Membangun Semangat Melawan Miskonsepsi Belajar dari Sanggau

Minggu, 8 September 2019 dimulai pada pukul 08.00 WIB, merupakan suatu momen yang sangat bermakna dan tak akan terlupakan bagi para guru yang tergabung dalam Komunitas Guru Belajar Kabupaten Sanggau. Pada hari libur tersebut, tak menyurutkan semangat para guru untuk belajar, memaknai semangat merdeka belajar yang selama ini sering mereka dengar. Komunitas Guru Belajar Kabupaten Sanggau sangat berbangga dan berbahagia karena masuk kedalam list daerah yang menjadi wilayah terkunjungi event Roadshow TPN 2019 oleh tim Kampus Guru Cikal. Pada kesempatan ini, Pelatihan Guru Merdeka Belajar Angkatan I di Kabupaten Sanggau, didampingi oleh ibu Amalia Jiandra dari Kampus Guru Cikal Jakarta, wanita muda yang sangat energik, inspiratif dan memotivasi semangat para guru di Kabupaten Sanggau. Pelatihan GMB Angkatan I ini diawali dengan pembukaan oleh pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sanggau, dalam hal ini diwakili oleh bapak Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sanggau, Drs. Maskun Hamri, MM. Beliau dalam sambutannya sangat mengapresiasi semangat para guru untuk terus meningkatkan kompetensi diri mengikuti pelatihan ini, meski dalam suasana libur. Beliau juga dalam event ini turut berkontribusi mengikuti pelatihan dengan semangat.  Kegiatan Pelatihan ini, diisi dengan berbagai aktivitas yang diikuti dengan antusias dari para peserta pelatihan. Melalui bermain peran, diskusi, presentasi, curah pendapat bahkan beberapa games, yang diikuti peserta hingga selesai atau berakhir pada pukul 15.00 WIB. Pelatihan Guru Merdeka Belajar sendiri adalah upaya untuk memfasilitasi dan menggali informasi dari para guru terkait kebutuhan mereka akan peningkatan kompetensi diri, dan pemahaman mereka terkait Merdeka Belajar. Merdeka belajar sendiri memberikan pemahaman kepada para guru untuk melawan atau menghentikan miskonsepsi belajar yang selama ini banyak terjadi.  Adapun miskonsepsi belajar tersebut adalah Belajar hanya untuk ujian, kendali belajar berada pada pengajar, pelajar mempunyai kebutuhan dan minat belajar yang sama, belajar itu menghafal dan menggunakan rumus, keberhasilan belajar dimulai ditandai dengan nilai angka terstandar dan penilaian belajar sepenuhnya wewenang pengajar, itu adalah 6 (enam) dari miskonsepsi belajar. Selain miskonsepsi belajar, adapula miskonsepsi guru belajar. Miskonsepsi tersebut yaitu Guru belajar menunggu instruksi sekolah/dinas atau mendapat intensif, Guru hanya mau belajar dari pakar dan ahli, guru hanya belajar “how to” bagaimana cara mengajar, Guru berharap belajar bisa instan dan guru bisa belajar sendirian. Melalui Pelatihan Guru Merdeka Belajar ini, diharapkan guru-guru tersadarkan bahwa sudah waktunya miskonsepsi tersebut dihentikan dan diperbaiki menuju arah yang yang lebih baik, tentunya dimulai melalui refleksi diri, sedang berada di tahap apakah kita sebagai guru.  Karena pada hakikatnya Guru Masa Depan yang sangat dinantikan itu adalah guru yang memiliki kesesuaian potensi dan aspirasinya, mengembangkan jalur karirnya, aktif berkolaborasi, terus mengembangkan kompetensi dan tentunya Merdeka Belajar. Di akhir sesi Pelatihan GMB Tahap 1 ini, peserta diminta untuk menilai diri sendiri sudah sampai tahap apakah mereka berada dalam jenjang atau tahapan sebagai guru merdeka belajar jika diidentifikasi dari empat kunci pengembangan guru; yaitu Kemerdekaan, Kompetensi, Kolaborasi dan Karier. Hal ini berguna untuk mengetahui kebutuhan dasar apa yang diperlukan para guru. Memasuki sesi makan siang, Ketua KGB, ibu Titis Kartikawati beserta para penggerak KGB mendesain kegiatan Pelatihan GMB ini dengan konsep yang menarik. Berlatar di SMAN 1 Sanggau, di sesi makan siang digelar juga galeri kuliner daerah khas Sanggau dengan konsep Makan Berami, menu khas daerah dibawa masing-masing peserta disajikan untuk dinikmati bersama. Kegiatan pelatihan GMB ini berakhir pada pukul 15.00 WIB, para peserta berharap kegiatan pelatihan ini akan tetap berlangsung secara berkelanjutan, karena mereka merasa dengan menanamkan kesadaran merdeka belajar mereka lebih merasa dapat bermakna, berdaya dan berkarya, tentunya dengan semangat kolaborasi yang selalu ada.

Sudahkah Kita Merdeka Belajar?

