Media Ajar Matematika dengan GPS

Apakah Bapak dan Ibu guru merasa sedih saat mengajar matematika? Karena seperti yang kita tahu, banyak murid yang tidak suka dengan mata pelajaran matematika. Ingin membuat pembelajaran menjadi lebih menyenangkan, tapi bagaimana caranya? Ingin menggunakan media ajar? Tapi media ajar seperti apa yang selain menyenangkan juga bisa berdampak bagi murid dan masih relevan di masa sekarang maupun di masa depan? Jangan khawatir Bapak Ibu, karena pada tulisan kali ini kita akan membahas kisah dari seorang guru yang juga mengalami hal serupa. Guru ini mengajar matematika kelas 7. Namun guru ini mampu membuat pembelajaran matematika menjadi lebih menyenangkan sekaligus berdampak bagi murid dengan media ajar yang digunakannya. Nah kira-kira, siapa guru ini dan media ajar matematika apa yang digunakannya ya? Penasaran? Yuk langsung simak kisah selengkapnya di bawah ini! Guru ini bernama Febriandrini dari SMP Lazuardi Al Falah GIS Depok. Awalnya Guru Febri merasa dengan menyisipkan permainan atau menggunakan alat peraga saat beliau mengajar dulu, dirasa sudah cukup untuk membuat pembelajarannya menjadi lebih menyenangkan. Namun tidak untuk sekarang. Melihat pesatnya perkembangan zaman dan teknologi, Guru Febri sadar jika hampir separuh ilmu yang diajarkan saat ini bakal hilang ditelan zaman sekian tahun mendatang. Sudah banyak profesi baru yang membutuhkan ilmu baru yang bahkan belum diajarkan di sekolah. Karena itu Guru Febri juga mencoba hal baru dalam mengajar. yakni mencoba media ajar matematika menggunakan aplikasi peta dengan fitur GPS. Kebetulan waktu itu materi yang diajarkan tentang bilangan dan operasi dasar matematika. Guru Febri mengaitkan materi bilangan dengan aplikasi peta dengan fitur GPS. Di awal pembelajaran Guru Febri biasa memberikan sesi inkuiri dan bertanya apa gunanya angka atau bilangan dalam kehidupan manusia. Ada yang menjawab untuk mengetahui seberapa banyak barang yang kita miliki, seberapa tinggi sebuah gedung dan sebagainya. Lalu Guru Febri lanjutkan dengan bertanya, “Kalian tahu tidak kalau angka itu bisa menyelamatkan nyawa manusia?” “Masa? Kok angka bisa menyelamatkan manusia, Teacher?” sahut nurid-muridnya. “Iya, bisa. Ada yang tahu tentang GPS?” tanya Guru Febri. “Saya tahu. Itu biasanya yang ada di Google Maps, untuk menunjukkan lokasi kita,” sahut salah satu murid. “Betul, sekali. GPS atau  Global Positioning System menggunakan satelit yang mengirim data tentang lokasi kita di bumi. Jika kita tersesat di hutan dan sinyal smartphone masih aktif, kita bisa mengirimkan data lokasi dan meminta pertolongan untuk datang ke lokasi tersebut,” kata Guru Febri. “Data lokasi itu koordinat GPS, kan ya, Teacher?” murid lain menimpali. “Yep, betul. Nah, ada yang pernah tahu jenis bilangan apa yang digunakan untuk menuliskan koordinat GPS?” Guru Febri lanjut bertanya. Murid diam. “Ada yang tahu bagaimana kita bisa mendapat koordinat GPS dari Google Maps?” Guru Febri bertanya lagi. Murid saling melirik satu sama lain, lalu menggelengkan kepalanya. Di sini, Guru Febri akan menerapkan media ajar matematika yang telah ditentukannya. Guru Febri mulai mengajak murid mengeksplorasi bilangan desimal dalam koordinat GPS, mengaitkan pengetahuan mereka tentang posisi berdasarkan lintang dan bujur, serta kuadran dalam koordinat Kartesius. Baca juga: Membuat Asesmen yang Menyenangkan dengan Ekshibisi Mini Digital “Oke, sekarang Teacher akan tunjukkan caranya. Kita buka Google Maps, pastikan tombol Location atau GPS dalam keadaan aktif ya. Nanti akan terlihat titik biru seperti in, kita zoom hingga makimal, lalu tekan di titik biru itu sampai keluar pin merah. Nah, akan muncul deretan angka yang merupakan koordinat GPS. Yuk, yang bawa smartphone, bisa di coba.” Murid yang membawa smartphone pun mulai mencoba dan mereka heran ternyata mereka mendapatkan angka yang berbeda. Guru Febri pun meminta dua murid membacakan deretan angka tersebut dan Guru Febri menuliskan di papan tulis. Lalu Guru Febri bertanya, “Menurut kalian, ini angka apa?” “Desimal ya, Teacher?” jawab salah satu murid. “Betul, ada dua angka desimal di sini dan Kalian lihat dari dua koordinat yang Teacher tulis di sini, ada angka yang berbeda. Ini menunjukkan bahwa teman kalian tadi berada pada posisi yang berbeda. Nah, sekarang yang mau Teacher tanyakan adalah mengapa angka bulatnya –6 dan 106? Ada yang tahu?” “Apa ya? Tidak tahu,” jawab murid yang lain. “Coba masih ingat, Indonesia berada di bujur dan lintang berapa?” Guru Febri bertanya lagi. Sambil menunggu jawaban murid, Guru Febri menggambar sumbu koordinat di papan tulis. “Ingat, 6o lintang utara –11o lintang selatan kan?” jawab salah satu murid. “95o—141o bujur timur!” teriak murid yang di belakang. “Good. Coba sekarang lihat ke sini. Masih ingat empat arah mata angin, apa saja?” “Betul. Barat, Timur, Selatan, dan Utara.” Guru Febri dan murid-muridnya bersama-sama meletakkan nama mata angin di gambar. “Kalau gambar ini melambangkan posisi di bumi, kira-kira sumbu X ini menunjukkan apa?” sambil menggerakkan tangan Guru Febri di sepanjang sumbu X. “Khatulistiwa?” seorang murid menjawab dengan ragu-ragu. “Yak betul khatulistiwa. Selanjutnya, kalau batas Indonesia terletak di 6o lintang utara –11o lintang selatan, 95o—141o bujur timur. Bagaimana kita menggambarkannya di sini?” Guru Febri dan muridnya lalu meletakkan posisi batas-batas dan mereka sepakat tentang letak Indonesia. “Nah, sekarang kalau tadi Depok berada di (-6, 106), yang -6 menunjukkan lintang utara atau selatan?” Guru Febri bertanya. Ada yang menjawab utara, ada yang menjawab selatan. “Coba perhatikan baik-baik, tanda negatif di bagian utara apa selatan?” “Berarti lintang selatan, Teacher.” “Betul, berarti 106 menunjukkan bujur timur karena tanda positif ya.” Guru Febri dan muridnya lalu menggambar letak titik (-6, 106). “Sekarang, lihat dua pasangan koordinat yang tadi Teacher tulis. Kalau titik ini adalah A, kira-kira titik B di sebelah mana A? Perhatikan baik-baik angka desimalnya, ya.” Guru Febri dan muridnya lalu menggambar letak titik A dan B. “Nah, sekarang kalian sudah paham tentang koordinat GPS dan cara mendapatkannya. Teacher akan bagi kalian menjadi grup kecil. Satu orang dari setiap grup akan menempati sebuah posisi di sekitar sekolah, seakan menjadi orang yang harus kita selamatkan. Orang tersebut nanti akan mengirim data GPS lokasi ke kelompoknya supaya yang hilang sampai ketemu. Kalau sudah ketemu, langsung kembali ke tempat Teacher menunggu. Siap?” Berbekal alat tulis dan smartphone, setiap grup bersemangat keliling sekitar sekolah, mencari anggota mereka yang hilang.  Mereka melihat peta dan membangdingkn dengan data GPS yang dikirim dengan lokasi mereka. Akhirnya, semua grup berhasil menemukan anggota kelompoknya. Dari kegiatan ini, murid bisa merasakan kegunaan angka sebagai data GPS yang bisa digunakan … Read more

