Tips Bagi Orang Tua Menghadapi Anak yang Kecanduan Gawai

Banyak orang tua saat ini yang mengeluhkan bahwa putranya malasbelajar, kehilangan fokus saat belajar, atau menghabiskan waktuberjam-jam untuk bermain gawai. Mungkin sahabat ria ada juga mengalami hal demikian? Guru Agus Riyanto dan Guru Arga dari KGB Solo Raya membahas ini dalam KGB On Air – Ria FM Solo Apa hal pertama yang kita lakukan saat mendapati beberapa halseperti contoh di atas? Memarahi putra kita? Atau bahkan menyitagawai mereka? Atau mengancam akan dilaporkan guru di sekolahatau dengan perlakuan-perlakuan lain? Walau itu semua menjadi hak penuh kita selaku orang tua, tapi coba kita renungkan dulu deh, benar ngga cara-cara kekerasan seperti itu dapat menjadi solusi bagi putra kita? Kalaupun iya, benarkah bahwa besok kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi? Apakah kita harus marah-marah terus? Bukankah kelihatan konyol jika demikian adanya?! Sebagai orang tua, kita harus memaknai betul bahwa putra/i kita adalah amanah yang tak ternilai harganya. Sudah selayaknya kita memperlakukan mereka dengan penuh tanggung jawab. Orang tua harus menyadari betapa pokoknya peran kita dalam tumbuh kembang mereka. Tantangan kita dalam mendidik putra/i kita semakin hari terasa semakin berat. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadikan kita dilema. Perkembangan ini mustahil kita hindari, tapi juga jangan sampai memberangus peranan kita dalam mendidik putra/i kita terutama pada pewarisan nilai-nilai luhur kehidupan dan pewarisan norma yang berlaku di masyarakat. Teknologi adalah Musuh? Melihat perkembangan teknologi dan informasi saat ini yang sangat dinamis, apa sajakah hal-hal yang berpotensi menjadi musuh anak kita dalam tumbuh kembangnya? Setidaknya ada 4 hal yang berpotensi menjadi musuh bagi tumbuh kembang putra/i kita. Keempat hal tersebut yaitu: Gawai, Televisi, Pasar, dan Kendaraan Bermotor. Saya katakan berpotensi karena memang saat ini setidaknya mungkin kita menyesal telah membelikan gawai putra/i kita, atau membeli televisi yang menjadikan putra/i kita lebih tertarik untuk menghabiskan waktunya untuk gawai dan televisi. Kemudian untuk pasar, tempat ini sebenarnya bukan tempat yang harusdihindari juga. Hanya kita harus lebih berhati-hati saat mengajak putra/ikita ke pasar. Tempat berkumpulnya banyak orang dengan berbagai latarbelakang ini tentunya sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang putra/i kita terutama saat mereka dini (belajar berbicara). Betapa banyakkita mendengar cerita, bahwa seorang anak kecil ketika sepulang daripasar mampu mengucapkan kata-kata yang jarang kita ucapkan di rumah.Paham atau tidak paham, putra/i kita hanya menirukan, karena merekamemang peniru terbaik. Khusus kendaraan bermotor, saat ini sudah menjadi barang yang wajib dimiliki oleh semua orang. Kendaraan kita gunakan untuk mobilitas/ aktivitas kita sehari-hari. Barang ini berpotensi menjadi musuh anak jika putra/i kita yang mengendarai. Biasanya dialami oleh putra/i kita yang memasuki masa remaja. Sekitar kelas 4 SD mereka biasanya merengek untuk minta diajari atau lebih parah jika justru kita yang mengajari mereka. Memangku Teknologi Lalu bagaimana cara menghindari keempat potensi musuh bagi putra/i kita tersebut? Kita tahu bersama bahwa menghindari adalah mustahil. Sebagai orang jawa, tentu kita akrab dengan istilah pangkon. pangkon itu berfungsi untuk mangku semua aksara dalam penulisan jawa. pangkon hanya digunakan di belakang, kecuali sangat terpaksa maka wignyan digunakan di tengah, tapi ini jarang kita temui. Lalu apa kaitannya? Kaitannya sederhana saja, bahwa segala perkembangan secanggih apapun itu harus kita pangku kita dudukkan agar perkembangan tersebut tetap tunduk pada kendali kita. Potensi menjadi musuh ini tadi juga harus bisa kita pangku agar potensi ini menjadi hilang dan akan hadir kebermanfaatan. Inilah yang kita namakan berkawan dengan musuh. Toh sejatinya teknologi dibuat untuk memudahkan manusia itu sendiri bukan sebagai musuh atau ancaman. Menyikapi Potensi “Musuh” Anak Lalu bagaimana sebaiknya kita menyikapi 4 potensi musuh bagi anak-anak kita tersebut agar bisa menjadi kawan yang menyenangkan dan tidak mengganggu tumbuh kembang putra/i kita? Luangkan waktu untuk melakukan kegiatan bersama putra/i kita. Jangan sampai membiarkan mereka lebih intens bersama dengan gawai dan televisi. Luangkan waktu setengah atau satu jam untuk bermain bercengkerama bersama mereka. Kendalikan dan awasi tumbuh kembang anak kita. Berikan pendampingan saat mereka berinteraksi dengan keempat hal tersebut. Mungkin bisa dengan mengatur berapa lama boleh menggunakan gawai, berapa lama dan kapan boleh menonton televisi, kapan diajak ke pasar, dan bagus juga jika diberi pengertian kapan seseorang boleh mengendarai motor. Belajar untuk mencari tahu manfaat keempat tersebut dalam tumbuhkembang anak kita. Kita bisa memanfaatkan keempatnya sebagai media dan atau sumber belajar yang menyenangkan lho. Misal: Menggunakan gawai untuk belajar mengenal warna, nama binatang, dan lain-lain. Menonton televisi pada saat diputar film anak, dan atau diputarkan film dan lagu anak melalui vcd. Teman-teman di KGB Solo Raya pernah bekerjasama dengan inibudi.org beberapa waktu lalu membuat video pembelajaran. Pasar bisa dimanfaatkan untuk belajar jual beli, melatih keberanian anak, dan melihat orang-orang sekitar agar kita bisa mengambil hikmah. Kendaraan bermotor mungkin bisa dikenalkan tentang gas buang yang beracun, bahan baku membuat ban, bahan membuat rantai, bentuk ban dan lain-lain. Ajak putra/i kita berinteraksi dengan tetangga, ajak pergi ke rumah ibadah, dan biarkan mereka berada di dunianya. Dunia mereka sesungguhnya dunia belajar bersosialisasi, menyukai hal-hal baru, dan bermain. Dari interaksi ini akan muncul dengan sendirinya nilai-nilai kehidupan. biarkan mereka asik dengan dunia alamiahnya mereka. Paling penting yaitu keteladanan kita. Jangan sampai kita membatasi putra/i kita, tetapi pada saat yang sama kita menggunakan terutama gawai dan menonton televisi tanpa mengenal waktu. Mari mencoba untuk selalu menjadi contoh bagi putra/i kita. Kadang mereka seperti ini seperti itu, mungkin karena melihat dan meniru perilaku kita sebagai orang tuanya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah keniscayaan yang berjalan beriring dengan tumbuh kembang putra/i kita. Tugas kita sebagai orang tua adalah memastikan bahwa perkembangan iptek tadi dapat bermanfaat bagi tumbuh kembang putra/i kita. Tugas kita adalah merangkul potensi musuh tadi menjadi kawan bagi putra/i kita bukan menghindarinya. Mendampingi tumbuh kembang putra/i kita ibaratnya seperti bermain layang-layang. Layang-layang itu bisa terbang setinggi apapun, bergerak kekanan kekiri sesuai hembusan angin, tapi kita memiliki simpul untuk mengendalikannya. Simpul itu adalah kasih sayang kita.

