KGB Makassar : Membaca Bawakaraeng (Bagian 2)

Jumat, 1 Maret 2019 10Coffe. Coffeshop. Letaknya depan gerbang ke Royal Sprint, jalan Arupala. Tempatnya tidak terlalu luas, tapi lumayanlah untuk pertemuan yang direncanakan tiba-tiba. Menjelang magrib, kami bertemu di sana. Pak Amran Azis bersama istrinya. Saya kembali berdua dengan Wawan Rurung. Saya pesan kopi susu. Tebal atau tipis? Pilih yang tipis. Akhir-akhir ini tidak kuat lagi dengan yang tebal. Saya juga fakir dengan menu yang lain, walaupun tersedia. Ada Espresso, Capuccino, Latte, Moccacino, Macchiato dan berbagai varian cafe lainnya. Bagiku, ini Makassar bung. Menumu boleh variatif. Racikan kopimu juga boleh beragam. Tapi ingat hukumnya: kopi susu mesti sajian utama. Jika ingin bertahan lebih lama. “Baiklah dinda. Selain koordinasi peserta, apa lagi yang bisa saya bantu”?, tanya Pak Korwil Tinggimoncong. “Hmm. Begini kanda. Kami hanya bisa siapkan narasumber. Ruangan jadi tanggung jawab teman-teman di SMA 4 Gowa. Konsumsi biasanya ditanggung bersama. Budaya yang terbangun selama ini di komunitas guru adalah barengan. Apa saja diupayakan bersama-sama. Konsumsi salah satunya”, jawabku. “Kalau begitu konsumsi saya yang siapkan. Peserta cukup datang belajar saja”, ucap Pak Amran kembali. “Jika ada waktuta, singgah di dinas pendidikan kabupaten untuk menyampaikan kegiatan ini. Hanya mengabarkan saja.” “Siap, kami usahakan.” Setelah persiapan tuntas dibicarakan, kami bubar. Pak Amran pamit kembali ke Malino, kami pun balik ke Pallangga. Dengan perasaan yang penuh. Riang gembira. Kawan, apa yang lebih menggembirakan bertemu dengan sekutu baik hati seperti Pak Amran? Betapa menyenangkannya bercakap dengan guru yang paham tujuannya. Di perjalanan pulang, saya bahagia mendengar Bono dan kawan-kawannya: Beatifull Day. … It was a beatiful dayDon’t let it get awayA beatiful dayTouch me, take to that other placeReach me, sweety, I know I’m not a hopeless case. —Tiga hari sebelum kegiatan, kami mengunjungi dinas pendidikan kabupaten. Janji harus dipenuhi. Mengabarkan pesan seperti permintaan kawan kami. Tiga hari sebelum kegiatan, kami mengunjungi dinas pendidikan kabupaten. Janji harus dipenuhi. Mengabarkan pesan seperti permintaan kawan kami. Luar biasa. Pak kepala dinas pendidikan menerima kami sebaik-baik tamu. Sebagai bentuk dukungan, Wawan Rurung minta jepret-jepret bareng Pak Kadis. Peranku jelas. Tukang foto. Eh, tanpa sengaja, pandangan kami tertuju pada salah satu gambar di ruangan Pak Kadis. Di gambar itu ada Ibu Elaa, Ibu Nisa Felicia, Pak Hamid Muhammad, Pak Kamaruddin dan Pak kadis waktu menjadi pembicara di beranda PSPK jilid XI. Ya, cerita memanjang kembali. Jumat, 8 Maret 2019. Perjalanan ke Malino kali ini terasa lebih panjang. Lebih lama dari tahun-tahun sebelumnya. Beberapa ruas jalan nampaknya butuh perbaikan. Paling parah di sekitar Mala’lang. Tampak para pekerja sibuk membersihkan sisa-sisa longsoran yang menumpuk di ruas jalan. Kami tiba juga di Malino. Jumat malam. Bukan malam jumat. Di depan hotel Celebes Malino, laju kendaraan saya perlambat. Tepat di samping hotel itu kediaman pak Sanusi. Rumahnya saya sebut dengan rumah kopi. Sebelas tahun menyesap kopi, belum ada yang bisa kalahkan aroma dan rasa kopinya. Kopi arabika bisa tumbuh di banyak tempat, ditanam oleh siapa saja. Tidak dengan proses pengolahannya. Butuh ketelatenan, pengalaman dan kemurnian hati. Tidak boleh serampangan. Bara apinya dijaga betul, matangnya mesti merata, tungku dari tanah. Di rumah kopi, tidak sah minum kopi jika tdak ada penganan pisang goreng. Percayalah, pisang gorengnya khas. Anda tidak akan menemukannya di tempat lain. Mengolah pisang hanya sebagian dari keramahan yang dimiliki Dg Lela, istri pak Sanusi. Kami tidak singgah. Besok saja. Di halaman rumahnya masih terparkir motor bebek honda 700 warna merah. Itu sudah cukup menanda bahwa Pak Sanusi sekeluarga baik-baik saja. Rombongan kami langsung ke Puskesmas Tinggimoncong. Depan puskesmas itu pernah mangkal penjual sate madura yang enak. Saus kacangnya kental. Sayang sekali, malam itu tidak lagi ditemukan di sana. Mungkin pindah ke tempat lain. Mungkin sudah tutup. Mungkin juga sudah pulang kampung. Di sini, agak susah menemukan jajanan semacam itu setelah salat Isya. Ada sih, jagung bakar di hutan pinus. Tapi untuk romantisme, kesannya terlalu biasa. Pak Yusuf Islam menelpon. “Dg Kio, posisi di mana sekarang? Kalau sudah di Malino, langsung menuju rumah. Sudah menunggu abahnya Ima sama Pak Zul. Pak Luktfy Alam juga menuju ke sini.” “Siappp.” Dari nomor lain, panggilan ibunda Hj Nurlia juga masuk. Makan malam sudah tersaji katanya. Selain kabar tentang makan malam, beliau juga berkepentingan tahu apa kami sudah sampai di Malino atau belum. Inayah Ridhayanti, anaknya bunda aji, ikut dengan rombongan kami. Anda bingung? Begini: Inayah Ridhayanti itu selain perannya sebagai salah satu penggerak KGB Makassar, selain sebagai aktivis sekolah perjalanan, juga anak sulung bunda Aji Nurlia, rekan kerja di SMA Tinggimoncong dulu. Tujuh tahun lalu masih sebagai murid. Tahun ini sudah jadi rekan kerja. Betapa beruntungnya kami ini. Dikelilingi oleh orang-orang baik dengan hati yang terbuka seluas-luasnya. Salah satu alasan kenapa Malino selalu dirindukan. Malam itu diputuskan akan makan malam di rumah Inayah kemudian ngopi di rumah pak Yusuf. Setelah makan, kami pamit menuju rumah Pak Yusuf. Masih ada persiapan teknis yang harus dibicarakan dengan teman-teman panitia lokal. Ibu Adelia, Ibu Olle Hamid dan Ibu Anita sekeluarga menginap di rumah bunda Hj Nurlia. Di rumahnya Inayah. —Pak Yusuf Islam berasal dari Moncongkomba Takalar. Kuliah Pendidikan Matematika di IAIN Alauddin Makassar. Terangkat sebagai guru di SMA Negeri 1 Tinggimoncong. Menikah dengan gadis Malino. Beliau satu angkatan dengan Pak Saing Omchaa sebagai guru pelopor diawal berdirinya sekolah tersebut. Saat ini jadi kepala sekolah di Bontolempangan. Sebagai kolega yang baik hati, pernah mengajarkan logika dan epistemologi waktu tinggal di asrama sekolah. Beliau yang memperkenalkan Mulla Sadra, Rumi sampai Baqir Sadr. Malam ini pelajaran itu kembali diulas dengan versi yang lebih baru. Rupanya kami sudah ditunggu banyak kawan. Selain Pak Yusuf sebagai tuan rumah, telah berkumpul pula Pak Zulkifly, Pak Madjid dan Pak Luktfy Alam. Dengan Pak Zulkifly saya masih awam. Kepala sekolah SMA Negeri 4 Gowa yang baru. Tapi saya percaya kekuatan jaringan: dari teman ke teman. Benar. Percakapan sampai larut malam, saya mengenal beliau lebih jauh, lebih banyak, lebih dalam. Ternyata, tujuan kita sama. Setiap guru tidak boleh berhenti belajar. Pendidikan tidak boleh menjadi hak sekelompok orang, mesti sebagai milik bersama. Murid tidak boleh lagi diorganisasi berdasarkan pengalaman masa lalu kita semata. Mereka punya masa kini sendiri-sendiri. “Saya senang dengan gerakan Guru Belajar. Apapun kebutuhan teman-teman KGB, tolong disampaikan. Tidak perlu … Read more

KGB Makassar : Membaca Bawakaraeng (Bagian 1)