Mendaftar Temu Pendidik Nusantara, Ini Alasan Penting yang Perlu Guru Ketahui

Merasa ekosistem pendidikan di Indonesia masih terjadi miskonsepsi atau salah kaprah? Ingin melakukan perubahan tapi bingung mulai dari mana dan dengan siapa? Rasa-rasanya tidak mungkin melakukan perubahan seorang diri. Adakah wadah untuk bergerak bersama melakukan perubahan pendidikan yang lebih baik? Ada lah tentunya, bernama Temu Pendidik Nusantara (TPN). Temu Pendidik Nusantara merupakan ajang pertemuan tahunan yang mempertemukan seluruh pemangku kepentingan ekoistem pendidikan di Indonesia untuk mengekspresikan kemerdekaan belajar, mengembangkan kompetensi, menginisiasi kolaborasi dan membangun karier. Pemangku kepentingan ekosistem pendidikan itu siapa saja? Ada Guru, Pengawas, dan Pemimpin Sekolah. Meskipun begitu, semua orang bisa kok belajar bersama di Temu Pendidik Nusantara. Tapi khusus yang berprofesi sebagai guru perlu tahu alasan penting mendaftar Temu Pendidik Nusantara. 1.      Diberi Kebebasan Memilih Di Temu Pendidik Nusantara, guru bebas memilih ingin berpartisipasi menjadi apa. Apakah menjadi pembicara, peserta, atau relawan panitia. Guru yang sudah memiliki pengalaman mengajar bisa menjadi pembicara. Apalagi di TPN VIII ini akan ada #1000Pembicara untuk menyampaikan praktik baik guna melakukan perubahan pendidikan di konteks kelas, sekolah, hingga daerah. Sebagai peserta pun, guru bebas memilih topik yang ingin dipelajarinya. Guru bisa memilih topik yang sesuai kebutuhan, dan permasalahan di lapangan, dapat membantu menyelesaikan persoalan di kelas maupun sekolah. Nah, pada TPN VIII ini akan ada 7 sub topik yang akan menjadi pembahasan; (1) Pameran karya sebagai perayaan merdeka belajar; (2) Asesmen untuk personalisasi belajar; (3) Asesmen sebagai upaya merawat kemerdekaan belajar; (4) Asesmen terhadap capaian belajar murid; (5) Asesmen untuk pengembangan sekolah/madrasah merdeka belajar; (6) Asesmen lingkungan belajar, asesmen pelibatan warga sekolah; (7) Manajemen kelas campuran. 2.      Dapat Mengembangkan Karier Menjadi kepala sekolah bukanlah satu-satunya pilihan karier guru, di TPN guru belajar mengembangan karier dengan banyak cabang. Maksudnya guru dapat mengembangkan kariernya di berbagai bidang spesialisasi. Sebagai contoh guru bisa menjadi pelatih, penulis, dan masih banyak lagi. Karena memang, TPN ini dirancang sebagai kegiatan pengembangan karier guru. Belajar di TPN akan memberi pengalaman dan tantangan karier yang beragam. Di Temu Pendidik Nusantara ada namanya kelas karier, di sini peserta diharapkan untuk mempelajari perjuangan dalam merintis karier dari setiap pembicara untuk selanjutnya dapat mereka implementasikan sendiri guna merintis atau mengembangkan kariernya. 3.      Lebih Berdaya dan Produktif Di Temu Pendidik Nusantara ada kelas kemerdekaan. Di sini peserta belajar untuk berani mencoba menerapkan suatu strategi pengajaran. Strategi ini tentunya akan berdampak pada murid. Di kelas karier peserta dapat menyaksikan serta mendapatkan karya dan layanan guru. Peserta memang diajak berdaya dan lebih produktif. Peserta dituntun untuk melangkah dari awal sampai tingkat lanjut hingga mampu menghasilkan karya. Karena seyogyanya menjadi berdaya bukan hanya belajar lalu paham tapi juga menghasilkan. Menghasilkan karya yang bermanfaat untuk sesama guru maupun masyarakat luas, dengan atau tanpa peralatan canggih. 4.      Bergerak Melakukan Perubahan Seperti keresahan yang sudah disebutkan di awal, mustahil melakukan perubahan seorang diri. Dibutuhkan tempat untuk saling berkolaborasi melakukan gerakan perubahan pendidikan yang lebih baik. Di Temu Pendidik Nusantara VIII ini meskipun berada di tengah pandemi semangat kolaborasi tidak pernah surut, bahkan cakupannya semakin luas dan berdampak. Tidak hanya kolaborasi antar organisasi guru bahkan kolaborasi antar organisasi guru dengan jaringan sekolah, jaringan madrasah, komunitas pengawas, komunitas orangtua, komunitas pendidikan, penyedia sumber alat belajar, pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Kontenyang disajikan di Temu Pendidik Nusantara adalah konten yang membantu guru memandu murid menjadi pelajar merdeka. 5.      #BelajarDiTPNVIII Bersama #1000Pembicara Ada yang istimewa lho di Temu Pendidik Nusantara VIII ini karena kita akan belajar bersama #1000Pembicara. Apa yang menarik? Tentunya kita kan mendapatkan pembelajaran yang; (a) Lebih praktis, berupa praktik baik yang telah terbukti sesuai konteks kelas; (b) Lebih beragam, berasal dari lintas jenjang, jenis (swasta dan negeri) dan lintas daerah; (c) lebih berdampak, sehingga bermanfaat pada murid untuk perubahan pendidikan Indonesia yang lebih baik. Nah, sudah tidak bingung lagi kan mencari wadah untuk bergerak melakukan perubahan pendidikan. Dan pastinya sudah semakin yakin  untuk bergerak melakukan perubahan pendidikan yang lebih baik. Artinya semakin berminat untuk mengikuti Temu Pendidik Nusantara. Yuk mulai bergerak dengan mendaftar Temu Pendidik Nusantara (TPN) VIII yang bertemakan “Merayakan Asesmen, Mendesain Ekosistem Merdeka Belajar” pada tanggal 20-21 November 2021 dengan klik tpn.gurubelajar.org. atau tonton video tutorial “Cara Mendaftar Temu Pendidik Nusantara VIII” berikut. Sumber: Inilah 5 Keistimewaan Temu Pendidik Nusantara Ada apa di Temu Pendidik Nusantara VIII? Mengapa Guru, Pengawas dan Pemimpin Sekolah Harus ikut Temu Pendidik Nusantara?

Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar, Solusi Persoalan Guru

Bapak dan Ibu guru masih memiliki persoalan dalam kegiatan pembelajaran? Apakah bapak dan ibu guru belum menemukan solusi yang pas dalam mengatasi hal tersebut? Apakah bapak dan ibu guru pernah mendengar Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar? Tenang bapak dan ibu guru, melalui pembahasan di tulisan ini mungkin bapak dan ibu guru akan bisa menemukan solusi dari persoalan yang bapak dan ibu guru rasakan dengan Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar. Ya, karena pada tulisan kali ini, kita akan membahas dan mengenalkan kepada bapak dan ibu guru tentang “Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar, Solusi Persoalan Guru”, tanpa perlu berlama-lama, yuk mari kita simak tulisan di bawah ini Mengapa Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar Menjadi Solusi atas Persoalan Guru? Kurikulum ini sendiri dirancang dengan pendekatan praktis, sehingga nantinya bapak dan ibu guru dapat berdaya dengan merancang dan mempraktikkan solusi berlandaskan teori dan dan menyesuaikannya dengan konteks kelas dan kondisi di daerahnya masing-masing.  Berikutnya, kurikulum ini juga dirancang secara modular agar fleksibel dalam memenuhi kebutuhan guru. Dengan pendekatan modular, bapak dan ibu guru dapat memilih dan mengikuti modul pembelajaran yang sesuai untuk mengatasi persoalan di kelasnya. Di sini setiap guru memiliki kemerdekaan untuk merancang dan mengalami personalisasi pengalaman belajar.  Kurikulum ini juga dirancang sebagai solusi terhadap kebutuhan guru yang telah teruji lebih dari 20 tahun. Kurikulum ini bukan saja telah digunakan untuk pendidikan guru pada satu sekolah, namun telah diterapkan di lebih dari 1000 sekolah di berbagai penjuru nusantara.  Baca juga: Memahami Merdeka Belajar Lalu, Apa itu Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar? Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar ialah kurikulum yang bertujuan mengembangkan kompetensi pedagogik guru melalui cara melalui 5 cara, yaitu; Memanusiakan Hubungan, Memahami Konsep, Membangun Keberlanjutan, Memilih Tantangan, dan Memberdayakan Konteks. Cara ini lebih dikenal dengan cara 5M,  sehingga nantinya mampu menumbuhkan murid yang Merdeka Belajar, yang mana murid yang belajar karena kemauan sendiri. Bapak dan ibu guru bisa mempelajari Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar dengan mengunduh di https://pembelajaran.kampusgurucikal.com/ Kurikulum ini terdiri dari 1 pondasi, 3 blok modular dan 1 atap. Pondasinya ialah program Guru Merdeka Belajar. Dilanjut Blok Modular yang terdiri dari tiga blok yaitu:  A. Manajemen Kelas Merdeka Belajar  B. Strategi Pembelajaran Merdeka Belajar C. Asesmen Pembelajaran Merdeka Belajar Lalu, kurikulum ini dilengkapi dengan Atap yang mana kitab isa melihat program Karier Guru Merdeka Belajar Di setiap blok modular terdiri dari program yang disusun berdasarkan alur penguasaan kompetensi guru merdeka Belajar. Dimulai level 0, level 1, level 2 dan seterusnya. Lantas, Bagaimana Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar Menjadi Solusi atas Persoalan Guru? Nah, Alur Belajar kurikulum ini, yang mana Langkah pertamanya adalah pijak pondasi, ikuti program Guru Merdeka Belajar. Setelah mendapat pijakan pondasi, langkah berikutnya adalah dengan mengikuti blok modular. Setiap blok modular dimulai pada level 1, namun bila bapak dan ibu guru masih kesulitan pada level 1, bapak dan ibu guru bisa coba ikuti level 0. Sementara, apabila bapak dan ibu guru sudah menguasai level 1, maka bapak dan ibu guru bisa melanjutkan ke level yang lebih tinggi sesuai persoalan pembelajaran dan kebutuhan belajar. Bila ingin mengembangkan karier, ikuti program yang termasuk pada kategori Atap, yang mana bapak dan ibu guru dapat mengembangkan Karier Guru Merdeka Belajar. Kemudian, Bagaimana Contoh Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar Menjadi Solusi untuk Persoalan Guru? Mari kita gambarkan contohnya seperti ini. Awalnya di sebuah sekolah, ada seorang guru, sebut saja Guru Agus. Di sini guru Agus curhat jika muridnya ribut dan mencari perkara, dari ramai di kelas, tidak taat protokol kesehatan . Ia coba mengatasi persoalan tersebut dengan cara sederhana namun tetap saja tidak terjadi perubahan pada muridnya. Hal ini hingga membuat guru Agus pusing bagaimana mendisiplinkan muridnya tersebut. Lantas, bagaimana cara menertibkannya? dan kira-kira apa program yang bisa membantu guru Agus menyelesaikan persoalan tersebut? Akhirnya guru Agus mencoba untuk mulai mengikuti program Guru Merdeka Belajar. Yang mana pada program tersebut Guru Agus melihat-lihat pada blok modular. Lalu, apa ya blok modular yang cocok untuk guru Agus? Ternyata, setelah direnungkan beberapa saat, Guru Agus merasa bahwa persoalannya kali ini adalah terkait dengan kemampuannya dalam melakukan manajemen kelas. Ia pun fokus mempelajari blok modular Manajemen Kelas Merdeka Belajar tersebut. Dan kemudian ia pun memutuskan mengikuti program Kesepakatan Kelas Merdeka Belajar. Demikianlah cerita guru Agus dalam yang menemukan solusi atas persoalannya selama ini dengan mengikuti contoh Guru Merdeka Belajar, yang mana bersinergi dengan kurikulum ini. Nah, bagaimana bapak dan ibu guru, apakah pembahasan ini bisa memberikan insight baru dan menjawab persoalan bapak dan ibu guru saat ini? Jika bapak dan ibu guru masih penasaran, yuk bapak dan ibu guru pelajari lebih dalam lagi dan akses modul-modul di Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar lainnya dengan mengikuti Temu Pendidik Nusantara VIII pada 20-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem merdeka belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000 Pembicara. Ayo Jadi Guru Merdeka Belajar! Guru Penggerak Perubahan Pendidikan! Mari berjumpa rekan seperjuangan di Temu Pendidik Nusantara VIII, untuk #DukungGuruBelajar bergerak bersama demi Pendidikan. Perubahan pada diri Bapak dan Ibu Guru adalah awal perubahan untuk masa depan murid Indonesia! Klik: https://tpn.gurubelajar.org

