Guru dan Realita Abad 21

“Koq anak zaman now itu sukanya komplen ama gurunya?, koq bisa sih mereka itu berkomunikasi tanpa rasa canggung atau takut ama gurunya?” “Anak zaman now itu aneh, cita-citanya seperti youtuber, blogger, selebgram, manajer medsos, ah.. semua itu pekerjaan aneh.” Yup, inilah realita di abad 21. Realita tersebut menunjukkan anak zaman now yang ingin lebih didengar dan dilibatkan, yang menuntut kreativitas,  kritis, dan kerjasama, serta yang menghadapi perkembangan teknologi. Lalu, bagaimana dengan kita sebagai gurunya yang merupakan produk masa lampau, berada di zaman now, mendidik siswa untuk hidup di zaman now dan di masa mendatang? Bagaimana guru dapat lebih mendengar siswanya? Bagaimana praktik mendengar yang kreatif? Bagaimana menggunakan media teknologi dengan lebih interaktif? Bagaimana menggunakan teknologi untuk membalik situasi : belajar di sekolah menjadi belajar di rumah, agar siswa lebih kritis? Bagaimana menggunakan teknologi dalam membagi kelompok yang lebih interaktif? Ingin tahu jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaan itu? Yuk gabung di Temu Pendidik Komunitas Guru Belajar Bandung dengan tema “GURU ABAD 21,” bersama Bu Djuangsih Dewi dan Bu Amalia Fitri, hari sabtu pukul 15.30 di SD Mutiara Bunda. Tahun baru, Semangat baru, Ilmu baru ☺ Caption itulah yang membuat guru-guru merasa tertarik dan bergerak untuk menemui kedua narasumber sore itu. Narasumber pertama adalah Bu Dewi. Diawal Ia menerapkan role play dengan mengajak peserta untuk berbaris di luar area kegiatan, seperti siswa-siswa berbaris di luar ruangan. Peserta pun berbaris dengan rapi memasuki area kegiatan. Tak disangka, kemudian Ia mengajak peserta keluar area kegiatan lagi, namun kali ini peserta masuk dengan diiringi musik yang membuat peserta ingin bergerak dan menari-nari dengan bahagia. Tak sampai disitu, Ia mengajak peserta keluar area kegiatan lagi, dan kali ini peserta diajak memasuki area dengan diiringi musik sambil bergaya bebas. Ada yang bergaya hip hop, menari jaipong, dsb. Lalu disambut oleh Bu Dewi sambil high five (baca : tos). Tawa pun memenuhi seisi ruangan. Kemudian Ia menstimulasi dengan pertanyaan, sehingga peserta membandingkan dan dapat menyimpulkan pada sesi memasuki ruangan yang ke berapakah, yang dapat membuat suasana menjadi sangat bahagia. View this post on Instagram A post shared by Umi Kalsum (@ka_umi) on Jan 9, 2019 at 8:26pm PST Mindfullness dan Memahami Anak Setelah pembukaan tersebut, Bu Dewi pun mulai berusaha menjawab pertanyaan pertama : Bagaimana guru dapat lebih mendengar siswa? Bu Dewi berkata, “Belakangan istilah mindfullness mulai populer. Konon, praktik mindfullness adalah salah satu kunci menghindari dan mengatasi rasa cemas, pun stres. Apa itu mindfullness? Menurut Marsha Lucas, mindfullness adalah memusatkan perhatian sedemikian rupa, menghayati apa yang sedang Anda lakukan, tanpa melakukan penilaian.”  Namun, perhatian yang kita berikan perlu dilakukan dengan cara tertentu yaitu : on purpose (secara sengaja, diniatkan), in the present moment (pada saat ini), dan non-judgmentally (tanpa menghakimi). Manfaat dari mempraktikan hal ini yaitu : mengurangi kadar stres, meningkatkan kemampuan regulasi dan kendali diri, menurunkan kecemasan dan depresi, meningkatkan kinerja, dan meningkatkan kemampuan membangun relasi. Hal ini dapat dilakukan dengan : menyayangi siswa kita seperti anak sendiri, tidak menghakimi, lebih berfokus pada sisi positif siswa, menyelesaikan masalah tidak dengan kemarahan agar siswa tidak merasa takut, mengangkat dan menurunkan jari sambil menarik napas, mendengarkan dengan fokus musik instrumen, menuliskan perasaan untuk mengurangi konflik dan agar dapat mengelola emosi. Secara kongkrit, Ia pun menunjukkan beberapa praktik-praktik yang kreatif seperti buku emosi, sebagai media bagi siswa dalam mengungkapkan perasaannya, dan sebagai media bagi guru dalam memperhatikan dan memahami siswa. Selain itu, ada juga media yang dapat digunakan agar guru dapat memperoleh perhatian siswa, yaitu berupa media seperti lampu lalu lintas berwarna merah, kuning, dan hijau, dimana “saat guru mengangkat warna merah, perhatian anak-anak harus fokus pada saya, kuning peringatan karena mungkin ada yang melanggar komitmen kelas, hijau tiba waktunya anak-anak mengemukakan pendapat atau sebagai pengganti mengangkat jari saat ada pertanyaan,” kata Bu Dewi. Sesi pertama pun berakhir dengan memberikan kesadaran pada peserta. Bu Nur yang merupakan peserta kegiatan berkata, “TPD hari ini mengenai GURU ABAD 21 sangat membuka mata saya bahwa untuk menjadi seorang guru itu butuh tenaga (effort) yang sangat besar, … harus lebih peduli terhadap murid … karena anak-anak zaman sekarang atau murid kita itu bukan kita di zaman dulu, jadi tidak bisa disamakan, oleh karenanya harus lebih peka terhadap perasaan murid, harus lebih mau mendengarkan murid, … tidak boleh semaunya sendiri”. Tools Kekinian untuk Pembelajaran Sesi kedua pun dimulai oleh Bu Fitri. Ia memulai dengan melibatkan peserta untuk belajar sambil bermain dengan mengakses website kahoot.it. Website merupakan website yang berisi kuis yang telah dibuat oleh guru, agar siswa dapat menjawabnya. Peserta acara TPD pun diposisikan sebagai siswa dan narasumber memposisikan sebagai guru. Langkah-langkah bermainnya adalah Akses website kahoot.it. Masukkan pin yang telah diberikan guru Pilih bermain secara individuatau bermain secara berkelompok. Masukkan nama panggilan. Tunggu hingga soal ditampilkan. Mulailah mengerjakan kuis. Keseruan terasa dari ekspresi peserta yang berbeda-beda dan berubah-ubah, ada yang bingung ketika merasa kesulitan mengakses soal, ada yang cemberut karena koneksi internetnya lambat, ada yang senyum-senyum ketika mengetahui jawabannya benar, dan bahkan ada yang ketawa-ketawa karena melihat jawabannya yang keliru. Setelahnya pun nampak keterlibatan peserta TPD menjadi semakin meningkat. Bu Fitri pun melanjutkan dengan pendasaran penggunaan teknologi dalam pembelajaran, serta contoh-contohnya. Pendasaran-pendasarannya karena Kegiatan pembelajaran yang padat Kegiatan/acara disekolah Kalender akademis yang dirasa tidak cukup Karakteristik siswa yang sudah memasuki era digital : Bebas, tidak mau terkekang Selalu update Bermain, bukan hanya bekerja Ekspresif Cepat, enggan menunggu Unggah, bukan hanya unduh Interaktif Berkolaborasi Beberapa situs maupun aplikasi dikenalkan, yakni seesaw, padlet, edmodo, quizizz, phet, google classroom, dan flipgrid. Dan aplikasi yang akan dipelajari hari ini adalah google classroom dan flipgrid. Google classroom adalah aplikasi atau fitur yang dapat membantu dalam pembuatan, pembagian, dan penggolongan setiap penugasan tanpa kertas. Sebagai siswa, langkah-langkah menggunakan google classroom adalah Klik simbol (+). Masukkan kode kelas yang diberikan guru. Pada laman stream, nampak tampilan seperti wall di facebook. Pada laman ini, guru dan siswa dapat berinteraksi seperti menyapa, memberi tugas, mengakses soal, dsb. Pada laman classroom, siswa dapat mengakses soal dengan klik dua kali pada soal yang hendak diselesaikan. Ia menyampaikan bahwa kelebihan dari google classroom adalah akun google sudah umum dimiliki banyak orang, google memiliki tampilan yang … Read more

Bagaimana Ya Cara Mengembangkan Ide Cerita?