Akhirnya ke Malino lagi. Selain untuk belajar, saya akan mengunjungi beberapa kawan lama. Pernah mengajar di sini. Sembilan tahun. Berangkat senin subuh, pulang kamis sore. Naik motor bersama Wawan Rurung, Omchaa, Luktfy Alam & Naim Miyala. Tiga tahun lalu, saya pindah ke Pallangga. Kunjungan kali ini masih berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar. Bedanya, dulu datang mengajar di sekolah, hari ini sebagai peserta belajar. Saya mau belajar di Temu Pendidik Daerah (TPD) yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru Belajar Makassar bekerjasama dengan UPT Pendidikan kecamatan Tinggimoncong. Di Malino. Bagi kawan guru yang masih asing tentang Malino, silahkan googling. Percayalah banyak keajaiban tersedia di sana. Jika Anda ketik ‘Malino’ di mesin pencari, ada 3.210.000 penjelasan. Kalau Anda iseng menambah katanya menjadi ‘Malino Sulawesi Selatan’, tersedia 431.000 pilihan. Jika tidak ada pekerjaan lain, silahkan ketik ‘Malino daerah mana’, Anda akan disuguhi 331.000 petunjuk. Jika dirasa belum cukup, ketiklah ‘Malino kota bunga’, maka muncul 243.000 jawaban. Mau lebih spesifik lagi? Ada 55.400 petunjuk jika Anda masih berminat mengetik ‘Malino Tinggimoncong’. Dengan petunjuk dan penjelasan itu, saya tidak khawatir Anda tersesat. Biarlah catatan ini berisi peristiwa yang belum dikisahkan di sana. —- Pengalaman bertugas Malino menyisakan banyak kenangan. Kecelakaan di Parangloe salah satunya. Malam itu kami mengejar waktu. Leader memutuskan lewat jalur pintas: Parangloe-Pattallassang. Karena rutenya menurun, saya mengerem lebih dalam. Celaka. Tumpahan oli berceceran di badan jalan. Ban depan melincir, motor jatuh meluncur tidak terkendali. Saya tersangkut di pohon jati. Kap motor hancur, sadel tidak ditemukan. Butuh waktu untuk berdiri kembali. Bahuku terkilir. Beberapa luka lecet di lutut, telapak tangan dan juga siku kanan. Masih lekat dalam ingatan. Kami pernah mengunjungi siswa yang ingin berhenti sekolah. Karena jalan belum bisa diakses kendaraan, motor dititip di rumah warga. Kami susuri jalan sempit dan berlumpur. Magrib kami sampai. Orang tuanya menyambut sangat baik. Ada kopi Parigi plus ubi jalar. Tentu saja kami lahap. Sayang, siswa yang dicari sudah merantau ke Kalimantan. Malam itu juga kami pamit pulang. Hujan deras. Derita kami bertambah karena si biru (Suzuki Thunder tersayang) lupa pakai lampu. Pulang bergelap ria. Pengalaman mengajar lainnya nanti saya ceritakan di buku ‘Anak Gunung Membaca Bawakaraeng’. Banyak kisah aneh terselip di sana. Misalnya bagaimana kami para guru yang baru terangkat bisa ditipu oleh pengumpul benda antik. Kami takjub benar dengan emas palsu yang ditengarai dimunculkan dari dunia gaib. Jangan khawatir, kisah berfaedah juga banyak. Kami pernah menyiksa diri melakukan pendakian gunung selama enam jam perjalanan hanya untuk membuktikan bahwa danau Ramma adalah salah satu spot memancing terbaik. Percayalah. Itu hasutan terbaik yang pernah dilakukan Wawan Rurung. Catatan ini dibuat khusus tentang Temu Pendidik Daerah yang dilaksanakan di sekolahku yang lama. SMA Negeri 4 Gowa. Kenapa Temu Pendidik di Malino? Ada beberapa alasan. Pertama, alasan ideologis. Saya percaya. Kawan-kawan saya juga percaya. Hanya guru yang belajar yang pantas mengajar. Kata guru dan belajar tidak boleh terpisah. Saya membaca percakapan antara seniman Asrul Sani dengan guru pamong Taman Siswa: Said Reksohadiprojo. Sejatinya guru adalah seorang pamong. Menjadi pamong berarti harus belajar terus menerus, haus pengetahuan. Jika gurunya berhenti belajar, maka pada saat itu juga dia sudah terbunuh. Di Malino, sangat mudah menemukan guru-guru yang mau belajar. Butuh contoh? Baiklah. Ini cerita kawan kita, Korwil UPTD Dinas Pendidikan kecamatan Tinggimoncong.  “Biasanya guru meminta untuk ditempatkan tidak jauh dari kota kecamatan. Ya, sebutkan dengan kemudahan akses”, cerita pak Amran Azis. “Tidak dengan guruku yang satu itu. Dia minta ditempatkan didaerah terpencil. Saya penuhi permintaannya. Apa yang dia lakukan? Kreativitas guruku itu tidak bisa dibatasi oleh fasilitas yang terbatas. Dinding sekolahnya dipenuhi lukisan mata pelajaran. Ada lukisan tentang benda-benda planet, tentang benda-benda bersejarah, tentang rumus matematika dasar, juga tentang manusia”. Kedua, kami menemukan sekutu. Selain murid, sekutu utama guru adalah sesamanya guru. Saya punya banyak kawan-kawan guru di Malino. Kami ingin membangun persekutuan dengan mereka bahwa pendidikan ini tidak boleh menjadi urusan satu orang saja. Sebagai bagian dari kaum intelegensia, kata Bung Hatta, guru tidak boleh pasif, hanya berdiam diri dalam rutinitas paling membosankan: menghabiskan materi dalam kelas. Kami percaya bahwa kerja-kerja pendidikan butuh dukungan banyak pihak. Di Malino kami yakin bisa mendapatkan dukungan itu. Benar. Malam itu sebelum pembukaan, kami disambut dengan percakapan sampai larut oleh dua kepala sekolah : SMA Negeri 1 Tinggimoncong dan SMA Negeri 1 Bontolempangan. Keduanya bukan hanya teman diskusi. Tapi juga sebagai sekutu utama, turut terlibat mensukseskan kegiatan. Pada bagian lain saya akan sebutkan sebutkan satu persatu siapa saja kawan-kawan guru yang baik itu. Karena alasan-alasan itulah, sehingga Malino diputuskan sebagai tuan rumah TPD. Bersambung ke KGB Makassar : Membaca Bawakaraeng (Bagian 2)

Siapa Bilang Kesepakatan Hanya Bisa Dijalankan Orang Dewasa?

