Konsep Merdeka Belajar di Sijunjung

Agar memahami konsep merdeka belajar. Komunitas Guru belajar Sijunjung mengadakan Temu Pendidik Daerah (TPD) ke–18. Acara ini dilaksanakan pada Jumat, 17 Januari 2020 pukul 13.30 – 17.00. Bertempat di kediaman Bu Sri hastuti Kecamatan Sijunjung, Kabupaten Sijunjung. TPD ini memiliki kegiatan nonton bareng. Dimoderatori oleh Ibu Novi Edmawati, sebagai salah satu penggerak dari KGB Sijunjung. Peserta yang hadir lebih kurang 15 orang, berasal dari Guru Kelompok bermain ( KB),SD,SMP, dan SMK. Kegiatan Nobar dipandu oleh Ibu Sri hastuti yang sudah mengikuti (Temu Pendidik Nusantara) tahun 2018 dan tahun 2019. Beliau juga aktif di Komunitas Guru Belajar.  Beliau adalah sosok yang mengayomi dan mampu menjadi teladan bagi Guru–guru yang ada di Sijunjung. Keresahan Guru pada Pendidikan Kegiatan Temu pendidik diawali dengan saling mengenalkan diri. Ada beberapa teman yang baru bergabung di Komunitas Guru Belajar Sijunjung ini. Kegiatan ini berlangsung 15 menit. Kemudian kegiatan dilanjutkan oleh  Bu Sri hastuti tentang Komunitas Guru belajar. Beliau menjelaskan Latar belakang komunitas ini. Komunitas terbentuk karena timbulnya keresahan dari para guru tentang Pendidikan Di Indonesia. Bu Tuti menayangkan tentang video guru Merdeka belajar. Guru–guru yang hadir antusias dalam menonton dandiajak memperhatikan penjelasan Konsep Merdeka belajar dan  miskonsepsi belajar. Setelah selesai menonton, peserta melakukan refleksi “Apakah yang sudah diketahui tentang konsep guru merdeka belajar?” Saya sebagai guru merasa Bahagia bisa berada di Komunitas ini. Berada di antara Guru–guru hebat. Bukan hanya hebat di Sijunjung saja tapi sudah sampai ke Jakarta. Orang–orang pilihan yang dianugerahkan Allah kepada saya untuk bisa bergaul dengan mereka. Komunitas ini membuka cakrawala saya tentang belajar itu seperti apa. Bagaimana Guru yang Merdeka Belajar? adalah guru yang komitmen pada tujuan, guru yang bisa mandiri dalam mengatasi masalah yang dihadapinya dan guru yang selalu refleksi, berkaca diri atas apa yang telah ia lakukan. Merupakan guru yang memerdekakan murid. Guru dan murid merasa merdeka dalam proses pembelajaran. Guru merdeka adalah orang yang selalu mengembangkan dirinya untuk menjadi lebih baik. Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Bu Tuti  juga menjelaskan tentang miskonsepsi selama ini yang terjadi di kalangan pendidik dan dunia pendidikan barangkali. ada pernyataan yang salah kaprah atau miskonsepsi belajar seperti satu, Guru belajar karena insentif eksternal. Dua, Guru belajar harus dari ahli, tiga, Belajar cukup terbatas “How to”. empat, belajar diburu target yang dipaksakan,lima, Kompetensi bersifat individual. Miskonsepsi yang ada pada diri saya yaitu Belajar cukup terbatas “How to”. Selama ini mungkin saya mengajar hanya tahu cara tanpa saya tahu tujuan yang sebenarnya. Saya datang ke sekolah mengajar setiap materi yang dituntut kurikulum tanpa memahami tujuan akhir yang akan dicapai  peserta didik. Maka saya bertekad untuk mematahkan miskonsepsi belajar ini. Saya akan berusaha memahami tujuan dari apa yang akan saya lakukan. Saya akan terus bergabung di komunitas ini dan akan selalu menjadi guru yang merdeka belajar. Guru yang komitmen yang pada tujuan, mandiri dalam menyelesaikan kendala yang dihadapi, dan selalu refleksi atas apa yang sudah dilakukan. Saya akan terus bergabung di komunitas Guru belajar ini karena saya mendapatkan pencerahan dan memberikan energi positif yang harus selalu dipupuk agar berkembang menjadi lebih baik.

Disiplin Positif Cara Mendisiplinkan Murid

Disiplin positif menjadi hal yang perlu didekatkan dengan guru. Sehingga kami pilih menjadi topik dalam rangkaian tiga gelombang pelatihan. Pelatihan ini sengaja kami bagi menjadi  tiga gelombang. Dengan harapan pelaksanaannya bisa efektif dan berjalan kondusif. Tujuan kami mengadakan kegiatan ini mengenalkan keberadaan KGB Jember.  Selain itu, mencoba mengenalkan penerapan Disiplin Positif sebagai salah satu alternatif solusi cara mendisiplinkan murid/anak. Mengapa Perlu Penerapan Disiplin Positif?  Kita semua tahu masih banyak praktek pengajaran yang menggunakan kekerasan sebagai cara mendisiplinkan murid. Guru menggunakannya karena anggapan bahwa murid tidak akan patuh kalau tidak ada yang ditakuti. Karena itulah, guru perlu menggunakan kekerasan supaya murid takut ketika hendak melakukan pelanggaran. Ada juga yang beranggapan bahwa murid tidak akan menghormati guru yang terlalu sabar. Para murid juga akan menjadi anak-anak yang manja jika terlalu disabari. Tetapi ada juga yang berpendapat sebaliknya berkaitan dengan disiplin ini. Bahwa sebagian guru merasa khawatir adanya UU Perlindungan anak.  Mereka takut ketika hendak menindak murid yang melakukan pelanggaran. Mereka takut dikenai hukuman. Akibatnya para guru banyak yang mengabaikan pelanggaran yang dilakukan muridnya. Mereka bingung harus melakukan apa. Mungkin diatasi, tapi tidak ditangani secara serius. Sehingga pelanggaran demi pelaggaran terus terjadi. Baca Juga: Penerapan Disiplin positif adalah jawaban yang selama ini kami anggap paling efektif sebagai cara mendisiplinkan murid tanpa kekerasan. Disiplin positif adalah cara menumbuhkan disiplin yang bersumber dari dalam diri murid itu sendiri.  Dalam penerapannya tidak mengenal peraturan. Semua ketetapan yang berlaku dibuat berdasarkan kesepakatan bersama. Semua kesepakatan  itu dibuat oleh seluruh warga kelas berdasarkan hasil musyawarah.  Ketika menerapkan disiplin positif juga tidak berlaku adanya hukuman. Yang ada adalah konsekuensi. Jadi ketika ada murid yang melanggar kesepakatan bersama, maka murid tersebut harus menerima konsekuensinya. Konsekuensi ini juga hasil dari musyawarah yang telah disepakati dan berkait langsung dengan pelanggaran. Disiplin positif  mengajak murid tumbuh dan berkembang melewati prosesnya dengan mengutamakan proses berpikir. Jadi bukan dengan menasehati, mendikte, atau mendoktrinnya. Tidak memvonis murid ketika melakukan kesalahan. Karena kami meyakini bahwa yang dibutuhkan anak-anak adalah proses mengalami, memahami, menganalisa, kemudian menyimpulkan sebelum sampai pada tindakan memperbaiki kesalahan. Semua tindakan yang dilakukannya tidak sekedar patuh atau mengikuti seperti orang mabuk, tetapi lebih kepada proses berpikir.  Pelatihan Disiplin Positif KGB Jember Pelatihan gelombang 1 dilaksanakan tanggal  13 September 2019, tempatnya di Perpustakaan Bank Indonesia. Gelombang 2 dilaksanakan tanggal 27 September 2019, yang bertempat di Warung Dalung. Sementara gelombang 3 dilaksanakan tanggal 11 Oktober 2019 di Gedung Telkomsel Jember. Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari Jumat,  mulai pukul 13.30- 16.00. Peserta yang mengikuti pelatihan ini sangat beragam. Mulai dari orang tua, guru-guru mulai dari jenjang TK sampai SMA/MA/SMK, guru BK, dan juga ada beberapa pemerhati pendidikan.  Pelatihan ini berbentuk diskusi, baik diskusi saat praktek dalam membuat kesepakatan kelas, konsekuensi, maupun dalam mempelajari  contoh kasus di materi video. Video yang kami putar tiap pelatihan tidak sama. Tujuannya agar kami juga bisa mengenali sekaligus mempelajari situasi, kondisi, dan pendapat yg beragam. Kami sengaja memilih metode diskusi karena percaya bahwa setiap peserta memiliki pengalaman yang beragam. Mereka juga sudah terbiasa menangani dan memecahkan masalah-masalah yang terjadi bersama anak/muridnya. Sehingga yang kami harapkan dari diskusi ini adalah semua ide/pendapat/masukan nantinya bisa menjadi kesepakatan bersama untuk kemudian bisa diterapkan di tempat masing-masing.  Berbagai Aktivitas Adapun tahapan-tahapan pelaksanaannya sebagai berikut: Peserta diajak membuat kesepakatan bersama sebelum memulai kegiatan dengan cara berdiskusi. Lalu bermusyawarah untuk membuat/menetapkan konsekuensi dari setiap pelanggaran pada penerapan disiplin positif. Peserta menonton video kasus kekerasan di sekolah, sambil mencari penyebab/sumber permasalahan dari kasus tersebut. Memusyawarahkan /saling tukar pendapat tentang penyebab terjadinya kasus di video tersebut. Kemudian semua pendapat yang telah disepakati ditulis. Setelah menemukan sumber/penyebab permasalahannya, para peserta diajak utuk mencari solusinya.   Seperti dugaan kami, selama diskusi para peserta aktif bertanya maupun berbagi ide/pendapatnya. Meskipun mungkin awalnya banyak yang berupa curhatan. Akhirnya, diskusi bisa mengarah ke pemecahan masalah. Seperti, ada peserta yang bertanya, ” Bukankah kita sudah memiliki aturannya, bahwa kalau mendidik itu tidak boleh menggunakan kekerasan. Tapi mengapa masih banyak yang melakukannya?” Jawaban kami, “Karena itulah KGB Jember hadir di sini. Tujuannya adalah untuk memberikan alternatif solusi cara mendisiplinkan murid yang tanpa menggunakan kekerasan.” Refleksi Peserta Begitu banyak kesan yang mengharukan selama pelatihan maupun sesudahnya. Kami memang sengaja membuka ruang tanya jawab lewat grup atau pribadi, jika masih ada yang ingin ditanyakan berkaitan dengan materi pelatihan.  Seperti yang disampaikan oleh salah satu peserta, beliau guru di salah satu SMP di Ambulu. Beliau mengatakan, “Saya senang mendapat pencerahan hati. Sehingga mengajar tidak perlu marah-marah pada anak yg nakal. Kita harus selalu berpikiran positif pada anak. Karena anak itu belum paham tentang kebenaran yg hakiki. Saya yakin dia akan berubah pikirannya suatu saat karena sadar dan paham tentang sesuatu.” Tujuan yang baik adalah harapan dari semua pendidik. Kami percaya setiap pendidik memiliki tujuan ingin mendisiplinkan muridnya. Akan tetapi, tujuan baik ini tidak diiringi penggunaan cara yang baik. Kita seringkali terjebak pada cara mendisiplikan untuk tujuan sesaat. Seolah-olah  disiplin. Padahal mereka sedang menunggu kesempatan berikutnya untuk melanggar. Mengapa? Karena mereka disiplin bukan karena kesadaran. Tapi disiplin karena faktor dari luar dirinya. Seperti disiplin karena diiing-imingi hadiah atau sogokan. Disiplin yang disebabkan takut dihukum atau sanksi berat. Maka, agar pembiasaan disiplin ini berdampak lama dan  menjadi kebiasaan dalam kesehariannya, penerapan disiplin positif inilah solusinya.

