Apa Pentingnya Merdeka Belajar?

Apa sih Komunitas Guru Belajar itu?Pada minggu siang, 4 Agustus 2019 Sekitar 30 Pendidik dari Solo Raya berkumpul dalam rangka Temu Pendidik Daerah, Acara ini diselenggarakan oleh Komunitas Guru Belajar Soloraya dengan mengadakan nonton bareng atau nobar video guru merdeka belajar oleh Najelaa Shihab salah satu pendiri Kampus Guru Cikal dan Inisiator Komunitas Guru Belajar di Kecamatan Pasar Kliwon. Acara ini dihadiri para guru, pegiat pendidikan dan akademisi yang dimoderatori oleh Joko Utomo Seberapa Pentingnya Merdeka Belajar? Sebelum acara dimulai, moderator membuka acara dengan menjelaskan tentang profil apa itu komunitas guru belajar dan apa pentingnya merdeka belajar. Beliau menjelaskan bahwa Komunitas guru belajar  merupakan salah satu komunitas yang bertujuan untuk mewadahi para guru dalam belajar bersama – sama. Selama beberapa dekade ini mengenai kompetensi guru dipandang masih kurang visioner disebabkan faktor guru sendiri yang belum bersemangat dalam belajar untuk meningkatkan kualitas dirinya dan guru juga masih berstigma bahwa yang perlu belajar adalah siswanya serta guru masih belajar hanya kepada pakar pendidikan saja. Bahwa sebenarnya guru tidak hanya belajar kepada pakar pendidikan saja akan tetapi bisa belajar dengan sesama rekan guru yang lainnya. Mengenal Komunitas Guru Belajar Misi Komunitas Guru Belajar dalam berbagi praktik cerdas pengajaran dan pendidikan diwujudkan melalui: Temu Pendidik Mingguan melalui aplikasi TelegramTemu Pendidik Daerah baik daring maupun tatap muka.Temu Pendidik Nusantara yang dilaksanakan sekitar bulan Oktober setiap tahun. Komunitas Guru Belajar bertujuan untuk Menegakkan KEMERDEKAAN belajar: membangun guru berkomitmen pada tujuan belajar, mandiri belajar, merefleksikan proses & capaian belajar Mengembangkan KOMPETENSI: mendukung guru mengembangkan potensi diri melalui beragam cara, secara bertahap dan berjenjang Memperluas KOLABORASI: mendukung guru untuk saling berkolaborasi, mengenalkan dengan berbagai kerjasama untuk menerapkan kompetensinya  Mengembangkan KARIER: mendukung guru memilih dan mengembangkan pilihan karier protean Adapun manfaat dari bergabung di dalam Komunitas Guru Belajar adalah; pertama, Mendapatkan kesempatan saling berbagi berbagi praktik pengajaran dan pendidikan yang mutakhir dan terbukti di ruang kelas, Kedua Mendapatkan kesempatan pengembangan kompetensi melalui berbagai macam bentuk kegiatan kanal komunikasi, Ketiga Mendapatkan kesempatan berkolaborasi dengan rekan guru dan komunikasi dari berbagai daerah dengan latar belakang beragam, Keempat Mendapatkan kesempatan mengembangkan karier potensi dengan beragam pilihan peran dan kontribusi. Dan uniknya komunitas ini terbentuk dari para guru yang tergerak hatinya yang peka terhadap  tentang akan pentingnya belajar tentang pentingnya guru untuk menambah skill, ilmu dan lain sebagainya. Kampus Guru Cikal sebagai inisiator memberi dukungan berupa menyediakan fasilitator yang memandu proses pengembangan komunitas, pemandu yang mengelola dan menerbitkan pengetahuan, serta pelatih yang memberikan pelatihan yang dibutuhkan Komunitas Guru Belajar. Kolaborasi Komunitas Guru Belajar dan Kampus Guru Cikal menawarkan jalan lain dalam pengembangan guru untuk perubahan pendidikan Indonesia, jalan yang lebih penuh harapan.  Nonton Bareng Video Guru Merdeka Belajar Sesi berikutnya adalah sesi pemutaran video merdeka belajar. Peserta langsung memfokuskan pandangan ke proyektor layar. Tampak dalam video itu Najelaa Shihab mengenai apa dan mengapa “Merdeka Belajar”. Pada saat kita berbicara merdeka belajar, ibu dan bapak. Saya tuh selalu terbayang anak-anak. Sebagian besar anak Indonesia itu dunianya hanya sebatas ruang kelas, mimpinya hanya terbatas tingginya tangan untuk menjawab gurunya”. Kata bu Najelaa Shihab.  Dalam paparan video itu, terdapat lima miskonsepsi guru belajar disampaikan najelaa, diantaranya guru hanya dapat belajar dari para ahli, guru hanya mau belajar jika ada insentif, sertifikat,dll, dan belajar itu soal kompetisi, bukan kolaborasi. “Permasalahan pendidikan memang sangat kompleks. Untuk mereformasinya pasti butuh waktu dan kesempatan dari berbagai kepentingan”lanjut Najelaa. Refleksi Belajar Para Guru Akhirnya sampai pada menit terakhir, setelah nobar. Para peserta merefleksikan bersama-sama  dengan membagikan kertas kecil kepada para peserta. Dari refleksi peserta, didapati banyak didapati seputar konsep pendidikan dan pentingnya merdeka belajar sendiri.  Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Lanjut sesi selanjutnya bersama mas catur ayudiono tentang music toys composer. Sebelum acara workshop. Beliau memaparkan tentang materi tentang musik toys. Belia memaparkan bahwa Music yang dikomposisikan sendiri berasal memanfaatkan barang –barang mainan anak yang dikombinasikan dengan mengedit edit setiap bunyi mainan yang dimainkan.  Membuat Musik dengan Mainan “Untuk membuat composer musik dari mainan anak-anak itu sendiri bahan peralatan yang diperlukan yaitu mainan anak, recorder bisa melalui recorder handphone maupun lainnya, kamera handphone, laptop (aplikasi edit foto video  di laptop)” ucap catur Penjelasan  materi dari mas catur ayudiono, peserta tampak antusias melihat menyaksikan video yang ditayangkan mas catur di layar. Peserta begitu antusias bertanya kepada pembicara mengenai, “Hal apa saja yang pertama harus dilakukan dalam composer music dari mainan anak-anak? Bagaimana cara mengkolaborasikan setiap bunyi pada mainan anak-anak”.  Setelah acara materi, pembicara mengajak para peserta membuat  bersama music toys composer dengan memainkan music mainan anak-anak bersama selepas itu  dilanjut foto bersama para peserta. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar? Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 6Unduh GratisKlik:

Guru Penggerak, Mencari Alternatif Cara untuk Temu Pendidik

Bisa mengadakan Temu Pendidik di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pesisir Selatan adalah satu hal yang sudah saya impikan bersama teman-teman sejak lama. Tapi entah mengapa setiap akan melaksanakan niat tersebut ada saja kendala seperti kejadian dua bulan lalu ketika itu kami akan melaksanakan TPD ke 9 undangan telah disebar, informasi sudah ramai di grup dan di beberapa medsos teman-teman tetapi tidak disangka mendapat kabar bahwa Aula akan dipakai untuk kegiatan lain, padahal ketika itu H-1 sebelum acara, kami kelabakan mencari tempat untung ada seorang teman yang menyelamatkan. Dua bulan kemudian tepatnya TPD ke 10 kami kembali mengupayakan untuk mengadakan acara di Kantor Dinas Pendidikan. Atas saran Ibu Muldifia Rajab saya datang menemui  Pak Kabid GTK dan mengutarakan keinginan saya untuk menggunakan Aula Dinas untuk acara pertemuan TPD. Alhamdulillah keinginan tersebut disambut baik oleh Dinas Pendidikan. Ada lima orang narasumber yang rencananya akan tampil di acara itu. Tapi malang kembali menghampiri kami, tidak satu pun narasumber yang bisa hadir di acara tersebut disebabkan berbagai urusan penting yang tidak bisa ditinggalkan. Banyak yang mengusulkan supaya acara dimundurkan dengan pertimbangan siapa yang akan menghadiri karena banyak teman-teman yang aktif di KGB tidak bisa datang tapi saya berpikir ini tidak mungkin dilakukan, sulit sekali mendapat kesempatan ini dan meski sendiri acara harus dilanjutkan apapun yang terjadi, saya minta ibu Salmiati untuk melanjutkan membuat poster. Kabar baik datang dari Bu Wiwik Maladerita bahwa kepsek beliau akan mengirim seluruh guru di sekolahnya, dan beliau juga sudah berkoordinasi dengan Korwil Dikcam serta berniat mengikuti acara ini, kabar baik kedua datang dari ibu Muldifia Rajab beliau bersama teman-teman Kepsek di MKKS sepakat mengirim guru-gurunya pada kegiatan tersebut, dengan semangat beliau bolak balik ke kantor dinas pendidikan untuk mengkonfirmasi acara ini dengan Kabid Kasi dan Pengawas. Di tengah kegembiraan itu rasa kecewa kembali kami rasakan Kabid GTK yang rencananya akan mendampingi sekaligus membuka acara tidak bisa hadir karena beliau ke Jakarta bersama Bapak Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Disela-sela kejadian tersebut saya tetap berharap terjadi keajaiban. Tiba-tiba Bu Muldifia Rajab menelpon saya bahwa beliau diperintahkan menghadap Bapak Sekretaris Dinas Pendidikan Bapak Suhendri, M.Pd. walau sedikit was-was apakah gerangan kami dipanggil? Tapi menurut saya ini adalah kesempatan baik untuk meminta beliau membuka acara. Ternyata apa yang kami takutkan benar-benar tidak  terjadi beliau sangat mendukung acara ini dan beliau sendiri yang mengatakan akan membuka acara ini. Tepat pukul dua acara di mulai ada 100 orang peserta yang hadir tidak hanya guru ada kepala Sekolah beberapa pengawas juga hadir disini ini ini benar-benar diluar dugaan, dan yang membuat saya terharu ada sekolah yang menyumbang air mineral untuk kegiatan ini. Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ketika memberikan sambutan saya menyampaikan gambaran tentang KGB dan menyampaikan Kompetensi apa yang telah saya dapatkan bersama teman-teman selama bergabung dengan KGB serta bagaimana Menjadi Guru Merdeka Belajar, belajar tanpa harus diperintah atasan, belajar tanpa mengharapkan iming-iming sertifikat dan transportasi, bagaimana kita bisa belajar bersama guru-guru tidak melulu harus dengan ahli, karena guru adalah orang yang paling tahu dengan kondisi di kelasnya, bahwa guru tidak harus mengetahui How To saja tapi guru perlu memahami Why dengan begitu guru akan menemukan inovasi dan beragam cara menyelesaikan persoalan-persoalan di kelas, menjelaskan bahwa guru tidak bisa belajar secara instan guru perlu mencoba setelah gagal kemudian mencoba lagi sampai kemudian berhasil, bahwa guru tidak bisa kompeten sendiri guru butuh teman, teman berbagi dan saling berkolaborasi. Dilanjutkan dengan sambutan Bapak Sekretaris Suhendri, M.Pd di awal pembicaraan beliau mengatakan coba kalau saya tahu lebih awal tentang acara ini pasti akan saya memfasilitasi dan akan memberikan snack untuk acara ini dalam hati saya bergumam ini pertanda baik. Selanjutnya  beliau mengatakan guru harus terus berinovasi kalau tidak mau ditinggalkan peserta didik, kalau guru tetap bertahan dengan gaya mengajar masa lalu maka bersiap siaplah untuk ditinggalkan peserta didik. Teknologi semakin canggih mudah sekali bagi peserta didik mendapatkan informasi- dengan teknologi untuk itu guru harus terus menerus mengupdate ilmu, guru juga perlu mengupdate cara mengajar karena cara mengajar murid hari ini tidak sama lagi dengan mengajar tahun lalu. Acara dilanjutkan dengan penyampaian materi tentang “Mengasah Kemampuan Literasi dengan Lingkaran membaca” pada tahap awal saya ajak guru-guru menuliskan di kertas sticky note tentang pemahaman awal mereka tentang literasi.  Ada peristiwa yang membuat saya harus berpikir cepat karena peserta yang hadir di luar ekspektasi saya, kegiatan membentuk kelompok yang semula saya rencanakan menggunakan gulungan kertas yang berisi perintah melakukan gerakan olahraga tidak bisa terlaksana karena menurut saya tidak efektif dengan anggota yang begitu banyak. Akhirnya saya minta lima belas orang ke depan menjadi sampel bagi teman-teman guru lain. membentuk 3 kelompok, masing-masing beranggotakan 5 orang. Kemudian saya membagi peran masing-masing menjadi lima peran. Ada kejadian lucu seorang guru membuat kami semua tertawa kebetulan beliau mendapatkan peran sebagai super seniman ketika diminta untuk memperlihatkan gambar yang beliau buat beliau malah menari menggambarkan apa yang ada di dalam buku. Terakhir saya mengajukan pertanyaan penutup apa yang akan dilakukan setelah ini bersama KGB dan menanyakan perubahan apa yang akan dilakukan di kelas. Teman-teman berharap bisa belajar lagi di lain waktu.  Alhamdulillah semua berakhir dengan baik kelas di tutup dengan foto bersama mudah-mudahan kegiatan hari ini memberi kesan yang mendalam terhadap peserta. Semoga kegiatan ini bisa merubah pola pikir guru bahwa belajar bisa dibuat menyenangkan dan lebih bermakna sehingga siapapun menjadi candu untuk belajar maka tidak perlu lagi berpikir menunggu perintah dulu baru belajar.

Merdeka Belajar, Bolehkah Mengajar, Jika Tidak Mau Belajar?

