Perilaku Guru Merdeka Belajar

“Sebagai seorang guru kita semestinya selalu berinovasi, open mind dan percaya bahwa kita tidak sendirian untuk membawa perubahan, cari rekan sejawat yang sevisi. Nah di KGB ini, kita dapatkan partner belajar yang siap untuk diajak berkolaborasi”. Tutur Pak Rolis Salah satu ungkapan gelora Baper (bawa perubahan) pada siang itu memenuhi area kelas SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo (22/05/19). Ada pancaran LCD yang menyala, ternyata para guru di Komunitas Guru Belajar Sidoarjo sedang nonton bareng. Wah, nontonnya gak segambarangan. Mereka menyaksikan Film Merdeka belajar. Kegiatan tersebut digagas olehkomunitas guru belajar nusantara & kampus guru cikal dalam rangka menyambut Hardiknas 2019. Nonton bareng Film Merdeka belajar hadir sebagai ajang bagi para pendidik untuk berefleksi terhadap upaya-upaya kita dalam mendidik anak. Pasalnya setelah nobar, para guru berdiskusi mengenai bagaimana pembelajaran yang selama ini disajikan. Analisis mengenai Kebemaknaan belajar siswa, seberapa dekat hubungan yang terjalin dengan siswa, realisasi praktik literasi sampai upaya yang akan dilakukan para guru menyikapi masalah & tantangan yang ada. Seperti pernyataan Guru Enik berikut. “Di acara ini, kita bisa berbagi praktik baik melalui aktivitas refleksi terhadap pembelajaran yang telah kita laksanakan mulai dari miskonsepsi literasi, kebiasaan copypaste RPP dan sebagainya. Selain itu, selepas acara ini, kita akan kolaborasi bersama untuk menularkan virus merdeka belajar di lingkungan sekolah masing-masing”. Keseruan acara nobar terletak pada sesi refleksi. Pada seremoni ini, kami berbagi kisah, pengalaman bahkan curhat menjadi bagian yang penuh balutan emosi. Kisah Guru Syifa menarik perhatian peserta kala itu. “Anak itu tidak pernah tersenyum. Ia selalu terlihat murung. Sesekali terlihat merenung. Ada apa sebenarnya? Berbagai cara kucoba untuk membuatnya tersenyum, mulai dari mengajaknya untuk tersenyum, bercerita humor, senam wajah tapi belum berhasil. Kucoba cari tahu. Home visit pun aku tunaikan. Ternyata akar masalahnya ada pada kebiasaan si anak & orang tua. Saat di rumah, si ibu asyik sendiri dengan HP-nya. si anak dibiarkan belajar dengan sendirinya. Dari situlah, sang anak menjadi pribadi yang pemurung. Sejak saat itu, kubangun komuikasi dengan orang tua. Kusarankan pada ibunya agar sebelum tidur, si anak diajak untuk tersenyum dan ditemani saat belajar serta diajak komunikasi mengenai aktivitas harian si anak. Tak hanya itu, di kelas aku sampaikan mengenai hadits tentang pahala orang yang tersenyum, membiasakan anak-anak untuk tesenyum saat awal & akhir KBM serta saat saat berpapasan/ bertemu dengan teman, guru dan orang lain di jalan seraya berucap salam. Alhasil upayaku berhasil. Sungguh kebahagian yang tiada tara sebagai pendidik saat sukses menghantarkan anak didiknya”. Dari pengalaman Guru Syifa dan para guru lain yang saat itu hadir, kami sadar bahwa menjadi guru merdeka belajar harus memiliki komitmen yang diwujudkan dengan kemandirian untuk menemukan paduan yang pas antara kurikulum, kebutuhan murid dan situasi lokal. Kemudian, guru merdeka juga harus reflektif, berani meminta umpan balik secara aktif danmenilai diri sendiri dengan objektif. Mulai sekarang, kami sepakat bahwa pengembangan kemerdekaan guru bukan sekadar soal mengubah kebijakan, tetapi perilaku harian yang muncul dari kita, dari pembelajaran yang kita hadirkan, seberapa jauh mejangkau diferensiasi murid dan seberepa dekat kita memanusiakan hubungan dengan murid. Sebagaimana ungkapan Bu Najelaa Shihab, “Guru Merdeka itu tak hanya memahami kewajiban, tetapi juga memiliki otonomi dan menggunakan otoritas dengan bijak”. Terima kasih Kampus guru cikal yang telah menggerakkan para guru se-nusantara untuk menjadi guru pembelajar sepanjang hayat. Salam Guru Merdeka Belajar!!!

