Dari Alam Menuju Guru Belajar Pekalongan

Belajar dari alam, belajar dari Penggerak Komunitas Guru Belajar Pekalongan. Ketika sekolah dasar dulu, saya mendapat tugas mencangkok. Saya memilih mencangkok pohon jeruk yang banyak tumbuh di halaman rumah. Dengan susah payah, akhirnya berhasil juga mencangkoknya. Ketika dipindah, cangkokan tumbuh, bahkan lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pohon jeruk sebelumnya. Singkat cerita, pohon jerukan cangkokan berbunga dan berbuah lebat. Tapi tanpa disangka-sangka, malam badai lebat, dan paginya pohon jeruk cangkokan itu tumbang.  Kenapa?  Kata orang, pohon hasil cangkok tidak mempunyai akar tunggang yang menancap pada kedalaman tanah. Pohon hasil cangkok tumbuh mengalami proses pertumbuhan berbeda dengan pohon yang tumbuh dari biji, atau melalui proses alaminya.  Apa hubungannya cangkok dan guru belajar? Begini ceritanya  Dua tahun lalu, saya diundang menghadiri Temu Pendidik Daerah yang diadakan Komunitas Guru Belajar Pekalongan. Saya sampai di Pekalongan sehari sebelum kegiatan. Keesokan harinya, saya diajak makan siang bersama orang dinas pendidikan sambil ngobrol tentang aktivitas pengembangan guru. Selesai makan siang, saya meluncur ke lokasi Temu Pendidik Daerah yang diadakan di sebuah sekolah. Sesampai di sana, saya disambut kepala sekolah dan kami pun bicara panjang lebar sekaligus menanti para peserta datang. Banyak guru yang hadir, dua ruang kelas yang disatukan pun penuh sesak.  Temu Pendidik Daerah Pekalongan edisi perdana pun dimulai. Pada sesi inspirasi, 3 orang guru berbagi praktik pengajarannya. Seorang Bu Guru bercerita pengalaman awal menjadi guru yang harus ditempuh dengan mengendara motor disambung dengan jalan kaki mendaki gunung. Selanjutnya sesi refleksi, saya memandu para guru melakukan refleksi, menarik pelajaran dari pengalaman guru pada sesi sebelumnya. Dan diakhiri dengan sesi aksi, komitmen tindak lanjut setelah kegiatan. Selesai acara, saya menyatakan kekaguman saya pada dua penggerak Guru Belajar Pekalongan, Pak RIzqy dan Pak Rudi. Temu Pendidik Daerah dipenuhi peserta. Kami habiskan sore dengan obrolan santai sampai jadwal kereta datang dan saya kembali ke Jakarta. Kembali dengan hati gembira.  Tapi entah mengapa, beberapa bulan berlalu, Komunitas Guru Belajar kembali sepi. Tidak ada aktivitas belajar, tidak ada diskusi. Ada apa?  Ketika saya bertanya, Penggerak Guru Belajar Pekalongan menjelaskan dari sekian banyak peserta Temu Pendidik Daerah tidak ada yang tertarik untuk bergabung. Rupanya mereka hadir di Temu Pendidik Daerah karena ada surat edaran dari Dinas Pendidik. Ketika tidak ada surat edaran, keterlibatan mereka pun berhenti. Saya pun jadi ingat Salah Kaprah Pertama Guru Belajar: Guru belajar hanya ketika ada insentif atau ada ancaman hukuman.  Namun, rupanya Penggerak Guru Belajar Pekalongan pantang menyerah. Terus mencari cara ketika ada hambatan menghadang pencapaian tujuan. Satu cara gagal, cari cara lain, yang meninggalkan salah kaprah guru belajar. Mereka mencari guru yang mau belajar karena kemauannya sendiri, bukan karena keinginan mendapat insentif atau menghindari hukuman.  Sebagaimana pohon jeruk yang tumbuh dari biji, Komunitas Guru Belajar Pekalongan tumbuh perlahan. Kegiatan kecil demi kegiatan kecil dilakukan. Sedikit demi sedikit akhirnya menjadi bukit. Tahun ini, Komunitas Guru Belajar Pekalongan bekerjasama dengan Universitas Pekalongan menggelar Temu Pendidik Pekalongan Raya yang dihadiri 200 guru dari berbagai daerah. Ada kelas kemerdekaan, ada kelas kompetensi, ada kelas kolaborasi dan ada kelas karier. Paket lengkap! Biji itu rupanya sudah berkembang pohon yang berbuah ranum dan lebat. Apa pilihan Anda, terburu-buru mencangkok atau bersabar menumbuhkan biji Komunitas Guru Belajar di daerah Anda?

