Pembelajaran Jarak Jauh Menyenangkan

Apakah murid dapat merasakan pembelajaran jarak jauh yang menyenangkan? Apakah benar pembelajaran jarak jauh yang guru lakukan sudah menyenangkan? Pertanyaan memang kerap membuat guru resah, karena murid banyak mengeluh mengenai pembelajaran jarak jauh. Selain karena adanya jarak, beban tugas juga ikut andil memberikan beban psikologis pada murid. Ihwal ini, guru sepertinya memang harus putar strategi untuk melakukan Pembelajaran jarak jauh yang menyenangkan dan bermakna bagi murid. Alih-alih murid belajar, justru kadang murid tertekan karena satu-satunya tolak ukur keberhasilan hanya ketika murid mengerjakan banyak tugas yang kadang tidak disadari tujuanya oleh guru.  Nah, kali ini kita akan mendengar cerita dari anak-anak yang menjalani PJJ selama pandemi ini. Di Ransel 4 ini, KGB Pekalongan mengadakan Kelas Murid yang bertujuan untuk mendengar cerita murid dari berbagai sekolah mengenai pembelajaran jarak jauh.    Sebagai kelas pembuka, Ransel 4 ini dipandu oleh Lilik Nur Indah Sari dari KGB Pekalongan, tiga narasumber yakni Ayunda Damai Fatmarani. M. Fedrik Manzela yang ditemani wali kelasnya Bu Badriyah, dan Maryam Adelia saling berbagi cerita mengenai Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang sedang mereka hadapi.  Pagi itu Guru Lilik membuka cerita dengan dengan bertanya pada 3 narasumber.  “Gimana sih perasaan kalian saat menghadapi PJJ ini?” Zela dan Damai kompak menjawab bahwa mereka lebih suka belajar dirumah, karena selain belajar mereka juga dapat menjalankan hobi. Zela yang hobi menggambar, selama PJJ ini ia makin rajin menggambar dan membuat komik. Sambil tersenyum, Damai pun menuturkan hal hampir serupa. “Saya merasa senang, soalnya dari belajar dirumah ini lama-lama bisa belajar untuk jadi lebih mandiri untuk membuat prioritas tugas dan kegiatan-kegiatan lainya”. Saat ditanyai lebih lanjut mengenai PJJ yang sedang mereka jalani, murid di Sekolah Cikal Surabaya ini menuturkan jika ia lebih tahu mana yang harus ia dahulukan sehingga dapat memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk melakoni agenda yang sudah ia susun. “Yang pertama tugas-tugas sekolah. mungkin do date atau pengumpulanya yang paling cepat sampai yang paling terakhir. Selain itu, saya sendiri juga punya blog, sehingga saya menyempatkan waktu untuk menulis disitu (blog) dan untuk selingan-selingan ada hobi yang lainya juga.” imbuh Damai. Namun, lain halnya dengan Maryam Adelia atau yang akrab disapa Adel. Murid di SMK Karangdadap ini mengaku justru sedih saat belajar dirumah. “Karena kalau misalnya belajar dirumah kayak sendiri belajarnya. Kemudian juga merasa ada yang kurang, suasananya juga lebih beda” ungkap Adel. Diakui Adel, bahwa ia lebih suka belajar bersama teman-temannya di kelas. Untuk mengusir rasa jenuh ia melakukan hal disukai, seperti menyanyi.  Di kolom komentar, akun Nur Muzdalifatul Ummiyah menuturkan bahwa ia lebih suka belajar dirumah, karena lebih leluasa dan enjoy mengerjakan tugas, dan bisa memiliki lebih banyak waktu untuk belajar lebih produktif. Kemudian, pemilik akun Marsiha Daily mengungkapkan, “Tadinya senang, jadi lebih punya banyak waktu dengan mama-papa masak bareng buat kreasi. Tapi sekarang sudah agak bosan jadinya.”    Selanjutnya, Guru Lilik melempar pertanyaan kepada 3 narasumber, “Apakah kalian rindu dengan teman-teman di sekolah?”  “Saya rindu sekali sama teman-teman, sahabat, kangen sama kantin, kangen sama pelajaran, kangen sama semuanya yang ada disekolah.” Jawab murid di MI Kranji 1 Kedungwuni ini. Meski ia mengaku rindu belajar di sekolah, ia tetap lebih menyukai belajar di rumah.  Terakhir, Guru Lilik bertanya pada Bu Badriyah, “Ibu pernah gak memasukan hobinya anak-anak ke dalam rancangan pembelajaran?” “Sering bu, misalnya seperti pembelajaran umum ketika belum pandemi itu biasa saya masukan. Misalkan, saya kasih materi tentang otot manusia dan manfaatnya itu anak saya kelompokkan jadi beberapa kelompok untuk membuat gubahan lagu biar anak-anak (ingat). Otomatis ketika anak-anak membuat gubahan lagu kan sering baca materinya terus dinyanyikan lagi-dinyanyikan lagi otomatis dia (murid) akan teringat terus dan hafal dengan sendirinya. Terus juga membuat tampilan drama, kadang juga  membuat komik.” Ungkap Bu Badriyah. Hal ini dilakukan untuk menghadapi hobi anak yang sangat bermacam-macam, jadi anak-anak merasa senang di kelas dan tidak monoton.    “Kalau yang akhir-akhir ini di pelajaran bahasa diminta untuk analisis dan review literatur. Nha dari sini, saya dan teman-teman saya bisa memilih karya sastra favorit. Dari situ dibuat analisis literaturnya, jadi gak Cuma memilih karya sastra yang disukai. Akhirnya saya sendiri biasa menulis resensi buku jadi dari pelajaran ini bisa belajar bagaimana bisa improve dalam review buku itu.” Meski hal tersebut hanya kebetulan, namun menurut penuturan Damai bahwa di pelajaran lain ada guru yang membebaskan muridnya untuk membuat apapun yang mereka sukai.”Biasanya setiap 3 bulan sekali ada refleksi akhir pembelajaran gitu, dan disitu karena murid kan beda-beda. ada yang suka menulis, ada yang suka menggambar. Jadi dari situ dibebaskan untuk cerita  selama 3 atau 6 bulan itu belajar apa aja dan dirangkum. Karena saya suka menulis jadi saya membuat esai, teman saya ada yang bikin komik, bikin poster  jadi beda-beda sih tiap muridnya. memang diberikan  kebebasan.  “Kalau di pembelajaran biasanya sih, ada beberapa kayak olahraga saya juga ada sedikit hobi di olahraga sering jadi materi. Kalau di seni budaya kelas X juga pernah masuk dalam materi. Untuk akhir-akhir ini, kemarin beberapa pelajaran mengenai hobi. Disitu kami diminta merencanakan suatu usaha dari hobi yang kita punya.” Ketika ditanya oleh Guru Lilik mengenai sekolah setelah pandemi, Zela menjawab bahwa ia ingin sekolah seperti biasa namun juga diimbangi dengan pembelajaran online.  Lebih suka balance soalnya kalau misalnya di sekolah itu bisa belajar bareng. Diskusi juga lebih lancar bertanya dengan guru juga lebih enak, karena bisa tatap muka. Cuma memang kalau belajar di rumah sendiri juga enaknya bisa lebih fleksibel  terkait pengaturan prioritas pribadi jadi suka kalau misalnya ada balance dari keduanya.  Menutup kelas murid ini, sepertinya kita masih perlu mengingat bahwa makna belajar bukan berarti mengerjakan tugas sebanyak mungkin. Cerita Zela, Damai, dan Adel  memberikan guru sedikit gambaran bagaimana PJJ membuat murid justru lebih menikmati waktu belajarnya atau justru PJJ membuat murid merasa jenuh? 

