Komunitas Guru Belajar dan Tradisi Bertanya

Kepada yang TerhormatMas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RIDi Jakarta. Tabik. Semoga Tuhan yang Maha Kuasa meridhoi semua usaha dan aktivitas hari ini. Perkenalkan, nama saya Usman Djabbar Mappisona, mewakili Komunitas Guru Belajar Nusantara. Hari ini, kami bergembira. Betapa senangnya mendapatkan undangan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Perkumpulan guru yang baru saja mendeklarasikan dirinya sebagai organisasi profesi guru, hari ini bisa berkumpul dengan Mas Menteri, kawan-kawan Asosiasi Profesi, para pakar dan tokoh pendidikan di negeri ini. Di undangan yang dikirimkan kepada kami, tertera kesediaan untuk menuliskan dua atau tiga masalah yang mendesak yang harus segera diselesaikan oleh kita semua. Masalah-masalah itu tentu saja versi kami, berdasarkan pengalaman kawan-kawan guru di berbagai daerah. Masalah yang kami ungkap adalah aspirasi yang disampaikan rekan-rekan sejawat kami pada Kongres pertama yang berlangsung baru-baru ini. Pada sesi kebutuhan dan kontribusi daerah. Apa masalah yang dihadapi oleh kawan-kawan guru di daerah dan kontribusi apa yang bisa diberikan. Kebutuhan dan kontribusi tersebut kemudian kami padatkan menjadi tiga poin. Mas Menteri yang terhormat, Poin pertama, sesungguhnya sudah dilakukan pihak kementerian minggu ini: mendengarkan masalah-masalah yang harus segera diselesaikan. Jujur Mas, kami sudah lama menunggu untuk ditanya-tanya. Diajak bicara. Membangun percakapan. Apa saja masalah yang terjadi setiap hari di sekolah, ruang kelas dan ruang lain sepulang murid-murid dari sekolah. Puji Tuhan, hari ini pihak kementerian mewujudkannya. Harapan kami, ini menjadi tradisi saling bertanya. Menjadi budaya dari atas sampai bawah. Dimulai dari kementerian, kepala dinas pendidikan provinsi/kabupaten, kepala sekolah dan para guru di ruang kelas. Betapa berdampaknya tradisi ini: setiap guru akan selalu bertanya pada setiap murid-muridnya. Mohon izin Mas Menteri, kami memberi satu contoh.Tentang kemerdekaan guru memilih pelatihan sendiri. Kami merasa saat ini belum pernah ditanya-ditanya jenis pelatihan apa saja yang paling kami butuhkan. Setiap undangan yang datang ke sekolah hanya untuk menghadiri. Apalah daya kami untuk menolak? Akibatnya jelas. Kegiatan pelatihan bersifat rutin, membosankan dan kehilangan daya tarik sama sekali. Banyak yang merasa terpaksa mengikuti diklat karena perintah pimpinan bukan karena kebutuhannya. Cerita yang berserakan, kerap terdengar. Bagaimana diklat gratis di hotel berbintang hanya untuk memenuhi kuota peserta, bukan karena benar-benar dibutuhkan. Bagaimana seharusnya? Siapkanlah formulir yang berisi pertanyaan: untuk meningkatkan keterampilan Anda sebagai guru, jenis pelatihan apa yang dibutuhkan? Percayalah, kami pasti menjawab sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi di ruang kelas. Hasilnya pasti dahsyat. Tersedia semacam bank data kebutuhan pelatihan. Sebutlah dengan pemetaan. Sudilah pihak kementerian memfasilitasi kawan-kawan guru kami mengikuti satu atau beberapa diklat yang diminati, yang sesuai dengan kebutuhan, yang cocok dengan situasi kelas yang dihadapinya. Percayalah. Jika tradisi bertanya ini terus dirawat, maka akan berlanjut ke ruang kelas. Para guru juga akan terbiasa untuk bertanya pada murid-muridnya: ‘mengapa penting menguasai’, bukannya ‘bagaimana menguasainya’. Mengapa penting untuk belajar, bukan bagaimana harus belajar. Keduanya berbeda. Mas Menteri yang terhormat. Tradisi bertanya yang kami rawat ini kemudian mengarahkan pada soal yang kedua. Menjawab pertanyaan-pertanyaan murid dan sejumlah masalah yang kami hadapi di ruang kelas kemudian berkembang menjadi praktik baik. Besar keinginan kami untuk menyampaikan kepada bapak Menteri bahwa dihari deklarasi kemarin kawan-kawan kami di daerah telah menulis dan berbagi 293 praktik baik pengajaran. Semua praktik baik ini kami rangkum dalam Surat Kabar Guru sebanyak 23 edisi dan empat buku. Praktik baik yang ditulis oleh guru, editornya berasal dari guru dan dipraktikkan kembali oleh guru. Praktik belajar putaran ganda. Kawan kami dari kabupaten Sanggau mengembangkan kecakapan literasi murid-muridnya dengan membuat adonan kue. Dari merumuskan rencana kegiatan, menyiapkan bahan, membuat adonan sampai proses akhir: melakukan refleksi. Pada bagian mana yang harus diperbaiki? Kawan kami dari Makassar memainkan Congklak bersama murid-muridnya untuk melatih keterampilan memutuskan. Guru Pekalongan mengembangkan keterampilan berbahasa Indonesia melalui minat dan kegemaran murid-muridnya. Lalu apa masalahnya? Kawan-kawan kami di daerah masih merasa berjalan sendirian. Praktik baik belum menjadi tradisi sekolah, tradisi dinas pendidikan atau mungkin tradisi kementerian. Kami gembira mendengar bahwa kegiatan berbagi praktik mengajar juga telah diampu pihak kementerian melalui kegiatan pengembangan kompetensi guru berbasis zonasi. Semoga saja program ini berkelanjutan, tidak berhenti hanya sebagai bahan ajar pelatihan. Mas Nadiem Makarim. Poin ketiga yang ingin kami sampaikan adalah terkait dukungan terhadap organisasi profesi. Kami percaya bahwa persoalan pendidikan tidak bisa dilakukan sendirian. Kompetensi guru bukan hanya urusan kementerian saja. Mesti serempak dan berbarengan. Kami ingin terlibat. Setelah melakukan perjalanan panjang selama lima tahun, kami telah telah melakukan ribuan temu pendidik. Akhirnya, pada tanggal 25 Oktober 2019, 1.300 guru sepakat, Komunitas Guru Belajar mendeklarasikan dirinya sebagai salah organisasi profesi guru. Benar. Kami masih sangat muda usia. Harus belajar sebanyak-banyaknya dari berbagai pihak. Tapi percayalah Mas, kami punya niat yang baik untuk mengajak rekan guru saling menguatkan dan berkolaborasi. Kami ingin berdiri dan bergerak bersama kawan-kawan dari perkumpulan guru yang telah berdiri lebih awal. Kami ingin melibatkan diri memajukan profesi guru. Bukankah ini maksud dan tujuan pertemuan kita? Mohon dukungannya. Demikian tiga hal yang menurut kami perlu untuk disampaikan. Terima kasih telah diundang hadir. Jakarta, 4 November 2019Usman Djabbar MappisonaKetua UmumKomunitas Guru Belajar Nusantara

