107 Mahasiswa Magang Berhasil Praktekkan Merdeka Belajar

Kampus Guru Cikal (KGC) menggelar perayaan belajar “Magang Guru Merdeka Belajar” 2021 pada Jumat (21/01) secara virtual. Magang tersebut merupakan inisiasi KGC yang didukung oleh Yayasan Guru Belajar dan terafiliasi dengan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka oleh Kemendikbud dan Ristek. Total 107 mahasiswa magang dari 51 perguruan tinggi dinyatakan telah selesai dan lulus di hadapan para mentor dan dosen pembimbing yang juga turut hadir. Dalam sambutannya, Elisabet Susan, Ketua KGC menyatakan bahwa 107 mahasiswa tersebut sebelumnya telah melalui beberapa tahapan seleksi hingga akhirnya mendapatkan kesempatan untuk bergabung Magang Guru Merdeka Belajar (MGMB). “Ada 2000an mahasiswa yang mendaftar (MGMB). Lalu setelah melewatkan beberapa seleksi, dari seleksi berkas hingga leader group discussion. Terpilihlah 107 mahasiswa ini, dari perguruan tinggi baik negeri maupun swasta,” jelasnya. Setiap peserta MGMB mendapatkan bekal selama lima bulan penuh dari mentor pedagogi seperti manajemen kelas, merancang strategi pembelajaran, hingga asesmen merdeka belajar. Setelahnya mahasiswa mempraktekkan hingga membuat riset inovasi pembelajaran merdeka belajar yang kontekstual. “Hingga akhir proses ini telah dihasilkan 36 rancangan inovasi merdeka belajar yang telah melewati fase uji coba dan terbukti efektif,” ungkap Elisabet. Baca juga: Soft Launching “Ayo Jadi Guru”, Persiapkan Angkatan Baru Merdeka Belajar “Apa yang telah dilakukan mahasiswa ini merupakan legasi yang ditinggalkan mahasiswa di sekolah bagi guru-guru dan murid sebagai alas percepatan merdeka belajar yang mendorong praktik pembelajaran yang lebih berpusat pada anak atau pada murid-murid kita,” lanjutnya. Dalam perayaan ini, empat dari 36 kelompok mahasiswa berkesempatan untuk mempresentasikan hasil praktek baiknya saat magang. Salah satunya adalah kelompok magang di MTs Al Muthiyah Sukabumi, yakni Dyah Binti, Andresha, dan Yefi Indah. Ketiganya masing-masing berasal dari Universitas Negeri Surabaya, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, dan STKIP PGRI Jombang. Sebelum menentukan metode pembelajaran mereka menganalisis profil murid terlebih dahulu dengan mempelajari gaya belajar murid, hobi murid, hingga pekerjaan orang tua. Lalu mendiagnosis permasalahan pembelajaran yang selama ini berjalan. “Untuk tantangannya kami menemukan murid masih tampak malu-malu untuk mengungkapkan pendapat dan bertanya, pembelajaran IPA dan IPS dianggap membosankan, dan murid hanya belajar jika akan ujian saja,” ungkap Yefi. Berdasarkan hasil riset pada murid tersebut, Yefi dan tim mengkolaborasikan tiga mata pelajaran yakni IPA, IPS, dan prakarya. Sedangkan objek utama pembelajarannya ialah singkong karena mayoritas orang tua murid adalah petani dengan komoditas singkong. Baca juga: 5 Cerita Inspiratif Magang Guru Merdeka Belajar “Untuk pelajaran IPA, pelajarannya adalah membuat bioteknologi konvensional dengan membuat singkong tape. Sedangkan IPS belajar menghitung BEP dari hasil olahan bioteknologi konvensional. Untuk prakarya, melakukan packaging hasil olahan tersebut,” jelas Yefi. Di akhir presentasi tim, Dyah menjelaskan bahwa terdapat perubahan pada murid setelah melalui proses belajar tersebut. “Mereka (murid) merasa sangat senang dan aktif dalam pembelajaran ini, baik bertanya maupun menjawab,” pungkasnya.

Soft Launching “Ayo Jadi Guru”, Persiapkan Angkatan Baru Guru Merdeka Belajar

Kampus Guru Cikal (KGC) menggelar soft launching program “Ayo Jadi Guru” secara virtual pada Jumat (21/01). Peluncuran tersebut dilakukan bersamaan dengan perayaan belajar bagi 107 mahasiswa peserta Magang Guru Merdeka Belajar (MGMB). Ketua KGC, Elisabet Susan mengungkapkan, masing-masing kelompok mahasiswa magang telah berhasil menciptakan inovasi pembelajaran yang dapat menjadi legasi untuk sekolah, guru, dan murid. “Hingga akhir proses ini telah dihasilkan 36 rancangan inovasi merdeka belajar yang telah melewati fase uji coba dan terbukti efektif,” jelasnya. Ia berharap rancangan ini dapat mendukung percepatan implementasi merdeka belajar. Bukik Setiawan, ketua Yayasan Guru Belajar (YGB), yang juga turut hadir dalam acara mengajak para mahasiswa untuk tidak berhenti melakukan praktik baik tersebut pasca program magang selesai. Ia mengungkapkan, YGB juga terus melakukan upaya untuk menyebarkan spirit dan praktik merdeka belajar lebih luas lagi. Baca juga: Magang Guru Merdeka Belajar: Siapkan Calon Guru Penggerak “Upaya penting yang kami lakukan, YGB melalui KGC bekerjasama dengan Karier.mu, yaitu membuat program Ayo Jadi Guru,” jelasnya. “(Ini adalah) sebuah pendidikan merdeka belajar bagi lulusan SMA, mahasiswa akhir, lulusan baru, hingga guru muda untuk menguasai pembelajaran merdeka belajar,” tambah Bukik. Lebih lanjut, Bukik mengatakan bahwa nantinya peserta Ayo Jadi Guru tidak hanya berhenti sampai proses magang namun juga akan mendapatkan penempatan kerja pada satuan pendidikan yang sudah berkomitmen dengan merdeka belajar. Elisabet menjelaskan, program kolaborasi KGC dan Karier.mu ini diharapkan dapat menjawab kebutuhan guru yang kompeten dan berkualitas. “Ratusan ribu sekolah menghadapi rintangan sulitnya menemukan guru berkualitas. Setidaknya hingga tahun 2024, guru menjadi salah satu profesi yang paling banyak dicari.” “Ayo Jadi Guru akan membekali peserta program dengan manajemen kelas, strategi pembelajaran, hingga asesmen. Untuk institusi pendidikan, ini akan memudahkan mendapatkan guru yang sudah didampingi, dibekali, dan diseleksi dengan komprehensif,” terang Elisabet. Dalam kesempatan tersebut, Bukik juga menjelaskan betapa pentingnya  pola pikir merdeka belajar bagi seorang guru. “Mengapa merdeka belajar? Riset membuktikan bahwa kemerdekaan belajar adalah predictor kinerja guru. Semakin merdeka, semakin efektif kinerja seorang guru,” ungkapnya. Baca juga: 5 Cerita Inspiratif Magang Guru Merdeka Belajar “Kedua, pengalaman kami selama 22 tahun menunjukkan bahwa guru merdeka belajar adaptif terhadap perubahan, yang mau memahami murid dan melaksanakan pembelajaran merdeka belajar,” sambung Bukik. “Ketiga, kami mengenal guru merdeka di berbagai daerah, beragam jenjang, dan beragam status. Dengan kemerdekaan belajarnya, mereka melakukan terobosan pembelajaran yang berpihak pada anak, melampaui batasan administrasi,” pungkasnya. Ikuti Instagram @kampusgurucikal untuk mendapatkan informasi lebih lanjut dan terbaru mengenai program Ayo Jadi Guru.

