Berbagi Kisah Belajar dengan Guru Se-Nusantara

Taraaa… Akhirnya Temu Pendidik Daerah (TPD) Ke-3 dengan Tema “Tebar Ilmu TPN 2018” dari Komunitas Guru Belajar (KGB) Jombang dapat terealisasi, setelah sempat maju mundur syantiiikk. Kegiatan TPD ke-3 KGB Jombang dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 28 Oktober 2018 pukul 09.00-11.00 mundur 1 jam dari jadwal karena masih ada proses pengambilan pemesanan merchandise Kampus Guru Cikal pada saat Temu Pendidik Nusantara (TPN) 2018. Sambil menunggu satu demi satu rekan seperjuangan datang. Saya kaget, karena kami kedatangan dua rekan seperjuangan dari Nganjuk yang menempuh jarak sekitar 40 km, yaitu Bu Hus dan Bu Nuraini. Mengetahui acara ini melalui info yang dibagi  Bu Alfi di grup-grup WA, ikut karena penasaran dan ingin tahu tentang KGB. Rekan lain, yaitu bu Pinta, meski belum masuk di KGB Jombang, pun tertarik mengikuti TPD, beliau bertiga akhirnya bergabung di KGB Jombang. Temu Pendidik kali ini dimulai dengan jumlah peserta 14 orang. Kegiatan KGB diawali dengan pembukaan oleh moderator, Ibu Rukiatin. Ibu yang gaul dan dapat mencairkan suasana dengan banyolannya. Selanjutnya, pengenalan narasumber Alfi Lailatin. Narasumber Bu Umaiyyah dari KGB Lamongan tidak dapat hadir karena ada anggota keluarganya yang sakit. Bu Alfi membagikan fotokopi hasil ringkasan ilmu yang diperoleh dari TPN 2018. Bayangkan, 13 materi kami diskusikan untuk pertemuan kali ini. Tetapi, untuk lebih rinci akan kami bahas di TPD selanjutnya. Kami sengaja tidak memakai LCD Proyektor agar diskusi berjalan tidak kaku dan lebih komunikatif antara peserta dengan narasumber. Pembukaan dimulai dengan kutipan dari Bu Ella: “Kalau kamu melakukan satu hal dan kamu tidak takut itu berarti yang kamu lakukan biasa saja, tapi jika kamu melakukan satu hal dan kamu takut berarti yang kamu lakukan itu luar biasa”. Sederhana tapi merupakan percikan semangat bagi kami. Karena ilmu yang kami dapatkan dari komunitas ini, memang tidak sama dengan yang umum ada di luar sana.  Tetapi, memang inilah yang harus kami lakukan, yaitu bergerak untuk perubahan yang bermakna bagi murid kita. Pemaparan materi oleh Bu Alfi tentang tebar ilmu dari kelas penggerak. Hal ini dilakukan agar tumbuh penggerak-penggerak yang lain di KGB Jombang. Beliau menyampaikan bagaimana beliau dapat mengikuti acara Kece ini dengan fasilitas gratis. Intinya bukan karena gratisnya, tetapi kesempatan untuk  mengikuti acara yang penuh dengan tebaran ilmu rekan seperjuangan se-Nusantara. Wowwww… keren dan pingin banget tahun depan bisa ikut. Pemaparan kedua, ilmu dari kelas kemerdekaan pertama yang Bu Alfi ikuti yaitu perubahan pengajaran pada lingkup sekolah.  Hal ini dilakukan dengan perumusan pertanyaan di Lesson Study sebagai ruang belajar dan inspirasi guru serta evaluasi Kurikulum Sekolah, Pertemuan Agung, dan memanusiakan ruang kelas. Pemaparan ketiga, ilmu dari Kelas Kemerdekaan kedua, yaitu mengembangkan kesepakatan, menjalankan konsekuensi. Pemaparan keempat dengan ilmu dari Kelas Kompetensi. Kelas pertama yang dibagikan beliau adalah Ragam Strategi Memahami Murid. Kelas kedua yang dibagikan beliau adalah Merancang Musik untuk Belajar Apapun. Kelas ketiga pun tak kalah seru, yaitu pemaparan tentang kelas kolaborasi. Yaitu Menyebar praktik baik melalui buku. Dan pemaparan kelima dari kelas karier dipaparkan tentang Dongeng Dialektika, Guru Merdeka – Guru Berdaya, Karier Protean – Karier Guru di Abad Ke-21, dan Batik folder, Belajar Melalui Budaya Lokal. Acara tanya jawab kemudian dilanjutkan dan diserahkan kepada moderator. Moderator untuk bertanya lanjut dari ringkasan yang telah dibagikan dan disajikan oleh narasumber. Sesi yang pertama dibuka dengan sharing Ibu Hus. Beliau bercerita, punya anak asuh, karena kedua orang tuanya sibuk. Tetapi, sikap anak ini khusus. Dia tipe anak yang temperamen dan belum dapat mengikuti pembelajaran di kelas, sehingga sering membuat masalah di kelasnya. Lalu Bu Hus bertanya, bagaimana cara menangani anak tersebut. Pertanyaan kedua oleh Bu Ennay, yang bertanya lebih lanjut tentang sesi kelas perdamaian, karena beliau mempunyai murid yang sering mengalami perundungan dan guru yang lain sering menganggap sebelah mata murid tersebut. Moderator selanjutnya memberikan waktu untuk narasumber. Selain jawaban dari narasumber, rekan yang lain pun, saling memberikan solusi dari praktik baik yang pernah mereka lakukan. Demikian juga untuk pertanyaan bu Ennay. Pada acara ini pun kami mendapat tambahan ilmu, melalui diskusi tentang “Sampahku Tanggung Jawabku” meski di luar materi, tetapi ini juga merupakan materi yang ada di TPN, sayangnya narasumber tidak mengikuti kelas tersebut. Tetapi, dari berbagi praktik cerdas rekan-rekan seperjuangan ini menambah pengingat dan gerakan kita. Sebelum ditutup, Bu Alfi menunjukkan buku Memanusiakan Hubungan yang diberikan oleh Kampus Guru Cikal kepada KGB Jombang untuk dipinjamkan kepada anggota secara bergantian. Bu Alfi menutup dengan pesan “Kami tunggu praktik cerdas rekan-rekan seperjuangan di kelasnya, untuk dibagi dengan rekan yang lainnya dan diupload di Grup Whatsapp”. Refleksi sebagai penutup dengan mengajak rekan untuk menuliskan apa saja yang didapatkan dari kegiatan TPD ini. Bu Nadroh, sangat senang sekali akhirnya dapat menemukan KGB Jombang. Karena, awalnya beliau mengikuti Temu Pendidik Mingguan di Telegram. Sehingga, beliau sangat mendukung sebuah komunitas yang isinya peduli dan mau bergerak untuk perubahan pendidikan yang lebih baik. Selesai acara, kami pun melakukan pemilahan sampah bungkus makanan yang kami. Sebagai bukti langsung praktik kita dalam TPD kali ini.

