Siap AN, Siap Berubah?

Tidak dapat dipungkiri bahwa keputusan penghapusan Ujian Nasional dan penetapan Asesmen Nasional (AN) memicu tumbuhnya kegelisahan, kekhawatiran dan pertanyaan dari guru dan sekolah/madrasah. Hasil survey yang dilakukan Kampus Guru Cikal terkait kesiapan guru dalam pelaksanaan AN, menampilkan sejumlah data. Dari data tersebut diketahui bahwa 67% guru telah memahami tujuan asesmen nasional, 70% menyatakan telah paham perbedaan antara Ujian Nasional dan Asesmen Nasional, 50% guru menjawab telah memahami manfaat laporan hasil Asesmen Nasional, dan 60% menyatakan telah paham apa yang dinilai melalui Asesmen Nasional.  Meskipun demikian, dari data survey juga diketahui bahwa 56% dari responden masih memiliki kekhawatiran terkait AN. Guru khawatir murid tidak dapat melakukan Asesmen Nasional dengan baik, khawatir murid menyepelekan pembelajaran karena hanya fokus pada asesmen literasi dan numerasi, khawatir murid tidak mampu  mencapai level kompetensi yang diharapkan, khawatir akan masih banyak guru yang mengejar nilai, khawatir karena murid selama ini belum berlatih bernalar dan tidak terbiasa dengan soal-soal Higher Order Thinking Skills, serta khawatir dengan rapor AN yang akan diterima sekolah. Kekhawatiran itu pula yang mendorong sekolah-sekolah gencar melakukan tryout AN, drilling soal AKM untuk siap menghadapi AN. Guru kembali terjebak dalam malpraktik pembelajaran dalam melakukan persiapan menghadapi asesmen nasional. Kemudian muncul pertanyaan lagi. Jika drilling soal tidak diperlukan untuk persiapan AN, lalu apa yang sekolah harus lakukan? Bagaimana dengan buku latihan soal dan bimbel yang sudah disediakan? Jika tidak ada jam tambahan, itu artinya murid tanpa persiapan? Bagaimana nanti nilainya? Katanya AN terkait literasi dan numerasi. Bukankah tugas guru bahasa dan matematika yang menghadapi? Lalu apakah pelajaran yang lain masih dianggap penting oleh murid?  Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Kegelisahan dan pertanyaan tersebut jika diperhatikan masih menunjukan adanya miskonsepsi terhadap pelaksanaan AN secara khusus, sekaligus miskonsepsi terhadap belajar secara umum. Kekhawatiran yang ditunjukan dari survey, membebankan pelaksanaan dan hasil AN pada pundak murid, sebagai penentu kualitas pendidikan. Kekhawatiran dan pertanyaan tersebut juga memberikan gambaran miskonsepsi belajar secara umum yang yang berorientasi pada target penguasaan materi bukan kompetensi, serta asesmen yang terlalu berorientasi pada asesmen sumatif sehingga semua penilaian berupa skor digunakan untuk menentukan nilai akhir. Sudah seharusnya pemahaman dan kesiapan menghadapi AN dibarengi dengan perubahan paradigma guru mengenai konsep belajar dan asesmen. Bukik Setiawan, ketua Yayasan Guru Belajar mengatakan “Ada perbedaan nyata pada konsep baru tapi tidak akan bermakna bila pemahaman lama yang digunakan untuk memahami konsep baru”. Memahami Asesmen Nasional berarti memahami perubahan untuk peningkatan kualitas pembelajaran mulai dari kelas masing-masing dimana guru sebagai kuncinya. Sebagai respon terhadap keadaan ini Kampus Guru Cikal menginisiasi program  Siap AN, Siap Berubah yang diluncurkan pada Jumat, 26 Maret 2021. Elisabet Indah Susanti, Ketua Kampus Guru Cikal menjelaskan, “Program ini dirancang untuk membantu kepala sekolah dan guru menerapkan strategi pembelajaran berbasis kompetensi untuk peningkatan kualitas pembelajaran, membantu kepala sekolah dan guru menerapkan berbagai strategi asesmen untuk  mendukung pencapaian kompetensi murid, serta membantu kepala sekolah dan guru mengintegrasikan kompetensi literasi dan numerasi dalam pembelajaran dan asesmen.” View this post on Instagram A post shared by Kampus Guru Cikal (@kampusgurucikal) “Melalui program ini diharapkan guru mampu meninggalkan miskonsepsi dan membangun paradigma baru mengenai konsep belajar dan asesmen yang lebih berorientasi pada perkembangan kompetensi murid” lanjutnya. Program Siap AN, Siap Berubah – Kampus Guru Cikal ingin memberikan dampak seluas-luasnya pada guru dan kepala sekolah di seluruh Nusantara. Untuk itu progam Siap AN, Siap Berubah disediakan dalam beberapa bentuk menu belajar yang bisa dipilih oleh kepala sekolah dan guru, baik secara perorangan maupun kolektif. Menu belajar  yang disediakan terdiri dari; menu Merdeka, dimana kepala sekolah dan guru bebas memilih program dari kurikulum yang disediakan sesuai kebutuhan masing-masing; menu Kompetensi, dimana kepala sekolah dan guru secara perorangan dapat mengikuti paket kurikulum belajar secara lengkap dengan harga promo; serta Paket Beasiswa Sekolah yang bisa diadakan secara kolektif untuk guru dan kepala sekolah. Bukik Setiawan menambahkan, “Tidak ada kenyamanan dalam perubahan. Semua perubahan menuntut kita meninggalkan zona nyaman dan masuk pada zona belajar. Siapkah kita?” Salam Hangat, Ketua Kampus Guru CikalElisabet Indah Susanti Ingin mengikuti program Siap AN, Siap Berubah?Klik tombol di bawah ini