Guru Sejarah Merdeka Belajar

Guru Merdeka Belajar menjadi topik yang diangkat Komunitas Guru Belajar Makassar. Kegiatan bertajuk Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar dilaksanakan berkolaborasi dengan Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI). Tidak hanya dari satu provinsi, ASGSI yang ikut berasal dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah. Diselenggarakan pada Sabtu, 14 Desember 2019 Pukul 08.00 – 10.00 WITA. Kegiatan bertempat di Gedung Guru Jusuf Kalla Disdik Sulsel, Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10 Makassar. Acara Nonton bareng Guru Merdeka Belajar yang dipandu oleh penggerak KGB Makassar. Aktivitas ini berlangsung di awal kegiatan sebelum acara Seminar Nasional dimulai. Pada sesi ini diputar video Guru Merdeka Belajar Najelaa Shihab. Nobar dipandu oleh guru Maurensyiah P., S.S., M.Pd dari SMK Darussalam Makassar yang biasa disapa Permata Hati.  Berikutnya, acara dilanjutkan dengan diskusi diantara para guru-guru sejarah 3 provinsi yang disebut tadi serta salah satu perwakilan Asosiasi Guru Sejarah Gorontalo. Acara Nobar Guru Merdeka Belajar sangat tepat ditampilkan dalam kegiatan AGSI kali ini, dan sesuai dengan tema yang diusung oleh panitia yaitu Sejarah Lokal : “Tantangan & Masa Depan “. Sudahkah Guru Sejarah Merdeka Belajar? Pemandu mengucap kalimat “Sudahkah guru-guru sejarah merdeka belajar?” Lalu, riuh muncul dari guru sejarah bahwa mereka adalah guru merdeka belajar. Jawaban spontan muncul “Ya, sudah pasti Guru Merdeka Belajar dong!” “Lalu, bagaimana anak dapat merdeka belajar?” “Dan bagaimana seorang guru sebagai guru yang merdeka dalam berinovasi mengajar”. Guru mampu memberikan inovasi-inovasi pembelajaran sejarah yang lebih kreatif. Bagaimana membangun kesan belajar sejarah bukanlah hal yang membosankan? Umpan pertanyaan ini lalu direspon beberapa guru. Guru Wartawati Damar dari  kabupaten Wajo menyatakan, “Guru sejarah itu harus kreatif menciptakan inovasi pembelajaran dan termasuk kreatif dalam mengenalkan literasi melalui karya tulisan sejarah.” Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Pemandu mengatakan “Cukup jadi diri sendiri jika ingin menajadi Guru Merdeka Belajar.” “Tidak perlu menjadi orang lain, perbaiki saja niat, tumbuhkan semangat dan ciptakan hal-hal yang kreatif dalam pembelajaran sehingga siswa akan menjadi nyaman dalam belajar.” Kreatif dalam berinovasi. Sebagai guru sejarah administrasi pembelajaran memang penting akan tetapi jangan dijadikan beban dan momok dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik. Sempat membagi pengalaman inovasi pembelajaran tentang belajar sejarah melalui video dokumenter, komik sejarah dan majalah sejarah yang diberi nama COMAAGTOON.  Guru Zulkifli mengatakan bahwa guru sejarah itu harus energik, karena guru sejarah tidak hanya mengajarkan masa lalu tapi juga mengajarkan masa kini dan masa yang akan datang karenanya dibutuhkan kreativitas mengajar yang baik. Guru Sejarah harus banyak berkarya lewat tulisan sejarah sebagai salah satu bentuk mengenalkan sejarah dan budaya bangsa kita. Dan bahwa literasi menulis dan literasi berupa lawatan sejarah adalah bagian atau wujud dari guru merdeka belajar. Guru sejarah memiliki potensi tersebut.  Diskusi tidak bisa berlangsung lebih lama lagi. Karena agenda utama seminar nasional telah siap dimulai dan dibuka dan presiden AGSI bapak Sumardiansyah Perdana Kusuma. Beliau yang akrab disapa mas Ryan telah tiba di lokasi kegiatan. Iringan musik dan tarian penyambutan telah bersiap-siap. Diskusi nobar guru merdeka belajar akhirnya berakhir. Harapannya diskusi akan hal tersebut akan kembali berulang di waktu yang akan datang. Arti Merdeka Belajar Di akhir diskusi pemandu kembali menyampaikan kutipan dari Bu Elaa “Guru tidak bisa belajar sendiri.”-“Ciri Guru Merdeka Belajar adalah Komitmen akan tujuan, Guru yang mandiri, dan Guru yang Bercermin (refleksi).” Merdeka belajar adalah proses dimana seorang guru mampu memerdekakan dirinya terlebih dahulu dalam proses belajar mengajar. Guru mampu memberikan rasa nyaman serta rasa merdeka belajar bagi siswa- siswanya. Atau, dengan kata lain Merdeka belajar juga  adalah bagian dari proses belajar seorang guru untuk memiliki komitmen, mandiri serta reflektif. Seorang guru ketika belajar dan mengajar tidak terjebak pada persoalan-persoalan administratif. Tetapi memiliki kesadaran untuk belajar karena kebutuhan alamiah menuju tujuan yang bermakna bagi diri sendiri dan bagi orang lain.