Membela Bu Ela

Kenapa bu Ela harus dibela? Bukan karena Bu Ela tidak berdaya. Sebaliknya, karena berdaya maka tidak boleh dibiarkan sendiri.   Saya sudah tiba di Makassar. Tiga hari di Jakarta mengikuti Temu Pendidik Nusantara 2018. Beasiswa penuh. Semua transportasi dan penginapan ditanggung panitia. Ucap syukur pada kawan-kawan panitia. Sebagai peserta beasiswa, saya berkewajiban membagi pengetahuan, keterampilan dan pengalaman baru selama Temu Pendidik Nusantara. Catatan ini dimaksudkan untuk maksud di atas. Puncak Temu Pendidik Nusantara 2018 dipusatkan di GOR PKP Jakarta Timur. Saya duduk di area 1 C dari tiga area yang disiapkan panitia. Duduk paling depan bersama guru dari KGB Wajo dan perwakilan PGRI.  Di area yang saya tempati dipenuhi kawan-kawan guru dari berbagai daerah di Indonesia.  Acara utama dimulai. Ibu Najelaa Shihab tampil ke panggung utama. Panggungnya luas. Di lantai, terpampang tiga kata: inspirasi, aksi dan refleksi. Tulisan itu adalah pesan. Guru adalah sumber inspirasi di kelas. Untuk menginspirasi, guru terus menerus melakukan aksi-aksi. Dengan apa?  Pembaruan cara mengajar. Setiap guru harus membekali dirinya dengan beragam penguasaan keterampilan mengajar. Jika tidak, cepat atau lambat guru akan ditinggalkan para pengikut.  Muaranya adalah refleksi. Apakah aksi yang sudah dilakukan berdampak atau tidak. Dampaknya bisa besar atau kecil. Harus diukur. Hasil pengukuran akan  menentukan tindakan selanjutnya. Begitulah guru yang merdeka belajar menunaikan tugasnya.  Bukan Ibu Ela yang menyampaikan. Saya yang menafsirnya begitu. Apa yang diucapkan ibu Ela sebagai penggagas TPN tidak mudah saya ingat dengan baik. Saya tidak bisa mengandalkan ingatanku yang bermasalah. Mencatat semua yang beliau sampaikan akan menyulitkanku fokus  dan bertepuk tangan.  Saya tidak bisa menahan haru ketika  ibu Ela mengajak ibu Rahmi dan Ibu Wanti  naik ke panggung. Lelaki macam apa saya: kumisan plus cambang, duduk paling depan tapi berlinang air mata. Percayalah, jika hati bapak-ibu masih ditempatnya, akan mengalami hal yang sama.  Ibu Rahmi dari Pesisir Selatan. Ibu Wanti dari Sanggau. Keduanya mengajar di pedalaman, akses yang terbatas. Jika hujan, Ibu Wanti berjalan kaki cukup jauh untuk sampai di sekolahnya. Saya tidak bisa menahan tangis melihat gambar ibu Wanti mendorong motor di jalan berlumpur. Lumpurnya sampai di lutut. Cerita ibu Rahmi juga menyedihkan. Saya belajar, fasilitas  bukan segalanya. Ibu Ela benar, guru-murid adalah sekutu utama. Ibu Rahmi dan Bu Wanti sudah menunaikan tugasnya sebagai guru yang merdeka belajar.  Kenapa bu Ela harus dibela? Bukan karena Bu Ela tidak berdaya. Sebaliknya, karena berdaya maka tidak boleh dibiarkan sendiri.  Perjuangannya tentang kemerdekaan belajar harus dibagi di seluruh pelosok negeri. Semua guru semua murid harus terasa di setiap ruang waktu. Ibu Najelaa telah memilih berdiri di sisi bu Rahmi dan Bu Wanti, memperjuangkan cita guru yang merdeka belajar. Mendengarkan cerita ibu Najelaa, serasa dibawa kembali masa silam, hadir pada pertemuan Selasa Kliwon  di Puri Pakualaman. Rumah pendiri taman siswa. Ada kegelisahan dan juga banyak harapan. Ki Hajar Dewantara prihatin dengan kemerdekaan berpikir para peserta didik. Ki Hajar kukuh berjuang pada tiga hal: bahwa pendidikan harus mencakup wilayah yang luas. Bahwa perjuangan itu menuntut kemandirian. Bahwa Pendidikan kita harus mengajarkan sistem ketahanan diri.  Guru berdaya tidak lahir dengan tiba-tiba. Guru harus bersentuhan dengan beragam peristiwa dan kesulitan. Semua guru mesti membangun banyak relasi dan hubungan dengan rekan sesama guru di banyak tingkatan. Ini akan menguatkan sekaligus mengayakan. Taman Siswa adalah dialektika. Temu Pendidik Nusantara juga begitu. Kolaborasi dengan banyak unsur adalah kemestian. Karena alasan itulah saya ingin berdiri bersama ibu Ela, Ibu Wanti dan juga Bu Rahmi. Perjalanan dari GOR PKP ke Bandara butuh waktu 1 jam 45 menit. Saya baca di aplikasi transportasi. Saya percaya dampak TPN pada guru, tapi tidak dengan waktu tempuh  perjalanan di Jakarta. Kepastian jarak tempuh di Jakarta hanya Tuhan yang tahu. Karena kepercayaan ini, saya tidak sempat pamit pada panitia. Terima kasih saya ucapkan pada panitia Temu Pendidik Nusantara 2018. Makassar, 8 Oktober 2018 Tulisan ini pertama dipublikasikan sebagai status Facebook.

