Kapan Pendidikan Indonesia Maju?

Apakah Pendidikan Indonesia jalan di tempat?Lalu kapan Pendidikan di Indonesia akan semakin maju? Sekolah-sekolah bergerak mengembangkan dan memanfaatkan kemajuan terknologi secara masif di era digitalisasi yang datang lebih cepat di Indonesia terutama di masa pandemi sekarang ini, menjadi pintu gerbang bagi guru untuk berani berinovasi. Jika tidak bisa mengikuti perkembangan dan tidak mendorong ke arah yang lebih maju, tentu Indonesia akan menjadi primitif. Percepatan era digital yang lebih cepat dari apa yang diperkirakan, jika sekolah-sekolah tidak segera beradaptasi tentu akan menjadi sekolah dengan segala ketertinggalannya.  Tidak mau bukan kalau pendidikan Indonesia tidak berkembang? Perkembangan teknologi justru bisa menjadi modal dalam memperbarui secara terus menerus pengetahuan, keterampilan, kompetensi dan kemampuan dalam berbagai bidang untuk memenuhi tuntutan globalisasi. Era digital telah banyak mengubah berbagai hal dalam kehidupan, terutama dalam kepentingan pendidikan, karena akan menjadi terobosan yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran, dan meningkatkan kualitas pendidikan serta sumber daya manusia khususnya dalam ranah pendidikan. Transformasi pendidikan sudah menjadi keharusan untuk dilakukan sebagai jawaban atas tantangan dan kompetensi di era digital dan abad ke-21.  Seperti yang diketahui acara #BelajarDiTPNVII pun memanfaatkan kemajuan dan kecanggihan teknologi karena acara Konferensi Tahunan Pendidikan ini dilakukan secara virtual dimana bisa diakses dan diikuti oleh siapa saja dan dimana saja. Temu Pendidik Nusantara VII menjadi salah satu contoh bukti nyata bahwa sekolah, guru, orang tua, murid, dan stakeholder mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi akan mendorong dunia pendidikan terutama sekolah-sekolah untuk bisa menciptakan, menghasilkan bahkan mempraktikan program-program yang mendukung perkembangan pendidikan.  Terlihat pada acara Temu Pendidik Nusantara VII adanya sesi diskusi yang diisi oleh narasumber dari berbagai sekolah dan daerah, narasumber tersebut antara lain Ibu Ratih Saraswati perwakilan dari Sekolah Cikal, Bapak Johanes Eko Prasetyo perwakilan dari Sekolah Kristen Aletheia, Ibu Enik Chairul Umah, M.Si, M.Pd perwakilan dari SD Muhammadiyah 1 Pucanganom Sidoarjo, dan Bapak Edi Gunawan, M.Pd perwakilan dari MTs Al Muthiyah. Pada sesi diskusi atau lebih tepatnya sharing mengenai program sekolah yang dikembangkan di sekolah masing-masing, yang diharapkan dapat memberikan inspirasi dan insight baru bagi guru, sekolah dan pendidikan Indonesia. Mari kita kulik satu per satu apa saja program-program yang akan dibagikan kepada kita semua. Baca juga #BelajarDiTPN7 Bersama #1000Pembicara Ibu Ratih Saraswati sebagai perwakilan dari Sekolah Cikal Surabaya, Bandung, Serpong, dan Jakarta memaparkan keresahan yang dirasakan selama di sekolah dimana sekolah ingin mengembangkan dimensi-dimensi yang tertuang dalam visi misi sekolah, seperti dimensi peduli, dimensi berorientasi pada aksi, dan dimensi pemimpin yang berdampak. Dari visi misi sekolah inilah ingin mencetuskan sebuah program yang diharapkan bisa berjalan secara keberlanjutan bukan sebuah program yang sekali kegiatan lalu tidak menimbulkan dampak yang terlihat. Berdasarkan kompetensi 5 bintang yang dimiliki oleh Sekolah Cikal sebagai visi misi ini melahirkan program yang bersifat berkelanjutan mulai dari pra-sekolah sampai SMA, yang disebut dengan program Cikal Aksi-Aksi (CAA). Cikal Aksi-Aksi yang dilakukan secara berjenjang ini dikembangkan dalam setiap kegiatan sosial baik bencana alam atau kegiatan yang berkaitan dengan perayaan keagamaan. Pelaksaan CAA ini mengalami beberapa kendala terutama untuk anak-anak pra-sekolah mulai dari usia, jarak, waktu dan kemampuan komunikasi, dari kendala tersebut Sekolah Cikal berkolaborasi dengan Komunitas Guru Belajar yang ada di daerah-daerah seperti Surakarta, Klaten, Sanggau, Rembang, dan daerah lainnya. Hasil dari kolaborasi antara Sekolah Cikal dengan sekolah daerah ini terlihat anak-anak mulai memahami kebutuhan orang lain dimana dimensi yang diharapkan yaitu dimensi peduli tercapai, anak-anak mulai bijaksana dalam mengambil keputusan atau tindakan yang berdampak pada orang lain, sekaligus mengarah pada jenjang yang lebih tinggi bahwa kepemimpinan anak-anak adalah kepemimpinan yang berdampak jadi murid mulai memandang orang lain untuk berpartisipasi dalam upaya meningkatkan pemahaman yang lebih baik. Cikal Aksi-Aksi ini memberikan rasa kesenangan dan kenyaman tidak hanya kepada murid tetapi juga oleh para guru. Diharapkan dengan sharing mengenai program Cikal Aksi-Aksi ini membuat jejaring antar guru dan murid untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya, bahwa kolaborasi tanpa memandang jarak karena jarak yang jauhpun bisa dijangkau dengan kemajuan teknologi yang sudah ada.  Bapak Johanes Eko Prasetyo sebagai perwakilan dari Sekolah Kristen Aletheia berbagi ketika sekolah menghadapi masa pandemi dimana program yang awalnya melibatkan orang tua dalam kegiatan belajar siswa mengalami perubahan dan tidak sedikit yang merasakan kesusahan dan kebingungan dalam mendampingi anak belajar di rumah dan hambatan komunikasi antar orang tua dengan pihak sekolah. Berdasarkan permasalahan inilah sekolah menerima berbagai masukan dan saran baik dari pihak orang tua dan guru dengan memberikan program pertemuan khusus bagi wali murid yang akan dilakukan oleh sekolah secara satu per satu bergiliran disesuaikan dengan kondisi dan situasi yang ada dilapangan atau masing-masing orang tua. Program pertemuan khusus ini memperoleh sambutan yang baik dan membawa dampak bahwa orang tua bisa mendampingi anak belajar tanpa mengganggu aktivitas orang tua dan anak-anak terlihat dapat menghasilkan karya yang lebih baik dan memuaskan. Ibu Enik Chairul Umah, M.Si, M.Pd perwakilan dari SD Muhammadiyah 1 Pucanganom Sidoarjo berbagi mengenai program Market Key yang dilakukan secara virtual, program Market Key ini berawal dari harapan sekolah untuk bisa mengembangkan literasi, numerasi kepada anak-aak tidak hanya di sekolah tetapi juga bisa dipraktikkan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Market Key ini dilakukan 1 bulan sekali berjenjang mulai dari Kelas 1-6. Program ini memperoleh tanggapan yang bagus dari para orang tua, sehingga sekolah mulai menawarkan kepada orang tua dan guru untuk membuat flyer penjualan dan metode apa yang akan digunakan dalam mempromosikan produk yang akan dijual. Ternyata program ini menghasilkan sebuah kolaborasi yang produktif dan berdampak antara orang tua dengan anaknya yang terlihat pada saat proses pembuatan produk, promosi, sampai pengiriman dan pembayaran hasil berjualan dengan diskusi-diskusi yang menyenangkan. Program yang dilakukan secara virtual ini dapat menumbuhkan jiwa kemandirian, peduli terhadap orang-orang yang tidak mampu disekitarnya atau merasa patut untuk diberikan apresiasi, dan kreativitas dalam menciptakan suatu produk. Tak hanya anak-anak yang memperoleh dampaknya, orang tua turut merasakan terjalinnya komunikasi yang lebih baik dengan anak, dan merasa dilibatkan dalam menumbuhkan literasi dan numerasi kepada anak-anak, dan tentunya menjadi pengalaman menarik tersendiri bagi orang tua.  Terakhir sharing  yang dipaparkan oleh Bapak Edi Gunawan, M.Pd sebagai perwakilan dari MTs Al Muthiyah yang menceritakan bahwa masih banyak miskonsepsi yang dialami oleh guru-guru, orang tua, dan murid apalagi dihadapkan pada masa pandemi seperti sekarang ini … Read more