Menjadi Guru SMK yang Menghantarkan Murid Siap Bekerja

Sebagai guru SMK, apa keresahan yang paling mengganggu pikiran Bapak/Ibu selama ini? Apakah pernah cemas karena murid tidak kunjung mendapatkan pekerjaan setelah lulus? Merasa sudah merancang RPP dengan baik tapi ternyata murid tidak bisa mengembangkan kompetensi secara maksimal? Sehingga pada akhirnya gagal untuk bisa selaras dengan kebutuhan industri. Keresahan yang sama pasti juga terasa bagi Bapak/Ibu kepala sekolah. Bapak/Ibu sudah mengembangkan program yang melibatkan pemangku kebijakan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI), namun ternyata kerjasama tidak berlanjut setelah  murid PKL. Alasan utamanya karena terdapat kesenjangan kompetensi murid dengan kompetensi yang diharapkan pihak DUDI. Pada akhirnya, kenyataan bahwa angka pengangguran tertinggi merupakan lulusan SMK menjadi beban tersendiri bagi Bapak/Ibu pemimpin serta guru SMK. Merespon pergumulan tersebut, Kampus Pemimpin Merdeka bekerjasama dengan Karier.mu menginisiasi sebuah program untuk menjawab berbagai tantangan sekolah vokasi di atas, yaitu Sekolah Merdeka Belajar (SMB) Vokasi. Saatnya Pemimpin dan Guru SMK Juga Belajar Hadir sebagai pembicara pada pembukaan program SMB Vokasi pada 18 Januari lalu, Bukik Setiawan, Ketua Yayasan Guru Belajar, mengatakan bahwa terdapat miskonsepsi mengenai guru belajar. Hal tersebut mengakibatkan peran guru selama setidaknya tiga puluh tahun terakhir tereduksi, dari yang awalnya merupakan subjek lalu hanya menjadi objek dalam dunia pendidikan. Miskonsepsi tersebut ialah bagaimana guru hanya mau belajar ketika mendapatkan imbalan seperti insentif, sertifikat, atau SK. Motivasi untuk terus belajar tidak dari dalam diri namun dari iming-iming tersebut. Baca juga: Murid Diam karena Takut, Bukan Paham, Guru Perlu Bagaimana? Padahal sejatinya belajar adalah kebutuhan guru sebagai manusia. Tidak hanya murid Bapak/Ibu yang butuh belajar, namun juga Bapak/Ibu sebagai guru mereka. Terlebih pekerjaan Bapak/Ibu sebagai guru sangat dinamis dan harus terus menghadapi perubahan. Bahkan dalam sebuah penelitian menyebutkan bahwa profesi guru adalah satu dari lima pekerjaan yang memiliki tingkat stress paling tinggi akibat hal tersebut. Jika tidak terus belajar, bagaimana bisa meningkatkan kompetensi agar tetap seiring dengan perubahan? Apabila belajar tidak menjadi kebutuhan, bagaimana sebagai guru SMK dapat menghantarkan murid mencapai kompetensi yang selaras dengan dunia industri? Dengan terus belajar dan menunjukkan kompetensi, guru tidak hanya bisa menjadi objek yang hanya menunggu perintah untuk menjalankan perubahan dari pemangku kebijakan. Lebih dari itu, guru harus bisa menjadi bagian dari penggerak perubahan. Apa yang Dipelajari di SMB Vokasi? SMB Vokasi merupakan tempat belajar selama tiga bulan untuk guru SMK yang menggunakan empat kunci pengembangan yaitu kemerdekaan, kompetensi, kolaborasi, dan karier. Melalui prinsip kemerdekaan, Bapak/Ibu guru secara merdeka dapat mengatur waktu belajarnya sendiri secara asinkron. Belasan modul dapat diakses melalui aplikasi karier.mu. Pada kunci kompetensi, Bapak/Ibu mendapat kesempatan untuk mengikuti sesi mentoring dari para mentor hebat yang siap membagikan praktik baik dari pengalamannya hingga menjawab pertanyaan Bapak/Ibu. Sesi ini akan berjalan sebanyak empat kali selama pelatihan. Baca juga: Apa Peranan Orangtua dalam Mendidik Anak di Era Disrupsi? Untuk menjawab keresahan terkait kebutuhan industri, SMB Vokasi juga menyediakan ruang kolaborasi. Pada kesempatan tersebut, Bapak/Ibu pemimpin dan guru SMK dapat melakukan curah gagasan dengan pihak DUDI. Terakhir, Kampus Pemimpin Merdeka tidak ingin hasil pelatihan ini berhenti pada Bapak/Ibu. Oleh karenanya, setelah serangkaian sesi berlangsung, Bapak/Ibu guru dapat menuliskan praktik baik yang sudah dilakukan untuk terbit dalam Surat Kabar Guru Belajar. Bapak/Ibu juga bisa menjadi salah satu pembicara Temu Pendidik Nusantara yang diadakan setiap tahunnya. Kesempatan-kesempatan ini dapat mendukung Bapak/Ibu guru untuk mengembangkan karir protean kedepannya. Siap Menjadi Peserta SMB Vokasi Selanjutnya? Tahun ini, terdapat puluhan pemimpin dan guru SMK dari 12 sekolah di DKI Jakarta yang menjadi peserta SMB Vokasi. Apakah Bapak/Ibu guru juga ingin menjadi bagian dari perubahan untuk murid-murid seperti pendidik ini? Yuk ikuti akun Instagram @kampuspemimpinmerdeka agar Bapak/Ibu tidak ketinggalan informasi program-program selanjutnya!

