Guru Merdeka Belajar, Mengajar dengan Tujuan Bukan Karena Tuntutan

Kegiatan mengajak kepada yang belum pernah tahu atau belum tahu itu sangat membuat hati deg-degan. Kenapa tidak, berada dalam lingkungan yang biasanya selalu bersifat rutin dan selalu itu-itu saja pasti susah untuk membuat sebuah hal baru dan berharap hal baru tersebut bisa diterima dan dijalani bersama. Sebagai guru kita tidak akan lepas dengan sesama teman guru, itu pasti. Namun menjadi guru yang hanya datang untuk mengajar murid-muridnya dengan cara biasa saja itu akan sangat menyayangkan bagi diri kita sendiri sebagai guru dan tentunya akan berdampak buruk bagi murid kita nantinya.  Mengajar mungkin bagi sebagian orang itu suatu yang mudah dan tak perlu apapun. Mungkin mengajar itu hanya memberikan pengetahuan yang dimiliki oleh guru kepada muridnya. Namun semua yang tersebut itu adalah sebuah kesalahan besar. Menjadi guru itu harus memiliki yang pertama adalah niat atau bisa dikatakan panggilan dari hati yang paling dalam tanpa itu guru tidak dapat menikmati dengan indah dan yang kedua guru itu harus punya rasa merdeka yang muncul dari hati terdalam juga. Niat dan kemerdekaan, keduanya itu adalah suatu hal yang musti dimiliki semua guru. Tanpa ada dua itu akan sulit untuk menjalankan kewajiban sebagai guru. Kalau niat, insyaallah sudah ada kalau memang ditanamkan. Nah, bagaimana dengan merdeka belajar? Merdeka belajar memiki tiga dimensi, yaitu komitmen pada tujuan, kemandirian dan senantiasa melakukan refleksi. Pada saat ini, perasaan merdeka itu sudah jarang ditemui di sekitar,yang ada bagi sebagian besar guru mengajar karena tuntutan, tuntutan atasan, tuntutan kebijakan dan masih banyak tuntutan-tuntutan lain. Sehingga tuntutan tersebut lebih didahulukan daripada komitmen pada tujuan awal. Padahal semestinya kebijakan itu bukanlah sebuah tuntutan, namun itu semua adalah sebuah teman yang mendukung tercapainya tujuan belajar dan mengajar. Untuk mengajak semua guru agar merasakan kemerdekaannya itu banyak sekali tantangan, namun dengan kekuatan tekad tantangan itu harus dilalui agar tercapai rasa merdeka itu ada di setiap hati guru. Salah satu kegiatan yang menjadi langkah awal saya yaitu dengan mengajak guru d ilingkungan madrasah atau sekolah untuk ikut serta dalam kegiatan nonton bareng film guru merdeka, kegiatan itu dilaksanakan hari rabu tanggal 29  mei 2019 bertempat di RM Serba Sambal Jepara, sembari menunggu waktu buka bersama dan dihadiri oleh 20 guru yang berada satu madrasah.  Kegiatan nonton bareng ini sangat menarik karena adanya respon positif dari peserta. Menjadi sebuah pelajaran berharga mengenai tentang kemerdekaan bagi guru yang sesungguhnya. Tanggapan positif itu muncul hampir dari semua peserta karena sangat antusias untuk melakukan perubahan ke lebih baik untuk bersama-sama saling belajar. Menyadarkan diri akan pentingnya belajar sesama guru atau pendidik untuk menemukan hal baru atau menyelesaikan permasalahan bersama. Sungguh banyak yang bisa diambil dari pertemuan pendidik sekolah ini. Selain nonton bareng ada juga diskusi tentang literasi yang lebih dalam, dengan adanya pengetahuan baru, semakin meyakini bahwa ternyata pertemuan diskusi kepadasesama guru atau pendidik itu sangat penting dan sebagai akhir di kegiatan ini kami semua sepakat akan ada diskusi atau pertemuan lagi untuk bersama-sama saling mendengarkan dengan saling memberi dan menerima pengetahuan serta pengalaman bersama. Demikian liputan nonton bareng film guru merdeka dan diskusi tentang literasi, itu sungguh belum cukup dan akan lanjut setelah itu. Bagaimana dengan guru-guru yang lain, mari kita lanjutkan belajar ini, bukan hanya murid yang belajar namun guru itu juga harus tetap belajar dan memiliki kemerdekaan. Salam Merdeka Belajar!

Guru Merdeka Belajar, Melawan Miskonsepsi Belajar

Hari Jum’at sore tanggal 24 Mei 2019, dalam rangka Temu Pendidik Daerah (TPD), Komunitas Guru Belajar (KGB) mengadakan nonton bareng atau nobar video Guru Merdeka Belajar di salah satu rumah penggerak, Guru Niken. Sambil menunggu waktu berbuka puasa, kami mencoba mengobrol ringan sambil menonton bersama video ibu Najelaa Shihab, pendiri Kampus Guru Cikal dan Inisiator Komunitas Guru Belajar, saat berbicara di acara Temu Pendidik Nasional (TPN) 2016.  Banyak hal yang kami dapatkan setelah menonton video ini. Kami merasa mendapat sebuah pencerahan sebagai seorang guru. Pencerahan yang nantinya diharapkan dapat memberikan perubahan bagi kami. Perubahan yang sangat penting bagi kami yang mengabdikan separuh waktu dan tenaga untuk selalu menjadi bagian dari dunia pendidikan Indonesia. Apa yang kami rasakan adalah guru perlu menjadi guru yang merdeka belajar. Guru yang tidak berhenti untuk mengembangkan dirinya dan merasa terkekang. Guru yang terus berusaha melawan beberapa miskonsepsi yang terjadi di pendidikan. Dari sinilah kami menjadi paham dan menyadari bahwa setidaknya guru harus mencari solusi menjadi guru merdeka belajar di kelas untuk membawa pembelajaran di kelas lebih bermakna.  Sebelum menginjak acara inti yaitu pemutaran video guru merdeka belajar, saya sebagai fasilitator sekaligus moderator membuka acara nonton bareng dengan memberikan gambaran susunan acara. Peserta yang seluruhnya adalah guru terlihat sangat antusias. Ada sekitar 13 peserta yang hadir saat itu sehingga saya juga mengajak mereka untuk bertukar pikiran tentang hal-hal yang berkaitan dengan arti kata “merdeka”, apa sebenarnya merdeka belajar, bagaimana menciptakan kelas yang merdeka belajar, dsb. Ada beberapa jawaban mengenai apa itu merdeka belajar dari salah satu guru yang berkomentar bahwa guru merdeka belajar adalah guru yang punya kebebasan untuk belajar apapun yang tujuannya untuk selalu upgrade kemampuan diri. Setelah sesi bincang santai dilanjutkan sesi pemutaran video dengan durasi 15 menit.  Video yang berisi pemaparan dari Ibu Najelaa Shihab ini membuka jendela wawasan para peserta terutama diri saya pribadi. Video ini mampu menjawab rasa keingintahuan saya selama ini bahwa guru adalah seseorang yang perlu merasa merdeka dalam belajar. Bukan hanya saya saja yang merasakan pentingnya merdeka belajar, namun semua peserta guru merasakan hal sama. Bu Najelaa menjelaskan banyak sekali cara-cara seorang guru yang merdeka belajar. Menurut beliau ada tiga hal urgensi utama guru sebagai pendidik yang merdeka yaitu; 1) Komitmen, 2) Memiliki kemandirian, dan 3) Berefleksi. Di bawah ini akan saya paparkan secara singkat tiga hal di atas sesuai dengan apa yang Ibu Najelaa Shihab jelaskan di dalam video yang kami tonton bersama; 1). Komitmen Guru harus memiliki komitmen kuat terhadap tujuan yang akan diraih. Tujuan pembelajaran yang memberi pengaruh terhadap perkembangan anak didik di dalam kelas. Tujuan yang membawa guru untuk selalu semangat menciptakan inovasi-inovasi pembelajaran.Namun, ada saja tantangan yang dirasakan di dalam prosesnya yaitu kadangakala guru lupa membedakan mana yang termasuk cara dan tujuan komitmen. Banyak guru malah menghabiskan waktunya untuk fokus mengurus tugas administrasi, menyiapkan akreditasi, atau ketentuan birokrasi lainnya yang sebenarnya adalah cara namun kemudian menjadi prioritas dan tujuan utama. Sehingga, guru cenderung mengesampingkan komitmen awal yang dimiliki. 2). Kemandirian Dalam kemandirian, ada sebuah anak tangga tingkatan dimulai dari tingkata pertama yaitu anak tangga (1) manipulasi, (2) kesadaran, (3) interaksi/dialog, (4) masukan/konsultasi, (5) kemitraan, (6) pemberdayaan, (7) kendali, dan (8) mandiri. Menjadi guru mandiri tidaklah mudah karena ada banyak anak tangga yang perlu dilewati dan konsistensi sehingga menjadi guru yang memegang kendali atas proses belajar masing-masing dan kemudian berada di atas puncak sebagai guru mandiri.  3). Refleksi Kegiatan refleksi adalah kegiatan melihat cermin dan mengamati diri sendiri sebagai pelaku utama dalam kelas namun hal ini sulit untuk dilakukan. Akhirnya, banyak diantaranya yang selalu berdalih untuk melihat pelaku lain sebagai alasannya, seperti masyarakat belum paham, murid-murid tidak mengerti, orang tua yang menentang yang faktanya diri sendirilah yang merasa takut untuk berubah.  Ada banyak hambatan dan permasalahan untuk menjadi guru yang merdeka belajar yaitu memahami adanya miskonsepsi di dalam dunia pendidikan. Miskonsepsi yang perlu ditindaklanjuti oleh guru belajar agar dapat mewujudkan sistem pendidikan nasional, yaitu: Guru mau belajar seringnya terdorong karena motivasi eksternal (mendapat sertifikat, insentif, namun sejatinya guru perlu belajar sebagai kebutuhan alamiah. Tidak ada paksaan ataupun iming-iming saat mau belajar. Guru banyak yang ingin belajar dari para pakar pendidikan, padahal belajar antarsesama guru dapat menjadi salah satu cara efektif untuk saling bertukar informasi dan berbagi tentang praktik baik di pembelajaran. Guru hanya terbatas membangun pertanyaan dengan “how to”, tetapi secara aplikatif guru perlu mengenalkan hal-hal yang berbeda dan menarik kepada murid-muridnya. Guru yang adaptif belajar dengan tujuan dalam konteks yaitu dengan mmberikan pertanyaan-pertanyaan tentang “why” dalam setiap kondisi di dalam kelas. Guru sering fokus terhadap pemenuhan target yang dipaksakan  untuk selesai serta nilai capaian KKM dengan mengejar ketertinggalan materi di dalam kompetensi dasar pembelajaran. Namun, secara alami, proses belajar membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Seiring dengan proses belajar yang membutuhkan waktu, guru dapat menciptakan inovasi dengan baik dengan melihat dan memahami inovasi tersebut apakah sudah sesuai kebutuhan murid atau belum. Guru lebih mengutamakan kompetensi secara individual ketika belajar. Tetapi, guru merdeka belajar adalah mereka yang berani mengambil aksi untuk kompetensi tumbuh bersama lingkungan. Oleh karena itu, guru butuh teman kolaborasi untuk bertindak dan menyamakan persepsi menjadi guru merdeka belajar.  Setelah pemutaran video, sesi berikutnya adalah refleksi bersama. Di sesi refleksi, guru secara bergantian menjawab pertanyaan. Beberapa peserta menjelaskan pengalamannya berkaitan dengan miskonsepsi yang terjadi di lingkup pendidikan sekolah mereka. Pak Huda berpendapat bahwa miskonsepi yang beliau rasakan adalah belajar dikejar target materi yang terkadang membuat murid jenuh dan tertekan ditambah dengan adanya kompetisi-kompetisi atau lomba yang dapat mengurangi jam murid untuk belajar. Padahal idealnya, belajar membutuhkan waktu yang tidak sebentar (tidak bisa instan). Selain itu, masih banyak pendapat lain terkait menjadi guru merdeka belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan miskonsepsi di dunia pendidikan.  Akhirnya dari serangkaian kegiatan nonton bareng video merdeka belajar, kami sama-sama memahami bersama bahwa guru yang merdeka belajar tidak semudah yang dibayangkan. Guru merdeka belajar yaitu dia memiliki komitmen pada tujuan pencapaian, meningkatkan kemandirian, dan berusaha melakukan refleksi di setiap akhir kegiatannya. Pastinya guru merdeka belajar adalah guru yang memiliki semangat berkembang dan mandiri demi terwujudnya pendidikan Indonesia yang lebih baik.