Menjadi Guru Merdeka Belajar

Apa yang terlintas di benak, saat kita mendengar istilah guru merdeka belajar? Mengapa harus menjadi guru merdeka belajar? Murid memiliki potensi yang luar biasa. Setiap murid memiliki cita-cita setinggi langit. Akan tetapi murid tidak bisa mengoptimalkan potensinya jika guru tidak memberikan pembelajaran yang bermakna untuk mereka. Potensi tersebut akan sulit berkembang jika siswa tidak memiliki kemerdekaan belajar.  Namun kemerdekaan belajar murid hanya bisa terjadi jika kita sebagai pendidik memiliki kemerdekaan dalam belajar. Sudahkah kita berefleksi terhadap diri sendiri, “Sudahkah aku menjadi guru yang merdeka?”. Untuk mendukung tujuan di atas, tim pengurus Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) Daerah Sidoarjo mengajak guru-guru Sidoarjo untuk bergabung belajar bersama menjadi guru merdeka belajar, untuk mengikuti kegiatan webinar bertajuk nonton bareng. Pada masa pandemi saat ini, kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui dari melalui aplikasi Zoom yang dilaksanakan pada tanggal pada tanggal 13 September 2020, pukul 19:00 WIB. Acara dibuka oleh MC yang super cool oleh Pak Hose dan Bu Mega dari pengurus KGBN daerah Sidoarjo dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Pak Hose dan Bu Mega menyapa para peserta dengan penuh semangat. Kegiatan ini dihadiri oleh kurang lebih 40 peserta. Menginjak ke acara inti, acara yang paling ditunggu-tunggu yaitu Nonton Bareng (Nobar) guru merdeka belajar. Sebelum Nobar dimulai, Moderator memberikan pertanyaan reflektif. Untuk apa hal tersebut diberikan di awal? Agar peserta bisa menghayati apakah selama ini sudah menjadi guru yang merdeka apa belum. Dengan adanya pertanyaan reflektif peserta diharapkan dapat lebih menghayati makna merdeka belajar. Acara sempat terganggu karena ada masalah teknis jaringan internet. Alhamdulillah masalah tersebut dapat ditanggulangi dengan baik, bu Inka dan bu Nisrin selaku moderator langsung sigap mengendalikan acara.    Pembicara dalam video tersebut adalah ibu Najelaa Shihab atau yang akrab dipanggil bu Elaa. Beliau adalah pemerhati dan pakar pendidikan yang aktif baik dari forum-forum dalam lingkup nasional maupun internasional. Beliau merupakan pendiri Sekolah Cikal, yang mana lembaga tersebut telah membuat serangkaian program pelatihan guru yang bertemakan Merdeka Belajar. Pelatihannya pun sudah dilakukan sejak 2015 hingga saat ini. “Pendidikan adalah belajar, bergerak, dan bermakna, pendidik adalah kita, semua murid semua guru”, (Najelaa Shihab). Atas gagasan itulah beliau bergerak cepat, membuat gerakan bersama dengan guru untuk pendidikan Indonesia yang merdeka dengan menginisiasi berdirinya Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN). Dalam Nonton Bareng (Nobar) video merdeka belajar, Bu Elaa juga menyampaikan adanya miskonsepsi guru dalam belajar, untuk itu itu kita perlu melawan miskonsepsi tentang proses guru merdeka belajar, miskonsepsi tersebut yaitu:  Belajar perlu insentif eksternal X belajar adalah kebutuhan alamiah. Belajar tidak menunggu adanya insentif dulu atau menunggu janji jabatan baru mau belajar. Belajar harus dari ahli X belajar dari sesama guru. Banyak yang bilang belajar itu harus dari seorang ahli, pengisi materi harus memiliki jabatan di atas guru. Di Komunitas Guru Belajar dibuktikan, bahwa belajar yang paling efektif adalah belajar dari guru sendiri yang saling berbagi praktik baik dalam pembelajaran. Belajar cukup terbatas “how to” X belajar dengan tujuan dalam konteks. Banyak yang tidak mau ribet dalam mengajar.  Guru yang profesional harusnya bisa menyesuaikan diri dengan konteks di lapangan seperti apa. Kompetensi bersifat individual X kompetensi tumbuh bersama lingkungan. Masalah Pendidikan di lapangan sangat kompleks, tidak cukup jika hanya meningkatkan kompetensi secara individual. Guru juga perlu sebuah ekosistem atau lingkungan yang mendukung.  Setelah selesai pemutaran video, Moderator membuka sesi diskusi dari pertanyaan yang sudah diberikan di awal sebelumnya. Pertanyaan (1) diantara semua miskonsepsi tadi, mana yang paling menggambarkan diri anda? Salah satu peserta memberikan pendapat yang cukup menarik. Menurut pak Imam Muddin, “Saya menggambarkan diri saya sendiri sebagai seorang guru yang masih tertatih tatih dan masih terbelenggu cara-cara lama dan tersibukkan administrasi, saya belajar masih diburu waktu, diburu harus selesai menyampaikan materi dalam target sebentar”. Peserta lainnya juga memberikan tanggapan. Menurut bu Sari Novita, “Selama ini, saya ngajar ya seperti itu, menyodorkan ilmu, memberi soal, menilai, mengisi rapot”. Pak Imam Mudin dan bu Sari Novita menyampaikan bahwa selama ini mereka belum merasa menjadi guru yang belum merdeka, waktu beliau mengajar banyak dihabiskan untuk mengejar target materi, menyiapkan ujian dan tuntutan administrasi.  Pertanyaan (2)  Sebagai guru merdeka belajar, perubahan apa yang ingin anda lakukan di kelas? Beberapa peserta memberikan tanggapan yang sangat reflektif. Menurut bu Sri Supartini “Menjadi teman bagi murid saya, sehingga mereka nyaman untuk belajar”. Bu Siti Agustini juga menanggapi, “Semua guru harus selalu belajar menjadi guru profesional yang bisa beradaptasi dengan anak didik dan dapat mengantarkannya mencapai kesuksesan”. Bu Sri Supartini dan bu Siti Agustini sepakat bahwa untuk melakukan perubahan dalam kelas guru harus bisa menjadi teman yang baik buat siswa dan untuk menjadi guru yang profesional guru harus bisa adaptif atau menyesuaikan diri terhadap perubahan.  Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Pertanyaan terakhir yaitu sebagai guru merdeka belajar, pengembangan diri apa yang ingin anda lakukan bersama Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) Daerah Sidoarjo? Banyak peserta yang antusias untuk tergabung dalam KGBN daerah Sidoarjo, untuk bisa mengembangkan diri menjadi guru merdeka belajar. Menurut bu Ni Nyoman Sri Widanti, “saya ingin ikut segala bentuk pengembangan diri yang diberikan KGBN khususnya di Sidoarjo, praktek di lembaga, dan mengajak teman-teman guru lain untuk ikut belajar bersama”. Peserta yang lainnya juga tidak mau kalah dalam memberikan tanggapan. Menurut bu Nani, “terlalu banyak aplikasi untuk merdeka belajar, tapi tidak dipakai, jadi mencoba secara perlahan melakukannya sendiri sambil belajar di KGB, bertemu kawan-kawan yang seide, menjadi lebih semangat untuk mentransfer ilmu pada teman-teman”.  Menjadi guru yang merdeka belajar, guru butuh lebih banyak waktu untuk memahami siswa, merancang pembelajaran yang adaptif sesuai dengan karakteristik siswa, butuh dukungan oleh ekosistem yang baik. Akan tetapi hal tersebut terhambat karena adanya miskonsepsi Dari sekian peserta yang mengikuti kegiatan nonton bareng, mereka menjadi terdorong untuk menjadi guru yang merdeka dan ingin ikut bergerak untuk membangun ekosistem belajar bersama Komunitas Guru Belajar Nusantara Daerah Sidoarjo dan ingin mengajak teman guru untuk tergerak. Acara kemudian diserahkan moderator ke MC untuk menutup acara. Sebelum penutupan acara, pak Hose dan bu Mega selaku MC meminta peserta mengaktifkan kamera untuk sesi foto bersama. Seluruh peserta dan panitia acara memakai dresscode merah, pilihan tema warna merah dipilih karena mewakili makna merdeka. Acara kemudian ditutup dengan doa dengan penuh … Read more