Merdeka Belajar adalah cita-cita Guru

Merdeka Belajar adalah topik yang akhir-akhir ini menjadi pembahasan berbagai guru. Termasuk Komunitas Guru Belajar Gowa yang juga mengangkatnya, karena Merdeka Belajar adalah cita-cita komunitas ini. Bersama MGMP Sosiologi Kabupaten Gowa dalam Temu Pendidik Daerah kami membahas Merdeka Belajar. Berkumpul sesama guru adalah hal yang lazim dilakukan selama ini. Satu orang bertindak sebagai pembawa berita dan pembawa format. Peserta yang lain siap untuk mengeksekusi format tersebut. Kegiatan guru yang bersifat monoton dan mekanik ini mungkin sudah sejak lama berlangsung. Peserta dan pemateri hanya sibuk mendiskusikan tentang format-format dan kolom-kolom perangkat pembelajaran. Bahkan pada aktivitas tersebut tanpa sedikit pun membahas tentang perasaan-perasaan peserta didik. Perlu pula membincang tentang mimpi-mimpi siswa yang beraneka ragam padahal jumlah merekalah yang paling banyak. Mungkin sebagian guru rasanya ingin berbuat yang luar biasa terhadap muridnya. Namun yang menjadi kendala adalah hantu perasaan yang terlanjur menguasai dirinya sebelum berbuat, semoga dugaan saya salah! Menata kembali Orientasi Guru Hari Minggu 26 Januari 2020, di SMA Negeri 8 Gowa. Setelah Hari Raya Nyepi. Para guru dari berbagai daerah dan tingkatan di Kabupaten Gowa kembali berkumpul. Bukan kumpul biasa melainkan berkumpul untuk menata kembali tentang orientasi guru yang sesungguhnya. Guru yang mampu menjadi solusi terhadap problematika pendidikan. Guru yang sering gagal tapi selalu belajar dari kegagalan itu. Komunitas Guru Belajar Gowa bersama Musyawarah Guru Mata Pelajaran Sosiologi Kabupaten Gowa Menginisiasi Temu Pendidik Daerah. Agenda aktivitas ini adalah “Nonton Bareng Merdeka Belajar.” Merdeka Belajar adalah Jalan Terjal dan berliku menuju esensi pendidikan yang memanusiakan.  Sesaat sebelum Acara Nonton Bareng dimulai. Salah satu peserta perempuan berujar cocok mi inne Lebbak to nakke kulangngere Guru Merdeka Belajar, Apa itu kah (Saya juga pernah mendengar istilah itu, kira-kira apa yah ). Peserta lain berkata bahwa yang namanya Merdeka pasti baik ayo mi kita nonton bersama. Alhamdulilah Karena didukung oleh perangkat sound system yang memadai sesaat selepas moderator memutar Video Merdeka Belajar. Suasana kelas menjadi hening seluruh mata tersorot ke Whiteboard. Mata peserta menonton Video Merdeka Belajar yang berdurasi 15 menit . Terlihat para peserta sangat antusias terhadap putaran video tersebut. Mereka menyaksikan rinci demi rinci untuk berusaha memahami lebih dalam tentang konsep Guru Merdeka Belajar. Didapati dari video tersebut, ada 3 dimensi Merdeka Belajar yakni: Komitmen Pada Tujuan, Mandiri terhadap Cara, dan Melakukan Refleksi. Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Tidak terasa video Merdeka Belajar selesai diputar. Para peserta mengapresiasi video tersebut dengan sontak bertepuk tangan. Sebagian peserta nobar sibuk mencatat, ada pula peserta yang mengangguk dan terlihat juga peserta yang sudah siap untuk bertanya. Tampilan yang saya tangkap ini semoga itu semua adalah dinamika proses guru belajar menuju esensi pendidikan yang sesungguhnya. Moderator Kegiatan Nobar dalam hal ini adalah Luktfy Alam, S.Sos mengucapkan terimakasih kepada para peserta Nobar untuk meluangkan waktunya. Selanjutnya kegiatan dilanjutkan dengan sesi refleksi dan diskusi yang akan dipandu oleh Narasumber dan Pemandu Nobar yaitu Ahmad Dharmawan Muslim, S.Pd. Adapun yang bertindak sebagai Koordinator Kegiatan adalah Adelia Octoryta dari Rumah Sekolah Cendikia.  Apa itu Guru Merdeka Belajar? “Terimakasih Bapak Ibu dan rekan-rekan sekalian.”“Mengawali sharing dan refleksi kita kali ini bolehkah saya sedikit bertanya kepada Bapak Ibu yang saya hormati?”Bolehlah Pak! Jawab Peserta.“Baik Bapak Ibu Sekalian kira-kira apa sih itu Guru Merdeka Belajar?” “Silakan dijawab dengan santai tidak usah tegang yah Bapak Ibu.” Kata Pak Ansary yang juga Sekretaris MGMP Sosiologi bahwa “Guru merdeka belajar adalah guru yang mengedepankan kebijaksanaan dalam menjalankan tugas profesinya sebagai guru dan pendidik.”Menurut beliau Guru Merdeka Belajar adalah guru yang peka terhadap lingkungan sekitar. Guru Merdeka Belajar mampu menjadikan lingkungan sekeliling sebagai sumber belajar. Pada sesi refleksi seorang peserta mengkritisi tentang kondisi kurikulum. Dikatakn kurikulum selalu berubah dan cenderung berganti-ganti. Ternyata keluhan tersebut menjadi pintu yang baik untuk berjalannya diskusi yang menarik. Keluhan tersebut langsung saja direspon secara santai oleh narasumber bahwa benar. Sepanjang waktu kurikulum selalu berubah mengikuti tuntutan dan perkembangan zaman.“Nah poin pentingnya adalah apakah ketika kurikulum terus berubah cara mengajar mengajar kita juga berubah?”“Kalau kurikulum berubah terus cara mengajar kita tidak berubah maka bisa dipastikan bahwa ada ruang yang senjang antara kebutuhan murid dengan apa yang kita lakukan di ruang kelas.” Pak Ahmad Dharmawan, S.Pd selaku Narasumber Nobar Kali ini menjawab tegas. Dari penjelasan peserta pun seakan memahami keadaan tersebut.  Dinamika Merdeka Belajar Para peserta sangat antusias dan bersemangat dalam menyambut dinamika Merdeka Belajar. Tidak sedikit yang langsung mengatakan Pak Luktfy pulang dari Nobar ini saya akan berubah. “Saya mencoba untuk melakukan praktek-praktek yang berorientasi pada tujuan pembelajaran dan kebutuhan peserta didik”. Guru Hasdia yang bertugas di SMA Aksara Bajeng mengutarakan bahwa Guru Merdeka Belajar adalah semacam petunjuk anti keliru bahwa ternyata seorang guru itu ketekunannya harus diprioritaskan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang bermakna. Guru yang bukan hanya sekedar tekun tanpa tujuan. Dikatakan bahwa muara dari merdeka belajar adalah kondisi yang bahagia antara guru dan peserta didik karena tujuan mereka tercapai. Guru haruslah merdeka baik dalam berpikir, bersikap dan bertindak. tutur Hasdia, S.Pd  Seirama dengan yang lain Guru Nurul Saada dari SMA Batara Gowa mengatakan bahwa Guru Merdeka Belajar adalah guru yang senantiasa memberikan usaha yang terbaik dalam membuat siswa mampu untuk memahami apa yang mereka pelajari. Guru yang mampu mengkorelasikan dalam kaitannya dengan kehidupan keseharian mereka. Ibu Saada menambahkan bahwa pembelajaran yang kita laksanakan harus menjamin adanya dampak yang signifikan terhadap tumbuh kembang kognitif, afektif dan psikomotorik peserta didik. Beliau menjamin selepas kegiatan Nobar akan melakukan perubahan- perubahan progresif dalam mendesain rencana pembelajarannya.  Ibu Eramiati dari SMA Negeri 14 Gowa memulai pandangannya. “Alhamdulilah dari kelima miskonsepsi tadi sepertinya tidak ada yang terlalu dekat.” Beliau berpendapat bahwa dunia pendidikan adalah segmen yang selalu mengalami perubahan sesuai dengan arus perubahan sosial. Guru yang merdeka adalah guru yang selayaknya mengajarkan hal-hal yang kontekstual. Guru mengajar seiring dengan arus global perubahan sosial dengan tetap berpegang teguh pada kode etik keguruan, nilai dan falsafah pendidikan Indonesia. Beliau sangat berharap kedepannya dunia pendidikan khususnya guru harus beradaptasi. Guru siap dengan berpindahnya sebagian aktivitas pendidikan dalam dunia digital virtual. Sebesar apapun perubahan dunia global guru harus tetap berdiri kokoh dalam menanamkan hal-hal yang baik dan benar. Harapan Baru Bagi Guru Pertemuan hari ini tergolong cukup luar biasa tidak terasa … Read more

Bagaimana Video Pembelajaran yang Bermakna?