Saya yakin teman-teman disini suka bercerita, dan saya yakin juga semuanya bisa menulis. Tapi saya yakin juga banyak yang malu-malu mau bercerita ataupun menulis. Nah, kali ini pada Temu Pendidik Daring Komunitas Guru Belajar Sragen, saya ingin sedikit berbagi agar teman-teman mempunyai keberanian untuk menulis bagi yang suka bercerita. Sebenarnya menulis tidak memerlukan pakem khusus, pakem atau kita sebut aturan justru muncul belakangan ketika si penulis telah menemukan pola tulisannya sendiri. Yang penting, ketika kita mempunyai ide, bisa satu kata, satu kalimat, satu adegan cerita atau seberapapun itu merupakan modal awal ketika ingin menulis. Sesi Tanya Jawab Pertanyaan 1 Indri Fatma : Bagaimana caranya memulai, mengembangkan dan merampungkan sebuah cerita (tulisan), kalau ide yang kita punya baru sebatas pesan moral yang akan disampaikan? Belum tau alurnya. Andy Hermawan : Bisa diberikan contoh pesan moralnya? Indri Fatma : Contoh bahwa salam itu harus dijawab, jangan mudah ngambek, jujur. Andy Hermawan : Pesan moral biasanya muncul di akhir. Bisa dibuat pola dari belakang ke depan dengan metode sebab akibat. Mengapa ngambek, siapa yang menyebabkan ngambek, apa yang menyebabkan ngambek, ngambeknya dimana. Dari situ akan terangkai kata demi kata. Pilih kata yang mudah dipahami. Indri Fatma : Saya sudah buat pola misal tokohnya anak-anak sendiri. Di awal mereka antusias (saat mendengarkan cerita) namun tiba saatnya di tengah-tengah saya kurang mampu menunjukkan klimaksnya. Andy Hermawan : Klimaks kata lainnya goals, tinggal mau memunculkan apa, goalnya keberhasilan, harapan, dsb. Alur yang biasanya dipakai oleh kebanyakan penulis atau pencerita adalah, awal cerita, isi, kemudian penutup yang disertai dengan pesan moral. Misal ya : Idenya tentang lapar. Satu kata. Bisa diawali dengan setting waktu pada suatu siang yang terik. “Seekor itik berjalan ke hutan ditemani oleh 3 ekor anaknya yang masih kecil-kecil. Jarak antara tempat dia tinggal dengan hutan, kira-kira hanya seperempat hari lamanya. Mengapa ia rela berjalan sejauh itu. Ia berjalan ke hutan hanya ingin mencari makan untuk anak-anaknya.” Dari cerita itu apa yang bisa disimpulkan? Indri Fatma : Usaha mendapatkan makanankah? Mencari makan karena mereka lapar? Perjuangan? Kasih sayang? Mencari makan di hutan? Andy Hermawan : Kata lapar tidak harus selalu masuk dalam ranah penulisan atau penceritaan. Lapar hanya ide. Dan ketika dituangkan, banyak sekali makna pembelajaran yang dapat diambil. Begitu kira-kira. Harus telaten itu kuncinya. Pertanyaan 2 Rika : Kalau diawali dengan deskripsi tokoh. Bakalan menyulitkan cerita kebelakangnya tidak? Bukan setting. Andy Hermawan : Kembali kepada goals apa yang ingin disampaikan, ibarat kita mau berjalan ke mall, jika ternyata yang dicari tersedia di warung dekat rumah ya itulah alurnya. Rika :  Hehe, saya cuma sering menemui cerita cerita yang diawali dengan setting waktu. Kalau tidak juga tidak apa kan. Pertanyaan 3 Vitriya : Bagaimana  cara menulis dongeng atau cerita yang asyik untuk dijadikan bahan dongeng secara langsung. Jadi memang dijadikan bahan untuk diperankan 🙏🙏 terimakasih pak. Andy Hermawan : Ini mau ditulis atau diceritakan langsung?😁pada intinya materi yang akan disampaikan layak dituturkan kepada anak semakin beragam, dan pada prinsipnya cerita apapun sejauh dapat menghibur, edukatif dan reflektif pantas didongengkan. Vitriya : Awalnya mau ditulis pak. Terus setelah itu diceritakan. Sepertinya memang power dikemampuan bercerita harus diasah dulu ya pak agar semua cerita kece untuk diceritakan. Andy Hermawan : Tokoh dalam dongeng tidak perlu banyak-banyak, cukup 2 saja, munculkan konflik dalam cerita, tutup dengan solusi dan pesan moral. Pertanyaan 4 Sigit :  Di awal tadi ada materi malu-malu bercerita maupun menulis. Saya yakin disini ada yg masih awam atau baru niat atau baru mau mengaplikasikan dll. Pertanyaannya kalau mau terjun di dunia dongeng, kita menulis dulu atau kita praktikan dulu. Kalau menulis dulu, langkah awal utk menulis itu gimana ya? Kalau praktik, malam ini diskusi nya membahas tentang menulis. Terima kasih atas jawabannya Kak Andy ☺ Andy Hermawan : Dongeng bukan ilmu pasti, mau langsung cerita atau ditulis dulu bebas, karena kita memainkan imajinasi dan bebas berekspresi, kembali kepada masalah kenyamanan dan kebutuhan, yang perlu dituangkan adalah gagasan-gagasan yang ada dalam pikiran, panggung ataupun pena dan kertas hanyalah media, sedangkan cerita merupakan isi, sinambi golek dalan yo karo gawe dalan (sambil mencari jalan, juga membuat jalan). Sigit : Untuk mengawali praktik menulisnya kak ? Andy Hermawan :  Mengawali praktek menulis ya berani dan mau, itu aja kuncinya. Tidak ada salah dan benar dalam proses, karena ‘rasa’ akan muncul dengan sendirinya Closing Baik teman-teman, banyak orang mengatakan bahwa diam itu emas, tetapi tidak menutup kemungkinan jika kita berani berbicara atau menyuarakan sesuatu maka kita akan mendapat emas bahkan gunung emas, cerita dapat dituangkan secara verbal maupun dinarasikan, menulis adalah kegiatan positif yang bebas, dapat kita lakukan dimana saja, kapan saja, dengan siapa, pokoknya bebas, yang penting perangi rasa malu, malas, dan selalu berkata susah sebelum mencoba.