Perubahan Pendidikan, Mulai Darimana? : Kisah dari Nusa Tenggara Barat

Ketika sehari-hari kita masih sering melihat orang-orang yang tidak taat lalu lintas atau menyerobot ketika mengantri, apakah kita bisa menyimpulkan ini sebuah kegagalan pendidikan? Atau ketika peringkat PISA Indonesia masih jauh dari negara-negara lain, apakah itu pertanda kualitas pendidikan kita masih jauh dibanding negara lain? Lalu, siapa yang harus pertanggung jawab? Bagaimana memulai perubahan? Mulai dari kebijakan pemerintah harus diubah….. Yang bertanggung jawab pemerintah dong……. Setuju dengan pernyataan itu? Kisah Nusa Tenggara Barat Belakangan ini ada kabar bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi di Nusa Tenggara Barat menempati peringkat ke-29 dari 34 provinsi di Indonesia tahun 2017.  Apa reaksi pemerintah dengan kabar tersebut? Bayangkan, anak anda dateng dateng ngabarin kalau dia dapat peringkat 3 terbawah di kelas. Kalau saya sih, biasa aja (lah kok?). Tapi kebanyakan tidak seperti itu sih reaksinya.  Saya ingat waktu dulu ada teman saya yang dapat peringkat terakhir di kelas. Dia dicibir teman-teman. Saya masih ingat sekali wajahnya, sedih merunduk malu. Besoknya saya dapat kabar dia pindah sekolah. Sangat disayangkan ya? Bagaimana peringkat dipandang harga mati keberhasilan seseorang.  Lalu bagaimana jika ini peringkat IPM sebuah provinsi?  Mendengar hal tersebut tidak membuat pemerintah Nusa Tenggara Barat merasa berkecil hati, mereka memilih berdaya dengan mengajak berkolaborasi dengan Kampus Guru Cikal, Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK), dan  Keluarga  Kita dengan membuat Program Peningkatan PAUD Berkualitas. Seperti yang selalu Kampus Guru Cikal percaya, kekuatan pendidikan ada pada Guru Berdaya.  Dengan Pemerintah yang berdaya, kitapun bisa mengajak guru-guru dan masyarakat juga berdaya. Program Peningkatan PAUD Berkualitas ini fokus mengembangkan 50 PAUD berkualitas di desa Prioritas Penanganan Penanggulangan Kemiskinan (P3K) di NTB  melalui peningkatan kualitas guru dan orang tua. Penandatangan Nota Kesepahaman Pengembangan PAUD Berkualitas NTB antara PKK Prov. NTB dengan Kampus Guru Cikal Mengapa harus berkolaborasi? Kenapa tidak mengubah kebijakan saja? Mengapa tidak memperbaiki kualitas guru saja? Kenapa juga melibatkan orang tua? Tak Sendiri, Kolaborasi Dalam pidatonya Bu  Sitti Rohmi Djalilah (Wakil Gubernur NTB), menyatakan pentingnya kolaborasi. Bahwa dalam upaya perubahan pendidikan perlu berkerjasama dengan semua elemen dalam masyarakat. Setali tiga uang, begitu yang selalu ditekankan oleh Bu Najelaa Shihab (penggagas Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan, Kampus Guru Cikal dan Keluarga Kita) bahwa pentingnya kolaborasi. Beliau menambahkan ketika bicara tentang Pendidikan Anak Usia Dini, pentingnya peran keluarga  terutama peran orang tua yang menCINTAi lebih baik. Orang tua yang selalu ingat cita-cita yang tinggi untuk anaknya dan menerima tanpa drama.  Bu Elaa (panggilan akrab Bu Najelaa Shihab) juga menjelaskan guru belajar adalah kunci perubahan pendidikan. Guru yang punya cita-cita, punya kemerdekaan dan yang berkolaborasi. Bu Najelaa Shihab berdiskusi dengan peserta Kampus Guru Cikal percaya bahwa kita tidak bisa berjuang sendirian. Kami percaya pada pentingnya kolaborasi. Dari kepercayaan tersebut dalam Program Peningkatan PAUD Berkualitas ini juga melibatkan masyarakat umum dengan memilih mentor-mentor  yang mewakili tiap daerah yang nantinya akan membantu intervensi dalam meningkatkan PAUD di setiap daerah.  Dari pelamar 230 orang, dipilih 34 orang yang diseleksi dengan wawancara dan  Focus Group Discussion (FGD), kemudian terpilihlah 7 orang  Mentor.  Sebelum mentor-mentor tersebut terjun di lapangan, mereka dibekali dengan pelatihan yang diadakan oleh Kampus Guru Cikal, Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK), dan Keluarga Kita. Dua hari mentor-mentor belajar berbagai macam; Komunikasi Efektif, Salah Kaprah Guru Belajar, Coaching.  Mentor-mentor antusias sekali ketika berdiskusi bersama, mereka ikut bercerita bagaimana kondisi pendidikan di lingkungan mereka dan apa yang sudah mereka lakukan selama ini. Tua, Muda, Sama Ketika bicara tentang gerakan perubahan banyak yang berpendapat “Susahlah kalau ngajak yang tua tua. Pemikirannya kolot” atau “Anak muda jaman sekarang suka mikirin diri sendiri aja. Beda sama kita dulu waktu muda”. Hal tersebut yang tidak terlihat dari para mentor. Mentor-mentor ini berasal dari berbagai daerah, ada yang asli NTB ada yang pendatang, ada yang umur 20-an ada yang sudah punya anak ABG (Anak Baru Gede), ada yang masih bujang ada yang sudah berkeluarga. Ketika berdiskusi tentang “Apa Faktor Pendukung dan Penghambat Guru Belajar” para mentor saling bertukar pendapat dan cerita baik dari sisi guru, orang tua, pengalamannya sebagai Assessor, pengalamannya sebagai penggiat literasi. Tak ada yang merasa lebih tahu, semua mencari tahu. Kebanyakan mentor adalah orang-orang yang sudah lama terjun di dunia Pendidikan. Bu Jessica, seorang mahasiswa S2 PAUD yang aktif membuat gerakan dongeng dan membuat PAUD di daerah Mataram, Bu Wiwin guru PAUD yang aktif mencari tahu solusi  pembelajaran di kelas, Bu Atul seorang assessor dan mendirikan sekolah karena prihatin dengan kondisi pendidikan di sekitar. Sebelum ada program ini, mereka memulai langkah mereka sendiri, tidak menunggu yang lain, berbuat apa yang mereka bisa. Tua muda sama, karena pembedanya bukan usia tapi semangat berdaya.  Foto bersama PKK, mentor-mentor, perwakilan Kampus Guru Cikal, Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK) dan Keluarga Kita Kisah Bu Mar, PAUD yang tidak punya bangunan sendiri bisa bertahan Tentang Tua Muda, ada kisah menarik ketika perwakilan Kampus Guru Cikal, PSPK, Keluarga Kita, para Mentor dan Bu Elaa berkunjung ke sebuah sekolah di Mataram. Kami bertemu seorang kepala sekolah, namanya Bu Mar. Bu Mar menceritakan bagaimana sekolahnya yang dulunya hanya sepetak sekarang ada beberapa kelas dan sudah ada tempat bermain. Beliau menceritakan bagaimana dalam perjalanannya  mengembangkan sekolah tersebut selalu dipertemukan dengan orang-orang baik. Beliau menuturkan kepada kami bahwa jika niat kita baik maka Tuhan akan selalu memudahkan jalan kita. “Niatnya saya ngobrol ngobrol aja, cerita tentang sekolah. Kok tahu tahu ada yang menawarkan mau bantu bangun sekolah, Saya bersyukur sekali”, begitu ujar Bu Mar. Beliau juga menceritakan bagaimana kegiatan murid-murid di sekolahnya, tidak perlu pembelajaran yang mahal, beliau lebih sering mengajak anak-anak bermain di Sawah. Karena menurut beliau kita bisa membuat pembelajaran dengan media yang ada di sekitar atau memanfaatkan lingkungan sekitar. Dari Kisah Bu Mar, dimana ada keinginan tulus dan kuat selalu ada solusi. Tidak menyalahkan, menghakimi pihak tertentu, Merdeka dan Berdaya.    Dari Kisah Nusa Tenggara Barat, kita belajar bahwa menyalahkan salah satu pihak tidak akan membuat masalah tersebut selesai. Mulai dari diri sendiri, memilih merdeka, berdaya. Jangan merasa sendiri, kolaborasi. Tua Muda bersama-sama. Menuju Perubahan. Mari kita mulai perubahan, dari diri sendiri.  Lihat sekitar, apa yang bisa kita lakukan. Mau ikut menuju perubahan?