TPD Kelas Kompetensi berjudul Membuat Video Pembelajaran Bermakna Menggunakan Smartphone, diikuti sekitar 20 orang guru, manajemen sekolah, pustakawan, hingga orang tua murid, yang sengaja hadir ke SD Gagas Ceria. Mereka hadir dengan berbagai motivasi, dari yang ingin menghadirkan pembelajaran kreatif untuk murid-murid, ingin mendokumentasikan kegiatan untuk orang tua, bahkan dokumentasi untuk kepentingan promosi. Berangkat dari para peserta yang kebanyakan tak mampu membuat video, akankah pada akhirnya para peserta mampu menjadi kompeten membuat video? Pada hari pertama kelas kompetensi ini, yakni tanggal 4 januari 2020, kelas dipandu oleh Anggayudha (Aye) dari KGB Bandung. Kelas dibuka dengan ice breaking perkenalan yang selain menghadirkan keseruan, juga membuat para peserta jadi saling mengenal satu sama lain. Kelas berlanjut dengan sesi 1 tentang merancang strategi pengajaran bermakna menggunakan video. Sesi ini menjadi penting agar video yang nanti dihasilkan tidak hanya sekedar menjadi video biasa, namun juga dapat menjadi video pembelajaran yang bermakna. Sesi ini terdiri dari berbagai kegiatan yakni diskusi, gallery walk, pembahasan, dan praktik penyusunan startegi. Kegiatan diskusi berlangsung dengan sangat hidup, tak jarang perdebatan antar anggota kelompok pun terdengar. Hasil diskusinya dibuat dalam bentuk poster yang ditampilkan dalam galeri. Kegiatan gallery walk berhasil membuka wawasan dan memperluas sudut pandang dengan pertanyaan-pertanyaan kritis yang dilemparkan oleh para peserta yang berjalan mengitari galeri. Kegiatan pembahasan memberikan pemahaman baru mengenai beberapa elemen yang selama ini seringkali dilupakan saat penyusunan strategi, yaitu profil murid, bukti dan asesmen. Tak jarang guru menyusun strategi tanpa menghiraukan apa minat murid, bagaimana cara belajar murid, dsb. Tak jarang juga, bukti dan asesmen baru dipikirkan setelah mendekati akhir semester, bukan sebelum memulai pembelajaran. Padahal ibarat kita mau ke suatu tempat, tentu kita menetapkan tujuan dahulu, dan telah menggambarkan indikator-indikator kita telah mencapai tujuan tersebut dengan tepat, sebelum menentukan cara kita berangkat ke tempat tersebut. Maka selain dari menemukan elemen-elemen yang seringkali terlupakan, terbahas juga tahapan merancang starteginya yaitu 1. Memetakan profil murid, 2. Menentukan tujuan, 3. Menentukan bukti dan asesmen, 4. Menentukan strategi, 5. Menentukan cakupan. Kegiatan berlanjut ke sesi 2. Pada sesi ini para peserta belajar mengenai beberapa hal, salah satunya mengenai story board. Hal ini berfungsi untuk memberi gambaran alur cerita sebelum membuat video, sehingga pembuatan video dapat menjadi lebih mudah. Pada sesi ini juga, Pak Aye memberikan rambu-rambu mengenai visual dan audio yang sebaiknya dipilih, agar tidak bertentangan dengan rambu-rambu yang telah ada di masyarakat. Sesi ini berakhir dengan memicu semangat peserta, hingga peserta masih berusaha mengumpulkan visual dan audio, padahal waktu peserta untuk belajar di kelas sudah habis. Pada hari kedua, para peserta dipandu oleh Arif dari KGB Bandung. Arif memulai sesi ini dengan memberi waktu tambahan pada para peserta untuk mengumpulkan visual dan audio. Pada sesi ketiga ini, suasana menjadi semakin seru karena para peserta mulai menggunakan aplikasi pembuat video kinemaster. Para peserta belajar cara mengedit video, cara mengedit gambar, cara mengedit audio, cara menambahkan teks, dsb. Suasana menjadi semakin ramai ketika para peserta belajar cara membuat gambar menjadi blur, seperti video yang memberitakan adanya tersangka atas sebuah tindakan kriminal. Menjadi sangat lucu karena gambar yang saat itu dibuat menjadi blur adalah gambar Pak Aye. Seakan-akan Pak Aye adalah seorang tersangka tindakan kriminal. “Hahaha”, begitulah suara tawa para peserta memenuhi seisi kelas. Suasana pun sangat ramai ketika kami menjadi mengerti bagaimana proses suara seperti chipmunk muncul, ketika kami jadi mengerti proses terciptanya efek slow motion, dsb. Begitu menariknya sesi 3 ini, hingga waktu coffee break pun dilewatkan oleh para peserta. Salah satu poin penting pada sesi ini adalah kami menjadi lebih sadar proses pembuatan video atau film yang biasa kami lihat. Sesi 3 berakhir, para peserta sudah menjadi lebih siap untuk membuat video, maka saatnya sesi 4 dimulai. Sesi ini adalah sesi yang paling dinanti-nanti oleh para peserta, karena pada sesi ini kami praktik membuat video. Pada sesi praktik ini, para narasumber pun bahkan sempat menjadi rebutan para peserta yang mengalami kendala-kendala. Setelah para narasumber tidak menjadi rebutan, saat inilah merupakan saat yang paling disenangi oleh Pak Aye, karena semua peserta tiba-tiba menjadi hening dan menjadi lebih fokus dengan smart phone masing-masing, saat inilah tanda bahwa semua peserta sudah mengerti dan menikmati apa yang dilakukannya.  Di akhir sesi kelas ini, para peserta mengumpulkan video yang telah dibuat. Video-video ini nantinya akan diberi feedback oleh para narasumber, agar para peserta dapat belajar lagi. Sesi 2 hari ini memberikan pengetahuan dan pengalaman pada para peserta, serta berbagai komentar. Pak Ambi berkata, “dari belum bisa, lalu kok bisa, dan akhirnya jadi bisa.” Apakah 2 hari ini cukup? Apakah para peserta telah menjadi kompeten? Belum, karenanya setelah 2 hari ini, para narasumber pun bersedia memberi pendampingan secara daring selama 1 bulan.  TPD kali ini menyisakan kesan positif dari para peserta dan memicu kegemaran belajar sepanjang hayat. Karena tak sedikit peserta yang terus belajar membuat video, meskipun kelas telah berakhir. Bagaimana dengan Anda, apakah Anda tertarik membuat video pembelajaran? Ataukah Anda sudah produktif membuatnya? Bila ya, apakah video pembelajaran yang Anda buat telah menjadi video pembelajaran yang bermakna?

