Pengawas Sekolah Berbagi Setulus Hati

Apa yang dilakukan ketika Pengawas ke sekolah, tetapi seperti tidak diharapkan kedatangannya? Salah satu pertanyaan yang muncul dalam sesi Temu Pengawas Komunitas Pengawas Belajar pada 30 Agustus 2021 lalu. Narasumber pada acara ini adalah Pak Tri Widodo yang merupakan  pengawas SMP. Kota Semarang Jawa Tengah, dan dimoderatori oleh Irene Ermaya  pengawas SMA. Kota Kupang. Dalam jajaran praktisi pendidikan para Pengawas berada  pada tataran tetua,  pada  umumnya  para Pengawas  adalah sekumpulan kakek dan nenek. Setelah menjalani karier sebagai praktisi di dunia pendidikan kebanyakan sudah lebih dari 30 tahun tentu telah mengalami berbagai dinamika kehidupan dunia pendidikan, berjuta rasa, pahit,  getir, asam, asin, manis berbaur berpadu menyatu semoga menghasilkan setetes  madu, berjuta rasa semangat menebar asa tentunya menyimpan setitik cahaya. Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Pemimpin itu urusannya perubahan. Karena itu pemimpin butuh mengatur dirinya untuk terus menerus adaptif terhadap perubahan yang dihadapi maupun perubahan yang akan dilakukan.( modul Pemimpin Merdeka Belajar Kampus Guru Cikal).  Keberadaan Pengawas tentunya masuk dalam jajaran pemimpin karena dalam melaksanakan tugasnya memiliki beberapa sekolah yang harus dibina, didampingi, dipantau dan dievaluasi.  Kegiatan Temu Pengawas kali ini  dimotori oleh Bapak Tri Widodo telah dirancang dan diniatkan untuk berbagi praktik baik dan memicu para Pengawas yang lain untuk mau berbagi sebagian  pengalaman keberhasilannya berkarier di dunia pendidikan. Diwali dengan cerita beliau ketika masih menjadi Kepala Sekolah, tentang keberadaan salah satu gurunya yang terlihat kurang update, setiap menuju ke kelas yang dibawanya hanya buku paket, ketika ditanya tentang tugas pembelajaran di kelasnya katanya baik- baik saja. Tetapi beliau tidak percaya begitu saja, beliau berusaha mengadakan pendekatan informal, mengajak ngobrol tentang apa saja dengan Guru tersebut, setelah diajak ngobrol ternyata ditemukan bahwa  kelasnya  sedang tidak baik baik saja sebagaimana yang dikatakan sebelumnya, dan ternyata ada masalah yang dialami Guru tersebut. Sebagai pemimpin  yang memiliki 3 sumber energi 1. Sadar utuh, 2. Harapan, 3. Belas kasih, dengan menggunakan 3 sumber energi tersebut beliau berusaha memahami dan memberikan solusi terhadap masalah yang sedang dialami oleh Guru tersebut. Strategi menggali dan mendapatkan informasi  menggunakan  pendekatan informal yang beliau lakukan membuahkan hasil, beliau mengidentifikasi  ternyata ada yang harus ditindaklanjuti,  maka beliau kemudian melakukan aksi dengan melakukan coaching pada Guru tersebut dengan  memberikan contoh pembuatan power point untuk pembelajaran. Ternyata usaha beliau tidak sia-sia, dengan diberi sedikit coaching Guru tersebut sudah tergerak untuk berubah, bahkan tidak lagi menggunakan power point pembelajaran dari beliau tetapi sudah membuat dan berkreasi sendiri menggunakan  teknologi informasi.  Ternyata perubahan itu sangat berdampak pada suasana kelas  pembelajarannya, siswa menjadi lebih antusias, lebih aktif, lebih komunikatif dan menjadi lebih solutif, siswa tidak lagi merasa bahwa belajar adalah kewajiban, tetapi merasakan bahwa belajar adalah kebutuhannya, terbukti dengan tingkat kehadiran dan partisipasinya yang tinggi dan kegiatan pembelajaran  terasa lebih nyaman, Guru tidak lagi butuh banyak energi untuk penguasaan kelas,  karena siswa sudah paham akan pentingnya arti belajar bagi perkembangannya.  Karena merasakan pentingnya arti Guru bagi mereka maka kehadiran Guru ditunggu dan dirindu. Ketika Narasumber selesai menyampaikan materi berbaginya maka tibalah  pada sesi tanya jawab dan kesempatan berbagi bagi para peserta.  Pada sesi ini makin bertebaran tetes- tetes madu dan bertaburan titik- titik cahaya yang tentunya dapat menjadi bekal penguatan dan menjadi penerang ketika menjalankan tugas kepengawasan. Bagaikan hujan yang mengucur deras kesempatan itu dipergunakan sebaik baiknya oleh para Pengawas peserta  ada yang membagikan praktik baik, ada yang bertanya, dan ada yang mencurahkan isi hatinya. Yang mendapat kesempatan pertama pada sesi ini adalah  Bu Hariati beliau menyampaikan praktik baiknya supaya siswa happy, ketika pembelajaran tematik siswa dibagi 5 kelompok untuk mengamati dan mengambil benda padat di lapangan, kemudian dibawa kepada Guru untuk menceritakan tentang benda tersebut pembelajaran ini dilakukan juga untuk menstimulasi motorik, kognitif, dan bahasa anak, pembelajaran tematik dilaksanakan dilingkungan sekitar. Kesempatan berikutnya diberikan kepada Bu Hj. Marli’ah  yang mengangkat tangan untuk bertanya minta pencerahan kepada Narasumber apa yang harus dilakukan ketika Pengawas datang ke sekolah tetapi kesannya seperti tidak diharapkan kedatangannya? Sambutan hangat dari Narasumber atas antusiasme peserta untuk berbagi dan bertanya diwujudkan dengan meberikan  strategi untuk mengatasi masalah ketika menjalankan  tugas  kepengawasan. Tips dan strategi tersebut antara lain, diharap ketika Pengawas datang ke sekolah dapat  membaur dengan warga sekolah binaan sebagai saudara, menjadi bagian dari warga sekolah tersebut, dengan menggunakan teknik komunikasi informal agar terasa  sebagai keluarga,  mengikuti kegiatan sosial yang ada di sekolah tersebut misalnya menjenguk Guru yang sakit, khataman Al Qur’an atau  kegiatan yang lain.  Indikasi bahwa pembauran berhasil dan Pengawas  sudah diterima menjadi bagian dari warga sekolah tersebut, ketika Pengawas datang tidak lagi disebut “Bapak Pengawas datang”, tetapi langsung menyebut nama misal : “ Pak Tri datang”  Kesempatan berikutnya diberikan pada Pak Chep Teguh, beliau  menyampaikan himbauan kepada para Pengawas untuk membuat dan menyiapkan program dan instrumen yang jelas dan dikomunikasikan dengan pihak sekolah terlebih dahulu.Kemudian dilanjutkan dengan harapan dari Pak Deritaman Tafonao, beliau  merasa  ada harapan yang baru, supaya ada ketegasan dari Dinas Pendidikan agar peran Pengawas lebih dikuatkan. Menanggapi himbauan dan harapan tersebut Narasumber menyampaikan pendapat bahwa  tentunya Pengawas harus mempunyai persiapan yang jelas utuk melaksanakan  tugas pokok dan fungsinya. Kemudian menyampaikan bahwa pada masa sekarang pengawas tidak lagi sebagai penguasa atau Ndoro Bei, tetapi pengawas sebagai pendamping, pemberi solusi kepada Guru dan Kepala Sekolah, tetaplah  menjalankan tugas dengan baik, yang diluar tugas pokok dan fungsi kita biarlah berjalan sebagaimana adanya. Berikutnya disambung  Pak Bahermansyah menyampaikan hal  yang unik, suatu ketika menemukan Guru yang memanggil langsung dengan nama panggilannya tetapi malah ditegur oleh Guru yang lain, dilarang , tidak boleh memanggil begitu. Narasumber menyampaikan pendapat bahwa pengawas yang diperlakukan sebagai Ndoro Bei itu konsep masa lalu, sedangkan  yang masa kini Pengawas adalah teman dan keluarga. Kemudian Bu Karniti mendapat kesempatan berikutnya beliau gunakan untuk mencurahkan isi hatinya, bahwa yang dialami dan diamati selama ini ketika Pengawas datang di sekolah semua terlihat semangat, dengan mengadakan pendekatan  informal dengan menyapa Kepala  Sekolah, Guru,dan  Orang tua siswa, tetapi ketika pengawasan  lemah maka kembali lagi seperti budaya semula. Bu.Yenni juga menyampaikan keluhannya ketika Pengawas datang untuk melaksanakan tugasnya Kepala Sekolah Dan Guru malah menggurui Pengawas, dengan  menyampaikan bahwa  semua hal sudah dilakukan dan banyak berargumentasi. Menanggapi curahan hati dan … Read more