5 Cerita Inspiratif Magang Guru Merdeka Belajar

Magang Guru Merdeka Belajar merupakan program Kampus Guru Cikal (KGC) yang terafiliasi dengan Kemendikbud dan Ristek. Tahun ini terdapat 107 mahasiswa keguruan dan non keguruan dai 51 perguruan tinggi yang bergabung menjadi peserta magang. Berikut beberapa cerita mereka yang menginspirasi. Ayunda Elok: Belajar Memanusiakan Hubungan dari Murid Kelompok Bermain (KB) yang Merdeka Belajar Cerita pertama datang dari Kak Ayunda, mahasiswa magang asal Universitas Nahdlatul Ulama Jakarta yang mendapat kesempatan praktik mengajar di Rumah Cendekia Gowa Makassar. Selama praktik lapangan Magang Guru Merdeka Belajar, Kak Ayunda merasa senang dan tidak menemukan kesulitan. Ia merasa beruntung karena mendapat penempatan di sekolah yang sudah menerapkan merdeka belajar. Kak Ayunda bahkan merasa Ia belajar dari murid yang Ia ajar. “Mahasiswa yang mendapat penempatan di sini ada dua kelompok, yaitu KB dan TK. Saya dapat yang kelompok mengajar anak TK. Namun tidak jarang kelas KB dan TK dijadikan satu dan kami mahasiswa kolaborasi mengajar,” cerita Kak Ayunda. Menurut Kak Ayunda, hal yang paling mengesankan saat Ia praktik lapangan di sekolah ini adalah bagaimana para murid sangat memiliki kepekaan satu sama lain, seperti menghidupi prinsip memanusiakan hubungan. Baca juga: 5 Cerita Inspiratif Magang Guru Merdeka Belajar “Jadi yang di kelas KB itu ada tiga anak yang berkebutuhan khusus. Misalnya anak tersebut tidak ada di kelas, maka teman-temannya langsung mencari keluar kelas. Mereka takut jika terjadi sesuatu dengan temannya,” ungkapnya. “Contoh lain saat ada teman yang jatuh, temannya langsung akan menghampiri dan bertanya ‘kamu baik-baik saja? Apakah ada yang luka?’ Jika tidak ada, ya sudah mereka akan lanjut bermain lagi,” lanjut Kak Ayunda. Menurut Kak Ayunda, kepekaan para murid tidak lepas dari peran gurunya yang sudah merdeka belajar. Sehingga kemudian ketika murid melakukan kesalahan, mereka akan diajak berdiskusi. Akhirnya para murid tahu mana yang salah dan benar, termasuk cara berhubungan dengan orang lain. Zainur Rohman: Menjadi Guru yang Berbeda Setelah Ikut Magang Guru Merdeka Belajar Selain Kak Ayunda ada Kak Zainur atau akrab dipanggil Kak Ozen yang berbagi cerita pengalamannya saat ikut program Magang Guru Merdeka Belajar. Berikut cerita seru dari mahasiswa Universitas PGRI Banyuwangi ini. Berbeda dengan Kak Ayunda yang sudah tahu tentang merdeka belajar sebelum mengikuti magang, Kak Ozen baru tau sesaat sebelum melakukan pendaftaran. “Setelah lihat pilihan tempat magang dan menemukan KGC, aku survey ke website dan media sosial. Jadi tau kegiatannya dan merasa KGC ini jempol dua lah,” ungkapnya. Baca juga: 7 Model Media Ajar Inovatif Kak Ozen mengatakan bahwa Ia banyak belajar hal baru dari magang ini bahkan mengubah mindsetnya. Sebelum mengikuti Magang Guru Merdeka Belajar, ia sudah pernah mengajar di salah satu institusi pendidikan di Banyuwangi. Saat itu, mahasiswa yang ditempatkan di Sekolah Cikal Serpong ini memiliki mindset yang sama seperti guru pada umumnya, yaitu “mengajar ya mengajar saja”. Ia tidak tahu dan tidak berusaha mencari tahu bagaimana profil atau preferensi setiap murid yang Ia ajar. “Kalau aku nggak pernah ikut Magang Guru Merdeka Belajar, setelah aku lulus nanti kemudian mengajar, maka mindset mengajarku akan seperti guru pada umumnya. Hasilnya kegiatan belajar tidak optimal dan murid tidak maksimal mengembangkan kompetensinya,” jelasnya. Ia sangat kagum dengan konsep merdeka belajar yang melibatkan murid dalam proses pembelajaran dari awal hingga akhir. Oleh karenanya saat lulus dan menjadi guru nanti, Ia akan berusaha menerapkannya, seperti memahami gaya belajar murid dan menyesuaikannya. Avika: Terkesan dengan Mentor Merdeka Belajar Cerita ketiga hadir dari Kak Avika, mahasiswa jurusan PGSD yang mendapatkan tempat praktik mengajar di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Saat sampai di Kabupaten Sanggau dan menyaksikan sendiri cara mengajar Bu Titis, mentornya, Kak Avika mengaku sangat terkesan. “Pembelajaran yang Beliau bawakan benar-benar mencerminkan merdeka belajar. Muridnya terlihat mengalami peningkatan kompetensi lewat proyek dan media yang Bu Titis gunakan,” ungkap Kak Avika. Ia bercerita, bahkan Bu Titis mengadakan proyek pasar kelas agar siswa belajar praktik jual beli secara langsung. Melalui cara tersebut, murid belajar bagaimana cara promosi dengan kalimat yang menarik hingga belajar menulis nota penjualan. Baca juga: Personalisasi Belajar Merdeka Belajar Bagi Kak Avika, apa yang Bu Titis lakukan sangat inspiratif untuk pendidik lainnya. Terlebih bagi dirinya sendiri yang selama masa perkuliahan tidak mendapat gambaran sama sekali bahwa cara mengajar bisa semenarik itu. “Biasanya dosen hanya mencontohkan kegiatan yang bisa dilakukan untuk mengajar yaitu observasi secara langsung ke pasar, lalu melihat jual belinya, tanpa ada praktik langsung,” jelasnya. Lebih lanjut Kak Avika menjelaskan bahwa ia menjadi guru yang berbeda setelah mengikuti magang ini. Sebelumnya ia pernah mengajar di tempat kursus dan hanya menyuruh muridnya mengerjakan soal yang sudah disiapkan setelah mengajar di depan kelas. Kak Avika juga mengungkapkan bahwa sebelumnya ia hanya akan mengajar di depan kelas kemudian murid akan mengerjakan soal sudah ia siapkan. Hal ini ia lakukan karena menganggap murid adalah gelas kosong yang sama sekali tidak memiliki pengetahuan sebelum memulai belajar. Oleh karenanya Kak Avika juga tidak membuat kesepakatan kelas yang penting dalam pelaksanaan merdeka belajar. “Tapi setelah dibekali tentang merdeka belajar, saya jadi melibatkan murid dalam kelas. Saya tidak lagi menganggap murid adalah gelas kosong, melainkan setengah kosong. Artinya mereka sudah memiliki pengetahuan sebelumnya tapi belum keseluruhan. Bagian yang masing kosong adalah bagian yang harus saya lengkapi,” jelas Kak Avika. Cerita Mentor tentang Mahasiswa Guru Merdeka Belajar Mentor inspiratif turut melengkapi cerita perjalanan mahasiswa peserta magang. Berikut dua dari sekian banyak cerita mentor inspiratif merdeka belajar. Guru Abdul Mujib: Saya Juga Belajar dari Mahasiswa Guru Mujib merupakan kepala sekolah SMP Negeri 24 Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Ia berkesempatan menjadi mentor PKL, setelah sebelumnya juga menjadi mentor pedagogi program magang ini. Beliau merupakan guru penggerak merdeka belajar di sekolah yang dipimpinnya. Oleh karenanya, Guru Mujib sangat antusias ketika ada mahasiswa magang merdeka belajar yang akan praktik mengajar di tempatnya. “Ini adalah kesempatan emas untuk saya mendapatkan teman seperjalanan, untuk sama-sama mencoba pembelajaran yang merdeka belajar di kelas saya,” jelas Guru Mujib. Tidak hanya mendapatkan teman untuk memperjuangkan merdeka belajar, Guru Mujib juga mengaku bahwa Beliau mendapat wawasan setiap bercerita dan berdiskusi dengan mahasiswa magang. Salah satu pelajaran yang Beliau ingat adalah ketika membahas mengenai asesmen. Baca juga: Petikan Pelajaran Kolaborasi Literasi Bermakna “Ada refleksi dari salah satu mahasiswa, bahwa asesmen adalah sesuatu yang … Read more

