Membangun Kemampuan Literasi dengan Komikstrip, Memahami Murid dengan Bahasa Cinta

Pagi itu matahari begitu terik, padahal waktu baru menunjukkan pukul sembilan pagi. Satu persatu orang mulai berdatangan sambil membawa tentengan di tangan, yang sepertinya berisi jajan. Ya, pagi itu adalah kegiatan Temu Pendidik (mudik) pertama Komunitas Guru Belajar (KGB) Pekalongan setelah libur lebaran. Ada sekitar tiga puluh peserta yang hadir dalam kegiatan mudik itu.  Sekitar pukul 09.30, semua peserta sudah siap dan duduk melingkar. Sebelum acara dimulai, terlebih dahulu dibuka oleh Guru Anifah, sebagai moderator yang memandu perkenalan antar anggota. Cukup unik metode perkenalan yang dipakai. Setiap anggota wajib memperkenalkan namanya, tempat mengajarnya, dan teman yang sebelumnya. Jika sebelumnya ada empat teman yang sudah memperkenalkan diri, maka kita harus menyebutkan nama empat orang tersebut. Misalnya saya yang duduk di lingkaran agak tengah, maka saya harus menyebutkan cukup banyak teman sebelum saya. Begini bunyinya : nama saya Lilik – saya mengajar les private khusus anak SD – saya adalah temannya Bu Anif, Pak Lukman, Pak Septiar, Pak Wahyu, Pak Maman Basyaiban, Bu Laily, dan Bu Zidnil. Begitupun bila posisi duduk berada di ujung lingkaran, artinya harus menyebutkan semua teman-teman yang sudah memperkenalkan diri sebelumnya. Sebuah perkenalan yang cukup esensial untuk mencapai target tahu nama dan orangnya sekaligus. Selesai perkenalan, moderator langsung memperkenalkan dua narasumber yang sudah hadir dan siap berbagi praktik baik pengajaran. Mudik kali ini dikemas dalam konsep kelas kemerdekaan, sehingga tanpa pertanyaan dan praktik. Komikstrip Untuk Literasi Berbicara tentang miskonsepsi literasi, telah kita ketahui bersama bahwa media literasi bukan hanya buku saja. Banyak media yang bisa kita jadikan bahan penunjang literasi, salah satunya adalah komikstrip.  Komikstrip adalah komik singkat. Guru Lukman Hakim (Ukluk) memaparkan, berbeda dengan komik yang kita kenal pada umumnya, komikstrip hanya terdiri dari 4 / 5 / 6 panel saja. Bahkan ada komikstrip yang tanpa percakapan sama sekali, namun tetap bisa dipahami oleh pembaca. Hal ini dikarenakan bentuk komikstrip memiliki gambar yang berbeda dan berurutan, sehingga bisa memberikan penjelasan meskipun tanpa tulisan.  Komikstrip bisa digunakan sebagai media untuk menyampaikan poin-poin pembelajaran, khususnya pembelajaran yang memiliki materi yang lumayan kompleks. Penggunaan komikstrip akan memudahkan guru untuk menampilkan bentuk sederhana penjelasan tersebut.  “Lalu bagaimana penerapannya di pembelajaran ? apakah guru yang membuat kemudian menyampaikan ke murid, atau murid diajak untuk membuat komikstrip ?” Karena komikstrip ini adalah media ajar, maka bentuk penerapannya adalah dimulai dari guru. Guru yang membuat komikstrip untuk membantu mempermudah penjelasan atau untuk memberikan visualisasi kepada murid tentang materi yang sedang disampaikan. Cara membuat komikstrip tidak harus menggunakan gambar manual dengan tangan. Bisa juga menggunakan foto dan kemudian diedit dengan menambahkan pitch bentuk balon untuk menampilkan dialog. Demikian penyampaian penggunaan komikstrip untuk menunjang pembelajaran di kelas oleh Guru Ukluk. Sebelumnya, Guru Ukluk juga sudah membuka kelas komikstrip dalam acara Ransel yang digelas Bulan Ramadhan kemarin oleh Komunitas Guru Belajar Pekalongan. Kelas komikstrip lumayan diminati oleh peserta yang terdiri dari siswa SMP dan SMA di Pekalongan. Bahasa Cinta Untuk Murid Di sesi bahasa cinta, Guru Muchamad Arifin (Ipin) memberikan peserta sepuluh lembar sticky notes dengan warna yang berbeda. Masing-masing warna memiliki makna yang berbeda sesuai dengan aturan pemateri. Kuning 🡪 berkumpul  Hijau 🡪 motivasi  Pink 🡪 pelukan  Jingga 🡪 pelayanan  Peserta diajak untuk bermain menggunakan sticky notes yang sudah dibagikan. Aturan mainnya sebagai berikut : Peserta harus berkeliling dan menanyakan kepada peserta lainnya tentang apa yang menjadi kebutuhannya  Bila jawaban peserta yang ditanyai itu sesuai dengan warna yang dipegang oleh penanya, maka penanya wajib memberikan satu sticky notes kepada penjawab Dilakukan terus untuk menanyai peserta lainnya hingga sticky notes habis.  Para peserta nampak sangat menikmati permainan tersebut. Bertanya dan ditanya oleh peserta lainnya tentang kebutuhannya. Bukankah sebuah kebahagiaan jika kita ditanya tentang apa yang menjadi kebutuhan kita ? semacam ada yang mau memperhatikan kita begitu.  Sepuluh menit permainan selesai. Yang baru saja dilakukan bersama adalah simulasi menanyakan kebutuhan murid. Dalam profesi kita sebagai guru, menanyakan apa yang menjadi kebutuhan murid adalah hal yang sangat penting untuk kita dilakukan sebelum kita memulai proses belajar mengajar. Kebutuhan murid adalah input utama bagi kita sebagai guru untuk menyusun bahan belajar. Dengan begitu, rencana dan proses belajar yang kita buat benar-benar berangkat dari murid. Setiap murid pasti memiliki satu kebutuhan dominan. Entah itu kebutuhan berkumpul, motivasi, pelukan, atau pelayanan.  Penerapan bahasa cinta ini membutuhkan latihan dan kecerdasan guru. Jangan sampai setelah melakukan pemetaan kebutuhan ini kemudian kita menjadi terjebak, tidak bisa menjadikannya sebagai formulasi bahan belajar mengajar. Misalnya ada anak yang kebutuhan dominannya adalah motivasi, kemudian dia hanya mau belajar dengan diberikan cerita-cerita motivasi saja dan mata pelajaran lainnya diabaikan. Hal ini tidak boleh. Kebutuhan dominan adalah inputan bagi kita untuk memberikan penyikapan yang tepat sesuai dengan kondisi murid, bukan untuk mengikuti apa maunya murid kemudian mengabaikan proses belajar. Dengan mengetahui kebutuhan dominan, kita akan tahu kemampuan murid dan bagaimana kita memposisikan diri untuk menjadi teman belajar murid kita, tanpa memaksa atau memberikan target belajar yang jauh dari kondisi realistis murid.  Sepintar dan sekreatif apapun, bila kita tidak menggunakan cinta maka proses belajar tidak akan diterima dengan baik oleh murid.  Mudik kali ini memberikan wawasan baru kepada kita tentang media literasi, yaitu komikstrip. Komikstrip yang selama ini hanya kita kenal hanya sebagai media hiburan atau meme di media sosial, ternyata bisa juga kita gunakan sebagai media untuk proses pembelajaran kita di kelas.  Di sesi kedua, Guru Ipin kembali mengingatkan kita untuk memulai awal tahun ajaran baru dengan membuat pemetaan tentang kebutuhan murid. Dengan mengetahui kebutuhan murid, kita akan bisa membuat sistem pembelajaran yang memanusiakan hubungan di kelas, yang berangkat dari murid. 