Titik Balik Perubahan

Titik Balik Kembali pada persepsiBerserah tanpa amarahMenata langkah dan mimpiMengejar matahariDapatkan asa dan rasaTuhanlah yang berkuasaMenghapus perih dan lukaDi setiap masalahTerus bertahan melawanKitalah sang juara Dibanding Virgoun, saya lebih nyaman dengan AbsurdNation. Keduanya berkisah tema yang sama. Tentang titik balik. Dengan alunan Jazz, titik baliknya AbsurdNation, rasanya lebih reflektif. Tentang ini, tak perlu debat panjang. Hanya soal selera. Soal persepsi saja. Saya setuju bahwa refleksi bisa dilakukan dari sudut pandang apapun, dengan gaya apapun. Silakan mendengarkan keduanya. Catatan ini hasil refleksi saya mengikuti Temu Pendidik Nusantara VII, tahun ini. Sesi ‘’. Ditujukan untuk diriku sendiri. Jika bisa menjadi pesan kepada kawan-kawan penggerak perubahan lainnya, anggaplah sebagai bonus. Sebagai catatan refleksi, sangat disarankan dibaca oleh kawan yang pernah dan atau masih diabaikan. Juga kawan yang pernah dan atau masih merasa sendirian atau kawan yang sementara menyusun persekongkolan melawan pengabaian atau kesendirian atau perlawanan atas keduanya. Versi lengkapnya bisa didalami langsung modulnya, klik gambar di bawah ini Catatan ini hanya fokus pada salah satu tema yakni titik balik perubahan Apa itu titik balik? — Dalam modul itu dijabarkan bahwa alur perubahan itu mengalami tiga tahapan. Dimulai dari tahap inseminasi, penularan dan penyebaran. Temu Pendidik Nusantara adalah momentum inseminasi. Benih-benih penggerak biasanya lahir dari momentum ini. Para penggerak mulai menerapkan dan memperagakan praktik baik di sekolahnya masing-masing sesuai kelas yang pernah diikuti atau inovasi yang ingin diterapkan. Praktik tersebut dimodifikasi, menyesuaikan dengan dengan situasi konteks murid dan sekolah masing-masing. Ada yang konsisten melakukan pengembangan, terus bergerak, tapi tidak banyak yang kembali seperti semula. Mundur pelan-pelan. Beberapa sumber hanya menjelaskan secara singkat. Titik yang menjadi batas kenaikan dan mulai berbalik menurun pada kurva hasil. Ilmu matematika menamainya sebagai titik perubahan kecekungan. Cekung ke atas atau ke bawah. Ahli motivasi menyebutnya sebagai momentum menemukan kekuatan untuk bangkit. Kembali berjuang setelah terpuruk beberapa waktu. Tahap kedua adalah penularan. Bagi penggerak yang konsisten, maka mulai menginisiasi pertemuan, mengundang peserta, menyelenggarakan sesi kelas berbagi atau sebutlah dengan temu pendidik. Harapannya, mendapatkan pendukung praktik yang telah diinisiasi atau diadopsi itu mengalami nasib baik. Memberi kesempatan untuk diterapkan pada situasi yang berbeda. Tahap ketiga adalah tahap penyebaran. Para pengikut atau peserta temu pendidik mengajak orang lain di ekosistemnya untuk menerapkan praktik yang sama. Teori perubahan yang kita anut menyebutnya sebagai peristiwa titik balik. Pada tahap inilah seharusnya kita berharap banyak. Menunggu keajaiban bekerja. Inovasi mengalami nasib baik, mampu bergerak masuk mempengaruhi kelompok mayoritas akhir. Masyarakat pendidikan yang awalnya hanya sebagai pengamat, mulai mempraktikkan inovasi tersebut dalam kesehariannya. Pada titik balik inilah, inovasi dikisahkan sedemikian rupa, dari satu sumber ke sumber lain. Sebagai penggerak perubahan, kita berada di level mana?Banyak pertanyaan-pertanyaan dari kawan-kawan. Saya cantumkan beberapa. “Saya sudah bergerak dari tahun lalu sejak TPN 2019, tapi sepertinya tidak ada yang tertarik pak. Saya sendirian saja sampai sekarang.” “Dari lima penggerak awal, saat ini, hanya saya sendiri pak. Bahkan pengurus pun sudah tidak bergerak lagi.” “Tampaknya tidak ada yang berubah. Masih seperti semula. Apa yang salah? Di mana masalahnya, pak?” Teman-teman, mari kita periksa satu persatu. Inovasi yang bisa berdampak luas adalah adalah temuan yang mampu menjawab persoalan yang muncul. Temu Pendidik Nusantara telah berlangsung lima tahun. Ratusan praktik baik telah dihasilkan. Tertulis di puluhan surat kabar, buku bahkan setiap waktu disebar di postingan media sosial. Sesungguhnya, saat ini, kita tidak lagi kekurangan praktik baik. Saya ingin bercerita satu saja. Di sebuah sekolah negeri, dengan keterbatasan fasilitas belajar, salah satu guru honorer menggunakan sampah plastik sebagai sumber belajar IPA. Praktik ini menyelesaikan dua masalah sekaligus. Solusi keterbatasan fasilitas, sekaligus mengantar murid dari pengetahuan konten menjadi kompeten. Murid belajar dari pengalaman kekinian dan diaplikasikan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Dengan belajar Kimia, maka murid jadi tahu makanan apa saja yang layak dan sehat untuk dikonsumsi. Saya tidak dalam posisi mengukur apakah temuan tersebut berguna atau tidak. Tanpa debat, semua sepakat, bahwa temuan bapak guru kimia sangat esensial bagi murid. Layak diteruskan. Lalu kenapa ratusan praktik tersebut tidak berdampak luas di ekosistemnya? Itulah masalah kita bersama, para penggerak perubahan. Inseminator atau penggerak perubahan biasanya terlalu fokus untuk bertahan, lupa menyerang. Strategi perang mengajarkan, tidak ada yang bisa bertahan begitu lama menerima serangan. Siapapun itu, akan babak belur, kehabisan energi, kemudian layu perlahan-lahan, absen pada TPN berikutnya. Benar, penggerak Komunitas Guru Belajar terus melakukan kampanye, sosialisasi, publikasi, temu pendidik tapi melupakan hal esensial: merekrut pengikut pertamanya. Bagi yang memiliki pengikut, masih kadang khilaf, bahwa pengikut itu memiliki kebutuhan yang berbeda, butuh update informasi, pendampingan, percakapan dan pelatihan tingkat lanjutan. Belajar dari peristiwa sejarah apapun, setiap gerakan, ideologi, atau apapun namanya, sukses bukan di tahap inseminasinya. Tapi ketika inovasi tersebut mulai diadopsi oleh para pengikut. Ketika praktik tersebut mulai mendapatkan pengakuan. Semakin banyak pengikut pertama, maka peluang gerakan menuju titik balik akan semakin besar. Mari belajar dari kisah-kisah manusia langit. Konsep Assabiqunalawwalun, Al Hawarriyuu, gerakan murid-murid pertama. Kesuksesan ajarannya karena berhasil menghimpun pengikut pertamanya. Ketika para pengikut pertama mulai menyebarkan, bersuara, maka pada saat itulah titik balik kejayaan dimulai. Fokus pada kawan, bukan lawan. Saya pernah meyakini sebaliknya. Perjelas lawanmu, kawanmu akan menyatu. Belajar dari masa perjuangan tempo bahula. Kita cenderung menyatu dan kuat jika lawan kita jelas. Siapa melawan siapa. Siapa menang siapa yang kalah. Tapi jarak peristiwa itu dengan situasi yang sekarang sudah terlampau jauh. Situasinya berubah. Pengalaman berkomunitas justru mengajarkan mengambil posisi win to win, bukan lagi win to lose. Jika bisa berteman, kenapa harus jadi lawan? Kolaborasi adalah sebaik-baiknya strategi perang, saat ini. Tujuan kita jelas: menjadi guru belajar. Untuk mewujudkan itu, tentukan siapa sekutu kita. Sebagai penggerak perubahan di Komunitas Guru belajar, akan ditemukan lima jenis kelompok perubahan. Kelompok-kelompok inilah yang akan terus bertaut dari hari ke hari. Inovator, pengadopsi awal, mayoritas awal, mayoritas akhir dan para penghambat. Asumsinya, level kita saat ini sebagai inovator. Di komunitas kita, mudah mengenalinya. Kelompok yang tidak takut gagal. Berani mencoba tantangan baru. Saya sering membaca kisah-kisah kelompok ini pada perhelatan Temu Pendidik Nusantara dari tahun ke tahun. Melakukan perjalanan dari daerahnya menuju Jakarta menemui orang yang belum pernah ditemui sebelumnya.Teman-teman, kita adalah tipikal ini. Selalu antusias dengan tantangan baru. Merasa hidup dengan pengalaman baru. … Read more