Peran Ayah dalam Pendidikan Anak

Mendidik anak tentu bukan hanya tanggung jawab seorang ibu. Sangat diperlukan sosok seorang ayah agar pendidikan terhadap anaknya dapat berjalan secara optimal. Lalu bagaimana kenyataan di lapangan saat ini?
Guru Agus Riyanto dari KGB Solo Raya dan Guru Siska Yuniyati dari Sukoharjo membahas ini dalam KGB On Air – Ria FM Solo

Guru Merdeka Belajar, Guru yang Tidak Takut untuk Berubah

Kami semua memutuskan untuk menjadi guru yang merdeka belajar dengan menjadi guru yang berdaya dan memegang kendali atas proses belajar kami sendiri. Kami percaya bahwa pendidikan itu penting dan harus dijadikan prioritas. Perubahan yang ingin kami lakukan yaitu belajar dengan tujuan dalam konteks. Kami harus menjadi Guru professional yang adaptif, karena kami sendirilah yang paling memahami siswa kami sendiri. Kami juga akan selalu mencoba untuk berinovasi dalam pendidikan “trial and error” sehingga suatu hari inovasi yang kami kembangkan bisa diterapkan di dalam kelas.

Merdeka Belajar, Tak Sesempit Arti Bebas

Pada hari Senin, 27 Mei 2019 yang bertepatan dengan 22 Ramadhan 1440, Komunitas Guru Belajar Solo Raya mengadakan acara Temu Pendidik Sekolah yang bertempat di MIM PK Kateguhan Boyolali. Sesi terakhir dari rangkaian acara Komunitas Guru Belajar yang bekerja sama dengan Guru-guru MIM PK Kateguhan Boyolali adalah nobar. Nonton bareng cuplikan video Najelaa Shihab (Bu Elaa) yang menjelaskan terkait “Merdeka Belajar” dalam acara Temu Pendidik Nusantara pada tahun 2016.  Acara ini dipandu oleh Kak Una, selaku anggota dari KGB Solo Raya. Kemudian sebelum video diputar ada beberapa untaian kata dari Bu Heni selaku Penggerak dari KGB Solo Raya, beliau mengatakan bahwa adanya Komunitas Guru Belajar ini sebagai wadah untuk menampung segala ide praktek belajar, tempat berbagi materi cerdas mengajar kepada guru-guru dari berbagai media. Bu Elaa dalam video tersebut menjelaskan bahwa sebagian besar anak Indonesia itu dunianya hanya sebatas ruang kelasnya, mimpinya hanya sebatas tingginya tangan untuk menjawab pertanyaan gurunya, yang kita inginkan adalah anak-anak yang mempunyai aspirasi tinggi, memiliki cita-cita yang melampaui langit, menembus batas, melampaui dunianya dan ini hanya terjadi pada saat anak-anak memiliki kemerdekaan belajar, tapi kemerdekaan belajar murid-murid hanya akan terjadi pada saat kita semua sebagai pendidik juga sebetulnya memiliki kemerderkaan. Dan kita sangat percaya bahwa proses kemerdekaan itu sebetulnya bukan sesuatu yang diberikan tapi sesuatu yang kita gerakkan dan harus diperjuangkan. Sebagai pendidik yang merdeka belajar adalah harus memiliki komitmen, memiliki kemandirian dan selalu reflektif. Pada saat kita berbicara tentang komitmen kita sebetulnya berbicara tentang komitmen terhadap tujuan, tapi semua dari kita yang setiap hari bergerak pasti dia tahu betapa susahnya untuk bisa konsisten terhadap tujuan. Tantangan utamanya adalah membedakan cara dengan tujuan, kita terjebak pada tugas-tugasadministratif, ketentuan-ketentuan birokrasi sehingga ujian, akreditasi, seleksi, nilai, yang sebetulnya semua hanya cara kemudian menjadi tujuan dan menjadi prioritas utama. Selanjutnya terkait kemandirian, kemandirian juga sulit, karena sebetulnya pada saat ketika kita melihat proses kemandirian pada tingkatan-tingkatannya itu banyak sekali. seperti manipulasi, kesadaran, interaksi/dialog, masukan/konsultasi, kemitraaan, pemberdayaan, Kenyataan dilapangan dalam upaya pengembangan guru yang penuh dengan manipulasi, banyak ketentuan, sebagian dari kita mungkin berhenti pada tingkatan ketiga yaitu menjadi teman konsultasi atau memberikan masukan, tapi masih jauh perjalanannya untuk sampai berdaya dan memegang kendali atas proses belajar kita sendiri. Kemudian hal yang menjadi bagian dari pendidik yang merdeka belajar adalah kemampuan untuk refleksi, refleksi ini mudah dikatakan tapi sulit sekali dilakukan, sebagian dari kita cenderung menutup mata menolak untuk melihat cermin dengan seribu satu alasan. Kita bilang masyarakat belum faham, kita bilang anak-anak tidak mengerti, kita bilang orang tua