Bingung, Praktik Asesmen Diagnosis Non-kognitif?
Proses pencarian sistem asesmen kognitif dan non-kognitif membuat Bu Marjenny sampai harus memikirkan ide baru bahwa asesmen harus dipersiapkan sedemikian rupa.
Proses pencarian sistem asesmen kognitif dan non-kognitif membuat Bu Marjenny sampai harus memikirkan ide baru bahwa asesmen harus dipersiapkan sedemikian rupa.
Bapak dan ibu guru merasa lebih susah mengajar saat pandemi? Lantas, apakah bapak dan ibu guru juga merasakan kebingungan dan ketidakpastian dalam beradaptasi dengan proses belajar mengajar selama pandemi ini? Pandemi ini ternyata mulai mengubah tatanan kehidupan, tak terkecuali pada dunia pendidikan di Indonesia. Proses belajar mengajar yang semula dilakukan dengan tatap muka, namun kini proses belajar mengajar dilakukan secara jarak jauh dengan memanfaatkan jaringan internet, serta teknologi informasi dan komunikasi. Hal ini pun memengaruhi juga dalam penerapan asesmen yang diberikan baik praktik asesmen formatif dan sumatif yang dilakukan oleh bapak dan ibu guru. Dari segi manfaat, dilakukannya pembelajaran jarak jauh telah menjejakkan proses pendidikan di Indonesia ke arah digitalisasi. Namun di sisi lain, hal itu juga menimbulkan beberapa tantangan. Tantangan berupa bagaimana menerapkan praktik asesmen formatif maupun sumatif, dan juga bagi daerah yang mengalami kendala akses internet dan ketiadaan gawai yang dimiliki murid karena beberapa hal, ini menjadikan pembelajaran jarak jauh cukup sulit untuk dilakukan. Lantas bagaimana menjawab tantangan mengenai pembelajaran jarak jauh dan juga penerapan praktik asesmen formatif dari perspektif guru? Berikut kita simak cerita dari Ibu Arni Idawati, guru di SMA Negeri 5 Sinjai, Sulawesi Selatan. Seperti yang dirasakan oleh guru-guru lain di Indonesia, awalnya Ibu Arni juga merasakan jika tantangan mengajar lebih besar saat pandemi ini, beliau pun juga mencoba beradaptasi dengan proses belajar mengajar di tengah kebingungan dan ketidakpastian selama pandemi ini. Ibu Arni pun mencoba untuk mendesain cara dan metode pembelajaran terbaik yang karakternya sangat berbeda dengan pembelajaran tatap muka, dengan harapan tujuan pembelajaran yang beliau rancang tersebut dapat tercapai. Meski demikian, masih ditemukan murid yang belum aktif, seperti tidak mengikuti saat online class berlangsung atau tidak bisa dihubungi saat online class berlangsung.. Imbasnya, murid tersebut tidak memahami konten, dan tentunya tidak mampu menggunakannya dalam konteks kehidupan nyata. Kondisi tersebut diketahui oleh Ibu Arni dari hasil penilaian yang beliau praktikkan. Ternyata Ibu Arni hanya fokus kepada asesmen sumatif yang menekankan perolehan hasil belajar murid. Padahal, murid lebih membutuhkan pengalaman belajar yang berorientasi kepada proses, umpan balik, dan tindak lanjut pencapaian belajar. Bukan sekadar penugasan melalui tes dan pemberian nilai. Baca juga: Asesmen Formatif Membuat Murid Berkembang, Guru Senang, Orang Tua Tenang Berangkat dari hal tersebut, dalam pembelajaran tentang fluida (zat yang dapat mengalir) di kelas XI IPA, Ibu Arni menerapkan asesmen diagnosis untuk mendapatkan informasi tingkat kompetensi murid dalam ranah sikap, pengetahuan, maupun keterampilan. Diketahui jika murid di kelas tersebut rata-rata berusia 16 – 17 tahun, dengan komposisi putra-putri sebesar 1:2. Sebagian besar murid suka menonton YouTube, belajar menggunakan ponsel, dan terbiasa menggunakan ponsel dalam aktivitas sehari-hari. Data ini beliau peroleh dari diagnosis awal yang dilakukan pada awal tahun pelajaran. Adapun tujuan pembelajaran yang hendak dicapai dalam materi fluida adalah murid dapat menjelaskan tekanan, memformulasikan tekanan, menjelaskan tekanan hidrostatis, memformulasikan tekanan hidrostatis, menerapkan tekanan hidrostatis dalam kehidupan sehari-hari. Ibu Arni pun melakukan praktik asesmen formatif karena beliau benar menyadari bahwa murid membutuhkan penilaian yang berorientasi kepada proses pembelajaran agar mereka memperoleh umpan balik dari guru untuk memperbaiki capaian belajar. Melalui bimtek guru belajar di masa pandemi yang diselenggarakan oleh Kemendikbud secara daring melalui Sim PKB, beliau semakin paham bahwa pada masa pandemi praktik asesmen formatif jauh lebih penting dibandingkan praktik asesmen sumatif untuk mengetahui perkembangan penguasaan kompetensi. Saat melakukan praktik asesmen formatif, Ibu Arni juga mengumpulkan informasi yang bisa membantu beliau dalam memberi umpan balik dan tindak lanjut proses belajar, serta membantu murid memperbaiki cara belajar dengan menentukan kembali strategi belajar yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Skenario pembelajaran untuk memperbaiki proses dan hasil pembelajaran, yang dibuktikan dengan kemampuan murid menerapkan konten materi dalam kehidupan sehari-hari, dapat Ibu Arni gambarkan seperti berikut ini. Pada awal pertemuan, Ibu Arni memberi tautan Google Teams kepada muridnya. Mereka menonton video yang menjelaskan kompetensi dasar fluida statis dalam materi tekanan hidrostatis. Setelah itu, beliau meminta murid untuk menjawab beberapa pertanyaan untuk mengetahui tingkat pemahaman awal mereka. Pertanyaan-pertanyaan yang beliau berikan seperti ini: 1. Mengapa paku dibuat runcing? 2. Apa hubungan antara paku runcing dengan tekanan? 3. Mengapa ban mobil jip berbeda dengan ban mobil sedan? 4. Apa hubungannya dengan tekanan? Kemudian, saya berikan pertanyaan lagi pertanyaan simpulan tentang persamaan tekanan. Setelah murid mendefinisikan materi tekanan, beliau pun bertanya, “Mengapa struktur jembatan semakin ke bawah semakin tebal?” Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut murid dapat menjelaskan dan memformulasikan persamaan tekanan hidrostatis. Selanjutnya murid mengerjakan soal-soal latihan sederhana tentang formulasi persamaan tekanan dan tekanan hidrostatis menggunakan Google Form. Berikutnya, beliau meminta murid menyaksikan tayangan video singkat tentang tekanan hidrostatis dan pembuktian materi ini dengan percobaan sederhana menggunakan botol bekas. Murid membuat lubang di kedalaman yang berbeda, kemudian mengamati dan menghitung jarak pancuran air di kedalaman yang berbeda. Lalu, murid mengamati bagaimana pancuran air jika botol dalam keadaan terbuka dan bagaimana jika botol dalam keadaan tertutup. Mereka menjatuhkan botol dari ketinggian tertentu untuk menyelidiki ada tidaknya pengaruh gravitasi terhadap air yang keluar pada botol. Pada tahap ini, murid belajar mandiri, secara kontekstual membuktikan teori. Mulai dari tahap identifikasi, pengumpulan data, pengolahan data, pembuktian, dan menarik kesimpulan. Selain itu, murid dilatih berpikir kreatif dalam pemecahan masalah dan pembuktian konsep. Akhirnya, tiba saatnya murid mengaplikasikan konten dalam kehidupan nyata, yakni melakukan percobaan bersama kelompoknya. Sebagai tagihan, murid mendesain produk berupa sebuah video pembuktian materi tekanan hidrostatis dengan menggunakan botol bekas. Ada hal yang sangat membuat Ibu Arni bangga. Desain yang dirancang murid beragam. Mulai dari melakukan pengamatan langsung struktur jembatan/pelabuhan; kemudian merumuskan masalah dari berdasarkan hasil pengamatan, menjelaskan materi, melakukan percobaan untuk membuktikan teori, sampai kepada kesimpulan akhir. Video yang dihasilkan menunjukkan keragaman cara, teknik, dan model yang digunakan dalam percobaan. Berarti murid dapat meningkatkan kompetensi dengan cara yang berbeda-beda, tapi tetap bermakna. Ada kelompok yang melakukan percobaan dengan menggunakan dua botol bekas. Dari kedua botol itu, ada yang dilubangi secara vertikal untuk mengamati pancuran air dari lubang di kedalaman yang berbeda. Botol yang lain dilubangi secara horizontal. Dalam percobaan ini, murid mengamati jarak pancuran jika botol dilubangi secara horizontal, bagaimana pancuran air ketika botol dalam keadaan tertutup dan dalam keadaan terbuka, apa hubungannya dengan tekanan hidrostatis, apa yang terjadi jika botol dijatuhkan pada ketinggian tertentu, dan adakah pengaruh gravitasi terhadap … Read more