Kolaborasi untuk Berbagi Praktik Baik Pengajaran

Melalui kolaborasi dengan MTs Nurul Islam KGB Pekalongan berbagi praktik yang menarik untuk diterapkan dikelas. Hal ini dimaksudkan untuk menciptakan inovasi dalam proses belajar. Siang itu langit terlihat sedikit mendung. Nampak beberapa guru yang tetap semangat duduk melingkar di ruang perpustakaan MTs Nurul Islam Krapyak Pekalongan. Mereka saling bertukar cerita, mulai dari rekan guru yang baru pertama kali mengikuti TPD KGB Pekalongan hingga yang beberapakali tetap setia mengikuti. Kehangatan begitu terasa saat kepala madrasah menyambut para guru dengan senyum ramah. Jika biasanya KGB Pekalongan mengadakan agenda harus mencari tempat terlebih dahulu, namun kali ini MTs Nurul Islam justru mengajak KGB Pekalongan berkolaborasi untuk membangkitkan gairah guru dalam mengajar sehingga tercipta inovasi dalam memberi ilmu kepada muridnya. Sebagaimana ditegaskan oleh Guru Nikmah selaku kepala Madrasah bahwa dengan adanya TPD ini beliau  mengharapkan agar guru-guru di MTs Nurul Islam dan guru lainya dapat menciptakan inovasi dalam proses pembelajaran. Belajar Membaca Harus Melihat Tahap Perkembangan? Kegiatan dibuka oleh guru Rayinda. Sebagai pembuka ia berbagi tentang Memahami Anak untuk Merancang Strategi Membaca. Banyak yang tertegun dengan apa yang Guru Rayinda paparkan. Bahwasanya mengajarkan anak bukan hanya sekedar megenali huruf namun juga memepertimbangkan tahap perkembangan anak. Terutama saat anak memasuki golden age dimana daya tangkap sangat baik jika dimanfaatkan untuk mengingat berbagai gambar atau bentuk literasi lain yang dapat membantu anak mengenali lingkungan. Selain itu, wanita berkacamata ini juga memutarkan video yang menjadikan peserta TPD mengerti bahwa dalam tahap membaca terdapat tahapan phoenemic awarness (kesadaran fonemik). Dalam video tersebut anak-anak diajak mengenali benda-benda disekitar mereka dan melafalkan serta membedakanya dengan bunyi huruf lain. Diakhir pemaparanya Guru Rayinda mengungkapkan bahwa merancang strategi membaca pada anak sangat penting karena kadang anak dituntut untuk mengerti makna suatu kata padahal pada tahapan tersebut sebenarnya ia belum mampu. Nah, sebagai guru dan orangtua tentu materi ini menjadi bahasan yang sangat menarik karena dapat dipraktikan langsung pada anak-anak dirumah. Posisi Menentukkan Prestasi Sesi selanjutnya diisi oleh Guru Zinat. Ia menyampaikan materi mengenai Posisi Tempat Duduk Mempengaruhi Prestasi. Pada sesi ini peserta diajak untuk keluar kelas dan membentuk lingkaran besar. Lalu mereka berkelompok sesuai dengan urutan bulan dan tanggal lahir tanpa menggunakan aba-aba. Rona wajah ceria menghiasai wajah para peserta. Keseruan tak hanya berhenti disitu, guru yang mengampu mata pelajaran Sistem Kebudayaan Islam ini juga mengajak peserta untuk membuat janji pada jam 3, 6, 9 dan 12. Dalam satu waktu peserta hanya boleh membuat janji dengan 1 orang. Game tersebut berhasil membuat guru-guru tersenyum lebar Ia menyampaikan bahwa game semacam ini sering ia lakukan untuk membuat murid tidak jenuh dalam belajar. Apalagi, ia mengampu mata pelajaran SKI yang notabene menjadi momok bahwa mata pelajaran tersebut menjenuhkan karena bahan bacaan yang panjang. Tidak lupa, ia juga membagikan materi mengenai pola tempat duduk yang memanusiakan hubungan. Sehingga murid belajar lebih antusias serta hubungan antara guru dan murid juga terjalin hangat. Menurutnya, posisi tempat duduk yang monotan juga memberikan efek bosan dan murid cenderung berkelompok karena kurangnya interaksi antar murid lain yang duduk tidak berdekatan. Belajar dengan Berkomunikasi Secara Visual Sebagai materi pamungkas, guru Najib membagikan materi Desain Grafis untuk Komunikasi. Ternyata, melalui komunikasi visual menjadikan murid tertarik terhadap materi yang disampaikan. Selama ini kita hanya terpaut pada teks dibuku saja tanpa menyajikan materi agar lebih menarik bagi murid. Konten visual juga lebih banyak diproses 60.00 kali lebih cepat dari konten teks selain itu dengan memadu-padankan warna menjadikan materi lebih terlihat menarik untuk dilihat. Jika biasanya desain grafis dibuat menggunakan corel draw atau photoshop yang terlihat rumit dan tidak semua orang mengerti, Guru Najib justru membongkar stigma tersebut. Dengan menggunakan smartphone kita bisa membuat desain grafis yang menarik. Kali ini ia mengajak rekan guru menggunakan aplikasi canva yang sangat simpel dan mudah digunakan. Beberapa peserta terlihat menikmati saat jari tangannya mulai memilah backgound serta font teks yang akan digunakan. Hasil desain yang dibuatpun terlihat menarik dan menjadikan candu untuk mencobanya kembali. Acara ditutup dengan refleksi. Guru Watik mengungkapkan bahwa ia sangat terkesan dengan acara ini dan ingin mempraktikanya setelah pulang dari MTs Nurul Islam. Selain diterapkan pada murid ia juga ingin mempraktikan pada anaknya dirumah.