Gaya Belajar Murid & Merdeka Belajar

Rabu 10 Maret 2021 pukul 10.00 WIB, adalah hari dimana Komunitas Guru Belajar (KGB) Pesisir Selatan  khususnya di Kecamatan Ranah Pesisir yang bertempat d UPT SDN 19 Padang Sirih. Kegiatan ini memiliki aktivitas berupa nonton bareng Guru Merdeka Belajar dan belajar mengenai “Memahami Gaya Belajar Murid”. Kegiatan nobar ini dimoderatori oleh kepala sekolah saya Rosmaini dan alhamdulilah di koordinatori oleh pengawas ibu Hafni Zahara dan di akhir nanti ada pemaparan dari penggerak KBG Pessel  Nofri Mayasril. Perkenalkan saya Eka Putri Rosdiani salah satu calon penggerak KGB, dan saya salah satu penerima beasiswa Guru Merdeka Belajar angkatan 1, dalam acara nobar kali ini saya sebagai pemandu acara nobar mengenai guru merdeka belajar dan sesi belajar mengenai memahami gaya belajar murid di akhir acara nobar ini. Kegiatan ini sebenarnya direncanakan diadakan tahun 2020, tapi karena berhubung keadaan dan situasi yang tidak memungkinkan karena adanya Covid 19 makanya kegiatan ini tertunda selama setahun. Alhamdulillah kegiatan ini dapat dilaksanakan hari ini dengan tetap memperhatikan protocol kesehatan dan dengan peserta yang hanya 14 orang saja untuk menghindari kerumunan. Acara ini yang semula dijadwalkan jam 10.00 WIB tertunda sekitar 15 menit karena ada kesalahan beberapa peralatan yang tidak pada semestinya. Akhirnya acara ini dimulai dengan dibuka oleh moderator kepala sekolah saya sendiri kemudian beliau mempersilakan kepada saya untuk memulai acaranya. Di awal acara saya memberikan kata sambutan dan menjelaskan sedikit tentang kegiatan yang akan dilaksanakan hari ini. Kemudian saya memaparkan bahwa acara hari ini pengambilan absen secara online dan linknya dibagikan oleh bapak Nofril Mayasril. Para peserta merasa terkejut dan banyak yang bilang tidak bisa. Kemudian bapak Nofril Mayasril membantu saya memberikan penjelasan kepada peserta bagaimana caranya pengambilan absen secara online. Dalam pengambilan absen sedikit mengalami kesulitan karena ada beberapa faktor salah satunya karena jaringan di tempat pelaksanaan kurang lancar. Tapi alhamdulillah akhirnya dengan kerjasama dan penjelasan serta bimbingan dari saya dan Bapak Nofril Mayasril akhirnya peserta bisa mengisi absen online. Kegiatan dilanjutkan dengan nobar video dari Najelaa Shihab. Sebelum pemutaran video bapak Nofri memberikan pertanyaan kepada peserta “apa yang bapak ibu ketahui tentang merdeka belajar?” Para peserta hanya diam dan tidak ada tanggapan. Akhirnya bapak Nofri memberikan penjelasan bahwa untuk menjawab pertanyaan tersebut terdapat dalam video berikut.  Peserta mengikuti dengan tenang dan mendengarkan dengan seksama video tersebut dan ada beberapa guru peserta yang saya perhatikan mencatat hal hal penting yang terdapat dalam penyampaian video tersebut. Kegiatan nonton bareng pun selesai, kemudian bapak Nofril Mayasril langsung memberikan  penjelasan bahwa peserta diminta untuk menuliskan refleksi dari video yang telah ditonton dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut pada kertas yang telah dibagikan.  Para peserta menjawab pertanyaan tersebut sambil dipandu oleh Nofri dan dijawab pada kertas yang telah diberikan. Kemudian peserta menjawab pertanyaan tersebut sambil ada beberapa guru mengajukan pertanyaan dan meminta penjelasan dari pertanyaan tersebut. Seperti salah seorang peserta bertanya ”Apakah semua pertanyaan tersebut harus dijawab? Dan apa kami perlu ikut KGB untuk pengembangan diri? Pertanyaan tersebut dijawab oleh bapak Nofri dengan senyum dan santai. Bahwa dalam menjawab pertanyaan dipersilakan semuanya, tapi kalau bapak ibu tidak sanggup boleh semampunya saja. Dan untuk pengembangan diri sebenarnya boleh dimana dan bagaimananya. Tapi KGB merupakan sarana untuk berbagi dan bekerjasama untuk memberikan praktik baik dan pembelajaran yang bermakna bagi murid. Akhirnya refleksi pun selesai dan peserta diminta untuk menempelkan hasil refleksi yang ditulis ke papan tulis. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Acara refleksi pun selesai kemudian pak Nofri memberikan sedikit penjelasan mengenai KGB terutama KGB Pesisir selatan. Kemudian Pak Nofri mempersilakan kepada pengawas sebagai koordiantor acara untuk memberikan sedikit motivasi kepada para peserta nobar kali ini. Dalam penjelasannya beliau menyampaikan merasa bangga dan senang dengan adanya acara ini dapat menambah ilmu dan motivasi kepada guru guru peserta dan beliau memberikan motivasi yang bagus kepada para peserta. Setelah acara Nobar merdeka belajar dan refleksi selesai acara dilanjutkan dengan pemaparan materi “Memahami gaya belajar murid”. Sesi dibawakan dengan cukup menarik oleh bapak Nofri. Hal ini terlihat dari antusiasnya para peserta mendengarkan materi yang disampaikan dan sesekali dalam penyampaian materi ada tanya jawab antara peserta dan bapak Nofri. Dan dalam penyampaian materi ini ada beberapa kali antara bapak Nofri dan peserta bercanda dan tertawa membahas banyaknya macam gaya dan tabiat murid yang dialami di lapangan.  Acara diakhiri dengan beberapa kesimpulan, komitmen dan kesepakatan bahwa kita para guru akan berusaha memberikan yang terbaik kepada murid, memberikan pembelajaran yang merdeka dan bermakna bagi murid. Para peserta bisa bergabung di KGB khususnya KGB Pesisir Selatan untuk saling berbagi ilmu, sama sama belajar dan berbagi praktik baik untuk kemajuan pendidikan dimasa yang akan datang. Acara perdana saya di KGB ini sangat menantang bagi saya, dan sangat besar manfaatnya bagi saya. Sangat memotivasi saya dalam menambah ilmu, saling berbagi dengan teman, dan juga sebagai wadah dan tempat komunikasi antar guru dalam berbagi ilmu dan permasalahan yang kita temui sebagai guru di lapangan tempat kita mengajar di sekolah masing masing. Tidak ada yang tidak mungkin dilakukan jika kita punya komitmen dan niat yang tulus terhadap tujuan. Ayo kita sebagai guru benahi diri kita, jadilah guru yang merdeka, berilmu dan melahirkan penerus bangsa yang bermartabat dan madani dan tetap fokus pada tujuan memajukan kehidupan bangsa. Semua yang dilaksanakan harus dengan komitmen dengan tujuan dan niatkan hati untuk mencapai tujuan. Semua tahap yang dilalui adalah proses tidak instan untuk mencapai tujuan.

Pameran Karya Merdeka Belajar

Apa yang tertanam di benak atau yang dipikirkan jika mendengar kata “Pameran Karya” ? Apakah majalah dinding yang tertempel di papan sekolah, memajang piala-piala kejuaraan atau memamerkan karya seni yang dihasilkan oleh murid? Apa ya maksud dari pameran karya sebenarnya? Apalagi Pameran Karya Merdeka Belajar. Sebelum membahas pameran karya lebih dalam, kita akan kulik terlebih dahulu untuk menyamakan persepsi terkait apa itu pameran karya. Pameran Karya adalah sebuah program dimana anak-anak dapat menceritakan kembali apa yang sudah mereka dapatkan dan pahami dalam proses belajar, dimana anak-anak memiliki keinginan yang kuat dalam dirinya untuk  bisa membuat dan menghasilkan sebuah karya yang terbaik yang sekaligus dapat membagikan pesan yang ingin disampaikan melalui karya tersebut secara luas. Pameran karya menjadi salah satu bukti anak-anak dapat berkreasi dan bereksplorasi dengan pengetahuan, pengalaman dan kompetensi yang dimiliki, dan menjadi suatu kebanggan tersendiri ketika anak-anak dapat menghasilkan sebuah karya.   Pada Obrolan Guru Merdeka Belajar 9 Maret 2021 yang bertemakan “Pameran Karya Merdeka Belajar” tidak hanya mengajak guru menjadi narasumber tetapi turut serta mengajak murid-muridnya untuk bisa bergabung dan berbagi mengenai pameran karya yang sudah pernah dihasilkan di sekolah. Obrolan #GuruMerdekaBelajar dipandu oleh Mahayu Ismaniar dengan 4 narasumber, yaitu Dirayanti Bungawardani guru di Sekolah Cikal Serpong, Eka Priyantiningrum guru di Sekolah Pembangunan Jaya, sedangkan muridnya ada Rayyan Akman Arsyad dari Sekolah Cikal Serpong dan Ni Wayan Azalia Seca Devina murid dari Sekolah Pembangunan Jaya. Rayyan berbagi mengenai karya karya yang pernah dihasilkannya yaitu sebuah komik yang bercerita tentang sejarah kerusuhan yang terjadi pada tahun 1998, yang memiliki tujuan untuk menyelesaikan masalah kurang minatnya murid pada mata pelajaran sejarah dan adanya stigma bahwa mata pelajaran IPS yang membosankan, rumit dan banyak materi hafalan.  Sedangkan Azalia pada semester pertama membuat sebuah poster mengenai kerajaan-kerajaan di Indonesia salah satunya kerajaan Tidore, pada waktu semester kedua Azalia kembali membuat sebuah poster yang dilengkapi dengan video mengenai provinsi Kalimantan Barat yang dikerjakan secara berkelompok yang juga digunakan untuk penilaian tengah semester.  Menarik sekali hasil karya yang dihasilkan Rayyan dan Azalia yang mengangkat materi hafalan yang bisa dibilang membosankan dan kurang diminati bagi sebagian murid, justru menjadi cara belajar yang mengasyikkan melalui pameran karya ini yang membuktikan bahwa mata pelajaran apapun dapat dikemas dalam pameran karya yang unik dan menarik untuk dipelajari lebih lanjut. Pameran karya menjadi salah satu bentuk asesmen yang dilakukan untuk mengetahui pemahaman murid, kompetensi yang dikuasai sampai dapat menghasilkan sebuah karya. Eka Priyantiningrum menjelaskan bahwa dengan adanya pameran karya ini mengandung sebuah istilah “ada udang dibalik batu”, maksudnya bahwa dalam sebuah pameran karya yang dihasilkan ada hal berharga yang dibagikan oleh murid-murid. Hal-hal berharga yang dimaksud antara lain keinginan guru-guru untuk dapat mengembangkan minat dan bakat siswa yang dimiliki, membuat sebuah project bermakna (berkolaborasi antar mata  pelajaran), melatih siswa membuat perencanaan, melatih dalam berkomunikasi (guru-guru; guru-siswa; siswa-siswa), critical thinking, dan yang terakhir dapat dijadikan sebagai penilaian lengkap kinerja murid (penilaian pengetahuan,keterampilan sampai penilaian sikap). Dirayanti Bungawardani pun menambahkan bahwa asesmen dalam pameran karya menggunakan rubrik yang mencakup beberapa kompetensi, yaitu komitmen, cerdas, dan berpusat pada aksi. Melalui proses pembuatan karya dapat dilihat seberapa besar komitmen murid dalam mengerjakan dan menyelesaikan sebuah tugas, mulai dari pembuatan timeline sebagai pedoman pengerjaan, pada kompetensi cerdas dapat digunakan untuk melihat apakah murid dapat menerapkan pengetahuan yang cukup komprehensif, dan pada kompetensi berpusat pada aksi untuk dapat mengambil solusi-solusi untuk dapat menyelesaikan tantangan selama pembuatan sebuah karya.  Kali ini Azalia bercerita tentang proses bagaimana membuat poster digital dan juga video yang sudah dipamerkan. Pada saat pembuatan poster digital dimulai dari bagaimana menggunakan aplikasi, penentuan tema agar tidak saling memiliki kesamaan tema, kemudian penentuan deadline pengumpulan karyanya, yang tentunya selama proses pembuatan guru turut serta menanyakan proses pembuatannya sudah sampai mana dan apakah menemukan kendala dalam proses pembuatan poster digitalnya. Setelah poster digital dikumpulkan dan dipertontonkan secara luas ada evaluasi yang diberikan dari hasil poster digital tersebut. Pada pembuatan poster dan video provinsi Kalimantan Barat yang dilakukan secara berkelompok tentunya ada beberapa bagian yang dibagi-bagi untuk saling berdiskusi, bekerja sama dan berkolaborasi, contohnya dalam pencarian informasi mengenai peta, lagu daerahnya, tarian yang dimiliki, dan yang lainnya.  Sedangkan Rayyan bercerita awal mula memilih kerusuhan tahun 1998 dikarenakan banyak perspektif teman-temannya mengenai pelajaran terutama pelajaran sejarah yang kurang menyenangkan, sedangkan menurut Rayyan sendiri pelajaran tersebut menyenangkan untuk dipelajari, lalu timbullah ide untuk membuat sebuah karya untuk mengemas pelajaran sejarah menjadi menarik untuk dipelajari yaitu melalui komik, tantangan terbesar yang ditemui selama proses membuat project itu adalah skill-skill yang dibutuhkan pada saat membuat project itu sendiri, seperti bagaimana membuat planning yang baik, riset informasi yang mendetail, dan mencari ide yang bisa menjadi pelajaran penting dalam menghasilkan karya.  Baca Juga: Lebih Penting Pameran Karya atau Memajang Nilai Murid? Pada Obrolan #GuruMerdekaBelajar peserta diberikan kesempatan untuk bertanya dengan narasumber antara lain Amalia Tjiandra dan Ika Amaliah. Ibu Amalia Tjiandra mengajukan pertanyaan kepada Rayyan dan Azalia tentang seberapa penting adanya pameran karya yang ada di sekolah untuk murid?, menurut Azalia sangat penting karena dengan adanya pameran karya dapat menambah kreativitas dan pengetahuan bagi murid itu sendiri, dan pada pameran virtual yang dilakukan dengan kecanggihan teknologi murid dapat lebih menguasai perkembangan dalam penggunaan teknologi sekarang ini yang dapat dengan mudah untuk membagikan hasil karyanya secara luas melalui link yang dibagikan. Sedangkan menurut Rayyan ilmu atau konsep yang diaplikasikan dalam menciptakan suatu karya akan sangat bermanfaat untuk kedepannya baik untuk belajar di jenjang yang lebih tinggi atau pada waktu bekerja nantinya.  Pertanyaan berikutnya dari Ibu Ika Amaliah untuk Azalia dan Ibu Eka tentang bagaimana menyiasati anggota kelompok yang tidak aktif dan sulit bekerja sama? Dan Bagaimana membuat kelompok tetap kondusif dari perencanaan sampai eksibisi? Wah banyak dirasakan juga oleh Bapak/Ibu juga sepertinya ya. Menurut Ibu Eka sebelum membentuk sebuah kelompok dalam pameran, sebaiknya sudah melakukan observasi kelas terlebih dahulu berdasarkan penilaian dari penugasan-penugasan yang diberikan secara individual untuk mengetahui murid siap dan bisa untuk bekerjasama dalam tugas yang dilakukan secara berkelompok, sedangkan menurut Azalia untuk teman yang bisa dikatakan kurang aktif akan selalu diingatkan dan ditagih terkait tugas atau peran yang sudah dibagikan kepada masing-masing murid di awal sesuai dengan kesepakatan dalam … Read more