Merdeka Belajar dan Passion Guru

Berawal dari kata Remedial. Remedial kali ini tidak mengartikan kekecewaan karena saya harus mengulang, namun menjadikan saya lebih semangat atas dukungan dan energy positif yang diberikan Bapak Ibu Guru dari Komunitas Guru Belajar Makassar.  Remedial kali ini berbeda dengan makna ujian ulang yang saya kenal sejak dulu. Melainkan sebuah simbol, bahwa belajar tidak mengenal kata STOP. Saya dengan segenap keberanian mengajukan jadwal Nonton Bareng Video Guru Merdeka Belajar, tepat pada hari Kamis 8 Agustus 2019 bertempat di Sekolah Lazuardi Athaillah GIS. Kegiatan ini serangkaian dengan jadwal sharing di Sekolah saya sebut saja Teacher to Teacher, hampir semua guru Lazuardi ikut dalam kegiatan nonton bareng. Narasumber dari kegiatan ini adalah Ibu Guru Najelaa Shihab, pendiri Kampus Guru Cikal saat mengisi acara sebagai pembicara di Temu Pendidik Nasional (TPN) 2016. Sebelum pemutaran Video Ibu Guru Elaa dimulai, terlebih dahulu saya sebagai fasilitator sekaligus moderator memberikan pengantar terkait narasumber dan video yang akan ditonton. Antusias teman-teman guru membuat saya harus segera memulai pemutaran videonya yang merupakan acara inti dari kegiatan ini. Setelah video selesai ditonton, saya pun membuka sesi diskusi dengan pertanyaan awal, “Sebenarnya makna kata merdeka itu seperti apa teman-teman?’ Setiap teman guru memiliki persepsi dan jawaban yang berbeda-beda, salah satu nya diungkapkan oleh Pak Guru Nas “Merdeka itu memiliki definisi yang luas, saya pernah mendengar sebuah ungkapan terkait pendidikan di lingkungan Sekolah bahwa Sekolah itu lebih buruk dari penjara, mengapa? Karena seseorang yang terkurung dalam penjara cukup duduk diam saja, tidak sama halnya dengan sebuah sekolah di mana kita terkurung di dalamnya dan membaca buku secara terpaksa dalam hal ini sekolah dengan aneka ragam aturannya”. Ada tiga poin penting terkait ciri guru merdeka belajar, yaitu Guru yang komitmen akan tujuan Guru yang mandiri, yang pada akhirnya berada pada puncak di mana guru yang memegang kendali atas dirinya Guru yang reflektif, guru yang mengevaluasi dirinya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan terkait miskonsepsi yang dipaparkan pada video, kemudian menjadi sesi yang alot kami diskusikan setelah pemahaman kata merdeka sebelumnya. “Cukup bayar saya dengan kopi!” Ungkap salah satu guru. Pak Guru Alamsyah adalah salah satu guru Bahasa Indonesia di Unit SMP, sebelum bergabung dengan Lazuardi hingga saat ini beliau mengelolah salah satu blog yang menampung tulisan-tulisan menarik namun mengkritik ☺. Pak Anca sapaan akrabnya, sangat senang jika diajak menjadi relawan dengan bayaran Kopi plus diskusi, “Saya mengajar bukan karena butuh uang melainkan karena ingin belajar dari pengalaman dan siswa saya nantinya bisa mengingat apa yang telah saya ajarkan, itulah tujuan saya”. Salah satu ciri guru merdeka belajar yang disampaikan oleh Ibu Elaa adalah komitmen akan tujuan. Memang tidak mudah untuk menjadi guru yang komitmen akan tujuan namun yang saya pahami  tentang makna seorang guru yang merdeka belajar adalah guru yang mampu memerdekakan dahulu anak didik di dalam kelasnya. Fasilitas dan sarana belajar yang lengkap belum bisa menjadi indikator seorang anak merdeka dalam belajar, lalu bagaimana dengan anak pelosok? Anak yang tinggal di daerah yang sulit dalam penggunaan teknologi?, pertanyaan saya ini dijawab langsung oleh Ibu Guru dian Ayu “Guru merdeka belajar adalah guru yang menemukan solusi dalam kesulitan!”.  Miskonsepsi yang terjadi di sekitar kita, dirasakan oleh setiap guru  dengan banyak cerita dan pengalaman dalam menghadapinya. Banyak rintangan untuk menjadi seorang guru yang merdeka belajar, bukan hanya guru Karena profesi melainkan guru yang merupakan passion. Passion yang tidak pernah bosan untuk dilakukan, mengorbankan segala hal demi mencapai tujuan mulia, serta tidak pernah memperhitungkan untung rugi yang telah dilakukan. Miskonsepsi yang perlu diberi perhatian lebih agar dapat mewujudkan tujuan dengan sistem pendidikan yang lebih terarah yaitu : Guru cenderung ingin belajar karena adanya dorongan lain (godaan sertifikat, insentif, dan sebagainya). Sebut saja ini profesi guru bukan passion guru. Tidak mengakui kelebihan orang lain, terlebih jika bukan seorang ahli atau tokoh terkenal. Guru dengan “How to” hanya terbatas kepada cara atau teknis. Guru perlu lebih ekstrim dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan esensial dan fundamental. Guru fokus administrasi, seperti Ujian Nasional yang dijadikan alat ukur kecerdasan seorang anak hanya dengan tiga hari pelaksanaan.  Guru yang masih bersifat individualis. Guru merdeka belajar harusnya dapat bekerja dengan tim serta mampu berkolaborasi dalam menyatukan atau menyamakan pendapat. Dari serangkaian kegiatan Nobar ini, saya dan teman-teman dapat menarik kesimpulan bahwa menjadi seorang guru yang merdeka belajar tidak semudah seperti yang dipikirkan. Banyak hambatan dan rintangan yang harus dihadapi. Kami sepakat bahwa cukuplah profesi guru itu disandang sebelum kegiatan ini, sekarang mari sama-sama kita aplikasikan “Guru adalah Passionku dan Passionmu”. Semangat ini akan menjadi pendorong dan motivasi dalam mengembangkan diri dan mandiri demi mencapai sebuah tujuan pendidikan “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”

Guru Merdeka Belajar di Lamongan, Apa Tugas Utama Guru?