#BelajarDiTPN7 Bersama #1000Pembicara

“Kalau daring terus, apa anak-anak paham pelajaran?“Kalau daring terus, apa anak-anak tidak bosan?”“Kalau luring, khawatir kesehatan”“Pembelajaraan tatap muka atau tatap layar? Pilih yang mana?Keresahan kita ini pula yang dicari jawabannya saat #BelajarDiTPN7 Generasi Alpha adalah generasi yang paling muda pada masa ini, generasi ini tumbuh dengan dikelilingi kemajuan teknologi yang begitu pesat dan cepat yang sudah mereka terima sejak masih berusia dini. Merebaknya berbagai jenis informasi yang sangat mudah diakses, menjadi tantangan sendiri bagi Generasi Alpha dalam memilah-milah informasi. Hanya melalui genggaman tangan semua bisa diakses dengan mudah, informasi diperoleh begitu cepat, hiburan yang bisa dimainkan kapan saja. Nah, jika seperti ini apakah anak-anak justru lebih tertarik menghabiskan waktunya untuk bereksplorasi dengan gawainya dibandingkan belajar?. Kemajuan teknologi menjadi tantangan tersendiri bagi para guru, karena tidak hanya murid yang harus beradaptasi dengan teknologi, tetapi guru pun pada posisi yang sama harus mampu beradaptasi mengelola teknologi menjadi fasilitator dalam proses pembelajaran dan orang tua memiliki peran baru sebagai penerus penyampaian materi yang seharusnya dilakukan oleh guru, terutama pada kelas-kelas tingkat dasar. Kondisi demikian, menuntut sekolah untuk melakukan inovasi dalam proses pembelajaran. Awal tahun 2020 Indonesia tepatnya bulan Maret menjadi titik balik berubahnya tatanan kehidupan, perkantoran, pusat perbelanjaan, bahkan sekolah-sekolah pun ditutup. Pandemi berdampak, pandemi mengubah tatanan yang sudah dijalani bertahun-tahun dan memunculkan kebiasaan baru. Salah satu dampak yang terasa dan terlihat adalah dunia pendidikan karena sekolah-sekolah ditutup, pembelajaran berlangsung secara jarak jauh, guru-guru dan murid dihadapkan pada situasi harus mampu beradaptasi dengan teknologi secara cepat, tak urung guru-guru yang sudah berumur tetap harus bisa memberikan pembelajaran yang layak untuk anak didiknya.  Anak-anak bisa menerima pelajaran yang saya sampaikan tidak ya? Apa anak-anak merasa bosan dengan daring selama ini?Orang Tua apakah sudah lelah menemani anak-anak sekolah daring? Guru-guru di masa pandemi ini dihadapkan dengan begitu banyak tantangan, kelas yang dilakukan secara tatap muka berganti menjadi daring dan luring secara bergantian, guru-guru harus memutar otak bagaimana mengelola kelas agar anak-anak paham dengan yang diajarkan dan tidak merasa bosan karena menatap layar, tentunya juga mengelola psikologis anak-anak terutama untuk jenjang sekolah awal karena mereka merasa bahwa ini bukan sekolah tetapi selayaknya menonton youtube yang biasa mereka tonton dan dengarkan sebagai hiburan semata, jaringan internet pun tak bisa dielak menjadi hambatan pada proses pendidikan apalagi di daerah yang belum terjangkau jaringan internet dengan baik, kemampuan guru dalam menggunakan perangkat komputer pun diuji di masa pandemi ini, serta orang tua yang tidak bisa mendampingi anak untuk belajar mandiri. Wah, tentu berat jika dirasakan.  #BelajarDiTPN7 menjadi jawaban atas tantangan diatas yang dirasakan oleh guru-guru dan murid, melalui TPN VII inilah terlihat banyak guru-guru justru lebih kreatif dan inovatif di masa pandemi ini. Jika dilihat dari kelas-kelas #BelajarDiTPN7 yang diisi oleh guru-guru berdaya banyak kelas yang menjadi jawaban kebutuhan guru untuk mengelola kelas di masa pandemi ini. Bukan menyerah dan menyalahkan keadaan justru guru-guru semangat menciptakan suasana daring yang menyenangkan dan bermakna. Terlihat hampir 400 kelas yang diselenggarakan, yang terbagi menjadi 4 kategori kelas yaitu Kelas Kemerdekaan, Kelas Kompetensi, Kelas Kolaborasi dan Kelas Karier.  Di Kelas Kemerdekaan guru-guru berbagi praktik baik pengajaran dengan menyampaikan materi (konten) secara reflektif, yang mau menerima umpan balik secara aktif dan menilai diri sendiri secara objektif, serta pengalaman belajar dengan rekan sejawat lebih penting dibanding dengan orang ahli.  Inilah contoh kelas yang ada di Kelas Kemerdekaan. Baca Juga: Pasar Praktik Baik itu Bernama Kelas Kemerdekaan Melalui Kelas Kompetensi #BelajarDiTPN7 peserta belajar tentang kompetensi dari program-program yang tersedia, sehingga dapat mengembangkan diri berkait pedagogi, penggunaan teknologi, karier, bahkan pengasuhan. Contoh kelasnya seperti ini. Pada Kelas Kolaborasi menjadi strategi bahwa guru yang saling berkolaborasi dan bahkan dengan stakeholder yang berkompeten pada dunia pendidikan. Ini menjadi bukti nyata bahwa guru bisa menggerakkan, melakukan perubahan dan menjadi pemantik tersendiri bahwa sebetulnya para guru mampu untuk berdaya dan berkarya, berikut contoh Kelas Kolaborasi di TPN VII. Sedangkan pada Kelas Karier adalah kelas yang menjadi bukti profesi guru tidak terhenti menjadi guru saja atau paling tinggi menjabat sebagai Kepala Sekolah atau Pengawas, tetapi guru bisa mengembangkan karier dan meningkatkan kapasitas dirinya sesuai dengan kompetensi dan minatnya untuk lebih berkembang menjadi guru yang inovatif dan kreatif. Profesi yang bisa dikembangkanpun beragam, seperti karier protean menjadi seorang content creator, penulis naskah, pendongeng, dan karier protean lainnya. Bahkan Bapak Ibu guru & kepala sekolah juga bisa mendapat inspirasi program sekolah dari sekolah lain. Contoh program sekolahnya seperti berikut ini: Ayo belajar barengan, karena teknologi bukan menjadi hal yang perlu untuk ditakuti atau dihindari justru dengan teknologi inilah guru-guru bisa berkolaborasi, mengembangkan imajinasi dan ekspresi yang dimiliki guna menunjang pembelajaran yang kekinian penuh inovatif.  Baca juga: Guru akan Tergantikan Kecerdasan Buatan #BelajarDiTPN7 menjadi semangat tersendiri bagi guru-guru karena memberikan ruang belajar yang luas cakupannya, dan guru bisa mengeksplorasi dirinya kebutuhan apa yang diperlukan dan perlu ditingkatkan, serta menjadi ajang guru-guru untuk bisa saling kenal membuat jejaring untuk saling berkolaborasi dan berekspresi bersama. Terlihat dari cuplikan judul-judul kelas #BelajarDiTPN7, yang dilihat dari judulnya saja sudah menjadi daya tarik dan minat untuk belajar lebih dalam lagi. TPN VII yang diikuti oleh #1000pembicara dan sekitar 3640 peserta merupakan ajang pendidikan yang tidak bisa terlewatkan begitu saja, mengingat masih banyak guru-guru yang perlu kita jabat untuk belajar bersama. Masa pandemi bukan menjadi halangan tetapi menjadi bukti tantangan yang membawa perubahan positif dan maju untuk guru-guru lebih pe de akan kemampuan dan kompetensinya bahwa mereka bisa melahirkan generasi Alpha yang maju akan teknologi tetapi juga memiliki karakter yang bisa dibanggakan dan belajar daring atau luring tidak menjadi masalah sekarang. Kemajuan teknologi ini memunculkan peluang baru terhadap akses yang lebih luas terhadap konten multimedia yang lebih kaya dan berkembangnya metode pembelajaran baru yang tidak dibatasi lagi oleh ruang dan waktu. Jadi, mana yang akan Bapak/Ibu tingkatkan?Kompetensi Paedagogi, Penggunaan Teknologi, atau keduanya? Ayo menjadi guru pembelajar, guru yang tidak pernah lelah untuk belajar.

Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional

“Sekolah saya sekolah pinggiran, jika ujian nasional saja kesulitan, bagaimana saat Asesmen Nasional diterapkan?” Tahun 2021 mulai diberlakukan Asesmen Nasional, apa yang harus sekolah persiapkan? Menyelenggarakan PJJ saat pandemi saja kewalahan, apalagi dengan Asesmen Nasional di tahun depan. Hhhmm dilihat-lihat banyak permasalahan ya?Apa Bapak Ibu juga begitu atau permasalahannya justru lebih akut nih? Waduuh, daripada terus-terusan memikirkannya, lebih baik kita kupas saja apa itu Asesmen Nasional, agar hilang rasa takut Bapak Ibu dan tidak ada kata ragu diantara kita *eh tidak ada ragu dengan Asesmen Nasional maksudnya. Konsep Asesmen Sebelum membahas Asesmen Nasional, sebenarnya Apa sih asesmen itu? Jika dilihat dari fungsinya ada tiga jenis asesmen, yaitu asesmen terhadap proses belajar, asesmen untuk belajar,  dan asesmen sebagai proses belajar. Pada AN penilaian tidak berpatokan pada hasil belajar murid atau angka perolehan tetapi proseslah yang dinilai, penilaian mengenai proses pembelajaran di  kelas, potret layanan dan kinerja dari sekolah/madrasah,  dan pemahaman murid dari tujuan atau esensi dari proses belajar yang berlangsung. Jika diperdalam lagi pendidikan Indonesia dari tahun ke tahun sampai sekarang ini masih menggunakan pola pembelajaran yang sama. Wah apa ini maksudnya? Mungkin bapak Ibu ada yang tahu? Ok kita lanjutkan kalau begitu ya, maksud dari penggunaan pola pembelajaran yang sama ini, anak-anak atau murid dituntut untuk menghafalkan materi, rumus-rumus, dan murid diberikan beban tugas yang banyak dari setiap mata pelajaran setiap harinya, wah bisa dibayangkan bagaimana murid merasakan capek dan tentunya Bapak Ibu juga merasakan capek bukan kalau harus menyiapkan beberapa tugas untuk murid, lalu para guru dan sekolah lebih mengapresiasi murid yang pintar, yang nanti dapat mengkatrol nilai murid-murid lain yang merasa tertinggal baik secara akademik maupun non akademik. Jika dibandingkan dengan menjalankan Asesmen Nasional baik murid dan guru tidak ada yang merasa terbebani, karena pola pembelajaran jadi menitikberatkan pada penalaran dan literasi, pemberian tugas atau PR dengan meningkatkan kualitas soal bukan pada kuantitasnya, dan penilaian yang akan diambil secara sampling dari setiap sekolah/madrasah masing-masing. Tidak akan ada lagi membandingkan dengan sekolah tetangga. Bagaimana menghadapi Asesmen Nasional? Nah, Bapak Ibu mau tahu bagaimana caranya bisa lulus Asesmen Nasional? Kita lihat jawabannya pada Obrolan #GuruMerdekaBelajar yang bertajuk Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional, Bagaimana Seharusnya Guru & Kepala Sekolah menyikapi AN? Pada Obrolan ini ada Pak Bukik Setiawan selaku Narasumber dan Ibu Elisabet Indah Susanti sebagai Pemandu. Acara melalui live di kanal youtube Kampus Guru Cikal ini penuh dengan pertanyaan dan rasa penasaran dari para peserta mengenai Asesmen Nasional, tampak beberapa komentar dari para peserta, terlihat Ibu Mahayu Ismaniar yang mengatakan“Enak nih jadi murid! Ga ditanyain hafalan mulu 🙁 terus dibandingin sama murid yang lebih pinter” Ibu Puti Hamid dengan sangat antusias mengatakan“bagus nih, aplikasi lintas mata pelajaran jadi berkesinambungan dari perencanaan-pembelajaran-asesmen-laporan perkembangan,”yang selaras dengan yang diungkapkan Ibu Theresia Tri Darini bahwa Asesmen Nasional dapat dimanfaatkan untuk refleksi proses pembelajaran. Cukup seru obrolan #GuruMerdekaBelajar malam itu membahas topik yang sedang hangat-hangatnya, pasti banyak pro dan kontra dengan kebijakan baru ini, jika ditilik lebih jauh Asesmen Nasional memiliki banyak manfaat yang bisa dirasakan baik oleh pengajar, peserta didik dan satuan pendidikan sekalipun, dengan Asesmen Nasional akan mengetahui sampai sejauh mana proses keberhasilan dan ketercapaian tujuan proses pembelajaran, tahu bahwa manfaatnya bisa dirasakan oleh murid, guru dan sekolah, serta apa yang perlu dikurangi (baik dari segi pemberian atau penyampaian materi dan kualitas tugas yang diberikan), mengetahui layanan dan kinerja apa yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan, dalam segi pengajar, guru secara tidak langsung juga mengalami penurunan beban kerja tetapi dengan peningkatan kualitas kerja yang lebih baik.Wah asyik nih Bapak Ibu! Bagaimana mengetahui keberhasilan dan ketercapaian Asesmen Nasional yang sudah dijalankan? Semakin banyak yang bisa kita kupas mengenai Asesmen Nasional ini, berdasarkan pemaparan Pak Bukik dalam obrolan live tersebut dijelaskan bahwa AN memiliki 3 bagian, yaitu Asesmen Kompetensi Minimal (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar. Pada pedoman AKM nantinya akan ada rubrik penilaian yang memiliki 4 urutan tingkat kompetensi, yaitu perlu intervensi khusus, dasar, cakap dan mahir. AKM dirancang untuk mengukur capaian murid dari hasil belajar kognitif, yaitu kompetensi literasi dan numerasi. Rubrik penilaian pada AKM diambil secara sampling atau survei yang dapat memberikan gambaran secara jelas mengenai ketercapaian asesmen yang mengarah pada penguasaan kompetensi literasi, numerasi dan karakter apakah sudah berhasil dan mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya. Rubrik penilaian inilah yang akan menjadi pegangan untuk menjalankan asesmen selanjutnya.  Tips Menghadapi Asesmen Nasional Dari Obrolan seru #GuruMerdekaBelajar Pak Bukik turut memberikan tips untuk mempersiapkan dalam menjalankan Asesmen Nasional Tahun 2021 bagi pemimpin Sekolah/Madrasah dan Guru.Siapa yang mau tahu tipsnya? Kira-kira apa saja tips yang bisa dilakukan? Tips tersebut antara lainPertama, setiap pemimpin Sekolah/Madrasah diharapkan dapat mengajak guru untuk melakukan analisis terhadap tujuan. Tujuan bahwa dengan menjalakan Asesmen Nasional untuk memperbaiki sistem proses pembelajaran ke arah yang lebih baik, baik pihak guru, sekolah bahkan murid bisa mendapatkan manfaat dari proses pembelajaran yang kita berikan;Kedua, kegiatan dan konten pembelajaran yang berpotensi pada mengembangkan kompetensi literasi, numerasi dan karakter, melakukan perencanaan pembelajaran kolaboratif berbasis pada murid yang diajar;Ketiga, melakukan forum berbagi praktik baik pembelajaran berbasis kompetensi yang mengarah pada penguasaan kompetensi literasi numerasi dan karakter. Sedangkan tips yang bisa diterapkan oleh guru antara lainPertama, melakukan asesmen di awal pembelajaran untuk memahami kompetensi awal murid;Kedua, melakukan dan memperbanyak pelaksanaan asesmen formatif berbasis kompetensi literasi,numerasi dan karakter sebagai dasar untuk penyesuaian pembelajaran;Ketiga, mengurangi jumlah tugas sekaligus meningkatkan kualitas tugas yang diberikan kepada murid. Video selengkapnya dapat ditonton di bawah ini Pilih tips yang mana nih Bapak Ibu? atau semua tips mau dicoba? Tuntutan perubahan dan tantangan yang akan dihadapi kedepannya. Diperlukan adanya rasa ingin tahu dan rasa ingin belajar yang kuat antar semua pihak yang berkepentingan. Seiring berjalannya waktu akan dirasakan manfaat dan tujuan dari suatu program yang dibentuk. Pro-kontra pasti akan selalu ada dan selalu mengiringi setiap perubahan, karena dengan pro-kontra tersebutlah akan menciptakan resep bumbu perubahan ke arah yang lebih baik, dan terasa semakin kuat rasa semangat untuk dapat menciptakan perubahan pendidikan Indonesia untuk berani bersaing dengan dunia.  Nah, sudah jelas bukan, Asesmen Nasional adalah jawaban dari kita semua untuk perbaikan mutu pendidikan kita. Tidak perlu diragukan dan meragukan lagi. Tentunya tidak perlu mengikuti bimbingan belajar dan drilling … Read more