Membaca Tanpa Terpaksa

Pastinya tiap guru/orangtua memiliki strategi Yang berbeda. Kalau saya melakukan tiga langkah yakni pre-reading, whilst reading Dan post reading. Rincian kegiatannya dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Namun, ini saya lakukan dalam pertemuan di kelas untuk membahas satu teks tertentu ya Selama saya mengajar baik di SD, Les atau pun di SMK tempat saya mengajar sekarang. Strategi tersebut selalu berhasil Dan bikin kelas pecah Pertanyaan dari Guru Tuti  Saya masih belum terbayang seperti apa kira-kira pembelajarannya. Karena bisa jadi ini dapat diterapkan but anak-anak saya mohon penjelasannya Bu Jawaban  Kurang lebihnya Karena saya mengampu mapel Bahasa Inggris, maka di awal saya memperkenalkan dulu kosakata yang akan digunakan dalam pembelajaran. Caranya dengan memperagakan, pronunciation drill dan melengkapi kalimat. Sesudah itu, saya membagikan potongan kertas berisi satu paragraf Dalam teks yang akan dibaca. Sesudah itu, siswa mencari bagian paragraf lain, Dan menyusun menjadi teks yang runtut. Di sinilah secara tidak sadar siswa membaca. Di bagian akhir, Ada kegiatan wawancara terkait isi teks dan evaluasi. Bedanya evaluasi disini yakni dengan memberikan kertas berisi jawaban kepada semua anak, baru melontarkan pertanyaan. Apakah bisa dipahami Ibu?. Pertanyaan dari Guru Siyohelpiyanti Membaca dalam mata pelajaran bahasa (Bahasa Inggris)  atau umum? Jawaban Saya mengajar Bahasa Inggris, namun bisa juga diterapkan Dalam mapel lain yang membutuhkan pemahaman bacaan. Misalnya, Sejarah, PKN, dll Pertanyaan dari Guru Novie Bagaimana gambaran pelaksanaan pembelajaran jika bidang studi yang saya ampu adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Apakah dalam kegiatan pengenalan kosakata,kita perkenalkan kata-kata tersebut termasuk kelompok kata apa, atau bagaimana Bu? Mohon penjelasannya Jawaban  Untuk Bahasa Indonesia bisa saja dengan kelompok kata seperti yang Ibu bilang, atau penggunaan istilah-istilah asing yang ada pada bacaan. Bisa juga di skip ke kegiatan intinya jika dirasa siswa sudah paham semua kosakata. Pertanyaan dari Guru Popi Ramlan  Saya pernah mencobakan dengan memberi siswa potongan  paragraf yang berbeda di tandai dengan warna dengan, pertama siswa duduk berkelompok dengan paragraf dengan no yang sama, dan di diskusikan, kemudian siswa duduk dikelompok berbeda berdasarkan nomor pada paragraf, apa sma dengan yang saya lakukan Bu? Jawaban Sepertinya agak berbeda, Bu. Kegiatan yang saya lakukan tanpa diskusi. Saat siswa mencari bagian paragraf yang lain mereka kadang blank. Alih-alih mencari paragraf lain malah berkelompok dengan paragraph yang sama. Siswa juga harus mencari tahu sendiri jumlah paragrafnya yang membutuhkan kemampuan analisis Apakah wawancaranya kita guru yang menyediakan pertanyaannya bu? Jawaban Untuk wawancara pertanyaan boleh disiapkan oleh guru utk anak usia muda. Tapi utk SMK, mereka bisa membuat sendiri agar merangsang kemampuan bertanya juga Pertanyaan dari Guru Priska  Strategi yang ibu sampaikan tadi sangat menarik, namun apakah strategi ini bisa juga di gunakan dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yaitu dalam membaca dalil-dalil Al-Qur’an maupun dalil-dalil hadits? Mohon penjelasannya Bu Jawaban  Menurut saya bisa banget Bu. Pre-readingnya bisa dengan memperkenalkan kosakata dalam dalil yang akan dibahas. Whilst readingnya Sama dengan kegiatan saya. Jika dalil pendek bisa dipecah berdasarkan kata, jika panjang dipecah berdasarkan ayat per ayat. Untuk wawancara nya bisa menyesuaikan dengan dalil yang dibahas. Evaluasi bisa menggunakan strategi yang serupa. Pasti seru Oh ya, supaya gambaran ya lebih jelas, Misal membahas satu teks berisi 5 paragraf. Nantinya beberapa siswa akan mendapat paragraf yang Sama. Jadi pembagiannya diusahakan dengan jumlah siswa di kelas agar semua mendapat kelompok Membaca, seringkali menjadi  tantangan tersendiri. Apalagi di kelas Bahasa asing. Namun, dengan melibatkan siswa, memberikan kesempatan untuk berkolaborasi dan berkomunikasi, maka belajar membaca akan menjadi menyenangkan dan penuh gelak tawa.