Nonton bareng atau umumnya dikenal dengan istilah nobar. Nobar ala Komunitas Guru Belajar Lamongan salah satunya adalah menyaksikan video tentang Guru Merdeka Belajar berisi rekaman Ibu Najelaa Shihab pada Temu Pendidik Nusantara di Oktober 2017. Saya siap mengadakan nobar dan siap menjadi penggerak Komunitas Guru Belajar. Optimis saja meski di nobar pertama, yang hadir hanya saya dan bu Sarah Aulia. Tetapi di nobar kedua ini, alhamdulillah bertambah peminatnya. Alhamdulillah kami berdua tak kenal kata putus asa. Semangat kami bergerak semoga berbuah hasil maksimal. Saya, Anis Choirun Niswah, dari MAN 1 Lamongan. Pada hari Jumat, tepatnya tanggal 21 Juni 2019, jam 13.00, saya mengadakan nobar guru merdeka belajar bersama teman-teman penggerak KGB Lamongan, acara nobar di awali dengan sosialisasi KGB dan dilanjutkan nobar. Kami mengadakan nobar, bertujuan untuk mensosialisasikan Komunitas Guru Belajar, agar kita sebagai pendidik maupun praktisi pendidikan menyebarkan semangat yang lebih untuk terus belajar. Belajar bagaimana memahami pendidikan yang terus menerus berubah seiring perkembangan zaman dan perkembangan teknologi. Kegiatan nobar kali ini dihadiri oleh sebelas orang, alhamdulillah meningkat jumlahnya dari acara nobar guru merdeka belajar pertama kali di Lamongan yang hanya dihadiri oleh tiga orang saja. Sebagai guru pada khususnya, kegiatan guru belajar di Lamongan, masih jarang sekali peminatnya, kalaupun ada tentu kami berasal dari daerah yang menyebar dari berbagai penjuru kecamatan di Kabupaten Lamongan. Pada waktu itu, kami sudah menyebar banner undangan acara sosialisasi KGB Lamongan ini. Acara sosialisasi dan nobar Guru Merdeka Belajar ini dipandu oleh saudari Sarah Aulia dari KGB Lamongan. Meskipun berdomisili di Malang, ia senantiasa menjadi pendukung saya dalam kegiatan KGB ini.  Acara pertama dipandu oleh saudari Sarah Aulia tentang nobar “Apakah KGB Itu dan Kampus Guru Cikal”. Tampak di layar, ada ibu Najelaa Shihab yang sedang bertutur panjang tentang lebar tentang pertemuan guru se-nusantara. Ya Allah, merinding hati ini, ingin juga bisa berjumpa dengan para guru, pendidik, dan praktisi pendidikan yang loyalitasnya tanpa batas.  Acara kedua yaitu sosialisasi dan sharing dari saya tentang bagaimana bergabung ke KGB Lamongan. Keikutsertaan saya menjadi penggerak di KGB Lamongan. Saya mengenal KGB dari salah seorang teman diklat di lingkungan Kemenag. Kemudian saya mencari tahu siapa saja anggotanya, kemudian mata saya tertuju pada sebuah nama dan ternyata dia adalah anak murid saya. Tertariklah saya kemudian saya hubungi dan menanyakan lebih lanjut tentang Komunitas Guru Belajar. Selanjutnya saya menceritakan bagaimana nyamannya belajar di grup guru belajar. Bagaimana mengikuti diklat gratis yang hampir setiap hari dan bagaimana mengikuti diklat online jarak jauh. Meskipun jarak jauh, ilmu yang didapatkan tetap daging kualitas terbaik hal ini dikarenakan para tentor yang ilmunya tak pelit untuk dibagi-bagi dengan tujuan semuanya mendapatkan manfaat terbaik. “Setelah mengikuti nobar ini mengatakan bahwa garis besar dari komunitas ini adalah menyadarkan guru akan tugas utamanya, kemudian adanya momen-momen seperti KGB ini sangat baik untuk guru-guru karena bisa sharing dan hearing, berdiskusi, berbagi cerita, berbagi solusi, menambah tali silaturahmi demi terlaksananya pendidikan yang lebih baik”. Demikian menurut Pak Alif yang mengajar di MTs. Al Hidayah (Lamongan) dan SMA Saudi Nusantara (Solo), yang waktu itu ikut hadir pada nobar setelah melihat banner yang berseliweran di medsos kami.  Baca Juga Merdeka Belajar Bukan Jargon Ibu Lathifa Akmaliyah (Guru MI Thoriqul Ulum) pun mengutarakan kesenangannya mengikuti kegiatan nobar ini. “Dengan mengikuti kegiatan nobar guru belajar, saya bisa mendapatkan pengetahuan baru tentang dunia pendidikan berdasarkan kebutuhan siswa, metode dan cara mengajar yang baik bagi siswa, serta teknik belajar yang benar. Selain itu saya juga bisa sharing dengan teman-teman nobar guru belajar tentang kesulitan-kesulitan belajar siswa yang saya alami berikut solusi dari segala permasalahan yang saya alami selama menjadi guru”. Begitupun dengan Bu Ade Amiroh (SMP Al Amin, Paciran-Lamongan) yang menyatakan rasa bersyukurnya bisa ikut nobar dan meski sedikit kecewa karena tidak sesuai bayangannya sebab pesertanya hanya sedikit. Kenapa hanya sedikit yang datang? Karena tidak semua guru mau bergerak ketika sudah berada pada posisi aman dan sejahtera. Meski demikian, Bu Ade Amiroh tetap bersemangat dan mengaku ingin terlibat dengan Komunitas Guru Belajar ini. Tak ada gading yang tak retak, tetapi bagaimana kita sebagai guru harus membuat diri untuk belajar agar dapat memenuhi kebutuhan murid belajar. Semua murid semua guru, saya sebagai peserta KGB juga sebagai manusia yang bergerak untuk acara nobar dan sosialisasi Komunitas Guru Belajar, senantiasa berdoa agar hari-hari ke depan semakin banyak para guru yang terbuka. Terbuka terhadap perputaran dunia yang tak bisa dipungkiri bahwa pergeseran manfaat itu semakin hilang. Tetapi dengan adanya KGB ini, kami berharap dapat mengembalikan citra pendidikan yang memanusiakan hubungan dan mengerti kebutuhan murid demi murid-murid itu sendiri, salah satunya adalah menjadi murid dan guru yang merdeka belajar. Ingin Tahu Bagaimana Praktik Merdeka Belajar di Kelas? Klik link di bawah ini

Merdeka Belajar, Belajar Tanpa Paksaan

Rabu siang (01/05) kami dari berbagai penjuru kota Cimahi berkumpul di SD Prima untuk melakukan Temu Pendidik Daerah “Nonton bareng merdeka belajar”. Tidak ada kata lelah yang tersirat dari raut muka Bapak / Ibu guru yang hadir meskipun menempuh jarak belasan kilometer dari sekolah tempat mengajar,  karena kami datang berdasarkan kesadaran pribadi untuk terus mengembangkan kompetensi dalam mengajar. Acara TPD Nonton bareng dibuka oleh Guru Suhud dengan menampilkan beberapa gambar unik untuk mencairkan suasana dan  memantik semangat untuk belajar. Guru – guru nampak bersemangat dalam melihat gambar tersebut untuk menjawab pertanyaan yang diberikan. Selanjutnya acara dilanjutkan dengan penayangan beberapa video yang membahas berbagai masalah di bidang pendidikan, terlihat perubahan raut muka dari beberapa guru hal ini karena permasalahan yang muncul di dalam video tersebut sangat nyata di dalam proses pembelajaran di kelas. Setelah itu kami diberikan beberapa pertanyaan yang harus ditulis di kertas kecil untuk kemudian kami diskusikan bersama. Pertanyaan pertama yang muncul adalah apa itu kemerdekaan belajar ?  Ada yang mendefinisikan, “Merdeka belajar adalah belajar atas dasar kesadaran sendiri dan tanpa paksaan.“ Ada juga yang berpendapat “Merdeka belajar adalah menjalani belajar sebagaimana fitrah manusia, alamiah dan muncul dari internal dari diri sendiri” “ Apakah Ibu dan Bapak guru sudah merasa merdeka belajar? Kalau tidak merasa merdeka belajar tidak perlu ada, datang dan belajar, karena itu resep dasar sebetulnya,” Kata Najelaa Shihab Kalimat tersebut mengawali sesi nonton bareng merdeka belajar, guru – guru nampak membetulkan posisi duduknya untuk fokus memahami kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Bu Elaa sapaan akrab bu Najelaa Shihab. Pertanyaan besar muncul di benak saya, lantas apa itu kemerdekaan belajar ? “Kemerdekaan berarti guru mempunyai komitmen pada tujuan. Guru yang merdeka paham kenapa harus mengajar suatu materi dan kaitannya dengan aplikasi sehari – hari. Guru yang merdeka itu mandiri, selalu bergantung pada dirinya untuk mengatasi tantangan, tidak mudah menyerah menghadapi tantangan atau menyalahkan orang lain dan keadaan. Guru yang merdeka itu reflektif, berani meminta umpan balik secara aktif dan menilai diri sendiri dengan objektif.” kata Bu Elaa, seakan  menjawab pertanyaan di benak saya. Kemerdekaan belajar adalah kunci utama untuk guru – guru bisa meningkatkan kompetensi dan menyelesaikan permasalahan pembelajaran di kelas. Guru tidak menunggu perintah dari kepala sekolah untuk mengikuti pelatihan dan tidak perlu diiming- imingi uang dan sertifikat untuk terus meningkatkan pengetahuannya. “Pada saat kita bicara merdeka belajar, Ibu dan Bapak. Saya tuh selalu terbayang anak – anak. Sebagian besar anak Indonesia itu dunianya hanya sebatas ruang kelasnya, mimpinya hanya terbatas tingginya tangan untuk menjawab pertanyaan gurunya” kata Bu Elaa “Yang kita inginkan adalah anak – anak yang punya aspirasi tinggi, yang punya cita – cita melampaui langit. Melampaui batas ruangan kelas, melampaui batas dunianya. Dan  ini hanya akan terjadi pada saat anak – anak punya kemerdekaan belajar. Tapi kemerdekaan belajar murid – murid hanya akan terjadi pada saat kita sebagai pendidik memiliki kemerdekaan “ lanjut Bu Elaa. Ada beberapa miskonsepsi yang dijelaskan dalam pemaparan video tersebut yang kerap dikaitkan dengan guru yaitu guru hanya mau belajar apabila mendapatkan sertifikat atau uang dan guru belajar dari ahli atau pakar pendidikan, faktanya melalui temu pendidik daerah guru – guru melawan miskonsepsi tersebut dengan belajar secara sukarela dan tanpa paksaan, dan guru belajar dari rekan sesama guru yang sudah berhasil dalam melakukan praktik baik dalam mengajar. Ada tiga ciri utama seorang pendidik yang merdeka belajar yaitu memiliki komitmen, memiliki kemandirian dan selalu reflektif. Hal tersebut sangat esensial bagi guru untuk mendorong semangat mengembangkan kompetensi dan belajar kapanpun dan dimanapun tak terbatas dari seminar atau workshop yang diselenggarakan oleh pemerintah dan kegiatan guru – guru di KGB dilakukan untuk memenuhi kebutuhan belajar guru. Ada beberapa pertanyaan tambahan yang diberikan, dari beberapa pertanyaan yang diberikan terdapat topik hangat yang ingin diselesaikan yaitu mengenai target belajar yang masih dipaksakan dan tuntutan administrasi yang bisa membuat tujuan pendidikan melenceng sehingga guru kerap kali lebih disibukkan perihal masalah administrasi dibandingkan dengan membuat metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Pertanyaan terakhir yang menjadi topik diskusi adalah “Apakah yang ingin teman – teman lakukan bersama Komunitas Guru Belajar (KGB) ? Kemudian diskusi berkembang mengenai tujuan dan nilai – nilai dasar yang melatarbelakangi terbentuknya KGB. Juga berbagai situasi yang dialami KGB khususnya di KGB Cimahi. dan bahasan mengenai KGB Cimahi menjadi penutup dalam TPD Nonton Bareng KGB Cimahi sekaligus menjadi awal bergabungnya Gilang dan saya terlibat sebagai penggerak di KGB Cimahi. Saya harap dapat lebih berkontribusi untuk meningkatkan kemerdekaan belajar guru – guru di kota Cimahi. Karena saya percaya kota Cimahi mempunyai potensi yang besar di bidang pendidikan ini terlihat dari banyaknya sekolah yang terdapat di kota Cimahi serta adanya dua Sekolah tinggi keguruan dan ilmu pendidikan di Kota Cimahi sebagai sumber pencetak guru – guru berkualitas khususnya di kota Cimahi.

