Guru Sejarah Merdeka Belajar

Guru Merdeka Belajar menjadi topik yang diangkat Komunitas Guru Belajar Makassar. Kegiatan bertajuk Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar dilaksanakan berkolaborasi dengan Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI). Tidak hanya dari satu provinsi, ASGSI yang ikut berasal dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah. Diselenggarakan pada Sabtu, 14 Desember 2019 Pukul 08.00 – 10.00 WITA. Kegiatan bertempat di Gedung Guru Jusuf Kalla Disdik Sulsel, Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10 Makassar. Acara Nonton bareng Guru Merdeka Belajar yang dipandu oleh penggerak KGB Makassar. Aktivitas ini berlangsung di awal kegiatan sebelum acara Seminar Nasional dimulai. Pada sesi ini diputar video Guru Merdeka Belajar Najelaa Shihab. Nobar dipandu oleh guru Maurensyiah P., S.S., M.Pd dari SMK Darussalam Makassar yang biasa disapa Permata Hati.  Berikutnya, acara dilanjutkan dengan diskusi diantara para guru-guru sejarah 3 provinsi yang disebut tadi serta salah satu perwakilan Asosiasi Guru Sejarah Gorontalo. Acara Nobar Guru Merdeka Belajar sangat tepat ditampilkan dalam kegiatan AGSI kali ini, dan sesuai dengan tema yang diusung oleh panitia yaitu Sejarah Lokal : “Tantangan & Masa Depan “. Sudahkah Guru Sejarah Merdeka Belajar? Pemandu mengucap kalimat “Sudahkah guru-guru sejarah merdeka belajar?” Lalu, riuh muncul dari guru sejarah bahwa mereka adalah guru merdeka belajar. Jawaban spontan muncul “Ya, sudah pasti Guru Merdeka Belajar dong!” “Lalu, bagaimana anak dapat merdeka belajar?” “Dan bagaimana seorang guru sebagai guru yang merdeka dalam berinovasi mengajar”. Guru mampu memberikan inovasi-inovasi pembelajaran sejarah yang lebih kreatif. Bagaimana membangun kesan belajar sejarah bukanlah hal yang membosankan? Umpan pertanyaan ini lalu direspon beberapa guru. Guru Wartawati Damar dari  kabupaten Wajo menyatakan, “Guru sejarah itu harus kreatif menciptakan inovasi pembelajaran dan termasuk kreatif dalam mengenalkan literasi melalui karya tulisan sejarah.” Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Pemandu mengatakan “Cukup jadi diri sendiri jika ingin menajadi Guru Merdeka Belajar.” “Tidak perlu menjadi orang lain, perbaiki saja niat, tumbuhkan semangat dan ciptakan hal-hal yang kreatif dalam pembelajaran sehingga siswa akan menjadi nyaman dalam belajar.” Kreatif dalam berinovasi. Sebagai guru sejarah administrasi pembelajaran memang penting akan tetapi jangan dijadikan beban dan momok dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik. Sempat membagi pengalaman inovasi pembelajaran tentang belajar sejarah melalui video dokumenter, komik sejarah dan majalah sejarah yang diberi nama COMAAGTOON.  Guru Zulkifli mengatakan bahwa guru sejarah itu harus energik, karena guru sejarah tidak hanya mengajarkan masa lalu tapi juga mengajarkan masa kini dan masa yang akan datang karenanya dibutuhkan kreativitas mengajar yang baik. Guru Sejarah harus banyak berkarya lewat tulisan sejarah sebagai salah satu bentuk mengenalkan sejarah dan budaya bangsa kita. Dan bahwa literasi menulis dan literasi berupa lawatan sejarah adalah bagian atau wujud dari guru merdeka belajar. Guru sejarah memiliki potensi tersebut.  Diskusi tidak bisa berlangsung lebih lama lagi. Karena agenda utama seminar nasional telah siap dimulai dan dibuka dan presiden AGSI bapak Sumardiansyah Perdana Kusuma. Beliau yang akrab disapa mas Ryan telah tiba di lokasi kegiatan. Iringan musik dan tarian penyambutan telah bersiap-siap. Diskusi nobar guru merdeka belajar akhirnya berakhir. Harapannya diskusi akan hal tersebut akan kembali berulang di waktu yang akan datang. Arti Merdeka Belajar Di akhir diskusi pemandu kembali menyampaikan kutipan dari Bu Elaa “Guru tidak bisa belajar sendiri.”-“Ciri Guru Merdeka Belajar adalah Komitmen akan tujuan, Guru yang mandiri, dan Guru yang Bercermin (refleksi).” Merdeka belajar adalah proses dimana seorang guru mampu memerdekakan dirinya terlebih dahulu dalam proses belajar mengajar. Guru mampu memberikan rasa nyaman serta rasa merdeka belajar bagi siswa- siswanya. Atau, dengan kata lain Merdeka belajar juga  adalah bagian dari proses belajar seorang guru untuk memiliki komitmen, mandiri serta reflektif. Seorang guru ketika belajar dan mengajar tidak terjebak pada persoalan-persoalan administratif. Tetapi memiliki kesadaran untuk belajar karena kebutuhan alamiah menuju tujuan yang bermakna bagi diri sendiri dan bagi orang lain.