Cara Belajar Guru Milenial

Apa yang harus dilakukan guru dalam menghadapi siswa yang merupakan generasi milenial? Generasi milenial cepat bosan dengan kegiatan yang monoton; padahal proses belajar di sekolah kita masih diisi dengan mendengarkan ceramah dari guru, mencatat dan mengerjakan tugas-tugas saja. Generasi milenial juga sangat suka menggunakan gawai. Mereka takut ketinggalan perkembangan dunia terbaru. Seakan semboyan hidupnya adalah “No Update No Life, No gadget No Life”. Pantas mereka kerap kedapatan mencuri waktu untuk membuka gawainya di tengah-tengah pembelajaran. Padahal masih bayak guru yang hanya menggunakan gawai untuk aplikasi chatting, facebok dan YouTube saja, jauh tertinggal di belakang siswanya. Generasi milenial juga senang bekerja multitasking. Makan saja dilakukan sembari membuka Instagram sekaligus membalas chat dari beberapa teman. Suatu hal yang sangat dibenci generasi jaman old karena dianggap tidak sopan. Alih-alih tenggelam dalam kegalauan ditengah jaman yang penuh  tantangan dan kecepatan ini, guru- guru di Purwokerto lebih memilih untuk berdaya. Mereka tahu bahwa pendidikan saat ini perlu bergerak mengikuti perkembangan jaman. Mereka tidak bisa lagi mengandalkan buku teks dan LKS sebagai senjata di kelas. Harus ada strategi-strategi baru. Karakteristik generasi milenial yang mampu belajar cepat dan mampu mempelajari banyak hal harus dipandang sebagai sebuah kelebihan bukan kenakalan. Jika guru mampu mengarahkan agar proses belajar siswanya menjadi terarah dan fokus, bukan tidak mungkin hal tersebut akan menghantarkan siswa menjadi orang yang sukses di masa depan. Namun jika guru tidak mampu hadir ditengah-tengah siswa, bukan tidak mungkin pula siswa menjadi mudah berpindah-pindah minat, sehingga kelak menjadi generasi mudah goyah dan tidak loyal. GuruFest 2018 adalah salah satu terobosan yang digunakan oleh guru-guru di Purwokerto untuk menjawab tuntutan tersebut. GuruFest 2018 adalah sebuah kegiatan belajar guru yang merdeka dan sesuai dengan kebutuhan belajar guru abad 21. GuruFest 2018 memberikan ruang bagi guru untuk saling berbagi pengalaman baik yang pernah dilakukan di kelas masing-masing untuk dibagikan kepada guru lain. “Selama ini kami kira para guru hanya bisa belajar dari dosen/professor, ternyata tidak. Kami ternyata bisa juga belajar dengan sesama rekan guru. Dan ini asik, karena narasumbernya adalah guru, orang yang paham banget tentang keadaan kelas dan sekolah saat ini. Sehingga materi-materi yang disampaikan benar-benar relevan dengan kebutuhan rekan guru lainnya”, kata Niamil Hida salah satu peserta GuruFest 2018 asal Pekalongan. Guru Niam bersama rekan-rekan guru yang tergabung dalam Komunitas Guru Belajar Pekalongan sengaja ikut hadir di acara GuruFest 2018 ini karena mereka merasa bahwa model belajar di GuruFest 2018 ini menarik. Ada banyak pilihan kelas yang bisa diikuti sesuai dengan kebutuhan belajar masing-masing guru. “GuruFest 2018 ini adalah kegiatan belajar guru yang terinspirasi dari kegiatan Temu Pendidik Nusantara yang baru saja kami ikuti di Jakarta beberapa waktu lalu”, kata Guru Daru mewakili panitia. “Kami memberikan ruang bagi para guru-guru di Purwokerto untuk berdaya sekaligus belajar barengan”, lanjutnya. Kegiatan GuruFest 2018 ini terbagi menjadi 4 sesi. Sesi yang pertama adalah Kelas Kemerdekaan. Kelas dengan durasi 1 jam ini adalah kelas dimana para guru bisa saling berbagi pengalaman baik dalam pengajaran. Kelas Kemerdekaan terdiri dari kelas-kelas kecil. Tiap kelas kecil diisi oleh 3 narasumber yang bercerita tentang pengalamannya dalam mengelola kelas melalui strategi tertentu. Sesi kedua adalah Kelas Kompetensi. Kelas ini berdurasi 3 jam. Sama seperti kelas kemerdekaan, sesi Kelas Kompetensi ini dibagi menjadi beberapa kelas kecil. Tiap kelas membahas topik yang berbeda-beda. Tiap peserta dapat memilih kelas yang sesuai dengan kebutuhan belajarnya masing-masing. “Saya masuk kelasnya pak Waryanto. Wah menarik sekali! Saya baru tahu ternyata dengan menggunakan aplikasi Kahoot, proses penilaian pencapaian belajar siswa bisa dibuat sangat seru.. keren pokoknya..”, kata Demas, salah satu peserta GuruFest 2018. “Saya besok akan gunakan aplikasi Kahoot ini di kelas saya..”, katanya. Sesi ketiga adalah Kelas Kolaborasi. Sesuai judulnya, kelas ini memberi kesempatan kepada para professional untuk ikut serta berkolaborasi dalam pendidikan. Kelas ini menghadirkan 7 orang narasumber yang para professional dibidangnya. Sebut saja Arnold Ong. Beliau adalah professional muda di bidang IT yang telah malang melintang di dalam dan luar negeri. Arnold menjadi narasumber di kelas “Inovasi teknologi untuk Pendidikan”. Aplikasi-aplikasi terbaik yang mendukung pembelajaran dipaparkannya di depan kelas. “Saya ingin guru-guru di seluruh Indonesia juga memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi secara maksimal. Dan hal itu tidak sulit kok..”, ujar Arnold. Selain Arnold, ada juga Robi Sofwan Amin. Beliau adalah jurnalis CNN Indonesia yang ikut tergerak untuk berkolaborasi memajukan Pendidikan di Indonesia khususnya di Purwokerto melalui GuruFest 2018 ini. Robi mengangkat “Pembuatan Video Profesional dengan HP” sebagai judul kelasnya. “Bermanfaat sekali ya, kami selaku guru dapat belajar pembuatan video langsung dari jurnalis. Tentunya ini menjadi strategi baru di kelas saya besok. Saya ingin pembelajaran PAI dikemas melalui vlog, pasti siswa saya akan suka”, kata salah satu peserta. Ilmu yang kita miliki tidak akan berkurang jika kita bagikan kepada orang lain. Dan ternyata hal ini juga membahagiakan. Itulah yang kami rasakan di kelas Karier sebagai puncak acara GuruFest 2018. Di kelas ini seluruh peserta, narasumber, dan panitia berkumpul bersama di Aula SMK Aryasatya Teknologi Patikraja Purwokerto. Tidak muncul gurat lelah di wajah mereka meskipun kegiatan telah berlangsung seharian. Justru yang muncul adalah kebahagiaan. Guru yang menjadi narasumber berbahagia ketika hari ini Ia berhasil menaklukkan dirinya sendiri. Menaklukkan anggapan negatif yang menganggap bahwa Ia tidak bisa menjadi narasumber bagi guru lain. Ternyata anggapan itu salah besar karena setelah berbagi di depan kelas, rasa malu, tegang, takut, telah lenyap berganti dengan ketagihan belajar tak berkesudahan. Fix! guru bisa menjadi narasumber untuk materi yang sangat dikuasainya, yaitu mendidik dengan hati. Kebahagiaan dari para peserta juga terlihat karena dibenaknya telah muncul optimisme baru. Optimisme yang muncul karena hari ini Ia memiliki strategi-strategi pembelajaran terbaik. Optimisme yang membuatnya tidak sabar untuk segera masuk kelas menemui para siswanya. Dan pastinya optimisme untuk terus belajar. Hari ini, sekali lagi kami belajar sekaligus membuat pembuktian bahwa berbagi itu membahagiakan. Bagi guru milenial, Sharing is cool! Nuno Riza Peserta GuruFest 2018 Penggerak KGB Pekalongan

Membangun Madrasah Inklusi – Guru Belajar Pekalongan

“Anak gila kok diterima di sekolah,” Kata-kata teror melalui SMS ini kami terima pada tahun 2012 di awal-awal tahun perjuangan membangun sekolah/madrasah inklusi.  Guru Niam, Kepala Madrasah akan bercerita bagaimana ia jatuh bangun membangun madrasah inklusi. Apa saja yang perlu dipersiapkan untuk membangun sekolah inklusi? Mengapa perlu menjadi sekolah inklusi? Yuk temukan jawabanya dalam Temu Pendidik Mingguan ke-23 Komunitas Guru Belajar Pekalongan “Membangun Madrasah Inklusi” Anifah  Assalamualaikum, selamat malam Bapak Ibu. Apa kabarnya hari ini? Yuk yang jauh mendekat, yang dekat merapat. Bahagia rasanya dapat menyapa guru-guru luar biasa malam ini, guru-guru yang memiliki semangat tinggi untuk terus belajar. Perkenalkan nama saya Anif dari KGB Pekalongan. Malam ini akan berperan sebagai moderator diskusi. Jangan lupa siapkan tenaga lebih dan cemilan untuk menyimak materi kece malam ini. Tema diskusi kita kali ini yaitu Membangun Madrasah Inklusi Bersama Pak Niamil Hida dari MI Kranji 1 Kedungwuni M. Niamil Hida Perkenalkan Nama saya Muhammad Niamil Hida biasa dipanggil Niam atau Hida. Pada kali ini saya akan sharing pengalaman proses merintis dan menumbuhkan madrasah Inklusi di MI Kranji 1 Kedungwuni Pekalongan Muhammad Niamil Hida Materi: “Anak gila kok diterima di sekolah,” kata-kata teror melalui SMS ini kami terima pada tahun 2012 di awal-awal tahun perjuangan membangun sekolah/madrasah inklusi. MI Walisongo Kranji 01 Pekalongan pada awalnya adalah sekolah/madrasah biasa seperti pada umumnya, sekolah/madrasah setingkat SD yang di bawah Kementrerian Agama. Awal mula munculnya ide menerapkan sistem inklusi karena keresahan beberapa guru melihat anak yang kami duga termasuk berkebutuhan khusus di sekitar sekolah tidak dapat kesempatan belajar yang baik, jikapun diterima di SD/MI hampir bisa dipastikan tidak mendapatkan pelayanan yang layak. “Terus anak-anak spesial ini tanggung jawab siapa?” Kata-kata itu yang akhirnya membuat tekad kami semua untuk memulai langkah awal menerima anak terindikasi berkebutuhan khusus di MI kami dengan modal “nekat”. Modal tekad dan nekat memang kata yang pas untuk menggambarkan kondisi saat itu saat memulai merintis madrasah inklusi. Banyak sekali tantangan yang harus dilalui baik faktor internal maupun faktor eksternal. Dilihat dari faktor internal kondisi guru-guru di MI Kranji 01 tidak ada satupun dari jurusan yang berkompeten dalam penangan ABK, bahkan mayoritas guru di MI Kranji 01 adalah dari lulusan PAI (Pendidikan Agama Islam) dan beberapa bukan jurusan pendidikan. Faktor internal lain yaitu kondisi sarana prasarana yang belum memenuhi dan belum ideal. Faktor eksternal juga sangat mempengaruhi tingkat tantangan dalam upaya menerapkan madarasah inklusi saat itu. Pada tahun 2012, di Kementerian Agama belum ada peraturan yang mengatur tentang pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus. Di tahun berikutnya ada MI Kranji seperti mendapat angin segar karena Kementerian Agama mengeluarkan PMA No. 90 tahun 2013 tentang penyelenggaraan pendidikan madrasah, yang di salah satu pasalnya menyebutkan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus, tepatnya pada pasal 14 ayat 6 yang berbunyi “MI wajib menyediakan akses bagi peserta didik berkebutuhan khusus”. Dengan modal peraturan ini kami menjadi lebih yakin bahwa madrasah juga mendapat dukungan yang baik dari pemerintah.Membangun kesadaran lingkungan sekolah akan pentingnya pendidikan inklusi di daerah yang sangat minim informasi tentang inklusi menjadi hal penting, stempel jelek masih banyak diterima anak berkebutuhan khusus, anak autis dianggap gila, anak ADHD dianggap tidak layak belajar bareng sebayanya di sekolah karena sering mengganggu. Melihat hambatan atau tantangan memang perlu untuk menyiapkan aksi apa yang pas untuk menjawab tantangan-tantangan. Seperti tantangan untuk menumbuhkan kesadaran pentingnya sistem inklusi kepada masyarakat, dan tugas sekolah/madrasah adalah memberikan edukasi dan bukti. Usaha untuk memberikan edukasi dan bukti kami lakukan melalui tindakan P3K, bukan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan, tetapi P3K yang kepanjangannya : Program Solutif, Pembelajaran Efektif, Promosi Simpatik dan Komitmen Energik. 1. Program Solutif Program-program yang didesain berusaha memberikan solusi atas permasalahan- permasalahan yang muncul di sekolah, seperti masalah kesempatan yang sama dalam berekspresi; sekolah/madrasah memberikan kesempatan kepada semua murid untuk tampil sebagai pengibar bendera, walau tubuh mereka sangat mencolok berbeda. Memberikan anak berkebutuhan khusus juga ikut berperan tentunya disesuaikan dengan potensinya. Tidak hanya itu, juga memberikan kesempatan anak kelas 1 MI untuk tampil dengan menjadi petugas upacara. Contoh-contoh program lain seperti parenting untuk memanusiakan hubungan dengan wali murid, program tentang pemahaman toleransi dengan hari tanpa seragam dan lain sebagainya. 2. Pembelajaran Efektif Belajar efektif yang kami percaya bukan sekadar mahir menjawab soal, tetapi belajar yang mendekatkan dengan realita kehidupan sehari-hari, seperti belajar tentang perpindahan panas dengan memasak dan latihan menyetrika baju, belajar perubahan zat benda dengan mencuci baju dan lain sebagainya. Jika murid didekatkan dengan hal yang bukan abstrak akan mempermudah pemahaman, salah satunya kehadiran anak berkebutuhan khusus sangat membatu guru mendekatkan realita ketika membahas toleransi, mencegah terjadinya bulliying dengan buddy system dan lain sebagainya. 3. Promosi Simpatik Kalau 2 hal di atas adalah usaha untuk memberikan bukti pentingnya pendidikan inklusi, promosi simpatik adalah upaya untuk mengedukasi masyarakat. Promosi yang dilakukan di MI kami saya yakin juga sudah dilakukan oleh sekolah lain, yaitu promosi melalui berbagai hal, seperti menyebar brosur dan promosi melalui media sosial. Cara tersebut bisa efektif jika sekolah kita sudah dipandang, kami sadar akan hal itu, maka yang kami lakukan adalah berbagi ilmu tentang apa yang guru-guru kami miliki kepada guru dan orangtua di sekitar, baik praktik baik maupun kompetensi yang dibutuhkan oleh mereka. Kegiatan promosi simpatik dengan kolaborasi ini sangat efektif untuk mengedukasi masyarakat. 4. Komitmen “Energik” Bagi saya yang terakhir ini faktor penentu keberhasilan dalam usaha meningkatkan sesuatu termasuk membangun madrasah inklusi. Dalam menjalankan 3 usaha sebelumnya pasti muncul beberapa masalah, tanpa komitmen yang kuat tidak mungkin kita bisa bertahan dengan tujuan mulianya, dengan komitmen masalah apapun bisa diminimalisir selama selalu mencari cara untuk menyelesaikan masalah. Untuk menjaga komitmen guru, yang kami lakukan adalah dengan membuat program diskusi rutin dengan program obsesi (obrolan senin santai) di forum inilah kami merefleksi program-program yang sudah dijalankan dan mencari program baru atau memodifikasi program program lama jika dibutuhkan. Melalui refleksi bersama program-program untuk memberikan pelayanan bisa bertumbuh lebih baik, seperti awal menerapkan inklusi program awal hanya klinik baca, akhirnya berkembang dengan PPI (program pembelajaran individual) dan lain sebagainya Melalui cara P3K ini yang di dalamnya ada kegiatan refleksi alhmadulillah sedikit demi sedikit apa yang kami lakukan untuk menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya pendidikan inklusi menuai hasil. … Read more

