Kenapa Guru Harus Melek Film?

“Wah parah ini film tidak mendidik!” “Hati-hati ya para guru, film ini tidak cocok ditonton anak-anak” Sering mendengar perkataan ini? Atau bahkan petisi? Sebenarnya yang salah filmnya atau jangan-jangan kita yang belum melek film? Nah lho…. Film selalu menjadi media belajar yang menarik bagi murid, Baik itu dari jenjang kelas paling kecil PAUD sampai tingkat SMA. Saya teringat ketika dulu waktu masih sekolah, ketika SMP saya selalu antusias ketika ada kegiatan menonton film. Sekalipun ada tugas mencatat kosata yang terdapat di dialog semua terasa menyenangkan. Banyak alasan yang membuat film menjadi media belajar yang menarik. Dalam film ada gambar dan suara sehingga cenderung lebih atraktif bahkan terkadang anak-anak bisa hanyut dalam alur ceritanya. Namun yang perlu disadari terkadang guru belum menggunakan film dengan baik dan maksimal. Waktu dulu saya mengajar, terkadang guru-guru membuat kegiatan menonton film yang tidak sesuai dengan anak. Misalnya film yang berbahasa Inggris dengan durasi panjang untuk kelas 1 SD, sedangkan anak-anak belum paham bahasa Inggris sehingga anak-anak sibuk bermain sendiri. Guru juga cenderung kebingungan membuat kegiatan setelah menonton film. Sedikit fenomena yang terjadi, membuat Sinedu bekerjasama dengan Kampus Guru Cikal mengadakan Guru Melek Film. Apa itu Guru Melek Film? Guru Melek Film merupakan program pemberdayaan guru untuk menjadi penggerak literasi film di daerahnya. Kegiatan berupa pelatihan dalam rangka peningkatan kompetensi dan pengalaman memanfaatkan film sebagai media belajar yang menarik dan bermanfaat serta mampu menciptakan interaksi dalam kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Tanggal 27 April 2019 lalu, Sinedu dan Kampus Guru Cikal mengadakan pelatihan Guru Melek Film di Pekalongan. Pernah nggak nonton film yang sebenarnya untuk umur 17+ tapi ada orang tua yang membawa anak di bioskop beberapa menit kemudian orang tua tersebut keluar dari bioskop? Pengalaman tersebut sama persis dengan yang dirasakan salah satu peserta, Pak Ahyat “Dulu saya punya pengalaman nonton sama anak saya. Kapok. Karena nggak sesuai ternyata untuk anak-anak. Sebaiknya memang menonton filmnya terlebih dahulu, sebelum menonton bersama anak-anak”  ujar beliau ketika sesi cerita pengalaman menonton film. Ada tips dari Sinedu “Bagaimana agar sebagai orang dewasa tidak salah pilih film?” Baca dulu sinopsi film Lihat dulu batasan umur filmnya Lalu, Bagaimana penggunaan film untuk pembelajaran? Seperti saat mengajak anak menonton film di bioskop, begitu pula untuk pembelajaran. Guru perlu memilih film yang tepat. Bagaimana caranya?    Memilih Film Yang Tepat Identifikasi kebutuhan pembelajaran, siswa dan guru. Cari referensi film di www.sinedu.id atau website lain. Pilih film sesuai dengan rating usia dan genre yang tepat. Tonton film dan buat catatan hal-hal menarik sepanjang film. Menurut beberapa peserta mengaku bahwa sering kali film yang dipakai tidak ditonton dulu atau terkadang asal pilih karena piihan terbatas.   Karena itu Guru harus Melek Film! Dengan guru yang melek film, guru menjadi pemikir yang kritis. Guru memiliki kemampuan evaluasi dan memahami, Di akhir sesi, peserta diajak menonton film yang ada dalam daftar website Sinedu. Setelah itu, peserta secara berkelompok membuat pembelajaran dengan menjadikan film sebagai media pembelajaran. Salah satu peserta melakukan simulasi pengajaran, setelah menonton film murid-murid diajak untuk melakukan aktivitas yang sama seperti yang ada di film. Menurut salah satu peserta mengaku bahwa sekarang menjadi lebih terbuka tentang pemanfaatan film sebagai media pembelajaran. Tidak hanya menonton lalu tanya jawab seputar film, tetapi bisa dihubungkan dengan pembelajaran lain, Misal olahraga atau bermain drama. Selain itu juga bisa dengan media atraktif seperti bermain dadu. Salah satu peserta dari KGB Pekalongan Pak Wahyu berinisiatif untuk membuat boardgames film. Guru, Belum Melek Film? Yuk ikutan Guru Melek Film yang akan diadakan di kota-kota lain. Tunggu pengumuman di Instagram Kampus Guru Cikal @KampusGuruCikal  

Merdeka Belajar, Mengembalikan Tujuan Guru Belajar

“Merdeka belajar” itulah kata yang sering kita dengar di komunitas guru belajar. Guru belajar, akhir-akhir ini itulah yang dilakukan oleh banyak guru disetiap pelosok negeri salah satunya guru-guru MI Walisongo Kranji 01, Pekalongan yang terus belajar, dan salah satu bentuk realisasinya adalah dengan mengadakan In House Training atau biasa disebut IHT setiap hari senin dan juga diskusi santai yang dilakukan beberapa guru disela-sela kesibukan sekolahan. Namun seiring waktu kadang kita lupa apa itu tujuan guru belajar? Apakah berubah hanya sebagai formalitas atau adat sekolah saja tanpa ada esensi lain. Dari hal tersebutlah diadakan nonton bareng video Merdeka Belajar pada hari Kamis, 2 Mei 2019 bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Video yang ditayangkan ini adalah cuplikan dari kegiatan Temu Pendidik Nusantara tahun 2016, dimana Ibu Najelaa shihab (Pendiri Kampus Guru Cikal dan Inisiator Komunitas Guru Belajar) membahas tentang Merdeka Belajar. Banyak yang dijelaskan oleh Ibu Najelaa Shihab tentang merdeka belajar. Beliau mengatakan bahawa kemerdekaan itu bukan diberikan begitu saja, namun harus diperjuangkan yakni melalui guru yang belajar, agar sampai pada yang dinamakan guru merdeka belajar. Video ini sangat tepat untuk memantapkan sebuah tujuan dari kegiatan yang sering dilakukan oleh guru belajar sehingga menjadi menjadi sebuah komitmen. Tujuan guru belajar adalah melawan miskonsepsi tentang proses guru belajar, karena banyak yang mengatakan guru hanya mau belajar jika mendapat insentif, guru hanya mau belajar jika mendapat sertifikat atau uang. Dan guru yang belajar di MI Walisongi Kranji 01 mau membuktikan bahwa guru belajar karena kebutuhan alamiah. Miskonsepsi tentang bahwa guru hanya bisa belajar dari para ahli, dari pakar pendidikan, padahal belajar paling efektif adalah belajar dari sesama guru karena guru butuh figur yang realistis yakni adalah teman sesama guru dan masih ada miskonsepsi lain. Jadi, Apa Merdeka Belajar? Banyak dari peserta nonton bareng ini begitu antusias untuk mengajukan pertanyaan atau sekadar curhat tentang keluh kesahnya menjadi seorang guru. Salah satunya Pak Azam (Guru MI Kranji 01) yang mempertanyakan “Apakah konsep merdeka belajar sejalan dengan kompetensi guru pedagogik, kepribadian, profesional, sosial?” pertanyaan tersebut dijadikan bahan diskusi antarguru, ada yang mengatakan saling mengisi, ada yang mengatakan kedua hal itu sejalan pun juga ada yang mengatakan, “Merdeka belajar adalah praktik dari kompetensi guru tersebut.” Banyak hal yang didiskuskan di dalam acara nobar tersebut, mulai dari apa yang di maksud dengan cita-cita anak yang melampaui batas, bagaimana sudut pandang tentang bahwa anak belajar butuh waktu , sedangkan realitanya di sekolahan konvensional guru selalu dikejar waktu untuk menyelesaikan materi sesuai target bahkan terkadang tidak peduli apakahanak-anak sudah menguasai materi tersebut atau belum, juga membahas tentang bagaimana merdeka belajar di kelas. Diskusi pun berjalan hangat dan renyah. Seluruh petanyaan yang muncul setelah sesi nobar, terjawablah semuanya, dan terjawab bersama dengan cara diskusi, sehingga diakhir acara nobar terwujudlah kesepahaman. karena setiap persoalan yang muncul dalam acara tersebut diselesaikan bersama, bukan oleh hanya satu orang. Itulah yang dibutuhkan oleh seorang guru, ngobrol atau diskusi tentang persoalan pendidikan yang membuat guru menuju pada merdeka belajar yang sesungguhnya. Bukan membahas administrasi saja, tapi yang terpenting adalah ekosistem dari pembelajaran kita, belajar kita bersama anak yang kadang perlu senantiasa diobrolkan dengan sesama guru, karena dengan mengobrol sesama guru, diskusi sesama guru, belajar sesama guru adalah hal tepat karena gurulah yang secara realitas hadir disekitar anak. MI Walisongo Kranji 01 berharap kedepannya praktik positif seperti ini bisa ditularkan ke teman-teman guru lain tidak hanya di MI kranji 01. Memang saat ini belum bisa mempraktikkan seluruh praktik baik dari komunitas guru belajar namun setidaknya kita di awal memulai untuk mengadaptasi sesuatu yang setidaknya kita bisa coba terlebih dahulu.