Refleksi Enam Bulan di Kampus Guru Cikal

Tak ada pekerjaan yang tak membuat lelah, tak ada pekerjaan malah akan membuatmu lelah bukan kepalang. Bagaimana kondisi pekerjaanmu dan juga kantormu? Apakah sudah tepat untuk membuatmu berkembang dan membuatmu menjadi ‘The Best Version of Yourself’?

Bekerja di bidang pendidikan adalah cita-cita saya. Dulu sekali ingin punya Taman Kanak-Kanak bahkan ingin jadi Dosen. Tapi proses bekerja di bidang pendidikan dan untuk berada disini cukuplah berkelok bagi saya.

WhatsApp Image 2018-09-18 at 11.20.09 (2)

Tiga bulan awal bekerja, saya pun masih penuh tanda tanya di kepala. Apa saya berada di tempat yang tepat? Ada satu tantangan lagi yang melekat di kepala saya, Apakah Bapak Ibu Guru mau berdampingan dengan saya? Iya, saya yang bukan dari background pendidikan atau psikologi dan juga pekerjaan saya sebelumnya adalah Finance Officer. Apa mereka mau belajar dari usia saya yang relatif muda, 27 tahun?

Read more

Guru Desa: Empat Keanehan Temu Pendidik Nusantara

Ketika guru yang lain menatap kagum, guru desa satu ini justru merasakan keanehan Temu Pendidik Nusantara. Apa keanehannya? “Bu Lani, saya mau menjadi penggerak”Saya mengumpulkan segenap keberanian untuk menuliskan chat tersebut ke bu Lany waktu itu beliau masih menjadi koordinator penggerak untuk wilayah Sumatera. Inisiatif tersebut saya kemukakan bukan tanpa alasan karena satu ada kuota beasiswa untuk penggerak untuk ikut Temu Pendidik Nusantara, dan sangat sayang untuk dilewatkan. Oh ya sebelumnya saya sudah mendiskusikannya di grup Guru Belajar Pesisir Selatan siapa yang akan ditunjuk menjadi penggerak dan ternyata tidak ada respon. ketika itu grup kami masih berisi sekitar 25 orang dan masih sangat pasif dan anggota gruppun kebanyakkan teman-teman yang belum saya kenal, karena ketika grup dibuat oleh pak Bukik Setiawan isinya hanya kita bertiga, pak Bukik, Bu Lany dan saya. Ada banyak keanehan yang saya rasakan di Temu Pendidik Nusantara 2017. Saya merasa dunia saya mulai berubah. *Keanehan Pertama* Saya adalah seorang guru dari pelosok di pesisir pantai Sumatera yang sempat ketinggalan telepon genggam di bandara, gugup karena baru pertama kali naik pesawat, dan sempat berfikir di udara jika pesawat jatuh kemana saya akan menapak.. Saya berangkat bersama 4 orang penggerak hebat lainnya Pak Adhan Chaniago Bungsu, Pak Dicky Irawan, dan Bu Verawati Koto yang mewakili 4 Kabupaten di Sumatera Barat. Sesampai di Soeta kami dipandu oleh relawan menuju penginapan. Saya beserta dua teman menginap di LPMP dan salah dan satu teman saya menginap di rumah relawan orang tua murid Sekolah Cikal. Hari pertama saya masuk kelas penggerak karena penggerak wajib mengikuti kelas ini, saya bersama teman-teman mendapat materi tentang Guru Merdeka Belajar oleh Ibu Najelaa Shihab dan Pak Bukik Setiawan. Dari pemaparan beliau berdua tentang salah kaprah guru mardeka belajar terjadi pergulatan batin dalam diri saya. Logika saya seperti dibolak-balik, ada pertentangan batin untuk menerima itu semua. Saya sempat ragu apakah saya tidak salah masuk? Apakah saya berteman