Pelatihan Menulis Praktik Baik Pengajaran

Apa itu menulis praktik baik pengajaran? Saya tidak bisa menulis, bagaimana cara melakukannya? Raut wajah bingung namun penasaran muncul dari guru-guru berkumpul di gedung Dieng, BP2KLK Semarang untuk mengikuti Pelatihan Menulis Praktik Baik. Kampus Guru Cikal berkolaborasi dengan Nusantarun mengadakan pelatihan untuk guru dan murid. Pelatihan diselenggarakan secara paralel di hari Selasa, 10 Maret 2020 dan Rabu, 11 Maret 2020. Guru-guru mengikuti pelatihan bersama pak Rizky Rahmat Hani, pak Ratno Kumar dan kak Fatrica sebagai pelatih di ruangan lantai dua. Sebelum mulai praktik menulis. Sebagai narasumber dan fasilitator pak Rizqy, pak Kumar dan kak Fatrica memperkenalkan diri kepada guru-guru. Kemudian 3 orang tadi mengajak guru-guru untuk melakukan Ice Breaking, agar suasana pelatihan menjadi lebih santai.  Penulis, Salah Satu Karier Protean Guru Memasuki sesi materi pelatihan pak Rizqy dan pak Kumar menjelaskan Karir Protean. Bahwa guru-guru bisa mengembangkan karirnya tidak hanya sebagai koordinator sekolah atau kepala sekolah. Tapi guru-guru bisa mengembangkan karirnya melalui bakat atau keterampilan lain yang dimilikinya tanpa meninggalkan profesi utamanya sebagai guru. Sebagai contoh yang sudah ada adalah Pak Nunuk. Beliau melihat kebutuhan belajar murid-muridnya di dalam kelas dan keterampilannya dalam membuat board game. Pak Nunuk menciptakan banyak board game untuk membantu belajar murid-muridnya. Selain pak Nunuk ada pak Eka Wardana yang aktif sebagai penulis buku. Pak Eka mengembangkan karirnya dengan membuka penerbit buku bagi guru-guru.  Dari penjelasan pak Rizqy dan pak Kumar tentang karier protean. Guru-guru semakin penasaran bagaimana cara memiliki karir protean. Sedangkan tidak memiliki banyak keterampilan dan masih harus tetap fokus mengajar di kelas. Pak Rizqy dan pak Kumar menambahkan, bahwa dengan menulis praktik baik di kelas guru-guru bisa mengembangkan karier protean. Di Kampus Guru Cikal, guru-guru bisa menulis praktik baik yang pernah dilakukan dan mengirimkannya ke Kampus Guru Cikal. Tulisan kemudian akan diterbitkan di Surat Kabar Guru Belajar atau dimuat dalam buku yang Kampus Guru Cikal terbitkan. Pelatihan Menulis dengan Formula ATAP Di Sesi berikutnya pak Rizqy dan pak Kumar mulai menjelaskan cara menulis. Formula yang digunakan adalah ATAP yang dimiliki Kampus Guru Cikal. A yang pertama adalah Awalan. Bagian yang menceritakan situasi awal meliputi tanggung jawab sebagai guru dan tujuan pembelajaran yang harus dicapai. T adalah Tantangan. Bagian yang menceritakan tantangan atau kesulitan yang harus dicapai untuk mencapai tujuan pembelajaran. Kemudian A yang kedua adalah Aks. Bagian yang menceritakan strategi dan pelaksanaan strategi belajar termasuk penyesuaian strategi bila ada. Dan yang terakhir P yang berarti Perubahan atau Pelajaran, bagian yang menceritakan pelajaran hasil refleksi terhadap keseluruhan proses.  Setelah pak Rizqy dan pak Kumar memberikan penjelasan ATAP. Guru-guru dibagikan kanvas pengerjaan ATAP, dan mereka diminta untuk memetakan praktik baik yang sudah dilakukan. Setelah selesai memetakan praktik baik, pak Rizqy meminta guru-guru untuk menuliskan kanvas ATAP tersebut dalam bentuk paragraf. Semua guru mulai menuliskan kanvas ATAP mereka dalam bentuk paragraf. Saat itu ada 3 orang guru yang datang terlambat saat pak Rizqy dan pak Kumar menjelaskan penulisan ATAP. Sehingga mereka terlihat kebingungan ketika akan menuliskan dalam paragraf. Kak Fatrica mencoba bantu dengan menjelaskan kembali penulisan di kanvas ATAP. Kak Fatrica juga memberikan contoh-contoh yang lebih mudah dipahami. 3 orang guru tersebut akhirnya bisa menyusul teman-temannya yang lain untuk menulis ATAP dalam bentuk paragraf. Selesai menuliskan praktik baik dalam bentuk ATAP. Pelatih mengingatkan para guru untuk menyimpan catatannya. Esok hari masih ada pelatihan Dokumentasi Praktik Baik dan akan menggunakan tulisan mereka sebagai materi video. Ingin mengikuti Pelatihan Menulis Kampus Guru Cikal? Klik link di bawah iniPelatihan Online: Penulisan Praktik Baik Pembelajaran

Definisi Merdeka Belajar

Berawal dari pertanyaan teman tentang kegiatan saya bersama beberapa teman di Komunitas Guru Belajar. Definisi Guru Merdeka Belajar beberapa kali menjadi topik pembicaraan kami. Karena mau mememenuhi rasa ingin tahu teman saya, saya pun memberanikan diri untuk menawarkan nonton bareng (nobar) video Guru Merdeka Belajar. Video berisi pembahasan definisi Merdeka Belajar yang disampaikan oleh ibu Najelaa Shihab. Senin, 27 Januari 2020 atas nama Komunitas Guru Belajar (KGB) Sijunjung saya dan teman teman mengadakan Nonton Bareng bertempat di SMP Negeri 28 Sijunjung. Kegiatan dilaksanakan setelah proses belajar mengajar yaitu jam 13.30 sampai dengan 16.30. Kegiatan ini dipandu oleh saya sendiri Desy Delarosa dan Alia Yovica sebagai moderator. Peserta yang hadir 15 orang, seluruhnya berasal dari SMP Negeri 28 Sijunjung, guru maupun pegawai TU. Tiga komponen yang menjadi penanda merdeka belajar dibahas dalam video Merdeka Belajar tersebut. Peserta nobar oun merefleksikan kembali bahwa tiga komponen Merdeka Belajar tersebut adalah Komitmen pada tujuan, Mandiri dengan cara dan refleksi untuk memantau proses belajar. Merdeka Belajar menjadi dambaan guru dan siswa, karena merdeka belajar siswa dapat mengemukakan hasil maksimalnya.  Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Selain nobar juga disampaikan tentang Komunitas Guru Belajar Sijunjung dan kegiatannya. Pada Komunitas Guru Belajar kita berjejaring dengan sesama guru lintas sekolah dan jurusan. Kegiatan dalam Komunitas Guru Belajar menularkan praktik baik pembelajaran, membangun kolaborasi antar anggota dan luar anggota, berbagi dan saling dorong untuk dapat meniti karier dan selalu berusaha meningkatkan kompetensi guru. Komunitas Guru Belajar membuat guru bisa menjadi pembelajar dengan bergantian menjadi narasumber untuk teman. Dengan memperkenalkan Komunitas Guru Belajar sekaligus mengajak kawan kawan di SMP Negeri 28 Sijunjung untuk bergabung di Komunitas Guru Belajar Nusantara. Miskonsepsi Belajar Guru Dengan kegiatan Nonton Bareng video merdeka belajar ibu Najelaa Shihab, diharapkan guru memahami miskonsepsi belajar guru. Beberapa miskonsepsi guru belajar yang disebutkan adalah kegiatan belajar hanya untuk mengetahui how to nya saja, dimotivasi dengan adanya insentif, hanya bisa belajar dari pakar, belajar dengan target, perubahan terjadi seketika dan capaian hanya dinilai secara individual. Bu Imma, kepala SMP Negeri 28 Sijunjung mengatakan “Miskonsepsi yang dia alami adalah belajar harus dari ahli dan hari ini saya sadar bahwa belajar bisa dengan siapa saja, terutama sesama guru”. “Kita harus patahkan dengan belajar dengan siapa saja, dengan murid juga dengan teman guru,” sambung beliau. Bu Deri juga menyampaikan “Pencerahan dari video ini diharapkan dapat memberikan perubahan bagi saya nantinya”. “Perubahan yang sangat penting bagi saya adalah belajar tidak mengharapkan sertifikat atau uang”, kata bu Deri. Ada juga yang berpendapat berbeda dan sedikit menggelitik yang disampaikan oleh guru senior bernama pak Jasril. Pak Jasril berkata, “ Boleh merdeka asal jangan kebablasan.”Saya menanggapi bahwa definisi merdeka belajar yang dimaksud memiliki tiga komponen merdeka belajar. Saya pun mengulangi penjelasan tentang iga komponen tadi. Komitmen terhadap tujuan dengan mengetahui mengapa tujuan (kompetensi) itu harus dicapai. Mandiri menentukan cara mencapainya dan merefleksi sejauh mana cara tersebut telah mencapai tujuan. Peserta ingin Menjadi Guru yang Belajar Lagi Terakhir sebelum kegiatan berakhir, bu Imma menyampaikan bahwa sangat berterima kasih dengan adanya kegiatan Nobar guru merdeka belajar ini. Beliau  merasakan pentingnya untuk saling berbagi sesama guru untuk memecahkan masalah di kelas.  Peserta juga menyampaikan masih penasaran dengan merdeka belajar dan kaitannya dengan RPP satu lembar. Bagaimana merancang pembelajaran yang merdeka belajar. Kita menawarkan untuk bergabung di komunitas guru belajar Sijunjung dan mendaftar di KGBN melalui link .  Harapannya peserta dapat mengikuti kegiatan komunitas guru belajar secara luring maupun daring. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Apa Itu Merdeka Belajar?

Apa merdeka belajar itu berpengaruh pada peran pendidik?Kehadiran dan peran seorang pendidik merupakan aspek penting dalam dunia pendidikan. Dalam mengajar, sosok guru yang menginspirasi dan mencerahkan juga sudah selayaknya mampu memahami dan mengupayakan adanya proses belajar. Namun, bagaimana jika seorang pendidik belum mengerti makna proses belajar itu sendiri? Hal ini banyak terjadi karena umumnya belajar hanya dipahami sebagai kegiatan membaca dan menghafal. Akibatnya, daya untuk berkarya, kreasi dan berekspresi menurun. Mempelajari Apa itu Merdeka Belajar Sebelum ke anak didik, saya paham bahwa proses belajar harus saya kuasai dan jalankan dengan baik. Akan tetapi, saya merasa belum bisa merinci langkah demi langkah dan tahapan-tahapan proses belajar tersebut dengan efektif. Akhirnya kegelisahan ini terjawab ketika saya mulai bergabung dengan Komunitas Guru Belajar (KGB) Bojonegoro dan KGB Surabaya beberapa tahun lalu. Hingga tahun 2019 ketika sudah menikah dan mengikuti suami saya juga ikut dengan KGB Jombang. Saya sangat tertarik dan bersemangat untuk selalu belajar hal baru di komunitas ini dan di KGB ini lah saya mengenal merdeka belajar. Saya sangat penasaran dengan apa itu merdeka belajar dan penerapannya. Oleh karena itu, saya mengunduh,  mencetak, dan membaca semua Surat Kabar Guru Belajar (SKGB), khususnya edisi yang memuat tentang merdeka belajar.  Melihat apa manfaat dan pentingnya merdeka belajar itu bisa mempengaruhi dan mendorong motivasi, inovasi dan menuju ke pendidikan yang lebih baik, saya ingin gagasan dan praktik merdeka belajar menebar ke pendidik lain yaitu lewat Nonton Bareng (Nobar) Guru Merdeka Belajar. Awalnya saya merasa kesulitan mencari kawan sejawat yang mau menerima ide saya ini, alasannya saya dibilang idealis lah, ribet dan tidak penting. Dengan tekad kuat dan dorongan teman penggerak KGB lain ini saya tetap maju. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mencoba membuat poster dan mengunggah ke sosial media dan it works, banyak teman-teman pendidik di Jombang yang bersedia hadir.  Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Tak hanya Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar, pada hari Rabu, 18 September 2019 pukul 18.30 di rumah saya yang berlokasi di sekitar lingkungan Ponpes Bahrul Ulum Jombang, saya juga memanfaatkan acara ini sebagai wadah untuk saling berbagi. Guru Berbagi Praktik Pembelajaran Diawali oleh Guru Asep, beliau berkeluh kesah bahwa mengajar pelajaran Matematika di kelas khusus putra pondok merupakan tantangan yang sangat berat. Menurutnya, siswa-siswa memerlukan perhatian khusus karena tidak bisa mengikuti pelajaran dengan metode pembelajaran biasa. Ketika Guru Asep mengajar di kelas, banyak siswa-siswa nya tidur dan mengantuk di kelas karena kegiatan mereka di pondok yang cukup padat. Oleh karena itu, Guru Asep berpikir bahwa proses belajar serta pemahaman, penguasaan atas pengetahuan yang efektif adalah yang secara langsung terkait dengan pengaruh kehidupan dan pengalaman siswa itu sendiri (apa yang dilakukan dan apa yang dialami) keseharian. Dengan demikian proses belajar, pembelajaran di kelas harus kontekstual karena pengalaman belajar seperti ini diperlukan dan sangat penting ketika mereka bertumbuh menjadi orang dewasa.  Senada dengan Guru Asep, Guru Eko juga berpendapat bahwa proses belajar harus dimulai dengan mempelajari keadaan nyata lingkungan sekitar atau pengalaman seseorang atau kelompok yang terlibat dalam keadaan nyata tersebut. Tantangan berat dan sulit tentunya untuk mengedepankan upaya-upaya yang menumbuhkan, bagaimana menjadi seorang pendidik mampu mendorong dalam diri siswa agar dapat melakukan proses belajar untuk menyelesaikan masalah, persoalan apa saja yang dibutuhkan. Guru Eko sangat yakin bahwa adanya siswa yang mengantuk, tidur dan rendahnya motivasi adalah bukti nyata bahwa proses belajar di sekolah harus mampu memenuhi kebutuhan anak yakni mendapatkan pengalaman dalam proses-proses perubahan yang terus ada dan tidak berhenti.  Keresahan Guru Ekonomi Sementara itu, Guru Barik dengan wajah kesal, lelah dan gundahnya bercerita bahwa kegiatan pembelajaran dan proses belajar yang baik masih menjadi problematis. Beliau resah karena biasanya guru datang ke kelas lalu membacakan, mempertunjukkan, atau membagikan lembar tugas yang sebelumnya sudah dipersiapkan. Sedangkan siswa diharuskan untuk mendengar sambil mencatat dengan teliti. Kadang-kadang guru memberi pertanyaan atau menyuruh siswa untuk mengerjakan soal-soal tertentu tentang apa yang sudah diterangkan tadi. Padahal, proses belajar demikian tidak mendorong proses berpikir yang memungkinkan siswa menggali pengalamannya dan menemukan sesuatu hal dan peristiwa yang penting dari pengalaman hidupnya.  Guru Barik adalah seorang guru mata pelajaran Ekonomi di sekolah MAN 3 Jombang. Menurutnya, materi terkait teori akuntansi dan penerapannya sangat sulit dipahami siswa-siswanya. Kemudian, guru Barik menjelaskan dan menunjukkan tentang solusi atas masalah yang dihadapinya. Beliau tidak menyalahkan pihak manapun dan siapa pun atas tidak adanya fasilitas belajar yang bagus oleh sekolah. Guru Barik mencari alternatif cara yakni membuat media praktikum E- corner.  Dengan antusias, Guru Barik memaparkan bahwa E-corner merupakan singkatan dari Entrepreneur Corner, konsep ini mirip dengan kantin kejujuran. E-corner ini  menjual kebutuhan siswa dan diletakkan di pojok kelas dan siswa akan menjadi pengelolanya. Pengelolaan yang dilakukan siswa salah satunya adalah pembuatan pembukuan keuangan beserta administrasinya yang mana hal ini akan sejalan dengan materi akuntansi yang mereka dapatkan. Menonton Video Merdeka Belajar Lalu saya sebagai moderator mengajak semua peserta untuk nobar video merdeka belajar. Acara dilanjut dengan sesi diskusi dan refleksi. Di akhir diskusi semua peserta setuju bahwa: Pendidikan tidak lagi merupakan sebuah kegiatan yang hanya ditujukan pada siswa saja. Tanggung jawab penyelenggaraan proses belajar (menetapkan tujuan apa yang harus dipelajari dan diajarkan), seharusnya melibatkan peserta belajar itu tentunya dan orang tua.  Beberapa kompetensi yang tertuang dalam merdeka belajar sangat penting untuk diterapkan karena mendukung ekosistem proses belajar yang menumbuhkan. Siswa dan guru harus merdeka belajar untuk menciptakan dunia yang lebih baik dan lebih bermakna. Guru merdeka belajar harus memiliki komitmen jelas dan mampu menentukan tujuan proses belajar dengan tepat. Agar tidak terfokus pada hal-hal yang sebenarnya bisa dikompromikan seperti nilai, akreditas, dan hal-hal administratif lainnya.  Siswa dan guru merdeka belajar senantiasa mandiri dalam pembaharuan proses belajar. Sudah seharusnya semua pihak yang terlibat dalam proses belajar menyadari pentingnya pembaharuan. Oleh karena itu, media belajar yang digunakan disesuaikan menurut tahapan yang dipikiran matang. Siswa dan guru merdeka belajar harus selalu refleksi. Karena suatu pelaksanaan belajar-mengajar adalah proses yang harus mencerdaskan dan bermakna. Maka dibutuhkan refleksi dan evaluasi untuk mengerti sejauh mana perkembangan potensi, apakah proses belajar yang sudah dilaksanakan sudah berjalan efektif. Refleksi juga sangat penting untuk mengetahui hal-hal mana yang harus diperbaiki dan ditingkatkan.  Sesi Nobar dan saling berbagi ini sungguh menyenangkan. … Read more

Apakah Merdeka Belajar Itu?