Bukan Literasi Biasa

BUKAN LITERASI BIASA Literasi sering dimaknai dengan kemampuan baca, tulis dan hitung. Literasi juga seringkali dilaksanakan sesuai program 15 menit membaca. Padahal, makna literasi lebih dari hanya itu. Mengangkat judul temu pendidik, Bukan Literasi Biasa, pagi itu, guru-guru yang berasal dari Pekalongan dan sekitarnya berkumpul di MAN 1 Kota Pekalongan, untuk belajar lebih lanjut memaknai literasi. Acara yang diadakan pada hari imlek yang cerah, 5 Februari 2019 itu diawali dengan materi berjudul “Personal Documentation Video” yang disampaikan oleh Guru Madya. Beliau menceritakan tentang media video yang dipraktikkan di kelas Universitas karena melihat fenomena yang sedang trend saat ini, seperti fenomena video challenge yang berbahaya, aplikasi TikTok dan fenomena video lain yang disalahgunakan. Melihat dampak negatif yang cenderung muncul, guru Madya memanfaatkannya sebagai wadah mahasiswa untuk berekspresi dengan memanfaatkan media video ini. Dalam personal documentation video ini, mahasiswa bisa mengangkat topik yang disukai dengan menggunakan pola OMC (Opening – Main – Closing). Tahap opening dimulai dengan menjawab pertanyaan what, where, when, who. Di tahapan selanjutnya, yakni main, mahasiswa menjelaskan topik dengan panduan pertanyaan menggunakan how. Sedangkan di tahapan terakhir yakni closing, mahasiswa akan menyimpulkan rangkaian topik yang tadi di bahas. Salah satu manfaat yang didapat dari kegiatan ini adalah mahasiswa dapat melatih kepercayaan diri untuk berbicara di depan umum menggunakan Bahasa Inggris. Lebih jauh lagi, kegiatan ini juga dapat membantu jika akan menempuh study di luar negeri atau tes IELTS. Dalam kesempatan ini, beberapa guru terlihat bersemangat unjuk gigi mendeskripsikan hal yang digeluti/ disukai dalam Bahasa Inggris. Guru Zinat mendeskripsikan tentang Pemilu karena beliau adalah anggota KPPS, sementara guru Kiki membahas tentang kopi karena beliau pecinta kopi. Narasumber berikutnya, Guru Inggil yang masih berstatus mahasiswa menceritakan pengalamannya menggunakan literature circle di klub membacanya. Beliau mengawali kelas dengan meminta peserta untuk mengunduh aplikasi Farfaria sebagai salah satu sumber bacaannya. Namun, pada dasarnya, guru bisa menggunakan buku apapun. Dalam literature circle ini, guru Inggil membagi peserta temu pendidik dalam beberapa kelompok yang terdiri dari 6-8 orang. Kemudian, beliau memberikan peran kepada masing-masing anggota. Ada yang menjadi pendongeng, connector, illustrator, editor dan peramal. Masing-masing memiliki tugasnya tersendiri. Misalnya, connector bertugas untuk menghubungkan isi cerita dengan dunia nyata, dan peramal bertugas untuk meramalkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Pada kesempatan ini, peserta temu pendidik diminta membaca cerita Thumbelina, lalu mempresentasikan perannya tadi. Gelak tawa terdengar karena khayalan peramal yang kadang tak terduga, atau melihat gambar sang illustrator yang jauh dari aslinya. Lebih menarik lagi karena guru Inggril memberikan giveaway pada sesi presentasi. Acara temu pendidik kali ini ditutup oleh Guru Dias yang mengawali kelasnya dengan ice breaking “Patung Pancoran”. Beliau membagikan tentang pengalaman saat menerapkan konsekuensi di sekolahnya. Guru Dias merupakan anggota STP2K (Satuan Tugas Pelaksana Pembinaan Kesiswaan) yang sering menangani siswa terlambat dan beberapa permasalahan lain terkait para siswa. Beliau menyatakan bahwa konsekuensi adalah sesuatu yang harus diterima jika melanggar kesepakatan yang dibuat sebelumnya. Alih-alih menghukum siswa yang sering terlambat, beliau lebih mengedepankan diskusi dua arah yang memiliki efek jangka panjang. Dalam membuat konsekuensi dengan siswa, guru perlu mempertimbangkan banyaknya konsekuensi, keterlibatan semua pihak, dan kejelasan poin aturannya agar konsekuensi tersebut dapat dilakukan secara berkesinambungan. Beliau juga menyampaikan bahwa konsekuensi bersifat tidak mutlak/ dinamis. Artinya, konsekuensi dapat diubah sesuai dengan kondisi yang ada. Namun, sebelum menerapkan strategi ini, siswa harus diedukasi terlebih dahulu, akan lebih baik jika dalam bentuk cerita sehingga mereka tidak merasa digurui. Di akhir sesi, guru Dias memberikan sebuah masalah dan meminta peserta temu pendidik untuk merancang strategi konsekuensi yang akan dilakukan dalam sebuah kelompok. Lalu, mereka mempresentasikan hasilnya. Dari temu pendidik kali ini, guru belajar literasi melalui media video, merancang literature circle yang menarik serta berliterasi dalam menerapkan konsekuensi. Pada dasarnya, literasi ada di semua bidang, tidak hanya dalam pelajaran Bahasa. Temu Pendidik siang itu pun ditutup dengan memberikan berbagai informasi acara dan pelatihan yang akan dilakukan KGB Pekalongan bulan Maret. Diantaranya yaitu kegiatan trauma healing untuk korban banjir di Pekalongan dan pelatihan Melukis Kelas dengan Video.