Semangattt… Hari ini (24/02/2019) penggerak KGB Rembang mengadakan TPD yang ke-15. Ada dua kelas, kelas Strategi Dasar Sekolah Inklusi dan Kesepakatan Kelas: Membangun Motivasi Intrinsik. Satu hari sebelumnya kedua narasumber dan moderator telah merancang alur berjalannya diskusi. Langsung saja kita simak liputan berikut, Hari ini penggerak KGB Rembang mengadakan TPD yang ke -15. Ada dua kelas, kelas Strategi Dasar Sekolah Inklusi dan Kesepakatan Kelas: Membangun Motivasi Intrinsik. Satu hari sebelumnya kedua narasumber dan moderator telah merancang alur berjalannya diskusi. Langsung saja kita simak liputan berikut, Strategi Dasar Sekolah Inklusi Sampai detik ini, Sekolah Inklusi atau Pendidikan Inklusi sangatlah cetar membahana di khalayak umum, sedang naik daun katanya. Tapi sampai detik ini juga, masih banyak yang  belum tahu sebenarnya apa itu sekolah inklusi atau pendidikan inklusi tersebut. Nah, di TPD ke 15 ini teman-teman guru dari berbagai sekolah di daerah Rembang akan mendapatkan pencerahan tentang Sekolah Inklusi  dan bagaimana penerapannya pada sebuah instansi sekolah, bersama Guru Fiqoh sebagai narasumbernya dan Guru Joko sebagai moderatornya. Sebelum kegiatan dimulai terlihat Guru Fiqoh mempersiapkan segala macam buku tentang Inklusi yang didapatkannya dari perpustakaan Umar Harun, sedangkan Guru Joko terlihat mempersiapkan peralatan untuk kegiatan ice breakingnya. Perlu sekali dalam sebuah kegiatan seperti TPD seorang moderator menyiapkan ice breaking untuk menghindari kebosanan saat kegiatan berlangsung. Tepat pada pukul 13.35 kegiatan sudah mulai dibuka oleh Guru Joko, dengan peserta yang berjumlah 5 guru dari Sekolah Islam Umar Harun. Guru Joko membuka salam pembuka dengan penuh semangat, hingga semua peserta juga terbawa oleh semangatnya,  karena ternyata semangat itu menular. Di ruang kelas TK A kegiatan berlangsung dengan sajian snack gorengan tempe dan ote-ote khas Sarang disertai buah pencuci mulut yang merah merona buah semangka. Sambil menikmati snack yang telah tersedia, Guru Joko mengajak untuk menebak hitungan jarinya yang diawal Guru Joko tanpa kita sadari sudah menyebutkan kata kunci dari jawaban tebak-tebakannya. Riuh rendah suara kami di kelas , berebut untuk bisa menjawab tebakan tersebut. Tapi dari kami berlima belum ada yang bisa menjawab dengan tepat, hingga akhirnya kami menyerah. Guru Joko pun membeberkan semua jawaban dari tebakannya. “Ooo…begitu jawabannya”, serentak itu yang keluar dari mulut kami masing-masing. Terlihat susah tapi ternyata sangat mudah. Permainan tersebut dapat melatih konsentrasi untuk memahami arahan. Ice breaking selesai, langsung dilanjut Guru Fiqoh mulai membuka laptopnya menampilkan sebuah tulisan yang terdapat dalam buku yang berjudul “Menjadi Guru Yang Kreatif” dari Sekolah Tumbuh Yogyakarta.  Sebelum Guru Fiqoh menjelaskan semua tulisan yang sudah ditampilkannya, Guru Fiqoh menggali pengetahuan peserta tentang makna Sekolah Inklusi itu sendiri. “Sekolah Inklusi adalah memfasilitasi segala macam latar belakang anak didik”, ungkap Guru Rodliyah. Guru Amal juga berpendapat, “Sekolah Inklusi adalah memfasilitasi kegiatan pembelajaran anak didik sesuai dengan kebutuhannya”. Sebagai moderator, Guru Joko ikut andil melengkapi pendapat teman guru lainnya,”Sekolah Inklusi adalah memfasilitasi semua keberagaman anak didik dari berbagai sudut pandang”. Luar biasa antusiasme peserta terlihat mendominasi saat  itu, tidak ada yang terlihat menguap atau tertidur. Merasa sudah cukup, Guru Fiqoh merangkum semua pendapat teman-teman dengan membaca buku “Menjadi Guru Yang Kreatif”, “Sekolah Inklusi adalah sekolah yang mengakomodasi keberagaman siswa termasuk keberagaman kebutuhan dan kemampuan. Guru memiliki peran dalam mengembangkan kurikulum sehingga semua siswa dapat berpartisipasi dalam pembelajaran. Pengembangan kurikulum di sini dimulai dari pemetaan kelas, pemetaan indikator belajar, menentukan metode belajar, merancang kegiatan pembelajaran, hingga menyusun evaluasi pembelajaran”. Setelah selesai membacakan buku tersebut, terlihat ada empat guru berdatangan, guru dari Sekolah Islam Umar Harun dan SMK Al Anwar. Jumlah peserta pun menjadi sembilan peserta. Guru Fiqoh melanjutkan kegiatan tersebut dengan strategi diskusi, terdapat dua kelompok diskusi yaitu kelompok guru laki-laki dan perempuan. Diskusi berjalan sangat mengalir dan aktif. Keaktifan diskusi salah satunya terlihat oleh Guru Dhorif yang selalu menyertakan referensi dari setiap tanggapannya. Semua peserta merasa nyaman dengan strategi diskusi yang dibuat oleh Guru Fiqoh. Peserta mempunyai kesempatan untuk berpendapat dan saling menghargai  tanpa harus menyalahkan pendapat satu sama lain. Hal yang sama begitu juga dirasakan oleh Guru Fiqoh bahwa narasumber di sini bukanlah satu-satunya sumber belajar. So, apa kesimpulan dari Pendidikan Inklusi? Pendidikan Inklusi adalah pendidikan yang terbuka dan ramah, dengan mengedepankan tindakan menghargai dan merangkul perbedaan. Difrensiasi atau sikap menghargai dan memfasilitasi keragaman ini harus ada pada setiap sisi dari pendidikan, baik dalam konten, proses, produk maupun lingkungan belajar. Hal ini tentu disesuaikan dengan kesiapan, minat, dan profil pembelajaran. Kunci sukses pendidikan Inklusi : Hadir bersama, Adanya capaian/ target yang jelas , dan Partisipasi. Waktu telah menunjukkan pukul 15.15 saatnya memasuki kegiatan selanjutnya. Guru Joko mengambil alih untuk memimpin peserta. Memberikan pilihan kegiatan selanjutnya, refleksi atau ice breaking terlebih dahulu. Peserta sepakat untuk refleksi terlebih dahulu. Guru Joko mempersilahkan semua peserta untuk menyiapkan alat tulis berupa buku dan pena. Guru Joko memberikan waktu sekitar 10 menit untuk peserta menuliskan aksi  yang akan dilakukan setelah mengetahui Pendidikan Inklusi . Tepat 10 menit, Guru Joko menyudahi kegiatan menulis refleksi dan mempersilahkan salah satu peserta untuk mempresentasikan aksi refleksinya. Ada Guru Dhorif yang menyatakan aksinya yaitu akan berusaha memahami murid dari latar belakang yang berbeda-beda melalui observasi harian dan meninggalkan labeling. Guru Joko seketika mengajak peserta untuk memberikan tepuk tangan sebagai apresiasi untuk Guru Dhorif yang sudah bersedia membacakan aksinya. Ice breaking penutup sudah siap dipimpin oleh Guru Joko dan terlaksana dengan sangat meriah, karena ice breaking penutup ini sifatnya membangun kerjasama dan kekompakan tim. Sebelum kegiatan ditutup dengan salam dari narasumber dan moderator, Guru Fiqoh menguatkan dengan kalimat penutupnya, ‘’ Inklusi tidak hanya pada guru atau sekolah, tapi lingkungan pun harus  Inklusi’’. Alhamdulillah,,,semua kegiatan TPD ke 15 hari ini berjalan dengan lancar dan penuh dengan aura semangat dari peserta. Itu membuktikan bahwa jumlah peserta bukanlah menjadi satu-satunya  penentu suksesnya suatu kegiatan, tapi semangat belajarlah yang akan menggiring kita menemukan kesuksesan itu sendiri. Kesepakatan Kelas: Membangun Motivasi Intrinsik Siapa bilang kesepakatan hanya bisa dijalankan orang dewasa? Anak-anak usia dini pun bisa. Menurut saya, dalam acara-acara TPD yang lalu pasti semua peserta terlibat dalam diskusi, seluruh waktu bukan milik narasumber. Begitu juga dengan acara TPD yang ke-15 ini, semua peserta terlibat untuk membahas tentang sebuah kesepakan kelas. Guru Ulya, sebagai narasumber mengajak para peserta untuk sharing pengalaman tentang membuat kesepakatan kelas. … Read more