Komunitas Guru Belajar Makassar mengadakan kegiatan Temu Pendidik Daerah dengan tema “ Merdeka Belajar “ pada Kamis, 20 Juni 2019 di Kafe Temang. Kegiatan  tersebut diawali dengan nonton bareng video narasumber Najelaa Shihab, lalu dilanjutkan dengan diskusi bersama yang dipandu moderator Emi Hardiyanti yang akrab disapa miss Emy.  Acara tersebut berlangsung sejak pukul 16.00 Wita – 18.00 WITA. Miss Emy membuka diskusi dengan kalimat “Sudahkah kita merdeka belajar? lalu bagaimana anak dapat merdeka belajar?” Yang kemudian direspon oleh para peserta dengan cukup antusias.  Salah seorang peserta mengatakan bahwa menjadi guru yang paling penting adalah seorang guru harus merasa merdeka terlebih dahulu karena kalau tidak ada rasa itu dalam diri seorang guru pasti akan menimbulkan kendala. Katanya, saya berkegiatan dengan anak-anak berkebutuhan khusus, dan buat saya kelas reguler dan berkebutuhan khusus sama. Alhamdulillah saya banyak sepakat dengan konsep dari sekolah cendikia  karena dari awal kami telah melaksanakan ujian berbasis oriented. Demikian halnya dengan ibu Nurfadilla, dari SMK YPLP mengatakan mengenai masalah pendidikan. Saya dan beberapa teman saya di Pascasarjana berdiskusi dengan dosen, menemukan ada masalah dalam sistem pendidikan kita. Oleh karena itu, sebagai anak muda yang berusaha ingin menyelesaikan masalah pendidikan yang benar-benar konflik, saya dan teman-teman sedang menyelesaikan proyek konten pembelajaran berbasis psikologi. Jadi kita membuat konten pembelajaran sesuai dengan karakteristik kekuatan pembelajaran anak.  Apa yang menjadi kekuatannya serta apa yang menjadi kelemahannya. Guru Usman Djabbar juga mengatakan bahwa apakah selama ini proses belajar mengajar kita di hari pertama sekolah langsung gas materi?. Jika demikian, saya bisa bayangkan betapa stresnya anak-anak di hari pertama sekolah.  Mengubah pertanyaan anak-anak dari How to menjadi Why. Menurut Usman Djabar, guru merdeka belajar adalah guru yang mampu mengubah pertanyaan How to menjadi why.  Tidak jauh berbeda dengan guru Erni Marlina, guru SMK 7 Makassar, mengatakan miskonsepsi yang harus kita pecahkan di kelas ketika anak terpakem bahwa dia sebenarnya butuh nilai. Kalau guru mampu membangun keyakinan bahwa sebenarnya belajar untuk masa depan maka tanpa disuruh pun mereka akan belajar, tapi yang selama ini terjadi karena mereka akan belajar karena membutuhkan nilai dan hal tersebut yang harus diubah. Riset juga membuktikan bahwa mereka yang unggul secara akademis mungkin susah menyesuaikan diri dengan orang lain kenapa karena mereka cenderung mengabaikan yang lain. Ketika kita menerima rapor jangan melihat deretan angka yang ada di rapor tetapi ketika kita bertanda tangan tutup rapor kemudian berikan apresiasi kepada anak kita. Kenapa karena kadang kita juga orang tua egois selalu mengukur prestasi dari apa yang ada di rapornya. Saya rasa mari kita bersama-sama memberikan sugesti-sugesti positif ini kepada anak-anak kita, kepada orang tua kita dan kepada diri kita sendiri karena kita adalah orang tua  di rumah dan orang tua di sekolah bahwa pendidikan itu atau belajar itu harus terus menerus dilakukan bukan untuk mengejar nilai tetapi bagaimana pelajaran itu kita butuh karena kenapa ? ketika anak-anak merasa bahwa dia membutuhkan pelajaran itu maka tanpa disuruhpun dia akan termotivasi. Saya memberikan contoh salah satu sekolah di Malaysia, sekolah di Malaysia itu terbalik dengan kita. Kalau kita menunggu anak-anak di depan pagar dan segala macam untuk dia menyalami. Sekolah itu justru anak-anak yang menunggu dan menyalami gurunya. Mereka berbaris di depan kelas kemudan menunggu gurunya masuk. Saya sangat merindukan itu apakah kemungkinan suatu saat nanti di Indonesia atau di sekolah kita sendiri bisa terjadi. Guru Luktfi Alam mengatakan bahwa tanpa bertanya saya harapkan adalah bagaimana hubungan guru dan pesera didiknya. Makanya rekan-rekan guru menyiapkan hal yang administratif. Sebagai contoh ; sebelumnya pemerintah mengambil alih kelulusan tetapi tiga tahun belakangan pemerintah telah mengembalikan kelulusan ke sekolah, semestinya pihak guru dan sekolah memahami sebenarnya hal tersebut apa esensinya . Bahwa sebenarnya kurikulum nasional telah memberikan sinyal untuk merdeka belajar contohnya peniadaan rangking, pengembalian kelulusan ke satuan pendidikan dan perangkat-perangkat pembelajaran yang lain, hanya saja pihak guru dan pihak sekolahnya saja yang biasa kurang paham apa sih maksud kurikulum meniadakan ranking? padahal maksudnya adalah bagaimana setiap anak itu semua punya potensi. Apa coba maksudnya pemerintah mengembalikan kelulusan ke satuan pendidikan,, yah pihak sekolah diberikan kemerdekaan untuk mengapresiasi muridnya. Mengapa kurikulum menginstruksikan agar penilaian sebaiknya lebih banyak portofolio itu tidak lain agar penilaian menjadi utuh yg mampu merekam aktifitas pelajar secara komprehensif, Nilai 80 yang dilengkapi dengan narasi dan catatan yang merekam potensi murid lebih bermakna dibanding dengan nilai 95 tanpa keterangan, diam,membisu. Demikian halnya dengan guru Maurensyiah yang akrab disapa Permata Hati guru SMK Darussalam “hal yang pertama kita harus lakukan sebelum memerdekakan anak-anak dalam belajar adalah memerdekakan diri sendiri terlebih dahulu. Bagaimana caranya ? lepaskan beban-beban administratif, perasaan harus sama dengan orang lain, cukup menjadi diri sendiri jika ingin menjadi Guru Merdeka Belajar, karena mengajar itu bukan menyenangkan manusia dalam hal ini kepala sekolah tetapi mengajar bagian dari amanah yang kelak akan kita pertanggungjawabkan di akhirat, jadi mengajarlah dengan ikhlas  untuk memanusiakan manusia”  Diskusi ditutup oleh moderator dengan kutipan dari narasumber Najelaa Shihab “Guru tidak bisa belajar sendiri”-“Ciri Guru Merdeka Belajar adalah Komitmen akan tujuan, Guru yang mandiri, dan Guru yang Bercermin (refleksi)”.  Pendidikan, dalam hal ini pendidikan di sekolah, pada era modern (atau postmodern) ini memiliki tantangan yang lebih berat daripada masa sebelum tahun 2000-an. Pada masa dahulu, seperti masa kita sebagai guru berada pada posisi murid kita, bersekolah adalah bagaimana agar murid dapat melanjutkan pendidikan pada tingkat universitas atau secepatnya mendapatkan pekerjaan selepas sekolah menengah atas. Sekolah menjadi tempat bagi pembentukan, dengan term Althusser, know-how. Sekolah menjadi perpanjangan tangan pemilik modal bagi penyiapan tenaga-tenaga kerja potensial yang kelak akan digunakan oleh pemilik-pemilik modal tersebut melanjutkan nafas perusahaannya. Apakah pada saat ini, di era milenium, peran sekolah sebagai ladang penyemaian bibit-bibit potensial bagi tenaga kerja dalam sistem kapitalistik sudah tidak terjadi lagi?. Sayangnya, hal tersebut masih berlanjut, bahkan lebih parah lagi. Persaingan ekonomi global, terutama pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean, menjadikan sekolah-sekolah semakin giat dalam mereproduksi tenaga kerja dengan spesifikasi keahlian kualitas tinggi. Pertanyaannya, apakah hal tersebut adalah sesuatu yang salah?. Menjawab “ya” atau “ tidak” secara bulat bukanlah jawaban yang pas. Pada kenyataannya realitas adalah campur aduk antara benar dan salah. Kenyataan dunia yang semakin kapitalistik, tidak serta merta diikuti sekolah dengan mereproduksi … Read more