Guru Merdeka Belajar, Reflektif dan Merancang Perubahan

Kegiatan Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar ini merupakan Temu Pendidik Sekolah (TPS) yang pertama diadakan di Aurora Fast and Fun Bandung. Kegiatan ini dilaksanakan tanggal 4 Mei 2018. Diadakan karena kesadaran bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, maka diperlukan kolaborasi dengan semua orang dan semua peran. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan ekosistem pendidikan yang lebih baik. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama Para pengajar kami memiliki peran sebagai pengajar dengan motivasi yang berbeda-beda. Tak banyak yang memiliki passion tinggi terhadap peran dan bidangnya di dunia pendidikan. Hal ini menjadi sebuah tantangan ketika membahas tentang guru merdeka belajar. Tantangannya adalah para pengajar akan merasa bahwa bahasan hari itu tidak penting. Saya membayangkan akan lahir suara-suara dalam batin para pengajar seperti : “Apa sih nih acara gak penting banget. Dengan pendidikan saja aku tak peduli. Dengan proses belajar saja aku tak suka. Apalagi membahas tentang guru merdeka belajar. Ahhh…”Karenanya menurut saya menjadi penting, bersama-sama menyadari bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Pada hari itu, kami menyimpulkan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, dengan cara mengamati bagian awal video Pesta Pendidikan 2019: Ngobrol Publik Online berikut dan video Lihatlah Pengaruh Tontonan TV pada Anak (https://youtu.be/-U5DOVoVhdU) . Salah satu yang paling mengena dari video tersebut adalah ketika anak-anak berkata bahwa selain dari orang tua dan keluarga, mereka juga belajar dari youtube. Hal itu menunjukkan bahwa anak-anak belajar dimana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja yang ada di sekitarnya. Tak masalah bila belajar dari youtube dengan content yang sesuai dengan usianya. Kenyataannya anak-anak yang alamiahnya memiliki kuriositas tinggi, akan tertarik dengan content yang menarik, tak peduli apakah content tersebut sesuai dengan usianya. Dan kenyataan inilah yang ada di sekitar kami. Dengan ini kepedulian kami terhadap pendidikan anak-anak pun meningkat. Belajar adalah kebutuhan alamiah Kepedulian terhadap belajar telah meningkat. Kesadaran bahwa belajar adalah kebutuhan pun perlu mengalami peningkatan. Bukan lagi bicara tentang suka atau tidak suka dengan belajar. Namun berbicara tentang belajar sebagai kebutuhan. Saya berpandangan bahwa seseorang akan merasa butuh, apabila ia merasakan adanya gap (kesenjangan) antara harapan dan kenyataan. Maka saya bertanya, “Sebagai orang tua atau calon orang tua, apa harapan Anda dalam mendidik anak sendiri? Sebagai pengajar, apa harapan dalam mendidik siswa? Adakah pengalaman yang menunjukkan kekuranganmasing-masing dari dIri kita, dalam mendidik mereka, dan apa dampaknya?” Penuh luapan emosi. Itu tiga kata yang menggambarkan kondisi saat itu ketika para pengajar menjawab tiga pertanyaan tersebut. Seorang pengajar di masa lalunya menginginkan agar dirinya menjadi dokter namun tidak didukung oleh orang tuanya, ia merasa masa depannya tidak ditentukan oleh dirinya sendiri, ia merasa tidak berdaya, sehingga ia bertekad tidak akan pernah mendidik dengan pola seperti itu. Seorang pengajar lain bercerita dengan mata berkaca-kaca, tentang pengalamannya yang seringkali dibanding-bandingkan dengan saudaranya, ia merasa menjadi pribadi yang pesimis dan tidak berdaya, sehingga ia pun ingin agar di masa depannya ia tidak menggunakan pola pendidikan yang seperti itu. Seorang pengajar yang lainnya bercerita tentang seorang siswa yang tak ingin lagi belajar dengannya. Ia berkata, “Hari itu adalah hari pertama dan terakhir bagi saya bertemu dengan siswa tersebut.” Pada saat ia sempat menggunakan gaya komunikasi ‘otoriter’ pada siswa tersebut, memerintah tanpa bertanya, hal itulah yang menjadikan peristiwa tersebut terjadi. Dari masalah-masalah tersebut kami dapat melihat dengan jelas adanya ketidakberdayaan siswa akibat orang dewasa yang tidak berdaya. Harapan dan kenyataan telah diungkap. Kami lanjut berdiskusi tentang bagaimana kami menyikapi kenyataan tersebut agar dapat mencapai harapan kami dalam mendidik. Seorang pengajar berkata, “Perlu ada perubahan.” Saya sangat setuju dengan hal tersebut. Saya pun berkata, “Kita perlu berubah. Dan berubah adalah hakikat dari belajar. Belajar itu dari gak tahu menjadi tahu, dari gak mau menjadi mau, dari gak bisa menjadi bisa, dari salah menjadi benar.” Hari itu kami sama-sama menyadari bahwa kami butuh belajar. Belajar untuk menjadi Guru Merdeka Belajar Sebelumnya kami telah mengungkap adanya kenyataan ketidak-berdayaan. Kenyataan seperti itulah yang melahirkan konsep Merdeka Belajar. Dimana ketidak-merdekaan seorang anak itu diakibatkan oleh ketidak-merdekaan orang dewasa di sekitarnya. Saya bertanya, “Apa itu merdeka?” Banyak pengajar dengan kompak menjawab, “Bebas”. Saya berkata, “Bebas itu terkesan negatif ya, seperti free sex, dsb. Merdeka disini maksudnya apa?” Seorang pengajar menjawabbebas yang bertanggung jawab. Seorang pengajar lain menjawab bebas yang terbatas. Kami pun mencari jawabanannya lewat video tentang Guru Merdeka Belajar () yang disampaikan oleh Mba Ela. Setelahnya kami membahas lebih detail tentang Guru Merdeka Belajar, serta penerapannya. Kami pun berefleksi hingga merancang rencana perubahan. Beberapa diantaranya adalah 1. Mengubah design RPP kami 2. Mengubah gaya kepengajaran kami Mengubah pola memotivasi yang lebih menumbuhkan motivasi internal dari pada motivasi eksternal yang berupa reward dan punishment Mengawali kelas dengan membahas bersama siswa tentang pentingnya materi pembelajaran Mengajar dengan lebih memandirikan siswa : menghindari teknik ceramah, menyalakan tanda tanya, menggunakanberbagai sumber pengetahuan, tidak hanya guru sebagai sumber pengetahuan Menutup pembelajaran dengan refleksi Melibatkan siswa dalam proses penilaian 3. Mengubah beberapa hal kaitannya dengan rekrutmen pengajar Mempertimbangkan passion calon pengajar Memperhatikan kemampuan calon pengajar dalam melibatkan siswa untuk membangun komitmen belajar Sebagai penutup. Hanya guru yang merdeka yang bisa membebaskan anak. Hanya guru yang antusias yang menularkan rasa ingin tahu. Hanya guru belajar yang pantas mengajar.