Guru-guru yang Resah Belajar Bersama

Enggan dipanggil ibu. “Panggil Miss saja pak”, tulisnya di WA. Awal maret saya mengajaknya menjadi pembicara Temu Pendidik Daring di KGB Makassar. Sebagai pembelajar sejati, beliau bersedia. Bagaimana guru menggunakan aplikasi google sebagai media pembelajaran di kelas.  Begitulah awal mula perkenalan saya dengan miss Emy Hardianty, salah satu pengajar di Lazuardi Athaillah GIS Makassar.  Miss Emy memiliki kerisauan yang sama dengan kawan-kawan di Komunitas Guru Belajar Makassar. Bahwa guru yang berhak mengajar sejatinya adalah mereka yang tidak berhenti belajar. Resah dengan kemerdekaan belajar. Guru yang merdeka adalah mereka yang paham kenapa harus mengajar. Hanya guru yang merdeka yang bisa memerdekakan murid-muridnya: kenapa harus belajar.  Masih muda, penuh energi. Pandanglah akun media sosialnya. Bejibung kegiatan belajar terpampang di sana. Saya salah satu pengikutnya.  “Berani gak Lazuardi menjadi tuan rumah Temu Pendidik Daerah bulan depan?” “Siap. Saya konsultasikan dengan pihak sekolah pak. Saya kabari kembali.” Tidak butuh waktu lama. Keesokan harinya, saya dikabari: Lazuardi siap menjadi tuan rumah. “Apa yang harus kami persiapkan?” “Hanya butuh ruangan dan media belajar lainnya. Konsumsi akan disiapkan masing-masing peserta.” “Baik pak. Kami persiapkan.” —- Sabtu, 27 April 2019.  Kelas dibagi tiga. Kelas pertama diampu oleh bapak Abdur Rahman, analis mutu pendidikan LPMP Sulawesi Selatan. Selain di LPMP, pak Rahman juga aktivis Cegat Makassar. Tahun lalu, KGB Makassar dibawakan narasumber dari Australia. Mr. Brandon. Melalui jaringan lembaganya.  Materinya keren: mencari keterampilan hidup di sekolah. Materi ini juga hasil penelitiannya di berbagai sekolah yang kemudian dia tulis dalam satu tulisan menarik: runtuhnya sekolah kami. Bahwa sekolah tidak lagi menjadi benteng kreativitas anak. Anak hanya sebagai objek pelampiasan materi. Kawan-kawan guru merasa hanya berkewajiban menuntaskan seluruh seluruh materi di ruang kelas. Anak hanya berkewajiban datang dan mendengarkan di sekolah. Mereka dikondisikan belajar tanpa tahu untuk apa mereka belajar. Ada ruang yang hampa.  Pak Ammank juga sedikit mengomentari tentang berbagai program yang terkesan dadakan, penuh citra. Misalnya program literasi atau sebutlah program pendidikan karakter. Kesannya di sekolah adalah program tersebut sesuatu yang terpisah dari kegiatan sekolah. Program literasi dan pendidikan karakter itu seakan bukan tujuan sekolah. Padahal bukankah aktivitas sekolah diperuntukkan untuk literasi dan pendidikan karakter?? Kualifikasi pekerjaan anak-anak kita di masa depan sudah tentu berbeda dengan kualifikasi hari ini. Untuk mengakses itu, dibutuhkan dua belas jenis keterampilan. Mulai dari manajemen diri sampai kemampuan diplomasi yang tinggi. Saya belum melihat wilayah ini dikuatkan di ruang kelas.  “Hari ini saya bersyukur dipertemukan dengan kawan-kawan guru dengan keresahan yang sama. Percayalah bahwa langkah kawan-kawan KGB sudah di jalur yang tepat.” Pemaparan pak Ammank mengingatkan saya dengan tulisan ibu Najelaa di surat kabar guru edisi ke 20. Bahwa guru sudah merasa nyaman mengajar tapi anak belum tentu merasa nyaman belajar. Ada kutub yang berlawanan. Tujuan guru belum sinergi dengan tujuan peserta didik. Problem mendasar yang harus diretas secepatnya.  Kelas kedua diisi oleh pak Asrar, kepala SMA Negeri 2 Makassar. Awalnya saya sangsi. Seorang kepala sekolah mau datang berbagi dengan guru-guru. Gratis lagi. Tapi kawan penggerak, ibu Anita Taurisia Putri terus meyakinkan: “Percayalah. Saya sudah menghubungi beliau dan bersedia. Malah beliau sangat senang karena ada komunitas guru yang berminat melibatkan kepala sekolah dalam kegiatan belajar.” Penelitian Tindakan Kelas. Dua pertimbangan. Pertama, dinas pendidikan provinsi Sulawesi Selatan lagi semangat-semangatnya memerangi PTK yang ditengarai palsu.  Di beberapa tempat, bapak kepala dinas pendidikan selalu menyuarakan ini. Sungguh ironis, seorang guru yang mengabarkan kejujuran dan budi baik malah menjebak dirinya sendiri dengan perilaku yang kurang terpuji: pemalsuan PTK. Pesan berantai di beberapa kanal media sosial isinya begini: naik pangkatlah secara terhormat.  Kedua, menindaklanjuti materi daring yang pernah disajikan guru Nur Rahma Sangkala. Nur Rahma pernah berbagi praktik tentang lesson study hasil pengalamannya di International School of Utrecht Belanda. Dengan Lesson Study maka guru dapat melihat pembelajaran murid lebih detil; mencari tahu apa yang guru duga dengan apa yang murid pelajari; mencari tahu bagaimana merencanakan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan murid dan juga mengubah praktik mengajar guru.  Keempatnya disajikan dalam model penelitian tindakan kelas. Nah, kawan-kawan KGB Makassar tidak ingin kehilangan kesempatan mempelajari keempatnya. Pak Asrar sangat paham materinya. Nilai tambahnya adalah kehadiran pak Asrar di KGB kemudian mengubah sedikit cara pandang saya terhadap laku kepala sekolah. Narasumber ketiga adalah pak Amal Hasan. Leader of Google Educators Group Sulawesi Selatan. Saya tidak kenal beliau sebelumnya. Sehari sebelum kegiatan, adiknya, Husni Hasan kirim pesan.  “Salam sama narasumbernya ya. Sibuk semuami. Tidak teman, tidak kakak, samaji semua sibuknya”, tulis Unny setelah lihat status saya di WA. Baru ketahuan mereka saudara. Husni Hasan itu kawan saya di kampus. Beda jurusan.  Begitulah KGB digerakkan. Percaya dengan kekuatan jaringan. Miss Emy berkawan dengan pak Amal. Karena mudik, akhirnya KGB Makassar juga sudah berkawan. Kawan guru, apa saja yang dipaparkan pak Amal? Saya tersentak. Guru menganjurkan, mengajarkan tentang pentingnya keterampilan kolaborasi pada anak didiknya. Sayangnya, sang guru juga belum terampil mengelola kegiatan kolaborasi di sekolahnya. Jleb.  Guru jalan sendiri-sendiri. Mengajar sendiri-sendiri. Menilai sendiri-sendiri. Mereka bicara bersama hanya pada waktu-waktu tertentu. Pada saat rapat sekolah salah satunya. Selebihnya, ya jalan sendiri-sendiri.  “Google sudah menyiapkan berbagai teknologi kolaborasi untuk di sekolah. Sayang sekali kalau tidak dimanfaatkan.”  Karena materi ini banyak, kami minta kesediaan narasumber untuk mengenalkan satu persatu teknologi itu. Sebutlah dengan pendalaman materi. Dilain kesempatan dengan waktu yang lebih banyak.  Akhirnya ucapan terima kasih kepada kawan-kawan guru di Lazuardi Makassar. Semoga pertemanan ini menjadi kekuatan untuk menggerakkan lebih banyak lagi guru yang merdeka belajar.