Apakah Kegiatan Literasi di Sekolah Bisa Berdampak pada Murid?

Hari Minggu adalah hari yang ditunggu bapak/ibu guru, karena ada mudik (temu pendidik) dengan konsep yang asik dan menarik. 17 Maret 2019, pagi itu gerimis datang tetapi tidak menyurutkan semangat bapak/ibu guru untuk belajar di SD Muhammadiyah 02 Bendan Pekalongan bersama guru Nazilatul Khusna dan guru Zidnil Karomah. Temu pendidik dengan tema “Kegiatan Literasi Bermakna” merupakan temu pendidik yang ke-23 yang dilaksanakan oleh KGB (Komunitas Guru Belajar) Pekalongan. Nazilatul Khusna adalah guru di SD Baitussalam 01 Pekalongan yang menyampaikan materi tentang “Membangun Budaya Literasi di Sekolah.“ Tahun 2018 yang lalu, di sekolah saya baru memulai kurikulum 2013. Tetapi dengan adanya kurikulum tersebut, justru menjadi keresahan bagi guru. Terlebih guru kelas satu dan empat, karena di dalam kurikulum 2013, terdapat program yang mewajibkan anak setiap harinya harus membaca selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Okey, jika membaca 15 menit diterapkan di kelas empat, ya memungkinkan saja, karena murid-murid sudah bisa membaca dengan lancar. Namun, jika hal itu diterapkan di kelas satu, bagaimana? Susah! Apalagi untuk murid yang belum bisa membaca. Jangankan membaca, hampir keseluruhan murid belum hafal huruf. Duh, bagaimana coba?!”, paparnya. Peserta mudik sangat antusias mendengarkan pemaparan bu Nazil tentang keresahannya dalam menghadapi kurikulum K13. Mengenai program literasi, beliau tidak menggembar-gemborkan apa itu literasi kepada murid-muridnya. Tetapi, sebisa mungkin beliau mencoba untuk memperkenalkan program literasi di sekolah. “Apa sih literasi itu? Apakah hanya sekedar membaca? Apakah dengan membaca 15 menit sebelum memulai pelajaran akan berdampak pada murid?” Guru Nazil memulai materinya dengan bertanya tentang literasi dan membuka sudut pandang peserta mudik tentang literasi. “Tantangan terbesar di kelas bagi saya adalah menjelaskan materi. Terlebih masih ada beberapa murid kelas dua belum lancar membaca, dan juga ada yang malas sekali menulis. Saya sering kewalahan ketika menyampaikan materi. Suatu hari ketika pelajaran bahasa Indonesia, saya mengajak murid-murid mengunjungi perpustakaan. Kemudian saya menyuruh mereka mengambil buku cerita, lalu menugaskan untuk membuat rangkuman terhadap apa yang sudah mereka baca. Sebelumnya saya telah menjelaskan berkali-kali materinya, tetapi setelah saya menyuruh mereka demikian, hasilnya nihil alias gagal. Hanya beberapa murid saja yang paham. Dari situlah saya mulai berpikir. Aduh bagaimana ya? Apakah ada yang salah dengan cara saya? Atau jangan-jangan macam literasi itu banyak”, kata beliau. Beliau melanjutkan ceritanya: “Saya mencoba menelusuri dengan mengikuti temu pendidik di KGB Pekalongan dan bertanya-tanya kepada guru-guru saya juga. Ternyata, literasi itu sangat luas. Makna literasi sesungguhnya adalah belajar. Literasi tidak hanya sekedar membaca, menulis pun termasuk literasi. Nyatanya kemampuan membaca dan kemampuan menulis sangat erat hubungannya. Membaca tanpa menulis, maka akan mengakibatkan lupa. Sedangkan menulis tanpa membaca, maka proses menuliskannya tidak akan berkembang”. Melalui ilmu yang diperolehnya beliau langsung mencoba mengaitkan antara kemampuan membaca dan kemampuan menulis murid. Dalam materi yang disampaikannya, beliau bercerita tentang salah satu siswanya yang bernama Tiara: “Tiara adalah anak pendiam dan selalu menjadi bahan perbincangan anak-anak karena nilainya selalu saja rendah. Memang, kemampuannya dari awal kelas satu berada di bawah rata-rata teman-temannya. Namun, Alhamdulilah dia bersikap biasa-biasa saja atau cuek ketika diejek temannya. Setelah kelas dua, saya mengamati bahwa dia sudah mengalami perubahan dalam hal membaca. Kemampuan membacanya hingga sekarang cukup baik. Akan tetapi, ketika disuruh menulis dia belum sempurna, walaupun dia hanya menyalin tulisan saya di papan tulis. Mengapa masih saja salah-salah? Ini nih menjadi bagian penting dari literasi. Korelasi antara membaca dan menulis harus diperhatikan”. Beliau berusaha untuk menyelesaikan permasalahan mengenai miskonsepsi literasi selama ini. Beliau melanjutkan ceritanya: “Suatu ketika, mata pelajaran bahasa Indonesia membahas tentang puisi. Setelah selesai menjelaskan dan memberi beberapa contoh puisi, saya mencoba memberikan tugas kepada murid-murid untuk membuat puisi bertema ibu. Membebaskan imajinasi mereka sendiri. Saya berjalan dari meja ke meja guna melihat kreasi murid-murid. Beberapa murid merasa kebingungan menuliskan hingga saya pun akhirnya membantu menyebutkan kata-kata. Akan tetapi, beberapa murid yang lain ada pula yang berusaha sendiri, termasuk Tiara (anak yang mampu membaca tapi tidak mampu menulis dengan benar). Hasil karya Tiara membuat saya takjub. Berikut karyanya: Kemudian beliau mengakhiri ceritanya: “Ternyata dibalik kekurangan Tiara yang demikian, nyatanya dia mampu menuliskan kata-kata mesra untuk ibunya. Disitulah saya tersadar bahwa kemungkinan daya mengarangnya cukup baik. Dia mampu berimajinasi. Nah, itu merupakan proses literasi lhoo…!! Literasi bukan sekedar memahami huruf abjad. Tapi proses merangkai kata pun bisa”. Guru Nazil pun menutup pembahasannya dengan memberikan sebuah kalimat bermakna: “Dunia sekarang cepat sekali berubah. Jika saya tidak MEMULAI, maka saya akan TERTINGGAL”. Peserta temu pendidik sangat antusias mendengarkan pengalaman beliau dalam melaksanakan praktik pembelajaran di kelas. Selanjutnya, materi disampaikan oleh guru Zidnil Karomah yang merupakan guru di SD Muhammadiyah 02 Bendan Pekalongan. Guru Zidnil menyampaikan materi “Literasi Asik, Ajak Anak Aktif”. Literasi sering dihubungkan dengan kegiatan membaca. Membaca merupakan kata kerja yang sering dipasangkan dengan objek berupa buku. Apakah literasi itu lingkupnya hanya kegiatan membaca buku? tentu semua sepakat jawabannya TIDAK. Ketika program literasi di sekolah hanya terpusat pada aktivitas siswa untuk membaca 15 menit di awal pembelajaran saja, kemudian mencatat halaman buku yang telah selesai mereka baca di kartu baca (literasi), maka kegiatan tersebut lama-lama akan membosankan. Guru akan menjumpai siswa yang lebih senang bercerita dengan teman-temannya dibandingkan membaca buku cerita mereka. Bagaimana usaha guru sebagai pendidik untuk membuat kegiatan literasi yang asik, yang bisa mengajak mereka untuk aktif? Beliau menjawab: “ Salah satu usaha yang saya lakukan adalah mengajak siswa untuk membaca tetapi melalui video. Video tersebut berupa cerita pendek (kartun animasi) yang ada subtitlenya dalam bahasa Inggris. Saya mendapatkan video tersebut dari youtube. Banyak sekali jenis videonya, oleh karena itu kita juga harus menyesuaikan dengan tema atau materi yang akan kita sampaikan”. Kemudian beliau menampilkan video dan mengatakan: “Saya menggunakan video yang berjudul “The Old Lion and the Fox”, ketika saya harus mengajarkan materi tentang hewan (animals). Pertama, saya putarkan full video tersebut. Siswa tampak antusias mengamati dan mendengar cerita dari video yang diputar. Setelah itu, saya ajak mereka untuk berdiskusi tentang isi ceritanya, kira-kira tentang apa?” Di awal sebagian jawaban siswa adalah hasil dari pengamatan gambar videonya saja, yaitu siswa belum memahami arti dari bacaan cerita bahasa inggris tersebut. Dari informasi yang siswa dapatkan, semua ditampung untuk selanjutnya dirangkai bersama-sama menjadi cerita yang utuh. Termasuk didalamnya … Read more