Guru dan Realita Abad 21

“Koq anak zaman now itu sukanya komplen ama gurunya?, koq bisa sih mereka itu berkomunikasi tanpa rasa canggung atau takut ama gurunya?” “Anak zaman now itu aneh, cita-citanya seperti youtuber, blogger, selebgram, manajer medsos, ah.. semua itu pekerjaan aneh.” Yup, inilah realita di abad 21. Realita tersebut menunjukkan anak zaman now yang ingin lebih didengar dan dilibatkan, yang menuntut kreativitas,  kritis, dan kerjasama, serta yang menghadapi perkembangan teknologi. Lalu, bagaimana dengan kita sebagai gurunya yang merupakan produk masa lampau, berada di zaman now, mendidik siswa untuk hidup di zaman now dan di masa mendatang? Bagaimana guru dapat lebih mendengar siswanya? Bagaimana praktik mendengar yang kreatif? Bagaimana menggunakan media teknologi dengan lebih interaktif? Bagaimana menggunakan teknologi untuk membalik situasi : belajar di sekolah menjadi belajar di rumah, agar siswa lebih kritis? Bagaimana menggunakan teknologi dalam membagi kelompok yang lebih interaktif? Ingin tahu jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaan itu? Yuk gabung di Temu Pendidik Komunitas Guru Belajar Bandung dengan tema “GURU ABAD 21,” bersama Bu Djuangsih Dewi dan Bu Amalia Fitri, hari sabtu pukul 15.30 di SD Mutiara Bunda. Tahun baru, Semangat baru, Ilmu baru ☺ Caption itulah yang membuat guru-guru merasa tertarik dan bergerak untuk menemui kedua narasumber sore itu. Narasumber pertama adalah Bu Dewi. Diawal Ia menerapkan role play dengan mengajak peserta untuk berbaris di luar area kegiatan, seperti siswa-siswa berbaris di luar ruangan. Peserta pun berbaris dengan rapi memasuki area kegiatan. Tak disangka, kemudian Ia mengajak peserta keluar area kegiatan lagi, namun kali ini peserta masuk dengan diiringi musik yang membuat peserta ingin bergerak dan menari-nari dengan bahagia. Tak sampai disitu, Ia mengajak peserta keluar area kegiatan lagi, dan kali ini peserta diajak memasuki area dengan diiringi musik sambil bergaya bebas. Ada yang bergaya hip hop, menari jaipong, dsb. Lalu disambut oleh Bu Dewi sambil high five (baca : tos). Tawa pun memenuhi seisi ruangan. Kemudian Ia menstimulasi dengan pertanyaan, sehingga peserta membandingkan dan dapat menyimpulkan pada sesi memasuki ruangan yang ke berapakah, yang dapat membuat suasana menjadi sangat bahagia. View this post on Instagram A post shared by Umi Kalsum (@ka_umi) on Jan 9, 2019 at 8:26pm PST Mindfullness dan Memahami Anak Setelah pembukaan tersebut, Bu Dewi pun mulai berusaha menjawab pertanyaan pertama : Bagaimana guru dapat lebih mendengar siswa? Bu Dewi berkata, “Belakangan istilah mindfullness mulai populer. Konon, praktik mindfullness adalah salah satu kunci menghindari dan mengatasi rasa cemas, pun stres. Apa itu mindfullness? Menurut Marsha Lucas, mindfullness adalah memusatkan perhatian sedemikian rupa, menghayati apa yang sedang Anda lakukan, tanpa melakukan penilaian.”  Namun, perhatian yang kita berikan perlu dilakukan dengan cara tertentu yaitu : on purpose (secara sengaja, diniatkan), in the present moment (pada saat ini), dan non-judgmentally (tanpa menghakimi). Manfaat dari mempraktikan hal ini yaitu : mengurangi kadar stres, meningkatkan kemampuan regulasi dan kendali diri, menurunkan kecemasan dan depresi, meningkatkan kinerja, dan meningkatkan kemampuan membangun relasi. Hal ini dapat dilakukan dengan : menyayangi siswa kita seperti anak sendiri, tidak menghakimi, lebih berfokus pada sisi positif siswa, menyelesaikan masalah tidak dengan kemarahan agar siswa tidak merasa takut, mengangkat dan menurunkan jari sambil menarik napas, mendengarkan dengan fokus musik instrumen, menuliskan perasaan untuk mengurangi konflik dan agar dapat mengelola emosi. Secara kongkrit, Ia pun menunjukkan beberapa praktik-praktik yang kreatif seperti buku emosi, sebagai media bagi siswa dalam mengungkapkan perasaannya, dan sebagai media bagi guru dalam memperhatikan dan memahami siswa. Selain itu, ada juga media yang dapat digunakan agar guru dapat memperoleh perhatian siswa, yaitu berupa media seperti lampu lalu lintas berwarna merah, kuning, dan hijau, dimana “saat guru mengangkat warna merah, perhatian anak-anak harus fokus pada saya, kuning peringatan karena mungkin ada yang melanggar komitmen kelas, hijau tiba waktunya anak-anak mengemukakan pendapat atau sebagai pengganti mengangkat jari saat ada pertanyaan,” kata Bu Dewi. Sesi pertama pun berakhir dengan memberikan kesadaran pada peserta. Bu Nur yang merupakan peserta kegiatan berkata, “TPD hari ini mengenai GURU ABAD 21 sangat membuka mata saya bahwa untuk menjadi seorang guru itu butuh tenaga (effort) yang sangat besar, … harus lebih peduli terhadap murid … karena anak-anak zaman sekarang atau murid kita itu bukan kita di zaman dulu, jadi tidak bisa disamakan, oleh karenanya harus lebih peka terhadap perasaan murid, harus lebih mau mendengarkan murid, … tidak boleh semaunya sendiri”. Tools Kekinian untuk Pembelajaran Sesi kedua pun dimulai oleh Bu Fitri. Ia memulai dengan melibatkan peserta untuk belajar sambil bermain dengan mengakses website kahoot.it. Website merupakan website yang berisi kuis yang telah dibuat oleh guru, agar siswa dapat menjawabnya. Peserta acara TPD pun diposisikan sebagai siswa dan narasumber memposisikan sebagai guru. Langkah-langkah bermainnya adalah Akses website kahoot.it. Masukkan pin yang telah diberikan guru Pilih bermain secara individuatau bermain secara berkelompok. Masukkan nama panggilan. Tunggu hingga soal ditampilkan. Mulailah mengerjakan kuis. Keseruan terasa dari ekspresi peserta yang berbeda-beda dan berubah-ubah, ada yang bingung ketika merasa kesulitan mengakses soal, ada yang cemberut karena koneksi internetnya lambat, ada yang senyum-senyum ketika mengetahui jawabannya benar, dan bahkan ada yang ketawa-ketawa karena melihat jawabannya yang keliru. Setelahnya pun nampak keterlibatan peserta TPD menjadi semakin meningkat. Bu Fitri pun melanjutkan dengan pendasaran penggunaan teknologi dalam pembelajaran, serta contoh-contohnya. Pendasaran-pendasarannya karena Kegiatan pembelajaran yang padat Kegiatan/acara disekolah Kalender akademis yang dirasa tidak cukup Karakteristik siswa yang sudah memasuki era digital : Bebas, tidak mau terkekang Selalu update Bermain, bukan hanya bekerja Ekspresif Cepat, enggan menunggu Unggah, bukan hanya unduh Interaktif Berkolaborasi Beberapa situs maupun aplikasi dikenalkan, yakni seesaw, padlet, edmodo, quizizz, phet, google classroom, dan flipgrid. Dan aplikasi yang akan dipelajari hari ini adalah google classroom dan flipgrid. Google classroom adalah aplikasi atau fitur yang dapat membantu dalam pembuatan, pembagian, dan penggolongan setiap penugasan tanpa kertas. Sebagai siswa, langkah-langkah menggunakan google classroom adalah Klik simbol (+). Masukkan kode kelas yang diberikan guru. Pada laman stream, nampak tampilan seperti wall di facebook. Pada laman ini, guru dan siswa dapat berinteraksi seperti menyapa, memberi tugas, mengakses soal, dsb. Pada laman classroom, siswa dapat mengakses soal dengan klik dua kali pada soal yang hendak diselesaikan. Ia menyampaikan bahwa kelebihan dari google classroom adalah akun google sudah umum dimiliki banyak orang, google memiliki tampilan yang … Read more

Belajar dari NusantaRun Chapter 6

Di usianya yang ke 19 bulan, anak itu mengidap suatu penyakit yang membuatnya menjadi tuna netra dan tuna rungu. Bagaimana masa depannya? Bagaimana cara dia berkomunikasi nanti dengan dunia luar? Bertahun-tahun ia menjalani kehidupannya dengan marah-marah, sering memukul meja, frustasi karena sulit mengungkapkan apa yang ia rasakan. Secercah harapan muncul ketika usianya 7 tahun, Anne Mansfield Sulivan dari Tuscumbia datang menjadi gurunya. Anne mengajari anak itu berkomunikasi dengan cara-cara yang unik, yang kemudian membuat anak tersebut bisa berkomunikasi, dan akhirnya bisa berbicara. Sekarang kita mengenal anak tersebut dengan nama Hellen Keller, seorang pejuang kemanusiaan. Tanpa Anne dan lingkungan yang mendukung, Hellen mungkin sulit menjadi seseorang yang memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, dan menerbitkan puluhan buku. Itulah yang saya bayangkan, banyak Hellen-Hellen lain di Indonesia, anak-anak penyandang disabilitas, namun lingkungannya belum banyak mendukung. Seperti wawancara saya dengan bu Purwanti dari SLBN Temanggung menurut beliau masih banyak orangtua yang overprotected terhadap anaknya. “Orangtua kurang membuka diri, masih menganggap anak-anak terbatas.” ujar Bu Purwanti. Menurut pak Pungguh, guru SLBN 1 Gunung Kidul hal lain adalah karena setelah lulus anak-anak biasanya bingung akan melakukan apa. Beberapa di antaranya malah kembali ke sekolah, mendaftar menjadi karyawan di sekolah. Orangtua yang memandang sebelah mata, guru yang tidak memiliki kemampuan mengembangkan murid penyandang disabilitas, sarana prasarana bahkan akses pendidikan yang belum mendukung membuat anak-anak penyandang disabilitas kadang harus memendam mimpinya. Bersama demi #PendidikanUntukSemua Seorang pelari memakai baju pemadam kebakaran memasuki arena finish lari NusantaRun Chapter 6. Ia lari menuju garis finish yang sudah berada di depannya, air matanya mulai mengalir, dan menjadi tumpah ketika ia mencapai garis finish. Sebuah yel-yel dari murid dan guru membuat suasana siang itu menjadi tambah sendu. “Terima kasih..terima kasih pelari NusantaRunSudah dukung… sudah dukung Pendidikan untuk Semua” Kemudian Gita seorang anak disabilitas dari SLBN 1 Gunung Kidul menghampirinya, memakaikan gelang dan memberikan bunga sebagai wujud apresiasi kepada pelari tersebut yang telah berjuang lari puluhan kilometer. Bunga dan gelang merchandise untuk pelari adalah hasil karya murid-murid disabilitas di Solo dalam workshop yang diadakan Komunitas Guru Belajar Solo. Teman-teman Guru Belajar Solo juga hadir di garis finish NusantaRun chapter 6 untuk mengapresiasi para pelari. Masih banyak pelari lain yang mencapai garis finish dengan bangga bahkan membawa anggota keluarga. Siang itu (9 Desember 2018) di Pantai Sepanjang saya melihat kekuatan dari kontribusi. Seorang pemadam kebakaran,bankir, pengusaha, guru, murid, bahkan staf ahli presiden bersama-sama melakukan aksi untuk perubahan. Saya jadi teringat kutipan dari Hellen Keller Alone we can do so little ,together we can do so much. Anda ingin ikut terlibat dalam #PendidikanUntukSemua klik https://kitabisa.com/nusantarun

Bagaimana Ya Cara Mengembangkan Ide Cerita?

