Literasi Menantang: Dari Aksara ke Sinema

Yeay senangnya!Mengangkat topik literasi, Komunitas Guru Belajar (KGB) Depok mengadakan TPD (Temu Pendidik Daerah) lagi. setelah 3 bulan off. Kali ini TPD berlokasi di kediaman Pak Pandji (salah satu pembicara yang juga anggota KGB) yakni di Kebun Biru, Jl. H. Suaib, Krukut, Limo Depok dengan jumlah peserta 14 orang yang berasal dari TK dan SD di Depok. Seperti biasanya kami juga menyepakati untuk potluck, yakni membawa makanan masing-masing untuk dimakan bersama. TPD yang ke-15 ini kami mengangkat dua materi. Materi pertama adalah “Literasi Menantang: Dari Aksara ke Sinema“. Materi ini dibawakan oleh Pak Uhan Subhan dari SMP Islam Fitrah Al Fikri. Yang kedua berjudul “Keterlibatan Orang Tua dalam Kegiatan Belajar di PAUD”. Dibawakan oleh Pak Pandji Widya dari TK Islam Dian Didaktika. Namun, sebelum materi pertama dan kedua, ada sekilas info tentang TPD dan TPN (Temu Pendidik Nusantara) yang dibawakan oleh Pak Arifin dari SD Binakheir. Dan, yang membuat TPD kali ini makin seru, setelah materi inti selesai ada sesi sharing tentang pendidikan di Finlandia bersama Pak Muhammad Tholchah yang merupakan kandidat Doktor di Tampere University Finland. Wow! Acara dimulai pukul 08.55 WIB dan selesai pukul 12.50 WIB (padahal rencana awal jam 12.00 selesai, karena saking asyiknya diskusi jadi kebablasan, hehe ☺ ) dengan dipandu oleh Bu Handayanih dari SDIT Mutiara Islam sebagai MC. Pembukaan oleh MC dan Pembacaan Ayat suci Al Qur’an oleh Pak Faiz Biamrillah dari SD Islam Kamila Insan Cita hingga jam 09.15. Setelah itu dilanjutkan dengan info TPD dan TPN hingga jam 09.50. Saat memberikan info-info Pak Arifin menggunakan slide yang diantaranya terdapat foto-foto yang membuat peserta tertarik. Salah satu info yang disampaikan adalah bahwa TPN 2019 diadakan tanggal 25-27 Oktober 2019 di Sekolah Cikal, temanya adalah . Aktivitas Literasi dengan Komik dan Youtube Akhirnya materi inti yang pertama pun digelar, yakni tentang Literasi Menantang yang disampaikan berdasarkan pengalaman Pak Uhan di sekolahnya yang notabene adalah siswa SMP. Di awal materi, beliau memaparkan literasi dalam pandangan awam, diantaranya adalah: membaca bukan aktivitas penting, membaca hanya membuang waktu, dan membaca adalah aktivitas berbahaya. Beliau pun memaparkan tahapan menjadikan bacaan menjadi sebuah film yang bisa dinikmati oleh lebih banyak orang dan bernilai seni tinggi serta membuat bangga orang-orang yang berkontribusi di dalamnya. Diawali dengan membaca semua novel yang berjudul sama, siswa kemudian diminta untuk membuat alur grafis dalam sebuah kertas besar, lalu dibuat menjadi komik. Setelah itu, siswa menjadikan komik itu sebuah film pendek dengan produser, sutradara, pemeran, dan semua kru berasal dari siswa dan diunggah ke youtube. Apakah berakhir sampai disini? Oh tidak! dewan guru masih ingin memberikan tantangan pada siswa dengan mengadakan festival dan mengundang banyak orang. Selain itu tiap ada kegiatan di luar para siswa juga mempertontonkan film hasil karyanya hingga membuat mereka bahagia. Pak Uhan memberikan inspirasi baru bagi kita semua, ternyata dari sebuah bacaan dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang jauh lebih menarik. Beliau juga menekankan pentingnya guru hingga mencoba membuat buku sebagai sebuah karya. Melibatkan Orangtua di Sekolah Pemaparan materi kedua dimulai pukul 10.45 hingga 11.15, yakni tentang pengalaman Pak Pandji selama bergelut dengan dunia PAUD dan TK. Beliau memberikan banyak tips pada para peserta bagaimana caranya agar orangtua dapat terlibat aktif di sekolah. Tips diantaranya: saat pertemuan awal dengan orang tua ada akad (perjanjian). Salah satu isinya tentang kewajiban orang tua hadir saat ada kegiatan parenting. Menugaskan kordinator kelas (korlas) sebagai seksi dokumentasi saat ada kegiatan. Berikan wewenang pada mereka untuk menyebarkan hasilnya ke orang tua siswa yang lain; memberikan tantangan pembelajaran di rumah untuk siswa bersama orang tuanya. Tips dan trik dari Pak Pandji sangat membantu kami mendapatkan ide-ide baru dalam upaya merangkul orang tua. Sehingga orangtua bisa terlibat aktif dan membantu dalam proses pendidikan anak-anak. Sesi terakhir adalah sharing dari teman pak Pandji, pak Tholchah. Beliau tinggal di Finlandia dan saat ini sedang pulang ke Indonesia. Selama 3 bulan di Indonesia melakukan penelitian tentang guru TK laki-laki. Beliau memberikan pencerahan pada kami tentang pendidikan di sana. Banyak hal yang selama ini belum kami ketahui terutama tentang tidak mudahnya negeri kita mengikuti sistem seperti di sana. Karena banyak perbedaan antara Indonseia dengan Finlandia. Ada beberapa hal yang bisa kita adopsi namun ada juga yang tak bisa. Dan tentu saja kita harus bersyukur dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh bangsa ini. Insyaallah bisa menjadi modal untuk kemajuan pendidikan kita ke depannya. Alhamdulillah, setelah sekian lama tidak mengadakan TPD, di hari itu kami semua merasa puas. Dan mendapat banyak pencerahan dan inspirasi. Terima kasih Bu Widhya dan Pak Arifin sebagai Koordinator. Terima kasih kepada panitia, terima kasih para pembicara, dan terima kasih pada semua peserta. Mari senantiasa semangat belajar untuk menjadi Guru yang Merdeka Belajar! Ingin Memahami Tentang Literasi Lebih Lanjut? Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 19Miskonsepsi LiterasiUnduh Gratis klik