akan menentang, padahal itu sebetulnya alasan dari ketakutan diri kita sendiri untuk menuju  perubahan. Kita itu sedang melawan miskonsepsi, melawan miskonsepsi tentang guru belajar. Banyak yang bilang guru itu mau belajar kalau ada insentifnya, guru mau belajar kalau mendapatkan sertifikat atau uang, seharusnyaadalah guru-guru yang belajar berdasarkan kebutuhan alamiah. Banyak juga yang bilang bahwa guru itu hanya bisa belajar dari yang ahli,  dari pakar pendidikan, di temu pendidik ini kita buktikan bahwa guru itupaling belajar efektif dari sesama guru. Guru itu tidak perlu figur sempurna yang serba ahli, guru itu perlu figur yang realistis, yang belajar, mempraktekan apa yang dia pelajari, yang belajar banyak sekali kegagalan sebelum akhirnya berhasil. Guru profesional itu sebenarnya guru yang adaptif, kita yang ketemu anak setiap hari pasti tahu betapa pentingnya peran guru yang adaptif, setiap tahun ajaran, setiap pekan bahkan setiap hari, setiap murid kita butuh hal yang berbeda dari kita, sehingga tahu kenapa menjadi sangat esensial. Kita melawan target-target belajar yang diburu-buru dan dipaksakan, guru belajar itu butuh waktu. Pendidikan itu tidak pernah kekurangan inovasi, banyak sekali inovasi yang terjadi setiap saat, yang selalu kita katakan adalah guru butuh waktu, butuh waktu untuk memahami inovasi, butuh waktu untuk memiliki inovasi, butuh waktu untuk membuktikan apakah inovasi itu sesuatu yang sesuai atau sesuatu yang tidak bisa dipakai. Kita juga membuktikan bahwa kompetensi itu bukan soal individu, perlu kita sadari bahwa guru adalah kunci dalam pendidikan itu tidak cukup, tapi guru yang merdeka belajar adalah kunci. Karena pada saat orang bicara guru adalah kunci, sebetulnya yang sering ada dalam bayangannya adalah ini pabrik, gurunya input sehingga dia menjadi kunci terhadap sebuah output yang dihasilkan murid-murid kita, tapi pada saat kita bicara guru yang merdeka belajar adalah kunci maka kita yakin bahwa kompetensi itu bukan kompetensi individual. Kompetensi itu adalah potensi individu yang didukung oleh ekosistem yang baik, tidak ada guru yang bisa belajar sendirian, tidak ada guru yang bisa kompeten sendirian dan tidak ada guru yang bisa merdeka belajar sendirian. Setelah nonton bareng Kak Una selaku pemandu acara ini, kemudian mengajak para guru untuk merefleksikan terkait video merdeka belajar yang dipadukan dengan pengalaman praktek dilapangan. Pada acara itu, yang pertama memberikan ulasan adalah Bu Erma, beliau mengatakan: “Pertama, kami ucapkan terima kasih sekali kepada komunitas guru belajar solo raya, yang telah berkenan dan membagi ilmunya di sekolah kami. Alhamdulillah sudah membuka mindset kami semua, bahwa belajar yang sesungguhnya adalah yang seperti itu, kita bisa merasakan merdeka, dalam keadaan yang tak terbatasi dengan kelas, dengan kurikulum dsb. Namun, di lapangan kita masih sering terjebak dengan hal itu. Sebenarnya, jika sesi ini bisa dilanjutkan lagi, kami ingin lebih fokus; misalnya inspirasi mengelola kelas, untuk memanajemen peserta didik dan menelurkan materi-materi dalam media-media yang menarik, karena bapak-ibu guru yang ada di kelas atau sekolah tingkat dasar ini sangat memerlukan sekali. Supaya guru dan murid bisa belajar sambil bermain atau bermain sambil belajar. Kami harap pertemuan yang singkat ini, bisa berlanjut ketahapan selanjutnya secara off-air atau on-air, offline ataupun online.” Kemudian dilanjutkan oleh Bu Narni, beliau mengatakan: “Senang sekali, siang ini bisa menikmati salah satu figur tentang Kampus Guru Cikal. Beberapakali di sosial media saya pernah melihat ada teman yang ikut juga, cuma saya tidak terlalu mengikuti lebih mendalam. Ternyata, sebuah komunitas yang menarik, gimana dengan tajuknya ‘merdeka belajar’. Ketika melihat kondisi kelas yang sekarang, mulai murid masuk kelas duduk, ya sepertinya belum merdeka belajar ya Bu.. sama yang diungkapkan oleh Ibu Kepala tadi, maka tantangannya kalau ingin merdeka belajar itu, gimana caranya jika dilihat sendiri misalnya sekolah formal kecuali memang mereka yang home schooling atau mereka yang … Read more