Apakah merdeka belajar adalah jargon baru?Tidak dipungkiri setelah Mas Menteri membumikan merdeka belajar banyak guru yang masih asing meskipun sebenarnya bukan hal yang baru lagi. Merdeka belajar ini sudah pernah dibumikan oleh Ki Hajar Dewantara. Dengan penggantian UN menjadi asesmen belajar banyak guru yang mulai bertanya-tanya apakah merdeka belajar itu?. Oleh karena itu, untuk menjawab ini KGB Tulungagung mengadakan temu pendidik daerah yang mengangkat topik merdeka belajar ini. Selanjutnya penggerak dan rekan guru sepakat mengadakan temu pendidik pada Minggu 22 Desember 2019 di MI Sakti modern. Mudik hari ini dihadiri 19 guru. Alhamdulillah guru yang bisa hadir di mudik hari ini bisa bertambah dari sebelumnya. Hal ini menambah motivasi kami untuk saling berkolaborasi dengan rekan seperjuangan yang mempunyai misi yang sama yaitu menjadi guru yang merdeka belajar. Perlukah Kompetisi Pada Proses Belajar? Pemantik diskusi dimulai oleh pak Anam dengan Learning is not about competition. Pak Anam memulai diskusi dengan menceritakan pendidikan di Singapura dan Finlandia. Selanjutnya pak Anam mengajak guru guru untuk berefleksi apakah pendidikan yang diwarnai dengan kompetisi bisa membuat murid bahagia dan mengerti tujuan belajarnya? Kompetisi memiliki banyak dampak diantaranya lemahnya kolaborasi murid. Kompetisi tidak selalu buruk, kompetisi juga dapat melatih murid dalam hal menghadapi tantangan. Namun, value itu tidak bisa dapat dirasakan oleh semua murid. Murid yang berhasil melalui kompetisi dianggap berhasil sedangkan murid yang gagal melalui kompetisi dianggap tidak sukses selain itu hanya murid tertentulah yang dapat mengikuti kegiatan kompetisi ketika di sekolah. Di sini letak miskonsepsi itu, semua murid berhak belajar dan berhasil setelah gagal. Kompetisi adalah satu bagian kecil dari proses belajar tentang tantangan. Sekarang saatnya guru-guru bisa mengajak murid-muridnya untuk memperbanyak kolaborasi daripada kompetisi diantaranya merancang kegiatan pembelajaran yang mendukung kerjasama antara murid yang satu dengan yang lainnya, mengadakan kegiatan belajar bersama dengan instansi atau kegiatan berbasis proyek. Tentunya kegiatan kegiatan seperti ini tidak hanya menantang murid, menyenangkan dan bermakna tentunya juga dapat melatih siswa untuk dapat survive dengan memahami bahwa keberhasilannya dalam belajar tidak semata karena usaha mandirinya tetapi teman, guru dan keluarga juga ada keterlibatan disana. Jadi murid pun juga mengerti makna bahwa manusia itu adalah makhluk sosial yang tidak cukup hidup sendiri dan hanya mengedepankan kompetisi. Apakah Merdeka Belajar Itu? Pemantik diskusi kedua oleh bu Evy Ramadina dengan topik merdeka belajar. Diskusi topik kedua ini bu Evy mengajak teman teman guru menuliskan apa yang telah diketahui tentang apakah merdeka belajar yang saat ini hangat dibicarakan se Indonesia. Menarik, ternyata sangat beragam jawaban dari teman guru. Ada yang menjawab “Merdeka belajar itu bebas, tidak ada aturan, santai, menyenangkan dsb.” Selanjutnya bu Evy memulai diskusi dengan memaparkan apa poin penting dari merdeka belajar yaitu komitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara dan mau berefleksi. Tiga hal ini merupakan suatu siklus yang saling terhubung. Selanjutnya, kami mendiskusikan contoh pembelajaran di kelas seperti apakah yang merdeka belajar itu?. Merdeka belajar bukan tanpa aturan tetapi melibatkan anak anak dalam membangun kesepakatan untuk komitmen pada tujuan belajar. Merdeka belajar merupakan pembelajaran yang mandiri terhadap cara yang memungkinkan setiap murid bahagia dengan caranya dan tetap dijalan kesepakatan bersama. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Acara terakhir rekan rekan guru melakukan refleksi bersamaApakah selama ini masih berkutat di kompetisi murid saja?Lalu apakah murid murid sudah diajak saling berkolaborasi dengan rekannya?Apakah pembelajaran di kelas selama ini sudah merdeka belajar?Dan apakah gurunya sudah merdeka belajar?Dari sini kami sepakat bahwa guru yang merdeka belajar bisa mendampingi muridnya untuk merdeka belajar. Jadi, berikutnya guru guru kembali ke sekolahnya masing masing dan menerapkan merdeka belajar di kelas. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Guru Penggerak Jombang dan Merdeka Belajar

Melihat kabar teman-teman di grup Penggerak Komunitas Guru Belajar Nasional. KGB berbagai daerah bercerita tentang perkembangan mereka yang sudah mulai sosialisasi tentang Merdeka Belajar. Penggerak dari Komunitas Guru Belajar Jombang pun ngiler. Ingin Jombang segera punya agenda tersebut. Sungguh, setelah hampir satu bulan akhirnya kami pun mendapat kesempatan itu. Tepatnya tanggal 22 januari Pak Ubed mendapat kabar jika KKG MI Kelas 1 dan PAUD menghendaki kita untuk menjadi narasumber untuk belajar memaknai Merdeka Belajar. Segera penggerak Komunitas Guru Belajar merapat untuk membahas hal tersebut, untuk menyamakan konsep dan membagi tugas saat kegiatan nanti. Ternyata, hampir semua penggerak yang akan ikut andil acara ini merasa nervous . Saya yang biasanya akan presentasi merasa biasa saja, ini rasanya agak mules-mules gitu, hahaha. Ya, secara kita akan menyebarkan salah satu kebijakan yang lagi hot. Tim kami pertama datang pun ada adegan lucu. Kami dikira anak-anak akan menyuntik. Lalu saya bertanya ”Apakah wajah kami seperti dokter, Nak?”