Arti Guru Merdeka Belajar

Guru yang Bertanya tentang Merdeka Belajar Sebagian dari kita termasuk saya masih banyak pertanyaan tentang arti guru merdeka belajar ini, diantaranya: Apa arti guru merdeka belajar?Apakah selama ini kita sudah merdeka belajar?Bagaimanakah program guru merdeka belajar ini?dan Apa yang harus kita lakukan di guru merdeka belajar ini?Serta masih banyak pertanyaan di pikiran kita masing-masing. Pertanyaan yang muncul sejak Mas Menteri Nadiem Makarim memulai melakukan gebrakan baru di dunia pendidikan, salah satunya guru merdeka belajar. Dari pertanyaan seputar arti guru merdeka belajar itu saya sangat tertarik sekali untuk mengadakan Nonton Bareng Video Guru Merdeka Belajar. Kami pun mengadakannya di SMPN 3 Lengayang, pada Senin 16 Desember 2019. Acara kami mulai dengan perkenalan dan saling bertanya keadaan dan identitas masing-masing. Sebelum video ditayangkan kami sama-sama menulis di kertas kecil seputar pengetahuan tentang apa arti Guru Merdeka Belajar itu?. Beragam pendapat tentang Guru Merdeka Belajar ini. Tapi pada intinya semua kami yang hadir sudah dapat dikatakan sebagai Guru Merdeka Belajar, mengapa? Karena kami sudah menerapkan proses pembelajaran teknik-teknik mengajar yang menarik, bagaimana melakukan hubungan yang baik dengan siswa dan sebagainya. Penjelasan oleh Najelaa Shihab Setelah itu kami diajak oleh Narasumber untuk Nonton Bareng Video Mbak Najelaa Shihab tentang Guru Merdeka Belajar. Kami sangat tertegun dan terpelongoh melihat begitu bagusnya bahasa komunikasi dari Mbak Najelaa Shihab. Bahasa yang digunakan sangat jelas dan lantang sekali. Ketika bagian penjelasan keadaan guru, hati saya terasa teriris dan menangis. Begitu dalam beliau menjelaskan tentang Guru Merdeka Belajar ini. Saya terbayang bahwa banyak guru yang belum merdeka belajar, masih banyak yang tidak mau belajar lebih lanjut. Bagaimana memperbaiki diri lebih baik lagi agar bisa lebih berpihak dan membahagiakan peserta didik kita? Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Setelah itu kami berdiskusi, Apa yang dapat dipetik dari Video tadi?. Hampir semua kami memberikan komentar. Kebetulan ada peserta yang datang dari tingkat TK, nama beliu ibu Santi. Banyak kami belajar dari beliau. Dari penjelasan beliau “Bahwa penanaman karakter anak itu sudahdilakukan sejak sekolah dini yaitu Paud dan TK.” Lanjut beliau” Tetapi ini tidak ke tingkat selanjutnya. Sehingga karakter yang baik dari Paud dan TK itu hilang. Maka banyak permasalahan negatif yang terjadi pada murid kita.” Ada kalimat yang paling berkesan di hati saya dari beliau. “Jadikan peserta didik kita sebagai anak kita sendiri dan jadikan kita sebagai pelindung bagi mereka,” ucap beliau. Saya jadi memahami penting menjadi pelindung diantara kekurangan dan kesalahan yang murid lakukan. Mengapa? Karena masih banyak guru di Indonesia ini yang menjadi ancaman bagi murid yang melakukan kesalahan. Bahkan mereka menjadi takut dan tidak percaya diri bila bertemu dengan guru. Inilah polemik yang sesungguhnya bagi saya. “Bagaimana merubah pola pikir guru ini bisa mengajar dengan penuh cinta dan kasih sayang kepada siswanya?” “Bagaimana guru yang tidak pernah tergerak hatinya untuk belajar dan memperbaiki diri?” “Walaupun sudah beri pelatihan yang gratis, mengapa tetap mengajar dengan metode yang tidak mencerminkan guru merdeka belajar?” Saya khawatir begitu banyak murid yang bisa terdampak buruk karena guru. Bahkan ada murid yang sudah tidak mau sekolah lagi karena penanganan yang tidak manusiawi dari guru seperti ini. Setelah itu kami melakukan refleksi dan melanjutkan materi “3 Jam Baca Alquran” Demikianlah hasil dari Nonton Bareng Kami. Dari pembahasan tentang Guru Merdeka Belajar ini dan sangat banyak ilmu yang kami dapat. Kami saling berbagi pemecahan masalah di dunia pendidikan. Semoga pendidikan kita semakin maju untuk membentuk generasi muda yang jujur baik dan berakhlak mulia. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar? Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 6Unduh GratisKlik:

Implementasi Merdeka Belajar di Pesisir Selatan

Kegiatan nonton bareng komunitas guru belajar adalah kegiatan yang menyenangkan. Hal ini terlihat dari antusias peserta yang hadir. Kali ini kita akan membahas tentang ciri guru yang melakukan implementasi Merdeka Belajar. Peserta terlihat semangat dan aktif dalam proses kegiatan. Kegiatan dilaksanakan di Upt SDN 04 Nanggalo yang terdiri dari guru-guru baik guru kelas maupun bidang studi. Narasumber pada kegiatan Nobar adalah Ermaida, S.Pd, SD, M.Pd, dimoderatori oleh Darmayuni, S.Pd dan Pemandu Nobar Wella Agnes Alba, S.Pd. kegiatan diawali pembukaan oleh moderator, kemudian membaca Alquran yang dibacakan oleh Diki Yulhendra dan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang di pimpin oleh Yolanda Adri, S.Pd. Acara berikutnya dilanjutkan penyampaian materi oleh Ibu Ermaida, S.Pd, SD, M.Pd beliau menayangkan link untuk pengisisan absen secara online. Kegiatan dilanjutkan dengan bertanya tentang ciri guru yang melakukan implementasi Merdeka Belajar kepada peserta yang hadir. Peserta menuliskan pengetahuannya tentang Guru Merdeka Belajar pada kertas yang dibagikan. Setelah guru menuliskan pengetahuannya tentang guru merdeka belajar, mereka menempelkan ke depan. Guru Ermaida membacakan beberapa jawaban dari peserta dan memberi beberapa ulasan. Kegiatan dilanjutkan dengan menonton bersama video dari ibu Najelaa Shihab tentang guru merdeka belajar. Peserta sangat antusias. Setelah selesai penanyangan video peserta diminta menyampaikan informasi yangdidapat dari video yang ditayangkan. Bagaimana Ciri Guru yang Melakukan Implementasi Merdeka Belajar? Peserta sangat antusias menyampaiakan pendapatnya tentang guru merdeka belajar, di antaranya ada guru Darmayuni dan guru Wella. Mereka saling bertanya jawab tentang apa guru merdeka belajar. Menurut Guru Darmayuni guru merdeka belajar adalah guru yang dalam mengajar memiliki kebebasan dalam melaksanakan proses pembelajaran yang selama ini guru belum memiliki kebebasan seperti banyaknya tuntutan administrasi, sehingga guru cendrung menyelesaikan administrasi dari pada melaksanakan pembelajaran, jadi guru merdeka belajar itu adalah guru yang bebas dalam implementasi pembelajaran tanpa tuntutan administrasi yang begitu banyak tetapi dapat mencapai tujuan pembelajaran. Menurut ibu wella Guru merdeka belajar dilihat dari segi kata yaitu Guru merdeka, adalah pendidik yang memilki kebebasan dalam implementasi pembelajaran. Yaitunya bebas memilih media, metode, kegiatan dan tempat pembelajaran yang sesuai dengan aturan dan tanpa adanya tekanan dari atasan tapi harus sesuai dengan aturan yang ada. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Menurut bapak Eliwardi guru merdeka belajar adalah guru yang memiliki dan melakukan implementasi 3 hal, yaitu: komitmen, mandiri dan refleksi. Komitmen adalah seorang guru yang merdeka adalah guru yang memiliki komitmen yang teguh pada tujuan. Guru yang memiliki belajar yaitu guru yang terus belajar menambah pengetahuannya agar meningkatkan proses pembelajaran. Belajar disini yaitu guru yang selalu belajar tak pernah putus belajar sepanjang hayat. Guru merdeka belajar adalah guru yang mandiri yaitu guru yang mampu menemukan sendiri sumber belajarnya baik itu melalui buku, media social, internet, teman sebaya. Dan menerapkannya dalam pelaksanaan pembelajaran. Guru merdeka belajar adalah guru yang mampu merefleksi pelaksanaan belajar. Hasil refleksi tersebut dijadikan tindak lanjut untuk memperbaiki proses pembelajaran. Penindaklanjutan tersebut harus dilaksanakan dengan komitmen, mandiri dan kembali refleksi. Setelah melaksanakan kegiatan Guru Ermaida mengajak semua peserta untuk mengubah tindakan dalam peranan sebagai seorang pendidik. Yaitu menjadi guru yang melakukan implementasi merdeka belajar. Tidak hanya melaksanakan pembelajaran dengan metode ceramah tapi gunakanlah berbagai metode pembelajaran. Belajarlah dengan berbagai cara yaitu membaca buku, bertanya kepada teman. Guru merdeka belajar adalah guru yang komitmen pada tujuan, memiliki proses pemikiran yang secara mandiri, memiliki kompentensi seorang pendidik, dan senantiasa melakukan refleksi. Guru merdeka belajar itu penting untuk meningkatkan proses pembelajaran di sekolah. Anda ingin tahu praktik guru yang melakukan implementasi merdeka belajar? Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 6Unduh GratisKlik: 