Merdeka Belajar adalah cita-cita Guru

Merdeka Belajar adalah topik yang akhir-akhir ini menjadi pembahasan berbagai guru. Termasuk Komunitas Guru Belajar Gowa yang juga mengangkatnya, karena Merdeka Belajar adalah cita-cita komunitas ini. Bersama MGMP Sosiologi Kabupaten Gowa dalam Temu Pendidik Daerah kami membahas Merdeka Belajar. Berkumpul sesama guru adalah hal yang lazim dilakukan selama ini. Satu orang bertindak sebagai pembawa berita dan pembawa format. Peserta yang lain siap untuk mengeksekusi format tersebut. Kegiatan guru yang bersifat monoton dan mekanik ini mungkin sudah sejak lama berlangsung. Peserta dan pemateri hanya sibuk mendiskusikan tentang format-format dan kolom-kolom perangkat pembelajaran. Bahkan pada aktivitas tersebut tanpa sedikit pun membahas tentang perasaan-perasaan peserta didik. Perlu pula membincang tentang mimpi-mimpi siswa yang beraneka ragam padahal jumlah merekalah yang paling banyak. Mungkin sebagian guru rasanya ingin berbuat yang luar biasa terhadap muridnya. Namun yang menjadi kendala adalah hantu perasaan yang terlanjur menguasai dirinya sebelum berbuat, semoga dugaan saya salah! Menata kembali Orientasi Guru Hari Minggu 26 Januari 2020, di SMA Negeri 8 Gowa. Setelah Hari Raya Nyepi. Para guru dari berbagai daerah dan tingkatan di Kabupaten Gowa kembali berkumpul. Bukan kumpul biasa melainkan berkumpul untuk menata kembali tentang orientasi guru yang sesungguhnya. Guru yang mampu menjadi solusi terhadap problematika pendidikan. Guru yang sering gagal tapi selalu belajar dari kegagalan itu. Komunitas Guru Belajar Gowa bersama Musyawarah Guru Mata Pelajaran Sosiologi Kabupaten Gowa Menginisiasi Temu Pendidik Daerah. Agenda aktivitas ini adalah “Nonton Bareng Merdeka Belajar.” Merdeka Belajar adalah Jalan Terjal dan berliku menuju esensi pendidikan yang memanusiakan.  Sesaat sebelum Acara Nonton Bareng dimulai. Salah satu peserta perempuan berujar cocok mi inne Lebbak to nakke kulangngere Guru Merdeka Belajar, Apa itu kah (Saya juga pernah mendengar istilah itu, kira-kira apa yah ). Peserta lain berkata bahwa yang namanya Merdeka pasti baik ayo mi kita nonton bersama. Alhamdulilah Karena didukung oleh perangkat sound system yang memadai sesaat selepas moderator memutar Video Merdeka Belajar. Suasana kelas menjadi hening seluruh mata tersorot ke Whiteboard. Mata peserta menonton Video Merdeka Belajar yang berdurasi 15 menit . Terlihat para peserta sangat antusias terhadap putaran video tersebut. Mereka menyaksikan rinci demi rinci untuk berusaha memahami lebih dalam tentang konsep Guru Merdeka Belajar. Didapati dari video tersebut, ada 3 dimensi Merdeka Belajar yakni: Komitmen Pada Tujuan, Mandiri terhadap Cara, dan Melakukan Refleksi. Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Tidak terasa video Merdeka Belajar selesai diputar. Para peserta mengapresiasi video tersebut dengan sontak bertepuk tangan. Sebagian peserta nobar sibuk mencatat, ada pula peserta yang mengangguk dan terlihat juga peserta yang sudah siap untuk bertanya. Tampilan yang saya tangkap ini semoga itu semua adalah dinamika proses guru belajar menuju esensi pendidikan yang sesungguhnya. Moderator Kegiatan Nobar dalam hal ini adalah Luktfy Alam, S.Sos mengucapkan terimakasih kepada para peserta Nobar untuk meluangkan waktunya. Selanjutnya kegiatan dilanjutkan dengan sesi refleksi dan diskusi yang akan dipandu oleh Narasumber dan Pemandu Nobar yaitu Ahmad Dharmawan Muslim, S.Pd. Adapun yang bertindak sebagai Koordinator Kegiatan adalah Adelia Octoryta dari Rumah Sekolah Cendikia.  Apa itu Guru Merdeka Belajar? “Terimakasih Bapak Ibu dan rekan-rekan sekalian.”“Mengawali sharing dan refleksi kita kali ini bolehkah saya sedikit bertanya kepada Bapak Ibu yang saya hormati?”Bolehlah Pak! Jawab Peserta.“Baik Bapak Ibu Sekalian kira-kira apa sih itu Guru Merdeka Belajar?” “Silakan dijawab dengan santai tidak usah tegang yah Bapak Ibu.” Kata Pak Ansary yang juga Sekretaris MGMP Sosiologi bahwa “Guru merdeka belajar adalah guru yang mengedepankan kebijaksanaan dalam menjalankan tugas profesinya sebagai guru dan pendidik.”Menurut beliau Guru Merdeka Belajar adalah guru yang peka terhadap lingkungan sekitar. Guru Merdeka Belajar mampu menjadikan lingkungan sekeliling sebagai sumber belajar. Pada sesi refleksi seorang peserta mengkritisi tentang kondisi kurikulum. Dikatakn kurikulum selalu berubah dan cenderung berganti-ganti. Ternyata keluhan tersebut menjadi pintu yang baik untuk berjalannya diskusi yang menarik. Keluhan tersebut langsung saja direspon secara santai oleh narasumber bahwa benar. Sepanjang waktu kurikulum selalu berubah mengikuti tuntutan dan perkembangan zaman.“Nah poin pentingnya adalah apakah ketika kurikulum terus berubah cara mengajar mengajar kita juga berubah?”“Kalau kurikulum berubah terus cara mengajar kita tidak berubah maka bisa dipastikan bahwa ada ruang yang senjang antara kebutuhan murid dengan apa yang kita lakukan di ruang kelas.” Pak Ahmad Dharmawan, S.Pd selaku Narasumber Nobar Kali ini menjawab tegas. Dari penjelasan peserta pun seakan memahami keadaan tersebut.  Dinamika Merdeka Belajar Para peserta sangat antusias dan bersemangat dalam menyambut dinamika Merdeka Belajar. Tidak sedikit yang langsung mengatakan Pak Luktfy pulang dari Nobar ini saya akan berubah. “Saya mencoba untuk melakukan praktek-praktek yang berorientasi pada tujuan pembelajaran dan kebutuhan peserta didik”. Guru Hasdia yang bertugas di SMA Aksara Bajeng mengutarakan bahwa Guru Merdeka Belajar adalah semacam petunjuk anti keliru bahwa ternyata seorang guru itu ketekunannya harus diprioritaskan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang bermakna. Guru yang bukan hanya sekedar tekun tanpa tujuan. Dikatakan bahwa muara dari merdeka belajar adalah kondisi yang bahagia antara guru dan peserta didik karena tujuan mereka tercapai. Guru haruslah merdeka baik dalam berpikir, bersikap dan bertindak. tutur Hasdia, S.Pd  Seirama dengan yang lain Guru Nurul Saada dari SMA Batara Gowa mengatakan bahwa Guru Merdeka Belajar adalah guru yang senantiasa memberikan usaha yang terbaik dalam membuat siswa mampu untuk memahami apa yang mereka pelajari. Guru yang mampu mengkorelasikan dalam kaitannya dengan kehidupan keseharian mereka. Ibu Saada menambahkan bahwa pembelajaran yang kita laksanakan harus menjamin adanya dampak yang signifikan terhadap tumbuh kembang kognitif, afektif dan psikomotorik peserta didik. Beliau menjamin selepas kegiatan Nobar akan melakukan perubahan- perubahan progresif dalam mendesain rencana pembelajarannya.  Ibu Eramiati dari SMA Negeri 14 Gowa memulai pandangannya. “Alhamdulilah dari kelima miskonsepsi tadi sepertinya tidak ada yang terlalu dekat.” Beliau berpendapat bahwa dunia pendidikan adalah segmen yang selalu mengalami perubahan sesuai dengan arus perubahan sosial. Guru yang merdeka adalah guru yang selayaknya mengajarkan hal-hal yang kontekstual. Guru mengajar seiring dengan arus global perubahan sosial dengan tetap berpegang teguh pada kode etik keguruan, nilai dan falsafah pendidikan Indonesia. Beliau sangat berharap kedepannya dunia pendidikan khususnya guru harus beradaptasi. Guru siap dengan berpindahnya sebagian aktivitas pendidikan dalam dunia digital virtual. Sebesar apapun perubahan dunia global guru harus tetap berdiri kokoh dalam menanamkan hal-hal yang baik dan benar. Harapan Baru Bagi Guru Pertemuan hari ini tergolong cukup luar biasa tidak terasa … Read more