Media Ajar yang Menarik untuk Asesmen

“Memori HP sudah penuh, Pak. Sudah gak bisa instal aplikasi lagi. “ “Aplikasi yang digunakan guru kok beda-beda, ya, Pak? Kami jadi bingung cara menggunakannya.” Bapak dan Ibu Guru sedang bingung mencari media ajar yang sesuai untuk pembelajaran jarak jauh? Hingga bingung asesmen apa yang cocok dilakukan? Jangan khawatir pertanyaan tersebut akan terjawab pada pengalaman Pak Virandy Putra. Pak Virandy Putra adalah guru dari SMA Negeri 1 Sijuk. Ketika pandemi Covid-19 membuat Pak Virandy harus memikirkan cara dan ide-ide inovatif untuk tetap melaksanakan pembelajaran. Pak Virandy sangat keteteran karena harus menggunakan beberapa aplikasi yang  menunjang pembelajaran jarak jauh. Dalam proses pembelajaran, sering terjadi apa yang dipikirkan oleh Pak Virandy tidak sesuai dengan yang dipikirkan murid-muridnya. Harapannya membuat pembelajaran menarik dan efisien, ternyata murid kurang antusiasnya. Hambatannya bukan karena aplikasi pembelajaran yang kurang canggih, tetapi ada beberapa kendala seperti guru tidak melibatkan murid dalam pemilihan media ajar yang akan digunakan ketika pembelajaran dilaksanakan. Kurang semangatnya murid di sekolah juga terlihat ketika sedikitnya yang ikut pertemuan virtual maupun pada kelas maya yang Pak Virandy buat. Ada juga berbagai alasan murid terkait dengan kurangnya semangat ketika mengikuti kegiatan pembelajaran seperti adanya beberapa murid yang mengeluh karena banyak aplikasi yang harus diunduh di gawainya. Pak Virandy lalu memikirkan cara untuk membuat pembelajaran lebih menarik dan membuat murid-muridnya antusias dalam pembelajaran jarak jauh. Dari Survei yang dilakukan Tanoto Foundation pada tahun 2020 menunjukkan bahwa 47% murid merasa kurang senang belajar di rumah karena banyaknya tugas yang diberikan, serta kegiatan pembelajaran membosankan karena tidak adanya interaksi yang baik antara guru dan murid. Kondisi tersebut selaras dengan yang dilakukan guru terhadap murid. Survei tersebut menunjukan, 85% guru memberikan tugas kepada murid. Hanya sebagian kecil yang memberikan pengajaran, meminta murid membuat penelitian sederhana atau kreativitas. Baca Juga : Asesmen Diagnosis adalah Solusi Dari survei tersebut setidaknya menunjukkan gambaran bahwa banyaknya tugas yang diberikan kepada murid dan tidak adanya umpan balik terhadap murid membuat kebosanan dalam belajarnya. Pak Virandy adalah pengguna aktif sosial media. Sehingga ada beberapa guru yang bilang kalau Pak Virandy sedikit narsis, karena apapun selalu diunggah ke media sosial. Pak Virandy  juga sering mengamati perilaku muridnya ketika menggunakan media sosial. Ternyata muridnya banyak belajar dari medsos. Contohnya belajar membuat kue di saluran YouTube, belajar membuat konten unboxing melalui Instagram, dan lainnya. Fenomena belajar dari internet membuat Pak Virandy berpikiran untuk menggunakan media sosial sebagai media ajar untuk asesmen pembelajaran. Harapannya, antusias murid meningkat dan lebih senang belajar, seperti pada masa pandemi yang mengharuskan pembelajaran jarak jauh. Pak Virandy memilih Instagram sebagai media ajarnya karena aplikasi tersebut adalah salah satu media sosial yang paling banyak digunakan. Selain itu, Instagram juga masih jarang digunakan untuk media ajar dalam pembelajaran. Menurut Pak Virandy Instagram menyediakan fitur-fitur yang keren. Berikut ini langkah-langkah yang dilakukan Pak Virandy menggunakan media ajar Instagram dalam pembelajaran jarak jauh NO KEGIATAN 1 Menggunakan postingan di feed Instagram untuk memberikan materi pembelajaran dan menginformasikan kepada murid tentang tugas proyek yang akan kerjakan. 2 Pak Virandy berkomunikasi dengan muridnya secara langsung (sinkronus), menggunakan fitur live di Instagram. Beberapa kali, ketika live, Pak Virandy melakukan simulasi praktik tentang listrik. Murid dapat bertanya secara langsung di kolom komentar. 3 Pak Virandy menghubungkan melalui tautan yang ada di biodata Instagram, yang terkoneksi langsung dengan Google Form untuk pemberian daftar hadir secara daring. 4 Pak Virandy melakukan asesmen menggunakan fitur kuis yang ada di story Instagram. Langkah-langkah Pak Virandy Menurut Pak Virandy asesmen berupa kuis itu paling keren. Murid-muridnya merasa mendapat pengalaman baru dalam proses belajar. Sebelum membuat kuis, Pak Virandy menyiapkan bank soal, kemudian membuat kunci jawaban. Setelah itu, mendesain bentuk soal. Agar terlihat menarik, dalam mendesainnya menggunakan aplikasi desain grafis,  seperti Canva. Setelah itu Pak Virandy mengunggah soalnya di story Instagram pribadinya. Beberapa soal dibuat lebih menarik dengan menampilkan suatu karakter gif di salindia soal tertentu. Pak Virandy merasa senang sekali, ternyata murid-muridnya sangat antusias mengikuti kuis melalui story Instagram. Pembelajaran melalui Instagram membuat Pak Virandy lebih memahami bahwa pembelajaran jarak jauh tidak harus dirancang melalui aplikasi pembelajaran yang konvensional. Dengan media sosial, ternyata dapat membuat pembelajaran lebih menarik. Harapan Pak Virandy adalah pembelajarannya semoga dapat lebih bermakna. Fitur kuis dalam Instagram sangat membantu dalam proses asesmen. Seperti statistik atau analisis butir soal dapat dilihat melalui fitur tersebut. Beberapa rekan Pak Virandy ternyata juga ikut menyelesaikan kuisnya. Pak Virandy percaya bahwa jika guru mau berinovasi sedikit saja, proses pembelajaran akan lebih bermakna. Dengan memanfaatkan fungsi fitur-fitur media sosial, seperti Instagram. Bagaimana Bapak dan Ibu Guru apakah pengalaman Pak Virandy menjawab permasalahan pembelajaran dan memberikan inspirasi? Bapak dan Ibu Guru mari ikuti Temu Pendidik Nusantara VIII 19-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000 Pembicara. Mari daftar di Temu Pendidikan Nusantara VIII!  Klik : https://tpn.gurubelajar.org Sumber : Surat Kabar Guru Belajar Edisi 3 Tahun Keenam

Temu Pendidik Nusantara VIII, Ada Apa?