Menyebarluaskan Prinsip Merdeka Belajar

Bulan ini adalah waktu sibuk bagi kami guru menjelang akhir tahun. Kesibukan menyelesaikan materi dan menjelang PAT. Perasaan yang sangat acak kami rasakan. Di tengah perasaan ini, alarm ajakan untuk menjadi guru merdeka belajar berbunyi. Seketika cukup menggetarkan hati kami, para guru yang tergabung dalam Komunitas Guru Belajar Pekalongan. Ada semangat untuk memulai aktivitas menjadi penggerak karena keresahan yang kami rasakan, namun di sisi lain kami sebagai calon penggerak barumerasa bingung. Menjadi penggerak itu yang bagaimana, sudahkah aktivitas merdeka belajar itu hadir di kelas-kelas kami atau belum. Semangat terus naik namun beriringan dengan kebimbangan yang terus muncul. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk berdiskusi dan mencari tahu, bagaimana aktivitas merdeka belajar yang sesungguhnya. Salah satu hal yang saya senangi di Komunitas Guru Belajar Pekalongan adalah membaurnya penggerak dengan anggota. Mungkin itu juga yang akhirnya menarik minat banyak anggota untuk turut serta bergerak dalam pendidikan yang lebih baik di Pekalongan. Kami (penggerak dan anggota) mendiskusikan bersama tentang apa itu merdeka belajar dan mekanisme menjadi penggerak. Tak ada sekat yang menghalangi kami untuk berdiskusi. Penggerak yang sudah aktif dengan senang hati menawarkan diri untuk membantu, sekedar memfasilitasi pertanyaan dengan tim Kampus Guru Cikal sampai ada yang menawarkan rumah dan peralatan nobar bagi calon penggerak. Kampus Guru Cikal sedang menyuarakan gerakan nobar Guru Merdeka Belajar. Akhirnya disepakati untuk mencari jawaban melalui kegiatan nobar tersebut. Penggerak yang sudah aktif memberikan kesempatan kepada calon penggerak untuk menjadi moderator dan memprakarsai acara, dari sejak awal membuat poster, mendaftarkan acara ke tim Kampus Guru Cikal, mengkoordinir peserta untuk nobar, dan mengadakan nobar kemudian membuat laporan. Saya adalah calon penggerak pertama yang mengadakan sesi nobar dengan bantuan penggerak yang sudah aktif. Awal kali bersepakat untuk mengadakan nobar di rumah Guru Niken, namun karena ada beberapa hal yang perlu disesuaikan jadwalnya dengan rapat ransel, akhirnya diputuskan nobar diadakan di rumah Guru Niam, tanggal 18 Mei 2019. Sebelum memulai nobar, saya mencoba membuka kembali obrolan tentang apa itu merdeka belajar ? Apa yang sudah kita pahami selama ini tentang merdeka belajar ? Beberapa guru menjawab merdeka belajar adalah bebas untuk belajar tanpa ada paksaan. Rata-rata jawaban berkutat seputar itu. Karena sudah tidak ada jawaban lain lagi, saya putarlah video merdeka belajar dari Bu Ela untuk mencari pencerahan bersama-sama, apa sih sebenarnya makna merdeka belajar itu. Dari penanyangan video tersebut, kami menemukan jawaban bahwa merdeka belajar itu berangkat dari keresahan bahwa dunia anak-anak hanya terbatas di ruang kelas. Mimpinya hanya terbatas oleh tingginya tangan mereka untuk menjawab pertanyaan guru. Padahal yang kita inginkan adalah anak-anak yang memiliki aspirasi yang tinggi, cita-cita yang tinggi melampui langit. Dan ini hanya baru akan terjadi ketika anak-anak itu memiliki kemerdekaan belajar dalam diri mereka. Sementara itu, agar anak-anak memiliki kemerdekaan belajar dalam diri mereka, pendidik harus terlebih dahulu memiliki kemerdekaan belajar.Beberapa kalimat tersebut membuat peserta nobar semakin bertanya, lantas apa itu sebenarnya merdeka belajar ? dan inilah hasil pembelajaran yang kami dapatkan. Ada beberapa esensi merdeka belajar, yaitu : komitmen, kemandirian, dan refleksi. Komitmen. Komitmen adalah fokus terhadap tujuan. Permasalahan kita sebagai pendidik saat ini adalah sulitnya membedakan antara cara dan tujuan. Kita masih terjebak pada tugas administratif dan keterikatan dengan birokrasi, yang seharusnya itu semua hanyalahcara kemudian menjadi tujuan dan prioritas bahkan lebih tinggi dari tujuan awal menjadi pendidik itu sendiri. Kemandirian. Banyak upaya pengembangan guru yang penuh manipulasi berupa insentif atau tunjangan lain yang membuat guru menjadi sulit untuk memegang kendali atas proses belajar dan mencapai kemandirian dalam belajar. Refleksi. Sebagian dari kita cenderung menutup mata dan menolak untuk melihat cermin namun lebih suka menyalahkan pihak lain di luar diri kita. Inilah yang sebenarnya menghambat kita untuk menjadi pendidik yang merdeka. Dari 3 esensi menjadi guru merdeka belajar di atas, saya melemparkan beberapa pertanyaan refleksi. Diskusi berjalan dengan sangat mengalir, satu sama lain saling bersahut memberikan refleksi tanda memiliki keresahan yang sama. 1. Apa yang dipahami tentang merdeka belajar setelah menonton video tersebut ? “Merdeka belajar adalah memiliki komitmen yang kuat terhadap pendidikan yaitu membuat murid menjadi berdaya, memiliki kemandirian terhadap kelas yang kita ajar dan selalu refleksi di akhir pembelajaran. Namun saya membayangkan ini adalah hal yang cukup sulit untuk dilakukan. Mungkin bisa jadi awalnya kita sudah idealis memiliki tujuan kemudian merumuskan cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut, namun seringkali cara tersebut tidak berjalan saat kita dihadapkan pada tekanan-tekanan eksternal, misalnya waktu ulangan yang semakin mepet, agenda sekolah yang semakin sedikit karena penyesuaian kebijakan dan sebagainya. Ditambah lagi, kita masih sering lupa refleksi. Padahal refleksi yang akan membantu kita untuk mengevaluasi diri, proses mana yang terlewat dalam menerapkan merdeka belajar di ruang kelas kita. Hasilnya, penerapan cara yang masih sulit karena banyaknya tekanan dari luar tadi kurang terefleksikan. Proses mengajar berasa menjadi sebuah rutinitas tanpa mengarah pada tujuan” ucap Guru Rayinda 2. Apakah selama ini kita sudah menjadi pendidik yang menerapkan kemerdekaan dalam belajar ? “Saya tidak tahu apakah saya sudah bisa disebut sebagai guru merdeka belajar atau belum, sebab selama ini saya sendiri juga masih terbawa tuntutan untuk mengikuti berbagai macam yang terkadang aturan-aturan tersebut melupakan kemerdekaan belajar bagi murid. Namun sebisa mungkin saya berusaha untuk tetap bisa mengendalikan suasana belajar di kelas saya. Suatu malam tiba-tiba muncul ide untuk menerapkan pembelajaran dengan film, sebagaimana pelatihan yang sudah saya dapatkan melalui KGB Pekalongan bekerja sama dengan Sinedu dan Kampus Guru Cikal. Respon anak-anak luar biasa, mereka bisa refreshing sambil belajar, tanpa menghilangkan sisi pembelajaran. Kebetulan waktu itu adalah watunya belajar tentang unsur intrinsik dan ekstrinsik. Namun itu tadi, terkadang sulit untuk mengatur ritme karena ada tuntutan aturan dari lingkungan ekosistem tempat kami bekerja.” Ucap GuruZidnil 3. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya untuk menerapkan merdeka belajar ? Guru Niam sebagai pendamping kegiatan nobar kami memberikan jawaban yang mencerahkan dan membangun semangat kami kembali. “Oleh karena itu agar kita tidak terlalu kesulitan untuk menerapkan kemerdekaan belajar, hal yang harus kita lakukanadalah dengan mengajak sebanyak-banyaknya teman yang berada di lingkungan ekosistem kita untuk sama-sama merdeka. Dengan begitu kita akan lebih memiliki power untuk bergerak bersama menjadi guru merdeka belajar”. Ya betul, disadari peserta nobar yang datang kala itu berasal dari sekolah yang berbeda-beda. Artinya … Read more