Guru yang Merdeka Belajar, Guru Adaptif

“Bagaimanakah pendidik yang adaptif itu?”Pertanyaan yang diajukan guru Niam membuat peserta Nonton bareng video Guru Merdeka Belajar dari Najelaa Shihab di TPN 2016 terhenyak. Kemarin tepatnya pada hari Sabtu, tanggal 21 September 2019 telah dilaksanakan nonton bareng video guru Merdeka Belajar yang dipandu oleh saya sendiri, Mahendrayana. Kegiatan ini dilakukan di kediaman saya yang berlokasi di Jl. Pembangunan 2, Pekalongan. Penonton tampak serius menyaksikan menit demi menit video rekaman ibu Najelaa Shihab tersebut. Beberapa penonton nobar terlihat penasaran, ketika sesi diskusi, berbagai ide dan pandangan mulai dituangkan satu per satu oleh para peserta Nobar yang terdiri dari Guru Niam, Guru Madya, Guru Eki, Guru Li’lli, Guru Danny dan Guru Uzly. Ada beberapa pertanyaan yang langsung terbersit begitu mendengar definisi ini, terutama bagi kita yang jarang mempertanyakan tujuan, dan sekadar ikut saja dalam perjalanan. Komitmen seseorang yang Merdeka Belajar adalah ketekunannya dalam perjalanan menuju tujuan yang bermakna bagi diri sendiri. Banyak murid maupun guru yang masuk kelas tanpa tujuan dan kejelasan. Tak heran saat ditanya bagaimana kelas hari ini, atau apa yang dipelajari hari ini, jawaban langganan adalah biasa saja atau malah tidak tahu. Padahal, negara menganggarkan tak sedikit untuk pendidikan dari APBN, bahkan telah diatur di pasal 31 UUD 1945 bahwa sedikitnya 20% anggaran digunakan untuk sektor Pendidikan. Tujuan pendidikan yang mencerdaskan bangsa lewat jalan demokratis tak boleh menyia-nyiakan anggaran tersebut.  Sangat diperlukan proses belajar yang bermakna mensyaratkan kemerdekaan guru dan murid dalam menentukan tujuan dan cara belajar agar menciptakan proses pembelajaran yang sangat efektif. Murid merdeka menetapkan tujuan belajar bersama, memilih cara belajar yang efektif, dan terbuka melakukan refleksi bersama guru.  “Sebagian besar anak Indonesia mimpinya hanya sebatas tingginya tangan saat menjawab pertanyaan guru di kelas” begitu yang disampaikan Ibu Najelaa. Hal ini dibenarkan oleh pendapat Guru Niam yang menceritakan pengalamannya ketika menjadi kepala sekolah. “Sekarang, zaman sudah berubah, guru di sekolah saya harus menjadi guru merdeka belajar…” tuturnya.  Padahal seharusnya lewat pendidikan, anak-anak mampu memiliki aspirasi yang tinggi. Menurut video tersebut, kondisi ini hanya terjadi saat anak-anak memiliki kemerdekaan belajar. “Jadi, tak hanya gurunya saja yang merdeka, namun juga muridnya” begitu pendapat dari guru Eki.  Proses kemerdekaan belajar baik itu dari sisi murid maupun guru, adalah bukan sesuatu yang diberikan melainkan sesuatu yang diusahakan. Ada hal yang sangat esensial dalam kemerdekaan belajar yaitu Komitmen, Mandiri, dan Refleksi.  Komitmen artinya adalah tetap berpegang teguh pada tujuan. Tentu hal ini tak mudah. Pendidik sering terjebak pada tugas-tugas administratif, ketentuan birokratis, akreditasi, ujian, nilai, yang semua itu adalah cara atau teknis pelaksanaan, bukan tujuan. Cara dilakukan untuk mencapai tujuan dari pendidikan, akan tetapi prioritas seolah mengunggulkan cara lebih tinggi daripada tujuan. Kemandirian memiliki banyak tingkatan yang harus dilewati yaitu manipulasi, kesadaran, dialog, kemitraan, masukan, kendali, pemberdayaan. Sebagian dari pendidik tak mampu melewati tingkatan kemandirian karena terhalang bahkan sejak awal langkahnya. Masih banyak manipulasi dan kemandegan dialog serta kemitraan di lingkungan pendidikan.  Refleksi sering susah dilakukan sebab kita takut akan perubahan. Yang ada kita beralasan murid belum paham, orang tua menentang, dan lain sebagainya.  Diskusi makin serius ketika membahas permasalahan ruwetnya kemerdekaan belajar di sistem pendidikan di Indonesia. Ibu Najelaa memaparkan mengenai kompetensi yang beragam dan sering tak sesuai dengan siswa. Hal ini memicu guru Uzly untuk beropini tentang kasus yang pernah ditemui. Bagaimana ada seorang guru mengampu beberapa mata pelajaran yang sangat berbeda dikarenakan kurangnya tenaga pendidik.  Reformasi pendidikan butuh waktu, bahkan dalam video disebutkan “Lebih susah dibanding menerbangkan Apollo”. Hal ini menyangkut pemangku kepentingan, sumberdaya, dan keberhasilan itu sulit dilihat.  Hal yang sekarang perlu dilakukan oleh pendidik adalah melawan miskonsepsi tentang proses guru belajar. Banyak yang bilang guru itu mau belajar jika ada insentif dan sertifikat. Padahal seharusnya belajar adalah proses alamiah, yang akan terjadi terus menerus. Miskonsepsi selanjutnya adalah guru hanya mampu belajar dari ahli atau pakar. Guru yang Merdeka Belajar mampu belajar dengan sesama guru. Dan cara inilah yang paling efektif. “Guru tak perlu figur sempurna, guru itu perlu figur realitis, guru lain yang belajar dan mempraktekkan apa yang dia pelajari” papar Najelaa Shihab. Guru cukup belajar how to nya? Resepnya? Oh ternyata, guru belajar adalah guru yang paham konsep, belajar dengan tujuan dalam konteks. Guru yang profesional adalah guru yang adaptif, sebab kebutuhan setiap murid akan berbeda setiap harinya.  Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Ingin mengubah dunia pendidikan ke arah yang jauh lebih maju adalah impian saya sejak masih di bangku sekolah. Saya tergolong sangat awam di dunia pendidikan, profesi saya yang jauh dari inner circle pendidikan, bahkan beberapa rekan saya menyayangkan saya ketika mendaftar untuk menjadi anggota Komunitas Guru Belajar. Namun ketika mendengar ibu Najelaa bilang “Guru yang merdeka belajar adalah kunci pendidikan” rasanya ini sangat memacu untuk lebih banyak mencari tahu soal ini. Pada saat bicara guru merdeka belajar adalah kunci, maka ini bukan menyangkut individu melainkan ekosistem. Sebab tidak ada guru yang bisa belajar sendirian, perlu adanya jaring-jaring saling mengisi kompetensi antar guru.  “Bahwa kita dan apa yang kita lakukan adalah yang kita nanti-nantikan, jadi kita tak perlu menunggu siapapun untuk merdeka belajar” tutup Ibu Najelaa Shihab yang disambut tepuk tangan peserta nobar. “Sepakat untuk bersama-sama mewujudkan guru merdeka belajar” ucap Guru Niam sebagai refleksi atas video. “Siap melewati tingkatan menuju kemandirian” sambut guru Eki. Saya sebagai pemandu acara nobar ini senang sekali dengan antusiasme yang diperlihatkan teman-teman. Pada nobar Merdeka Belajar ini boleh jadi saya baru bisa mengajak 6 peserta, namun hal ini justru menguatkan semangat saya untuk mengajak lebih banyak lagi teman-teman agar konsep merdeka belajar ini semakin meluas efeknya. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar? Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 6Unduh GratisKlik:

Merdeka Belajar itu yang Seperti Apa?