Strategi Menyenangkan untuk Ulangan Harian

“Besok ulangan ya?” Tiba-tiba wajah murid menjadi berubah. Seakan-akan akan menemui monster yang menakutkan. Ulangan menjadi momok bagi sebagian murid. Tantanganya adalah membuat ulangan menjadi menyenangkan. Bukan hal yang menakutkan. Sebagai pembuka Guru Nazila mengajukan pertanyaan Rekan-rekan diskusi menimpaliSeriiing Bu!Sering BangetBudaya NyataDengar ulangan, anak-anak langsung galauBersorak huu! Nah, banyak hal yangg kita sering jumpai ya.Lantas, apa yg akan kita lakukan untuk mengatasi hal tersebut? Kali ini Guru Gia akan berbagi pengalamannyamerancang penilaian yang menarik dan mengasikkannamun tetap bermakna. Assalamualaikum w.w. teman-teman Pendidik! Saya sungguh bersyukur sekali bisa berada di tengah teman-teman pendidik semua. Rasanya seperti mendapatkan saudara baru,teman belajar baru yang selalu berusaha memberikan yang terbaik.Karena saya meyakini bahwa guru yang baik adalah guru yang selalu memberikan yang terbaik dari dirinya untuk siswa-siswanya dan lingkungan di sekitarnya. Pada kesempatan malam ini, saya mohon izin untuk berbagai sesuatu kepada teman-teman pendidik semua tentang sesuatu hal yang telah membuat saya bahagia. Ilmu saya masih minim sekali, tapi saya punya keinginan yang besar untuk terus belajar memberikan yang terbaik. Perkenalkan, nama saya Sitti Ghaliyah. Biasa dipanggil Gia. Alhamdulillah saya diberi kesempatan belajar untuk menjadi Pendidik dan Wakil Kepala MTs Ibad ArRahman di Pandeglang, Banten. Saya mengampu mata pelajaran Fisika tingkat SMA/MA. Oia, saya suka sekali menulis, tapi belum juga menulis buku solo. Doakan yaaa. Saat ini saya aktif menulis #CatatanIbuGuruGia di instragam @giaghaliyah. Kalau yang belum follow boleh banget, semoga kita bisa tetap bersilaturahim. Sebelum ke materi utama, saya mau menyampaikan cemilan dulu yaaa. Tentang 7 Prinsip Seorang Pendidik Pembawa Perubahan. Insyaallah akan terkait dengan materi utama kita. Jujur deh… Sebagai guru, pernahkah teman-teman melihat ekspresi dan respon murid Anda ketika Anda mengumumkan bahwa pekan depan akan Ulangan Harian? Bagaimana ekspresi murid Anda? Sedih? Bingung? Muram? Atau, ada gak yang punya pengalaman justru murid Anda bilang, “Horeeeee!”? Terus, bagaimana responnya? Gak mau Ulangan Harian? Minta diundur waktunya? Saat awal-awal saya mengajar, jujur saya belum peka memahami murid saya. Apalagi ketika saya mengumumkan, “Nak, pekan depan Ulangan Harian Fisika Bab Dinamika yaaa! Mohon belajar semaksimal mungkin.” Ekspresi murid satu kelas langsung berubah tegang. Raut wajahnya menjadi muram. Terlihat sekali bahwa mereka merasa terbebani untuk menghadapi Ulangan Harian Fisika pekan depan. Responnya juga kompak, mereka bilang, “Buuuu Ulangan Harian Fisikanya diundur ajaa dong buuuu!” Awalnya saya berpikir, “Ah, wajarlah mereka begitu. Fisika kan emang salah satu mata pelajaran yang susah. Jadi wajarlah kalau mereka takut Ulangan Harian Fisika.” Oh, saya salah besar! Saya gak boleh menanggap bahwa hal itu merupakan sebuah kewajaran! Akhirnya, saya berusaha untuk merefleksi diri saya sendiri mencari apa penyebab sebenarnya. Menurut teman-teman semua, kira-kira apa yaa penyebab ekspresi dan respon yang kurang bersahabat dari siswa kita ketika akan Ulangan Harian? Mungkinkah ada rasa trauma dengan suasana kelas yang begitu mencekam? Bosen mengerjakan soal UH dengan duduk diam terpaku selama berpuluh-puluh menit? Izinkan saya mencoba menganalisis dari hasil refleksi yang telah saya lakukan berdasarkan pengalaman saya sendiri. Saya masuk kelas. Lalu, saya bilang, “Hari ini siap yaa Ulangan Harian Fisika. Sudah belajar semua?” Terus seluruh siswa diam. Kayaknya sih takut dan deg-degkan banget deh. “Kok diam semua? Tenang, soal yang keluar insyaAllah yang sudah kita pelajari bersama-sama, kok. Santai aja yaaa,” kata saya membuat mereka tenang. “Iya, bu,” jawab mereka dengan ekspresi tidak antusias. Ada juga yang masih terlihat grogi dengan keringat yang sudah mengembun di keningnya. Lalu, saya bagikan kertas soal Ulangan dan lembar jawabnya satu persatu. Tak lupa, saya pun bilang, “Ayo posisi duduknya saling dijauhkan. Pokoknya gak boleh ada yang menyontek ya!” Jujur, saya menginginkan murid saya duduk dengan tertib ketika Ulangan Harian berlangsung. 80 menit berlalu. Ada yang masih mengerjakan soal Ulangan Harian, ada juga yang sudah selesai. Biasanya yang sudah selesai akan menaruh kepalanya di atas meja, tanda menunjukkan bahwa murid tersebut sudah merasa bosan. Ya begitulah. Saya pelototin mereka ketika mengerjakan soal Ulangan Harian. Mungkin itu yang membuat murid menjadi takut dan grogi banget. Belum lagi mereka harus duduk diam terpaku, gak bisa bergerak-gerak. Lalu, bagaimana dengan kebosanan yang melanda mereka? Ok, saya harus mengubah metode Ulangan Harian menjadi sesuatu hal yang menyenangkan dan penuh tantangan. Saya ingin mereka justru antusias mengerjakan soal-soal Ulangan Harian. Tapi, bagaimana ya caranya? Ada 7 Prinsip Ulangan Harian yang sangat penting untuk kita ketahui bersama 1. Valid Buatlah soal-soal Ulangan Harian sesuai dengan tujuan pembelajaran, kompetensi dasar yang telah ditentukan, dan juga indikator-indikator pencapaian kompetensi yang telah dijabarkan dan telah diajarkan. Penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan kamampuan yang diukur. 2. Mendidik Ulangan Harian harus bisa menjadi penghargaan yang memotivasi bagi murid yang berhasil dan sebagai pemicu semangat untuk meningkatkan hasil belajar bagi yang kurang berhasil. Saya pernah punya pengalaman, murid saya trauma dan pasrah menyerah sebelum Ulangan Harian Fisika. Katanya, “Ah bu, saya sudah belajar maksimal sesuai dengan kemampuan saya, tapi palingan nanti hasilnya saya remedial lagi, dan lagi.” Lho kenapa murid saya jadi pasrah menyerah ya? Pasti ada sesuatu yang salah dari cara Ulangan Harian yang saya terapkan kepadanya. Walaupun ia pernah remedial di Ulangan Harian pertama, maka Ulangan Harian selanjutnya selanjutnya bisa menjadi pemicu semangatnya untuk bisa berhasil mendapatkan nilai yang bagus juga. 3. Berorientasi pada Kompetensi Nah, untuk prinsip yang ketiga ini, kita harus membuat soal-soal Ulangan Harian yang mengacu pada pencapaian kompetensi ya. Jangan sampai, apa yang sudah kita ajarkan di kelas, tidak sesuai dengan soal Ulangan Harian yang kita berikan untuk murid. Kita pun harus benar-benar merancang soal yang baik, yang sesuai dengan kompetensi dalam kurikulum. 4. Adil dan Objektif Tentu cukup beragam latar belakang murid kita di kelas. Jangan mentang-mentang kita dekat dengan salah satu orang tua murid, maka kita berlaku tidak adil kepada murid tersebut saat Ulangan Harian. Nggak boleh, ya! Guru harus adil dan objektif, tidak ada murid kesayangan, tidak ada rasa pilih kasih kepada murid-murid tertentu saja. 5. Terbuka Maksudnya adalah guru harus ada bukti yang jelas tentang nilai-nilai Ulangan Harian murid. Mulai dari lembar jawaban Ulangan Harian, lembar penilaian Ulangan Harian, dll. Semua harus terarsip dengan baik ya. Begitupun dengan kriteria penilaian Ulangan Harian. 6. Berkesinambungan Guru harus telah merancang program semester, terutama sudah merancang mau berapa kali … Read more