. Mereka menjawab, “Iya, Bu.” Kami tertawa dan setelah mereka pergi, kami tertawa. Dalam hati berkata, ya nak kami akan menyuntik semangat Merdeka Belajar untuk bapak ibu guru. Acara dimulai pada hari Kamis tanggal 30 Januari 2020 jam 9.30 di MISS 2 Bandung, Kecamatan Diwek karena sambil menunggu peserta datang. Peserta yang datang pada saat itu ada 26 orang. Acara dimulai dengan sambutan ketua dan dilanjutkan dengan moderator, mbak Utari membuka acaranya. Sebelum memasuki presentasi beliau mengajak semua peserta untuk melakukan aksi gerakan tangan “Merdeka Belajar”. Mereka terlihat senang, dan antusias mengikuti. Setelah itu, memasuki acara presentasi ganti saya yang handle. Menceritakan tentang Komunitas Guru Belajar dan Kampus Guru Cikal juga 4 kunci pengembangan kompetensi guru. Saya ceritakan juga tentang KGB Jombang. Guru Penggerak Menyebarkan Merdeka Belajar Sebelum memutar video, saya mengajak teman-teman untuk menuliskan dahulu pemahaman mereka tentang apa itu merdeka belajar. Segera kami bagi post it dan menempel kertas plano. Dari hasil tempelan tersebut, rata-rata belum menggambarkan 3 kunci merdeka belajar. Nak, saat akan memutar video notebook saya tidak bisa mengeluarkan suaranya. Ada tim bagian teknisi, saya tetap handle teman-teman dengan mengajaknya yel-yel merdeka belajar. Akhirnya dicoba dengan notebook satunya. Ternyata sama juga, kami pun tak kehilangan akal. Akhirnya dua notebook dinyalakan dengan berbagi tugas, antara tayangan gambar dan suara hahahaha. Melihat tayangan video peserta tampak bersemangat. Hingga pemutaran video selesai, saya lanjutkan dengan mengajak teman-teman berdiri untuk berkelompok setelah saya menghitung 2-6. Semua sudah berkelompok. Dan mereka pun lanjut diskusi tentang refleksi setelah melihat video. Sepuluh menit kemudian, ada perwakilan kelompok presentasi. Setelah presentasi, ketua bertanya ke saya, “Jika saya saat mengajar sudah menyampaikan tujuan ke murid, pengajaran pun saya beri kesempatan murid untuk memilih materi mana dulu yang disukainya. Tidak lupa di akhir pembelajaran saya tanya ke murid untuk refleksi”. “Apakah pengajaran ini sudah merdeka belajar Bapak Ibu?” Saya tidak langsung menjawab. Tapi, saya ajak untuk memasuki materi selanjutnya untuk segera bisa menjawab sendiri apakah sudah merdeka belajar apa belum.  Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Hingga akhirnya sampai pada sesi, teman-teman saya ajak untuk berdiri. Karena ruangan tidak memadai untuk bergeser ke kanan atau kiri, maka saya ajak untuk mengacungkan tangan saja. Jika setuju dengan pernyataan tersebut mengacungkan tangan kanan dan sebaliknya. Rata-rata dari jawaban mereka sudah benar. Ketika saya membacakan tentang puisi merdeka belajar, duh rasanya merinding saya. Keren abis itu puisi. Pasti yang membuat pakai hati hingga bisa masuk ke hati. Refleksi Pengajaran Merdeka Belajar Materi sudah tersampaikan. Saya kemudian membawa hal yang saya dapat dari Pelatihan Guru Merdeka Belajar yang pernah saya ikuti. Tentang praktik 2 adegan pengajaran. Setelah itu, saya ajak teman-teman untuk refleksi rasa yang mereka rasakan saat menjadi murid. Perwakilan teman-teman maju ke depan untuk menyampaikan perasaannya. Jelas mereka lebih senang saat pengajaran ke-2  karena murid merasa dihargai, penyampaian materi langsung pada praktik, dan suasana terbangun dengan hangat. Sebelum saya akhiri, saya menyampaikan bahwa kegiatan ini akan berlanjut lagi, dengan kanvas merdeka belajar dan lain-lain tentang Komunitas Guru Belajar. Tidak lupa kami promosikan produk KGB yang bisa diperoleh di dan saya juga menunggu kabar baik dari teman-teman tentang praktik baiknya di sekolah. Dan tentunya, akan menerbitkannya menjadi buku. Akhirnya moderator menutup acara. Setelah itu, kami lanjutkan dengan refleksi dan tindak lanjut. Sayangnya, kami belum membaca hasilnya dibawa ketua. Tapi, itu PR kami untuk menanyakan hasil refleksi dan tindak lanjut teman-teman. Tidak lupa acara ditutup dengan foto-foto memakai banner keren KGB Jombang dan banner keren dari KKG MI Kelas 1. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Beasiswa Murid Penyandang Disabilitas

Beasiswa Murid Penyandang Disabilitas yang diberikan oleh NusantaRun melalui program Pendidikan untuk Semua tidak seperti membalikkan telapak tangan. Ada serangkaian aktivitas sebelum murid mendapatkannya. Ada proses pelatihan guru, agar murid yang akan menerima beasiswa murid penyandang disabilitas ini bisa mendapatkan asesmen dan intervensi yang tepat pula. Beasiswa ini juga tidak sekadar menuntuk guru untuk melakukan sesuatu, juga mengajak orangtua untuk peduli. Karena sebelumnya banyak orangtua tidak tahu akan karier murid penyandang disabilitas setelah lulus nanti. Setelah melakukan seleksi terhadap 175 murid yang mendaftarkan diri untuk mendapatkan beasiswa murid penyandang disabilitas. Maka diputuskan sebanyak 80 murid yang akan mendapat kesempatan ke tahap berikutnya. Delapan puluh murid inilah yang akan mengikuti pelatihan keterampilan belajar. Silakan bisa diunduh undangan serta pengumuman di tautan di bawah ini. PENGUMUMAN JAWA TENGAHPENGUMUMAN YOGYAKARTA

Orangtua Memaksa Murid, Guru Bagaimana?