KGB Binjai Mensosialisasikan Merdeka Belajar

Sejak akhir bulan Februari 2020, para penggerak KGB Binjai aktif melakukan sosialisasi merdeka belajar ke sekolah-sekolah. Semua ini berawal dari istilah merdeka belajar yang disampaikan Bapak Mendikbud Nadiem Makarim menjelang akhir tahun 2019. Pihak sekolah menyambut baik kedatangan para penggerak karena penasaran dengan istilah ‘merdeka belajar’. Setelah serangkaian sosialisasi yang kadang menegangkan dan melelahkan namun tetap menyenangkan, hari ini, Selasa, tanggal 10 Maret 2020, sosialisasi merdeka belajar kembali hadir di SMPN 1 Binjai pada pertemuan MGMP IPA Kota Binjai. Jumlah peserta sebanyak 28 orang guru IPA di kota Binjai. Siang itu panas sekali, namun tidak menyurutkan semangat para penggerak KGB Binjai untuk hadir di SMPN 1 Binjai. Satu per satu, penggerak hadir lalu berkoordinasi dengan pihak sekolah dan ketua MGMP IPA Kota Binjai, Bapak Joyo Martono, S.Pd. Beliau menghargai kedatangan para penggerak dan sangat berharap mendapatkan pencerahan dari sosialisasi ini. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Acara dibuka oleh Bu Lusi dengan memperkenalkan diri dan para penggerak KGB Binjai yang hadir, yaitu Pak Surya, Bu Ega, Bu Erma, Pak Arif, dan Bu Susi. Selanjutnya, Bu Lusi juga mengajak peserta untuk memperkenalkan diri secara singkat. Bu Lusi kemudian memaparkan urutan acara sosialisasi dan mengajak peserta untuk membuat kesepakatan bersama selama acara berlangsung, yaitu berpartisipasi aktif, saling menghargai, dan bersenang-senang. Berikutnya, Pak Surya menyampaikan profil singkat KGC dan KGB serta memperkenalkan Ibu Najelaa Shihab sebagai inisiator KGC dan KGB. Tidak lupa menyampaikan kehebohan TPN 2019 yang baru berlalu dengan menyajikan foto-foto kegiatan selama TPN 2019. Salah satu fotonya adalah kehadiran Bapak Nadiem Makarim di kelas TPN 2019. Profil KGB Binjai juga disajikan secara singkat. Sekaligus mengajak peserta untuk bergabung menjadi anggota KGB Binjai. Supaya lebih meyakinkan, maka Pak Arif, sebagai penggerak baru, didaulat untuk menyampaikan alasannya mengapa tertarik untuk masuk ke dalam KGB Binjai. Seperti sosialisasi yang telah diadakan sebelumnya, salah satu bagian acara yang tidak boleh tidak ada, wajib ada, adalah nobar video merdeka belajar. Untuk bagian ini, Bu Susi yang berperan sebagai fasilitator mengajak peserta melakukan refleksi.  Selesai refleksi, giliran Bu Erma menyampaikan dengan lebih spesifik tentang 3 dimensi merdeka belajar, yaitu tujuan, cara, dan refleksi. Bu Ega melengkapi penjelasan dengan memaparkan praktik baik mengajar yang pernah dilakukan secara pribadi maupun yang pernah dilakukan oleh anggota KGB yang ada di seluruh nusantara. Memasuki sesi tanya jawab, keringat bercucuran. Ruang guru tempat kita melakukan acara hanya menggunakan kipas untuk mendinginkan ruangan. Namun syukurlah, para guru tetap bertahan dan ada yang mencoba bercanda sehingga suasana terasa tetap santai walau gerah. Ibu Mastina memberikan respon bahwa dia mendapatkan pengertian merdeka belajar sebagai suatu kondisi memberikan keamanan dan kenyamanan dalam proses belajar. Kondisi merdeka adalah kondisi dimana kita merasa aman dan nyaman dalam melakukan segala sesuatu. Bu Ega mendukung pemahaman Bu Mastina sembari menambahkan peran guru adalah mengetahui potensi yang dimiliki anak dan mengarahkan anak untuk merasa merdeka mempelajari sesuatu yang menjadi bakatnya.  Pak Mukhlis mempersoalkan RPP yang sering tidak dikerjakan dengan benar. Dia memberi contoh tindakan guru yang copy paste RPP SD padahal mengajar di PAUD. Dia juga mempertanyakan KI dan KD seperti apa yang sesuai dengan merdeka belajar. Bu Ega menanggapi agar tetap mengikuti kurikulum yang ada. Mengubah kurikulum adalah sebuah proses yang membutuhkan waktu yang lama. Yang dilakukan guru merdeka belajar adalah bagaimana cara memenuhi KI dan KD sesuai dengan kemampuan dan kondisi anak. Berpihak kepada anak. Beberapa guru memberikan respon bahwa mereka masih bingung dengan konsep merdeka belajar. Selama ini, guru terbiasa mendapatkan juknis dalam mengerjakan tupoksi. Saat diminta untuk merdeka, semua kebingungan. Bu Ega memberikan ilustrasi tentang seekor ikan paus yang dikerangkeng dengan dinding kaca di dalam laut. Berkali-kali sang ikan mencoba mendobrak dinding kaca agar bisa menangkap ikan di balik kaca, namun tidak berhasil dan merasa kesakitan. Demikian terjadi selama bertahun-tahun hingga sang ikan akhirnya tidak lagi mendobrak kaca dan hanya menangkap ikan di sekitar bagian dalam kaca. Suatu hari, saat kaca tersebut diangkat, sang ikan tetap tidak berenang melewati daerah yang pernah dibatasi oleh kaca. Itulah kondisi yang sedang terjadi saat ini. Guru kebingungan karena diminta untuk ‘berenang melewati dinding kaca’. Sesuatu yang selama ini dirasakan mustahil/tidak pernah dilakukan. Karena hari sudah semakin sore, akhirnya Bu Lusi diminta untuk menutup acara. Bu Lusi  mengajak peserta menenangkan diri diiringi sebuah lagu yang dibunyikan dari telepon genggamnya. Sambilan Bu Lusi membacakan sebuah teks yang isinya mengajak peserta berefleksi tentang tugasnya sebagai guru.  Selesai acara, para penggerak berbicara santai dengan beberapa guru.  Dari percakapan, para penggerak mendapat kesan bahwa para peserta masih belum puas terhadap sosialisasi yang diberikan. Harapan para guru adalah mendapatkan semacam ‘rumus’ melaksanakan merdeka belajar. Para penggerak manggut-manggut menyadari bahwa para peserta adalah guru IPA yang umumnya memiliki cara berpikir sistematis dan terstruktur. Bagi para penggerak, hal ini menjadi sebuah refleksi. Sama seperti ketika mengajar murid atau kelas yang berbeda, maka tindakan yang diberikan juga harus berbeda, tidak bisa disamakan semua. Sosialisasi kali ini sungguh luar biasa. Tidak sabar untuk menunggu sosialisasi beikutnya. Semangat KGB Binjai! Bapak Ibu ingin mengikuti pelatihan Guru Merdeka Belajar?