Kemerdekaan Belajar Bukan Diberikan Tetapi Kita Gerakkan

“Yang kita inginkan adalah anak-anak yang punya aspirasi tinggi, yang punya cita cita melampaui langit, sebetulnya. Melampaui batas ruang kelas, melampaui batas dunianya. Dan ini hanya akan terjadi pada saat anak-anak punya kemerdekaan belajar. Tapi kemerdekaan murid-murid hanya akan terjadi pada saat kita sebagai pendidik juga sebetulnya  memiliki kemerdekaan”. Penggalan kalimat di atas adalah pernyataan awal penyemangat dari ibu Najelaa Shihab lewat video nonton bareng atau nobar yang sebelumnya diunduh di sebuah link yang tertulis pada  buku panduan nonton bareng video Kampus Guru Cikal dan Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN). Dalam pemaparan Inisiator Guru Merdeka Belajar ini, menyampaikan pesan tersirat sarat makna yang meminta guru untuk serius menjadi guru merdeka belajar.  “Apakah Ibu dan Bapak Guru sudah merasa merdeka?” ungkap ibu Elaa, panggilan akrab ibu Najelaa Shihab dengan nada tanya. Setelah itu ia lanjutkan lagi dengan narasi yang sangat menyentuh empati diri kita sebagai guru, bahwa kalau tidak merasa merdeka tidak perlu ada datang dan belajar.  Pertanyaan dan pernyataan ibu Elaa tersebut, bukan tanpa sebab atau bukan tanpa alasan. Semua sudah melewati fase realitas perjalanan dan pandangan mata di kehidupan guru dengan beragam cara dan kemampuan guru di sekitarnya. Tentunya dalam memaknai diri untuk maju dan paham akan tugas dan tanggung jawabnya sejak mengemban amanah sebagai guru.  Asumsi pemahaman tentang guru merdeka belajar ini menjadi titik fokus para guru di KGB Sinjai dengan digelar nonton bareng hari Ahad, 25 Oktober 2020 lalu. Mengingat situasi masih dalam masa pandemi Covid 19, kegiatan nobar ini digelar secara daring melalui aplikasi Microsoft Teams yang dimulai pukul 10.00 Wita.  Acara ini dipandu langsung guru Arni Idawati dengan tim teknis daring via Teams guru Takdir Kahar dan guru Hj Yuliani, ketiga guru ini adalah Penggerak KGB Sinjai. Kegiatan ini diikuti 35 peserta dari berbagai tingkatan sekolah seperti guru sekolah dasar, guru sekolah menengah pertama, dan guru sekolah menengah atas. Bukan hanya itu, kegiatan nobar guru merdeka belajar ini juga diikuti  dua  pengawas sekolah dalam lingkup Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan. Memaknai Merdeka Belajar Sebelum nobar Guru Merdeka Belajar diputar via Microsoft Teams, Moderator acara yang dipandu guru Arni Idawati memulai dengan menyapa semua peserta Nobar yang sebelumnya sudah mendaftar via link Microsoft Forms serta sudah bergabung dalam grup WhatsApp Nobar MGMB KGB Sinjai. Melihat semangat peserta yang begitu tinggi untuk segera melihat paparan video konsep Guru Merdeka Belajar dari Ibu Najelaa Shihab, maka tak berlama-lama di pembukaan acara, langsung moderator melempar pertanyaan reflektif ke peserta nobar, bahwa apa yang mereka pahami tentang Merdeka Belajar? Tak pelak saja, tidak sampai satu menit setelah pertanyaan di lempar langsung disambut sejumlah analogi peserta tentang pemahaman mereka tentang guru merdeka belajar. Seperti pernyataan guru Anshar dari SMAN 12 Sinjai, bahwa merdeka belajar itu ketika guru memiliki kemampuan dan semangat untuk belajar. Hal sama juga diungkapkan  guru Fariati dari SMAN 10 Sinjai, bahwa merdeka belajar itu adalah merdeka dalam belajar kepada siapapun dan merdeka dalam mengajar dengan kewenangan guru menentukan sendiri metode pembelajaran tanpa keluar dari tujuan pembelajaran. Ada juga pernyataan mengejutkan dari guru Rosdiana dari SDN 1 Balangnipa Sinjai. Bahwa guru merdeka belajar itu ketika sang guru mampu membuat perubahan kelas menjadi kelas yang menyenangkan. Bukan hanya itu, sebagai guru harus yakin bahwa dirinya adalah guru yang memiliki sisi lain yang luar biasa untuk selalu belajar dan bermanfaat bagi orang lain.  Senada dengan guru Hj Hasniar dari SMAN 3 Sinjai memberi sebuah gambaran, bahwa hakikat guru merdeka memiliki ciri-ciri  yaitu punya tujuan dan komitmen pada tujuan, guru harus memiliki sikap kemandirian, serta  selalu melakukan refleksi untuk  mencari sisi masukan dan penguatan dari pembelajaran yang selesai dilaksanakan. Pernyataan penguatan tentang apa itu merdeka belajar juga disampaikan pak Madalle Aqil, koordinator pengawas pendidikan untuk wilayah Kabupaten Sinjai dan Kabupaten Selayar Provinsi Sulawesi Selatan.  Dijelaskan bahwa guru merdeka itu adalah guru yang selalu belajar sepanjang hayat dengan memiliki tiga hakikat dasar sebagai guru. Pertama, guru merdeka belajar harus memiliki sifat dan sikap keikhlasan. Artinya, aktivitas guru yang mewarnai dalam kegiatan pembelajarannya di ruang-ruang kelas,  siap menerima segala tantangan dan terpenting selalu melakukan perbaikan. Kedua, guru merdeka belajar mampu mempraktikkan aksi atau tindakan. Artinya, segala tindakan yang dilakukan  adalah nyata karena sesuai dengan yang dibutuhkan  saat ini. Ketika salah maka dicoba dan dilakukan lagi atau tidak mudah putus asa. Ketiga, guru merdeka belajar terus belajar. Artinya, bukan berarti ketika sudah selesai mengajar, maka dianggap tujuan juga sudah tercapai. Tapi guru harus belajar dan berani melakukan refleksi dari apa yang sudah dilakukan dalam kegiatan pembelajarannya. Merebut Emansipasi Belajar Setiap alur narasi ibu Najelaa Shihab selalu ada ledakan makna dalam pemaparan tentang guru merdeka belajar. Sehingga praktis  kalimat demi kalimat yang disampaikan semuanya seperti kalimat pokok atau kalimat utama yang tidak boleh dibiarkan berlalu. Rugi rasanya ketika terlewatkan satu kata, lebih-lebih satu kalimat atau beberapa kalimat.  Dalam penjelasannya memantik peserta dengan melempar sebuah pernyataan mengejutkan. Bahwa ketika sepakat dengan konsep pendidikan di negara tercinta Indonesia adalah demokrasi, maka ia berani melisensi tentang keberadaan guru-guru yang bergabung dalam komunitas guru belajar sudah berada di tempat atau forum yang tepat.  “Anda berada di forum  yang tepat, karena di Komunitas Guru Belajar sangat percaya bahwa proses kemerdekaan itu sebetulnya bukan diberikan, tapi sesuatu yang kita gerakkan,” ungkap ibu Najelaa. Artinya segala kegiatan guru adalah sebuah proses sama-sama belajar seperti  proses emansipasi tidak dikasih atau tidak diberikan tetapi harus direbut, kemerdekaan belajar adalah sesuatu yang kita gerakkan. Tentunya guru harus memiliki komitmen, kemandirian, serta selalu melakukan refleksi. Penjelasan lain yang paling menyentuh adalah atas tindakan guru dalam ruang-ruang pembelajaran di sekolah untuk berani melawan miskonsepsi. Seperti anggapan yang sering muncul bahwa guru mau belajar kalau ada insentif atau uang serta ada sertifikatnya, padahal belajar adalah kebutuhan alamiah dari setiap guru. Anggapan lain seperti guru baru mau  belajar kalau dari sumber ahli atau dari pakar pendidikan. Ditemu pendidik sudah membuktikan, jika sumber belajar paling efektif adalah sesama guru yang sudah banyak pengalaman dan belajar melakukan perbaikan dari setiap ia di posisi kegagalan. Penjelasan lain tentang miskonsepsi adalah  belajar cukup terbatas ‘How To’ tidak mau ribet atau pusing dalam mengajar, padahal belajar itu dengan tujuan yang dapat  menyesuaikan diri dengan … Read more