Bagaimana Cara Memahami Kebutuhan Khusus Murid?

Bagaimana jika di kelas yang kita ajar ada Anak Berkebutuhan Khusus?Apa yang harus kita lakukan?Dan bagaimana agar antarmurid bisa saling menghargai. Yuk SimakTemu Pendidik MingguanKGB Pekalongan ke-22 “Memahami Kebutuhan Khusus Murid” yang menghadirkanGuru Suhud Rois dari KGB Cimahi, dan moderatorMaman Basyaiban dari KGB Pekalongan. Suhud Rois Pergi ke laut naik kapal selamKe laut, kenapa sarungan?Assalaamu’alaikum, selamat malamApa kabar Pekalongan? Maman BasyaibanGula jawa dari arenRasa manisnya begitu kayaMalam Pak SUHUD KerenIzin belajar bareng ya Suhud RoisSiapakah sih , Anak Berkebutuhan Khusus Itu?Kalau membincangkan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) pasti dalam benak kita yang terbayang adalah yang fisiknya tidak sempurna, atau ada disfungsi di satu atau beberapa organ tubuh. Iya?Kemudian berkembang sebuah stigma, yang saya yakin karena latah, anak-anak penyandang learning disability atau learning disorder digeneralisasi sebagai penyandang autism.Sebenarnya, setiap anak (orang), itu berkebutuhan khusus. Tidak ada yang punya kebutuhan sama. Sudah makan malam? Sendirian atau sama orang lain? Misalnya sama satu atau beberapa orang. Makan ditempat yang sama, menunya sama. Bahkan porsinya pun sama, pakai ditakar segala. Apakah benar-benar sama semuanya? Tidak kan? Sama, dalam belajar pun tidak ada yang kebutuhanannya sama persis. Meskipun IQnya sama, bahkan minatnya sama sekalipun, pasti ada sesuatu yang membedakan yang kemudian disebut kebutuhan khusus.Namun karena kelas adalah kumpulan individu, maka tidak mungkin semua kekhususan diakomodir. Dibuatlah pengelompokkan besar untuk memetakan dan memudahkan pelayanan. Maka munculllah istilah kesulitan belajar spesifik (learning disability). Mereka yang termasuk dalam kategori berkesulitan belajar adalah penyandang disleksia, ADHD, dan ADD.Apa Saja yang Dihadapi Siswa Berkesulitan Belajar?• Masalah bahasa• Masalah perhatian dan aktivitas• Masalah ingatan• Masalah kognitif• Masalah sosial-emosi Apa yang Harus Dilakukan?Ketika sekolah membuka pintu bagi ABK, itu berarti suatu langkah mulia. Mengapa? Dalam banyak kasus ABK tidak mendapatkan tempat di sekolah-sekolah. Seolah-olah mereka itu menjadi beban. Namun, menerima saja tidak cukup. Kalau ABK sudah masuk, mau bagaimana? Gurunya siap? Teman-temannya siap? Lingkungannya siap? Tanpa ada kesiapan sekolah, menerima ABK justru mengundang petaka bagi sekolah dan anak tersebut. Nah, apa saja yang perlu dipersiapkan? Yang pertama dipersiapkan adalah gurunya. Guru harus benar-benar memahami dan menghargai keberagaman. Mindset guru tentang kesuksesan sekolah juga harus sudah harus lebih maju. Kesuksesan sekolah bukan diukur oleh pencapaian akademik yang indikatornya adalah nilai UN. Sekolah yang sukses adalah sekolah yang mampu mengembangkan anak, sekolah yang membuat anak berdaya. Guru harus siap untuk melakukan perubahan metode maupun materi pembelajaran. Sebenarnya tidak ada metode yang paling unggul. Yang diperlukan adalah kejeilian guru dalam memilih metode yang paling efektif. Yang kedua adalah orangtua. Orangtua harus didorong menjadi pendidikan anaknya. Mereka harus dilibatkan dalam pembuatan program bagi anaknya. Keterlibatan ini penting untuk menjaga konsistensi. Yang ketiga, mempersiapkan murid yang lain. Ini juga sangat penting, karena merekalah yang akan berinteraksi dengan ABK. Interaksi itu bisa bersifat positif, namun tidak menutup kemungkinan anak berdampak negatif. Oleh karena itu, sebelum ABK masuk kelas, warga kelas harus dipastikan sudah siap menerima teman yang berkebutuhan khusus. Apa yang Harus Dilakukan?• Jangan terburu-buru melakukan judgment. Misalnya ada anak yang sangat aktif, langsung kita ambil kesimpulan anak itu hiperaktif. Tetap lakukan observasi. Jangan lupa, anak tersebut harus dites oleh psikolog.• Bila sudah didapat hasil tes dari psikolog dan juga mendapatkan rekomendasi untuk treatmennya, segeralah membuat program bagi ABK dan juga seluruh kelas. Program yang diberikan kepada ABK harus mendapat support dari lingkungan.• Buatlah pembelajaran yang berdiferensiasi.• Berubahlah. Jangan terpaku pada praktik pembelajaran yang klasik (membaca, menulis, tes). Mulailah mengusung pembelajaran yang mengembangkan banyak aspek pada diri anak. Asesmen dan evaluasi juga jangan terpaku pada paper and pencil test. Pelajari dan praktikkan asesmen dan evaluasi yang lebih relevan dan memberdayakan.• Ini sangat penting : hindari memberi label pada anak. Sekalipun anak tersebut dinyatakan berkebutuhan khusus oleh psikolog. Biarlah itu menjadi bank data yang kita simpan rapat. Apalagi kalau label tersebut keluar dari teman-temannya, maka inklusivitas bisa dikatakan gagal. Pertanyaan Termin 11. Kinanti – BanjarnegaraBagaimana memberi pemahaman kepada anak TK kalo ada teman yg berkebutuhan khusus? Bagaimana mengajak teman2 lain mau main bersama dg ABK penyandang autis yg belum bisa berbicara, dan cenderung memukul teman.2. Yuli – BatangMindset apa saja yg harus dimiliki guru, kongkritnya bagaimana pak?3. Nita – Pekalongan” jangan terpaku pada paper dan pencil test “Ketika ada anak ABK yg agak sulit berkomunikasi, tertarik dgn kertas dan pensil, tapi hanya bisa sebatas coretan yang tak beraturan, seperti benang kusut (coretan semaunya sndri). Langkah apa yang harus dilakukan agar anak tersebut dapat lebih terarah kemamuan menulisnya?Suhud RoisPertanyaan1. Kinanti – BanjarnegaraBagaimana memberi pemahaman kpd anak TK kalo ada teman yg berkebutuhan khusus? Bagaimana mengajak teman-teman lain mau main bersama dg ABK penyandang autis yg belum bisa berbicara, dan cenderung memukul teman?Jawaban :Anak TK, ya? Waduh. Mungkin karakter anak TK hampir sama dengan anak kelas 1. Untuk anak usia awal sekolah, perlu penjelasan yang konkret. Bisa pakai ibarat. Misalnya, apakah mereka punya kakak atau adik di rumah?Apakah sama antara dia dengan adik atau kakaknya?Intinya pada akhirnya anak paham bahwa setiap orang itu berbeda.Bagaimana kalau ada ABK melakukan agresi?Yang pertama jangan sampai keluar kata “nakal”. Apalagi anaknya belum lancar bicara. Kita pahamkan ke anak yang lain bahwa mungkin anak yang berkebutuhan khusus ini ingin mengatakan sesuatu tetapi belum bisa. Akhirnya muncullah kekesalan, dan kemudian memukul. Tapi harus dipastikan juga bahwa memukul orang lain itu tidak boleh. Yang kedua kasih praktik bagaimana berinteraksi dengan anak tersebut. Ketika dia melakukan agresi, kita bisa tanya, “Kamu ingin apa? Kesal,ya? Kenapa kesal?” Karena anak blm bisa bicara, maka guru mencari apa yang ingin dilakukan atau dikatakan anak tersebut dengan mengajukan pertanyaan yang bisa dijawab dengan anggukan atau geleng kepala.Pertanyaan2. Yuli – BatangMindset apa saja yg harus dimiliki guru, kongkritnya bagaimana pak?Jawaban :Mindset guru tentang kesuksesan sekolah? Masih banyak guru yang memandang keberhasilannya dalam mengajar adalah ketika murid-muridnya mendapat nilai yang tinggi, terutama saat ujian. Tentu saja tidak salah bisa mendapat nilai yang tinggi. namun harus diingat, bahwa tujuan pendidikan yang utama bukan nilai. bahkan dlm UU PendidkanNasional disebutkan yang pertama dari tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang bertakwa. Nah, sudah saaat guru memandang kesuksesan sekolah itu ketika mampu mengembangkan semua muridnya sesuai dengan kapasitasnya, di semua ranah pendidikan.Pertanyaan3. Nita – Pekalongan“Jangan terpaku pada paper dan pencil test “Ketika … Read more