Membahas Merdeka Belajar di Masa Pandemi

Perlukah membahas Merdeka Belajar di masa pandemi?Mengapa harus merdeka belajar dan harus memahami konsep tersebut? Apakah merdeka belajar hanya sekedar trend yang digaungkan?Apakah guru sudah memahami arti dari merdeka belajar sebelum menerapkan merdeka belajar itu sendiriApakah merdeka belajar lantas membuat guru terbebas dari tugasnya sebagai seorang pendidik? dan memberikan kebebasan sepenuhnya kepada siswa untuk belajar tentang apa saja yang mereka sukai dan mereka inginkan? Untuk menjawab pertanyaan dan menuntaskan rasa penasaran tersebut, Komunitas Guru Belajar Wajo berinisiasi melaksanakan Temu Pendidik Daerah. Namun karena nobar guru merdeka belajar dilaksanakan di masa pandemi, maka dilakukan melalui aplikasi Zoom Meeting. Nonton bareng melalui aplikasi Zoom Meeting ini dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 17 Agustus 2020 pukul 13.30 WITA. Yang bertindak sebagai host Besse Tenriola yang merupakan anggota KGB Wajo dan bertugas di SMP Negeri 1 Majauleng. Kemudian yang bertindak sebagai moderator adalah Lewa, M.Pd. yang merupakan anggota KGB Wajo yang bertugas di SMP Negeri 2 Majauleng. 30 menit sebelum acara dimulai host memulai untuk mengaktifkan room yang sudah dibua sebelum hari pelaksannan nobar. Tepat pukul 13.00 WITA, host memulai kegiatan dengan menjelaskan kepada peserta tentang aturan/tata tertib selama pelaksanaan berlangsung. Setelah itu dilanjutkan oleh moderator. Jumlah peserta yang bergabung diantaranya penggerak KGB Wajo, guru SMPN 1 Majauleng, Guru SMPN 3 Majauleng, Guru SMP Kec. Tanasitolo, Guru SMP Kab. Jeneponto, dan guru SD kabupaten Bulukumba. Acara  nobar dimulai dengan disapanya peserta oleh moderator, kemudian menyilahkan peserta untuk mengisi daftar hadir yang telah disematkan oleh host di kolom chat.kemudian selanjutnya moderator memberikan kesempatan kepada Ibu Sitti Rahmah untuk memberikan pengantar sebelum masuk ke inti acara. Dalam pengantarnya, Ibu Rahmah memperkenalkan tentang KGB Wajo dari awal terbentuknya sampai sekarang ini aktif menyelenggarakan kegiatan-kegiatan seperti ini. Ibu Rahmah juga menyampaikan harapan agar dengan diselenggarakannya acara ini guru bias lebih memahami konsep merdeka belajar dan meminimalisir adanya miskonsepsi tentang merdeka belajar itu sendiri. Setelah memberikan pengantar, moderator melanjutkan dengan pemutaran video. Dalam video tersebut yang menjadi pembicara adalah Ibu Najelaa Shihab, beliau adalah seorang pakar pendidikan sosok dibalik terbentuknya Komunitas Guru Belajar dan Merdeka Belajar. Dalam video tersebut Ibu Najelaa yang akrab disapa Bu Ela mengatakan bahwa salah satu tantangan utama guru sekarang ini adalah membedakan antara cara dan tujuan. Banyak murid maupun guru yang masuk kelas tanpa tujuan dan kejelasan. Tak heran saat ditanya bagaimana kelas hari ini, atau apa yang dipelajari hari ini, jawaban langganan adalah biasa saja atau tidak tahu. Kemudian lanjutnya pendidik yang merdeka adalah yang memiliki komitmen, mandiri, dan refleksi.  Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Komitmen seseorang yang merdeka belajar adalah ketekunannya dalam perjalanan menuju tujuan yang bermakna bagi diri sendiri. Ada beberapa pertanyaan yang langsung terbersit begitu mendengar definisi ini, terutama bagi kita yang jarang mempertanyakan tujuan, dan sekadar ikut saja dalam perjalanan. Proses yang memerdekakan terus menekankan pada kekuatan internal; setiap anak bisa memperbaiki kesalahan asal dijelaskan langkah menuju tujuan dan disiapkan bekal dalam perjalanan. Di sinilah fungsi guru yang sesungguhnya, memindahkan kompas dari tangannya ke tangan anak. Dalam proses yang ideal, tidak seharusnya ada murid yang ketergantungan pada guru, murid yang menyalahkan nasib atau mengandalkan kecurangan. Komitmen berarti bertanggung jawab, dan sebagaimana namanya hal ini tidak mungkin terjadi instan. Untuk bisa menumbuhkan komitmen yang berkelanjutan, murid membutuhkan kemampuan memahami tujuan belajar dan peran guru dalam mengajar. Banyak dari kita yang masuk kelas, tanpa memberikan gambaran tujuan dan rute perjalanan kita pada murid, seberapa jauh mereka akan ikut serta dan kapan mereka akan mandiri. Apakah kita menggunakan kegiatan dan melakukan interaksi yang membantu mencapai tujuan adalah bagian dari percakapan harian. Tentu jawabannya tidak akan 100% sempurna, tapi terus membahasnya atau mengingatnya dengan menempel tujuan besar dan tujuan antara di mading kelas, akan membantu semua orang berkomitmen bersama. Memberikan dan memahami instruksi bukan sekadar soal 2-3 poin di lembar kerja di setiap jam pelajaran, dalam belajar-mengajar instruksi demi instruksi adalah alat mencapai tujuan yang bukan sekedar menyelesaikan tugas atau mengikuti apa yang disuruh guru. Untuk bisa menumbuhkan komitmen berkelanjutan, murid membutuhkan kemampuan memusatkan perhatian, berkaitan dengan pencapaian tujuan harian maupun jangka panjang.  Selanjutnya menurut Bu Ela mandiri adalah proses yang kita gerakkan. Mandiri dalam arti sesungguhnya adalah memegang kendali. Dalam percakapan dengan guru belajar dari Sukabumi, saya terhenyak oleh masih banyaknya praktek manipulasi yang terjadi saat berbicara tentang pengembangan guru; uang, kepentingan dan jabatan – mengotori semangat belajar. Tingkat pelibatan publik di Indonesia sebetulnya cukup tinggi, secara umum data menunjukkan tingkat keterlibatan di negara berkembang memang lebih baik dibanding negara maju. Namun, saat kita melihat tahapan pelibatan publik, lebih banyak guru yang kemudian berhenti sampai di tingkat konsultasi atau kemitraan, belum sampai ke tingkat berdaya dan mengendalikan. Padahal perubahan nyata membutuhkan tingkat keterlibatan tertinggi. Kemampuan refleksi merupakan salah satu hal penting bagi seorang guru merdeka belajar.  Refleksi ini mudah dikatakan, namun sulit dilakukan. Sebagian dari kita menolak membuka mata dan melihat cermin, dengan seratus alasan, masyarakat belum siap, orangtua tidak mendukung, murid tidak paham, dan seterusnya. Transparansi dan akuntabilitas pendidik disederhanakan sampai kehilangan maknanya sekedar skor dan mengisi form. Refleksi selesai dengan selesainya tugas administrasi, tanpa percakapan yang bermakna dan mendorong kita untuk berubah.. sejatinya refleksi dilakukan untuk mendapatkan sesuatu yang bermakna yang akan memberikan semangat dan dasar perubahan ke yang lebih baik lagi. Yang menjadi penghambat pendidikan di Indonesia adalah terjadinya miskonsepsi yang mengungkung guru dalam pengembangan mengembangkan diri. Miskonsepsi yang dinyatakan oleh Bu Ela diantaranya : Miskonsepsi 1 : Guru hanya akan belajar bila ada insentif, janji sertifikat, atau penghargaan Miskonsepsi 2 : Guru hanya bisa belajar dari pakar dan ahli. Miskonsepsi 3 : Guru hanya perlu mengikuti resep standar “how to” bagaimana melakukan sesuatu.  Miskonsepsi 4 : Pengembangan guru bisa dilakukan instan, dipaksakan dengan target terburu-buru. Miskonsepsi 5 : Kompetensi guru adalah soal kemampuan dan pengukuran individu. Guru juga perlu figur yang realistis bukan yang ahli. Belajar dengan tujuan  dalam konteks, guru yang profesional adalah guru yang adaptif yang tahu apa yang dibutuhkan siswa. Guru belajar butuh waktu untuk belajar inovasi, kompetensi dan tumbuh bersama lingkungan. Guru yang merdeka belajar adalah kunci, bukan hanya pernyataan bahwa guru adalah kunci. Untuk melawan dan menaklukkan miskonsepsi tersebut Komunitas Guru … Read more

Diskusi Merdeka Belajar di Mojokerto

KGB Mojokerto mengadakan Nonton Bareng dan diskusi tentang Guru Merdeka Belajar (GMB). Bertempat di ruang serba guna SMK PGRI Sooko Kabupaten Mojokerto. Dan bertepatan dengan hari Jumat tanggal 7 Agustus 2020. Pelatihan tersebut diikuti 20 peserta dengan latar belakang Pengurus KGB dan guru, mulai jenjang PAUD, SD, SMP/MTs, maupun SMA/SMK. Antusias peserta untuk mengikuti Nobar sangat tinggi, terbukti dengan dimulai acara pukul 13.00 WIB yang merupakan waktu istirahat dari aktifitas mengajar, tanpa lelah para peserta hadir dengan semangat untuk mengetahui lebih jauh apa makna merdeka belajar itu.  Nobar Guru Merdeka Belajar Mojokerto ini dikoordinatori oleh Bu Nur Lutfiyatul Khaqimah, S.Pd.I, yang di buka oleh Miss Eko Rini Rahayu sebagai Moderator. Selama kegiatan senantiasa di dampingi oleh bu Umi Hasanah, S.Pd, MPd sebagai Ketua KGB Mojokerto yang memberikan wawasan tentang gerak dan Langkah KGB Mojokerto sebagai opening.  Selanjutnya kegiatan inti yaitu acara Nobar dipandu Ibu Nur Lutfiyatul K, SPdI yang kemudian berkolaborasi dengan Miss Eko Rini Rahayu sebagai Moderator yang atraktif menghidupkan suasana Nobar dengan diskusi interaktif setelah Nobar Ibu Najelaa Shihab.  Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Diskusi yang membahas tentang miskonsepsi Guru Merdeka Belajar. Miskonsepsi yang sering terjadi dilingkungan sekitar yaitu : Guru belajar menunggu instruksi sekolah/dinas atau mendapat intensif. Miskonsepsi yang kedua guru hanya mau belajar dari pakar dan ahli. Guru hanya belajar “how to” bagaimana cara mengajar. Guru berharap belajar bisa instan. Miskonsepsi yang kelima guru bisa belajar sendirian. Miskonsepsi ditelaah dengan tujuan dapat memahami lebih dalam apa makna Merdeka Belajar. Harapannya menjadi Guru Masa Depan yang mandiri mengembangkan kompetensi, aktif berkolaborasi, mengembangkan jalur karirnya,terus mengembangkan kompetensi. Memiliki kesesuaian potensi dan aspirasinya, tak ketinggalan tentunya Merdeka Belajar.  Pada pukul 15.00 Wib yang menjadi akhir sesi Nobar Guru Merdeka Belajar. Peserta diminta untuk mengisi refleksi sudah sampai tahap apakah mereka berada. Dalam jenjang atau tahapan sebagai guru merdeka belajar jika diidentifikasi dari empat kunci pengembangan guru atau bisa disebut 4K; yaitu : Kemerdekaan, Kompetensi, Kolaborasi dan Karier. Hal ini berguna untuk menjadi landasan dan tolak ukur apa yang harus dilakukan kedepan. Dan apa kebutuhan yang harus dipenuhi untuk menjadi guru yang merdeka belajar. Para peserta berharap selalu diadakannya pelatihan yang berkelanjutan. Sehingga ada wadah yang membuat mereka semangat untuk selalu belajar secara bermakna. Dan membuat mereka berkarya dan mengembangkan karier mereka untuk kedepannya.