Guru yang Merdeka Belajar, Guru Adaptif

“Bagaimanakah pendidik yang adaptif itu?”Pertanyaan yang diajukan guru Niam membuat peserta Nonton bareng video Guru Merdeka Belajar dari Najelaa Shihab di TPN 2016 terhenyak. Kemarin tepatnya pada hari Sabtu, tanggal 21 September 2019 telah dilaksanakan nonton bareng video guru Merdeka Belajar yang dipandu oleh saya sendiri, Mahendrayana. Kegiatan ini dilakukan di kediaman saya yang berlokasi di Jl. Pembangunan 2, Pekalongan. Penonton tampak serius menyaksikan menit demi menit video rekaman ibu Najelaa Shihab tersebut. Beberapa penonton nobar terlihat penasaran, ketika sesi diskusi, berbagai ide dan pandangan mulai dituangkan satu per satu oleh para peserta Nobar yang terdiri dari Guru Niam, Guru Madya, Guru Eki, Guru Li’lli, Guru Danny dan Guru Uzly. Ada beberapa pertanyaan yang langsung terbersit begitu mendengar definisi ini, terutama bagi kita yang jarang mempertanyakan tujuan, dan sekadar ikut saja dalam perjalanan. Komitmen seseorang yang Merdeka Belajar adalah ketekunannya dalam perjalanan menuju tujuan yang bermakna bagi diri sendiri. Banyak murid maupun guru yang masuk kelas tanpa tujuan dan kejelasan. Tak heran saat ditanya bagaimana kelas hari ini, atau apa yang dipelajari hari ini, jawaban langganan adalah biasa saja atau malah tidak tahu. Padahal, negara menganggarkan tak sedikit untuk pendidikan dari APBN, bahkan telah diatur di pasal 31 UUD 1945 bahwa sedikitnya 20% anggaran digunakan untuk sektor Pendidikan. Tujuan pendidikan yang mencerdaskan bangsa lewat jalan demokratis tak boleh menyia-nyiakan anggaran tersebut.  Sangat diperlukan proses belajar yang bermakna mensyaratkan kemerdekaan guru dan murid dalam menentukan tujuan dan cara belajar agar menciptakan proses pembelajaran yang sangat efektif. Murid merdeka menetapkan tujuan belajar bersama, memilih cara belajar yang efektif, dan terbuka melakukan refleksi bersama guru.  “Sebagian besar anak Indonesia mimpinya hanya sebatas tingginya tangan saat menjawab pertanyaan guru di kelas” begitu yang disampaikan Ibu Najelaa. Hal ini dibenarkan oleh pendapat Guru Niam yang menceritakan pengalamannya ketika menjadi kepala sekolah. “Sekarang, zaman sudah berubah, guru di sekolah saya harus menjadi guru merdeka belajar…” tuturnya.  Padahal seharusnya lewat pendidikan, anak-anak mampu memiliki aspirasi yang tinggi. Menurut video tersebut, kondisi ini hanya terjadi saat anak-anak memiliki kemerdekaan belajar. “Jadi, tak hanya gurunya saja yang merdeka, namun juga muridnya” begitu pendapat dari guru Eki.  Proses kemerdekaan belajar baik itu dari sisi murid maupun guru, adalah bukan sesuatu yang diberikan melainkan sesuatu yang diusahakan. Ada hal yang sangat esensial dalam kemerdekaan belajar yaitu Komitmen, Mandiri, dan Refleksi.  Komitmen artinya adalah tetap berpegang teguh pada tujuan. Tentu hal ini tak mudah. Pendidik sering terjebak pada tugas-tugas administratif, ketentuan birokratis, akreditasi, ujian, nilai, yang semua itu adalah cara atau teknis pelaksanaan, bukan tujuan. Cara dilakukan untuk mencapai tujuan dari pendidikan, akan tetapi prioritas seolah mengunggulkan cara lebih tinggi daripada tujuan. Kemandirian memiliki banyak tingkatan yang harus dilewati yaitu manipulasi, kesadaran, dialog, kemitraan, masukan, kendali, pemberdayaan. Sebagian dari pendidik tak mampu melewati tingkatan kemandirian karena terhalang bahkan sejak awal langkahnya. Masih banyak manipulasi dan kemandegan dialog serta kemitraan di lingkungan pendidikan.  Refleksi sering susah dilakukan sebab kita takut akan perubahan. Yang ada kita beralasan murid belum paham, orang tua menentang, dan lain sebagainya.  Diskusi makin serius ketika membahas permasalahan ruwetnya kemerdekaan belajar di sistem pendidikan di Indonesia. Ibu Najelaa memaparkan mengenai kompetensi yang beragam dan sering tak sesuai dengan siswa. Hal ini memicu guru Uzly untuk beropini tentang kasus yang pernah ditemui. Bagaimana ada seorang guru mengampu beberapa mata pelajaran yang sangat berbeda dikarenakan kurangnya tenaga pendidik.  Reformasi pendidikan butuh waktu, bahkan dalam video disebutkan “Lebih susah dibanding menerbangkan Apollo”. Hal ini menyangkut pemangku kepentingan, sumberdaya, dan keberhasilan itu sulit dilihat.  Hal yang sekarang perlu dilakukan oleh pendidik adalah melawan miskonsepsi tentang proses guru belajar. Banyak yang bilang guru itu mau belajar jika ada insentif dan sertifikat. Padahal seharusnya belajar adalah proses alamiah, yang akan terjadi terus menerus. Miskonsepsi selanjutnya adalah guru hanya mampu belajar dari ahli atau pakar. Guru yang Merdeka Belajar mampu belajar dengan sesama guru. Dan cara inilah yang paling efektif. “Guru tak perlu figur sempurna, guru itu perlu figur realitis, guru lain yang belajar dan mempraktekkan apa yang dia pelajari” papar Najelaa Shihab. Guru cukup belajar how to nya? Resepnya? Oh ternyata, guru belajar adalah guru yang paham konsep, belajar dengan tujuan dalam konteks. Guru yang profesional adalah guru yang adaptif, sebab kebutuhan setiap murid akan berbeda setiap harinya.  Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Ingin mengubah dunia pendidikan ke arah yang jauh lebih maju adalah impian saya sejak masih di bangku sekolah. Saya tergolong sangat awam di dunia pendidikan, profesi saya yang jauh dari inner circle pendidikan, bahkan beberapa rekan saya menyayangkan saya ketika mendaftar untuk menjadi anggota Komunitas Guru Belajar. Namun ketika mendengar ibu Najelaa bilang “Guru yang merdeka belajar adalah kunci pendidikan” rasanya ini sangat memacu untuk lebih banyak mencari tahu soal ini. Pada saat bicara guru merdeka belajar adalah kunci, maka ini bukan menyangkut individu melainkan ekosistem. Sebab tidak ada guru yang bisa belajar sendirian, perlu adanya jaring-jaring saling mengisi kompetensi antar guru.  “Bahwa kita dan apa yang kita lakukan adalah yang kita nanti-nantikan, jadi kita tak perlu menunggu siapapun untuk merdeka belajar” tutup Ibu Najelaa Shihab yang disambut tepuk tangan peserta nobar. “Sepakat untuk bersama-sama mewujudkan guru merdeka belajar” ucap Guru Niam sebagai refleksi atas video. “Siap melewati tingkatan menuju kemandirian” sambut guru Eki. Saya sebagai pemandu acara nobar ini senang sekali dengan antusiasme yang diperlihatkan teman-teman. Pada nobar Merdeka Belajar ini boleh jadi saya baru bisa mengajak 6 peserta, namun hal ini justru menguatkan semangat saya untuk mengajak lebih banyak lagi teman-teman agar konsep merdeka belajar ini semakin meluas efeknya. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar? Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 6Unduh GratisKlik:

Merdeka Belajar di Tengah Kepungan Asap

Siang itu (21/09/2019), setelah anak-anak kembali ke rumahnya masing-masing, Guru-gurunya menggantikan posisi mereka di tengah ruang kelas, mereka memenuhi ajakan saya untuk mengadakan temu pendidik daerah pertama, nonton bareng video Guru Merdeka Belajar.  Ini bukan Riau ataupun Kalimantan belakangan ini menjadi pusat perhatian kita semua karena kekelabuan keadaan yang menyandera mereka akibat aktivitas pembakaran hutan. Tempat ini adalah sebuah dusun kecil yang menjadi sebuah batas desa, Kampung Jawa namanya, sebuah daerah yang ditempuh Sembilan jam  dari Kota Terbesar ketiga di Indonesia yaitu Kota Medan. Bersentuhan dengan pendidik adalah rutinitas saya sehari-hari kini dan beberapa waktu ke depan. Namun di  tempat ini saya melihat ada kesenjangan antara semangat belajar dengan kesempatan yang hadir diantara mereka. Awal saya membersamai mereka, Salah seorang guru mengatakan  ini adalah penantian yang cukup panjang buat mereka. Selama ini kami ingin mengembangkan diri sebagai seorang guru, tetapi bingung mau ke mana dan ke siapa. Di mereka saya menemukan nyala kesadaran Merdeka Belajar telah hadir dan harus diperkuat, sehingga awal Temu Pendidik Daerah ini saya mengawalinya dari mereka.  Temu Pendidik Daerah pertama di Kabupaten Labuhanbatu menjadi langkah awal untuk mendekatkan kesempatan belajar ke guru-guru daerah, dimana seringkali perhatian untuk pengembangan guru hanya mendatangkan guru bukan mendatangi mereka. Seringnya juga pelatihan untuk pengembangan guru sering hanya untuk guru itu-itu saja, tidak ada ruang kesempatan ke guru-guru yang lain, sehingga sungguh perlu memang menghadirkan temu pendidik daerah ini mengakomodir keinginan-keinginan guru daerah yang turut ingin berkembang.  Temu Pendidik Daerah pertama yang kita laksanakan pada hari Sabtu, 21 September 2019 di MTs Uswatun Hasanah, Kampung Dalam Labuhanbatu. Sengaja Temu Pendidik Daerah ini dilaksanakan di sana karena wilayah tersebut adalah perkampungan yang cukup jauh dari Ibukota Kabupaten dan beberapa sekolah juga berdiri di sana.  Madrasah ini menjadi pemutus mata rantai persoalan anak-anak putus sekolah, didirikan dari sebuah kepedulian seorang Ibu yang melihat banyak anak-anak di sana yang tak melanjutkan sekolah karena ketiadaan sekolah dan jikalau ada sekolah tersebut sangat jauh dari pemukiman mereka.  Kegiatan Temu Pendidik Daerah ini dilaksanakan selama dua jam, tanpa aktivitas yang terlalu formal. Di buka dengan mengenalkan apa itu Kampus Guru Cikal, menyampaikan misi tentang kedepan kita harus optimis, pengembangan guru akan menjadi upaya terus-terusan, guru-guru bisa punya kesempatan belajar dan membahas persoalan-persoalan apa saja yang membuat guru sulit berkembang.  Peserta yang tengah hadir antusias melihat sambutan Bu Najelaa Shihab di dalam Video Guru Merdeka Belajar. Mereka mencatat poin-poin yang disampaikan Bu Elaa mengenai 3 Karakteristik Guru Merdeka Belajar diantaranya adalah Komitmen, Mandiri, Relflektif.  Dalam kesempatan itu lewat Miskonsepsi yang diutarakan oleh Bu Elaa kita melaksanakan refleksi mengenai keadaan hari ini. Di tengah kegiatan muncul pertanyaan, sudahkah kita semua menjadi Guru Merdeka Belajar? Berbagai jawaban baik muncul dari peserta dan saya yang berperan dalam memoderatori pertemuan tersebut sangat tersentuh dengan masing-masing jawaban peserta.  Salah seorang yang hadir adalah Pak Supriadi, Pak Supriadi merefleksikan diri sebagai merdeka belajar dengan mengutarakan betapa ia selama ini salah menilai bahwa belajar harus ke ahli, sehingga dalam benaknya begitu sulit untuk menemukan tempat belajar, begitu sulit baginya untuk menemukan sosok yang tepat untuk ditanyai, lewat pertemuan pendidik daerah ia membuka pemahamannya mengenai guru bisa belajar ke guru.  “Saya yakin Bapak/Ibu Guru yang hari ini akan merdeka belajar, akan menjadi tempat belajar saya kelak”, ujarnya. Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Salah seorang pendidik lain Ibu Kasni mengirimkan pesan optimis kedepan lewat Komunitas Guru Belajar dan kesempatan Temu Pendidik Daerah mendatang ia akan menemukan dirinya yang baru, dirinya akan terbekali hal-hal baik agar proses mengajar di kelas menjadi sesuatu hari baik untuk siswa/i nya.  “Kualitas saya kedepan semoga menjadi lebih baik untuk anak-anak murid saya, ini seperti menjawab penantian panjang yang mendera kami semua”, katanya.  Setelah refleksi, peserta diajak narasumber untuk menganalisis diri mereka sendiri sebagai seorang guru yang akan merdeka belajar, analisis ini dilaksanakan dengan SWOT, Menjawab segenap harapan yang muncul dalam kegiatan Temu Pendidik Daerah tersebut, mampukah kita semua menjawabnya? Besarkah kemungkinan untuk menghadirkan ruang-ruang belajar murah-mudah yang berkualitas untuk para pendidik-pendidik di daerah ini?  Ini menjadi satu pertanyaan yang mendasar dan tidak sekadar untuk bisa dijawab. Ke depan barangkali kesadaran untuk mendekatkan kesempatan belajar menjadi hal penting untuk kita himpun bersama, agar optimisme-optimisme guru-guru yang hadir pada temu pendidik daerah itu bisa kita sambut bersama.  Gagasan yang lahir adalah kita bisa berbagi dengan apa saja, tidak melulu dengan kompetensi yang kita miliki, tapi dengan hal-hal yang bisa kita fasilitasi. Saat ruang belajar guru sudah hadir barangkali kita bisa menitipkan semangat lewat berbagai titipan hal-hal yang akan mendukung dari ruang belajar tersebut.  Kita bisa memfasilitasi banyak hal, dari kebutuhan pembelajaran seperti ATK, kebutuhan Transportasi dan lain-lain. Kita juga bisa melakukan upaya berbeda lainnya. Mengutip kalimatnya Bu Elaa tidak cukup dengan hanya mengatakan jika guru adalah kunci pendidikan, karena kunci pendidikan justru ada pada Guru yang Merdeka Belajar. Mari kita dorong bersama. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar? Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 6Unduh GratisKlik:

Merdeka Belajar itu yang Seperti Apa?