Saya yakin teman-teman disini suka bercerita, dan saya yakin juga semuanya bisa menulis. Tapi saya yakin juga banyak yang malu-malu mau bercerita ataupun menulis. Nah, kali ini pada Temu Pendidik Daring Komunitas Guru Belajar Sragen, saya ingin sedikit berbagi agar teman-teman mempunyai keberanian untuk menulis bagi yang suka bercerita. Sebenarnya menulis tidak memerlukan pakem khusus, pakem atau kita sebut aturan justru muncul belakangan ketika si penulis telah menemukan pola tulisannya sendiri. Yang penting, ketika kita mempunyai ide, bisa satu kata, satu kalimat, satu adegan cerita atau seberapapun itu merupakan modal awal ketika ingin menulis. Sesi Tanya Jawab Pertanyaan 1 Indri Fatma : Bagaimana caranya memulai, mengembangkan dan merampungkan sebuah cerita (tulisan), kalau ide yang kita punya baru sebatas pesan moral yang akan disampaikan? Belum tau alurnya. Andy Hermawan : Bisa diberikan contoh pesan moralnya? Indri Fatma : Contoh bahwa salam itu harus dijawab, jangan mudah ngambek, jujur. Andy Hermawan : Pesan moral biasanya muncul di akhir. Bisa dibuat pola dari belakang ke depan dengan metode sebab akibat. Mengapa ngambek, siapa yang menyebabkan ngambek, apa yang menyebabkan ngambek, ngambeknya dimana. Dari situ akan terangkai kata demi kata. Pilih kata yang mudah dipahami. Indri Fatma : Saya sudah buat pola misal tokohnya anak-anak sendiri. Di awal mereka antusias (saat mendengarkan cerita) namun tiba saatnya di tengah-tengah saya kurang mampu menunjukkan klimaksnya. Andy Hermawan : Klimaks kata lainnya goals, tinggal mau memunculkan apa, goalnya keberhasilan, harapan, dsb. Alur yang biasanya dipakai oleh kebanyakan penulis atau pencerita adalah, awal cerita, isi, kemudian penutup yang disertai dengan pesan moral. Misal ya : Idenya tentang lapar. Satu kata. Bisa diawali dengan setting waktu pada suatu siang yang terik. “Seekor itik berjalan ke hutan ditemani oleh 3 ekor anaknya yang masih kecil-kecil. Jarak antara tempat dia tinggal dengan hutan, kira-kira hanya seperempat hari lamanya. Mengapa ia rela berjalan sejauh itu. Ia berjalan ke hutan hanya ingin mencari makan untuk anak-anaknya.” Dari cerita itu apa yang bisa disimpulkan? Indri Fatma : Usaha mendapatkan makanankah? Mencari makan karena mereka lapar? Perjuangan? Kasih sayang? Mencari makan di hutan? Andy Hermawan : Kata lapar tidak harus selalu masuk dalam ranah penulisan atau penceritaan. Lapar hanya ide. Dan ketika dituangkan, banyak sekali makna pembelajaran yang dapat diambil. Begitu kira-kira. Harus telaten itu kuncinya. Pertanyaan 2 Rika : Kalau diawali dengan deskripsi tokoh. Bakalan menyulitkan cerita kebelakangnya tidak? Bukan setting. Andy Hermawan : Kembali kepada goals apa yang ingin disampaikan, ibarat kita mau berjalan ke mall, jika ternyata yang dicari tersedia di warung dekat rumah ya itulah alurnya. Rika :  Hehe, saya cuma sering menemui cerita cerita yang diawali dengan setting waktu. Kalau tidak juga tidak apa kan. Pertanyaan 3 Vitriya : Bagaimana  cara menulis dongeng atau cerita yang asyik untuk dijadikan bahan dongeng secara langsung. Jadi memang dijadikan bahan untuk diperankan 🙏🙏 terimakasih pak. Andy Hermawan : Ini mau ditulis atau diceritakan langsung?😁pada intinya materi yang akan disampaikan layak dituturkan kepada anak semakin beragam, dan pada prinsipnya cerita apapun sejauh dapat menghibur, edukatif dan reflektif pantas didongengkan. Vitriya : Awalnya mau ditulis pak. Terus setelah itu diceritakan. Sepertinya memang power dikemampuan bercerita harus diasah dulu ya pak agar semua cerita kece untuk diceritakan. Andy Hermawan : Tokoh dalam dongeng tidak perlu banyak-banyak, cukup 2 saja, munculkan konflik dalam cerita, tutup dengan solusi dan pesan moral. Pertanyaan 4 Sigit :  Di awal tadi ada materi malu-malu bercerita maupun menulis. Saya yakin disini ada yg masih awam atau baru niat atau baru mau mengaplikasikan dll. Pertanyaannya kalau mau terjun di dunia dongeng, kita menulis dulu atau kita praktikan dulu. Kalau menulis dulu, langkah awal utk menulis itu gimana ya? Kalau praktik, malam ini diskusi nya membahas tentang menulis. Terima kasih atas jawabannya Kak Andy ☺ Andy Hermawan : Dongeng bukan ilmu pasti, mau langsung cerita atau ditulis dulu bebas, karena kita memainkan imajinasi dan bebas berekspresi, kembali kepada masalah kenyamanan dan kebutuhan, yang perlu dituangkan adalah gagasan-gagasan yang ada dalam pikiran, panggung ataupun pena dan kertas hanyalah media, sedangkan cerita merupakan isi, sinambi golek dalan yo karo gawe dalan (sambil mencari jalan, juga membuat jalan). Sigit : Untuk mengawali praktik menulisnya kak ? Andy Hermawan :  Mengawali praktek menulis ya berani dan mau, itu aja kuncinya. Tidak ada salah dan benar dalam proses, karena ‘rasa’ akan muncul dengan sendirinya Closing Baik teman-teman, banyak orang mengatakan bahwa diam itu emas, tetapi tidak menutup kemungkinan jika kita berani berbicara atau menyuarakan sesuatu maka kita akan mendapat emas bahkan gunung emas, cerita dapat dituangkan secara verbal maupun dinarasikan, menulis adalah kegiatan positif yang bebas, dapat kita lakukan dimana saja, kapan saja, dengan siapa, pokoknya bebas, yang penting perangi rasa malu, malas, dan selalu berkata susah sebelum mencoba.