Video Guru Merdeka Belajar – Pendidikan yang Lebih Unggul

Video Merdeka Belajar menjadi hal yang kami perbincangkan pada Senin, 30 September 2019. Mengikuti satu kegiatan Komunitas Guru Belajar (KGB) yang merupakan bentuk dari sosialisasi sebuah Komunitas, seyogyanya kegiatan berbentuk Nonton Bareng (Nobar) Video Guru Merdeka Belajar ini dilaksanakan pukul 09.20 – 11.00 WIB. Tapi berhubung karena bersamaan dengan Kegiatan Tengah Semester (KTS) beberapa teman guru mengikutinya secara bergantian karena menyelingi KTS tersebut, sehingga durasi jadi terasa lebih Panjang. Menggerakkan Guru di Karo Sumatra Utara Kegiatan saya buka sendiri karena di Karo belum ada KGB dengan menyampaikan tujuan kegiatan Nobar hari ini, harapan saya setelah menyaksikan video tentang Guru Merdeka Belajar ini akan ada guru penggerak-penggerak selanjutnya yang senantiasa akan saling mendukung. Kemudian saya sebagai pemandu meminta pendapat awal dari 3 temanguru tentang “Apa itu Merdeka Belajar?”. “Merdeka itu tidak terikat dan variasi biar gak bosan” Yang lain berpendapat bahwa “Merdeka Belajar itu bebas tapi masih dalam koridor RPP”. Lalu yang lain lagi mengungkapkan bahwa “Merdeka Belajar itu bebas. Bebas memberikan pendapat, memberi jawaban, tidak didikte dan tidak dituntut. Sesi awal ini peserta nobar hanya bisa berpendapat. Lalu dilanjut dengan sesi pemutaran video guru merdeka belajar. Tampak pada layar bu Najelaa Shihab dengan tampilan yang sederhana. Beliau mengatakan bahwa tidak ada yang lebih ekspresif dibanding anak-anak. Pernyataan bu Najelaa sangat benar. Mendengar ini peserta mulai terlihat semakin serius. Mereka meminta video guru merdeka belajar untuk dibagi ke grup wa sekolah atau wa pribadi, dengan alasan supaya bisa diulang-ulang di rumah. Menarik, respon yang lumayan bagus meski suara Bu Najelaa kadang-kadang menghilang di tengah suara peserta didik yang lumayan hilir mudik di depan kantor karena lomba vokal grup bertempat di sekitar kantor. Namun, kata-kata Bu Najelaa tentang anak-anak yang merdeka belajar yang memiliki aspirasi setinggi langit seperti menggugah hati teman guru sehingga mereka mulai tampak semakin menyimak setiap kata yang diucapkan ibu Najelaa. Merdeka belajar pada peserta didik hanya akan terjadi pada saat anak-anak punya kemerdekaan belajar. Kemerdekaanbelajar peserta didik hanya akan terjadi pada saat pendidik atau guru juga memiliki kemerdekaan. Refleksi Para Guru Deg, rasanya di jantung. Sudahkah selama ini menjadi guru/pendidik yang merdeka? Banyak tanya menggelayuti. Walaupun sebenarnya saya sendiri belum paham betul apa yang dimaksud merdeka belajar. Pendapat saya masih sama seperti pendapat 3 teman guru di atas. Peserta lainpun sudah semakin serius menyimak setiap kata yang disampaikan hinggavideo guru merdeka belajar selesai. Lalu masuk ke sesi refleksi, ada 5 pertanyaan yang harus kami jawab tentang merdeka belajar. Pertanyaan pertama,”Di antara miskonsepsi tadi, mana yang paling menggambarkan diri anda?” Salah satu di antara kami menyatakan “Selama ini menurut saya kita harus belajar sama yang sudah ahli, ya bu De” Rata-rata jawaban secara umum begitu. “Lalu kalau tidak ada yang ahli, apa kita jadi berhenti belajar?” tanya saya. Serentak meskipun lirih mereka menjawab “Ya tidak lah,” dan kami pun meluruskan miskonsepsi itu. Belajar tidak harus menunggu keberadaan sang ahli, terkadang yang kita sebut sebagai ahli hanya mampu secara teoritis tapi tidak pada praktiknya. Seorang ahli atau pakar kadang hanya melihat di lingkungannya, sementara hal itu bisa jadi tidak sama dengan kondisi di lingkungan yang lain. Kita para guru, kitalah yang mengetehui permasalahan anak didik kita. Jadi kita (guru) lah yang menemukan cara yang cocok dalam mengajar, apa dan bagaimana praktik baik di dalam kelas untuk setiap pokok bahasan. Jadi tidak harus ada penyeragaman. “Iya kan,” celetuk salah satu teman guru. Diskusipun berlanjut hingga kami menemukan kesepakatan bahwa belajar butuh waktu, belajar tidak bisa dipaksakan mengejar target kurikulum, belajar harus memberi efek perubahan bagi peserta didik ke arah yang positif. Kompetensi peserta didik harus tumbuh dari lingkungan bukan secara individu. Ciri Guru Merdeka Belajar Pertanyaan kedua saya bacakan, “ciri guru merdeka belajar adalah komitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara belajar dan melakukan refleksi. Apakah Anda setuju dengan pernyataan tersebut? Apa alasannya?”. “setujuuuu, jawab mereka kompak. Bu Peber memberi alasan, kita memang harus komitmen pada tujuan, seperti maksud dari pemaparan Bu Najelaa Shihab bahwa guru merdeka belajar itu harus paham mengapasebuah materi itu perlu diajarkan dan apa kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, agar peserta didik merasa materi yang dipelajari ini bermakna untuk dirinya dan mampu menumbuhkan motivasi secara instrinsik bahwa belajar itu memang perlu. Guru Merdeka Belajar itu mandiri, selalu bersemangat menyelesaikan setiap tantangan, tidak mudah menyerah dan menyalahkan orang lain atau keadaan. Guru merdeka belajar harus bisa melakukan refleksi, berani meminta umpan balik secara aktif dan menilai diri sendiri secara subjektif. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Pertanyaan ketiga untuk sesi refleksi ini adalah “Apakah Anda ingin menjadi Guru Merdeka Belajar? Apa Alasannya?”, “mauuuuu” lagi-lagi mereka menjawab serentak. “Hanya saja kadang-kadang kami kehilangan semangat, kadang-kadang lagi mood baik kami lakukan praktik baik pembelajaran sehingga belajar menjadi bermakna tapi kadang-kadang kami bad mood. Sambil tersenyum salah seorang dari teman guru menjawab, dan yang lain angguk-angguk tanda setuju bahwa yang dialami adalah sama. Tapi kami mau kok menjadi Guru merdeka belajar dan kami perlu waktu untuk itu. Kami harus merubah mindset kami tentang belajar dan peserta didik. Kami akan mencoba mencari solusi dari permasalahan tentang peserta didik ketimbang menyalahkan mereka. Mudah-mudahanseiring berjalannya waktu kami pun akan menjadi guru merdeka belajar”. Ungkap Bu Meini. “Sip, beri tepuk tangan untuk diskusi hari ini, seru ya”, kata saya memberi semangat kepada Bu Meini dan peserta yang lain, meskipun yang tepuk tangan hanya saya. Masuk pertanyaan keempat “Sebagai Guru Merdeka Belajar, apa perubahan yang ingin Anda lakukan di kelas?”. “Kami akan memulai dengan menata kelas, berdialog dengan peserta didik tentang aturan kelas, membuat ice breaking di sela-sela pembelajaran agar tidak bosan, mencoba melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan dan tidak lupa mengadakan refleksi di akhir pembelajaran”. Guru Merdeka Belajar, Guru yang Mengembangkan Diri Pertanyaan terakhir, “Sebagai Guru Merdeka Belajar, apa pengembangan diri yang ingin Anda lakukan Bersama Komunitas Guru Belajar?”, “Kami ingin belajar menulis, kami ingin bisa menulis PTK sendiri” Kata salah seorang peserta. “Hmmm, bagus sekali itu Bu”, jawab saya. Akhirnya sebagai penutup sesi saya mengulas sedikit bahwa guru merdeka belajar adalah guru yang berkomitmen pada tujuan belajar, mengetahui kenapa melakukan sesuatu dan apa manfaatnya serta bagaimana cara mengaplikasikan hasil belajar tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari sehingga peserta … Read more