Pertanyaan tentang “Apa itu Merdeka Belajar?”, kami bahas pada Rabu, 18 September 2019, melalui aktivitas temu pendidik yang tidak biasa dilakukan di sekolah kami. Bertempat di ruang kelas IA pukul 13.00-14.30 WIB, guru-guru SD Muhammadiyah 1 Muntilan, Magelang berkumpul untuk menonton bareng video Merdeka Belajar. Ini merupakan kegiatan yang tergolong baru di sekolah kami, karena sebelumnya belum pernah dilakukan. Pertemuan Kelompok Kerja Guru yang dilakukan secara rutin setiap bulan biasanya hanya sekadar membahas administrasi guru, agenda kegiatan sekolah dalam waktu sebulan ke depan, atau tentang laporan keuangan selama satu bulan.  Istilah tentang Guru Merdeka Belajar masih terasa asing di keseharian kami. Saya sendiri, Titik Nur Istiqomah, berperan sebagai moderator untuk membuka kegiatan nonton bareng ini. Bahkan ketika mau memulai kegiatan ini, ada peserta yang bertanya “Kita mau menonton bareng film apa? Lho, guru kok diajak nonton bareng?”  Saya lalu menjelaskan sebentar tentang video apa yang akan kami tonton di pertemuan hari itu. Sebelum pemutaran video, saya juga bertanya apa yang diketahui sebelumnya oleh peserta tentang Merdeka Belajar, hampir semuanya saling memandang satu sama lain, meminta bantuan pertimbangan dari yang lainnya untuk menjawab pertanyaan. Kemudian, pertanyaan saya ubah dengan meminta peserta mengungkapkan kira-kira apa arti Merdeka Belajar. Dari delapan peserta yang hadir, ada yang menjawab dengan kesempatan untuk belajar seluas-luasnya dan setinggi-tingginya. Ada yang menjawab belajar yang bebas dan tidak tertekan. Ada juga yang menjawab belajar tanpa terjajah oleh siapapun. Jawaban yang menarik. Dari jawaban-jawaban tersebut, pertanyaan menjadi merambah ke beberapa hal tentang siapa yang berhak mendapatkan kemerdekaan dalam belajar, bagaimana menjadi guru yang merdeka belajar, praktik merdeka belajar itu yang seperti apa. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, kami melanjutkan sesi selanjutnya, yaitu mengamati video merdeka belajar oleh Ibu Najelaa Shihab.  Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Usai 15 menit mengamati video merdeka belajar, sesi paling menarik selanjutnya adalah refleksi. Refleksi dibuka dengan mengutip kata-kata ibu Najelaa Shihab, “Yang kita inginkan adalah anak-anak yang punya aspirasi tinggi, yang punya cita-cita melampaui langit, melampaui batas ruang kelas, melampaui batas dunianya. Dan itu hanya akan terjadi pada saat anak-anak punya kemerdekaan dalam belajar. Tapi kemerdekaan belajar murid-murid hanya dapat terjadi pada saat kita sebagai pendidik juga memiliki kemerdekaan. Apakah ibu-ibu sudah merasa merdeka dalam belajar?” Semua peserta mengungkapkan secara jujur bahwa mereka baru tahu kali ini tentang ciri-ciri Guru Merdeka Belajar. Ciri guru yang Merdeka Belajar adalah memiliki komitmen, memiliki kemandirian, dan melakukan refleksi. Namun, semua juga sepakat bahwa ternyata selama ini, masih banyak miskonsepsi yang kami lakukan dalam belajar maupun dalam mengajar. Kami mengakui, ternyata selama ini, kami belum menjadi guru yang merdeka belajar.  Salah satu peserta, guru Tesa Erma Yussie mengungkapkan bahwa di antara semua miskonsepsi yang disebutkan dalam tayangan, yang paling menggambarkan dirinya adalah terjebak pada tugas-tugas administratif, ketentuan-ketentuan birokrasi, hingga ujian, akreditasi, seleksi, nilai, yang sebetulnya semuanya hanya cara, kemudian menjadi tujuan, dan menjadi prioritas utama. Bahkan lebih tinggi dari prioritas tujuan pendidikan nasional sendiri atau prioritas kita masing-masing, mengapa kita memilih menjadi pendidik.  Guru Umi Nur Hanifah mengamini bahwa banyak dari kita yang menolak untuk melihat cermin dan terkesan menyalahkan pihak lain. Kita bilang masyarakat belum paham, kita bilang anak-anak tidak mengerti, kita bilang orang tua akan menentang. Padahal itu sebenarnya alasan dari ketakutan diri kita sendiri untuk menuju perubahan. Banyak kompetensi guru yang sama sekali tidak berdampak pada siswa, kesempatan peran dan jenjang karir guru yag masih terbatas, dan kesempatan kolaborasi di antara guru yang belum berkembang utuh. Guru Wiwin Setiyana memberikan kesimpulan dari hasil tayangan video yang beliau pahami adalah bahwa ternyata guru belajar paling efektif sebetulnya dari sesama guru lain yang belajar, mempraktikkan apa yang dipelajari, dan yang belajar banyak dari kegagalan sebelum akhirnya berhasil. Guru Indah Sulistyaningsih lalu menambahkan, “Sejak kemarin saya bertanya-tanya, guru yang merdeka belajar itu yang seperti apa? Sekarang terjawab sudah. Ternyata saya belum merdeka, namun saya ingin belajar menjadi guru yang merdeka belajar.” Forum diskusi kami tutup dengan kesepakatan dan kesepahaman bahwa kami sebagai pendidik akan melawan miskonsepsi guru merdeka belajar bersama-sama. Bahwa guru belajar bukan karena ada insentif, bukan juga untuk mendapatkan sertifikat, namun guru belajar karena kebutuhan alamiah. Kami sepakat bahwa guru merdeka belajar tidak diburu target yang dipaksakan. Namun, menyadari bahwa belajar butuh waktu untuk memahami apakah inovasi itu sudah sesuai dengan kondisi siswa ataukah malah tidak bisa dipakai. Guru yang merdeka belajar adalah kunci. Sehingga kompetensi bukan bersifat individual, namun potensi individu yang didukung oleh ekosistem yang baik. Tidak ada guru yang kompeten sendirian, bisa merdeka belajar sendirian. Ketika sampai pada pertanyaan terakhir di akhir sesi dalam kegiatan nonton bareng Guru Merdeka Belajar ini tentang kata-kata apa yang terngiang-ngiang dalam video dan harapannya akan dipraktikkan selanjutnya secara bersama-sama, guru Hesti Tri Rahayu mengungkapkan beliau sangat setuju dengan kalimat ibu Najelaa Shihab tentang mimpi kita adalah untuk membalik piramida pendidikan di Indonesia, sehingga bisa adaptif dan ada umpan balik yang berjalan. Apa yang bisa dilakukan masyarakat untuk mendukung pemerintah, dan apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk meningkatkan cara, praktik-praktik baik yang sudah ada di masyarakat. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar? Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 6Unduh GratisKlik:

Merdeka Belajar, Mengingat Kembali Tujuan Pendidikan

Pendidikan dan Merdeka Belajar. Ketika menyebut terminologi ini. Maka kita perlu melihat kondisi belajar di lapangan. Di lapangan, sering kita mendengar guru yang bimbang antara mengejar materi dan menyelesaikan tuntutan kurikulum atau mendahulukan pemahaman siswa. Banyak siswa yang malu ketika mendapat nilai rendah saat ulangan, tapi biasa saja saat menyontek ketika ulangan. Banyak guru yang terfokus pada administrasi pendidikan, tapi lalai dengan tugasnya saat pembelajaran. Tujuan adalah panduan dalam melaksanakan berbagai hal, salah satunya pendidikan. Kaburnya tujuan akan menyebabkan kebingungan dalam melaksanakan proses pendidikan. Berawal dari keresahan tersebut, saya sangat berharap bisa mengumpulkan rekan guru di Kendari dan sekitarnya yang memiliki keresahan yang sama untuk berdiskusi bersama dan mencari solusi atas permasalahan yang ada. Akhirnya pada Minggu, 15 September 2019 terlaksanalah kegiatan Temu Pendidik Daerah di Laboratorium Bahasa Inggris MAN 1 Kendari dengan agenda Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar, sebagai awal dari sebuah ikhtiar untuk secara aktif turut serta meningkatkan kualitas pendidikan kita. Kegiatan yang dipublikasikan sekitar satu pekan sebelum kegiatan ini, berhasil menyatukan enam belas orang guru di Kendari dan sekitarnya yang secara sukarela hadir di kegiatan tersebut. Sebagai informasi, kegiatan Temu Pendidik Daerah ini baru pertama kali diadakan di  kota Kendari, sehingga banyak rekan guru yang belum mengenal satu sama lain. Karena itu, kegiatan dimulai dengan ice breaking perkenalan oleh para peserta. Selain bertujuan untuk menjalin keakraban, juga diharapkan dapat menyegarkan  pikiran rekan guru setelah satu minggu beraktivitas di sekolah. Peserta terlihat menikmati kegiatan ini karena mereka tidak hanya berkenalan, tapi juga bernyanyi dan berlari kecil berebut mencari rekan sekelompok berdasarkan instruksi yang diberikan. Agenda kedua dari kegiatan ini adalah perkenalan tentang Komunitas Guru Belajar. Saya, Ranti Widiastuti mewakili dua orang teman saya yang bersama‐sama menggagas kegiatan Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar di Kota Kendari. Pertanyaan pertama yang saya lontarkan kepada rekan guru yang hadir adalah “Apakah Bapak/Ibu sebelumnya sudah pernah mendengar tentang Komunitas Guru Belajar?” Semua guru yang hadir menjawab dengan jawaban senada, “belum pernah”. Perkenalan tentang Komunitas Guru Belajar ini sangat penting dilaksakan. Sebelum memasuki agenda inti untuk menyamakan persepsi dan menjelaskan kenapa kegiatan Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar ini perlu dilaksanakan dan apa manfaatnya bagi pendidikan?. Setelah menjelaskan informasi seputar Komunitas Guru belajar, saya berbagi pengalaman tentang alasan pribadi saya bergabung di Komunitas ini. Setidaknya ada tiga alasan utama yang mendorong saya untuk bergabung di Komunitas ini. Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Pertama, menjawab kebutuhan. Berdasarkan pengalaman beberapa tahun mengikuti kegiatan seminar, workshop maupun Komunitas pendidik lain, umumnya topik yang dibahas berfokus pada administrasi pendidikan, misalnya pengmbangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Sementara itu, sebagai pendidik saya juga membutuhkan komunitas untuk membahas masalah‐masalah praktis di dalam kelas seperti menenangkan siswa yang ribut dikelas, memfokuskan siswa saat pelajaran jam terakhir, membuat latihan terasa menyenangkan, dan berbagai masalah real yang terjadi di dalam kelas.  Kedua, berkelanjutan. Banyak workshop, seminar atau kegiatan pengembangan guru yang pertemuannya hanya sekali. Padahal, pembelajaran di kelas bersifat dinamis dimana setiap hari guru menemukan bisa saja menemukan masalah‐masalah baru yang tidak bisa diselesaikan sendiri. Karena itu, harus ada ruang untuk berbagi keresahan dan adanya guru lain yang berbagi praktik cerdas pengajaran yang secara nyata efektif menyelesaikan masalah yang mungkin baru saja dialami oleh guru lainnya. Karena itu, diperlukan adanya pertemuan dan diskusi berkala untuk dapat menjawab pertanyaan dan berbagi inovasi pembelajaran. Ketiga, lingkaran yang sevisi. Komunitas Guru Belajar memiliki jaringan di seluruh Indonesia dengan anggota para guru yang memiliki kesadaran bahwa guru masih harus belajar. Mereka juga sangat memahami bahwa guru yang memiliki kegemaran belajarlah yang dapat menularkan semangat belajar kepada siswanya. Dengan adanya lingkungan yang kondusif, guru‐guru akan saling mendukung satu sama lain dan ruang kolaborasi semakin terbuka lebar. Selanjutnya, dilaksanakan kegiatan inti dari ini yaitu Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar. Sempat mengalami masalah teknis karena suara tidak mau keluar saat laptop yang digunakan tersambung di proyektor, namun kegiatan nonton bareng ini tetap berlangsung khidmat dan penuh makna. Meskipun video berdurasi sekitar lima belas menit itu hanya ditonton melalui layar laptop, namun tidak mengurangi esensi dari konten yang disampaikan oleh Ibu Najelaa Shihab tersebut. Audio yang disambungkan dengan speaker itu tetap dapat menjangkau seluruh ruangan, karena itu pesan yang dibawa pun tetap tersampaikan.  Sesi refleksi dimulai setelah seluruh video tersebut rampung ditonton bersama. Banyak yang merasa terbuka pikirannya dengan materi yang disampaikan oleh Bu Elaa, sapaan akrab Ibu Najelaa Shihab. Ibu Ayu misalnya, ia mengungkapkan bahwa “Video ini sangat membuka mata. Wadah dimana saya bisa berbagi dan mengemukakan apa yang saya rasakan dan menemukan pendidik yang memiliki tujuan yang sama”. Senada dengan hal itu, Pak Basri seorang guru Madrasah Ibtidaiyah juga berkata “Sangat bagus. Video ini membuka pikiran saya bahwa guru harus punya tanggung jawab yang besar untuk siswa‐siswinya. Bukan sekedar menggugurkan kewajiban, tapi guru harus punya inovasi untuk kemajuan siswanya tidak hanya mengikuti format yang telah ditetapkan. Guru harus merdeka dalam belajar begitupun dengan siswa”. Pada sesi ini, banyak refleksi yang dilakukan oleh rekan guru yang hadir. Ibu Nining misalnya, ia bercerita bahwa ia baru sadar bahwa ternyata tujuannya mengajar selama ini adalah untuk mentransfer pengetahuan dari bidang ilmu yang diampunya. Ia lupa bahwa tujuan pendidikan bukan hanya untuk mengajarkan materi pelajaran, namun juga untuk mendidik peserta didik agar memiliki akhlak yang baik dan menyiapkan peserta didik dari segi karakter dan mental untuk memasuki kehidupan sesungguhnya setelah lulus dari bangku sekolah. Selain itu, Pak Basri pun menambahkan dengan mengaitkan pengalamannya di pendidikan selama ini dengan ciri‐ciri guru merdeka belajar yang ketiga, yakni refleksi. Ia menjelaskan bahwa dia dan rekan gurunya di sekolah banyak yang tidak melakukan refleksi usai pembelajaran. Seringkali, mereka hanya mengeluh dan menempatkan kesalahan pada peserta didik atau sistem pendidikan yang berjalan. Setelah menonton video ini, kami yang hadir di kegiatan ini menyadari bahwa ada miskonsepsi tujuan yang seringkali terjadi tapi tidak disadari. Nilai, penilaian, dan ujian yang seharusnya adalah cara untuk mendidik peserta didik, justru menjadi tujuan utama kita saat pembelajaran di dalam kelas. Masih banyak di antara kami yang sering mendahulukan hal tersebut dibandingkan bagaimana mendidik siswa untuk jujur dalam setiap ujian, untuk menghargai saat temannya sedang berbicara, untuk bangkit saat mereka gagal, untuk memiliki rasa … Read more