Kolaborasi untuk Berbagi Praktik Baik Pengajaran

Melalui kolaborasi dengan MTs Nurul Islam KGB Pekalongan berbagi praktik yang menarik untuk diterapkan dikelas. Hal ini dimaksudkan untuk menciptakan inovasi dalam proses belajar. Siang itu langit terlihat sedikit mendung. Nampak beberapa guru yang tetap semangat duduk melingkar di ruang perpustakaan MTs Nurul Islam Krapyak Pekalongan. Mereka saling bertukar cerita, mulai dari rekan guru yang baru pertama kali mengikuti TPD KGB Pekalongan hingga yang beberapakali tetap setia mengikuti. Kehangatan begitu terasa saat kepala madrasah menyambut para guru dengan senyum ramah. Jika biasanya KGB Pekalongan mengadakan agenda harus mencari tempat terlebih dahulu, namun kali ini MTs Nurul Islam justru mengajak KGB Pekalongan berkolaborasi untuk membangkitkan gairah guru dalam mengajar sehingga tercipta inovasi dalam memberi ilmu kepada muridnya. Sebagaimana ditegaskan oleh Guru Nikmah selaku kepala Madrasah bahwa dengan adanya TPD ini beliau  mengharapkan agar guru-guru di MTs Nurul Islam dan guru lainya dapat menciptakan inovasi dalam proses pembelajaran. Belajar Membaca Harus Melihat Tahap Perkembangan? Kegiatan dibuka oleh guru Rayinda. Sebagai pembuka ia berbagi tentang Memahami Anak untuk Merancang Strategi Membaca. Banyak yang tertegun dengan apa yang Guru Rayinda paparkan. Bahwasanya mengajarkan anak bukan hanya sekedar megenali huruf namun juga memepertimbangkan tahap perkembangan anak. Terutama saat anak memasuki golden age dimana daya tangkap sangat baik jika dimanfaatkan untuk mengingat berbagai gambar atau bentuk literasi lain yang dapat membantu anak mengenali lingkungan. Selain itu, wanita berkacamata ini juga memutarkan video yang menjadikan peserta TPD mengerti bahwa dalam tahap membaca terdapat tahapan phoenemic awarness (kesadaran fonemik). Dalam video tersebut anak-anak diajak mengenali benda-benda disekitar mereka dan melafalkan serta membedakanya dengan bunyi huruf lain. Diakhir pemaparanya Guru Rayinda mengungkapkan bahwa merancang strategi membaca pada anak sangat penting karena kadang anak dituntut untuk mengerti makna suatu kata padahal pada tahapan tersebut sebenarnya ia belum mampu. Nah, sebagai guru dan orangtua tentu materi ini menjadi bahasan yang sangat menarik karena dapat dipraktikan langsung pada anak-anak dirumah. Posisi Menentukkan Prestasi Sesi selanjutnya diisi oleh Guru Zinat. Ia menyampaikan materi mengenai Posisi Tempat Duduk Mempengaruhi Prestasi. Pada sesi ini peserta diajak untuk keluar kelas dan membentuk lingkaran besar. Lalu mereka berkelompok sesuai dengan urutan bulan dan tanggal lahir tanpa menggunakan aba-aba. Rona wajah ceria menghiasai wajah para peserta. Keseruan tak hanya berhenti disitu, guru yang mengampu mata pelajaran Sistem Kebudayaan Islam ini juga mengajak peserta untuk membuat janji pada jam 3, 6, 9 dan 12. Dalam satu waktu peserta hanya boleh membuat janji dengan 1 orang. Game tersebut berhasil membuat guru-guru tersenyum lebar Ia menyampaikan bahwa game semacam ini sering ia lakukan untuk membuat murid tidak jenuh dalam belajar. Apalagi, ia mengampu mata pelajaran SKI yang notabene menjadi momok bahwa mata pelajaran tersebut menjenuhkan karena bahan bacaan yang panjang. Tidak lupa, ia juga membagikan materi mengenai pola tempat duduk yang memanusiakan hubungan. Sehingga murid belajar lebih antusias serta hubungan antara guru dan murid juga terjalin hangat. Menurutnya, posisi tempat duduk yang monotan juga memberikan efek bosan dan murid cenderung berkelompok karena kurangnya interaksi antar murid lain yang duduk tidak berdekatan. Belajar dengan Berkomunikasi Secara Visual Sebagai materi pamungkas, guru Najib membagikan materi Desain Grafis untuk Komunikasi. Ternyata, melalui komunikasi visual menjadikan murid tertarik terhadap materi yang disampaikan. Selama ini kita hanya terpaut pada teks dibuku saja tanpa menyajikan materi agar lebih menarik bagi murid. Konten visual juga lebih banyak diproses 60.00 kali lebih cepat dari konten teks selain itu dengan memadu-padankan warna menjadikan materi lebih terlihat menarik untuk dilihat. Jika biasanya desain grafis dibuat menggunakan corel draw atau photoshop yang terlihat rumit dan tidak semua orang mengerti, Guru Najib justru membongkar stigma tersebut. Dengan menggunakan smartphone kita bisa membuat desain grafis yang menarik. Kali ini ia mengajak rekan guru menggunakan aplikasi canva yang sangat simpel dan mudah digunakan. Beberapa peserta terlihat menikmati saat jari tangannya mulai memilah backgound serta font teks yang akan digunakan. Hasil desain yang dibuatpun terlihat menarik dan menjadikan candu untuk mencobanya kembali. Acara ditutup dengan refleksi. Guru Watik mengungkapkan bahwa ia sangat terkesan dengan acara ini dan ingin mempraktikanya setelah pulang dari MTs Nurul Islam. Selain diterapkan pada murid ia juga ingin mempraktikan pada anaknya dirumah.

Cara Belajar Guru Milenial

Apa yang harus dilakukan guru dalam menghadapi siswa yang merupakan generasi milenial? Generasi milenial cepat bosan dengan kegiatan yang monoton; padahal proses belajar di sekolah kita masih diisi dengan mendengarkan ceramah dari guru, mencatat dan mengerjakan tugas-tugas saja. Generasi milenial juga sangat suka menggunakan gawai. Mereka takut ketinggalan perkembangan dunia terbaru. Seakan semboyan hidupnya adalah “No Update No Life, No gadget No Life”. Pantas mereka kerap kedapatan mencuri waktu untuk membuka gawainya di tengah-tengah pembelajaran. Padahal masih bayak guru yang hanya menggunakan gawai untuk aplikasi chatting, facebok dan YouTube saja, jauh tertinggal di belakang siswanya. Generasi milenial juga senang bekerja multitasking. Makan saja dilakukan sembari membuka Instagram sekaligus membalas chat dari beberapa teman. Suatu hal yang sangat dibenci generasi jaman old karena dianggap tidak sopan. Alih-alih tenggelam dalam kegalauan ditengah jaman yang penuh  tantangan dan kecepatan ini, guru- guru di Purwokerto lebih memilih untuk berdaya. Mereka tahu bahwa pendidikan saat ini perlu bergerak mengikuti perkembangan jaman. Mereka tidak bisa lagi mengandalkan buku teks dan LKS sebagai senjata di kelas. Harus ada strategi-strategi baru. Karakteristik generasi milenial yang mampu belajar cepat dan mampu mempelajari banyak hal harus dipandang sebagai sebuah kelebihan bukan kenakalan. Jika guru mampu mengarahkan agar proses belajar siswanya menjadi terarah dan fokus, bukan tidak mungkin hal tersebut akan menghantarkan siswa menjadi orang yang sukses di masa depan. Namun jika guru tidak mampu hadir ditengah-tengah siswa, bukan tidak mungkin pula siswa menjadi mudah berpindah-pindah minat, sehingga kelak menjadi generasi mudah goyah dan tidak loyal. GuruFest 2018 adalah salah satu terobosan yang digunakan oleh guru-guru di Purwokerto untuk menjawab tuntutan tersebut. GuruFest 2018 adalah sebuah kegiatan belajar guru yang merdeka dan sesuai dengan kebutuhan belajar guru abad 21. GuruFest 2018 memberikan ruang bagi guru untuk saling berbagi pengalaman baik yang pernah dilakukan di kelas masing-masing untuk dibagikan kepada guru lain. “Selama ini kami kira para guru hanya bisa belajar dari dosen/professor, ternyata tidak. Kami ternyata bisa juga belajar dengan sesama rekan guru. Dan ini asik, karena narasumbernya adalah guru, orang yang paham banget tentang keadaan kelas dan sekolah saat ini. Sehingga materi-materi yang disampaikan benar-benar relevan dengan kebutuhan rekan guru lainnya”, kata Niamil Hida salah satu peserta GuruFest 2018 asal Pekalongan. Guru Niam bersama rekan-rekan guru yang tergabung dalam Komunitas Guru Belajar Pekalongan sengaja ikut hadir di acara GuruFest 2018 ini karena mereka merasa bahwa model belajar di GuruFest 2018 ini menarik. Ada banyak pilihan kelas yang bisa diikuti sesuai dengan kebutuhan belajar masing-masing guru. “GuruFest 2018 ini adalah kegiatan belajar guru yang terinspirasi dari kegiatan Temu Pendidik Nusantara yang baru saja kami ikuti di Jakarta beberapa waktu lalu”, kata Guru Daru mewakili panitia. “Kami memberikan ruang bagi para guru-guru di Purwokerto untuk berdaya sekaligus belajar barengan”, lanjutnya. Kegiatan GuruFest 2018 ini terbagi menjadi 4 sesi. Sesi yang pertama adalah Kelas Kemerdekaan. Kelas dengan durasi 1 jam ini adalah kelas dimana para guru bisa saling berbagi pengalaman baik dalam pengajaran. Kelas Kemerdekaan terdiri dari kelas-kelas kecil. Tiap kelas kecil diisi oleh 3 narasumber yang bercerita tentang pengalamannya dalam mengelola kelas melalui strategi tertentu. Sesi kedua adalah Kelas Kompetensi. Kelas ini berdurasi 3 jam. Sama seperti kelas kemerdekaan, sesi Kelas Kompetensi ini dibagi menjadi beberapa kelas kecil. Tiap kelas membahas topik yang berbeda-beda. Tiap peserta dapat memilih kelas yang sesuai dengan kebutuhan belajarnya masing-masing. “Saya masuk kelasnya pak Waryanto. Wah menarik sekali! Saya baru tahu ternyata dengan menggunakan aplikasi Kahoot, proses penilaian pencapaian belajar siswa bisa dibuat sangat seru.. keren pokoknya..”, kata Demas, salah satu peserta GuruFest 2018. “Saya besok akan gunakan aplikasi Kahoot ini di kelas saya..”, katanya. Sesi ketiga adalah Kelas Kolaborasi. Sesuai judulnya, kelas ini memberi kesempatan kepada para professional untuk ikut serta berkolaborasi dalam pendidikan. Kelas ini menghadirkan 7 orang narasumber yang para professional dibidangnya. Sebut saja Arnold Ong. Beliau adalah professional muda di bidang IT yang telah malang melintang di dalam dan luar negeri. Arnold menjadi narasumber di kelas “Inovasi teknologi untuk Pendidikan”. Aplikasi-aplikasi terbaik yang mendukung pembelajaran dipaparkannya di depan kelas. “Saya ingin guru-guru di seluruh Indonesia juga memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi secara maksimal. Dan hal itu tidak sulit kok..”, ujar Arnold. Selain Arnold, ada juga Robi Sofwan Amin. Beliau adalah jurnalis CNN Indonesia yang ikut tergerak untuk berkolaborasi memajukan Pendidikan di Indonesia khususnya di Purwokerto melalui GuruFest 2018 ini. Robi mengangkat “Pembuatan Video Profesional dengan HP” sebagai judul kelasnya. “Bermanfaat sekali ya, kami selaku guru dapat belajar pembuatan video langsung dari jurnalis. Tentunya ini menjadi strategi baru di kelas saya besok. Saya ingin pembelajaran PAI dikemas melalui vlog, pasti siswa saya akan suka”, kata salah satu peserta. Ilmu yang kita miliki tidak akan berkurang jika kita bagikan kepada orang lain. Dan ternyata hal ini juga membahagiakan. Itulah yang kami rasakan di kelas Karier sebagai puncak acara GuruFest 2018. Di kelas ini seluruh peserta, narasumber, dan panitia berkumpul bersama di Aula SMK Aryasatya Teknologi Patikraja Purwokerto. Tidak muncul gurat lelah di wajah mereka meskipun kegiatan telah berlangsung seharian. Justru yang muncul adalah kebahagiaan. Guru yang menjadi narasumber berbahagia ketika hari ini Ia berhasil menaklukkan dirinya sendiri. Menaklukkan anggapan negatif yang menganggap bahwa Ia tidak bisa menjadi narasumber bagi guru lain. Ternyata anggapan itu salah besar karena setelah berbagi di depan kelas, rasa malu, tegang, takut, telah lenyap berganti dengan ketagihan belajar tak berkesudahan. Fix! guru bisa menjadi narasumber untuk materi yang sangat dikuasainya, yaitu mendidik dengan hati. Kebahagiaan dari para peserta juga terlihat karena dibenaknya telah muncul optimisme baru. Optimisme yang muncul karena hari ini Ia memiliki strategi-strategi pembelajaran terbaik. Optimisme yang membuatnya tidak sabar untuk segera masuk kelas menemui para siswanya. Dan pastinya optimisme untuk terus belajar. Hari ini, sekali lagi kami belajar sekaligus membuat pembuktian bahwa berbagi itu membahagiakan. Bagi guru milenial, Sharing is cool! Nuno Riza Peserta GuruFest 2018 Penggerak KGB Pekalongan