Apakah Bapak dan Ibu guru sering bingung ketika mengisi penilain Kompetensi Dasar murid di akhir semester? Biasanya Bapak dan Ibu isi dengan apa? Nilai tugas akhir atau ulangan akhir murid yang hanya berupa angka? Apakah Bapak dan Ibu guru yakin penilaian semacam itu akurat dan dapat dipertanggungjawabkan? Dengan adanya standar pencapaian angka tertentu untuk mengukur keberhasilan murid dan memunculkan pelabelan terhadap murid seperti bisa atau tidak bisa, bukankah hal itu sudah termasuk tindak penghakiman? Dan bagaimana sih rasanya jadi orang yang dihakimi? Tertekan, takut, tidak nyaman, pengin marah atau protes tapi tidak bisa. Mungkin perasaan semacam itu yang sekarang dirasakan oleh murid Bapak dan Ibu. Atau mungkin yang Bapak dan Ibu rasakan sewaktu jadi murid dulu? Lalu apa kaitannya dengan Asesmen Formatif? Apa itu asesmen formatif dan fungsi-nya dalam kegiatan pembelajaran? Harap tenang! Bapak dan Ibu guru jangan risau karena pada tulisan kali ini akan membahas solusi dari pertanyaan-pertanyaan di atas. Bersumber dari Surat Kabar Guru Belajar (SKGB) Edisi ke-3 tahun keenam dengan tema Asesmen Formatif sebagai Upaya Merawat Kemerdekaan Belajar, terdapat kisah guru belajar yang mengalami masalah serupa. Guru Maryati Hulalata namanya, mengajar di SMP Lazuardi dan anggota Komunitas Guru Belajar Depok. Lalu bagaimana beliau mengatasi pertanyaan-pertanyaan yang meresahkan di atas? Semuanya akan diulas dalam tulisan ini. Yuk Bapak dan Ibu segera simak kisahnya di bawah ini! Setiap awal tahun pelajaran, guru-guru diminta menyiapkan berbagai instrumen administrasi, seperti Program Tahunan , Program Semester, dan Program Project Plan atau yang sering dikenal dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Tidak hanya masalah administrasi, intrumen pra-mengajar pun tidak kalah penting untuk disiapkan, salah satunya adalah Rencana Asesmen. Namun Guru Maryati sering mengenyampingkannya, beliau hanya akan menyalin file tahun lalu yang sering kali sudah tidak relevan. Hingga Pandemi datang dan PJJ diberlakukan, Guru Maryati bingung untuk memberi nilai Kompetensi Dasar murid-muridnya karena pembelajaran seluruhnya dilakukan secara online. Pasalnya semua penugasan langsung diberikan skor tanpa ada masukan perbaikan dan penyesuaian pengajaran di dalam kelas online-nya. Guru Maryati merasa seperti kembali ke masa lalu ketika penilaian berpatok pada angka dan penghakiman bisa atau tidak bisa dan tahu atau tidak tahu. Memberi nilai layaknya sebuah ulangan harian waktu sekolah dulu. Ulangan harian yang kemudian menjadi nilai tambah nilai ujian akhir. Guru Maryati menganggap penilaian semaca itu tidaklah akurat dan kurang dapat dipertanggungjawabkan. Beliau merasa kecolongan, ketika kelas yang dibawakan sudah demikian menarik, penugasan proyek yang menantang, eh nilai diberikan begitu saja tanpa memberi masukan berkala. Setelah menyadari kekeliruan besar yakni dengan tidak menerapkan Asesmen Formatif dalam pembelajarannya, Guru Maryati segera membuka catatan ketika mengikuti pelatihan asesmen yang pernah diselenggarakan sekolahnya dan berdiskusi dengan rekan guru lainnya. Selain itu, Guru Maryati juga amat terbantu dengan konten-konten yang membahas mengenai asesmen dari media sosial Kampus Guru Cikal dan Komunitas Guru Belajar. Beliau membaca dan berusaha memahami kembali mengenai asesmen. “Asesmen sejatinya merupakan alat bantu kita untuk mengetahui kemajuan murid dan membantu mereka mencapai target pembelajaran. Asesmen tidak melulu sesuatu yang diberi nilai, berupa angka dan dilakukan di akhir” (Maryati Hulalata) Baca juga: Merdeka Belajar di PAUD, Bagaimana Menerapkannya? Guru Maryati melakukan refleksi pembelajaran selama satu semester yang lalu. Sudahkah memberikan kesempatan murid-muridnya untuk merefleksikan pembelajaran dan mengevaluasi diri sendiri? Sudahkah memberi umpan balik sepanjang proses belajar yang membantu murid melakukan perbaikan? Menyadari betapa esensialnya peran sebuah asesmen khususnya fungsi asesmen formatif, di awal semester baru Guru Maryati menyediakan waktu untuk menyusun rencana asesmen dengan memperhatikan asesmen formatif secara seksama dan dilaksanakan dengan benar agar tujuan asesmen tercapai. Berbekal format yang diberikan sekolahnya, Guru Maryati memulai dari tujuan belajar yang diambil dari Kompetensi Dasar. 1. Tujuan belajar ini dibuat lebih pendek penjelasannya dan langsung pada kegiatan yang akan dilakukan di kelas. 2. Di sebelah kolom Learning Goals, ada kolom jenis asesmen yang dilakukan. Ini penting, sebagai bentuk informasi kegiatan apa yang membutuhkan masukan intensif dan mana yang bisa diambil penilaian berupa angka. 3. Menuliskan bentuk asesmen. Tidak kalah penting karena membantu untuk mempersiapkan proses asesmen agar menjadi lebih terarah sesuai dengan tujuan pembelajaran. 4. Terdapat kolom untuk rencana diferensiasi (akomodasi) dan rubrik. Kolom diferensiasi disiapkan sebagai tindakan awal , meskipun saat pelaksanaan sangat bisa disesuaikan sesuai kebutuhan. Sedangkan kolom rubrik hanya sebagai pelengkap dan pengingat. Dengan merencanakan asesmen secara matang, kini Guru Maryati sudah tidak pusing untuk memberi penilaian di akhir pembelajaran saat kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring. Dan yakin jika penilaian yang diberikan sudah akurat dan dapat dipertanggungjawabkan serta tidak menghakimi. Guru Maryati tidak ingin keliru lagi dan berupaya memastikan efektivitas asesmen formatif dan memaksimalkan fungsi-nya dalam proses belajar murid. Selain itu murid juga terbantu dengan adanya asesmen ini. mereka menyadari keberadaan guru yang siap membantu dan peran rekan sebaya yang masukannya membantu mereka memperbaiki kualitas kerja. Bagaimana Bapak dan Ibu guru, apakah kisah guru belajar di atas sudah meyakinkan Bapak dan Ibu guru untuk memberi nilai kepada murid secara akurat dengan menerapkan Aseesmen Formatif? Atau Bapak dan Ibu guru masih membutuhkan kisah-kisah inspiratif dan solutif dari guru belajar lainnya? Tenang, semua yang Bapak dan Ibu guru cari bisa didapatkan dengan mengikuti Temu Pendidik Nusantara VIII yang akan diselenggarakan pada 20-21 November 2021 dengan tema Merayakan Asesmen, Mendesain Ekosistem Merdeka Belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000Pembicara. Caranya gimana? Gampang banget, tinggal klik tpn.gurubelajar.org