dengan orang-orang yang tepat? Apakah saya tidak salah pilih teman dan lain sebagainya? Hmmm tak mudah memang untuk merubah keyakinan yang sudah terbangun selama puluhan tahun. *Keanehan kedua* Saya adalah seorang guru dari pelosok desa yang terbiasa dengan pola pelatihan konvensional, dilatih dengan narasumber ahli, wajib bawa laptop, duduk manis walaupun terkantuk-kantuk, siap menampung materi dari pagi sampai malam, duduk diruangan yang sama. Di Temu Pendidik Nusantara, kondisinya berbanding terbalik. Saya belajar bersama guru-guru yang memiliki pengalaman berhadapan langsung dengan anak-anak, antar jenjang dan antar lintas, mulai TK,SD, SMP, SMA/SMK, perguruan tinggi bahkan orang-orang yang yang peduli dengan pendidikan. Belajar dengan antusias, energi positif memenuhi seluruh rungan, tepukan riuh pertanda memberi dukungan sehingga membangun percaya diri. Setiap sesi dengan kelas yang berbeda dan suasana yang berbeda. Tak jarang saya belajar di luar ruangan dan harus pindah mencari kelas yang sesuai, dan laptop saya sempat nganggur selama pelatihan. *Keanehan ketiga* Saya adalah guru dari sebuah desa yang terheran-heran dengan gaya menulis teman-teman. Ada yang menulis dengan banyak kotak-kotak, memakai banyak panah, berbentuk gambar, diagram dan begitu banyak spidol dalam tas mereka untuk membuat tulisannya menjadi berwarna. Mungkin bagi sebagian orang menulis seperti itu sangat biasa tapi waktu itu saya menganggap itu sesuatu yang sangat luar biasa. *Keanehan keempat* Saya guru desa yang tak pernah bermimpi bertemu dengan Ibu Menteri Sri Pujiastuti. Namun, di Temu Pendidik Nusantara 2017, saya bertemu dengan beliau dan hanya dibatasi jarak beberapa buah kursi. Dari cerita beliau saya jadi tahu, kesukaan beliau adalah membaca dan beliau pernah membaca habis seluruh buku perpustaaan yang ada di desanya. Beliau masih ingat dengan sebagian besar judul buku-buku yang pernah dibacanya puluhan tahun silam. Beliau juga cerita sering lupa waktu ketika membaca, karena kebiasaan tersebut orang tuanya sempat marah tapi tak mengentikan kebiasaannya membaca dengan bersembunyi di kolong tempat tidurnya. Ternyata keanehan di TPN 2017 silam berlanjut sampai detik ini, saya masih merasa aneh kenapa bisa menulis sepanjang ini (walaupun masih banyak teknik yang mungkin harus dibenahi). Padahal beberapa waktu yang lalu untuk menulis satu baris status di FB saja harus butuh waktu lamaaaa baru bisa menuliskannya. Sampai saat ini saya masih merasa aneh sudah mulai terbiasa bicara di depan umum padahal dulu sering gemetar dan tidak percaya diri, dan satu lagi yang sangat-saaaaaangat aneh menurut saya adalah ketika memberanikan diri untuk menjadi pembicara di Temu Pendidik Nusantara 2018. Temu Pendidik Nusantara ini tingkat Nasional Meeeeen masih ada rasa tak percaya, apa iya aku bisa… Entah apalagi keanehan yang akan ditawarkan oleh TPN 2018, yang pasti saya ingin kembali merasakannya. See you TPN 2018. Pesisir Selatan, Negeri Sejuta PesonaSabtu, 8 September 2018 RahmiGuru SMP Negeri Lengayang Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Status Facebook.