Membangun Madrasah Inklusi – Guru Belajar Pekalongan

“Anak gila kok diterima di sekolah,” Kata-kata teror melalui SMS ini kami terima pada tahun 2012 di awal-awal tahun perjuangan membangun sekolah/madrasah inklusi.  Guru Niam, Kepala Madrasah akan bercerita bagaimana ia jatuh bangun membangun madrasah inklusi. Apa saja yang perlu dipersiapkan untuk membangun sekolah inklusi? Mengapa perlu menjadi sekolah inklusi? Yuk temukan jawabanya dalam Temu Pendidik Mingguan ke-23 Komunitas Guru Belajar Pekalongan “Membangun Madrasah Inklusi” Anifah  Assalamualaikum, selamat malam Bapak Ibu. Apa kabarnya hari ini? Yuk yang jauh mendekat, yang dekat merapat. Bahagia rasanya dapat menyapa guru-guru luar biasa malam ini, guru-guru yang memiliki semangat tinggi untuk terus belajar. Perkenalkan nama saya Anif dari KGB Pekalongan. Malam ini akan berperan sebagai moderator diskusi. Jangan lupa siapkan tenaga lebih dan cemilan untuk menyimak materi kece malam ini. Tema diskusi kita kali ini yaitu Membangun Madrasah Inklusi Bersama Pak Niamil Hida dari MI Kranji 1 Kedungwuni M. Niamil Hida Perkenalkan Nama saya Muhammad Niamil Hida biasa dipanggil Niam atau Hida. Pada kali ini saya akan sharing pengalaman proses merintis dan menumbuhkan madrasah Inklusi di MI Kranji 1 Kedungwuni Pekalongan Muhammad Niamil Hida Materi: “Anak gila kok diterima di sekolah,” kata-kata teror melalui SMS ini kami terima pada tahun 2012 di awal-awal tahun perjuangan membangun sekolah/madrasah inklusi. MI Walisongo Kranji 01 Pekalongan pada awalnya adalah sekolah/madrasah biasa seperti pada umumnya, sekolah/madrasah setingkat SD yang di bawah Kementrerian Agama. Awal mula munculnya ide menerapkan sistem inklusi karena keresahan beberapa guru melihat anak yang kami duga termasuk berkebutuhan khusus di sekitar sekolah tidak dapat kesempatan belajar yang baik, jikapun diterima di SD/MI hampir bisa dipastikan tidak mendapatkan pelayanan yang layak. “Terus anak-anak spesial ini tanggung jawab siapa?” Kata-kata itu yang akhirnya membuat tekad kami semua untuk memulai langkah awal menerima anak terindikasi berkebutuhan khusus di MI kami dengan modal “nekat”. Modal tekad dan nekat memang kata yang pas untuk menggambarkan kondisi saat itu saat memulai merintis madrasah inklusi. Banyak sekali tantangan yang harus dilalui baik faktor internal maupun faktor eksternal. Dilihat dari faktor internal kondisi guru-guru di MI Kranji 01 tidak ada satupun dari jurusan yang berkompeten dalam penangan ABK, bahkan mayoritas guru di MI Kranji 01 adalah dari lulusan PAI (Pendidikan Agama Islam) dan beberapa bukan jurusan pendidikan. Faktor internal lain yaitu kondisi sarana prasarana yang belum memenuhi dan belum ideal. Faktor eksternal juga sangat mempengaruhi tingkat tantangan dalam upaya menerapkan madarasah inklusi saat itu. Pada tahun 2012, di Kementerian Agama belum ada peraturan yang mengatur tentang pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus. Di tahun berikutnya ada MI Kranji seperti mendapat angin segar karena Kementerian Agama mengeluarkan PMA No. 90 tahun 2013 tentang penyelenggaraan pendidikan madrasah, yang di salah satu pasalnya menyebutkan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus, tepatnya pada pasal 14 ayat 6 yang berbunyi “MI wajib menyediakan akses bagi peserta didik berkebutuhan khusus”. Dengan modal peraturan ini kami menjadi lebih yakin bahwa madrasah juga mendapat dukungan yang baik dari pemerintah.Membangun kesadaran lingkungan sekolah akan pentingnya pendidikan inklusi di daerah yang sangat minim informasi tentang inklusi menjadi hal penting, stempel jelek masih banyak diterima anak berkebutuhan khusus, anak autis dianggap gila, anak ADHD dianggap tidak layak belajar bareng sebayanya di sekolah karena sering mengganggu. Melihat hambatan atau tantangan memang perlu untuk menyiapkan aksi apa yang pas untuk menjawab tantangan-tantangan. Seperti tantangan untuk menumbuhkan kesadaran pentingnya sistem inklusi kepada masyarakat, dan tugas sekolah/madrasah adalah memberikan edukasi dan bukti. Usaha untuk memberikan edukasi dan bukti kami lakukan melalui tindakan P3K, bukan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan, tetapi P3K yang kepanjangannya : Program Solutif, Pembelajaran Efektif, Promosi Simpatik dan Komitmen Energik. 1. Program Solutif Program-program yang didesain berusaha memberikan solusi atas permasalahan- permasalahan yang muncul di sekolah, seperti masalah kesempatan yang sama dalam berekspresi; sekolah/madrasah memberikan kesempatan kepada semua murid untuk tampil sebagai pengibar bendera, walau tubuh mereka sangat mencolok berbeda. Memberikan anak berkebutuhan khusus juga ikut berperan tentunya disesuaikan dengan potensinya. Tidak hanya itu, juga memberikan kesempatan anak kelas 1 MI untuk tampil dengan menjadi petugas upacara. Contoh-contoh program lain seperti parenting untuk memanusiakan hubungan dengan wali murid, program tentang pemahaman toleransi dengan hari tanpa seragam dan lain sebagainya. 2. Pembelajaran Efektif Belajar efektif yang kami percaya bukan sekadar mahir menjawab soal, tetapi belajar yang mendekatkan dengan realita kehidupan sehari-hari, seperti belajar tentang perpindahan panas dengan memasak dan latihan menyetrika baju, belajar perubahan zat benda dengan mencuci baju dan lain sebagainya. Jika murid didekatkan dengan hal yang bukan abstrak akan mempermudah pemahaman, salah satunya kehadiran anak berkebutuhan khusus sangat membatu guru mendekatkan realita ketika membahas toleransi, mencegah terjadinya bulliying dengan buddy system dan lain sebagainya. 3. Promosi Simpatik Kalau 2 hal di atas adalah usaha untuk memberikan bukti pentingnya pendidikan inklusi, promosi simpatik adalah upaya untuk mengedukasi masyarakat. Promosi yang dilakukan di MI kami saya yakin juga sudah dilakukan oleh sekolah lain, yaitu promosi melalui berbagai hal, seperti menyebar brosur dan promosi melalui media sosial. Cara tersebut bisa efektif jika sekolah kita sudah dipandang, kami sadar akan hal itu, maka yang kami lakukan adalah berbagi ilmu tentang apa yang guru-guru kami miliki kepada guru dan orangtua di sekitar, baik praktik baik maupun kompetensi yang dibutuhkan oleh mereka. Kegiatan promosi simpatik dengan kolaborasi ini sangat efektif untuk mengedukasi masyarakat. 4. Komitmen “Energik” Bagi saya yang terakhir ini faktor penentu keberhasilan dalam usaha meningkatkan sesuatu termasuk membangun madrasah inklusi. Dalam menjalankan 3 usaha sebelumnya pasti muncul beberapa masalah, tanpa komitmen yang kuat tidak mungkin kita bisa bertahan dengan tujuan mulianya, dengan komitmen masalah apapun bisa diminimalisir selama selalu mencari cara untuk menyelesaikan masalah. Untuk menjaga komitmen guru, yang kami lakukan adalah dengan membuat program diskusi rutin dengan program obsesi (obrolan senin santai) di forum inilah kami merefleksi program-program yang sudah dijalankan dan mencari program baru atau memodifikasi program program lama jika dibutuhkan. Melalui refleksi bersama program-program untuk memberikan pelayanan bisa bertumbuh lebih baik, seperti awal menerapkan inklusi program awal hanya klinik baca, akhirnya berkembang dengan PPI (program pembelajaran individual) dan lain sebagainya Melalui cara P3K ini yang di dalamnya ada kegiatan refleksi alhmadulillah sedikit demi sedikit apa yang kami lakukan untuk menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya pendidikan inklusi menuai hasil. … Read more