Pertanyaan tentang “Apa itu Merdeka Belajar?”, kami bahas pada Rabu, 18 September 2019, melalui aktivitas temu pendidik yang tidak biasa dilakukan di sekolah kami. Bertempat di ruang kelas IA pukul 13.00-14.30 WIB, guru-guru SD Muhammadiyah 1 Muntilan, Magelang berkumpul untuk menonton bareng video Merdeka Belajar. Ini merupakan kegiatan yang tergolong baru di sekolah kami, karena sebelumnya belum pernah dilakukan. Pertemuan Kelompok Kerja Guru yang dilakukan secara rutin setiap bulan biasanya hanya sekadar membahas administrasi guru, agenda kegiatan sekolah dalam waktu sebulan ke depan, atau tentang laporan keuangan selama satu bulan.  Istilah tentang Guru Merdeka Belajar masih terasa asing di keseharian kami. Saya sendiri, Titik Nur Istiqomah, berperan sebagai moderator untuk membuka kegiatan nonton bareng ini. Bahkan ketika mau memulai kegiatan ini, ada peserta yang bertanya “Kita mau menonton bareng film apa? Lho, guru kok diajak nonton bareng?”  Saya lalu menjelaskan sebentar tentang video apa yang akan kami tonton di pertemuan hari itu. Sebelum pemutaran video, saya juga bertanya apa yang diketahui sebelumnya oleh peserta tentang Merdeka Belajar, hampir semuanya saling memandang satu sama lain, meminta bantuan pertimbangan dari yang lainnya untuk menjawab pertanyaan. Kemudian, pertanyaan saya ubah dengan meminta peserta mengungkapkan kira-kira apa arti Merdeka Belajar. Dari delapan peserta yang hadir, ada yang menjawab dengan kesempatan untuk belajar seluas-luasnya dan setinggi-tingginya. Ada yang menjawab belajar yang bebas dan tidak tertekan. Ada juga yang menjawab belajar tanpa terjajah oleh siapapun. Jawaban yang menarik. Dari jawaban-jawaban tersebut, pertanyaan menjadi merambah ke beberapa hal tentang siapa yang berhak mendapatkan kemerdekaan dalam belajar, bagaimana menjadi guru yang merdeka belajar, praktik merdeka belajar itu yang seperti apa. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, kami melanjutkan sesi selanjutnya, yaitu mengamati video merdeka belajar oleh Ibu Najelaa Shihab.  Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Usai 15 menit mengamati video merdeka belajar, sesi paling menarik selanjutnya adalah refleksi. Refleksi dibuka dengan mengutip kata-kata ibu Najelaa Shihab, “Yang kita inginkan adalah anak-anak yang punya aspirasi tinggi, yang punya cita-cita melampaui langit, melampaui batas ruang kelas, melampaui batas dunianya. Dan itu hanya akan terjadi pada saat anak-anak punya kemerdekaan dalam belajar. Tapi kemerdekaan belajar murid-murid hanya dapat terjadi pada saat kita sebagai pendidik juga memiliki kemerdekaan. Apakah ibu-ibu sudah merasa merdeka dalam belajar?” Semua peserta mengungkapkan secara jujur bahwa mereka baru tahu kali ini tentang ciri-ciri Guru Merdeka Belajar. Ciri guru yang Merdeka Belajar adalah memiliki komitmen, memiliki kemandirian, dan melakukan refleksi. Namun, semua juga sepakat bahwa ternyata selama ini, masih banyak miskonsepsi yang kami lakukan dalam belajar maupun dalam mengajar. Kami mengakui, ternyata selama ini, kami belum menjadi guru yang merdeka belajar.  Salah satu peserta, guru Tesa Erma Yussie mengungkapkan bahwa di antara semua miskonsepsi yang disebutkan dalam tayangan, yang paling menggambarkan dirinya adalah terjebak pada tugas-tugas administratif, ketentuan-ketentuan birokrasi, hingga ujian, akreditasi, seleksi, nilai, yang sebetulnya semuanya hanya cara, kemudian menjadi tujuan, dan menjadi prioritas utama. Bahkan lebih tinggi dari prioritas tujuan pendidikan nasional sendiri atau prioritas kita masing-masing, mengapa kita memilih menjadi pendidik.  Guru Umi Nur Hanifah mengamini bahwa banyak dari kita yang menolak untuk melihat cermin dan terkesan menyalahkan pihak lain. Kita bilang masyarakat belum paham, kita bilang anak-anak tidak mengerti, kita bilang orang tua akan menentang. Padahal itu sebenarnya alasan dari ketakutan diri kita sendiri untuk menuju perubahan. Banyak kompetensi guru yang sama sekali tidak berdampak pada siswa, kesempatan peran dan jenjang karir guru yag masih terbatas, dan kesempatan kolaborasi di antara guru yang belum berkembang utuh. Guru Wiwin Setiyana memberikan kesimpulan dari hasil tayangan video yang beliau pahami adalah bahwa ternyata guru belajar paling efektif sebetulnya dari sesama guru lain yang belajar, mempraktikkan apa yang dipelajari, dan yang belajar banyak dari kegagalan sebelum akhirnya berhasil. Guru Indah Sulistyaningsih lalu menambahkan, “Sejak kemarin saya bertanya-tanya, guru yang merdeka belajar itu yang seperti apa? Sekarang terjawab sudah. Ternyata saya belum merdeka, namun saya ingin belajar menjadi guru yang merdeka belajar.” Forum diskusi kami tutup dengan kesepakatan dan kesepahaman bahwa kami sebagai pendidik akan melawan miskonsepsi guru merdeka belajar bersama-sama. Bahwa guru belajar bukan karena ada insentif, bukan juga untuk mendapatkan sertifikat, namun guru belajar karena kebutuhan alamiah. Kami sepakat bahwa guru merdeka belajar tidak diburu target yang dipaksakan. Namun, menyadari bahwa belajar butuh waktu untuk memahami apakah inovasi itu sudah sesuai dengan kondisi siswa ataukah malah tidak bisa dipakai. Guru yang merdeka belajar adalah kunci. Sehingga kompetensi bukan bersifat individual, namun potensi individu yang didukung oleh ekosistem yang baik. Tidak ada guru yang kompeten sendirian, bisa merdeka belajar sendirian. Ketika sampai pada pertanyaan terakhir di akhir sesi dalam kegiatan nonton bareng Guru Merdeka Belajar ini tentang kata-kata apa yang terngiang-ngiang dalam video dan harapannya akan dipraktikkan selanjutnya secara bersama-sama, guru Hesti Tri Rahayu mengungkapkan beliau sangat setuju dengan kalimat ibu Najelaa Shihab tentang mimpi kita adalah untuk membalik piramida pendidikan di Indonesia, sehingga bisa adaptif dan ada umpan balik yang berjalan. Apa yang bisa dilakukan masyarakat untuk mendukung pemerintah, dan apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk meningkatkan cara, praktik-praktik baik yang sudah ada di masyarakat. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar? Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 6Unduh GratisKlik:

Merdeka Belajar, Mengingat Kembali Tujuan Pendidikan

Pendidikan dan Merdeka Belajar. Ketika menyebut terminologi ini. Maka kita perlu melihat kondisi belajar di lapangan. Di lapangan, sering kita mendengar guru yang bimbang antara mengejar materi dan menyelesaikan tuntutan kurikulum atau mendahulukan pemahaman siswa. Banyak siswa yang malu ketika mendapat nilai rendah saat ulangan, tapi biasa saja saat menyontek ketika ulangan. Banyak guru yang terfokus pada administrasi pendidikan, tapi lalai dengan tugasnya saat pembelajaran. Tujuan adalah panduan dalam melaksanakan berbagai hal, salah satunya pendidikan. Kaburnya tujuan akan menyebabkan kebingungan dalam melaksanakan proses pendidikan. Berawal dari keresahan tersebut, saya sangat berharap bisa mengumpulkan rekan guru di Kendari dan sekitarnya yang memiliki keresahan yang sama untuk berdiskusi bersama dan mencari solusi atas permasalahan yang ada. Akhirnya pada Minggu, 15 September 2019 terlaksanalah kegiatan Temu Pendidik Daerah di Laboratorium Bahasa Inggris MAN 1 Kendari dengan agenda Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar, sebagai awal dari sebuah ikhtiar untuk secara aktif turut serta meningkatkan kualitas pendidikan kita. Kegiatan yang dipublikasikan sekitar satu pekan sebelum kegiatan ini, berhasil menyatukan enam belas orang guru di Kendari dan sekitarnya yang secara sukarela hadir di kegiatan tersebut. Sebagai informasi, kegiatan Temu Pendidik Daerah ini baru pertama kali diadakan di  kota Kendari, sehingga banyak rekan guru yang belum mengenal satu sama lain. Karena itu, kegiatan dimulai dengan ice breaking perkenalan oleh para peserta. Selain bertujuan untuk menjalin keakraban, juga diharapkan dapat menyegarkan  pikiran rekan guru setelah satu minggu beraktivitas di sekolah. Peserta terlihat menikmati kegiatan ini karena mereka tidak hanya berkenalan, tapi juga bernyanyi dan berlari kecil berebut mencari rekan sekelompok berdasarkan instruksi yang diberikan. Agenda kedua dari kegiatan ini adalah perkenalan tentang Komunitas Guru Belajar. Saya, Ranti Widiastuti mewakili dua orang teman saya yang bersama‐sama menggagas kegiatan Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar di Kota Kendari. Pertanyaan pertama yang saya lontarkan kepada rekan guru yang hadir adalah “Apakah Bapak/Ibu sebelumnya sudah pernah mendengar tentang Komunitas Guru Belajar?” Semua guru yang hadir menjawab dengan jawaban senada, “belum pernah”. Perkenalan tentang Komunitas Guru Belajar ini sangat penting dilaksakan. Sebelum memasuki agenda inti untuk menyamakan persepsi dan menjelaskan kenapa kegiatan Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar ini perlu dilaksanakan dan apa manfaatnya bagi pendidikan?. Setelah menjelaskan informasi seputar Komunitas Guru belajar, saya berbagi pengalaman tentang alasan pribadi saya bergabung di Komunitas ini. Setidaknya ada tiga alasan utama yang mendorong saya untuk bergabung di Komunitas ini. Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Pertama, menjawab kebutuhan. Berdasarkan pengalaman beberapa tahun mengikuti kegiatan seminar, workshop maupun Komunitas pendidik lain, umumnya topik yang dibahas berfokus pada administrasi pendidikan, misalnya pengmbangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Sementara itu, sebagai pendidik saya juga membutuhkan komunitas untuk membahas masalah‐masalah praktis di dalam kelas seperti menenangkan siswa yang ribut dikelas, memfokuskan siswa saat pelajaran jam terakhir, membuat latihan terasa menyenangkan, dan berbagai masalah real yang terjadi di dalam kelas.  Kedua, berkelanjutan. Banyak workshop, seminar atau kegiatan pengembangan guru yang pertemuannya hanya sekali. Padahal, pembelajaran di kelas bersifat dinamis dimana setiap hari guru menemukan bisa saja menemukan masalah‐masalah baru yang tidak bisa diselesaikan sendiri. Karena itu, harus ada ruang untuk berbagi keresahan dan adanya guru lain yang berbagi praktik cerdas pengajaran yang secara nyata efektif menyelesaikan masalah yang mungkin baru saja dialami oleh guru lainnya. Karena itu, diperlukan adanya pertemuan dan diskusi berkala untuk dapat menjawab pertanyaan dan berbagi inovasi pembelajaran. Ketiga, lingkaran yang sevisi. Komunitas Guru Belajar memiliki jaringan di seluruh Indonesia dengan anggota para guru yang memiliki kesadaran bahwa guru masih harus belajar. Mereka juga sangat memahami bahwa guru yang memiliki kegemaran belajarlah yang dapat menularkan semangat belajar kepada siswanya. Dengan adanya lingkungan yang kondusif, guru‐guru akan saling mendukung satu sama lain dan ruang kolaborasi semakin terbuka lebar. Selanjutnya, dilaksanakan kegiatan inti dari ini yaitu Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar. Sempat mengalami masalah teknis karena suara tidak mau keluar saat laptop yang digunakan tersambung di proyektor, namun kegiatan nonton bareng ini tetap berlangsung khidmat dan penuh makna. Meskipun video berdurasi sekitar lima belas menit itu hanya ditonton melalui layar laptop, namun tidak mengurangi esensi dari konten yang disampaikan oleh Ibu Najelaa Shihab tersebut. Audio yang disambungkan dengan speaker itu tetap dapat menjangkau seluruh ruangan, karena itu pesan yang dibawa pun tetap tersampaikan.  Sesi refleksi dimulai setelah seluruh video tersebut rampung ditonton bersama. Banyak yang merasa terbuka pikirannya dengan materi yang disampaikan oleh Bu Elaa, sapaan akrab Ibu Najelaa Shihab. Ibu Ayu misalnya, ia mengungkapkan bahwa “Video ini sangat membuka mata. Wadah dimana saya bisa berbagi dan mengemukakan apa yang saya rasakan dan menemukan pendidik yang memiliki tujuan yang sama”. Senada dengan hal itu, Pak Basri seorang guru Madrasah Ibtidaiyah juga berkata “Sangat bagus. Video ini membuka pikiran saya bahwa guru harus punya tanggung jawab yang besar untuk siswa‐siswinya. Bukan sekedar menggugurkan kewajiban, tapi guru harus punya inovasi untuk kemajuan siswanya tidak hanya mengikuti format yang telah ditetapkan. Guru harus merdeka dalam belajar begitupun dengan siswa”. Pada sesi ini, banyak refleksi yang dilakukan oleh rekan guru yang hadir. Ibu Nining misalnya, ia bercerita bahwa ia baru sadar bahwa ternyata tujuannya mengajar selama ini adalah untuk mentransfer pengetahuan dari bidang ilmu yang diampunya. Ia lupa bahwa tujuan pendidikan bukan hanya untuk mengajarkan materi pelajaran, namun juga untuk mendidik peserta didik agar memiliki akhlak yang baik dan menyiapkan peserta didik dari segi karakter dan mental untuk memasuki kehidupan sesungguhnya setelah lulus dari bangku sekolah. Selain itu, Pak Basri pun menambahkan dengan mengaitkan pengalamannya di pendidikan selama ini dengan ciri‐ciri guru merdeka belajar yang ketiga, yakni refleksi. Ia menjelaskan bahwa dia dan rekan gurunya di sekolah banyak yang tidak melakukan refleksi usai pembelajaran. Seringkali, mereka hanya mengeluh dan menempatkan kesalahan pada peserta didik atau sistem pendidikan yang berjalan. Setelah menonton video ini, kami yang hadir di kegiatan ini menyadari bahwa ada miskonsepsi tujuan yang seringkali terjadi tapi tidak disadari. Nilai, penilaian, dan ujian yang seharusnya adalah cara untuk mendidik peserta didik, justru menjadi tujuan utama kita saat pembelajaran di dalam kelas. Masih banyak di antara kami yang sering mendahulukan hal tersebut dibandingkan bagaimana mendidik siswa untuk jujur dalam setiap ujian, untuk menghargai saat temannya sedang berbicara, untuk bangkit saat mereka gagal, untuk memiliki rasa … Read more

Pelatihan Guru Merdeka Belajar – Sudahkah Kita Merdeka Belajar?

KGB Makassar mengadakan kegiatan Pelatihan Guru Merdeka belajar pada Sabtu, 14 September 2019. Pelatihan kali ini dilaksanakan dengan berkolaborasi dengan Yayasan Pendidikan Darussalam Makassar, yang berlangsung di Meeting Room Kenanga SMK Darussalam Makassar. Acara pelatihan ini dimulai tepat pukul 09.00 WITA sampai pukul 17.00 WITA. Dalam pelatihan kali ini tampil pak Baja Seto dan pak Maman Basyaiban dari Kampus Guru Cikal selaku narasumber.  Pelatihan Guru Merdeka Belajar adalah proses belajar bersama para guru. Beberapa guru mengatakan bahwa awalnya sebelum pelatihan mereka mengira bahwa merdeka adalah bebas berekspresi. Awalnya mereka ingin tahu tentang apa itu Guru Merdeka Belajar. Belajar dari Pelatihan Guru Merdeka Belajar Menurut para peserta apa yang mereka pelajari dari Pelatihan Guru Merdeka Belajar adalah bagaimana guru sebagai seorang guru harus bisa merefleksi diri baik melalui kolaborasi sesama pendidik maupun melalui timbal-balik dari peserta didik. Oleh pak Maman mengatakan bahwa terdapat kolaborasi antar siswa  demikian halnya antar guru, jika guru ingin murid berkolaborasi, sebagai teladan, kita sebagai guru juga perlu berkolaborasi antarmata pelajaran. Beberapa guru juga masih mengingat dengan jelas ketika merefleksi hasil pelatihan Guru Merdeka Belajar salah satunya adalah pelajaran Matematika dengan materi bangun datar. Salah satu guru juga dalam refleksi pelatihan ketika pak Baja seto bertanya menyebutkan materi yang mereka dapatkan adalah diantaranya tentang Intentional Learning (Pengajaran langsung) dan Self Regulated learning. Materi lain penilaian diri dalam 4K. Oleh Anita Taurisia Putri salah seorang penggerak mengatakan bahwa dalam keseharian banyak hal yang berkaitan dengan Matematika, akan tetapi kita terpaku pada rumus atau angkanya, kita tidak memasukkan dalam realita kehidupan, sehingga menganggap peralatan Matematika susah, padahal keseharian kita penuh dengan Matematika. Penggerak lain, Erni Marlina mengatakan bahwa selaku guru  Bimbingan & Konseling, anak-anak selalu senang jika belajarnya tidak monoton berupa ceramah, jadi hendaknya belajar selalu diakhiri dengan ungkapan dan keinginan siswa, dan siswa pasti bahagia karena diberikan kesempatan untuk berpendapat.  Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Persoalan dunia pendidikan adalah persoalan kita bersama, kemajuan pendidikan adalah kebanggaan dan sekaligus harapan  kita bersama, oleh karena itu sudah siapkah kita mencetak generasi harapan bangsa? Sudahkah kita merasa merdeka dalam belajar? Jika belum bangunlah dan bangkitlah, mari belajar bersama Komunitas Guru Belajar untuk berkolaborasi dan saling berbagi praktek mengajar,saling menginspirasi satu sama lain. Ingin ikut pelatihannya secara online? Klik link di bawah ini