Siang itu, Selasa (28/5) matahari Semarang begitu terik namun tidak menjadi penghalang bagi peserta yang terdiri dari para guru yang mengajar di SMPN 10 Semarang dan para anggota KGB Semarang untuk menghadiri acara “Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar”. Istimewanya lagi, ada peserta yang datang jauh-jauh dari Jepara dan Demak khusus untuk mengikuti acara ini.  Acara ini dibuka langsung oleh Kepala SMPN 10 Semarang Bapak Erwan Rachmat. Dalam pembukaannya Pak Erwan Rachmat, menyampaikan pesan bahwa sebagai seorang pendidik sudah seharusnya kita belajar, kalau tidak mau belajar jangan coba-coba menjadi pendidik yang mengajar. Pak Erwan yang sering mengisi kegiatan pelatihan pada guru-guru pun menjelaskan bahwa saat ini anak-anak lebih cerdas dibandingkan gurunya. Oleh karena itu, guru harus terus meningkatkan kapasitas pengetahuannya.  Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar Acara nonton bareng kai ini dipandu oleh bu Anik Puspowati. Para peserta dengan antusias menyimak video yang dipaparkan oleh Bu Najelaa Shihab tentang merdeka belajar. Tujuan dari Guru Merdeka Belajar adalah sebuah tantangan untuk melawan miskonsepsi yang sering disematkan kepada guru bahwa guru hanya mau belajar jika mendapat insentif baik dalam bentuk uang ataupun sertifikat.  Selain itu, terdapat miskonsepsi bahwa guru hanya bisa belajar dari para ahli atau pakar. Selesai menonton, bu Anik memberikan pertanyaan reflektif seputar merdeka belajar. Seperti pemahaman tentang merdeka belajar, penerapan merdeka belajar termasuk saat mengajar, dan bagaimana cara agar merdeka belajar ini terus diterapkan. Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Peserta saling berdiskusi. Hasil diskusi tersebut mematahkan miskonsepsi-miskonsepsi belajar guru yang selama ini diyakini. Seperti yang disampaikan bu Ida Guru BK bahwa beliau dapat belajar hal baru yang sebelumnya ia tidak bisa dari anak-anak. Apalagi anak-anak mempunyai pergaulan yang luas sehingga ia bisa tau beragam komunitas dari anak-anak. Dalam menerapkan merdeka belajar perlu adanya komitmen, kemandirian, dan refleksi. Tentunya hal ini harus diupayakan semua pihak dengan menyebarkan virus merdeka belajar. Merdeka belajar tentunya memiliki tantangan namun bukan berarti tidak bisa bukan? Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar? Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 6Berisi praktik para Guru yang mengajar dengan menerapkan merdeka belajarUnduh GratisKlik:

Pemanfaatan Permainan Papan untuk Proses Belajar yang Bermakna

Bagaimana aktivitas belajar dengan bermain, yang bermakna itu? Kami dari Komunitas Guru Belajar Jeneponto hadir di Kecamatan Tarowang, Sabtu, 11 Januari 2020 dengan agenda pelatihan “Aktivitas Belajar Bermakna dengan Permainan Papan Jelajah Nusantara” yang merupakan rangkaian Program Playground of Ujung Pandang dari Sekolah Cikal & Kampus Guru Cikal, dalam pelatihan ini juka dilaksanakan pemberian permainan papan dari Cikal kepada guru-guru yang hadir. Pelatihan ini dibuka langsung oleh Korwil Kecamatan Tarowang Bapak Taufik,S.Sos,MM, dalam sambutannya beliau menyampaikan mengenai 4 kebijakan baru Mas Menteri dan kaitannya dengan Guru Merdeka Belajar. Belajar sambil bermain bukan hal yang baru dalam pembelajaran. salah satu permainan yang biasa dilakukan itu adalah permainan Monopoli, ular tangga, dan halma adalah permainan papan yang sudah dikenal sejak masih SD. Bahkan permainan Monopoli, ular tangga dan halma permainan yang telah ada sejak awal abad ke-20 ini sangat populer di Indonesia dan booming tahun 1970-1980-an. Permainan ini biasanya dilakukan hanya untuk mengisi waktu luang dan sekedar untuk bersenang-senang saja dan tidak bermakna padahal media permainan papan sebenarnya punya potensi untuk membangkitkan daya literasi. Untuk itu Komunitas Guru Belajar melalui Kampus Guru Cikal mengembangkan Permainan Papan sebagai media pembelajaran agar belajar bermakna dan salah satunya melalui aktivitas belajar bermakna dengan Permainan Papan Jelajah Nusantara. Pelatihan ini dimulai dengan arahan moderator Bu Ninik Anggraeni sambil melakukan sesi perkenalan dengan membuat kalimat berirama. Sesi berikutnya moderator mempersilakan pelatih Hadrawi yang biasa disapa Pak Awi untuk memulai kegiatan dengan dinamika kelompok untuk membagi peserta kedalam beberapa kelompok berdasarkan kecerahan warna pakaian. Kelompok yang sudah terbentuk kemudian dibimbing untuk membagi tugas dalam setiap kelompok. Sesi potret belajar S-I-P dimulai dengan Apa yang sudah anda ketahui tentang belajar dan Apa yang ingin anda ketahui tentang belajar dengan bermakna dan tiap kelompok mempresentasikan S dan I. Peserta kemudian diberi kesempatan untuk memaparkan, Pak Suaib menyampaikan “Saya masih membutuhkan bimbingan mengajar yang bermakna, masih merasakan bingung mengenai belajar dengan bermain yang bermakna.” Peserta lain, Pak Mansyur bertanya “Bagaimana guru mengajar sambil bermain yang bermakna, Bagaimana cara saya membuat inovasi belajar sambil bermain dengan bermakna” Sesi dilanjutkan dengan diskusi desain pengajaran dengan puzzle desain pengajaran dan tiap kelompok mempresentasikan desain pengajaran yang sudah dirancang dalam tiap kelompok. Berlanjut dengan penggunaan Permainan Papan Jelajah Nusantara dalam permainan ini kami bagi dalam 2 sesi bermain, sesi pertama juru bicara dalam kelompok ditugaskan untuk membaca petunjuk permainan selama  5 menit selanjutnya juru bicara memberikan arahan permainan dalam kelompoknya berdasar petunjuk permainan. Pada sesi pertama para pemain masih terlihat kebingungan bagaimana memainkan papan permainannya ada yang membagi rata kartu, ada yang menghambur kartu diatas meja permainan dan berbagai keseruan lainnya. sesi pertama diakhiri dengan meminta peserta menyampaikan problem yang dihadapi pada saat bermain dengan papan permainan dengan memberikan tanggapan terhadap pemandu pertama. Ibu Kasma pada sesi pertama menyampaikan tentang kurangnya penyampaian dari juru bicara, kurang membaca petunjuk, sedangkan Ibu Pariah menyampaikan kalau pemandu dalam membaca petunjuk tidak sesuai urutan petunjuk permainan. Pak Irpan Jaya menyatakan masih bermasalah dari juru bicara yang tidak tuntas dalam memberikan petunjuk bermain. Sesi bermain kedua dimulai dengan meminta tiap kelompok  untuk berbagi tugas dengan juru bicara yang baru dengan bimbingan pelatih Pak Awi dan Pak Syam permainan dimulai berdasar petunjuk permainan yang ada pemandu kedua membaca buku petunjuk sesuai urutan petunjuk permainan sehingga permainan lebih terarah dan pemain dengan mudah paham melakukan permainan. Usai permainan peserta melakukan refleksi, salah satunya dari Pak Mansyur yang menyatakan bahwa permainan ini menumbuhkan banyak nilai karakter dan sangat bermakna ketika dilakukan dalam pengajaran di kelas untuk menumbuhkan karakter murid. Unduh Permainan Papan Jelajah Nusantaraklik tombol di bawah ini