Pernah menghadapi orangtua memaksa murid.Orangtua inginnya anaknya A.Eh kita tahu kalau anaknya sebenarnya minatnya di bidang B.Bagaimana ya guru mengkomunikasikannya? Yuk simak Liputan Temu Pendidik Mingguan ke 125 dengan tema orangtua memaksa murid.(#SeminarOnline Telegram). Jumat, 31 Januari 2020. Pengalaman Menghadapi Orangtua yang Memaksa Murid Ermaida: Teman teman adakah orangtua yang memaksa murid dengan keinginannya dalam belajar. Alinnila:Ada Bu. Orangtua memaksa murid Anak dituntut dapat peringkat 1. Kalau dapat nilai kurang memuaskan yang disalahkan gurunya.  Imroatus Solikah:Pernah orangtua memaksa murid. Membawa anak ke tempat les dan memarahi anak ketika tidak mau belajar di tempat les bu biasanya. Ermaida:Bu Alinila apakah pernah ditegur sama orangtua yang memaksa murid. Karena murid tidak dapat rangking 1? Cerita dong saya penasaran membayangkanya  Alinnila: Bukan saya sih Bu yang menghadapi orangtua memaksa murid. Tapi rekan guru saya. Kebetulan jadi wali kelas.  Ermaida:Sepertinya diskusi kita sebentar lagi kita mulai ya  Sebelumnya saya minta maaf kalau nanti tiba saya terlihat menghilang ini karena pengaruh sinyal. Ini profil narasumber kita hari: Kristijorini mengajar di KB / Tk Kr. Widya wacana Pasar Legi Surakarta. Hobi menulis Menulis beberapa buku kolaborasi (Memanusiakan Hubungan, Literasi Menggerakkan Negeri, Menenun Rinai Hujan, dll dan 1 buku karya sendiri : CPR (salah satu solusi memahami orangtua dan murid) Tinggal di Solo dan punya anak 1 usia 8 tahun Kristijorini:Selamat malam bapak ibu. perkenalkan saya Rini. Narasumber hari ini yang ingin belajar bersama bapak ibu semua. Ermaida:Silakan ibu narasumber  Refleski Narasumber Kristijorini:Terima kasih bu Linda.  Ternyata kita mengalami hal yang sama. Orangtua memaksa murid ☺☺  Tulisan berikut adalah tulisan saya yang di muat di buku Memanusiakan hubungan. silakan dibaca dulu pengalaman saya ini: Menjadi guru yang berbaur dengan berbagai karakter anak adalah tantangan yang menyenangkan. Menyelami tiap pribadi yang unik butuh keahlian khusus yang tidak hanya didapat ketika kuliah. Namun butuh juga menyelami pribadi mereka. Anak adalah duplikat orangtuanya. Mereka adalah bentuk mini dari orangtua. Memahami karakter anak tidak bisa tanpa memahami orangtua. Untuk itulah sekolah perlu melakukan komunikasi yang intens dengan keluarga. Dalam komunikasi dengan orangtua, pasti sering terjadi kesalahpahaman. Kenapa? Karena ekspektasi orangtua pada anak berbeda dengan keinginan anak. Kadang kala guru juga begitu pada anak. Bagaimana guru, murid dan orangtua dapat bersinergi untuk memahami kebutuhan murid? Untuk memahami bakatnya? Untuk memahami keinginan murid? Gunakan data anak. Makin banyak data yang kita punya, makin mudah kita memahami mereka. Hasil asesmen kita sangat penting. Penting untuk membuka kesadaran guru tentang bakat dan keinginan anak. Jika guru sudah menyadari apa yang dimiliki oleh anak, pasti akan mudah mengkomunikasikannya pada orangtua.  Tidak hanya guru, orangtua dan murid saja yang harus saling memahami. Tapi juga pihak lembaga secara keseluruhan. Nah inilah tantangan nya. Tidak mudah. Butuh waktu untuk bisa saling memahami. Menerima kelebihan dan kekurangan murid? Tidak memaksakan kehendak baik orangtua, guru apalagi lembaga sekolah hanya dengan dalih peringkat sekolah  Baca juga: Amalia Jiandra:Silakan dibaca ya bapak-ibu Kami beri waktu 10 menit untuk membaca  Amalia Jiandra:Atau adakah yang mau cerita tentang pengalaman yang serupa yang pernah di alami di sekolah/kelas? Sambil kita menunggu teman-teman lain membaca materinya  Ermaida:Teman teman guru setelah membaca karya tulis Bu Rini. Adakah yang ingin bertanya? Silakan 2 orang penanya tunjuk tangannya. Kristijorini:Paling susah kalau orangtua memaksa ya bu pakai banget. Merasa paling benar. Nah gimana tuh? Kristijorini:Seru nih. Kita berdua ngobrol bu linda. Cerita serunya diomeli orangtua  Umi Hani:Boleh ya bu cerita sedikit, dulu teman satu sekolah pernah diomeli orangtua murid. Gara- gara peraturan sekolah yang tidak sesuai dengan keinginan orangtua.  Kristijorini:Silakan bu Umi. Bagi yang baru online juga boleh curhat. Kita curhat bersama. Kita cari solusinya  Umi Hani:Di sekolah kami dilarang bawa HP. Tetapi saat sidak murid tersebut membawa HP. Maka guru menindaklanjuti hal tersebut sebagai pelanggaran, dengan ketentuan yang sudah disampaikan di awal. Yakni HP tersebut disita selama 1 bulan. Namun belum genap 1 bulan, ibu murid tersebut marah dan mengatai hal yang tidak sepantasnya.  Kristijorini:Boleh tanya bu? Aturan itu disepakati bersama kah dengan orangtua dan anak?  Atau memang aturan itu yang buat pihak sekolah saja? Sudah disosialisasikan kah?  Umi Hani:Iya aturan tersebut sudah disampaikan di awal bu. Namun sepertinya beliau tidak mau tahu.  Juga sudah disosialisasikan.  Kristijorini:Maaf sekolahnya Jenjang SD, atau SMP, atau SMA bu?  Umi Hani:SMP bu Ternyata setelah melakukan penelusuran, bunda dari murid tersebut memang seperti itu. Karena di jenjang sebelumnya, apabila anaknya salah akan selalu membela. Atau menuruti kemauan sang anak (memanjakan). Bagaimana ya mengatasi orangtua yang menganggap sang anak (murid) selalu benar? Mungkin bisa dibagi ilmunya  Kristijorini:Masa remaja memang masa paling seru. Masa-masa membangkang dan menjadi jati diri. Pun begitu juga orangtua. Sering dibikin pusing dengan si anak. Tipe orangtua juga perlu diperhatikan. Kalau saya biasanya melihat aturan tersebut berpihak pada anak atau belum. Relevankah konsekuensi dengan kesalahan anak? Bolehkah kita mendisiplin murid dengan menghukumnya seperti itu? Adakah konsekuensi itu sudah disepakati oleh semua pihak? Sudah tepatkah dengan undang-undang perlindungan anak?  