Merdeka Belajar, Mengubah Keresahan Menjadi Keberdayaan

Guru adalah figur perubahan pendidikan yang penuh cita-cita. Tapi di ruang kelas, seringkali keresahan-keresahan membuat guru seolah tidak berdaya. Beberapa pekan sebelumnya, ruang percakapan di Grup Whatsapp Guru Belajar Tegal dipenuhi obrolan anggota grup tentang keresahan-keresahan yang paling sering ditemui guru di ruang kelas. Ada yang menemui keresahan yang berbeda, tak sedikit juga ternyata menemui keresahan yang serupa. Lalu, bagaimana guru bisa mengubah keresahan menjadi keberdayaan? Minggu (15/9), keresahan-keresahan tersebutlah yang menggerakkan guru-guru berkumpul dalam agenda Temu Pendidik Daerah kedua Komunitas Guru Belajar Tegal yang bertajuk “Ngobrolin Guru Belajar”. Agenda yang berlokasi di Spasi Kreative Space ini dihadiri oleh guru-guru dari kabupaten dan kota Tegal. Jenjang dan jalur pendidikannya pun beragam, mulai dari guru SD, MI, SMA, guru bimbel, hingga guru dari kelas kreatif. Miskonsepsi Guru Belajar Agenda berlangsung dari pukul 09.00 wib yang diawali dengan menonton bersama video Bu Najelaa Shihab tentang “Merdeka Belajar” yang dipandu oleh Bu Erna dari SDIT Alam Bina Insani. Seusai menyimak pemaparan “Merdeka Belajar” dari video, peserta antusias mendiskusikan refleksi bersama tentang miskonsepsi guru belajar yang sering ditemui atau dirasakan sendiri oleh peserta. Yang paling banyak direfleksikan peserta adalah bahwa selama ini guru dianggap perlu belajar hanya karena insentif eksternal (sertifikat, uang, dan sebagainya), padahal guru belajar adalah sebuah kebutuhan alamiah guru. Seperti agenda belajar di Temu Pendidik Daerah ini yang berangkat dari keresahan di ruang kelas masing-masing guru yang ingin dicari solusinya dengan belajar lewat saling berbagi praktik baik.  Guru Berdaya lewat Berkolaborasi Agenda dilanjutkan dengan sharing pengalaman Bu Dini dari Spasi Kreative Space tentang kolaborasi yang pernah dilakukan dengan Komunitas Guru Belajar. Menurut bu Dini, guru-guru yang merdeka belajar seringkali punya mindset yang antimainstream dalam pendidikan. Ketika tahun 2018 lalu muncul sebuah ide tentang kegiatan yang memberi dampak baik dengan mengajak anak-anak menjelajahi tempat-tempat ibadah di kota Solo bertajuk “Piknik Anak Hebat”. Ide tersebut ternyata disambut baik oleh guru-guru belajar untuk berkolaborasi bersama sehingga akhirnya sukses terselenggara.  Kolaborasi menjadi kunci yang penting dalam pendidikan. Kolaborasi guru dengan sesama guru maupun dengan komunitas atau pihak lain menjadikan pembelajaran untuk murid semakin kaya, tidak terbatas hanya di ruang kelas. Peserta antusias menanggapi bahkan mengungkapkan pendapat agar kegiatan kolaborasi guru dengan berbagai pihak juga harapannya bisa diselenggarakan di Tegal. Kekuatan Refleksi Salah satu sesi yang tidak kalah seru adalah saat sesi refleksi sebelum agenda diakhiri. Masing-masing peserta menyampaikan refleksi dari sesi-sesi agenda belajar. Bu Eva, peserta yang merupakan seorang guru bimbel mengungkapkan bahwa baru saat itu benar-benar merasa diakui sebagai guru. Beliau menyadari bahwa ternyata walau beliau hanya guru bimbel, ada tantangan yang sama, keresahan yang sama saat mendampingi murid. Pertemuan guru dengan berbeda bidang dan jenjang semacam ini juga bisa jadi sarana menyamakan persepsi, saling terbuka, saling melengkapi, dan bersinergi. Refleksi lain dari Bu Nurlina yang berasal dari kecamatan yang cukup jauh dari lokasi Temu Pendidik. Meski harus menempuh kurang lebih 1,5 jam untuk berangkat ke lokasi, tidak menyurutkan semangat beliau untuk belajar. “Saya ingin lebih memahami permasalahan dalam kelas dan belajar cara mengatasinya. Saya sangat senang dapat wawasan baru juga, kegiatan seperti ini sangat bermanfaat.” Ungkap Bu Nurlina di sesi refleksi. “Tidak ada guru yang bisa belajar sendirian. Tidak ada guru yang bisa kompeten sendirian. Dan tidak ada guru yang bisa merdeka belajar sendirian.” Begitulah kutipan kalimat bu Najelaa Shihab dalam video “Merdeka Belajar”. Maka agar bisa mengubah keresahan menjadi keberdayaan, mana jalan yang seharusnya dipilih guru: terus sibuk seorang diri mengeluhkan keadaan atau merdeka belajar bersama rekan seperjuangan?

Merdeka Belajar, Mengapa Guru Harus Belajar?