Apakah Bapak dan Ibu pernah bingung dalam mendesain asesmen yang pas untuk diberikan ke murid? Atau bapak dan ibu guru pernah mendengar miskonsepsi jika asesmen cenderung dilakukan hanya untuk mengukur hasil belajar murid? Mendesain pembelajaran di awal tahun pelajaran merupakan sebuah hal yang biasa dilakukan oleh bapak dan ibu guru. Desain pembelajaran tersebut juga harus dilengkapi dengan asesmen baik asesmen formatif maupun asemen sumatif. Ternyata Asesmen bukanlah sekadar untuk mengetahui pencapaian hasil belajar murid. Asesmen dapat meningkatkan kemampuan murid dalam proses belajar mengidentifikasi murid yang membutuhkan bantuan. Hal penting lainnya tentang asesmen bagi guru ialah untuk mengecek pemahaman dan pencapaian murid serta merencanakan dan merancang personalisasi pembelajaran dalam proses belajar. Pentingnya asesmen ini bukan hanya diperlukan oleh murid jenjang dasar sampai menengah, tetapi juga di jenjang anak usia dini. Di jenjang pendidikan usia dini, murid-murid perlu mendapatkan asesmen dalam aspek tumbuh kembangnya. Aspek tersebut meliputi perkembangan motorik, sosial emosi, bahasa, kognisi, moral, agama, dan seni. Lalu, bagaimana esensi “penting” dalam penerapan asesmen sumatif di jenjang usia dini? Berikut kita akan bahas cerita Ibu Anik Puspowati dari KGB Semarang yang mengajar di Fatiha Edu tentang pentingya penerapan asesmen sumatif di PAUD. Awalnya sebagai seorang guru yang mengajar anak-anak usia dini, Ibu Anik merasa bahwa dirinya memerlukan data untuk mengetahui capaian perkembangan murid-muridnya, sekaligus sebagai bahan refleksi dalam mengelola pembelajaran di kelasnya, tentang apa yang perlu beliau evaluasi dan apa yang sudah baik dari perencanaan pembelajaran yang sudah beliau tentukan. Menurut Ibu Anik, jika beliau tidak memiliki data maka tidak akan mampu menganalisis ketercapaian tujuan belajar murid-muridnya. Tanpa data, beliau juga tidak mempunyai bukti untuk melaporkan perkembangan murid-muridnya saat pertemuan dengan orang tua nanti. Oleh karena itu, beliau berinisiatif untuk menentukan metode yang saya butuhkan untuk mengumpulkan informasi. Baca juga Asesmen Nasional 2021, Siap(a) Berubah? Beliau pun memilih untuk mencoba melakukan teknik observasi dan mendokumentasikan kegiatan atau percakapan maupun perilaku murid, baik saat bermain sendiri maupun ketika dalam kelompok kecil atau kelompok besar, serta melalui catatan anekdot. Beliau juga mencoba dengan berinteraksi ringan dengan murid-muridnya, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, lalu mencatat semua respons mereka. Tidak lupa, Ibu Anik juga menggunakan ceklis untuk mencatat perkembangan spesifik, misalnya keterampilan motorik muridnya, sosial emosi, dan sebagainya. Berikutnya, beliau juga mengumpulkan hasil karya murid-muridnya, baik itu gambar, prakarya, atau penugasan lainnya. Dan terakhir, beliau juga intens bertanya kepada orang tua/wali murid terkait perkembangan anak mereka di rumah. Yang mana ada kalanya perilaku murid muncul di rumah tetapi tidak muncul di sekolah. Beliau juga mencari tahu dan mencatat keterangan dari guru-guru sebelumnya. Ketika sudah memiliki begitu banyak data dari setiap murid, lantas Ibu Anik berpikir tentang bagaimana membuat asesmen sumatif dari sekian banyak data yang beliau peroleh? Perlukah merencanakan asesmen tersendiri untuk kebutuhan penilaian akhir tema dan akhir semester? Jika iya, beliau merasa pasti akan kewalahan dalam mengelolanya. Akhirnya, Ibu Anik mengumpulkan semua data yang ada, lalu menentukan mana yang akan dijadikan basis data untuk asesmen formatif dan mana yang dijadikan penilaian sumatif. Oleh beliau semua data tersebut dikelola dengan dikumpulkan dalam portofolio berdasarkan tanggal dan identitas murid. Hasil dari kumpulan data tersebut berupa foto hasil karya murid, rekaman suara, video kegiatan, dan sebagainya. Ibu Anik menyimpan seluruh data pertumbuhan dan perkembangan murid di dalam satu folder penilaian dan menyiapkan satu folder untuk setiap anak dalam Google Drive sehingga memudahkan beliau ketika mencarinya. Ibu Anik melakukan pengolahan data secara berkala, mingguan dan bulanan dengan menggunakan skala. Beliau menetapkan empat skala capaian perkembangan murid, yaitu BB (belum berkembang), MB (mulai berkembang), BSH (berkembang sesuai harapan), dan BSB (berkembang sangat baik). Beliau memasukkan semua data yang terkumpul setiap minggunya ke dalam format bulanan. Untuk menentukan capaian akhir setiap bulan, beliau melihat capaian tertinggi yang dicapai sepanjang bulan itu. Ketika Ibu Anik ingin mendapatkan hasil penilaian satu semester, maka memasukkan capaian akhir bulan di format bulanan untuk setiap bulan dalam satu semester ke format penilaian akhir semester. Untuk menentukan capaian akhir semester, beliau memilih capaian tertinggi yang telah dicapai murid pada setiap akhir bulan. Hasil capaian ini menjadi dasar untuk pembuatan laporan perkembangan anak pada semester tersebut. Ibu Anik biasanya menyampaikan laporan ini dengan dilakukan secara tatap muka sehingga tercipta hubungan dan informasi timbal balik antara guru dengan orang tua. Namun, dikarenakan dalam masa pandemi ini penyampaian laporan perkembangan, beliau lakukan melalui media daring dalam bentuk PDF (lewat e-mail atau WhatsApp orang tua). Laporan Perkembangan Anak biasanya beliau tulis langsung dalam bentuk narasi, sehingga dapat membaca laporan tersebut tidak hanya berupa data melainkan sebuah cerita singkat. Ketika waktu menyampaikan Laporan Perkembangan Anak, Ibu Anik juga menyampaikan keadaan murid, yaitu saat murid belajar secara fisik, sosial, dan emosional di sekolah. Selanjutnya, beliau melaporkan hal berupa kemampuan atau kompetensi yang sudah dan yang belum dikuasai murid. Kemudian yang terakhir, beliau menyampaikan apa saja yang harus dilakukan orang tua untuk membantu dan mengembangkan murid lebih lanjut. Waktu penyampaian Laporan Perkembangan Anak kepada orang tua dilakukan satu semester sekali, pada setiap akhir semester tahun pelajaran. Ibu Anik merasa jika strategi dalam mengelola asesmen ini membantunya dalam banyak hal, termasuk dalam mengelola waktu dan energi. Beliau belajar bahwa sebagai guru kita perlu untuk benar-benar memahami murid dan mampu membuat analisa dari data yang ada supaya tidak salah dalam menilai perkembangan murid. Bagi beliau, seorang guru memerlukan semua informasi tentang tingkat pencapaian dan perkembangan hasil belajar murid secara nyata yang bersumber pada data otentik dan berdasarkan fakta. Selanjutnya, guru membutuhkan strategi untuk mengelola dan menganalisanya supaya akurat dan bisa dipertanggungjawabkan. Terakhir, Ibu Anik mengatakan jika hal yang jauh lebih penting adalah refleksi terhadap apa yang kita lakukan sebagai guru dalam melihat hasil belajar murid-murid, lalu menggunakan refleksi tersebut untuk mendesain pembelajaran yang lebih baik kedepannya. Bagaimana Bapak dan Ibu Guru, Apakah cerita tersebut memberikan insight tentang pentingnya asesmen sumatif di jenjang usia dini? Temukan lebih banyak cerita menarik guru-guru lainnya dengan mengikuti Temu Pendidik Nusantara VIII pada 19-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem merdeka belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000 Pembicara. Mari #BelajarDiTPNVIII! Klik https://tpn.gurubelajar.org Sumber Buku: Surat Kabar Guru Belajar Edisi IV Tahun Keenam