Guru Merdeka Belajar, Guru yang Adaptif

Peran guru sangat signifikan apabila kita melihat konteks pendidikan secara utuh, sehingga perlu adanya peningkatan kualitas guru untuk memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia. Guru belajar merupakan hal yang tidak mudah diperjuangkan, tapi pengembangan guru melalui Guru Belajar dapat menguatkan peran guru di masin masing jenjang pendidikan, sehingga perlu adanya forum diskusi untuk guru-guru. Temu Pendidikan Nasional adalah salah satu kegiatan dalam Komunitas Guru Belajar yang memfasilitasi atau memberikan wadah kepada guru-guru untuk dapat bertukar pikiran / sharing, berdiskusi mengenai masalah-masalah yang di alami selama pembelajaran di sekolah dan bagaimana cara menemukan penyelesaian dari masalah tersebut. Dalam pertemuan sesama pendidik kita akan banyak belajar dan menemukan inovasi-inovasi baru dalam pembelajaran. Kali ini dalam kegiatan Pesantren Ramadhan, SD Negeri Gadingan 2 bekerja sama dengan Komunitas Guru Belajar Solo Raya mengadakan kegiatan Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar. Kegiatan Temu Pendidik Sekolah ini dilaksanakan di SD Negeri Gadingan 2 selama 3 jam (13.00 – 16.00). Ada sebanyak 15 pendidik dan 104 murid kelas I – VI yang mengikuti Temu Pendidik Sekolah. Pukul 13.00 tepat acara dibuka dengan salam dan perkenalan diri oleh Komunitas Guru Belajar Solo Raya, setelah itu Kepala Sekolah memberikan sambutannya. Beliau mengapresiasi dan sangat senang dengan kedatangan kami, “saya pribadi sangat senang dan mengapresiasi kedatangan Komunitas Guru Belajar Solo Raya, perlu diketahui semenjak kedatangan Pak Arga (salah satu penggerak Komunitas Guru Belajar Solo Raya) sekolah kami menunjukkan progress naik. Semoga acara seperti ini tidak hanya sekali dilakukan dan saya berharap kedepannya dapat memberikan dampak positif untuk pendidik dan murid. Untuk selanjutnya saya persilahkan untuk melakukan kegiatan nonton bareng”, jelas Ibu Kepala Sekolah kepada kami. Pukul 13.25 tepat kegiatan dimulai. Kegiatan pertama yaitu pemutaran film  Sahabat Pemberani KPK yang di ikuti oleh siswa kelas I – VI selama kurang lebih 30 menit yang dipandu oleh Kak Winda selaku koordinator acara ini. Anak anak sangat antusias sekali dalam kegiatan ini, terbukti saat diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan film, mereka saling berebut. Kegiatan untuk siswa di akhiri dengan BoardGame. Board Game merupakan produk ciptaan dari Komunitas KPK sebagai salah satu media pembelajaran. Siswa dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing kelompok ada fasilitatornya untuk memandu jalannya game. Setelah melakukan board game selama 20 menit, siswa diminta untuk merefleksi kegiatannya dengan cara menuliskan pesan, kesan dan pembelajaran apa yang bisa di ambil dari board game tersebut. Kemudian hasil refleksi di tempel di papan tulis. Ada satu tulisan yang membuat penulis berdecak kagum “Sahabat Pemberani harus bersikap jujur, adil, disiplin dan mandiri” tulisan itu seperti sebuah tamparan untuk kita sendiri, salah satu sifat  yang harus dimiliki seorang guru dan mereka juga guru untuk kita, karena semua murid semua guru. Acara inti selanjutnya adalah nonton bareng guru merdeka belajar, kegiatan yang dihadiri oleh Bapak/Ibu Guru SD Negeri Gadingan 2 ini bertambah ramai manakala ada tamu dari politeknik Indonusa yang ingin mengadakan workshop tentang pembuatan musik dari suara mainan anak anak atau sejenis musik aransemen. Pemandu kegiatan nonton bareng ini adalah kak Rosi, sebelum dimulai kegiatannya Kak Rosi memberikan paparan dan pembukaan di lanjutkan dengan Kak Winda memberikan penjelasan dengan apa itu Komunitas Guru Belajar Solo Raya. Para guru menonton bersama video guru merdeka belajar dan mendengarkan, menyimak dengan baik apa yang disampaikan Ibu Najelaa Shihab. Setelah menonton video dengan durasi sekitar 15 menit, dilanjut dengan refleksi. Pada kegiatan refleksi ini, para guru memberikan refleksi terhadap apa yang di lihat dan didengarkan dalam video dan memberikan apresiasi positif terhadap Komunitas Guru Belajar. masing masing guru diminta menuliskan refleksinya dalam selembar kertas. Refleksi salah satu guru bernama Bu Eni, beliau menuliskan ”Guru terbebani administrasi yang banyak sehingga waktu tersita banyak untuk membuat administrasi”. Hal ini memang benar adanya, seperti yang disampaikan Ibu Najelaa Shihab,” salah satu tantangan kita saat ini adalah membedakan cara dengan tujuan, kita terjebak pada tugas tugas administratif,kita terjebak pada ketentuan-ketentuan birokrasi sehingga ujian, akreditasi,seleksi, nilai yang sebetulnya semua hanya cara kemudian menjadi tujuan dan menjadi prioritas utama, bahkan lebih tinggi dari prioritas tujuan nasional sendiri”. Setiap pendidik harus memiliki komitmen yang kuat untuk menjadi guru merdeka belajar. Refleksi lain disampaikan oleh Kak Catur Ayudiono, “Video merdeka belajar membuka wawasan untuk para pengajar lebih mengeksplor cara mengajar,tentunya dengan kreatif dan inovatif”. Guru yang profesional adalah guru yang adaptif, setiap siswa kita membutuhkan hal yang berbeda dari kita, sehingga kreativitas dan inovasi dalam pembelajaran sangat esensial.Video guru merdeka belajar merupakan sebuah renungan dan introspeksi kita sebagai pendidik “Sudahkan kita menjadi Guru Merdeka Belajar?”. Setelah pemutaran video ini, kita berharap kita mampu mengubah tujuan kita sebagai pendidik yang sebenarnya dan merdeka, semua dapat kita capai dengan tetap pada komitmen, mandiri dan refleksi. Seorang guru tidak ada yang belajar sendirian, maka dibentuklah wadah komunitas guru belajar. Guru dapat belajar dari guru lain, sama hal nya membuat jaring-jaring pengetahuan.  Acara penutup ditutup dengan pemaparan sedikit dari Kak Catur, beliau adalah seorang pengaransemen lagu dengan mengubah musik dalam lagu bersumber dari suara berbagai mainan anak- anak. Masing masing guru di minta untuk mengambil alat mainan anak anak yang dibawanya, dan kita diminta untuk membunyikan satu-satu. Komunitas Guru Belajar Solo Raya dan Sragen juga membuat sebuat video dengan Kak Catur dengan mengaransemen musik sebuah lagu menggunakan alat mainan anak anak. Rencana kami akan mengadakan workshop bekerjasama dengan kak Catur dalam waktu dekat. Disini pelajaran yang disampaikan kak Catur adalah bahwa semua yang ada di sekitar kita bisa dimanfaatkan untuk media belajar, asal kita ada kemauan pasti bisa. Inovasi dalam dunia pendidikan tidak pernah habis, mari kita sebagai pendidik memulai untuk memerdekan diri sendiri sebagai guru merdeka belajar, memiliki kemauan dan komitmen untuk menjadi guru profesional, walaupun semua ini membutuhkan proses yang tidak singkat tapi setidaknya kita berani untuk menghadapi perubahan untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.Dan inilah acara penutupan yang berakhir dengan ceria.