Cikal PYP Exhibition : Proyek Murid yang Bermakna

“Melihat proses belajar di Cikal PYP Exhibition ini dekat sekali dengan kehidupan. Latar belakang murid membuat sebuah proyek tidak jauh dengan kehidupan mereka” ujar Ahdiyat seorang guru dari SMP Fitrah Insani yang datang bersama murid-muridnya. PYP (Primary Years Program) Exhibition adalah kegiatan tahunan bagi kelas 5 Sekolah Cikal dalam bentuk pameran. Sebelum pameran ada tahap penelitian yang dilakukan murid kelas 5. Dimulai dari menemukan isu dan masalah dalam kehidupan sehari-hari dan memikirkan solusi untuk kontribusi kepada masyarakat. Bagaimana agar murid kelas 5 SD bisa menemukan isu yang ada dalam kehidupan sehari-hari? Serunya di sini, isu yang diangkat murid tidak tiba-tiba muncul, ada tahapan bernama Tuning In. Dalam #CikalPYPX tahun ini yang bertema sains, guru-guru mengajak murid untuk berkunjung ke museum IPTEK. Dengan pertanyaan-pertanyaan esensial, guru mencoba menggali inkuiri murid. Setelah Tuning In, ada tahapan Finding Out, murid mencari informasi awal berdasar pertanyaan esensial. Sorting Out, memikirkan, menganalisis, dan memvisualkan hasil observasi. Dan terakhir adalah Going Futher, tahapan di mana murid memikirkan dan merencanakan tindakan dari hasil olahan informasi. Sampai akhirnya karya bisa dilihat dalam pameran. Karena bertema sains, maka karya-karya yang ditampilkan pada Rabu dan Kamis (13 dan 14 Februari 2019) ini memiliki konsep sains. Dari proyek membuat alat untuk menurunkan kecemasan murid, kertas yang terbuat dari ubi kuning, robot yang bisa diajak latihan anggar, tangan elektronik yang dibuat karena terinspirasi atlet disabilitas, sarung tangan yang berfungsi sebagai remote control mobil, es krim yang terbuat dari sayuran dan masih banyak yang lainnya. Murid yang mengerjakan proyek ini dengan antusias menjelaskan bagaimana karya ini bisa jadi kepada pengunjung yang notabennya dari berbagai kalangan. Di sini terlihat murid memang menguasai apa yang ia lakukan. Selain itu murid tak canggung menyampaikan kegagalan yang ia lakukan selama mengerjakan proyek. Dan menuliskannya dalam kolom refleksi. Dan juga meminta umpan balik kepada para pengunjung. “Saya berharap kalau hari ini sekedar prototipe, maka suatu hari nanti apa yang dibuat anak-anak ini bisa diteruskan menjadi karya yang berdampak” ujar Emil, salah satu orangtua murid Sekolah Cikal. Apa yang saya lihat hari ini mengingatkanku kepada dua hal. Satu, teringat adegan terakhir film 3 Idiots, di mana murid-murid di sekolah yang Rancho buat, berkarya membuat alat-alat yang berguna bagi kehidupan. Kedua, teringat akan puisi karangan WS Rendra berjudul “Seonggok Jagung”. Seonggok JagungWS Rendra Seonggok jagung di kamar Dan seorang pemuda Yang kurang sekolahan Memandang jagung itu Sang pemuda melihat ladang Ia melihat petani Ia melihat panen Dan suatu hari subuh Para wanita dengan gendongan Pergi ke pasar Dan ia juga melihat Suatu pagi hari Di dekat sumur Gadis-gadis bercanda Sambil menumbuk jagung Menjadi maisena Sedang di dalam dapur Tungku-tungku menyala Di dalam udara murni Tercium bau kue jagung Seonggok jagung di kamar Dan seorang pemuda Ia siap menggarap jagung Ia melihat menggarap jagung Ia melihat kemungkinan Otak dan tangan Siap bekerja Tetapi ini Seonggok jagung di kamar Dan seorang pemuda tamat S.L.A Tak ada uang, tak bisa jadi mahasiswa Hanya ada seonggok jagung di kamarnya Ia memandang jagung itu Dan ia melihat dirinya terlunta-lunta Ia melihat dirinya ditendang dari discotheque Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase Ia melihat sainganya naik sepeda motor Ia melihat nomer-nomer lotere Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal Seonggok jagung ia di kamar Tidak menyangkut pada akal Tidak akan menolongnya Seonggok jagung di kamar Tak akan menolong seorang pemuda Yang pandangan hidupnya berasal dari buku Dan tidak dari kehidupan Yang tidak terlatih dalam metode Dan hanya penuh hafalan kesimpulan Yang hanya terlatih sebagai pemakai Tetapi kurang latihan bebas berkarya Pendidikan telah memisahkanya dari kehidupanya Aku bertanya : Apakah gunanya pendidikan Bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing Di tengah kenyataan persoalanya?? Apakah gunanya pendidikan Bila hanya mendorong seseorang Menjadi layang-layang di ibukota Kikuk pulang ke daerahnya?? Apakah gunanya seseorang Belajar filsafat,teknologi,ilmu kedokteran,atau apa saja. Ketika ia pulang ke daerahnya,lalu berkata : “disini aku merasa asing dan sepi”

Tiga pelajaran dari Nusantarun untuk Komunitas Guru Belajar

Mengubah hobi menjadi kontribusi adalah pelajaran terpenting yang saya dapatkan dari Nusantarun. Bagaimana ceritanya?  Nusantarun sebenarnya sudah tidak asing lagi. Saya mengenalnya sejak 2 tahun yang lalu dalam kerjasama program pengembangan guru sekolah inklusi SMP Permata Hati Purwokerto, bagian dari program donasi Nusantarun ke-4. Meski begitu, saya sendiri lebih banyak berkutat dalam pengelolaan program sehingga tidak banyak berinteraksi dengan tim Nusantarun.  Tahun 2018 ini berbeda, saya selaku Ketua Kampus Guru Cikal berinteraksi lebih intens dengan tim Nusantarun untuk mengembangkan program pengembangan murid disabilitas. Interaksi mulai pertemuan, siaran langsung hingga pada awal Desember 2018 yang lalu, saya hadir bersama tim Kampus Guru Cikal dalam kegiatan inti, berlari 169 km dari Wonosobo menuju Gunung Kidul. Nusantarun tahun ingin memasang target menggalang donasi sebesar 2,5 milyar untuk membiayai pengembangan murid disabilitas di Jawa Tengah dan Yogya. Dan luar biasa, target tersebut tercapai berkat perjuangan para pelari melakukan penggalangan dana. Informasi penggalangan dana Nusantarun bisa dilihat di halaman KitaBisa.com. View this post on Instagram Para Pelari, Relawan, Rekan Guru Belajar menggaungkan Lagu Indonesia Raya dipimpin rekan SLBN Temanggung _______ Malam ini, 210 Pelari NusantaRun memulai perjuangan berlari 169 km dari Wonosobo, Wates hingga Gunungkidul! Mari kita beri doa dan dukungan untuk para pelari! Serentakkan langkah demi #PendidikanUntukSemua dengan cara: 1. Posting foto selfie sendiri atau bersama murid membawa kertas/poster bertuliskan #PendidikanUntukSemua di sosial media 2. Tag akun sosial media Kampus Guru Cikal dan NusantaRun 3. Tag dan tantang minimal 3 teman untuk berpartisipasi di #PendidikanUntukSemua A post shared by Kampus Guru Cikal (@kampusgurucikal) on Dec 7, 2018 at 5:24am PST Tim Kampus Guru Cikal bersama Komunitas Guru Belajar dan murid-murid penyandang disabilitas hadir pada titik pemberangkatan, titik tengah dan titik akhir. Kami sampai di titik pemberangkatan di Wonosobo pada Kamis malam dengan mengendarai kereta sampai di Pekalongan dan dilanjutkan dengan mobil. Seusai pemberangkatan pelari, kami masih menginap di Wonosobo. Sabtu pagi meluncur ke titik tengah untuk ikut pada penerimaan dan pelepasan pelari pada titik tengah. Sabtu sore meluncur ke Gunung Kidul untuk menyambut pelari di titik akhir di Pantai Sepanjang.  Tiga hari petualangan seru bersama tim Nusatarun, para pelari, panitia, dari relawan dari berbagai komunitas. Capek pastinya, tidak terbayanng capeknya pelari, panitia dan relawan yang menyusuri sepanjang perjalanan. Senang pastinya, bisa terlibat bukan sekedar kegiatan lari, tapi kegiatan pendidikan. Tapi lebih dari itu semua, saya belajar banyak hal dari keseluruhan kegiatan Nusantarun.  Memahami kebutuhan dan aspirasi komunitas. Setiap komunitas tentu punya kebutuhan dan aspirasinya sendiri. Setiap kegiatan tentu harus berpihak pada kebutuhan dan aspirasi dari komunitas yang mengikuti kegiatan tersebut. Dari kegiatan Nusantarun, saya belajar menyiapkan kegiatan yang bisa memenuhi kebutuhan dan aspirasi komunitas guru. Bukan sekedar diangankan atau kebutuhan yang bersifat umum, tapi ditulis secara rinci. Bukan sekedar menyiapkan, tapi juga menata alur penggunaannya secara sistematis. Semuanya akan berujung pada pengalaman pengguna yang memuaskan. Melibatkan pemangku kepentingan dalam kegiatan berlari. Sama sekali tidak menduga, ternyata banyak sekali pemangku kepentingan yang terlibat dalam kegiatan Nusantarun. Ada banyak peran yang disediakan untuk para pemangku kepentingan. Siapa saja pemangku kepentingan? Ada komunitas, perusahaan, dan lembaga lokal. Kuncinya pada memberi peran yang tepat pada pemangku kepentingan. Saya membayangkan bahwa panitia tidak menyiapkan penawaran standar yang berlaku umum. Penawaran selalu mengacu pada kekuatan dari pemangku kepentingan.  Mengubah hobi menjadi berkontribusi. Ini pelajaran paling penting. Nusantarun berangkat dari sekelompok pelari yang peduli pada pendidikan. Mereka berpikir bagaimana dari hobi berlari bisa menjadi kontribusi terhadap pendidikan. Lahirlah format lari Nusantarun yang menggabungkan berlari dengan kontribusi. Para pelari memasang target donasi untuk dipenuhi sebagai syarat mengikuti Nusantarun. Bayangkan, mereka menggalang donasi untuk bisa berlari 169 Km. Luar biasa! Dan Nusantarun berhasil mengubah kegiatan berlari menjadi kegiatan berkontribusi. Dari hobi menjadi kontribusi. Itulah 3 pelajaran yang saya dapatkan dari Nusantarun. Dalam konteks pekerjaan, harapannya pelajaran tersebut bisa digunakan oleh Komunitas Guru Belajar dalam menyelenggarakan konferensi tahunan, Temu Pendidik Nusantara 2019. Dalam konteks personal, jadi tantangan buat saya bagaimana mengubah hobi bisa menjadi kontribusi terhadap pendidikan. Terima kasih Nusantarun untuk pelajarannya. Bagaimana hobi Anda bisa diubah menjadi kontribusi terhadap pendidikan?