Cara Belajar Guru Milenial

Apa yang harus dilakukan guru dalam menghadapi siswa yang merupakan generasi milenial? Generasi milenial cepat bosan dengan kegiatan yang monoton; padahal proses belajar di sekolah kita masih diisi dengan mendengarkan ceramah dari guru, mencatat dan mengerjakan tugas-tugas saja. Generasi milenial juga sangat suka menggunakan gawai. Mereka takut ketinggalan perkembangan dunia terbaru. Seakan semboyan hidupnya adalah “No Update No Life, No gadget No Life”. Pantas mereka kerap kedapatan mencuri waktu untuk membuka gawainya di tengah-tengah pembelajaran. Padahal masih bayak guru yang hanya menggunakan gawai untuk aplikasi chatting, facebok dan YouTube saja, jauh tertinggal di belakang siswanya. Generasi milenial juga senang bekerja multitasking. Makan saja dilakukan sembari membuka Instagram sekaligus membalas chat dari beberapa teman. Suatu hal yang sangat dibenci generasi jaman old karena dianggap tidak sopan. Alih-alih tenggelam dalam kegalauan ditengah jaman yang penuh  tantangan dan kecepatan ini, guru- guru di Purwokerto lebih memilih untuk berdaya. Mereka tahu bahwa pendidikan saat ini perlu bergerak mengikuti perkembangan jaman. Mereka tidak bisa lagi mengandalkan buku teks dan LKS sebagai senjata di kelas. Harus ada strategi-strategi baru. Karakteristik generasi milenial yang mampu belajar cepat dan mampu mempelajari banyak hal harus dipandang sebagai sebuah kelebihan bukan kenakalan. Jika guru mampu mengarahkan agar proses belajar siswanya menjadi terarah dan fokus, bukan tidak mungkin hal tersebut akan menghantarkan siswa menjadi orang yang sukses di masa depan. Namun jika guru tidak mampu hadir ditengah-tengah siswa, bukan tidak mungkin pula siswa menjadi mudah berpindah-pindah minat, sehingga kelak menjadi generasi mudah goyah dan tidak loyal. GuruFest 2018 adalah salah satu terobosan yang digunakan oleh guru-guru di Purwokerto untuk menjawab tuntutan tersebut. GuruFest 2018 adalah sebuah kegiatan belajar guru yang merdeka dan sesuai dengan kebutuhan belajar guru abad 21. GuruFest 2018 memberikan ruang bagi guru untuk saling berbagi pengalaman baik yang pernah dilakukan di kelas masing-masing untuk dibagikan kepada guru lain. “Selama ini kami kira para guru hanya bisa belajar dari dosen/professor, ternyata tidak. Kami ternyata bisa juga belajar dengan sesama rekan guru. Dan ini asik, karena narasumbernya adalah guru, orang yang paham banget tentang keadaan kelas dan sekolah saat ini. Sehingga materi-materi yang disampaikan benar-benar relevan dengan kebutuhan rekan guru lainnya”, kata Niamil Hida salah satu peserta GuruFest 2018 asal Pekalongan. Guru Niam bersama rekan-rekan guru yang tergabung dalam Komunitas Guru Belajar Pekalongan sengaja ikut hadir di acara GuruFest 2018 ini karena mereka merasa bahwa model belajar di GuruFest 2018 ini menarik. Ada banyak pilihan kelas yang bisa diikuti sesuai dengan kebutuhan belajar masing-masing guru. “GuruFest 2018 ini adalah kegiatan belajar guru yang terinspirasi dari kegiatan Temu Pendidik Nusantara yang baru saja kami ikuti di Jakarta beberapa waktu lalu”, kata Guru Daru mewakili panitia. “Kami memberikan ruang bagi para guru-guru di Purwokerto untuk berdaya sekaligus belajar barengan”, lanjutnya. Kegiatan GuruFest 2018 ini terbagi menjadi 4 sesi. Sesi yang pertama adalah Kelas Kemerdekaan. Kelas dengan durasi 1 jam ini adalah kelas dimana para guru bisa saling berbagi pengalaman baik dalam pengajaran. Kelas Kemerdekaan terdiri dari kelas-kelas kecil. Tiap kelas kecil diisi oleh 3 narasumber yang bercerita tentang pengalamannya dalam mengelola kelas melalui strategi tertentu. Sesi kedua adalah Kelas Kompetensi. Kelas ini berdurasi 3 jam. Sama seperti kelas kemerdekaan, sesi Kelas Kompetensi ini dibagi menjadi beberapa kelas kecil. Tiap kelas membahas topik yang berbeda-beda. Tiap peserta dapat memilih kelas yang sesuai dengan kebutuhan belajarnya masing-masing. “Saya masuk kelasnya pak Waryanto. Wah menarik sekali! Saya baru tahu ternyata dengan menggunakan aplikasi Kahoot, proses penilaian pencapaian belajar siswa bisa dibuat sangat seru.. keren pokoknya..”, kata Demas, salah satu peserta GuruFest 2018. “Saya besok akan gunakan aplikasi Kahoot ini di kelas saya..”, katanya. Sesi ketiga adalah Kelas Kolaborasi. Sesuai judulnya, kelas ini memberi kesempatan kepada para professional untuk ikut serta berkolaborasi dalam pendidikan. Kelas ini menghadirkan 7 orang narasumber yang para professional dibidangnya. Sebut saja Arnold Ong. Beliau adalah professional muda di bidang IT yang telah malang melintang di dalam dan luar negeri. Arnold menjadi narasumber di kelas “Inovasi teknologi untuk Pendidikan”. Aplikasi-aplikasi terbaik yang mendukung pembelajaran dipaparkannya di depan kelas. “Saya ingin guru-guru di seluruh Indonesia juga memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi secara maksimal. Dan hal itu tidak sulit kok..”, ujar Arnold. Selain Arnold, ada juga Robi Sofwan Amin. Beliau adalah jurnalis CNN Indonesia yang ikut tergerak untuk berkolaborasi memajukan Pendidikan di Indonesia khususnya di Purwokerto melalui GuruFest 2018 ini. Robi mengangkat “Pembuatan Video Profesional dengan HP” sebagai judul kelasnya. “Bermanfaat sekali ya, kami selaku guru dapat belajar pembuatan video langsung dari jurnalis. Tentunya ini menjadi strategi baru di kelas saya besok. Saya ingin pembelajaran PAI dikemas melalui vlog, pasti siswa saya akan suka”, kata salah satu peserta. Ilmu yang kita miliki tidak akan berkurang jika kita bagikan kepada orang lain. Dan ternyata hal ini juga membahagiakan. Itulah yang kami rasakan di kelas Karier sebagai puncak acara GuruFest 2018. Di kelas ini seluruh peserta, narasumber, dan panitia berkumpul bersama di Aula SMK Aryasatya Teknologi Patikraja Purwokerto. Tidak muncul gurat lelah di wajah mereka meskipun kegiatan telah berlangsung seharian. Justru yang muncul adalah kebahagiaan. Guru yang menjadi narasumber berbahagia ketika hari ini Ia berhasil menaklukkan dirinya sendiri. Menaklukkan anggapan negatif yang menganggap bahwa Ia tidak bisa menjadi narasumber bagi guru lain. Ternyata anggapan itu salah besar karena setelah berbagi di depan kelas, rasa malu, tegang, takut, telah lenyap berganti dengan ketagihan belajar tak berkesudahan. Fix! guru bisa menjadi narasumber untuk materi yang sangat dikuasainya, yaitu mendidik dengan hati. Kebahagiaan dari para peserta juga terlihat karena dibenaknya telah muncul optimisme baru. Optimisme yang muncul karena hari ini Ia memiliki strategi-strategi pembelajaran terbaik. Optimisme yang membuatnya tidak sabar untuk segera masuk kelas menemui para siswanya. Dan pastinya optimisme untuk terus belajar. Hari ini, sekali lagi kami belajar sekaligus membuat pembuktian bahwa berbagi itu membahagiakan. Bagi guru milenial, Sharing is cool! Nuno Riza Peserta GuruFest 2018 Penggerak KGB Pekalongan

Berlari dan Berkontribusi untuk Pendidikan Murid Disabilitas

“Saya tidak pernah absen menjadi pelari sekaligus fundriser NusantaRun sejak chapter pertama. Awalnya saya pikir kaki saya bisa copot setelah mengikuti NusantaRun yang menempuh puluhan bahkan ratusan kilometer.”, Sandy, salah satu pelari NusantaRun chapter 6 bercerita tentang pengalamanya berlari di NusantaRun. NusantaRun Chapter 6 adalah perhelatan tahunan yang mengusung ultra marathon for charity. Bukan sekadar event lari, namun juga wujud nyata pelari dalam berkontribusi untuk pendidikan di Indonesia. “Jika para pelari ingin berlari, banyak event yang bisa diikuti. Kalau pelari mau ikut event lari sekaligus bisa berkontribusi, bisa melakukannya di NusantaRun” ujar Chirtopher Tobing, co-founder NusantaRun. Dalam event lari NunsantaRun selain berlari, para pelari tidak hanya berlari puluhan kilometer. Namun juga menggalang donasi. Untuk chapter 6 ini penggalangan donasi dimulai sejak 24 Agustus 2018 dan akan berakhir 11 januari 2019. Adapun target yang ingin dicapai NusantaRun adalah sebesar 2,5 milyar. Donasi tersebut akan digunakan untuk program Pengembangan Pendidikan Murid Penyandang Disabilitas di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang bekerjasama dengan Kampus Guru Cikal. Berdasarkan riset potret pendidikan  inklusi di dua provinsi tersebut sudah ada arah untuk mengembangkan pendidikan inklusi, ini terlihat dari kebijakan dan pertaturan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah. Namun di lapangan, implementasi kebijakan tersebut masih jauh dari harapan. “Melalui program tersebut kami berharap ada contoh nyata keberhasilan pendidikan inklusi yang dapat meyakinkan orangtua, guru, dan masyarakat luas mengenai potensi murid penyandang disabilitas”, ujar Najelaa Shihab, pendiri Kampus Guru Cikal Najelaa Shihab menyebut bahwa ada tiga pilar utama untuk program yang akan dijalankan yaitu : 1) menyiapkan guru bimbingan karier yang bisa mengarahkan dan memberi dukungan bagi anak penyandang disabilitas, 2) pengembangan Komunitas Komunitas Guru Belajar Bimbingan Karier sebagai sistim dukungan bagi murid penyandang disabilitas, dan 3) pengembangan diri dan penyediaan beasiswa pendidikan tinggi bagi murid penyandang disabilitas. Pada chapter 6 ini akan dilaksanakan dari tanggal 7 Desember hingga 9 Desember 2018. Ada dua kategori yang akan ditempuh pelari, yaitu half course (86 km) dan full course (169 km) yang akan berjuang menuju garis finish di Pantai Sepanjang, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Walaupun menuju garis finish yang sama, namun kedua kategori tersebut memulai lari dari garis start yang berbeda. Pelari kategori full course akan mulai berlari di garis start yang berada di Kledung Pass Hotel, Wonosobo, Jawa Tengah dan pelari half course akan mulai berlari di garis start yang berada di Kantor Kepala Desa Karangwuni, Wates, Daerah Istimewa Yogyakarta. “Untuk  chapter 6 ini saya sudah menyiapkannya dari bulan Januari tahun ini. Mulai darilatihan 5 km, 10 km dan juga mengikuti beberapa race.” Ujar Irene peserta lariNusantaRun 6 ini yang tidak pernah melewatkan ajang lari ini. Kolaborasi dari berbagai pihak dalam mendorong kemajuan pendidikan bagi penyandang disablitias menjadi semangat yang ingin disebarkan NusantaRun tahun ini. “Kami meyakini bahwa siapapun dapat berkontribusi memajukan pendidikan Indonesia. Dengan semangat power of contribution serta fokus terhadap isu pendidikan bagi penyandang disabilitas, kami berharap dapat membuka mata banyak orang bahwa sejatinya pendidikan harus dapat diakses oleh siapapun tanpa terkecuali.’ Kata Cristopher. “Benar, bahwa kolaborasi antarpihak yang dilakukan oleh NusantaRun ini penting. Karena pendidikan bukan sekedar urusan guru dan murid yang berkecimpung langsung di masyarakat, namun juga urusan bersama” ujar Najelaa Shihab.