Perilaku Guru Merdeka Belajar

“Sebagai seorang guru kita semestinya selalu berinovasi, open mind dan percaya bahwa kita tidak sendirian untuk membawa perubahan, cari rekan sejawat yang sevisi. Nah di KGB ini, kita dapatkan partner belajar yang siap untuk diajak berkolaborasi”. Tutur Pak Rolis Salah satu ungkapan gelora Baper (bawa perubahan) pada siang itu memenuhi area kelas SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo (22/05/19). Ada pancaran LCD yang menyala, ternyata para guru di Komunitas Guru Belajar Sidoarjo sedang nonton bareng. Wah, nontonnya gak segambarangan. Mereka menyaksikan Film Merdeka belajar. Kegiatan tersebut digagas olehkomunitas guru belajar nusantara & kampus guru cikal dalam rangka menyambut Hardiknas 2019. Nonton bareng Film Merdeka belajar hadir sebagai ajang bagi para pendidik untuk berefleksi terhadap upaya-upaya kita dalam mendidik anak. Pasalnya setelah nobar, para guru berdiskusi mengenai bagaimana pembelajaran yang selama ini disajikan. Analisis mengenai Kebemaknaan belajar siswa, seberapa dekat hubungan yang terjalin dengan siswa, realisasi praktik literasi sampai upaya yang akan dilakukan para guru menyikapi masalah & tantangan yang ada. Seperti pernyataan Guru Enik berikut. “Di acara ini, kita bisa berbagi praktik baik melalui aktivitas refleksi terhadap pembelajaran yang telah kita laksanakan mulai dari miskonsepsi literasi, kebiasaan copypaste RPP dan sebagainya. Selain itu, selepas acara ini, kita akan kolaborasi bersama untuk menularkan virus merdeka belajar di lingkungan sekolah masing-masing”. Keseruan acara nobar terletak pada sesi refleksi. Pada seremoni ini, kami berbagi kisah, pengalaman bahkan curhat menjadi bagian yang penuh balutan emosi. Kisah Guru Syifa menarik perhatian peserta kala itu. “Anak itu tidak pernah tersenyum. Ia selalu terlihat murung. Sesekali terlihat merenung. Ada apa sebenarnya? Berbagai cara kucoba untuk membuatnya tersenyum, mulai dari mengajaknya untuk tersenyum, bercerita humor, senam wajah tapi belum berhasil. Kucoba cari tahu. Home visit pun aku tunaikan. Ternyata akar masalahnya ada pada kebiasaan si anak & orang tua. Saat di rumah, si ibu asyik sendiri dengan HP-nya. si anak dibiarkan belajar dengan sendirinya. Dari situlah, sang anak menjadi pribadi yang pemurung. Sejak saat itu, kubangun komuikasi dengan orang tua. Kusarankan pada ibunya agar sebelum tidur, si anak diajak untuk tersenyum dan ditemani saat belajar serta diajak komunikasi mengenai aktivitas harian si anak. Tak hanya itu, di kelas aku sampaikan mengenai hadits tentang pahala orang yang tersenyum, membiasakan anak-anak untuk tesenyum saat awal & akhir KBM serta saat saat berpapasan/ bertemu dengan teman, guru dan orang lain di jalan seraya berucap salam. Alhasil upayaku berhasil. Sungguh kebahagian yang tiada tara sebagai pendidik saat sukses menghantarkan anak didiknya”. Dari pengalaman Guru Syifa dan para guru lain yang saat itu hadir, kami sadar bahwa menjadi guru merdeka belajar harus memiliki komitmen yang diwujudkan dengan kemandirian untuk menemukan paduan yang pas antara kurikulum, kebutuhan murid dan situasi lokal. Kemudian, guru merdeka juga harus reflektif, berani meminta umpan balik secara aktif danmenilai diri sendiri dengan objektif. Mulai sekarang, kami sepakat bahwa pengembangan kemerdekaan guru bukan sekadar soal mengubah kebijakan, tetapi perilaku harian yang muncul dari kita, dari pembelajaran yang kita hadirkan, seberapa jauh mejangkau diferensiasi murid dan seberepa dekat kita memanusiakan hubungan dengan murid. Sebagaimana ungkapan Bu Najelaa Shihab, “Guru Merdeka itu tak hanya memahami kewajiban, tetapi juga memiliki otonomi dan menggunakan otoritas dengan bijak”. Terima kasih Kampus guru cikal yang telah menggerakkan para guru se-nusantara untuk menjadi guru pembelajar sepanjang hayat. Salam Guru Merdeka Belajar!!!