Bapak dan Ibu Guru sudah mempraktikkan merdeka belajar? Ingin menambah inspirasi? Mengembangkan kompetensi dan karier? Atau ingin melakukan perubahan dalam dunia pendidikan?. Dalam Temu Pendidik Nusantara VIII akan menjadi momen refleksi menyeluruh terhadap merdeka belajar, menjadi sebuah asesmen formatif untuk penggerak perubahan pendidikan, karena merdeka belajar sebagai cita tidak hanya membutuhkan peran pendidik saja tetapi juga membutuhkan ekosistem yang merdeka belajar. Tidak hanya guru yang belajar, tetapi juga kepala sekolah, kepala madrasah, bahkan pengawas yang yang sering ditakuti oleh guru, tetapi ternyata dapat berjumpa dan berkolaborasi dalam semangat yang sama yaitu merdeka belajar.  Dalam Temu Pendidik Nusantara guru tidak hanya ikut begitu saja, tetapi guru dapat memilih. Setiap guru dapat memilih perannya dapat sebagai peserta, pembicara atau relawan panitia.  Setiap guru yang memilih menjadi peserta, juga bisa memilih topik yang ingin dipelajarinya. Berbeda dengan kebanyakan kegiatan lainnya, biasanya guru dituntut belajar topik yang ditentukan pihak lain, bukan pilihannya sendiri. Di Temu Pendidik Nusantara VIII, guru dapat memilih topik yang sesuai kebutuhan dan keinginannya. Topik yang dipilih yang dapat membantu dalam mengatasi permasalahan di kelas maupun sekolah. Guru yang sudah memiliki pengalaman mengajar juga mendapatkan kesempatan untuk menjadi pembicara. Guru yang menjadi pembicara dapat menyampaikan pengalaman dan keadaannya ketika di lapangan. Guru yang menjadi pembicara diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi guru lain, memberikan dampak yang luas dan memberikan perubahan, mengawali karier menjadi pelatih, dan dikenal oleh 30.000 guru se-nusantara.  Tidak hanya belajar, tetapi guru juga mengembangkan karir. Karena sejak tahun lalu, Temu Pendidik Nusantara sudah dirancang sebagai kegiatan pengembangan karier guru. Pembagian kegiatan di Temu Pendidik Nusantara dilakukan untuk memberi pengalaman dan tantangan karier yang beragam. Peserta Temu Pendidik Nusantara akan belajar mencoba suatu strategi pengajaran di kelas kemerdekaan, mengembangkan potensi di kelas kompetensi, dan memperluas kesempatan dan jejaring belajar di kelas kolaborasi. Peserta Temu Pendidik Nusantara juga bisa belajar dan mengetahui bahwa menjadi kepala sekolah bukanlah satu-satunya pilihan karier guru. Di kelas karier, peserta Temu Pendidik Nusantara dapat belajar bahwa profesi guru dapat menghasilkan banyak spesialisasi. Dengan mempelajari perjuangan setiap pembicara dalam merintis kariernya. Di Pameran Karier, peserta Temu Pendidik Nusantara juga bisa menyaksikan dan mendapatkan karya dan layanan guru. Harapannya setelah mengikuti Temu Pendidik Nusantara, peserta mendapatkan pelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan karier untuk merintis dan mengembangkan kariernya. Peserta tidak hanya menjadi pendengar, tidak hanya dimintai kartu nama untuk tindak lanjut presentasi produk atau layanan. Tetapi peserta menjadi berdaya karena mendapatkan kesempatan menghasilkan karya yang bermanfaat baik untuk sesama guru maupun masyarakat luas. Peserta Temu Pendidik Nusantara diajak untuk berdaya, dalam melangkah dari jenjang ke jenjang lebih lanjut hingga menghasilkan karya. Baca Juga : Inilah 5 Keistimewaan Temu Pendidik Nusantara Tidak hanya berkembang, tetapi juga melakukan perubahan. Meski terbuka untuk umum, sebagian besar peserta Temu Pendidik Nusantara adalah guru-guru dari beragam organisasi profesi dan komunitas yang menjadi bagian dari perubahan pendidikan Indonesia. Seperti dari Yayasan Guru Belajar, Cerita Guru Belajar, Kampus Guru Cikal, Sekolah Merdeka Belajar, Komunitas Guru Nusantara, Komunitas Pengawas Belajar, Jaringan Sekolah Madrasah Belajar, Ikatan Guru Indonesia, Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia, Lingkar Daerah Belajar, Federasi Guru Independen Indonesia, Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia, PERGUNU, Forum Guru Muhammadiyah, dan Badan Musyawarah Perguruan Swasta. Disponsori oleh Nusantarun, Sekolah.mu, Wardah Inspiring Teacher, dan Nutrifood. Serta diliput oleh media-media Kumparan.com, Tempo.com, dan Kompas.com. Organisasi-organisasi ini hadir bukan sekedar belajar untuk kepentingan dan capaian pribadi, tetapi juga untuk mengubah praktik pengajaran dan menyebarkannya ke guru-guru yang lain. Tidak semua bertahan, namun mereka yang hadir adalah mereka yang berkomitmen kuat pada tujuan, yang menunjukkan ciri dari guru merdeka belajar. Konten pada Temu Pendidik Nusantara diharapkan dapat menjadi konten yang menjawab kebutuhan ekosistem guru dan pendidikan di Indonesia. Konten Temu Pendidik Nusantara dirancang dan dipilih sesuai dengan topik Temu Pendidik Nusantara juga selaras dengan semangat merdeka belajar. Konten yang dapat membantu guru memandu murid menjadi pelajar merdeka. Namun keistimewaan yang utama pada Temu Pendidik Nusantara bukan berkaitan dengan konten, kelas, maupun pembicara. Temu Pendidik Nusantara istimewa karena menjadi wadah perjumpaan antar guru yang berbagi cerita dan membahas bagaimana momen asesmen nasional dapat digunakan oleh semua pemangku kepentingan untuk mendesain, mengembangkan, mewujudkan ekosistem yang membantu semua dan setiap murid untuk mengalami pengalaman merdeka belajar di rumah, di kelas, dan di komunitasnya.  Apakah Bapak dan Ibu Guru berminat untuk mengikuti Temu Pendidik Nusantara VIII?  Yuk jangan lupa untuk mengikuti Temu Pendidik Nusantara VIII 19-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem belajar.  Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000 Pembicara.  Mari daftar di Temu Pendidik Nusantara VIII!  klik : https://tpn.gurubelajar.org