Memahami Merdeka Belajar

Mengapa harus memahami merdeka belajar? Kata merdeka belajar pada dasarnya sudah tidak asing dikalangan para pendidik. Istilah Merdeka belajar sudah lama digaungkan oleh Menteri Pendidikan. Namun masih yang banyak salah arti terhadap kata tersebut.  Temu Pendidik Daerah ke 8 ini  dilaksanakan secara daring memanfaatkan aplikasi zoom. Hal ini dilakukan karena pandemic Covid 19 yang masih belum mereda. Tanpa Mengurangi semangat, TPD dilaksanakan secara Daring dengan peserta sejumlah 60 Guru-guru Kota Batu yang sebelumnya sudah mendaftar dan terhimpun dalam Whatsapp Grup. Para guru beranggapan mereka belajar adalah kebebasan dalam melakukan pembelajaran, bebas tidak menjelaskan, bebas menghukum, tidak membawa buku ketika mengajar dan pengertian sempit lainnya. Para guru memahami merdeka belajar adalah kebebasan siswa untuk bebas tidak mengerjakan tugas, atau belajar sesuka hatinya tanpa mematuhi aturan dan komitmen.  Kesalahpahaman dalam memahami merdeka belajar ini kami tanggapi melalui kegiatan Nonton Bareng Merdeka Belajar. Karena telah dipahami bahwa tujuan belajar tidak hanya menjawab soal, atau mengerjakan matematika saja, namun seharusnya memberi pengalaman bermakna pada siswa agar dapat menyelesaikan permasalahan hidup sehari-hari.  Nonton Bareng Video “Merdeka Belajar” Kegiatan Nobar dilaksanakan pada hari Selasa/ 07 Juli 2020. Pada Pukul 09.00-10.30 WIB. Dengan Host pak Guru Herdy, dan moderator Pak guru Yudi Herdianto yang merupakan anggota KGB Kota Batu.  10 menit sebelum kegiatan berlangsung dilakukan perkenalan dan sharing tujuan mengikuti kegiatan Nobar merdeka Belajar ini. Moderator menyampaikan peraturan selama mengikuti kegiatan Nobar, diantaranya dengan menonaktifkan speaker, dan aktif di chat untuk menuliskan pertanyaan atau pendapat dari hasil Nobar.  Berikut peraturan yang disampaikan, agar kegiatan Nobar dan diskusi dapat berlangsung dengan lancar.  Selama pelaksanaan acara, Bapak/Ibu yang bergabung melalui Zoom Meeting tidak diperkenankan log-out. Host akan menonaktifkan pelantang (microphone) Bapak/Ibu ketika berlangsung acara. Pendapat atau curhat dapat diajukan melalui raise hand di aplikasi Zoom Meeting dan melalui fasilitas chatroom. Tetap  aktif dan memantau wa grup, jika terdapat tambahan informasi.  Kegiatan Nobar berlangsung lancar dan tanpa kendala. Selama 15 menit video diputar dengan lancar. Selanjutnya dibuka sesi Tanya jawab dan diskusi. Moderator ( Pak Guru Yudi) mengatur jalannya diskusi. Berikut pertanyaan yang diungkapkan beberapa peserta dari 60 peserta Nobar.  Diantara semua miskonsepsi tadi, mana yang paling menggambarkan diri anda? Urutan jawaban terbanyak dari peserta adalah utamanya adalah  Belajar diburu target yang dipaksakan, seperti disampaikan bu Diana bahwa “ selama ini saya pribadi termasuk yang belajar diburu target. memenuhi target terasa sebagai kewajaran, sebagai tuntutan pekerjaan.  Kedua adalah kompetensi bersifat individual, seperti disampaikan bu Mustika Alam bahwa kita dapat meningkatkan kompetensi juga melalui keberadaan siswa, karena dengan memahami karakter siswa saya akan dapat meningkatkan kemampuan mengajar. Ketiga belajar memerlukan insentif/sertifikat, mematahkan miskonsepsi bahwa belajar untuk kebutuhan murid bukan kebutuhan sertifikat, pergantian kurikulum tanpa di imbangai komitmen guru juga tidaka kan berhasil, demikian yang disampaikan oleh ibu Sri Wahyuni  Ke empat belajar sebatas HOW TO, membutuhkan pemahaman dan menikmati indahnya merdeka belajar tidak terbatas, demikian disampaikan oleh Pak Fajar. Kelima belajar harus dari ahli.  Seperti dikatakan oleh saudari Sri Indayani saya belajar hanya dengan orang yang ahli dibidangnya, ternyata kurang. Ciri guru merdeka belajar adalah komitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara belajar dan melakukan refleksi. Apakah anda setuju dengan pernyataan tersebut? apa alasannya? jawaban :  Diana Librawati : setuju, karena tujuan guru adalah untuk memberi pelayanan sebaik mungkin kepada anak didik. Mustika Alam : setuju, sebab tujuan pembelajaran guru adalah menyampaikan materi sehingga diperlukan kemandirian dan refleksi Fia : setuju, dengan ciri merdeka belajar berorientasi pada komitmen terhadap tujuan, kemandirian dan refleksi Apakah anda ingin menjadi guru merdeka belajar? apa alasannya? sebagai peserta memberikan tanggapan Siap, berusaha, mencoba dan menyampaikan siap tidak siap harus siap dengan beberapa alasan antara lain karena tantangan, kebutuhan siswa, tantangan PJJ. Sebagai guru merdeka belajar, apa perubahan yang ingin anda lakukan di kelas? Sri Indayani : mengeksplor metode Rubiyati : menumbuhkan kemandirian Istiqomah : merubah pola pikir mengajar Mismiati : meningkatkan kreatifitas Evia : menumbuhkan perubahan perilaku lebih baik Fajar : mengembangkan penilaian Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Sebagai guru merdeka belajar, apa pengembangan diri yang ingin anda lakukan bersama komunitas guru belajar? Dian Anggraeni : mewujudkan tujuan belajar yang merdeka belajar Sumarmi : Berbagi praktek baik Titik Obarwati : menentukan kegiatan belajar Sri Wahyuni : mengembangkan cara/ metode/ media pembelajaran Fita Safitri : Saling berbagi ilmu Mismiati : merdeka belajar bersama teman guru Moderator memberikan kesempatan sesi curhat tentang pembelajaran selama ini : Tutik : perbedaan pembelajaran yang sebelum ada merdeka belajar  dengan setelah ada merdeka belajar terletak pada usaha sadar untuk belajar setiap saat. Guru Sri Wahyuni  menyatakan bahwa Reward atau pujian dapat menumbuhkan motivasi anak dalam belajar. Sedangkan Guru Diana  menuturkan bahwa  dengan memerdekakan diri dari tuntutan target kurikulum saya menginginkan murid saya juga merasakan merdeka dalam belajar dan berharap nantinya mendapatkan hasil belajar yang lebih baik. Kesimpulan  “ Guru yang merdeka memahami kewajiban, tetapi juga memiliki otonomi dan menggunakan otoritas dengan bijak” “ Tidak  ada guru yang bisa belajar sendirian dan tidak ada guru yang bisa merdeka belajar sendirian” Guru guru Kota Batu mengalami miskonsepsi  Miskonsepsi  1: Guru hanya akan akan belajar bila ada insentif, janji sertifikat, ataupun penghargaan. Miskonsepsi 2: Guru hanya bisa belajar dari pakar dan ahli. Miskonsepsi 3 : Guru hanya perlu mengikuti resep standar, “how to” bagaimana melakukan sesuatu. Miskonsepsi 4: Pengembangan guru bisa dilakukan instan, dipaksakan dengan target terburu-buru. Miskonsepsi 5: Kompetensi guru adalah soal kemampuan dan pengukuran individu. Guru merdeka belajar adalah kunci dari perubahan pendidikan. (Najelaa Shihab) Akhirnya  kegiatan ditutup dengan membaca hamdalah bersama dan berharap semua kegiatan di TPD ke 8 dapat memberikan manfaat dan memotivasi peserta dengan semangat untuk menjadi guru yang Merdeka Belajar. 