Magang Guru Merdeka Belajar: Siapkan Calon Guru Penggerak

Kuliah sudah hampir lulus tapi belum siap untuk mengajar? Atau bahkan sudah lulus tapi ragu untuk jadi guru? Mungkin karena kamu belum mendapatkan ilmu mengajar merdeka seperti yang sudah didapatkan teman-teman peserta Magang Guru Merdeka Belajar (MGMB). Awalnya, teman-teman peserta MGMB juga meresahkan banyak hal terkait mengajar, seperti; “Ternyata susah bikin murid fokus. Lima menit mengajar, semua sudah pada sibuk sendiri. Haruskah aku jadi guru yang galak agar mereka jadi nurut? ”  “Kok sepertinya guru-guru pusing banget ya sama RPP? Ternyata aplikasinya kok sulit, aku bisa nggak ya nantinya?” Mengapa Harus “Guru Merdeka Belajar”? Saat memutuskan untuk menjadi guru, apa yang kamu bayangkan? Mungkin kamu akan membayangkan datang setiap hari ke sekolah, masuk ke kelas, menjelaskan materi, menyiapkan soal ulangan, dan memasukkan nilai ke raport. Baca juga: 5 Cerita Inspiratif Mentor dan Mentee Magang Guru Merdeka Belajar Jika ada murid yang dapat nilai jelek, kamu akan berpikir mereka butuh mendapat pengajaran tambahan di luar kelas. Atau yang paling buruk adalah melabeli murid tersebut bodoh. Sebaliknya, murid dengan nilai 90 ke atas adalah murid yang pintar. Sayangnya hal tersebut adalah hasil miskonsepsi belajar yang sudah mendarah daging di dunia pendidikan kita. Murid yang belajar tapi malah menjadi objek dari aktivitas guru mengajar. Berikut beberapa miskonsepsi belajar yang pasti sering kamu temukan; 1. Belajar hanya untuk ujian2.  Kendali belajar ada pada guru3.  Pelajar dipaksa memiliki kebutuhan belajar dan minat yang sama4.  Belajar itu menghafal dan menggunakan rumus5. Keberhasilan belajar terstandar dengan nilai angka6. Penilaian belajar sepenuhnya adalah wewenang guru Padahal, menurut Ki Hajar Dewantara, anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik memiliki peran yang besar namun hanya sampai pada titik merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu. Dengan kata lain, murid harus merdeka dalam proses belajarnya. Dengan menjadi peserta Magang Guru Merdeka Belajar, kamu bisa menjadi penggerak perubahan agar tidak ada lagi miskonsepsi seperti di atas yang sangat merugikan murid. Pada akhirnya, prinsip ini juga akan membantu kamu untuk menghadapi permasalahan dan keresahan seperti pada bagian awal tulisan ini. Apa Itu Magang Guru Merdeka Belajar (MGMB)? MGMB adalah program magang Kampus Guru Cikal (KGC) yang secara resmi menjadi mitra industri Kemendikbud dan Ristek melalui program Magang dan Studi Independen Bersertifikat pada tahun 2021. KGC memberikan kesempatan pada mahasiswa dengan latar studi keguruan maupun non keguruan minimal semester 5 untuk menjadi peserta magang ini. “Kami menerima 107 mahasiswa dari 51 perguruan tinggi yang tersebar di seluruh Indonesia,” jelas Elisabet Susan, ketua KGC. Setelah mengikuti mentoring pedagogi selama satu bulan secara daring, peserta magang akan praktik mengajar dengan model blended learning. “Mahasiswa magang ditugaskan ke sekolah/madrasah di berbagai wilayah. Untuk tahun ini berada di 17 titik yang tersebar di 4 pulau besar di Indonesia,” lanjut Elisabet. Baca juga: Katrol Nilai dengan Hasil Asesmen Formatif, Bolehkah? WIlayah penempatan peserta Magang Guru Merdeka Belajar yakni Binjai, Tangerang, Tangerang Selatan, Depok, Jakarta Selatan, Bandung, Sukabumi, Jombang, Lamongan, Batu, Sidoarjo, Surabaya, Hulu Sungai Tengah, Sanggau, Makassar, dan Gowa. Seluruh sekolah yang menerima mahasiswa magang merupakan sekolah dari Jaringan  Sekolah Madrasah Belajar dan Komunitas Guru Belajar Nusantara. Selama magang, mahasiswa akan mendapatkan uang saku termasuk uang akomodasi penuh termasuk saat penempatan mengajar tatap muka. Elisabet mengungkapkan bahwa tujuan MGMB adalah agar semakin banyak mahasiswa yang tergerak untuk menjadi penggerak pendidikan dan melakukan perubahan ekosistem pendidikan yang lebih kolaboratif dan berpihak pada anak. “(Harapannya) semakin banyak calon guru merdeka belajar yang siap terjun ke sekolah-sekolah, sehingga semakin banyak murid yang mengalami merdeka belajar di kelas,” pungkasnya. Apa Kata Mentee? Riswan, salah satu mentee Magang Guru Merdeka Belajar angkatan pertama berharap bahwa kedepannya semakin banyak mahasiswa yang tertarik untuk mengikuti program magang yang diselenggarakan oleh KGC ini. Harapan tersebut tidak lepas dari pengalaman mahasiswa Universitas Negeri Makassar itu saat menjalani MGMB. Ia merasa banyak belajar dari para mentor dan lebih siap untuk mengajar nantinya setelah lulus. “Sebelumnya sudah magang di tempat lain. Saat program tersebut, aku tanya-tanya bagaimana caranya mengajar dan sebagainya. Aku menemukan banyak guru yang mengeluh. Seperti misalnya membuat RPP yang sangat banyak, lalu ada yang tidak diterapkan,” ungkap Riswan. “Tapi setelah ikut Magang Guru Merdeka Belajar kan dapat banyak modul, salah satunya modul Guru Merdeka Belajar. Pandanganku berubah drastis. Guru merdeka belajar itu enjoy-enjoy menjalankan tugasnya. RPP yang mereka rancang tidak memberatkan dan semua dapat diterapkan” lanjut mentee yang mendapat penempatan praktik di SDI Binakheir Depok ini. Selain itu, Riswan juga mendapat pandangan baru bahwa menjadi guru tidak hanya sekadar mengajar atau menyelesaikan target kurikulum. Ia menyampaikan bahwa orientasi pembelajaran adalah murid sehingga poin-poin pencapaian pun harus merupakan kesepakatan yang melibatkan murid. Apa Kata Mentor? Theresia Tri Darini merupakan salah satu mentor Magang Guru Merdeka Belajar berasal dari Yayasan Salib Suci Bandung. Keputusan Guru Theresia untuk menjadi mentor tidak lepas dari keresahannya ketika sulit mencari guru merdeka belajar untuk mengajar di tempat Ia bekerja. “Jangan sampai yang baru lulus hendak jadi guru, masih terpola dengan pola pendidikan konvensional. Hal ini terasa banget ketika saya banyak melakukan wawancara dengan pelamar-pelamar calon guru,” ungkapnya. Baca juga: Asesmen Nasional: Memperpanjang Derita atau Sebaliknya? “Sehingga kemudian sempat terpikir perubahan mindset ini harus dimulai dari bangku universitas. Berharap para pendatang bukan yang akan terpengaruh dengan gaya mengajar lama, tapi justru memberikan aura baru (yang merdeka belajar),” lanjut Guru Theresia. Ia pun mengatakan bahwa sangat senang menerima mentee dari program Magang Guru Merdeka Belajar. Sebagai mentor, ia dilibatkan dalam setiap proses sehingga merasa memiliki peran pada mahasiswa untuk menyiapkan bekal dunia kerja secara nyata. “Saya terlibat dengan apa yang mentee lakukan. Dari menyusun bersama bahan observasi, diskusi, hingga merencanakan prototype sesuai kebutuhan siswa,” jelas Guru Theresia. “Sebelumnya pernah jadi tempatnya belajar mahasiswa namun serasa hanya tempat,” lanjutnya. Guru Theresia mengungkapkan bahwa mahasiswa magang yang ia terima dari KGC sangat kritis dan percepatan belajarnya luar biasa. Ia menilai bahwa mahasiswa ini adalah jembatan antara (guru) yang konvensional dan millennial. Yuk Berproses di #AyoJadiGuru! Belum sempat ikut Magang Guru Merdeka Belajar tapi siap berproses untuk jadi guru yang merdeka belajar? Nantikan program #AyoJadiGuru dari Kampus Guru Cikal tahun 2022 ini!  #AyoJadiGuru merupakan program persiapan dan sertifikasi profesi guru yang terstruktur untuk mempersiapkanmu untuk jadi guru … Read more