Guru Merdeka Belajar, Belajar tanpa Janji Sertifikat

“Apakah Ibu dan Bapak guru merasa merdeka? Kalau tidak merasa merdeka tidak perlu ada, datang, dan belajar, karena itu resep dasar sebetulnya,” kata Najelaa Shihab. Rabu (1/05) siang, empat orang guru menempuh perjalanan berjarak kiloan meter dari sudut-sudut yang berbeda, di dalam satu kota yang sama, Kota Cimahi. Tepat satu hari sebelum peringatan Hari Pendidikan Nasional. Mereka bergerak atas inisiatif pribadi, mengalokasikan waktu, tenaga, danbiaya untuk bisa sampai ke lokasi SD Peradaban Insan Mulia. Tempat di mana Komunitas Guru Belajar (KGB) Cimahi menggelar Nonton Bareng Merdeka Belajar (#NobarMerdekaBelajar). Kegiatan dibuka oleh Guru Suhud dengan menampilkan beberapa gambar unik, sebagai medium untuk lebih mencairkan suasana di antara peserta. Dilanjutkan dengan kegiatan pra-menonton, seluruh peserta diminta menjawab terlebih dahulu, “Apa itu Merdeka Belajar?” Peserta memperoleh kertas kecil untuk menuliskan jawaban dari pertanyaan tersebut. Selesai menulis, semua peserta mendiskusikan apa yang telah dituliskan. Beragam jawaban peserta mengenai merdeka belajar. Ada yang mendefinisikan, “Merdeka belajar artinya guru dan siswa sepakat dengan tujuan yang hendak dicapai”. Ada juga yang memandang, “Merdeka belajar adalah tanpa paksaan.”. Pendapat lainnya muncul, “Merdeka belajar adalah menjalani belajar sebagaimana fitrah manusia, alamiah dan muncul dari internal diri sendiri.” Di sesi ini, peserta hanya saling menyampaikan pendapat. Berikutnya adalah sesi pemutaran Video Merdeka Belajar. Di ruang yang redup, peserta mulai memfokuskan diri pada tayangan yang diproyeksikan ke layar. Nampak inisiator Komunitas Guru Belajar, Najelaa Shihab berada di atas panggung. Peserta #NobarMerdekaBelajar terlihat mulai membenarkan letak duduk dan memfokuskan perhatian pada apa yang ada dalam tayangan. Dibuka dengan penuturan Bu Elaa, sapaan akrab Najelaa Shihab, mengenai apa dan kenapa ‘Merdeka Belajar’. “Pada saat kita bicara merdeka belajar, Ibu dan Bapak. Saya tuh selalu terbayang anak-anak. Sebagian besar anak Indonesia itu dunianya hanya sebatas ruang kelasnya, mimpinya hanya terbatas tingginya tangan untuk menjawab pertanyaan gurunya,” kata Bu Elaa. Peserta #NobarMerdekaBelajar nampak bereaksi, terdengar tawa kecil yang satir, juga terlihat pergeseran posisi tubuh, kalimat tersebut seperti memantik kegelisahan pada peserta Nobar hari ini. “Yang kita inginkan adalah anak-anak yang punya aspirasi tinggi, yang punya cita-cita melampaui langit. Melampaui batas ruang kelas, melampaui batas dunianya. Dan ini hanya akan terjadi pada saat anak-anak punya kemerdekaan belajar. Tapi kemerdekaan belajar murid-murid hanya akanterjadi pada saat kita sebagai pendidik juga sebetulnya memiliki kemerdekaan,” lanjut Bu Elaa. Ada beberapa hal esensial yang disampaikan dalam tayangan. Dikemukakan bahwa ada 3 ciri utama pendidik yang ‘Merdeka Belajar’. Pendidik yang merdeka memiliki komitmen, memiliki kemandirian, dan selalu reflektif. Selanjutnya, dipaparkan mengenai ragam miskonsepsi yang kerap dilekatkan pada guru. Diantaranya mengenai stigma bahwa guru hanya mau belajar apabila mendapatkan sertifikat atau uang. Namun Guru-guru di KGB justru melawan miskonsepti tersebut. “Guru-guru belajar yang hadir hari ini sebetulnya belajar karena kebutuhan alamiah. Banyak yang tidak percaya bahwa rekan-rekan guru ini datang dengan biaya sendiri, tanpa janji sertifikat atau uang apapun, hanya untuk belajar,”Bu Elaa menegaskan. Miskonsepsi lainnya adalah mengenai stigma bahwa guru hanya bisa belajar dari ahli atau pakar pendidikan, faktanya di komunitas belajar, guru saling belajar dari pengalaman rekan seperjalanan; guru diburu target belajar yang dipaksakan, padahal guru belajar itu butuh waku; bahwa guru hanya cukup perlu diberikan cara bagaimana melakukan (how to) saja, tanpa perlu tau mengapa (why) perlu melakukan suatu hal dalam pembelajaran. Padahal jelas Bu Elaa,”Guru profesional itu sebetulnya guru yang adaptif, Ibu dan Bapak. Kita yang ketemu anak setiap hari tau, betapa pentingnya peran guru yang adaptif. Setiap tahun ajaran, setiap minggu, bahkan setiap hari. Setiap murid kita butuh hal yang berbeda dari kita, sehingga ‘tau kenapa’ menjadi sangat esensial.” Menit ke menit tayangan diputar, akhirnya sampai pada menit terakhir. Selepas Nobar, peserta melakukan refleksi bersama-sama. Ada daftar pertanyaan yang perlu dijawab terlebih dahulu oleh masing-masing orang, selanjutnya jawaban dari tiap orang menjadi bahan diskusi pasca-Nobar.Dari refleksi peserta yang hadir, didapati salah satu tantangan yang masih menjadi topik hangat adalah seputar ‘target belajar yang dipaksakan’ dan ‘tuntutan administratif yang kerap kali mengaburkan komitmen pada tujuan pendidikan.’ “Banyak yang tidak sadar bahwa belajar butuh waktu. Sehingga yang dikejar adalah yang penting materi (red-pelajaran) tersampaikan,” ungkap salah satu peserta Nobar, Gilang Purnama. Mengenai perubahan apa yang kemudian ingin dilakukan, peserta lain Siti Nuraini mengemukakan, “Saya ingin menanamkan motivasi intrinsik siswa, apa alasan siswa harus belajar? Sehingga siswa mempunyai kesadaran dan kebutuhan, juga dorongan untuk belajar yang berasal dari dalam dirinya sendiri.” Pertanyaan terakhir yang menjadi topik diskusi adalah “Apa yang ingin teman-teman lakukan bersama Komunitas Guru Belajar (KGB)?”. Diskusi berkembang pada bahasan lebih dalam mengenai KGB. Tentang tujuan dan nilai-nilai yang melandasi KGB. Juga dinamika yang terjadi di dalam KGB,khususnya KGB Cimahi. Dan bahasan mengenai KGB menjadi penutup kegiatan hari ini sekaligus menjadi awal bergabungnya Gilang dan Siti sebagai bagian dari ‘Penggerak KGB Cimahi’. “Kita sendiri sebagai individu itu beragam sehingga yang kita lakukan di sini adalah membuat jaringan, jaring pengetahuan juga jaring emosional. Dan saya yakin inilah sesungguhnya demokrasi dalam pendidikan. Dan saya yakin kita bisa sepakat bahwa membuat jaring-jaring ini dan memerdekakan diri kita sendiri sebetulnya esensi dari merdeka belajar. Bahwa apa yang kita lakukan adalah yang kita nanti-nantikan. Jadi kita tidak perlu menunggu siapapun untuk merdeka belajar.” Kata Bu Elaa pada menit-menit terakhir video yang “Memerdekakan diri kita sendiri sebetulnya esensi dari merdeka belajar. Bahwa apa yang kitalakukan adalah yang kita nanti-nantikan. Jadi kita tidak perlu menunggu siapapun untuk merdeka belajar.” tutup Bu Elaa dalam tayangan Video Merdeka Belajar.