Guru Merdeka Belajar di Pekanbaru, Belajar Tanpa Paksaan

Awalnya saya ragu untuk mengadakan Nonton bareng (Nobar) Video Guru Merdeka Belajar yang akan saya lakukan di Kota Pekanbaru. Rasa percaya diri saya seolah hilang karena melihat berbagai sisi kesibukan para guru ataupun berbagai steakholder yang akan saya ajak untuk “Nobar”. Ditambah lagi masyarakat Pekanbaru kurang mengerti atau belum tau apa itu “Komunitas Guru Belajar (KGB)”.  Di tengah keraguan itu muncul keberanian saya untuk mengalahkan ego pribadi, kapan lagi saya akan berbagi informasi penting kepada para guru-guru berdaya, penerus estafet peradaban bangsa, yang selalu berbagi pengalaman dan pengetahuan kepada peserta didik yang memasuki era milenial ini. Melihat perkembangan yang sangat cepat lalu diimbangi dengan berbagai inovasi pembelajaran yang mudah diakses dan dipelajari maka saya mencoba mengenalkan dan memulai menggugah emosi para guru walaupun hanya beberapa orang sekitar 10 orang  tapi rasanya saya bahagia dapat berdiri tegap dihadapan para guru. Mulailah saya rancang waktu pelaksanaan Nobar Merdeka Belajarkarena berbagai kesibukan saya pilih hari Jumat tanggal 28 Juni 2019 bertempat di Café Kopi Kirapa Jl. Ahmad Dahlan yang terkenal dengan nama Jl. Pelajar. Pelaksanaan dimulai pukul 14.00 mula-mula saya khawatir soalnya setelah saya sampai di Café Kopi Kirapa tepatnya pukul 13.00, belum terlihat orang-orang yang saya undang melalui grup WA ada juga yang melalui telpon dan sms langsung di tempat acara. Lalu saya mulai bertanya jangan-jangan mereka lupa atau para guru memilih berlibur bersama keluarga dari pada menghadiri undangan “Nobar Merdeka Belajar KGB Pekanbaru” yang belum jelas ini.  Setelah kurang lebih 30 Menit saya menunggu, akhirnya harapan saya mulai cerah untuk kesuksesan acara nobar beberapa guru mulai datang, pertama adalah Ibu Atika Hermansyah, M.Pd. yang sudah lama malang melintang di dunia KGB bahkan menurut informasi yang saya dapatkan beliau adalah utusan TPN dari riau tahun 2016 yang lalu, yang lebih luar biasa di sela-sela kesibukannya studi S3 di Padang menyempatkan waktu balik ke Pekanbaru untuk menghadiri acara Nobar yang saya buat. Setelah itu ada beberapa kawan-kawan guru dari sekolah lain turut hadir dan peserta mencapai 12 orang. Rasanya luar biasa saya tidak dapat membayangkan baru sekali saya melaksanakan Nobar Merdeka Belajar KGB Pekanbaru 12 orang yang antusias. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Setelah menyiapkan berbagai alat perlengkapan Nobar mulai dari proyektor, pengeras suara, dan sebagainya maka kegiatan Nobar dilaksanakan. Pada awal sebelum memulai saya mengajak kepada seluruh peserta untuk menjawab dan menyatukan berbagai pandangan mengenai informasi tentang apa itu merdeka belajar? Pak Ripi salah satu guru berdaya di MA Ma’arif Nahdlatul Ulama Riau mencoba memberikan argumentasinya tentang konsep merdeka belajar. Menurut beliau “Merdeka belajar adalah sebuah kebebasan untuk mencari informasi tentang segala hal terkait ilmu pengetahuan”. Setelah memberikan jawaban itu saya menguatkan jawaban beliau luar biasa jawaban bapak.  Ibu Sri dari salah satu sekolah ternama di Siak menambahkan jawaban terkait merdeka belajar menurut beliau merdeka belajar adalah belajar yang melekat kepada siapapun tanpa ada paksaan, tanpa embel-embel, hadiah, sertifikat untuk terus belajar. Setelah selesai saya menguatkan dan mengapresiasi jawaban peserta. Setelah mencoba memberikan pertanyaan tentang merdeka belajar saya coba pecahkan suasana bertanya kepada peserta apakah bapak/ibu guru ingin merdeka belajar’. Mereka serentak menjawab “Iya” Baiklah setelah selesai dengan sedikit pengetahuan tentang merdeka belajar saya ajak bapak ibu guru untuk menyaksikan video yang sudah disiapkan oleh Kampus Guru Cikal di web. Dimulailah video tersebut para peserta hening. Suasana menjadi hangat dan sepi semuanya dengan seksama menonton dan menyimak betul penjelasan dari bu Najelaa tentang apa itu merdeka belajar dan bagaimana ibu Najelaa mencoba menggugah suasana batin bapak ibu yang hadir dengan menjelaskan berbagai miskonsepsi belajar yang selama ini dimiliki oleh bapak ibu guru di seluruh Indonesia. Ada semacam ide-ide baru yang muncul dari gagasan yang disampaikan Ibu Najelaa terhadap kondisi pendidikan di Indonesia ini dan banyak tidak terpikirkan oleh para guru di seluruh Indonesia. Miskonsepsi-miskonsepsi ini yang nantinya saya diskusikan kepada para peserta Nobar yang saya lakukan. Setelah pemutaran video nobar, saya mengajukan 5 pertanyaan penting dari kegiatan nobar kepada para peserta. Kemudian saya mencoba mengulas sedikit tentang berbagai miskonsepsi dari penjelasan Ibu Najelaa, antara lain guru belajar menunggu sertifikat, uang pesangon, belajar hanya kepada ahli, individual, dan lain-lain. Mengawali dari tanggapan atau refleksi setelah melihat video itu ibu atika memberikan refleksi atau tanggapannya. Beliau mengatakan video tersebut membuat saya tergugah karena 20 tahun mbak Najelaa berkecimpung dalam dunia mendidik banyak salah kaprah dalam memahami arti belajar. Banyak aturan-aturan yang malah tidak membuat kreativitas guru meningkat, malah jarang sekali terjadi inovasi dalam pembelajaran.  Ibu Rini juga menambahkan beliau merasa terharu setelah nonton video tersebut beliau merasa selama 15 tahun mengajar belum memberikan yang terbaik untuk peserta didik sampai saat ini, oleh karena itu kedepan saya akan lebih baik lagi dan berusaha untuk melakukan inovasi pembelajaran. Maklum karena peserta sedikit dan pertama kali mereka masih malu-malu untuk bercerita santai tentang kemajuan pendidikan yang selama ini, hanya dua orang yang mau berefleksi, hehehe. Walaupun demikian rasanya luar biasa sudah bergabung dan bersama-sama untuk nobar dan mendapatkan pengalaman baru gagasan pendidikan kedepan. Di akhir pertemuan kami bersepakat untuk menumbuhkan semangat baru mengeksplor berbagai pengetahuan dalam diri, menjadikan “KGB” sebagai sarana untuk berubah dan berkembang. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Guru Merdeka Belajar, Ikut Pelatihan Tanpa Berharap Insentif