Apa Peranan Orangtua dalam Mendidik Anak di Era Disrupsi?

Dunia saat ini berada dalam masa peralihan yang begitu dinamis. Perubahan ini lebih familier kita sebut era disrupsi. Banyak hal yang kemarin baru saja berubah, saat ini sudah berubah lagi, dan beberapa saat kemudian perubahan itu semakin tak terbendung. Perubahan tersebut otomatis juga terjadi pada dunia pendidikan. Bagaimana Komunitas Guru Belajar menyikapi hal ini? Yuk simak liputan dari KGB Solo Raya on Air di Ria FM Solo! Sahabat Ria yang berbahagia, perubahan zaman adalah keniscayaan. Disrupsi artinya tergantikannya semua hal dengan yang baru. Termasuk didalamnya juga peran orang tua/ guru dalam mendidik anak. Komunitas Guru Belajar justru hadir untuk menjawab semua hal tersebut. Mengubah paradigma belajar pola lama dengan paradigma baru dan masa depan. Dengan prinsip belajar siapapun bisa menjadi guru dan dimanapun bisa menjadi kelas, kami berusaha memanfaatkan segala hal yang ada saat ini untuk meramu dan merajut masa depan pendidikan. Hal yang paling mudah kita manfaatkan di era disrupsi ini adalah keberadaan internet dan gawai (gadget). Hampir semua orang sudah memiliki akses untuk kedua hal tersebut. Bagian inilah yang juga menjadi perhatian KGB untuk dioptimalkan dalam mendidik anak. Orangtua dan Guru Terhadap Gawai Keberadaan gawai dan internet memang sangat membantu dalam banyak hal. Kita bisa mengakses apapun, dimanapun, dan kapanpun. Disisi lain fenomena yang terjadi di tengah masyarakat, banyak kita jumpai anak yang justru lebih dekat dengan gawai terutama untuk game dari pada dengan orang tuanya sendiri. Apa yang bisa kita lakukan sebagai orangtua/ guru? Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan dalam pemanfaatan gawai dan internet oleh anak-anak kita. KGB mengajak sahabat Ria menyimak pengakuan dari tokoh-tokoh pembuat teknologi dunia dalam memperlakukan anak-anaknya. Bill Gates – Founder of Microsoft Corporation. Beliau tidak memberikan akses (screen time) kepada anaknya hingga anaknya berusia 14 tahun. Hal ini agar anaknya mendapat waktu tidur yang semestinya. Steve Jobs – CEO of Apple Inc. Beliau membatasi screen time pada anaknya. Bahkan menurutnya terlalu banyak mengakses gawai adalah hal yang buruk. Kebiasaan keluarganya adalah makan malam bersama dan diskusi tentang buku dan sejarah. Mark Zuckerberg – CEO of Facebook. Beliau lebih menginginkan anak-anaknya bermain di taman dan melihat indahnya bunga-bunga. Hal ini disebabkan masa kecil hanya sekali dalam hidup, dan saat dewasa mereka tidak bisa mengulanginya. Evan Williams – CEO of Twitter. Beliau menerapkan aturan yang ketat pada anak-anaknya. Bahkan beliau lebih memilih membelikan buku dibanding tablet (gawai). Sahabat ria, dari beberapa pernyataan beberapa tokoh disrupsi tersebut, kita harus bisa belajar bahwa ada batasan akses gawai oleh anak-anak kita. Jangan sampai kita memberikan akses berlebihan dan atau jangan sampai kita justru membiarkan mereka mengakses gawai tanpa kendali. Pola Asuh Orang Tua Sangat menarik saat mendengarkan pengakuan tokoh-tokoh penguasa jagat teknologi saat ini. Mereka justru memperlakukan anak-anaknya seperti orang tua zaman dulu. Mereka justru meminta anak-anaknya untuk bermain, membaca buku, dan tidur yang cukup. Bagaimana KGB melihat hal ini? Sahabat Ria, kami di KGB selalu percaya bahwa pengalaman adalah hal terbaik. Kami menyebutnya sebagai praktik cerdas. Pengakuan tokoh-tokoh tersebut tentu harus kita yakini, karena mereka pembuat dan pasti tahu resiko-resiko gawai dan internet saat diakses oleh anak-anak. Dampak buruk yang ditimbulkan oleh keberadaan gawai dalam pola asuh dan pendidikan anak harus kita antisipasi sedini mungkin. Sebagai orang tua/ guru kita harus bisa memanfaatkan internet dan gawai untuk mendidik anak. Keberadaannya harus kita manfaatkan untuk memperoleh banyak informasi agar tidak salah melangkah. Ada beberapa hal yang perlu kita lakukan: Batasi akses gawai kepada anak-anak, bahkan jangan sampai mereka mengakses sendiri. Upayakan keberadaan kita (guru/orang tua) pada setiap kegiatan mereka. Arahkan anak untuk gemar membaca buku Pancing kreativitas anak dengan mengeksplor benda-benda sekitar untuk dijadikan mainan atau benda yang lebih bermanfaat Ajak anak berdiskusi tentang hal-hal sederhana. Pancing anak untuk bercerita tentang keseharian dan apa yang mereka rasakan. Ajak mereka bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Beri contoh dengan tidak menggunakan/ batasi penggunakaan gawai ketika berada di dekat anak Ajak anak untuk bebrbicara tentang efek dari gawai sesuai usianya. Kerjasama Pengendalian Penggunaan Gawai Sahabat Ria, upaya pengendalian penggunaan gawai oleh anak, tentu akan menuai hasil optimal jika terjadi kerjasama yang solid antar pihak yang berada di lingkungan sekitar anak. Dalam hal ini orang tua, guru, pengasuh, keluarga lain seperti bibi, paman, kakaek, atau nenek juga perlu sama-sama memiliki satu pemikiran dan bersama-sama berkomitmen untuk menghindarkan anak dari efek kecanduan gawai yang sangat membahayakan anak. Jika kerjasama  ini dapat berjalan baik, maka bukan tidak mungkin anak akan lebih mudah untuk dididik di tengah gencarnya perubahan era disrupsi ini. Manfaat yang dapat dirasakan antara lain 1. Anak lebih dekat dengan keluarga Hal ini dikarenakan banyak waktu anak untuk berinteraksi dengan keluarga  dalam segala aktivitas daripada berada di depan layar gawai. 2. Orang tua lebih mudah membangun kelekatan dengan anak Kelekatan anak dengan orang tua sangat dibutuhkan di tengah derasnya arus disrupsi untuk mencegah efek negative daripadanya. Melalui kelekatan ini peran ortu melalui pendidikan dalam keluarga dapat menanamkan norma kehidupan yang akan menjadi filter bagi anak menghadapi kehidupan.  3. Orang tua akan dan anak akan lebih mudah mengungkapkan pemikiran dan perasaan Tanpa kecanduan gawai baik ortu maupun anak akan lebih mudah menyampaikan pemikiran and perasaan. 4. Terjadi kontak mata dan kontak fisik sebagai arti kasih sayang dalam keluarga Keluarga adalah tempat pertama dan utama dalam pendidikan awal anak, di mana didalamnya anak akan belajar pola interakasi sosial. Belajar tentang bagaimana proses stimulus dan respon dalam berinteraksi sosial aktivitas non gawai dapat menjadi arena belajar yang sangat baik bagi pertumbuhan sosial anak. 5. Anak lebih konsentrasi dalam belajar sesuai perkembangannya. Anak yang tidak kecanduan gawai tentu akan lebih mudah berkonsentrasi dalam belajar, memahami tujuan belajarnya, dan tahu apa yang menjadi tugas belajarnya. Sahabat Ria, demikian kompleksnya efek gencarnya perubahan di era disrupsi bagi perkembangan anak. Tentu semua akan menjadi baik jika kita sebagai orang tua, guru, atau orang yang  yang berada di lingkungan sekitar anak turut mengambil bagian dalam upaya menyelematkan anak dari efek negatif gawai.

