap tujuan juga sudah tercapai. Tapi guru harus belajar dan berani melakukan refleksi dari apa yang sudah dilakukan dalam kegiatan pembelajarannya. Merebut Emansipasi Belajar Setiap alur narasi ibu Najelaa Shihab selalu ada ledakan makna dalam pemaparan tentang guru merdeka belajar. Sehingga praktis  kalimat demi kalimat yang disampaikan semuanya seperti kalimat pokok atau kalimat utama yang tidak boleh dibiarkan berlalu. Rugi rasanya ketika terlewatkan satu kata, lebih-lebih satu kalimat atau beberapa kalimat.  Dalam penjelasannya memantik peserta dengan melempar sebuah pernyataan mengejutkan. Bahwa ketika sepakat dengan konsep pendidikan di negara tercinta Indonesia adalah demokrasi, maka ia berani melisensi tentang keberadaan guru-guru yang bergabung dalam komunitas guru belajar sudah berada di tempat atau forum yang tepat.  “Anda berada di forum  yang tepat, karena di Komunitas Guru Belajar sangat percaya bahwa proses kemerdekaan itu sebetulnya bukan diberikan, tapi sesuatu yang kita gerakkan,” ungkap ibu Najelaa. Artinya segala kegiatan guru adalah sebuah proses sama-sama belajar seperti  proses emansipasi tidak dikasih atau tidak diberikan tetapi harus direbut, kemerdekaan belajar adalah sesuatu yang kita gerakkan. Tentunya guru harus memiliki komitmen, kemandirian, serta selalu melakukan refleksi. Penjelasan lain yang paling menyentuh adalah atas tindakan guru dalam ruang-ruang pembelajaran di sekolah untuk berani melawan miskonsepsi. Seperti anggapan yang sering muncul bahwa guru mau belajar kalau ada insentif atau uang serta ada sertifikatnya, padahal belajar adalah kebutuhan alamiah dari setiap guru. Anggapan lain seperti guru baru mau  belajar kalau dari sumber ahli atau dari pakar pendidikan. Ditemu pendidik sudah membuktikan, jika sumber belajar paling efektif adalah sesama guru yang sudah banyak pengalaman dan belajar melakukan perbaikan dari setiap ia di posisi kegagalan. Penjelasan lain tentang miskonsepsi adalah  belajar cukup terbatas ‘How To’ tidak mau ribet atau pusing dalam mengajar, padahal belajar itu dengan tujuan yang dapat  menyesuaikan diri dengan … Read more

Kuota Semangat Belajar yang Tidak Habis-Habis

Semangat belajar dan kerja keras ibu pengawas kami memang berbeda dari pengawas yang lain, kalau diibaratkan kuota internet, kuota semangat belajar beliau tidak pernah habis. Walau seorang perempuan yang tidak muda lagi namun tidak menghalangi  beliau berkarya dan berkontribusi dalam berbagai kegiatan. Selalu ingin mencoba hal yang baru dan menerima tantangan. Di saat melakukan supervisi sekolah dan guru, jangan harap kedekatan hubungan dengan beliau akan memuluskan pemeriksaan, tidak ada keistimewaan dalam hubungan disaat bekerja, semua rata dan adil. Masyaallah prinsip yang patut diacungi jempol. Melihat tidak habis-habisnya kuota semangat belajar belajar bu Makhdalena, nama pengawas kami, timbul keinginan saya untuk mengajak beliau untuk ikut bergabung di KGB. Dengan ikutnya beliau jadi penggerak akan memudahkan kami bergerak menyebarkan semangat merdeka belajar kepada guru-guru Lunang.  Disamping itu bu Makhdalena  selaku pengawas dan Kordikcam Lunang akan memiliki ruang yang lebih luas lagi untuk bergerak dan bertindak menyampaikan guru merdeka belajar dibandingkan dengan kami yang harus minta izin dulu jika ingin mengadakan kegiatan. Karena haus akan ilmu tanpa pikir panjang ibu Makhdalena  menerima tawaran yang saya berikan. Beliau minta kapan waktunya akan ikut nobar sesuai syarat awal sebagai penggerak.  Karena pada waktu itu kami akan melakukan ujian akhirnya semester tahun ajaran 2019/2020,  maka kami sepakat setelah  libur semester diadakan dikarenakan ibu Makhdalena akan ikut pelatihan ke LPMP Padang.  Waktu terus berlalu namun kegiatan nobar untuk bu Makhdalena juga belum terlaksana, terlalu sulit menghubungi dan mengatur waktu dengan beliau. Disaat  beliau bisa  untuk nobar namun saya sebagai reporter yang tidak bisa atau bu Rini Suryati sebagai koordinator  sekaligus narasumber tidak  bisa. Saya dan Bu Rini sepakat saat nobar bu Kordikcam kami harus lengkap sebab kami akan mengadakan nobar di hadapan seluruh kepala sekolah SD Lunang. Sehingga memudahkan kami dalam menarik  kepala sekolah untuk ikut aktif menyebarkan merdeka belajar di sekolahnya. Sayangnya, rencana tinggal rencana kegiatan nobar tidak kunjung diadakan untuk bu Makhdalena, sampai akhir datang wabah Corona melanda daerah kami. Lockdown, dilarang mengadakan acara, dilarang mengunjungi keramaian, di rumah saja dan aturan protocol kesehatan lainnya yang harus kami patuhi demi keamanan dan keselamatan. Di tengah pandemi yang melanda negeri kami guru penggerak Pesisir Selatan tetap semangat walau dari rumah, seolah kuota semangat belajar mengajar sangat banyak. Dengan menggunakan RPP PJJ yang di sediakan KGC, kami bisa mengajar dari Rumah melalui daring. Lain dari yang lain, sebagian besar guru-guru memberikan tugas kepada murid secara luring antar jemput tugas ke sekolah.  Melihat gebrakan kami guru penggerak berbeda dengan yang lain, sebagai pengawas dan Kordikcam Lunang  beliau merasa bangga. Bahkan minta digabungkan ke grup WA Paguyuban kelas 3, kelas yang  saya among untuk melihat bagaimana penerapan  belajar secara daring. Rasa penasaran bu Makhdalena semakin menjadi-jadi terhadap KGB, waktu kami mengadakan pertemuan penggerak di rumah bu Rini Suryati, beliau hadir  meskipun bukan  terdaftar sebagai penggerak. Beliau ikut nonton video Nobar bersama Bu Najelaa Shihab. Akhirnya waktu itu tiba juga, disaat Pandemic mulai berkurang di daerah kami, kami sudah diizinkan ke sekolah dan mengadakan pertemuan di kecamatan untuk membahas pembuatan soal ujian tengah semester  dengan mengikuti protocol kesehatan.  