Menyebarluaskan Prinsip Merdeka Belajar

Bulan ini adalah waktu sibuk bagi kami guru menjelang akhir tahun. Kesibukan menyelesaikan materi dan menjelang PAT. Perasaan yang sangat acak kami rasakan. Di tengah perasaan ini, alarm ajakan untuk menjadi guru merdeka belajar berbunyi. Seketika cukup menggetarkan hati kami, para guru yang tergabung dalam Komunitas Guru Belajar Pekalongan. Ada semangat untuk memulai aktivitas menjadi penggerak karena keresahan yang kami rasakan, namun di sisi lain kami sebagai calon penggerak barumerasa bingung. Menjadi penggerak itu yang bagaimana, sudahkah aktivitas merdeka belajar itu hadir di kelas-kelas kami atau belum. Semangat terus naik namun beriringan dengan kebimbangan yang terus muncul. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk berdiskusi dan mencari tahu, bagaimana aktivitas merdeka belajar yang sesungguhnya. Salah satu hal yang saya senangi di Komunitas Guru Belajar Pekalongan adalah membaurnya penggerak dengan anggota. Mungkin itu juga yang akhirnya menarik minat banyak anggota untuk turut serta bergerak dalam pendidikan yang lebih baik di Pekalongan. Kami (penggerak dan anggota) mendiskusikan bersama tentang apa itu merdeka belajar dan mekanisme menjadi penggerak. Tak ada sekat yang menghalangi kami untuk berdiskusi. Penggerak yang sudah aktif dengan senang hati menawarkan diri untuk membantu, sekedar memfasilitasi pertanyaan dengan tim Kampus Guru Cikal sampai ada yang menawarkan rumah dan peralatan nobar bagi calon penggerak. Kampus Guru Cikal sedang menyuarakan gerakan nobar Guru Merdeka Belajar. Akhirnya disepakati untuk mencari jawaban melalui kegiatan nobar tersebut. Penggerak yang sudah aktif memberikan kesempatan kepada calon penggerak untuk menjadi moderator dan memprakarsai acara, dari sejak awal membuat poster, mendaftarkan acara ke tim Kampus Guru Cikal, mengkoordinir peserta untuk nobar, dan mengadakan nobar kemudian membuat laporan. Saya adalah calon penggerak pertama yang mengadakan sesi nobar dengan bantuan penggerak yang sudah aktif. Awal kali bersepakat untuk mengadakan nobar di rumah Guru Niken, namun karena ada beberapa hal yang perlu disesuaikan jadwalnya dengan rapat ransel, akhirnya diputuskan nobar diadakan di rumah Guru Niam, tanggal 18 Mei 2019. Sebelum memulai nobar, saya mencoba membuka kembali obrolan tentang apa itu merdeka belajar ? Apa yang sudah kita pahami selama ini tentang merdeka belajar ? Beberapa guru menjawab merdeka belajar adalah bebas untuk belajar tanpa ada paksaan. Rata-rata jawaban berkutat seputar itu. Karena sudah tidak ada jawaban lain lagi, saya putarlah video merdeka belajar dari Bu Ela untuk mencari pencerahan bersama-sama, apa sih sebenarnya makna merdeka belajar itu. Dari penanyangan video tersebut, kami menemukan jawaban bahwa merdeka belajar itu berangkat dari keresahan bahwa dunia anak-anak hanya terbatas di ruang kelas. Mimpinya hanya terbatas oleh tingginya tangan mereka untuk menjawab pertanyaan guru. Padahal yang kita inginkan adalah anak-anak yang memiliki aspirasi yang tinggi, cita-cita yang tinggi melampui langit. Dan ini hanya baru akan terjadi ketika anak-anak itu memiliki kemerdekaan belajar dalam diri mereka. Sementara itu, agar anak-anak memiliki kemerdekaan belajar dalam diri mereka, pendidik harus terlebih dahulu memiliki kemerdekaan belajar.Beberapa kalimat tersebut membuat peserta nobar semakin bertanya, lantas apa itu sebenarnya merdeka belajar ? dan inilah hasil pembelajaran yang kami dapatkan. Ada beberapa esensi merdeka belajar, yaitu : komitmen, kemandirian, dan refleksi. Komitmen. Komitmen adalah fokus terhadap tujuan. Permasalahan kita sebagai pendidik saat ini adalah sulitnya membedakan antara cara dan tujuan. Kita masih terjebak pada tugas administratif dan keterikatan dengan birokrasi, yang seharusnya itu semua hanyalahcara kemudian menjadi tujuan dan prioritas bahkan lebih tinggi dari tujuan awal menjadi pendidik itu sendiri. Kemandirian. Banyak upaya pengembangan guru yang penuh manipulasi berupa insentif atau tunjangan lain yang membuat guru menjadi sulit untuk memegang kendali atas proses belajar dan mencapai kemandirian dalam belajar. Refleksi. Sebagian dari kita cenderung menutup mata dan menolak untuk melihat cermin namun lebih suka menyalahkan pihak lain di luar diri kita. Inilah yang sebenarnya menghambat kita untuk menjadi pendidik yang merdeka. Dari 3 esensi menjadi guru merdeka belajar di atas, saya melemparkan beberapa pertanyaan refleksi. Diskusi berjalan dengan sangat mengalir, satu sama lain saling bersahut memberikan refleksi tanda memiliki keresahan yang sama. 1. Apa yang dipahami tentang merdeka belajar setelah menonton video tersebut ? “Merdeka belajar adalah memiliki komitmen yang kuat terhadap pendidikan yaitu membuat murid menjadi berdaya, memiliki kemandirian terhadap kelas yang kita ajar dan selalu refleksi di akhir pembelajaran. Namun saya membayangkan ini adalah hal yang cukup sulit untuk dilakukan. Mungkin bisa jadi awalnya kita sudah idealis memiliki tujuan kemudian merumuskan cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut, namun seringkali cara tersebut tidak berjalan saat kita dihadapkan pada tekanan-tekanan eksternal, misalnya waktu ulangan yang semakin mepet, agenda sekolah yang semakin sedikit karena penyesuaian kebijakan dan sebagainya. Ditambah lagi, kita masih sering lupa refleksi. Padahal refleksi yang akan membantu kita untuk mengevaluasi diri, proses mana yang terlewat dalam menerapkan merdeka belajar di ruang kelas kita. Hasilnya, penerapan cara yang masih sulit karena banyaknya tekanan dari luar tadi kurang terefleksikan. Proses mengajar berasa menjadi sebuah rutinitas tanpa mengarah pada tujuan” ucap Guru Rayinda 2. Apakah selama ini kita sudah menjadi pendidik yang menerapkan kemerdekaan dalam belajar ? “Saya tidak tahu apakah saya sudah bisa disebut sebagai guru merdeka belajar atau belum, sebab selama ini saya sendiri juga masih terbawa tuntutan untuk mengikuti berbagai macam yang terkadang aturan-aturan tersebut melupakan kemerdekaan belajar bagi murid. Namun sebisa mungkin saya berusaha untuk tetap bisa mengendalikan suasana belajar di kelas saya. Suatu malam tiba-tiba muncul ide untuk menerapkan pembelajaran dengan film, sebagaimana pelatihan yang sudah saya dapatkan melalui KGB Pekalongan bekerja sama dengan Sinedu dan Kampus Guru Cikal. Respon anak-anak luar biasa, mereka bisa refreshing sambil belajar, tanpa menghilangkan sisi pembelajaran. Kebetulan waktu itu adalah watunya belajar tentang unsur intrinsik dan ekstrinsik. Namun itu tadi, terkadang sulit untuk mengatur ritme karena ada tuntutan aturan dari lingkungan ekosistem tempat kami bekerja.” Ucap GuruZidnil 3. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya untuk menerapkan merdeka belajar ? Guru Niam sebagai pendamping kegiatan nobar kami memberikan jawaban yang mencerahkan dan membangun semangat kami kembali. “Oleh karena itu agar kita tidak terlalu kesulitan untuk menerapkan kemerdekaan belajar, hal yang harus kita lakukanadalah dengan mengajak sebanyak-banyaknya teman yang berada di lingkungan ekosistem kita untuk sama-sama merdeka. Dengan begitu kita akan lebih memiliki power untuk bergerak bersama menjadi guru merdeka belajar”. Ya betul, disadari peserta nobar yang datang kala itu berasal dari sekolah yang berbeda-beda. Artinya … Read more