Guru Merdeka Belajar, Ikut Pelatihan Tanpa Berharap Insentif

Pada  hari Rabu, 3 Juli 2019 pukul 10.00  WIB, Komunitas Guru Belajar (KGB) Pesisir Selatan mengadakan Temu Pendidik  Daerah ke-9 bertempat di SDN 26 Painan Selatan kecamatan IV Jurai. TPD Pessel ke-9  ini memiliki kegiatan inti Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar. Kegiatan TPD Pessel ke-9 ini di Moderatori  oleh saya sendiri Nofri Mayasril, sebagai salah satu calon penggerak dari KGB Pessel. Perkenalkan saya mengajar di SDN 03 Pelangai Gadang Ranah Pesisir, Pesisir Selatan. Kemudian pemandu nobar di pimpin oleh Ibu Rahmi Yanti selaku penggerak KGB Pessel yang sudah berpengalaman pada acara TPN 2018. Selain acara nobar, TPD ke-9 Pessel ini  juga diisi dengan penyampaian materi tentang Langkah-langkah menulis Essay dan bagaimana cara mempublikasikannya, yang disampaikan oleh saya sendiri Nofri Mayasril, S.Pd Kegiatan ini direncanakan mulai pada jam 10.00 WIB. Namun sayangnya peserta banyak yang datang terlambat, dikarenakan jarak dan lokasi tempuh dan luas nya Pesisir Selatan. Ketika itu peserta yang datang baru 5 orang dari 10 orang yang mendaftar. Sambil menunggu peserta lainnya datang, saya selaku moderator mempersilakan peserta mengisi absen secara online menggunakan media ponsel dari link yang telah ada. Pada saat pengisian absen secara online ini, peserta kaget, sebab belum pernah menghadiri sebuah pertemuan yang mengisi absen secara online. Kegiatan ini makin menambah  antusias peserta untuk mengikuti acara ini. Tidak lama kemudian, satu persatu peserta datang dan langsung mengisi absen online. Namun tidak semua peserta bisa mengisi absen, dikarenakan gangguan internet, nah disinilah dituntut kebersamaan dan saling membantu, sukses dan belajar bersama yang kita kemukakan. Kegiatan ini berjalan lancar dan peserta yang hadir pun, merupakan guru-guru yang belum pernah tahu tentang Komunitas Guru Belajar.  Berdasarkan hasil pengamatan saya, pada saat seorang peserta yang bernama Ibu Dani ketika menjawab pertanyaan di absen online tentang apa yang kamu ketahui tentang guru Komunitas Guru Belajar, beliau menjawab, ”Menambah  ilmu yang bermanfaat katanya.” Pada umumnya peserta ingin tahu tentang Komunitas Guru Belajar. Masuk ke kegiatan inti yaitu nonton bareng Guru Merdeka Belajar sebuah video ibu Najelaa Shihab pada Temu Pendidik Nusantara. Kegiatan ini di pandu oleh ibu Rahmi penggerak KBG Pessel, sebelum video di putar, beliau melemparkan pertanyaan ke peserta. “ Apa yang anda ketahui tentang guru merdeka belajar “ Saya sendiri termasuk awam dengan kegiatan ini, tidak pernah tau sebelum nya, Ibu rahmi pun menanyakan hal ini kepada saya, Beliau berkata silakan di jawaban Pak Nofri, silakan jawab apa yang terlintas apa yang Bapak pahami dengan Guru merdeka belajar. Saya pun menjawab, yang saya pahami dari Guru Merdeka Belajar, tidak ada keterikatan seorang Guru dalam mengajar dan belajar untuk mencapai tujuan. Kemudian para peserta lain pun menyampaikan hal apa yang mereka ketahui tentang Guru merdeka. Setelah penyampaian argumen tentang guru merdeka belajar tersebut, semua peserta menonton tayangan video tentang guru merdeka belajar. Terlihat antusias peserta serius mendengar dan mengamati tayangan video tersebut. Setelah tayangan selesai, tibalah saatnya sesi refleksi, ibu Rahmi menyampaikan pertanyaan “Diantara semua miskonsepsi, mana yang paling menggambarkan diri anda?” Lalu kebanyakan guru menjawab, kalau diberi insentif guru baru mau ikut pelatihan pada umumnya. Selanjutnya diskusi terus berlangsung tentang konsep merdeka belajar. Akhirnya semua peserta menyetujui dan sepakat bahwa untuk menjadi guru yang merdeka belajar haruslah memiliki  komitmen pada tujuan, kemudian mandiri serta mau melakukan refleksi. Meskipun tantangan yang paling besar bagi peserta adalah komitmen pada tujuan. Seorang guru mengeluhkan sulitnya mengubah mindset menjadi guru yang merdeka belajar karena situasi dan kondisi yang kurang mendukung.  Saya juga memahami dari hasil nobar hari ini. Komitmen seorang Guru Merdeka belajar adalah ketekunannya dalam perjalanan menuju tujuan yang bermakna bagi diri itu sendiri banyak hal yang terjadi di lapangan, ketidakpedulian seorang Guru terhadap murid bahkan terhadap dirinya sendiri.Tak heran saat di tanya bagaimana kelas hari ini dan apa yang dipelajari di kelas jawabannya biasa saja, seperti hari-hari yang lalu, bahkan murid ditanya ada yang tidak tau apa yang terjadi di kelas nya padahal si murid mengikuti proses belajar mengajar di kelas. Di sini semua peserta mau menjadi Guru merdeka Belajar dan telah membuat komitmennya masing-masing dan akan melakukan perubahan secara perlahan pada kelasnya. Mereka akan mulai menanamkan prinsip-prinsip guru merdeka belajar dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari hal yang kecil seperti; tidak mengharapkan insentif dan iming-iming sesuatu jika mengikuti pelatihan-pelatihan pembelajaran. Setelah acara Nobar, dilanjutkan dengan penyampaian materi tentang langkah-langkah menulis Essay dan bagaimana cara mempublikasikannya menjadi sebuah buku ber-ISBN. Peserta sangat antusias mendengarkan penyampaian materi. Kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab antara pemateri dan peserta tentang bagaimana cara menulis Essay, apa saja yang harus dipahami dan bagaimana cara mempublikasikannya. Di pertemuan perdana saya Nofri Mayasril, S.Pd bergabung dengan KGB sangat menarik, sangat memotivasi dalam menambah ilmu, saling berbagi dengan teman dan juga sebagai wadah komunikasi antar Guru dalam berbagi ilmu dan permasalahan yang ditemui dalam proses belajar mengajar di sekolah.  Demikian lah laporan singkat tentang liputan nobar Guru Merdeka Belajar. Tidak ada yang tidak mungkin dilakukan jika kita komitmen terhadap tujuan. Ayo mari kita benahi diri kita masing-masing sebagai seorang Guru, jadilah Guru yang Merdeka, berilmu dan melahirkan generasi penerus bangsa yang madani, tetap fokus dengan tujuan. Berkomitmen berarti bertanggung jawab, semua dilalui dengan tahap dan proses, tidak instan. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Memahami Murid untuk Membangun Kesepakatan Kelas

