Merancang Pembelajaran yang Bermakna

Moderator : Abdurakhman Hardiyanto (Unikal – KGB Pekalongan)Narasumber : Rizqy Rahmat Hani (Kampus Guru Cikal – KGB Pekalongan) Rizqy : Three Idiots adalah salah satu film favoritku, ada sebuah adegan yang membuatku terinspirsi yaitu adegan  Pia, dan teman-temannya sedang mencari Rancho yang lama telah menghilang. Setelah mencari ke bebrapa tempat, akhirnya mereka sampai  di sebuah sekolah. Ketika mereka turun, yang mereka lihat pertama adalah seorang anak dengan sebuah mesin sederhana mencampurkan bahan-bahan membuat kue, kemudian mata mereka tertuju kepada seorang anak yang memutar pedal sepeda sebagai daya pencukur  bulu domba, dan di samping mereka ada dinding sekolah yang nerwarna-warni. Adegan itulah yang membuat pandanganku mengenai pendidikan berubah. Suara jangkrik malam itu menemaniku yang sedang mempersiapkan materi ajar untuk esok hari. Aku  buka-buka lagi buku kuliahku tentang karya ilmiah. Aku buka-buka lagi Karya ilmiah yang pernah aku buat dan kirimkan untuk lomba sewaktu aku kuliah. “Baiklah, besok aku akan menjelaskan tentang apa itu karya ilmiah dan bagian-bagiannya.” Keesokan harinya, karena sudah mempersiapkannya, aku dengan kepercayaan diri masuk ke kelas. Langsung kubagikan karya ilmiah yang pernah kubuat kepada anak-anak. Kemudian kutulis sebuah kalimat di papan tulis. “Apa itu karya ilmiah?” Sengaja kutulis besar agar bisa terlihat oleh siswa yangpaling belakang. “Halo, nah coba Kalian baca sebentar mengenai karya ilmiah yang bapak berikan ya?” “Bapak beri waktu 5 menit untuk kemudian setiap anak wajib memaparkan pengertian seperti yang diketahuinya. Nanti jawaban yang paling keren Bapak kasih hadiah”. Saya yakin dengan hadiah anak akan lebih aktif, lebih senang belajar. Semua tampak senang dan berlomba-lomba menemukan arti dari karya ilmiah. Aku tersenyum karena merasa sudah menjadi guru yang keren, yang membuat anak-anak senang belajar. Belum ada lima menit ada seorang anak yang maju dan menuliskan jawaban di papan tulis. Dilanjutkan anak-anak yang lainnya. Dan semua antusias menuliskannya di papan tulis “pengertian dari karya ilmiah’. “Terima kasih, jawaban Kalian keren-keren!” Kemudian dari jawaban-jawaban tersebut, akhirnya kami saring menjadi jawaban yang paling benar. “Sekarang coba ada yang bisa menuliskan bagian karya ilmiah apa saja?” Semua diam. Kelas menjadi hening. Aku melupakan sesuatu. Hadiah. Maka dengan cekatan, aku langsung menawari hadiah kepada anak-anak. “Ehmm, kali ini bapak punya sesuatu bagi yang mau menyebutkan” Belum ada beberapa menit, seorang anak berdiri dan menyebutkan apa yang aku perintahkan. “Latar belakang, rumusan masalah, …. metode penelitian …, pembahasan… daftar pustaka” jawab saah satu siswa. Hari itu aku sangat yakin, kalau metodeku ini adalah metode keren. Anak-anak pasti bisa menjawab soal Ujian Nasional dengan baik. -Itulah yang aku lakukan 3 tahun di awal-awal menjadi guru. Mengajarkan anak menghafal. Senang, karena saat ulangan, anak-anak berhasil menjawab soal-soal pilihan ganda yang memuat materi-materi tersebut. Senang  karena nilai anak-anak selalu bagus di pelajaran Bahasa Indonesia yang artinya aku sebagai guru berhasil dan pastinya akan dipandang oleh pihak sekolah. Pemahamanku waktu itu mengenai sekolah adalah tempat mendapatkan nilai. Sampai akhirnya suatu hari saat tidak sengaja membaca tulisan siswaku. Bahwa selepas pulang sekolah, ia sering membantu ayahnya membuat batu bata. Maka ia tak suka jika gurunya memberikan PR, yang itu artinya ia harus meninggalkan bapaknya sendirian bekerja. Kejadian itu yang