Mengapa Guru Harus Menulis?

Eka Wardhana Saya sering menyebut diri sebagai tukang nulis, karena menulis di mana pun dan kapan pun. Beberapa tulisan bahkan hasil menulis di kereta listrik antara stasiun Tebet dan Stasiun Bojonggede. Selepas kuliah, di KRL mengetik sambil bergelentungan. Moderator Keren pak…mungkin bisa berbagi tips dengan kami disini pak Eka Wardhana Dulu kerap saya dan Pak Bukik saling kontak, apakah naskah sudah cukup untuk SKGB? jika kurang, maka malam-malam saya kirim naskah untuk menggenapi. Terpaksa? oh tidak saya senang saja. menulis itu menyenangkan kok. Masa menyenangkan terpaksa? Apa manfaat menulis? mempertajam gagasan. Setiap kali menulis maka semua tenaga diarahkan pada bagaimana gagasan sampai kepada pembaca. Maka menulis lebih hati-hati, cermat dan tajam. Ada yang bilang tulisannya jelak. oh tidak apa-apa, itu bagus. Daripada tidak pernah menulis. Salah kalau ingin disebut semua tulisan itu bagus. Tulisan itu yang pertama jelek, lalu jelek, lalu jelek. Kemudian bagus. Semua penulis punya risiko. Yang yakni terkenal. Bisa karena terkenal jelek bisa karena bagus. Masalahnya menjadi terkenal itu lebih sulit daripada tidak terkenal. Karena setiap kali menulis, orang akan terpaksa membaca. Mengapa? Coba saja tidak pernah menulis, apa yang bisa membuat orang tertarik? Di fb orang tertarik pada tulisan dan menanggapinya dengan tulisan. orang tertarik dengan tulisan. Masalahnya apa yang akan ditulis? Saya memilih tulisan yang bisa menyuarakan kelas. Moderator Oke…baiklah, mungkin cukup pengantar dr pak Eka, selanjutnya sy akan membuka tanya jawab, untuk yermin pertama silakan 3 org sebutkan nama Endang Ayu Patrianingsih Saya memilih tulisan yang bisa menyuarakan kelas. Maksudnya tulisan yang bisa menyuarakan kelas yang gimana pak? Eka Wardhana Ya, kelas memang tidak bisa bersuara secara harfiah. Tapi banyak hal kelas yang bisa dibagi ke guru lain. Contohnya : Tentang kebiasaan bertanya. Guru bertanya? Murid bertanya? atau perihal pelajaran IPS atau PKn, atau tentang praktik pembelajaran di kelas yang saya bagi. Baik tantangan dan peluangnya. Apakah hal tersebut menarik? sangat, banyak guru yang enggan menyuarakan hal kelas, karena dianggap tidak menarik. Atau biasa saja Usman Tentang konsisten menulis pak. Susah benar menjaga ini. Eka Wardhana Nikmati saja saat-saat menulis. Jangan ada target. Begitu ada target, maka kepala akan dengan cepat menekan seluruh syaraf untuk merespon keras. Rileks saja, tulis pelan, lalu selesaikan. Begitu terus hingga banyak tulisan dihasilkan. Adelia Bagaimana tulisan itu dibilang jelek atau bagus? Seperti apakah tulisan bagus itu? Terkadang kalau menulis agak tertahan dalam pemilihan kata..bagaimana itu melancarkannya? Eka Wardhana Tulisan bagus: ide mudah ditangkap, redaksi sesuai kaidah bahasa, enak dibaca, melancarkan tulisan: perbanyak baca, kuasai perbendaharaan kata, banyak latihan menulis. Endang Ayu Patrianingsih Tantangan di kelas, masih banyak siswa yang enggan menulis, kisaran 50% atau lebih dgn alasannya masing2, sehingga kami mencoba menerapkan tugas menulis, meski masih dlm bentuk kegiatan belajar. Terima kasih banyak ilmunya pak Eka. Alhamdulillah. Eka Wardhana Ya sebelum siswa, tentu gurunya perlu senang menulis. Olle Apakah yang dimaksud ‘suara kelas’ itu tanggapan guru terhadap proses pembelajaran atau malah siswanya? Saya cukup sering menulisttg suasana kjelas ke fb dan respon pembaca selalu antusias Eka Wardhana Ya, makna suara kelas itu bukan berarti harfiah. Tapi hal yang terkait dengan kelas. Kalau saya lebih banyak merupakan refleksi mengajar. Selepas mengajar saya gunakan untuk menulis sebagai bahan refleksi. Olle Bagaimana mengumnpulkan tulisan2 yang sudah berupa artikel-artiukel lepas menjadi satu buku? Bisa diberikan contoh cara menyatukannya? Eka wardhana Gampang, satukan dalam folder. Naskah lalu kurasi lalu kelompokan sesuai tema. Sri Wahyuni Bagaimana pak Eka menjadikan kegiatan menulis di kelas sebagai kelas literasi di mata pelajaran yg diampuh?  Saya penasaran sejak tdi pak eka ngajar pelajaran apa Eka Wardhana Saya sering memberikan tugas IPS dan PKn yanh sifatnya telaah. Anak, mau tidak menulis dengan sendirinya. Contoh: Menurut kamu, Gajah Mada itu orang seperti apa? Sebelumnya saya kasih tulisan tentang sejarah Gajah Mada. Eka Wardhana Oh, tentang karir menulis. Saya senang, tulisan saya saya ajukan ke beberapa penerbit mayor.  Hasilnya banyak yang belum siap, karena alasan pemasaran. Tapi akhirnya saya cetak sendiri dan hasilnya saya sudah cetak berulang kali. Sebelas judul sudah saya buat. Buku saya tidak laku? kalau tidak laku maka saya tidak bisa cetak ulang. Saya ditawari untuk memasukkan buku ke jaringan besar. Saya hanya diberi keuntungan 10 persen, sisanya mereka. Saya mundur, saya jual sendiri. Saya senang buku tersebar kemana-mana. Urusan laku, masa saya guru bisa mencetak sendiri 11 judul? Takut? tidak, Kalau tidak gigih, jangan harap naskah bisa terbit sendiri. Dunia penulisan sangat ketat dan kejam. ini contoh tulisan ringan. SEJENAK MERAYAKAN KEBERHASILAN MENGAJAR Oleh Eka Wardana*) Pagi yang indah kala bincang ringan dengan kepala sekolah. Apa agenda terdekat dari raker sekolah? Kepala sekolah menyodorkan daftar acara yang telah dirancang jauh-jauh hari. Cukup mengernyit membacanya. Tiga hari dengan perencanaan kegiatan yang berjubel. Dari tugas-tugas yang berkaitan dengan administrasi pembelajaran yang seperti biasa dikerjakan sampai kegiatan yang melibatkan siswa. Dalam bincang itu tercetus bagaimana dengan refleksi yang bisa dilakukan oleh guru? Terhadap langkah yang telah dilakukan dan capaian apa yang sudah nampak? Atau bahkan pertanyaan tidak penting, apa yang membahagiakan selama mengajar disemester ini? Jika menggunakan kata evaluasi yang ada biasanya guru cenderung tersudut karena yang muncul adalah kekurangan-kekurangan. Dan selama bertahun-tahun guru dikenalkan pada model evaluasi yang kerap menampilkan sisi kegagalan, walaupun tidak selalu begitu. Jadi kata “evaluasi” sepertinya agak mengancam dibandingkan dengan refleksi. Sebagaimana makna asli refleksi yakni bercermin, guru bisa melihat “wajah”-nya sendiri. Mengapa guru tidak diajak merayakan keberhasilan mengajarnya. Seperti pergeseran kognitif apa saja yang terlihat dari siswa? Keterampilan-keterampilan apa saja yang tampak menonjol? Pemahaman-pemahaman apa saja yang terbentuk dan membawa arah belajar siswa? Ada kalanya guru menjawab dengan klise “banyak yang telah anak-anak pelajari” namun kesulitan merumuskannya dalam kalimat yang spesifik. Sehingga guru tidak dapat mengenali apa saja yang berkembang dari siswanya. Perayaan yang dilakukan sederhana saja, bisa antara teman guru memberi selamat dilanjutkan dengan apresiasi atas keberhasilan yang spesifik itu. Tidak terlalu mewah dan mahal. Namun memberi dampak yang tidak kecil. Setiap keberhasilan yang dirayakan apa pun bentuknya memberi kesan yang mendalam bagi guru. Kesan apa yang muncul saat keberhasilan dirayakan? Banyak guru yang penulis temui dalam beberapa diskusi mengenai keberhasilan dan kegagalan enggan membicarakan keberhasilan dihadapan teman atau atasan. Hal ini … Read more