Udinus Berdayakan Teknologi untuk Mahasiswa Penyandang Disabilitas

“Sepuluh tahun yang lalu, ada salah satu orangtua mahasiswa yang meminta anaknya yang notabennya penyandang disabilitas untuk bisa mengenyam pendidikan di Udinus. Kami belum punya pengalaman untuk mendampingi anak berkebutuhan khusus belajar, namun bagi kami ini tantangan. Akhirnya kami terima, dan kami kemudian mencari cara agar anak tersebut bisa belajar dengan maksimal.” , tutur Prof Dr Ir Edi Noersasongko M.Kom Rektor Universitas Dian Nuswantoro Semarang (Udinus) yang kami temui Kamis (16 Mei 2019) di Gedung rektorat Udinus, Semarang. Dalam pertemuan bertajuk audiensi program Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas untuk NusantaRun 6 ini rektor Udinus menceritakan bagaimana Udinus memulai kepeduliannya dengan mahasiswa penyandang disabilitas. Seperti cerita di atas, untuk menghadapi tantangan tersebut pak Edi meminta beberapa dosennya untuk belajar, membuat riset mengenai penyandang disabilitas. Ternyata, usahanya tidak sia-sia, banyak dosen yang akhirnya tergerak membuat riset mengenai penyandang disabilitas. Misalnya Muljono S.Si, M.Kom dosen Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) yang mengembangkan Sistem Sintesis Ujaran Audio-Visual (SSUAV) untuk Bahasa Indonesia yaitu sebuah sistem yang dapat membangkitkan ujaran audiio visual secara simultan dari teks yang diinputkan, sistem tersebut memanfaatkan alat bernama Job Access With Speech (JAWS). Sistem dan alat ini mampu membantu para tunanetra untuk menggunakan komputer. Dalam kerjanya aplikasi tersebut membaca layar komputer dan mampu melafalkan teks. Selain Muljono, mahasiswa Teknik Biomedis Udinus juga menciptakan kursi roda berteknologi modern yaitu bisa berjalan hanya dengan kendali jari. Dari riset tersebut banyak mahasiswa penyandang disabilitas terbantu, salah satunya adalah Eka Pratiwi Taufanti, mahasiswa jurusan S1 Sastra Inggris Udinus ini berhasil menemukan jalan kariernya sebagai penulis saat belajar di Udinus. Berikut salah satu tulisan Eka : “Aku tentu bangga dan bahagia dengan apa yang kudapat sekarang ini. Memang yang kudapat ini belum apa-apa jika dibandingkan dengan teman-teman lainnya, namun aku tetap bersyukur karena meskipun aku harus tinggal berpisah dengan orang tuaku yang berjualan pecel serta nasi di luar jawa, namun aku bisa tetap melanjutkan pendidikanku. Pelita di kedua mataku kini memang telah tiada , terganti gulita yang sesakkan dada. Namun berkat rasa syukur dan mimpi yang berpijar dalam jiwa, gulita itu seolah bukan apa-apa. Pelita lain, pelita baru yang lebih benderang dari cahaya optic pada indera penglihatanku kini berpijar, menyinari kehidupan seorang anak manusia yang dianugerahi sebuah ketunanetraan, seorang anak manusia yang meski memiliki keterbatasan namun tetap memiliki mimpi sebesar bahkan lebih besar dari mereka; individu-individu yang sempurna secara fisik. Seseorang dengan keterbatasan nyatanya dapat menembus keterbatasan tanpa batas, berlari mengejar mimpi dengan keyakinan penuh dalam hati. Bagiku hidup adalah berawal dari mimpi, maka jangan takut bermimpi karena ketika kita takut bermimpi, kehidupan ini tak akan ada untuk kita. Kuncinya, ikhlas dengan takdir yang ada and do believe that God will give a hand for us!!” Udinus memang tak main-main dengan apa yang mereka lakukan untuk penyandang disabilitas, pada tahun 2017 Udinus mengundang perwakilan organisasi dan komunitas difabel untuk mengikuti Focuss Group Discussion (FGD) untuk menyusun bahan ajar yang aksesibel bagi mahasiswa difabel netra. Dalam audiensi tersebut, Kampus Guru Cikal yang diwakili Bukik Setiawan dan Rizqy Rahmat Hani ini mengajak Udinus menjadi salah satu perguruan tinggi tujuan calon mahasiswa penyandang disabilitas untuk program Pengembangan Murid Disabilitas. Gayung bersambut, pak rektor menyambut hangat ajakan kami.