membuat aku merenung. “Apa benar, sekolah hanya mengejar nilai?” “Lalu mendapat ijazah” “Apa benar nilai-nilai di ijazah itu akan berguna bagi kehidupan mereka” Aku mulai merasa bahwa apa yang aku lakukan selama ini menjadi guru salah. Guru yang masih berorientasi nilai, guru yang tidak memperhatikan siswa yang diajarnya, guru yang tidak melibatkan siswa. “Bukan pengertian Karya Ilmiah yang siswa butuhkan” “Bukan mengetahui bagian-bagian Karya Ilmiah yang siswa butuhkan” “Lebih dari itu. Siswa Harus tahu bahwa ada sesuatu yang bisa dilakukan dari karya ilmiah bagi kehidupannya” Aku mencoba berefleksi dari kejadian di atas. Mencoba menjadi guru yang lebih baik. Karena aku sadar, bahwa menjadi guru adalah perjalanan, tidak ada garis finisnya. Perjalananya adalah proses belajarnya. – Di tahun berikutnya, aku mencoba mengubah konsep pembelajaran Karya Ilmiah. Kali ini mencoba melibatkan anak dalam prosesnya. “Di sekolah ada tempat-tempat apa aja sih?” tanyaku di depan kelas. “Toilet Pak” “Tempat Parkir Pak” “Ruang Guru” “Hutan sekolah” “Musala” “Kantin” Daftar tempat yang disebutkan siswa aku tulis di papan tulis, kemudian aku meminta siswa untuk mengurutkan tempat-tempat tersebut jika dilalui mulai dari ruang kelas dan kembali lagi ke ruang kelasnya. Akhirnya didapatkan rute untuk penjelajahan sekolah. “Jika kita seorang detektif yang mau meneliti tempat di sekolah, apa aja yang akan Kalian teliti?” “Kegunaanya Pak?” “Maksudnya Kegunaanya” tanyaku “Misalnya Perpustakaan Pak, perpustakaan pada dasarnya adalah tempat baca, jika digunakan untuk tempat mengobrol, tempat menonton televisi kan tidak digunakan semestinya” “Yang lain?” tanyaku lagi. “Kelengkapan Pak” “Apa lagi itu?” “Di tempat parkir misalnya Pak, sering terjadi pencurian helm. Itu karena CCTV yang belum ada Pak” Dari obrolan reflektif itu akhirnya kami mendapatkan rubrik-rubrik yang akan diteliti. Rubrik-rubrik tersebut yang akan digunakan siswa untuk melakukan penjelajahan sekolah secara berkelompok. Penjelajahan Sekolah pun berlangsung. Saat penjelajahan sekolah ada banyak diskusi di setiap kelompok. Misalnya saat di Perpustakaan, ada kelompok yang mendiskusikan penempatan kursi Perpustakaan yang masih kurang, hingga mendiskusikan peminjaman buku yang belum maksimal dilakukan, masih banyak siswa yang tidak mengembalikan buku. Kelompok lain saat melewati musala dan mengamati seorang guru yang berwudhu, mereka melihat banyak air wudhu yang terbuang sia-sia saat guru tersebut berwudhu. Lainnya melihat banyak tanaman yang mati di hutan sekolah dan tanaman yang berada di pot depan kelas. Dan masih banyak masalah yang mereka temui. (Padahal tiap hari mereka lewati, dan baru sadar setelah menjelajahi sekolah dengan rubrik). Sesampainya di kelas, akhirnya kami mendata bersama permasalahan yang ditemukan di sekolah. Dari permasalahan yang sudah didata, akhirnya kami sekelas mencoba mem-brainstroming ide-ide kami. “Saya yakin, Kalian adalah orang-orang keren di masa depan. Nah jika kalian mendapati masalah seperti ini (sambil menunjuk papan tulis) apa yang akan Kalian lakukan, ayo berikan kontribusi Kalian!” tantangku di depan kelas. “Saya akan mencoba membuat sistem barcode untuk perpustakaan Pak, agar peminjaman buku semakin mudah” “Aku akan mencoba meneliti, kenapa masih banyak anak pergi ke Kantin daripada ke Perpustakaan Pak saat jam kosong dan istirahat” “Aku akan mencoba membuat alat agar tumbuhan-tumbuhan di hutan sekolah atau depan kelas tidak layu Pak” Ide-ide yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. … Read more

Mengelola Keragaman Dalam Kelas Inklusi