Bagaimana Cara Memahami Kebutuhan Khusus Murid?

Bagaimana jika di kelas yang kita ajar ada Anak Berkebutuhan Khusus?Apa yang harus kita lakukan?Dan bagaimana agar antarmurid bisa saling menghargai. Yuk SimakTemu Pendidik MingguanKGB Pekalongan ke-22 “Memahami Kebutuhan Khusus Murid” yang menghadirkanGuru Suhud Rois dari KGB Cimahi, dan moderatorMaman Basyaiban dari KGB Pekalongan. Suhud Rois Pergi ke laut naik kapal selamKe laut, kenapa sarungan?Assalaamu’alaikum, selamat malamApa kabar Pekalongan? Maman BasyaibanGula jawa dari arenRasa manisnya begitu kayaMalam Pak SUHUD KerenIzin belajar bareng ya Suhud RoisSiapakah sih , Anak Berkebutuhan Khusus Itu?Kalau membincangkan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) pasti dalam benak kita yang terbayang adalah yang fisiknya tidak sempurna, atau ada disfungsi di satu atau beberapa organ tubuh. Iya?Kemudian berkembang sebuah stigma, yang saya yakin karena latah, anak-anak penyandang learning disability atau learning disorder digeneralisasi sebagai penyandang autism.Sebenarnya, setiap anak (orang), itu berkebutuhan khusus. Tidak ada yang punya kebutuhan sama. Sudah makan malam? Sendirian atau sama orang lain? Misalnya sama satu atau beberapa orang. Makan ditempat yang sama, menunya sama. Bahkan porsinya pun sama, pakai ditakar segala. Apakah benar-benar sama semuanya? Tidak kan? Sama, dalam belajar pun tidak ada yang kebutuhanannya sama persis. Meskipun IQnya sama, bahkan minatnya sama sekalipun, pasti ada sesuatu yang membedakan yang kemudian disebut kebutuhan khusus.Namun karena kelas adalah kumpulan individu, maka tidak mungkin semua kekhususan diakomodir. Dibuatlah pengelompokkan besar untuk memetakan dan memudahkan pelayanan. Maka munculllah istilah kesulitan belajar spesifik (learning disability). Mereka yang termasuk dalam kategori berkesulitan belajar adalah penyandang disleksia, ADHD, dan ADD.Apa Saja yang Dihadapi Siswa Berkesulitan Belajar?• Masalah bahasa• Masalah perhatian dan aktivitas• Masalah ingatan• Masalah kognitif• Masalah sosial-emosi Apa yang Harus Dilakukan?Ketika sekolah membuka pintu bagi ABK, itu berarti suatu langkah mulia. Mengapa? Dalam banyak kasus ABK tidak mendapatkan tempat di sekolah-sekolah. Seolah-olah mereka itu menjadi beban. Namun, menerima saja tidak cukup. Kalau ABK sudah masuk, mau bagaimana? Gurunya siap? Teman-temannya siap? Lingkungannya siap? Tanpa ada kesiapan sekolah, menerima ABK justru mengundang petaka bagi sekolah dan anak tersebut. Nah, apa saja yang perlu dipersiapkan? Yang pertama dipersiapkan adalah gurunya. Guru harus benar-benar memahami dan menghargai keberagaman. Mindset guru tentang kesuksesan sekolah juga harus sudah harus lebih maju. Kesuksesan sekolah bukan diukur oleh pencapaian akademik yang indikatornya adalah nilai UN. Sekolah yang sukses adalah sekolah yang mampu mengembangkan anak, sekolah yang membuat anak berdaya. Guru harus siap untuk melakukan perubahan metode maupun materi pembelajaran. Sebenarnya tidak ada metode yang paling unggul. Yang diperlukan adalah kejeilian guru dalam memilih metode yang paling efektif. Yang kedua adalah orangtua. Orangtua harus didorong menjadi pendidikan anaknya. Mereka harus dilibatkan dalam pembuatan program bagi anaknya. Keterlibatan ini penting untuk menjaga konsistensi. Yang ketiga, mempersiapkan murid yang lain. Ini juga sangat penting, karena merekalah yang akan berinteraksi dengan ABK. Interaksi itu bisa bersifat positif, namun tidak menutup kemungkinan anak berdampak negatif. Oleh karena itu, sebelum ABK masuk kelas, warga kelas harus dipastikan sudah siap menerima teman yang berkebutuhan khusus. Apa yang Harus Dilakukan?• Jangan terburu-buru melakukan judgment. Misalnya ada anak yang sangat aktif, langsung kita ambil kesimpulan anak itu hiperaktif. Tetap lakukan observasi. Jangan lupa, anak tersebut harus dites oleh psikolog.• Bila sudah didapat hasil tes dari psikolog dan juga mendapatkan rekomendasi untuk treatmennya, segeralah membuat program bagi ABK dan juga seluruh kelas. Program yang diberikan kepada ABK harus mendapat support dari lingkungan.• Buatlah pembelajaran yang berdiferensiasi.• Berubahlah. Jangan terpaku pada praktik pembelajaran yang klasik (membaca, menulis, tes). Mulailah mengusung pembelajaran yang mengembangkan banyak aspek pada diri anak. Asesmen dan evaluasi juga jangan terpaku pada paper and pencil test. Pelajari dan praktikkan asesmen dan evaluasi yang lebih relevan dan memberdayakan.• Ini sangat penting : hindari memberi label pada anak. Sekalipun anak tersebut dinyatakan berkebutuhan khusus oleh psikolog. Biarlah itu menjadi bank data yang kita simpan rapat. Apalagi kalau label tersebut keluar dari teman-temannya, maka inklusivitas bisa dikatakan gagal. Pertanyaan Termin 11. Kinanti – BanjarnegaraBagaimana memberi pemahaman kepada anak TK kalo ada teman yg berkebutuhan khusus? Bagaimana mengajak teman2 lain mau main bersama dg ABK penyandang autis yg belum bisa berbicara, dan cenderung memukul teman.2. Yuli – BatangMindset apa saja yg harus dimiliki guru, kongkritnya bagaimana pak?3. Nita – Pekalongan” jangan terpaku pada paper dan pencil test “Ketika ada anak ABK yg agak sulit berkomunikasi, tertarik dgn kertas dan pensil, tapi hanya bisa sebatas coretan yang tak beraturan, seperti benang kusut (coretan semaunya sndri). Langkah apa yang harus dilakukan agar anak tersebut dapat lebih terarah kemamuan menulisnya?Suhud RoisPertanyaan1. Kinanti – BanjarnegaraBagaimana memberi pemahaman kpd anak TK kalo ada teman yg berkebutuhan khusus? Bagaimana mengajak teman-teman lain mau main bersama dg ABK penyandang autis yg belum bisa berbicara, dan cenderung memukul teman?Jawaban :Anak TK, ya? Waduh. Mungkin karakter anak TK hampir sama dengan anak kelas 1. Untuk anak usia awal sekolah, perlu penjelasan yang konkret. Bisa pakai ibarat. Misalnya, apakah mereka punya kakak atau adik di rumah?Apakah sama antara dia dengan adik atau kakaknya?Intinya pada akhirnya anak paham bahwa setiap orang itu berbeda.Bagaimana kalau ada ABK melakukan agresi?Yang pertama jangan sampai keluar kata “nakal”. Apalagi anaknya belum lancar bicara. Kita pahamkan ke anak yang lain bahwa mungkin anak yang berkebutuhan khusus ini ingin mengatakan sesuatu tetapi belum bisa. Akhirnya muncullah kekesalan, dan kemudian memukul. Tapi harus dipastikan juga bahwa memukul orang lain itu tidak boleh. Yang kedua kasih praktik bagaimana berinteraksi dengan anak tersebut. Ketika dia melakukan agresi, kita bisa tanya, “Kamu ingin apa? Kesal,ya? Kenapa kesal?” Karena anak blm bisa bicara, maka guru mencari apa yang ingin dilakukan atau dikatakan anak tersebut dengan mengajukan pertanyaan yang bisa dijawab dengan anggukan atau geleng kepala.Pertanyaan2. Yuli – BatangMindset apa saja yg harus dimiliki guru, kongkritnya bagaimana pak?Jawaban :Mindset guru tentang kesuksesan sekolah? Masih banyak guru yang memandang keberhasilannya dalam mengajar adalah ketika murid-muridnya mendapat nilai yang tinggi, terutama saat ujian. Tentu saja tidak salah bisa mendapat nilai yang tinggi. namun harus diingat, bahwa tujuan pendidikan yang utama bukan nilai. bahkan dlm UU PendidkanNasional disebutkan yang pertama dari tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang bertakwa. Nah, sudah saaat guru memandang kesuksesan sekolah itu ketika mampu mengembangkan semua muridnya sesuai dengan kapasitasnya, di semua ranah pendidikan.Pertanyaan3. Nita – Pekalongan“Jangan terpaku pada paper dan pencil test “Ketika … Read more