Merek Dagang Merdeka Belajar Dihibahkan

Sebagai merek dagang, apakah istilah Merdeka Belajar boleh digunakan semua orang? Pertanyaan tersebut menjadi polemik masyarakat dalam beberapa waktu terakhir. Setelah mendengarkan masukan sejumlah pihak, Cikal memutuskan untuk menghibahkan merek dagang Merdeka Belajar kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Silakan baca siaran pers lengkapnya Jakarta, 14 Agustus 2020 – Sekolah Cikal yang menginisiasi sejumlah lembaga dan jaringan pendidikan di Indonesia, akan menghibahkan hak atas merek “Merdeka Belajar” yang dimilikinya kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Penggunaan Merdeka Belajar sejak 2015, dimaksudkan Cikal untuk menggerakkan perubahan pendidikan dan telah dipraktikkan dalam kurikulum, pelatihan dan publikasi Yayasan Guru Belajar. Sebelumnya, Cikal juga telah menyatakan tidak ada kompensasi apapun untuk penggunaan merk atas jasa dan barang Merdeka Belajar oleh Kemendikbud dan untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan. “Atas masukan berbagai pihak, sekarang kami memperkuat surat pernyataan itu dengan keputusan menghibahkan hak atas merek Merdeka Belajar ke Kemendikbud,” tandas Najelaa Shihab, pendiri Cikal. Pengalihan hak atas merek ini diharapkan mengakhiri polemik penggunaan kata Merdeka Belajar. “Demi kemajuan pendidikan Indonesia, kami memutuskan menghibahkan hak atas merek Merdeka Belajar kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tanpa biaya dan/atau kewajiban pembayaran apapun. Dengan catatan, kami dan siapapun masih bisa menggunakannya tanpa kompensasi apapun untuk kepentingan pendidikan sesuai ketentuan yang berlaku,” ujar Najelaa Shihab. Mendikbud Nadiem Makarim pada akhir tahun lalu mengumumkan nama “Merdeka Belajar” sebagai payung besar kebijakan pendidikan nasional. Belakangan penggunaan idiom Merdeka Belajar oleh Kemendikbud dipertanyakan oleh sejumlah pihak karena sudah sejak lama didaftarkan sebagai merek oleh Sekolah Cikal. Mereka ingin memastikan bahwa penggunaan idiom Merdeka Belajar tidak akan menimbulkan implikasi hukum di kemudian hari. Menurut Najelaa, sejak 2004, lima tahun setelah pendirian Cikal,  pelajar merdeka (berkomitmen, mandiri, reflektif) sudah menjadi bagian dari cita-cita menumbuhkan kompetensi yang utuh bagi semua dan setiap murid serta guru.  Pada tahun 2014, melalui Kampus Guru Cikal mengembangkan Merdeka Belajar sebagai karakteristik ekosistem yang pada intinya merupakan gerakan pendidikan yang meningkatkan kompetensi, kolaborasi dan inovasi semua pemangku kepentingan, mulai dari guru, orang tua, komunitas dan organisasi. Merdeka Belajar terinspirasi dari pemikiran sejumlah tokoh, di antaranya Ki Hadjar Dewantara, Rahmah Al Yunusiah (tokoh pendidikan pendiri Sekolah Diniyah Putri) dan Barry Zimmerman (peneliti pendidikan yang dikenal dengan teorinya tentang belajar mandiri/ self- regulated learning).  diwujudkan dalam bentuk pengembangan guru penggerak dan komunitas guru belajar yang berdaya di ratusan kabupaten/kota, maupun publikasi praktik baik yang dilakukan di lapangan. Merdeka Belajar juga selalu digaungkan di setiap Temu Pendidik Nusantara dan Temu Pendidikan Daerah dan Regional yang diselenggarakan selama 6 tahun terakhir. Cikal juga menerbitkan buku Merdeka Belajar di Ruang Kelas (2017)  serta surat kabar Guru Belajar secara rutin sejak 2015 hingga saat ini untuk menyebarluaskan konsep Merdeka Belajar sesuai paradigma dan cara yang dilakukan oleh Komunitas Guru Belajar dan Jaringan Sekolah Merdeka Belajar di penjuru Nusantara.  Pada 1 Maret 2018, Sekolah Cikal kemudian mendaftarkan hak atas merek Merdeka Belajar ke Ditjen HKI Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham), sebagai upaya mencatatkan dan melindungi keberlangsungan upaya-upaya yang telah dilakukan selama ini, yang kemudian disetujui oleh Kemenkumham pada 2020. “Kami mendaftarkan hak atas merek Merdeka Belajar, bukan hak paten. Sejak awal, kami tidak bermaksud untuk mencari keuntungan komersial. Sesuai yang kami nyatakan dan lakukan, selama ini kami tidak pernah mempersoalkan penggunaan Merdeka Belajar untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan”, ungkap Najelaa. Hingga saat ini, Kemendikbud telah meluncurkan lima episode Merdeka Belajar. Pada Episode 1 Merdeka Belajar mengubah Ujian Nasional menjadi asesmen kompetensi minimum dan survei karakter, menghapus Ujian Sekolah Berstandar Nasional, menyederhanakan rencana pelaksanaan pembelajaran, dan menyesuaikan kuota penerimaan peserta didik baru berbasis zonasi. Merdeka Belajar Episode 2: Kampus Merdeka, memberikan kemudahan pelaksanaan pembelajaran di perguruan tinggi. Merdeka Belajar 3: perubahan mekanisme Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tahun anggaran 2020, Merdeka Belajar 4: Program Organisasi Penggerak, dan Episode 5 yaitu Guru Penggerak. (*)

Nobar Video Guru Merdeka Belajar Najelaa Shihab

Saya menghadiri TPD yang mengadakan acara Nonton Bareng Video Guru Merdeka Belajar Najelaa Shihab, yang bertempat di aula Dinas Pendidikan Kabupaten Sijunjung. TPD tersebut berlangsung dari pukul 10.00 – 12.00 dan dihadiri oleh lebih kurang 15 peserta yang terdiri dari guru-guru yang mengajar di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, SD, SMP, dan SMK. Kegiatan ini dimoderatori oleh ibu Novi Edmawati selaku ketua KGB Sijunjung dan dipandu oleh dua guru penggerak KGB Sijunjung, yaitu ibu Desy Delarosa selaku narasumber untuk topik Merdeka Belajar dan ibu Sri Hastuti selaku narasumber untuk topik Miskonsepsi Belajar. Tahun 2020 menorehkan sejarah baru bagi dunia. Munculnya virus Corona ( Covid-19 ) membuat perubahan yang sangat besar dalam tatanan kehidupan masyarakat. Sebagai seorang guru, saya sangat merasakan efek dari hadirnya virus ini. Mulai dari diliburkannya sekolah sampai pada pengenalan pembelajaran dengan metode daring, yang sepertinya akan terus digunakan sesuai kondisi zaman saat ini. Tetapi, salah satu kejadian yang sangat berkesan bagi saya selama masa pamdemi ini adalah untuk pertama kalinya saya kenal dengan KGB Sijunjung. Dan semua itu bermula saat saya ikut ambil bagian dalam pembuatan RPP PJJ yang diadakan oleh KGBN dan KGC. Ini adalah TPD pertama yang diadakan setelah hampir 4 bulan diberlakukannya PSBB di kabupaten Sijunjung dengan tetap mematuhi protokoler kesehatan. Kegiatan ini diawali pembukaan oleh ketua KGB dan dilanjutkan dengan menggenalkan diri masing masing peserta sambil sedikit menceritakan awal bergabung dengan KGB. Banyak sekali cerita-cerita inspiratif yang mengalir dalam waktu yang sesingkat itu. Kegiatan selanjutnya adalah nonton bareng video Guru Merdeka Belajar. Semua guru yang hadir, khususnya guru guru yang baru bergabung dalam KGB sangat fokus dalam memperhatikan setiap slide dan penjelasan Merdeka Belajar dari ibu Najelaa Shihab pada video tersebut. “ Yang kita inginkan adalah anak-anak yang punya aspirasi tinggi, yang punya cita cita melampaui langit, sebetulnya. Melampaui batas kelas, melapaui batas dunianya. Dan ini hanya akan terjadi pada saat anak-anak memiliki kemerdekaan belajar. Dan kemerdekaan murid-murid hanya akan terjadi pada saat kita sebagai pendidik juga memiliki kemerdekaan.“. “Apakah Ibu dan Bapak Guru merasa merdeka?”.  Pernyataan dan pertanyaan yang diucapkan oleh ibu Najelaa Shihab pada menit menit awal video membuat saya tersentak. “Dalam Komunitas Guru Belajar, kita percaya pendidik yang merdeka itu punya komitmen, memiliki kemandirian dan selalu refleksi. Dan ini susahnya minta ampun.” Lanjut beliau. Setelah itu dilanjutkan dengan penjelasan beliau mengenai “Miskonsepsi Belajar” yang terasa menjadi teguran bagi para guru yang menonton pada saat itu. Setelah menonton video tersebut, saya menjadi tersadar bahwa selama ini saya belum merdeka. Padahal guru yang merdeka belajarlah yang sangat dibutuhkan oleh murid murid untuk bisa merdeka belajar juga. Begitu juga dengan Miskonsepsi Belajar yang saya lakukan selama menjadi guru. Pada sesi diskusi, ibu Sri Hastuti menjelaskan bahwa banyak pendidik yang melakukan Miskonsepsi Belajar. Hanya mau belajar bila ada insentif, hanya mau belajar dari para ahli saja, Belajar cukup terbatas “How to”, belajar diburu target yang dipaksakan, Kompetensi bersifat individual. Miskonsepsi yang paling sering saya lakukan adalah Belajar diburu target yang dipaksakan. Bahkan dalam mengajarpun yang lebih saya dulukan adalah mengejar target untuk menyelesaikan semua KD dalam pelajaran saya. Tanpa mempertimbangkan apakah murid nyaman atau tidak. Para guru yang lain pun turut menyampaikan miskonsepsi belajar yang sering mereka lakukan. Misalnya ibu Hilda, salah satu guru yang baru bergabung di KGB, menyampaikan bahwa miskonsepsi yang beliau lakukan adalah Belajar hanya dari ahli saja. Menurut beliau ada kebanggaan bila menghadiri pelatihan yang narasumbernya seorang professor dari universitas terkenal. Dan akhirnya beliau menyadari bahwa narasumber terbaik justru adalah guru guru di sekitar kita yang belajar dari banyak kegagalan sebelum akhirnya berhasil. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Saya sangat bersyukur dan bahagia, dipertemukan dengan komunitas ini. Dipertemukan dengan gurur-guru penggerak yang sangat luar biasa dan menginspirasi. Guru-guru penggerak yang merubah cara pandang saya melihat murid, melihat proses belajar, dan yang bersedia membagi praktik baik pengajaran. Masa pandemic ini membawa berkah tersendiri bagi saya. Saya akan berusaha keras untuk mematahkan miskonsepsi yang selama ini saya lakukan. Saya bertekad untuk menjadi guru yang merdeka belajar. Dan saya yakin, KGB ini adalah wadah yang tepat untuk mewujudkan hal tersebut. Saya akan turut memberikan kontribusi bagi komunitas ini karena disini kompetensi tidak bersifat individual. Kita akan sama-sama belajar, saling berbagi ilmu, sama sama menjadi guru yang memerdekakan murid-murid. Teruslah bergerak bagi pendidikan, Komunitas Guru Belajar Indonesia!! Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar? Yuk ikuti pelatihan Guru Merdeka Belajar