Guru Belajar Pekalongan Membangun Pembelajaran Mengasyikkan

Menjemukan, mungkin itu yang sering murid rasakan saat mengikuti mata pelajaran tertentu di kelas, atau menjelang jam-jam kritis yakni jam terakhir saat murid sudah tidak lagi kondusif. Pikiran mereka sudah tertuju pada rumah dan tempat mereka biasa  bermain. Hal demikian tentu pernah dialami oleh kita semua sebagai seorang guru. Lantas apa yang seharusnya kita lakukan agar belajar lebih mengasyikan dan tidak lagi menjemukan? Dalam Temu Pendidik 19 ini, Komunitas Guru Belajar Pekalongan berbagai ilmu seputar pembelajaran yang menyenangkan namun tidak mengubah esensi dari belajar itu sendiri. Dengan mengusung 3 pemateri, yakni dua Guru dari SMK 1 Karangdadap, Guru Alan seorang guru Fisika dan Guru Musyafiah yang merupakan guru Bahasa Inggris, serta Guru Eki seorang dosen dari Stikes Muhammadiyah Pekalongan. Masing-masing Guru menyampaikan parktik cerdasnya dengan tema yang berbeda-beda. Guru Alan menyampaikan praktiknya yang diadopsi dari TPN Oktober lalu. Guru Eki dengan Brain Academy dan terakhir Guru Musyaifah yang juga mengadopsi ide belajarnya dari Sekolah Kembang Jakarta. Acara tersebut dimulai pukul 09.30 dengan dibuka oleh Ketua KGB Pekalongan yang baru yaitu Guru Hida. Dalam sambutanya beliau mengajak agar semua guru berdaya, sebab adanya KGB ini diharapkan setiap anggota berperan untuk membagikan praktik cerdasnya agar dapat menjadi inspirasi bagi guru-guru lain. Lebih jauh beliau menuturkan, “Komunitas ini ada untuk kita dan semua jenjang ada disini, sehingga kita bisa belajar bersama”. Di akhir sambutan, guru MI Kranji 1 Kedungwuni ini juga menakankan bahwa anggota yang ikut berperan aktif di KGB Pekalongan memperoleh kesempatan untuk menerima beasiswa di TPN mendatang. Sesi pertama TPD 19 ini diawali dengan materi mengenai sains yang menyenangkan. Jika murid biasanya anti dengan pelajaran eksak terutama fisika dan kimia, Guru Alan justru memberikan hal yang berbeda. Mengadopsi materi TPN Oktober lalu, ia mencoba menerapkan pembelajaran dengan metode window shopping. ”Saya ibaratkan cara ini dengan ibu-ibu yang ingin membeli kosmetik. Biasanya ibu-ibu akan menanyakan hal yang mendetail jika memilih kosmetik dan penjual harus mampu menjelaskan produk yang ia jual” tuturnya. Guru Alan sendiri awalnya sering merasa gelisah lantaran materi yang ia ajarkan hanya sekadar ceramah yang membosankan sehingga ia mencoba window shopping sebagai cara agar antusiasme murid dalam belajar makin tinggi. Dalam praktiknya ini, ia membagi satu kelas menjadi 6 kelompok. Sebagain kelompok berperan menjadi penjual dan kelompok lain berperan sebagai pembeli. Tema yang diusung pun menarik, yakni mengenai Mitigasi Bencana. Murid membuat poster sebagai katalog barang yang akan mereka jual. Jika jual beli biasanya berupa barang, namun dalam window shopping ini murid melakukan jual beli informasi mengenai mitigasi bencana. Cara ini menjadi lebih menarik karena setiap penjual diharuskan untuk mengatur strategi agar murid lain tertarik menyambangi “warungnya”. Banyak murid mengaku senang dengan pembelajaran tersebut, menjadi lebih percaya diri karena dapat menjawab pertanyaan temanya, dan dapat berkreasi membuat poster yang menarik. Namun, Guru Alan juga mengakui jika metodenya kali ini masih memiliki banyak kekurangan. “Banyak murid yang merasa kuang kurang puas karena tidak bisa menyambangi warung teman-temanya. Mereka juga mengeluhkan pada saya, sebab tidak ada tambahan informasi dari saya sendiri sebagai guru dan saya masih sedikit bingung untuk aspek penilaian” jelas pria berkacamata ini. Setelah Guru Alan selesai menyampaikan materi, di sesi ke dua Guru Eki menyampaikan materi mengenai Brain Academy. Materi ini penting dipelajari oleh guru untuk mengatasi murid yang jenuh dalam balajar. Jenuh sendiri dapat dipahami karena otak bekerja tidak maksimal.  Guru Eki mengemas materi begitu apik dan komunikatif dengan melibatkan semua peseta melakukan gerakan kecil yang befungsi untuk membantu melakukan aktivasi otak. Gerakan tersebut berupa tangan saling mengepal dan kaki bersila, membentuk angka delapan dimulai dari kanan ke kiri dan yang terakhir menempelkan siku tangan kanan kekaki kiri atau sebaliknya. Seluruh peserta yang mencoba gerakan tersebut tampak riang. “Walaupun gerakannya cuma ditempat dan sedikit, tapi kita bisa memahami bagian otak yang dominan digunakan anak. Dengan begitu maka kita bisa melakukan aktivasi” tambahnya. Materi tersebut tentunya sangat membantu terutama saat mengelola kelas dimana muridnya sudah mengalami kejenuhan. “Kalo kita sadar, kunci utama dalam proses pembelajaran itu adalah otak yang bekerja. Untuk itu kita perlu memahami bagaimana cara otak bekerja, dan apa saja yang bisa memaksimalkan fungsi kerjanya” tukasnya diakhir sesi saat ia berbagi cerita. Sesi terakhir, Guru Fiah menyampaikan materi mengenai mengelola perpustakaan sekolah. ia mengawali materi dengan perkenalan menggunakan human bingo. Peserta dibawa berpetualang dalam perkenalan dan swafoto bersama. Disinilah peserta TPD 19 suasana ceria dan hangat. Selepas bermain human bingo Guru Fiah mulai memberikan materi. Ia mengungkapkan keprihatinanya pada perpustakaan sekolah yang saat ini  tidak lagi menarik, Guru Fiah mencoba mengadopsi ide dari Guru Sekar yang merupakan guru dari Sekolah Kembang Jakarta. Guru Sekar adalah sosok yang mampu menghidupkan perpustakaan seperti pada zaman Cinta dan Rangga. Guru Fiah menyampaikan pengembangan perpustakaan ini memiliki banyak manfaat diantaranya dapat membantu tugas murid terutama yang berhubungan dengan literasi. Manfaat lain yaitu literasi mampu menjadikan kita tidak termakan isu hoax, apalagi sekarang merupakan era digital di mana berita palsu menyebar begitu masif melalui media. Dalam memberdayakan perpustakaan sekolah pertama kali yang kita perlu lakukan yaitu kurasi buku bacaan. “Kurasi buku ini penting, jangan sampai buku untuk dewasa ditaruh di perpustakaan SD. Tentu hal ini tidak sesuai dengan jenjangya” tambah Guru Fiah. Tidak hanya murid yang bisa belajar melalui perpustakaan, guru juga dapat ikut belajar. Di akhir sesi Guru Fiah mengungkapkan bahwa guru juga dapat mengembangkan diri terutama kemampuan menulis. Misal jika ada buku bacaan tertentu, kemudian guru bantu resensi buku tersebut. Hasil resensi bisa ditempel di perpustakaan, sebagai kail yang membuat murid penasaran dengan isi buku tersebut. Jadi dari perpustakaan guru dan murid bersama-sama belajar. Oleh Anifah, Komunitas Guru Belajar Pekalongan