Lebih Penting Pameran Karya atau Memajang Nilai Murid?

Pernahkah kita berpikir, apa esensi sekolah? Mengapa sekolah harus menerbitkan rapor murid dan menyerahkannya kepada orangtua? Pentingkah nilai-nilai itu? Atau, sebenarnya sekolah harusnya punya visi misi lain yang lebih bermakna? Mengapa nilai murid lebih sering dipajang, namun jarang ada pameran karya? Dalam obrolan #PemimpinMerdekaBelajar yang digelar 13 Februari 2021, hal itulah yang jadi topik pembahasan. Dipandu oleh bu Puti Almirsha, obrolan kali ini berfokus pada bagaimana sebenarnya esensi sekolah. Mengapa sekolah didirikan dan menjadi bagian belajar murid? Termasuk hubungannya dengan pameran karya sebagai instrumen pembelajaran.  Pak Bukik Setiawan, Ketua Yayasan Guru Belajar (YGB) sebagai narasumber menyatakan pemahaman yang tepat atas sekolah ini sangat penting. Apalagi, ketika dihadapkan dengan realita saat ini. Di mana, dunia sudah begitu terbuka. Sekat-sekat karir yang sebelumnya terbatasi dalam segmentasi tertentu, kini menjadi lebih cair dan beragam. “Di zaman ini, siapa yang menduga, menjadi youtuber bisa menjadi karir,” ujar Bukik.  Menurutnya, realitas yang berkembang ini harus diimbangi dengan kesadaran bahwa sekolah harus kembali mencari tujuan yang tepat. “Bagaimana sebenarnya sekolah itu?” sambungnya dalam obrolan #PemimpinMerdekaBelajar yang ditayangkan channel You Tube Sekolah Merdeka Belajar ini.  Pak Bukik mengatakan, pemahaman tentang sekolah atau madrasah ini, akan menentukan mau seperti apa output yang dicapai. Jika misalnya, sekolah dimaknai sebagai lembaga birokrasi, maka tentu saja output yang dihasilkan adalah laporan pertanggungjawaban keuangan dan program. Laporan yang disampaikan kepada lembaga birokrasi yang lebih tinggi. Begitu seterusnya.  Demikian halnya, ketika sekolah dipandang sebagai lembaga penyuplai sumber daya manusia (SDM). Maka output yang dihasilkan adalah daftar panjang tentang sejauh mana SDM dalam hal ini murid berkembang. Sebatas keterangan tentang penilaian (scoring) dan rangking.   Apakah kedua konsepsi ini tepat? Pak Bukik mengatakan realitas itu terjadi. Tapi menurutnya, sekolah seharusnya menjadi tempat pendidikan anak. Tempat anak belajar. “Pertanggungjawaban sekolah itu adalah menunjukkan bukti bahwa anak di sekolah/madrasah itu telah belajar,” ujarnya.  Dengan cara apa? Di sinilah, lanjut Pak Bukik, pameran karya bisa menjadi solusi. Di mana, pameran karya siswa akan menjadi semacam etalase sekolah untuk menunjukkan proses belajar yang telah dilakukan. Sehingga, tidak perlu menunggu sampai lulus dan menunjukkan profil lulusan mereka, sekolah/madrasah bisa memulainya dengan membuat pameran karya anak, yang bisa dikerjakan dalam rentang yang lebih pendek.  Misalnya, lanjut Pak Bukik, sekolah/madrasah bisa mendorong para guru untuk membuat check point asesmen formatif dalam bentuk karya. Waktunya bisa 1 – 3 bulan sekali. “Dan, karena ini formatif, tidak perlu di-grading atau digunakan untuk menentukan nilai akhir,” ujarnya. Yang penting, lanjutnya, pemeran karya ini diharapkan bisa menjadi bahan percakapan antar murid  maupun murid dengan gurunya. “Sekaligus bukti anak belajar di sekolah/madrasah,” bebernya.    Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Membuka Mata Stakeholder Pendidikan  Tentu, selain mempunyai fungsi idealis, yakni menjadi bukti belajar murid di sekolah, pameran karya juga memiliki fungsi pragmatis. Pak Bukik mengatakan, dalam kenyataan di lapangan, tak bisa dipungkiri sekolah/madrasah membutuhkan murid. Keberlanjutan sebuah sekolah/madrasah bergantung dari banyak sedikitnya murid. Jika banyak, maka akan lebih lama bertahan, karena dana bantuan operasional sekolah (BOS) yang terkucur semakin banyak. Jika sedikit, maka akan sempoyongan berdiri karena BOS yang diterima juga sedikit.   Maka dari itu, sekolah memerlukan sebuah ‘pertunjukkan’ yang bisa dilihat oleh banyak orang. Sehingga, hasil pembelajaran di sekolah terlihat secara masif oleh para stakeholder pendidikan. Jika rapor hanya menghubungkan hasil pendidikan murid, dari guru ke orangtua masing-masing, maka pameran karya menjadi solusi agar sekolah/madrasah bisa dikenal lebih luas.  Banyak yang akan melihat, jika misalnya satu sekolah berhasil menampilkan karya murid-muridnya yang punya karakter. Daya tarik itulah yang diharapkan bisa membuat sekolah mendapatkan banyak murid. “Ini sisi pragmatisnya,” ujar Pak  Bukik.   Lihat Potensi, lalu Kolaborasi  “Jangan melihat yang tidak ada,” kata pak Bukik menjawab pertanyaan dari seorang guru yang bertanya soal hambatan penyelenggaraan pameran karya di sekolah/madrasah kampung. Dengan kondisi anggaran terbatas dan fasilitas seadanya, apalagi mungkin jaringan internet yang sulit, menyelenggarakan pameran karya memang butuh upaya ekstra. Tapi pak Bukik mengatakan yang paling penting, bukan soal itu. Tetapi bagaimana sekolah/madrasah bisa membaca apa saja yang ada dan menarik untuk menjadi karya. “Lihat potensinya,” tandasnya.  Menurut pak Bukik, misalnya di sebuah desa, orangtua murid mencari nafkah dengan menjual tempe, maka tugas anak/murid harus berkaitan dengan itu. Mulai dari proses produksi misalnya, hingga ke pemasaran dan inovasi produk. “Pekerjaan orangtua dikolaborasikan dengan tugas murid,” bebernya.  Tentang pandemi dan kegiatan yang serba virtual? Pak Bukik mengatakan, bahkan jika pameran karya dilakukan secara luar jaringan (luring/offline), maka ia menyarankan agar ada upaya untuk memvirtualisasikan atau mengunggahnya ke media-media sosial. Baik guru, orangtua, atau murid sendiri.  Karena hal itu, lanjutnya, akan berdampak pada proses mengenalkan sekolah dalam cakupan yang lebih luas. “Keterbatasan adalah kesempatan untuk kreativitas kita,” tegas pak Bukik.  Karya yang Jadi Bahan Percakapan Dalam pameran karya ini, pak Bukik menyampaikan sekolah sebaiknya memamerkan karya yang otentik. Dalam artian, merupakan karya asli murid, dengan beraneka imajinasi dan kreativitasnya.  Menukil Alfie Kohn, dalam bukunya Memilih Sekolah Terbaik Untuk Anak: Mendobrak cara ajar Tradisional (2010), pak Bukik menyatakan bahwa secara umum, yang ditampilkan sekolah/madrasah biasanya adalah artifisial. Bukan hanya saat pameran karya, tetapi juga ornamen di dinding-dinding kelas. “Biasanya buatan guru atau barang-barang pabrikan,” ungkapnya. Jika yang sajikan dalam pemeran karya demikian, maka tidak akan ketemu tujuannya. Karena buat apa menyajikan karya yang biasa. Tidak unik karena sudah diproduksi pabrik. Karena jangankan dilirik, hal itu justru tidak sehat dan memicu pandangan miring bagi pendidikan di sekolah/madrasah. “Semakin otentik, maka akan semakin jadi bahan percakapan,” ujar pak Bukik. (*) 