Berbagi Praktik Mengajar Kreatif

Agar para guru bisa saling berbagi inspirasi praktik mengajar yang kreatif. Komunitas Guru belajar (KGB) Probolinggo mengadakan Temu Pendidik Daerah (TPD). Acara diselenggarakan di aula Korwil Dinas Pendidikan Kecamatan Krejengan. Ada tiga kelas di antaranya yang pertama: mencari teman duduk dengan menggunakan kartu bilangan atau kartu benda, kedua: miskonsepsi literasi dan literasi bermakna menumbuhkan empati, dan yang ketiga: Gambar Bercerita – Media Belajar SPOK. TPD kali ini dihadiri oleh kurang lebih 50 guru dari berbagai sekolah yang ada di Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo.  Mengajar Kreatif: Mencari Teman Duduk Silvia Eka Putri, guru kelas 1 di SDN Sumberkerang, Kecamatan Gending berbagi praktik baik mengajar kreatif tentang mencari teman duduk. Setiap ajaran baru, murid kelas 1 di dalam kelas selalu berebut tempat duduk, dan tak jarang pula orang tua mereka rela mengantarkan pagi-pagi sekali hanya untuk mendapatkan kursi baris depan. Para orang tua beranggapan bahwa anak yang duduk di kursi depan cenderung lebih cerdas dan memiliki kompetensi lebih unggul dibandingkan anak yang duduk di belakang. Kejadian ini membuat kelas bu Silvi tidak kondusif. Setelah mendiskusikannya dengan wali kelas yang lain, akhirnya beliau menemukan cara untuk meminimalisir agar kejadian tersebut tidak terulang lagi. Cara ini juga sebagai media pembelajaran untuk anak-anak kelas1 lebih mengerti bilangan dan nama benda sekitar. Caranya setelah bel masuk sekolah berbunyi, anak-anak harus mengambil kartu di depan kelas. Kartu tersebut bisa berupa bilangan atau gambar benda seperti buah, hewan, dan lainnya. Kartu tersebut disesuaikan dengan kebutuhan murid. Jika kebanyakan murid kurang mengerti tentang bilangan, maka bisa menggunakan angka. Sebelum itu, setiap bangku di dalam kelas sudah ada satu kartu yang sama dengan kartu yang ada di depan kelas. Jadi, secara keseluruhan ada 3 kartu yang sama yakni 1 kartu dibangku dan 2 kartu lagi di depan kelas untuk anak-anak menemukan tempat duduk dan teman duduknya secara adil dan tanpa saling iri. Sehingga tercipta kelas yang kondusif. Orang tua pun bisa memahami dan tidak mempermasalahkan tempat duduk anak-anaknya. Media mencari tempat duduk ini juga bisa digunakan para guru untuk membagi kelompok-kelompok dalam kelas.  Literasi Bermakna Menumbuhkan Empati Kelas kedua yang berbagi praktik baik mengajar kreatif adalah bu Yulia yang mengajar di SDN Krejengan. Awalnya beliau menceritakan pengalamannya menjadi guru kelas tinggi, yang menurutnya seorang guru harus bisa memberikan apa yang dibutuhkan oleh murid. Baginya untuk menjadi guru merdeka belajar harus bisa mengaplikasikan 5M. Memahami murid merupakan praktik salah satu 5M yakni memanusiakan hubungan. Ketika di dalam kelas, kita sebagai seorang guru harus bisa memahami apa kebutuhan murid. Hal ini bisa dilakukan dengan membuat kesepakatan kelas. Meskipun untuk bisa menjalani kesepakatan kelas ini butuh ketelatenan dari guru itu sendiri. Dengan begitu rasa empati akan tumbuh, dan suasana pembelajaran akan semakin  menarik. Selain kesepakatan kelas, bisa juga melalui 5 posisi kontrol menjadi seorang guru merdeka belajar. 5M yang berikutnya adalah memahami konsep, membangun keberlanjutan, memilih tantangan dan memberdayakan konteks. Ada juga strategi literasi untuk empati di antaranya berlatih perspektif, identitas moral, kesempatan untuk berempati serta memperluas lingkaran kepedulian. Gambar Bercerita: Media Belajar SPOK Kelas ketiga yang berbagi praktik baik mengajar kreatif adalah bu Iva yang mengajar di SDN Rawan, Kecamatan Krejengan. Awalnya bu Iva menceritakan keresahannya saat mengajar tentang unsur-unsur kalimat. Bahwa tidak semua murid paham akan unsur-unsur yang ada pada kalimat. Padahal di awal pembelajaran bu Iva sudah menjelaskan definisi dari kalimat dan unsur-unsur yang terdapat di dalamnya yakni subjek, predikat, objek dan keterangan. Akan tetapi mereka masih saja kesulitan dalam menulis sebuah kalimat yang benar. Oleh karenanya, beliau berinisiatif membuat media SPOK guna memudahkan murid dalam memahami materi yang diterima. Bu Iva menggunakan media gambar pada masing-masing unsur kalimat. Misal untuk subjek menggunakan gambar kucing, untuk predikat menggunakan kartu bertuliskan memakan, objek dengan gambar ikan, dan untuk keterangan menggunakan gambar dapur. Sehingga jika digabungkan akan terbentuk kalimat “Kucing memakan ikan di dapur”. Dan ternyata dengan penggunaan media SPOK, murid menjadi lebih mudah memahami materi, lebih aktif dan berani menjawab pertanyaan. Selain  itu, suasana belajar jadi lebih menyenangkan. Sebagai penutup, bu Iva juga menyampaikan bahwa media yang digunakan memang dibuat sederhana jadi dipersilakan jika ada yang memodifikasinya atau ingin mempraktekkan media yang sama di sekolah masing-masing. Di sesi akhir dibuka sesi tanya jawab dan sharing antar sesama guru. Anda ingin mempelajari praktik mengajar yang Merdeka Belajar? Yuk ikuti pelatihan daring (online)Klik link di bawah ini