Guru Belajar Sanggau membuat Media Pembelajaran Kekinian

Pada Kamis, 08 November 2018. Komunitas Guru Belajar Sanggau melakukan kolaborasi bersama Gugus IV, Kecamatan Tayan Hilir dalam Kegiatan Learning Adventure of KGB Sanggau, salah satu program kegiatan yang sudah dirancang KGB Sanggau sejak lama dan dikemas dalam kegiatan Temu Pendidik Daerah, mengingat kegiatan ini beberapa tim dari KGB Sanggau akan berkunjung ke daerah-daerah untuk menyebarkan Praktik baik dari kegiatan belajar atau dari hasil pembelajaran. Menjadi salah satu aksi dari TPN 2018 yaitu membagikan “Oleh-oleh TPN 2018” ke berbagai Kelompok belajar, untuk program Learning Adventure of KGB kali ini, sasaran kami adalah KKG yaitu Kelompok Kerja Guru, dimana juga secara langsung akan mengaktifkan kembali kerja KKG di berbagai daerah, tentunya dengan menanamkan kesadaran semangat Merdeka Belajar. Kegiatan ini dilaksanakan di SDN 20 Simpang Mandong, Kecamatan TayanHulu, Kabupaten Sanggau, dengan jumlah peserta lebih kurang 49 orang terdiri dari Guru Kelas, Guru Agama, Guru PJOK dan Kepala Sekolah. Dimulai pada pukul 08.00 hingga sekitar pukul 16.00 WIB. Pihak dinas pendidikan dan kebudayaan turut serta hadir dalam kegiatan ini, dalam hal ini Bapak Donatus, selaku Kepala UPT Dinas Pendidikan Pemuda danOlahraga Kecamatan Tayan Hulu memberi kata sambutan sekaligus membuka kegiatan, dalam kesempatan ini bapak Ka.UPT ini mengapresiasi sekali kegiatan ini, beliau juga meminta para guru untuk aktif dan giat dalam belajar, dalam kondisi apapun sebagai seorang pendidik harus mampu ikut beradaptasi dengan perkembangan zaman yang ada, salah satunya adalah dengan cara tak henti untuk belajar. Hal ini juga diaminioleh bapak Pengawas, dan dipertegas oleh bapak Ketua Inti Gugus IV, bahwa seorang pendidik itu sudah seharusnya mau bergerak, belajar dan mencari tau, beliau mengutip pembicaraan salah satu professor “Orang yang tidak ingin maju adalah orang merugi di muka bumi, karena ilmu pengetahuan itu sangat dinamis, perkembangan zaman yang maju ini harus diikuti dan diadaptasi agar kita tidak menjadi seorang pendidik yang naif” Selaku ketua Gugus IV kecamatan Tayan, Ibu Surnia Ratih berharap kegiatan ini dapat berkelanjutan, agar memotivasi rekan-rekan guru untuk terus mengupdate kompetensi diri. KGB Sanggau melaksanakan kegiatan sharing terkait Alat Peraga dan Pembelajaran dengan narasumber Ibu Titis Kartikawati. Materi yang disampaikan merujuk pada hasil kegiatan TPN 2018, yang merupakan salah satu Aksi dari TPN 2018, yaitu membagikan oleh-oleh pengetahuan yang diperoleh dari kegiatan beberapa waktu lalu. Dalam TPD #1 ini, Ibu Titis membagikan apa yang diperolehnya di kelas Bercerita dan di kelas Maker Space. Selain itu dibahas pula terkait pembuatan Alat Peraga yang diperoleh dari Ini Budi, serta beberapa materi lain hasil inovasi beliau sendiri. Ibu Titis sangat mengapresiasi semangat belajar rekan-rekan di KKG gugus IV, Kecamatan Tayan Hulu, Kabupaten Sanggau ini. Meskipun banyak para guru yang berusia sudah lanjut namun semangat belajar mereka masih sangat kuat. Peserta kegiatan pun memberikan pesan dan kesan atau harapan akan kegiatan ini, mereka merasa benar-benar menemukan cara belajar yang mereka harapkan. Fleksibel tidak kaku, memiliki semangat keceriaan bukan sekedar menggurui. Terasa santai namun sarat makna dan pengetahuan. Mereka berharap kegiatan seperti ini akan berlanjut secara rutin. Karena melalui kegiatan ini mereka memperoleh pencerahan terkait strategi pembelajaran yang menarik dan kontekstual serta memperoleh inspirasi terkait pembuatan alat peraga inovatif yang ternyata dapat dibuat sendiri dan menggunakan bahan sederhana yang berasal dari sekitar. Dalam kegiatan ini, Ibu Titis mengajak tiap peserta terlibat aktif,  memancing para serta untuk bertanya, sharing pengalaman pribadi terkait kegiatan pembelajaran bahkan mengajak para guru membuat suatu karya sederhana berupa alat peraga dengan memanfaatkan benda yang ada disekitar mereka. Demikianlah sekilas informasi terkait kegiatan Temu Pendidik Daerah #1 Komunitas Guru Belajar Sanggau. Pada hakikatnya bahwa suatu tujuan akan dapat tercapai dengan baik jika dilakukan dengan niat baik, keyakinan, keberanian, serta kolaborasi. Karena menumbuhkembangkan kesadaran untuk belajar dan membelajarkan dengan baik adalah tugas bersama, Pendidikan itu adalah untuk semua, bukan segelintir orang, atau sebatas usia, namun lebih kepada membangun komitmen bersama demi pencapaian cita-cita. Oleh Wanti Sila Sakti, Komunitas Guru Belajar Sanggau

Guru Belajar Cimahi Berbagi Cara Menulis

Hujan besar sempat menahan berkumpulnya guru-guru merdeka belajar di SD Peradaban Insan Mulia. Luar biasanya, di tengah derasnya guyuran hujan, ada yang memaksakan diri tiba di lokasi Temu Pendidik Daerah (TPD) Cimahi, untuk belajar menulis. TPD diawali dengan pemutaran vlog tentang buku yang ditulis Pak Inan, narasumber utama. Videonya bergaya reportase yang dikemas dengan style amat muda banget. Asyik, deh, pokoknya. Nah, setelah videonya selesai, Pak Inan mulai berbagi pengalaman tentang bagaimana mulai menulis. Ada satu pertanyaan mendasar yang patut dijadikan renungan, yaitu mengapa guru tidak menulis? Padahal guru adalah profesi yang sangat dengan dengan kegiatan menulis. Ada dua hal yang membuat guru tidak menulis Pertama, guru tersebut belum menemukan alasan untuk menulis. Kedua, guru tersebut belum tahu cara menulis. Untuk sebab pertama, belum menemukan alasan menulis, ada beberapa alasan yang bisa digunakan supaya guru mau menulis, yaitu Supaya bisa naik pangkat Memperoleh popularitas Mendapatkan keuntungan materi (uang) Meski bukan hal yang salah, ketiga alasan tersebut tidak cukup kuat untuk membuat guru membuat tekad yang kuat untuk menulis. Kalau berdasarkan tujuan-tujuan di atas, biasanya semangat hanya berkobar di awal dan semakin lama kian redup. Bahkan tak jarang terlalu cepat padam. Alasan yang cukup kuat untuk menggerakkan guru menulis adalah untuk menyebarkan inspirasi dan mengabadikan ide, gagasan, atau pun pengalaman. Kemudian tentang sebab kedua guru tidak menulis, yaitu belum tahu cara menulis, ada trik jitu dan sudah terbukti manjur. Apa itu? Menulislah. Kalau mau bisa menulis, ya menulislah. Tidak ada cara lain yang lebih ampuh. Apa yang ditulis? Apa yang kita kuasai atau apa yang dekat dengan kita. Menuliskannya tidak harus langsung banyak. Bisa dengan cara menulis sambil secara kredit. Tulis dulu, simpan. Kalau sudah banyak, kumpulkan dan kelompokkan. Jadilah naskah buku yang siap dikirim ke penerbit. Tapi saya kan tidak bisa nulis? Nah, untuk guru yang serig mengatakan demikian, ada penjelasan simpel yang mempu membalikkan pernyataan tersebut. Ini disebut dengan sindrom tali kekang gajah. Sejak kecil, gajah diikat dengan rantai di salah satu kaki belakangnya. Setiap kali gajah kecil mencoba bergerak lebih jauh jangkauannya, ia merasa kesakitan kakinya tertahan oleh rantai besi. Setelah berkali-kali merasakan sakit, akhirnya gajah tersebut menyerah. Ia hanya bergerak sampai di sekitar rantai itu saja. Gajah tumbuh dan berkembang. Tubuhnya kian besar dan jauh bertambah kuat. Semetara kaki tetap dirantai dengan rantai yang sama. Kalau saja gajah itu mau bergerak lebih jauh, niscaya rantai itu akan putus. Tetapi karena dalam mindsetnya adalah jika dia bergerak agak lincah akan merasakan sakit, maka gajah itu terperangkap dalam ketidakmampuan diri. Jadi sebenarnya ketakutan itu muncul dari dalam diri. Bukannya tidak mampu menulis, tetapi guru merasa tidak bisa menulis. Padahalnya potensinya bisa jadi sangat besar. Di bagian akhir, Pak Inan memberi trik bagaimana menjual buku tapi tidak seperti orang jualan. Triknya sederhana, jadikan pembeli atau figur tertentu mengendors buku kita tanpa dia sadari.Menarik, kan? Sedangkan narasumber kedua, Pak Suhud, membahas tentang menulis praktik pengajaran dengan pola ATAP (Awal-Tantangan-Aksi-Perubahan). Sesi tanya jawab berkembang sampai ke trik-trik menulis buku. Walaupun pesertanya tidak banyak, tetapi kegiatan ini mampu menggugah motivvasi guru yang hadir untuk menulis. Dalam kesan-kesan yang disampaikan, mereka menyatakan bahwa motivasinya terlecut dan tak sabar untuk mulai menulis. Anda Guru yang ingin belajar menulis juga?Yuk bergabung di Klub Guru Belajar Menulis Oleh Suhud Rois, Komunitas Guru Belajar Bekasi