Merancang Pembelajaran yang Bermakna

Moderator : Abdurakhman Hardiyanto (Unikal – KGB Pekalongan)Narasumber : Rizqy Rahmat Hani (Kampus Guru Cikal – KGB Pekalongan) Rizqy : Three Idiots adalah salah satu film favoritku, ada sebuah adegan yang membuatku terinspirsi yaitu adegan  Pia, dan teman-temannya sedang mencari Rancho yang lama telah menghilang. Setelah mencari ke bebrapa tempat, akhirnya mereka sampai  di sebuah sekolah. Ketika mereka turun, yang mereka lihat pertama adalah seorang anak dengan sebuah mesin sederhana mencampurkan bahan-bahan membuat kue, kemudian mata mereka tertuju kepada seorang anak yang memutar pedal sepeda sebagai daya pencukur  bulu domba, dan di samping mereka ada dinding sekolah yang nerwarna-warni. Adegan itulah yang membuat pandanganku mengenai pendidikan berubah. Suara jangkrik malam itu menemaniku yang sedang mempersiapkan materi ajar untuk esok hari. Aku  buka-buka lagi buku kuliahku tentang karya ilmiah. Aku buka-buka lagi Karya ilmiah yang pernah aku buat dan kirimkan untuk lomba sewaktu aku kuliah. “Baiklah, besok aku akan menjelaskan tentang apa itu karya ilmiah dan bagian-bagiannya.” Keesokan harinya, karena sudah mempersiapkannya, aku dengan kepercayaan diri masuk ke kelas. Langsung kubagikan karya ilmiah yang pernah kubuat kepada anak-anak. Kemudian kutulis sebuah kalimat di papan tulis. “Apa itu karya ilmiah?” Sengaja kutulis besar agar bisa terlihat oleh siswa yangpaling belakang. “Halo, nah coba Kalian baca sebentar mengenai karya ilmiah yang bapak berikan ya?” “Bapak beri waktu 5 menit untuk kemudian setiap anak wajib memaparkan pengertian seperti yang diketahuinya. Nanti jawaban yang paling keren Bapak kasih hadiah”. Saya yakin dengan hadiah anak akan lebih aktif, lebih senang belajar. Semua tampak senang dan berlomba-lomba menemukan arti dari karya ilmiah. Aku tersenyum karena merasa sudah menjadi guru yang keren, yang membuat anak-anak senang belajar. Belum ada lima menit ada seorang anak yang maju dan menuliskan jawaban di papan tulis. Dilanjutkan anak-anak yang lainnya. Dan semua antusias menuliskannya di papan tulis “pengertian dari karya ilmiah’. “Terima kasih, jawaban Kalian keren-keren!” Kemudian dari jawaban-jawaban tersebut, akhirnya kami saring menjadi jawaban yang paling benar. “Sekarang coba ada yang bisa menuliskan bagian karya ilmiah apa saja?” Semua diam. Kelas menjadi hening. Aku melupakan sesuatu. Hadiah. Maka dengan cekatan, aku langsung menawari hadiah kepada anak-anak. “Ehmm, kali ini bapak punya sesuatu bagi yang mau menyebutkan” Belum ada beberapa menit, seorang anak berdiri dan menyebutkan apa yang aku perintahkan. “Latar belakang, rumusan masalah, …. metode penelitian …, pembahasan… daftar pustaka” jawab saah satu siswa. Hari itu aku sangat yakin, kalau metodeku ini adalah metode keren. Anak-anak pasti bisa menjawab soal Ujian Nasional dengan baik. -Itulah yang aku lakukan 3 tahun di awal-awal menjadi guru. Mengajarkan anak menghafal. Senang, karena saat ulangan, anak-anak berhasil menjawab soal-soal pilihan ganda yang memuat materi-materi tersebut. Senang  karena nilai anak-anak selalu bagus di pelajaran Bahasa Indonesia yang artinya aku sebagai guru berhasil dan pastinya akan dipandang oleh pihak sekolah. Pemahamanku waktu itu mengenai sekolah adalah tempat mendapatkan nilai. Sampai akhirnya suatu hari saat tidak sengaja membaca tulisan siswaku. Bahwa selepas pulang sekolah, ia sering membantu ayahnya membuat batu bata. Maka ia tak suka jika gurunya memberikan PR, yang itu artinya ia harus meninggalkan bapaknya sendirian bekerja. Kejadian itu yang membuat aku merenung. “Apa benar, sekolah hanya mengejar nilai?” “Lalu mendapat ijazah” “Apa benar nilai-nilai di ijazah itu akan berguna bagi kehidupan mereka” Aku mulai merasa bahwa apa yang aku lakukan selama ini menjadi guru salah. Guru yang masih berorientasi nilai, guru yang tidak memperhatikan siswa yang diajarnya, guru yang tidak melibatkan siswa. “Bukan pengertian Karya Ilmiah yang siswa butuhkan” “Bukan mengetahui bagian-bagian Karya Ilmiah yang siswa butuhkan” “Lebih dari itu. Siswa Harus tahu bahwa ada sesuatu yang bisa dilakukan dari karya ilmiah bagi kehidupannya” Aku mencoba berefleksi dari kejadian di atas. Mencoba menjadi guru yang lebih baik. Karena aku sadar, bahwa menjadi guru adalah perjalanan, tidak ada garis finisnya. Perjalananya adalah proses belajarnya. – Di tahun berikutnya, aku mencoba mengubah konsep pembelajaran Karya Ilmiah. Kali ini mencoba melibatkan anak dalam prosesnya. “Di sekolah ada tempat-tempat apa aja sih?” tanyaku di depan kelas. “Toilet Pak” “Tempat Parkir Pak” “Ruang Guru” “Hutan sekolah” “Musala” “Kantin” Daftar tempat yang disebutkan siswa aku tulis di papan tulis, kemudian aku meminta siswa untuk mengurutkan tempat-tempat tersebut jika dilalui mulai dari ruang kelas dan kembali lagi ke ruang kelasnya. Akhirnya didapatkan rute untuk penjelajahan sekolah. “Jika kita seorang detektif yang mau meneliti tempat di sekolah, apa aja yang akan Kalian teliti?” “Kegunaanya Pak?” “Maksudnya Kegunaanya” tanyaku “Misalnya Perpustakaan Pak, perpustakaan pada dasarnya adalah tempat baca, jika digunakan untuk tempat mengobrol, tempat menonton televisi kan tidak digunakan semestinya” “Yang lain?” tanyaku lagi. “Kelengkapan Pak” “Apa lagi itu?” “Di tempat parkir misalnya Pak, sering terjadi pencurian helm. Itu karena CCTV yang belum ada Pak” Dari obrolan reflektif itu akhirnya kami mendapatkan rubrik-rubrik yang akan diteliti. Rubrik-rubrik tersebut yang akan digunakan siswa untuk melakukan penjelajahan sekolah secara berkelompok. Penjelajahan Sekolah pun berlangsung. Saat penjelajahan sekolah ada banyak diskusi di setiap kelompok. Misalnya saat di Perpustakaan, ada kelompok yang mendiskusikan penempatan kursi Perpustakaan yang masih kurang, hingga mendiskusikan peminjaman buku yang belum maksimal dilakukan, masih banyak siswa yang tidak mengembalikan buku. Kelompok lain saat melewati musala dan mengamati seorang guru yang berwudhu, mereka melihat banyak air wudhu yang terbuang sia-sia saat guru tersebut berwudhu. Lainnya melihat banyak tanaman yang mati di hutan sekolah dan tanaman yang berada di pot depan kelas. Dan masih banyak masalah yang mereka temui. (Padahal tiap hari mereka lewati, dan baru sadar setelah menjelajahi sekolah dengan rubrik). Sesampainya di kelas, akhirnya kami mendata bersama permasalahan yang ditemukan di sekolah. Dari permasalahan yang sudah didata, akhirnya kami sekelas mencoba mem-brainstroming ide-ide kami. “Saya yakin, Kalian adalah orang-orang keren di masa depan. Nah jika kalian mendapati masalah seperti ini (sambil menunjuk papan tulis) apa yang akan Kalian lakukan, ayo berikan kontribusi Kalian!” tantangku di depan kelas. “Saya akan mencoba membuat sistem barcode untuk perpustakaan Pak, agar peminjaman buku semakin mudah” “Aku akan mencoba meneliti, kenapa masih banyak anak pergi ke Kantin daripada ke Perpustakaan Pak saat jam kosong dan istirahat” “Aku akan mencoba membuat alat agar tumbuhan-tumbuhan di hutan sekolah atau depan kelas tidak layu Pak” Ide-ide yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. … Read more

Literasi lewat Dongeng, Membangun Keterampilan Berpikir Kritis.

Siapa yang waktu kecil senang mendengarkan cerita? Faktanya, mau besar atau kecil, kita senang mendengar cerita. Cerita yang bermakna bisa membangun karakter-karakter positif dalam diri. Guru punya banyak kesempatan untuk menyentuh hati murid-muridnya melalui cerita yang disampaikan di ruang kelas. Cerita yang seperti apa yang bisa membuat murid berpikir kritis? Kita akan bahas lebih lanjut dalam TPD KGB Bandung dengan topik : “Literasi lewat Dongeng, Membangun Keterampilan Berpikir Kritis.” Begitulah sepenggal caption yang mengantarkanku untuk hadir menemui Guru Titin, di SMKN 5 Bandung pada tanggal 23 Februari 2019. Aku yang telah lama menanti diangkatnya tema ini, hadir dengan membawa pertanyaan yang senada dengan caption tersebut. Pertanyaanku adalah “bagaimana menumbukan keterampilan berpikir kritis secara menyenangkan?” Mendongeng adalah jawaban dari pertanyaanku tentang kegiatan yang menyenangkan. Mendongeng adalah kegiatan literasi yang menyenangkan dan sangat kaya makna. Bu Titin yang juga aktif menjadi narasumber parenting, membagi pengalamannya sebagai contoh. Bu Titin bercerita : Saat itu suami saya karena sebuah kondisi menyebabkannya tidak dapat bekerja. Hal tersebut berbeda dengan saya yang selain berperan sebagai ibu, istri, namun juga bekerja sebagai guru. Di satu hari, saya pulang mengajar dalam kondisi basah kuyup karena kehujanan. Namun, suami saya nampak tidak mempedulikan keadaan saya. Saya pun memanggilnya, “Yah, sini deh, ada cerita.” “Cerita apa?” sahutnya sambil menghampiri saya. “Itu Bu Cinta pulang kehujanan, suaminya langsung membawakan handuk dan teh hangat, padahal Bu Cinta baru pulang main, bukan pulang kerja” kata saya. Mendengar cerita tersebut, suami saya bergerak membawakan handuk dan teh hangat, dengan mengatakan, “nih handuknya, nih teh hangatnya”. Lalu ia pergi dan kembali tenggelam dalam aktivitasnya. Tawa pun menyeruak di ruang TPD. Tawa lahir karena suami Bu Titin termotivasi untuk berperilaku baik, namun terdengar tak ikhlas. Dibalik tawa tersebut, lahir kesadaran pada peserta TPD, bahwa mendongeng itu dapat memotivasi untuk berperilaku baik, dapat membangun karakter. Dimana hal tersebut dapat terbangun bukan hanya pada penikmat dongengnya, namun juga pada pendongengnya. Pada contoh diatas nampak bahwa Bu Titin sebagai pendongeng, memilih untuk mengelola emosinya, sehingga komunikasi dapat tetap efektif memotivasi orang lain berperilaku baik, sehingga pada akhirnya dapat membangun karakter positif. Kekayaan makna pada dongeng dapat diraih, apabila dongeng menjadi sangat berkesan bagi siswa, menjadi memorable bagi siswa. Salah satu cara untuk meninggalkan kesan tersebut adalah dengan mengkritisinya. Kebiasaan kritis inilah yang pada akhirnya dapat menumbuhkan keterampilan berpikir kritis pada siswa. Bu Titin pun membagikan praktik baik kepengajarannya tentang cara-cara melatih berpikir kritis terhadap dongeng. Bu Titin mengawalinya dengan mengajak kami memikirkan “Apa kata-kata yang tepat untuk menggambarkan ini?” Dan kami diajak menceritakannya pada selembar kertas. Berbagai cerita pun bermunculan. Salah satu ceritanya adalah cerita tentang suami-suami takut istri, seperti judul sinetron di layar televisi. Lalu, kami diajak menceritakan lagi, “Tokoh mana yang disukai, dan mengapa?” Selain Bu Titin mempraktikannya langsung pada kami, Bu Titin pun menegaskan cara-caranya, yang meliputi: 1. Di tengah cerita, guru mengajak siswa membayangkan kelanjutan ceritanya, sehingga memungkinkan lahirnya cerita yang sangat variatif dari siswa. 2. Di akhir cerita, guru mengajak siswa menentukan tokoh yang disukai dan alasannya. 3. Lalu mengajak siswa berandai-andai, bila siswa menjadi salah satu tokoh di cerita tersebut, apa yang akan dilakukan dan mengapa. Bu Titin memberi contoh untuk poin nomer 3,  Bu Titin berkata, “Pada cerita Malin Kundang, bila kamu menjadi istri Malin, apa yang akan kamu lakukan dan mengapa?” Mendengar pertanyaan tersebut, sontak peserta TPD terkejut karena merasa belum pernah mendengar pertanyaan seperti itu sebelumnya. Bu Titin menyimpulkan prinsip melatih berpikir kritis adalah bertanya dengan hal yang berbeda, bukan hanya menerjemahkan atau men-translate-nya. Bu Titin pun menceritakan cerita tentang siswanya, sebagai hasil dari kebiasaan praktik baik yang dilakukannya. Singkat cerita, lahirlah siswa yang percaya diri untuk bercerita, yang merasa aman bercerita, yang bercerita tanpa merasa tertekan atau terpaksa. Dan pada sesi inilah tiba-tiba ruangan menjadi sangat hening. Bu Titin bercerita dengan mata berkaca-kaca. Peserta TPD ada yang sempat membayangkan, andaikan dirinya dulu memiliki guru seperti Bu Titin, sebagai siswa tentu akan merasa sangat bahagia. Karena saat itu, terasa bahwa ia mengajar dari hati. Disini Bu Titin berhasil menunjukkan bahwa dongeng itu dapat menyentuh hati. Keheningan kami pun disadarkan dan dipecahkan oleh moderator yang akan membuka sesi tanya jawab. Dan alhasil gaya kepengajaran Bu Titin yang mengajak kami berpikir kritis, menstimulasi antusias para peserta bertanya. Dengan kompak kami mengacungkan tangan, kami bergiliran untuk bertanya, ada yang mengalah bertanya di akhir, ada yang bertanya lebih dari satu pertanyaan, dan bahkan ada yang bertanya melebar dari topik hingga perlu dibatasi. Sebagai penutup, Bu Titin membagikan quote dari Fisher (2008) : “Good Teacher makes you think even, when you don’t want to”. Dan catatan saya menulis, “Kita bukan penyampai materi, kita tidak akan kalah dengan google, sang mesin pencari informasi.”