Kebutuhan Belajar

Sewaktu SMA saya tidak berani ke ibukota sendirian, karena kabar-kabar dari televisi, dari omongan orang bahwa ibukota kejam, tidak aman, macet dan sulit tranportasinya. Namun beberapa tahun belakangan ini, banyak murid saya seusia SMA yang sudah bolak-balik ke ibukota. Ketakutan-ketakutan saya dulu sepertinya sudah mulai berkurang. “Kamu kok berani ke Jakarta sendirian?” tanyaku.“Sekarang apa-apa mudah kok Pak. Kemarin beli tiket kereta saja tidak perlu ke stasiun. Kalau udah sampai Jakarta juga mudah Pak, ada banyak ojek online, langsung sampai rumah orangtua di Jakarta”, jawabnya. Apa yang menjadi masalahku sewaktu SMA dulu ada jawabannya sekarang. Masyarakat butuh kenyamanan, kemudahan dan keamaan dalam memakai transportasi umum, muncullah aplikasi transportasi online. Masyarakat butuh kemudahan dalam pembelian tiket, pemesanan hotel muncullah Traveloka, Airbnb,dsb. Masyarakat butuh kemudahan berbelanja, muncullah tokopedia, bukalapak, shopee dan sebagainya. Startup-startup di atas memahami masalah yang ada pada masyarakat dan kemudian menciptakan solusi, menjawab persoalan kebutuhan yang selama ini tidak terpikirkan. Ya, kebutuhan! Seringkali kita lupa hal yang mendasar yaitu kebutuhan. Sebagai guru contohnya : Menghabiskan uang untuk membeli media-media pembelajaran, sampai berjuta-juta. Namun nyatanya hanya untuk pajangan di kelas. Membeli rencana pelaksanaan pembelajaran, yang nyatanya apa yang ada di dalamnya tidak sesuai dengan murid yang diajar. Ikut-ikutan trends tidak memberikan tugas di rumah, ikut-ikutan cara mengajar guru di suatu sekolah yang nyatanya tidak pas diterapkan di lingkungan tempat kita mengajar. Tidak pernah bertanya pada diri sendiri “Apa sekolahku butuh ini ya?”, “Apa kelasku butuh ini ya?” “Apakah murid yang aku ajar benar-benar butuh?” Para pendiri strartup-startup tahu benar apa yang dibutuhkan masyarakat, melakukan riset bertahun-tahun, memetakkan apa yang dibutuhkan, menciptakan jawaban dari kebutuhan itu. Pertanyaanya adalah sudahkah kita melakukan riset di kelas? Memetakkan apa yang menjadi kebutuhan belajar murid?