Guru Belajar Bandung Membangun Suasana Belajar

oleh Umi Kalsum – Penggerak KGB Bandung 3 November 2018, sore itu jalanan macet dan hujan pun mulai turun. Sekilas semua itu nampak menghambat. Namun nyatanya tidak, tidak ada kata menghambat, bagi belasan guru yang hadir di SD Mutiara Bunda saat itu. Mereka adalah guru-guru yang sangat ingin belajar dari Bu Lala dan Pak Aye, tentang “Membangun Suasana Kelas di Sekolah Dasar dan Strategi Menerapkan Gamifikasi untuk Pembelajaran yang Lebih Berarti.” Sungguh, aku sangat kagum dengan mereka, guru-guru pembelajar. Pembelajaran pun dimulai. Pembelajaran diawali oleh Bu Lala dengan kalimat-kalimat pembuka yang terngiang-ngiang di kepalaku. Ia berkata,  “Tak Senang, Maka Tak SayangTak Sayang, Maka Tak CintaTak Cinta, Maka Tak PAHAMJadi, Supaya PAHAM, harus SENANG dulu!” Bu Lala benar, untuk paham memang harus senang dulu, maka menjadi jelas maksud Bu Lala membangun suasana kelas itu maksudnya membangun suasana kelas yang menyenangkan. Bu Lala pun menunjukkan 8 cara untuk membangun suasana kelas yang menyenangkan. 8 cara tersebut adalah Ciptakan Games, Bermain Peran, Gunakan Musik, Bersenang-senang, Belajar di Luar Kelas, Beri Waktu untuk Curhat, Beri Apresiasi, Refleksi. Dari 8 cara tersebut, ada 2 cara yang sangat menarik perhatianku yakni gunakan musik dan bermain peran. Menurutku, “karena kedua cara itu Wow Banget,” kuyakin banyak yang tak percaya, sama halnya denganku yang tak percaya, bahwa Bu Lala mengajar dengan sangat kreatif. Bagaimana tidak, ia datang ke kelas dengan membawa gitar dan memulai kelas dengan menyanyikan lagu berbahasa ‘alien’ (baca : bahasa sunda yang didengar oleh anak-anak zaman now, yang jauh dari bahasa lokal). Bu Lala pun menyanyikan lagunya, “Wilujeng enjing nami Ibu, Bu LalaSumping kadieu hoyong kenal sadayanaWilujeng enjing hey nu nganggo acuk hideungSebutkeun nami sareung naon karesepna…” Lagu ini dinyanyikan dengan nada sebuah lagu lokal yaitu cingcangkeling. Mendengar lagu tersebut dinyanyikan, anak-anak pun mulai penasaran, berusaha menebak-nebak lagu yang dibawakan Bu Lala. Lagu ini dinyanyikan berulang-ulang oleh anak-anak, agar anak juga dapat lebih mengenal bahasa sunda dan lebih mengenal teman-temannya. “Keren…” bisikku dalam hati, dengan seperti ini tentu anak-anak tertarik dan penasaran sekali dengan pembelajaran hari itu. Selain dengan menyanyikan lagu, Bu Lala pun bermain peran dengan anak-anak. Dan yang paling mengejutkan adalah Bu Lala memerankan dirinya layaknya seorang tokoh dari sebuah dongeng. “Wow banget,” ucapku. Mulai dari make up di wajah, pakaian yang dikenakan, hingga suara dalam 1,5 jam yang semuanya menyerupai seorang nenek dari sebuah dongeng. Hal seperti ini tentu akan menarik perhatian siswa dan membuat suasana kelas menjadi sangat fresh, buktinya adalah anak-anak yang meminta lagi untuk belajar bersama tokoh kartun lain seperti Ben 10, Batman, Captain America, dsb. Menarik bukan? Apa kita akan tetap pakai strategi mengajar yang lama? Atau ingin mencoba menggunakan strategi dari Bu Lala yang fresh and happy? ☺ Masih dengan suasana kelas yang menyenangkan, sesi Bu Lala dilanjut oleh Pak Aye, sang Master Game, jika saya boleh menyebutnya begitu. Kali ini Pak Aye membangun suasana kelas yang menyenangkan dengan cara yang berbeda. Ia mengenalkan kami dengan gamifikasi. Apaan tuh? Pak Aye pun mengawali pembelajaran dengan bertanya, “Ada yang baru dengar kata gamifikasi?” Beberapa orang pun mengacungkan tangan, tidak termasuk aku, tapi aku sendiri sebenarnya tak paham apa itu gamifikasi. Pak Aye pun menjelaskannya dengan menampilkan sebuah video terlebih dahulu. Video tersebut menunjukkan perilaku orang dalam menggunakan keset. Biasanya, orang menggunakan keset hanya dalam beberapa detik saja, namun tidak dengan orang-orang dalam video tersebut. Orang-orang di video tersebut dapat menggunakan keset dalam jangka waktu bermenit-menit lamanya, bahkan hingga berinteraksi, mengobrol dan bekerja sama untuk menyelesaikan puzzle berbentuk keset. Video tersebutlah yang Pak Aye sebut dengan realitas gamifikasi. Pak Aye menjelaskan bahwa “Gamifikasi adalah sebuah metode yang menerapkan elemen-elemen permainan ke dalam konteks non permainan.” Hal ini berbeda dengan game based learning. Salah satu perbedaannya adalah game based learning mengubah pemahaman, sedangkan gamifikasi mengubah perilaku. Pak Aye pun menunjukkan fakta yang mencengangkan menurutku yakni 83% alasannya, pelajarannya tidak menarik 51% mengaku setiap hari bosan di Sekolah 41% alasannya, pelajaran tidak ada kaitannya dengan kehidupan. Mulutku menganga melihatnya. Semua fakta-fakta ini yang menjadikan gamifikasi menjadi hal yang penting untuk dipraktikkan. Karena gamifikasi dapat membuat pembelajaran menjadi menarik, seru, dan bermakna. Namun, tak lupa Pak Aye pun menyampaikan bahwa “Gamifikasi hanyalah salah satu teknik, bukan ‘obat’ bagi segala kondisi kelas.” Pak Aye pun mengajak kami untuk bermain beberapa media yang dibawanya. Kami dibagi menjadi 3 kelompok. Ada yang bermain dorino, cocok, dan pemerintahan. Dorino merupakan media belajar berhitung. Cocok merupakan media belajar bangun datar. Dan Pemerintahan merupakan media belajar sistem pemerintahan. Keseruan bermain nampak dari respon para pemain, ada yang sangat berisik sambil teriak-teriak “cocok, cocok, cocok,” ada yang terburu-buru menjumlahkan, ada yang kalem sambil berpikir strategi, dsb. Aku yang bermain game pemerintahan, menyadari bahwa permainan yang kumainkan ini mengajariku bukan hanya untuk menang, tapi juga untuk memikirkan (baca : peduli) pada orang lain. Oh… ini yang Pak Aye sebut bahwa gamifikasi itu adalah permainan yang bermakna, permainan yang dapat mengubah perilaku. Setelah bermain, Pak Aye menjelaskan bahwa pada prinsipnya, untuk membuat sebuah permainan, kita hanya perlu ATM, yakni Amati, Tiru, dan Modifikasi. Tentunya hal ini mesti sesuai dengan tujuan pembelajaran. Bagaimana, seru bukan? Ingin mencoba membuat sebuah permainan yang menarik, seru, dan bermakna ala Pak Aye? ☺ Di akhir kata liputan ini saya ucapkan, semoga ilmu yang kami peroleh hari itu dapat banyak bermanfaat untuk kami yang hadir, untuk para pembaca liputan ini, untuk para guru yang mempraktikkan dan menyebarkan ilmu ini. Amin.