Pada  hari Rabu, 3 Juli 2019 pukul 10.00  WIB, Komunitas Guru Belajar (KGB) Pesisir Selatan mengadakan Temu Pendidik  Daerah ke-9 bertempat di SDN 26 Painan Selatan kecamatan IV Jurai. TPD Pessel ke-9  ini memiliki kegiatan inti Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar. Kegiatan TPD Pessel ke-9 ini di Moderatori  oleh saya sendiri Nofri Mayasril, sebagai salah satu calon penggerak dari KGB Pessel. Perkenalkan saya mengajar di SDN 03 Pelangai Gadang Ranah Pesisir, Pesisir Selatan. Kemudian pemandu nobar di pimpin oleh Ibu Rahmi Yanti selaku penggerak KGB Pessel yang sudah berpengalaman pada acara TPN 2018. Selain acara nobar, TPD ke-9 Pessel ini  juga diisi dengan penyampaian materi tentang Langkah-langkah menulis Essay dan bagaimana cara mempublikasikannya, yang disampaikan oleh saya sendiri Nofri Mayasril, S.Pd Kegiatan ini direncanakan mulai pada jam 10.00 WIB. Namun sayangnya peserta banyak yang datang terlambat, dikarenakan jarak dan lokasi tempuh dan luas nya Pesisir Selatan. Ketika itu peserta yang datang baru 5 orang dari 10 orang yang mendaftar. Sambil menunggu peserta lainnya datang, saya selaku moderator mempersilakan peserta mengisi absen secara online menggunakan media ponsel dari link yang telah ada. Pada saat pengisian absen secara online ini, peserta kaget, sebab belum pernah menghadiri sebuah pertemuan yang mengisi absen secara online. Kegiatan ini makin menambah  antusias peserta untuk mengikuti acara ini. Tidak lama kemudian, satu persatu peserta datang dan langsung mengisi absen online. Namun tidak semua peserta bisa mengisi absen, dikarenakan gangguan internet, nah disinilah dituntut kebersamaan dan saling membantu, sukses dan belajar bersama yang kita kemukakan. Kegiatan ini berjalan lancar dan peserta yang hadir pun, merupakan guru-guru yang belum pernah tahu tentang Komunitas Guru Belajar.  Berdasarkan hasil pengamatan saya, pada saat seorang peserta yang bernama Ibu Dani ketika menjawab pertanyaan di absen online tentang apa yang kamu ketahui tentang guru Komunitas Guru Belajar, beliau menjawab, ”Menambah  ilmu yang bermanfaat katanya.” Pada umumnya peserta ingin tahu tentang Komunitas Guru Belajar. Masuk ke kegiatan inti yaitu nonton bareng Guru Merdeka Belajar sebuah video ibu Najelaa Shihab pada Temu Pendidik Nusantara. Kegiatan ini di pandu oleh ibu Rahmi penggerak KBG Pessel, sebelum video di putar, beliau melemparkan pertanyaan ke peserta. “ Apa yang anda ketahui tentang guru merdeka belajar “ Saya sendiri termasuk awam dengan kegiatan ini, tidak pernah tau sebelum nya, Ibu rahmi pun menanyakan hal ini kepada saya, Beliau berkata silakan di jawaban Pak Nofri, silakan jawab apa yang terlintas apa yang Bapak pahami dengan Guru merdeka belajar. Saya pun menjawab, yang saya pahami dari Guru Merdeka Belajar, tidak ada keterikatan seorang Guru dalam mengajar dan belajar untuk mencapai tujuan. Kemudian para peserta lain pun menyampaikan hal apa yang mereka ketahui tentang Guru merdeka. Setelah penyampaian argumen tentang guru merdeka belajar tersebut, semua peserta menonton tayangan video tentang guru merdeka belajar. Terlihat antusias peserta serius mendengar dan mengamati tayangan video tersebut. Setelah tayangan selesai, tibalah saatnya sesi refleksi, ibu Rahmi menyampaikan pertanyaan “Diantara semua miskonsepsi, mana yang paling menggambarkan diri anda?” Lalu kebanyakan guru menjawab, kalau diberi insentif guru baru mau ikut pelatihan pada umumnya. Selanjutnya diskusi terus berlangsung tentang konsep merdeka belajar. Akhirnya semua peserta menyetujui dan sepakat bahwa untuk menjadi guru yang merdeka belajar haruslah memiliki  komitmen pada tujuan, kemudian mandiri serta mau melakukan refleksi. Meskipun tantangan yang paling besar bagi peserta adalah komitmen pada tujuan. Seorang guru mengeluhkan sulitnya mengubah mindset menjadi guru yang merdeka belajar karena situasi dan kondisi yang kurang mendukung.  Saya juga memahami dari hasil nobar hari ini. Komitmen seorang Guru Merdeka belajar adalah ketekunannya dalam perjalanan menuju tujuan yang bermakna bagi diri itu sendiri banyak hal yang terjadi di lapangan, ketidakpedulian seorang Guru terhadap murid bahkan terhadap dirinya sendiri.Tak heran saat di tanya bagaimana kelas hari ini dan apa yang dipelajari di kelas jawabannya biasa saja, seperti hari-hari yang lalu, bahkan murid ditanya ada yang tidak tau apa yang terjadi di kelas nya padahal si murid mengikuti proses belajar mengajar di kelas. Di sini semua peserta mau menjadi Guru merdeka Belajar dan telah membuat komitmennya masing-masing dan akan melakukan perubahan secara perlahan pada kelasnya. Mereka akan mulai menanamkan prinsip-prinsip guru merdeka belajar dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari hal yang kecil seperti; tidak mengharapkan insentif dan iming-iming sesuatu jika mengikuti pelatihan-pelatihan pembelajaran. Setelah acara Nobar, dilanjutkan dengan penyampaian materi tentang langkah-langkah menulis Essay dan bagaimana cara mempublikasikannya menjadi sebuah buku ber-ISBN. Peserta sangat antusias mendengarkan penyampaian materi. Kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab antara pemateri dan peserta tentang bagaimana cara menulis Essay, apa saja yang harus dipahami dan bagaimana cara mempublikasikannya. Di pertemuan perdana saya Nofri Mayasril, S.Pd bergabung dengan KGB sangat menarik, sangat memotivasi dalam menambah ilmu, saling berbagi dengan teman dan juga sebagai wadah komunikasi antar Guru dalam berbagi ilmu dan permasalahan yang ditemui dalam proses belajar mengajar di sekolah.  Demikian lah laporan singkat tentang liputan nobar Guru Merdeka Belajar. Tidak ada yang tidak mungkin dilakukan jika kita komitmen terhadap tujuan. Ayo mari kita benahi diri kita masing-masing sebagai seorang Guru, jadilah Guru yang Merdeka, berilmu dan melahirkan generasi penerus bangsa yang madani, tetap fokus dengan tujuan. Berkomitmen berarti bertanggung jawab, semua dilalui dengan tahap dan proses, tidak instan. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Guru Merdeka Belajar, Guru yang Berdaya dengan Berkolaborasi

Komunitas Guru Belajar Hulu Sungai Tengah (KGB HST) Kalimantan Selatan menyelenggarakan  Temu Pendidik Daerah dengan nonton bareng Guru Merdeka Belajar, Kamis 20 Juni 2019. Temu Pendidik Daerah ini mengambil tempat di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang dihadiri oleh sekitar 63 pendidik SD, SMP, dan Madrasah Aliyah. Dalam sambutannya Ketua KGB HST, Abdul Mujib melaporkan bahwa kegiatan ini mengawali dibentuknya KGB HST yang merupakan transformasi dari Komunitas Guru Menulis HST (KGM HST). Abdul Mujib juga menambahkan bahwa dia tidak menyangka kegiatan nobar tersebut mendapat respon positif dari para guru di Hulu Sungai Tengah yang semula dia mengira hanya akan dihadiri oleh sekitar 20 orang. Dalam 2 hari, pendaftaran peserta dibuka lewat formulir online, terpaksa harus ditutup dengan jumlah 63 pendaftar karena memperhitungkan kapasitas tempat acara. Dalam struktur kepengurusan KGB HST ada 3 orang, Abdul Mujib sebagai ketua, Taufik Rachman sebagai sekretaris dan Elizabeth Novita Y.L sebagai bendahara. KGB HST juga memiliki penasehat dari pengawas SMP Ibu Anton Nortasiah Rahmi yang juga hadir memberi sambutan pada agenda pembukaan. Dalam sambutannya Ibu Anton menegaskan bahwa guru tidak bisa berdaya sendirian, guru bisa berdaya dengan berbagi, bekerjasama dan berkolaborasi.    Temu Pendidik Daerah KGB HST dimulai dari jam 09.00 Wita juga dihadiri oleh Ibu Jumratil Kiptiah Kabid Bina SD mewakili Kepala Dinas Pendidikan HST bersama Bapak Muhammad Arsyad Kabid GTK dan Bapak Misran Kabid Paud Dikmas. Kepala Disdik HST dalam kesempatan ini diwakili Ibu Jumratil Kiptiah membuka acara, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas inisiatif dan inovasi guru-guru Hulu Sungai Tengah dalam berkumpul untuk berbagi dan bisa mengatasi permasalahan dengan duduk bersama.  Beliau juga menambahkan bahwa Disdik HST berharap lewat Komunitas Guru Belajar HST merupakan kumpulan orang-orang yang ingin maju bisa berkontribusi besar dalam memajukan pendidikan di bumi Murakata. Setelah seremoni pembukaan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan mengisi formulir daftar hadir secara online yang disediakan linknya oleh Kampus Guru Cikal. Pengisian tersebut dilaksanakan secara bersama-sama dan dipandu oleh Bapak Taufik Rachman. Kemudian acara dilanjutkan dengan nonton bareng video Guru Merdeka Belajar yang disampaikan  oleh ibu Najelaa Shihab, inisiator dan pendiri Kampus Guru Cikal. Sebelum pemutaran video, KGB HST melakukan survey kuisioner lewat aplikasi online (kahoot.it) kepada peserta. Survey berisi 8 pertanyaan tentang konsep merdeka belajar dan miskonsepsi yang ada dikalangan guru selama ini. Peserta nobar terlihat sangat antusias dan menikmati menjawab survey tersebut, dan beberapa peserta merasa kagum dengan penggunaan media digital dalam melakukan survey dan mereka menyatakan baru pertama kali melihatnya.  Video paparan tentang konsep merdeka belajar berdurasi sekitar 14 menit. Dalam video tersebut ibu Najelaa Shihab menyampaikan bahwa guru yang merdeka belajar adalah pendidik yang punya komitmen, memiliki kemandirian dan selalu reflektif. Beliau juga mengemukakan bahwa Guru Indonesia sulit untuk belajar karena sedang melawan banyak miskonsepsi yaitu: belajar perlu insentif, belajar harus dari ahli, belajar cukup tentang ‘how to’, belajar harus dengan target waktu, kompetensi bersifat individual, dan peran masyarakat adalah mensukseskan program pemerintah. Komunitas Guru Belajar hadir untuk membalik semua miskonsepsi tersebut. Dengan Komunitas Guru Belajar, guru bisa belajar sebagai kebutuhan alamiah, guru bisa belajar dengan efektif dari sesama guru sebagai figur realistis, guru bisa belajar dengan tujuan dalam konteks, guru bisa belajar dengan waktu yang tidak terbatas, guru bisa menumbuhkan kompetensi bersama lingkungan, dan Komunitas Guru Belajar punya mimpi dan harapan agar peran pemerintah bisa menguatkan praktik baik dari masyarakat. Selama pemutaran video tersebut seluruh peserta tampak memperhatikan dengan hikmat tayangan paparan konsep Merdeka Belajar. Selama 14 menit seisi ruangan tidak terdengar suara kecuali paparan dari video tersebut. Setelah tayangan video berakhir, rundown acara dilanjutkan dengan refleksi. Pada kegiatan refleksi ini dipandu oleh bapak Abdul Mujib dan peserta kegiatan duduk secara berkelompok dalam 6 kelompok kecil. Dalam kelompok, peserta melakukan kegiatan TPS (Think-Pair-Share). Peserta mendiskusikan refleksi mengikuti arahan 5 pertanyaan dari narasumber. Pertanyaan berisi tentang: gambaran miskonsepsi mana yang paling menggambarkan diri peserta? setujukah peserta dengan konsep merdeka belajar dan alasannya apa? inginkah peserta menjadi guru merdeka belajar? dan perubahan apa yang akan dilakukan di kelas sebagai guru merdeka belajar?. Ibu Barlian dari MAN 3 Hulu Sungai Tengah mengemukakan bahwa guru merupakan refleksi bagi peserta didiknya, apa yang dilakukan guru akan digugu dan ditiru peserta didiknya. Bapak Darlan guru MAN 3 HST juga menambahkan bahwa selain menjadi refleksi diri bagi peserta didik, guru merupakan saluran informasi utama bagi perserta didik untuk saling memberi dan menerima ilmu pengetahuan satu sama lain. Setelah diskusi dalam kelompok, peserta menuliskan refleksi mereka pada sticky note dan menempelkannya pada poster di dinding. Satu poster untuk catatan refleksi 2 kelompok. Selain membuat refleksi pada poster dinding, seluruh peserta juga memposting catatan refleksi mereka pada akun media sosial masing-masing dengan #NobarMerdekaBelajar #GuruBelajar dan #kgbhst. Acara nobar  diakhiri dengan foto bareng seluruh pendidik. Tampak raut kebahagian dalam kebersamaan Komunitas Guru Belajar HST. Apakah sahabat guru berdaya sudah atau ingin Merdeka Belajar? Mari bergabung bersama kami dalam wadah persaudaraan satu tujuan Komunitas Guru Belajar Hulu Sungai Tengah. Semua murid, semua guru.  Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Merdeka Belajar, Kesadaran Sudah Dijajah Motivasi Eksternal