Kuota Semangat Belajar yang Tidak Habis-Habis

Semangat belajar dan kerja keras ibu pengawas kami memang berbeda dari pengawas yang lain, kalau diibaratkan kuota internet, kuota semangat belajar beliau tidak pernah habis. Walau seorang perempuan yang tidak muda lagi namun tidak menghalangi  beliau berkarya dan berkontribusi dalam berbagai kegiatan. Selalu ingin mencoba hal yang baru dan menerima tantangan. Di saat melakukan supervisi sekolah dan guru, jangan harap kedekatan hubungan dengan beliau akan memuluskan pemeriksaan, tidak ada keistimewaan dalam hubungan disaat bekerja, semua rata dan adil. Masyaallah prinsip yang patut diacungi jempol. Melihat tidak habis-habisnya kuota semangat belajar belajar bu Makhdalena, nama pengawas kami, timbul keinginan saya untuk mengajak beliau untuk ikut bergabung di KGB. Dengan ikutnya beliau jadi penggerak akan memudahkan kami bergerak menyebarkan semangat merdeka belajar kepada guru-guru Lunang.  Disamping itu bu Makhdalena  selaku pengawas dan Kordikcam Lunang akan memiliki ruang yang lebih luas lagi untuk bergerak dan bertindak menyampaikan guru merdeka belajar dibandingkan dengan kami yang harus minta izin dulu jika ingin mengadakan kegiatan. Karena haus akan ilmu tanpa pikir panjang ibu Makhdalena  menerima tawaran yang saya berikan. Beliau minta kapan waktunya akan ikut nobar sesuai syarat awal sebagai penggerak.  Karena pada waktu itu kami akan melakukan ujian akhirnya semester tahun ajaran 2019/2020,  maka kami sepakat setelah  libur semester diadakan dikarenakan ibu Makhdalena akan ikut pelatihan ke LPMP Padang.  Waktu terus berlalu namun kegiatan nobar untuk bu Makhdalena juga belum terlaksana, terlalu sulit menghubungi dan mengatur waktu dengan beliau. Disaat  beliau bisa  untuk nobar namun saya sebagai reporter yang tidak bisa atau bu Rini Suryati sebagai koordinator  sekaligus narasumber tidak  bisa. Saya dan Bu Rini sepakat saat nobar bu Kordikcam kami harus lengkap sebab kami akan mengadakan nobar di hadapan seluruh kepala sekolah SD Lunang. Sehingga memudahkan kami dalam menarik  kepala sekolah untuk ikut aktif menyebarkan merdeka belajar di sekolahnya. Sayangnya, rencana tinggal rencana kegiatan nobar tidak kunjung diadakan untuk bu Makhdalena, sampai akhir datang wabah Corona melanda daerah kami. Lockdown, dilarang mengadakan acara, dilarang mengunjungi keramaian, di rumah saja dan aturan protocol kesehatan lainnya yang harus kami patuhi demi keamanan dan keselamatan. Di tengah pandemi yang melanda negeri kami guru penggerak Pesisir Selatan tetap semangat walau dari rumah, seolah kuota semangat belajar mengajar sangat banyak. Dengan menggunakan RPP PJJ yang di sediakan KGC, kami bisa mengajar dari Rumah melalui daring. Lain dari yang lain, sebagian besar guru-guru memberikan tugas kepada murid secara luring antar jemput tugas ke sekolah.  Melihat gebrakan kami guru penggerak berbeda dengan yang lain, sebagai pengawas dan Kordikcam Lunang  beliau merasa bangga. Bahkan minta digabungkan ke grup WA Paguyuban kelas 3, kelas yang  saya among untuk melihat bagaimana penerapan  belajar secara daring. Rasa penasaran bu Makhdalena semakin menjadi-jadi terhadap KGB, waktu kami mengadakan pertemuan penggerak di rumah bu Rini Suryati, beliau hadir  meskipun bukan  terdaftar sebagai penggerak. Beliau ikut nonton video Nobar bersama Bu Najelaa Shihab. Akhirnya waktu itu tiba juga, disaat Pandemic mulai berkurang di daerah kami, kami sudah diizinkan ke sekolah dan mengadakan pertemuan di kecamatan untuk membahas pembuatan soal ujian tengah semester  dengan mengikuti protocol kesehatan.  Hari Jumat tanggal   25 September 2020, kami mengadakan pertemuan guru kelas rendah 4-6 di kecamatan. Kesempatan ini tidak kami sia-siakan,  disaat menjelang kegiatan dimulai kami minta bu Mahkdalena menyampaikan sedikit informasi bahwa kita akan mengadakan nobar guru merdeka belajar. Saat video merdeka belajar  diputarkan oleh bu Rini Suryati, semua peserta focus menontonnya. Ada yang tertawa melihat gambar telunjuk anak sampai menembus atap rumah. Sebagian peserta ada yang berkata mungkinkah apa yang disampaikan oleh bu Najelaa Shihab itu bisa kita laksanakan di sini? Ada sebagian peserta kagum dengan terobosan yang disampaikan bu Najelaa Shihab.  Selesai video diputar, Bu Rini Suryati selaku coordinator tampil ke depan memandu diskusi. Diskusi diawali dengan pertanyaan “ diantara miskonsepsi tadi, mana yang paling menggambarkan Anda”?  dengan tertawa peserta menjawab uang saku, sertifikat dan menginap di hotel. Pertanyaan kedua pun bergulir” Apakah Anda ingin menjadi guru merdeka belajar”?  sebagian besar peserta menjawab ingin, apa alasan ibu bapak sambung bu Rini? Alasanya beragam tapi intinya ingin mengikuti jaman. Pertanyaan ketiga “ Sebagai guru merdeka belajar apa perubahan yang ingin anda lakukan”? ada yang menjawab, belajar lagi, bertanggung jawab atas tugas yang diberikan, ingin merubah sikap dan perlakuan kepada murid dan sebagainya. Mengingat waktu bu Rini mengakhiri diskusi tentang guru merdeka belajar. Baca Juga: Sekolah Lawan Corona, Sebuah Inisiasi untuk Membantu Pengajaran Jarak Jauh Acara dilanjutkan oleh bu Makhdalena selaku pengawas SD dan Kordikcam Lunang, diawali cerita beliau yang suka dengan gebrakan KGB dan manfaat yang dapat kita peroleh jika mengikuti perkembangan dunia dan pelaku pendidikan. Tak henti-hentinya beliau mensuport peserta untuk ikut gabung KGBD Pesisir Selatan kapan perlu jadi penggerak. Sungguh saya terharu mendengar semangat beliau dalam memperkenalkan KGB pada peserta. Semoga dengan bergabungnya bu Makhdalena sebagai penggerak Pesisir Selatan gerakan guru merdeka belajar dapat berkembang di Lunang. Acara demi acara telah selesai dilaksanakan dengan lancar, tak terasa pukul 12.00 WIB.  Saatnya istirahat sholat dan makan. Karena tidak ada kegiatan lagi maka kegiatan ditutup oleh moderator.  Di daerah kami  kondisi  wabah Corona masih belum pulih, selesai acara kami langsung pulang tanpa adanya poto bersama. Alhamdulilah sekali mengayuh sampan dua tiga pulau terlampaui, sekali mengadakan kegiatan nobar guru merdeka belajar dapat selesai. Guru semangat belajar guru merdeka belajar, merdeka. Salam Merdeka Belajar

Sekolah Lawan Corona Bantaeng : Program Pengembangan Guru di Masa Pandemi

Sekolah Lawan Corona telah berjalan hampir 1 bulan di Kabupaten Bantaeng, guru dan kepala sekolah telah mengikuti kurikulum dasar Guru Merdeka Belajar yang terdiri dari berbagai 5 level. Program diikuti guru secara otomatisasi di platform Sekolah.mu. Para peserta dari 16 sekolah ditemani oleh rekan-rekan guru dari KGB Bantaeng sebagai pendamping. Seminggu setelah kegiatan peluncuran program Sekolah Lawan Corona pada 18 September 2020, peserta mulai mengikuti program dari pengenalan platform yang digunakan dan kegiatan nonton bareng Guru Merdeka Belajar. Pada saat kegiatan nonton bareng, peserta diajak untuk berefleksi sebagai guru. “Melihat video guru Wanti, saya melihat guru Wati adalah seorang guru yang mempunyai komitmen dan dedikasi yang tinggi untuk membuat perubahan.” tutur guru Dharmawati, seorang peserta guru dari SDN Inpres Loka. Tidak hanya terinspirasi dengan perjuangan guru Wanti, saat kegiatan nonton bareng banyak guru yang merasa diingatkan dengan miskonsepsi guru belajar. Ada beberapa miskonsepsi yang sering guru lakukan selama ini. Misalnya Guru Amir dari SD Inpres Jatia, yang selama ini masih terjebak pada miskonsepsi belajar perlu insentif eksternal (sertifikat, uang transport), dan belajar harus dari ahli. Dari kegiatan nonton bareng Guru Merdeka Belajar ini juga, Guru dan Kepala Sekolah peserta program Sekolah Lawan Corona mendapatkan inspirasi tentang 3 elemen pada merdeka belajar yaitu Komitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara, dan refleksi. Banyak yang menyetujui pendapat tersebut. Misalnya guru Ramli dari SDN Borong Tarampang setuju tentang elemen-elemen merdeka belajar karena belajar tanpa tujuan tidak ada arah yang akan kita capai dengan adanya tujuan yang pasti kita dapat merefleksikan kegiatan berikutnya dan dapat mengetahui kekurangan yang kita lakukan sebelumnya. Setelah kegiatan nonton bareng dan pengenalan platform, para peserta langsung dihadapkan pada level-level program otomatisasi. Tidak mudah melaksanakan program secara daring, ada beberapa kendala yang dihadapi peserta. Dari masalah sinyal, hingga kesulitan mengakses program. Namun peserta menyerah dengan adanya kendala-kendala tersebut. Para peserta mencari cara agar tetap bisa menyelesaikan program hingga level 5, dan selanjutnya mengikuti sesi mentoring. Komitmen peserta dibantu oleh pendamping membuat peserta dari 16 sekolah banyak yang telah menyelesaikan program hingga level 5.  “Dari program Sekolah Lawan Corona ini banyak manfaat yang didapatkan guru-guru di Bantaeng : Guru bisa bertambah wawasannya tentang ilmu pedagogi, kompetensi guru meningkat, guru bisa menjadi guru merdeka belajar dan juga sekolah bisa mengembangkan diri menjadi Sekolah Merdeka Belajar.” tutur Drs. Muhammad Haris, M.Si selaku kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bantaeng. Selain itu, juga banyak peserta yang merasa terbantu dengan adanya program Sekolah Lawan Corona di Bantaeng. “Alhamdulilah setelah mengikuti program SLC kesulitan-kesulitan dalam melakukan pembelajaran dapat teratasi termasuk cara membuat RPP, saya juga mulai membuat kesepakatan dalam kelas.” tutur guru Syariffudin dari SDN 38 Janna Jannaya. Setelah melaksanakan program otomatisasi, peserta akan mengikuti program mentoring dan kurikulum kedua yaitu Sekolah Merdeka Belajar. Ingin sekolah Bapak Ibu mengikuti program Sekolah Lawan Corona juga?Yuk daftar! klik tombol di bawah ini:

Peluncuran Sekolah Lawan Corona di Kabupaten Bantaeng

“Saya besar di Papua. Bila orang membicarakan pendidikan daerah, maka saya mengalaminya sendiri. Saya mengalami sendiri kesulitan mencari buku bacaan. Saya mengalami sendiri kesulitan mencari guru dan sekolah berkualitas. Saya mengalami sendiri arti keterbatasan. Karena itu ketika menjadi seorang bapak, saya bermimpi mendirikan sekolah agar anak saya bisa mendapatkan kualitas pendidikan yang layak  Tapi setelah terjun menjadi aktivis pendidikan,  saya merevisi impian itu. Saya bermimpi ekosistem pendidikan yang kolaboratif agar anak-anak Indonesia mendapatkan kualitas pendidikan yang layak.” ujar Bukik Setiawan Ketua Yayasan Guru Belajar. Pada hari itu memang terjadi peristiwa seperti yang Bukik Setiawan ucapkan pada pidato pembukaan. Bahwa ada kolaborasi antara pemerintah daerah, organisasi profesi guru, lembaga pengembangan guru, lembaga pendidikan keluarga dan penyedia layanan sekolah  digital. Langkah awal yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan pembelajaran pada masa Covid 19 ini. Langah awal itu bernama Sekolah Lawan Corona. Sekolah Lawan Corona Bantaeng Setelah berhasil mengajak 128 sekolah yang terdiri atas 256 guru dan 128 Kepala Sekolah dari berbagai daerah di Jawa Tengah (baca juga Sekolah Lawan Corona Jawa Tengah) Kali ini program Sekolah Lawan Corona hadir di Bantaeng, dan akan diikuti kurang lebih 80 guru dan kepala sekolah dari 16 sekolah di Bantaeng. “Tuntutan guru yang memiliki kreativitas dan inovasi tidak hanya untuk masa pandemi saja, kita menghadirkan program Sekolah Lawan Corona untuk membantu guru membuat pembelajaran yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan keseharian.” ujar Bupati Bantaeng, Ilham Azikin dalam sambutannya. Kurikulum Sekolah Lawan Corona memang bertujuan untuk : Membantu kepala sekolah dan guru melakukan pembelajaran jarak jauh yang merdeka belajar. Membantu kepala sekolah dan guru melakukan strategi pembelajaran dan kepemimpinan berdasarkan prinsip cara 5M (Memanusiakan Hubungan, Memahami Konsep, Membangun Keberlanjutan, Memilih Tantangan dan Memberdayakan Konteks) Membangun jejaring sekolah merdeka belajar yang mempraktikkan pembelajaran dan kepemimpinan merdeka belajar secara berkelanjutan. Harapannya setelah program Sekolah Lawan Corona lahir Guru dan Kepala Sekolah Merdeka Belajar yang mampu menggerakkan pendidikan di Bantaeng. “Saya berharap jangan ada sekolah unggulan di Bantaeng. Yang saya mau semua sekolah unggul dengan kelebihannya masing-masing,” ujar Bupati di akhir sambutannya. Dalam peluncuran program Sekolah Lawan Corona Bukik Setiawan juga menekankan pentingnya berpihak pada anak. “Makna kita sebagai pendidik adalah anak-anak. Mau sehebat apa pun pendidik, tanpa anak-anak maka tak ada artinya. Mau sehebat apa pun sekolah, tanpa anak-anak pun kehilangan artinya. Bahkan sekolah yang jumlah muridnya yang terus menerus menurun akan ditutup. Tidak peduli sekolah swasta maupun sekolah negeri. Karena itu, wajar dan sudah pada tempatnya kita selalu mengingat-mengingat peran utama anak-anak dalam ekosistem pendidikan. Untuk apa kita mengajar? Untuk apa kita mendidik? Untuk apa kita bersusah payah di sini? Tidak lain dan tidak bukan untuk anak-anak, khususnya anak-anak Bantaeng.” Sekolah Anda ingin mengikuti Sekolah Lawan Corona?KLIK DISINI

Wisuda Sekolah Lawan Corona : Perayaan Belajar Guru dan Kepala Sekolah di Jawa Tengah

Sekolah Lawan Corona itu apa? Apa pula bedanya dengan pelatihan-pelatihan lain selama ini? Trus, nanti ngapain aja? Begitulah pertanyaaan awal para peserta yang hendak mengikuti program Sekolah Lawan Corona kerjasama antara Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah dengan Kampus Guru Cikal. Sekolah Lawan Corona merupakan respon terhadap keresahan para guru dalam mengelola pembelajaran jarak jauh. Program Sekolah Lawan Corona diinisiasi Kampus Guru Cikal dan dikerjakan bersama dengan Komunitas Guru Belajar Nusantara, Keluarga Kita dan platform digital sekolah.mu. Dinas pendidikan provinsi Jawa Tengah beserta Dinas kota dan kabupaten Semarang, kota dan kabupaten Pekalongan serta kota Surakarta merekomendasikan sekolah-sekolah di bawah jajarannya untuk mengikuti program ini. Sekitar 300 guru dan kepala sekolah mengikuti program Sekolah Lawan Corona. Tiap sekolah mengirimkan satu kepala sekolah dan dua orang guru. Mereka kemudian dikelompokkan per daerah masing-masing dalam grup koordinasi kota dan kabupaten. Baca juga Sekolah Lawan Corona Jawa Tengah Level demi Level di Sekolah Lawan CoronaGuru dikelompokkan per level untuk didampingi menyelesaikan modul belajar. Model belajar di program ini terbagi menjadi dua: otomatisasi dan interaksi. Otomatisasi artinya para guru belajar sendiri dengan menyelesaikan materi yang ada di platform sekolah.mu. Interaksi berarti para guru mendapatkan pendampingan setelah menyelesaikan level. Dalam pendampingan ini para guru melakukan refleksi belajar bersama para pendamping lewat video conference. Para pendamping guru belajar ini adalah fasilitator dari Komunitas Guru Belajar Nusantara. Para guru yang telah menyelesaikan materi belajar sampai level 5 kemudian diajak untuk menjadi narasumber di kelas live Sekolah.mu. Kegiatan ini bertujuan untuk berbagi refleksi dan pengalaman belajar selama di SLC dan dapat memberi insight juga kepada guru lainnya. Sekolah Lawan Corona dan RefleksiRefleksi yang banyak dipercakapkan oleh para peserta adalah pengalaman belajar bahwa apa yang dilakukan para peserta selama ini ternyata masih banyak miskonsepsi. Para guru akhirnya mengetahui bahwa Pengajaran jarak jauh itu bukanlah pembelajaran sebagaimana biasa, tidak hanya pembelajaran daring. Pembelajaran jarak jauh tidak bisa dikendalikan penuh oleh guru, dan bisa langsung diikuti oleh para murid. Para peserta belajar bahwa pembelajaran jarak jauh itu membutuhkan pelibatan orang tua dan bukan hanya memberikan tugas pada murid. Hal lain yang sangat membekas di hati para peserta adalah konsep 5M, yakni panduan pembelajaran jarak jauh. Memanusiakan hubungan, Memahami konsep, membangun keberlanjutan, memilih tantangan, dan memberdayakan konteks. Bella Anandya Yovita, guru SDN Gogodalem 01 Kabupaten Semarang mengungkapkan refleksi beliau, “Saya merasa senang karena saya dapat berpartisipasi dalam Program SLC dan saya mendapatkan banyak ilmu yang sangat bermanfaat. Saya menjadi paham tentang bagaimana cara melakukan pembelajaran jarak jauh yang baik dengan menggunakan pembelajaran 5M dan saya menjadi tahu apa yang harus saya lakukan, bisa berbagi ilmu atau sharing tentang merdeka belajar dengan rekan sejawat. Dan pastinya saya menjadi lebih tahu bahwa seorang guru bisa melakukan pembelajaran dengan kreatif meskipun tidak bertemu langsung dengan murid.” “Dengan Program SLC ini menjadikan saya punya bahan dan dasar untuk meyakinkan teman-teman melaksanakan pembelajaran yang bermakna tak lagi biasa-biasa saja. Semakin memahami bahwa proses pembelajaran itu orientasinya adalah murid.” Selain Guru Bella, ada beberapa refleksi lain yang diungkapkan peserta. “Mengaplikasikan di sekolah tempat saya berada, menularkan kepada unit sekolah di yayasan saya, dan menularkan kepada sekolah swasta di kabupaten Semarang yang kebetulan saya ketua paguyuban nya.” Tutur pak Loemiyono SMP IT Darul Fikri Bawen. Peserta dari Pekalongan juga tidak mau kalah memberikan refleksi belajar di program SLC. Salah satunya ibu Sri Rahayu dari SMPN 8 Pekalongan. “Wah sangatlah berkesan sekali bahwa hal ini kesempatan tidak datang dua kali!.Apalagi saat terpilih menjadi NARSUM Wah sangatlah luar biasa kehormatan buat saya meskipun harus DAG… DIG… DUG, di sinilah kita bisa saling bersilaturahmi, berbagi pengalaman antara guru, saling mengisi mana kekurangan dan kelebihan dari masing-masing sekolah.“ Ibu Rayinda Eva Rahmah dari MA YAPPI Kesesi Pekalongan menuturkan, “Sangat antusias dengan beragam kegiatan pelatihan yang ditawarkan oleh SLC Saya baru menyadari bahwa pengalaman belajar di SLC memberikan pemahaman baru kepada saya sebagai guru untuk memahami capaian minimal yang dapat diraih murid itu beragam saat PJJ. Terima kasih SLC atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk belajar dengan materi-materi seputar konsep pembelajaran selama pandemi Covid-19.” Refleksi menarik juga datang dari para guru PAUD. Beliau adalah ibu Anna Christi Mahanani,S.Psi dari TK PAUD Negeri Merah Putih Surakarta. “Harus benar-benar meluangkan waktu untuk mengikuti per sesi dan saat tidak terburu-buru sehingga hasil kuis benar semua itu kaya ada kepuasan tersendiri. Pengalaman pertama jadi narasumber itu suatu pengalaman baru untuk saya. Saya akan menerapkan 5M pastinya dan mau coba menulis sesuai pembelajaran ATAP.” Luluk Kristiningsih, S.Pd TK Kristen Widya Wacana VI Joyotakan Surakarta “Selama mengikuti SLC, saya merasa bangga, bisa mengikuti live streaming perdana untuk refleksi pembelajaran, meskipun sebenarnya ada begitu banyak hal yang harus saya selesaikan, namun saya sangat tertarik dengan program ini, selama ini saya salah pengertian untuk PJJ, saya hanya mementingkan menghabiskan materi saja, namun, dengan adanya SLC, saya menemukan konsep yang benar dalam PJJ, dengan sebelumnya harus mengenali profil murid-murid saya. Terima kasih untuk seluruh tim di SLC ini, untuk setiap ilmu yang sudah saya dapatkan. Semoga ini bisa saya terapkan dalam PJJ ini.” Keseruan refleksi tidak hanya berasal dari para peserta, namun para fasilitator dan koordinator SLC Jawa Tengah. Ibu Kristijorini dari Komunitas Guru Belajar Nusantara Surakarta mengungkapkan pengalaman saat mendampingi, “Pengalaman menjadi koordinator SLC kota Surakarta : Banyak mendapat kesempatan baru, berkenalan dengan orang baru yang kaya akan karakter, mendapat ilmu baru, menemukan cara baru dalam belajar dan yang pasti belajar dari banyak orang dari berbagai kalangan. Tantangan pasti ada. Namun bukan penghalang untuk meningkatkan kompetensi dan kolaborasi. Melalui SLC saya semakin memahami bahwa belajar itu bisa dimana saja, kapan saja dan dengan siapa saja. Serunya, untuk mencapai tujuan belajar yang menyenangkan, kami bisa menggunakan berbagai cara. Yang paling menarik lagi adalah, kami menemukan banyak guru-guru hebat dengan berbagai bakat luar biasa. Dan menemukan bahwa usia tua tidak menghalangi seseorang untuk menguasai teknologi. Bahkan dari seorang yang sama sekali tidak bisa menggunakan email saya belajar tentang kerja keras hingga beliau bisa membuat program sendiri di Sekolahmu. Belajar dari seorang guru yang minder, menjadi luar biasa saat diberi kesempatan untuk berbicara secara live. Belajar dari seorang guru yang terbatas dalam prasarana maupun dana, … Read more