Observasi Kelas Merdeka Belajar

Pusing menghadapi murid yang acuh dalam belajar khususnya saat PJJ? Ragu akan pentingnya observasi dalam pembelajaran di kelas? Bingung cara apalagi yang bisa dilakukan untuk melakukan asesmen selain asesmen kognitif? Yuk ikuti Obrolan Guru Merdeka Belajar (OGMB)! Deretan pertanyaan di atas terjawab tuntas pada Obrolan Guru Merdeka Belajar pada hari Selasa tanggal 31 Agustus 2021 secara live streaming di youtube. Obrolan berupa bincang seru ini dihadiri oleh dua narasumber keren. Ada ibu Cornelia Amita atau yang akrab disapa bu Mita yang juga berprofesi sebagai konselor middle school di Sekolah Cikal Serpong. Selain itu hadir juga ibu Anik Puspowati seorang guru PAUD di Fatif Edu. Bincang seru ini digawangi oleh moderator keren ibu Ira Ari Nuraini dari Kampus Guru Cikal. Perbincangan yang berlangsung secara santai selama tapi sarat makna dan kaya pengetahuan serta berdasarkan pengalaman empiris dua nara sumber yang mumpuni di bidangnya ini benar-benar mencerahkan. Peserta yang berasal dari guru-guru pembelajar seluruh Indonesia, dosen dan praktisi pendidikan ini membahas tentang pentingnya melakukan observasi yang dapat berfungsi sebagai asesmen di kelas-kelas merdeka belajar. Waktu 90 menit berlalu tak terasa karena diskusi mengalir dengan lugas dan berkualitas. Ketika membahas tentang pentingnya observasi bagi murid, bu Anik  memaparkan agar guru bisa memahami muridnya. Kenapa murid A begini. Guru bisa mengidentifikasi kemampuan dan aspek perkembangannya. Saat ditanya tentang caranya agar bisa mengenal murid lebih baik secara kognitif maupun nonkognitif, kedua narasumber sepakat melakukannya melalui observasi di kelas merdeka belajar. Menurut bu Mita, observasi adalah melakukan pengamatan dengan tujuan. Apalagi saat PJJ dimana kita hanya ketemu murid melalui tatap maya. Sebagian murid remaja menurut bu Mita cenderung untuk off cam karena sebagian murid usia remaja ini feeling insecure dengan penampilan fisiknya di layar. “Sebaiknya kita buat suatu kesepakatan bersama atau essential agreement dimana 10 menit pertama mereka harus buka kamera”, saran bu Mita. Beliau juga menjelaskan bahwa dari penampilan fisik murid, chatnya di WAG kelas dan memfollow IG nya, kita bisa mendapatkan data primer tentang murid. Selain itu, kita bisa mendapatkan dokumen sekunder dari rekaman, video bersama orang tuanya dan informasi dari guru sebelumnya. Baca juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Sementara itu, bu Anik yang merupakan seorang pendidik di tingkat PAUD justru menemukan kalau murid-muridnya lebih senang, kalau wajahnya kelihatan di kamera, karena usia seperti memang lebih suka melakukan eksplorasi dengan memencet tombol yang ada di piranti gawai atau laptop saat PJJ daring. Setelah itu, para murid akan berlari-lari terang bu Anik. Sama dengan bu Mita, bu Anik juga setuju, kalau dengan mengamati rekaman sesi zoomnya dan obrolan di WAG wali murid, data tentang murid akan didapatkan. Mengenai hal apa yang perlu disiapkan sebelum melakukan asesmen observasi di kelas merdeka belajar, kedua narasumber sepakat mengenai perlunya persiapan khusus. Menurut bu Anik, kita perlu mempersiapkan apa, kapan, bagaimana cara serta metodenya. Persiapan menyangkut format check list, anecdote, foto, HP , kertas dan sticky note. Sementara bu Mita lebih melihat ke tujuan asesmennya dan evaluasi kegiatan sebelumnya. Disamping itu, menurut beliau hendaknya ada semacam guidelines, check list, dan template untuk memasukkan foto dan video. Sasaran observasi menyangkut murid, orang tua atau teman-temannya juga perlu dipersiapkan agar bisa lebih fokus. Bu Ira sebagai pemandu diskusi juga menanyakan tentang sasaran yang tepat untuk observasi. Bu Anik menegaskan bahwa semua anak bisa diobservasi. Murid dilihat tumbuh kembangnya, orang tua diobservasi kondisi keluarganya serta bagaimana mereka berinteraksi dengan anaknya. Warga sekolah berupa orang dewasa sekitar anakpun tak luput menjadi sasaran observasi. Bu Mita menyatakan hal yang sama bahwa semua anak berhak, dan harus diobservasi. Observasi bisa berupa semacam personal treatment dan preferences yang hanya dimiliki anak. Atau dengan kata lain ada benchmark bagi setiap anak. Kita biasanya cenderung mengingat anak yang paling pintar atau paling sulit belajar. Ketika ditanya adakah cerita menarik selama melakukan observasi, keduanya kompak menjawab. Menurut bu Mita, di awal tahun ajaran baru selalu ada kejutan seperti murid kelihatan lebih cantik atau ganteng. Terkadang kita kaget dengan respon murid yang out of the box secara akademik. Makanya kita janganlah membatasi informasi yang masuk karena kita punya standar sendiri. Sering terjadi kejutan saat asesmen atau saat belajar. Menurut bu Anik, beliau kadang terkejut dengan anak yang bertambah tinggi badannya pas saat masuk sekolah lagi. Hal yang mengagetkan menurut beliau, kadang saat daring mereka berlarian, tapi saat luring bisa lebih fokus belajarnya. Bahkan murid yang hanya merepon dengan mengangguk atau menggeleng saat daring , bisa memberikan respon lebih saat luring. Berbicara soal tindak lanjut yang tepat setelah mendapatkan data observasi primer dan sekunder, kedua narasumber menyampaikan kalau mereka amat paham dengan beban administrasi guru yang banyak. Bu Mita mengingatkan para guru agar lebih teliti dalam menyeleksi data dan bukti pembelajaran, lalu melakukan kompilasi sehingga lebih paham akan tujuan observasi. Disamping itu, disarankan untuk sharing dengan guru kelas dalam rangka pengerucutan data serta mendiskusikan hasilnya dengan orang tua murid. Sedangkan bu Anik juga mengungkapkan hal yang senada. Data yang didapat disimpulkan, diinterpretasi dan hasilnya dibawa untuk bahan diskusi dengan orang tua. Hasil observasi disusun dalam google drive. Setelah sebulan, data tersebut diidentifikasi tindak lanjutnya sehingga didapat informasi aktual misalnya masih ada anak yang belum bisa mewarnai di usianya dan menggambar tidak sesuai dengan kemauannya. Pertanyaan terakhir dari bu Ira sebagai pemandu jalannya diskusi menyangkut bagaimana mengaitkan berbagai asesmen seperti proyek, observasi, wawancara, tugas dan tes tertulis. Hal ini dijawab secara lugas oleh bu Mita bahwa keseluruhan asesmen di atas saling terkait dan dapat dijadikan bahan untuk saling memperkaya pemahaman terhadap anak sehingga kita memiliki pemahaman yang utuh terhadap seorang anak. Bu Anik menambahkan perlu adanya penekanan pada aspek mana yang akan disasar dan tujuan pembelajarannya. Intinya menurut beliau, sebagai guru kita harus cerdas dalam memilih asesmen. Sementara itu, peserta terlihat sangat antusias dengan mengajukan berbagai pertanyaan di kolom chat. Diantaranya ada Ibu Supadmi yang meminta contoh observasi di tingkat SD dan kapan pelaksanaanya. Ada lagi ibu Anggun Dwi Lestari yang menanyakan bagaimana bentuk asesmen murid dengan tingkat kognitif rendah saat PJJ. Ibu Ayu Ade Irene ingin tahu adakah bentuk asesmen khusus untuk observasi. Berikutnya ada ibu Carla Adi Pramono yang bertanya tentang pengalaman empiris terkait asesmen observasi  yang digunakan … Read more

Bagaimana Pembelajaran Campuran Menjadi Solusi Pembelajaran Pada Masa Pandemi Covid-19?