Guru Merdeka Belajar, Guru yang Menggerakkan

Salah satu ciri-ciri hidup adalah bergerak. Dan salah satu hidup yang bermakna adalah menggerakkan. Menggerakkan apa? Apapun yang digerakkan, tentu orientasinya pada kebaikan. Demikian halnya ketika guru ingin menggerakkan diri sendiri maupun orang lain agar mau belajar. Mestinya seorang guru pantang mengajar jika tidak mau belajar lagi. Apalagi melihat dinamika hidup yang terus berkembang. Rata-rata guru yang merupakan produk Abad ke-19 harus sering beradaptasi menghadapi murid-murid abad ke-21 yang tentu lebih kompleks tantangannya. Bagaimana mungkin kita tidak mau belajar lagi, sedangkan hidup terus memberikan pembelajaran?  Salah satu cara memotivasi guru untuk terus belajar adalah dengan cara melaksanakan kegiatan nonton bareng video guru merdeka belajar. Saya tertarik untuk mengajak teman-teman menonton video ini dengan harapan dapat menginspirasi teman-teman lain tentang guru merdeka belajar. Maka, kami mengagendakan kegiatan ini pada hari Kamis, 23 Mei 2019 di SMP Negeri 2 Kedungpring Lamongan ini. Tentu sebelumnya kami publikasikan dulu adanya kegiatan ini baik secara langsung dari mulut ke mulut maupun melalui media sosial. Alhamdulillah sampai hari yang ditentukan ada sepuluh teman yang bersedia hadir.  Sebelum kegiatan nobar video, terlebih dahulu saya mengajak teman-teman untuk berdiskusi dan berbagi tentang pengalaman belajar ketika menjadi guru. Saya pun mengawali bercerita. Pada awal menjadi guru, saya sering mendengar komentar negatif ketika melakukan kegiatan belajar. Ada orang yang mengatakan bahwa masa belajar guru adalah dulu saat sekolah dan kuliah. Sekarang saatnya mengajar, dan tak perlu lagi belajar. Ada pula yang berkomentar, “Enak cari sertifikat saja. Bayar sedikit sudah cukup. Daripada menghabiskan waktu untuk belajar atau pelatihan.” Dan yang lebih parah lagi saat saya menjadi juara I dalam sebuah kompetisi guru, ada guru lain yang berkomentar, “Cari sensasi saja!”. Tapi itu dulu, saat saya masih belajar sendirian dan butuh waktu untuk mengajak belajar teman-teman lainnya.  Apa yang saya ceritakan di atas ternyata diiyakan dan dialami oleh teman- teman yang lain. Bahkan ada yang merasa dijauhi teman-temannya karena dianggap guru yang sok ilmiah. Juga ada yang mendapatkan sikap sinis dan komentar, “Mau jadi apa kok ikut pelatihan, seminar, komunitas, dan organisasi? Mau cepat jadi Kepala Sekolah?”, dan lain-lain. Namun, dengan berlalunya waktu dan juga berkembangnya kebutuhan, sebagian guru sudah ikut semangat belajar. Meski sebagian lainnya masih mempertahankan pola pikir lamanya. Namun saya yakin perlahan-lahan kondisi ini akan membaik. Setelah kegiatan sharing tadi, saya mulai mengenalkan komunitas guru belajar. Keresahan dan keprihatinan yang selama ini saya rasakan, terjawab saat mengenal Komunitas Guru Belajar (KGB), Komunitas guru atau pendidik yang mau berbagi praktik cerdas pengajaran dan pendidikan yang diinisiasi Kampus Guru Cikal. Perkembangan KGB Lamongan juga menjadi materi kami.  Perlu diketahui bahwa KGB Lamongan selama ini telah menyelenggarakan Temu Pendidik Mingguan (TPM) sebanyak 6 kali secara daring. Saya menjadi narasumber pada TPM perdana, tanggal 7 Maret 2019 dengan moderator Sarah Aulia. Menyelenggarakan TPM Perdana bukan hal yang mudah. Apalagi bagi teman- teman yang belum terbiasa diskusi secara online. Dengan dibatasi waktu dan respon agak lambat, saya dan moderator sepakat untuk bekerja sama menghidupkan diskusi ini. Alhamdulillah semua terlaksana dengan baik dan TPM selanjutnya berjalan lancar.  Pada Temu Pendidik Daerah (TPD) perdana, saya dan Sarah Aulia sepakat untuk berbagi tentang kegiatan Wardah Inspiring Teacher yang kebetulan kami ikuti berdua. TPD kami jadwalkan pada tanggal 21 April 2019, bertepatan dengan hari Kartini. Namun ternyata yang hadir hanya 4 orang termasuk kami berdua. Sedih? Tentu. Namun, itu tak membuat kami patah semangat. TPD yang kedua adalah nobar di MAN I Lamongan. Saya kebetulan berhalangan hadir karena jatuh dari sepedamotor. Berapa yang hadir? Hanya Sarah dan satu teman lagi.  Kami tak menyerah. Saya berinisiatif mengadakan nobar lagi. Barangkali di Lamongan sebelah barat kejauhan jika harus ke Lamongan kota. Maka terlaksanalah kegiatan Nobar Video Guru Merdeka Belajar ini sesuai jadwal, yaitu  Kamis, 23 Mei 2019 pukul 13.00-15.00 WIB. Kegiatan nobar ini bertujuan : (1) adanya komunitas perintis yang mulai membuat kegiatan, dan (2) adanya pemahaman tentang merdeka belajar baik oleh anggota maupun penggerak.  Sebagai pengantar sesi nobar, saya sedikit mengulas tentang empat kunci dalam pengembangan kompetensi guru menurut kampus guru cikal yaitu: (1) kemerdekaan belajar adalah prasyarat agar setiap pelajar, guru, komunitas, dan organisasi melatih otonomi untuk tumbuh berkembang secara optimal, (2) kompetensi guru adalah fondasi terselenggaranya pendidikan berkelanjutan yang berkualitas, (3) kolaborasi memberdayakan guru dan semua pemangku kepentingan untuk saling dukung dan menghasilkan dampak positif terhadap ekosistem pendidikan, dan (4) karier guru yang jelas dan beragam menjadi daya dorong bagi guru untuk terus menerus berkarya dan berkontribusi pada negeri ini.  Pada point pertama yaitu kemerdekaan belajar merupakan materi yang didiskusikan dalam pertemuan TPD III ini. Semua peserta yang hadir menyimak video Merdeka Belajar yang berisi penjelasan tentang Merdeka Belajar oleh pemateri Najelaa Shihab. Najelaa Shihab menjelaskan bahwa ada tiga ciri-ciri merdeka belajar yaitu komitmen pada tujuan, mandiri untuk belajar yang berarti, dan refleksi berkala dalam pembelajaran.  Najelaa Shihab mengatakan, “Memerdekakan diri kita sendiri dimulai dari pembuktian bahwa kita dan perubahan yang kita lakukan adalah yang kita nanti- nantikan. Jadi, tidak perlu menunggu siapapun untuk merdeka belajar.” Guru yang merdeka belajar memiliki ketekunan dalam perjalanan menuju tujuan yang bermakna bagi dirinya. Tidak hanya memahami kewajiban, tetapi juga memiliki otonomi dan menggunakan otoritas dengan bijak. Guru yang merdeka juga memiliki kemandirian dalam meningkatkan kompetensi dirinya dan juga bisa memotivasi dan menumbuhkan kemandirian pada murid-muridnya. Dan yang tak kalah penting, guru merdeka belajar melakukan refleksi berkala dalam pembelajaran yang telah dilaksanakan. Refleksi ini penting dilakukan untuk mengevaluasi, memperbaiki, dan merencanakan apa yang akan dilakukan di masa mendatang.  Yenni Rinawati, guru termuda dari SMPN 2 Kedungpring mengungkapkan pendapatnya tentang kegiatan ini, “Wah,perlu juga nobar yang begini ini ya. Dapat ilmu dan motivasi dari Bu Najelaa.” Sementara itu Santhy Rahayu, guru SMK Muhammadiyah 7 Kedungpring menyatakan senang dapat mengikuti kegiatan ini. “Kegiatan ini sangat bermanfaat. Kalau selama ini kita menunggu diundang pelatihan dari pemerintah, maka susah mendapatkan kesempatan belajar. Tetapi dengan konsep guru merdeka belajar ini, kita jadi semangat untuk belajar dimanapun dan kepada siapapun,”ungkapnya.  Materi nobar ini juga dapat meluruskan miskonsepsi yang selama ini sering ditemui. Bahwa belajar itu harus ada insentif dari eksternal misalnya. Yang betul belajar itu sebagai kebutuhan alamiah kita. Banyak guru yang selama ini berpendapat bahwa belajar itu … Read more

Guru Merdeka Belajar, Mempertanyakan Proses Pendidikan

Bulan Mei ini jadwal guru se-Indonesia Raya semakin padat. Diawali dengan menyambut Ramadhan, pengumuman kelulusan siswa kelas XII dan IX, persiapan Penilaian Akhir Tahun, pelaksanaan hingga proses pengolahan nilainya. Hari ini, di sela-sela kesibukan mengolah nilai siswa di kantor, kami terlibat obrolan hangat terkait hasil UNBK yang telah diumumkan beberapa waktu yang lalu. Secara mengejutkan, perolehan nilai rata-rata untuk sekolah kami naik secara signifikan, menempatkan sekolah kami (SMAN 3 Teluk Keramat, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat) pada posisi 10 besar sekolah dengan perolehan nilai UNBK tingkat SMA/SMK/MA terbaik di kabupaten Sambas. Sebuah berita yang membanggakan seharusnya, namun kami malah tersenyum kecut, mengingat proses panjang berliku selama tiga tahun terakhir dan bagaimana kami telah mengenal dengan baik karakter siswa kami sendiri. Belum lagi jika membayangkan nasib siswa cemerlang tersebut ketika masa SMA berakhir, yang seringkali tak secemerlang nilainya. Disisi lain, nilai bertabur bintang ini menjadi kebanggaan dan lantas dibandingkan dengan perolehan nilai sekolah, kabupaten dan provinsi lain, untuk kemudian menjadi tolak ukur keberhasilan program dan landasan untuk menentukan arah program berikutnya bagi pejabat pembuat kebijakan di tingkat pusat. Obrolan kami kemudian bermuara pada beberapa pertanyaan; Apakah tujuan hakiki sistem pendidikan kita dan apa indikatornya? Lalu dimana peran guru seharusnya ditempatkan dalam sistem ini? Sangat wajar jika pertanyaan ini muncul, mengingat seringnya bongkar-pasang kurikulum yang diterapkan di negeri ini, yang seringkali tidak sesuai dengan daya dukung sekolah dan kebutuhan dunia kerja.  Saya kemudian teringat sebuah video “merdeka belajar” yang pernah dibagikan oleh teman saya, dan mengajak teman-teman untuk sejenak ikut menontonnya. Sebuah laptop dengan pengeras suara ditata sekenanya. Ada kesan kaget, heran di raut wajah teman-teman ketika menontonnya, terutama pada bagian penjelasan piramida pendidikan di Indonesia. Spontan, kami membandingkan apa yang dijelaskan dalam video tersebut dengan apa yang kami rasakan selama ini. Kami semua sudah paham alur kebijakan pendidikan di Indonesia dan menyadari ada yang salah dengan itu. Guru sebagai garda terdepan pendidikan yang lebih mengenal medannya, selama ini diatur oleh pembuat kebijakan yang berada di belakang.  Dan penjelasan tentang membalik piramida tersebut membuka pikiran kami, bahwa seharusnya seperti ini lah sistem pendidikan dijalankan. Lalu kami sampai pada diskusi, apa bedanya program ini dengan program Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan yang telah digagas oleh pemerintah beberapa tahun yang lalu? Program Merdeka Belajar membuka kesempatan bagi setiap orang untuk berperan dalam sistem dan belajar berproses dari bawah, menikmati jatuh bangunnya, karena belajar bukan hanya dari pakar, namun bisa dari mereka yang sama seperti kami, yang lebih memahami kondisi nyata yang kami hadapi. Akhirnya kami menyadari, bahwa suara kami sendiri tidak akan berpengaruh untuk perubahan, namun akan sangat berperan jika kami bersatu dalam komunitas. Perubahan itu seharusnya dimulai dari diri kami sendiri sebagai pendidik, dan kemauan untuk berubah itu sudah seharusnya ditularkan kepada semua yang merasa bahwa pendidikan kita butuh perhatian.