Sebagai ketua MGMP Bahasa Indonesia saya merasa tergerak untuk mengajak para pengurus MGMP untuk merdeka belajar. Ya, istilah Merdeka belajar pertama kali saya dapatkan saat mengikuti The Festeachval yang diselenggarakan Komunitas Guru Belajar Pekalongan tahun 2018 di Unikal. Kelas yang saya pilih dalam kegiatan tersebut yaitu Kelas Merdeka Belajar yang di pandu oleh Pak Bukik Setiawan. Setelah mengikuti kegiatan tersebut dan membaca buku Merdeka Belajar saya menjadi sadar bahwa selama ini ternyata ada motivasi-motivasi eksternal yang menjajah guru. Oleh karena itu, saya ingin mengajak para guru Bahasa Indonesia di Kota Pekalongan untuk Merdeka Belajar, mulai dari pengurus MGMP Bahasa Indonesia Kota Pekalongan. Akhirnya pada tanggal 27 Mei 2019 saya berkesempatan mengajak teman-teman pengurus MGMP Bahasa Indonesia Kota Pekalongan untuk menonton film Guru Merdeka Belajar. Kegiatan tersebut saya laksanakan di SMP 5 Pekalongan jam 09.00 sampai dengan 10.30 WIB. Memang awalnya teman-teman MGMP kurang memahami pesan film tersebut. Akhirnya setelah diskusi dan pemutaran film yang kedua kali mereka baru bisa memahami tentang miskonsepsi pendidikan dan guru merdeka belajar. Setelah menonton dan berdiskusi saya mengajak pengurus untuk melakukan refleksi. Dan teman-teman pengurus menyadari bahwa selama ini telah terjajah dengan motivasi eksternal seperti takut dengan atasan, belajar untuk sertifikat, dan lain-lain. Dan setelah tahu konsep tentang merdeka belajar saya dan teman-teman sepakat untuk bangun dari  zona nyaman dan ingin meningkatkan diri karena dorongan internal bahwa untuk mengembangkan diri dan untuk merdeka belajar memang sebuah kebutuhan.

Merdeka Belajar, Belajar Merupakan Kebutuhan Alamiah

Pada hari Kamis, 27 Juni 2019 Komunitas Guru Belajar Pekanbaru mengadakan acara Temu Pendidik yang bertempat di The Gade Café Pekanbaru. Sesi terakhir dari rangkaian acara Komunitas Guru Belajar yang bekerjasama dengan guru-guru di Riau adalah nonton bareng. Nonton bareng cuplikan video Najelaa Shihab yang menjelaskan terkait “Merdeka Belajar”. Acara ini dipandu oleh Dr. Zahriyah Simargolang, MA selaku penggerak KGB nonton bareng. Selain itu acara ini juga di hadiri oleh Bapak Wakil Walikota Pekanbaru yang mendukung acara untuk memberikan kata sambutan. Dalam acara ini juga ada narasumber Yoga Mahardika selaku trainer Leadership. Selanjutnya dapat diamati antusias peserta yang datang dalam kegiatan bukan hanya dari daerah namun juga luar daerah. Selain itu dari berbagai kalangan masyarakat, murid, mahasiwa guru PAUD, guru SD, guru SMP, guru SMA maupun dosen. Sebagian guru dan mahasiswa memiliki ilmu pengetahuan yang banyak sehingga mereka memerikan respon pertanyaan maupun jawaban saat kegiatan berlangsung. Sebelum video di putar menurut Ibu Zahriyah sebagai penggerak mengatakan bahwa Kegiatan Gulu Belajar ini sangat penting dilakukan agar terciptanya kualitas pendidikan yang semakin baik karena adanya wadah guru untuk saling berbagi informasi, pengalaman dan wawasan sehingga dapat menampung ide dan solusi pembelajaran di sekolah. Maka dalam video ini dijelaskan bahwa ada 2 tipe guru yang mudah menerapkan merdeka belajar dan ada juga yang sulit, disebabkan tipe pertama adalah guru memiliki prinsip bahwa belajar perlu insentif eksternal, sedangkan guru tipe kedua menyatakan bahwa belajar sebagai kebutuhan alamiah. Seorang guru yang memiliki prinsip bahwa belajar merupakan kebutuhan alamiah akan dapat memberikan motivasi pada muridnya bahwa belajar itu menyenangkan dan tidak harus ada tekanan. Nilai-nilai pendidikan yang dapat diambil dari nontong bareng ini adalah: Guru memiliki kebutuhan alamiah dalam belajar dan mengajar Guru harus memiliki komitmen dalam melaksanakan dan mencintai pendidikan Guru harus memiliki kemandirian dalam belajar dan memberikan contoh tauladan Guru harus reflektif sehingga dapat terus melakukan perbaikan diri dalam mengajarkan ilmu Melalui nonton guru merdeka belajar dapat dipahami bahwa guru harus memiliki ilmu dan wawasan serta pergaulan sosial dengan temannya sehingga mampu menjadi pribadi yang ideal yaitu cerdas interpersonal dan intrapersonal. Merdeka belajar harus dirasakan oleh semua murid, maka dalam hal ini terlebih dahulu guru harus merdeka belajar, sehingga murid akan mengikuti gurunya yang mampu merdeka belajar.  Setelah mengetahui makna guru merdeka belajar itu sangat penting, maka di harapkan setiap guru dapat menerapkannya di sekolah masing-masing. Sehingga tujuan pembelajaran dapat terlaksana. Peran orang tua, lingkungan masyarakat dan sekolah sangat mempengaruhi seseorang untuk merdeka belajar. Hal ini disebabkan faktor fisik seseorang yang berbeda, ada yang sangat semangat dalam belajar sehingga ada peserta yang dapat  disiplin dalam memanajemen waktu agar dapat datang ke lokasi kegiatan belajar dengan tepat waktu. Tipe lainnya ada beberapa peserta yang mampu bersosialisasi sehingga dia memiliki banyak teman atau relasi, bukan hanya relasi yang dia kenal namun juga pada orang lain yang tidak dia kenal di ruangan tersebut dengan cara menyapa maupun bertanya tentang kegiatan saat coffee break, hal ini disebabkan pesserta memiliki kecerdasan interpersonal. Begitu juga keadaan peserta yang lainnya ada yang merasakan tenang sehingga ia dapat tekun belajar hal ini karena mereka telah merasakan merdeka belajar. Kegiatan yang berlangsung secara lancar membuat peserta merasakan manfaat dari kegiatan guru belajar tersebut. Adanya kondisi yang berbeda pada setiap peserta maka panitia juga berusaha untuk mengubah keadaan menjadi seperti yang diharapkan yaitu peserta tetap semangat belajar dan merasakan merdeka belajar dengan melihat kondisi peserta saat mereka jenuh maka panitia memberikan game agar peserta bersemangat dalam belajar. Pada saat kegiatan berlangsung ada kejadian yang menarik perhatian yaitu saat seorang ibu dan bapak yang mengikuti kegiatan tersebut mampu aktif maju ke depan memberikan pendapat meskipun diantara mereka ada yang masih muda dan ada yang tidak muda lagi. Namun yang menyentuh hati saya ada juga yang datang dari luar kota hanya untuk mengikuti kegiatan guru belajar tersebut. Kejadian lainnya yang sedih pada saat itu adalah saya lupa membawa charger laptop sehingga saya merasa sedih tidak dapat maksimal menggunakan laptop tersebut, namun pada saat itu  ada peserta yang membawa laptop sehingga kegiatan nonton bareng pun dilanjutkan hingga selesai. Kejadian pada saat kegiatan berlangsung memberikan makna bahwa setiap permasalahan ada jalan keluarnya dan ada yang memiliki perjuangan untuk belajar dan prinsip ini sangat menarik untuk dilanjutkan semua guru bahwa belajar itu harus dari hati yang merdeka sehingga dapat kita nikmati. Sedangkan menurut panitia merdeka belajar adalah suatu kebutuhan yang datang dari jiwa pendidik sehingga hatinya tergerak untuk belajar karena mencintai anak didiknya. Selain itu merdeka belajar menurut peserta adalah keinginan seseorang untuk belajar meskipun harus menempuh jarak yang jauh. Maka sebaiknya kita mampu menggerakkan sosialisasi untuk melaksanakan guru merdeka belajar sehingga tujuan pendidikan untuk memiliki murid yang memiliki ilmu pengetahuan, wawasan dan pendidikan karakter dapat terlaksana dengan baik. Konsep guru merdeka belajar harus terus dikembangkan menjadi lebih kreatif dan inovatif.  Sebab merdeka belajar sangat membantu menuju pendidikan yang berkualitas. 