KPB: Menjadi Pengawas Sekolah yang Menyenangkan

“Kenapa sih guru lama sekali mengurus administrasi sertifikasi? Saya sebagai pengawas sekolah seringkali jadi jengkel!” “Banyak guru dan kepala sekolah menilai saya pengawas sekolah yang menyebalkan, padahal saya hanya melakukan penilaian kinerja guru sesuai dengan regulasi.” Jika Bapak/Ibu adalah seorang pengawas sekolah, apakah pernah terbesit pertanyaan keresahan di atas? Berbagai kendala ditemukan di lapangan, seperti dianggap sebagai pengawas yang galak, tidak menyenangkan, atau mungkin “sok”. Ketika Bapak/Ibu datang ke sekolah, guru-guru malah banyak diam, bahkan menghindari. Tidak tahu harus ke mana berbagi keresahan dan mencari solusi. Pada akhirnya, Bapak/Ibu secara tidak sadar memberikan pembenaran terhadap diri sendiri. Sebab merasa sudah melakukan sesuai dengan tupoksi yang ada. Bapak/Ibu tidak sendirian. Banyak pengawas yang sering kesulitan bagaimana melakukan koordinasi yang baik dengan para guru dan kepala sekolah. Padahal mungkin Bapak/Ibu merasa memang birokrasi urusan guru atau sekolah memang ribet. Namun mau bagaimana, itu sudah peraturannya, pikir Bapak/Ibu. Miskonsepsi Pengawas Sekolah Trisno Widodo, pengawas SMP di Bogor mengatakan bahwa keresahan yang muncul seperti di atas tidak lepas dari miskonsepsi yang pengawas sekolah itu sendiri alami. “Pengawas seringkali merasa lebih tinggi posisinya dari kepala sekolah dan guru,” ungkapnya. Hal selaras juga disampaikan oleh Juniar, pengawas SMP dari Kota Binjai “Pengawas merasa seperti ‘ndoro bei’, yaitu harus dihormati. Pandangan ini salah besar,” jelas Juniar. “Dulu saat masih salah memahami konsep pengawas, saya datang dan hanya mengawasi, sesuai dengan namanya. Jadi saya hanya mencari apa yang salah dari pihak sekolah,” lanjutnya. Baca juga: Pengawas Sekolah Berbagi Setulus Hati Juniar menegaskan bahwa pengawas sekolah harus mengubah pola pikir, mau membuka wawasan, dan yang terpenting mau belajar. Pengawas merupakan bagian dari ekosistem pendidikan, sehingga turut memberikan sumbangsih besar untuk membentuk suasana belajar yang merdeka. Lebih lanjut, Juniar menjelaskan pengawas merdeka belajar adalah pengawas yang mau mendengarkan. Setelah mengetahui permasalahan guru maupun kepala sekolah, pengawas siap memberikan coaching. Pengawas merdeka belajar tidak hanya mencari hal yang salah tanpa memberi solusi. Peluncuran Komunitas Pengawas Belajar Beragam permasalahan di lapangan kerap pengawas sekolah hadapu. Memberi coaching pada ke pihak sekolah bukanlah hal yang mudah. Menjadi pengawas merdeka belajar sulit terlaksana tanpa kolaborasi. Oleh karenanya hadir Komunitas Pengawas Belajar (KPB) yang diprakarsai oleh Yayasan Guru Belajar. KPB merupakan wadah untuk pengawas sekolah dari berbagai wilayah untuk saling membagi praktik baik. Meskipun berbagai kegiatan bertukar praktik baik telah dilakukan sejak lama, KPB secara resmi baru diluncurkan pada 21 November 2021 lalu di Sekolah Cikal Cilandak. Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Trisno yang saat ini menjadi sekretaris KPB menjelaskan bahwa visi KPB adalah adanya transformasi pengawas madrasah/sekolah dalam mewujudkan merdeka belajar. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa melalui KPB, para pengawas sekolah dapat bergerak maju bersama untuk mewujudkan pendidikan Indonesia yang lebih baik. Juniar, ketua terpilih KPB berharap asosiasi yang saat ini dipimpinnya dapat menjadi komunitas pengawas yang besar dan menjadi penggerak seluruh pengawas untuk meruntuhkan miskonsepsi yang telah ia jelaskan sebelumnya. Apa Manfaat Bagi Pengawas Sekolah Gabung di KPB? Sampai sini mungkin Bapak/Ibu bertanya “Memangnya ada apa di KPB sehingga dapat membantu meruntuhkan miskonsepsi? Apa untungnya bagi saya ketika gabung ke komunitas ini?” Karniti, ketua divisi coaching KPB yang hadir saat peluncuran menjelaskan bahwa sejauh ini terdapat dua program utama di KPB, yaitu Obrolan Bermakna dan Temu Pengawas. Obrolan Bermakna adalah pertemuan mingguan pengawas merdeka belajar dengan sekolah binaannya. Melalui Obrolan Bermakna, pengawas merdeka belajar mendengarkan apa masalah yang ditemukan dan dihadapi oleh pihak sekolah. Dari temuan masalah tersebut, pengawas memberikan coaching agar masalah dapat terselesaikan dengan baik.  Juniar mengungkapkan bahwa melalui Obrolan Bermakna banyak manfaat yang bisa dirasakan baik oleh pengawas maupun guru dan kepala sekolah. “Bahasanya adalah ‘obrolan’, jadi suasana saat menemui pihak sekolah itu kekeluargaan, lumer, dan santai. Sehingga kita tidak merasa kaku untuk berdiskusi,” jelasnya. Baca juga: Kuota Semangat Belajar yang Tidak Habis-Habis Sedangkan Temu Pengawas merupakan pertemuan bulanan yang mengundang seluruh pengawas di KPB. Melalui pertemuan tersebut, pengawas dapat mengungkapkan keresahannya dan mendapatkan solusi dari teman sesama pengawas sekolah. “Biasanya kita awali dengan menentukan topik pembicaraan sesuai dengan isu dan keresahan para pengawas di lapangan. Pada akhirnya kita jadi bertukar pikiran dan tahu jika menemukan permasalahan serupa solusinya seperti apa,” jelas Juniar. Selain secara rutin mengadakan pertemuan, setiap pengawas di KPB akan mendapatkan modul pembelajaran. Melalui modul tersebut, pengawas dapat belajar banyak hal. Seperti misalnya belajar cara berkomunikasi dengan pihak sekolah dan belajar kepemimpinan. Modul ini akan mempermudah pekerjaan seorang pengawas karena mendapatkan tuntunan yang jelas. Yuk Menjadi Pengawas Merdeka Belajar! “Pengawas yang ada di KPB pasti berubah,” ungkap Juniar. Tentu saja maksudnya adalah berubah ke arah positif. Tahu bagaimana caranya  untuk turut membangun ekosistem pendidikan yang merdeka belajar. Sedangkan menurut Trisno, perubahan tersebut akan terasa ketika pada akhirnya pengawas dirindukan oleh pihak sekolah untuk segera datang. Tidak seperti sebelumnya yang kedatangannya ditakuti.  Bagi Karniti, salah satu hal unik dari KPB adalah tidak adanya senioritas. “Tidak peduli pendatang baru maupun lama tidak akan dibanding-bandingkan. Tidak ada sebutan senior-junior. Semuanya setara dan sama-sama ingin belajar,” jelasnya. Oleh karenanya, jika Bapak/Ibu pengawas sekolah baru ingin bergabung dengan KPB tidak perlu ragu. Ekosistem internal KPB akan menyambut Bapak/Ibu dengan hangat, siap membimbing, siap mendengar, dan siap belajar bersama Bapak/Ibu. Yuk menjadi pengawas merdeka belajar bersama KPB dengan klik .