Hari Jumat tanggal   25 September 2020, kami mengadakan pertemuan guru kelas rendah 4-6 di kecamatan. Kesempatan ini tidak kami sia-siakan,  disaat menjelang kegiatan dimulai kami minta bu Mahkdalena menyampaikan sedikit informasi bahwa kita akan mengadakan nobar guru merdeka belajar. Saat video merdeka belajar  diputarkan oleh bu Rini Suryati, semua peserta focus menontonnya. Ada yang tertawa melihat gambar telunjuk anak sampai menembus atap rumah. Sebagian peserta ada yang berkata mungkinkah apa yang disampaikan oleh bu Najelaa Shihab itu bisa kita laksanakan di sini? Ada sebagian peserta kagum dengan terobosan yang disampaikan bu Najelaa Shihab.  Selesai video diputar, Bu Rini Suryati selaku coordinator tampil ke depan memandu diskusi. Diskusi diawali dengan pertanyaan “ diantara miskonsepsi tadi, mana yang paling menggambarkan Anda”?  dengan tertawa peserta menjawab uang saku, sertifikat dan menginap di hotel. Pertanyaan kedua pun bergulir” Apakah Anda ingin menjadi guru merdeka belajar”?  sebagian besar peserta menjawab ingin, apa alasan ibu bapak sambung bu Rini? Alasanya beragam tapi intinya ingin mengikuti jaman. Pertanyaan ketiga “ Sebagai guru merdeka belajar apa perubahan yang ingin anda lakukan”? ada yang menjawab, belajar lagi, bertanggung jawab atas tugas yang diberikan, ingin merubah sikap dan perlakuan kepada murid dan sebagainya. Mengingat waktu bu Rini mengakhiri diskusi tentang guru merdeka belajar. Baca Juga: Sekolah Lawan Corona, Sebuah Inisiasi untuk Membantu Pengajaran Jarak Jauh Acara dilanjutkan oleh bu Makhdalena selaku pengawas SD dan Kordikcam Lunang, diawali cerita beliau yang suka dengan gebrakan KGB dan manfaat yang dapat kita peroleh jika mengikuti perkembangan dunia dan pelaku pendidikan. Tak henti-hentinya beliau mensuport peserta untuk ikut gabung KGBD Pesisir Selatan kapan perlu jadi penggerak. Sungguh saya terharu mendengar semangat beliau dalam memperkenalkan KGB pada peserta. Semoga dengan bergabungnya bu Makhdalena sebagai penggerak Pesisir Selatan gerakan guru merdeka belajar dapat berkembang di Lunang. Acara demi acara telah selesai dilaksanakan dengan lancar, tak terasa pukul 12.00 WIB.  Saatnya istirahat sholat dan makan. Karena tidak ada kegiatan lagi maka kegiatan ditutup oleh moderator.  Di daerah kami  kondisi  wabah Corona masih belum pulih, selesai acara kami langsung pulang tanpa adanya poto bersama. Alhamdulilah sekali mengayuh sampan dua tiga pulau terlampaui, sekali mengadakan kegiatan nobar guru merdeka belajar dapat selesai. Guru semangat belajar guru merdeka belajar, merdeka. Salam Merdeka Belajar

Penggunaan Teknologi yang Lebih Humanis

Bagaimana penggunaan teknologi yang dapat menciptakan hubungan lebih humanis dengan adanya yang hampir semua kegiatan manusia menggunakan teknologi. Ditambah lagi dengan kondisi darurat Covid-19 yang mengharuskan untuk menjaga jarak?  ini mungkin yang menjadi pertanyaan besar bagi kita, apa bisa? melihat bahwa hampir semua kegiatan manusia ada penggunaan teknologi, bahkan karena begitu canggihnya teknologi sekarang ini sampai-sampai muncul slogan bahwa “Teknologi mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.” Bagaimana tidak terkadang kita sebagai pengguna teknologi terkadang sibuk dengan “gadget” sampai melupakan hal-hal yang ada disekitar kita dan sibuk berselancar di dunia maya. Inilah yang menjadi kekhawatiran dari guru dan orang tua selama masa pembelajaran jarak jauh (PJJ) akan kehilangan sisi humanismenya, karena kondisi memaksa murid dalam proses pembelajaran menggunakan teknologi. Kali ini KBG Makassar Menghadirkan Bapak Ismail Nur Lc, M.Ag sebagai pembicara dalam kegiatan temu pendidik daerah ke 36 yang dilaksanakan secara live youtube di kanal Guru Belajar Makassar. Membahas tentang “Bagaimana Penggunaan Teknologi Menciptakan Hubungan Lebih Humanis? Antara Guru, Murid dan Orangtua kegiatan ini berlangsung pada hari Sabtu, 3 Oktober 2020 yang berlangsung satu setengah jam lebih.  Kegiatan ini berlangsung antara dua negara yakni indonesia dan Mesir. Ibu Anita Taurisia Putri yang bertindak sebagai medorator kegiatan membawa diskusi semakin menarik, diskusi ini mengenai praktik baik dalam proses PJJ antara kedua Negara, Baik dari metode pembelajaran yang menggunakan teknologi maupun sistem pembelajaran yang dilaksanakan di Sekolah Indonesia Kairo – Mesir dimana Bapak Ismail merupakan kepala sekolah disana. Bapak Ismail memulai materinya dengan memaparkan bahwa teknologi sangat dekat dan familiar dengan kita sebagai guru, murid dan orang tua, bagaimana cara mendampingi pembelajaran murid-murid generasi Z yang diajar oleh guru-guru generasi Y yang lahir dan baru mengenal teknologi mungkin di jenjang Sekolah Menengah, berbeda dengan generasi Z yang sejak balita sudah diperkenalkan dengan teknologi oleh orang tuanya. Bapak Ismail juga menjelaskan bahwa tantangan menjadi seorang guru adalah bagaimana menggali kemampuan berpikir kritis murid yang merupakan salah satu keterampilan esensial murid abad 21 Metode belajar abad 21 dimana murid menjadi fokus dalam pembelajaran bukan lagi guru sebagai sumber belajar satu-satunya, melainkan murid bisa menjadi sumber belajar di antara sesama murid saling belajar dengan saling berkolaborasi antara murid dan guru. Berbeda halnya dengan model pembelajaran sebelumnya yang mengedepankan nilai daripada proses dan rangking menjadi tolak ukur keberhasilan pembelajaran. Sehingga untuk pembelajaran abad 21 rangking tidak menjadi penting lagi karena dianggap bahwa rangking tidak dapat menentukan murid dapat bersosialisasi dan berkolaborasi dengan baik. Tetapi yang diharapkan adalah bagaimana murid dapat berkolaborasi sehingga perlu adanya penilaian autentik. Bagaimana menjadi guru abad 21 ? Pertanyaan yang sering kali muncul sekarang ketika harus dihadapkan dengan PJJ yang memaksa para guru untuk mau tidak