Kalau Guru Senang Main Game, Bagaimana Perasaan Muridnya?

Seruuu!!! Itu komentar yang tercetus dari para peserta Mudik KGB Surabaya edisi 11 kali ini. Temu Pendidik yang dilaksanakan pada 2 Desember 2018 di Loop Station ini diikuti oleh sekitar 26 guru yang tergabung dalam Komunitas Guru Belajar Surabaya maupun dari luar KGB. Ketika para anggota KGB tahu bahwa tema mudik kali ini adalah Board game, banyak guru yang bersemangat untuk mendaftar. Banyak peserta yang ingin tahu, seperti apa sih board game itu? Bagaimana board game itu bisa diaplikasikan pada pembelajaran di kelas? Atau bahkan pertanyaan yang inspiratif seperti bagaimana / games apa yang bisa menarik perhatian anak-anak ketika lab komputer atau jam pelajaran Komputer tidak ada? Karena temanya adalah boardgame, maka narasumber mudik kali ini sangat istimewa yaitu Guru Adhi Wiryawan. Beliau adalah pencipta games LINIMASA, sebuah board game yang digunakan untuk belajar sejarah. Game LINIMASA ini telah dicobakan pada siswa kelas 5 SD dan hasil penelitian menunjukkan bahwa game ini mampu meningkatkan minat membaca siswa pada sejarah Indonesia. Kegiatan diawali dengan pertanyaan pemantik yaitu kenapa sih harus bermain? Guru Adhi menjelaskan bahwa dengan bermain kita bisa belajar banyak hal. Contoh sederhana adalah ketika kita bermain sembunyi-sembunyian. Dalam permainan itu kita bisa merangsang indera kita, mengatur taktik atau strategi, melatih visual kita, belajar untuk memahami aturan permainan, dan disiplin diri. Ketika kita bermain, hormon kitapun terlibat yaitu hormon dopamine atau hormon yang berhubungan dengan kesenangan sehingga dapat merangsang kita untuk eksplorasi terhadap permainan. Bermain juga dapat menjadi jembatan untuk memfasilitasi berbagai gaya belajar di kelas. Guru yang kadang cenderung visual harus berhadapan dengan gaya belajar siswa yang auditory atau malah kinestetik. Dalam 21st century learning outcome, anak diharapkan punya pemikiran kritis, mampu berkolaborasi, mampu beradaptasi, memiliki kelincahan (agility), punya inisiatif dan efektif dalam berkomunikasi secara lisan ataupun tertulis. Kemampuan ini dapat dipelajari melalui bermain.   Game LINIMASA adalah game yang baru dikembangkan ini berisi berbagai tokoh dan peristiwa sejarah. Salah satu cara dalam bermain adalah dengan mengurutkan peristiwa sejarah dari gambar yang ada.   Pemaparan dari Guru Adhi memantik diskusi yang seru. Guru Hariadi sebagai salah satu peserta mudik bertanya bagaimana caranya memadukan boardgame dengan mata pelajaran di level SMP? Guru Adhi kemudian menjelaskan bahwa sebelum menemukan game yang akan dipakai, maka guru harus melihat tujuan pencapaian pembelajarannya dulu. Setelah tahu tujuan pembelajarannya, maka game bisa dicari, baik dengan cara membuat sendiri dari sesuatu yang baru ataupun modifikasi dari permainan yang sudah ada. Melihat banyak peserta yang tampak antusias untuk menggunakan game sebagai salah satu model belajar, Guru Adhi menyarankan guru untuk bekerja sama dengan game designer sehingga bisa menciptakan game yang dapat dimainkan di kelas . Guru Adhi juga memberikan tips membuat game dengan sederhana yaitu belajar secara otodidak (belajar tentang games design) dan guru harus banyak bermain juga supaya punya referensi permainan yang mungkin bisa digunakan di kelas. Dari kegiatan yang seru ini, ternyata ada juga guru seru yang sudah mengaplikasikan boardgame sebagai project siswa. Guru Ratih dari level SMU mengajak para muridnya yang berada di kelas 12 untuk menciptakan boardgame sebagai tugas belajar mereka. Mereka harus melalui proses yang tidak mudah karena harus direvisi berkali-kali. Namun walau prosesnya tidak mudah, tetapi mereka tidak menyerah. Kini boardgame hasil dari anak-anak telah dapat dimainkan di kelas mereka. Puncak dari kegiatan ini adalah saat guru mencoba ikut bermain game LINIMASA. Para peserta yang mayoritas adalah guru, harus mampu menebak urutan peristiwa sejarah kemerdekaan Indonesia. Suasana sangat riuh dan seru saat permainan mulai dijalankan. Guru Herlina berkata “Gamenya seru dan bikin gak takut salah, karena ini kan permainan”. Guru Fifi ikut menimpali “Gamenya jadi bikin pengen baca lagi buku sejarah”. Kalau guru saja senang main game maka bisa dibayangkan bagaimana perasaan muridnya. Salah satu refleksi dari kegiatan ini adalah bahwa bermain tidak hanya untuk senang-senang tapi dapat juga diaplikasikan dalam kegiatan pembelajaran. Dari aktivitas ini peserta juga makin tertantang untuk lebih berani berkreasi dalam pendidikan dan mampu menyimpulkan bahwa guru bukan menjadi pekerjaan yang monoton jika kita mampu lebih kreatif dalam mengajar. Jadi, apa game kita di kelas hari ini?

Kecerdasan Potensial Anak?