Manajemen Konflik di Kelas Berbasis Sekolah

Ari WibowoSeperti apa kata kutipan pengantar pada poster materi malam ini yaitu bagaimana mengelola konflik yang terjadi di sekolah yang saya yakin Bapak dan Ibu temui setiap hari di kelas. Dalam kesempatan malam ini, saya ingin berbagi praktik apa yang kami lakukan dalam mengelola konflik dan bagaimana keterampilan mengelola konflik bisa diterapkan pada guru dan murid. Dalam penyelesaian konflik, Sekolah Cikal menerapkan peraturan yang jelas dan tegas terhadap jenis-jenis konflik yang terjadi di sekolah dari jenis minor dan major tertulis jelas di School Parent and Students Handbook. Saya akan berbagi cerita tentang alur penanganan konflik yang kami lakukan di Sekolah Cikal. Untuk tema Conflict resolution sendiri diajarkan di kelas 2. Silahkan membaca materi berikut. Apa itu Konflik?Sebagai manusia, kita sering berdebat dengan orang lain ketika kita marah atau kesal tentang sesuatu. Terkadang ketika kita berniat menyelesaikan konflik dengan tenang dan mudah, pertengkaran itu menjadi panas dan kita tidak bisa mengendalikan diri kita sehingga menjadi defensif, menyerang, dan mengatakan hal-hal yang menyakitkan. Menyelesaikan konflik kadang sulit bagi kita sebagai orang dewasa, apalagi untuk anak-anak yang masih belajar mengendalikan diri dan mengekspresikan perasaan dengan kata-kata alih-alih tindakan. Mayer dalam bukunya The Dynamic of Conflict (2012) menyatakan bahwa sebagai serangkaian persepsi, konflik adalah keyakinan atau pemahaman bahwa kebutuhan, minat, keinginan, atau nilai seseorang sendiri tidak sesuai dengan orang lain. Konflik juga melibatkan reaksi emosional terhadap suatu situasi atau interaksi yang menandakan ketidaksepakatan. Konflik juga terdiri dari tindakan yang kita ambil untuk mengekspresikan perasaan kita, mengartikulasikan persepsi kita, dan memenuhi kebutuhan kita dengan cara yang berpotensi mengganggu kemampuan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Apakah anak-anak sudah mampu menyelesaikan konflik sendiri?Konflik adalah bagian normal dari pengalaman sehari-hari, tetapi menyelesaikan konflik dengan sukses membutuhkan keterampilan sosial yang tepat. Kami sebagai guru di Cikal terkadang berpikir anak-anak dapat menyelesaikan masalahnya sendiri, tetapi kami sering lupa bahwa seringkali anak-anak tidak tahu bagaimana cara berkompromi dan mengenali kebutuhan orang lain. Karena keterampilan penyelesaian konflik tergantung pada keterampilan sosial dan bahasa anak-anak serta persepsi mereka tentang situasi, mereka masih perlu dilatih tentang cara melakukannya. Mengapa perlu Mengakhiri Konflik?Beberapa tujuan utama mengapa kita perlu “mengakhiri konflik” adalah: Untuk menghasilkan solusi yang disetujui semua pihak Untuk bekerja secara efisien dan secepat mungkin untuk menemukan solusi Untuk memperbaiki hubungan antar kelompok dalam konflik Peran Guru dalam Membantu anak-anak menghadapi konflikDi Sekolah Cikal, kami percaya bahwa anak-anak harus dapat menyelesaikan konflik mereka secara mandiri. Itu tidak berarti bahwa yang lain tidak bisa memberikan tangan mereka untuk menyelesaikan konflik. Karena, pemecahan masalah dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan kontrol emosi siswa. Selain itu, penyelesaian masalah adalah representasi Dimensi Lima Bintang Cikal (seperti integritas, kepedulian, komunikasi, pikiran terbuka, dll). Jika konflik tetap ada, orang tua, guru, dan bahkan siswa lain juga dapat membantu sebagai mediator. Langkah-langkah dalam membantu anak-anak menghadapi konflik 1. Mendengarkan dan Menafsirkan.Anak-anak menceritakan kisah mereka kepada mediator secara bergantian. Akan lebih baik bagi orang tua / dewasa untuk hanya mendengarkan tanpa menyela. Orang tua sebagai mediator perlu fokus pada masalah, bukan siapa yang melakukan kesalahan. 2. Kedua belah pihak berganti posisiAnak-anak mengulangi cerita dari pihak lain sehingga mereka dapat memahami masalah dari sudut pandang yang berbeda. Kedua belah pihak perlu melakukan prosedur ini, bahkan jika mereka tidak setuju. 3. Diskusikan dengan kedua belah pihak jika mereka punya solusiUntuk mendiskusikan dan menemukan solusi, tanpa menilai. Semua saran disambut. 4. Buat perjanjian verbalMemastikan tidak ada pihak yang merasa dipaksa atau tertekan untuk mengambil keputusan. 5. Buat perjanjian tertulisMenyatakan bahwa kedua belah pihak sepakat dan mengerti. Anak-anak menggunakan kata-kata mereka sendiri. METODE I-MESSAGE What is I-Message ?Statements about feelings, beliefs, and values that begin with the word “I”For example : “I don’t like being pushed because it hurts” Jika diterjemahkan seperti ini : Apa itu Pesan-Saya?Pernyataan tentang perasaan, kepercayaan, dan nilai-nilai yang dimulai dengan kata “I”Misalnya: “Saya tidak suka didorong karena sakit” Di dalam I-MESSAGE ada 4 bagian: I FEEL —- WHEN YOU — I WANT —BECAUSE Contoh lagi ya:“I feel hurt, when you said that I’m a looser. I want you to say nice thing to me, because I want to be your friend.”Metode ini bisa dilakukan dan sangat efektif khususnya bagi murid yang sulit mengungkapkan dengan kata-kata. Mari berlatih: Berlatih menggunakan contoh studi Kasus-I: Berebut mainan: Pesan-Saya: “Saya sedih ketika kamu mengambil alih mainan saya. Saya ingin kita bergiliran, ok. ”Seorang gadis mendatangi gurunya dan menjelaskan bahwa ia tidak diizinkan bergabung dalam kelompok permainanPesan-Saya: “Saya kesal ketika kamu menolak saya untuk bergabung dengan grup. Saya ingin kamu menerima saya di grup seperti yang lain ”. Guru BK kewalahan dalam menyelesaikan konflik. Tolong! Sejak tahun 2009, kami memiliki program yang bernama PEER MEDIATOR. Mengutip dari info Kontak Cikal : Peer Mediator ProgramAs part of our anti bullying program and to equipped students with conflict resolution skills, Sekolah Cikal has developed a Peer mediator program since 2009. Peer mediation is both a program and a process where students of the same age-group facilitate resolving disputes between two people or small groups. Program ini dikelola oleh Konselor Sekolah bekerjasama dengan Guru-Guru kelas dengan alur sbb; Recruitment : 1 mingguInterview     : 1 mingguTraining       : 1 minggu Sekolah mengeluarkan surat partisipasi (Surat rekomendasi) bagi siswa/i yang berminat Jadi bagi siswa/i yang terpilih sebagai PEER MEDIATOR akan mendapat penugasan di jam-jam tertentu untuk membantu guru-guru menyelesaikan konflik yang terjadi di sekolah. Nah, seperti itu alurnya Bapak dan Ibu jika ada praktik lainnya dalam penyelesaian konflik di sekolah monggo lho bisa dishare juga. Terima kasih Pesan: Jika konflik terjadi di selama jam sekolah dan belum menemukan jalan keluar permasalahannya, Guru wajib menginformasikan hal ini kepada orang tua yang berkonflik yakinkan kepada mereka bahwa proses mediasi sedang berlangsung dan akan secepatnya diinformasikan kepada orangtua melalui email, whatsapp atau media lain. AhyuniOke saya kasih waktu 10 menit untuk membaca dan memahami materi ya bapak ibu sambil menyiapkan pertanyaannya juga Ahyuni Sesuai panduan ada 2 termin ya, termin pertama saya buka, boleh tanya boleh sharing pengalaman boleh lain-lainnya juga. SESI TANYA JAWAB SilviaDi kelas yang saya ajar, dulu masih biasa-biasa saja. Baru kali ini mengalami hal yang menurut … Read more

Pelatihan Guru Merdeka Belajar – Sudahkah Kita Merdeka Belajar?