Definisi Merdeka Belajar

Berawal dari pertanyaan teman tentang kegiatan saya bersama beberapa teman di Komunitas Guru Belajar. Definisi Guru Merdeka Belajar beberapa kali menjadi topik pembicaraan kami. Karena mau mememenuhi rasa ingin tahu teman saya, saya pun memberanikan diri untuk menawarkan nonton bareng (nobar) video Guru Merdeka Belajar. Video berisi pembahasan definisi Merdeka Belajar yang disampaikan oleh ibu Najelaa Shihab. Senin, 27 Januari 2020 atas nama Komunitas Guru Belajar (KGB) Sijunjung saya dan teman teman mengadakan Nonton Bareng bertempat di SMP Negeri 28 Sijunjung. Kegiatan dilaksanakan setelah proses belajar mengajar yaitu jam 13.30 sampai dengan 16.30. Kegiatan ini dipandu oleh saya sendiri Desy Delarosa dan Alia Yovica sebagai moderator. Peserta yang hadir 15 orang, seluruhnya berasal dari SMP Negeri 28 Sijunjung, guru maupun pegawai TU. Tiga komponen yang menjadi penanda merdeka belajar dibahas dalam video Merdeka Belajar tersebut. Peserta nobar oun merefleksikan kembali bahwa tiga komponen Merdeka Belajar tersebut adalah Komitmen pada tujuan, Mandiri dengan cara dan refleksi untuk memantau proses belajar. Merdeka Belajar menjadi dambaan guru dan siswa, karena merdeka belajar siswa dapat mengemukakan hasil maksimalnya.  Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Selain nobar juga disampaikan tentang Komunitas Guru Belajar Sijunjung dan kegiatannya. Pada Komunitas Guru Belajar kita berjejaring dengan sesama guru lintas sekolah dan jurusan. Kegiatan dalam Komunitas Guru Belajar menularkan praktik baik pembelajaran, membangun kolaborasi antar anggota dan luar anggota, berbagi dan saling dorong untuk dapat meniti karier dan selalu berusaha meningkatkan kompetensi guru. Komunitas Guru Belajar membuat guru bisa menjadi pembelajar dengan bergantian menjadi narasumber untuk teman. Dengan memperkenalkan Komunitas Guru Belajar sekaligus mengajak kawan kawan di SMP Negeri 28 Sijunjung untuk bergabung di Komunitas Guru Belajar Nusantara. Miskonsepsi Belajar Guru Dengan kegiatan Nonton Bareng video merdeka belajar ibu Najelaa Shihab, diharapkan guru memahami miskonsepsi belajar guru. Beberapa miskonsepsi guru belajar yang disebutkan adalah kegiatan belajar hanya untuk mengetahui how to nya saja, dimotivasi dengan adanya insentif, hanya bisa belajar dari pakar, belajar dengan target, perubahan terjadi seketika dan capaian hanya dinilai secara individual. Bu Imma, kepala SMP Negeri 28 Sijunjung mengatakan “Miskonsepsi yang dia alami adalah belajar harus dari ahli dan hari ini saya sadar bahwa belajar bisa dengan siapa saja, terutama sesama guru”. “Kita harus patahkan dengan belajar dengan siapa saja, dengan murid juga dengan teman guru,” sambung beliau. Bu Deri juga menyampaikan “Pencerahan dari video ini diharapkan dapat memberikan perubahan bagi saya nantinya”. “Perubahan yang sangat penting bagi saya adalah belajar tidak mengharapkan sertifikat atau uang”, kata bu Deri. Ada juga yang berpendapat berbeda dan sedikit menggelitik yang disampaikan oleh guru senior bernama pak Jasril. Pak Jasril berkata, “ Boleh merdeka asal jangan kebablasan.”Saya menanggapi bahwa definisi merdeka belajar yang dimaksud memiliki tiga komponen merdeka belajar. Saya pun mengulangi penjelasan tentang iga komponen tadi. Komitmen terhadap tujuan dengan mengetahui mengapa tujuan (kompetensi) itu harus dicapai. Mandiri menentukan cara mencapainya dan merefleksi sejauh mana cara tersebut telah mencapai tujuan. Peserta ingin Menjadi Guru yang Belajar Lagi Terakhir sebelum kegiatan berakhir, bu Imma menyampaikan bahwa sangat berterima kasih dengan adanya kegiatan Nobar guru merdeka belajar ini. Beliau  merasakan pentingnya untuk saling berbagi sesama guru untuk memecahkan masalah di kelas.  Peserta juga menyampaikan masih penasaran dengan merdeka belajar dan kaitannya dengan RPP satu lembar. Bagaimana merancang pembelajaran yang merdeka belajar. Kita menawarkan untuk bergabung di komunitas guru belajar Sijunjung dan mendaftar di KGBN melalui link .  Harapannya peserta dapat mengikuti kegiatan komunitas guru belajar secara luring maupun daring. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Apa Itu Merdeka Belajar?