Naik Angkot ke Ujung Kulon?

“Mbak, akhirnya pulang ya?” “Iya mbak. Tapi ini mau berangkat lagi” “Mau berangkat lagi kapan mbak?” “Ini nanti jam 2” Begitu percakapan saya dengan mbak Sharah, mbak yang biasa menjaga kos.  Iya, jam 13.30 baru sampai kos setelah perjalanan dari Lombok jam 14.00 sudah harus berangkat ke stasiun Rawa Buntu janjian dengan temen-temen KGC lain. Mau kemana? Ujung Kulon!  Nggak capek? Anehnya saya nggak capek, cuma laper aja.  Jadi setelah sampai stasiun langsung buru-buru beli Roti Maryam Salman.  Penyelamat perut paling bisa diandalkan ketika kelaperan di stasiun. Teman-teman KGC lain sudah lengkap menunggu di peron kearah Rangkas Bitung.  Mahayu dengan buku dari pengarang favoritnya, Pak Bukik sedang asyik live facebook, Pak Baja dan Mas Rizky seperti biasa bersenda gurau khas mereka, sedangkan Maman sebagai kordinator studi tour Honje ((studi tour hahaha)) beberapa kali terlihat membuka hape untuk melihat alternatif transport menuju Honje.  Nah loh mau udah berangkat kok baru lihat alternatif transport? Nekat emang ya… anehnya saya kok mau maunya ikut nekat. Mau cerita sedikit, saya baru bergabung di KGC sekitar bulan Agustus lalu. Dan ini adalah pekerjaan pertama saya selain guru selama saya bekerja.  Saya suka berinteraksi dengan anak-anak dan menikmati proses belajar bersama anak-anak.  Lalu kenapa akhirnya bergabung di KGC?  Entah. Ini seperti Moana yang mengikuti suara hatinya.  Sayapun seperti itu. Walaupun saya tahu saya tidak punya pengalaman dan saya pasti akan harus mendorong lebih diri saya untuk menyesuaikan diri. Dan memang itu yang saya rasakan selama beberapa bulan ini. Rasanya diawal tiga bulan rasanya seperti tiga tahun. Tidak jarang saya seperti memaksa diri saya berlari. Berlari Banyak yang bilang ke saya kalau tipe orang-orang di Jakarta itu ritme kerjanya cepat. Bahasa jawanya “tak tek”. Setelah disini beberapa bulan saja saya yang susah membuat keputusan mulai belajar lebih cepat dalam mengambil keputusan.  Contoh sederhananya mau naik apa kalau harus ke suatu tempat di Jakarta. Mana yang lebih murah dan cepat.  Dan itu proses yang kami lakukan juga saat perjalanan menuju Honje. Bagaimana caranya ke Honje dengan budget yang ada dan bisa selamat sampai tujuan? Begitu turun dari stasiun Rangkasbitung kami berjalan kearah sumber transport umum di sekitar. “Eh ada pickup. Mau naik ini nggak?” begitu Pak Bukik menawarkan ke kita.  Sebenernya kita semua tipe yang asik asik aja naik apa saja tapi sayangnya pickup tersebut tidak disewakan.  Pilihan yang lain adalah angkot. Awalnya kita berniat naik angkot sampai Terminal saja lalu lanjut naik Damri, tetapi karena ternyata karena tidak ada Damri akhirnya kita coba merayu bapak supir mengantar kita sampai Honje. Dimana ada proses tawar menawar disitu Mahayu beraksi. Sudah tentu Mahayu pakarnya dibantu rayuan Pak Bukik dan muka-muka memelas kita. Ya, kita tidak berlari otak kita yang berlari dalam mengambil keputusan. Salah memilih bisa bisa jalan kaki di tengah hutan malam-malam.  Berjalan Whuah! Bagaimana rasanya bangun pagi denger suara ombak? Seneng banget! Saya pada dasarnya suka air; air kolam, air kamar mandi, air kolam ikan, air sungai, air danau, air es degan. Apalagi air laut. Bawaan pengen deket-deket aja. Selesai senam dan lari pagi kami dapat tugas untuk mencari foto “Apa perubahan positif yang dirasakan akhir-akhir ini?” dan “Apa harapan kedepannya?”    Kami mulai berjalan menyusuri  Honje, mulai dari pinggiran pantai hingga semak-semak. Saya mulai berhenti di beberapa titik yang saya rasa sesuai dengan apa yang saya rasakan. Saya suka sekali menulis. Entah kenapa saya seperti tidak menemukan diri saya setahun lalu. Otak saya dipenuhi rasa cemas “kalau saya nulis gini gimana ya kalau dibaca orang?”. Seperti yuyu keluar dari lubang tanah, sejak saya di Kampus Guru Cikal saya kembali menemukan diri saya.  Amel yang pikirannya kemana-mana. Hahaha.. dan berani untuk menuangkannya di tulisan. Goal dalam waktu dekat saya ingin membuat blog baru khusus membahas pendidikan dan tetap menulis cerita pendek di blog lama. Seketika waktu bagian Honje berjalan lebih lambat. Semua pikiran jadi lebih jernih.  Padahal sebenarnya ada banyak tugas yang menanti tapi kami memilih untuk ambil jeda, menikmati alam, saling mengenal satu sama lain, refleksi diri. Seperti kaki kanan dan kiri kami yang berjalan beriringan. Satu titik saya merasa penting memiliki ekosistem yang mendukung proses belajarmu. Sama-sama berani salah dan berani memperbaiki. Berjalan bersama. Tidak sendiri Sebenarnya  sehari-hari  kami sering bercakap-cakap membicarakan banyak hal, mulai dari musik kesukaan,  selera lidah asin atau manis, hobi, passion sampai ke kehidupan percintaan masing-masing. Tetapi dari sudut saya, saya tidak benar-benar tahu mereka secara keseluruhan. Sampai akhirnya….. kami main Truth or Truth hahaha.. karena nggak ada yang milih Dare. Mending kebongkar semua daripada harus beranjak dari tempat duduk.  Dari permainan sesi Truth or Truth keterampilan bertanya  kami diuji.  Semakin tajam semakin bagus. Semakin membuat yang ditanya berkeringat atau nampakkan gelagat cemas semakin bagus. Kemudian suasana menjadi  hangat. Kami semakin memahami satu sama lain. Memahami rahasia-rahasia satu sama lain maksudnya. Hahaha.. Mungkin kami pernah resah dengan kondisi dan masing-masing melakukan apa yang bisa kita lakukan . Ada yang sering membuat diskusi dan membuat gagasan, ada yang melibatkan murid di kelas hingga menginspirasi orang lain, ada yang memasukkan passionnya game ketika mengajar, ada yang suka membuat video sekaligus seorang bapak yang berusaha untuk menerapkan Disiplin Positif pada anaknya, ada akuntan yang resah dengan pendidikan dan memilih terjun langsung di dunia pendidikan. Sekarang kami bersama. Tidak lagi sendiri. Refleksi Yang saya suka dengan lingkungan bekerja yang sekarang kami selalu diajak refleksi. Dan itu yang kami juga lakukan selama di Honje. Kami mengevaluasi diri apakah cara bekerja kami sudah sesuai  5M; Memanusiakan Hubungan, Memahami Konsep, Membangun Keberlanjutan, Memilih Tantangan dan Memberdayakan Konteks. Apa yang sudah sesuai dan apa yang masih belum sesuai. Kami juga saling memberi masukkan.  Di hari terakhir kami juga membantu atasan kami untuk refleksi.  Kami diminta untuk menggambar sebuah benda yang menggambarkan Pak Bukik, kemudian Pak Bukik menebak kira-kira apa yang dimaksud oleh yang menggambar. Saya rasa jarang ada atasan yang mau dengan terbuka menerima masukkan dari rekan kerja. Saya teringat sebuah kutipan, “Don’t pick a job. Pick a Boss. Your first boss is the biggest factor in your career success. A boss who doesn’t  trust you won’t give you opportunities to grow”  – William Raduchel. Dulu saya memiliki … Read more