mau, suka atau tidak suka harus berdamai dengan teknologi. Bapak Ismail dalam materinya membagikan tipsnya yakni dengan “Belajar Dengan Siapa Saja”, mudah namun apakah bisa terapkan. Salah satu pelajaran yang dapat dipetik dari praktik baik pembelajaran bapak ismail tentang “Ahli Waris” bapak Ismail melepaskan egonya untuk bertanya dan belajar kepada muridnya tentang bagaimana cara perhitungan matematika (metode pembagian) dalam materi pembagian ahli waris. Dari sini tercipta kolaborasi antara guru dan murid dimana murid merasa dihargai oleh guru dan guru banyak mengambil pelajaran dari hal tersebut. Tidak hanya itu bapak Ismail juga membagikan sebuah metode pembelajaran yang menarik untuk diterapkan oleh para guru yakni Metode Belajar Flipped Classroom. Flipped Classroom adalah metode belajar yang diberikan kepada murid dimana murid sudah mengetahui (belajar sebelumnya) materi yang akan dibahas di dalam kelas dari berbagai sumber yang murid peroleh, berbeda dengan tradisional class murid mengetahui materi atau belajar ketika sudah berada di dalam kelas. Menurut bapak Ismail metode ini sangat baik diterapkan karena mengurangi jumlah jam pelajaran di dalam kelas sehingga murid dapat aktif berkegiatan di luar kelas. Lanjut ke sesi tanya jawab, ibu lisnur Aiziah bertanya tentang “Bagaimana menghadapi masyarakat yang lebih cenderung berhati-hati dalam penggunaan teknologi karena mereka ingin mengunggulkan sisi Humanisasi itu sendiri? Dengan mengontrol dan membekali pengetahuan sejak dini dan bersosialisasi minimal dengan melakukan Video Conference (selama masa pandemi) terhadap keluarga atau teman dekat. Untuk di sekolah sendiri harapannya pembelajaran dibuat berkolaborasi sehingga sisi humanismenya muncul serta selalu mendampingi anak saat belajar. hal menarik yang disampaikan bapak Ismail bahwa keluarga dari orang-orang yang tinggal di Kairo sulit berkomunikasi dengan tetangga karena mungkin tidak memiliki halaman yang luas atau kebanyak dari mereka tinggal di apartemen berbeda dengan di Indonesia tetangga bisa saling menyapa di halaman rumah. Bagaimana Sekolah Indonesia-Kairo Membangun komunikasi dengan Orang tua ? Justru selama PJJ sekolah lebih muda dikendalikan dan umumnya keluarga diplomat yang bekerja adalah suami dan istrinya bertugas dirumah dan lebih banyak mendampingi murid dalam melaksanakan aktivitas PJJ. Di awal PJJ masalah Sekolah alami yakni banyak keluhan terhadap teknologi yang digunakan sekolah dan kurangnya updatenya orang tua terhadap hal tersebut. Namun sekolah berinisiatif untuk memberikan training kepada orang tua sebelum teknologi/aplikasi digunakan. Membuat grup-grup kelas dimana guru dan orang tua bisa saling berkomunikasi terkait kendala yang dihadapi sehingga terjadi komunikasi yang harmonis antara orang tua, murid dan guru.  Jumlah murid di sekolah juga sangat mempengaruhi hal tersebut dimana jumlah murid di sekolah Indonesia Kairo hanya sekitar 20 orang berbeda dengan jumlah murid di Sekolah Indonesia yang biasanya lebih dari 30 murid. Sehingga hal ini sangat sulit untuk membagun komunikasi bagi guru-guru yang berada di tanah air ditambah lagi dengan latar belakang pendidikan orang tua sehingga pada saat mendampingi anak-anaknya dapat menimbulkan kebingungan sehingga perlu ada kebijakan. di Sekolah indonesia-Kairo sendiri menurut Bapak Ismail pembelajaran untuk satu mata pelajaran tidak boleh lebih dari 60 menit sehingga tidak membuat murid dan orang tua lelah. mata pelajaran yang diberikan dalam sehari maksimal dua mapel setiap hari. tidak memberikan tugas yang banyak serta tidak terlalu mengejar target ketercapaian kurikulum namun lebih pada prosesnya. Bagaimana ketika guru mengajar menggunakan aplikasi berbeda dengan tujuan murid merasa nyaman atau sesuai dengan passionnya ?  Di awal PJJ menyebabkan banyak orang tua yang komplain dengan begitu banyaknya aplikasi yang harus digunakan murid. Sehingga sekolah memutuskan untuk menggunakan satu aplikasi sebagai aplikasi utama dan sisanya adalah aplikasi pendukung. Memanfaatkan teknologi ibarat mengendarai mobil yang berbeda setiap hari, hanya perlu penyesuaian sehingga … Read more

Dampak Pembelajaran Jarak Jauh dan Menyiasatinya

“Mustahil dapat melakukan aktivitas mendidik kalau modelnya pembelajaran jarak jauh. Dampak pembelajaran jarak jauh anak-anak menjadi tidak peduli dan kurang mendapat perhatian” Keluhan-keluhan tersebut layaknya ombak yang  menantang harus dihadapi guru dengan cara yang tepat dan benar, nah bagaimana menghadapinya? “Membangun interaksi yang bermakna antara guru dan murid di masa pandemi” adalah salah satu  solusi, panjangnya waktu pembelajaran jarak jauh telah menimbulkan dinamika bagi dunia  pendidikan beberapa sekolah termasuk guru telah menyusun dan menyiapkan strategi untuk tetap  memberikan pembelajaran terhadap generasi bangsa dalam kebijakan new normal pendidikan.  Suramnya pembelajaran jarak jauh selama ini ternyata telah memberikan hikmah yang besar  di tengah keterbatasan dan kendala yang menumpuk bagi segenap guru dan murid, ternyata pada  suasana yang lain sedikit memberikan angin segar dan cahaya bagi guru dan murid, salah satu  guru otomotif dari SMK Darussalam yakni Pak Gusti telah menemukan sebuah resep dan berhasil membangun interaksi yang bermakna, dan mengurangi dampak negatif Pembelajaran Jarak Jauh. Mengelola pembelajaran vokasi atau  keterampilan pada siswa kejuruan tentu bukanlah pekerjaan mudah bagi seorang guru dimasa  pandemik, pendidikan kejuruan membutuhkan catatan praktek dan harus melibatkan pihak luar  dalam pelaksanaanya tentu hal ini merupakan kendala, tantangan dan peluang bagi seorang guru  untuk meramu sebuah strategi dalam pelaksanaan PJJ. Masih dalam kaitannya dengan dampak pembelajaran jarak jauh pada  kesempatan yang sama Ibu Adelia Octoryta yang juga Kepala sekolah Cendikia pada kegiatan  temu pendidik ini akan berbagi praktik baik bagaimana Ibu Guru Adel bersama dengan guru gurunya melakukan home visit atau guru kunjung di masa pandemik, bagi ibu adhel dan  kawannya guru kunjung itu harus memberikan kebermaknaan terhadap banyak pihak.  