Bapak dan Ibu Guru sedang mengalami permasalahan perilaku murid? Seperti murid sering marah-marah, teriak, guling-guling, dan sampai menangis? Praktik asesmen apa saja yang perlu dilakukan? Jangan khawatir pertanyaan tersebut akan terjawab dalam pengalaman Bu Amalia Ahadini. Bu Amalia Ahadini adalah guru yang mengajar di Sekolah Luar Biasa Negeri Pembina, Yogyakarta. Ketika bulan Agustus, Bu Amalia mendapatkan informasi bahwa akan ada murid pindahan dari sekolah lain. Secara prosedur, praktik asesmen kepada murid baru dilakukan oleh tim asesmen sekolah, seperti mendata murid tentang profil keluarga dan kemampuan umum yang akan menjadi bahan materi dalam praktik asesmen yang dilakukan oleh tim sekolah. Hasil data dari tim sekolah selanjutnya diserahkan kepada Bu Amalia yang akan menjadi guru kelas bagi murid baru pindahan dari sekolah lain. Setelah diamati hasil datanya, ternyata masih banyak hal yang perlu Bu Amalia ketahui sebagai guru kelasnya. Bu Amalia mulai menghubungi Ibu calon murid barunya melalui WhatsApp. Bu Amalia meminta ibu calon muridnya untuk mengisi asesmen non-kognitif, asesmen kemampuan bahasa, asesmen kemampuan berhitung, asesmen prakarya, dan asesmen kemampuan kemandirian melalui Google Form. Sebelumnya murid Bu Amalia juga mengisi instrumen asesmen yang sama pada awal tahun ajaran baru. Ibu calon murid menjelaskan perilaku anaknya yang sering marah di rumah dalam asesmen non-kognitif. Bu Amalia juga melakukan komunikasi yang intensif dengan ibu calon murid, serta melakukan asesmen non-formal melalui pesan WhatsApp. Dengan begitu Bu Amalia mengetahui gambaran tentang kemampuan murid dalam bidang menghitung, bahasa, prakarya, dan kemandirian. Tetapi, ternyata Bu Amalia juga mengetahui bahwa murid barunya memiliki beberapa hambatan. Ibunya bercerita tentang perilaku anaknya yang tidak ingin belajar dan setiap hari selalu minta uang jajan sampai tiga kali sambil marah-marah, berkata kurang baik, dan suka bermain di luar rumah seharian. Beberapa tetangga sering menegur ibu calon murid untuk mendidik anaknya dengan benar. Bu Amalia meminta tolong kepada ibu calon murid barunya untuk merekam perilaku anaknya di rumah secara diam-diam, karena untuk mendapatkan informasi dan gambaran yang lengkap tentang perilaku murid barunya. Setelah menerima rekaman, ternyata benar bahwa murid barunya marah-marah dengan berteriak, berguling-guling sampai menangis karena meminta uang. Bu Amalia mengirimkan pesan motivasi untuk memberikan dukungan dan menguatkan ibu calon murid supaya tabah dan sabar. Menurut Bu Amalia mungkin, anggapan murid barunya ketika ibunya menolak untuk memberikan uang, permintaannya dianggap sepele bagi ibunya, sehingga murid barunya berperilaku marah-marah sampai menangis. Bu Amalia bersama ibu calon murid membuat prioritas masalah yang harus ditemukan solusinya. Sebelumnya ibu calon murid ingin memperbaiki kemampuan kognitif anaknya.Bu Amel menyakinkan ibu calon murid bahwa ketika belum ada kepatuhan dari anaknya, pasti tetap tidak mau belajar. Bu Amalia akhirnya membuat beberapa pertanyaan dasar tentang perilaku, lalu dilanjutkan berkomunikasi menggunakan WhatsApp. Setelah itu, Bu Amalia mencari instrumen yang sudah sesuai terkait perilaku. Bu Amalia mempraktikan asesmen menggunakan skala asesmen motivasi yang juga dapat disebut motivation assessment scale (MSA) yang didapatkan pada waktu mengikuti diklat. Bu Amalia mencoba mencari tahu penyebab perilaku yang kurang baik pada murid barunya dengan bertanya tentang pola pengasuhan, trauma masa kecil, dan hukuman yang pernah dialami murid barunya. Data praktik asesmen yang didapatkan langsung dianalisis dan dikonsultasikan dengan guru yang memiliki pengalaman tentang permasalahan perilaku. Hasil praktik asesmen Bu Amalia lalu disampaikan kepada ibu calon murid barunya. Bu Amalia menyampaikan bahwa perilaku anaknya yang suka marah-marah terjadi karena objek atau kegiatan tertentu (tangible). Maka agar tidak terjadi perilaku tersebut harus menghindari pemicunya. Berdasarkan asesmen, menunjukan bahwa ibu calon murid baru adalah single parent yang tinggal bersama orang tuanya. Tantangan terbesar mendidik anak dengan kakek dan nenek biasanya disebut inkonsistensi pengasuhan. Baca Juga : Meningkatkan Motivasi Belajar pada Praktik Merdeka Belajar Ibu calon murid juga bercerita bahwa sering terjadi, pada saat anaknya meminta uang dan tidak diberi, anaknya akan teriak-teriak, marah dan menangis, tetapi neneknya terburu-buru menenangkan anaknya dengan memberikan uang. Alasan neneknya bertindak seperti itu karena tidak tega mendengar cucunya menangis minta uang. Pola pengasuhan yang berbeda dalam satu rumah akan membuat anak kebingungan. Anak akan mencari dan memilih tempat yang nyaman ketika merasa terancam seperti dimarahi. Ibu calon murid setuju perbedaan pola pengasuhan adalah penyebab yang mempengaruhi perilaku anaknya. Bu Amalia meminta ibu calon muridnya dalam memastikan anaknya menjadi bagian dalam keluarganya serta melibatkan anak berperan aktif di dalam rumah. Bu Amalia mengajak ibu, nenek, dan murid baru untuk membuat kesepakatan bersama. Contohnya pada saat murid tidak menunjukkan perilaku yang kurang baik, maka murid berhak mendapatkan kesempatan untuk menonton selama 15 menit. Proses perubahan perilaku pasti tidak mudah. Maka Bu Amalia selalu menguatkan ibu calon murid untuk sabar. Setelah itu, seluruh anggota keluarga diajak untuk membuat rutinitas yang terprediksi. Contohnya, ketika pagi hari setelah ibadah, mandi, dan makan, murid baru diajak neneknya ke warung. Murid baru diajarkan perilaku pengganti yang wajar. Jika biasanya murid berteriak dan berkata kurang baik ketika meminta sesuatu, murid diajari untuk berkata baik dan sopan saat meminta sesuatu. Peran nenek adalah memberikan motivasi cucunya. Setelah strategi dicoba ternyata perubahan perilaku murid belum terlihat. Akhirnya Bu Amalia membuat kesepakatan baru yaitu setiap hari, tugas murid adalah melakukan tiga kebaikan dengan bukti foto ketika murid melakukan kebaikan, dan ibunya memberikan pujian yang sesuai setelah anaknya melakukan kebaikan. Ternyata, strategi tersebut berhasil. Setiap hari murid baru dengan senang hati melakukan tiga tugas kebaikan. Kebaikan yang dilakukan seperti makan sendiri, mengembalikan piring ke tempat cuci piring, membantu mencuci sepeda motor, dan kegiatan baik lainnya. Tugas melakukan kebaikan ini merupakan strategi yang berfokus pada kegiatan perilaku baik. Solusi dalam menangani permasalahan perilaku yang kurang baik adalah dengan menumbuhkan perilaku yang baik melalui kegiatan kebaikan. Ibu calon murid merasa senang atas perubahan perilaku anaknya, meskipun terkadang masih marah ketika keinginan anaknya tidak dituruti, tetapi sudah tidak berkata kotor lagi. Bu Amalia menyadari pentingnya asesmen yang diterapkan seiring proses belajar akan membuat perubahan perilaku murid menjadi lebih baik. Bagaimana Bapak dan Ibu Guru apakah pengalaman Bu Amalia menginspirasi? Bapak dan Ibu Guru mari ikuti Temu Pendidik Nusantara VIII 19-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000 Pembicara. Mari daftar di Temu Pendidik Nusantara VIII! Klik : https://tpn.gurubelajar.org