Guru Merdeka Belajar, Meluruskan Miskonsepsi Belajar

Pada  hari Sabtu, 25  Mei 2019 jam 14.00  WIB sehabis shalat zuhur, Komunitas Guru Belajar (KGB) Pesisir Selatan mengadakan Temu Pendidik  Daerah ke-8 bertempat di ruang perpustakaan UPT SDN 01 Lunang. TPD. Pessel ke-8 ini memiliki kegiatan inti Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar. Kegiatan TPD Pessel ke-8 ini di Moderatori  oleh saya sendiri Rini Suryati, sebagai salah satu anggota dari KGB Pessel. Kemudian pemandu nobar juga di lakukan oleh Rini Suryati (saya sendiri) karena Cuma ada saya di daerah paling selatan kabupaten Pesisir Selatan tepatnya sekitar 15 km jaraknya dari daerah provinsi Bengkulu Utara. Kegiatan ini direncanakan pada hari Sabtu, 18  Mei 2019, saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya mulai dari materi, slide, peralatan mulai dari laptop proyektor, speaker, dan sound system. Namun sayangnya tidak ada peserta dari sekolah lain yang datang, beberapa saat kemudian teman mengirim pesan via Whatsapp bahwa kegiatan nobar ini kita adakan di komunitas KKG (Kelompok Kerja Guru) saja, karena  hari ini sebagian guru punya kesibukan di sekolah masing – masing dan sebagian tidak dapat izin dari kepala sekolah. Akhirnya acara Nobar hari itu dibatalkan. Beberapa hari kemudian teman – teman di sekolah sendiri merasa penasaran, beberapa diantara mereka mengusulkan,”Bu Rini, bagaimana kalau kegiatan Nobarnya kita adakan saja cukup kita yang hadir di sekolah saja yang mengikutinya.” Ya menurut saya usulan mereka ada benarnya, mengapa kita harus menunggu lama sementara toh guru – guru di sekitar kita ada, sementara kalau ditunggu KKG kegiatannya sudah ditutup untuk tahun ajaran ini., dan akan dilaksanakan tahun ajaran baru nantinya. Dari pada menunggu lama akhirnya kegiatan Nobar kami lakukan pada hari Sabtu tanggal 25 Mei 2019. Kami bersama teman  – teman di sekolah kembali menyiapkan segala sesuatunya, karena yang ikut hanya guru – guru di sekolah, “Bu Rini, kegiatannya kita laksanakan di perpustaan aja ya biar agak santai.” Usul salah satu guru, kami sepakati kegiatan dilaksanakan di perpustakaan sekolah dengan jumlah guru yang hadir cuma berjumlah 10 orang, kepala sekolah tidak dapat menghadiri kerena ada acara rapat. Sebelum acara Nobar di mulai, saya membuka kegiatan dengan mengajukan pertanyaan sesuai dengan panduan,” Apa yang anda ketahui tentang merdeka belajar ?.”Sambil tertawa ringan peserta Nobar menjawab merdeka belajar itu murid tidak boleh dimarahi, apalagi dipukul, masing – masing memberi jawaban tapi jawaban tetap seputar itu. Setelah lima menit kegiatan Nobar dimulai, saya memutar video Bu Najelaa, bebrapa saat peserta fokus menonton. Lima belas menit kemudian video berakhir, mereka minta di putar sekali lagi setelah selesai tanpa dikomandoi salah satu peserta langsung berkomentar, videonya Cuma ini Bu Rini ?, “Saya kira tadi kita akan nonton tentang cara guru merdeka belajar mengajar, ada tidak ya videonya, kami juga butuh contoh lho bagaimana cara penerapan cara mengajar guru merdeka belajar.”Kata bu Milda. Saya jawab, O…yang sekarang ini dulu ya kita diskusikan, masalah  video cara penerapannya nanti kita tanya Kampus Cikal mungkin Kampus Cikal punya koleksi cara mengajar teman – teman yang sudah menerapkan cara mengajar guru merdeka belajar. “ Benar ya Bu Rini , tolong carikan biar jadi pedoman bagi kami,” pinta mereka. Kami masuk ke sesi refleksi, saya mulai mengajukan pertanyaan pertama, “Di antara miskonsepsi tadi, mana yang paling menggambarkan diri Anda?” Bu Rini kalau menurut pemahan saya selama ini belajar itu memang harus pada ahlinya, rata- rata jawaban mereka seperti itu,”Kalau begitu jika tidak ada ahlinya, apakah kita berhenti belajar?” Kata saya, semua peserta tertawa renyah, akhirnya bersama teman – teman guru kami meluruskan miskonsepsi belajar selama ini, bahwa kita belajar tidak harus menunggu para ahli atau pakar. Para ahli yang selama ini menurut kita hebat secara teori belum tentu dekat dalam praktiknya, kita guru lah yang berhadapan langsung dengan murid kita, kita gurulah yang lebih tahu permasalahan anak didik kita. Maka kita lah yang paling cocok saling berbagi tentang praktik cerdas kita dalam mengajar. “O, iya ya,” celetuk salah satu guru. Kami lanjut kan dengan mendiskusikan miskonsepsi yang lainnya, hingga kami menyepakati bahwa belajar itu butuh waktu tidak biasa dipaksakan mengejar target kurikulum akan memberikan dampak yang tidak baik bagi anak didik kita. Kompetensi murid akan tumbuh bersama lingkungan, bukan kompetensi individual. Saya mengajukan pertanyaan kedua, ciri guru merdeka belajar adalah komitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara mengajar dan melakukan refleksi. “Apakah Anda setuju dengan pernyataan tersebut? Apa alasannya?” “Setujuuuu.”Kata mereka serentak. Salah satu guru memberi alasan, kita memang harus komitmen pada tujuan, sesuai dengan penjelasan Bu Najelaa bahwa guru merdeka belajar paham mengapa perlu mengajar suatu materi dan kaitannya dalam kehidupan sehari – hari, sehingga murid merasa materi pelajaran bermakna bagi dirinya dan menumbuhkan motivasi instrinsik bahwa belajar itu berarti bagi dirinya. Guru merdeka itu mandiri, selalu bergantung pada dirinya untuk mengatasi tantangan, tidak mudah menyerah menghadapi tantangan, atau menyalahkan orang lain dan keadaan. Guru merdeka belajar juga harus reflektif, berani meminta umpan balik secara aktif, dan menilai diri sendiri dengan objektif. Pertanyaan selanjutnya pada sesi refleksi adalah Apakah Anda mau menjadi guru merdeka belajar? Apa alasannya? “Kami mau Bu Rini, tapi kadang – kadang mood ini naik turun lho, kadang semangat kadang kendor, yang jelas kami coba ya” Mereka tertawa renyah. Kami ingin menjadi guru merdeka belajar, tapi kami butuh waktu untuk merubah mindset tentang murid, kebiasaan selama ini kita sering menyalahkan murid dari pada mencari solusi, mudah – mudahan seiring perjalanan waktu kami akan menjadi guru merdeka belajar”, ungkap Bu Milda .”Wow, tepuk tangan deh diskusi kita hari ini seru banget”, kata saya menimpali ungkapan Bu, Milda. Pertanyaan ke empat “Sebagai guru merdeka belajar, apa perubahan yang ingin anda lakukan di kelas ?” Mereka menjawab, “Insyaallah kami akan memulai dengan menata kelas, membuat kesepakatan kelas, ice breking di sela- sela pembelajaran, dan berusaha menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, dan tidak lupa di akhir pembelajaran diadakan refleksi bersama murid.” Pertanyaan terakhir, “Sebagai guru merdeka belajar apa pengembangan diri yang ingin anda lakukan bersama komunitas guru belajar?” “Kami ingin belajar menulis, setidaknya kami bisa menulis PTK” Kata salah seorang peserta. Di sesi penutup saya sedikit mengulas materi bahwa guru merdeka belajar adalah guru yang komitmen pada tujuan, guru harus tahu kenapa melakukan sesuatu dan apa manfaatnya serta bagaimana cara mengaplikasikan dalam kehidupan … Read more