Komunitas Guru Belajar Binjai mengadakan Temu Pendidik (Mudik) Daring di tengah masa liburan. Tidak disangka, banyak yang tertarik untuk berpartisipasi pada mudik 27 Desember 2018 lalu. Diskusi bahkan masih berlangsung setelah waktunya selesai. Ada yang kesulitan sinyal karena sedang hujan deras. Namun syukurlah mudik berjalan dengan baik. Narasumber kita kali ini adalah Guru Ayu. Guru Ayu adalah lulusan UIN Jakarta. Saat ini mengajar di SMP PABA Binjai, Pelajaran Prakarya dan Pendidikan Kewarganegaraan, juga bertanggung jawab di bidang kesiswaan. Guru Ayu memulai materi dengan memberikan sebuah pertanyaan menarik. Apa itu kecerdasan? Beberapa peserta mencoba memberikan jawaban. Selanjutnya Guru Ayu menjelaskan, menurut seorang psikolog, yaitu Dr. Howard Gardner, manusia itu bisa memiliki lebih dari satu kecerdasan atau yang sekarang kita kenal dengan teori multiple intelligence/kecerdasan majemuk. Dengan mengetahui potensi kecerdasan yang dimiliki oleh anak, akan membantu pendidik dalam mendukung perkembangan kecerdasan anak dengan lebih baik lagi. Ada 9 kecerdasan yang berpotensi dimiliki oleh seseorang: Kecerdasan Linguistic  Kecerdasan ini menjelaskan tentang kemampuan anak dalam memahami, mengolah dan mengutarakan kata. Anak mampu memahami bahasa dengan mudah, daya ingat terhadap kosa kata banyak, suka membaca , dan lainnya. Kecerdasan Logic-Math Dikenal juga sebagai kecerdasan logis matematik. Kecerdasan ini menerangkan kemampuan anak dalam berfikir logis, mampu berfikir secara matematis, cepat dalam hitung menghitung, mampu memahami data yang berkaitan dengan angka, mampu merespon dan memproses data secara spontan dan cepat. Kecerdasan Visual Spatial Kecerdasan ini menjelaskan kemampuan anak dalam mengingat letak, bentuk, warna suatu objek. Anak mampu memvisualisasikan hal-hal yang pernah dilihat ataupun dialami dan punya kemampuan navigasi yang baik. Kecerdasan Musical Kecerdasan ini berkaitan dengan kemampuan anak mengenali nada, suara, ritme, dsb. biasanya apapun yang dilakukan anak, akan terasa lebih baik jika dibarengi dengan musik. Kecerdasan Kinesthetic Kecerdasan ini menjelaskan tentang kemampuan anak dalam menggunakan anggota tubuhnya sesuai fungsi. Kemampuannya mengontrol gerak tubuhnya, mengkoordinasikan segala gerak tubuh sesuai dengan kebutuhannya. Kecerdasan Interpersonal Kecerdasan ini menjelaskan tentang kemampuan anak dalam memahami orang-orang di sekitarnya. Kemampuan anak dalam memilah sikap dan tindakan dalam bersosialisasi maupun dalam menanggapi orang-orang di sekelilingnya. Melalui kecerdasan ini, sikap empati anak timbul. Kecerdasan Intrapersonal Kecerdasan ini menjelaskan tentang kemampuan anak dalam memahami kebutuhan diri, mengontrol dirinya dan mengetahui apa yang harus dia lakukan untuk membuat perubahan. Kecerdasan Naturalis Kecerdasan ini berkaitan dengan kemampuan anak dalam memahami bahwa kehidupan di alam ini merupakan elemen yang saling terhubung dimana makhluk hidup lain juga memiliki perasaan yang sama, yaitu rasa ingin disayang, dilindungi, merasa aman dan damai. Dengan kesadaran itu membuat anak faham bahwa apa yang dia lakukan terhadap alam akan berdampak pula pada kehidupannya. Kecerdasan Spiritual atau Eksistensi Kecerdasan ini menjelaskan tentang kemampuan anak dalam memahami tujuan hidupnya berdasarkan kaidah spiritualnya. Anak memahami apa yang harus dan yang tidak harus dia lakukan sesuai dengan tingkat spiritualnya (hubungannya dengan tuhannya). Kecerdasan ini sebenarnya melingkupi kedelapan kecerdasan sebelumnya karena setiap kecerdasan sebelumnya pada akhirnya akan mengembalikan pola pikir anak tentang spiritualitasnya (keimanannya). Nah, termasuk kecerdasan manakah anak didik kita? Dengan mengetahuinya, akan lebih mudah bagi kita untuk mengarahkan anak didik untuk belajar dengan menggunakan kecerdasan yang dimilikinya. Untuk mengetahui kecerdasan potensial anak, ada yang menganalisa melalui sidik jari dan ada juga tes lainnya. Namun penting untuk diperhatikan, walaupun kita mengetahui kecerdasan potensial anak melalui berbagai tes, kecerdasan itu tidak akan berkembang jika lingkungan tidak mendukung. Jadi Bapak Ibu pendidik, mari kita mengamati dengan lebih baik lagi anak-anak didik kita. Apa potensi yang mereka miliki? Bagaimana kita membantu mereka mengembangkan potensi tersebut? Temu Pendidik dilanjutkan melalui sesi tanya jawab Guru Gusik : Dalam diri seorang anak terdapat berapa kecerdasan ya Bu Widayu?Apakah semuanya ada ataukah beberapa saja? Guru Ayu : Dalam satu individu bisa saja memiliki kesembilannya. Tapi jikapun memiliki kesembilannya, pasti ada yg lebih dominan diantara semuanya. Namun pada umumnya, setiap orang pasti memiliki kecerdasan lebih dari 1 kecerdasan. Guru Gusik : Untuk mengetahui dominan yang mana apakah ada test ataukah hanya dengan pengamatan saja bu? Guru Ayu : Sejauh ini saya melakukannya melalui analisa. Kalaupun tes, biasanya saya tesnya non formal. Guru Rianty : Apakah faktor gen dari orang tua dominan mempengaruhi kecerdasan potensial anak? Guru Afrida : Apakah kecerdasan seorang anak bisa terbentuk dari lingkungan nya ataupun berdasarkan pengalaman ? Guru Ayu : Kalau menurut saya,, gen bisa mempengaruhi,, tapi lingkungan dan pengalaman lapangan lebih banyak mempengaruhi,, buu.. Guru Rianty : Oke Bu terima kasih, jadi lingkungan dan pengalaman yg seperti apa yg sangat mendukung dalam terbentuk nya kecerdasan seseorang anak ? Guru Ayu : Standar atau patokan bakunya tidak ada buu.. Krna ada orang yg bisa memiliki kecerdasan majemuk dg baik di lingkungan yg krg baik dg pengalaman yg berat (menurut kita).. Ada juga yg memiliki kecerdasan majemuk di lingkungan yang serba nyaman dan pengalaman lapangan yg tidak lbh berat. Guru Afrida : Berarti belum bisa jadi penentu ya Bu ? Cerdas atau tidaknya mereka ? Guru Ayu : Tidak ada patokan yang baku, semuanya masih relatif. Bergantung kita (sebagai pengarah) mengarahkan anak pada kecerdasan potensial yang mana yang dimiliki anak. Guru Afrida : Berapa besar persentase pengaruh gen dan lingkungan?  Karena saya pernah mendapatkan murid yang secara kemampuan menceritakan tentang game yang disukainya sangat berbeda dengan kecerdasan emosionalnya. Guru Ayu : Kalau persentase, saya belum pernah mengambil data, jadi saya belum bisa menjawab Guru Rinesha : Ada anak remaja suka sekali dengan olah raga (kecerdasan kinestetik), namun tidak tertarik atau  merasa stress dengan pelajaran matematika. Apakah kita harus memfokuskan pada kinestetik saja untuk mengoptimalkan kemampuannya dan tidak terlalu menekannya dalam matematika? Mengingat di Indonesia, kurikulumnya begitu berat, banyak sekali mata pelajarannya dan ada KKM pula. Guru Ayu : Kita harus pahami dulu, apa yang membuatnya merasa stress ketika menghadapi Matematika? Setelah tahu, kita baru bisa menentukan pendekatan yang membantu dia untuk memahami materi Matematikanya. Meski tidak sepenuhnya memenuhi yang sesuai kurikulum, setidaknya kita buat dulu dia nyaman dan enjoy, baru kita bisa menemukan lagi cara untuk meningkatkan kemampuan Matematikanya. Sedangkan untuk kinestetiknya tetep difokuskan, tapi dengan kontrol juga, tidak dilepas begitu saja.. Guru Ayu memberikan satu quote sebagai penutup Dalam diri setiap anak, pasti ada minimal satu kecerdasan, jangan biarkan satu anak pun terabaikan. Mari terus semangat … Read more