Apakah murid Bapak dan Ibu guru malas belajar? Tampak kurang memiliki motivasi belajar? Ketika pembelajaran murid menundukkan kepala di atas meja, pasif, dan cuek. Bingung bagaimana cara untuk mengatasinya? Bu Ameliasari Tauresia Kesuma adalah guru yang mengajar pelajaran Ekonomi dan Akuntansi di Madrasah Aliyah Negeri Salatiga. Bu Amel akan berbagi pengalamannya dalam meningkatkan motivasi belajar pada praktik merdeka belajar. Bu Amel memiliki satu kelas yang istimewa dengan jumlah 20 murid laki-laki dan 15 murid perempuan berusia sekitar 16-17 tahun. Murid laki-laki ini kurang menunjukkan motivasi belajarnya. Mereka juga belum melakukan empati karena mereka sering rebahan di meja, mendengarkan musik, dan bermain gawai. Selain itu mereka juga sering melakukan membolos dan terlambat masuk kelas. Latar belakang ekonomi keluarga murid laki-laki sebagian besar kurang mampu dan ada yang keluarganya bercerai. Bu Amel merasa kesulitan ketika belajar bersama mereka di dalam kelas karena tugas yang diberikan dikerjakan secara setengah-setengah. Pernah diputarkan video inspiratif tetapi komentar mereka menunjukkan ketidakpeduliannya dan ketika dijelaskan mereka malah cuek. Keadaan semakin parah, Bu Amel sampai membuat kesepakatan jika terlambat masuk kelas, konsekuensinya adalah harus ke ruang bimbingan konseling untuk mengambil surat izin masuk kelas. Setelah dari ruang bimbingan konseling mereka mendapatkan surat pernyataan yang tertulis mereka tidak akan mengulangi perbuatannya. Tetapi pada kenyataannya mereka tidak menyesali perbuatanya, sehingga Bu Amel merobek surat pernyataan mereka. Bu Amel tidak suka permintaan maaf yang palsu dan terkesan formalitas saja. Semua guru yang mengajar di kelas istimewa ternyata juga mengeluhkan hal yang sama seperti yang dirasakan Bu Amel. Bu Amel merasa kasihan karena ada 15 murid perempuan yang tentu akan terganggu karena sikap murid laki-laki. Bu Amel teringat tentang murid-muridnya Erin Gruwell dalam film Freedom Writer, Louanne Johnson, Dangerous Mind, dan Ron Clark. Bu Amel kemudian mendapatkan inspirasi dari film Freedom Writer. Rencananya jam pelajaran ke-3 dan ke-4 dialihkan untuk ulangan harian. Bu Amel memberikan selembar kertas putih untuk kemudian membuat jadwal apa yang ingin mereka lakukan saat pelajarannya selama tiga minggu menjelang ujian akhir semester. Bu Amel juga memberikan pilihan belajar yang sesuai rincian silabus pembelajaran seperti membaca artikel, membaca buku, mendengarkan musik, dan kegiatan sesuai yang murid inginkan seperti menggambar, mempelajari pelajaran lain, tidur, main gawai, merenung, dan apa saja. Bagi murid yang tidak belajar dengan Bu Amel, diwajibkan menulis kisahnya saat belajar bebas tentang apa yang ditemukan, dirasakan, atau apa saja. Setelah itu Bu Amel merekap data jadwal muridnya dan menempelkan di kelas. Dengan cara seperti itu semua tau apa yang diinginkan saat belajar bersama Bu Amel. Bu Amel mencoba menghargai keinginan murid-muridnya, tetapi tetap kondusif. Setelah itu Bu Amel merekap jadwal yang sudah dibuat murid-murid di komputer. Ketika pertemuan berikutnya Bu Amel menampilkan rekapan jadwal di depan kelas. Murid-murid yang tidak ingin belajar dengan Bu Amel diberikan selembar kertas untuk menuliskan apa saja yang akan mereka lakukan. Sebagian murid yang ingin belajar dengan Bu Amel mengerjakan berbagai worksheet yang sudah dipersiapkan. Bu Amel merasa tidak sabar karena menunggu hasil tulisan murid yang tidak ingin belajar bersamanya. Muncul pertanyaan apakah mereka mau menuliskan kisahnya sendiri?. Dan hasilnya ternyata, mereka mau menuliskan kisahnya sendiri. Tulisan yang mereka tulis sangat menarik ada yang lucu, menyenangkan, dan mengharukan. Bu Amel terkejut ketika membaca bahwa ada yang menulis meminta untuk didoakan supaya cepat sadar dan semangat karena sudah di kelas akhir dan sebentar lagi akan ujian nasional. Ada juga yang menjelaskan tentang perasaannya yang mau malas-malasan atau rajin mengikuti kelas dengan Bu Amel. Sebagian ada juga yang menulis tentang balapan, modifikasi motor, dan sepak bola. Baca juga : Gaya Belajar Murid & Merdeka Belajar Bu Amel merasa heran ketika pertemuan berikutnya bahwa murid-murid yang sebelumnya tidak ingin ikut belajar bersamanya, menjadi ingin ikut pelajaran. Mereka beralasan malu karena menulis. Padahal Bu Amel menyukai tulisan mereka dan ingin terus membaca serta mengetahui apa saja yang mereka sampaikan. Bu Amel juga merasa kaget ketika mereka meminta untuk tambahan waktu belajar bersamanya. Pada saat motivasi internal murid sudah muncul, maka merdeka belajar dapat dilakukan. Ternyata tujuan mereka adalah lulus ujian nasional. Hal itu memberikan tantangan Bu Amel untuk mengubah pola pikir mereka. Mungkin mereka tidak tahu bahwa ada tujuan lainnya ketika belajar Akuntansi. Bu Amel mengajak mereka mengobrol tentang menjadi pengusaha, berdagang, menghitung laba, menghitung kekayaan dan akhirnya mereka tau manfaatnya. Bu Amel mengajarkan berbagai metode belajar yang dapat dipilih murid-muridnya supaya membantu dalam belajar akuntansi. Bu Amel membuat asesmen akhir menjadi nyaman karena penilaian kemampuan didiskusikan bersama. Murid yang biasanya mendapatkan rangking akan merasa heran karena tidak ada yang baik dan jelek. Sehingga tidak ada persaingan, tetapi yang ada adalah saling membantu untuk maju bersama dan paham bersama. Bu Amel sangat menyadari karena butuh energi yang banyak untuk mengubah pola pikir merdeka belajar. Dengan begitu Bu Amel dan murid-murid akhirnya tau apa yang yang mereka inginkan saat belajar, mereka merasa dihargai dan didengarkan. Tumbuhnya kesadaran karena hidup membutuhkan belajar. Bagaimana Bapak dan Ibu Guru, apakah pengalaman Bu Amel menginspirasi dan memberikan solusi? Jangan lupa Bapak dan Ibu Guru mari ikuti Temu Pendidik Nusantara VIII 19-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem merdeka belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000 Pembicara. Mari daftar di Temu Pendidik Nusantara VIII! Klik : https://tpn.gurubelajar.org
Sebagaimana mendukung kegiatan literasi, banyak sekolah yang sudah membuat program literasi dan menerapkan praktik literasi ini. Kegiatan rutin ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca murid serta meningkatkan keterampilan membaca. Mayoritas fokus kegiatan ini adalah meminta murid untuk membaca buku, membuat sebuah rangkuman dari buku yang dibaca, dan membacakan ulang secara singkat tentang buku yang dibaca. Apakah bapak dan ibu guru banyak yang memiliki keresahan yang sama di mana tetap saja murid sudah membaca buku tetapi belum bisa memahami isinya, atau murid sudah memiliki kemampuan literasi tetapi kurang melakukan berbagai kegiatan yang bermakna? Ya, ternyata praktik literasi banyak dianggap tidak memberikan insight pada murid hingga akhirnya karena dianggap tidak ada kemajuan dalam program kegiatan ini, program kegiatan literasi pun terpaksa berhenti di tengah jalan. “Literasi adalah kemampuan menalar yang berkait dengan kemampuan analisa, sintesa, dan evaluasi informasi yang bisa ditumbuhkan dengan terintegrasi dalam pelajaran.” (Shihab, 2019). Namun apakah bapak dan ibu guru pernah memikirkan untuk memahami karakter murid sebelum menerapkan program literasi ini? Apakah bapak dan ibu guru memikirkan bagaimana konsep penerapan literasi yang sesuai dengan karakter setiap murid? Karena apa pentingnya literasi bagi murid jika murid sendiri tidak paham akan makna literasi dan tidak menawarkan perubahan bagi mereka. Nah, dari sini kita akan membahas lebih lanjut cerita tentang praktik literasi ini, yaitu Menulis Surat ke Moro. Baca juga Literasi adalah Cara Menggerakkan Negeri Awalnya saat setiap hari Sabtu di sekolah tempat Ibu Titik mengajar yaitu di SD Muhammadiyah 1 Muntilan memiliki kegiatan literasi sesuai jadwal yang sudah dibentuk di sekolah, yang mana merupakan hasil diskusi para guru. Kegiatan literasi 15 menit ini disertai jargon “Menggalakkan Literasi”membuat para guru pun sangat antusias dan berekspektasi jika siswa-siswa akan menikmati dan menyukainya. Tidak hanya itu saja, para guru juga mencanangkan kegiatan literasi mingguan yang disusun perbulannya. Pada minggu-minggu pertama pelaksanaan kegiatan literasi ini, Ibu Titik mengamati jika ekspresi murid seperti merasa kagok dan kurang menikmati, namun beliau mencoba untuk berprasangka baik, “Mungkin para murid belum terbiasa”. Namun berdasar hasil pengamatan beliau setelah beberapa minggu kemudian, kegiatan literasi seolah menjadi beban tersendiri bagi murid. Hal ini dilihat dari ekspresi murid ketika jam kegiatan literasi berlangsung dengan mengatakan, “Yah, literasi lagi..”