Sudah lebih dari satu tahun kita hidup dalam situasi Pembatasan Sosial Berskala Besar. Hal ini memberikan dampak perubahan besar-besaran dalam dunia pendidikan. Sekolah ditutup sehingga pola pembelajaran yang selama ini dilakukan oleh guru dan murid secara tatap muka di dalam kelas harus berubah menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), dengan memanfaatkan berbagai pilihan teknologi baik dalam jaringan maupun luar jaringan. Tentu saja hal ini dilakukan untuk tetap memenuhi hak murid dalam mendapatkan layanan pendidikan selama pandemi Covid-19.  Meskipun demikian, dalam pelaksanaannya, banyak sekali tantangan Pembelajaran Jarak Jauh yang dihadapi di lapangan. Motivasi dan keterlibatan murid yang terus menurun, kesiapan dan penyesuaian guru dalam mempersiapkan PJJ, kesenjangan akses dan kualitas PJJ, bahkan kesenjangan capaian belajar. Dalam keadaan lelah dan jenuh menghadapi Pembelajaran Jarak Jauh, rasanya lumrah ketika murid, guru, bahkan orang tua, kemudian melontarkan pertanyaan “Kapan pandemi ini berakhir?”  Sayangnya hingga saat ini pandemi Covid-19 belum dapat diprediksi kapan akan berakhir. Oleh karena itu, semua tindakan akan perubahan pendidikan selama masa pandemi menjadi pilihan guru sebagai garda terdepan. Jika diberikan pilihan untuk menekan tombol “pause” atau “restart” mana yang akan Anda pilih? “Pause”, menunggu hingga keadaan dunia kembali normal seperti sedia kala sebelum masa pandemi terjadi dengan resiko learning loss, dimana murid kehilangan minat belajar karena berkurangnya intensitas interaksi dengan guru saat proses pembelajaran? Atau “restart”, memulai sebuah kenormalan baru? Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menjelaskan bahwa diberlakukannya new normal (kenormalan baru) bukan berarti masyarakat bebas seperti sebelum adanya pandemi Covid-19. New normal artinya bertindak produktif namun tetap memastikan aman dari penularan virus corona. Kementerian Pendidikan, Kebudayan, Riset, dan Teknologi telah meluncurkan buku panduan pembelajaran pada masa pandemi Covid-19 sebagai dukungan untuk kenormalan baru pendidikan di Indonesia. Pada buku panduan tersebut pemerintah mendorong dilakukannya Pertemuan Tatap Muka (PTM) terbatas dengan berbagai ketentuan protokol kesehatan, dan penggunaan strategi pembelajaran campuran untuk memaksimalkan pembelajaran pada masa pandemi. Apa yang dimaksud dengan pembelajaran campuran?  Baca Juga: Memulai Blended Learning Pembelajaran Campuran seringkali disalahpahami sebagai pembelajaran yang mengutamakan teknologi kekinian dalam pembelajaran. Namun benarkah demikian? Bukik Setiawan, pegiat pendidikan dan Ketua Yayasan Guru Belajar dalam Program Obrolan Guru Merdeka Belajar yang diselenggarakan oleh Kampus Guru Cikal pada Selasa, 8 Juni 2021, menjelaskan bahwa Pembelajaran campuran atau Blended Learning adalah suatu program pendidikan yang memfasilitasi murid untuk belajar dengan 4 cara , yaitu: Setidaknya mengikuti pembelajaran asinkron yang memungkinkan murid merdeka mengatur waktu, tempat, alur dan tempo belajarnya. Setidaknya mengikuti pembelajaran sinkron dengan pendampingan guru pada suatu waktu dengan moda belajar tertentu. Menghubungkan beragam modalitas program/ mata pelajaran menjadi suatu pengalaman belajar terintegrasi Membantu murid menjadi pelajar merdeka (komitmen pada tujuan, mandiri pada cara dan reflektif) dalam mencapai sasaran belajar yang disepakati.  Komposisi pembelajaran sinkron dan asinkron ini lah yang kental menandai suatu pembelajaran sebagai pembelajaran campuran. Bukik Setiawan juga menjelaskan lebih lanjut mengenai pembelajaran sinkron sebagai pembelajaran yang menghadirkan interaksi langsung antara guru dan murid, murid dan murid, atau murid dan narasumber yang dipandu oleh guru. Meskipun pembelajaran sinkron seringkali diasosiasikan dengan cara luring, namun pembelajaran sinkron dapat pula dilakukan secara daring. Sementara itu pembelajaran asinkron memungkinkan murid untuk belajar tanpa butuh kehadiran guru pada waktu bersamaan sehingga memungkinkan murid untuk mengatur waktu, tempat, alur dan tempo belajarnya. Pembelajaran asinkron ini dapat dilakukan secara daring dan luring. Lihat postingan ini di Instagram Sebuah kiriman dibagikan oleh Bukik Setiawan (@bukik) Dari penjelasan tersebut, pembelajaran campuran mampu memberikan pengalaman pembelajaran yang lebih kaya pada murid. Pembelajaran campuran memfasilitasi murid untuk mendapatkan pendampingan, umpan balik dan bimbingan langsung secara interaktif, yang selama pandemi seringkali absen dalam PJJ. Di sisi yang lain pembelajaran campuran juga memberikan kesempatan murid untuk dapat melakukan personalisasi belajar sesuai tingkat pemahaman, latar belakang pengetahuan, minat dan cara belajar, serta tingkat kemandiriannya. Dengan demikian, apakah Pembelajaran Campuran berarti Merdeka Belajar? Dalam implementasinya pembelajaran campuran merupakan sebuah pembelajaran yang mendukung murid untuk merdeka belajar, jika tetap dilakukan dengan mempertimbangkan cara 5M yaitu; Memanusiakan Hubungan, Memahami Konsep, Membangun Keberlanjutan, Memilih tantangan, dan Memberdayakan konteks. Sebagai guru belajar, apa solusi yang Anda pilih untuk melakukan perubahan? Menunggu pandemi berakhir atau memulai kenormalan baru dengan pembelajaran campuran? Salam Merdeka Belajar! Ketua Kampus Guru CikalElisabet Indah Susanti

Asesmen Diagnosis, Apa yang Dapat Dilakukan Setelahnya?

Pembelajaran yang berpusat pada murid, menekankan perlunya memahami profil dan melakukan personalisasi pembelajaran. Memahami profil murid dapat menggunakan asesmen diagnosis. Namun, apakah Anda merasakan kebingungan mengenai apa yang perlu dilakukan selanjutnya? Anda berpikir keras dan terdiam, tidak punya ide kegiatan yang akan Anda lakukan di kelas untuk mewujudkan personalisasi pembelajaran. Asesmen Diagnosis adalah asesmen untuk belajar yang dilakukan oleh guru pada awal pembelajaran dengan tujuan untuk mengatur strategi setelah mempelajari kompetensi dan proses perkembangan belajar sesuai kebutuhan setiap murid. Guru melakukan asesmen diagnosis untuk lebih mengenal murid. Namun, seringkali Guru merasakan kebingungan dalam menindaklanjuti data dan informasi yang didapatkan dari asesmen diagnosis. Lantas apa langkah selanjutnya yang harus dilakukan Guru untuk bisa melakukan personalisasi pembelajaran, terutama untuk kelas dengan jumlah murid yang banyak? Pada tanggal 20 April 2021, Obrolan Guru Merdeka Belajar membahas mengenai topik “Setelah Diagnosis, Lalu Apa yang Dapat Dilakukan?” bersama narasumber Febriandrini (Andri) dari Sekolah Lazuardi Al Falah Kabupaten Klaten dan Imelda Hutapea (Imelda) dari Johns Hopkins Center for Communication Program. Obrolan ini dipandu oleh Rani Indriyani Kusumah yang merupakan seorang pelatih dari Kampus Guru Cikal. Mereka membahas lebih mendalam mengenai bagaimana tindak lanjut yang dapat dilakukan setelah melakukan asesmen diagnosis (Assessment for learning). Baca Juga: Asesmen Diagnosis: Trik Jitu Supaya PJJ Tidak Lesu Tentunya jika membahas mengenai tindak lanjut dari asesmen diagnosis perlu untuk mengetahui awal mula dari proses tersebut, yaitu perencanaan strategi ketika akan melakukan asesmen diagnosis. Guru Imelda menceritakan pengalamannya ketika merancang strategi untuk asesmen diagnosis di kelasnya. Menurutnya strategi yang bisa dilakukan salah satunya adalah pengamatan,  dengan memberikan pertanyaan yang memantik diskusi, pertanyaan reflektif, menggunakan simbol-simbol dan benda yang bisa mengingat konsep lalu, sehingga guru dapat mengetahui capaian pembelajaran yang sudah dicapai oleh murid. “Dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan itu, guru dapat mengamati kira-kira murid perlu dipaparkan materi yang mana” jelas Guru Imelda.  Kemudian Guru Andri menganalogikan kegiatan asesmen diagnosis dengan perjalanan antar kota, “Misalnya saya ingin mengajak murid jalan-jalan dari Klaten ke tempat Bu Imelda di Jakarta. Murid paham bahwa saya akan membawa mereka ke Jakarta, ini yang harus benar-benar mereka ketahui. Lalu, kan saya di Klaten nih, asesmen diagnosis ini seperti saya memastikan posisi murid-murid ini ada di mana. Apakah mereka di Klaten, apakah ada di Solo, Boyolali, atau di Jogja? Sehingga apa saya harus jemput mereka dulu atau bagaimana?” Guru Andri menjelaskan bahwa analogi perjalanan antar kota itu sama dengan ketika guru melakukan asesmen diagnosis. Murid harus tahu terlebih dahulu tujuan dari pembelajaran di kelas. Dengan asesmen diagnosis, guru memastikan terlebih dahulu sudah sampai dimana pemahaman dan kemampuan murid. Dari situlah guru bisa menentukan strategi yang tepat untuk personifikasi pembelajaran setiap murid nantinya. Setelah melakukan asesmen diagnosis, guru akan mendapatkan data atau informasi dari kegiatan asesmen yang telah dilakukan. Data yang didapatkan ini biasanya masih berupa data ‘mentah’ yang harus diolah terlebih dahulu. Guru Imelda berpendapat bahwa setiap guru memerlukan kemampuan untuk mengelompokkan dan menganalisis data. Guru perlu membuat rubrik penilaian dan mengetahui unsur apa yang ingin diketahui, sehingga kemudian bisa digunakan untuk mengetahui cara/gaya belajar murid.  “Dari mengerjakan soal cerita misalnya, murid ternyata belum memahami materi atau menyelesaikan soalnya tidak lengkap. Nah, kita (sebagai guru) harus tahu dulu nih yang mau kita lihat apanya (dari hasil diagnosis). Apakah ini cuman soal kurang teliti? Kurang memahami konsepnya? Atau gaya belajarnya? Barangkali ada anak-anak yang mungkin mempunyai gaya belajar kinestetik itu kurang terfasilitasi.” cerita Guru Imelda. Guru Andri melanjutkan dengan menanggapi Guru Imelda, ia mengatakan bahwa selain melihat hasil data asesmen diagnosis dari sisi murid, guru terkadang sering lupa untuk melakukan refleksi terhadap kompetensi dirinya, “Misalnya tadi dari hasil asesmen, anak itu butuh mengenai kompetensi A. Untuk bisa mengajarkan kompetensi A itu, gurunya ini sudah kompeten apa belum? Guru harus ngelihat ke dirinya sendiri juga. Oh, murid saya itu butuh ini, jadi saya perlu mempersiapkan apa.” terang guru Andri. Menurutnya, sangat penting ada daya dukung dari guru dan sekolah agar tujuan pembelajaran murid bisa tercapai, “Daya dukung dari kompetensi guru dan daya dukung sekolah ini, bisa memfasilitasi proses belajar untuk murid atau tidak. Kita selalu melihatnya anaknya yang tidak bisa, padahal apakah kita sudah bisa memfasilitasi?” lanjut Guru Andri. Ketika memetakan murid dari hasil asesmen diagnosis untuk melakukan personalisasi pembelajaran, perlu dibuat dengan sangat spesifik. Hasil yang spesifik bisa didapatkan dari analisa jawaban murid, memperhatikan cara kerja murid, dan menggali lebih dalam tentang pemahaman murid melalui pertanyaan refleksi, “Ketika murid memahami suatu konsep, guru perlu tahu seberapa jauh tingkat pemahaman murid tersebut. Misalnya (murid) yang satu baru melihat semata-mata data, yang kedua ada dua fenomena namun belum dapat menarik relasinya, yang ketiga sudah paham melihat data, melihat antar konsep dan tahu bagaimana menjelaskan kaitan antara keduanya.” jelas Guru Imelda. Dari pemetaan murid yang dilakukan, guru tentunya perlu menyesuaikan kembali pembelajaran yang akan dilakukan agar bisa memfasilitasi belajar murid sesuai dengan kebutuhannya “Awalnya saya pikir saya harus mengajarkan materi teks A, teks B, teks C. Akhirnya dari asesmen diagnosis, saya jadi paham murid di kelas saya ini butuhnya apa. Nanti dari sisi konteksnya, pada saat proyek baru saya masukkan berbagai macam teks yang memang menjadi target dari pembelajaran murid.” cerita Guru Andri.  Guru Andri menegaskan bahwa setiap murid memiliki tahapan perkembangan kognitifnya masing-masing, “Saya selalu sampaikan itu, tolong kalau menghadapi sesuatu jangan pakai asumsi dulu. Maksudnya, kita selalu berasumsi bahwa anak SMP, misal gitu ya, sudah pasti dia bisa nulis. Enggak. Memang betul kita mempunyai tahap perkembangan anak yang bisa dijadikan patokan. Tapi jangan dijadikan ‘pasti semua anak begitu’, ada yang memang anak sudah bagus sekali, ada yang memang harus dibantu, ada yang didorong, ada yang harus di cemplungin dulu. Nah itu perlu kita petakan satu persatu.” jelas Guru Andri. Karena murid memiliki kebutuhan belajar yang berbeda-beda, pembelajaran di kelas tentunya tidak bisa lagi disamaratakan. Tantangan selanjutnya adalah, apakah mungkin melakukan personalisasi pembelajaran di kelas yang jumlah muridnya banyak? Guru Imelda menerangkan bahwa seringkali masih terjadi miskonsepsi bahwa personalisasi hanya sebatas RPP, padahal personalisasi lebih daripada hal itu, “Jadi ketika kita bicara soal personalisasi belajar sebenarnya sering banget ada miskonsepsi juga. Personalisasi belajar itu kalau dimaknai secara awam mungkin ‘berarti saya harus bikin … Read more