Guru Merdeka Belajar ,Mengulik Miskonsepsi Guru Belajar

Apa sih merdeka belajar itu?Kenapa belajar harus merdeka?Lho kok belajar ada miskonsepsinya? Bagaimana cara agar bisa merdeka belajar dan menangani miskonsepsi itu? Pada tanggal 12 Mei 2019 KGB kudus mengadakan nobar atau nonton bareng video Guru Merdeka Belajar. Apa pentingnya sih acara nobar ini?Di dalam video guru merdeka belajar ini, mengulik keseluruhan miskonsepsi dalam pendidikan di era sekarang. Banyak sekali yang menjadi penghambat guru mengembangkan dirinya, dan mungkin menyebabkan pembelajaran di kelas jadi “membosankan” alias “bikin ngantuk!”. Tidak hanya miskonsepsi yang dibahas dalam kegiatan nobar ini, ada pula cara bagaimana menjadi guru yang merdeka belajar. Nah dari sini kita bisa tau, kenapa bisa begitu? Bagaimana solusinya agar guru bisa merdeka belajar serta mengembangkan dirinya? Ada beberapa susunan acara, sebelum pemutaran video, moderator menanyakan apa yang dipahami oleh peserta tentang merdeka belajar. Guru Shofi berpendapat, “Merdeka belajar tanpa terlalu terkekang dengan administrasi”. dan ada juga yang berpendapat Guru Ayu, “Guru yang dapat memotivasi diri sendiri untuk menciptakan hal baru dalam pembelajaran dan mampu belajar terus”. Kemudian dilanjutkan dengan pemutaran video dengan durasi 15 menit. Dalam video tersebut memaparkan beberapa cara mejadi guru yang merdeka belajar dan miskonsepsi yang memang terjadi sekarang ini. Menjadi guru yang merdeka belajar terdapatbeberapa hal yang essensial, pendidik yang merdeka itu punya komitmen, memiliki kemandirian dan berefleksi. Berkomitmen dengan tujuan, yang menjadi tantangan dalam hal ini adalah kita lupa membedakan cara dengan tujuan. Kita terjebak pada tugas – tugas administratif, akkreditasi, ketentuan birokrasi yang sebenarnya semua hanya cara namun kemudian menjadi tujuan dan prioritas utama. Hal yang kedua kemandirian, ini perlu adanya tingkatan – tingkatan seperti manipulasi, kesadaran, interaksi/dialog, masukan/konsultasi, kemitraaan, pemberdayaan, memegang kendali atas proses belajar kita sendiri dan mejadi guru mandiri. Melakukan tingkatan – tingkatan tersebut bukan lah hal mudah tentunya, perlu konsistensi yang tinggi untuk menuju puncak tingkatan. Yang terakhir adalah refleksi, yang mudah dikatakan namun sulit untuk melakukan. Kita cenderung menutup mata menolak melihat cermin dengan seribu alasan. Kita selalu bilang, masyarakat belum paham, anak – anak tidak mengerti, orang tua akan menentang, padahal itu adalah ketakutan kita sendiri untuk menuju berubahan. Menjadi guru yang merdeka belajar tentu ada hambatan dan permasalahan yang kompleks di era pendidikan sekarang. Adanya beberapa miskonsepsi seperti belajar diburu target yang dipaksakan, sedangkan belajar itu sendiri butuh waktu. Bukan hanya 1 hari 2 harimateri selesai untuk mengejar kompetensi dasar untuk memenuhi nilai capaian KKM. Belajar cukup terbatas “How to?” padahal belajar harus dengan tujuan dalam konteks. Tak melulu membaca buku teks mejawab pertanyan, mengisi LKS, namun harus ada penjelasan dan contoh yang mungkin bisa berupa pengamatan sederhana dikaitkan dengan kehidupansehari- hari agar mengena. Bagaimana guru dapat mengatasi permasalahan tersebut? Jawabannya adalah guru harus merdeka belajar. Guru mau belajar kembali. Bukan belajar perlu intensif eksternal, bukan hanya untuk mendatkan sebuah poin tertentu, ataupun sebuah penghargaan namun belajar sebagai kebutuhan alamiah. Harus membaca lagi, harus melakukan riset dengan hasil inovasi pembelajar yang mampu diterapkan didalam kelas. Terakhir belajar tak melulu harus dari ahli namun bisa belajar dari sesama guru. Saling berbagi informasi dan pengalaman, materi maupun treathmen terhadap anak yang perlu perlakuan “khusus” dikelas dengan berbincang santai tapi penuh makna. Setelah pemutaran video, peserta diajak untuk merefleksikan dengan durasi 30 menit. Beberapa peserta mengutarakan pengalamannya berkaitan denga miskonsepsi tersebut. Seperti contohnya miskonsepsi belajar perlu intensif eksternal, Guru Shofi berpendapat, “Kebanyakan guru yang mau belajar hanya untuk mendapatkan sertifikat dan imbalam sekolah.” Dalam konteks miskonsepsi lainnya belajar diburu target yang dipaksakan, Guru Tika berpendapat,“Terkait administrasi dan untuk mengejar akreditasi nilai siswa harus mencapai KKM bagaimanapun caranya.” dan masih banyak pendapat lainnya yang muncul terkait miskonsepsi guru merdeka belajar dilingkungan sekolah. Selain pendapat tersebut banyak peserta yang mengemukakan pendapat untuk mengembangkan beberapa inovasi yang menjadi salah satu langkah memerdekakan kelasnya, salah satunya ingin membuat sebuah produk dari KGB Kudus yang dapat dimanfaatkan dan ditiru oleh guru-guru tidak hanya tersekat dalam ruang kelas, namum dapat memanfaatkan apa yang ada dilingkungan sekitar untuk menjadi media belajar. Melakukan sebuah perubahan dan meminimalisir miskonsepsi ini, resep utamanya adalah guru yang mau terus belajar. Mencari bagaimana cara membuat inovasi,mengembangkan diri menjadi guru yang merdeka belajar, dengan tahapan berkomitmen dengan tujuan, meningkatkan kemandirian dengan memegang kendali proses belajarnya sendiri, yang selalu membuka mata hati dan pikiran untuk melakukan refleksi diri. Tentunya dengan penuh semangat, kesadaran maupun rasa tanggung jawab agar tujuan pembelajaran tercapai dan bermakna menuju perubahan pendidikan Indonesia yang lebih baik lagi.