Guru Penggerak dalam Peran Pendidikan

“Memaknai Guru Penggerak dalam Peran Pendidikan, oleh karena itu sebagai seorang guru, maka akan menghadapi banyak sekali tuntutan yang saling bersaing, tetapi untuk setiap tantangan yang bapak dan ibu guru hadapi, ada imbalan yang setara atau lebih besar. Saat bapak dan ibu guru memasuki profesi yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi kehidupan orang lain, bapak dan ibu guru juga mengambil bagian dalam karier yang penuh makna.” Profesi sebagai seorang guru bisa dikatakan adalah garda paling penting dari kehidupan masyarakat kita. Guru mendukung murid menentukan tujuan, memfasilitasi murid memperoleh kompetensi untuk sukses sebagai warga dunia kita, dan mengilhami mereka dorongan untuk berbuat baik dan sukses dalam hidup. Murid-murid hari ini adalah pemimpin masa depan, dan peran guru adalah titik kritis yang membuat murid siap untuk masa depan mereka.  “Menjadi seorang guru tidak akan membuat siapapun menjadi kaya—namun ini adalah salah satu karier paling berharga di dunia ini. Seorang guru dapat memiliki dampak besar pada kehidupan seorang murid, dan melihat seorang murid berkembang dan tumbuh adalah sesuatu yang membawa sukacita besar bagi seorang guru.” Ketika berbicara dengan semua guru yang ada, maka hanya sedikit yang akan memberi tahu  bahwa menjadi guru adalah sesuatu yang mereka sesali lakukan, bahkan hampir tidak ada. Alasan umum dari semua itu adalah bahwa mereka menemukan kepuasan menjadi seorang guru dalam mempengaruhi murid dan membantu mereka dalam membentuk masa depan. Meskipun mungkin tidak sama untuk setiap pendidik, akan selalu ada alasan bagus untuk menjadi satu. Oleh karena itu dalam tulisan kali ini kita akan membahas tentang “Guru Penggerak dalam Peran Pendidikan”. Baca Juga: Guru Merdeka Belajar, Cukupkah Jadi Pendidik? Atau Perlu Jadi Penggerak? Menjadi Guru itu Penting Murid-murid membawa apa yang dipelajari kepada mereka di usia muda ke sepanjang hidup mereka. Mereka akan menggunakan apa yang telah mereka pelajari untuk mempengaruhi masyarakat. Bapak dan ibu guru mungkin mengetahui juga bahwa generasi muda hari ini akan menjadi pemimpin masa depan, dan para guru memiliki akses untuk mendidik generasi muda di tahun-tahun mereka yang paling berkesan — baik itu dalam mengajar prasekolah, mengajar ekstrakurikuler, olahraga, atau kelas konvensional. Guru memiliki kemampuan untuk membentuk pemimpin masa depan dengan cara terbaik bagi masyarakat untuk membangun generasi masa depan yang positif dan menginspirasi dan oleh karena itu merancang masyarakat, baik dalam skala lokal maupun global. Dan faktanya, guru memiliki pekerjaan paling penting di dunia. Peran bapak dan ibu guru saat ini yang berdampak pada anak-anak masyarakat memiliki kekuatan untuk mengubah kehidupan. Bukan hanya untuk anak-anak itu sendiri, tetapi untuk kehidupan banyak orang. Peran Seorang Guru Membawa Perubahan dalam Kehidupan Murid Percayalah peran seorang guru ternyata memberi perubahan dalam kehidupan murid. Peran guru menjadi berpengaruh dalam kehidupan murid, menginspirasi dan memotivasi mereka untuk mencapai potensi mereka. Suatu hari nanti mungkin murid bapak dan ibu akan menjadi pemenang penghargaan Nobel, pebisnis terkemuka, pemimpin hebat, perdana menteri dan seniman terkenal atau individu yang berpengetahuan luas dengan cinta untuk belajar. Bukan hanya karena itu adalah profesi yang mulia, tetapi menjadi seorang guru juga memungkinkan bapak dan ibu untuk terus berkreasi dan menjadi lebih baik secara profesional. Peran guru saat ini memiliki banyak kesempatan di tangan mereka untuk menjadi kreatif dan menggunakan semua metode yang mungkin untuk membuat lingkungan belajar yang optimal bagi murid. Lalu, guru dapat bertindak sebagai sistem pendukung yang kurang di tempat lain dalam kehidupan murid. Dan menjadi seorang guru pasti akan menjadi panutan dan inspirasi murid untuk melangkah lebih jauh dan bermimpi lebih besar. Dengan menjadi seorang guru dan penggerak di bidang pendidikan, maka bapak dan ibu akan memberi manfaat bagi murid terlebih masyarakat secara keseluruhan. Kesan yang bapak dan ibu buat pada murid di kelas akan terus berlanjut ke generasi berikutnya. Ini adalah keistimewaan karir menjadi seorang guru, yang mana bapak dan ibu memiliki kesempatan untuk membawa sebuah perubahan bagi generasi kehidupan. Peran Seorang Guru sebagai Pembelajar Sepanjang Hayat Pendidikan telah banyak berubah mengikuti perkembangan zaman ini. Saat ini pendidikan lebih interaktif dengan intrusi media digital. Penerapan teknologi kini seperti kecerdasan buatan, augmented reality membuka dimensi baru dalam pendidikan. Namun, ada peran besar bapak dan ibu guru yang tetap berjalan hingga saat ini dan tidak bisa tergantikan. Sebagai seorang guru, bapak dan ibu harus mengeluarkan yang terbaik dalam diri murid dan menginspirasi mereka untuk berjuang demi kebesaran. Murid dianggap sebagai masa depan bangsa dan umat manusia, dan peran bapak dan ibu guru diyakini sebagai pemandu yang kredibel untuk kemajuan mereka.. Guru dapat melihat kekuatan dan kelemahan setiap murid dan dapat memberikan bantuan dan bimbingan untuk mempercepat atau mendorong mereka lebih tinggi. Sebagai seorang guru tidak hanya membimbing murid dalam bidang akademik atau kegiatan ekstrakurikuler, tetapi guru juga bertanggung jawab untuk mendukung masa depan murid, menjadikannya manusia yang lebih baik. Seorang guru menanamkan pengetahuan, nilai-nilai baik, tradisi, tantangan zaman modern dan cara-cara untuk menyelesaikannya dalam diri murid.  Bapak dan ibu guru juga menjadi sumber inspirasi dan motivasi. Guru menginspirasi murid untuk melakukannya dengan baik, dan memotivasi mereka untuk bekerja keras dan menjaga tujuan akademik mereka tetap pada jalurnya. Menjadi seorang guru sebagai pembelajar sepanjang hayat memungkinkan bapak dan ibu guru untuk terus belajar dan berkembang dalam pengetahuan. Perang Seorang Guru sebagai Penggerak Pendidikan Pengetahuan dan pendidikan merupakan dasar dari segala sesuatu yang dapat dicapai dalam kehidupan. Guru memberikan kekuatan pendidikan kepada generasi muda saat ini, sehingga memberi mereka kemungkinan untuk masa depan yang lebih baik. Pola pikir guru sebagai penggerak pendidikan ialah memperlakukan kesalahan dan tantangan sebagai bagian dari proses belajar. Bapak dan ibu guru diminta untuk tidak melihat kesalahan sebagai kegagalan. Kesalahan memberi murid sebuah pengalaman atau informasi baru yang dapat mereka gunakan saat mereka terus menemukan cara untuk memecahkan masalah atau tantangan. Guru juga tidak pernah tahu jenis pertanyaan apa yang akan diajukan oleh murid. Sebagai penggerak Pendidikan, guru menjadikan belajar sebagai kebiasaan rutin untuk beradaptasi dengan perubahan dan tindakan murid. Dedikasi dalam Peran Seorang Guru Salah satu bagian terpenting dalam peran seorang guru adalah memiliki dedikasi. Bapak dan ibu guru mungkin merasakan jika peran guru tidak hanya mendengarkan, tetapi juga melatih dan membimbing murid. Guru mampu membantu membentuk tujuan akademik dan berdedikasi untuk membuat murid  mencapainya. Bapak dan ibu guru memiliki … Read more