Moderator: Guru Filla Nova Mariyana (Sekolah Islam Umar Harun, Rembang) Narasumber : Guru Yanuar Khaldun (Sekolah Cikal Surabaya) Profil Narasumber : Anggota KGB Surabaya, mengajar di Sekolah Cikal Surabaya sebagai guru SSC ( student support center),  memberikan pelayanan kepada anak anak yang membutuhkan layanan khusus. Kegiatan : Diskusi Online Hari / Tanggal : Minggu, 10 Februari 2019 Pukul : 15.30 – 17.30 WIB PEMBUKAAN Narasumber : Sebelumnya saya ke materi, gambaran  pendidikan inklusi menurut bapak dan ibu itu seperti apa sih? TANGGAPAN PESERTA Bu Lia : Pendidikan Inklusi adalah pendidikan untuk semuaBu Shaumi : Pendidikan yang bebas untuk siapa sajaPak Shoffa: Kalau saya, pendidikan inklusi itu yang semua model latar belakang anak bisa sekolah. Fisik, ekonomi, ras, suku, agamaPak Joko : Pendidikan Inklusi menurut hemat saya adalah pendidikan yang tidak memandang beda pada muridnya. Semuanya tetep mendapatkan jatah pendidikan yang sama, namun dengan cara yang beda-beda karena semua anak memiliki tahapan perkembangannya masing-masingBu Partilah : Pendidikan yang melayani anak berkebutuhan khususBu Shaha: Sekolah dengan anak yang memiliki kebutuhan berbeda dari biasa sampai luar biasa, dari khusus sampai sangat khususBu Ulya : Pendidikan yang menghargai keberagamanBu Nisa : Pendidikan yang menfasilitasi berbagai keragaman.Bu Fiqoh : Pendidikan inklusi adalah pendidikan untuk semua tanpa pilih kasihBu Muflihah : Pendidikan inklusi adalah  pendidikan yang tidak membeda-bedakan keadaan (kondisi) anak, baik ABK atau non ABK.Bu Riroh : pendidikan untuk siapa sajaBu Mufidah : Semua murid diperlakukan samaBu Zahro : Menurut saya pendidikan inklusi adalah pendidikan yang tidak membatasi keberagaman peserta didiknya.Bu Hani’ : Sebuah pendekatan untuk membangun dan mengembangkan sebuah lingkungan yg semakin terbuka, mengajak masuk dan mengikutsertakan semua orang dgn berbagai perbedaan latar belakang MATERINarasumber : Wah, keren keren jawabannya. Pendidikan inklusi menerapkan model diferensiasi  dalam pembelajaran. Jadi pendidikan inklusi juga menerima anak anak yang berkebutuhan khusus. Ketika sekolah menjadi sebuah sekolah inklusi, maka secara tidak langsung sekolah tersebut harus siap dengan kedatangan ABK di sekolah tersebut. Namun banyak kejadian di lapangan sekolah umum masih bingung dengan model pelayanan di sekolah inklusi seperti apa. Banyak guru juga masih  kesulitan bagaimana memodifikasi kurikulum, menentukan bagaimana model penilaian yang akan digunakan dan cara mengajar bagi anak berkebutuhan khusus yang bersekolah di sekolah inklusi. Di SKGB 18 saya menceritakan tentang bagaimana saya menghandle siswa ADHD di kelas inklusi. Dia berusia 3 tahun pada saat itu sangat aktif sekali. Setiap hari ada kejadian temannya yang tertarik, terdorong dan tertendang. Saya mempelajari pola siswa saya. Dengan mengidentifikasi permasalahan siswa saya terlebih dahulu, merancang program, melibatkan orang tua untuk program dirumah, dan monitoring di tiap tengah semester. Prosesnya cukup panjang. Hampir satu tahun, saya juga mencari taktik untuk meyakinkan orang tua. Dikarenakan siswa saya anak tunggal, jadi perilaku tersebut tidak muncul di rumah. Munculnya ketika di sekolah. Hasilnya memang tidak instant, perlu proses. Saya juga berusaha mengkondisikan teman-temannya agar selalu berfikiran positif pada siswa dampingan saya. Orang tua cukup kooperatif jadi dari rekomendasi yang saya berikan dillakukan. Nah ini tugas dasar dari seorang guru :1. Memperoleh kerja sama dengan siswa 2. Mencapai keteraturan dengan melakukan kerja sama dengan