Pendidikan adalah Urusan Kita Bersama – Kolaborasi Komunitas Banjarnegara

Tanggal 2 Mei 2019, kita semua memperingati Hari Pendidikan Nasional. Pendidikan yang dinilai sebagai salah satu tolak ukur kemajuan bangsa, seringkali dianggap sebagai urusan sebagian orang saja. Pendidikan dianggap sebagai urusan dinas pendidikan, guru, sekolah dan pemerintah. Padahal semua orang yang pernah merasakan pendidikan, sejatinya memiliki kewajiban untuk mendidik. Semua orang sebenarnya bisa terlibat di dunia pendidikan. Berbagai kegiatan mulai dari rumah baca di sekitar lingkungan rumah kita, sampai komunitas-komunitas sosial pendidikan banyak bermunculan dengan inisiatif sebagian orang. Terkadang banyak orang seolah menutup mata dengan keberadaan rumah baca dan komunitas sosial pendidikan di sekitar mereka. Sehingga perlu diadakan kegiatan yang melibatkan semua penggerak komunitas untuk bersama-sama mengajak lebih banyak orang untuk bergabung. Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional 2019, beberapa komunitas sosial pendidikan dan rumah baca mengadakan sosialisasi di area Car Free Day Alun-alun kota Banjarnegara. Acara dimulai dari pukul 06.00 sampai 09.00 WIB. Penggerak masing-masing komunitas ternyata memiliki kendala yang sama dalam menjalankan program-programnya, yaitu kurangnya relawan yang mau terjun langsung bergerak untuk pendidikan. Oleh karena itu, mereka berinisiatif bergerak bersama untuk menunjukkan pada masyarakat, bahwa di kota Banjarnegara memiliki berbagai organisasi dan komunitas yang sangat terbuka untuk semua orang yang ingin berkontribusi di dunia pendidikan. Beberapa komunitas yang terlibat di acara ini antara lain, Sekolah Inspirasi Pedalaman Banjarnejara, Kampung Dongeng Banjarnegara, Sahabat Difabel Banjarnegara, Rumah Baca Komunitas Kauman Banjarnegara, Sekolah Cerdas (Ceria, Damai, Siaga) dan Komunitas Guru Belajar Banjarnegara. Rumah Baca Komunitas Kauman Banjarnegara mengadakan baca buku gratis untuk anak- anak dan orang dewasa. Kampung Dongeng Banjarnegara mengedukasi anak-anak melalui cerita menarik oleh Kak Mifta Resti dan boneka kecilnya Kia. Cerita yang disampaikan sesuai dengan tema dari Sekolah Cerdas, yaitu mengajarkan anak-anak untuk siap siaga terhadap bencana alam gempa bumi dan tanah longsor. Hal ini penting karena Banjarnegara sendiri adalah daerah yang rawan terhadap bencana alam gempa bumi dan tanah longsor. Sekolah Cerdas juga memberikan edukasi kesiapsiagaan bencana melalui permainan papan (board game) yang sangat menarik untuk anak-anak. Ada juga Komunitas Sahabat Difabel yang bekerjasama dengan Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia), mengadakan Kelas Bahasa Isyarat kepada para pengunjung Car Free Day secara gratis. Banyak masyarakat belum mengetahui cara berkomunikasi yang nyaman dengan teman-teman penyandang difabel rungu. Para pengunjung terlihat antusias mengikuti Kelas Bahasa Isyarat dan mengusulkan agar kegiatan ini diadakan secara rutin. Sekolah Inspirasi Pedalaman Banjarnegara melakukan sosialisasi kegiatan dan penggalangan dana dengan menjual merchandise yang keuntungannya untuk donasi kegiatan di desa Pesangkalan. Komunitas Guru Belajar Banjarnegara mengajak masyarakat khususnya yang berprofesi sebagai guru untuk mengikuti Temu Pendidik Daerah yang akan dilaksanakan setelah Car Free Day di Rumah Baca Komunitas Kauman. Temu Komunitas Pendidikan se-Banjarnegara yang awalnya hanya diinisiasi oleh 4 orang penggerak akhirnya berhasil mengajak banyak orang yang terlibat dengan sukarela. Walaupun kegiatan ini berlangsung mendadak dan terkesan kurang persiapan yang matang, namun kami yakinini tetap memberikan dampak positif untuk masyarakat Banjarnegara. Setidaknya banyak orang yang lebih mengenal komunitas sosial pendidikan dengan lebih dekat. Banyak juga relawan yang merasa lebih ringan jika bekerja bersama-sama. Karena urusan pendidikan bukan hanya urusan segelintir orang saja, maka kami memilih kerja barengan untuk pendidikan yang lebih baik.

Kobarkan Semangat Merdeka Belajar

Bertepatan dengan momentum Hari Pendidikan Nasional, KGB Semarang mempersembahkan sebuah event berbasis pelatihan bertemakan “Guru Merdeka Belajar”. Pelatihan ini tercipta dari sebuah amanah yang diberikan Kampus Guru Cikal kepada Komunitas Guru Belajar Semarang. bertempat di Qita Yoga Studio Jalan Kyai Saleh 13 Semarang, acara ini berlangsung dari pukul 08.00 hingga 12.00 WIB. Guru Merdeka Belajar, sebuah tagline yang tidak asing kita dengar namun, sudahkah semua guru memaknai arti di dalamnya? Pelatihan Guru Merdeka Belajar bertujuan supaya seorang guru mengalami pengalaman merdeka belajar, memahami hakikat belajar dan memahami miskonsepsi guru belajar. Merdeka belajar adalah sebuah pondasi untuk pengembangan diri seorang guru serta sebagai wadah untuk melakukan praktik pembelajaran yang bermakna untuk murid. Diikuti oleh kurang lebih 20 peserta, pelatihan berjalan begitu aktif dan kondusif. Acara yang berlangsung kurang lebih 3 jam ini pertama-tama dipandu oleh Guru Rosa dari KGB Semarang. Tak pernah lupa untuk mencairkan suasana pelatihan GMB ini, maka diawalilah dengan ice breaking dan beberapa games. Memasuki acara selanjutnya, yaitu orientasi yang dibawakan oleh Guru Erna. Orientasi ini meliputi pembahasan kesepakatan kelas, pengisian SIP oleh peserta pelatihan dan memastikan bahwa peserta telah mengisi assessment Pra Pelatihan GMB. Sebuah kata membuka sesi pertama acara inti ini, “Sebenarnya setiap saat seorang guru mempunyai pengalaman yang sangat berharga. namun sayang, tak ada yang mau mendengarkan pengalaman itu, termasuk guru itu sendiri.” Guru Anik sebagai narasumber lantas memaparkan beberapa masalah dan miskonsepsi yang ada di pada dunia pendidikan. Kemudian Guru Anik juga memvisualisasikannya dengan mengajak peserta pelatihan untuk role playing terhadap suatu pembelajaran di kelas menggunakan metode direct instruction dan diferensiasi. Awalnya peserta dibagi menjadi beberapa kelompok, dan setelah role playing usai, peserta diminta untuk mendiskusikan perbedaan yang ada pada dua metode. Dari hal tersebut, Guru Anik menarik benang merah tentang apa itu merdeka belajar dan bagaimana praktiknya dalam kelas. Para peserta juga melakukan refleksi individu, kemudian refleksi berkelompok terkait jenis pengajaran yang bagaiman yang harus dihentikan, mana yang dilanjutkan dan mana yang diperbaiki. Pada sesi kedua, Guru Anik memutarkan sebuah video pendek dari seorang sosok guru yang menginspirasi bernama Ameliasari dari Salatiga. Peserta dibuat terkagum-kagum akan perubahan dari Guru Amel yang awalnya hanya mementingkan hasil semata menjadi guru yang memperhatikan proses juga menginspirasi. Pelatih juga mengajak peserta untuk memahami pengembangan diri guru, kompetensi yang ada pada guru serta karier guru melalui 4 kunci pengembangan guru. Pelatihan semakin terasa kebermanfaatannya setelah memasuki sesi tanya jawab. Bahkan kisah haru pun tercurahkan dari seorang peserta pelatihan yang menceritakan tantangannya mempraktikkan dan mengajak rekan sesama pendidik mengobarkan semangat merdeka belajar dalam kelas. Tak mudah memang, apalagi sampai dibilang “Anak kemarin sore kok begitu”. Sesi pelatihan ini ditutup dengan refleksi dan pemberian challenge untuk peserta pelatihan. Binar mata seorang guru yang merdeka belajar pun mulai terpancar dari para peserta pelatihan GMB ini. Tetap kobarkan semangat merdeka belajar kepada sesama pendidik dan menjadi teladan sepanjang hayat bagi para murid. Mengajar dengan sepenuh hati, bukan lagi tergoda oleh sertifikasi maupun nilai-nilai kompetensi. Saya Guru Merdeka Belajar. Semarang, 2 Mei 2019Komunitas Guru Belajar Semarang.