Nah jika memang sudah ada sosialisasi dan disepakati bersama semua pihak tapi anak nekat dan orangtua marah-marah, bagaimana pendekatan kita?  Daciel Junior:Maaf klo sedikit keluar jalur hehheee  Saya punya teman main (sebutan murid bagi saya) dia anaknya cerdas kemandiriannya tinggi, bahkan jika ada home challenge dari sekolah dia bisa mengerjakannya dengan mandiri, temen saya ini anaknya nga enakan, jadi apa yang orangtuanya suruh pasti selalu dilakukan, bahkan hal-hal yang terkadang temen saya ini nggak suka tetap ia lakukan demi orangtuanya. Untuk tahun ini kegiatan dia semakin banyak, mulai dari les akademik, les olahraga, sampai les agama. Kegiatan hariannya full.  Pernah suatu ketika orangtua nya minta pelajaran tambahan ke saya. Saya sudah coba komunikasikan kalau anak itu cerdas dan mandiri. Tapi orangtuanya tetap minta anaknya untuk les. Akhirnya saya tetap ngelesi dia. 40% belajar , 60%nya saya coba ajak dia untuk bermain edukasi yang ringan. Saya tahu dia udah terlalu capek, kadang dia lebih berani curhat kesaya dari pada ke orangtuanya, karna dia takut mengecewakan orangtuanya)  Kalau seperti itu ada tips mengkomunikasikan ke orangtuanya, pak, bu ? Saya sudah coba, tapi karena orangtuanya idealis jadi merasa cara mereka benar, dan itu semua demi kebaikan anaknya  Memahami Murid dan Orangtua Kristijorini:Biasanya di awal tahun ajaran atau tengah tahun ajaran, … Read more

Membahas Arti Merdeka Belajar

Apakah arti Merdeka Belajar itu? Bagaimana melaksanakannya? Apa yang didapatkan oleh guru dan siswa dengan merdeka belajar? Lalu bagaimana “Meneropong Konsep Merdeka Belajar Kemendikbud” dalam hal ini guru merdeka belajar melalui  Kebijakan Menteri Pendidikan? Pertanyaan –pertanyaan dan rasa penasaran membahas arti merdeka belajar muncul dari guru-guru Yayasan Al Hikmah, Maros. Komunitas Guru Belajar Maros berkolaborasi KGB Makassar meramu Temu Pendidik Daerah (TPD). TPD ini berisi kegiatan Nonton bareng Guru Merdeka Belajar pada Sabtu, 21 Desember 2019 di SDIT Al Hikmah Maros. Dalam diskusi kali ini sebagai narasumber adalah Ketua KGB Makassar dan para penggerak KGB Makassar. Seluruh sesi dipandu oleh moderator Pak Rudy.  Acara nonton bareng dilanjutkan dengan diskusi membahas arti merdeka belajar diantara para guru. Acara Nobar Guru merdeka dibuka oleh ibu kepala sekolah SDIT Al Hikmah, dalam sambutannya beliau mengatakan sangat senang dengan adanya kegiatan seperti ini, karena sebelumnya beliau punya  harapan ingin berdiskusi tentang bagaimana kebijakan menteri yang baru, dan sangat bersyukur Komunitas Guru Belajar hadir menjadi fasilitator dalam kegiatan tersebut. Hal tersebut juga diapresiasi oleh kepala sekolah TKIT Al Hikmah Maros, sangat senang dengan adanya diskusi seperti ini.  Sudahkah kita memahami arti Merdeka Belajar? Oleh Pak Rudy selaku moderator dalam acara nonton bareng tersebut, membuka dengan kalimat sudahkah kita merdeka belajar? Beliau memberikan contoh sebagai guru IPA dengan keterbatasan fasilitas LAB dan bahwa mengajar IPA tidak pumya LAB jatuhnya ke hafalan. Benarkah demikian? Menurutnya tidak seperti itu. harus kreatif dan tidak dibatasi kondisi fasilitas yang ada. Dia kemudian memberikan contoh dengan materi lensa cekung yang menggunakan sendok makan sebagai contoh.  Lanjut Pak Rudy, mengatakan bahwa bagaimana anak dapat merdeka belajar? Caranya sangat mudah, manfaatkan media yang ada di sekitar kita.  Ibu Guru Anita  Taurisia Putri selaku narasumber dalam diskusi nobar tersebut memberikan penjelasan mengenai empat kebijakan baru menteri pendidikan, bapak Nadien.  Termasuk tentang konsep guru merdeka berdasarkan konsep Komunitas Guru Belajar. Oleh Guru Indra dari KGB Maros, dari konsep pemahaman beliau masih terperangkap oleh miskonsepsi merdeka belajar. Oleh  guru Kasmiatang, mengatakan bahwa guru merdeka adalah bahwa membahas tentang guru endingnya adalah berawal dan berakhir di murid, guru merdeka  adalah guru yang bebas berinovasi tanpa tekanan. Tidak terjebak dan terfokus pada tugas administratif guru. Lain halnya oleh pak guru Irfan, menurutnya pendidikan adalah dakwah. Pernahkah guru mengeluh bahwa murid itu nakal ? Mengajar murid yang nakal adalah bagian dari dakwah juga.  Itulah tantangan dakwah. Visi pendidikan membawa murid ke surga, katanya. Dengan meningkatkan potensi amal, mari sinkronkan keinginan antara anak, orang tua dan guru. Memperjelas objek dakwah, kita harus mengambil sudut pandang pada anak-anak, jangan menggunakan sudut pandang pribadi sebagai guru untuk mengukur anak. Oleh pak guru Irfan mengatakan bahwa guru harus mampu memahami murid. Beliau memberikan contoh, kegiatan kepramukaan misalnya membagi pola pendidikan sesuai pola umur (1-4 tahun Siaga, Penggalang umur 5-6-7-8-9 Tahun dan penegak untuk SMA dan Mahasiswa). Pendidik yang Merdeka Belajar Sebagai pendidik harus bisa menyesuaikan dengan objek pendidikan kita dalam hal ini anak didik. Menurut pak Arif, bagaimana guru akan menjadi perwakilan Allah di muka bumi ini? Seorang guru harus memahami murid, mereka belajar (murid) adalah bagian dari tantangan belajar yang juga bagian dari dakwah. Misalnya rasanya keliru anak diminta belajar sementara orang tua sibuk main HP.  