siswa dan memeliharanya dalam kegiatan pembelajaran 3. Tidak sekedar menangani “perilaku mengganggu” secara efektif, namun juga : – Membuat tuntutan perilaku dan akademis yang sesuai dengan siswa– Memberikan petunjuk yang jelas bagi siswa – Memperlancar peralihan pelajaran – Memprediksikan permasalahan dan mencegahnya – Memilihkan & mengurutkan kegiatan sehingga tercapai keteraturan & kelancaran belajar, dll  4. Kegiatan berbeda membutuhkan keterampilan pengelolaan kelas yang berbeda DISKUSIBu Rodliyah : Di kelas saya ( kelas 1 SD), ada 20 anak dengan 1 anak berkebutuhan khusus ( dulu diagnosanya autis). Saya ingin tanya bagaimana perencanaan kegiatan pada ABK, apakah ada rencana B dan C, mengingat apa yang kita rencanakan ternyata anak tersebut belum siap  mengikuti kegiatan? Mengingat juga kebutuhan yang berbeda, seringnya bentuk kegiatan juga berbeda dari mayoritas anak2 di kelas, meski beberapa kali juga terlihat bisa bergabung Narasumber : Dalam memberikan materi pembelajaran ke anak ABK kita perlu melihat usia mental anak. Jika anak kelas 1 dengan usia 7 tahun, tetapi kemampuannya seperti anak usia 5 tahun berarti kita menyiapkan materi sesuai dengan anak usia 5 tahun. Kita merencanakan program sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh anak. Misalnya anak sudah bagus di berbahasa tetapi kemandirian, berhitung dan sosial masih kurang baik. Maka kita harus buat program untuk berhitung, kemadirian dan sosial. Bu Rodliyah : Menurut bapak, apakah dalam kelas itu, memungkinkan kegiatan ABK butuh pendampingan khusus? Sebenarnya dari saya, perencanaan pembelajaran ABK belum begitu optimal, tapi kami juga mempertimbangkan usia tahap perkembangannya pak. Narasumber : Tidak semua ABK perlu didampingi. Kita melihat kondisi dan karakteristik siswa. Jika anak memiliki perilaku yang masih tiba-tiba marah dan bisa melukai teman-teman lainnya maka dia perlu didampingi. Tetapi jika siswa tersebut memiliki masalah akademik, kita lihat yang perlu pendampingan di mata pelajaran apa. Bu Rodliyah : Memang observasi anak itu penting untuk merencanakan programnya hingga tercapai tujuan dan tahapan perkembangan. Terima kasih banyak, pak Bu Khoridah : Di kelas kami ada ABK. Sudah ada program yg didiskusikan bersama orangtua, tapi kami merasa program tersebut sulit tercapai karena seakan-akan hampir tidak ada effort dari si anak. Dan pernah kami berkunjung ke rumahnya, ternyata program yang sudah disepakati bersama itu kurang diindahkan oleh pihak keluarga di rumah. Dari situ kami berpikir, mungkin karena program sekolah dan rumah ini tidak berjalan beriringan jadi sulit perkembangannya. Bagaimana kami sebagai guru menyikapi ini pak? 🙏🏼 Narasumber : Orang tua memang terkadang kurang kooperatif. Membebankan kepada guru pembelajaran anak-anaknya. Nah, untuk menyiasati seperti ini, saya biasanya membuat checklist tugas untuk di rumah dan mana yang di sekolah. Dari checklist tersebut kita dapat mengevaluasi kenapa perkembangan anak stagnan. Jika dari checklist ternyata pihak ortu yang tidak melakukan dengan baik, kita bisa merefleksikan. Mengundang orang tua  ke sekolah, apa kesulitan yang di hadapi di rumah. Bu Lia : Terimakasih atas kesempatan berharga sore ini. Menarik sekali materi sore ini tentang keragaman. Sungguh indah sekali apabila kita bisa memahami keragaman yang ada di kelas. Di kelas saya ada 2 anak ABK (sama-sama linguistiknya yang masih perlu ditingkatkan) apabila diajak berbicara keduanya sudah memahaminya. Dari keseharian bersama mereka saya … Read more

Literasi lewat Dongeng, Membangun Keterampilan Berpikir Kritis.