Asesmen Nasional : Memperpanjang Derita atau Sebaliknya?

Senin lalu, 01 Februari 2021, lepas tengah hari, saat orang-orang bergegas pulang dari aktivitas  kerja, tepatnya pukul 16.00 Wita, Komunitas Guru Belajar Nusantara Makassar kembali menggelar Temu Pendidik Daerah di awal tahun dengan topik Asesmen Nasional sebagai  Pemetaan Pendidikan. Apa yang Harus Dilakukan Sekolah, Guru, dan Murid?  Topik ini sedang hangat-hangatnya jadi buah bibir dan akan digadang-gadang sebagai tema besar  Temu Pendidik Nusantara VIII nantinya. Lewat kanal Youtube KGB Makassar, Pak Ari Wibowo,  Pelatih Kampus Guru Cikal, sebagai pembicara, praktis dengan tegas dan terukur memulai webinar dengan pernyataan penolakan Ujian Nasional yang dulu telah lama dicetuskan oleh  Menteri Pendidikan Nasional era Kabinet Indonesia Bersatu, Bambang Sudibyo,sejak tahun 2005.  “Ujian Nasional sudah tidak relevan menjadi alat ukur dalam menentukan kompetensi murid.”  terang Pak Ari.  Sederet Menteri pun ikut menggaungkan wacana tersebut. Mulai dari M. Nuh, Anies Baswedan,  dan Muhadjir Effendy. Bahkan, saya dulu menganggap bahwa penghapusan Ujian Nasional merupakan hal utopis.  Tapi siapa sangka, di bawah Nadiem Makarim, hal itu terwujud. Kegaduhan terjadi dibanyak  tempat. Sekolah dan guru akhir-akhir ini sibuk tak karuan setelah Menteri Pendidikan dan  Kebudayaan mengeluarkan kebijakan yang tak terduga: Menghapus Ujian Nasional dan  menghadrikan Asesmen Nasional yang meliputi, Asesmen Kompetensi Minimum, Survei  Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.  Di tengah jalannya webinar, salah satu peserta, Emi Hardyanti, tiba-tiba mencurahkan  kegelisahannya di kolom live chat, “Bagaimana, Pak? Di luar sana banyak agen yang menawarkan  buku latihan untuk Asesmen Nasional, nyaris dipahami bahwa Asesmen Nasional merupakan  pengganti Ujian Nasional.”   Lalu disusul juga oleh Ibu Permata Hati, seperti namanya, komentarnya di kolom live chat ia  sampaikan dengan penuh emosional, “Sekarang banyak pelatihan pembuatan soal Asesmen  Kompetensi Minimum, bahkan buku pembahasannya juga ada. Apakah ini tidak berdampak pada  persaingan nilai? Jadinya, tujuan Asesmen Kompetensi Minimum malah tersamarkan.”  Dua celetukan dari peserta webinar membuat pembicara dan pemandu, Pak Multazam, Guru  MTsN 2 Maluku Tenggara yang baru saja hijrah dari Makassar, menahan tawa dengan sedikit rasa  heran. “Iya, Bu. Masih ada oknum-oknum yang memanfaatkan momen-momen seperti ini,” kata  Pak Ari.  Kedua komentar dari peserta menggambarkan bahwa selama ini tercipta miskonsepsi. Apa yang  diresahkan oleh peserta Temu Pendidik Daerah, mungkin itu juga yang dirasakan sebagian  teman-teman guru yang lain. Jadinya, guru kembali lagi terjebak pada konsep yang lama dan  menyamarkan tujuan cita-cita Asesmen Nasional.  Pembicara lanjut menyampaikan materinya, ia mengutip pernyataan dari Mas Bukik Setiawan,  “Ada perbedaan yang nyata pada konsep baru, tapi tidak akan bermakna bila pemahaman lama  yang digunakan untuk memahami konsep baru.”  Pada Temu Pendidik Daerah kali ini, pembicara berusaha mendobrak gap tersebut. Ia  menerangkan tiga dasar tujuan Asesmen Nasional. Pertama, ingin melihat kualitas pembelajaran  di sekolah. Kedua, mendapatkan umpan balik peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah.  Ketiga, menjadi dasar untuk penyusunan program-program dalam meningkatkan proses  pembelajaran di sekolah.  “Pak, kenapa siswa yang menjadi target Asesmen Kompetensi Minimum hanya diperuntukkan  bagi siswa yang berada di kelas 5, 8, dan 11?” tanya peserta lagi.  Pertanyaan dari peserta langsung direspon oleh pembicara dengan menampilkan tabel  perbandingan Asesmen Nasional dan Ujian Nasional. Tabel itu menggambarkan tujuh perbedaan  dari masing-masing program.  Lanjut, pembicara mulai menjelaskan tiap-tiap perbandingan. Ia menegaskan sekali lagi bahwa  dalam Asesmen Kompetensi Minimum, tujuannya bukan untuk menilai hasil akhir, tapi keinginan  perbaikan yang diharapkan oleh pemangku kebijakan. Dengan menjadikan siswa kelas 5, 8, dan  11 sebagai sasaran, tujuannya tentu agar tahun depan siswa yang sudah naik tingkat ke kelas 6,  9, dan 12 ikut merasakan perubahan iklim yang berada di sekolah.  Jika Ujian Nasional mendapat bobot butir soal yang sama untuk mengukur kompetensi, Asesmen  Kompetensi Minimum malah bersifat adaptif yang menekankan pada kompetensi Literasi dan  Numerasi. Semuanya ini, bertolak pada hasil PISA beberapa tahun belakangan ini.  Bahkan, sasaran juga tidak hanya ditujukan kepada siswa, melainkan guru dan kepala sekolah  dalam ranah survei karakter yang termaktub dalam profil pelajar Pancasila dan survei lingkungan  belajar untuk melihat kualitas proses belajar mengajar di sekolah.  Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Jadi sudah menjadi barang yang jelas, bahwa Asesmen Nasional tidak berpacu pada target  seberapa banyak siswa yang berhasil lulus, tetapi berpacu pada target capaian sekolah tahun tahun sebelumnya agar tercipta peradaban dalam lingkungan sekolah.  Untuk mencapai itu, pembicara memaparkan lima strategi yang harus dilakukan sekolah, terlebih  pemimpin sekolah dalam hal ini kepala sekolah. Langkah pertama, kepala sekolah tidak  mengambil jalan pintas, misalnya menghimbau guru dan siswa untuk melakukan latihan  pengerjaan soal, tapi melihat kesemua sisi.   Kedua, kepala sekolah harus memprioritaskan waktu dan energi lebih banyak untuk memandu  perencanaan, pendampingan, dan refleksi proses pembelajaran dan melibatkan seluruh elemen,  termasuk orang tua murid. Ketiga, melakukan pembelajaran yang kolaboratif. Maksudnya, kepala  sekolah memastikan semua mata pelajaran harus terintegrasi pada kompetensi literasi, numerasi  dan karakter.  Keempat, mengembangkan kebiasaan berbagi praktik baik di lingkungan sekolah sebagai wadah  bertukar pikiran, karena belajar yang nyata itu ialah belajar dengan sesama rekan seperjuangan.  Terakhir, hapus program-program yang sudah tidak relevan, apalagi memakan anggaran yang  cukup banyak dan segera memulai menyusun program-program jangka panjang yang lebih relevan.  Nah, pilihan itu bergantung pada kita semua. Saya harap, setelah ini, ajaklah murid belajar untuk  hidup, bukan sekadar belajar untuk ujian. Sebab kata Einstein, “Seni tertinggi guru adalah  membangun kegembiraan dalam ekspresi kreatif dan pengetahuan.”