Hibernasi dan Berefleksi

Would you know my nameIf I saw you in heavenWill it be the sameIf I saw you in heavenI must be strong,and carry onCause I knowI don’t belong Here in heaven Lagu lawas dari Eric Clapton itu mengiringiku menulis pagi ini. Lagu yang bersejarah bagi Eric. Tanggal 20 Maret 1991, Connor Clapton anaknya meninggal karena jatuh dari sebuah apartemen. Hari itu sampai 9 bulan setelahnya Eric berkabung. Eric sangat-sangat terpukul kehilangan anak. Ia berdiam diri di rumah, ia memilih untuk tidak tampil, ia konsentrasi kepada apa yang baru menimpanya. Sembilan bulan setelahnya, ia kembali. Eric kembali dengan perbedaan. Musiknya lebih lembut, reflektif dan kuat. Salah satunya ia tunjukkan di lagu Tears in Heaven, lagu yang ia tujukkan untuk Connor Clapton. “Sering kali kita memang butuh berdiam diri, merefleksikan apa yang dilakukan dan memulai kembali dengan semangat yang baru” Itulah mengapa tim Kampus Guru Cikal Jumat, 16 November 2018 melakukan sebuah perjalanan ke Honje Ecolodge di Ujung Kulon. Salah satunya adalah untuk berefleksi. Setiap hari dihadapkan dengan Komunitas Guru Belajar yang ada di 145 daerah dengan beragam aktivitasnya dari Temu Pendidik Daerah, Temu Pendidik Mingguan, Temu Pendidik Nusantara, Surat Kabar Guru Belajar, Guru Promotor, konten harian, penggerak. Tiap hari ada puluhan percakapan di grup, media sosial. Ini yang saya salut dari teman-teman di Kampus Guru Cikal. Bergerak setiap hari. Dan kami memang membutuhkan waktu untuk berdiam. Waktu untuk berefleksi dari semua itu. Jumat siang itu kami memutuskan untuk melakukan perjalanan yang berbeda. Kami bisa saja menyewa mobil dan tidur sampaillah kami di tempat yang kami tuju. Tapi kami memilih naik KRL kemudian disambung naik angkot. Tapi yang terjadi dalam perjalanan tersebut sungguh luar biasa. Banyak obrolan yang kami lakukan. Belum sampai lokasinya saja, banyak refleksi dari obrolan singkat nan bermakna. Seperti yang saya tulis di awal, bahwa kegiatan kami ke Ujung Kulon adalah refleksi. Maka tiap aktivitas pun dirancang agar kami berefleksi. Nah mungkin ide-ide di bawah ini bisa di-ATM (Amati – Tirukan –Modifikasi) di sekolah Bapak Ibu untuk melakukan refleksi. A. Hunting Foto Bukan sekadar hunting foto, tapi hunting foto bermakna. “Ya jadi dalam hunting foto ini masing-masing harus mengambil dua foto. Satu foto tentang ‘perubahan positif’ dan satunya lagi tentang ‘harapan’. Kemudian nanti kita presentasikan ya! Waktunya satu jam dalam mengambil foto.” Kami pun menyebar untuk mencari foto yang sesuai  dua frasa tersebut. Ada yang ke bagian barat pantai, ada yang ke timur, ada yang masuk ke dalam penginapan, ada yang berdiam diri. Semua mencari foto sambil menikmati ‘waktu sendiri’. Akhirnya seperti waktu yang ditentukkan, kami pun berkumpul di gazebo depan penginapan untuk membahas foto yang diambil. Ada yang mengambil gambar karang, pohon, buku, kano. Satu per satu anggota KGC mempresentasikan hasil jepretannya. “Aku tu ambil foto ini karena mpresentasikan perubahan positif aku semenjak di KGC…..” “Nah ini adalah harapanku ke depan, kayak penginapan kita ini. Mmebangun namun tidak menggerus…” Senang sekali mendengar hasil presentasi teman-teman.   B. Mengutarakan “Tampak seperti dan tidak tampak seperti” Nah setelah sesi foto, masih di tempat yang sama. Pak Maman meminta kami untuk mengungkapkan apa yang sudah sesuai dan tidak sesuai dengan prinsip Cikal. “Medianya bebas apa saja, boleh menggambar, boleh menulis, boleh juga menyanyi” Kami pun melakukan apapun yang membuat kami nyaman mengungkapkanya. Dari sesi ini akhirnya aku pribadi tahu, masih banyak sekali hal yang kurang selama ini. Masih banyak evaluasi yang perlu diperbaiki. Dan masukan teman-teman menambah semakin tahu apa yang perlu diperbaiki ke depannya. C. Menggambar Malam hari, kami semua di kumpulkan di depan penginapan untuk sesi berikutnya. Kalau sebelumnya adalah sesi refleksi individu, sekarang sesi refleksi ketua KGC, yaitu mas Bukik. Kami diminta menggambar apa saja yang menggambarkan ketua KGC, pun dengan pemilihan warna spidol, harus memiliki arti. Ada yang gambar pohon, ada yang gambar tangga, dan lain sebagainya. Aku pribadi menggambar tangga, karena aku merasa banyak tantangan baru saat mas Bukik menjadi ketua KGC, dan tantangan-tantangan itu semakin membuatku belajar. Selain hal positif, kami juga mengutarakan hal-hal evaluasi mas Bukik sebagai ketua. Seneng banget karena dari sini bisa lebih leluasa mengutarakan apapun. Dan suka dengan apa yang mas Bukik lakukan. Suatu saat kalau jadi pemimpin akan kayak dia ah.. hehhe D. Tukar Kado Setelah sesi refleksi ketua KGC, kegiatan berikutnya yaitu tukar kado. Kami telah menyiapkan kado sebelumnya, dan malam itu kado kami saling ditukar. Kadonya lucu-lucu. Tapi rahasia ya. Dari sesi ini kami merasa semakin dekat satu sama lain di tim KGC. E. Truth and Dare Ini adalah aktivitas yang menakutkan buatku. Dengan botol di tengah, setiap orang berhak memutarkan botol tersebut secara bergantian. Setelah botol diputar, dan ujung botol mengarah ke seseorang, maka seseorang tersebut harus melmilih untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pemutar botol dengan jujur atau memilih melakukan aktivitas yang diinginkan oleh pemutar botol. Ini sesi yang membuat kami tertawa bersama malam itu. Membuat kami semakin tahu satu sama lain. Dan entah kenapa 2 hari tersebut benar-benar membuat kami semakin semangat untuk bareng-bareng berjuang bersama mendampingi teman-teman Komunitas Guru Belajar. Seperti Eric Clapton, semoga apa yang kami lakukan bisa membuat kami benar-benar berefleksi dan melakukan hal dengan lebih baik dalam mendampingi teman-teman KGB.