Baca Juga: Solusi Pembelajaran Jarak Jauh Mendapati Pak Gusti dalam perjalanannya menemui berbagai kendala hingga akhirnya  mampu menemukan solusi dan mencatatkan nilai-nilai positif dan rasa kesetiakawanan murid  selama melakukan praktek jarak jauh beserta dengan pengalaman dan refleksi dari Ibu Adelia  Octoryta dalam mengelola dan menyiapkan program guru kunjung yang bermakna bagi peserta  didik, maka KGB gowa memediasi dan menginisiasi terlaksananya Temu Pendidik Daerah yang  dilaksanakan secara tatap muka dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan yang  dilaksanakan di Taman Spot Sekolah Sungai Jeneberang yang dihadiri oleh rekan-rekan guru  dari berbagai tingkatan dan ragam latar belakang serta pegiat pendidikan yang berada di sekitar  Makassar, Gowa dan Takalar tujuannya hanya satu menemukan praktek baik dan  mendiseminasikan kepada rekan sejawat dengan harapan praktik baik tersebut mampu menjadi  inspirasi serta dapat dipraktekkan di sekolah-sekolah boleh dengan sedikit mengkreasi dan  memodifikasi sesuai dengan kultur sekolah dan profil murid kita masing-masing.  Hari rabu tepatnya tanggal 23 September 2020 sekitar pukul 14.00 beberapa peserta  telah terlihat di lokasi kegiatan dengan menggunakan masker, 15 menit sebelum kegiatan  dimulai beberapa kawan guru yang juga peserta temu pendidik daerah sempat melakukan  obrolan ringan dengan guru gusti dan beberapa penggerak KGB Gowa yang telah lebih awal  tiba di lokasi kegiatan. Ditengah beberapa peserta mulai berdatangan moderator kegiatan dalam  hal ini adalah Guru Abdul Naim memberikan kode bahwa 5 menit lagi kegiatan akan kita mulai.  Mengawali kegiatan temu pendidik moderator mengucapkan terimakasih dan memberikan  apresiasi kepada seluruh pihak atas kegiatan ini khususnya dua narasumber yang telah bersedia  untuk berbagi, dimulai dari moderator seluruh peserta secara bergiliran memperkenalkan diri  dengan menyampaikan hal-hal yang sederhana seperti tempat tugas, aktifitasnya apa, bidang  studi yang diajarkan serta dari mana mengenal KGB Gowa dan sejak kapan bergabung dengan  KGB Gowa, peristiwa tersebut sebagai momen untuk menambah keakraban dan memperkuat visi  yang sama dalam berjuang dan bergerak bersama dengan Komunitas Guru Belajar Nusantara  Kabupaten Gowa.  Setelah sesi perkenalan usai moderator memberikan kesempatan kepada guru Ahmad  Dharmawan selaku Ketua Komunitas Guru Belajar Gowa yang juga pada kegiatan tersebut  didapuk menjadi pemantik diskusi, dalam sambutannya guru wawan menyampaikan bagaimana  harapannya kedepan agar KGB Gowa menjadi pusat untuk berbagi praktek-praktek baik  pengajaran dan menjadi kanal bagi bagi segenap guru khususnya anggota KGB gowa untuk  mengkampanyekan dan mempublikasikan ide, gagasan dan kreativitasnya dalam dunia  pendidikan sehingga dampak dari peran guru itu akan lebih cepat untuk memberikan kontribusi,  kami sangat berharap apa yang menjadi tujuan dan mimpi kita bersama untuk menjadi centrum  gerakan merdeka belajar menuju pendidikan yang adil dan bermartabat dapat terwujud melalui  keberadaan Komunitas Guru Belajar Nusantara kabupaten Gowa, demikian kata beliau.  Sesi pertama dimulai dengan terlebih dahulu memberikan kesempatan kepada Guru Gusti  untuk menyampaikan materi praktek baik yang telah dilakukan, menurut Pak Gusti mengajar di  SMK itu tentu butuh kekuatan ekstra apalagi jurusan otomotif yang siswanya mayoritas laki-laki  dan jumlah yang banyak, pada awalnya saya sempat ragu bagaimana anak-anak bisa belajar  secara daring dengan materi praktek sementara pengalaman selama ini bertatap muka saja  mengelolanya sungguh butuh tenaga ekstra tidak jarang kami guru dibuat pusing. tapi tugas  harus ditunaikan, anak-anak tetap harus mendapatkan pelayanan yang baik dan tidak ada pilihan  lain strategi harus dimunculkan untuk menjawab semua itu. Materi yang saya ajarkan ke anak anak itu tentang pengukuran silinder, terlebih dahulu saya membagi kelompok berdasarkan  kriteria tertentu kali ini bukan saya yang menentukan kriterianya melainkan siswa itu sendiri. Anak-anak bersuara kita bagi berdasarkan lokasi rumah saja pak, ada yang mengusulkan pembagian kelompok berdasarkan ikatan pertemanan, ada juga yang menginginkan pembagian  kelompok berdasarkan prestasi, semuanya berusaha untuk saya akomodir dengan tujuan mereka  belajar dengan memahami persoalan. Rasa percaya terhadap peserta didik sangat saya  kedepankan dalam pembelajaran daring ini, seiring waktu berjalan dalam beberapa evaluasi dan  sesekali saya melakukan kunjungan terhadap kelompok-kelompok belajar ini sungguh saya  tercengang, dengan pendekatan yang mamanusiakan dengan peserta didik serta tidak mengejar  mereka dengan target dan nilai yang tidak jelas dan tanpa tujuan dengan sabar saya menunggu  dan memberikan motivasi dan umpan balik maka beberapa nilai-nilai kemanusiaan dan  kepedulian dalam diri segenap siswa justru muncul dimasa pandemik ini, ada siswa yang  merekomendasikan bengkel keluarganya untuk dijadikan tempat praktek, ada siswa yang  merelakan kendaraanya untuk diutak-atik sebagai media belajar, beberapa orang tua justru  menjadi partner dan mentor dalam penyelesaian tugas ini. Mereka justru bahu membahu saling  membantu di tengah keterbatasan ini. Belum selesai pak gusti menceritakan pengalamannya salah  seorang peserta mengajukan pertanyaan yaitu yaitu Pak Saddang dari SMAN 9 gowa, beliau  bertanya bagaimana sih pak mengatur tempo pembelajaran di tengah banyaknya kelas atau siswa  yang akan kita ajar. Pak gusti menjawab pertanyaan bahwa salah satu … Read more