Guru Merdeka Belajar, Cukupkah Jadi Pendidik? Atau Perlu Jadi Penggerak?

Awalan pen- pada kata pendidik menyatakan pekerjaan seseorang, sebagaimana awalan pen- pada kata pedagang, pengusaha, maupun penggerak. Istilah pendidik sudah pasti telah dipahami oleh masyarakat sedangkan penggerak masih sedikit yang mengetahuinya. Istilah “penggerak” sendiri sebenarnya  sudah banyak diperbincangkan dalam Komunitas Guru Belajar.  Apa itu penggerak? Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi (UU No. 20 Tahun 2003, PSL 39 (2)). Pelaksanaan tugas pendidik tersebut juga harus disesuaikan dengan kurikulum pendidikan nasional yang semakin berkembang dan terus mengalami perubahan. Tanpa disadari pada akhirnya sebagian besar pendidik lebih memprioritaskan pencapaian target dengan  mengesampingkan proses.  Mengajar hanya dilakukan sebagai ritual wajib setiap harinya bukan kebutuhan. Pembelajaran menjadi tidak bermakna dalam hati murid.  Yang dimaksud penggerak dalam Komunitas Guru Belajar adalah ia yang menjadikan kegiatan mengajar sebagai  kegiatan yang bermakna bagi murid. Penggerak ialah pendidik yang mau belajar meningkatkan kompetensi tidak hanya diri sendiri, tetapi juga kompetensi pendidik lain di lingkungannya, bukan sekadar pendidik yang mengajar hanya untuk meraih sertifikasi. Pendidik Yes, Penggerak Why Not? Terdapat sebagian pendidik yang merasa telah melakukan segala upaya agar mendapatkan hasil yang terbaik tetapi yang ia peroleh adalah hal yang sebaliknya. Terdapat sebagian lagi yang telah menyadari kekeliruannya dalam mengajar dan berhasil memperbaiki kompetensi diri tetapi enggan untuk berbagi kepada sesama di lingkungannya. Pendidik tipe yang kedua inilah yang secara sadar atau tidak ikut menjadi bagian dari pendidik yes but penggerak no. Padahal bangsa kita sangat mengenal filosofi sapu lidi: apabila lidi hanya satu tidak punya kekuatan dan mudah dipatahkan, tetapi apabila beberapa lidi diikat menjadi satu akan membentuk kekuatan yang tidak mudah dipatahkan. Apabila seorang diri dapat menghasilkan suatu hal yang baik maka dengan bersama-sama akan menciptakan hal yang luar biasa. Oleh karena itu, menjadi pendidik saja belum cukup melainkan diperlukan penggerak-penggerak  Komunitas Guru Belajar yang saling menularkan semangat mengajar mereka, berbagi metode-metode mengajar yang efektif di kelas, trik pengelolaan kelas yang baik, pengalaman keberhasilan dalam mengajar sehingga pada akhirnya setiap murid dapat mengalami apa yang disebut merdeka belajar di ruang kelas. Berkebalikan dengan pendidik yes but penggerak no, generasi pendidik yes and penggerak why not? merupakan mereka yang rela meluangkan waktu, tenaga, dan pemikirannya untuk menggerakkan komunitasnya. Belajar tuntas dan tuntas belajar adalah dua hal yang tak sama Menjadi seorang penggerak  memang tidak bisa instan untuk itu diadakan nonton bareng part 2 video Merdeka Belajar oleh Komunitas Guru Belajar Pemalang pada hari Jumat, 31 Mei 2019 dan dilanjutkan dengan acara buka bersama beberapa guru dari SMK N 1 Pemalang.  Kegiatan diawali dengan penayangan cuplikan dari kegiatan Temu Pendidik Nusantara tahun 2016 yang menampilkan Pendiri Kampus Guru Cikal dan Inisiator Komunitas Guru Belajar, Najelaa shihab. Dalam video tersebut beliau membahas tentang apa itu Merdeka Belajar. Beliau mengatakan bahwa menjadi penggerak itu bukan diberikan begitu saja, namun harus diperjuangkan.  Selama penayangan video para peserta mendapat pemahaman baru tentang bagaimana merdeka belajar sebenarnya. Beberapa guru terlihat sesekali mengangguk seolah sependapat dengan isi video. Salah satu yang paling membuat suasana hidup yaitu ketika video menayangkan beberapa miskonsepsi guru. Dipaparkan bahwa guru bisa belajar dengan sesama guru bahkan belajar dari murid bukan hanya bisa menerima dari seorang ahli, miskonsepsi bahwa belajar bisa instan dan sebenarnya belajar butuh waktu, dan miskonsepsi-miskonsepsi lainnya.  Kegiatan yang dilaksanakan di kediaman Ibu Emi Sri Kadarwati yang terletak di desa Banjaran ini dimulai pada pukul 16.05 dan berjalan dengan baik terlihat dari antusias peserta nobar salah satunya Bu Nanik yang menceritakan keluh kesahnya. Ia mengatakan, “Tuntutan kurikulum agar murid  harus tuntas pada semua kompetensi di semua mata pelajaran membuat saya secara pribadi merasa mengajar seperti dikejar target. Bagaimana dengan teman guru yang lain?”. Pendapat tersebut ditanggapi oleh Bu Dwi Rahmawati yang merasa sependapat bahwa tuntutan tuntas belajar membuat murid hanya memahami  pengetahuan sebatas permukaan saja tanpa mendalami lebih melalui proses belajar tuntas. Padahal belajar tuntas merupakan proses yang perlu dilalui anak sehingga kondisi merdeka belajar dalam ruang kelas dapat tercapai.  Selain konsep tersebut muncul pertanyaan dari Bu Farah, “Bagaimana agar murid tertarik dengan pelajaran matematika sehingga tidak lagi mejadi momok yang menakutkan?”. Berbagai saran pun diberikan seperti datang ke pasar ketika sedang mempelajari aritmatika sosial, menggunakan metode story telling, mengajak bermain gim, mengajak bernyanyi, sampai memberikan soal yang mudah kepada murid. Topik ini menjadi bahan diskusi sampai acara buka bersama berlanjut dan acara ditutup pukul 18.50 dengan penyampaian kesan tuan rumah, “Ini adalah acara yang langka. Dalam acara ini, saya tidak hanya tahu apa itu guru merdeka belajar tetapi saya juga bisa mengenal teman-teman lebih dekat bersama keluarga dalam buka bersama malam ini. Terima kasih telah menyempatkan waktu datang ke kediaman kami”, ujar Bu Emi. Komunitas Guru Belajar Pemalang berharap kedepannya guru SMK N 1 Pemalang dapat mempraktikkan hakihat dari merdeka belajar dan menjadi bagian dari Komunitas Guru Belajar. Menjadi Pendidik sekaligus Penggerak Komunitas Guru Belajar, kenapa tidak? Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Guru Merdeka Belajar, Apakah Kita Melakukan Miskonsepsi Guru Belajar?