Guru Merdeka Belajar, Melakukan Refleksi Terhadap Miskonsepsi Belajar

Pada hari Minggu, 5 Mei 2019 jam 09.00 WIB, Komunitas Guru Belajar (KGB) Depok mengadakan kegiatan Temu Pendidik Daerah Depok ke-14 (TPD Depok #14) bertempat di Space room Perpustakaan Umum Kota Depok. TPD Depok #14 ini memiliki kegiatan inti Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar. Kegiatan TPD Depok #14 ini dimoderatori oleh saya sendiri Lia, sebagai salah satu penggerak dari KGB Depok. Kegiatan yang seharusnya dimulai jam 09.00 ternyata baru dimulai pada pukul 09.30 dikarenakan pada jam 09.00 jumlah peserta yang datang baru 4 orang dari 18 orang yang konfirmasi hadir. Setelah menunggu 30 menit akhirnya kegiatan dibuka dengan peserta yang hadir 6 orang. Setelah Kegiatan ini dimulai dengan pembukaan dan kesepakatan bersama supayakegiatan ini berjalan nyaman dan lancer, peserta diminta untuk mengisi daftar hadir online. Meski mengalami keterlambatan acara, tetapi tidak menyurutkan semangat peserta hal ini terlihat saat saya selaku moderator menanyakan “Apa yang Anda pahami tentang Merdeka Belajar?” Walau sebagian peserta ada yang berkata bahwa mereka baru mendengar kata Merdeka Belajar tetapi mereka mau memberikan pandangannya mengenai Merdeka Belajar itu sendiri. Bagi mereka Merdeka Belajar adalah suatu kebebasan untuk guru berekspresi dalam mengajar dan berkembang dalam belajar serta tidak tertuntut administrasi yang berjubel. Masuk ke kegiatan inti yaitu nonton bareng Guru Merdeka Belajar sebuah video Ibu Najelaa Shihab pada Temu Pendidik Nusantara 2016. Selesai menonton moderator melakukan refleksi. Pada pertanyaan pertama, mengenai miskonsepsi pendidikan, peserta antusias menceritakan kondsi yang mereka alami. Salah satunya adalah Bu Levy dari MTsN 1 Depok. Beliau mengatakan bahwa rekan-rekan guru di sekolahnya masih mencari insentif dan sertifikat dalam belajar, padahal belajar adalah kebutuhan kita sebagai guru. Dan pemerintah pun memaksa kita untuk belajar pada yang ahli, sertifikat menjadi bukti bahwa kita mengikuti pelatihan dan sebagai syarat dalam kenaikan pangkat serta jenjang karir guru. Semua peserta menyetujui dan sepakat bahwa menjadi guru merdeka belajar haruslah memiliki komitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara belajar dan melakukan refleksi, walaupun menurut Kak Faiz melakukan refleksi bagi seorang guru itu cukup sulit karena terkadang ego kita seperti tidak mau disalahkan ketika kegiatan tidak berjalan sesuai rencana. Disini, semua peserta mau menjadi Guru Merdeka Belajar dan telah membuat komitmennya masing-masing dan akan melakukan perubahan pada kelasnya, salah satunya adalah Bu Pipit yang mengatakan bahwa beliau ingin lebih berkomunikasi dengan siswa-siswanya di TPA, bahwa belajar adalah kebutuhan mereka bukan karena paksaan orang tua, dan mau lebih variatif dalam mengajar sehingga siswa dapat merasakan pula kemerdekaan belajar. Sebelum kegiatan ditutup moderator meminta peserta untuk melakukan posting barengan, dan dilanjutkan dengan kegiatan foto bersama serta ramah-tamah. Pada kegiatan TPD Depok #14 ini peserta membawa makanan sendiri dan saling berbagi dengan peserta yang lain (potluck).

Merdeka Belajar, Mengembalikan Tujuan Guru Belajar

“Merdeka belajar” itulah kata yang sering kita dengar di komunitas guru belajar. Guru belajar, akhir-akhir ini itulah yang dilakukan oleh banyak guru disetiap pelosok negeri salah satunya guru-guru MI Walisongo Kranji 01, Pekalongan yang terus belajar, dan salah satu bentuk realisasinya adalah dengan mengadakan In House Training atau biasa disebut IHT setiap hari senin dan juga diskusi santai yang dilakukan beberapa guru disela-sela kesibukan sekolahan. Namun seiring waktu kadang kita lupa apa itu tujuan guru belajar? Apakah berubah hanya sebagai formalitas atau adat sekolah saja tanpa ada esensi lain. Dari hal tersebutlah diadakan nonton bareng video Merdeka Belajar pada hari Kamis, 2 Mei 2019 bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Video yang ditayangkan ini adalah cuplikan dari kegiatan Temu Pendidik Nusantara tahun 2016, dimana Ibu Najelaa shihab (Pendiri Kampus Guru Cikal dan Inisiator Komunitas Guru Belajar) membahas tentang Merdeka Belajar. Banyak yang dijelaskan oleh Ibu Najelaa Shihab tentang merdeka belajar. Beliau mengatakan bahawa kemerdekaan itu bukan diberikan begitu saja, namun harus diperjuangkan yakni melalui guru yang belajar, agar sampai pada yang dinamakan guru merdeka belajar. Video ini sangat tepat untuk memantapkan sebuah tujuan dari kegiatan yang sering dilakukan oleh guru belajar sehingga menjadi menjadi sebuah komitmen. Tujuan guru belajar adalah melawan miskonsepsi tentang proses guru belajar, karena banyak yang mengatakan guru hanya mau belajar jika mendapat insentif, guru hanya mau belajar jika mendapat sertifikat atau uang. Dan guru yang belajar di MI Walisongi Kranji 01 mau membuktikan bahwa guru belajar karena kebutuhan alamiah. Miskonsepsi tentang bahwa guru hanya bisa belajar dari para ahli, dari pakar pendidikan, padahal belajar paling efektif adalah belajar dari sesama guru karena guru butuh figur yang realistis yakni adalah teman sesama guru dan masih ada miskonsepsi lain. Jadi, Apa Merdeka Belajar? Banyak dari peserta nonton bareng ini begitu antusias untuk mengajukan pertanyaan atau sekadar curhat tentang keluh kesahnya menjadi seorang guru. Salah satunya Pak Azam (Guru MI Kranji 01) yang mempertanyakan “Apakah konsep merdeka belajar sejalan dengan kompetensi guru pedagogik, kepribadian, profesional, sosial?” pertanyaan tersebut dijadikan bahan diskusi antarguru, ada yang mengatakan saling mengisi, ada yang mengatakan kedua hal itu sejalan pun juga ada yang mengatakan, “Merdeka belajar adalah praktik dari kompetensi guru tersebut.” Banyak hal yang didiskuskan di dalam acara nobar tersebut, mulai dari apa yang di maksud dengan cita-cita anak yang melampaui batas, bagaimana sudut pandang tentang bahwa anak belajar butuh waktu , sedangkan realitanya di sekolahan konvensional guru selalu dikejar waktu untuk menyelesaikan materi sesuai target bahkan terkadang tidak peduli apakahanak-anak sudah menguasai materi tersebut atau belum, juga membahas tentang bagaimana merdeka belajar di kelas. Diskusi pun berjalan hangat dan renyah. Seluruh petanyaan yang muncul setelah sesi nobar, terjawablah semuanya, dan terjawab bersama dengan cara diskusi, sehingga diakhir acara nobar terwujudlah kesepahaman. karena setiap persoalan yang muncul dalam acara tersebut diselesaikan bersama, bukan oleh hanya satu orang. Itulah yang dibutuhkan oleh seorang guru, ngobrol atau diskusi tentang persoalan pendidikan yang membuat guru menuju pada merdeka belajar yang sesungguhnya. Bukan membahas administrasi saja, tapi yang terpenting adalah ekosistem dari pembelajaran kita, belajar kita bersama anak yang kadang perlu senantiasa diobrolkan dengan sesama guru, karena dengan mengobrol sesama guru, diskusi sesama guru, belajar sesama guru adalah hal tepat karena gurulah yang secara realitas hadir disekitar anak. MI Walisongo Kranji 01 berharap kedepannya praktik positif seperti ini bisa ditularkan ke teman-teman guru lain tidak hanya di MI kranji 01. Memang saat ini belum bisa mempraktikkan seluruh praktik baik dari komunitas guru belajar namun setidaknya kita di awal memulai untuk mengadaptasi sesuatu yang setidaknya kita bisa coba terlebih dahulu.