Bagaimana Cara Memahami Kebutuhan Khusus Murid?

Bagaimana jika di kelas yang kita ajar ada Anak Berkebutuhan Khusus?Apa yang harus kita lakukan?Dan bagaimana agar antarmurid bisa saling menghargai. Yuk SimakTemu Pendidik MingguanKGB Pekalongan ke-22 “Memahami Kebutuhan Khusus Murid” yang menghadirkanGuru Suhud Rois dari KGB Cimahi, dan moderatorMaman Basyaiban dari KGB Pekalongan. Suhud Rois Pergi ke laut naik kapal selamKe laut, kenapa sarungan?Assalaamu’alaikum, selamat malamApa kabar Pekalongan? Maman BasyaibanGula jawa dari arenRasa manisnya begitu kayaMalam Pak SUHUD KerenIzin belajar bareng ya Suhud RoisSiapakah sih , Anak Berkebutuhan Khusus Itu?Kalau membincangkan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) pasti dalam benak kita yang terbayang adalah yang fisiknya tidak sempurna, atau ada disfungsi di satu atau beberapa organ tubuh. Iya?Kemudian berkembang sebuah stigma, yang saya yakin karena latah, anak-anak penyandang learning disability atau learning disorder digeneralisasi sebagai penyandang autism.Sebenarnya, setiap anak (orang), itu berkebutuhan khusus. Tidak ada yang punya kebutuhan sama. Sudah makan malam? Sendirian atau sama orang lain? Misalnya sama satu atau beberapa orang. Makan ditempat yang sama, menunya sama. Bahkan porsinya pun sama, pakai ditakar segala. Apakah benar-benar sama semuanya? Tidak kan? Sama, dalam belajar pun tidak ada yang kebutuhanannya sama persis. Meskipun IQnya sama, bahkan minatnya sama sekalipun, pasti ada sesuatu yang membedakan yang kemudian disebut kebutuhan khusus.Namun karena kelas adalah kumpulan individu, maka tidak mungkin semua kekhususan diakomodir. Dibuatlah pengelompokkan besar untuk memetakan dan memudahkan pelayanan. Maka munculllah istilah kesulitan belajar spesifik (learning disability). Mereka yang termasuk dalam kategori berkesulitan belajar adalah penyandang disleksia, ADHD, dan ADD.Apa Saja yang Dihadapi Siswa Berkesulitan Belajar?• Masalah bahasa• Masalah perhatian dan aktivitas• Masalah ingatan• Masalah kognitif• Masalah sosial-emosi Apa yang Harus Dilakukan?Ketika sekolah membuka pintu bagi ABK, itu berarti suatu langkah mulia. Mengapa? Dalam banyak kasus ABK tidak mendapatkan tempat di sekolah-sekolah. Seolah-olah mereka itu menjadi beban. Namun, menerima saja tidak cukup. Kalau ABK sudah masuk, mau bagaimana? Gurunya siap? Teman-temannya siap? Lingkungannya siap? Tanpa ada kesiapan sekolah, menerima ABK justru mengundang petaka bagi sekolah dan anak tersebut. Nah, apa saja yang perlu dipersiapkan? Yang pertama dipersiapkan adalah gurunya. Guru harus benar-benar memahami dan menghargai keberagaman. Mindset guru tentang kesuksesan sekolah juga harus sudah harus lebih maju. Kesuksesan sekolah bukan diukur oleh pencapaian akademik yang indikatornya adalah nilai UN. Sekolah yang sukses adalah sekolah yang mampu mengembangkan anak, sekolah yang membuat anak berdaya. Guru harus siap untuk melakukan perubahan metode maupun materi pembelajaran. Sebenarnya tidak ada metode yang paling unggul. Yang diperlukan adalah kejeilian guru dalam memilih metode yang paling efektif. Yang kedua adalah orangtua. Orangtua harus didorong menjadi pendidikan anaknya. Mereka harus dilibatkan dalam pembuatan program bagi anaknya. Keterlibatan ini penting untuk menjaga konsistensi. Yang ketiga, mempersiapkan murid yang lain. Ini juga sangat penting, karena merekalah yang akan berinteraksi dengan ABK. Interaksi itu bisa bersifat positif, namun tidak menutup kemungkinan anak berdampak negatif. Oleh karena itu, sebelum ABK masuk kelas, warga kelas harus dipastikan sudah siap menerima teman yang berkebutuhan khusus. Apa yang Harus Dilakukan?• Jangan terburu-buru melakukan judgment. Misalnya ada anak yang sangat aktif, langsung kita ambil kesimpulan anak itu hiperaktif. Tetap lakukan observasi. Jangan lupa, anak tersebut harus dites oleh psikolog.• Bila sudah didapat hasil tes dari psikolog dan juga mendapatkan rekomendasi untuk treatmennya, segeralah membuat program bagi ABK dan juga seluruh kelas. Program yang diberikan kepada ABK harus mendapat support dari lingkungan.• Buatlah pembelajaran yang berdiferensiasi.• Berubahlah. Jangan terpaku pada praktik pembelajaran yang klasik (membaca, menulis, tes). Mulailah mengusung pembelajaran yang mengembangkan banyak aspek pada diri anak. Asesmen dan evaluasi juga jangan terpaku pada paper and pencil test. Pelajari dan praktikkan asesmen dan evaluasi yang lebih relevan dan memberdayakan.• Ini sangat penting : hindari memberi label pada anak. Sekalipun anak tersebut dinyatakan berkebutuhan khusus oleh psikolog. Biarlah itu menjadi bank data yang kita simpan rapat. Apalagi kalau label tersebut keluar dari teman-temannya, maka inklusivitas bisa dikatakan gagal. Pertanyaan Termin 11. Kinanti – BanjarnegaraBagaimana memberi pemahaman kepada anak TK kalo ada teman yg berkebutuhan khusus? Bagaimana mengajak teman2 lain mau main bersama dg ABK penyandang autis yg belum bisa berbicara, dan cenderung memukul teman.2. Yuli – BatangMindset apa saja yg harus dimiliki guru, kongkritnya bagaimana pak?3. Nita – Pekalongan” jangan terpaku pada paper dan pencil test “Ketika ada anak ABK yg agak sulit berkomunikasi, tertarik dgn kertas dan pensil, tapi hanya bisa sebatas coretan yang tak beraturan, seperti benang kusut (coretan semaunya sndri). Langkah apa yang harus dilakukan agar anak tersebut dapat lebih terarah kemamuan menulisnya?Suhud RoisPertanyaan1. Kinanti – BanjarnegaraBagaimana memberi pemahaman kpd anak TK kalo ada teman yg berkebutuhan khusus? Bagaimana mengajak teman-teman lain mau main bersama dg ABK penyandang autis yg belum bisa berbicara, dan cenderung memukul teman?Jawaban :Anak TK, ya? Waduh. Mungkin karakter anak TK hampir sama dengan anak kelas 1. Untuk anak usia awal sekolah, perlu penjelasan yang konkret. Bisa pakai ibarat. Misalnya, apakah mereka punya kakak atau adik di rumah?Apakah sama antara dia dengan adik atau kakaknya?Intinya pada akhirnya anak paham bahwa setiap orang itu berbeda.Bagaimana kalau ada ABK melakukan agresi?Yang pertama jangan sampai keluar kata “nakal”. Apalagi anaknya belum lancar bicara. Kita pahamkan ke anak yang lain bahwa mungkin anak yang berkebutuhan khusus ini ingin mengatakan sesuatu tetapi belum bisa. Akhirnya muncullah kekesalan, dan kemudian memukul. Tapi harus dipastikan juga bahwa memukul orang lain itu tidak boleh. Yang kedua kasih praktik bagaimana berinteraksi dengan anak tersebut. Ketika dia melakukan agresi, kita bisa tanya, “Kamu ingin apa? Kesal,ya? Kenapa kesal?” Karena anak blm bisa bicara, maka guru mencari apa yang ingin dilakukan atau dikatakan anak tersebut dengan mengajukan pertanyaan yang bisa dijawab dengan anggukan atau geleng kepala.Pertanyaan2. Yuli – BatangMindset apa saja yg harus dimiliki guru, kongkritnya bagaimana pak?Jawaban :Mindset guru tentang kesuksesan sekolah? Masih banyak guru yang memandang keberhasilannya dalam mengajar adalah ketika murid-muridnya mendapat nilai yang tinggi, terutama saat ujian. Tentu saja tidak salah bisa mendapat nilai yang tinggi. namun harus diingat, bahwa tujuan pendidikan yang utama bukan nilai. bahkan dlm UU PendidkanNasional disebutkan yang pertama dari tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang bertakwa. Nah, sudah saaat guru memandang kesuksesan sekolah itu ketika mampu mengembangkan semua muridnya sesuai dengan kapasitasnya, di semua ranah pendidikan.Pertanyaan3. Nita – Pekalongan“Jangan terpaku pada paper dan pencil test “Ketika … Read more