Katrol Nilai Murid dengan Hasil Asesmen Formatif, Bolehkah?

Pusing dengan nilai murid menjelang rapotan? Sebelum rapot dibagikan, Bapak dan Ibu Guru mungkin memiliki kebiasaan baru (atau mungkin mengulang kebiasaan yang sudah ada), ketika makin pusing dan makin sering mengusap balsem atau minyak kayu putih di kepala, guru pun mengumpulkan seluruh catatan murid untuk mendapat nilai. Untuk apa sih? Kemungkinan besar adalah untuk mengangkat nilai murid atau yang sering disebut katrol nilai.  Loh, tapi yang mau dinilai kan kemampuan akhir murid? Kenapa para guru mengumpulkan nilai-nilai tugas yang sifatnya asesmen formatif untuk memberikan nilai akhir? Apakah praktik ini betul? Pertanyaan di atas menjadi bahasan utama dari OGMB 7. Pada tanggal 25 Mei 2021, dua narasumber, yaitu Pak Mirwan Abdul Aziz dan Ibu Amalia Jiandra,  membagikan informasi mengenai asesmen formatif berdasarkan pengalaman mereka masing-masing. Dalam obrolan yang dipandu oleh moderator Ibu Ilona Christina, Bapak dan Ibu Guru dapat mengetahui lebih jauh mengenai penggunaan asesmen formatif yang tepat dan bagaimana penggunaannya. Apa itu Asesmen Formatif? Untuk membuka OGMB, Pak Mirwan dan Bu Amel menjelaskan apa yang dimaksud dengan asesmen formatif. Pak Mirwan menjabarkan asesmen formatif sebagai “proses yang digunakan oleh guru atau murid untuk mendapatkan umpan balik”. Sesuai dengan komentar Aris Ariyanti mengenai asesmen formatif, yaitu “asesmen untuk mengecek pemahaman murid”, Pak Mirwan menjabarkan lebih lanjut manfaat asesmen formatif. Bagi murid, data asesmen formatif dapat digunakan untuk mengetahui celah pemahaman yang dimiliki dengan tujuan pembelajaran. Untuk mencapai tujuan ini, penting bagi murid untuk mengetahui tujuan pembelajaran sehingga mereka dapat melakukan refleksi diri dari hasil asesmen formatif. Di sisi lain, asesmen formatif dapat digunakan pula oleh guru. Bila diolah dengan baik, data asesmen formatif dapat dimanfaatkan untuk melakukan penyesuaian proses belajar mengajar guna meningkatkan pencapaian siswa. Dengan kata lain, asesmen formatif bukan hanya memberikan informasi bagi murid, tetapi juga untuk guru.  Bu Amel kemudian mengungkapkan beberapa miskonsepsi mengenai asesmen formatif yang sering terjadi di antara para guru. Seperti yang sudah disebutkan di atas, asesmen formatif dianggap berfungsi untuk mengatrol nilai akhir. Bila murid tampak belum paham, akan semakin banyak asesmen formatif yang diberikan guru kepada murid tersebut. Padahal asesmen formatif adalah bagian dari asesmen sebagai proses belajar, bukan asesmen terhadap belajar. Dengan kata lain, tujuan asesmen formatif berbeda dengan asesmen yang dilakukan di akhir semester, atau asesmen sumatif.  Masih terkait dengan nilai akhir, Bu Amel mengutarakan miskonsepsi lain, yaitu asesmen formatif sering digunakan untuk langsung menentukan nilai akhir, atau keputusan akhir, kemampuan yang dimiliki murid. Beliau menjelaskan miskonsepsi ini dengan analogi kesalahan diagnosis penyakit, yaitu pemberian diagnosis di saat seseorang hanya menunjukkan satu gejala. Satu kali murid gagal dalam asesmen formatif, maka guru langsung memberikan label bahwa murid tidak mampu. Praktik ini tentu berlawanan dengan proses asesmen formatif yang harusnya berlangsung selama proses belajar berlangsung. Perlu diingat juga bahwa asesmen formatif tidak bertujuan menggambarkan kompetensi yang dimiliki murid di akhir semester. Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Pengambilan Data dan Tindak Lanjut Asesmen Formatif sama Pentingnya “Saya keinget, cara Pak Mirwan ajak anak-anak refleksi, sampe ada yang nyebut “Saya ga pengen jadi baligh, nanti nanggung dosa” Artinya refleksinya bener-bener nunjukkan anak sudah paham.”, komentar Maman, salah seorang peserta OGMB. Selain refleksi, apa saja cara yang bisa dilakukan dalam asesmen formatif ya? Pak Mirwan membagikan beberapa cara yang pernah beliau lakukan dalam proses belajar mengajar di kelas. Salah satunya adalah melalui cara self-assessment. Murid diberikan sebuah kertas kosong dan diminta untuk menuliskan pemahaman dari materi yang baru saja diajarkan. Hasilnya menarik karena murid dapat menggambarkan pemahaman mereka dalam berbagai cara di kertas tersebut. Ada murid yang menjelaskan pemahaman mereka, ada pula yang membuat mind-map. Ketika masa pandemi, beliau menggunakan bantuan beberapa aplikasi agar murid dapat mengomunikasikan pemahaman mereka. Terlepas dari cara apa yang digunakan, sekali lagi Pak Mirwan berpesan agar guru tidak hanya fokus pada cara melakukan asesmen formatif, tetapi juga bagaimana menindaklanjuti data yang sudah ada. Mengaitkan dengan salah satu komentar peserta, diferensiasi merupakan bentuk tindak lanjut yang dapat dipilih oleh guru. Ini tidak berarti bahwa guru harus membedakan cara pengajaran untuk masing-masing anak. Guru justru dapat melakukan pengelompokkan murid berdasarkan asesmen formatif dan mengajak murid yang dinilai lebih mampu untuk membantu temannya yang membutuhkan bantuan dalam memahami materi, atau sering disebut tutor sebaya. Asesmen Formatif Membantu Guru dan Murid Menjadi Merdeka Belajar Terakhir, Bu Amel menekankan adanya proses berkelanjutan dari asesmen formatif. Asesmen formatif berguna bagi guru dalam memodifikasi cara pengajaran secara berkala agar dapat memfasilitasi murid untuk mencapai tujuan pembelajaran. Murid juga dapat terus menerus merefleksikan pemahaman yang dimiliki melalui adanya asesmen formatif. Pak Mirwan menambahkan pula bahwa guru perlu memahami tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dalam memilih cara melakukan asesmen formatif. Cara yang dibagikan beliau belum tentu sesuai dengan tujuan pembelajaran dan kondisi murid di sekolah yang lain. Begitu pula sebaliknya. Yang terpenting adalah guru mau mencoba melakukan asesmen formatif guna membantu murid dan menyesuaikan proses pengajarannya. Dengan begitu, guru dan murid dapat mengalami Merdeka Belajar di dalam kelas.  Baca Juga Dari penjelasan Pak Mirwan dan Bu Amel, Bapak dan Ibu Guru dapat merefleksikan pemahaman mengenai asesmen formatif. Adakah miskonsepsi tentang asesmen formatif yang Bapak dan Ibu Guru miliki selama ini? Setelah mendengar obrolan ini, adakah perubahan dalam melakukan asesmen formatif yang ingin dilakukan? Bila Bapak dan Ibu Guru melewatkan atau ingin melihat kembali Obrolan Guru Merdeka Belajar “Salah Paham Guru Terhadap Asesmen Formatif”, Bapak dan Ibu Guru dapat menyaksikan di tautan berikut ini:

Teknik Jitu Pemimpin Sekolah Menggerakkan Sekolah/Madrasah dengan Coaching

“Tantangan mengajak guru untuk berubah itu ketika guru merasa mereka digurui”.  Kalimat diatas merupakan bentuk kegelisahan yang dialami oleh salah satu pimpinan sekolah/madrasah yaitu Ibu Emi Hardyanti. Memberdayakan para pendidik merupakan tantangan bagi sebagian Pemimpin Merdeka Belajar. Hal ini ternyata tidak hanya dialami oleh Ibu Emi saja, sebagian para pemimpin sekolah/madrasah melalui curhatannya mereka ternyata juga memiliki keresahan yang sama: “Tantangan mengajak para guru untuk keluar dari zona nyaman agar mau belajar tentang hal-hal baru.” oleh Bunda Pelangi “Penuh tantangan membudayakan hal baru ke guru-guru untuk melangkah lebih merdeka belajar” oleh Ibu Dias Fujihara  “Adakah cara jitu atau suntikan imun agar hal baru yang mau kita sampaikan tidak menjadi bumerang bagi kita sendiri?” oleh Rumah Tahfidz QC Canggu Management  USAA Baca Juga: Tantangan Kepemimpinan pada Perjalanan Tahun Kelima Kegelisahan-kegelisahan diatas disampaikan oleh Bapak Ibu Pemimpin dimana mereka mendorong para pendidik untuk melakukan inovasi pembelajaran di kelas termasuk diharapkan para pendidik mampu menyelesaikan masalah tanpa menunggu dari  atasan.  Nah, oleh karena kegelisahan-kegelisahan tersebut menarik untuk didiskusikan lebih lanjut oleh Pak Theo dan Pak Rudi tentang bagaimana cara jitu Bapak Ibu Pemimpin menggunakan teknik coaching secara efektif pada sekolah/madrasah Bapak Ibu! Untuk dapat memahami topik ini, Bapak Ibu Pemimpin perlu mengetahui terlebih dahulu pengertian apa itu coaching. Berdasarkan International Coaching Federation atau disingkat dengan ICF yang dipaparkan oleh Pak Rudi, coaching didefisinisikan sebagai berikut:  “Coaching is partnering with client is a thought provoking creative process that inspiring them to maximize personal and professional potential”  Sederhananya, coaching itu dilakukan melalui percakapan menginspirasi dan menggugah untuk memaksimalkan potensi seseorang yaitu potensi baik secara personal maupun profesional.  Dimulai dari filosofinya sendiri bahwa teknik coaching tersebut mempercayai keberadaan human potential artinya setiap manusia memiliki potensi untuk bisa mengembangkan dirinya dan mampu menyelesaikan yang dihadapinya.  Atas penjelasan tersebut, Pak Theo penasaran dengan alasan penggunaan kata ”Provocate” = provokasi dimana kata tersebut menggelitik Pak Theo karena biasanya bermakna konotasi negatif. Alasan Pak Rudi menterjemahkan “Provocate” ke terjemahan bahasa Indonesia menjadi “Provokasi” karena kata yang digunakan “provokasi” tersebut mampu menjelaskan maksud dalam proses coaching itu biasanya si cochee hanya mengenali pada permukaan (surface) saja. Melalui bantuan si coach tersebut akan menggali lebih untuk menentukan tujuan dan membangkitkan kesadaran diri (awareness) yang dibarengi dengan pergolakan batin melalui bentuk pertanyaan-pertanyaan yang mengena kepada setiap coachee (orang yang dicoaching). Teknik proses coaching yang dilakukan oleh si coach tersebut merupakan diskusi dua arah berupa bentuk pertanyaan bermakna (powerful questioning) dari si coach untuk mendengarkan respond para coachee dimana mereka menceritakan permasalahan dan keluhan mereka.  Selanjutnya setelah si coachee mampu menemukan penggalian awareness, realita potensi, peluang dan dukungan  di dalam dirinya, untuk meminimalisir kesalahan (failure) maka si coachee digali lebih dalam menganalisis tantangan, resiko, hambatan, kelebihan dan kekurangannya dimana adanya proses refleksi selama proses coaching tersebut. Agar membantu Bapak Ibu Pemimpin memahami teknik coaching, kita dapat membandingkan perbedaan teknik-teknik lainnya:  Mentoring and Training Coaching Transfer pengetahuan dan keahlian (Transfer knowledge and skills) dari seorang mentor/traineer kepada orang lain (client). Menggugah dan menggali pikiran terdalamnya tentang tujuan dan kesadaran (awareness) dari mendengar permasalahan yang dihadapi oleh coachee (client) untuk dapat mengatasinya sendiri. Design dirancang oleh mentor/traineer kepada client Design dirancang sendiri oleh si coachee dari hasil refleksinya Pelibatannya rendah (low engagement) dalam proses mentoring & training Pelibatannya tinggi (high engagement) dalam proses coaching dari coach kepada coachee Memperbaiki kejadian sebelumnya yang dilakukan Berpikir memperbaiki saat ini dan merancang masa yang akan datang untuk lebih baik Umpan balik (feedback) Umpan lanjut / umpan maju (feedforward) Selalu memberikan saran (advice) kepada client untuk memperbaiki kejadian sebelumnya Bertindak sebagai fasilitator/pemandu (facilitator), tidak selalu memberikan saran (advice) “wah tugasnya seperti ini, coba perbaiki pada bagian-bagian ini” “terima kasih ya Bapak/Ibu telah berusaha , nah dari sini apa yang bisa ditingkatkan” Teknik Coaching ini bisa jadi alat (tool) untuk mengembangkan satuan pendidikan baik sekolah dan madrasah Bapak Ibu. Pak Rudi sampaikan berdasarkan peninjauan dari Brian Emerson & Anne Loehr yang menulis buku “A Manager’s Guide To Coaching”, teknik coaching dipertimbangkan dalam pengembangan sumber daya manusia termasuk dalam aspek-aspek : Bakat (Aptitude) → kecakapan, kemampuan Sikap (Attitude) → Fokus, cara sikap, percaya diri Sarana Pendukung (Available resource) → peralatan dan waktu Dalam proses coaching ini terjadi dialog diskusi untuk menciptakan kesadaran (awareness), selama sesi tersebut si coachee dapat melakukan sendiri atau bersama dengan lain untuk berefleksi dan  mencari sumber ilmu agar mendapatkan kecakapan, misalnya. Selama proses coaching tersebut timbul frekuensi yang sama antara si coach dan si coachee. Nah, selanjutnya setelah dijelaskan tentang teknik coaching, pertanyaan menarik dari Ibu Ngatiningsih Ning tentang : “Bagaimana jika pemimpin sekolah sudah memberikan kemerdekaan untuk meningkatkan kreatifitas guru, menjadi coaching pada teman sejawat, agar guru tidak tergantung Kepsek tetapi guru masih merasa kurang enak pada senior?” Tanggapan dari Pak Rudi perihal pertanyaan tersebut : Apakah guru senior telah di coaching juga hingga menimbulkan perasan tidak enak dari guru junior? Seberapa jauh peluang dan tantangan yang digali untuk mengatasinya?  Jawabannya adalah bisa jadi semua itu karena hanya perasaan dan prasangka saja, sehingga penggalian yang mendalam untuk dilakukan dan meminimalisir kesalahan.  Semakin tertarik bukan, Bapak Ibu Pemimpin untuk melakukan perubahan kepada para guru dan tenaga pendidikannya di satuan pendidikannya? Yuk ikuti Program “Coaching Pengembangan Tim Merdeka Belajar” melalui tautan : . Program tersebut mendapatkan beasiswa sebesar 70% dengan kode voucher “CPJUNI” (aktivasi kode voucher bisa diakses mulai 08 Juni 2021, kode voucher berlaku selama bulan Juni 2021). Dalam program ini, 5 peserta yang telah mengikuti program ini (peserta yang telah mengikuti modul coaching, mempraktekannya, dan membuat testimoni) berkesempatan untuk mendapatkan sesi personal coach!  Seru bukan?Yuk ikuti program ini dan selamat belajarBapak Ibu Pemimpin Merdeka Belajar! Obrolan Pemimpin Merdeka Belajar dapat ditonton ulang pada video berikut