Yayasan Guru Belajar Ajak Orprof Kolaborasi Merdeka Belajar

“Apakah mungkin guru menerapkan merdeka belajar? Bagaimana dengan standar penilaian sekolah?” “Bagaimana saya bisa memperhatikan potensi setiap anak, jika saya menangani lebih dari 30 anak dalam satu kelas?” Pertanyaan di atas mungkin menjadi pertanyaan semua para pendidik ketika mendengar konsep merdeka belajar. Bagi banyak pihak, konsep ini terlalu progresif dan utopis untuk diterapkan terlebih jika sekolah bukan berada di wilayah urban. Apakah Bapak/Ibu salah satunya? Oleh karenanya, Yayasan Guru Belajar (YGB) hadir mendampingi banyak guru untuk mewujudkan merdeka belajar. Tahun 2021 ini, YGB telah mendampingi guru dari 38 daerah, bertambah 34 wilayah dari tahun sebelumnya. Prestasi bagi YGB, namun demikian angka ini masih kecil membandingkannya dengan luas cakupan wilayah Indonesia. Artinya, perjuangan masih panjang. Teori Difusi Inovasi: Mengapa Kolaborasi Penting? YGB telah mengusung konsep merdeka belajar sejak yayasan ini didirikan tahun 2016. Selama lima tahun banyak kegiatan diadakan untuk mendukung pemberdayaan guru agar menjadi penggerak perubahan melalui pendidikan.   Sebagai upaya meningkatkan dampak, pada 19 November 2021, YGB mengajak berbagai organisasi profesi (orprof) guru turut serta untuk mendukung gerakan tersebut melalui program kolaborasi Pendidik Penggerak Merdeka Belajar (PPMB). Baca juga: Guru Merdeka Belajar, Guru yang Berdaya dengan Berkolaborasi Beberapa orprof seperti Sekolah Guru Indonesia, Komunitas Pengawas Belajar, Jaringan Sekolah Madrasah Belajar, Ikatan Guru Indonesia, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama, dan Komunitas Guru Belajar Nusantara hadir dalam acara pengenalan ini. Bukik menjelaskan bahwa program PPMB berangkat dari kesadaran bahwa banyak organisasi bergerak pada bidang pendidikan namun sibuk berjalan sendiri-sendiri. Padahal dalam teori difusi inovasi, perubahan membutuhkan penggerak atau innovator. Penggerak adalah orang yang berani untuk mencoba suatu hal baru serta siap menerima tantangan dan resiko ketika melakukannya. Sehingga melangkah sendirian akan sangat sulit. Apa Itu Sebenarnya Pendidik Penggerak Merdeka Belajar? Lebih lanjut Bukik menjelaskan bahwa PPMB merupakan program kerjasama yang memiliki tiga bentuk kerjasama, sebagai berikut. Pengembangan Organisasi: hibah untuk pengembangan kapasitas organisasi, terutama untuk memberdayakan penggerak merdeka belajar. Manajemen Program: hibah untuk pendampingan peserta program. Hibah Pelaksanaan Program: hibah ketika peserta mengikuti modul program. Melalui program PPMB, Bukik berharap semakin banyak orprof serta guru di dalamnya terlibat menjadi penggerak merdeka belajar. Sebab menurutnya, dengan kolaborasi maka pergerakan akan semakin kuat. Setelah kuat, maka gerakan ini baru bisa berdampak pada perubahan pendidikan. Apakah Merdeka Sama Dengan Bebas? Setelah pemaparan mengenai YGB secara umum dan PPMB khususnya, muncul beberapa pertanyaan menarik dari para perwakilan orprof. Salah satunya, apa maksud dari “merdeka”? Apakah sama dengan bebas? Menjawab pertanyaan tersebut, Bukik mengatakan bahwa merdeka tidak sama dengan bebas. Banyak pula yang mengaitkan dengan nilai liberalisme (klasik), namun menurutnya merdeka juga tidak menyamai paham tersebut. Sebab merdeka belajar tidak berarti siswa dapat memiliki kebebasan mutlak terhadap proses belajar. Namun demikian mereka memiliki hak untuk turut mengatur tujuan, cara, dan cara belajarnya. Bukik menjelaskan bahwa kata kunci dari merdeka belajar adalah pelibatan . Pelibatan anak, guru, dan orang tua dalam penentuan proses belajar. Siswa pada umumnya belum dapat memahami sepenuhnya apa yang mereka inginkan dan butuhkan, sehingga mereka perlu bimbingan guru maupun orang tua.  Jika ingin disamakan dengan suatu paham tertentu, maka merdeka belajar lebih sejalan dengan demokrasi. Sebab konsep pendidikan ini mengutamakan dialog, negosiasi, dan konsensus dari guru, murid, serta orang tua. Apakah Mungkin Menerapkan Merdeka Belajar? Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, banyak pihak menilai bahwa merdeka adalah konsep yang utopis. Hal tersebut juga menjadi pemikiran beberapa perwakilan orprof saat pertama kali mendengarkan penyampaian Bukik pada hari itu. Beberapa guru dari orprof menyampaikan kendala yang mungkin akan mereka hadapi ketika membayangkan ketika merealisasikan merdeka belajar. Seperti misalnya standar dari sekolah, beban kerja yang berlebih hingga harus mengajar 40 jam perminggu, dan masih diandalkannya penilaian sumatif untuk menilai hasil belajar siswa. Menanggapi keresahan itu, Bukik mengatakan bahwa hal tersebutlah yang menjadi tujuan PPMB yaitu mengedukasi ekosistem agar mau menjadi penggerak. Dalam satu sekolah mungkin hanya berawal dari satu guru, lalu satu guru tersebut berbagi dengan guru lainnya. Pada akhirnya, tercipta ekosistem guru penggerak dalam satu sekolah yang bisa mengadvokasi ke kepala sekolah untuk berubah. Begitu seterusnya secara struktural ke atas. Baca juga: Kemerdekaan Belajar Bukan Diberikan Tetapi Kita Gerakkan Bukik menilai bahwa transformasi memang sebaiknya dimulai dari lingkup daerah. Pasalnya, apabila pusat menentukan suatu regulasi tertentu, hal tersebut akan sia-sia apabila daerah tersebut tidak berdaya. Ujungnya, implementasi nol besar. Oleh karenanya, Ia menegaskan betapa pentingnya peran tamu undangan yang hadir untuk ikut turut sebagai penggerak melalui PPMB. Praktik Nyata di Pesantren Afkaaruna: Santri Merdeka Menentukan Proses Pembelajaran Meskipun terasa utopis bagi banyak orang, namun tidak sedikit guru yang telah membuktikan bahwa merdeka belajar bisa dipraktikkan. Dalam kesempatan tersebut, YGB membagikan buku “Merdeka Belajar di Ruang Kelas” karya Najeela Shihab dan Komunitas Guru Belajar kepada seluruh perwakilan orprof yang hadir.. Buku tersebut berisi kumpulan cerita praktik baik dari para guru dari berbagai wilayah di Indonesia. Selain itu, ada satu guru inspiratif dari Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) yang berbagi langsung bagaimana praktik merdeka belajar di sekolah tempatnya mengajar. Namanya Wardania Dewi, guru bahasa Inggris di Pesantren Afkaaruna, Yogyakarta.Wardania menjelaskan bahwa pesantren tempatnya mengajar menggunakan kurikulum  campuran baik internasional maupun nasional. Kurikulum tersebut kemudian diolah oleh para guru dan dipaparkan ke para santri sebelum tahun ajaran dimulai. Pada kesempatan tersebut, santri boleh menyampaikan pendapatnya mengenai rencana pembelajaran. Seperti misalnya ada yang ingin mereka ubah atau geser ke semester berikutnya. Wardania mengungkapkan bahwa proses ini yang pihak pesantren inginkan, yaitu para santri dengan percaya diri mengungkapkan opini. Terkait asesmen, pesantren Afkaaruna menggabungkan metode sumatif dan formatif. Wardania mengatakan bahwa tempatnya mengajar masih tetap mengadakan ujian untuk mendapatkan nilai angka. Namun demikian, hasil akhir penilaian tidak hanya berdasarkan nilai-nilai tersebut. Pada rapor, pesantren Afkaaruna menyertakan tabel yang menjelaskan bagaimana proses pendidikan santri selama di pesantren. “Mungkin ini seperti raport anak PAUD ya. Jadi penuh dengan kalimat yang menjelaskan perkembangan santri,” ungkap Wardania. Menerapkan cara yang belum umum dilakukan oleh banyak sekolah tentu bukan hal yang mudah. “Ada orang tua yang bertanya mengapa anak mereka diberi kemerdekaan seperti itu. Bahkan ada orang tua santri yang menyebut pesantren Afkaaruna tidak memiliki power atas proses pembelajaran santrinya,” jelas Wardania. Namun hal tersebut tidak menyurutkan langkah pendidik dari pesantren Afkaaruna untuk terus menjalankan metodenya tersebut. … Read more