Guru Belajar Pekalongan Membangun Pembelajaran Mengasyikkan

Menjemukan, mungkin itu yang sering murid rasakan saat mengikuti mata pelajaran tertentu di kelas, atau menjelang jam-jam kritis yakni jam terakhir saat murid sudah tidak lagi kondusif. Pikiran mereka sudah tertuju pada rumah dan tempat mereka biasa  bermain. Hal demikian tentu pernah dialami oleh kita semua sebagai seorang guru. Lantas apa yang seharusnya kita lakukan agar belajar lebih mengasyikan dan tidak lagi menjemukan? Dalam Temu Pendidik 19 ini, Komunitas Guru Belajar Pekalongan berbagai ilmu seputar pembelajaran yang menyenangkan namun tidak mengubah esensi dari belajar itu sendiri. Dengan mengusung 3 pemateri, yakni dua Guru dari SMK 1 Karangdadap, Guru Alan seorang guru Fisika dan Guru Musyafiah yang merupakan guru Bahasa Inggris, serta Guru Eki seorang dosen dari Stikes Muhammadiyah Pekalongan. Masing-masing Guru menyampaikan parktik cerdasnya dengan tema yang berbeda-beda. Guru Alan menyampaikan praktiknya yang diadopsi dari TPN Oktober lalu. Guru Eki dengan Brain Academy dan terakhir Guru Musyaifah yang juga mengadopsi ide belajarnya dari Sekolah Kembang Jakarta. Acara tersebut dimulai pukul 09.30 dengan dibuka oleh Ketua KGB Pekalongan yang baru yaitu Guru Hida. Dalam sambutanya beliau mengajak agar semua guru berdaya, sebab adanya KGB ini diharapkan setiap anggota berperan untuk membagikan praktik cerdasnya agar dapat menjadi inspirasi bagi guru-guru lain. Lebih jauh beliau menuturkan, “Komunitas ini ada untuk kita dan semua jenjang ada disini, sehingga kita bisa belajar bersama”. Di akhir sambutan, guru MI Kranji 1 Kedungwuni ini juga menakankan bahwa anggota yang ikut berperan aktif di KGB Pekalongan memperoleh kesempatan untuk menerima beasiswa di TPN mendatang. Sesi pertama TPD 19 ini diawali dengan materi mengenai sains yang menyenangkan. Jika murid biasanya anti dengan pelajaran eksak terutama fisika dan kimia, Guru Alan justru memberikan hal yang berbeda. Mengadopsi materi TPN Oktober lalu, ia mencoba menerapkan pembelajaran dengan metode window shopping. ”Saya ibaratkan cara ini dengan ibu-ibu yang ingin membeli kosmetik. Biasanya ibu-ibu akan menanyakan hal yang mendetail jika memilih kosmetik dan penjual harus mampu menjelaskan produk yang ia jual” tuturnya. Guru Alan sendiri awalnya sering merasa gelisah lantaran materi yang ia ajarkan hanya sekadar ceramah yang membosankan sehingga ia mencoba window shopping sebagai cara agar antusiasme murid dalam belajar makin tinggi. Dalam praktiknya ini, ia membagi satu kelas menjadi 6 kelompok. Sebagain kelompok berperan menjadi penjual dan kelompok lain berperan sebagai pembeli. Tema yang diusung pun menarik, yakni mengenai Mitigasi Bencana. Murid membuat poster sebagai katalog barang yang akan mereka jual. Jika jual beli biasanya berupa barang, namun dalam window shopping ini murid melakukan jual beli informasi mengenai mitigasi bencana. Cara ini menjadi lebih menarik karena setiap penjual diharuskan untuk mengatur strategi agar murid lain tertarik menyambangi “warungnya”. Banyak murid mengaku senang dengan pembelajaran tersebut, menjadi lebih percaya diri karena dapat menjawab pertanyaan temanya, dan dapat berkreasi membuat poster yang menarik. Namun, Guru Alan juga mengakui jika metodenya kali ini masih memiliki banyak kekurangan. “Banyak murid yang merasa kuang kurang puas karena tidak bisa menyambangi warung teman-temanya. Mereka juga mengeluhkan pada saya, sebab tidak ada tambahan informasi dari saya sendiri sebagai guru dan saya masih sedikit bingung untuk aspek penilaian” jelas pria berkacamata ini. Setelah Guru Alan selesai menyampaikan materi, di sesi ke dua Guru Eki menyampaikan materi mengenai Brain Academy. Materi ini penting dipelajari oleh guru untuk mengatasi murid yang jenuh dalam balajar. Jenuh sendiri dapat dipahami karena otak bekerja tidak maksimal.  Guru Eki mengemas materi begitu apik dan komunikatif dengan melibatkan semua peseta melakukan gerakan kecil yang befungsi untuk membantu melakukan aktivasi otak. Gerakan tersebut berupa tangan saling mengepal dan kaki bersila, membentuk angka delapan dimulai dari kanan ke kiri dan yang terakhir menempelkan siku tangan kanan kekaki kiri atau sebaliknya. Seluruh peserta yang mencoba gerakan tersebut tampak riang. “Walaupun gerakannya cuma ditempat dan sedikit, tapi kita bisa memahami bagian otak yang dominan digunakan anak. Dengan begitu maka kita bisa melakukan aktivasi” tambahnya. Materi tersebut tentunya sangat membantu terutama saat mengelola kelas dimana muridnya sudah mengalami kejenuhan. “Kalo kita sadar, kunci utama dalam proses pembelajaran itu adalah otak yang bekerja. Untuk itu kita perlu memahami bagaimana cara otak bekerja, dan apa saja yang bisa memaksimalkan fungsi kerjanya” tukasnya diakhir sesi saat ia berbagi cerita. Sesi terakhir, Guru Fiah menyampaikan materi mengenai mengelola perpustakaan sekolah. ia mengawali materi dengan perkenalan menggunakan human bingo. Peserta dibawa berpetualang dalam perkenalan dan swafoto bersama. Disinilah peserta TPD 19 suasana ceria dan hangat. Selepas bermain human bingo Guru Fiah mulai memberikan materi. Ia mengungkapkan keprihatinanya pada perpustakaan sekolah yang saat ini  tidak lagi menarik, Guru Fiah mencoba mengadopsi ide dari Guru Sekar yang merupakan guru dari Sekolah Kembang Jakarta. Guru Sekar adalah sosok yang mampu menghidupkan perpustakaan seperti pada zaman Cinta dan Rangga. Guru Fiah menyampaikan pengembangan perpustakaan ini memiliki banyak manfaat diantaranya dapat membantu tugas murid terutama yang berhubungan dengan literasi. Manfaat lain yaitu literasi mampu menjadikan kita tidak termakan isu hoax, apalagi sekarang merupakan era digital di mana berita palsu menyebar begitu masif melalui media. Dalam memberdayakan perpustakaan sekolah pertama kali yang kita perlu lakukan yaitu kurasi buku bacaan. “Kurasi buku ini penting, jangan sampai buku untuk dewasa ditaruh di perpustakaan SD. Tentu hal ini tidak sesuai dengan jenjangya” tambah Guru Fiah. Tidak hanya murid yang bisa belajar melalui perpustakaan, guru juga dapat ikut belajar. Di akhir sesi Guru Fiah mengungkapkan bahwa guru juga dapat mengembangkan diri terutama kemampuan menulis. Misal jika ada buku bacaan tertentu, kemudian guru bantu resensi buku tersebut. Hasil resensi bisa ditempel di perpustakaan, sebagai kail yang membuat murid penasaran dengan isi buku tersebut. Jadi dari perpustakaan guru dan murid bersama-sama belajar. Oleh Anifah, Komunitas Guru Belajar Pekalongan