. Contoh lainnya adalah ketika diminta untuk merangkum buku dari perpustakaan, beberapa murid melangkan malas dan hanya membuat ringkasan ala kadarnya. Di sini Ibu Titik merasa ada yang salah dengan kegiatan ini. Beliau berekspektasi jika literasi akan menjadi suatu gerakan yang membudaya, namun praktiknya ternyata masih sebuah istilah. Hal inilah yang menjadi tantangan dalam menjalankan program literasi ini. Akhirnya Bu Titik pun melakukan survey ketertarikan pada program literasi sekolah ini. ternyata program literasi yang gagal diminati oleh siswa yaitu kegiatan membaca, bercerita di depan kelas, dan menulis di buku diary. Dan faktanya, beberapa anak merasa literasi ini adalah paksaan, bahkan ada murid yang mengatakan “Karena saya tidak suka menulis dan saya merasa terpaksa setiap diminta menulis dan bercerita”. Hal inilah yang menjadi tantangan dalam menjalankan program literasi ini. Akhirnya Ibu Titik pun mengetahui sebab kegagalan dari goals literasi ini. Beliau merasa perlu belajar lagi untuk memahami murid. Ternyata selama ini beliau merasa belum memenuhi hak mereka untuk tahu dan paham tujuan dari kegiatan literasi ini. Beliau menambahkan jika kesalahan kegiatan ini bukan pada rancangan programnya, melainkan pada penerapannya. Beliau menyadari jika tidak menyukai menulis, membaca, atau nyaman saat diminta bercerita kepada orang lain. Namun Ibu Titik memiliki keyakinan yang kuat jika suatu hari nanti mereka akan enjoy menjalankan kegiatan literasi ini dan sebagai seorang pendidik, beliau berkewajiban menumbuhkan keyakinan itu kepada muridnya. Lalu Ibu Titik memiliki ide untuk merubah konsep kegiatan ini. Ia melibatkan siswanya untuk mencari tahu tentang Moro melalui gambar dan video, beliau juga bercerita tentang kehidupan temannya yang mengajar di SD Negeri 005 Moro, Kecamatan Moro, di Kabupaten Karimun. Awalnya murid-murid Ibu Titik ini heran mengapa tidak melaksanakan rutinitas literasi seperti biasanya. Namun lama-kelamaan, mereka mulai menikmati hal tersebut. Kemudian beliau meminta siswanya untuk menganalisis gambar tentang keberadaan di sana. Lalu, muncullah pertanyaan-pertanyaan dari siswanya ini. Mereka sangat antusias menanyakan pertanyaan tentang kehidupan dan pembelajaran murid-murid di Moro. Kemudian sesuai kesepakatan, Ibu Titik membuat sebuah kegiatan bernama “Menulis Surat ke Moro”. Sesuai kesepakatan, murid-murid akan mendapatkan waktu satu minggu untuk menuliskan apa saja yang ingin mereka tanyakan kepada murid-murid di SDN 005 Moro. siswa pun menuliskan pertanyaan mereka kepada siswa di Moro. Tak terasa waktu seminggu tersebut benar-benar mereka gunakan untuk membuat surat sebaik-baiknya. Banyak dari para murid yang berkonsultasi dengan Ibu Titik tentang penyampaian bahasa yang sesuai di dalam suratnya, bahkan banyak dari murid yang menyertakan hadiah di dalam surat tersebut. Di sini Ibu Titik merasa terharu, karena ketika belajar tentang bagian surat dahulu, muridnya tidak pernah seantusias ini. Dan yang membuat Ibu Titik hampir menangis adalah ketika muridnya yang dahulu menyatakan bahwa dirinya tidak suka menulis dan merasa terpaksa setiap diminta menulis dan bercerita, ternyata menyerahkan sebuah surat yang dibuatnya sepanjang dua lembar folio. Akhirnya setelah semua surat terkumpul, Ibu Titik mengemasnya dalam satu kardus besar dan mengirimkannya melalui POS. Setelah surat dikirimkan, Ibu Titik merasa kewalahan oleh muridnya yang menanyakan kapan surat-surat tersebut dibalas. Hingga akhirnya satu bulan kemudian, surat-surat balasan yang ditunggu pun tiba. Ibu Titik lagi-lagi dibuat haru ketika melihat ekspresi murid-muridnya berebut balasan surat yang mereka kirim. Mereka merasa bahagia ketika mengetahui bahwa mereka bisa mendapat jawaban dari apa yang mereka tanyakan melalui surat ini, Ibu Titik dapat melihat ekspresi muridnya yang begitu puas ketika rasa ingin tahunya tersalurkan, dan betapa senangnya mereka ketika hadiah yang dikirimkan ternyata dibalas dengan hadiah juga dari teman barunya. Terakhir, yang membuat Ibu Titik Bahagia adalah ketika refleksi muridnya dalam kegiatan ini adalah mengungkapkan jika metode pengajaran tentang surat merupakan yang terbaik yang mereka pernah lakukan, dan tanpa harus memaksakan siswa. Ibu Titik pun menemukan kesepakatan jika literasi lebih luas maknanya daripada sekadar kegiatan rutinan untuk memenuhi kewajiban melaksanakan perintah dari pemerintah. Sebagai penutup, Ibu Titik menyampaikan jika kebahagiaan hakiki bagi seorang pendidik adalah ketika melihat murid-muridnya bisa merdeka dalam belajar karena semangat yang tumbuh dalam dirinya sendiri. Saat melihat raut wajah dan ekspresi bahagia murid-murid, beliau merasa menjadi … Read more
Menerapkan merdeka belajar di PAUD susah? Bagaimana cara menetapkan tujuan belajarnya, kan harus melibatkan murid? Lalu cara menentukan asesmennya bagaimana, kan mereka masih kecil? Namun akan sangat sayang sekali kalau tidak segera diimplementasikan, karena merdeka belajar ini menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna sehingga murid menjadi berdaya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadikan guru khususnya di jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) masih ragu dan bimbang untuk menerapkan merdeka belajar pada muridnya. Keraguan ini juga pernah dialami oleh Bu Anik Puspowati, guru di TK Sekolah Alam Arridho Semarang. Berawal ketika mengikuti pelatihan Guru Merdeka Belajar, dari sini Bu Anik paham untuk menjadi pendidik yang merdeka belajar, perlu memiliki tiga hal esensial antara lain: komitmen pada tujuan, mandiri, dan reflektif. Awalnya Bu Anik sempat ragu untuk menerapkan proses menentukan tujuan belajar bersama anak usia dini. Namun Bu Anik tetap memberanikan diri untuk mencoba. Bu Anik menyatakan bahwa masa prasekolah merupakan masa yang sangat krusial dalam pendidikan seorang anak. Usia 0-6 tahun sering disebut sebagai masa emas perkembangan anak, karena otak anak mampu menyerap informasi hingga 80 persen. Di masa-masa ini, anak mulai terbentuk aspek perkembangannya: kognisi, bahasa, fisik-motorik, sosial-emosi, moral, kemandirian, dan seni. Bu Anik ingin memaksimalkan aspek-aspek perkembangan muridnya tersebut secara menyenangkan dan bermakna. Bu Anik mengidentifikasi gaya pembelajaran yang cocok dengan muridnya adalah gaya belajar kinestetik. Anak bisa mengeksplorasi dengan pancaindranya secara langsung pada objek pembelajaran dan secara tidak langsung hal tersebut mampu menumbuhkan aspek-aspek perkembangan mereka. Bu Anik menganggap belajar langsung dari objek belajarnya membuat anak lebih senang dan memiliki pengalaman bermakna. Metode yang digunakan Bu Anik adalah outing (belajar di luar kelas) atau belajar bersama alam istilahnya. Waktu itu tema pembelajaran mengenai ternak, kebetulan di dekat sekolah Bu Anik ada peternakan kuda pacu. Maka Bu Anik memanfaatkan tempat tersebut sebagai tempat pembelajaran yang kebetulan relevan dengan tema pembelajarannya. Sebelum berangkat mereka bersepakat tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama perjalanan dan ketika berkunjung. Ketika sampai di peternakan kuda, Bu Anik dan murid-muridnya berkumpul melingkar dan melakukan ice breaking. Hal seperti itu memang sudah biasa mereka