Pengertian Asesmen, Apakah Kita Terjebak Miskonsepsi?

Apa pengertian asesmen? Kalau ulangan,ujian tentu sudah menjadi hal biasa bukan? Tapi kalau asesmen bagaimana? Kita tahu saat ini asesmen sedang menjadi perbincangan hangat di dunia pendidikan, tak lain karena tahun 2021 akan mulai diterapkannya Asesmen Nasional untuk pendidikan di Indonesia. Bukan hanya perbincangan, tapi juga menjadi ketakutan sendiri bagi guru untuk menjalankannya. Orientasi yang salah sudah menjadi budaya sejak pendidikan dasar yang mengagung-agungkan nilai dan melupakan aspek lain yang saling terkait dalam perkembangan setiap murid yang perlu menjadi perhatian. Miskonsepsi menjadi awal pemahaman guru terkait asesmen menjadi tantangan terbesar yang harus dilepaskan, karena dengan begitu akan lebih mudah menerima informasi yang kredibel dan komprehensif. Pemahaman konsep pengertian asesmen yang benar akan membawa dampak yang bermakna tidak hanya kepada guru tapi juga murid ikut merasakannya sebagai subjek belajar dalam pendidikan. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Kampus Guru Cikal mengenai pemahaman Asesmen, dihasilkan bahwa 78% responden masih mengalami kebingungan akan  pengertian konsep asesmen itu sendiri, sedangkan 22% memilih sudah paham dengan asesmen. Seperti pertanyaan yang diajukan oleh Fatrica Ivana Dabukke sebagai moderator dalam acara Obrolan #GuruMerdekaBelajar yang diinisiasi oleh Kampus Guru Cikal mengajukan pertanyaan kepada peserta “Apa itu asesmen?” banyak yang mengatakan bahwa asesmen adalah penilaian proses belajar murid. Apa betul begitu? Atau asesmen hanya sebutan lain dari ujian? Nah, sudah sampai mana pemahaman asesmennya? Apa sudah benar pemahaman kita? Yuk cari tahu bersama! Berdasarkan paparan awal Elisabet Indah Susanti salah satu narasumber dalam OGMB menjelaskan “Asesmen adalah sekumpulan kegiatan yang melibatkan pengumpulan data dan analisis informasi tentang kinerja murid dan dirancang untuk menginformasikan, mengidentifikasi apa yang murid ketahui, pahami, dapat lakukan, dan rasakan pada tahapan yang berbeda di proses pembelajaran”. Melalui obrolan #GuruMerdekaBelajar ini meluruskan miskonsepsi yang selama ini menjadi pemahaman guru-guru bahwa asesmen itu terkait dengan ujian dan penilaian adalah scoring akhir ulangan atau ujian murid, padahal secara esensialnya asesmen adalah penilaian kinerja murid pada waktu sebelum, selama dan sesudah proses pembelajaran dilakukan, jadi tidak hanya menilai berdasarkan hasil ulangan atau ujian secara individu, tetapi berdasarkan proses pemahaman pembelajaran yang dilakukan dan dirasakan oleh murid dan sekolah secara komprehensif. Anggi Rizka Pustika guru dari SD Negeri Bogem 2 Sleman narasumber dalam obrolan tersebut menjelaskan bahwa  sudah melakukan asesmen dalam proses pembelajarannya bahwa ada perbedaan asesmen zaman dulu dengan asesmen zaman sekarang dijalani, dimana dulu dalam melakukan guru melakukan penilaian murid berdasarkan hasil akhir dari ulangan atau ujian dalam bentuk angka atau grade yang juga menjadi salah satu bentuk tuntutan dari orang tua yang ingin tahu anaknya berada di peringkat berapa atau sekadar ingin tahu nilai berapa diperoleh. Peringkat sudah menjadi patokan turun temurun yang membuat anak hanya mengejar untuk memperoleh nilai tinggi, tanpa mengetahui esensi atau tujuan kenapa mereka perlu belajar. Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Pengertian konsep asesmen yang benar menjadi jawaban bagaimana meningkatkan dan mengembangkan pendidikan Indonesia menjadi lebih merdeka, dimana guru, murid dan orang tua dituntut saling berkolaborasi dan bekerjasama menciptakan pembelajaran dengan melakukan strategi pembelajaran. Ketika guru-guru sudah memahami konsep asesmen yang sesuai dan benar bahwa yang menjadi orientasi adalah murid yang terus berkembang kompetensinya, bukan sekadar pencapaian nilai akhir, guru akan lebih memahami murid dengan melakukan berbagai macam strategi yang sesuai, dan orang tua perlu turut diberikan pemahaman bahwa asesmen tidak hanya sekadar skor. Obrolan tersebut juga mengulik mengenai prinsip asesmen terbagi menjadi tiga, yang pertama Asesmen Untuk Belajar (Asesmen Diagnostik) adalah asesmen yang dilakukan untuk mempersiapkan murid melakukan pembelajaran, adanya analisa yang dilakukan guru untuk melihat sudah sejauh mana kemampuan dan pemahaman murid, hasilnya untuk menindaklanjuti strategi apa yang cocok dengan murid; kedua Asesmen Sebagai Proses Belajar ini adalah asesmen yang dilakukan terhadap proses belajar yang berlangsung, murid menilai proses belajar yang terjadi pada dirinya sendiri sebagai subjek belajar mengenai pemahaman, ketercapaian, perbaikan yang perlu dilakukan atau tantangan yang dirasakan; ketiga  Asesmen Terhadap Belajar dimana pencapaian yang dilakukan adalah asesmen terhadap pembelajaran murid sebagai puncak selesainya kegiatan pembelajaran melalui indikator-indikator yang menjadi acuan pencapaian pembelajaran. Ketiga prinsip asesmen ini saling berkaitan satu sama lain untuk mengukur capaiannya yang diawali dengan persiapan, kemudian latihan-latihan sampai puncak proses pembelajaran selesai yang membawa hasil capaian murid secara komprehensif yang lebih luas. Pelaksanaan asesmen membawa dampak yang bermakna bagi guru, murid dan orang tua. Guru lebih memahami apa yang menjadi kebutuhan murid, strategi apa yang cocok untuk digunakan, perkembangan peningkatan yang terjadi pada murid, dan guru merasa terbantu karena beban kerja yang terasa lebih ringan karena menerapkan asesmen, sementara murid merasakan dampaknya dengan merasa lebih nyaman, berani dan percaya diri dalam menyampaikan sesuatu yang berkaitan dengan proses pembelajaran ataupun capaian yang telah mereka lakukan sendiri dan guru berikan yang tidak hanya berorientasi pada nilai, sedangkan orang tua lebih memahami dan menerima anak-anak memiliki kebutuhan dan keunikan sendiri yang tidak bisa disamakan dan dibandingkan satu sama lain, berujung pada tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan.Ini yang menjadi harapan kita semua bukan? Yuk merenung dan menjawab dalam hati apakah sudah sesuai pengertian konsep kita mengenai asesmen? Apakah kita memang terjebak atau justru sudah melakukan asesmen tetapi tidak menyadarinya? Yuk berefleksi… Ingin menonton ulang Video Obrolan Guru Merdeka Belajar edisi ini?Silakan tonton di bawah ini