Mencari Cara Belajar di Masa Pandemi

Masa pandemi membuat kegiatan belajar Temu Pendidik Daerah terkendala, karena imbauan untuk tidak berpergian,  menghindari keramaian, dirumah saja dan sebagainya. Hal tersebut membuat kami penggerak Pesisir Selatan  tidak berani melakukan pertemuan tatap muka. Meskipun demikian semangat belajar di masa pandemi dan rasa ingin mencoba hal yang baru membuat kami tidak kehilangan akal untuk bertemu dan berbagi.  Mulai dari membuat video di Kinemaster, belajar menjadi youtuber dan terakhir membuat media komik dengan menggunakan aplikasi Komik Master. Semuanya kami lakukan dengan daring melalui media zoom dan stream yard. Belajar dari kegiatan daring yang  diadakan KGB Sijunjung,  kami penggerak KGB Pesisir Selatan tidak mau ketinggalan dan ingin mencoba.  Berdasarkan kesepakatan penggerak Pesisir Selatan, maka kami  membuat dua kegiatan daring  yaitu guru berbagi (GUSHARE) dan guru berkisah. Program Gushare  merupakan kegiatan   guru yang berbagi ilmu tentang cara pengajaran di  dunia pendidikan. Sedangkan program guru berkisah merupakan  kegiatan tentang berbagi kisah suka dan duka menjadi guru serta perubahan yang telah dilakukannya. Hari Jumat tanggal  2 Oktober 2020 pada pukul 14.00 s.d 15.00 WIB  kami penggerak Pesisir Selatan  akan mengadakan Temu Pendidik Daring melalui aplikas stream yard.  Karena cuaca buruk dan listrik sering mati membuat kami khawatir juga mengadakan acara ini, takut gagal. Namun rasa percaya diri dan optimis kita bisa. Bu Salmiati, S.Pd bertugas sebagai coordinator, bu Elva Deni sebagai moderator dan bu Yeni Fitri bertugas sebagai narasumber. Saya kartini bertugas membuat liputan kegiatan.  Sehari sebelum kegiatan Temu Pendidik Daring kami petugas kegiatan melakukan gladi resik. Saat uji coba dilakukan cuaca hujan petir  namun sinyal tetap stabil, sehingga komunikasi lancar dan suara terdengar jelas. Mengingat kondisi cuaca demikian bu Salmiati selaku koordinator yang mengerti IT menyarankan kami untuk berbagi tugas jika sinyal kurang stabil nantinya. Jangan panik jika diantara kita nanti terkendala dengan sinyal usahakan kita santai dan tenang pesan bu Salmiati. Siap komandan ujar kami serentak sambil tertawa. Baca Juga: Sekolah Lawan Corona Saat yang dinanti pun tiba, pukul 13.50 WIB kami mulai  masuk ke ruang Stream Yard bersiap untuk live. Cuaca sangat bagus sinyal oke, semoga kegiatan yang kami adakan sukses. Pukul 14.00 WIB bu Salmiati selaku koordinator membuka kegiatan  dan mempersilahkan bu Elva Deni selaku moderator  untuk memperkenalkan diri serta memandu kegiatan. Sebagai pembuka acara bu Elva Deni memperkenalkan diri dan bercerita tentang kegiatan ini diadakan. Acara selanjutnya bu Elva Deni mengundang bu Yeni Fitri untuk masuk ke ruang Stream Yard. Buk Yeni Fitri pun sudah hadir dan siap berbagi ilmu dengan kami.  Melihat senyum manis dan semangat bu Yeni Fitri membuat kami semakin bergairah untuk mengikuti acara.  Bu Yeni Fitri mulai memperkenalkan diri dan dilanjutkan dengan bercerita tentang  latar belakang merancang media komik saat PJJ. Disaat bu Yeni Fitri sedang semangatnya  bercerita awal mengenal media komik, yang katanya diajari oleh Bapak Felix Catur dari KGB Wonosobo karena melihat unggahan beliau di FB.  Tiba-tiba bu Yeni Fitri hilang dari ruang  stream Yard, ditunggu tidak muncul-muncul, kami langsung panik dan cemas. Ternyata di tempat  bu Yeni Fitri listrik mati sehingga sinyal hilang.dan tidak bisa gabung lagi bersama kami.  Sesuai skenario yang diatur bu Salmiati kami harus berbagi tugas untuk  menghadapinya. Bu Elva Deni harus bicara mengambil alih peran bu Yeni Fitri, saat yang bersamaan saya dimunculkan ke depan layar oleh Bu Salmiati agar mengalihkan perhatian penonton. Sayangnya saat saya dimunculkan di layar pada waktu itu saya juga terkendala dengan jaringan sehingga apa yang dibicarakan bu Salmiati dan Bu Elva Deni  tidak  bisa saya dengar dengan jelas. Menyadari saya juga terkendala dengan jaringan bu Samiati ambil tindakan dengan bercerita tentang awal mula berkenalan dengan KGB yang disambut tertawa oleh bu Elva Deni. Mereka berkisah betapa besar perubahan yang dialami setelah mengenal KGB.  Alhamdulillah jaringan saya stabil kembali dan bisa mendengar percakapan antara Bu Salmiati dengan Bu Elva  dengan jelas. Hal itu segera kulaporkan sehingga mereka meminta saya untuk  bercerita  tentang pengalaman yang didapat setelah bergabung dengan KGB. Karena baru aktif di KGB jadi saya belum punya banyak pengalaman untuk diceritakan. Namun selama belajar di masa pandemi, saya mempunyai cerita tersendiri saat melakukan pembelajaran jarak jauh dengan secara daring menggunakan RPP yang dikeluarkan oleh KGC.  Saat kami sedang berusaha mencari cara untuk mengalihkan perhatian penonton, sungguh  diluar dugaan kami mendapat dukungan dari teman-teman yang ikut live bersama kami. Malu dan panik dapat kami kendalikan, rasa percaya diri muncul kembali setelah membaca pesan dan dorongan dari teman-teman di luar sana. Meskipun tema yang kami sampaikan sangat melenceng jauh dari tema sebelumnya, namun teman-teman  tetap menonton kami sampai selesai.  Kegiatan GUSHARE yang diadakan secara live selesai juga. Walau tidak sesuai dengan rencana namun kami puas dan bahagia karena sudah  melaksanakan amanah dari komunitas guru belajar Pesisir Selatan. Meski malu menghampiri diri namun kami tidak peduli karena kesalahan bukan dari kami tapi situasi yang sedang menguji. Kami banyak mengambil hikmah dan pelajaran yang bermakna dari kegiatan ini, apapun yang terjadi jika kekompakan dan kerjasama tetap terjalin semua dapat diatasi. Semangat belajar guru merdeka belajar, sekali merdeka belajar, tetap merdeka belajar.