Murid Sulit diatur, Guru Jenuh Menegur, Apa solusinya?

Temu Pendidik Nusantara 2019 yang diselenggarakan tanggal 25-27 Oktober 2019 menyisakan sebuah tanya bagi guru. Lalu apa setelah ini? Salah satu hal yang bisa dilakukan yaitu berbagi praktik baik dengan rekan seperjuangan di dunia pendidikan. Tidak terkecuali bagi Bu Ika. Jauh-jauh datang dari Semarang dengan membawa semangat merdeka belajar, sepulang TPN 2019 dirinya menerapkan ilmu yang didapat untuk dipraktikkan di ruang kelas dan membagikan praktik baiknya dengan guru-guru lainnya di grup WA dalam diskusi daring Grup Intervensi dengan tema “Murid Sulit diatur, Guru Jenuh Menegur, Apa solusinya?” yang dilaksanakan pada hari Rabu, 27 November 2019. Bu Ika merupakan salah seorang guru BK yang mendapatkan beasiswa pelatihan dari Nusantarun dan Kampus Guru Cikal beberapa waktu lalu di Semarang dan berkesempatan mengikuti TPN 2019. Bu Ika bercerita bagaimana dirinya mengelola kelas. Sebagai Guru BK, saat itu Bu Ika merasa resah ketika menemukan banyak permasalahan di kelasnya. Mulai dari penataan posisi kursi dalam kelas yang amburadul, banyak meja kursi yang tidak terpakai di dalam ruangan kelas, banyak murid yang curhat kelasnya mulai tidak nyaman, dan juga adanya kesalahpahaman antar siswa sehingga membuat kelas menjadi sepi dan tidak saling menyapa satu dengan lainnya. Guru-guru mata pelajaran juga seringkali mengeluhkan bahwa murid sangat sulit diatur padahal guru sudah berkali-kali memberikan teguran. Berawal dari keresahan tersebut, bu Ika berinisiatif untuk meminta izin kepada kepala sekolah untuk mengisi jam pelajaran guru lain karena sebagai guru BK biasanya tidak diberikan jam pelajaran mengisi kelas. Selama bu Ika mengisi kelas , ia menerapkan ilmu yang didapatkan selama mengikuti kelas kompetensi di TPN terkait strategi pengelolaan kelas. Ada empat hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kelas diantaranya : penataan kelas, kesepakatan, kebiasaan, pengelompokan, komunikasi dan motivasi. Bagaimana bu Ika menerapkan strategi pengelolaan tersebut di kelasnya?   Bu Ika bercerita bahwa awalnya ia mulai dengan penataan kelas dengan mengubah letak tempat duduk yang biasanya hanya empat berderet memanjang menjadi letter U. Selain mengubah tempat duduk menjadi letter U, dirinya juga memajang papan kebaikan yang dipajang di dinding kelas, membuat mading class, mengadakan counseling class, membuat birthday chart, pojok literasi dan menggantungkan tulisan berisi cita-cita siswa di langit-langit kelas. Beberapa hari setelah penataan kelas tersebut, banyak rekan guru-guru mapel yang lain merespon baik dan merasakan manfaat dari penataan kelas yang lebih variatif. Murid jadi tidak jenuh di kelas dan guru bisa lebih menguasai kelas. “Bu Ika, sekarang anak-anak kelas X.IA makin antusias bu belajarnya. Biasanya anak-anak kalau nggak geger ngobrol dewe ya ngantuk. Sekarang jadi lebih fokus belajarnya. Maturnuwun nggih bu Ika ” ujar salah seorang guru yang mengajar kelas tersebut.  Setelah selesai penataan kelas, bu Ika mulai dengan strategi berikutnya yaitu komunikasi. Awalnya, terdapat murid yang merasa tidak nyaman ketika belajar karena teman yang duduk di depan bangku murid tersebut badannya lebih besar sehingga menyulitkan dalam memperhatikan pelajaran dan keduanya seringkali berselisih. Kemudian bu Ika mengajak murid-muridnya di kelas untuk bermain game. Murid diminta untuk menuliskan nama-nama mereka dan menempelnya di lantai. Kemudian murid diminta menyusun mulai dari nama yang terpanjang dan kemudian disusul dengan nama-nama yang lainnya. Dengan permainan tersebut, murid yang berselisih paham tersebut bisa saling kolaborasi, terjalin komunikasi, dan bisa saling memaafkan satu dengan lainnya. Di akhir diskusi, bu Ika bercerita bagaimana dirinya membangun kesepakatan kelas. Setiap membuat kesepakatan kelas dirinya selalu melibatkan murid. Dengan melibatkan murid, murid merasa dirinya dihargai dan guru menjadi lebih mudah dalam melakukan pendekatan dan memberi masukan jika murid melakukan hal yang kurang  baik.