Membahas Asesmen Kompetensi Minimum

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim memastikan Ujian Nasional (UN) ditiadakan. Kemudian diluncurkan Asesmen Kompetensi Minimum dan survey karakter. Asesmen Kompetensi Minimum dan survey karakter bukanlah pengganti UN, karena memiliki tujuan yang berbeda dari UN. Asesmen ini akan menilai kompetensi literasi dan numerasi. Selain asesmen kompetensi, juga akan memberlakukan konsep survei karakter. Survei karakter ini digunakan untuk mengetahui karakter anak di sekolah. Untuk mengetahui ekosistem di sekolahnya bagaimana implementasi gotong-royong. Serta Survei itu, digunakan untuk menjadi tolok ukur supaya sekolah-sekolah memberikan umpan balik bagi kegiatan pembelajarannya. Selama ini  murid selalu dikejar-kejar dengan tuntutan prestasi dengan berbagai tekanan untuk mencapai nilai tinggi, selalu dibayangin keresahan dan  rasa takut untuk tidak lulus pada hasil ujian sehingga berbagai cara dilakukan untuk mendapatkannya. Tekanan itu bukan hanya dirasakan oleh murid saja tetapi juga guru karena menginginkan agar muridnya memperoleh nilai yang tinggi dan dinyatakan lulus. Hal senada disampaikan oleh Pak Ari Wibowo dari Cerita Guru Belajar yang menjadi Narasumber pada TPD KGBN Jeneponto dengan topik NGOPI (Ngobrol Pintar) Asesmen Kompetensi Minimum yang dipandu oleh Bu Ninik Angraeni penggerak KGBN Jeneponto. Pak Ari mengawali materinya dengan menyampaikan pertanyaan Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Pendidikan Kita? Dari pertanyaan tersebut tergambar bahwa yang banyak terjadi adalah masih banyaknya miskonsepsi belajar mulai dari miskonsepsi di ruang belajar, strategi pembelajaran yang berdasar target, asesmen pembelajaran yang berorientasi sumatif. Pada kesempatan ini Pak Ari mengupas habis mengenai konsep merdeka belajar di ruang kelas, pembelajaran berorientasi pada murid dan asesmen berorientasi diagnosis dan formatif. Lanjut Pak Ari, pada kesempatan ini juga menyampaikan perbandingan antara UN dan AN baik dari segi tujuan, aspek yang dinilai, jenis responden, penentuan responden, level responden, penentuan butir soal serta bentuk laporan. Pada UN bertujuan menjadi Penentuan kelulusan murid dan menjadi Pemetaan kualitas satuan pendidikan dan daerah. Aspek yang dinilai berfokus pada Penguasaan konten dari mata pelajaran yang diajarkan, murid menjadi responden tunggal yang ditentukan melalui sensus sekolah dan murid, yang pelaksanaannya pada murid tingkat akhir di setiap tingkatan, semua murid memperoleh bobot soal yang sama,bentuk laporan berdasar capaian murid. Sedangkan pada AN bertujuan Pemetaan kualitas satuan pendidikan dan daerah, Aspek yang dinilai Penguasaan kompetensi literasi dan numerasi, Penguasaan kompetensi sosial emosional yang tercakup pada Profil Pelajar. Baca Juga: Siap AN, Siap Berubah? Pancasila melalui survey karakter, Kualitas proses belajar di sekolah melalui survey lingkungan belajar, respondennya murid, guru dan kepala sekolah yang ditentukan melalui Sensus sekolah, sensus guru dan kepala sekolah, serta survei murid (sampling) level responden yakni murid Kelas 5, 8, 11, penentuan butir soal Murid mendapat butir soal yang disesuaikan atau bersifat adaptif (khusus AKM) serta bentuk laporannya tidak ada capaian murid dimana Capaian sekolah dibandingkan tahun sebelumnya. Pada sesi diskusi dan tanya jawab, salah satu peserta yakni Pak Syam menyampaikan kaitannya dengan penerapan asesmen nasional di kalangan teman-teman guru di Jeneponto masih banyak ditemukan miskonsepsi mengenai asesmen nasional dimana masih banyak guru yang beranggapan bahwa AN masih sama dengan UN yang akan menjadi penentu kelulusan murid, Bagaimana mengubah pemikiran guru yang selama ini sudah menjadikan kebiasaan mendrilling murid dengan soal-soal yang dibuku? Jawab Pak Ari, Untuk berubah memang butuh tantangan yang cukup berat dimana kita akan melalui jalan terjal dan berliku, tetapi itu bukan sebuah halangan untuk guru berubah. Pemerintah saja melakukan transformasi besar-besaran untuk sebuah perubahan. Olehnya itu Sekolah dalam hal ini Kepala Sekolah dan Guru didorong untuk melakukan kolaborasi untuk berubah. Dengan asesmen nasional miskonsepsi yang ada kita harus tinggalkan secara menyeluruh karena hasil AN bukan menjadi penentu kelulusan tetapi dikembalikan ke sekolah sebagai potret kualitas hasil pembelajaran murid di Sekolah, olehnya itu Sekolah dituntut  untuk terus melakukan terobosan berupa inovasi untuk capain mutu pembelajaran. View this post on Instagram A post shared by Kampus Guru Cikal (@kampusgurucikal) Pertanyaan berikutnya dari Pak Murdin Guru SMK. Mengapa AN diterapkan?. Lanjut Pak Ari Menjawab, Kenapa AN diterapkan karena kita ingin terhubung dengan sistem pendidikan global dengan model asesemen yang diterapkan. Pada kesempatan ini hadir pula membersamai teman guru Jeneponto ketua KGBN Pak Usman dengan memberi semangat belajar, Apakah Sekolah untuk hidup atau hidup untuk sekolah. Serta pada kesempatan ini peserta membangun komitmen bersama untuk SIAP AN, SIAP Berubah serta komitmen untuk terus belajar dan sesi ditutup dengan foto bersama. Ingin mengikuti program Siap AN, Siap Berubah?Klik tombol di bawah ini

Menjemput Beasiswa Guru Merdeka Belajar

“Wah…banyak teman rupanya di Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) ini. Baru sadar aku,  ternyata sangat seru sekali bergabung di sisi.” Ucap seorang teman yang baru bergabung di KGBN. Ya, pada hari ini tepatnya Minggu, 28 Maret 2021 kami mengadakan Temu Pendidik Daerah KGBN Pesisir Selatan dengan materi Sosialisasi Program Beasiswa Guru Merdeka Belajar dengan narasumber Bu Linda Ermaida. Beliau adalah ketua KGBN Pesisir Selatan. Semangat beliau sangat luar biasa sekali dalam berbagi ilmu dengan teman-teman di KGBN. Beliau tidak hanya mengobarkan waktu dan pikiran, tapi juga mengobarkan materi demi kegiatan di KGBN. Jauh-jauh beliau datang dari kecamatan Koto Sebelas Tarusan menuju kecamatan Linggo sari Baganti. Membutuhkan waktu 3 jam untuk beliau sampai di Kecamatan Linggo Sari Baganti. Semangat merdeka belajar beliau memang patut diacungi jempol. Tanpa memikirkan biaya, tanpa dibayar sepeser pun  beliau bersedia datang dan berbagi ilmu dengan teman-teman di KGBN. Bahkan saya sering beliau telpon, “Dani kapan kita sosialisasi mengenai beasiswa guru merdeka belajar ini?”. Saya bilang, “tunggu  ya Bu” . Beliau juga sering mengajak teman-teman di KGBN mengadakan zoom, guna mencari solusi bagaimana anggota KGBN bisa berkembang di kabupaten Pesisir Selatan. Beliau menargetkan tiap-tiap anggota penggerak agar mencari teman sebanyak mungkin untuk dijadikan anggota KGBN atau Penggerak KGBN. Kebetulan beliau menyuruh saya mencari teman sebanyak tiga orang, maklum saya baru menjadi anggota KGBN. Belum menjadi penggerak karena sampai saat sekarang ini saya belum mengadakan nonton bareng video merdeka belajar.  Alhamdulillah sekali saya bisa bergabung di KGBN ini. Karena saat sekarang ini mencari teman-teman yang mau belajar dan berbagi ilmu itu sangat susah. Nah KGBN adalah salah  satu tempat mencari ilmu dan berbagi ilmu. Belajar dimana saja dan dari siapa saja tidak harus dari ahli. Teman sejawat  yang punya praktek baik,  berhasil setelah mengalami kegagalan bisa kita jadikan sumber belajar. Memang kalau saya lihat teman-teman penggerak di KGBN mempunyai semangat luar biasa sekali dalam belajar. Salah satu Bu Rini Suriati, Beliau juga jauh-jauh datang dari kecamatan Lunang ke Kecamatan Linggo Sari Baganti untuk menjadi moderator pada kegiatan TPD kali ini yang menempuh jarak perjalanan tiga jam. Tanpa di bayar sepeser pun. Salut banget sama teman-teman di KGBN. Kegiatan TPD kali ini kami mencari tempat rekreasi, alasan ini dipertimbangkan supaya setelah selesai belajar bisa refreshing juga.  Akhirnya dibuatlah kesepakatan di salah satu pantai di tempat kami namanya Pantai Kito. Tidak berapa lama setelah itu saya mendapatkan informasi kalau di Pantai Kito itu ramai sekali. Untuk belajar rasanya tidak terlalu bagus karena bising dengan orang-orang yang ramai. Akhirnya kami dengan bu Azizah selaku tuan rumah mencari tempat yang lain. Hari Sabtu tanggal 27 Maret  Pukul 17:30 satu hari sebelum acara saya dengan bu Azizah survei ke tempat pantai yang lain. Sesampainya di Pantai tersebut kami langsung disambut dengan merdunya suara azan magrib. Kami pun langsung menuju tempat wudu. Ternyata tempat berwudu tersebut kurang bersih sehingga kami memutuskan untuk menumpang salat magrib di  tempat menantu beliau. Ketika kami akan menuju rumah menantu bu Azizah, kami melihat sebuah tempat yang rasanya nyaman untuk belajar. Tapi, orang yang punya tempat tersebut tidak ada. Kami pun bertanya kepada orang yang ada di sebelah.  Ketika kami berbincang- bincang, Datanglah yang punya tempat tersebut. Rupanya dia seorang operator SD. Kami pun langsung numpang salat. Setelah selesai salat akhirnya kami membicarakan mengenai Temu Pendidik Daerah (TPD) yang akan dilaksanakan. Rencananya kami mau memakai tempat tersebut untuk kegiatan TPD. Alhamdulillah dia bersedia memberikan izin. Akhirnya saya dengan bu Azizah pulang ke rumah masing-masing dan juga tidak lupa menyampaikan kepada teman-teman tentang perubahan tempat pertemuan.  Pukul 10:00 bu Linda Ermaida sudah sampai ke kecamatan kami, sementara saya dan bu Azizah selaku tuan rumah belum juga sampai karena pada saat itu saya menunggu teman. Jadi malu juga sama bu ketua. Singkat cerita akhirnya kami semua telah berkumpul di lokasi. Namun, kenapa yang punya tempat belum datang. Ada apa gerangan?. Tentu kami tidak bisa mulai acara karena yang punya tempat belum datang. Akhirnya saya telepon, tapi nomor hpnya tidak aktif. Akhirnya kami buat keputusan jika dalam waktu lima belas menit yang punya tempat tidak datang, kami akan cari tempat yang lain. Waktu itu rasa bersalah saya semakin meningkat. Udah terlambat, nah sekarang ditambah lagi tempat yang  bermasalah. Namun, belum lima belas menit kami menunggu, yang punya tempat datang. Alhamdulillah, ucap saya. Tidak jadi pindah. Jadi malu juga sama teman-teman kalau seandainya pindah tempat lagi. Acara pun kami mulai dengan pembukaan dari moderator. Selanjutnya bu Linda Ermaida menyampaikan tentang cara membuat akun di sekolahmu. Kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi Beasiswa Guru Merdeka Belajar. Setelah pembahasan beasiswa guru merdeka belajar, Pak Nofri Mayasril selaku narasumber dua langsung mempraktekkan cara membuat akun sekolah mu kepada peserta. Setelah selesai pembuatan akun di sekolahmu semua peserta di bimbing lagi untuk lanjut menyelesaikan program Guru Merdeka Belajar. Saat Nofri Mayasril sibuk mengajarkan teman-teman, sementara saya sibuk sedang membuat video kegiatan tiba-tiba bu Azizah menarik saya. “Tolong bantu Ibuk” kata beliau. saya menjawab “apa yang mesti saya bantu bu?”. Beliau menjawab lagi “Untuk menyelesaikan ini”. “Ibu sayang, ini untuk teman-teman yang baru bergabung, Ibu kan sudah penggerak”. Jawab saya sambil tersenyum. “Oh begitu,” jawab beliau sambil tersenyum. Saya salut juga sama bu Azizah ini. Beliau juga penggerak di KGBN yang mempunyai semangat yang tinggi untuk belajar. Bahkan di TPN 2019 beliau datang ke Jakarta dengan biaya mandiri. Jarang-jarang ada kepala sekolah seperti beliau. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Tak terasa azan zuhur sudah berkumandang, saya minta izin teman-teman untuk salat dulu. Setelah selesai salat tak terasa Sumatera Tengah sudah lapar. Akhirnya kami pun memesan makanan. Setelah selesai makan acara pun ditutup oleh bu Rini Suryati selaku moderator. Sesi selanjutnya yaitu dokumentasi. Dengan gaya masing-masing kami berfoto ria. Klik…kliik begitulah bunyi kamera. Kegiatan terakhir kami lanjutkan dengan jalan-jalan di tepi pantai. Kameranya bunyi lagi deh, klik, klik, klik dan kliik. Tak terasa waktu begitu cepat. Sekitar pukul 14:00 kami memutuskan pulang ke rumah masing-masing dengan membawa semangat merdeka belajar. Banyak teman, dapat ilmu dan banyak lagi manfaat yang lain yang kami rasakan bergabung di KGBN. “Orang yang berhak mengajar adalah orang yang mau belajar.” Itulah kutipan yang saya … Read more