KGB Makassar mengadakan kegiatan Pelatihan Guru Merdeka belajar pada Sabtu, 14 September 2019. Pelatihan kali ini dilaksanakan dengan berkolaborasi dengan Yayasan Pendidikan Darussalam Makassar, yang berlangsung di Meeting Room Kenanga SMK Darussalam Makassar. Acara pelatihan ini dimulai tepat pukul 09.00 WITA sampai pukul 17.00 WITA. Dalam pelatihan kali ini tampil pak Baja Seto dan pak Maman Basyaiban dari Kampus Guru Cikal selaku narasumber.  Pelatihan Guru Merdeka Belajar adalah proses belajar bersama para guru. Beberapa guru mengatakan bahwa awalnya sebelum pelatihan mereka mengira bahwa merdeka adalah bebas berekspresi. Awalnya mereka ingin tahu tentang apa itu Guru Merdeka Belajar. Belajar dari Pelatihan Guru Merdeka Belajar Menurut para peserta apa yang mereka pelajari dari Pelatihan Guru Merdeka Belajar adalah bagaimana guru sebagai seorang guru harus bisa merefleksi diri baik melalui kolaborasi sesama pendidik maupun melalui timbal-balik dari peserta didik. Oleh pak Maman mengatakan bahwa terdapat kolaborasi antar siswa  demikian halnya antar guru, jika guru ingin murid berkolaborasi, sebagai teladan, kita sebagai guru juga perlu berkolaborasi antarmata pelajaran. Beberapa guru juga masih mengingat dengan jelas ketika merefleksi hasil pelatihan Guru Merdeka Belajar salah satunya adalah pelajaran Matematika dengan materi bangun datar. Salah satu guru juga dalam refleksi pelatihan ketika pak Baja seto bertanya menyebutkan materi yang mereka dapatkan adalah diantaranya tentang Intentional Learning (Pengajaran langsung) dan Self Regulated learning. Materi lain penilaian diri dalam 4K. Oleh Anita Taurisia Putri salah seorang penggerak mengatakan bahwa dalam keseharian banyak hal yang berkaitan dengan Matematika, akan tetapi kita terpaku pada rumus atau angkanya, kita tidak memasukkan dalam realita kehidupan, sehingga menganggap peralatan Matematika susah, padahal keseharian kita penuh dengan Matematika. Penggerak lain, Erni Marlina mengatakan bahwa selaku guru  Bimbingan & Konseling, anak-anak selalu senang jika belajarnya tidak monoton berupa ceramah, jadi hendaknya belajar selalu diakhiri dengan ungkapan dan keinginan siswa, dan siswa pasti bahagia karena diberikan kesempatan untuk berpendapat.  Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Persoalan dunia pendidikan adalah persoalan kita bersama, kemajuan pendidikan adalah kebanggaan dan sekaligus harapan  kita bersama, oleh karena itu sudah siapkah kita mencetak generasi harapan bangsa? Sudahkah kita merasa merdeka dalam belajar? Jika belum bangunlah dan bangkitlah, mari belajar bersama Komunitas Guru Belajar untuk berkolaborasi dan saling berbagi praktek mengajar,saling menginspirasi satu sama lain. Ingin ikut pelatihannya secara online? Klik link di bawah ini

Murid Diam Karena Takut, Bukan Paham, Guru Perlu Bagaimana?

RodiyantoDi Temu Pendidik Daring #3 KGB Tegal kali ini, kita akan membahas tentang “Strategi Komunikasi : Dari Marah-marah Menjadi Komunikasi Hati”. Berikut profil beliau : Ratno Kumar Jaya. Profesi beliau sebagai guru SMK Muhammadiyah Pekalongan. Mengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kegiatan lainnya, beliau aktif di Komunitas Guru Belajar Pemalang. Ratno Kumar JayaBapak ibu guru yang baik, izinkan saya berbagi cerita malam ini ya. Sebelum saya masuk ke cerita, ada gambar nih buat bapak dan ibu. Bisa berikan pendapatnya ya tentang gambar berikut. Apa yang bapak dan ibu pikirkan tentang gambar ini? Boleh kasih pendapatnya ya. Semua hampir sepakat bahwa nomor gambar nomor 1 adalah gambar yang baik. Terlihat jelas ketulusan hati dan cinta seorang guru dalam mendidik muridnya. Lain halnya dengan gambar yang nomor 2. Tampak ada ekspresi kemarahan dan ancaman yang diarahkan ke murid. Dampaknya apa? Tentu akan mempengaruhi keharmonisan hubungan antara guru dan murid dan kegiatan belajar pun akan berlangsung tidak efektif. Persis seperti cerita saya beberapa waktu lalu. Ceritanya begini bapak dan ibu: Berawal dari beberapa murid yang memancing kegaduhan saat ulangan remedial yang saya bagi menjadi dua kloter. Kloter pertama melakukan ulangan dan kloter kedua inilah yang di luar kelas tetapi mengganggu murid yang sedang ulangan remedial. Bukannya belajar mereka malah bermain sok sok peng (himpit-himpitan) di tempat duduk depan kelas sambil teriak-teriak dan tertawa lepas. Sudah saya ingatkan berkali-kali tetapi mereka tidak mempedulikan saya, sampai akhirnya emosi saya sampai pada titik puncaknya. Tak kurang dari sepuluh menit, saya minta semua murid masuk kelas. Saya lampiaskan kekesalan saya di kelas. Saya minta murid-murid tersebut untuk berdiri di depan kelas. Kemudian memintanya maju ke depan meja saya dan menyebutkan namanya satu-persatu, saat itu juga saya coret nama mereka di buku jurnal penilaian dan saya katakan ke mereka “Jangan harap kalian akan tuntas nilainya”. Peringatan ini sekaligus sebagai ultimatum untuk semua murid agar tidak seenaknya berperilaku kurang sopan dengan saya. Seketika kondisi kelas hening semua murid menundukkan kepalanya, sedangkan saya masih terus memarahi mereka hingga mengancam tidak akan naik kelas. Melihat reaksi mereka seperti itu, saya pikir dengan cara seperti ini (marah serta mengancam) akan membuat jera dan mereka tidak akan mengulanginya lagi, serta bisa bersikap lebih sopan dengan saya ataupun guru yang lain. Tergambar tidak bapak ibu galaknya saya dulu?  Ternyata cara yang saya lakukan untuk merespons emosi yang muncul dalam diri saya itu kurang tepat. Emosi marah yang muncul karena ketidaksukaan saya terhadap perilaku yang menyimpang dari murid tidak sepatutnya saya luapkan dengan ancaman-ancaman atau pun menantang murid yang bermasalah. Tidak semua murid bisa terima dan takut dengan ancaman. Kecenderungan meluapkan emosi dengan perkataan-perkataan yang menyakitkan atau menakuti-nakuti murid dilatarbelakangi kurang pahamnya saya bagaimana untuk mengelola emosi. Saat ada hal yang bertentangan saya bersikap reaktif tanpa pikir panjang yang kemudian justru membuat masalah baru. Seperti saat saya memarahi dua anak yang mengulang di kelas sebelas, bisa jadi kedua anak ini sudah terbiasa diancam oleh guru-guru yang lain dan sudah merasakan konsekuensi langsungnya yakni tinggal di kelas sebelas. Alhasil, saat saya nasehati seperti sudah tidak mempan malah mereka menyanyikan cuplikan lagu Iwan Fals “Masalah moral, masalah akhlak biar kami cari sendiri. Urus saja moralmu, urus saja akhlakmu peraturan yang sehat yang kami mau”. Langsung saya minta mereka keluar kelas tanpa pikir panjang. Ternyata keputusan saya ini berimbas terhadap kondisi kelas yang akan saya ajar. Atmosfer kelas jadi sunyi, tetapi bukan karena tenang melainkan lebih ke rasa takut yang menyelimuti kondisi kelas sehingga proses pengajaran tidak berlangsung efektif. Dari refleksi tersebut saya mencoba mempraktikkan apa yang saya peroleh dari kelas parenting mengenai pengelolaan emosi dan strategi komunikasi untuk menjalin hubungan yang baik dengan murid meskipun dalam kondisi marah. Jika dulu saya lebih reaksional terhadap sikap murid di kelas, sekarang saya bisa lebih tenang untuk merespons hal tersebut. Adapun caranya tiap kali saya marah saya memberi jeda untuk bereaksi dengan duduk dan diam lebih dahulu ketika murid di kelas sudah tenang saya baru mulai berbicara. Hal ini cukup efektif karena saya merasa lebih bisa mengontrol emosi marah saat mendapat perlakuan kurang mengenakkan di kelas. Selain itu, strategi komunikasi yang awalnya saya gunakan dengan mengancam atau menakuti-nakuti murid, saya ubah dengan menerapkan strategi komunikasi dengan i-message. I-message adalah strategi komunikasi yang mengedepankan kemampuan mengungkapkan kebutuhan diri tanpa menyerang. Atau bisa dibilang i-message itu strategi komunikasi dengan cara mengungkapkan perasaan yang dirasakan agar lawan bicara bisa lebih berempati. Di dalam i-message ada empat bagian utama yakni: saya merasa (…), saat (…), saya ingin (…), dan karena (…). Misalnya, saat murid tidak mengerjakan PR yang saya berikan, jika biasanya saya marah dan menghukumnya berlari keliling lapangan, saya coba menggunakan strategi komunikasi i-message seperti ini. “Sebetulnya Bapak merasa marah, saat kalian tidak mengerjakan PR. Bapak ingin kalian menjadi pribadi yang bertanggung jawab, karena kita harus bertanggung jawab saat diberikan amanah dan PR ini juga tak lain tujuannya untuk belajar kalian di rumah”. Saat saya mengucapkan kalimat ini murid di kelas bisa lebih menerima dibanding saat saya marah-marah kemudian menghukum mereka. Saat itu juga saya minta mereka mengerjakan PRnya dan setelah selesai baru kami bahas. Memang awalnya saya canggung menggunakan strategi komunikasi tersebut karena tidak mudah bagi saya sebagai guru laki-laki. Saya yang biasanya lebih mudah menghukum harus mengungkapkan perasaan yang dirasakan ke murid. Selain itu, strategi komunikasi ini butuh konsistensi karena tidak semua kelas bisa menerimanya terlebih dengan karakter saya yang dulu lebih suka mengancam atau marah-marah. Silakan bisa dibaca terlebih dulu ya bapak dan ibu. Setelah selesai bisa langsung sharing aja ya?  SESI TANYA JAWAB Dini SofiPak Kumar, apakah setiap masalah cocok menggunakan imessage? Apakah peraturan yang telah dibuat bersama berupa punishment itu baik? Ratno Kumar JayaCocok atau tidaknya, patrikan terlebih dulu dalam hati kita bahwa apa yang akan kita lakukan ini hal baik dan insyaAllah berhasil. Karena menurut saya, i-message ini sangat efektif untuk komunikasi dengan murid karena dalam proses ini kita juga mengajari mereka untuk berempati. Tantangan sebenarnya bukan di i-message tapi di konsistensi dan kesabaran kita untuk terus menumbuhkan sikap positif terhadap murid. Kalau kami lebih suka menyebut konsekuensi bukan punishment/ hukuman karena dua hal tersebut beda. Jika … Read more