Mencari Cara Belajar di Masa Pandemi

Masa pandemi membuat kegiatan belajar Temu Pendidik Daerah terkendala, karena imbauan untuk tidak berpergian,  menghindari keramaian, dirumah saja dan sebagainya. Hal tersebut membuat kami penggerak Pesisir Selatan  tidak berani melakukan pertemuan tatap muka. Meskipun demikian semangat belajar di masa pandemi dan rasa ingin mencoba hal yang baru membuat kami tidak kehilangan akal untuk bertemu dan berbagi.  Mulai dari membuat video di Kinemaster, belajar menjadi youtuber dan terakhir membuat media komik dengan menggunakan aplikasi Komik Master. Semuanya kami lakukan dengan daring melalui media zoom dan stream yard. Belajar dari kegiatan daring yang  diadakan KGB Sijunjung,  kami penggerak KGB Pesisir Selatan tidak mau ketinggalan dan ingin mencoba.  Berdasarkan kesepakatan penggerak Pesisir Selatan, maka kami  membuat dua kegiatan daring  yaitu guru berbagi (GUSHARE) dan guru berkisah. Program Gushare  merupakan kegiatan   guru yang berbagi ilmu tentang cara pengajaran di  dunia pendidikan. Sedangkan program guru berkisah merupakan  kegiatan tentang berbagi kisah suka dan duka menjadi guru serta perubahan yang telah dilakukannya. Hari Jumat tanggal  2 Oktober 2020 pada pukul 14.00 s.d 15.00 WIB  kami penggerak Pesisir Selatan  akan mengadakan Temu Pendidik Daring melalui aplikas stream yard.  Karena cuaca buruk dan listrik sering mati membuat kami khawatir juga mengadakan acara ini, takut gagal. Namun rasa percaya diri dan optimis kita bisa. Bu Salmiati, S.Pd bertugas sebagai coordinator, bu Elva Deni sebagai moderator dan bu Yeni Fitri bertugas sebagai narasumber. Saya kartini bertugas membuat liputan kegiatan.  Sehari sebelum kegiatan Temu Pendidik Daring kami petugas kegiatan melakukan gladi resik. Saat uji coba dilakukan cuaca hujan petir  namun sinyal tetap stabil, sehingga komunikasi lancar dan suara terdengar jelas. Mengingat kondisi cuaca demikian bu Salmiati selaku koordinator yang mengerti IT menyarankan kami untuk berbagi tugas jika sinyal kurang stabil nantinya. Jangan panik jika diantara kita nanti terkendala dengan sinyal usahakan kita santai dan tenang pesan bu Salmiati. Siap komandan ujar kami serentak sambil tertawa. Baca Juga: Sekolah Lawan Corona Saat yang dinanti pun tiba, pukul 13.50 WIB kami mulai  masuk ke ruang Stream Yard bersiap untuk live. Cuaca sangat bagus sinyal oke, semoga kegiatan yang kami adakan sukses. Pukul 14.00 WIB bu Salmiati selaku koordinator membuka kegiatan  dan mempersilahkan bu Elva Deni selaku moderator  untuk memperkenalkan diri serta memandu kegiatan. Sebagai pembuka acara bu Elva Deni memperkenalkan diri dan bercerita tentang kegiatan ini diadakan. Acara selanjutnya bu Elva Deni mengundang bu Yeni Fitri untuk masuk ke ruang Stream Yard. Buk Yeni Fitri pun sudah hadir dan siap berbagi ilmu dengan kami.  Melihat senyum manis dan semangat bu Yeni Fitri membuat kami semakin bergairah untuk mengikuti acara.  Bu Yeni Fitri mulai memperkenalkan diri dan dilanjutkan dengan bercerita tentang  latar belakang merancang media komik saat PJJ. Disaat bu Yeni Fitri sedang semangatnya  bercerita awal mengenal media komik, yang katanya diajari oleh Bapak Felix Catur dari KGB Wonosobo karena melihat unggahan beliau di FB.  Tiba-tiba bu Yeni Fitri hilang dari ruang  stream Yard, ditunggu tidak muncul-muncul, kami langsung panik dan cemas. Ternyata di tempat  bu Yeni Fitri listrik mati sehingga sinyal hilang.dan tidak bisa gabung lagi bersama kami.  Sesuai skenario yang diatur bu Salmiati kami harus berbagi tugas untuk  menghadapinya. Bu Elva Deni harus bicara mengambil alih peran bu Yeni Fitri, saat yang bersamaan saya dimunculkan ke depan layar oleh Bu Salmiati agar mengalihkan perhatian penonton. Sayangnya saat saya dimunculkan di layar pada waktu itu saya juga terkendala dengan jaringan sehingga apa yang dibicarakan bu Salmiati dan Bu Elva Deni  tidak  bisa saya dengar dengan jelas. Menyadari saya juga terkendala dengan jaringan bu Samiati ambil tindakan dengan bercerita tentang awal mula berkenalan dengan KGB yang disambut tertawa oleh bu Elva Deni. Mereka berkisah betapa besar perubahan yang dialami setelah mengenal KGB.  Alhamdulillah jaringan saya stabil kembali dan bisa mendengar percakapan antara Bu Salmiati dengan Bu Elva  dengan jelas. Hal itu segera kulaporkan sehingga mereka meminta saya untuk  bercerita  tentang pengalaman yang didapat setelah bergabung dengan KGB. Karena baru aktif di KGB jadi saya belum punya banyak pengalaman untuk diceritakan. Namun selama belajar di masa pandemi, saya mempunyai cerita tersendiri saat melakukan pembelajaran jarak jauh dengan secara daring menggunakan RPP yang dikeluarkan oleh KGC.  Saat kami sedang berusaha mencari cara untuk mengalihkan perhatian penonton, sungguh  diluar dugaan kami mendapat dukungan dari teman-teman yang ikut live bersama kami. Malu dan panik dapat kami kendalikan, rasa percaya diri muncul kembali setelah membaca pesan dan dorongan dari teman-teman di luar sana. Meskipun tema yang kami sampaikan sangat melenceng jauh dari tema sebelumnya, namun teman-teman  tetap menonton kami sampai selesai.  Kegiatan GUSHARE yang diadakan secara live selesai juga. Walau tidak sesuai dengan rencana namun kami puas dan bahagia karena sudah  melaksanakan amanah dari komunitas guru belajar Pesisir Selatan. Meski malu menghampiri diri namun kami tidak peduli karena kesalahan bukan dari kami tapi situasi yang sedang menguji. Kami banyak mengambil hikmah dan pelajaran yang bermakna dari kegiatan ini, apapun yang terjadi jika kekompakan dan kerjasama tetap terjalin semua dapat diatasi. Semangat belajar guru merdeka belajar, sekali merdeka belajar, tetap merdeka belajar.