Praktik Kolaborasi di Sekolah Inklusi

Senang sekali sore ini saya berkesempatan berbagi dan berdiskusi dengan teman-teman guru-guru dan pendidik di Rembang. Di ECCD RC saya sebagai Direktur, dan yang nanti akan coba saya bagikan adalah pengalaman-pengalaman kami di Labschool Rumah Citta dan juga pengalaman kami mendampingi PAUD-PAUD berbasis masyarakat (baik di Jawa maupun saat ini kami sedang melakukan pendampingan di Papua Barat).  Jadi ayook nanti kita lebih banyak berdiskusi saja yaaa 😃 Pertanyaan 1 : Guru Nisa : Dalam sebuah Sekolah Inklusi pastinya butuh keterlibatan dari beberapa hal salah satunya tadi ada di slide orangtua. Pertanyaannya seberapa besar keterlibatan orangtua dalam menjalankan praktik-praktik kegiatan di kelas inklusi? Dan kolaborasi yang bagaimana yang kiranya bisa memfasilitasi setiap keragaman di kelas-kelas tersebut, terutama kelas yang ada ABKnya? Jawaban : Narasumber : Baik, terima kasih pertanyaannya Mbak Nisa. Ketika orangtua mendaftarkan anaknya untuk sekolah di sekolah inklusi, pada saat yang sama pihak sekolah perlu menjalin Kesepakatan berkaitan dengan visi misi lembaga. Kalau di Rumah Citta, di awal  pendaftaran, orangtua menandatangani lembar kesepakatan tentang visi misi lembaga yang salah satunya adalah mengusung nilai keberagaman. Untuk itu ke depannya, kesepakatan ini dijadikan pegangan dan dasar dalam menjalin kerjasama dengan orangtua. Proses komunikasi dengan orangtua dijalin tidak saja melewati parents meeting, parenting, namun juga dari komunikasi harian pada saat mengantar maupun menjemput anak di sekolah.  Selain itu, keterlibatan orangtua di kelas juga bisa diwujudkan dengan menjadi guru tamu untuk topik yang sekiranya berkaitan dengan orangtua bersedia menjadi resource person. Menariknya, tentu ketika ada permasalahan atau konflik yang awalnya melibatkan anak saja, namun terbawa ke orangtua. Untuk kelas yang beragam, hal ini menjadi situasi yang tidak bisa dihindari. Anak-anak tentu sedang belajar mengenal temannya yang berbeda termasuk ABK. Sehingga kadang muncul konflik diantara anak-anak di kelas, yang dalam beberapa kasus bisa diselesaikan antar anak di kelas, namun tak jarang perlu melibatkan orangtua. Poin penting Kolaborasinya adalah Edukator perlu cermat menempatkan diri bahwa edu adalah pendamping di sekolah (atau bisa dikatakan ahlinya di sekolah) namun tetap menghargai bahwa orangtua  adalah pendamping utama di rumah (atau ahlinya di rumah). Saya rasa di situ poin pentingnya. Tanggapan : Guru Nisa : Untuk kesepakatan yang berkaitan dengan keberagaman ini apakah hanya diperuntukkan untuk wali murid ABK atau menyeluruh kepada semua wali murid? Narasumber : Media untuk kolaborasi bisa berupa Gambaran Program Mingguan yang dikomunikasikan kepada anak. Kesepakatan berkaitan dengan visi misi (terutama tentang nilai inklusi di dalamnya) wajib ditandatangani oleh semua Orangtua Mbak Nisa..jadi tidak hanya wali murid ABK saja. Karena di situlah letak peranan anggota kelas dalam mewujudkan dan mendukung kelas inklusi nantinya. Guru Nisa : Oke…siap maturnuwun sanget Mbak Ganis 😊🙏🏼 Pertanyaan 2 : Guru Lailia SM: Melihat komponen pendidikan inklusi dalam hal Kurikulum, penasaran banget nih bagaimana cara merancang kurikulum di sekolah citta dengan keragaman peserta didiknya. Selain dengan cara observasi apakah ada cara lainnya?? Dan bagaimana penerapannya antara murid ABK dengan murid reguler. Pengalaman saya di kelas TK A dengan 2 anak ABK dan 25 anak reguler, selesai proses pengobservasian anak ABK, kami guru kelas mulai merancang RPI dengan mengkomunikasikan kepada orang tua. Tapi dalam pelaksanaannya, kami masih sering fokus di kegiatan bersama anak reguler. Jawaban : Narasumber : Sebelumnya kami ingin menyampaikan bahwa Rumah Citta selama ini menggunakan Kurikulum Rumah Citta (Kuruci) yang kami bangun sejak awal berdirinya Rumah Citta. Secara ruhnya, sebenarnya, Kurtilas PAUD juga sejalan dalam hal menghargai setiap keunikan anak dan pendekatan saintifik. Pertama, mindset yang perlu dikuatkan adalah bahwa setiap anak adalah unik (mereka memiliki keunikan dalam minat, cara atau gaya belajar, dan juga mempunyai keunikan dalam mencapai setiap tugas perkembangannya). Kedua, Berangkat dari poin 1, maka edukator akan melihat setiap anak di kelasnya memiliki keunikan, untuk itu pada 1-3 bulan pertama Tahun Ajaran, adalah proses bagi edukatornya untuk melakukan asessment kepada setiap murid. Baik ABK maupun anak yang tidak ABK, kami biasa menyebut dengan anak saja, mendapatkan porsi asessment yang sama. yang membedakan antara ABK dan anak lainnya, adalah minat, cara belajar dan juga capaian tugas perkembangan). Misalnya di kelas ada anak 15 anak maka akan muncul 15 keunikan dari 3 aspek tadi. Sebagai gambaran, di kelas TK B yang berisi 14 anak, dengan 2 ABK, akan muncul “profil” gambaran 14 minat anak, 14 gaya belajar anak, dan mungkin ada 10 anak yang capaian Aspek perkembangan Bahasa sesuai dengan usia 5 tahun, dan 2 anak sesuai aspek perkembangan bahasa 4 tahun, dan 2 anak aspek perkembangan bahasanya sesuai dengan usia 6 tahun. hal yang sama juga berlaku untuk aspek kognitif, motorik dan sosial emosi. Ketiga, Nah dari hasil gambaran rentang capaian aspek perkembangan anak di kelas, maka Edukator akan meramu indikator capaian perkembangan di kelasnya yang akan dijadikan acuan dalam pembuatan program dan kegiatan sesuai tema kelas. Oh iya di Rumah Citta, tema, kegiatan dan aturan kelas semuanya berangkat dari usulan serta ide dari anak-anak sehingga mereka merasa dihargai dan dilibatkan dalam pembuatan maupuan pelaksanaanya. Taggapan : Guru Lailia SM: Kereeen. Banget Pak penjelasannya Bu ⁨Nindyah Rengganis Yogya⁩ 👍🏼👏🏻😊 Jadi peran guru sebagai fasilitator benar-benar harus teliti dengan beragam keunikan anak dikelas yang tidak lupa melihat tahapan perkembangannya untuk dikaitkan dengan indikator-indikator dari tema yang sudah melibatkan anak didalamnya 🤩😘😘😉 Pertanyaan 3 : Guru Chorid: Di pesantren itukan bisa dikatakan inklusi juga karena di dalamnya ada banyak sekali anak yang berbeda background sosial, pola pikir, lifestyle, gaya bicara, dsb. Ada anak yang sudah remaja, menurut kami dia agak kesulitan membangun interaksi dengan orang lain. Hampir setiap kali dimasukkan pesantren, pasti ada aja alasan untuk keluar. Dia merasa kalo teman-temannya itu tidak suka dan menganggapnya berbeda dari anak pada umumnya. Setelah dicari alasannya ternyata anak ini pendiam dan mudah tersinggung saat diajak bercanda atau saat diingatkan. Sudah diajak bicara, tapi malah merasa tidak didukung, bahkan sampai nangis terkadang. Bagaimana ya Bu Ganis cara yang lebih baik mengajak bicara anak yang demikian ini? Jawaban : Narasumber : Saya bisa membayangkan, tentu tantangan yang dihadapi anak (remaja) yang masuk boarding school atau pesantren jadi dobel…. tantangan menghadapi kehidupan dan rutinitas yang jauh dari keluarga dan pertemanan yang sudah dibangun sebelumnya. tantangan kedua adalah membangun pertemanan baru di lingkungan … Read more