Dalam sebuah adegan persidangan akademik akibat menjalankan praktik pengobatan tanpa lisensi, Hunter “Patch” Adams, mahasiswa Sekolah Tinggi Kedokteran Virgina, mengajukan pembelaannya bahwa mahasiswa kedokteran perlu berkolaborasi secara erat dengan perawat.  Perawatlah yang tiap hari berinteraksi dengan pasien dan, karena itu, mereka dapat menceritakan berbagai hal tentangnya. Perawat punya begitu banyak kekayaan pengalaman yang sangat bermanfaat bagi calon dokter. Setidaknya kesan itu yang terlukis jelas di film Patch Adams. Hal yang sama agaknya juga berlaku di dunia pendidikan. Pihak yang setiap hari berhubungan dengan murid adalah guru. Merekalah yang memiliki keragaman pengalaman pengajaran untuk dibagi kepada rekan guru lain dan diolah menjadi solusi-solusi pembelajaran. Melalui itu, guru tidak hanya belajar perihal materi pelajaran, tetapi juga macam-macam metode pembelajaran yang cocok di situasi tertentu, kelas tertentu, atau bahkan murid tertentu. Itu lah yang kiranya sedikit tergambar di acara Nonton Bareng  (Nobar) Guru Merdeka Belajar di SMK Negeri 1 Karangdadap, Pekalongan, Jumat (31/5/2019), yang dihadiri belasan guru sekolah itu. Merdeka Belajar dan Kebiasaan Mengajar “Saat bicara tentang merdeka belajar, selalu terbayang anak-anak,” kata Najelaa Shihab, pembicara dalam video yang dinikmati peserta. Merdeka belajar, yang mulai bergaung luas berkat giatnya Komunitas Guru Belajar (KGB) atas inisiasinya, merupakan cara pandang yang humanis dan terpusat pada murid. Diawali dengan pengenalan miskonsepsi guru belajar, peserta nobar kemudian membandingkan praktik pembelajaran yang lazim dilakukannya dengan miskonsepsi tersebut.  “Yang sesuai dengan keadaan saya ada di poin tiga, yaitu cukup tahu ‘how to’ dalam mengajar,” kata Guru Yeni, pengajar Matematika. Lebih jauh, ia juga menceritakan pengalaman mengajarnya yang amat berkesan, yakni saat mendapati muridnya mengerjakan salah satu soal Matematika dengan cara yang bahkan tidak terpikirkan sebelumnya oleh Guru Yeni.  “Bagi saya ini termasuk merdeka dalam memilih cara, dan saya membebaskan murid yang punya ide-ide seperti ini,” lanjutnya dengan semangat. Guru Musyafiah selaku fasilitator mengatakan, hadirnya guru-guru SMK Negeri 1 Karangdadap dalam acara tersebut merupakan bukti tindakan yang menegasikan salah satu miskonsepsi tadi, yakni ‘guru hanya mau belajar jika ada iming-iming sertifikat atau motivasi eksternal lainnya’. Dipaparkan dalam video itu, setidaknya terdapat lima miskonsepsi guru belajar yang disampaikan Najelaa, diantaranya yaitu guru hanya mau belajar jika ada iming-iming sertifikat, guru hanya dapat belajar dari para ahli,  dan belajar itu soal kompetisi, bukan kolaborasi.  “Permasalahan pendidikan memang sangat kompleks. Untuk mereformasinya pasti butuh waktu dan kesepakatan dari berbagai kepentingan,” lanjut Najelaa.  Oleh karenanya menjadi guru belajar adalah sebuah proses. Selanjutnya guru Musyafiah memaparkan tiga ciri guru belajar, antara lain komitmen pada tujuan, mandiri, dan refleksi, yang mendapat beragam respon dan pertanyaan dari peserta. Menanggapi ciri guru belajar tersebut, Guru Fullu, pengajar matematika, mengatakan, “Kita sebenarnya perlu mencari banyak aplikasi ilmu matematika dalam kehidupan sehari-hari agar murid tahu dan sadar bahwa belajar matematika punya manfaat praktis.” Ia juga melanjutkan, manfaat matematika muncul sesuai dengan profesi yang dijalani. Sebagai pedagang dan peneliti, misalnya, murid akan melihat bagaimana mapel itu diterapkan. Ketika ditanya mengenai aktivitas refleksi, semua peserta setuju bahwa langkah itu telah dilakukan, hanya saja tidak didokumentasikan.  “Refleksi harus dicoba, dilakukan dengan variasi cara, dan didokumentasikan,” ujar Guru Musyafiah memberi tanggapan. Refleksi membantu guru dalam melihat  dampak pembelajaran yang telah guru dan murid lakukan. Hal ini perlu dilakukan sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk pembelajaran selanjutnya. Antusiasme  Ketika hendak menutup sesi refleksi bersama, baik mengenai miskonsepsi merdeka belajar maupun ciri guru belajar, sebagai akhir acara nobar, salah satu peserta menginterupsi fasilitator dengan pertanyaan.  Meski pada awalnya menolak, Guru Musyafiah, yang juga penggerak KGB Pekalongan, akhirnya memberikan tanggapan. Tidak hanya kepada satu penanya, bahkan empat hingga lima penanya. Diskusi pun berlangsung. Pertanyaan peserta lebih berupa kemungkinan bagaimana mewujudkan konsep merdeka belajar daripada sikap keputusasaan. Melihat antusiasme guru SMK Negeri 1 Karangdadap di acara Nobar Guru Merdeka Belajar itu, Guru Musyafiah mengajukan tawaran apakah berminat untuk mengadakan Temu Pendidik Sekolah (TPS). “Saya yakin sebenarnya bapak dan ibu guru ingin mengadakan TPS, terlihat dari pertanyaan yang panjenengan semua sampaikan ke saya beberapa waktu lalu.” ungkapnya diakhir acara. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?