Strategi Menyenangkan untuk Ulangan Harian

“Besok ulangan ya?” Tiba-tiba wajah murid menjadi berubah. Seakan-akan akan menemui monster yang menakutkan. Ulangan menjadi momok bagi sebagian murid. Tantanganya adalah membuat ulangan menjadi menyenangkan. Bukan hal yang menakutkan. Sebagai pembuka Guru Nazila mengajukan pertanyaan Rekan-rekan diskusi menimpaliSeriiing Bu!Sering BangetBudaya NyataDengar ulangan, anak-anak langsung galauBersorak huu! Nah, banyak hal yangg kita sering jumpai ya.Lantas, apa yg akan kita lakukan untuk mengatasi hal tersebut? Kali ini Guru Gia akan berbagi pengalamannyamerancang penilaian yang menarik dan mengasikkannamun tetap bermakna. Assalamualaikum w.w. teman-teman Pendidik! Saya sungguh bersyukur sekali bisa berada di tengah teman-teman pendidik semua. Rasanya seperti mendapatkan saudara baru,teman belajar baru yang selalu berusaha memberikan yang terbaik.Karena saya meyakini bahwa guru yang baik adalah guru yang selalu memberikan yang terbaik dari dirinya untuk siswa-siswanya dan lingkungan di sekitarnya. Pada kesempatan malam ini, saya mohon izin untuk berbagai sesuatu kepada teman-teman pendidik semua tentang sesuatu hal yang telah membuat saya bahagia. Ilmu saya masih minim sekali, tapi saya punya keinginan yang besar untuk terus belajar memberikan yang terbaik. Perkenalkan, nama saya Sitti Ghaliyah. Biasa dipanggil Gia. Alhamdulillah saya diberi kesempatan belajar untuk menjadi Pendidik dan Wakil Kepala MTs Ibad ArRahman di Pandeglang, Banten. Saya mengampu mata pelajaran Fisika tingkat SMA/MA. Oia, saya suka sekali menulis, tapi belum juga menulis buku solo. Doakan yaaa. Saat ini saya aktif menulis #CatatanIbuGuruGia di instragam @giaghaliyah. Kalau yang belum follow boleh banget, semoga kita bisa tetap bersilaturahim. Sebelum ke materi utama, saya mau menyampaikan cemilan dulu yaaa. Tentang 7 Prinsip Seorang Pendidik Pembawa Perubahan. Insyaallah akan terkait dengan materi utama kita. Jujur deh… Sebagai guru, pernahkah teman-teman melihat ekspresi dan respon murid Anda ketika Anda mengumumkan bahwa pekan depan akan Ulangan Harian? Bagaimana ekspresi murid Anda? Sedih? Bingung? Muram? Atau, ada gak yang punya pengalaman justru murid Anda bilang, “Horeeeee!”? Terus, bagaimana responnya? Gak mau Ulangan Harian? Minta diundur waktunya? Saat awal-awal saya mengajar, jujur saya belum peka memahami murid saya. Apalagi ketika saya mengumumkan, “Nak, pekan depan Ulangan Harian Fisika Bab Dinamika yaaa! Mohon belajar semaksimal mungkin.” Ekspresi murid satu kelas langsung berubah tegang. Raut wajahnya menjadi muram. Terlihat sekali bahwa mereka merasa terbebani untuk menghadapi Ulangan Harian Fisika pekan depan. Responnya juga kompak, mereka bilang, “Buuuu Ulangan Harian Fisikanya diundur ajaa dong buuuu!” Awalnya saya berpikir, “Ah, wajarlah mereka begitu. Fisika kan emang salah satu mata pelajaran yang susah. Jadi wajarlah kalau mereka takut Ulangan Harian Fisika.” Oh, saya salah besar! Saya gak boleh menanggap bahwa hal itu merupakan sebuah kewajaran! Akhirnya, saya berusaha untuk merefleksi diri saya sendiri mencari apa penyebab sebenarnya. Menurut teman-teman semua, kira-kira apa yaa penyebab ekspresi dan respon yang kurang bersahabat dari siswa kita ketika akan Ulangan Harian? Mungkinkah ada rasa trauma dengan suasana kelas yang begitu mencekam? Bosen mengerjakan soal UH dengan duduk diam terpaku selama berpuluh-puluh menit? Izinkan saya mencoba menganalisis dari hasil refleksi yang telah saya lakukan berdasarkan pengalaman saya sendiri. Saya masuk kelas. Lalu, saya bilang, “Hari ini siap yaa Ulangan Harian Fisika. Sudah belajar semua?” Terus seluruh siswa diam. Kayaknya sih takut dan deg-degkan banget deh. “Kok diam semua? Tenang, soal yang keluar insyaAllah yang sudah kita pelajari bersama-sama, kok. Santai aja yaaa,” kata saya membuat mereka tenang. “Iya, bu,” jawab mereka dengan ekspresi tidak antusias. Ada juga yang masih terlihat grogi dengan keringat yang sudah mengembun di keningnya. Lalu, saya bagikan kertas soal Ulangan dan lembar jawabnya satu persatu. Tak lupa, saya pun bilang, “Ayo posisi duduknya saling dijauhkan. Pokoknya gak boleh ada yang menyontek ya!” Jujur, saya menginginkan murid saya duduk dengan tertib ketika Ulangan Harian berlangsung. 80 menit berlalu. Ada yang masih mengerjakan soal Ulangan Harian, ada juga yang sudah selesai. Biasanya yang sudah selesai akan menaruh kepalanya di atas meja, tanda menunjukkan bahwa murid tersebut sudah merasa bosan. Ya begitulah. Saya pelototin mereka ketika mengerjakan soal Ulangan Harian. Mungkin itu yang membuat murid menjadi takut dan grogi banget. Belum lagi mereka harus duduk diam terpaku, gak bisa bergerak-gerak. Lalu, bagaimana dengan kebosanan yang melanda mereka? Ok, saya harus mengubah metode Ulangan Harian menjadi sesuatu hal yang menyenangkan dan penuh tantangan. Saya ingin mereka justru antusias mengerjakan soal-soal Ulangan Harian. Tapi, bagaimana ya caranya? Ada 7 Prinsip Ulangan Harian yang sangat penting untuk kita ketahui bersama 1. Valid Buatlah soal-soal Ulangan Harian sesuai dengan tujuan pembelajaran, kompetensi dasar yang telah ditentukan, dan juga indikator-indikator pencapaian kompetensi yang telah dijabarkan dan telah diajarkan. Penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan kamampuan yang diukur. 2. Mendidik Ulangan Harian harus bisa menjadi penghargaan yang memotivasi bagi murid yang berhasil dan sebagai pemicu semangat untuk meningkatkan hasil belajar bagi yang kurang berhasil. Saya pernah punya pengalaman, murid saya trauma dan pasrah menyerah sebelum Ulangan Harian Fisika. Katanya, “Ah bu, saya sudah belajar maksimal sesuai dengan kemampuan saya, tapi palingan nanti hasilnya saya remedial lagi, dan lagi.” Lho kenapa murid saya jadi pasrah menyerah ya? Pasti ada sesuatu yang salah dari cara Ulangan Harian yang saya terapkan kepadanya. Walaupun ia pernah remedial di Ulangan Harian pertama, maka Ulangan Harian selanjutnya selanjutnya bisa menjadi pemicu semangatnya untuk bisa berhasil mendapatkan nilai yang bagus juga. 3. Berorientasi pada Kompetensi Nah, untuk prinsip yang ketiga ini, kita harus membuat soal-soal Ulangan Harian yang mengacu pada pencapaian kompetensi ya. Jangan sampai, apa yang sudah kita ajarkan di kelas, tidak sesuai dengan soal Ulangan Harian yang kita berikan untuk murid. Kita pun harus benar-benar merancang soal yang baik, yang sesuai dengan kompetensi dalam kurikulum. 4. Adil dan Objektif Tentu cukup beragam latar belakang murid kita di kelas. Jangan mentang-mentang kita dekat dengan salah satu orang tua murid, maka kita berlaku tidak adil kepada murid tersebut saat Ulangan Harian. Nggak boleh, ya! Guru harus adil dan objektif, tidak ada murid kesayangan, tidak ada rasa pilih kasih kepada murid-murid tertentu saja. 5. Terbuka Maksudnya adalah guru harus ada bukti yang jelas tentang nilai-nilai Ulangan Harian murid. Mulai dari lembar jawaban Ulangan Harian, lembar penilaian Ulangan Harian, dll. Semua harus terarsip dengan baik ya. Begitupun dengan kriteria penilaian Ulangan Harian. 6. Berkesinambungan Guru harus telah merancang program semester, terutama sudah merancang mau berapa kali … Read more

Budaya Literasi Pendidik

Semua proses pembelajaran itu pahit. Mengapa pahit? Karena ada proses panjang dan tidak enak harus dilalui untuk meraih sebuah tujuan. Mereka yang ingin bergabung di dunia pendidikan adalah mereka yang rindu dengan masa lalu. Masa lalu saat awal belum mengenal baca dan tulis sampai akhirnya meraih impian yang sejak dulu di impikan baik sesuai cita-citanya maupun berbeda dengan cita-citanya. Ketika melihat gurunya, ia akan ingat masa lalu saat masih sekolah. Ketika melihat anak bersekolah, ia akan ingat kenangan masa lalu. Kenangan mengingat siapa itu guru, mengingatkan saya waktu masih duduk di kelas 3 SD, ada sebuah kegiatan yang dilakukan yaitu “Setor Moco” apa itu? Ya. Karena di kelas 3 nantinya ada tes kemampuan dasar, setiap 5 hari sekali kami harus menyetorkan buku fiksi yang harus selesai kami baca dan dibuat resume, awalnya memang terasa sangat malas, membosankan, menghabiskan waktu bahkan mengurangi jam bermain. Ternyata, setelah dilaksanakan asyik juga, maklum saja buku fiksi merupakan salah satu buku yang menjadi favorit anak karena terdapat gambar dan alur cerita yang seru. Semenjak itu saya juga suka bercerita dan mengekspresikan apa yang saya alami ke dalam sebuah cerita yang sering kita sebut dengan buku diari. Ternyata melalui sebuah pembudayaan dapat memberikan dampak positif bagi kita. Pengalaman waktu masih SD dulu tentang membaca, coba saya terapkan saat menjadi guru, bagaimana cara mengajak anak untuk menyukai bacaaan, menyukai judul buku, menyukai isi buku, bahkan beberapa yang awalnya sama sekali tidak tertarik untuk melihat buku, sekarang menjadi terbiasa untuk membaca. Bukan hanya sekedar membaca tetapi memahami isi bacaan buku, menjadi aktif membaca. Pernah suatu ketika saya sangat malas mengajak anak untuk membuka buku cerita yang tersedia di lemari, biasanya sebelum istirahat ada waktu “Semaan Baca” seperti kegiatan membaca anak satu persatu, lalu ada anak yang mendekat dan bilang “Bu, kenapa saya tidak disuruh untuk membaca? Saya tidak mau istirahat sebelum diminta untuk membaca”. Semenjak saat itu membaca bukan lagi sebuah keharusan tetapi menjadi sebuah kebudayaan yang melekat bagi anak. Kebudayaan yang sering kita sebut dengan budaya literasi. Melalui Temu Pendidik Daerah Komunitas Guru Belajar Kudus yang dilaksanakan pada 13 Januari 2019 yang lalu, Guru Galih Adhyatomo sebagai narasumber mengajak membahas topik budaya literasi ini. Literasi, Sebagian besar orang  hanya menganggap bahwa literasi identik dengan membaca, sebenarnya lebih dari itu literasi bukan hanya tentang membaca. Dengan literasi seorang mampu membaca sekitar. Setelah melihat,  membaca dan memahami ia mampu memprediksi isi bacaan, latar belakang penulis bahkan dapat diaplikasikan dalam tulisan maupun kehidupan sehari-hari. Dengan mengembangkan literasi maka akan berkembang pula skill seseorang dalam membaca aktif. Bagaimana ia mampu  mengaplikasikan hasil bacaan baik dengan buku maupun tidak. Semakin banyak sumber yang dibaca seseorang, maka semakin banyak pula kosakata yang di miliki. Sebagian besar orang mengukur kecakapan atau kemampuan seseorang dari bahasanya. Sebenarnya semua orang sama, tidak ada yang cerdas dan tidak. Hanya saja orang yang cerdas sering mendengar, melihat, dan memahami bahasa orang lain serta mampu menyinkronkan keduanya menjadi tulisan dan rangkaian kata. Salah satu cara pengaplikasikan budaya literasi memang sedikit sulit untuk diterapkan. Dibutuhkan keseriusan serta kesabaran untuk mengajak membudayakan literasi. Murid merupakan gambaran dari gurunya. Guru perlu mampu untuk menjalin hubungan dengan murid secara memanusiakan. Memanusiakan hubungan itu perlu. Apalagi hubungan berdasarkan emosi, sosial, hubungan guru, anak, orang tua dan steakholder. Belajar membaca Membaca dimulai dari mengenal huruf, mengenal kosa kata, mengenal kata, dan mengenal kalimat. Baru mengenal membaca secara aktif. Berdasarkan data tentang literasi yang dikumpulkan oleh beberapa lembaga survey menunjukkan bahwa warga Indonesia lebih mempercayai media sosial dan langsung menjadikannya sebagai sumber tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu. Dan yang lebih mencemaskan lagi warga Indonesia dalam kurun waktu 1 tahun hanya mampu menghabiskan 2 buku untuk dibaca. Ini menunjukkan bahwa minat baca warga Indonesia sangat rendah. Untuk apa murid kita diminta untuk membaca banyak tanpa mengetahui isi bacaan dan hanya sekedar membaca. Dibutuhkan panutan seperti guru yang mampu mendorong murid untuk mau membaca. Mudik dilanjutkan dengan sesi pertanyaan Sebagai penanya pertama Guru Etika Puspa Sari mengajukan. “Bagaimana cara membudayakan kebiasaan literasi bertahan lebih lama?” Di sekolah saya setiap hari sabtu diadakan pojok literasi, siswa bisa membaca buku yang mereka bawa sendiri dari rumah. Kegiatan membaca hanya bertahan beberapa menit saja dan selebihnya ramai sendiri, bagi yang memang memiliki hobi membaca ia akan melanjutkan bacaannya namun yang tidak memiliki hobi membaca meraka akan gaduh. Guru Galih Adhyatomo sebagai narasumber memaparkan bahwa anak SMP dan SMA merupakan masa dimana anak berada di tahap peralihan jati diri, rasa ingin tahu tinggi terhadap segala hal, kembali kita sebagai guru mencoba msauk ke dunia mereka, karena mereka berada di fase peralihan dari Tayo-Tayoan ke Black Pink. Buat mereka menyukai dulu apa itu membaca, buat mereka menceritakan dalam tulisan apa yang merekan sukai kemudian memaparkan isi cerita tersebut ke depan kelas, pasti sangat seru dan menyenangkan. Diskusi dilanjutkan melalui pertanyaan kedua Guru Shofi. “Bagaimana menerapkan budaya literasi yang lebih identik dengan membaca aktif untuk kelas 1 dan 2, yang notabennya ada beberapa anak yang belum bisa membaca?” Menurut Guru Galih, untuk kelas rendah bisa dengan cara mendongeng atau guru mencontohkan. Karena pada fase ini anak lebih banyak meniru dan melihat, belum mampu menuliskan lewat kata-kata. Kita bisa memancing mereka dengan hal-hal yang ringan dulu yang menjadi kesukaan meraka. Seperti tayo-tayo, spiderman, dan lain-lain. Sesekali pancing mereka untuk bercerita sebelum masuk materu yang berat-berat. Kalau kadang orang dewasa saja merasa malas untuk membaca buku yang tebal apalagi anak-anak. Anak lebih tertarik dengan buku yang memiliki warna dan gambar yang beragam. Tanggapan datang dari Guru Arif tentang cara untuk menyesuaikan pada perkembangan anak kelas bawah. Anak bisa menonton tayangkan film yang mengacu untuk berpikir lebih kritis. Seperti pada film anak “Jalan Sesama” ada salah satu tokoh yang bernama Jabrik, dalam cerita di jelaskan bahwa jabrik akan pergi ke stasiun untuk melihat peswat terbang, kemudian salah satu temannya menegur jabrik bahwa di stasiun tidak ada pesawat terbang. Dan di akhir cerita baru diketahui bahwa di stasiun jabrik ingin melihat pesawat terbang yang dibawa oleh pamannya. Pada certia tersebut dapat dijadikan sebagai pemacu anak untuk lebih menalar. Sebagai penanya terakhir Guru Nailil turut bertutur tentang pengalaman dirinya. Saya mengajar di … Read more