Literasi Sebagai Proses Pembelajaran Seumur Hidup

Temu Pendidik Daring KGB- Sijunjung kali ini membahas tentang literasi. Dengan Narasumber Guru Irma Nurul dari KGB –Depok, dan moderator Widya Apri Wandini.  Berikut materi yang disampaikan oleh Guru Irma Nurul :  Perjalanan kami memahami literasi cukup panjang. Tahun 2014 kami mempunyai jam khusus untuk literasi. Saat itu literasi kami anggap kemampuan baca tulis. Murid berkunjung ke perpustakaan selama 30 menit membaca. Tahun ajaran berikutnya aktivitas membaca kami kembangkan lagi menjadi 30 menit membaca dan 30 menit menulis.  Pada tahun ini kami diliputi kegalauan. Kami memiliki kelas 9 yang diwajibkan membuat Karya Ilmiah. Kemampuan murid dalam memahami dan menginterpretasikan bacaan ilmiah masih belum sesuai dengan harapan.  Fakta ini membuat kami memikirkan ulang target kegiatan membaca dan menulis sebagai kegiatan literasi. Berpikir ulang apakah pemahaman kami akan pengertian literasi sudah tepat? Kami mulai mencari sumber dari dalam dan luar negeri. Akhirnya kami merumuskan dan  menempatkan literasi dalam bentuk kemampuan yang diasah melalui pengalaman belajar untuk meningkatkan kecintaan terhadap ilmu, eksplorasi belajar dari lingkungan sekitar dimana murid mendapatkan ilmu, membuat asosiasi antar bidang ilmu, dan menggunakannya untuk memecahkan permasalahan dalam kehidupan. Pengalaman belajar dilakukan melalui kegiatan belajar mengajar dan kegiatan kunjungan tematik. Pada rapat awal tahun ajaran setiap guru melakukan curah ide tentang pembelajaran masing-masing. Lalu bersama-sama guru akan membuat satu tema yang dapat didekati dari beberapa pelajaran. Guru membuat daftar kemampuan dan keterampilan apa saja yang dapat tercakup dari kegiatan tersebut. Setelah itu tim guru akan menentukan tempat yang sesuai dengan tema. Kunjungan tematik dilakukan setiap 2-3 bulan sekali dengan pilihan tempat yang dekat atau terjangkau transportasi massal seperti stasiun kereta api, museum, pusat budaya, perpustakaan, kantor pemerintahan, sampai bioskop.  Salah satu contoh kegiatan implementasi literasi budaya, baca tulis, dan numerasi, adalah dengan kegiatan kunjungan ke sebuah museum. Pada pelajaran Bahasa Inggris, guru bidang studi mengambil topik tour guide. Guru menjelaskan bahwa mereka akan pergi ke museum Ciputra di Jakarta. Moda transportasi tercepat apa yang bisa digunakan? Murid belajar untuk memahami peta dan menggunakan aplikasi Trafi dan dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok di kelas 7 akan mengatur perjalanan dan pembiayaan yang paling efisien untuk mencapai lokasi. Mereka akan menghitung jumlah guru, murid dan staf yang akan ikut, membaginya dalam kelompok kendaraan dan menghitung keseluruhan biaya yang dibutuhkan hingga sampai ke museum Ciputra. Murid belajar mengasah literasi visual spasialnya ketika memahami peta di Google maps dan literasi numerasi ketika memperhitungkan biaya dan moda transportasi tercepat. Setelah sampai di museum murid dipandu untuk memahami lukisan Hendra Gunawan dari lukisan naturalis ke lukisan modern kemudian diberikan pertanyaan mengenai perbedaan lukisan. Pemandu museum meminta murid mengamati lebih dekat tentang elemen garis, bentuk, dan warna. Pada sisi ruang pamer yang lain murid melihat bagian lukisan kontemporer pada era masa kini. Murid mengamati lukisan dan diperbolehkan bertanya. Membaca keterangan tentang lukisan dan mengamati kembali. Apa yang mereka rasakan ketika melihat lukisan? Elemen apa dalam lukisan yang membuat murid dapat merasa seperti itu? Apakah interpretasi mereka sama atau berbeda dengan temannya? Murid membaca teks mengenai periode dimana lukisan itu dibuat, suasana yang melatarbelakangi pelukis menghasilkan karya, dan mengaitkannya ke dalam sejarah pasca kemerdekaan Indonesia. Setelah itu dilakukan tanya jawab dengan pemandu. Kemampuan ini mengasah literasi visual dan budaya. Pengalaman melihat langsung lukisan dan berbicara langsung dengan ahlinya membuat murid mendapatkan pengalaman belajar yang lebih kaya. Pada pertemuan setelah murid melakukan kunjungan, murid membuat tulisan tentang lukisan yang paling disukainya dan penjelasan yang membekas di ingatan mereka. Tahapan selanjutnya pada pelajaran Bahasa Indonesia murid akan membuat teks deskriptif terkait kunjungan mereka dan di pelajaran Seni Budaya murid membuat lukisan kontemporer versi mereka sendiri. Dalam kegiatan ini literasi baca tulis dan visualnya berkembang. Dari kegiatan di atas disimpulkan bahwa mengasah kemampuan literasi tidak harus terfokus ke satu kemampuan literasi secara spesifik seperti baca tulis. Literasi bukan merupakan hasil akhir namun merupakan pembelajaran seumur hidup. Peningkatan literasi di berbagai bidang dapat meningkatkan kemampuan murid dalam menghargai kearifan lokal, bekerja sama dan berkolaborasi dengan banyak pihak untuk menghadapi tantangan di masa depan. Sesi Tanya Jawa Pertanyaan dari Guru Tuti  Pemahaman Literasi di sekolah sangat minim saya rasakan. Hampir seluruh guru hanya paham bahwa literasi selalu tentang baca dan atau menulis saja. Membaca praktik baik yang ibu lakukan di sekolah menginspirasi saya untuk dan harusembuka wawasan guru tentang Literasi yang sesungguhnya. Namun permasalahannya untuk sekolah SMK tentu perlu kolaborasi semua guru, dan apakah program ini dapat  dilakukan di SMK? Dan apakah dimasukkan dalam program sekolah ? Jawaban  Program literasi dapat dilaksanakan dari jenjang TK hingga SMA dan SMK. Pertama-tama untuk memulai Ibu bisa coba di pelajarannya sendiri. Jika ada satu dua orang teman guru yang bersedia kolaborasi sudah cukup. Jadi didiskusikan berdua topiknya apa dan bagaimana bentuk kolaborasinya Mencoba melihat topik yang menarik tentunya. Namun alangkah baiknya jika ini merupakan program sekolah ya Bu. Masukan buat tim literasi sekolah di bawah koordinator wakil kurikulum dan kepala pustaka ya Bu 😊? Kalau di sekolah kami langsung di bawah Kepala Sekolah. Kami mengalokasikan waktu untuk curah gagasan aktivitas literasi apa yang bermakna.  Namun bisa dimulai dari individual guru bersama rekan yang satu visi jika dari sekolah belum ada program Iya harus coba dimulai bu. Kemarin kami membuat reading workshop. Jadi setelah anak membaca satu buku mereka membuat poster atau miniatur tentang buku tersebut. Ditambahkan dengan cat, pernak pernik disana sini. Kemudian ada hari presentasi dimana murid saling mempresentasikan bukunya dan melihat karya yang beraneka ragam. Pertanyaan dari Guru Sri  Bukankah dengan strategi yang ibu gunakan itu akan membuat perpustakaan menjadi sepi pengunjung dari murid karena murid-murid   sudah diajak ke lokasi lain untuk melakukan literasi. Jadi pertanyaan saya apa fungsinya dan peranan perpustakaan lagi, terimakasih Bu Irma atas jawabannya Jawaban  Dengan strategi itu tidak membuat sepi perpustakaan. Karena buku juga menjadi salah satu rujukan referensi. Kita berusaha mengikat makna pembelajaran dengan hal-hal yang ada di keseharian. Kunjungan ke perpustakaan tetap dilakukan. Tentunya dengan aktivitas yang menyenangkan dan sesuai dengan tahapan perkembangan muridnya Pertanyaan dari Guru Rini  Saya mengajar di Kelas Tiga SD Bu, saya menerapkan literasi di semua mata pelajaran, saya suruh murid baca materi 10 menit awal, kemudian saya ajukan pertanyaan sesuai isi … Read more