Praktik Asesmen Diagnosis, Tatap Maya Seindah Tatap Muka

Bapak dan Ibu guru merasa praktik asesmen diagnosis saat tatap maya tak seindah tatap muka? Merasakan banyak yang hilang dan memengaruhi proses belajar di kelas? Yap, pandemi yang datang ternyata menjungkirbalikkan kebiasaan-kebiasaan bapak dan ibu guru. Mungkin banyak para guru yang sudah memiliki kebiasaan pembelajaran dengan praktik asesmen diagnosis tatap muka namun tiba-tiba harus menjalankan pembelajaran praktik asesmen diagnosis tatap maya.  Tapi tenang bapak dan ibu guru, di dalam tulisan ini kita akan bahas lebih lanjut bagaimana sih membuat praktik asesmen diagnosis saat tatap maya seindah tatap muka. Tanpa berlama-lama, kita akan dengarkan cerita dari Ibu Anggi Rizka Pustika, yang mana anggota KGB Klaten dan mengajar di SD Negeri Bogem 2. Baca Juga: Praktik Asesmen Formatif dalam Pembelajaran Jarak Jauh “Lah, bikin nilai anak, ya tinggal kasih soal, beri nilai. Udah, deh. Beres! Ngapain repot mikir lainnya? Jawaban anaknya itu, ya udah itu nilai dia. Titik!” Proses belajar itu ya murid datang ke sekolah, guru membuka pertemuan, memberikan penjelasan, berlatih soal, membahas soal. Sudah cukup. Ketika materi habis, oh, ini artinya murid akan guru berikan ulangan untuk tahu capaian belajar mereka. Ulangan, koreksi, beri nilai selesai. Ya, semudah itulah saat awal-awal kegiatan Ibu Anggi dalam melakukan penilaian kepada murid. Apalagi belia seringkali mendengar kalimat-kalimat seperti ini. “Ah, guru itu gak bikin ulangan, gak koreksi aja udah tahu mana murid yang pinter mana yang enggak” atau “Hanya melihat wajahnya saja sudah hafal. Sudahlah tidak perlu repot. Seperti teman pada umumnya saja)”. Lagi-lagi tidak usah repot adalah kata sakti yang sempat membuat Ibu Anggi meyakini ketika melakukan penilaian kepada murid: yo wes (ya sudah). Gak usah repot. Lalu, tiba-tiba pandemi datang dan menjungkirbalikkan kebiasaan-kebiasaan yang selama ini Ibu Anggi lakukan. Ibu Anggi, guru yang sudah memiliki kebiasaan mengajar lebih dari delapan tahun, merasa bingung seketika. Tidak ada interaksi fisik langsung. Tidak ada teriakan, yang dari jauh dulu beliau tahu ini adalah suara si A. “Ya ampun….! Ini lembar kerja milik siapa? Kenapa gak dikasih nama, sih?” Ibu Anggi benar-benar merasa kebingungan, padahal sebelumnya beliau hafal tulisan setiap muridnya. Ibu Anggi merasa ada banyak yang hilang dan memengaruhi proses belajar di kelas. Beliau pun sempat menganggap jika tatap maya tak seindah tatap muka. Termasuk dalam proses penilaian. Keyakinan beliau bahwa penilaian gak usah repot, goyah.  “Si B suaranya kenceng. Mengerjakan tugas pasti dengan mengetuk-ngetuk meja. Kekuatannya ada pada numerasi, lemah dalam seni.”. Suara, gestur, tulisan, sifat, sikap, cara mengerjakan biasanya bisa beliau kenali dengan interaksi langsung. Lalu saat pandemi? Benar-benar menjadi big problem bagi Ibu Anggi. Beliau gak bisa mengetahui perkembangan si A ini bagaimana, si F seperti apa, si C kuat di bagian apa. Beliau merasa asing dengan murid-murid. Lantas beliau  bertanya kepada dirinya sendiri, “Kalau begini caranya, bagaimana bisa saya melakukan penilaian tanpa repot?”. Beruntunglah pada 2017, Ibu Anggi dipertemukan dengan Komunitas Guru Belajar. Kebingungannya tentang proses belajar kala pandemi mendapat jawaban dari komunitas ini. Termasuk tentang penilaian. Asesmen diagnosis menjadi jawaban atas masalah beliau dalam mengenal murid. Melalui KGB, Ibu Anggi menjadi paham bahwa penilaian untuk murid itu menyeluruh. Bukan hanya kasih soal, koreksi, beri nilai, selesai. Asesmen bagi murid itu hal yang kompleks dan butuh beragam cara untuk mendapat hasil yang akurat. Mudahnya, asesmen bisa diibaratkan seperti proses ketika kita sakit dan butuh pergi ke dokter. Ketika kita datang, dokter tidak akan langsung memvonis, “Oh, kamu sakit X”. Dokter akan memberikan beberapa pertanyaan terlebih dahulu. “Apa yang Anda rasakan? Sejak kapan? Bagian mana yang sakit?” Setelah itu, barulah pemeriksaan dimulai. Dokter akan mengaitkan hasil pemeriksaan dengan gejala yang nampak. Jika diperlukan, didukung dengan hasil tes laboratorium untuk menegaskan diagnosisnya. Ibu Anggi pun sadar, proses yang dilakukan oleh dokter ini seharusnya beliau lakukan pula kepada muridnya. Sayangnya, beliau tidak lakukan. Hasil belajar di KGB kemudian Ibu Anggi terapkan, refleksi. Apa yang selama ini bisa dengan mudah beliau ketahui ketika tatap muka, lantas beliau catat. Apa yang butuh beliau ketahui dari murid, beliau jadikan acuan untuk membuat asesmen diagnosis, membuat profil murid. Ibu Anggi kemudian membuat daftar pertanyaan melalui Google Form. Pertanyaan tersebut beliau klasifikasikan menjadi dua jenis, berupa daftar pertanyaan yang umum dan daftar pertanyaan yang khusus serta detail. Daftar pertanyaan yang umum itu seperti ketika kita membuat biodata bagi murid baru. Pertanyaannya seputar nama orang tua, nama anak, alamat tinggal, serta pekerjaan. Jika biasanya dalam biodata isian diwakilkan data ayah, maka dalam data ini Ibu Anggi meminta diisi baik data ayah maupun ibu. Untuk apa? Untuk mendapatkan gambaran detail apakah anak ini tinggal bersama orang tua atau keluarga lainnya. Data pekerjaan membuat beliau memahami apakah orang tua bekerja semua atau ada salah satu yang di rumah. Jika di rumah, apa yang dia kerjakan? Dilanjutkan dengan pertanyaan khusus. Ibu Anggi mulai dengan menanyakan jumlah anggota keluarga serta dengan siapa tinggal dalam satu rumah. Data ini bermanfaat untuk mengetahui orang dewasa yang berpotensi untuk menjadi pendamping belajar murid selain ayah atau ibunya. Berapa jumlah gawai yang dimiliki dan apa saja juga beliau tanyakan. PJJ dalam gambaran Ibu Anggi pastinya akan sangat membutuhkan gawai. Oleh karena itu kepemilikan gawai ini sangat penting untuk beliau ketahui agar beliau dapat menentukan bagaimana proses belajar yang sesuai dengan kondisi mereka. Salah satu pertanyaan penting lainnya adalah berapa rupiah yang digunakan seluruh keluarga dalam satu bulan untuk kuota internet. Akan sangat tidak bijak jika Ibu Anggi tidak tahu hal ini, lalu setiap hari mengajak murid menggunakan video conference, padahal untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari orang tua masih mengalami kesulitan. Oh, iya, Ibu Anggi tanyakan hal ini sebelum ada kuota dari Kemendikbud. Ibu Anggi merasa tetap penting juga untuk mengetahui meskipun saat ini telah ada kuota bantuan dari Kemendikbud.  Setelah Ibu Anggi kirimkan tautan Google Form ini ke grup WhatsApp, orang tua merespon dengan sangat baik. Tak berapa lama, beliau sudah mendapatkan data anak-anak dari orang tua. Ibu Anggi juga meminta murid untuk menceritakan dirinya untuk mendapatkan data diri yang lebih personal. Beliau ajukan pertanyaan panduan seperti yang beliau ajukan kepada orang tua mereka. Ada pertanyaan umum dan khusus juga. Pertanyaan umum seperti nama diri, alamat tinggal, nama orang tua, dan pekerjaan orang tua. Pertanyaan khusus seperti … Read more