Menulis Praktik Baik Pembelajaran Inklusi

“Saya guru BK, jarang menulis. Tapi memiliki banyak praktik baik pembelajaran dengan murid disabilitas..” tutur salah seorang guru Program Pendidikan untuk Semua. Banyak guru yang merasa bahwa keterampilan menulis hanya dimiliki oleh guru bahasa. Sehingga banyak guru yang memiliki praktik baik, yang harusnya bisa disebarkan, terpaksa harus memendamnya. Oleh karena itulah dalam program Pendidikan untuk Semua ada sesi belajar menulis praktik baik. Kampus Guru Cikal mengadakan Program Pelatihan Penulisan Praktik Baik  Pendidikan Untuk Semua. Pelatihan diadakan pada tanggal 15 Juni hingga 22 Juni 2020. Pelatihan ini diikuti oleh 15 guru dari Yogyakarta dan 2 dari Jawa Tengah. Namun sebelumnya, telah diadakan sesi asesmen, intervensi, seminar orang tua, daring diskusi di WhatsApp dan pelatihan menulis. Pelatihan penulisan dilakukan di akhir rangkaian kegiatan dengan hasil akhir adalah peneribatan Surat Kabar Guru Belajar edisi Pendidikan Untuk Semua. Tujuan dari pelatihan ini adalah peserta mampu membuat tulisan praktik baik yang telah dilakukan menggunakan format ATAP, melakukan asesmen untuk memberi umpan balik mengenai tulisannya, dan peserta memiliki tulisan yang telah diperbaiki. Tahapan awal dari pelatihan ini berupa orientasi pelatihan menulis praktik baik program NusantaraRun. Untuk orientasi ini dilakukan dengan video conference melalui google meet. Ada 15 guru dari Yogjakarta dan 2 dari Jawa Tengah. Setelah peserta memperkenalkan diri, maka pelatih memperkenalkan penyelenggara kegiatan yaitu Kampus Guru Cikal atau yang biasa disingkat dengan KGC. KGC merupakan lembaga pengembangan karier guru yang percaya guru dengan kemerdekaan belajar adalah kunci perubahan pendidikan untuk mewujudkan pelajar yang kompeten, ekosistem pendidikan yang kolaboratif dan Indonesia yang demokratis. Peserta kemudian berkenalan dengan Komunitas Guru Belajar. Guru Belajar adalah komunitas pendidik untuk berdiskusi dan berbagi praktik baik pengajaran dan pendidikan yang diinisiasi oleh Kampus Guru Cikal. Komunitas Guru Belajar (KGB) percaya bahwa belajar bisa dari siapa saja. Sumber inspirasi bukan figur yang serba tahu dan sempurna, tapi rekan seperjalanan yang  realistis dengan pengalaman nyata, dan praktis, seringkali gagal sebelum berhasil. Selanjutnya berkenalan dengan pelatih dan pemandunya yang terdiri dari guru Rizqy Rahmat Hani dan guru Rizky Satria sebagai pelatih serta guru Kristijorini selaku pemandu.  Kenalan dengan pelatih dan pemandu Selama orientasi, peserta dijelaskan tentang hasil pelatihan akan mengirim tulisan praktik baik pembelajaran. Jika tulisan sudah dikirim, ada proses penyuntingan dan hasil penyuntingan akan diberikan umpan balik kepada peserta maka peserta tinggal memperbaiki tulisannya. Revisi akan dilakukan 3 kali perbaikan dan waktunya tidak terlalu panjang. Setelah mengikuti orientasi, peserta melakukan refleksi. Guru Iin Indarti ingin sekali menulis dengan baik. Dia bersemangat mengikuti kegiatan pelatihan menulis sampai selesai. Guru Dian Nurpita dari SKM Muhamadiyah 2 Yogyakarta berefleksi bahwa setelah sesi orientasi, menjadi lebih termotivasi untuk menulis. Mulai berlatih dengan menulis status dulu. Dia berharap, setelah mengikuti pelatihan akan menjadi lebih terarah lagi tulisannya. Guru Esti dari SLB Negeri 1 Sleman pertanyaan pada diri sendiri yang berujung pada memotivasi diri sendiri. “Apakah saya bisa menulis? Terkadang waktu menjadi alasan saya. Dengan sekuat tenaga, saya akan berusaha mencoba menuliskan goresan tinta walau dipandang hanya alakadarnya.” Guru Rufaidah dari SMK Negeri 1 Pringapus berefleksi bahwa setelah mengikuti orientasi tadi muncul kesiapan dalam diri untuk berlatih. Siap dibimbing, siap menjadi hebat bersama para pembimbing dan teman-teman yang luar biasa. Guru Shola Fibria dari SMA 3 Maretik berefleksi bahwa pelatihan ini keren sebab awalnya dia berpikir jika pelatihan akan membosankan karena pelatihan dilakukan secara mandiri. Ternyata dengan orientasi, dia melihat banyak teman yang semangat. Dia jadi tertular dan tidak merasa sendiri. Merasa ada teman dan didampingi. Semoga dengan pelatihan ini, dia dapat menyelesaikan pelatihan dengan baik dan mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan. Berharap mampu melaksanakan fasilitas yang ada dengan baik. Guru Maria Suprabaningtyas dari SMK Pangudi Luhur berefleksi bahwa dia merasa akan mendapatkan pelatihan yang sangat formal dan membosankan. Setelah mengikuti orientasi dia menjadi termotivasi untuk mencoba belajar menulis lagi. Dia merasa, pendampingnya freandly dan sabar. Menuntun step by step sampai peserta paham benar. Dia membutuhkan cara untuk menjaga agar tetap bisa fokus ketika menulis hingga tulisan mengalir, tidak kaku dan ide tidak melompat-lompat. Refleksi dari guru Amalia Ahadini dari SLB Negeri Pembina Yogyakarta adalah dirinya merasa terpacu untuk belajar menulis. Dia merasa diajari, dibimbing sampai jadi tulisan. Kesempatan ini membuatnya bahagia. Tahapan setelah orientasi adalah melakukan pelatihan mandiri di platform digital, sekolahmu.com sekaligus pendampingan dari pembimbing dimulai pada hari Selasa sampai Jumat, tanggal 16-19 Juni 2020. Para peserta merasakan keseruan saat mengikuti dan mengerjakan pelatihan mandiri. Materi yang disampaikan mudah dipahami dari yang berupa ebook, video tutorial pembelajaran hingga tugas mandiri yang menantang. Hasil tugas juga dapat segera diketahui. Ada yang merasa bahwa materinya berat tapi dikemas dengan sangat praktis dan bermakna. Merubah pola pikir guru bahwa menulis itu tidak sulit. Peserta tidak merasa digurui, namun dibuka wawasannya tentang menulis. Jika mereka kesulitan, bisa langsung bertanya kepada pemandu maupun pembimbing pelatihan. Peserta selanjutnya melalui tahapan akhir dengan mencoba menulis praktik baik  menggunakan format ATAP, peserta akan mendapatkan sertifikat secara otomatis. Peserta merasa tidak terbebani dalam mengikuti pelatihan karena bisa mengikuti kapan saja dan dimana saja. Tahapan berikutnya adalah refleksi setelah mengikuti pelatihan menulis menggunakan video conference, google meet pada hari Senin, 22 Juni 2020. Sebelum refleksi, peserta diajak bermain menggunakan menti.com. Jawaban dari peserta yang mengikuti permainan ini sungguh menyenangkan. Peserta diajak untuk mengingat perasaan diawal pelatihan hingga akhirnya merasakan akhir pelatihan. Mereka berefleksi dengan seru dan asyik. Kesimpulan dari refleksi adalah mulai saja apa yang ingin ditulis, mulai banyak membaca dan mulai melakukan praktik baik pembelajaran yang dituliskan. Mulai dengan menuliskan semua ide yang dipunyai, tumpahkan saja dulu apa yang dirasakan. Lanjutkan dengan menyusun kerangka dalam bentuk pertanyaan. Masukkan semua yang sudah ditulis tadi kedalam format ATAP. Tidak perlu merasa ragu dan takut salah sebab tulisan akan mendapatkan umpan balik dan peserta dapat memperbaiki tulisan sesuai dengan umpan balik tersebut. Selanjutnya, peserta melakukan pengumpulan tulisan mulai dari tanggal 23-30 Juni 2020. Pemberian umpan balik dan pendampingan akan dilakukan pada tanggal 1-10 Juli 2020. Terbit menjadi Surat Kabar Guru Belajar Edisi Pendidikan  Untuk Semua adalah 20 Juli 2020. Pada akhirnya peserta berkomitmen untuk memulai dulu. Mencari ide tentang praktik baik pembelajaran dan menyusun kerangka tulisan dengan format ATAP. Memulai dan berkomitmen bisa jadi adalah kunci untuk … Read more