Berlari dan Berkontribusi untuk Pendidikan Murid Disabilitas

“Saya tidak pernah absen menjadi pelari sekaligus fundriser NusantaRun sejak chapter pertama. Awalnya saya pikir kaki saya bisa copot setelah mengikuti NusantaRun yang menempuh puluhan bahkan ratusan kilometer.”, Sandy, salah satu pelari NusantaRun chapter 6 bercerita tentang pengalamanya berlari di NusantaRun. NusantaRun Chapter 6 adalah perhelatan tahunan yang mengusung ultra marathon for charity. Bukan sekadar event lari, namun juga wujud nyata pelari dalam berkontribusi untuk pendidikan di Indonesia. “Jika para pelari ingin berlari, banyak event yang bisa diikuti. Kalau pelari mau ikut event lari sekaligus bisa berkontribusi, bisa melakukannya di NusantaRun” ujar Chirtopher Tobing, co-founder NusantaRun. Dalam event lari NunsantaRun selain berlari, para pelari tidak hanya berlari puluhan kilometer. Namun juga menggalang donasi. Untuk chapter 6 ini penggalangan donasi dimulai sejak 24 Agustus 2018 dan akan berakhir 11 januari 2019. Adapun target yang ingin dicapai NusantaRun adalah sebesar 2,5 milyar. Donasi tersebut akan digunakan untuk program Pengembangan Pendidikan Murid Penyandang Disabilitas di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang bekerjasama dengan Kampus Guru Cikal. Berdasarkan riset potret pendidikan  inklusi di dua provinsi tersebut sudah ada arah untuk mengembangkan pendidikan inklusi, ini terlihat dari kebijakan dan pertaturan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah. Namun di lapangan, implementasi kebijakan tersebut masih jauh dari harapan. “Melalui program tersebut kami berharap ada contoh nyata keberhasilan pendidikan inklusi yang dapat meyakinkan orangtua, guru, dan masyarakat luas mengenai potensi murid penyandang disabilitas”, ujar Najelaa Shihab, pendiri Kampus Guru Cikal Najelaa Shihab menyebut bahwa ada tiga pilar utama untuk program yang akan dijalankan yaitu : 1) menyiapkan guru bimbingan karier yang bisa mengarahkan dan memberi dukungan bagi anak penyandang disabilitas, 2) pengembangan Komunitas Komunitas Guru Belajar Bimbingan Karier sebagai sistim dukungan bagi murid penyandang disabilitas, dan 3) pengembangan diri dan penyediaan beasiswa pendidikan tinggi bagi murid penyandang disabilitas. Pada chapter 6 ini akan dilaksanakan dari tanggal 7 Desember hingga 9 Desember 2018. Ada dua kategori yang akan ditempuh pelari, yaitu half course (86 km) dan full course (169 km) yang akan berjuang menuju garis finish di Pantai Sepanjang, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Walaupun menuju garis finish yang sama, namun kedua kategori tersebut memulai lari dari garis start yang berbeda. Pelari kategori full course akan mulai berlari di garis start yang berada di Kledung Pass Hotel, Wonosobo, Jawa Tengah dan pelari half course akan mulai berlari di garis start yang berada di Kantor Kepala Desa Karangwuni, Wates, Daerah Istimewa Yogyakarta. “Untuk  chapter 6 ini saya sudah menyiapkannya dari bulan Januari tahun ini. Mulai darilatihan 5 km, 10 km dan juga mengikuti beberapa race.” Ujar Irene peserta lariNusantaRun 6 ini yang tidak pernah melewatkan ajang lari ini. Kolaborasi dari berbagai pihak dalam mendorong kemajuan pendidikan bagi penyandang disablitias menjadi semangat yang ingin disebarkan NusantaRun tahun ini. “Kami meyakini bahwa siapapun dapat berkontribusi memajukan pendidikan Indonesia. Dengan semangat power of contribution serta fokus terhadap isu pendidikan bagi penyandang disabilitas, kami berharap dapat membuka mata banyak orang bahwa sejatinya pendidikan harus dapat diakses oleh siapapun tanpa terkecuali.’ Kata Cristopher. “Benar, bahwa kolaborasi antarpihak yang dilakukan oleh NusantaRun ini penting. Karena pendidikan bukan sekedar urusan guru dan murid yang berkecimpung langsung di masyarakat, namun juga urusan bersama” ujar Najelaa Shihab.