Video Pembelajaran dengan Kinemaster

Pembelajaran Jarak Jauh sudah berlangsung hampir satu tahun, mengharuskan kita para guru, orangtua dan anak untuk beradaptasi dengan pembelajaran jarak jauh. Memaksa Guru harus banyak belajar dengan belajar banyak aplikasi untuk membuat pembelajaran yang tetap menarik bagi anak. Tetapi banyak dari guru yang mengalami kendala dalam proses editing dan membuat video pembelajaran yang menarik bagi anak. Akhirnya banyak murid yang mengalami kejenuhan dan tidak mau belajar karena materi yang diberikan guru hanya itu-itu saja. Akhirnya kami para guru mendapatkan solusi dengan belajar bersama KGBN Surakarta bagaimana cara belajar asyik membuat video pembelajaran dengan Kinemaster. Temu Pendidik Daring/Online dilakukan Komunitas Guru Belajar setiap satu minggu sekali yaitu di hari selasa dengan tema yang berbeda-beda. Kegiatan ini bisa diadakan sebagai fasilitas bagi para guru berdaya bersama-sama. Selasa, 26 Januari 2021 TPD KGB Surakarta mengangkat tema Video Pembelajaran dan kemudian memberi judul diskusi yaitu “Mengajar Asyik Dengan Video Pembelajaran.” Diskusi berdurasi satu jam ini mengundang Narasumber dari Kota Surakarta, yaitu Bapak Rusdi Mustapa. Beliau ini calon penggerak dan juga seorang guru di MAN I Surakarta sebagai Guru Sejarah. Diskusi ini dipandu oleh saya sendiri Risma Bella Pratiwi. KGB Surakarta dan saat ini mengajar di TK Kristen Widya Wacana VI Joyotakan.  Diskusi TPD ini dimulai tepat pukul 19.00 WIB. Satu jam sebelumnya moderator masuk untuk menyapa serta memperkenalkan diri dengan anggota grup yang berjumlah 257 orang. Antusias anggota sangat luar biasa. Hal itu tampak dari respon mengacungkan jari ketika moderator menanyakan “apakah sudah siap belajar?”. 15 menit menjelang diskusi moderator melempar aturan diskusi untuk disepakati bersama, memberikan materi dari narasumber  serta memperkenalkan narasumber (https://youtu.be/zgxW1vunggs). 5-10 menit dipelajari, kemudian moderator membuka termin pertanyaan. Selama diskusi ada ….. penanya. Berikut rangkuman pertanyaan dan jawaban diskusi tersebut. Sebelumnya narasumber membagikan materi melalui link youtube sebagai berikut: Tutorial membuat video pembelajaran sederhana https://youtu.be/kiOc_YJi01w Cara editing dengan Kinemaster https://youtu.be/K_7HoMlrjfg Video kegiatan sharing bikin video pembelajaran https://youtu.be/bZlxRG7jr2A Contoh media pembelajaran berupa video materi yang di lengkapi gambar dan video. Juga ada sentuhan animasi – https://youtu.be/oVXSWDzXkKI Baca Juga: 7 Media Ajar Inovatif Guru Vita Jakarta: “Selamat malam bapak dan ibu, saya Vita dari Jakarta dan Nita dari Jember ingin bertanya terkait membuat video pembelajaran dengan kinemaster ini, apakah Kinemaster berbayar? Guru Rusdi : “Baik terimakasih untuk pertanyaannya ibu Vita dan ibu Nita teman-teman baru dari Jakarta dan Jember.  Saya akan menjawab apakah Kinemaster berbayar, kalau kita download dari playstore masih gratis, tetapi jika kita ingin memiliki yang Full Version maka kita harus membayar.” “Saya ingin bercerita kenapa saya ingin mengembangkan pembuatan Media Pembelajaran pertama karena saya suka editing video kalau dulu pakai laptop atau komputer tetapi di era sekarang kita harus bisa bekerja secara efektif/efisien/praktis dengan menggunakan media android kita dapat membuat media pembelajaran, kita tinggal mengambil video kita kemudian kita olah menggunakan Kinemaster langsung kita bagi atau kita upload ke Kanal Youtube yang mungkin sudah kita miliki. Dengan hanya berbekal Handphone android kita bisa membuat media pembelajaran yang tak kalah menarik dan keren dengan yang dibuat menggunakan laptop dan komputer. “ Guru Kristijorini Surakarta: “Saya Kristijo Rini dari TK Kristen Widya Wacana Pasar Legi Surakarta. Yang ingin saya tanyakan, alat apa saja yang harus dipersiapkan selain HP? Terima kasih.” Guru Rusdi: “Terima kasih pertanyaannya Bu Rini. Saya jawab ya. Untuk peralatan syuting ya istilahnya,  di gambar yang sudah saya share itu lokasinya di ruang tamu saya, yang mendadak jadi studio saya. Kalau untuk alat-alatnya cukup standar ada kamera dari HP, tripod, microphone, selebihnya kalau kita mau tambahkan menggunakan lighting/pencahayaan silakan, yang penting ada HP berkamera, tripod, mik. Posisinya juga tidak harus berdiri seperti yang ada dalam foto saya kita bisa dengan duduk, tapi di belakang kita sudah kita siapkan green screen atau blue screen, untuk green screen dan blue screen kita usahakan memakai baju yang kontras warnanya dengan green screen atau blue screen agar nanti ketika kita edit dengan Kinemaster bisa menghasilkan gambar yang bagus” Guru Nita Garut: “Saya Bu Nita dari Garut ingin bertanya, kalau ada animasinya bagaimana prosesnya? terimakasih” Guru Rusdi: “Langsung saya jawab ya bu Nita. Untuk animasi, kayaknya ada sesi sendiri ya, bisa diatur waktunya untuk pertemuan berikutnya, tapi ini akan sedikit saya singgung untuk animasi biasanya saya hanya bermain di gambar – gambar yang saya download dari internet seperti yang bapak ibu lihat. Kemudian kita masukkan di video kita dan kita bisa memberi gerakan – gerakan, biasanya untuk anak – anak SD itu senang jika media pembelajarannya itu ada animasi, sedikit saya cerita kemarin ada teman saya yang putranya masih di SD mengeluhkan jika gurunya memberikan video seperti membaca buku, saya sarankan untuk memberikan animasi yang bisa bergerak di Kinemaster. Jadi gambar yang kita ambil dari internet bisa kita masukkan ke kinemaster.”  Guru Luluk Surakarta: “Saya Luluk TK Kristen Widya Wacana VI Joyotakan, ingin bertanya ini saya instal ko tulisannya begini ya pak?.” Guru Rusdi: “Saya jawab ya bu Luluk. Kemarin ketika pelatihan saya juga mendapat tulisan seperti itu, kemudian dari instruktur nya menyuruh saya untuk mengklik yang sebelah kanan, itu kalau dalam bahasa Indonesia artinya yes or no” Guru Luluk Surakarta: “Terima kasih untuk moderator, saya Luluk. Kalau sudah nanti bahasa yang muncul apa pak? Guru Rusdi: “Baik bu Luluk, kalau tidak salah munculnya bahasa inggris, mohon maaf karena saya tidak memberi tutorial cara untuk menginstal aplikasi Kinemaster, tapi nanti saya akan berikan video cara menginstall aplikasi Kinemaster.” Guru Rusdi: “Sedikit sharing saja ketika saya membuat video itu minimal 10 menit atau 20 menit dan materi yang saya berikan tidak secara mendetail tapi langsung ke poin – poin penting saja, kebetulan saya mengajar di Madrasah Aliyah setara dengan SMA jadi saya tidak memberikan full materi hanya poin penting saja kemudian saya ajak sharing. Untuk anak SD dan TK lebih suka jika diberi animasi, dan ada wajah bapak ibu guru pasti akan lebih menarik. Kenapa saya membuat media ini karena di masa pandemi ini kita tidak bisa bertemu langsung dengan murid kita, maka dengan media video pembelajaran yang kita buat dengan tampilan yang menarik akan membuat kedekatan dengan murid tetap terjaga. Saya akan membuka bagi bapak ibu yang ingin privat untuk pembuatan media pembelajaran … Read more