Rameeee… Mudik KGB yang ke 13 ini diadakan di Warung Upnormal Lidah Wetan Surabaya pada tanggal 24 Juni 2019 jam 18.00. Tema Membangun Kesepakatan Kelas cukup menarik minat para pendidik yang ada di Surabaya. Hal ini terlihat dari tingkat partisipasi anggota KGB di mana ada 20 orang peserta yang hadir dalam kegiatan ini.  Mudik kali ini sangat beragam pesertanya. Ada Guru Pendamping Khusus yang mengajar di SMP negeri, guru BK. guru SD, guru SMP, guru SMK maupun aktivis pendidikan. Suasana terasa sangat heterogen dimana peserta bisa saling belajar dari masing-masing jenjang.  Acara dibuka oleh Ibu Shanti selaku moderator. Pertanyaan seperti : Apa itu kesepakatan kelas, bagaimana membuat kesepakatan kelas, apa perlunya kesepakatan kelas, menjadi topic yang menarik untuk dibicarakan. Topik ini dipandu oleh 2 narasumber yaitu Bu Amel dan Bu Ely yang membantu untuk menyampaikan praktik baik yang pernah dilakukan.  Sesi pertama diisi oleh Ibu Amalia Jiandra Tiasari dari Kampus Guru Cikal. Karena suasana di warung Upnormal cukup ramai, maka Ibu Amel membagi peserta secara berpasangan. Setelah itu masing-masing pasangan diharapkan dapat bercerita mengenai pandangannya tentang apa yang harusnya dilakukan saat memulai tahun ajaran baru bersama murid. Salah satu pasangan menceritakan pengalamannya saat menjadi murid dan mahamurid. Dosen ataupun guru tidak mengajak anak-anak untuk berdiskusi mengenai apa tujuan yang ingin dicapai atau membuat kesepakatan kelas. Bahkan muncul kalimat yang menarik “Tahun ajaran baru tapi kok ndak ada yang baru” Ketika waktu mempresentasikan sharingnya  telah habis, bu Amel mengambil kesimpulan bahwa  mengenal murid menjadi hal yang utama sebelum masuk ke agenda atau jadwal belajar yang disusun. Mengenal ini bukan hanya sekedar mengenal nama, melainkan juga mengenal minat murid supaya Guru bisa mencari sela-sela murid saat memulai hubungan di tahun ajaran tersebut. Setelah pengenalan karakter dan minat murid, baru kemudian dibuat kesepakatan kelas. Yang perlu diingat adalah kesepakatan ini dipatuhi oleh kedua belah pihak yaitu pihak sang guru maupun murid. Kegiatan selanjutnya adalah mencari games yang bisa dijadikan sebagai ice breaking untuk mengenal murid. Hasil diskusi peserta mudis mengenai games yang bisa dipakai untuk mengenal murid langsung dibagikan juga ke grup WA KGB Surabaya, sehingga guru yang tidak hadir bisa mendapat informasi dari kegiatan mudik kali ini. Sesi berikutnya diisi oleh Ibu Ely dari Sekolah Cikal Surabaya, Di sesi ini bu Ely membagikan pengalamannya membuat kesepakatan kelas bersama para murid. Bu Ely menjelaskan bahwa dalam membangun kesepakatan kelas, maka yang menjadi dasar pemikiran adalah dialog yang diarahkan pada kebutuhan murid sehingga murid tidak diabaikan dalam pembuatan kesepakatan itu. Bu Ely mengajarkan bahwa murid juga harus dapat memahami tujuan pembuatan kesepakatan kelas dan poin-poin kesepakatan. Murid diajak untuk berdiskusi kesepakatan macam apa saja yang hendak diterapkan dan menggali pemahaman mereka, mengapa kesepakatan itu dibuat, dan apa akibatnya apabila kesepakatan itu dilanggar. Dari pemahaman akan akibat pelanggaran, maka murid diharapkan dapat menjaga diri untuk berperilaku sesuai dengan kesepakatan di kelas. Bu Ely juga mengajarkan, walau mungkin kesepakatan yang dibuat dengan murid dirasa tidak efektif, namun bukan berarti harus dihentikan sama sekali, melainkan harus dievaluasi dalam pelaksanaannya. Evaluasi bisa dilakukan sebulan sekali, per-semester, atau bahkan seminggu sekali jika diperlukan. Kesepakatan kelas itu sendiri bersifat fleksibel,  bisa berkurang atau bertambah sesuai dengan kebutuhan dan tentu saja disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak.  Setelah bercerita mengenai praktik yang pernah dilakukan, bu Ely kemudian membagi menjadi 2 kelompok untuk mencoba membuat kesepakatan kelas. Para peserta tampak antusias dan bersedia untuk sharing mengenai contoh kesepakatan yang dibuat di kelas. Tak terasa diskusi yang sangat informatif ini berlangsung selama 3 jam. Ada banyak kesan dan pesan yang disampaikan oleh para peserta mudik. Bu Rida yang terpaksa absen beberapa kali dari kegiatan mudik KGB menyatakan bahwa mudik kali ini mengobati kangennya. Pak Gharud pun menimpali “mudik ini sangat menarik, apalagi karena banyak yang datang”. Pak Gharud berharap semoga makin banyak acara yang diadakan oleh KGB agar makin banyak ide untuk belajar dan berkembang bersama para murid. 

Merdeka Belajar, Mewujudkan Pengalaman Belajar yang Bermakna

Pertama kali mendengar kata “merdeka belajar” cukup menggelitik hati saya. Apakah guru  bebas seenaknya mengajar, atau apakah murid bebas seenaknya belajar. Hal ini terjawab sudah setelah saya bergabung dalam KGB Pekalongan. Saya mulai mengenal KGB Pekalongan sejak mengikuti kegiatan Ransel Ramadhan tahun lalu. Mengikuti kegiatan-kegiatan KGB Pekalongan membuat semangat belajar saya semakin bertambah. Dengan mengikuti kegiatan KGB Pekalongan membuat saya sadar bahwa guru haruslah selalu meng-upgrade ilmu, guru harus selalu belajar, lebih-lebih bisa berbagi kepada teman sesama guru. Semakin lama semakin kami penasaran dengan praktek merdeka  belajar. Akhirnya ketika TPN 2018 saya memilih mengikuti kelas Guru Unun tentang Merdeka Belajar. Tidak hanya itu saja, sembari praktek merdeka belajar di kelas, agar sewaktu-waktu saya bisa kembali membuka materi, saya beli buku tentang merdeka belajar. Saya ingin praktek merdeka belajar yang positif ini menyebar di kota Pekalongan. Karena pengalaman belajar bermakna dapat terwujud karena adanya kemerdekaan belajar bagi guru dan siswa di sekolah. Dengan melobi sana sini, akhirnya ada sekolah yang bersedia untuk dijadikan tempat. Pada hari Kamis, 23 Mei 2019 pukul 13.00 WIB saya berkesempatan mengadakan nobar merdeka belajar. Tidak hanya nobar merdeka belajar saja, tetapi saya mengajak Guru Desi dan Guru Zidnil untuk berbagi. Guru Zidnil berbagi materi merdeka belajar menjelang PAT dan Guru Desi berbagi materi peningkatan literasi dengan panen tumbar. Tentang Guru Zidnil, beliau berbagi 3 kegiatan sekaligus. Yang pertama math challenge. Math challenge ini untuk mengetahui seberapa pemahaman anak terkait Matematika untuk persiapan PAT. Guru Zidnil mengolahnya dalam bentuk games. Anak tak terasa kalau masih evaluasi. Beberapa soal Matematika disebar di beberapa tempat dan anak menjelajahi beberapa sambil mengerjakan soal. Anak terlihat antusias mengerjakan dan belajar. Kegiatan kedua adalah smart id. Guru Zidnil memanfaatkan meja dan lantai untuk menempel double tip. Saling mengkaitkan dan membentuk sudut. Anak dibagi dalam beberapa kelompok dan dengan metode widow shopping. Ternyata cara ini membuat anak lebih semangat belajar daripada dengan metode ceramah saja. Kegiatan ketiga, Guru Zidnil berbagi pembelajaran dengan film memakai sinedu.id yang dipadukan dengan materi bahasa Indonesia. Anak-anak sangat senang dengan cara ini.  Selanjutnya, Guru Desi berbagi materi tentang peningkatan literasi dengan panen tumbar (papan temple dan kartu bergambar berbantuan kamus digital). Guru Desi mengajar mapel TIK. Sebelumnya guru Desi memilih musik untuk mengiringi pembelajaran. Sambil bermain dan belajar. Tiap kali music berhenti, giliran anak mencoba membaca kartu dan kemudian menempel pada papan. Kartu ini berisi gambar perangkat keras computer disertai dengan tulisan. Jadi anak tak hanya mengetahui tulisan dan pengucapan bahasa Inggris tetapi juga tahu fungsi dari alat tersebut. Jika anak masih salah dalam pelafalan maka bisa belajar sambil membuka oxford living dictionaries. Sebelum Guru Desi dan Guru Zidnil berbagi, kita mengadakan nobar merdeka belajar, kemudian dilanjut dengan diskusi, dan terakhir adalah refleksi. Kesimpulan hasil diskusi kami di antaranya adalah kita sepakat bahwa : Proses belajar membutuhkan kemerdekaan dan harus melibatkan semua pihak Pelajar dan guru yang merdeka mempunyai komitmen pada tujuan belajar. Pelajar mengetahui mengapa dan untuk apa dia belajar, begitu pun guru Pelajar dan guru merdeka adalah yang mandiri mengatur strategi untuk mencapai tujuan belajar. Seperti menekankan bahwa motivasi internal dalam belajar sangatlah penting, pelajar harus dilibatkan dalam merencanakan tujuan belajar, menjelaskan manfaat dan tujuan belajar, memberikan dukungan yang tepat, memberi kritik yang konstruktif, pelajar bertanggung jawab dalam proses belajarnya sendiri, merancang tantangan belajar, memberikan pilihan dalam proses belajar, melibatkan pelajar dalam proses asessment Pelajar dan guru merdeka harus melakukan refleksi. Memahami sejauh mana belajar, mengetahui sisi mana yang perlu dikembangkan, memantau seberapa jauh proses perjalanan belajarnya kemudian merencanakan follow up Pengalaman belajar bermakna akan terwujud jika ada kemerdekaan dalam belajar. Belajar itu tidak harus dengan ahli, tapi dengan sesama guru pun bisa belajar Belajar sebagai kebutuhan Belajar dengan tujuan dalam konteks Belajar butuh waktu Kompetensi tumbuh bersama lingkungan Merdeka belajar itu kita bisa belajar dengan siapapun, di manapun kita berada, dan kapan pun selalu belajar. Setelah nobar dan berdiskusi, saya mengajak teman-teman guru untuk berefleksi bersama. Setelah nobar kita jadi semakin sadar bahwa selama ini kita masih terkurung dengan segala miskonsepsi belajar. Padahal sebenarnya merdeka belajar adalah sebuah kebutuhan. Kita semua sepakat mengikis sedikit demi sedikit miskonsepsi yang selama ini ada dalam diri kita.