Oleh guru Adel, Penggerak KGB Makassar  mengatakan memanfaatkan potensi yang ada, memahami murid sesuai kebutuhan dan keadaan.Memahami murid menjadi rambu bagi muridnya. Guru mengikuti pola yang disenangi, dimasukkan kedalam pelajaran. Apa yang dibutuhkan anak itu yang harus diajarkan. Satu pesan dari Bu Guru Permata dari SMK Darussalam “Cukup jadi diri sendiri jika ingin menjadi ” Menjadi guru merdeka itu harus kreatif tidak mengajar karena tuntutan pimpinan tetapi karena beban moril, bahwa mengajar dengan baik adalah tanggungjawab di akhirat. Menjadi Guru Merdeka adalah guru yang kreatif dan inovatif dalam mengajar, memahami apa yang dibutuhkan oleh seorang murid.  Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Kutipan dari Bu Elaa “Guru tidak bisa belajar sendiri”-“Ciri Guru Merdeka Belajar adalah Komitmen akan tujuan, Guru yang mandiri, dan Guru yang Bercermin (refleksi)” Merdeka belajar adalah proses dimana seorang guru mampu memerdekakan dirinya terlebih dahulu dalam proses belajar mengajar dan mampu memberikan rasa nyaman serta rasa merdeka belajar bagi siswa- siswanya. Atau dengan kata lain Merdeka belajar juga  adalah bagian dari proses belajar seorang guru untuk memiliki komitmen, mandiri serta reflektif, dimana seorang guru ketika belajar dan mengajar tidak terjebak pada persoalan-persoalan administratif tetapi memiliki kesadaran untuk belajar karena kebutuhan alamiah menuju tujuan yang bermakna bagi diri sendiri dan bagi orang lain.

Konsep Merdeka Belajar di Sijunjung

Agar memahami konsep merdeka belajar. Komunitas Guru belajar Sijunjung mengadakan Temu Pendidik Daerah (TPD) ke–18. Acara ini dilaksanakan pada Jumat, 17 Januari 2020 pukul 13.30 – 17.00. Bertempat di kediaman Bu Sri hastuti Kecamatan Sijunjung, Kabupaten Sijunjung. TPD ini memiliki kegiatan nonton bareng. Dimoderatori oleh Ibu Novi Edmawati, sebagai salah satu penggerak dari KGB Sijunjung. Peserta yang hadir lebih kurang 15 orang, berasal dari Guru Kelompok bermain ( KB),SD,SMP, dan SMK. Kegiatan Nobar dipandu oleh Ibu Sri hastuti yang sudah mengikuti (Temu Pendidik Nusantara) tahun 2018 dan tahun 2019. Beliau juga aktif di Komunitas Guru Belajar.  Beliau adalah sosok yang mengayomi dan mampu menjadi teladan bagi Guru–guru yang ada di Sijunjung. Keresahan Guru pada Pendidikan Kegiatan Temu pendidik diawali dengan saling mengenalkan diri. Ada beberapa teman yang baru bergabung di Komunitas Guru Belajar Sijunjung ini. Kegiatan ini berlangsung 15 menit. Kemudian kegiatan dilanjutkan oleh  Bu Sri hastuti tentang Komunitas Guru belajar. Beliau menjelaskan Latar belakang komunitas ini. Komunitas terbentuk karena timbulnya keresahan dari para guru tentang Pendidikan Di Indonesia. Bu Tuti menayangkan tentang video guru Merdeka belajar. Guru–guru yang hadir antusias dalam menonton dandiajak memperhatikan penjelasan Konsep Merdeka belajar dan  miskonsepsi belajar. Setelah selesai menonton, peserta melakukan refleksi “Apakah yang sudah diketahui tentang konsep guru merdeka belajar?” Saya sebagai guru merasa Bahagia bisa berada di Komunitas ini. Berada di antara Guru–guru hebat. Bukan hanya hebat di Sijunjung saja tapi sudah sampai ke Jakarta. Orang–orang pilihan yang dianugerahkan Allah kepada saya untuk bisa bergaul dengan mereka. Komunitas ini membuka cakrawala saya tentang belajar itu seperti apa. Bagaimana Guru yang Merdeka Belajar? adalah guru yang komitmen pada tujuan, guru yang bisa mandiri dalam mengatasi masalah yang dihadapinya dan guru yang selalu refleksi, berkaca diri atas apa yang telah ia lakukan. Merupakan guru yang memerdekakan murid. Guru dan murid merasa merdeka dalam proses pembelajaran. Guru merdeka adalah orang yang selalu mengembangkan dirinya untuk menjadi lebih baik. Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Bu Tuti  juga menjelaskan tentang miskonsepsi selama ini yang terjadi di kalangan pendidik dan dunia pendidikan barangkali. ada pernyataan yang salah kaprah atau miskonsepsi belajar seperti satu, Guru belajar karena insentif eksternal. Dua, Guru belajar harus dari ahli, tiga, Belajar cukup terbatas “How to”. empat, belajar diburu target yang dipaksakan,lima, Kompetensi bersifat individual. Miskonsepsi yang ada pada diri saya yaitu Belajar cukup terbatas “How to”. Selama ini mungkin saya mengajar hanya tahu cara tanpa saya tahu tujuan yang sebenarnya. Saya datang ke sekolah mengajar setiap materi yang dituntut kurikulum tanpa memahami tujuan akhir yang akan dicapai  peserta didik. Maka saya bertekad untuk mematahkan miskonsepsi belajar ini. Saya akan berusaha memahami tujuan dari apa yang akan saya lakukan. Saya akan terus bergabung di komunitas ini dan akan selalu menjadi guru yang merdeka belajar. Guru yang komitmen yang pada tujuan, mandiri dalam menyelesaikan kendala yang dihadapi, dan selalu refleksi atas apa yang sudah dilakukan. Saya akan terus bergabung di komunitas Guru belajar ini karena saya mendapatkan pencerahan dan memberikan energi positif yang harus selalu dipupuk agar berkembang menjadi lebih baik.