Refleksi Diri : Memanusiakan Hubungan

Supir bus Sinar Jaya memasuki bus yang sudah penuh dengan penumpang yang tak sabar bertemu sanak saudara di kampung halaman. Dengan gaya yang necis ia memasuki bus dan langsung menyalakan televisi. “Halo Bapak, Ibu hari ini ingin memutar lagu apa untuk menemani perjalanan?” tanyanya sambil berdiri di depan layar televisi 32 inch yang ada di dalam bus tersebut. “Via Valen wae Pak..” “Muter film Dono aja..” “Dangdut koplo mantap Kang..” Suara saling bersautan menyampaikan apa yang ingin menjadi keinginanya. Pak supir, menengahinya dengan memilih memutar video kompilasi dangdut koplo yang menjadi pilihan terbanyak sore itu. Bus melaju kencang, seorang penumpang menghampiri supir dan memintanya untuk menurunkan suhu AC. Pak supir langsung menurunkan suhu AC, dan penumpang kembali tertidur nyenyak. Tak sampai di situ, setiap penumpang turun ia selalu bilang ‘terima kasih’. Hampir setiap minggu aku pulang kampung, namun tidak pernah menjumpai supir yang seperti ini. Biasanya naik bus – memutar lagu sesukanya dengan volume sesukanya – memaki-maki penumpang jika meminta AC diturunkan – cuek dan kadang memarahi penumpang yang turun sewaktu-waktu. Kalau saya menyebutnya adalah supir yang memanusiakan manusia, menganggap penumpangnya adalah sesama manusia yang memiliki hati dan pikiran. Maka proses interaksi yang terjadi adalah selayaknya dengan manusia. Bukan dengan robot. Hal yang sama juga aku temui saat mengisi pelatihan videografi bersama Inibudi.org di Palembang akhir minggu kemarin (4 Agustus 2018). Selesai pelatihan video, Inibudi.org menyempatkan diri untuk membuat profil salah satu pengusaha makanan tradisional Palembang, yaitu Bunda Raya. Selama proses shooting Bunda Raya menceritakan prosesnya hingga menjadi seperti sekarang ini. Ada beberapa poin yang saya pelajari dari cerita Bunda Raya tersebut. Ia adalah sosok yang selalu suka mengobrol dengan pelangganya, apapun obrolannya ia selalu layani. Beberapa malah ada yang mengobrol tentang rumah tangga. Pengikutnya di akun Instagram sudah 20.000 (yang sebelumnya sudah mencapai 40.000 namun terkena hack), dan ia selalu memposting apapun sendiri tanpa bantuan admin. Setiap komentar ia balas satu per satu dengan bahasa khasnya. “Saya kadang tidur jam 12 malam karena harus membalas semua pesan WA dan Instagram” tuturnya di akhir sesi wawancara. Itulah kunci dari sukses usaha yang digeluti Bunda Raya, memanusiakan pelanggan. Seperti supir tadi, ia menganggap pelangganya adalah manusia yang memiliki hati dan pikiran. Kini banyak artis ibukota yang jika datang ke Palembang selalu mengunjungi toko Bunda Raya, dengan sukarela mempromokan di akun instagramnya. Saya belajar banyak dari Bunda Raya dan Pak Supir, sebagai manusia harus memanusiakan hubungan dengan manusia, apapun profesinya. Karena kita hidup di bumi manusia…