Guru Merdeka Belajar ,Mengulik Miskonsepsi Guru Belajar

Apa sih merdeka belajar itu?Kenapa belajar harus merdeka?Lho kok belajar ada miskonsepsinya? Bagaimana cara agar bisa merdeka belajar dan menangani miskonsepsi itu? Pada tanggal 12 Mei 2019 KGB kudus mengadakan nobar atau nonton bareng video Guru Merdeka Belajar. Apa pentingnya sih acara nobar ini?Di dalam video guru merdeka belajar ini, mengulik keseluruhan miskonsepsi dalam pendidikan di era sekarang. Banyak sekali yang menjadi penghambat guru mengembangkan dirinya, dan mungkin menyebabkan pembelajaran di kelas jadi “membosankan” alias “bikin ngantuk!”. Tidak hanya miskonsepsi yang dibahas dalam kegiatan nobar ini, ada pula cara bagaimana menjadi guru yang merdeka belajar. Nah dari sini kita bisa tau, kenapa bisa begitu? Bagaimana solusinya agar guru bisa merdeka belajar serta mengembangkan dirinya? Ada beberapa susunan acara, sebelum pemutaran video, moderator menanyakan apa yang dipahami oleh peserta tentang merdeka belajar. Guru Shofi berpendapat, “Merdeka belajar tanpa terlalu terkekang dengan administrasi”. dan ada juga yang berpendapat Guru Ayu, “Guru yang dapat memotivasi diri sendiri untuk menciptakan hal baru dalam pembelajaran dan mampu belajar terus”. Kemudian dilanjutkan dengan pemutaran video dengan durasi 15 menit. Dalam video tersebut memaparkan beberapa cara mejadi guru yang merdeka belajar dan miskonsepsi yang memang terjadi sekarang ini. Menjadi guru yang merdeka belajar terdapatbeberapa hal yang essensial, pendidik yang merdeka itu punya komitmen, memiliki kemandirian dan berefleksi. Berkomitmen dengan tujuan, yang menjadi tantangan dalam hal ini adalah kita lupa membedakan cara dengan tujuan. Kita terjebak pada tugas – tugas administratif, akkreditasi, ketentuan birokrasi yang sebenarnya semua hanya cara namun kemudian menjadi tujuan dan prioritas utama. Hal yang kedua kemandirian, ini perlu adanya tingkatan – tingkatan seperti manipulasi, kesadaran, interaksi/dialog, masukan/konsultasi, kemitraaan, pemberdayaan, memegang kendali atas proses belajar kita sendiri dan mejadi guru mandiri. Melakukan tingkatan – tingkatan tersebut bukan lah hal mudah tentunya, perlu konsistensi yang tinggi untuk menuju puncak tingkatan. Yang terakhir adalah refleksi, yang mudah dikatakan namun sulit untuk melakukan. Kita cenderung menutup mata menolak melihat cermin dengan seribu alasan. Kita selalu bilang, masyarakat belum paham, anak – anak tidak mengerti, orang tua akan menentang, padahal itu adalah ketakutan kita sendiri untuk menuju berubahan. Menjadi guru yang merdeka belajar tentu ada hambatan dan permasalahan yang kompleks di era pendidikan sekarang. Adanya beberapa miskonsepsi seperti belajar diburu target yang dipaksakan, sedangkan belajar itu sendiri butuh waktu. Bukan hanya 1 hari 2 harimateri selesai untuk mengejar kompetensi dasar untuk memenuhi nilai capaian KKM. Belajar cukup terbatas “How to?” padahal belajar harus dengan tujuan dalam konteks. Tak melulu membaca buku teks mejawab pertanyan, mengisi LKS, namun harus ada penjelasan dan contoh yang mungkin bisa berupa pengamatan sederhana dikaitkan dengan kehidupansehari- hari agar mengena. Bagaimana guru dapat mengatasi permasalahan tersebut? Jawabannya adalah guru harus merdeka belajar. Guru mau belajar kembali. Bukan belajar perlu intensif eksternal, bukan hanya untuk mendatkan sebuah poin tertentu, ataupun sebuah penghargaan namun belajar sebagai kebutuhan alamiah. Harus membaca lagi, harus melakukan riset dengan hasil inovasi pembelajar yang mampu diterapkan didalam kelas. Terakhir belajar tak melulu harus dari ahli namun bisa belajar dari sesama guru. Saling berbagi informasi dan pengalaman, materi maupun treathmen terhadap anak yang perlu perlakuan “khusus” dikelas dengan berbincang santai tapi penuh makna. Setelah pemutaran video, peserta diajak untuk merefleksikan dengan durasi 30 menit. Beberapa peserta mengutarakan pengalamannya berkaitan denga miskonsepsi tersebut. Seperti contohnya miskonsepsi belajar perlu intensif eksternal, Guru Shofi berpendapat, “Kebanyakan guru yang mau belajar hanya untuk mendapatkan sertifikat dan imbalam sekolah.” Dalam konteks miskonsepsi lainnya belajar diburu target yang dipaksakan, Guru Tika berpendapat,“Terkait administrasi dan untuk mengejar akreditasi nilai siswa harus mencapai KKM bagaimanapun caranya.” dan masih banyak pendapat lainnya yang muncul terkait miskonsepsi guru merdeka belajar dilingkungan sekolah. Selain pendapat tersebut banyak peserta yang mengemukakan pendapat untuk mengembangkan beberapa inovasi yang menjadi salah satu langkah memerdekakan kelasnya, salah satunya ingin membuat sebuah produk dari KGB Kudus yang dapat dimanfaatkan dan ditiru oleh guru-guru tidak hanya tersekat dalam ruang kelas, namum dapat memanfaatkan apa yang ada dilingkungan sekitar untuk menjadi media belajar. Melakukan sebuah perubahan dan meminimalisir miskonsepsi ini, resep utamanya adalah guru yang mau terus belajar. Mencari bagaimana cara membuat inovasi,mengembangkan diri menjadi guru yang merdeka belajar, dengan tahapan berkomitmen dengan tujuan, meningkatkan kemandirian dengan memegang kendali proses belajarnya sendiri, yang selalu membuka mata hati dan pikiran untuk melakukan refleksi diri. Tentunya dengan penuh semangat, kesadaran maupun rasa tanggung jawab agar tujuan pembelajaran tercapai dan bermakna menuju perubahan pendidikan Indonesia yang lebih baik lagi.