Guru Merdeka Belajar, Tidak Malu Belajar dari Sesama Guru

Menumbuhkan rasa membutuhkan ilmu dan belajar itu bagi seorang guru di sekitar saya masih cukup sulit, hingga saya membuat sebuah acara dengan judul “Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar Pendidik Purworejo”. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Sabtu, 28 September 2019 bertempat di Laboratorium Komputer SMK Kesehatan Purworejo. Saat merencanakan acara tersebut saya sedikit pesimis akan ada yang tertarik untuk bergabung. Benar saja acara yang seharusnya dilaksanakan pada pukul 10.00 WIB. Saya tunggu baru 3 orang saja yang hadir. Sambil menunggu rekan lain hadir, saya mengarahkan yang sudah hadir untuk melakukan presensi secara online menggunakan google form yang telah disediakan. Presensi online seperti ini bagi rekan guru yang sudah hadir bukan sesuatu yang baru memang, karena mereka telah mengenal cara tersebut dari beberapa pelatihan yang pernah diikuti di daerah Purworejo. Tak lama kemudian seorang rekan guru datang dan kami sambut dengan isian presensi juga. Ternyata keterlambatan beliau dikarenakan rumah beliau yang memang jauh dari lokasi nobar, yang ditempuh hingga 1 jam perjalanan. Karena waktu yang sudah terlalu mundur. Acara pun saya mulai dengan moderator sekaligus fasilitator saya sendiri Arini Fadhilah. Saya mulai acara dengan berdoa agar banyak perubahan yang terjadi setelah acara ini. Sebelum pemutaran video dari bu Elaa mengenai merdeka belajar dan berbagai miskonsepsi guru, saya menanyakan dulu tujuan mereka datang jauh-jauh sampai kesini. Kata salah satu peserta yaitu Ibu Diah, “Saya senang dengan acara kumpul guru seperti ini, jadi bisa dapat ilmu baru dari guru lain”. Selanjutnya interaksi dan komunikasi dua arah saya lakukan. Berbagai tanggapan mengenai guru merdeka belajar dari mereka sangat beragam. Ada yang belum begitu mengerti kenapa seorang guru harus merdeka belajar dan ada pula yang berpandangan bahwa seorang guru harus merdeka belajar atau dalam arti lain mau terus belajar dan berkembang tanpa batas. Masuklah ke acara inti yaitu pemutaran video merdeka belajar. Durasi video hampir 15 menit terlihat mereka sangat antusias memperhatikan. Setelah video berakhir, ternyata beberapa kalimat cukup menarik perhatian peserta yaitu ”Pada saat kita bicara merdeka belajar, Ibu dan Bapak. Saya tuh selalu terbayang anak – anak. Sebagian besar anak Indonesia itu dunianya hanya sebatas ruang kelasnya, mimpinya hanya terbatas tingginya tangan untuk menjawab pertanyaan gurunya” kata Bu Elaa “Yang kita inginkan adalah anak – anak yang punya aspirasi tinggi, yang punya cita – cita melampaui langit. Melampaui batas ruangan kelas, melampaui batas dunianya. Dan  ini hanya akan terjadi pada saat anak – anak punya kemerdekaan belajar. Tapi kemerdekaan belajar murid – murid hanya akan terjadi pada saat kita sebagai pendidik memiliki kemerdekaan“ lanjut Bu Elaa. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Kalimat itulah yang membuat beberapa dari mereka sedikit mengerti kenapa seorang pendidik harus memiliki kemerdekaan dalam belajar juga. Selanjutnya saya sambung topik tersebut dengan miskonsepsi yang sering terjadi dalam dunia pendidikan disekitar mereka. Kata salah satu guru yang hadir, Bu Restu, “Guru disini kebanyakan hanya akan bertanya pada yang memiliki pendidikan lebih tinggi dari mereka, lebih tua dari mereka dan punya gelar yang keren saja, sedangkan yang di bawah mereka dianggap tidak layak untuk berbagi ilmu” Dari yang saya tangkap ternyata guru muda era milenial masih ada yang pikirannya tidak terbuka dan tidak mau merdeka dalam belajar hanya karena orang disekitarnya dianggap tidak kompeten. Berangkat dari curhatan Bu Restu tersebut, maka beliau berniat untuk menjadi guru yang merdeka belajar dengan cara berusaha membuka pikiran mereka yang masih sempit pemikiran agar terbuka dan bisa menjadi guru merdeka belajar. Beliau berharap dengan nanti adanya Komunitas Guru Belajar di Purworejo menjadi wadah untuk saling berbagi antar sesama guru, tanpa memandang usia, gelar, pendidikan mereka. Pendapat itu pun kemudian disetujui oleh semua peserta yang hadir saat itu. Mereka sangat ingin komunitas seperti ini benar-benar ada, agar Purworejo memiliki tempat /wadah untuk mencari berbagai ilmu baru mengenai pendidikan yang disampaikan oleh sesama guru dari berbagai kalangan. Setelah proses refleksi selesai, saya menarik kesimpulan bahwa di Purworejo guru-gurunya masih belum sepenuhnya merdeka belajar, itulah siswa mereka juga belum bisa merdeka belajar. Maka agar mampu membantu siswa merdeka belajar, maka Komunitas Guru Belajar yang nantinya akan hadir di Purworejo dapat mulai mengubah pemikiran guru untuk menjadi guru yang merdeka belajar juga. Untuk menyakinkan mereka mengenai pentingnya menjadi guru yang merdeka belajar, saya menampilkan cuplikan tentang perkembangan Komunitas Guru Belajar melalui Temu Pendidik Nusantara dari tahun ke tahun yang jumlah pesertanya semakin meningkat dan datang dari berbagai wilayah di Indonesia. Lalu saya memberi penjelasan juga mengenai salah satu materi yang pernah saya dapatkan dalam Temu Pendidik Nusantara mengenai permainan dalam evaluasi pembelajaran. Dari video yang saya putar semua merasa tertarik dengan permainan tersebut dan penasaran cara membuatnya dan semakin bersemangat untuk menantikan adanya Temu Pendidik Daerah. Demikian kegiatan nonton bareng yang saya dan rekan-rekan guru dari Purworejo adakan. Saya berharap acara singkat yang dilaksanakan ini dapat mengubah pandangan mereka dan membuka pemikiran mereka untuk menjadi guru yang merdeka belajar, mampu mengubah siswa mereka menjadi siswa yang merdeka belajar pula.  Ingin Tahu Bagaimana Praktik Guru Merdeka Belajar? Klik link di bawah ini