Butuh Jeda dan Hanya Tertawa

Kampus Guru Cikal - Honje

Dua hari sebelum berangkat, belum juga diputuskan akan menggunakan transportasi apa menuju kesana, Honje Ecolodge. Bagaimana kalau kita menggunakan transportasi umum atau membawa mobil saja? Keputusan belum jelas, akhirnya kami memilih menuliskannya. 4 orang memilih transportasi umum dan 2 orang menggunakan mobil. Kami sepakat untuk menggunakan transportasi umum yang sebenarnya agak buat deg-degan juga sih.

Read more

Hibernasi dan Berefleksi

Would you know my nameIf I saw you in heavenWill it be the sameIf I saw you in heavenI must be strong,and carry onCause I knowI don’t belong Here in heaven Lagu lawas dari Eric Clapton itu mengiringiku menulis pagi ini. Lagu yang bersejarah bagi Eric. Tanggal 20 Maret 1991, Connor Clapton anaknya meninggal karena jatuh dari sebuah apartemen. Hari itu sampai 9 bulan setelahnya Eric berkabung. Eric sangat-sangat terpukul kehilangan anak. Ia berdiam diri di rumah, ia memilih untuk tidak tampil, ia konsentrasi kepada apa yang baru menimpanya. Sembilan bulan setelahnya, ia kembali. Eric kembali dengan perbedaan. Musiknya lebih lembut, reflektif dan kuat. Salah satunya ia tunjukkan di lagu Tears in Heaven, lagu yang ia tujukkan untuk Connor Clapton. “Sering kali kita memang butuh berdiam diri, merefleksikan apa yang dilakukan dan memulai kembali dengan semangat yang baru” Itulah mengapa tim Kampus Guru Cikal Jumat, 16 November 2018 melakukan sebuah perjalanan ke Honje Ecolodge di Ujung Kulon. Salah satunya adalah untuk berefleksi. Setiap hari dihadapkan dengan Komunitas Guru Belajar yang ada di 145 daerah dengan beragam aktivitasnya dari Temu Pendidik Daerah, Temu Pendidik Mingguan, Temu Pendidik Nusantara, Surat Kabar Guru Belajar, Guru Promotor, konten harian, penggerak. Tiap hari ada puluhan percakapan di grup, media sosial. Ini yang saya salut dari teman-teman di Kampus Guru Cikal. Bergerak setiap hari. Dan kami memang membutuhkan waktu untuk berdiam. Waktu untuk berefleksi dari semua itu. Jumat siang itu kami memutuskan untuk melakukan perjalanan yang berbeda. Kami bisa saja menyewa mobil dan tidur sampaillah kami di tempat yang kami tuju. Tapi kami memilih naik KRL kemudian disambung naik angkot. Tapi yang terjadi dalam perjalanan tersebut sungguh luar biasa. Banyak obrolan yang kami lakukan. Belum sampai lokasinya saja, banyak refleksi dari obrolan singkat nan bermakna. Seperti yang saya tulis di awal, bahwa kegiatan kami ke Ujung Kulon adalah refleksi. Maka tiap aktivitas pun dirancang agar kami berefleksi. Nah mungkin ide-ide di bawah ini bisa di-ATM (Amati – Tirukan –Modifikasi) di sekolah Bapak Ibu untuk melakukan refleksi. A. Hunting Foto Bukan sekadar hunting foto, tapi hunting foto bermakna. “Ya jadi dalam hunting foto ini masing-masing harus mengambil dua foto. Satu foto tentang ‘perubahan positif’ dan satunya lagi tentang ‘harapan’. Kemudian nanti kita presentasikan ya! Waktunya satu jam dalam mengambil foto.” Kami pun menyebar untuk mencari foto yang sesuai  dua frasa tersebut. Ada yang ke bagian barat pantai, ada yang ke timur, ada yang masuk ke dalam penginapan, ada yang berdiam diri. Semua mencari foto sambil menikmati ‘waktu sendiri’. Akhirnya seperti waktu yang ditentukkan, kami pun berkumpul di gazebo depan penginapan untuk membahas foto yang diambil. Ada yang mengambil gambar karang, pohon, buku, kano. Satu per satu anggota KGC mempresentasikan hasil jepretannya. “Aku tu ambil foto ini karena mpresentasikan perubahan positif aku semenjak di KGC…..” “Nah ini adalah harapanku ke depan, kayak penginapan kita ini. Mmebangun namun tidak menggerus…” Senang sekali mendengar hasil presentasi teman-teman.   B. Mengutarakan “Tampak seperti dan tidak tampak seperti” Nah setelah sesi foto, masih di tempat yang sama. Pak Maman meminta kami untuk mengungkapkan apa yang sudah sesuai dan tidak sesuai dengan prinsip Cikal. “Medianya bebas apa saja, boleh menggambar, boleh menulis, boleh juga menyanyi” Kami pun melakukan apapun yang membuat kami nyaman mengungkapkanya. Dari sesi ini akhirnya aku pribadi tahu, masih banyak sekali hal yang kurang selama ini. Masih banyak evaluasi yang perlu diperbaiki. Dan masukan teman-teman menambah semakin tahu apa yang perlu diperbaiki ke depannya. C. Menggambar Malam hari, kami semua di kumpulkan di depan penginapan untuk sesi berikutnya. Kalau sebelumnya adalah sesi refleksi individu, sekarang sesi refleksi ketua KGC, yaitu mas Bukik. Kami diminta menggambar apa saja yang menggambarkan ketua KGC, pun dengan pemilihan warna spidol, harus memiliki arti. Ada yang gambar pohon, ada yang gambar tangga, dan lain sebagainya. Aku pribadi menggambar tangga, karena aku merasa banyak tantangan baru saat mas Bukik menjadi ketua KGC, dan tantangan-tantangan itu semakin membuatku belajar. Selain hal positif, kami juga mengutarakan hal-hal evaluasi mas Bukik sebagai ketua. Seneng banget karena dari sini bisa lebih leluasa mengutarakan apapun. Dan suka dengan apa yang mas Bukik lakukan. Suatu saat kalau jadi pemimpin akan kayak dia ah.. hehhe D. Tukar Kado Setelah sesi refleksi ketua KGC, kegiatan berikutnya yaitu tukar kado. Kami telah menyiapkan kado sebelumnya, dan malam itu kado kami saling ditukar. Kadonya lucu-lucu. Tapi rahasia ya. Dari sesi ini kami merasa semakin dekat satu sama lain di tim KGC. E. Truth and Dare Ini adalah aktivitas yang menakutkan buatku. Dengan botol di tengah, setiap orang berhak memutarkan botol tersebut secara bergantian. Setelah botol diputar, dan ujung botol mengarah ke seseorang, maka seseorang tersebut harus melmilih untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pemutar botol dengan jujur atau memilih melakukan aktivitas yang diinginkan oleh pemutar botol. Ini sesi yang membuat kami tertawa bersama malam itu. Membuat kami semakin tahu satu sama lain. Dan entah kenapa 2 hari tersebut benar-benar membuat kami semakin semangat untuk bareng-bareng berjuang bersama mendampingi teman-teman Komunitas Guru Belajar. Seperti Eric Clapton, semoga apa yang kami lakukan bisa membuat kami benar-benar berefleksi dan melakukan hal dengan lebih baik dalam mendampingi teman-teman KGB.