Menjadi Guru yang Berdaya

Menjadi guru adalah pilihan, bukan paksaan. Guru tak terbatas ruang dan waktu sampai kapan pun dan dimana pun guru tetaplah teladan bagi murid-muridnya. Maka menjadi seorang guru didasarkan atas kesadaran. Sadar bahwa dirinya ingin berubah menjadi lebih baik, mau belajar terus-menerus. Sumber belajar bisa dari mana saja, buku, internet, SKGB (Surat Kabar Guru Belajar) dll. Tak jarang guru hanya menyampaikan materi saja, namun melupakan tujuan utama, yaitu mengapa materi itu penting disampaikan. Dalam praktiknya guru menyampaikan materi dan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh murid. Di hari berikutnya guru bertanya, siapa yang sudah mengerjakan tugas dan siapa yang tidak mengerjakan tugas. Bagi murid yang tidak mengerjakan akan mendapatkan hukuman tertentu, misalnya berlari di lapangan, berdiri di bawah teriknya matahari, atau membersihkan kamar mandi. Sebelum menghukum murid, guru tak pernah bertanya kenapa murid tak mengerjakan tugas. Selama dua hari berlangsung, 23-24 Desember 2018 sekolah Islam Umar Harun mengadakan Pelatihan Guru Merdeka Belajar dan Manajemen Kelas untuk para guru. Mereka berasal dari berbagai daerah di antaranya Rembang, Jepara, Pati, dan Tuban. Meskipun di hari liburan, mereka tetap giat mengikuti pelatihan ini. Bahkan hujan deras pun tak memadamkan api semangat mereka. Mereka benar-benar ingin menjadi guru yang siap berubah untuk lebih baik. Selama pelatihan berlangsung, dua narasumber keren, Guru Bukik Setiawan dan Guru Ari Wibowo akan memandu perjalanan selama pelatihan. Ada tujuh topik yang disampaikan oleh narasumber yaitu manajemen kelas, tata ruang kelas, kesepakatan kelas, kebiasaan kelas, strategi pengelompokan, disiplin positif, dan strategi memotivasi. Sebelum pelatihan dimulai guru Ari mengajak para guru untuk es breaking agar suasana lebih cair. Barulah para guru diminta untuk membentuk kelompok kecil yang terdiri dari enam orang. Di antara mereka ada yang menjadi juru catat, juru logistik, juru bicara, dan juru kemudi, yang masing-masing mempunyai peranan penting dalam kelompok. Menurut saya, model pembelajaran dengan pengelompokan seperti ini sangat efektif karena masing-masing anggota memungkinkan untuk menyampaikan pendapat tanpa malu-malu. Pelatihan ini sangat penting untuk menunjang belajar guru. Guru kok masih belajar?. Apa sih yang harus dibenahi?. Sebenarnya ada banyak salah kaprah yang sering dilakukan oleh para guru saat mengajar murid-muridnya, bahkan salah kaprah tersebut dilestarikan oleh generasi selanjutnya. Hampir saja para guru tak percaya adanya salah kaprah dalam belajar mengajar. Guru Bukik menjelaskan bahwa salah kaprah itu banyak contohnya. Misalnya, tujuan utama belajar adalah agar nilai ujian nasional memuaskan. Lantas bagaimana dengan mereka yang nilai ujiannya tak memuaskan, apakah dicap sebagai manusia yang gagal dalam hidup?. Saat mendengarkan penjelasan dari guru Bukik para guru tersadar betapa pentingnya menjelaskan tujuan belajar kepada murid, jangan sampai tujuan belajar diartikan sempit. Kemudian para guru diajak untuk merefleksikan cara mengajar mereka. Sungguh terasa aneh dan lucu, ternyata mereka mengakui terbiasa melakukan salah kaprah, misalnya yang sering terjadi murid yang tak mengerjakan tugas dihukum berdiri di depan kelas tanpa memberi kesempatan untuk berpendapat dan membenahi kesalahannya. Bukannya mereka sadar yang terjadi adalah tingkah laku mereka semakin menjadi-jadi. Dengan demikian, sudah seharusnya model semacam itu diubah. Praktiknya, murid tersebut diajak berpendapat mengapa tak mengerjakan tugas, apakah ada kesulitan, atau memang murid tersebut belum paham cara mengerjakannya. Menurut saya pelatihan GMB ini sangat asyik. Saya baru pertama kali mengikuti pelatihan yang modelnya seperti ini. Semua peserta membentuk kelompok kecil yang terdiri dari enam atau tujuh orang kemudian setiap peserta diajak terlibat dalam diskusi, ada yang bagian logistik, ada yang bagian pengemudi agar diskusi mengarah pada tujuan, dan ada juga yang bagian pembicara atau mempresentasikan hasil diskusi. Sedangkan kelompok yang lain ikut andil dalam memberikan feedback. Ini benar-benar pelatihan yang memberdayakan semua peserta. “Guru merdeka itu guru yang selalu merefleksikan strategi mengajarnya.” Guru Bukik.