Merdeka Belajar, Mengubah Keresahan Menjadi Keberdayaan

Guru adalah figur perubahan pendidikan yang penuh cita-cita. Tapi di ruang kelas, seringkali keresahan-keresahan membuat guru seolah tidak berdaya. Beberapa pekan sebelumnya, ruang percakapan di Grup Whatsapp Guru Belajar Tegal dipenuhi obrolan anggota grup tentang keresahan-keresahan yang paling sering ditemui guru di ruang kelas. Ada yang menemui keresahan yang berbeda, tak sedikit juga ternyata menemui keresahan yang serupa. Lalu, bagaimana guru bisa mengubah keresahan menjadi keberdayaan? Minggu (15/9), keresahan-keresahan tersebutlah yang menggerakkan guru-guru berkumpul dalam agenda Temu Pendidik Daerah kedua Komunitas Guru Belajar Tegal yang bertajuk “Ngobrolin Guru Belajar”. Agenda yang berlokasi di Spasi Kreative Space ini dihadiri oleh guru-guru dari kabupaten dan kota Tegal. Jenjang dan jalur pendidikannya pun beragam, mulai dari guru SD, MI, SMA, guru bimbel, hingga guru dari kelas kreatif. Miskonsepsi Guru Belajar Agenda berlangsung dari pukul 09.00 wib yang diawali dengan menonton bersama video Bu Najelaa Shihab tentang “Merdeka Belajar” yang dipandu oleh Bu Erna dari SDIT Alam Bina Insani. Seusai menyimak pemaparan “Merdeka Belajar” dari video, peserta antusias mendiskusikan refleksi bersama tentang miskonsepsi guru belajar yang sering ditemui atau dirasakan sendiri oleh peserta. Yang paling banyak direfleksikan peserta adalah bahwa selama ini guru dianggap perlu belajar hanya karena insentif eksternal (sertifikat, uang, dan sebagainya), padahal guru belajar adalah sebuah kebutuhan alamiah guru. Seperti agenda belajar di Temu Pendidik Daerah ini yang berangkat dari keresahan di ruang kelas masing-masing guru yang ingin dicari solusinya dengan belajar lewat saling berbagi praktik baik.  Guru Berdaya lewat Berkolaborasi Agenda dilanjutkan dengan sharing pengalaman Bu Dini dari Spasi Kreative Space tentang kolaborasi yang pernah dilakukan dengan Komunitas Guru Belajar. Menurut bu Dini, guru-guru yang merdeka belajar seringkali punya mindset yang antimainstream dalam pendidikan. Ketika tahun 2018 lalu muncul sebuah ide tentang kegiatan yang memberi dampak baik dengan mengajak anak-anak menjelajahi tempat-tempat ibadah di kota Solo bertajuk “Piknik Anak Hebat”. Ide tersebut ternyata disambut baik oleh guru-guru belajar untuk berkolaborasi bersama sehingga akhirnya sukses terselenggara.  Kolaborasi menjadi kunci yang penting dalam pendidikan. Kolaborasi guru dengan sesama guru maupun dengan komunitas atau pihak lain menjadikan pembelajaran untuk murid semakin kaya, tidak terbatas hanya di ruang kelas. Peserta antusias menanggapi bahkan mengungkapkan pendapat agar kegiatan kolaborasi guru dengan berbagai pihak juga harapannya bisa diselenggarakan di Tegal. Kekuatan Refleksi Salah satu sesi yang tidak kalah seru adalah saat sesi refleksi sebelum agenda diakhiri. Masing-masing peserta menyampaikan refleksi dari sesi-sesi agenda belajar. Bu Eva, peserta yang merupakan seorang guru bimbel mengungkapkan bahwa baru saat itu benar-benar merasa diakui sebagai guru. Beliau menyadari bahwa ternyata walau beliau hanya guru bimbel, ada tantangan yang sama, keresahan yang sama saat mendampingi murid. Pertemuan guru dengan berbeda bidang dan jenjang semacam ini juga bisa jadi sarana menyamakan persepsi, saling terbuka, saling melengkapi, dan bersinergi. Refleksi lain dari Bu Nurlina yang berasal dari kecamatan yang cukup jauh dari lokasi Temu Pendidik. Meski harus menempuh kurang lebih 1,5 jam untuk berangkat ke lokasi, tidak menyurutkan semangat beliau untuk belajar. “Saya ingin lebih memahami permasalahan dalam kelas dan belajar cara mengatasinya. Saya sangat senang dapat wawasan baru juga, kegiatan seperti ini sangat bermanfaat.” Ungkap Bu Nurlina di sesi refleksi. “Tidak ada guru yang bisa belajar sendirian. Tidak ada guru yang bisa kompeten sendirian. Dan tidak ada guru yang bisa merdeka belajar sendirian.” Begitulah kutipan kalimat bu Najelaa Shihab dalam video “Merdeka Belajar”. Maka agar bisa mengubah keresahan menjadi keberdayaan, mana jalan yang seharusnya dipilih guru: terus sibuk seorang diri mengeluhkan keadaan atau merdeka belajar bersama rekan seperjuangan?