Apa merdeka belajar itu berpengaruh pada peran pendidik?Kehadiran dan peran seorang pendidik merupakan aspek penting dalam dunia pendidikan. Dalam mengajar, sosok guru yang menginspirasi dan mencerahkan juga sudah selayaknya mampu memahami dan mengupayakan adanya proses belajar. Namun, bagaimana jika seorang pendidik belum mengerti makna proses belajar itu sendiri? Hal ini banyak terjadi karena umumnya belajar hanya dipahami sebagai kegiatan membaca dan menghafal. Akibatnya, daya untuk berkarya, kreasi dan berekspresi menurun. Mempelajari Apa itu Merdeka Belajar Sebelum ke anak didik, saya paham bahwa proses belajar harus saya kuasai dan jalankan dengan baik. Akan tetapi, saya merasa belum bisa merinci langkah demi langkah dan tahapan-tahapan proses belajar tersebut dengan efektif. Akhirnya kegelisahan ini terjawab ketika saya mulai bergabung dengan Komunitas Guru Belajar (KGB) Bojonegoro dan KGB Surabaya beberapa tahun lalu. Hingga tahun 2019 ketika sudah menikah dan mengikuti suami saya juga ikut dengan KGB Jombang. Saya sangat tertarik dan bersemangat untuk selalu belajar hal baru di komunitas ini dan di KGB ini lah saya mengenal merdeka belajar. Saya sangat penasaran dengan apa itu merdeka belajar dan penerapannya. Oleh karena itu, saya mengunduh,  mencetak, dan membaca semua Surat Kabar Guru Belajar (SKGB), khususnya edisi yang memuat tentang merdeka belajar.  Melihat apa manfaat dan pentingnya merdeka belajar itu bisa mempengaruhi dan mendorong motivasi, inovasi dan menuju ke pendidikan yang lebih baik, saya ingin gagasan dan praktik merdeka belajar menebar ke pendidik lain yaitu lewat Nonton Bareng (Nobar) Guru Merdeka Belajar. Awalnya saya merasa kesulitan mencari kawan sejawat yang mau menerima ide saya ini, alasannya saya dibilang idealis lah, ribet dan tidak penting. Dengan tekad kuat dan dorongan teman penggerak KGB lain ini saya tetap maju. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mencoba membuat poster dan mengunggah ke sosial media dan it works, banyak teman-teman pendidik di Jombang yang bersedia hadir.  Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Tak hanya Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar, pada hari Rabu, 18 September 2019 pukul 18.30 di rumah saya yang berlokasi di sekitar lingkungan Ponpes Bahrul Ulum Jombang, saya juga memanfaatkan acara ini sebagai wadah untuk saling berbagi. Guru Berbagi Praktik Pembelajaran Diawali oleh Guru Asep, beliau berkeluh kesah bahwa mengajar pelajaran Matematika di kelas khusus putra pondok merupakan tantangan yang sangat berat. Menurutnya, siswa-siswa memerlukan perhatian khusus karena tidak bisa mengikuti pelajaran dengan metode pembelajaran biasa. Ketika Guru Asep mengajar di kelas, banyak siswa-siswa nya tidur dan mengantuk di kelas karena kegiatan mereka di pondok yang cukup padat. Oleh karena itu, Guru Asep berpikir bahwa proses belajar serta pemahaman, penguasaan atas pengetahuan yang efektif adalah yang secara langsung terkait dengan pengaruh kehidupan dan pengalaman siswa itu sendiri (apa yang dilakukan dan apa yang dialami) keseharian. Dengan demikian proses belajar, pembelajaran di kelas harus kontekstual karena pengalaman belajar seperti ini diperlukan dan sangat penting ketika mereka bertumbuh menjadi orang dewasa.  Senada dengan Guru Asep, Guru Eko juga berpendapat bahwa proses belajar harus dimulai dengan mempelajari keadaan nyata lingkungan sekitar atau pengalaman seseorang atau kelompok yang terlibat dalam keadaan nyata tersebut. Tantangan berat dan sulit tentunya untuk mengedepankan upaya-upaya yang menumbuhkan, bagaimana menjadi seorang pendidik mampu mendorong dalam diri siswa agar dapat melakukan proses belajar untuk menyelesaikan masalah, persoalan apa saja yang dibutuhkan. Guru Eko sangat yakin bahwa adanya siswa yang mengantuk, tidur dan rendahnya motivasi adalah bukti nyata bahwa proses belajar di sekolah harus mampu memenuhi kebutuhan anak yakni mendapatkan pengalaman dalam proses-proses perubahan yang terus ada dan tidak berhenti.  Keresahan Guru Ekonomi Sementara itu, Guru Barik dengan wajah kesal, lelah dan gundahnya bercerita bahwa kegiatan pembelajaran dan proses belajar yang baik masih menjadi problematis. Beliau resah karena biasanya guru datang ke kelas lalu membacakan, mempertunjukkan, atau membagikan lembar tugas yang sebelumnya sudah dipersiapkan. Sedangkan siswa diharuskan untuk mendengar sambil mencatat dengan teliti. Kadang-kadang guru memberi pertanyaan atau menyuruh siswa untuk mengerjakan soal-soal tertentu tentang apa yang sudah diterangkan tadi. Padahal, proses belajar demikian tidak mendorong proses berpikir yang memungkinkan siswa menggali pengalamannya dan menemukan sesuatu hal dan peristiwa yang penting dari pengalaman hidupnya.  Guru Barik adalah seorang guru mata pelajaran Ekonomi di sekolah MAN 3 Jombang. Menurutnya, materi terkait teori akuntansi dan penerapannya sangat sulit dipahami siswa-siswanya. Kemudian, guru Barik menjelaskan dan menunjukkan tentang solusi atas masalah yang dihadapinya. Beliau tidak menyalahkan pihak manapun dan siapa pun atas tidak adanya fasilitas belajar yang bagus oleh sekolah. Guru Barik mencari alternatif cara yakni membuat media praktikum E- corner.  Dengan antusias, Guru Barik memaparkan bahwa E-corner merupakan singkatan dari Entrepreneur Corner, konsep ini mirip dengan kantin kejujuran. E-corner ini  menjual kebutuhan siswa dan diletakkan di pojok kelas dan siswa akan menjadi pengelolanya. Pengelolaan yang dilakukan siswa salah satunya adalah pembuatan pembukuan keuangan beserta administrasinya yang mana hal ini akan sejalan dengan materi akuntansi yang mereka dapatkan. Menonton Video Merdeka Belajar Lalu saya sebagai moderator mengajak semua peserta untuk nobar video merdeka belajar. Acara dilanjut dengan sesi diskusi dan refleksi. Di akhir diskusi semua peserta setuju bahwa: Pendidikan tidak lagi merupakan sebuah kegiatan yang hanya ditujukan pada siswa saja. Tanggung jawab penyelenggaraan proses belajar (menetapkan tujuan apa yang harus dipelajari dan diajarkan), seharusnya melibatkan peserta belajar itu tentunya dan orang tua.  Beberapa kompetensi yang tertuang dalam merdeka belajar sangat penting untuk diterapkan karena mendukung ekosistem proses belajar yang menumbuhkan. Siswa dan guru harus merdeka belajar untuk menciptakan dunia yang lebih baik dan lebih bermakna. Guru merdeka belajar harus memiliki komitmen jelas dan mampu menentukan tujuan proses belajar dengan tepat. Agar tidak terfokus pada hal-hal yang sebenarnya bisa dikompromikan seperti nilai, akreditas, dan hal-hal administratif lainnya.  Siswa dan guru merdeka belajar senantiasa mandiri dalam pembaharuan proses belajar. Sudah seharusnya semua pihak yang terlibat dalam proses belajar menyadari pentingnya pembaharuan. Oleh karena itu, media belajar yang digunakan disesuaikan menurut tahapan yang dipikiran matang. Siswa dan guru merdeka belajar harus selalu refleksi. Karena suatu pelaksanaan belajar-mengajar adalah proses yang harus mencerdaskan dan bermakna. Maka dibutuhkan refleksi dan evaluasi untuk mengerti sejauh mana perkembangan potensi, apakah proses belajar yang sudah dilaksanakan sudah berjalan efektif. Refleksi juga sangat penting untuk mengetahui hal-hal mana yang harus diperbaiki dan ditingkatkan.  Sesi Nobar dan saling berbagi ini sungguh menyenangkan. … Read more

Apakah Merdeka Belajar Itu?