Belajar tentang Merdeka Belajar

Awal tahun ajaran baru 2020/2021 di masa pandemi keadaan pendidikan masih belum stabil seperti hari-hari biasanya. Guru-guru masih berkutat dengan kegiatan anak di rumah yang semakin hari semakin bosan dan tertekan karena kurangnya inovasi. Belajar untuk menuju Merdeka Belajar semakin terasa dibutuhkan Pada bulan juli ada ajakan dari ibu KASI Paud kabupaten Lamongan untuk menghadiri acara TPD (Temu Pendidik Daerah) yang dikemas dalam kegiatan Mudik KGB Spesial PAUD yang diadakan oleh teman-teman guru dari KGBN Lamongan. Saya tertarik dengan judul yang sangat spesial ini, seperti berjodoh saya menerima tantangan dari teman-teman KGB untuk menjadi moderator di kegiatan tersebut meski awalnya saya tidak pernah tahu tentang kegiatan KGB. Dari sana saya bertemu dengan orang-orang yang seperjuangan memimpikan merdeka belajar bagi murid, guru dan juga orang tua. Di kegiatan MUDIK ini saya mendapat sekali banyak ilmu dan pengalaman dalam mengolah pembelajaran di masa pandemi ini. Satu hal yang saya ingat dan terapkan sampai saat ini, bahwa dalam masa PJJ ini kita harus bisa menjadi guru yang paham dan mengerti akan kebutuhan anak dan juga orang tua di rumah. Ditemu pendidik daerah ini narasumber memberikan materi yang sangat berharga yaitu Mengenal Strategi 5M  saat masa PJJ. Dijelaskan oleh guru Andri dari KGB Depok juga Guru Rosa dari KGB Semarang pentingnya kita memanusiakan hubungan dengan orang tua, anak dan juga masyarakat agar tercapai tujuan pembelajaran yang merdeka belajar. Dari sana, berlanjut saya bergabung dengan KGB Lamongan dan mengadakan nobar guru merdeka belajar di sekolah saya. Meski antusias teman-teman tidak begitu banyak karena masih dalam masa pandemi, tapi semangat teman-teman dari KGB sangat luar biasa. Dilanjutkan dengan nonton bareng video penjelasan tentang merdeka belajar oleh ibu Najelaa Shihab. Banyak cerita-cerita menarik dan inspiratif dari teman-teman ketika selesai menonton video yang mana bu Najelaa Shihab memberikan semangat yang luar biasa untuk teman-teman dalam mewujudkan merdeka belajar. Setelah menonton video tersebut saya jadi tersadar, bahwa selama ini saya jauh sekali dari kata guru merdeka belajar. Seperti hal nya yang disampaikan ibu Najelaa Shihab “Guru merdeka belajar adalah guru yang mempunyai komitmen, guru yang mandiri dan guru yang selalu berefleksi”. Dan inilah yang menjadi tantangan untuk kita semua.  Baca Juga: Apa Itu Merdeka Belajar? Pada sesi selanjutnya diisi dengan sesi diskusi tentang pengalaman selama menjadi guru, yang dipandu langsung oleh teman-teman guru dari  KGB N Lamongan. Menurut Ibu Suweni dari TK Dharma Wanita Desa Brumbun beliau menyampaikan keinginannya untuk totalitas meluangkan waktu pada pembelajaran anak-anak, beliau juga berpendapat selama ini terbebani oleh tugas-tugas administrasi, UPK, UKG dll, ini juga selaras dengan apa yang disampaikan oleh Ibu Najelaa Shihab tentang komitmen bahwa tantangan kita saat ini adalah bagaimana membedakan cara dan juga tujuan, kita sering terjebak dalam tugas-tugas administratif, kita terjebak dalam ketentuan-ketentuan birokratis hingga ujian, akreditasi, seleksi, dan nilai yang sebetulnya semua hanya cara kemudian menjadi  tujuan dan prioritas utama, bahkan lebih tinggi dari prioritas tujuan utama pendidikan itu sendiri.  Menurut ibu Ma’rufah dari TK Muslimat Maduran menyatakan bahwa menjadi guru merdeka belajar sangat mudah mengucapkan, namun kesulitan dalam memulainya. Ini juga sama seperti yang disampaikan oleh ibu Najelaa Shihab bahwa guru merdeka belajar harus bisa komitmen, mandiri dan refleksi, tapi susahnya sangat minta ampun. Padahal tujuannya untuk anak-anak bisa lebih percaya akan dirinya sendiri, memiliki cita-cita melampaui batas ruang kelas menembus tingginya gedung sekolah. Dilanjut oleh ibu Astutik dari TK PGRI dengan adanya merdeka belajar dapat memberikan tingkat eksplorasi yang luas untuk pembelajaran anak-anak.  Kita seringkali terjebak dalam miskonsepsi belajar, sebagian dari kita hanya membuat alasan untuk berubah, seringkali kita tidak mau bergerak dengan alasan murid tidak mengerti, orang tua akan menentang dan masyarakat belum paham padahal sebenarnya itu adalah ketakutan dari diri kita sendiri untuk menuju perubahan. Banyak guru yang masih beranggapan bahwa menimba ilmu itu harus dari pakar atau ahli pendidikan. Disini saya mengajak teman-teman guru untuk menjadi guru belajar dimana kita bisa belajar dari siapa saja dan kapan saja karena kita belajar untuk kebutuhan alamiah kita. Seperti yang disampaikan oleh teman-teman bahwa mereka bangga ketika belajar dari pakar atau ahli pendidikan. Dengan ini mereka menyadari sebenarnya narasumber yang lebih baik adalah guru-guru lain yang belajar dan mempraktikan serta guru yang belajar dari banyak kesalahan kegagalan sebelum mereka berhasil. Saya sangat bersyukur bertemu dengan Komunitas Guru Belajar Nusantara ini, dimana saya dipertemukan dengan guru-guru yang ingin bergerak bersama untuk memprioritaskan pendidikan bukan hanya menjadi kepenting saja. KGB ini adalah wadah yang tepat untuk mewujudkan hal tersebut. Saya bertekad untuk menjadi guru merdeka belajar dan mematahkan miskonsepsi selama ini yang saya lakukan. Saya juga akan turut berkontribusi dalam komunitas ini karena kompetensi tidak harus dimiliki sendiri tapi kita sama-sama belajar berbagi ilmu, berbagi praktik baik dan berbagi pengalaman dari siapa saja dan untuk siapa saja selama dalam peningkatan mutu pendidikan.