Pembelajaran Jarak Jauh Menyenangkan

Apakah murid dapat merasakan pembelajaran jarak jauh yang menyenangkan? Apakah benar pembelajaran jarak jauh yang guru lakukan sudah menyenangkan? Pertanyaan memang kerap membuat guru resah, karena murid banyak mengeluh mengenai pembelajaran jarak jauh. Selain karena adanya jarak, beban tugas juga ikut andil memberikan beban psikologis pada murid. Ihwal ini, guru sepertinya memang harus putar strategi untuk melakukan Pembelajaran jarak jauh yang menyenangkan dan bermakna bagi murid. Alih-alih murid belajar, justru kadang murid tertekan karena satu-satunya tolak ukur keberhasilan hanya ketika murid mengerjakan banyak tugas yang kadang tidak disadari tujuanya oleh guru.  Nah, kali ini kita akan mendengar cerita dari anak-anak yang menjalani PJJ selama pandemi ini. Di Ransel 4 ini, KGB Pekalongan mengadakan Kelas Murid yang bertujuan untuk mendengar cerita murid dari berbagai sekolah mengenai pembelajaran jarak jauh.    Sebagai kelas pembuka, Ransel 4 ini dipandu oleh Lilik Nur Indah Sari dari KGB Pekalongan, tiga narasumber yakni Ayunda Damai Fatmarani. M. Fedrik Manzela yang ditemani wali kelasnya Bu Badriyah, dan Maryam Adelia saling berbagi cerita mengenai Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang sedang mereka hadapi.  Pagi itu Guru Lilik membuka cerita dengan dengan bertanya pada 3 narasumber.  “Gimana sih perasaan kalian saat menghadapi PJJ ini?” Zela dan Damai kompak menjawab bahwa mereka lebih suka belajar dirumah, karena selain belajar mereka juga dapat menjalankan hobi. Zela yang hobi menggambar, selama PJJ ini ia makin rajin menggambar dan membuat komik. Sambil tersenyum, Damai pun menuturkan hal hampir serupa. “Saya merasa senang, soalnya dari belajar dirumah ini lama-lama bisa belajar untuk jadi lebih mandiri untuk membuat prioritas tugas dan kegiatan-kegiatan lainya”. Saat ditanyai lebih lanjut mengenai PJJ yang sedang mereka jalani, murid di Sekolah Cikal Surabaya ini menuturkan jika ia lebih tahu mana yang harus ia dahulukan sehingga dapat memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk melakoni agenda yang sudah ia susun. “Yang pertama tugas-tugas sekolah. mungkin do date atau pengumpulanya yang paling cepat sampai yang paling terakhir. Selain itu, saya sendiri juga punya blog, sehingga saya menyempatkan waktu untuk menulis disitu (blog) dan untuk selingan-selingan ada hobi yang lainya juga.” imbuh Damai. Namun, lain halnya dengan Maryam Adelia atau yang akrab disapa Adel. Murid di SMK Karangdadap ini mengaku justru sedih saat belajar dirumah. “Karena kalau misalnya belajar dirumah kayak sendiri belajarnya. Kemudian juga merasa ada yang kurang, suasananya juga lebih beda” ungkap Adel. Diakui Adel, bahwa ia lebih suka belajar bersama teman-temannya di kelas. Untuk mengusir rasa jenuh ia melakukan hal disukai, seperti menyanyi.  Di kolom komentar, akun Nur Muzdalifatul Ummiyah menuturkan bahwa ia lebih suka belajar dirumah, karena lebih leluasa dan enjoy mengerjakan tugas, dan bisa memiliki lebih banyak waktu untuk belajar lebih produktif. Kemudian, pemilik akun Marsiha Daily mengungkapkan, “Tadinya senang, jadi lebih punya banyak waktu dengan mama-papa masak bareng buat kreasi. Tapi sekarang sudah agak bosan jadinya.”    Selanjutnya, Guru Lilik melempar pertanyaan kepada 3 narasumber, “Apakah kalian rindu dengan teman-teman di sekolah?”  “Saya rindu sekali sama teman-teman, sahabat, kangen sama kantin, kangen sama pelajaran, kangen sama semuanya yang ada disekolah.” Jawab murid di MI Kranji 1 Kedungwuni ini. Meski ia mengaku rindu belajar di sekolah, ia tetap lebih menyukai belajar di rumah.  Terakhir, Guru Lilik bertanya pada Bu Badriyah, “Ibu pernah gak memasukan hobinya anak-anak ke dalam rancangan pembelajaran?” “Sering bu, misalnya seperti pembelajaran umum ketika belum pandemi itu biasa saya masukan. Misalkan, saya kasih materi tentang otot manusia dan manfaatnya itu anak saya kelompokkan jadi beberapa kelompok untuk membuat gubahan lagu biar anak-anak (ingat). Otomatis ketika anak-anak membuat gubahan lagu kan sering baca materinya terus dinyanyikan lagi-dinyanyikan lagi otomatis dia (murid) akan teringat terus dan hafal dengan sendirinya. Terus juga membuat tampilan drama, kadang juga  membuat komik.” Ungkap Bu Badriyah. Hal ini dilakukan untuk menghadapi hobi anak yang sangat bermacam-macam, jadi anak-anak merasa senang di kelas dan tidak monoton.    “Kalau yang akhir-akhir ini di pelajaran bahasa diminta untuk analisis dan review literatur. Nha dari sini, saya dan teman-teman saya bisa memilih karya sastra favorit. Dari situ dibuat analisis literaturnya, jadi gak Cuma memilih karya sastra yang disukai. Akhirnya saya sendiri biasa menulis resensi buku jadi dari pelajaran ini bisa belajar bagaimana bisa improve dalam review buku itu.” Meski hal tersebut hanya kebetulan, namun menurut penuturan Damai bahwa di pelajaran lain ada guru yang membebaskan muridnya untuk membuat apapun yang mereka sukai.”Biasanya setiap 3 bulan sekali ada refleksi akhir pembelajaran gitu, dan disitu karena murid kan beda-beda. ada yang suka menulis, ada yang suka menggambar. Jadi dari situ dibebaskan untuk cerita  selama 3 atau 6 bulan itu belajar apa aja dan dirangkum. Karena saya suka menulis jadi saya membuat esai, teman saya ada yang bikin komik, bikin poster  jadi beda-beda sih tiap muridnya. memang diberikan  kebebasan.  “Kalau di pembelajaran biasanya sih, ada beberapa kayak olahraga saya juga ada sedikit hobi di olahraga sering jadi materi. Kalau di seni budaya kelas X juga pernah masuk dalam materi. Untuk akhir-akhir ini, kemarin beberapa pelajaran mengenai hobi. Disitu kami diminta merencanakan suatu usaha dari hobi yang kita punya.” Ketika ditanya oleh Guru Lilik mengenai sekolah setelah pandemi, Zela menjawab bahwa ia ingin sekolah seperti biasa namun juga diimbangi dengan pembelajaran online.  Lebih suka balance soalnya kalau misalnya di sekolah itu bisa belajar bareng. Diskusi juga lebih lancar bertanya dengan guru juga lebih enak, karena bisa tatap muka. Cuma memang kalau belajar di rumah sendiri juga enaknya bisa lebih fleksibel  terkait pengaturan prioritas pribadi jadi suka kalau misalnya ada balance dari keduanya.  Menutup kelas murid ini, sepertinya kita masih perlu mengingat bahwa makna belajar bukan berarti mengerjakan tugas sebanyak mungkin. Cerita Zela, Damai, dan Adel  memberikan guru sedikit gambaran bagaimana PJJ membuat murid justru lebih menikmati waktu belajarnya atau justru PJJ membuat murid merasa jenuh? 

Belajar dari Video Guru Merdeka Belajar

Rangkaian acara graduation RPP Merdeka Belajar KGBN Sidoarjo terdiri dari 4 sesi, dimulai dari webinar praktik baik literasi yang dibawakan oleh Bapak Wahyu Hidayat, M.Pd,  dilanjutkan review buku antologi praktik baik pembelajaran oleh Ibu Devi Aryani, M.Psi dan Nobar (nonton bareng) video guru merdeka belajar yang dipandu oleh Inka Valentine Haris (saya sendiri).  Video guru merdeka belajar digagas oleh komunitas guru belajar nusantara dan kampus guru cikal dalam rangka menyambut Hardiknas. Dalam kegiatan ini, nonton bareng video guru merdeka belajar sengaja dihadirkan sebagai pelengkap program bantu kuatkan guru dan memiliki tujuan sebagai berikut,    Ciri guru merdeka belajar adalah komitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara belajar dan selalu melakukan refleksi. Bebas dari tekanan, bebas dari tuntutan, inisiatif dari dalam hati merupakan kunci mendasar untuk mencapai tujuan pengembangan guru.  Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Nonton Bareng video Merdeka belajar hadir dimanfaatkan bagi para pendidik untuk berefleksi terhadap upaya-upaya yang telah dilakukan dalam mendidik murid. Guru berdiskusi mengenai bagaimana pembelajaran yang selama ini disajikan kepada murid. Kajian mengenai kebemaknaan belajar murid, seberapa dekat hubungan yang terjalin dengan murid, bagaimana guru menyikapi masalah dan tantangan yang ada. Seperti pernyataan guru Ni Nyoman Sri Widanti “menjadi guru yang merdeka adalah suatu kebahagiaan demikian pula dalam pembelajaran. merdeka yang bermartabat merdeka yang inspiratif dan merdeka yang inovatif adalah cita-cita guru”.  Keseruan acara nobar terletak pada sesi refleksi, beberapa guru berbagi kisah, pengalaman dan solusi dengan penuh semangat. Kisah Guru Nani menjadi perhatian peserta saat itu, Ibu Nani menceritakan bahwa, Selama ini saya menjadi guru memberi materi, tugas, menilai tugas murid, mengisi rapot. semakin lama belajar bukan hanya memberi materi, tetapi belajar memahami karakter masing-masing murid agar bisa lebih mudah mentransfer ilmu. Lalu, semakin berfikir bukan hanya materi pelajaran yg harus diberikan. tetapi juga memberikan motivasi secara spiritual pada anak-anak agar pondasi agama dan karakter mereka menjadi lebih baik. Kekurangan yang terasa adalah tidak menemukan rekan yang sepemahaman. terlalu banyak aplikasi untuk merdeka belajar, tapi tidak dipakai. Jadi mencoba secara perlahan melakukannya sendiri sambil belajar di KGBN Sidoarjo, bertemu kawan-kawan yang seide. Sehingga menjadi lebih semangat untuk mentransfer ilmu pada teman-teman dan pastinya ingin menjadi agen perubahan walaupun sulit tapi tetap semangat. Ibu Ildia Ayu-SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo-juga membagikan pengalamannya. “Dahulu kala, saya terjebak dengan segala sesuatu printilan yang bersifat administratif, sehingga lupa untuk mengupgrade dan memerdekakan diri dalam dunia pendidikan.” Setuju sekali, karena semua komponen tersebut (komitmen, tanggung jawab, dan selalu berefleksi) adalah wujud upaya untuk kemerdekaan belajar bagi guru. “Tentu saja saya ingin menjadi guru yang merdeka, sehingga bisa memfasilitasi kemerdekaan belajar para murid. Insyaallah saya masih ingin terus berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan KGBN Sidoarjo, terutama yang sejalan dengan minat saya.” Dari pengalaman Guru Nani dan guru lain yang hadir dalam acara, kami membuat kesimpulan bahwa guru harus memiliki komitmen kemandirian, kebutuhan murid dan orang tua, situasi yang ada di lingkungan tempat tinggal murid. Penilaian keberhasilan pembelajaran yang kita lakukan dapat diperoleh dari hasil refleksi, maka guru merdeka belajar harus berani meminta refleksi dari murid. Menilai antar teman guru dan menilai diri sendiri secara objektif juga penting dilakukan.  Terima kasih Kampus guru cikal yang telah menggerakkan para guru se-nusantara untuk menjadi guru pembelajar sepanjang hayat. Salam Guru Merdeka Belajar, Salam panjang umur perjuangan.