Apakah merdeka belajar adalah jargon baru?Tidak dipungkiri setelah Mas Menteri membumikan merdeka belajar banyak guru yang masih asing meskipun sebenarnya bukan hal yang baru lagi. Merdeka belajar ini sudah pernah dibumikan oleh Ki Hajar Dewantara. Dengan penggantian UN menjadi asesmen belajar banyak guru yang mulai bertanya-tanya apakah merdeka belajar itu?. Oleh karena itu, untuk menjawab ini KGB Tulungagung mengadakan temu pendidik daerah yang mengangkat topik merdeka belajar ini. Selanjutnya penggerak dan rekan guru sepakat mengadakan temu pendidik pada Minggu 22 Desember 2019 di MI Sakti modern. Mudik hari ini dihadiri 19 guru. Alhamdulillah guru yang bisa hadir di mudik hari ini bisa bertambah dari sebelumnya. Hal ini menambah motivasi kami untuk saling berkolaborasi dengan rekan seperjuangan yang mempunyai misi yang sama yaitu menjadi guru yang merdeka belajar. Perlukah Kompetisi Pada Proses Belajar? Pemantik diskusi dimulai oleh pak Anam dengan Learning is not about competition. Pak Anam memulai diskusi dengan menceritakan pendidikan di Singapura dan Finlandia. Selanjutnya pak Anam mengajak guru guru untuk berefleksi apakah pendidikan yang diwarnai dengan kompetisi bisa membuat murid bahagia dan mengerti tujuan belajarnya? Kompetisi memiliki banyak dampak diantaranya lemahnya kolaborasi murid. Kompetisi tidak selalu buruk, kompetisi juga dapat melatih murid dalam hal menghadapi tantangan. Namun, value itu tidak bisa dapat dirasakan oleh semua murid. Murid yang berhasil melalui kompetisi dianggap berhasil sedangkan murid yang gagal melalui kompetisi dianggap tidak sukses selain itu hanya murid tertentulah yang dapat mengikuti kegiatan kompetisi ketika di sekolah. Di sini letak miskonsepsi itu, semua murid berhak belajar dan berhasil setelah gagal. Kompetisi adalah satu bagian kecil dari proses belajar tentang tantangan. Sekarang saatnya guru-guru bisa mengajak murid-muridnya untuk memperbanyak kolaborasi daripada kompetisi diantaranya merancang kegiatan pembelajaran yang mendukung kerjasama antara murid yang satu dengan yang lainnya, mengadakan kegiatan belajar bersama dengan instansi atau kegiatan berbasis proyek. Tentunya kegiatan kegiatan seperti ini tidak hanya menantang murid, menyenangkan dan bermakna tentunya juga dapat melatih siswa untuk dapat survive dengan memahami bahwa keberhasilannya dalam belajar tidak semata karena usaha mandirinya tetapi teman, guru dan keluarga juga ada keterlibatan disana. Jadi murid pun juga mengerti makna bahwa manusia itu adalah makhluk sosial yang tidak cukup hidup sendiri dan hanya mengedepankan kompetisi. Apakah Merdeka Belajar Itu? Pemantik diskusi kedua oleh bu Evy Ramadina dengan topik merdeka belajar. Diskusi topik kedua ini bu Evy mengajak teman teman guru menuliskan apa yang telah diketahui tentang apakah merdeka belajar yang saat ini hangat dibicarakan se Indonesia. Menarik, ternyata sangat beragam jawaban dari teman guru. Ada yang menjawab “Merdeka belajar itu bebas, tidak ada aturan, santai, menyenangkan dsb.” Selanjutnya bu Evy memulai diskusi dengan memaparkan apa poin penting dari merdeka belajar yaitu komitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara dan mau berefleksi. Tiga hal ini merupakan suatu siklus yang saling terhubung. Selanjutnya, kami mendiskusikan contoh pembelajaran di kelas seperti apakah yang merdeka belajar itu?. Merdeka belajar bukan tanpa aturan tetapi melibatkan anak anak dalam membangun kesepakatan untuk komitmen pada tujuan belajar. Merdeka belajar merupakan pembelajaran yang mandiri terhadap cara yang memungkinkan setiap murid bahagia dengan caranya dan tetap dijalan kesepakatan bersama. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Acara terakhir rekan rekan guru melakukan refleksi bersamaApakah selama ini masih berkutat di kompetisi murid saja?Lalu apakah murid murid sudah diajak saling berkolaborasi dengan rekannya?Apakah pembelajaran di kelas selama ini sudah merdeka belajar?Dan apakah gurunya sudah merdeka belajar?Dari sini kami sepakat bahwa guru yang merdeka belajar bisa mendampingi muridnya untuk merdeka belajar. Jadi, berikutnya guru guru kembali ke sekolahnya masing masing dan menerapkan merdeka belajar di kelas. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Program Literasi di Sekolah yang Bermakna

Sudah membuat program literasi sekolah, namun nyatanya kegiatan tidak meninggalkan jejak pada murid. Murid sudah membaca buku tapi masih tetap saja tidak paham isinya. Atau sudah paham tentang literasi tetapi minim ragam kegiatan yang bermakna. Ternyata memang masih banyak kerikil  miskonsepsi tentang literasi. Termasuk di dalamnya bahwa literasi hanya berkutat pada buku, teks, kegiatan membaca atau menulis. Lalu apa pentingnya literasi untuk murid jika tidak memberikan perubahan bahkan tidak memberikan daya. Karena seharusnya literasi yang bermakna akan menjadikan murid semakin berdaya. Nah, dari persepsi inilah kita akan mengurai tentang miskonsepsi literasi yang nyatanya telah membudaya berakar bertahun tahun dalam persepsi pendidik. Temu Pendidik Daerah Kegiatan Temu Pendidik Daerah (TPD) adalah sebuah pertemuan antarpendidik di daerah Tulungagung. Peserta dari berbagai jenjang mulai PAUD, TK, SD, SMP, SMA maupun perguruan tinggi. Dalam pertemuan ini kami saling berkolaborasi membahas tentang tema yang kami angkat yaitu Literasi untuk Berdaya. Tema ini kami angkat berkaitan dengan masih banyak miskonsepsi tentang apa itu literasi? Bagaimana program literasi? TPD dilaksanakan pada hari minggu tanggal 6 Oktober 2019. Bertempat di Omah Dolan Pelangi, Jln. Teuku Umar, Dusun, Gluduk, Desa Ariyojeding, Kec. Rejotangan. Kab.Tulungagung. Pemantik diskusi adalah Bunda Ilmi yang merupakan Penggerak KBG Blitar dan Bunda Pelangi Penggerak KGB Tulunggagung. Peserta yang hadir ada 7 orang. Di antara mereka memiliki motivasi ikut karena memang belum pernah mendengar adanya Komunitas Guru Belajar. Adapula yang sudah dengar tetapi belum pernah mengikuti kegiatannya. Maka menjadi lumrah saat baru datang di lokasi peserta masih malu-malu untuk berinteraksi dan komunikasi. Untuk mencairkan suasana Bunda Ilmi mengajak peserta untuk memperkenalkan diri. Kemudian peserta diajak saling bertukar informasi tentang aktivitas dan motivasi mengikuti agenda TPD. “Motivasi saya ikut adalah tertarik pada tema yang diangkat, karena kebetulan di sekolah saya belum ada program literasi.” Ungkap Bu  Gilang yang merupakan guru SD Sentul Blitar. “Saya sebelumnya belum pernah mendengar ada KGB makanya saya datang karena saya penasaran.” Kata Bu Nur yang rumah dan tempat mengajarnya cukup dekat dengan lokasi TPD. Miskonsepsi Literasi Sebelum pemantik diskusi menyampaikan pemaparan tentang praktik baik literasi yang berdaya, para peserta diajak mengemukakan pendapatnya tentang apa itu literasi Jawabannya pun beragam seperti kata pak Satrio Guru SD di Buntaran “Literasi itu ya kegiatan membaca buku.” Berbeda dengan Pak Denny mengungkapkan “Literasi itu adalah kegiatan belajar yang tidak hanya dari buku tetapi juga dalam aktivitas berkreasi.” Setelah  merangkum pendapat peserta, bu Ilmi kemudian memulai mengurai tentang miskonsepsi literasi. Bahwa literasi bukan hanya berkutat pada diktat, buka selalu dengan buku, bukan tentang kegiatan membaca dan menulis saja. Tetapi semua aktivitas mencari informasi, mengolah informasi kemudian mengkomunikasikannya kembali dalam bentuk yang lebih bermakna. Dari pemaparan bu Ilmi sedikit terbukalah paradigm peserta. Ada yang kaget juga karena konsep tentang literasi yang mereka pahami selama ini masih keliru. Ada juga yang kemudian tersenyum lega karena ternyata kegiatan literasi bukan hanya membaca buku. Maklum ternyata ada beberapa peserta yang tidak menyukai kegiatan membaca. Setelah Bu Ilmi memantik diskusi tentang Miskonsepsi Literasi, Bunda Pelangi yang merupakan pemilik Omah Dolan Pelangi memaparkan tentang Praktik baik Literasi yang bermakna di jenjang dasar ( PAUD, TK,SD ). Salah satunya adalah dengan sosiodrama. Kemudian permainan Board Game karakter baik, belajar cerita dan dongeng. Literasi yang berbasis eksplorasi sains. Mengaitkan pembiasaan atau kegiatan sehari hari dengan literasi. Baca Juga: Miskonsepsi Literasi Refleksi Kegiatan Dari hasil diskusi peserta mulai ada ide baru untuk membuat ragam kegiatan literasi yang bermakna. Semuanya dimulai dari pemahaman pendidiknya terlebih dahulu, pada sesi penutupan bu Ilmi menyampaikan “Keterampilan yang harus dimiliki baik pendidik maupun murid di era 4.0 adalah keterampilan berkomunikasi dan berpikir kritis dan inilah bagian dari sebuah literasi yang berdaya.” Sementara Bunda Pelangi menyampaikan “Bukan bagaimana anak itu bisa membaca akan tetapi bagaimana anak itu suka membaca, untuk kegiatan literasi yang bermakna perlu adanya kegiatan pasca membaca.” Sebuah refleksi juga diberikan salah satu peserta TPD yaitu Bu Reza “Kegiatan siang hari ini sangat bermanfaat, membuka pikiran yang selama ini literasi saya anggap hanya tentang membaca. Sangat santai sehingga bisa lebih enjoy dalam memahami. Semoga bulan depan ada agenda lagi dengan teman yang lebih banyak.” Kami tawarkan kepada peserta tentang tema pada pertemuan TPD yang selanjutnya. Dari berbagai masukan dan pendapat ternyata banyak diantara peserta yang ingin berbagai praktik baik pembelajaran literasi. Maka Call to Action nya adalah peserta TPD akan mendapatkan tantangan membuat skenario pembelajaran literasi yang bermakna . Tidak lupa juga kami agendakan awal  bulan depan untuk TPD lagi dengan bahasan Ragam Kegiatan Literasi yang Bermakna, kami rencanakan akan berbagi praktek baik tentang literasi dari semua jenjang sekolah. Penasaran Bagaimana Menerapkan Literasi Numerasi di Sekolah Dasar? Yuk ikuti pelatihan online klik 