Mempersiapkan Pameran Karya Murid Merdeka Belajar

Apa hal pertama yang muncul di pikiran Bapak Ibu ketika mendengar istilah Pameran Karya Murid? Apakah terbayang kumpulan karya murid dari kelas kesenian yang dipamerkan, kumpulan tugas-tugas yang dikerjakan murid, atau mungkin beberapa lembar kertas dimana murid menjelaskan mengenai prosesnya menghitung modal untuk jualannya? Ya, itu semua termasuk ke dalam karya murid. Namun beberapa hal tadi hanya contoh saja, pameran karya lebih luas daripada itu.  Pameran karya adalah waktu murid dapat menunjukkan hasil karya yang dibuatnya ketika pembelajaran di kelas. Inti dari pameran karya bukanlah sekedar dari seberapa bagus hasil karya yang dibuat oleh murid, namun lebih menunjukkan bagaimana proses belajar murid dan bagaimana dampaknya bagi perkembangan dirinya.  Ketika guru ingin membuat pameran karya, tentu banyak persiapan yang harus dilakukan. Mulai dari mempersiapkan lokasi, alur pembuatan karya, panduan, dan lain sebagainya. Namun, sebenarnya ada hal terpenting yang perlu dilakukan oleh guru untuk membuat pameran karya merdeka belajar, yaitu mempersiapkan murid. Ya, guru harus merancang strategi pembelajaran di kelas untuk dapat membantu murid mempersiapkan dirinya agar siap untuk membuat suatu karya. Apakah berarti mempersiapkan karya bukan hanya sekedar hal-hal teknis saja?  Pada tanggal 23 Maret 2021, Obrolan Guru Merdeka Belajar membahas mengenai topik “Bagaimana Mempersiapkan Pameran Karya Merdeka Belajar” bersama narasumber Marsaria Primadonna (Pima) dari Sekolah Cikal dan Titis Kartikawati (Titis) dari SDN 09 Sanggau. Obrolan yang dipandu oleh Ira Ari Nuraini dari Kampus Guru Cikal ini membahas lebih mendalam mengenai bagaimana pameran karya digunakan sebagai asesmen terhadap belajar (assessment as learning).  Asesmen terhadap belajar bertujuan untuk penilaian untuk mengukur pencapaian murid yang merupakan puncak dari proses belajar dan memberikan murid kesempatan untuk mendemonstrasikan apa yang telah dipelajari. Tujuannya untuk penilaian atau mengukur pencapaian murid. Asesmen ini tidak harus dilakukan di akhir pembelajaran  Asesmen Terhadap Belajar dapat berfungsi menjadi beberapa elemen seperti: menginformasikan dan meningkatkan belajar murid dalam proses pengajaran, dapat mengukur konsep dan pemahaman murid dan mendorong murid untuk melakukan aksi untuk mencapai kompetensi yang dituju. Lalu sebenarnya seberapa penting untuk guru dan sekolah melakukan pameran karya dalam proses pembelajaran? Menurut Guru Pima, pameran karya merupakan hal yang paling penting apalagi untuk pembelajaran yang berbasis proyek, “(Guru) melihat kinerja murid itu melalui apa yang dilakukan, keterampilannya, pengetahuan, dan kompetensi mereka, hasilnya pun tidak bisa sekedar angka namun juga dimensinya” tuturnya.  Sedangkan menurut Guru Titis, pameran karya merupakan sebuah perayaan belajar. Hal ini yang membuat pameran karya menjadi acara yang paling ditunggu oleh murid. Selain itu pameran karya memberikan dampak positif bagi murid dan bisa membantu guru menilai tiga aspek dari murid, “Sebenarnya ada tiga aspek yang bisa tercapai, yaitu dari sikapnya, pengetahuannya, dan keterampilannya” tutur guru SDN 09 Sanggau ini.  Baca Juga: Lebih Penting Pameran Karya atau Memajang Nilai Murid? Sebagai perayaan belajar, pameran karya perlu dipersiapkan jauh ketika mempersiapkan proses pembelajaran di sekolah. Setidaknya sekitar 6 bulan sebelum dilaksanakannya pameran karya. Hal yang harus dipersiapkan guru untuk mendampingi murid dalam membuat pameran karya dimulai dengan menentukan tema besar yang akan menjadi pembahasan selama pembelajaran. Kemudian mengajak murid untuk berdiskusi mengenai hal yang menjadi minat/passion mereka, hal yang menjadi inspirasi, dan hal yang menjadi permasalahan yang menjadi perhatian murid. Hal ini menjadikan guru lebih memahami murid-muridnya.  Dengan pola belajar design thinking, murid-murid dapat belajar juga untuk bisa berempati. Saat membuat sebuah karya atau proyek, murid perlu bisa menyampaikan dengan jelas alasan mereka memilih membuat proyek tersebut, “Memulai proses (pembuatan karya) penting untuk murid mengetahui dan menyampaikan alasan mereka membuat proyek tersebut dengan jelas. Sehingga mereka dapat benar-benar tahu seberapa bermakna proyek itu bagi mereka.” jelas Guru Pima.  Sejalan dengan yang disampaikan oleh Guru Pima, Guru Titis juga mengatakan bahwa murid harus bisa mempertanggungjawabkan setiap karya yang dibuatnya, salah satunya dengan cara menulis laporan, “Saya meminta murid membuat laporan. Setiap mereka membuat proyek, pasti ada laporannya. Berisi alasan mereka membuat proyek tersebut, latar belakangnya, tujuan, manfaatnya apa saja, sarana yang digunakan, dan cara membuatnya. Hal ini menjadi panduan untuk murid serta menjadi cara guru memahami murid.” cerita Guru Titis.  Produk pameran karya bisa sangat beragam. Dari mulai produk yang sederhana seperti poster, video pendek, lukisan, makanan, hingga yang lebih kompleks seperti alat pengisi daya dari sepeda dan augmented reality. Namun, pameran karya bukan berarti menjadi ajang kompetisi untuk ‘canggih-canggihan’ hasil produk. Melainkan semua itu kembali ke apa tujuan dari produk yang dihasilkan murid dan bisa menunjukkan apa minat/passion terbaik dari murid-murid.  Mempersiapkan pameran karya memerlukan perencanaan yang detail dan ada timeline yang tepat agar pameran karya bisa berjalan dengan lancar, “Sebulan sebelum pameran karya kita mulai membentuk tim kepanitiaan untuk teknis pameran karya, namun untuk persiapan pembelajaran tentunya disiapkan sejak awal tahun saat membuat RPP. Sebisa mungkin tujuan belajar dalam pembelajaran berbasis proyek bisa menggabungkan beberapa tujuan dari mapel yang berbeda.” jelas Guru Pima.  Pada sesi tanya jawab, ada beberapa pertanyaan yang muncul. Salah satunya dari Guru Arif Fauriyuddin, dimana ia bertanya mengenai pelaksanaan pameran karya di masa pandemi. “Masa pandemi karya siswa yang bagaimana yang bisa dipamerkan dan bagaimana cara menilainya.” tulisnya di kolom komentar.  Selama masa pandemi, bukan berarti menjadi penghalang untuk membuat pameran karya. Justru saat ini, guru bisa memanfaatkan teknologi yang ada dengan mempersiapkan pameran karya virtual. Jika biasanya karya-karya murid dipampang di sebuah ruangan, maka dengan teknologi guru bisa membuat ruang virtual untuk memajang karya murid.  “Tentunya di masa pandemi ini sudah pasti kita akan memanfaatkan teknologi yang kita punya. Apapun itu teknologinya. Biasanya pameran di tempel di tembok, sekarang kita buat tembok virtualnya. Bisa pakai Google Sites, Streamyard, dan lainnya. Anak-anak membuat presentasinya, kemudian nanti bisa dipamerkan secara virtual.” jelas Guru Pima.  Penilaiannya pun dapat dilakukan melalui bagaimana murid menjelaskan hasil karyanya melalui video presentasi dan sebagainya. Selain itu, pameran karya virtual lebih memungkinkan menjangkau lebih banyak audiens. “Saat pandemi ini justru akan bisa lebih menjangkau (banyak orang), menjangkau yang jauh-jauh juga yang gak bisa datang jika diadakan pameran secara offline. Kalau gak online gini, mana bisa dari Sanggau datang ke Cilandak gitu kan (untuk melihat pameran karya).” tambah Guru Pima sambil tertawa.  Kemudian ada pertanyaan dari akun Dokos Dokos, “Bu… Karya apa saja (yang) dibuat anak dan bagaimana (tanggapan) guru-guru maupun orang tua. … Read more