Guru Merdeka Belajar, Guru yang Mandiri

“Apa itu Merdeka Belajar?” “Apa berarti bebas tidak Belajar?” “atau justru Belajar yang seperti apa?” “Kenapa Guru harus Merdeka dalam Belajar?” Keempat pertanyaan ini merupakan pertanyaan pemantik yang saya tanyakan kepada peserta TPD KGB Lamongan pada tanggal 15 mei 2019 di MAN 1 Lamongan. Diawal diskusi peserta masih belum memahami makna merdeka belajar. Bagi peserta, merdeka belajar berarti belajar dengan cara sebebas-bebasnya, artinya belajar tidak harus berada di dalam kelas. Sayapun setuju dengan pernyataan itu, bahwa belajar tidak harus berada di dalam kelas, dimanapun tempatnya dan dengan siapapun orangnya kita dapat belajar bersama. Melalui forum ini saya menjelaskan kepada peserta bahwa konsep dari merdeka belajar sangat berkaitan dengan 4 kunci pengembangan guru, yaitu: Kemerdekaan, Kompetensi, Kolaborasi, dan Karier. Sebelum masuk ke materi kunci pengembangan guru, saya menanyakan kembali kepada peserta TPD mengenai cita-cita dari seorang guru. Seringkali sebagai seorang pendidik/guru menanyakan “Apa cita-citamu?” kepada murid, namun kita sering kali lupa akan cita-cita kita sendiri. Jawaban menarik terucap dari Guru Anis, “Saya ingin menjadi guru yang dapat berinovasi dalam pengembangan metode dan media ajar yang sesuai dengan kebutuhan murid”. Di saat saya bertanya apa alasannya Guru Anis menjawab “Agar murid saya menyukai mata pelajaran saya serta terlibat aktif dalam proses pembelajaran”.  Dari diskusi singkat tersebut dilanjutkan dengan penanyangan video merdeka belajar dari ibu Najelaa Shihab yang berdurasi 15 menit. Dalam video tersebut dipaparkan mengenai beberapa cara mejadi guru yang merdeka belajar dan miskonsepsi yang memang terjadi saat ini. Ada tiga poin utama mengenai Guru Merdeka Belajar. Pertama, guru yang merdeka belajar berarti guru yang memiliki komitmen pada tujuan. Guru yang merdeka akan memahami mengapa perlu mengajar suatu materi serta kaitannya dengan aplikasi kehidupan sehari-hari. Namun seringkali sebagai pendidik kita terjebak pada tugas-tugas administratif, akreditasi, serta ketentuan birokrasi yang sebenarnya hanyalah syarat yang kemudian berubah menjadi tujuan dan prioritas utama. Kedua, guru yang merdeka itu mandiri, selalu bergantung pada dirinya untuk mengatasi tantangan, tidak mudah menyerah menghadapi tantangan, serta tidak mudah menyalahkan orang lain dan keadaan. Ketiga, guru yang merdeka itu reflektif, artinya berani meminta umpan balik secara aktif dan menilai diri sendiri dengan objektif. Pada kenyataannya kita cenderung menutup mata menolak melihat cermin diri kita sendiri dengan seribu alasan. Kita selalu mengatakan bahwa masyarakat belum paham mengenai sistem pendidikan, anak-anak tidak mengerti, orang tua akan menentang, peraturan pemerintah yang ruwet, dan lain sebagainya. Padahal itu adalah ketakutan kita sendiri untuk menuju perubahan. Selanjutnya, dipaparkan mengenai ragam miskonsepsi yang kerap dilekatkan pada guru. Diantaranya mengenai stigma bahwa guru hanya mau belajar apabila mendapatkan sertifikat atau uang. Namun guru-guru di KGB justru melawan miskonsepsi tersebut. “Guru-guru belajar yang hadir hari ini sebetulnya belajar karena kebutuhan alamiah. Banyak yang tidak percaya bahwa rekan-rekan guru ini datang dengan biaya sendiri, tanpa janji sertifikat atau uang apapun, hanya untuk belajar,” ujar bu Najelaa.  Miskonsepsi lainnya adalah mengenai guru hanya bisa belajar dari ahli atau pakar pendidikan, faktanya di komunitas belajar, guru saling belajar dari pengalaman rekan seperjalanan. Selanjutnya mengenai miskonsepsi guru diburu target belajar yang dipaksakan, padahal guru belajar itu butuh waktu. Miskonsepsi selanjutnya adalah mengenai guru yang selama ini hanya cukup perlu diberikan cara bagaimana melakukan (how to) saja, tanpa perlu tau mengapa (why) perlu melakukan suatu hal dalam pembelajaran. Padahal Guru profesional itu sebetulnya guru yang adaptif. Kita yang ketemu anak setiap hari tahu, betapa pentingnya peran guru yang adaptif. Setiap tahun ajaran, setiap minggu, bahkan setiap hari. Setiap murid kita butuh hal yang berbeda dari kita, sehingga ‘tahu kenapa’ menjadi sangat esensial. Setelah menonton video tersebut, Guru Anis kembali bertanya “Bagaimana jika seorang guru yang ingin merdeka belajar namun tidak didukung oleh lingkungan kerjanya? Misalnya: saya sering sekali mengajak guru-guru di MAN untuk berdiskusi dan berfleksi mengenai inovasi cara atau proses belajar-mengajar dalam kelas, namun mereka selalu menolak dengan dalih lebih nyaman mengajar dengan cara text book” Pertanyaan ini mengingatkan saya pada buku yang ditulis oleh ibu Najelaa Shihab “Merdeka Belajar di Ruang Kelas”. Pada buku tersebut tertulis bahwa kemerdekaan guru membutuhkan lingkungan yang mendukung. Artinya, guru sebagai individu hanyalah potensi dan akan terwujud menjadi kompetensi bila ditumbuhkan oleh ekosistem yang mendukung. Lingkungan kerja perlu mengurangi rasa takut salah, menghormati proses pemecahan masalah bersama, optimis memfasilitasi usaha guru, memberikan umpan balik yang berdasarkan bukti dan observasi yang direncanakan.  Dari pemaparan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa menjadi guru yang merdeka belajar selain timbul dari dalam diri sendiri juga harus didukung oleh lingkungan kerja serta rekan kerja itu sendiri, dalam hal ini adalah sekolah dan rekan sesama guru. Karena sejatinya tidak ada guru yang bisa belajar sendirian dan tidak ada guru yang bisa merdeka belajar sendirian. Kemerdekaan guru adalah kapasitas individu yang didukung oleh ekosistem yang baik.  Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?