Guru Penggerak Integritas – Menanamkan Nilai Antikorupsi

Belakangan ini kita sering mendengar di media terkait terjeratnya para pejabat publik yang tersandung kasus korupsi.  Korupsi merupakan sikap tercela yang harus ditanggulangi sejak masih dini. Sekarang ini banyak lembaga-lembaga mulai komunitas dan lembaga legal saling berkolaborasi dalam rangka membangun karakter dan budaya anti korupsi. Pendidikan antikorupsi harus ditanamkan sejak dini. Cara ini dinilai menjadi senjata paling ampuh untuk mencegah terjadinya praktik korupsi. Ada 9 nilai integritas yang berusaha ditanamkan pada generasi muda agar mampu mengontrol dirinya tidak melakukan korupsi. Antara lain jujur disiplin tanggung jawab mandiri kerja keras sederhana berani peduli adil. Untuk menumbuhkan 9 nilai integritas dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah dan kampus, media, media social, buku, boardgame, gerakan masyarakat. Semua lapisan harus bersinergi agar dapat terbentuk nilai integritas yang diinginkan. Saatnya bergerak, dengan menentukan langkah pencegahan di dunia pendidikan serta menjadi guru milenial untuk #gurupenggerakintegritas. Siapakah #gurupenggerakintegritas itu? Guru penggerak integritas yaitu guru yang siap bergerak bersama dengan kesadaran tanpa paksaan dan sangat memahami perubahan Indonesia harus dimulai dari dunia pendidikan, dengan menanamkan nilai-nilai integritas. Dimana integritas dimaknai dalam pemahaman yang menyeluruh bukan setengah-setengah. Integritas yang dapat diartikan sebagai konsentrasi dan keteguhan yang tak tergoyahkan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan keyakinan serta sikap yang konsisten antara tindakan dengan nilai dan prinsip. Metode dan media #gurupenggerakintegritas  Board Game Integritas KPK Film untuk jenjang dasar dan remaja Buku buku, komik, majalah Senam. Tanya jawab termin 1  Muh. Sidiq Permana: Bagaimana pengalaman dan implementasi Antikorupsi di sekolah dasar atau jenjang  lainnya? Jawaban dari bu Intan: Berbicara tentang pengalaman di lapangan pasti banyak sekali yang mau saya share di sini. Mungkin saya akan share testimoni dari teman-teman KGB Solo Raya yang sering membantu dalam kolaborasi insersi nilai antikorupsi di sekolah sekitar Solo Raya.  Jawaban dari bu Intan: Untuk board game PDKT saya ajak anak SMP kelas 8 laki-laki. Saat saya menjelaskan caranya untuk anak yang maunya bermain menggunakan fisik kurang tertarik dengan permainan PDKT karena harus berpikir. Tapi untuk anak perempuan tertarik untuk bermain terus karena mereka dapat menebak dan mengumpulkan bintang banyak. (Testimoni dari Yuliana Nurochimah, SMP IT INSAN CENDEKIA TRUCUK)  –“berarti pelaksanaan di luar KBM bu Intan? Soalnya di SD biasanya sudah ditemakan kegiatan seharinya? Puspa : Pendidikan karakter yang dikemas dengan kerjasama lintas kelembagaan. Boleh saya dengar cerita-cerita seru tentang bagaimana respon siswa / guru / pihak sekolah di lapangan terhadap suplemen program ini? Jawaban dari bu Intan :  Cerita seru selalu saya bagi di medsos bu, boleh di kepoin. Biasanya sebelum kita masuk ke kelas, kami menyiapkan TNA (training need analisys) yang berisi desain pembelajaran dan output learning . Untuk tingkat dasar biasanya kita buka 3 zona : zona story telling, zona nobar dan zona board game yang nanti kita rolling dengan durasi yang sudah ditentukan dan disesuaikan usia audience. Kalau untuk jenjang SMP.  Agak lebih detail dengan fungamen, sedikit materi inti, board game dan sharing. Terakhir tetap evaluasi dan refleksi. Kalau jenjang SMA dan PT beda lagi metode dan boardgame yang digunakan. Kalau respon siswa: seringkali waktu habis tidak mau berhenti bermain dan pindah zona. Respon guru: banyak yang dipelajari dengan kegiatan seperti ini, karena kita tidak hanya menginsersi nilai antikorupsi saja tapi tetap berpegang pada konsep merdeka belajar dan memanusiakan hubungan. Shofi : Saya tertarik dengan board game yang diaplikasikan pada pembelajaran terutama untuk anak-anak level TK dan SD, mungkin bisa sedikit diberi gambaran, isi boardgame seperti apa dan cocoknya di aplikasikan ke mata pelajaran apa? Adakah kesulitan saat memainkan board game ini bersama anak-anak suai TK dan SD kelas rendah? Jawaban dari bu Intan :  Isi boardgame tetap edukasi untuk insersi 9 nilai anti korupsi. Dengan cara yang sangat disesuaikan dengan STPPA (Satuan tingkat pencapaian perkembangan anak) tingkat TK dasar, spesifik boardgame keranjang bolong, terajang dan kwarte sahabat pemberani. Cocok diaplikasikan di semua mapel. Apalagi di Kurikulum 13 menggunakan tematik jadi lebih bisa luwes.  Jawaban dari bu Intan:  Kesulitan ketika fasil / guru belum playtest, kalau sudah mencoba insyaAllah tidak ada kesulitan –“ Jadi penasaran, bagaimana bentuk boardgame dan kira-kira dimana bisa mendapatkannya bu? Jawaban dari bu Intan:  untuk mendapatkannya cukup bersurat ke KPK saja di sertai rencana penggunaan untuk apa. Tanya jawab termin 2 Kharisma: Saya guru SMA, saya tertarik dengan metode dan boardgame yang digunakan di jenjang SMA. Mohon bisa di beri contoh bagaimana pemanfaatannya. — Menginsersi nilai antikorupsi untuk anak SMA yang super kritis perlu terapi yang sangat memanusiakan mereka. Di antaranya dengan komik, film pendek remaja, poster, board game sampai diskusi tentang semangat melawan korupsi versi mereka.  Guru tinggal memberi penguatan dan support tentunya. Boardgame untuk SMA banyak, misalnya Terajana, PDKT, The Suspect, Politik dll Anis: Saya tertarik dengan duta pelajar KPK. Jika sekolah kami mengadakan duta KPK, siapakah penilaiannya?, bagaimana menggerakkan penghuni sekolah untuk sadar KPK, jika selama ini yang saya tahu hanya ada simulasi kartu KPK, dan berhenti sampai di sini saja. Bagaimana tahap selanjutnya? — Untuk duta pelajar KPK lingkup sekolah yang wajib diperhatikan adalah outcome. Setelah terpilih mau apa dan bagaimana. Jadi indikator dari penilaian di level berapa? Latar belakang sifat dan karakter selama di sekolah seperti apa? Sampai pada paparan rencana aksi setelahnya. Cara menggerakkan penghuni sekolah: Yang pertama harus mampu menjadi “Agent of Change” Guru Penggerak integritas. Masalah yang lain mengikuti atau jalan di tempat lihat nanti. Simulasi dan insersi nilai antikorupsi tidak bisa instant, butuh bertahap, konsistensi, sederhana namun tetap selalu menarik. Caranya dengan selalu mengupgrade media dan metode. –“ untuk duta pelajaran KPK boleh siapa saja asal syarat terpenuhi? Lantas kita mengupgrade media dan metodenya dari cara mana saja dan langkah apa saja? — upgrade media dan metode, silahkan di buka kanal KP di ACLC (anti-corruption learning center) Perlu percikan yang apik untuk sebuah formula manjur bagi generasi anti korupsi dan saat berjumpa di kelas adalah jawabannya. Semangat bergerak #GuruPenggerakIntegritas.