Belajar Memahami Keberagaman, Menggali Potensi Anak

Setahun lalu, saya mulai mengajar di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) setara Paket C bernama PKBM Al-Bayan. Sekolah tersebut merupakan sekolah boarding school yang pada awalnya diperuntukkan bagi anak yatim dan dhuafa penyintas bencana gempa Yogyakarta. Namun, pada perkembangannya, sekolah ini menerima siswa dari berbagai daerah dan latar belakang ekonomi. Saat masuk kelas XI, saya cukup terkejut karena ternyata harus berhadapan dengan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Arif namanya. Saat itu, sulit untuk mengidentifikasi kebutuhan Arif. Secara sekilas, Arif mungkin dikira tunagrahita karena kesulitan untuk berbicara (gagap dan kurang jelas) dan motorik yang kurang seimbang. Tangannya sering gemetar, dan Arif berjalan dengan menyeret salah satu kakinya. Informasi yang saya dapatkan pun kurang memadai, baik dari guru lain maupun dari keluarga. Keadaan yang demikian seringkali membuat Arif diremehkan oleh beberapa temannya. Misalnya dengan memandang dengan pandangan yang meremehkan, atau mencemooh (meski tidak keras, namun cukup terdengar) saat Arif menjawab pertanyaan. Arif kesulitan menulis dengan tangan, dan hal ini sering membuat pekerjaannya yang berkaitan dengan tulis-menulis menjadi lambat. Selain itu, diperlukan perhatian khusus untuk menyimak kata-kata Arif sehingga terkadang membuat teman-temannya tidak sabar menyimak. Terlebih, pada pelajaran Bahasa Indonesia yang saya ampu, kegiatan menyimak, berdiskusi, dan menulis merupakan hal esensial. Jujur saja, saya pun awalnya kikuk karena baru pertama kali mengajar ABK. Terlebih, saya mengajar Bahasa Indonesia dan selalu mengajak murid untuk berinteraksi. Namun, saya sadar bahwa sikap saya merupakan contoh bagi siswa, dan sebisa mungkin saya bersikap wajar dengan ‘kespesialan’ yang dimiliki Arif.  Saya mencoba untuk belajar mengenai pembelajaran inklusi, mulai dari browsing internet hingga mengikuti workshop menjadi guru kreatif di sekolah inklusif. Dari pembelajaran tersebut, saya menyimpulkan sebuah ‘pekerjaan rumah’ dalam menghadapi situasi ini: Memahami kebutuhan dan potensi Arif, serta mengubah stigma negatif dan menumbuhkan sikap saling menghargai di kelas. Kegiatan Belajar Untuk Mengenal Keberagaman Potensi Pada awal semester, saya memberi tugas yang sama di kelas tanpa pengecualian untuk melihat seberapa jauh kemampuan dan potensinya. Setelah saya amati, rupanya kesulitan Arif hanya terletak pada motorik halusnya saja. Ia tidak bisa menulis dan bicara dengan lancar. Namun, secara kognitif, Arif dapat mengikuti pelajaran seperti murid lainnya. Secara emosional, Arif bisa dibilang lebih dewasa dibanding teman-temannya. Mental Arif tidak menciut dengan keadaannya. Arif menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan selama pelajaran (Seringkali pertanyaan kritis: Mengapa begini? Menurut kamu bagaimana?) dengan baik. Ia juga tidak malu untuk bertanya bagian yang tidak dipahaminya. Terkadang, suatu materi perlu disampaikan 2-3 kali hingga ia mengangguk paham. Dibandingkan temen-temannya, tugas-tugas Arif dalam bentuk tulisan seringkali sangat singkat. Misalnya saat materi membuat teks pidato,  Arif hanya menulis kurang lebih seratus kata. Meski begitu, Arif melengkapi bagian pembuka, isi, dan penutupnya. Hal ini menunjukan bahwa ia tidak asal-asalan dalam mengerjakan tugas dan memahami hal yang esensial dari materi tersebut. Dari tugas-tugas tersebut, saya menjadi lebih paham akan kekuarangan dan potensi yang dimilikinya. Saat ujian semester, Arif juga cenderung menjawab soal esai dengan singkat, yang terkadang membuat jawabannya kurang komprehensif dibandingkan teman-temannya. Pada akhirnya, saya bisa melakukan assesment tambahan dari pertanyaan-pertanyaan lisan di kelas. Saya juga mengajak siswa lain untuk mengenal potensi dirinya lewat aktivitas belajar. Misalnya, menonton sebuah video film dokumenter mengenai dunia hewan dan membuat tulisan mengenai impresi akan film tersebut. Dari tugas tersebut, saya mengajak siswa untuk bersama mengidentifikasi jenis tulisan yang dibuat. Misalnya, ada siswa yang menulis mengenai satu hewan saja, namun sangat rinci. Ada juga yang menulis mengenai impresinya terhadap keseluruhan film secara general. Ada siswa yang menuliskan dalam bentuk deskripsi, narasi, dan puisi. Jenis tulisan yang dibuat, merepresentasikan potensi yang dimiliki oleh penulisnya. Bersama, kami mengidientifikasi keberagaman jenis tulisan  yang telah dibuat. Ada anak yang suka menulis secara umum, ada yang secara rinci. Ada yang suka mendeskripsikan sesuatu secara detail, ada yang lebih suka bercerita, dan ada juga yang menulis puisi. Dari kegiatan tersebut, saya mengajak siswa untuk mengenal potensi yang dimilikinya, dan potensi yang dimilki temannya. Apa kelebihan, serta perbedaan antara satu dengan yang lain. Misalnya sama-sama generalis, tapi apa yang membedakan karya ini dengan karya yang lain? Pada akhirnya, dibagi kelompok anak yang lebih suka menulis secara general dan kelompok yang suka menulis secara detail. Anak-anak dari kelompok generalis dan detail kemudian membentuk kelompok dan diminta untuk membuat satu karya yang komprehensif. Melalui refleksi aktivitas pembelajaran, siswa dapat diarahkan untuk mengenal potensi-potensi dirinya dan orang lain. Harapannya, siswa dapat mengenal kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya, serta menerima hal tersebut pada diri sendiri maupun orang lain. Dengan mengajak siswa untuk merefleksikan sendiri potensinya, dan menyadari keragaman yang ada di kelas, lebih mudah untuk mendorong siswa saling belajar dan bekerjasama. Sekarang saya sering bertanya kepada siswa, “Jadi, apa kelebihanmu dalam materi ini?” Dalam empat pilar pendidikan yang dicanangkan UNESCO, tujuan proses pembelajaran tidak hanya untuk tahu, dan menguasai, tetapi juga untuk bisa hidup bersama. Saya sendiri ingat pada masa SMA, saya sering merasa ‘tidak ada apa-apanya’ karena cenderung bertipe generalis yang suka pada banyak hal sekaligus. Karena stigma sosial, saya merasa orang-orang yang hanya fokus pada bidang tertentu secara saklek lah yang akan berhasil. Padahal, seringkali dalam mencapai tujuan, kolaborasi dengan banyak pihak sangat penting untuk keberhasilan bersama. Oleh Anisah Zuhriyati – Komunitas Guru Belajar Yogyakarta