Asesmen Formatif Membuat Murid Berkembang, Guru Senang, Orang Tua Tenang

“Sudah nerapin merdeka belajar, nih. Tapi bingung, asesmen bagaimana, ya? Jangan-jangan praktik asesmen saya tidak sesuai, bahkan bertentangan dengan esensi merdeka belajar. Bagaimana, dong?” “Murid saya sebenarnya paham, tapi kalau ulangan kok hasilnya mengecewakan? Orang tua juga mempertanyakan kualitas pembelajaran setelah tahu nilai anaknya.” Punya pengalaman yang sama? Wah, jadi masalah juga kalau asasmen kita bukan asesmen merdeka belajar.  Jadinya kan tidak sinkron dengan tujuan kita.  Ini terjadi di sebuah sekolah. Seorang guru rajin sekali memberikan tugas-tugas kepada muridnya. Namun, murid tidak mendapatkan umpan balik. Tugas yang dikumpulkan hanya menumpuk saja. Guru tersebut sudah menjalin hubungan yang memanusiakan dengan murid. Juga selalu menyesuaikan materi pelajaran dengan situasi kontekstual. Namun lacur, usahanya sia-sia ketika murid-murid tidak mendapatkan umpan balik. Adakah yang seperti guru tersebut? Bagaimana langkah memperbaikinya?  Nah, Obrolan Pemimpin Merdeka Belajar pada  13 Maret 2021 menjadi tempat untuk mencari jawabannya. Menghadirkan Guru Irma Nurul Fatimah, Kepala SMP Lazuardi Al Falah, dipandu Guru Andrie Firdaus dari Sekolah CIkal, obrolan berlangsung menarik.   Tema yang diangkat memang sangat dinantikan oleh para pemimpin sekolah dan guru merdeka belajar. Terbukti, jauh sebelum acara dibuka, yang antre “di depan pintu” sudah banyak. Kolom chat di channel Youtube hangat oleh salam dan sapa penonton yang sudah menunggu. Membuka obrolan, Bu Irma menceritakan pengalamannya pada awal menjadi memimpin di sekolah. Jenjang karier adalah kesempatan belajar.  Tantangannya adalah tidak ada resep yang sama untuk menjadi kepala sekolah, sebab karakter setiap orang berbeda-beda.  Oleh karena itu, Bu Irma terus mencari mentor dan refernsi yang bisa membantunya belajar menjadi pemimpin di sekolah. Beruntung, dia menemukan Komunitas Guru Belajar. Di komunitas inilah Bu Irma bertemu banyak guru yang fokus kepada murid.  Hal itu sesuai dengan konsernnya, yakni semua masalah diselesaikan dengan mempertimbangkan kebutuhan murid.   Tantangan lainnya adalah membangun percakapan di kalangan guru di sekolahnya tentang asesmen yang lebih berpihak kepada murid. Harus disadari bahwa ketika guru mengajar, belum tentu murid belajar. Itulah mengapa perlu ada assessment as learning (asesmen sebagai proses belajar). Asesmen ini bisa dilakukan secara mandiri oleh murid, dengan syarat mereka memahami tujuan yang ingin dicapai dan indikatornya.  Ketika sudah paham tujuan dan indikator pencapaian hasil belajar, murid dapat mengukur kemajuan belajarnya. Murid mendapatkan umpan balik dan melakukan refleksi untuk mengembangkan kemampuannya. Jadi, asesmen tidak melulu tentang tes. Asesmen bisa berwujud umpan balik yang membuat murid mengetahui kualitas hasil belajarnya, dan paham bagaimana meningkatkannya.   Berbeda situasi kalau murid hanya diberi nilai angka. Dia akan membandingkan nilainya dengan nilai temannya. Kemungkinannya dua: murid tersebut puas karena merasa nilainya lebih baik atau berkeil hati sebab nilai teman lebih tinggi. Akhirnya tercipta iklim kompetisi. Yang pasti, sekadar memberikan skor tidak membuat murid mengetahui kualitas dirinya secara utuh: bagian mana yang sudah oke, hal apa yang perlu ditingkatkan.  Ketika dilakukan tes yang konvensional (paper and pencil test), beberapa murid yang saat pembelajaran sudah paham,  ternyata  tidak bisa jawab pertanyaan-pertanyaan dalam tes tersebut.  Menghadapi hal demikian, guru-guru melakukan refleksi.  Karena  belum tahu jawabannya, kemudian mencari referensi. Namun, ternyata justru muri-murid yang “menuntun” guru menemukan jawabannya.  Di kelas, ada saja murid yang pura-pura sudah tahu.  Dia menyatakan sudah paham saat ditanya, semata malu bila dianggap belum paham.  Ketika ada murid yang seperti ini, perlu pendekatan individual (personalisasi). Biasanya, kalau di kelas mereka malu atau merasa tidak nyaman menyatakan kendala yang dihadapinya. Ketika berinteraksi empat mata, mereka lebih terbuka menceritakan kesulitan yang dialami. Guru menanyakan apa yang murid sudah ketahui dan apa yang ingin mereka ketahui. Dengan demikian, guru lebih cepat mendeteksi kendali, untuk kemudian memberikan treatment yang tepat. Dengan teknik personalisasi, guru mendapatkan informasi dan dapat mendiagnosis kebutuhan personal murid. Memang lebih melelahkan, tapi kalau hal tersebut tidak dilakukan, guru tidak mendapat informasi yang akurat.  Guru tidak bisa membuat peta masalah secara akurat.  Akibatnya, perlakukan kepada murid juga tidak akan sesuai dengan kondisi murid yang bersangkutan. Personalisasi bisa dilakukan dengan dengan lebih banyak bertanya dan diskusi terbuka. Guru hendak sabar, tidak melakukan terlalu cepat melakukan intervensi.  Caranya, guru memberi kesempatan yang besar kepada murid untuk membangun percakapan di antara mereka. Selama proses belajar, guru sebaiknya tidak  memberikan jawaban. Guru menstimulasi murid-murid menemukan banyak  cara. Misalnya dengan mengajukan pertanyaan: “Kenapa kamu pakai cara itu?” Adakah cara lain yang bisa digunakan?” Ketika ada murid yang mengemukakan cara belajarnya, berikan umpan kepada murid-murid yang lain agar terjadi diskusi sehingga ditemukan cara yang paling efektif.  Nah, kepada murid yang kurang aktif, entah karena pemalu atau memang belum tahu, guru bisa mengajukan pertanyaan yang memantik dia untuk berpendapat. Misalnya, “Bagaimana menurut kamu?” Ternyata tujuan asesmen, yakni memetakan tingkat kemampuan dan perkembangang murid, bisa dilakukan dengan banyak cara. Lebih efektif bila menggunakan model pembelajaran berbasis proyek.  Dalam pembelajaran berbasis proyek, murid mendapat kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya.  Baca Juga: Siap AN, Siap Berubah? Selain itu, dalam pembelajaran berbasis proyek, murid mempunyai pengalaman belajar bersama, mengemukakan ide (gagasan) berinteraksi (bekerja sama) untuk mencapai tujuan, dan presentasi. Dengan demikian, murid terbiasa menggunakan keterampilan berpikir tingkat tinggi.  Kuncinya adalah murid mampu melakukan analisa. Supaya kemampuan analisa berkembang, setiap hari guru bisa memberikan pertanyaan-pertanyaan pemantik yang membuat murid berpikir dan berpendapat. Syaratnya, murid merasakan suasana aman dan nyaman terlebih dahulu. Aman dari cemoohan dan reaksi negatif lainnya saat melakukan kesalahan. Nyaman karena semua warga kelas respek terhadap usaha yang ditunjukkannya. Membuat guru-guru percaya, yakin, dan mau melakukan asesmen formatif itu bukan hal yang mudah. Di sekolah yang dipimpin Bu Irma, awalnya cuma ada dua guru yang mau mencoba. Namun, Bu Irma tidak patah semangat. Dari dua guru ini, kalau gerakannya berdampak, pasti asesmen formatif akan menular kepada guru yang lain. Dengan dua guru itulah Bu Irma sering berdiskusi di depan guru-guru yang lain. Tujuannya agar guru-guru yang lain mengetahui apa yang dilakukan kedua guru tersebut di kelas dan bagaiamana perkembangan murid-murid setelah ada perlakuan yang berbeda. Ternyata, guru-guru yang lain melihat hasilnya. Murid-murid di kelas kedua guru tersebut berkembang lebih baik baik. Akhirnya, mereka tertarik untuk mengikuti langkah kedua guru tersebut.  Inilah yang disebut menyebarkan “virus” kebaikan. Dimulai dari satu orang yang memulai, yang dianggap “gila” karena dinalai aneh. Kemudian muncul pengikut pertama (jumlahnya tidak selalu satu) yang mengikuti gerakan. Ketika dampak gerakan terlihat, maka orang-orang … Read more