Guru Penggerak Jombang dan Merdeka Belajar

Melihat kabar teman-teman di grup Penggerak Komunitas Guru Belajar Nasional. KGB berbagai daerah bercerita tentang perkembangan mereka yang sudah mulai sosialisasi tentang Merdeka Belajar. Penggerak dari Komunitas Guru Belajar Jombang pun ngiler. Ingin Jombang segera punya agenda tersebut. Sungguh, setelah hampir satu bulan akhirnya kami pun mendapat kesempatan itu. Tepatnya tanggal 22 januari Pak Ubed mendapat kabar jika KKG MI Kelas 1 dan PAUD menghendaki kita untuk menjadi narasumber untuk belajar memaknai Merdeka Belajar. Segera penggerak Komunitas Guru Belajar merapat untuk membahas hal tersebut, untuk menyamakan konsep dan membagi tugas saat kegiatan nanti. Ternyata, hampir semua penggerak yang akan ikut andil acara ini merasa nervous . Saya yang biasanya akan presentasi merasa biasa saja, ini rasanya agak mules-mules gitu, hahaha. Ya, secara kita akan menyebarkan salah satu kebijakan yang lagi hot. Tim kami pertama datang pun ada adegan lucu. Kami dikira anak-anak akan menyuntik. Lalu saya bertanya ”Apakah wajah kami seperti dokter, Nak?”. Mereka menjawab, “Iya, Bu.” Kami tertawa dan setelah mereka pergi, kami tertawa. Dalam hati berkata, ya nak kami akan menyuntik semangat Merdeka Belajar untuk bapak ibu guru. Acara dimulai pada hari Kamis tanggal 30 Januari 2020 jam 9.30 di MISS 2 Bandung, Kecamatan Diwek karena sambil menunggu peserta datang. Peserta yang datang pada saat itu ada 26 orang. Acara dimulai dengan sambutan ketua dan dilanjutkan dengan moderator, mbak Utari membuka acaranya. Sebelum memasuki presentasi beliau mengajak semua peserta untuk melakukan aksi gerakan tangan “Merdeka Belajar”. Mereka terlihat senang, dan antusias mengikuti. Setelah itu, memasuki acara presentasi ganti saya yang handle. Menceritakan tentang Komunitas Guru Belajar dan Kampus Guru Cikal juga 4 kunci pengembangan kompetensi guru. Saya ceritakan juga tentang KGB Jombang. Guru Penggerak Menyebarkan Merdeka Belajar Sebelum memutar video, saya mengajak teman-teman untuk menuliskan dahulu pemahaman mereka tentang apa itu merdeka belajar. Segera kami bagi post it dan menempel kertas plano. Dari hasil tempelan tersebut, rata-rata belum menggambarkan 3 kunci merdeka belajar. Nak, saat akan memutar video notebook saya tidak bisa mengeluarkan suaranya. Ada tim bagian teknisi, saya tetap handle teman-teman dengan mengajaknya yel-yel merdeka belajar. Akhirnya dicoba dengan notebook satunya. Ternyata sama juga, kami pun tak kehilangan akal. Akhirnya dua notebook dinyalakan dengan berbagi tugas, antara tayangan gambar dan suara hahahaha. Melihat tayangan video peserta tampak bersemangat. Hingga pemutaran video selesai, saya lanjutkan dengan mengajak teman-teman berdiri untuk berkelompok setelah saya menghitung 2-6. Semua sudah berkelompok. Dan mereka pun lanjut diskusi tentang refleksi setelah melihat video. Sepuluh menit kemudian, ada perwakilan kelompok presentasi. Setelah presentasi, ketua bertanya ke saya, “Jika saya saat mengajar sudah menyampaikan tujuan ke murid, pengajaran pun saya beri kesempatan murid untuk memilih materi mana dulu yang disukainya. Tidak lupa di akhir pembelajaran saya tanya ke murid untuk refleksi”. “Apakah pengajaran ini sudah merdeka belajar Bapak Ibu?” Saya tidak langsung menjawab. Tapi, saya ajak untuk memasuki materi selanjutnya untuk segera bisa menjawab sendiri apakah sudah merdeka belajar apa belum.  Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Hingga akhirnya sampai pada sesi, teman-teman saya ajak untuk berdiri. Karena ruangan tidak memadai untuk bergeser ke kanan atau kiri, maka saya ajak untuk mengacungkan tangan saja. Jika setuju dengan pernyataan tersebut mengacungkan tangan kanan dan sebaliknya. Rata-rata dari jawaban mereka sudah benar. Ketika saya membacakan tentang puisi merdeka belajar, duh rasanya merinding saya. Keren abis itu puisi. Pasti yang membuat pakai hati hingga bisa masuk ke hati. Refleksi Pengajaran Merdeka Belajar Materi sudah tersampaikan. Saya kemudian membawa hal yang saya dapat dari Pelatihan Guru Merdeka Belajar yang pernah saya ikuti. Tentang praktik 2 adegan pengajaran. Setelah itu, saya ajak teman-teman untuk refleksi rasa yang mereka rasakan saat menjadi murid. Perwakilan teman-teman maju ke depan untuk menyampaikan perasaannya. Jelas mereka lebih senang saat pengajaran ke-2  karena murid merasa dihargai, penyampaian materi langsung pada praktik, dan suasana terbangun dengan hangat. Sebelum saya akhiri, saya menyampaikan bahwa kegiatan ini akan berlanjut lagi, dengan kanvas merdeka belajar dan lain-lain tentang Komunitas Guru Belajar. Tidak lupa kami promosikan produk KGB yang bisa diperoleh di dan saya juga menunggu kabar baik dari teman-teman tentang praktik baiknya di sekolah. Dan tentunya, akan menerbitkannya menjadi buku. Akhirnya moderator menutup acara. Setelah itu, kami lanjutkan dengan refleksi dan tindak lanjut. Sayangnya, kami belum membaca hasilnya dibawa ketua. Tapi, itu PR kami untuk menanyakan hasil refleksi dan tindak lanjut teman-teman. Tidak lupa acara ditutup dengan foto-foto memakai banner keren KGB Jombang dan banner keren dari KKG MI Kelas 1. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Membahas Arti Merdeka Belajar