Memang Beda, Tapi Kami Memilih Jalan Bersama

Berangkat dari arah berbeda, kami berkumpul di Stasiun Rawa Buntu, menuju satu tujuan, melakukan refleksi bersama. Saya berangkat dari Kantor Pusat Cikal di Cilandak. Amel, anggota terbaru kami, berangkat dari kos seusai penerbangan Lombok – Jakarta. Empat anggota tim yang lain, Baja, Rizqy, Mahayu dan Maman berangkat dari kantor kami. Lengkap lah enam orang tim Kampus Guru Cikal. Kami berenam merasakan terik siang yang sama, terik yang menusuk kulit kepala. Kami menantikan kereta yang sama, kereta yang akan membawa kami ke Ujungkulon, menuju Honje Ecoledge.  Kami berenam memang berasal dari daerah yang berbeda, dua berasal dari Jawa Timur, dua berasal dari Jawa Tengah, satu dari Jakarta dan satu dari Sumatera. Kami berbeda pula masa bergabungnya di Kampus Guru Cikal. Baja dan saya adalah anggota terlama, disusul oleh Rizqy. Awal tahun ini bergabung Mahayu, dan semester ini, Maman dan Amel baru saja bergabung. Meski bekerja di kantor yang sama, kami menjalankan peran yang berbeda. Saya dan Amel di Manajemen Belajar, Mahayu dan Baja di Pelibatan Komunitas, sementara Rizqy dan Maman di Manajemen Pengetahuan. Bila mau mencari perbedaan kami, sama sekali tidak susah. Dari hal-hal yang kasat mata saja sudah berbeda, belum lagi bicara keterampilan, minat, aspirasi, kepribadian dan cita-cita. Kami memang beda. Tapi Jumat siang itu, kami bersepakat melakukan perjalanan, tujuan dan cara yang sama. Perjalanan refleksi akhir tahun.  Di dunia perhotelan dikenal istilah peak season. Begitu kiranya akhir tahun bagi kami, lembaga pengembangan karier guru. Selepas Temu Pendidik Nusantara, kami sudah dihadapkan dengan berbagai proyek, di luar misi utama kami menemani Komunitas Guru Belajar. Proyek literasi Pesisir Selatan dan proyek bersama IniBudi di ujung selesai. Kami sudah dinanti proyek literasi di Jawa Timur (2 daerah), proyek pengembangan guru PAUD di NTB (2 daerah), proyek pengembangan murid penyandang disabilitas bersama Nusantarun (2 – 3 daerah), proyek Foundation Program untuk penyiapan guru baru Cikal (1 daerah) dan proyek Temu Pendidik Nusantara 2019 (9 daerah). Satu tim, enam orang, tujuh proyek dan banyak daerah 🙂 Apa yang harus kami lakukan? Alih-alih ngebut mengerjakan proyek, kami memilih berhenti, karena sadar jalan masih panjang. Perjalanan panjang butuh banyak bekal. Bekal sebagai tim berupa pengalaman positif bersama, pengalaman yang layak diperbincangkan bertahun-tahun kemudian.  Dua hari sebelumnya, kami memutuskan menggunakan voting untuk menentukan moda transportasi. Empat dari kami memilih moda transportasi kereta kemudian baru memikirkan di tempat tujuan antara. Pilihan nekat karena perjalanan panjang yang menuntut berganti moda transportasi. Itulah kenapa di siang yang terik ini justru kami berkumpul di stasiun Rawa Buntu menuju stasiun terakhir di Rangkas Bitung.  Tantangan pertama berdiri di kereta hampir dua jam. Sudah dihajar panas terik, lanjut berdiri pula. Lima dari kami ngobrol iseng, satu yang lain membaca buku dari penulis favoritnya. Sampai di Rangkas Bitung, kami keluar dari stasiun dan mulai mencari kendaraan untuk melanjutkan perjalanan 4 jam menuju Ujungkulon. Kami menuju terminal, mencari mobil bak terbuka atau angkutan umum yang mau disewa. Cari sana sini, akhirnya kami memilih seorang sopir angkutan umum untuk menemani perjalanan kami. Awalnya kami mau diantar ke terminal Mandala untuk mencari kendaraan ke arah Ujung Kulon, tapi di sepanjang perjalanan terjadi obrolan disertai tawar menawar. Akhirnya sang bapak bersedia mengantar sampai ke tempat tujuan.  Dua jam pertama perjalanan penuh semangat. Mobil angkot yang kami tumpangi melaju pada kecepatan rata-rata 50 km/jam, kecuali di 1 – 2 titik tertentu. Kami pun masih penuh semangat, obrolan ringan disertai karaoke tembang kenangan *eh. Satu jam berikutnya, keadaan sudah mulai sunyi. Pak sopirnya pun sesekali lepas konsentrasi yang mengakibatkan angkotnya melompat sekali dua kali di jalan dan jembatan yang memberi kejutan. Mulai bertanya, apakah masih jauh? Mana tujuan sebenarnya? Pertanyaan yang mengusik di perjalanan yang semakin banyak diwarnai tanjakan dan turunan curam.  Satu jam terakhir, suasana terus menurun. Pak sopir mulai bicara ditunggu temannya. Jalan semakin sempit. Dan banyak sekali bagian badan jalan yang rusak parah. Kecepatan maksimal 30 km/jam, kecepatan rata-rata turun menjadi 15 km/jam, karena seringkali kendaraan terpaksa berjalan 5 – 10 km/jam karena jalan yang rusak. Saya sudah berpikir apa jadinya bila Pak Sopir menolak melanjutkan perjalanan. Akankah kami jalan kaki menembus hutan yang gelap? Pak Sopirnya sendiri sudah mengeluh tidak berani balik pulang sendiri. Bukan takut pada orang, tapi takut pada penghuni hutan. Entah apa  Setelah menempuh satu jam menegangkan, kami pun tiba di Honje Ecoledge sekitar pukul 8 malam. Legaaaaaa……… Kami disambut makan malam yang nikmat. Atau karena kami lapar setelah bergoncang di angkot selama 4 jam?  Setelah sebagian mandi (tebak siapa?), sebagian lagi tetap duduk santai. Malam itu, acara tidak sesuai rencana. Kami memilih duduk di beranda rumah penginapan. Topik obrolan tentang fiml dan serba-serbinya. Tanpa terasa sudah hampir tengah malam. Kami pun masuk ke tiga kamar di rumah penginapan.  Apa artinya waktu berhenti? Itu lah yang saya rasakan pada hari Sabtu di Honje. Pagi subuh sebagian dari kami sudah di tepi pantai yang sepelemparan batu dari rumah penginapan. Tepat sesuai jadwal, Baja memimpin kami untuk senam pagi. Senam sebentar dan kemudian lanjut melakukan aktivitas pantai bagi yang mau. Sebentar saja, ketua panitia sudah memanggil. Kami pun makan dan mandi pagi untuk memulai sesi refleksi personal.  Kami diminta untuk berburu dua foto yang menggambarkan perubahan positif yang kami alami dan harapan di masa mendatang. Waktunya satu jam. Saya memanfaatkan waktu dengan berburu foto ke area pantai yang belum saya kunjungi pada dua kunjungan sebelumnya. Area pantai yang ditumbuhi pohon, sebagian diantaranya pohon bakau. Saya dibuat kagum oleh sejumlah pohon. Ada satu pohon yang tegak lurus berdiri meski sendiri dikelilingi air laut. Ada tiga pohon yang berdiri sejajar, seolah bergandengan tangan menghadang ombak. Keduanya saya foto dan ceritakan di sesi refleksi personal.  Saya punya banyak teman sepemikiran. Saya pun dulu mendidik mahasiswa untuk memenuhi panggilan hidup, mengaktualkan potensi dan mengejar cita. Tidak banyak yang bertahan. Lebih banyak memilih bekerja semata mendapatkan uang. Ketika muda, mahasiswa saya bertanya tentang idealisme. Semakin lama, semakin jarang dan memilih jalan kompromi. Awalnya kompromi untuk tetap jadi idealis, makin lama kompromi hanya demi kompromi, menjadi satu. Teman dari masa lalu menjadi semakin sedikit yang sejalan. Terlebih masuk dunia pendidikan. Pendidikan menumbuhkan adalah jalan yang sepi. Mayoritas masyarakat, bukan saja … Read more