Bantu Guru Melihat Dunia Chapter Australia

Temu Pendidik Mingguan Daerah #16 Bantu Guru Melihat Dunia Chapter Australia Narasumber : Panji Irfan Moderator : Niken Emiria F. Notulen : Kurniasih Hari dan tanggal : Rabu, 18 Juli 2018 Grup WA Komunitas Guru Belajar Pekalongan Moderator : Selamat malam rekan-rekan guru yang penuh semangat belajar. Satu jam lagi menuju diskusi kita malam ini. Kita absen dulu yuk untuk yang sudah hadir disini. Alhamdulillah sudah banyak yang hadir. Semangat yang luar biasa dari guru-guru yang tidak biasa. Pak Panji sudah ada di tengah-tengah kita. Ayo teman-teman jangan mau kalah dengan semangatnya pak panji ya. Teman-teman guru yang luar biasa semangat belajarnya, beberapa menit lagi menuju diskusi kita malam ini, sebelumnya perkenankan saya Niken, sebagai pemandu diskusi anda malam ini memperkenalkan terlebih dahulu narasumber kita yang keren banget. Bapak Panji Irfan, beliau lahir di Bandung, 26 januari 1985. Guru hebat kita ini adalah lulusan S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI, dan yang saya heran sampai saat ini saya belum tahu kenapa beliau sekarang ada di Kalimantan Tengah dan menjadi salah satu guru di SMP Tunas Argo Seruyan Kalteng. Teman-teman, pak panji pernah 5 hari penuh di sekolah di daerah Bacchus Marsh, 3 hari di CBD Melbourne, 2 hari perjalanan, transit Singapura & Malaysia. Beliau adalah salah seorang yang lulus ke Aussie dalam program Bantu Guru Untuk Melihat Dunia yang akan menjadi topik diskusi kita malam ini. Silakan Pak Panji. Panji : Baik, terima kasih untuk KGB Pekalongan yang telah berinisiatif membuat group ini. Kewajiban saya diseminasi sebagai bagian dari program BGMD. Berikut ini saya kirimkan artikel pengantar sebagai panduan kegiatan diskusi untuk termin pertama. Isinya mengenai 1) tanya jawab program & 2) relasi siswa, guru, & orang tua Moderator : Teman-teman, keren ya programnya. Nah, untuk selanjutnya agar kita tidak penasaran, saya akan segera memulai termin pertama untuk 3 orang penanya, sila sebutkan nama dan asalnya ya, termin 1 telah dibuka. Najib : Dari program BGMD, hasil apa yang bisa diadaptasi di kita, terutama bagi sekolah-sekolah di daerah seperti di Pekalongan ini? Dan seberapa besar dampak program ini (setelah mengikuti program) dalam pengembangan pendidikan (khususnya secara pribadi). Panji : Saya tak punya peta pendidikan di Pekalongan dan tak bisa pula menggeneralisasi untuk saya di Seruyan, kabupaten tertinggal. PR masih banyak, yang menarik adalah perjumpaan saya dengan guru Bahasa Indonesia di Australia dan mahasiswa PPI menciptakan ruang kenangan tersendiri mereka itu bisa enak-enakan kuliah master tapi repot-repot bikin proposal mau ngurusin guru-gurunya supaya punya kesempatan yang sama melihat dunia. Itu kan benar-benar membuat saya terharu, mereka bisa saja undang penyanyi-penyanyi untuk menghibur sekira 16.000 WNI di Meulborne tapi mereka malah mempercayai kami, kemudian pendaan ini lewat Crowdfunding Kitabisa.Com , mahasiswa ngamen, performance art buat galang dana. Ada pula ana-anak lelang lukisan di SD Cita Buana, Jakarta dan berdonasi. Keharuannya seperti menikah berdampak seumur hidup. jika pertanyaannya seberapa besar saya akan berjuang menumbuhkan dan memperbesar dampaknya kita di forum ini menyisihkan waktu untuk istirahat sudah berjuang membuat perubahan sesederhana apapun. Moderator : Wah meleleh… Jadi Crowdfunding itu artinya benar-benar mencari dana sendiri ya pak. Luar biasa.. bagaimana pak Najib ada tanggapan? Najib : Wah Amazing ya! Walau jawabannya tidak terfokus pada yang saya maksud, tapi malah dapat jawaban yang lebih wow ternyata. Berjuang membuat perubahan sesederhana apapun, dengan melihat contoh-contoh yang ada, dengan melihat pengalaman yang susah kita dapatkan. Keren. Rizki : Sebagai kota literasi dunia, apakah sekolah di Melbourne menerapkan minimum jumlah bacaan pada siswa? Kriteria buku wajib baca bagi siswa di sana bagaimana? Panji : Membaca sudah menjadi bagian keseharian. Perpustakaan atau TBM yang dikelola masyarakat sangat bagus dan lengkap. Kemudian terintegrasi dengan perpustakaan daerah dan perpustakaan sekolah-sekolah. Orangtua pun bisa berpartisipasi. Bisa dibaca langsung di web https://www.premier.vic.gov.au/premiers-reading-challenge-kicks-off-for-2018/ https://wwww.education.vic.gov.au/about/events/prc/Pages/default.aspx?Redirect=1 dan ini web resmi Meulborne kota literasi: http://cityfliterature.com.au/ Rizki : Jika telah menjadi keseharian, lalu penguatan di sekolah mengenai literasi bagaimana pak? Apakah ada jam khusus membaca? Panji : Pengelolaan perpustakaan, profesional, membeli rutin buku, penjenjangan buku untuk usia anak jelas, perpustakaannya asyik. Pustakawan dibekali kemampuan konseling jadi dia bisa dengan lihai, merekomendasikan buku untuk anak sesuai karakter dan keperluannya. Rizki : Ini yang menarik, terima kasih jawabannya pak panji. Mohon maaf jadi bertambah pertanyaannya, soalnya penasaran dengan kegiatan literasi disana. Arsyad : Selama pengalaman dalam guru melihat dunia, berkunjung ke sekolah. Apa yang membuat Pak Panji ada moment AHA yang akhirnya harus dilakukan dalam lingkungan terkecil di sekolah atau pemerintah lakukan misalnya? Panji : 1. Manajemen sekolah rapi, padahal mengurusi 250-an guru dan 2000-an murid, tak ada kelas kosong tanpa ditemani. 2. Profesi guru sangatlah serius dijalani. Ditambah dengan mekanisme penilaian 3 bulanan dirumahkan 3. Pihak yang diajak kerja sama sekolah sangat banyak dan tak umum ditemui di Indonesia. Saya kadang merasa disebuah perusahaan ketika disekolah. Saking rapi dan profesionalnya sekolah kerja sama dengan 28 unit bus besar mengantar siswa ke daerah-daerah yang berbeda atau menyediakan 2000-an laptop untuk disewa siswa Arsyad: Terjawab kak, makasih banyak. Ternyata ya manajemen sekolah sepertinya PR utama untuk lingkungan sekolah yang baik untuk anak. Moderator : Oke teman-teman saya buka untuk termin ke dua ya. Panji : Sebelum ke termin kedua, saya memiliki materi lagi Bu. Berikut materinya tentang kurikulum dan manajemen kelas. Neneng: Pak Panji, pertanyaan saya mengacu pada slide pertama boleh ya? 1. Di tulisan tersebut, pak Panji menuliskan bahwa guru dibekali dengan child protection program? Itu bentuknya seperti apa aplikasi di kelas bagaimana (selain no body contact)? 2. Apakah di sekolah yang bapak kunjungi ada edukasi untuk orang tua terkait program literasi? Jika ada seperti apa? Panji : Child Protection Program ada banyak versi dan di-update terus. Intinya guru dibekali kemampuan konseling dan memberdayakan anak. Anak benar-benar difasilitasi masksimal, guru dibekali teknik investigatif pada anak-anak yang rawan dan punya masalah dari rumah, masalah di sekolah cukup berat, terutama setelah pernikahan sejenis dilegalkan di meulborne. Jika terjadi anak mencari solusi dengan pergi ke polisi mengadukan masalahnya, maka gurunya akan dikenai sanksi karena tidak profesional (ada di slide 2), saking seriusnya child protection sampai ada poster wajib lock down procedure supaya anak-anak bisa mengamankan diri dikelas dari ancaman orang asing, penjahat, pedofil, … Read more