Memahami Konsep dengan Teknologi

Teknologi merupakan sejumlah kompetensi, metode dan proses menghasilkan produk atau layanan untuk mencapai tujuan sedangkan. Memahami Konsep adalah menguasai pemahaman terhadap konsep yang dapat diterapkan di beragam konteks. Nah apakah teknologi dapat membuat murid lebih memahami konsep yang esensial? Pada Temu pendidik daerah ke 44 yang berlangsung pukul 16:00, sabtu tanggal 21 Oktober 2020 pada kanal youtube komunitas guru belajar makassar, yang di pandu oleh Ibu Rienda Noor Asyifa yang sering disapa ibu Noor dengan tema Teknologi untuk Memahami Konsep yang dibawakan langsung oleh Ketua KGB Makassar Ibu Anita Taurisia Putri yang sering disapa ibu Anita. Mengawali materinya ibu Anita menjelaskan beberapa miskonsepsi yang kerap terjadi dalam penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran utamanya pada masa pandemi saat ini yakni, miskonsepsi yang pertama pendayagunaan teknologi pendidikan hanya sekedar untuk latihan soal atau penjelajahan pengetahuan. Padahal sesungguhnya murid menggunakan aplikasi untuk mendukung keterampilan berpikir tingkat tinggi, dalam proses pembelajaran yang dilakukan bu Anita dalam menggunakan aplikasi dengan murid-murid yang pertama bu Anita lakukan bukan sekedar mengirimkan soal-soal dengan menggunakan learning manajemen sistem (LMS), namun apakah dengan menggunakan aplikasi LMS terbaru murid dapat menggunakan kemampuan berpikir kritisnya? Sebagai contoh ketika guru mengirimkan soal menggunakan aplikasi apakah murid akan menggunakan kemampuan berpikir kritis untuk menjawab soal tersebut atau murid hanya sekedar menjawab soal-soal. Miskonsepsi yang kedua Penggunaan teknologi membuat proses memahami konsep dalam belajar menjadi lebih cepat, padahal sesungguhnya teknologi membuat proses memahami konsep lebih terstruktur secara personal. Integrasi digital yang membangun pemahaman utuh. Sebagai contoh ketika guru bertanya tentang suatu aplikasi dalam proses pembelajaran, namun ada murid yang mengalami kendala dalam hal aplikasi tersebut, ketika terjadi hal tersebut menurut bu Anita guru seharusnya menggunakan Teknologi yang secara personal bisa digunakan secara menyeluruh oleh semua murid. Miskonsepsi yang ketiga Platform digital hanya dinilai dari jumlah kumpulan konten yang diproduksinya, padahal sesungguhnya integrasi digital memungkinkan kesempatan kolaborasi dengan berbagai sumber pengetahuan yang ada. Di Masa awal PJJ yang bu Anita lakukan dalam menerapkan teknologi dalam memahami konsep dengan menentukan strategi pembelajaran, dalam pembelajaran yang pertama bu Anita lakukan adalah memetakan lokasi murid yang berbeda, karena seluruh murid bu Anita tersebar di beberapa kabupaten kota di Indonesia sehingga diperlukan pemetaan terkait kondisi jaringan. Memetakan kondisi orang tua hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana peran orang tua dalam PJJ. Berkomunikasi dengan orang tua/wali murid hal ini dilakukan agar capaian tujuan belajar dan teknologi yang digunakan dalam PJJ dapat terjangkau oleh semua murid dan orang tua. Memandu murid dalam pembelajaran jarak jauh.  Memandu murid untuk menguasai pemahaman mendalam konsep di beragam konteks. Mengapa hal tersebut dilakukan ibu Anita karena keseharian dari murid sebelum PJJ yang tinggal di pesantren terbiasa tidak menggunakan gawai dan PC. “Teknologi akan menjadi pembeda ketika guru melakukan proses pembelajaran. Teknologi mempunyai potensi membantu murid untuk mengembangkan pemahaman, mengkonstruksi pengetahuan dan mengembangkan kemampuan bernalar murid yang harus dipegang sebagai guru” – Anita Taurisia Putri Menurut bu Anita dalam melakukan praktik pembelajaran di kelas dalam hal menggunakan teknologi, masih banyak miskonsepsi seperti halnya banyak guru yang menggunakan teknologi hanya sekedar proses mengunduh materi seperti mengunduh materi di youtube. Bu Anita ingin Teknologi bukan hanya sampai pada proses mengunduh tetapi murid dapat menggunakan kemampuannya untuk memilih berbagai jenis proses belajar seperti, memverifikasi, menemukan pembeda, membandingkan, mensintesis, mengklarifikasi, berdiskusi, menguji/coba dan memproduksi pengetahuan. Bu Anita juga memberikan contoh proses proses belajar yang dialami semasa dirinya di sekolah dimana buku yang menjadi sumber belajar utama, berbeda dengan yang dialami anaknya sekarang yang duduk di bangku SMP dengan menggunakan teknologi murid dapat berkreasi dan mencipta dengan teknologi yang dikuasai oleh murid sehingga inilah yang menjadi pembeda proses belajar dengan adanya teknologi agar kemampuan bernalar murid menjadi berkembang. Baca Juga: Pembelajaran Jarak Jauh dengan 5M Salah satu contoh penggunaan teknologi untuk memahami konsep yang dibagikan oleh ibu Anita yakni “Mengajar Berekspresi dengan Roda Emosional” yang dilakukan oleh Elia Yovan Chandra dari KGB Tangerang Selatan Sekolah Cikal serpong. Dalam proses ini guru Elia Yovan mengajarkan murid untuk berekspresi. sehingga membantu murid-murid untuk memahami konsep berekspresi saat bermain dengan menggunakan roda emosional. Dengan bermain murid menjadi termotivasi sehingga konsep lebih mudah mengendap dengan roda emosional. “tolak ukur dari keberhasilan sebuah pembelajaran ialah bagaimana guru mampu membuat murid-muridnya tidak hanya sekedar paham materi tetapi juga mampu mengaplikasikan materi tersebut” Apa peran Asesmen dalam teknologi?” Pertanyaan dari salah satu peserta TPD. Dengan menggunakan teknologi. Teknologi biasa digunakan sebagai asesmen formatif dan asesmen sumatif, namun bu Anita memberikan saran agar sekolah menyepakati terlebih dahulu teknologi apa yang akan digunakan sehingga murid tidak menjadi bingung. Bagaimana Tips menyusun panduan belajar terkait teknologi agar murid dapat memahami konsep ? Tips menyusun panduan belajar terkait teknologi agar murid dapat memahami konsep. Dalam Menyusun panduan belajar sebelum memilih teknologi guru diharapkan Backward Thinking (Berpikir Mundur) dengan membuat profil murid, sehingga bisa dituangkan dalam RPP Merdeka Belajar sehingga guru lebih mudah nantinya dalam memilih teknologi dan membuat panduan belajar. Sebagai kesimpulan bahwa memahami konsep dalam usia belajar butuh proses yang tidak instan, kapan dan bagaimana teknologi digunakan konten serta integrasi digital seperti apa yang dipilih dalam rute pembelajaran sesungguhnya ditentukan oleh tujuan. Tujuan pembelajaran memastikan bahwa pengalaman belajar bukan hasil berisi ceklis informasi yang perlu diketahui yang tidak terintegrasi. Dalam membangun pemahaman utuh tentang hubungan antara tujuan pembelajaran dan pada akhirnya mampu memberikan umpan balik pada semua pemangku kepentingan tentang capaian pemahaman. Ingin mendapat inspirasi pembelajaran jarak jauh?Unduh Surat Kabar Guuru belajar Edisi Sekolah Lawan CoronaKlik gambar di bawah ini

Guru Merdeka Belajar dan Berkarier di Sekolah Lawan Corona Al Fityah

Guru Merdeka Belajar di Tengah Pandemi “Merdeka Belajar sering diartikan bebas belajar, dan tanpa aturan. Merdeka belajar itu  terjadi jika kita bisa mengatur sendiri proses pembelajaran, baik itu pihak sekolah, guru, orang tua dan maupun murid. Dan hal tersebut ditunjukkan oleh guru dan pemimpin sekolah di Yayasan Al Fityah saat mengikuti program Sekolah Lawan Corona. Karena belajar adalah kebutuhannya, kemauannya sendiri, rekan-rekan di Al Fityah mencari cara untuk bisa belajar program-program dan menyelesaikannya.”, Ujar Bukik Setiawan yang mewakili Yayasan Guru Belajar pada Perayaan Belajar Sekolah Lawan Corona Yayasan Al Fityah pada Minggu 17 Januari 2020. Program Sekolah Lawan Corona di Yayasan Al Fityah sendiri berjalan mulai pertengahan bulan November, dimulai dengan kegiatan sosialisasi dan pengisian asesmen program untuk mengetahui kebutuhan belajar guru dan pemimpin sekolah. Kemudian pelaksanaan program otomatisasi dan interaksi dilaksanakan hingga awal Desember.  Baca Juga: Sekolah Lawan Corona Jawa Tengah Awal pelaksanaan di Yayasan Al Fityah ada beberapa guru yang mengalami kendala dalam pelaksanaan : ada guru yang harus mengurus bayi sehingga pengerjaan program terhambat, ada kendala sinyal dan banyak tantangan lainnya. Peran mentor untuk terus memberi semangat, mengajak peserta melakukan refleksi, dan kemudian mencari cara sangat membantu terselesaikannya program oleh peserta SLC Al Fityah. Buktinya 100% dari 50 peserta baik guru maupun pemimpin sekolah menyelesaikan program ini. Guru Emi Yayusari salah seorang Guru di SDIT Al Fityah Kota Binjai mengungkapkan bahwa awalnya pembelajaran jarak jauh, murid merasa bosan belajar, orang tua menganggap pembelajaran menjadi beban. Setelah mengikuti Sekolah Lawan Corona saya mendapat ilmu banyak, terutama mengenai pembelajaran jarak jauh. Peran mentor di SLC sangat membantu. Setelah ikut Sekolah Lawan Corona menjadi lebih menyenangkan pembelajarannya, lebih bisa kolaborasi dengan orangtua. Sejalan dengan Guru Emi Yayusari, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang hadir pada Perayaan Belajar tersebut mengatakan bahwa memang banyak sekali tantangan di masa pandemi. Namun banyak yang mulai beradaptasi, salah satunya Yayasan Al Fityah. Pandemi tidak menghalangi kreativitas guru. Guru Meniti Karier Jika program pendidikan lain penanda selesainya program biasanya dengan sertifikat. Lalu program benar-benar selesai. Namun di program Sekolah Lawan Corona ini tidak berhenti setelah program selesai. Di Yayasan Al Fityah awalnya bergerak karena persoalan yang dihadapi selama pandemi ini. Namun setelah mengikuti SLC dan persoalan yang dihadapi bisa terselesaikan, bukan berarti selesai bergerak. Guru dan pemimpin sekolah yang memiliki harapan, dan cita-cita yang tinggi terus akan bergerak menuju merdeka belajar. Ini terbukti dari banyaknya guru yang mulai melebarkan sayapnya dalam bergerak. Ada 4 guru yang menjadi pembicara Temu Pendidik Nusantara (TPN) 7, ada 4 guru yang menjadi pemandu TPN 7, bahkan ada 5 guru yang mendaftarkan diri dan menjadi pendamping guru lainnya di program SLC DKI Jakarta dan juga seorang guru yang mengembangkan kariernya menjadi penulis dengan dipublikasikan tulisannya di Surat Kabar Guru Belajar edisi 26. Baca Juga : a Ingin bergabung di program Sekolah Lawan Corona?Yuk gabung!Klik slc.kampusgurucikal.com