Cerminan Humanisme dalam Merdeka Belajar

“Utlubul ‘ilma minal mahdi ilal ahdi”, berikut merupakan Hadis Nabi Muhammad saw. yang artinya “menuntut ilmu mulai dari buaian hingga akhir hayat”. Pada hadis tersebut memiliki makna bahwa belajar merupakan hak dan kewajiban bagi siapapun dimulai saat seorang manusia lahir hingga saat terakhir di dunia. Tidak terpatok pada status, usia, gender, jenjang pendidikan, dan sebagainya. Belajar sendiri banyak bentuknya, ada yang belajar dalam hal teori maupun praktek. Hal inilah yang menjadi prinsip saya dalam menjalankan amanah menjadi guru. Guru dalam pendangan orang lain adalah seseorang kunci dari pendidikan dan merupakan uswatun hasanah tidak hanya bagi muridnya tetapi juga masyarakat di sekitarnya. Perasaan yang muncul untuk memenuhi tanggung jawab dan ekspektasi sebagai seorang pendidik akhirnya mengantarkan saya untuk ikut dalam Komunitas Guru Belajar Nusantara di daerah Sidoarjo. Kegiatan yang baru-baru ini saya ikuti dalam proses pengembangan diri bersama KGBN adalah mengikuti acara Nonton Bersama Guru Merdeka Belajar yang diadakan oleh Pengurus KGBN daerah Sidoarjo pada tanggal 13 September 2020 yang dimulai pada pukul 19.00 WIB via Zoom Meeting. Dalam tayangan tersebut, terdapat ungkapan dari Bu Najelaa Shihab selaku founder dari Kampus Guru Cikal dan Inisiator dari KGBN yakni “proses merdeka itu bukan sesuatu yang diberikan, tetapi sesuatu yang kita gerakkan” yang dimana ungkapan tersebut seakan-akan menjadi refleksi bagi saya bahwa menjadi guru yang merdeka tidak bisa dengan bergantung pada tercapainya tujuan pembelajaran oleh murid dan lembaga pendidikan. Kadang saya lupa bahwa guru memiliki kuasa untuk merdeka. Tidak hanya pemenuhan nilai dan prestasi maka seorang guru baru bisa dikatakan guru yang sukses namun lebih kepada pemaknaan dalam pembelajaran yang diharapkan akan selalu dihayati murid.  Bu Najelaa mengemukakan bahwa konsep pendidikan yang merdeka belajar apabila mempunyai komitmen tujuan, mandiri, dan refleksi yang sayangnya masih menimbulkan miskonsepsi. Miskonsepsi tersebut menimbulkan rasa insecure pada diri saya yang juga senada dengan yang dirasakan oleh Bu Sari yang mengatakan bahwa konsep merdeka belajar bagi beliau masihlah gelap karena adanya sistem di lembaga pendidikan yang kurang ingin maju dan hanya bergantung pada atasan suatu lembaga tersebut, apakah memberikan fasilitas bagi gurunya untuk mencapai kemerdekaan atau tidak. Namun bukan dipungkiri bahwa harapan itu selalu ada tergantung pada pendidik apakah ingin merdeka dengan bergerak atau menunggu diberikan. Apabila pendidik mampu merubah miskonsepsi menjadi sugesti yang dibarengi dengan strong-will maka bukan tidak mungkin ketiga rumus tersebut mampu mengantarkan murid pada pengalaman belajar yang baru. Sehingga hasil akhir dari merdeka belajar yang dilakukan guru tentu akan membawa dampak merdeka pula bagi para murid. Banyak sisi dari tayangan tersebut yang memacu saya untuk menggali potensi saya lebih dalam untuk bergerak dan merdeka. Tidak hanya saya, Bu Ildia juga mengungkapkan bahwa dulu ia terjebak dengan segala pemenuhan administrasi sehingga lupa mengupgrade diri namun dengan penyadaran yang kami dapatkan melalui tayangan tersebut maka memacu keinginan kami untuk merdeka dan memfasilitasi kemerdekaan murid yang dapat dilakukan dengan berpartisipasi aktif di setiap kegiatan di KGBN khususnya daerah Sidoarjo. Saya pun mengungkapkan bahwa bentuk dari partisipasi yang bisa saya berikan adalah mengikuti kegiatan pengembangan yang diberikan oleh KGBN daerah Sidoarjo dan mempraktekkannya di lembaga pendidikan saya. Selain itu, saya juga ingin mengajak teman-teman saya, yang saya tahu bahwa mereka masih banyak yang tersesat dan terbelenggu pada konsep pendidikan yang belum merdeka untuk sama-sama belajar dan berkembang di KGBN. Hal tersebut juga banyak diaminkan oleh teman-teman guru lainnya dengan antusias. Bertemu dengan kata merdeka, saya teringat dengan konsep humanisme pada teori belajar yang digagas oleh Maslow dengan jargon memanusiakan manusia agar dapat mengaktualisasikan dirinya secara holistik. Apabila selama ini konsep humanisme sering dikemukakan hanya terfokus pada tumbuh kembang murid maka dalam merdeka belajar, konsep tersebut juga menyentuh guru karena dengan merdeka belajar, guru secara bebas namun tetap terkonsep untuk menggali potensi yang dimilikinya serta mengembangkan potensi tersebut. Tentu hal tersebut akan menimbulkan keberpihakkan tidak hanya pada murid tetapi juga pada guru. Dengan konsep humanisme pada merdeka belajar maka murid akan merasa senang dan termotivasi untuk melakukan kegiatan pembelajaran begitu pula dengan guru yang akan mampu memahami pola pikir murid. Sehingga menurut saya, merdeka belajar adalah kill two birds with one stone yang dimana sangat urgent untuk dipelajari dan dipraktekkan oleh guru pada pembelajaran dengan murid. Yang tentu, disini guru harus bisa menjadi penggerak bukan penerima yang menunggu kemerdekaan diberikan. Baca Juga: Melek Literasi dengan Memanusiakan Hubungan Pemanfaatan merdeka belajar yang sangat saya rasakan terlebih di masa pandemi ini adalah peran guru merdeka belajar dalam melakukan maintain konsep belajar yang menyenangkan dan tidak membebani psikis murid. Dengan mendalami konsep guru merdeka belajar, saya lebih berpihak pada murid, bersikap mengerti dan maklum dengan keadaan setiap murid yang tentunya memiliki kondisi yang berbeda antara satu dengan yang lain. Trait tersebut semakin memacu saya untuk mengeksplor kemampuan saya dalam mendidik, menggunakan strategi, media, dan pendukung pelaksanaan pembelajaran lain untuk menuju merdeka belajar.