Kolaborasi untuk Berbagi Praktik Baik Pengajaran

Melalui kolaborasi dengan MTs Nurul Islam KGB Pekalongan berbagi praktik yang menarik untuk diterapkan dikelas. Hal ini dimaksudkan untuk menciptakan inovasi dalam proses belajar. Siang itu langit terlihat sedikit mendung. Nampak beberapa guru yang tetap semangat duduk melingkar di ruang perpustakaan MTs Nurul Islam Krapyak Pekalongan. Mereka saling bertukar cerita, mulai dari rekan guru yang baru pertama kali mengikuti TPD KGB Pekalongan hingga yang beberapakali tetap setia mengikuti. Kehangatan begitu terasa saat kepala madrasah menyambut para guru dengan senyum ramah. Jika biasanya KGB Pekalongan mengadakan agenda harus mencari tempat terlebih dahulu, namun kali ini MTs Nurul Islam justru mengajak KGB Pekalongan berkolaborasi untuk membangkitkan gairah guru dalam mengajar sehingga tercipta inovasi dalam memberi ilmu kepada muridnya. Sebagaimana ditegaskan oleh Guru Nikmah selaku kepala Madrasah bahwa dengan adanya TPD ini beliau  mengharapkan agar guru-guru di MTs Nurul Islam dan guru lainya dapat menciptakan inovasi dalam proses pembelajaran. Belajar Membaca Harus Melihat Tahap Perkembangan? Kegiatan dibuka oleh guru Rayinda. Sebagai pembuka ia berbagi tentang Memahami Anak untuk Merancang Strategi Membaca. Banyak yang tertegun dengan apa yang Guru Rayinda paparkan. Bahwasanya mengajarkan anak bukan hanya sekedar megenali huruf namun juga memepertimbangkan tahap perkembangan anak. Terutama saat anak memasuki golden age dimana daya tangkap sangat baik jika dimanfaatkan untuk mengingat berbagai gambar atau bentuk literasi lain yang dapat membantu anak mengenali lingkungan. Selain itu, wanita berkacamata ini juga memutarkan video yang menjadikan peserta TPD mengerti bahwa dalam tahap membaca terdapat tahapan phoenemic awarness (kesadaran fonemik). Dalam video tersebut anak-anak diajak mengenali benda-benda disekitar mereka dan melafalkan serta membedakanya dengan bunyi huruf lain. Diakhir pemaparanya Guru Rayinda mengungkapkan bahwa merancang strategi membaca pada anak sangat penting karena kadang anak dituntut untuk mengerti makna suatu kata padahal pada tahapan tersebut sebenarnya ia belum mampu. Nah, sebagai guru dan orangtua tentu materi ini menjadi bahasan yang sangat menarik karena dapat dipraktikan langsung pada anak-anak dirumah. Posisi Menentukkan Prestasi Sesi selanjutnya diisi oleh Guru Zinat. Ia menyampaikan materi mengenai Posisi Tempat Duduk Mempengaruhi Prestasi. Pada sesi ini peserta diajak untuk keluar kelas dan membentuk lingkaran besar. Lalu mereka berkelompok sesuai dengan urutan bulan dan tanggal lahir tanpa menggunakan aba-aba. Rona wajah ceria menghiasai wajah para peserta. Keseruan tak hanya berhenti disitu, guru yang mengampu mata pelajaran Sistem Kebudayaan Islam ini juga mengajak peserta untuk membuat janji pada jam 3, 6, 9 dan 12. Dalam satu waktu peserta hanya boleh membuat janji dengan 1 orang. Game tersebut berhasil membuat guru-guru tersenyum lebar Ia menyampaikan bahwa game semacam ini sering ia lakukan untuk membuat murid tidak jenuh dalam belajar. Apalagi, ia mengampu mata pelajaran SKI yang notabene menjadi momok bahwa mata pelajaran tersebut menjenuhkan karena bahan bacaan yang panjang. Tidak lupa, ia juga membagikan materi mengenai pola tempat duduk yang memanusiakan hubungan. Sehingga murid belajar lebih antusias serta hubungan antara guru dan murid juga terjalin hangat. Menurutnya, posisi tempat duduk yang monotan juga memberikan efek bosan dan murid cenderung berkelompok karena kurangnya interaksi antar murid lain yang duduk tidak berdekatan. Belajar dengan Berkomunikasi Secara Visual Sebagai materi pamungkas, guru Najib membagikan materi Desain Grafis untuk Komunikasi. Ternyata, melalui komunikasi visual menjadikan murid tertarik terhadap materi yang disampaikan. Selama ini kita hanya terpaut pada teks dibuku saja tanpa menyajikan materi agar lebih menarik bagi murid. Konten visual juga lebih banyak diproses 60.00 kali lebih cepat dari konten teks selain itu dengan memadu-padankan warna menjadikan materi lebih terlihat menarik untuk dilihat. Jika biasanya desain grafis dibuat menggunakan corel draw atau photoshop yang terlihat rumit dan tidak semua orang mengerti, Guru Najib justru membongkar stigma tersebut. Dengan menggunakan smartphone kita bisa membuat desain grafis yang menarik. Kali ini ia mengajak rekan guru menggunakan aplikasi canva yang sangat simpel dan mudah digunakan. Beberapa peserta terlihat menikmati saat jari tangannya mulai memilah backgound serta font teks yang akan digunakan. Hasil desain yang dibuatpun terlihat menarik dan menjadikan candu untuk mencobanya kembali. Acara ditutup dengan refleksi. Guru Watik mengungkapkan bahwa ia sangat terkesan dengan acara ini dan ingin mempraktikanya setelah pulang dari MTs Nurul Islam. Selain diterapkan pada murid ia juga ingin mempraktikan pada anaknya dirumah.