Apakah arti Merdeka Belajar itu? Bagaimana melaksanakannya? Apa yang didapatkan oleh guru dan siswa dengan merdeka belajar? Lalu bagaimana “Meneropong Konsep Merdeka Belajar Kemendikbud” dalam hal ini guru merdeka belajar melalui  Kebijakan Menteri Pendidikan? Pertanyaan –pertanyaan dan rasa penasaran membahas arti merdeka belajar muncul dari guru-guru Yayasan Al Hikmah, Maros. Komunitas Guru Belajar Maros berkolaborasi KGB Makassar meramu Temu Pendidik Daerah (TPD). TPD ini berisi kegiatan Nonton bareng Guru Merdeka Belajar pada Sabtu, 21 Desember 2019 di SDIT Al Hikmah Maros. Dalam diskusi kali ini sebagai narasumber adalah Ketua KGB Makassar dan para penggerak KGB Makassar. Seluruh sesi dipandu oleh moderator Pak Rudy.  Acara nonton bareng dilanjutkan dengan diskusi membahas arti merdeka belajar diantara para guru. Acara Nobar Guru merdeka dibuka oleh ibu kepala sekolah SDIT Al Hikmah, dalam sambutannya beliau mengatakan sangat senang dengan adanya kegiatan seperti ini, karena sebelumnya beliau punya  harapan ingin berdiskusi tentang bagaimana kebijakan menteri yang baru, dan sangat bersyukur Komunitas Guru Belajar hadir menjadi fasilitator dalam kegiatan tersebut. Hal tersebut juga diapresiasi oleh kepala sekolah TKIT Al Hikmah Maros, sangat senang dengan adanya diskusi seperti ini.  Sudahkah kita memahami arti Merdeka Belajar? Oleh Pak Rudy selaku moderator dalam acara nonton bareng tersebut, membuka dengan kalimat sudahkah kita merdeka belajar? Beliau memberikan contoh sebagai guru IPA dengan keterbatasan fasilitas LAB dan bahwa mengajar IPA tidak pumya LAB jatuhnya ke hafalan. Benarkah demikian? Menurutnya tidak seperti itu. harus kreatif dan tidak dibatasi kondisi fasilitas yang ada. Dia kemudian memberikan contoh dengan materi lensa cekung yang menggunakan sendok makan sebagai contoh.  Lanjut Pak Rudy, mengatakan bahwa bagaimana anak dapat merdeka belajar? Caranya sangat mudah, manfaatkan media yang ada di sekitar kita.  Ibu Guru Anita  Taurisia Putri selaku narasumber dalam diskusi nobar tersebut memberikan penjelasan mengenai empat kebijakan baru menteri pendidikan, bapak Nadien.  Termasuk tentang konsep guru merdeka berdasarkan konsep Komunitas Guru Belajar. Oleh Guru Indra dari KGB Maros, dari konsep pemahaman beliau masih terperangkap oleh miskonsepsi merdeka belajar. Oleh  guru Kasmiatang, mengatakan bahwa guru merdeka adalah bahwa membahas tentang guru endingnya adalah berawal dan berakhir di murid, guru merdeka  adalah guru yang bebas berinovasi tanpa tekanan. Tidak terjebak dan terfokus pada tugas administratif guru. Lain halnya oleh pak guru Irfan, menurutnya pendidikan adalah dakwah. Pernahkah guru mengeluh bahwa murid itu nakal ? Mengajar murid yang nakal adalah bagian dari dakwah juga.  Itulah tantangan dakwah. Visi pendidikan membawa murid ke surga, katanya. Dengan meningkatkan potensi amal, mari sinkronkan keinginan antara anak, orang tua dan guru. Memperjelas objek dakwah, kita harus mengambil sudut pandang pada anak-anak, jangan menggunakan sudut pandang pribadi sebagai guru untuk mengukur anak. Oleh pak guru Irfan mengatakan bahwa guru harus mampu memahami murid. Beliau memberikan contoh, kegiatan kepramukaan misalnya membagi pola pendidikan sesuai pola umur (1-4 tahun Siaga, Penggalang umur 5-6-7-8-9 Tahun dan penegak untuk SMA dan Mahasiswa). Pendidik yang Merdeka Belajar Sebagai pendidik harus bisa menyesuaikan dengan objek pendidikan kita dalam hal ini anak didik. Menurut pak Arif, bagaimana guru akan menjadi perwakilan Allah di muka bumi ini? Seorang guru harus memahami murid, mereka belajar (murid) adalah bagian dari tantangan belajar yang juga bagian dari dakwah. Misalnya rasanya keliru anak diminta belajar sementara orang tua sibuk main HP.  Oleh guru Adel, Penggerak KGB Makassar  mengatakan memanfaatkan potensi yang ada, memahami murid sesuai kebutuhan dan keadaan.Memahami murid menjadi rambu bagi muridnya. Guru mengikuti pola yang disenangi, dimasukkan kedalam pelajaran. Apa yang dibutuhkan anak itu yang harus diajarkan. Satu pesan dari Bu Guru Permata dari SMK Darussalam “Cukup jadi diri sendiri jika ingin menjadi ” Menjadi guru merdeka itu harus kreatif tidak mengajar karena tuntutan pimpinan tetapi karena beban moril, bahwa mengajar dengan baik adalah tanggungjawab di akhirat. Menjadi Guru Merdeka adalah guru yang kreatif dan inovatif dalam mengajar, memahami apa yang dibutuhkan oleh seorang murid.  Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Kutipan dari Bu Elaa “Guru tidak bisa belajar sendiri”-“Ciri Guru Merdeka Belajar adalah Komitmen akan tujuan, Guru yang mandiri, dan Guru yang Bercermin (refleksi)” Merdeka belajar adalah proses dimana seorang guru mampu memerdekakan dirinya terlebih dahulu dalam proses belajar mengajar dan mampu memberikan rasa nyaman serta rasa merdeka belajar bagi siswa- siswanya. Atau dengan kata lain Merdeka belajar juga  adalah bagian dari proses belajar seorang guru untuk memiliki komitmen, mandiri serta reflektif, dimana seorang guru ketika belajar dan mengajar tidak terjebak pada persoalan-persoalan administratif tetapi memiliki kesadaran untuk belajar karena kebutuhan alamiah menuju tujuan yang bermakna bagi diri sendiri dan bagi orang lain.