Mengembangkan Bakat Murid saat Pembelajaran di Masa Pandemi Melalui Asesmen Diagnosis

Bingung bagaimana memfasilitasi bakat murid saat pembelajaran di masa pandemi? Sulit menemukan wadah untuk menyalurkan bakat dan minat mereka? Padahal murid sudah sangat jenuh belajar dari rumah. Tidak ada lagi kegiatan semacam ekstrakulikuler yang dapat mereka ikuti seperti saat PTM (Pembelajaran Tatap Muka). Mungkin hal ini yang sekarang masih membuat Bapak dan Ibu guru bimbang. Tenang Bapak Ibu, karena pada tulisan kali ini kita akan membahas kisah dari guru belajar yang mengalami kasus serupa namun bisa menanganinya melalui asesmen diagnosis. Benar, melalui asesmen diagnosis guru ini mampu menghadirkan pembelajaran yang bisa mengembangkan bakat murid di saat pembelajaran di masa pandemi. Guru ini bernama Bu Fitriana. Bu Fitriana merupakan guru di SDN Tugu Utara 05 sekaligus menjadi anggota Komunitas Guru Belajar (KGB) Jakarta Selatan. Sejak diberlakukannya PJJ dibarengi munculnya kebijakan Asesmen Nasional (AN) dalam bentuk survei karakter, survei lingkungan belajar, dan asesmen kompetensi minimum menuntun Bu Fitri untuk mencari informasi dan bergerak mengikuti perkembangan mengenai hal yang masih dianggapnya baru tersebut. Bu Fitri banyak mengikuti kegiatan webinar seperti Wardah Inspiring Teacher (WIT) 2020. Dari kegiatan ini Bu Fitri belajar mengenai empati kepada murid. Tak berselang lama, Bu Fitri juga mengikuti Seri Guru Belajar yang diadakan oleh Kemendikbud. Dari sini Bu Fitri belajar tentang Asesmen Nasional, macam-macam asesmen dan cara menindaklanjutinya. Selain itu Bu Fitri juga mendapat pemahaman tentang kegiatan pembelajaran yang mempertimbangkan kondisi murid (tidak memberatkan murid) dengan menghadirkan pembelajaran yang lebih variatif, inovatif, dan kreatif agar potensi murid dapat dioptimalkan. Sebelum melaksanakan pembelajaran, Bu Fitri melakukan asesmen diagnosis guna menggali informasi terkait kondisi murid-muridnya. Informasi tersebut Bu Fitri jaring dengan menyebar kuesioner kesiapan belajar kelas VI-A dalam Google Form. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa orangtua murid dominan bekerja sebagai buruh. Selain itu, Bu Fitri juga tahu keberagaman hobi murid, mulai dari futsal hingga menari. Data menunjukkan jika 50% muridnya sudah menggunakan gawai milik sendiri. Untuk hambatan saat pembelajaran di masa pandemi, murid Bu Fitri sebagian besar mengeluh akan bosannya belajar dari rumah, keterbatasan kuota, gangguan jaringan atau sinyal, dan merepotkan orang tua karena tidak bisa terus mendampingi mereka. Dari hasil asesmen diagnosis tersebut, Bu Fitri memulai pembelajaran dengan kegiatan proyek perkenalan diri. Dimulai dengan murid mengenal Bu Fitri melalui media sosialnya, kemudian murid diminta untuk menyimpulkan tentang Bu Fitri. Proyek ini cukup ampuh untuk membuat murid mengenal dan dekat dengan Bu Fitri. Bu Fitri juga memberikan opsi pada pengumpulan tugas, bisa berbentuk mind map, video, atau voice note. Dari kegiatan tersebut, Bu Fitri memberi kesempatan murid mengembangkan bakat-nya. Baca juga: Implementasi Asesmen Diagnosis untuk Membangun Disiplin Murid Di luar pembelajaran, murid-murid juga mengalami kejenuhan karena tidak bisa menyalurkan bakat dan minatnya di kegiatan ekskul ataupun kegiatan memperingati hari besar nasional seperti saat PTM dulu. Dengan melihat data hasil asesmen diagnosis yang menunjukkan bahwa 50% muridnya menggunakan gawai sendiri, Bu Fitri berencana untuk membuat panggung virtual dengan memanfaatkan aplikasi Stream Yard, Zoom, dan YouTube sebagai medianya. Bu Fitri mengajak teman-teman guru berdiskusi membahas peringatan HUT RI  dengan menyelenggarakan lomba-lomba secara virtual. Mulai dari jenis lomba, teknis lomba, sistem penilaian dan hadiahnya diusahakan persis seperti saat pandemi belum datang. Contoh lomba yang berhasil diselenggarakan dapat ditonton melalui tautan berikut: https://youtu.be/1y-q4d1HqX8  Namun setelah melakukan refleksi, Bu Fitri merasa kegiatan tersebut belum sepenuhnya dapat memaksimalkan potensi dan minat bakat murid. Bu Fitri mulai melibatkan orangtua murid dengan mengajak mereka berdiskusi. Bu Fitri sadar bahwa peran orangtua sangat besar dalam membantu murid menampilkan unjuk kreasi mereka.  Oleh karena itu, saat Hari Guru, Bu Fitri dan teman-teman guru mengadakan kegiatan lagi berupa pentas seni dan penampilan terbaik dari tiap kelas. Kegiatan dapat dilihat melalui tautan berikut: https://youtu.be/AMf05WTBESs. Namun setelah melakukan refleksi kembali, ternyata masih ditemukan beberapa hambatan seperti h beberapa murid yang tampil dari setiap kelas, kendala sinyal, dan kuota internet.  Pantang menyerah, demi mengembangkan bakat murid, Bu Fitri dan teman-teman guru di sekolahnya kembali memanfaatkan momen yang pas yakni ketika Isra Mikraj sebagai wadah menyalurkan bakat dan minat murid-muridnya. Berbekal refleksi sebelumnya, Bu Fitri kembali mengadakan kegiatan pentas seni dengan menambah tema dan pengisi acara dalam kegiatan tersebut. Kegiatan dapat dilihat melalui tautan berikut: https://youtu.be/H54Ui-SLuHw  Dan Bu Fitri tidak menyangka banyak yang mengirim video dari tiap kelas. Artinya banyak yang ingin tampil di pentas seni virtual. Mereka sangat antusias menyaksikan penampilan teman-temannya melalui YouTube. Mereka juga tidak sabar menanti penampilan mereka ditayangkan. Murid-murid menyaksikan kegiatan tersebut hingga akhir tanpa takut kuota mereka habis. Nah, bagaimana Bapak Ibu guru, apakah cerita inspiratif di atas sudah cukup menghilangkan kebingungan Bapak dan Ibu? Atau Bapak Ibu masih ingin mendapat cerita-cerita inspiratif lainnya? Yuk langsung aja daftar di Temu Pendidik Nusantara (TPN) VIII dengan tema Merayakan Asesmen, Mendesain Ekosistem Merdeka Belajar yang akan diselenggarakan pada 20-21 November 2021. Di sini Bapak Ibu akan mendapat inspirasi dari #1000Pembicara lho! Langsung aja klik tpn.gurubelajar.org Sumber: Surat Kabar Guru Belajar No.28