Tingkatkan Budaya Literasi dengan Masak Bareng

Kaum milenial nggak akan jauh dengan namanya gadget,  barang super penting dalam kehidupan mereka. Bicara tentang literasi,  sekarang tak akan mudah jika hanya disajikan dalam keadaan mentah seperti baca buku,  tulis menulis atau diskusi, namun tampaknya terobosan melalui literasi ketrampilan dalam hal ini keterampilan memasak perlu diuji coba dalam sajian menu baru untuk literasi generasi kita, terlebih salah satu hobi yang sedang diminati remaja yang kekinian adalah membahas tentang kuliner. Perlu ide segar,  kreativitas tanpa batas dan konsistensi dalam hal itu,  mengingat akan goal dari kegiatan ini adalah menghasilkan anak muda yang literat, peka terhadap hal sederhana dan akhirnya menjadikan mindset lebih berkembang. Melalui ketrampilan memasak, akan menjadikan pengalaman literasi yang berkesan bukan??   Naah gimana dan apa ya hubungannya memasak dgn literasi? Pada Temu Pendidik Daerah secara daring di whatsapp grup Komunitas Guru Belajar Wonogiri yang dilakukan pada hari Rabu tanggal 27 Maret 2019 membahas tentang “Tingkatkan Budaya Literasi dengan Masak Bareng”. Pada diskusi ini, materi dan pengalaman akan dibagikan oleh Heni Surya yang merupakan Founder TaBAH (Taman Belajar Anak Hebat) dan juga merupakan salah satu Penggerak Komunitas Guru Belajar Solo Raya. Beliau adalah pengelola Taman Belajar Anak Hebat. Taman yang difasilitator i oleh para penggerak Komunitas Guru Belajar Solo Raya ini lebih memberikan tempat yang nyaman untuk para anak – anak mengerjakan tugas sekolahnya. Lanjut tentang “Apa hubungan literasi dengan memasak”, pada diskusi lalu dibahas tentang bagaimana memulai budaya literasi melalui dapur? Pernah dengar acara masak bareng Chef di daerahmu? Seorang Chef datang dan membacakan resep, peserta mencatat. Sebelum memasak diskusi ringan hal kadar gizi dan manfaat masakan yang akan dibuat. Kemudian praktek bersama. Hingga akhirnya peserta melakukan hal yang sama di rumah atau tempat lain. Urutan seperti ini literasi, bukan? Menggunakan moment memasak untuk meningkatkan literasi anak adalah sangat efektif. Sebab kegiatan memasak adalah kegiatan kita sehari-hari. Mengajak anak melakukan literasi dasar yakni kemampuan dasar dalam membaca, menulis mendengarkan dan berhitung. Melalui memasak anak diminta aktif membaca resep menu di awal, mendapat tantangan untuk mempraktekkan di dapur, menggali dan memikirkan lamanya proses memasak spt (menggoreng, merebus dan sejenisnya) serta yang paling penting bisa mengemukakan bagaimana rasa dari masakannya sendiri. Menyampaikan ini enak dan kurang enak. Bahkan membuat anak mencoba ulang untuk mendapatkan hasil masakan yang lebih enak. Saya pikir kemampuan berliterasi bisa ditingkatkan melalui kuliner, dan memasak pada khususnya. Saat kita sedang lengang, ajak anak mempraktikkan apa itu memasak bersama-sama di rumah. Apa saja manfaatnya bagi peningkatan budaya literasi anak? Meningkatkan kemampuan berhitung atau matematika. Memasak adalah cara terampuh untuk belajar matematika. Saat memasak tanpa terasa ia harus mengukur takaran makanan dari resep yang ada, misalnya tiga butir telur, 1/2 sendok makan mentega, dan lain-lain. Membangun pemahaman. Meskipun Si Kecil belum bisa membaca, dengan memasak ia dapat membangun pemahaman tentang konsep step by step. Mulai dari langkah pertama misalnya mengupas bahan makanan, lalu memotong, memberi bumbu hingga dimasak sampai matang. Dari segi sains, bisa belajar sains. Memasak adalah bagian dari percobaan sains. Terlalu banyak garam atau baking soda dan terlalu sedikit tepung dapat menyebabkan adonan menjadi gagal. Hal ini sama saja dengan belajar sains. Selain itu, memasak dapat melatih percaya diri. Dapat menghasilkan suatu karya termasuk masakan dapat meningkatkan percaya diri anak. Agar lebih maksimal, beri label pada hasil masakannya dengan menggunakan nama Si Anak, misalkan Ayam Geprek meleleh ala chef Luna, atau puding roti manis syakira. Selanjutnya, manfaat memasak bagi peningkatan budaya literasi anak adalah membangun keahlian berkomunikasi. Atmosfer santai di dapur atau kelas memasak dapat membuat Anak lebih relaks untuk berbicara tentang apapun. Momen ini dapat dimanfaatkan orangtua untuk berbicara dari hati ke hati dengan anak. Nah, jika ia ikut serta dalam kelas memasak, ia bisa bersosialisasi dengan teman sebaya, Life skill. Dalam diskusi kali ini, ada 2 sesi diskusi, sesi pertama, dibuka dengan tiga penanya: Pertama, Muhammad Gangga dari Palembang : Untuk memasak, jika salah memasak atau hasil kurang memuaskan otomatis kita kecewa karena beberapa aspek salah satu nya biaya atau bahan yang dikeluarkan terlalu banyak atau besar. Bagaimana mengatasi itu ? Jawab: Kita bahas soal literasi melalui metode memasak ya. Bersama anak sepakati dulu dari awal. Mengenai kemungkinan berhasil dan tidak saat memasak. Sehingga akan meminimalisir perasaan kecewa, atau bahkan akan berganti antusias untuk menggali lebih jauh kenapa bisa gagal dan kenapa bisa tidak enak. Perihal rugi biaya ini akan tertutup dengan semangat anak berliterasi tadi. Saya ada tips untuk mengatasi gagal dalam memasak bersama anak, jika kita membaca satu resep. Maka kita bisa praktekkan memasak separuh resep dulu. Misalnya membuat brownies, jika resep menggunakan 8 telur kita coba 4 dulu. Penanya kedua Wuri Handayani dari Sragen: Saya sering membawa alat memasak seperti termos, wajan, susruk penggorengan, untuk menerangkan perbedaan isolator dan konduktor, apa ini termasuk literasi memasak? Kadang juga mencontohkan mencelupkan sendok ke air panas untuk konduksi, dan praktek merebus air untuk konveksi (aliran panas). Jawab:Senang sekali jika semua ibu bs melakukan ini disela memasak. Sambil memasak sambil belajar tentunya.. Terima kasih sudah menginspirasi. Saya kira ini literasi, seperti yang saya sampaikan di atas. Bahwa memasak bagian dari percobaan sains, jika SD ada IPA, jenjang lebih tinggi ada fisika nya. Jadi tidak akan rugi memasak bersama anak. Karena Literasi dalam hal ini adalah proses pembelajaran hidup. Anak akan mengetahui sebab dan akibat dari suatu peristiwa, pun dalam hal merebus dan menggunakan api” Penanya ketiga Indri Fatma dari Sragen: Memasak untuk meningkatkan budaya literasi ini kira – kira bisa diterapkan kepada anak – anak mulai usia berapa? Jawab:” Saya mengajarkan memasak pada keponakan saya di usia 1,5 tahun. Ketika dia bisa  bicara dan berjalan. Saat saya merebus air untuk membuat susu dia. Saat itu dia teriak api. Dan saya menjawab, iya ini api, untuk merebus air supaya panas dan buat susu kakak. Kejadian berulang seperti ini dirumah terus menerus dia ingat dan dia pahami bahwa api bisa untuk merebus air untuk membuat susu. Saat ada api atau kompor dimanapun dia melihat dia akan otomatis berkata, api – panas – untuk – masak air – bikin susu. Ketika anak mencoba mencari tahu, disitulah peluang untuk mensisipkan literasi sejak dini. Termasuk dalam momen memasak. … Read more