Mengapa guru harus belajar? Kalimat tersebut membuka sesi Nobar di SDIT Bina Insani kali ini. Membersamai murid dalam kegiatan demi kegiatan pasti menemukan dinamika pertumbuhan dan perkembangan mereka. Hal-hal baru tentang murid bisa jadi guru temui tanpa disadari. Guru merasakan perubahan tingkah laku murid, guru mendapati nilai ulangan semakin membaik, guru mengerti betul kronologi murid yang semakin dewasa. Itu semua merupakan perubahan-perubahan yang perlu disikapi dengan baik dan tepat. Jika perubahan murid yang positif saja perlu penyikapan yang tepat agar bertahan dan bertambah baik, apalagi perubahan peserta didik kita yang justru makin buruk. Tentu saja kedua fenomena tersebut perlu kompetensi guru yang semakin meningkat. Belajar Bersama Komunitas Guru Belajar Tanggung jawab kita untuk memberi pelayanan yang tepat tentunya membutuhkan kemampuan yang sesuai dengan perubahan yang terjadi. Apalagi jika kita punya keinginan menjadi guru yang semakin profesional. Kita perlu merespon semua perubahan dengan lebih tepat. Itulah alasan mengapa kita masih perlu belajar bersama Komunitas Guru Belajar. Komunitas Guru Belajar Semarang mempersembahkan Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar dan Manajemen Kelas. Kami bukanlah kekuatan satu-satunya, kami KGB Semarang hanyalah satu dari sekian komunitas yang peduli akan pergerakan pendidikan pun dimulai dari langkah yang terkecil yang banyak digandrungi dan tak bisa ditolak orang. Ya, nonton bareng. Nonton Bareng GMB ini diselenggarakan di Aula SDIT Bina Insani pada hari Sabtu, 7 September 2019. Nonton bareng ini dihadiri oleh kurang lebih 50 peserta yang terdiri dari para guru TK, SD dan manajemen Bina Insani.  Acara nonton bareng guru merdeka belajar ini berlangsung kurang lebih selama 2,5 jam. Nobar ini dikoordinatori Pak Teguh, salah seorang guru SDIT Bina Insani, dipandu dan diliput oleh Elvrida Rosalia Indraswari, salah satu penggerak dan host KGB Semarang. Dari 2,5 jam yang ada, acara ini diawali dengan pembukaan dan ice breaking. Pemandu lantas memberikan cuplikan kata singkat tentang merdeka belajar, apa yang diketahui peserta tentang merdeka belajar dan mengapa penting. Mengapa kita harus menjadi guru yang merdeka belajar. Berbekal Surat Kabar Guru Belajar edisi 6 dan 7 tentang merdeka belajar dan refleksi belajar, sejak dari awal acara ini sudah sangat menyita perhatian para peserta. Kemudian tentunya sesuai judul maka selanjutnya adalah sesi nonton bareng. Video berdurasi 15 menit yang cukup menggugah hati ini disaksikan secara hitmat oleh 15 pasang mata yang ada. Salah satu komponen yang dibahas adalah komponen dari merdeka belajar itu sendiri. Ibu Najeela Shihab mengemas kata-kata yang cukup menggelitik para peserta dan hatinya. Sesi terakhir yang tentunya berlangsung cukup lama dan interaktif adalah pada sesi diskusi dan refleksi. Para peserta diajak untuk merefleksikan apa yang sudah dipahaminya dari menonton video tadi.  Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan yang kami bahas pada sesi refleksi: 1. Di antara semua miskonsepsi tadi, mana yang paling menggambarkan diri Anda? 2. Ciri Guru Merdeka Belajar adalah Komitmen pada tujuan, Mandiri terhadap cara belajar dan Melakukan refleksi. Apakah Anda setuju dengan pernyataan tersebut ? Apa alasannya?3. Apakah Anda ingin menjadi Guru Merdeka Belajar ? Apa alasannya?4. Sebagai Guru Merdeka Belajar, apa perubahan yang ingin Anda lakukan di kelas?5. Sebagai Guru Merdeka Belajar, apa pengembangan diri yang ingin Anda lakukan bersama Komunitas Guru Belajar? Selama kurang lebih 2 jam yang tersisa kami berusaha membuat sesi refleksi ini bermakna, tak hanya memainkan pemikiran kami tapi juga membuat hati kami lebih bergelora, memaknai setiap pertanyaannya sebagai suatu pembelajaran yang dikemas melalui konsep nonton bareng. Diantara miskonsepsi yang disebutkan dalam video nobar, sebagian besar adalah sama pada dikejar target dinas. Lalu apakah peserta setuju bahwa ciri dari guru merdeka belajar adalah 3 tersebut? Ya, mereka sangat setuju. Karena berawal dari tujuan yang jelas dan komit akan tujuan tersebut, seorang guru akan mandiri untuk belajar dan kemudian merefleksinya untuk suatu progres yang semakin baik. Ketika ditanya apakah ingin menjadi seorang Guru Merdeka Belajar? Maka tampak dari bibir dan sorot mata para peserta berkata “Ya”. Penuh semangat yang bergelora, tergambar dari sorot mata dan refleksi ini. Para peserta semakin belajar bahwa guru harus belajar, memanajemen kelas sebaik mungkin, menjadi guru yang merdeka belajar. Peserta berucap syukur sebab memahami merdeka belajar. Kami mengakhiri nonton bareng ini dengan memekikkan semangat kemerdekaan, sebagai titik balik bahwa kami sudah berada di depan gerbang merdeka belajar dan siap untuk berpetualang. Foto bersama pun semakin mempermanis sesi nobar kami kali ini. Anda masih penasaran tentang merdeka belajar? Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 6Unduh GratisKlik:

Apa Arti Merdeka Belajar?

“Apa sih arti Merdeka Belajar itu?”Pertanyaan yang muncul dari rasa penasaran saya setelah membaca frasa “Merdeka Belajar”. Saya mendapat informasi mengenai Pelatihan Guru Merdeka Belajar yang dilaksanakan di Kota Makassar dimana akan dibahas Arti Merdeka Belajar. Info pelatihan pada Sabtu 14 September 2019 tersebut, saya peroleh dari Story Whatsapp salah seorang teman. Agar memahami apa arti merdeka belajar. Akhirnya saya pun mengikuti pelatihan tersebut dengan menempuh jarak ±120 km. Menggunakan sepeda motor dari Kabupaten Jeneponto tempat saya tinggal dan mengabdi sebagai seorang guru honorer di sekolah menengah negeri.  Setelah mengikuti pelatihan tersebut, akhirnya saya memahami bahwa Merdeka Belajar memiliki 3 dimensi : 1. Komitmen pada tujuan, 2. Madiri pada cara, 3. Refleksi. Selain itu saya juga megetahui tentang adanya Komunitas Guru Belajar yang diinisiasi oleh Kampus Guru Cikal Jakarta. Komunitas Guru Belajar (KGB) ini sendiri sudah tersebar di lebih dari 145 daerah di seluruh Indonesia, guru belajar bersama berbagi praktik pengajaran untuk mencapai cita-cita bersama. Egois namanya ketika seorang pendidik seperti saya telah mendaptkan ilmu baru namun pelit untuk membagikannya ke sesama, olehnya saya sangat tergerak untuk bisa membagi ilmu dan pengetahuan saya mengenai KGB dan Merdeka Belajar kepada rekan-rekan pendidik di sekolah saya. Mengenal Komunitas Guru Belajar “Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta”, seperti itulah bunyi sebuah pepatah yang menginisiasi saya untuk melakukan kegiatan nonton bareng Merdeka Belajar. Hingga sepakatlah saya dengan guru-guru SMP Negeri 1 Arungkeke untuk melaksanaknnya pada Jumat, 4 Oktober 2019 di SMP Negeri 1 Arungkeke, Kabupaten Jeneponto sebagai langkah awal mengenalkan tentang Komunitas Guru Belajar dan konsep Merdeka Belajar. Segala sesuatu pun saya siapkan dibantu oleh rekan guru dari sekolah lain yaitu Muh. Akbar Adnan (Guru IPA SMPN 1 Tarowang) dan dibimbing oleh Pak Maman Basyaiban (sapaan akrab bapak Muhammad Abdurrahman) dari Kampus Guru Cikal Jakarta melalui Whatsapp. Acara nobar ini berlangsung selama ±90 menit. Diawali dengan pembukaan oleh saya sendiri, menceritakan sekilas tentang KGC dan KGB. Mengajak peserta untuk mengisi daftar hadir online. Hingga akhirnya sebelum masuk pada acara inti yaitu nobar, saya melontarkan sebuah pertanyaan “Mendengar frasa Merdeka Belajar, apa yang timbul dalam pikiran bapak ibu?”. Salah seorang peserta menjawab “Arti Merdeka Belajar adalah Belajar tanpa tekanan” (Ibu Rahmawati Salim, guru mapel Bhs. Indonesia). Kembali seorang staff berpendapat “Arti Merdeka Belajar yaitu Belajar kapan dan di mana saja”. Sementara guru mapel SBD, Hj. Nuryanti Bahar menjawab bahwa Merdeka Belajar berarti bebas belajar. Sungguh jawaban yang luar biasa dari rekan-rekan guru. Ahirnya saya pun mengajak mereka untuk nobar video Merdeka Belajar. Video diawali dengan munculnya ibu Najelaa Shihab memberikan statement “Selalu tidak enak bicara sesudah anak-anak karena saya yakin tidak ada pembicara yang lebih baik dan lebih ekspresif dibandingkan anak-anak yang sudah tampil tadi”. Melihat dan mendengar hal ini ternyata menarik perhatian peserta yang hadir hari itu, mereka begitu Nampak serius menyaksikan video tersebut, beberapa pernyataan dari ibu Najelaa Shihab dalam video termasuk arti merdeka belajar diiyakan oleh peserta.  Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Setelah video tersebut selesai diputar dan dinonton bersama, tibalah saatnya tahap refleksi. Selaku pemandu acara, saya melontarkan beberapa pertanyaan terkait isi video : “Di antara semua miskonsepsi tadi, mana yang paling menggambarkan diri anda?” Beberapa peserta hampir bersamaan menjawab tentang miskonsepsi yang paling pertama yaitu bahwa guru hanya mau belajar karena ingin mendapatkan insentif atau sertifikat. Hal ini mengundang peserta lain untuk bersuara. Salah seorang guru mapel IPS (Rahmiati, S.Pd) menambahkan bahwa miskonsepsi yang terjadi selama ini ialah guru belajar diburu target yang dipaksakan, sementara belajar sebenarnya butuh waktu, butuh waktu untuk memahami inovasi dan butuh waktu untuk memiliki inovasi, pun butuh waktu untuk mebuktikan bahwa inovasi itu sesuai atau tidak sesuai. Dua miskonsepsi tersebut ialah yang paling menggambarkan diri para guru yang ada di SMPN 1 Arungkeke. Apakah anda ingin menjadi Guru Merdeka Belajar? Selanjutnya pertanyaan yang membuat bapak ibu guru antusias ialah saat ditanyakan “Apakah anda ingin menjadi Guru Merdeka Belajar? Apa alasannya?” Semua peserta menjawab “Mau”. Bapak Mukhtar salah seorang guru mapel Bhs. Inggris mengatakan bahwa sesungguhnya kita telah merdeka dalam belajar, hanya saja kita belum merasa merdeka karena keinginan dari dalam. Pernyataan ini membuat peserta lain terpancing dan merasa bingung. Hingga ibu Sutriani, salah satu guru mapel Bhs. Indonesia memberikan tanggapannya “Iya, saya ingin Merdeka Belajar. Kita seringkali terkendala dengan begitu banyaknya birokrasi yang harus dipenuhi. Kita sebagai guru hampir tidak merasa merdeka atau bahkan belum bisa dikatakan merdeka.” Pernyatan ibu Sutri tersebut mendapat anggukan dari sebagian besar peserta yang hadir dalam acara nobar tersebut, hingga suasana pun semakin hangat dan cair. Jam sudah menunjukkan pukul 11.00 WITA. Sebentar lagi memasuki waktu sholat Jumat hingga kegiatan refleksi pun kami akhiri. Kami mengajak peserta untuk menuliskan hasil refleksi Nobar Merdeka Belajar di media sosial masing-masing. Dan terakhir mengajak mereka untuk foto bareng. Di penghujung acara salah seorang peserta melontarkan sebuah pertanyaan tentang apa follow up dari kegiatan KGB maupun KGC itu sendiri? Apa dampak positifnya, apakah pemerintah mau mendengar suara kita? Hal ini merupakan pertanyaan yang cukup berat sehingga harus dikomunikasikan dengan pak Maman. Melalui panduan beliau saya pun menyampaikan bahwa KGC sudah sering bekerja sama dengan pihak pemerintah. Konsep berbagi praktik baik pengalaman masing-masing juga mulai diterapkan pemerintah di program tertentu. Nampaknya jawaban ini belum memberikan rasa puas kepada ibu Sutri. Saya dan pak Akbar mengajak dia dan rekan guru yang lain untuk ikut bergabung dalam grup Komunitas Guru Belajar Jeneponto untuk lebih mengenal program-program yang bisa membawa dampak positif. Salam Merdeka Belajar! Ingin Mengikuti Pelatihan Guru Merdeka Belajar? Klik link di bawah ini