Menulis Praktik Baik Pembelajaran Merdeka Belajar

Tulisan merupakan salah satu media berbagi yang efektif. Semakin banyak guru berbagi pengalaman praktik baiknya, semakin banyak juga guru yang akan terinspirasi dan menerapkan hal yang sama. Sehingga perubahan pendidikan ke arah yang lebih baik akan semakin cepat dan semakin luas jangkauannya. Namun terkadang kita sering bingung ketika harus menulis. Dan kebingungan itu berubah menjadi ketakutan ketika beredarnya isu kalau menulis itu susah sehingga membuat kita mengurungkan niat untuk menulis. Apa kesulitan yang sering Bapak dan Ibu hadapi saat menulis praktik baik? Apakah Bapak Ibu sering mengalami writer’s block atau kebuntuan menulis karena rasanya sulit saat ingin mulai menulis ? Atau Bapak dan Ibu guru sering mengalami kesulitan saat mengembangkan paragraf? Jangan khawatir Bapak Ibu! Karena pada tulisan ini kita akan membahas jurus rahasia agar dapat menulis dengan mudah.   Yap, ada jurus rahasia  yang membuat menulis itu mudah. Berhubung pembahasan kita mengenai praktik baik pembelajaran yang merdeka belajar, maka tulisan ini akan menjabarkan jurus rahasia untuk mudah menulis praktik baik tersebut. Yap, jurus rahasia itu adalah formula ATAP. Formula ATAP terdiri dari Awal, Tantangan, Aksi, dan Perubahan. Berikut penjelasannya. 1.      Awal Bagian ini berada di bagian pembuka. Bapak dan Ibu guru bisa menjelaskan kondisi awal pembelajaran seperti tanggung jawab sebagai guru dan tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Contoh:  “Sebagai guru saya memiliki keinginan agar murid-murid saya bisa antusias dalam belajar.” Dari contoh di atas dapat kita lihat seorang guru yang memiliki keinginan atau tujuan agar murid-muridnya antusias dalam belajar. Hal ini memperlihatkan kondisi awal dimana murid-murid tersebut belum memiliki antusiasme dalam belajar. 2.      Tantangan Pada bagian ini, Bapak dan Ibu guru bisa menuliskan tantangan yang harus diselesaikan untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut. Bentuk tantangan in bisa bermacam-macam. Bisa berbentuk kebingungan, keresahan, ketakutan, masalah, atau suatu hal yang menghambat tercapainya tujuan pembelajaran. Contoh: “Namun ternyata murid saya lebih suka main HP di kelas saat pengajaran berlangsung.” Menyambung dari contoh poin nomor satu, ternyata guru tersebut menemukan kendala dalam mewujudkan tujuannya yakni murid-muridnya lebih suka main HP saat pembelajaran berlangsung. Baca juga: Mendaftar Temu Pendidik Nusantara, ini alasan penting yang perlu guru ketahui 3.      Aksi Pada bagian ini Bapak dan Ibu guru bisa menuliskan solusi atau strategi apa yang telah Bapak Ibu guru lakukan untuk mengatasi keresahan atau kendala yang terjadi. Di sini Bapak dan Ibu guru boleh menuliskan semua solusi yang telah Bapak Ibu coba. Misalkan Bapak Ibu sudah menerapkan strategi pertama namun belum berhasil lalu mencoba strategi kedua dan seterusnya, maka Bapak Ibu guru bisa menceritakan berapapun strategi yang Bapak Ibu guru lakukan hingga berhasil dan tujuan tercapai. Bapak Ibu guru bisa ceritakan bagaimana mendapat ide tersebut dan alasan memilihnya sebagai solusi dari masalah yang sedang dihadapi. Contoh: “Saya mulai mencari cara, salah satunya memanfaatkan kesukaan murid, yaitu membuat pengajaran menggunakan HP.” Dari contoh di atas dapat kita lihat jika guru tersebut berusaha mencari cara agar tujuannya tercapai namun tetap berorientasi pada murid. akhirnya guru tersebut memiliki ide untuk menggunakan HP sebagai media pengajaran karena disukai murid. Dibagian ini, Bapak Ibu guru bisa menceritakan langkah-langkah yang dilakukan apa saja atau bagaimana merancang pembelajaran tersebut. 4.      Perubahan Pada bagian akhir ini Bapak dan Ibu guru bisa menuliskan hasil refleksi terhadap keseluruhan proses. Pelajaran apa yang didapat selama menghadapi tantangan atau hambatan yang ada. Apa kelebihan dari aksi yang sudah dilakukan dan apa kelemahannya. Untuk kelebihan bisa dipertahankan kedepannya dan untuk kelemahan bisa diperbaiki dan dikuatkan agar lebih baik kedepannya. Contoh: “Tak disangka murid menjadi lebih antusias dalam belajar ketika dipahami dari apa yang mereka sukai.” dari contoh di atas dapat kita lihat bahwa strategi yang digunakan guru tersebut berhasil. Tujuan tercapai namun murid tetap senang dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Dari masing-masing bagian di atas, Bapak Ibu guru bisa menuliskan satu sampai empat kalimat saja sebagai poin pokoknya. Setelah mendapat kerangka tulisan dari format ATAP, Bapak Ibu guru bisa lanjut mengembangkan setiap pokok paragraf dari masing-masing bagian di atas. Sebenarnya kalau dilihat menulis dengan formula ATAP ini sama seperti menulis alur cerita di cerpen atau novel. Ada tahap pengenalan, konflik, lalu penyelesaian. Untuk membantu Bapak Ibu guru dalam menulis dengan Formula ATAP di atas, berikut disajikan gambar Kanvas Penulisan Praktik Baik Pembelajaran. Berikut disajikan contoh dari penulisan praktik baik pembelajaran dengan formula ATAP. Nah, bagaimana Bapak Ibu guru, menulis itu mudah kan? Ingin belajar menulis praktik baik lebih lanjut? Yuk, ikuti Temu Pendidik Nusantara VIII yang akan diselenggarakan pada 20-21 November 2021. TPN kali ini bertema “Merayakan Asesmen, Mendesain Ekosistem Merdeka Belajar”. Bapak dan Ibu guru dapat belajar menulis praktik baik lebih lanjut di kelas menulis sekaligus belajar bersama #1000Pembicara. Yang sudah tidak sabar bisa langsung klik link di bawah ini ya. Daftar di sini tpn.gurubelajar.org

Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek: Students’ Movie Project

Murid lesu, tidak bersemangat dan termotivasi, sering membuat kegaduhan di kelas, atau prestasi terus menerus mengalami penurunan? Apakah bapak dan ibu guru pernah mendapati keadaan seperti ini? Bisa jadi ini adalah gejala-gejala ketika murid sedang merasa bosan dengan metode pembelajaran, dan mungkin juga ini adalah bentuk keluhan murid jika mereka sedang bosan dengan metode pembelajaran yang diterapkan. Jika iya jangan dibiarkan ya bapak dan ibu guru, karena ini tentunya akan menghambat murid dalam belajar. Namun tenang bapak dan ibu guru, kali ini bapak dan ibu guru akan dikenalkan dengan Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek. Lantas, apa sih Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek itu? Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek adalah metode pengajaran di mana murid memperoleh pengetahuan dan keterampilan dengan secara aktif terlibat dalam dunia nyata dan proyek yang bermakna secara pribadi atau berkelompok. Dalam Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek ini, murid akan memanfaatkan keterampilan membangun tim melalui kolaborasi. Murid dibebaskan memberikan pembagian tugas dalam tim dan merencanakan bagaimana mereka akan bekerja sama. Lalu, bagaimana contoh nyata dari Praktik Pembelajaran Proyek ini? Untuk lebih jelasnya, mari kita simak cerita dari Pak Madya Giri Aditama, yang merupakan anggota KGB Batang serta mengajar di STKIP Muhammadiyah Batang.  Menerapkan pembelajaran yang dapat membangun dan mengembangkan kompetensi serta kreativitas murid merupakan tujuan keberlanjutan yang ingin dicapai semua guru. Begitu juga dengan Pak Madya, dalam pembelajaran bahasa Inggris yang diampunya, murid dituntut menguasai empat kemampuan dasar, yaitu Berbicara (speaking), mendengar (listening), membaca (reading), serta menulis (writing). Menurut beliau, tentu saja ini membutuhkan waktu dan instrumen lebih banyak jika melakukan asesmen terhadap setiap kemampuan dasar secara terpisah. Pak Madya menerapkan kegiatan asesmen formatif yang dilakukan secara berkala dan bertahap sehingga dapat membantu murid untuk lebih memahami materi pembelajaran dengan lebih matang. Dikatakan oleh Pak Madya jika hambatan dan kendala yang sering dilakukan oleh murid dalam praktik bahasa Inggris diantaranya adalah keterbatasan kosa kata (vocabulary) yang dimiliki, tata bahasa (grammar), serta pelafalan (pronunciation). Faktor-faktor tersebut sangat penting dalam pembelajaran bahasa serta penerapannya dalam kehidupan nyata. Ditambah lagi jika durasi dan jumlah pertemuan yang terbatas juga mempengaruhi tingkat keberhasilan murid dalam memahami konteks isi pembelajaran dengan sempurna. Oleh karenanya, menurut beliau sangat penting bagi murid untuk menguasai keempat kemampuan dasar tersebut beserta faktor penunjang yang menjadi komponen dalam kemampuan dasar bahasa Inggris tersebut.  Baca juga: Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar, Solusi Persoalan Guru Lantas, Pak Madya pun memikirkan untuk menerapkan metode pembelajaran berbasis proyek. Hal ini yang telah coba diterapkan oleh Pak Madya dalam pembelajaran bahasa Inggris untuk mahasiswa semester 2 di Universitas Muhammadiyah Surakarta program English for International Class (EIC) selama tiga tahun dan mahasiswa semester 2 di STKIP Muhammadiyah Batang selama dua tahun ini. Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek berupa asesmen yang beliau terapkan dilakukan dengan menggunakan satu metode yang dapat melakukan asesmen terhadap semua kriteria penilaian yang ada dalam pembelajaran bahasa Inggris secara bertahap dan berkelanjutan. Ternyata prasangka tentang kesulitan belajar dan menggunakan bahasa Inggris masih menjadi momok serta kendala dalam pembelajaran bahasa Inggris, terutama bagi mahasiswa di luar program studi bahasa Inggris. Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek yang melibatkan strategi, dan media yang variatif dirasa cocok oleh Pak Madya guna meningkatkan ketertarikan murid dapat mengembangkan rasa ingin tahu dan kesadaran akan kebutuhan bahasa Inggris. Walaupun sudah dewasa, tetap tidak mudah dalam memberikan pemahaman tentang pentingnya bahasa asing kepada mahasiswa. Kesadaran akan kebutuhan penguasaan bahasa Inggris perlu disampaikan di awal pembelajaran agar guru dapat memetakan tahap-tahap asesmen dan evaluasi. Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek memudahkan guru dalam melakukan asesmen Bernama Students’ Movie Project, yang mana adalah kegiatan serta tugas yang Pak Madya berikan kepada mahasiswa untuk merancang, merekam suatu cerita dengan menggunakan bahasa Inggris, serta mengemasnya dalam suatu video yang menarik dan mendidik. Dengan memanfaatkan perkembangan teknologi dan kemampuan literasi digital, murid tidak mendapat beban berat dalam mengadakan alat untuk mengerjakan tugas karena semua bisa menggunakan gawai yang mereka miliki. Di sini ada beberapa tahap yang Pak Madya lakukan dalam penyusunan Students’ Movie Project, sekaligus sebagai asesmen formatif. Diawali dengan membentuk kelompok, kemudian dilanjutkan dengan merencanakan konsep cerita serta menulis naskah percakapan yang akan dibawakan oleh setiap anggota kelompok. Beliau memberikan kebebasan dalam menentukan topik (tema), sesuai dengan kesukaan dan ketertarikan murid, selama sesuai dengan pendidikan dan motivasi remaja, serta tidak mengandung unsur sara dan ditentukan secara berdiskusi. Pada proses penulisan cerita dan naskah, Pak Madya melakukan asesmen kemampuan menulis (writing), sekaligus memberikan revisi dan koreksi pada sesi konsultasi. Hasil tulisan dijadikan sebagai sumber latihan pembacaan naskah guna melancarkan serta menghafalkan pengucapan yang benar. Pada tahap ini, beliau sekaligus melakukan asesmen kemampuan membaca (reading), sembari memberikan umpan balik terhadap cara eksekusi membaca murid. Konsep cerita dan naskah yang telah dihafalkan dibawakan secara spontan dan dikembangkan sesuai dengan improvisasi masing-masing. Pada sesi ini beliau juga melakukan asesmen kemampuan berbicara (speaking) tahap awal sebelum asesmen pada hasil akhir nanti. Setelah tahap tersebut cukup, dilanjutkan tahap perekaman video. Proses ini tidak berlangsung secara cepat. Diperlukan waktu dan percobaan berulang-ulang guna menghasilkan cerita dan pengucapan yang tepat. Proses penyuntingan, pemilihan gambar, dan penyelesaian keseluruhan dilakukan secara berkelompok dan merupakan bentuk hasil karya buah kerja sama seluruh anggota kelompok. Video hasil akhir pembuatan tugas ini dikumpulkan dan diputar untuk dievaluasi bersama. Evaluasi dan tukar pendapat dilakukan dengan murid dari kelompok lain guna mendapatkan umpan balik variatif dan membangun. Dalam evaluasi bersama ini diterapkan asesmen kemampuan mendengar (listening), yaitu dengan meminta murid untuk menyimak, menuliskan ulang konsep cerita, serta menjawab pertanyaan mengenai video hasil karya kelompok lain. Dari hasil akhir evaluasi karya, dapat diketahui perbedaan dan perkembangan dalam memahami dan melakukan eksekusi terhadap perbaikan yang telah dilakukan pada setiap tahapan asesmen dalam proses pembuatan tugas tersebut. Hasil akhir dalam pembelajaran bahasa Inggris adalah praktik. Dengan menerapkan movie project ini, murid dapat melakukan praktik berbahasa Inggris dengan senang dan terkonsep. Guru dapat melakukan asesmen dalam setiap tahap proses. Setidaknya ada lima tahap pembuatan tugas. Pertama, tahap penyusunan dan penulisan cerita serta naskah. Kedua, proses berlatih membaca naskah. Ketiga, proses berlatih berbicara dan peran. Keempat, proses perekaman dan penyuntingan. Kelima, penyelesaian tugas dan evaluasi bersama. Seperti kata peribahasa: sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui, dalam keseluruhan tahap tersebut Pak Madya melakukan … Read more