lakukan sebelum memulai kegiatan. Lalu Bu Anik segera mengeluarkan kertas dan menempelkannya di papan tulis. Bu Anik mengajak tanya jawab murid-muridnya seputar apa yang mereka ketahui tentang ternak. Ada yang menjawab “ingin mengenal macam-macam binatang ternak (dalam hal ini kuda)”, dan lebih mengejutkan lagi ada yang menjawab “biar sayang sama ciptaan Allah”. Dan jawaban-jawaban tersebut ditulis Bu Anik sebagai tujuan pembelajaran. Dilanjutkan pembuatan rubrik penilaian sederhana ala anak-anak usia dini. Kriteria beserta dimensinya ditentukan bersama oleh Bu Anik dan murid-muridnya. Mereka menggunakan kriteria keren banget, keren dan keren sedikit. Keren banget untuk mengukur capaian kriteria tertinggi, keren berada di tengah antara capaian tertinggi dan terendah. Sebagai contoh, jika anak tidak berani mendekati kuda masuk kriteria keren sedikit, takut tapi mau mendekat masuk kriteria keren dan berani mendekat dan tidak takut masuk kriteria keren banget. Rubrik penilaian ini yang dijadikan sebagai bentuk asesmen. Berikut gambarannya. Secara umum rubrik penilaian seperti gambar di atas juga bisa digunakan untuk mengukur capaian murid dalam menguasai pembelajaran. Baca juga Memahami Merdeka Belajar Di tempat pembelajaran, anak-anak seolah sudah mengerti akan apa yang akan mereka lakukan. Mereka bahkan tidak sungkan untuk bertanya langsung (wawancara) dengan bapak-bapak pengurus istal di sana. Bertanya apa saja yang ingin mereka ketahui tanpa takut dan sungkan. Setelah outing, mereka kembali berdiskusi tentang apa yang mereka dapatkan atau mereka pelajari di tempat outing. Mereka merefleksikannya bersama. Anak-anak sangat antusias bercerita tentang apa yang telah mereka dapatkan melalui pancaindranya. Anak mampu belajar mengenai warna, ukuran besar-kecil, juga mampu belajar dengan indra peraba (kasar atau halus) ketika mengelus kuda. Mereka bahkan juga mendapatkan kosakata baru. Beberapa murid berinisiatif memberi makan kuda dan bahkan mencabut rumput untuk diberikan pada anak kuda. Ada juga anak yang awalnya takut mendekati kuda, lama kelamaan meminta Bu Anik untuk menemaninya mendekati kuda dan akhirnya berani mengelus dan tersenyum dengan senang. Tidak ada paksaan dan tekanan bagi murid yang masih takut. Bu Anik merasa tugasnya sebagai fasilitator belajar murid jauh lebih asyik dan mudah, karena pembelajaran dengan metode ini dirasa lebih mengakomodasi kebutuhan anak yang berbeda-beda. Dari cerita Bu Anik Puspowati yang bersumber dari buku Merdeka Belajar di Ruang Kelas karya Najelaa Shihab dan Komunitas Guru Belajar di atas dapat disimpulkan bahwasanya merdeka belajar bisa diterapkan pada murid usia dini. Yang perlu dilakukan guru adalah paham konsep merdeka belajar dan berani menerapkannya dengan kreatifitas masing-masing. Yang menunda keberhasilan bukanlah kegagalan melainkan keraguan dan ketakutan untuk mencoba. Nah, bagaimana Bapak Ibu guru? Apakah cerita guru merdeka belajar di atas sudah menjawab keraguan Bapak Ibu? Sebenarnya masih banyak lho cerita guru merdeka belajar yang inspiratif dan solutif lainnya. Dan semuanya akan Bapak Ibu temukan di Temu Pendidik Nusantara VIII dengan tema Merayakan Asesmen, Mendesain Ekosistem Merdeka Belajar yang akan diselenggarakan pada 20-21 November 2021. Yuk buruan daftar dengan klik tpn.gurubelajar.org dan jangan lupa catat tanggalnya ya!
Sering pusing menghadapi murid beragam? Dalam pembelajaran melibatkan murid dengan segala keragamannya, guru terkadang bingung merancang pembelajaran yang memfasilitasi keunikan setiap murid. Alhasil beberapa guru cenderung menyeragamkan proses pembelajaran dan mengabaikan kebutuhan personal murid, sehingga tidak terjadi personalisasi belajar. Setiap murid memiliki keunikan dan karakteristik yang beragam. Ada murid yang hobi bernyanyi, menggambar bahkan menari. Guru tidak dapat menyamaratakan hobi dan minat murid yang beragam. Bagaimana cara memfasilitasi keunikan murid yang beragam dalam proses pembelajaran? Guru perlu memfasilitasi pembelajaran yang dapat mengembangkan potensi dan membuat murid berpetualang melalui personalisasi belajar. Pada 17 Agustus 2021 yang juga bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia, Obrolan Guru Merdeka Belajar membahas petualangan murid dalam proses belajar dengan judul Personalisasi Petualangan Merdeka Belajar. Pemandu membuka obrolan dengan menanyakan apa sih sebenarnya personalisasi belajar itu? Pak Mohammad Rizky Satria sebagai salah satu narasumber menjelaskan bahwa personalisasi belajar itu artinya proses penyesuaian aktivitas belajar dengan keunikan dan kebutuhan setiap individu. Tentu saja maknanya lebih dalam dari itu, dengan personalisasi belajar ini kita sebisa mungkin harus kembali pada hakikat belajar itu sendiri. Bahwa pada hakikatnya belajar itu adalah suatu yang alamiah, sesuatu yang melekat dalam diri setiap manusia, seperti anak-anak yang banyak bertanya, serta belajar banyak hal tanpa diminta. Paradigma belajar seperti ini yang perlu dibangun dalam personalisasi belajar. Namun selama ini terkadang karena belajar itu didominasi oleh sekolah atau guru kesannya belajar menjadi sesuatu yang formal & prosedural, padahal sebetulnya tidak demikian. Setelah memahami hakikat belajar sebagai proses alamiah, lalu muncul pertanyaan belajar seperti apa yang paling sesuai, paling tepat, serta dapat optimal? Jawabannya adalah belajar yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan kita, disitulah muncul personalisasi belajar. Pak Rizky juga mengungkapkan dengan momen hari kemerdekaan ini menjadi waktu yang baik untuk kita mereflesikan kembali makna belajar, mengembalikan hakikat belajar dari keterkungkungan dan miskonsepsi belajar-belajar yang prosedural. Lebih luas dari itu kita bisa menyesuaikan aktivitas belajar seperti apa yang sesuai dengan diri kita, ini yang menjadi makna persoanalisasi belajar lebih jauh. Pa Rizky yang juga seorang guru dari SMP Cikal Serpong menyampaikan berkaitan dengan makna personaliasasi belajar secara umum, dalam konteks pembelajaran peran guru menjadi lebih krusial. Bahwa selain guru bisa mempersonalisasi belajar untuk dirinya sendiri, harus membantu murid juga untuk memfasilitasi aktivitas belajar sesuai dengan kebutuhan setiap murid. Guru perlu mengupayakan pembelajaran yang memberi ruang untuk murid sesuai gaya belajarnya sendiri, punya semangat belajar yang baik, punya pemikiran terhadap belajar yang tepat, dan kemudian bisa memahami dirinya sendiri. Menariknya dalam Obrolan Guru Merdeka Belajar berjudul Personalisasi Petualangan Merdeka Belajar juga menghadirkan murid sebagai narasumber yaitu Ayunda Damai Fatmarani. “Kalau dari aku mungkin mengajar dan memberikan tugas itu satu bagian sendiri tapi di sebelum itu biasanya aktivitas belajar dalam satu semester kali ya, itu dimulai dari menetapkan tujuan belajar (goal setting) masing-masing murid termasuk aku” ungkap Damai membuka cerita pengalaman personalisasi belajarnya. Damai sebagai murid dari sekolah Cikal Surabaya juga menjelaskan setelah mengetahui ekspektasi masing-masing di awal yang sudah ditetapkan melalui tujuan belajar, selanjutnya bisa disesuaikan juga dalam proses pembelajarannya. Misal yang suka diskusi akan dibuat group diskusi, bagi yang lebih suka membaca akan dicarikan sumber bacaan untuk dibaca sebelum diskusi. Pemberian tugas juga sama bisa dipersonalisasikan dengan melihat dari tujuan belajar yang sudah ditetapkan. Selain itu Damai pun menceritakan pengalaman personalisasi