Guru Merdeka Belajar adalah Pelajar Sepanjang Hayat

Siang terik tak menyulutkan semangat pada calon penggerak untuk melaksanakan kegiatan Nobar Merdeka Belajar, TPD III – Komunitas Guru Belajar Sidoarjo (KGB). Perubahan kondisi tempat, membuat ide-ide kreatif calon penggerak untuk tetap mempersiapkan acara Nobar tetap terlaksana, mulai dari mengkondisikan tempat, menyiapkan perlengkapan yang unik karena layar proyektor menggunakan kain polos kepunyaan pendidik yang tergabung dalam KGB yang kemudian disandarkan pada etalase Warung Barokah yang di atasnya diberi tumpukkan minuman supaya kain tidak bergeser tempat. Selain itu, tidak lupa menyiapkan camilan dan minuman sederhana yang nantinya akan menemani kegiatan sampai selesai, dan dibeli dari dana pribadi pak Zen penggerak KGB Sidoarjo.  Saya hanya berdecak kagum dalam hati, begitu berdaya teman-teman calon penggerak yang mau ikut berkontribusi agar acara bisa terlaksana. Agenda nonton bareng Film Merdeka Belajar hadir untuk memfasilitasi para pendidik merefleksikan diri dan berbagi solusi tentang keresahan yang dihadapi saat pembelajaran dikelas. “Agenda nonton bareng ini tidak hanya sekadar menjadi agenda nonton bareng, tapi punya aspek yang bermanfaat lainnya, yang berguna bagi para pendidik yang tergabung dalam KGB,” ungkap Zen Penggerak KGB Sidoarjo.  Ternyata kegiatan nonton bareng ini mampu menghidupkan forum, untuk bersama-sama sesama pendidik merefleksikan diri dan berbagi pengalaman bagaimana menjadi guru merdeka belajar. Satu persatu teman pendidik menyampaikan bahwa apa motivasi mereka mengikuti kegiatan nonton bareng yang difasilitasi KGB Sidoarjo, seperti halnya bu Ainun yang menjawab “Motivasi saya ikut kegiatan nonton bareng KGB Sidoarjo adalah agar bisa belajar dan mempunyai motivasi menjadi pembelajar”. “Belajar tidak memandang usia, karena usia bukan pembatas untuk berhenti belajar”, ujar Bu Nafisa guru dari sekolah AN-NAHL Sidoarjo.  “Jejaring komunitas seperti ini, ibarat lilin seketika lilin yang menyala salah satunya padam, maka masih ada lilin lainnya yang tetap menyala dan menyinari”, ungkap Bu Anggi calon penggerak KGB Sidoarjo. Kegiatan yang membawa manfaat ini sangat berdampak bagi kami yang siang itu datang mengikuti kegiatan nonton bareng video Merdeka Belajar sampai selesai. Guru Merdeka belajar mempunyai 3 makna yaitu komitmen, mandiri dan refleksi. Komitmen terkait pengakuan dalam diri untuk mampu dan mau menjadi guru pembelajar dengan ikhlas ingin memberikan ilmu yang bermanfaat, mandiri dalam arti bagaimana mencari solusi keresahan yang dialami pendidik, menggali kebutuhan dan minat belajar murid. Yang ketiga adalah refleksi, dan mempunyai makna bahwa setiap pendidik harus bercermin apakah model, media, cara pembelajaran yang sudah diterapkan sesuai atau tidak dengan kebutuhan peserta didik, sudah nyamankah mereka belajar bersama kita di dalam kelas.  Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Masuk pada sesi refleksi ada ungkapan yang mendalam diucapkan oleh beberapa pendidik terkait pertanyaan moderator yaitu “Apa perubahan di dalam kelas yang ingin dilakukan setelah mengikuti KGB?”.  “ Komitmen terkait menjaga dan menata niat kita, yang mengutip pernyataan KH. Maimoen Zubair, bahwa ketika kita menjadi guru jangan menuntut murid kita pintar, nanti yang ada malah kita marah-marah, cukup doakan saja agar kelak dia bermanfaat”, ungkap Bu Ainun.  Rangkaian kegiatan hari ini yang begitu membawa banyak manfaat bagi teman-teman pendidik maupun diri saya pribadi, bahwa dengan bersama-sama merefleksikan diri secara tidak langsung kita bergegas dan bergerak menjadi Guru Merdeka Belajar. Dan mulai sekarang kami bersepakat bahwa menjadi guru merdeka belajar adalah mengawali diri untuk mau menjadi guru pembelajar sepanjang hayat bukan hanya memenuhi kewajiban tetapi berkomitmen menjalankan kewajiban untuk ikut berperan dalam tujuan pendidikan nasional. Terima Kasih KGB Sidoarjo, terima kasih teman-teman pendidik, terima kasih Kampus Guru Cikal yang telah mempertemukan dan memfasilitasi kami para pendidik dengan kegiatan yang sangat bermanfaat. Salam Guru Merdeka Belajar Ingin Tahu Bagaimana Praktik Merdeka Belajar di Kelas? Klik link di bawah ini