Kobarkan Semangat Merdeka Belajar

Bertepatan dengan momentum Hari Pendidikan Nasional, KGB Semarang mempersembahkan sebuah event berbasis pelatihan bertemakan “Guru Merdeka Belajar”. Pelatihan ini tercipta dari sebuah amanah yang diberikan Kampus Guru Cikal kepada Komunitas Guru Belajar Semarang. bertempat di Qita Yoga Studio Jalan Kyai Saleh 13 Semarang, acara ini berlangsung dari pukul 08.00 hingga 12.00 WIB. Guru Merdeka Belajar, sebuah tagline yang tidak asing kita dengar namun, sudahkah semua guru memaknai arti di dalamnya? Pelatihan Guru Merdeka Belajar bertujuan supaya seorang guru mengalami pengalaman merdeka belajar, memahami hakikat belajar dan memahami miskonsepsi guru belajar. Merdeka belajar adalah sebuah pondasi untuk pengembangan diri seorang guru serta sebagai wadah untuk melakukan praktik pembelajaran yang bermakna untuk murid. Diikuti oleh kurang lebih 20 peserta, pelatihan berjalan begitu aktif dan kondusif. Acara yang berlangsung kurang lebih 3 jam ini pertama-tama dipandu oleh Guru Rosa dari KGB Semarang. Tak pernah lupa untuk mencairkan suasana pelatihan GMB ini, maka diawalilah dengan ice breaking dan beberapa games. Memasuki acara selanjutnya, yaitu orientasi yang dibawakan oleh Guru Erna. Orientasi ini meliputi pembahasan kesepakatan kelas, pengisian SIP oleh peserta pelatihan dan memastikan bahwa peserta telah mengisi assessment Pra Pelatihan GMB. Sebuah kata membuka sesi pertama acara inti ini, “Sebenarnya setiap saat seorang guru mempunyai pengalaman yang sangat berharga. namun sayang, tak ada yang mau mendengarkan pengalaman itu, termasuk guru itu sendiri.” Guru Anik sebagai narasumber lantas memaparkan beberapa masalah dan miskonsepsi yang ada di pada dunia pendidikan. Kemudian Guru Anik juga memvisualisasikannya dengan mengajak peserta pelatihan untuk role playing terhadap suatu pembelajaran di kelas menggunakan metode direct instruction dan diferensiasi. Awalnya peserta dibagi menjadi beberapa kelompok, dan setelah role playing usai, peserta diminta untuk mendiskusikan perbedaan yang ada pada dua metode. Dari hal tersebut, Guru Anik menarik benang merah tentang apa itu merdeka belajar dan bagaimana praktiknya dalam kelas. Para peserta juga melakukan refleksi individu, kemudian refleksi berkelompok terkait jenis pengajaran yang bagaiman yang harus dihentikan, mana yang dilanjutkan dan mana yang diperbaiki. Pada sesi kedua, Guru Anik memutarkan sebuah video pendek dari seorang sosok guru yang menginspirasi bernama Ameliasari dari Salatiga. Peserta dibuat terkagum-kagum akan perubahan dari Guru Amel yang awalnya hanya mementingkan hasil semata menjadi guru yang memperhatikan proses juga menginspirasi. Pelatih juga mengajak peserta untuk memahami pengembangan diri guru, kompetensi yang ada pada guru serta karier guru melalui 4 kunci pengembangan guru. Pelatihan semakin terasa kebermanfaatannya setelah memasuki sesi tanya jawab. Bahkan kisah haru pun tercurahkan dari seorang peserta pelatihan yang menceritakan tantangannya mempraktikkan dan mengajak rekan sesama pendidik mengobarkan semangat merdeka belajar dalam kelas. Tak mudah memang, apalagi sampai dibilang “Anak kemarin sore kok begitu”. Sesi pelatihan ini ditutup dengan refleksi dan pemberian challenge untuk peserta pelatihan. Binar mata seorang guru yang merdeka belajar pun mulai terpancar dari para peserta pelatihan GMB ini. Tetap kobarkan semangat merdeka belajar kepada sesama pendidik dan menjadi teladan sepanjang hayat bagi para murid. Mengajar dengan sepenuh hati, bukan lagi tergoda oleh sertifikasi maupun nilai-nilai kompetensi. Saya Guru Merdeka Belajar. Semarang, 2 Mei 2019Komunitas Guru Belajar Semarang.

Guru Merdeka Belajar, Melakukan Refleksi Terhadap Miskonsepsi Belajar

Pada hari Minggu, 5 Mei 2019 jam 09.00 WIB, Komunitas Guru Belajar (KGB) Depok mengadakan kegiatan Temu Pendidik Daerah Depok ke-14 (TPD Depok #14) bertempat di Space room Perpustakaan Umum Kota Depok. TPD Depok #14 ini memiliki kegiatan inti Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar. Kegiatan TPD Depok #14 ini dimoderatori oleh saya sendiri Lia, sebagai salah satu penggerak dari KGB Depok. Kegiatan yang seharusnya dimulai jam 09.00 ternyata baru dimulai pada pukul 09.30 dikarenakan pada jam 09.00 jumlah peserta yang datang baru 4 orang dari 18 orang yang konfirmasi hadir. Setelah menunggu 30 menit akhirnya kegiatan dibuka dengan peserta yang hadir 6 orang. Setelah Kegiatan ini dimulai dengan pembukaan dan kesepakatan bersama supayakegiatan ini berjalan nyaman dan lancer, peserta diminta untuk mengisi daftar hadir online. Meski mengalami keterlambatan acara, tetapi tidak menyurutkan semangat peserta hal ini terlihat saat saya selaku moderator menanyakan “Apa yang Anda pahami tentang Merdeka Belajar?” Walau sebagian peserta ada yang berkata bahwa mereka baru mendengar kata Merdeka Belajar tetapi mereka mau memberikan pandangannya mengenai Merdeka Belajar itu sendiri. Bagi mereka Merdeka Belajar adalah suatu kebebasan untuk guru berekspresi dalam mengajar dan berkembang dalam belajar serta tidak tertuntut administrasi yang berjubel. Masuk ke kegiatan inti yaitu nonton bareng Guru Merdeka Belajar sebuah video Ibu Najelaa Shihab pada Temu Pendidik Nusantara 2016. Selesai menonton moderator melakukan refleksi. Pada pertanyaan pertama, mengenai miskonsepsi pendidikan, peserta antusias menceritakan kondsi yang mereka alami. Salah satunya adalah Bu Levy dari MTsN 1 Depok. Beliau mengatakan bahwa rekan-rekan guru di sekolahnya masih mencari insentif dan sertifikat dalam belajar, padahal belajar adalah kebutuhan kita sebagai guru. Dan pemerintah pun memaksa kita untuk belajar pada yang ahli, sertifikat menjadi bukti bahwa kita mengikuti pelatihan dan sebagai syarat dalam kenaikan pangkat serta jenjang karir guru. Semua peserta menyetujui dan sepakat bahwa menjadi guru merdeka belajar haruslah memiliki komitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara belajar dan melakukan refleksi, walaupun menurut Kak Faiz melakukan refleksi bagi seorang guru itu cukup sulit karena terkadang ego kita seperti tidak mau disalahkan ketika kegiatan tidak berjalan sesuai rencana. Disini, semua peserta mau menjadi Guru Merdeka Belajar dan telah membuat komitmennya masing-masing dan akan melakukan perubahan pada kelasnya, salah satunya adalah Bu Pipit yang mengatakan bahwa beliau ingin lebih berkomunikasi dengan siswa-siswanya di TPA, bahwa belajar adalah kebutuhan mereka bukan karena paksaan orang tua, dan mau lebih variatif dalam mengajar sehingga siswa dapat merasakan pula kemerdekaan belajar. Sebelum kegiatan ditutup moderator meminta peserta untuk melakukan posting barengan, dan dilanjutkan dengan kegiatan foto bersama serta ramah-tamah. Pada kegiatan TPD Depok #14 ini peserta membawa makanan sendiri dan saling berbagi dengan peserta yang lain (potluck).