belajar saat mengerjakan asesmen sumatif tahun lalu, untuk pembelajaran bahasa inggris materinya sendiri tentang literatur. “Jadi kami diminta untuk membaca salah satu buku, kebetulan bukunya sama, tetapi setelah itu diminta untuk menganalisa isi bukunya dengan topik yang sesuai minat murid-muridnya. Menganalisa apa sih yang paling menarik dari buku tersebut, untuk aku sendiri menganalisa bagaimana tata bahasa dan diskursus itu bisa digunakan untuk mengontrol masyarakat. Tapi teman-teman aku ada yang menganalisa tentang emosi karakternya dan bagaimana itu membentuk ceritanya, ada juga yang membahas sejarah dan menganalisa betapa pentingnya masa lalu, ada juga tentang relasi antar karakter dan itu benar-benar dipersonalisasi sih akhirnya per murid” cerita Damai terlihat semangat menikmati proses dan petualangan belajarnya. Setelah mendengar cerita Damai Bu Fatrica sebagai pemandu obrolan bertanya apakah personalisasi belajar hanya akan menambah beban guru? Pak Rizky pun menegaskan “jika pertanyaannya apa menambah beban guru? Jawabannya iya, tapi apakah hanya menambah beban guru? Tentu saja tidak, karena upaya lebih yang dilakukan guru untuk memahami muridnya akan setimpal di akhir nanti ketika bisa melihat karya-karya murid seperti karya Damai dan teman-temannya tadi. Dengan personalisasi belajar potensi murid bisa muncul, murid bisa punya pilihan memanfaatkan ruang yang guru berikan dan memanfaatkan aktivitas belajar yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan setiap murid. Namun saya lebih suka menyebutnya tantangan atau tanggung jawab bukan beban. Tantangannya meningkat yang tadinya hanya mengajar sesuai dengan yang saya inginkan menjadi sesuai dengan yang murid-murid inginkan, kompromi dengan apa yang sudah saya susun. Atau tanggung jawabnya lebih yang tadinya hanya menyampaikan materi saja sekarang tanggung jawabnya membantu mengoptimalkan potensi setiap individu, kalau seperti itu jadinya lebih positif” ungkapnya dengan lugas. Bagaimana Ibu dan Bapak guru, apakah Anda sudah siap memilih tantangan melakukan personalisasi belajar? Tenang, berikut ada dua tips dari Pak Rizky Satria untuk mempersiapkan personalisasi belajar, yaitu: Merancang strategi untuk bisa memahami karakteristik dan kebutuhan setiap murid Disini kita bisa melakukan berbagai cara seperti asesmen diagnostik di awal untuk bisa membuat pemetaan bagaimana komposisi murid-murid di kelas, selain itu diagnostiknya tidak hanya di awal tapi berlanjut seiring proses pembelajaran. Bisa juga melakukan observasi dengan menjadikan murid teman ngobrol. Dengan berteman dan sering ngobrol kita dapat memahami karakter murid lebih baik. Strategi menerapkan personalisasi dengan diferensiasi Bahwa dalam satu kali aktivitas belajar itu ada beragam cara yang dapat kita hadirkan. Ada yang dibedakan kontennya, ada yang prosesnya, dan ada juga dibedakan produknya. Memberikan beragam pilihan kepada murid, untuk itu pentingnya memahami murid di awal. Dengan memahami kita bisa mendesain pembelajaran yang memfasilitasi keberagaman murid. Selanjutnya pemandu mengarahkan obrolan untuk menjawab pertanyaan peserta yang menyaksikan baik dari platform youtube Kampus Guru Cikal maupun dari sekolah.mu program Obrolan Guru Merdeka Belajar. Sebagian peserta bertanya kepada Damai mengenai pengalamannya mendapatkan dan melakukan personalisasi belajar. Damai pun menceritakan mulai dari pengalaman personalisasi belajar paling berkesan yaitu setiap proses diskusi dalam hal apapun bersama guru … Read more
Nonton bareng atau umumnya dikenal dengan istilah nobar, apakah nonton bareng itu? Nobar sejenis kegiatan menyaksikan suatu pertunjukan yang bisa jadi menarik ataupun tidak menarik, bergantung dari bagaimana kita menikmatinya. Nobar ala kami di Komunitas Guru Belajar Lamongan adalah menyaksikan video tentang Merdeka Belajar oleh Ibu Najelaa Shihab. Nobar yang kami selenggarakan tidak seperti biasanya, karena di tengah pandemi Covid-19 maka kegiatan tersebut kami laksanakan secara virtual. Meskipun demikian saya tetap siap mengadakan nobar dan siap menjadi penggerak komunitas guru belajar. Nobar yang kami selenggarakan di MI Ma’arif NU Sunan Drajat Lamongan baru yang pertama kalinya, tapi kami cukup senang karena antusias teman-teman guru sangat luar bisa. Sehingga pesertanya mecapai kurang lebih limapuluh orang. Saya, Azmil Futihatur Rizqiyyah, dari MI Ma’arif NU Sunan Drajat Lamongan. Pada hari Kamis, tepatnya tanggal 29 Juli 2021, jam 10.00, saya mengadakan nobar guru merdeka belajar bersama teman-teman penggerak KGB Lamongan. Kegiatan ini diawali dengan sosialisasi KGB dan dilanjutkan nobar. Kami mengadakan nobar, bertujuan untuk mensosialisasikan Komunitas Guru Belajar, agar kita sebagai pendidik maupun praktisi pendidikan mempunyai semangat yang lebih untuk terus belajar. Belajar bagaimana memahami pendidikan yang terus menerus berubah seiring perkembangan zaman dan perkembangan teknologi. Sebagai guru pada khususnya, kegiatan guru belajar di Lamongan masih jarang sekali peminatnya, kalaupun ada tentu kami berasal dari berbagai daerah yang menyebar di kabupaten Lamongan. Acara dipandu oleh saudari Sri Ida Mulyani yang menghantarkan acara menjadi lebih semarak. Acara diawali dengan sosialisasi dan sharing pengenalan KGB oleh Bu Anis Choirun Niswah selaku ketua KGB Lamongan. “Terimaksih atas partisipasi dari guru-guru di MI Sunan Drajat yang antusias dalam mengikuti kegiatan ini, semoga bisa bergerak dan menjadikan kualitas pembelajaran lebih baik”, ungkap beliau. Bu Ida sapaan dari penggerak yang satu ini mengatakan bahwa nobar adalah suatu kegiatan nonton bareng sebagai syarat menjadi penggerak guru belajar. Tidak sulit sebenarnya menjadi penggerak, yang penting mau belajar dan bersama-sama belajar. Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Acara kedua yaitu sosialisasi praktik baik oleh Pak Alif Zulfikar dari KGB Lamongan. Beliau menceritakan bagaimana nyamannya belajar di grup guru belajar. Bagaimana mengikuti diklat gratis yang hampir setiap hari dan bagaimana mengikuti diklat online jarak jauh. Meskipun jarak jauh, ilmu yang didapatkan tetap dengan kualitas terbaik, hal ini dikarenakan para tentor yang ilmunya tak pelit untuk dibagi-bagi dengan tujuan semuanya mendapatkan manfaat terbaik. “Setelah mengikuti nobar ini mengatakan bahwa garis besar dari komunitas ini adalah menyadarkan guru akan tugas utamanya, kemudian adanya momen-momen seperti KGB ini sangat baik untuk guru-guru karena bisa sharing dan hearing, berdiskusi, berbagi cerita, berbagi solusi, menambah tali silaturrahim demi terlaksananya pendidikan yang lebih baik”. Demikian menurut Pak Alif. Ust. Ubaidillah (guru MI Sunan Drajat) secara virtual pun mengutarakan kesenangannya mengikuti kegiatan nobar ini. “Dengan mengikuti kegiatan nobar guru belajar, saya bisa mendapatkan pengetahuan baru tentang dunia kependidikan berdasarkan kebutuhan siswa, metode dan cara mengajar yang baik bagi siswa, serta teknik belajar yang benar. Sebaik apapun persiapan yang kami lakukan tetap saja kendala teknis terjadi yaitu koneksi sinyal yang tidak begitu baik, sehingga kegiatan kami kurang bisa berjalan maksimal. Meskipun demikian keinginan untuk melakukan kegiatan nobar kembali selalui ada, semoga pandemi segera berakhir dan bisa melaksanakan kegiatan secara tatap muka agar lebih maksimal. Karena kita sebagai guru harus memaksa diri untuk belajar agar dapat memenuhi kebutuhan murid belajar. (Azmil F. Rizqiyyah, KGB Lamongan)