Tips Bagi Orang Tua Menghadapi Anak yang Kecanduan Gawai

Banyak orang tua saat ini yang mengeluhkan bahwa putranya malasbelajar, kehilangan fokus saat belajar, atau menghabiskan waktuberjam-jam untuk bermain gawai. Mungkin sahabat ria ada juga mengalami hal demikian? Guru Agus Riyanto dan Guru Arga dari KGB Solo Raya membahas ini dalam KGB On Air – Ria FM Solo Apa hal pertama yang kita lakukan saat mendapati beberapa halseperti contoh di atas? Memarahi putra kita? Atau bahkan menyitagawai mereka? Atau mengancam akan dilaporkan guru di sekolahatau dengan perlakuan-perlakuan lain? Walau itu semua menjadi hak penuh kita selaku orang tua, tapi coba kita renungkan dulu deh, benar ngga cara-cara kekerasan seperti itu dapat menjadi solusi bagi putra kita? Kalaupun iya, benarkah bahwa besok kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi? Apakah kita harus marah-marah terus? Bukankah kelihatan konyol jika demikian adanya?! Sebagai orang tua, kita harus memaknai betul bahwa putra/i kita adalah amanah yang tak ternilai harganya. Sudah selayaknya kita memperlakukan mereka dengan penuh tanggung jawab. Orang tua harus menyadari betapa pokoknya peran kita dalam tumbuh kembang mereka. Tantangan kita dalam mendidik putra/i kita semakin hari terasa semakin berat. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadikan kita dilema. Perkembangan ini mustahil kita hindari, tapi juga jangan sampai memberangus peranan kita dalam mendidik putra/i kita terutama pada pewarisan nilai-nilai luhur kehidupan dan pewarisan norma yang berlaku di masyarakat. Teknologi adalah Musuh? Melihat perkembangan teknologi dan informasi saat ini yang sangat dinamis, apa sajakah hal-hal yang berpotensi menjadi musuh anak kita dalam tumbuh kembangnya? Setidaknya ada 4 hal yang berpotensi menjadi musuh bagi tumbuh kembang putra/i kita. Keempat hal tersebut yaitu: Gawai, Televisi, Pasar, dan Kendaraan Bermotor. Saya katakan berpotensi karena memang saat ini setidaknya mungkin kita menyesal telah membelikan gawai putra/i kita, atau membeli televisi yang menjadikan putra/i kita lebih tertarik untuk menghabiskan waktunya untuk gawai dan televisi. Kemudian untuk pasar, tempat ini sebenarnya bukan tempat yang harusdihindari juga. Hanya kita harus lebih berhati-hati saat mengajak putra/ikita ke pasar. Tempat berkumpulnya banyak orang dengan berbagai latarbelakang ini tentunya sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang putra/i kita terutama saat mereka dini (belajar berbicara). Betapa banyakkita mendengar cerita, bahwa seorang anak kecil ketika sepulang daripasar mampu mengucapkan kata-kata yang jarang kita ucapkan di rumah.Paham atau tidak paham, putra/i kita hanya menirukan, karena merekamemang peniru terbaik. Khusus kendaraan bermotor, saat ini sudah menjadi barang yang wajib dimiliki oleh semua orang. Kendaraan kita gunakan untuk mobilitas/ aktivitas kita sehari-hari. Barang ini berpotensi menjadi musuh anak jika putra/i kita yang mengendarai. Biasanya dialami oleh putra/i kita yang memasuki masa remaja. Sekitar kelas 4 SD mereka biasanya merengek untuk minta diajari atau lebih parah jika justru kita yang mengajari mereka. Memangku Teknologi Lalu bagaimana cara menghindari keempat potensi musuh bagi putra/i kita tersebut? Kita tahu bersama bahwa menghindari adalah mustahil. Sebagai orang jawa, tentu kita akrab dengan istilah pangkon. pangkon itu berfungsi untuk mangku semua aksara dalam penulisan jawa. pangkon hanya digunakan di belakang, kecuali sangat terpaksa maka wignyan digunakan di tengah, tapi ini jarang kita temui. Lalu apa kaitannya? Kaitannya sederhana saja, bahwa segala perkembangan secanggih apapun itu harus kita pangku kita dudukkan agar perkembangan tersebut tetap tunduk pada kendali kita. Potensi menjadi musuh ini tadi juga harus bisa kita pangku agar potensi ini menjadi hilang dan akan hadir kebermanfaatan. Inilah yang kita namakan berkawan dengan musuh. Toh sejatinya teknologi dibuat untuk memudahkan manusia itu sendiri bukan sebagai musuh atau ancaman. Menyikapi Potensi “Musuh” Anak Lalu bagaimana sebaiknya kita menyikapi 4 potensi musuh bagi anak-anak kita tersebut agar bisa menjadi kawan yang menyenangkan dan tidak mengganggu tumbuh kembang putra/i kita? Luangkan waktu untuk melakukan kegiatan bersama putra/i kita. Jangan sampai membiarkan mereka lebih intens bersama dengan gawai dan televisi. Luangkan waktu setengah atau satu jam untuk bermain bercengkerama bersama mereka. Kendalikan dan awasi tumbuh kembang anak kita. Berikan pendampingan saat mereka berinteraksi dengan keempat hal tersebut. Mungkin bisa dengan mengatur berapa lama boleh menggunakan gawai, berapa lama dan kapan boleh menonton televisi, kapan diajak ke pasar, dan bagus juga jika diberi pengertian kapan seseorang boleh mengendarai motor. Belajar untuk mencari tahu manfaat keempat tersebut dalam tumbuhkembang anak kita. Kita bisa memanfaatkan keempatnya sebagai media dan atau sumber belajar yang menyenangkan lho. Misal: Menggunakan gawai untuk belajar mengenal warna, nama binatang, dan lain-lain. Menonton televisi pada saat diputar film anak, dan atau diputarkan film dan lagu anak melalui vcd. Teman-teman di KGB Solo Raya pernah bekerjasama dengan inibudi.org beberapa waktu lalu membuat video pembelajaran. Pasar bisa dimanfaatkan untuk belajar jual beli, melatih keberanian anak, dan melihat orang-orang sekitar agar kita bisa mengambil hikmah. Kendaraan bermotor mungkin bisa dikenalkan tentang gas buang yang beracun, bahan baku membuat ban, bahan membuat rantai, bentuk ban dan lain-lain. Ajak putra/i kita berinteraksi dengan tetangga, ajak pergi ke rumah ibadah, dan biarkan mereka berada di dunianya. Dunia mereka sesungguhnya dunia belajar bersosialisasi, menyukai hal-hal baru, dan bermain. Dari interaksi ini akan muncul dengan sendirinya nilai-nilai kehidupan. biarkan mereka asik dengan dunia alamiahnya mereka. Paling penting yaitu keteladanan kita. Jangan sampai kita membatasi putra/i kita, tetapi pada saat yang sama kita menggunakan terutama gawai dan menonton televisi tanpa mengenal waktu. Mari mencoba untuk selalu menjadi contoh bagi putra/i kita. Kadang mereka seperti ini seperti itu, mungkin karena melihat dan meniru perilaku kita sebagai orang tuanya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah keniscayaan yang berjalan beriring dengan tumbuh kembang putra/i kita. Tugas kita sebagai orang tua adalah memastikan bahwa perkembangan iptek tadi dapat bermanfaat bagi tumbuh kembang putra/i kita. Tugas kita adalah merangkul potensi musuh tadi menjadi kawan bagi putra/i kita bukan menghindarinya. Mendampingi tumbuh kembang putra/i kita ibaratnya seperti bermain layang-layang. Layang-layang itu bisa terbang setinggi apapun, bergerak kekanan kekiri sesuai hembusan angin, tapi kita memiliki simpul untuk mengendalikannya. Simpul itu adalah kasih sayang kita.