Siapa yang waktu kecil senang mendengarkan cerita? Faktanya, mau besar atau kecil, kita senang mendengar cerita. Cerita yang bermakna bisa membangun karakter-karakter positif dalam diri. Guru punya banyak kesempatan untuk menyentuh hati murid-muridnya melalui cerita yang disampaikan di ruang kelas. Cerita yang seperti apa yang bisa membuat murid berpikir kritis? Kita akan bahas lebih lanjut dalam TPD KGB Bandung dengan topik : “Literasi lewat Dongeng, Membangun Keterampilan Berpikir Kritis.” Begitulah sepenggal caption yang mengantarkanku untuk hadir menemui Guru Titin, di SMKN 5 Bandung pada tanggal 23 Februari 2019. Aku yang telah lama menanti diangkatnya tema ini, hadir dengan membawa pertanyaan yang senada dengan caption tersebut. Pertanyaanku adalah “bagaimana menumbukan keterampilan berpikir kritis secara menyenangkan?” Mendongeng adalah jawaban dari pertanyaanku tentang kegiatan yang menyenangkan. Mendongeng adalah kegiatan literasi yang menyenangkan dan sangat kaya makna. Bu Titin yang juga aktif menjadi narasumber parenting, membagi pengalamannya sebagai contoh. Bu Titin bercerita : Saat itu suami saya karena sebuah kondisi menyebabkannya tidak dapat bekerja. Hal tersebut berbeda dengan saya yang selain berperan sebagai ibu, istri, namun juga bekerja sebagai guru. Di satu hari, saya pulang mengajar dalam kondisi basah kuyup karena kehujanan. Namun, suami saya nampak tidak mempedulikan keadaan saya. Saya pun memanggilnya, “Yah, sini deh, ada cerita.” “Cerita apa?” sahutnya sambil menghampiri saya. “Itu Bu Cinta pulang kehujanan, suaminya langsung membawakan handuk dan teh hangat, padahal Bu Cinta baru pulang main, bukan pulang kerja” kata saya. Mendengar cerita tersebut, suami saya bergerak membawakan handuk dan teh hangat, dengan mengatakan, “nih handuknya, nih teh hangatnya”. Lalu ia pergi dan kembali tenggelam dalam aktivitasnya. Tawa pun menyeruak di ruang TPD. Tawa lahir karena suami Bu Titin termotivasi untuk berperilaku baik, namun terdengar tak ikhlas. Dibalik tawa tersebut, lahir kesadaran pada peserta TPD, bahwa mendongeng itu dapat memotivasi untuk berperilaku baik, dapat membangun karakter. Dimana hal tersebut dapat terbangun bukan hanya pada penikmat dongengnya, namun juga pada pendongengnya. Pada contoh diatas nampak bahwa Bu Titin sebagai pendongeng, memilih untuk mengelola emosinya, sehingga komunikasi dapat tetap efektif memotivasi orang lain berperilaku baik, sehingga pada akhirnya dapat membangun karakter positif. Kekayaan makna pada dongeng dapat diraih, apabila dongeng menjadi sangat berkesan bagi siswa, menjadi memorable bagi siswa. Salah satu cara untuk meninggalkan kesan tersebut adalah dengan mengkritisinya. Kebiasaan kritis inilah yang pada akhirnya dapat menumbuhkan keterampilan berpikir kritis pada siswa. Bu Titin pun membagikan praktik baik kepengajarannya tentang cara-cara melatih berpikir kritis terhadap dongeng. Bu Titin mengawalinya dengan mengajak kami memikirkan “Apa kata-kata yang tepat untuk menggambarkan ini?” Dan kami diajak menceritakannya pada selembar kertas. Berbagai cerita pun bermunculan. Salah satu ceritanya adalah cerita tentang suami-suami takut istri, seperti judul sinetron di layar televisi. Lalu, kami diajak menceritakan lagi, “Tokoh mana yang disukai, dan mengapa?” Selain Bu Titin mempraktikannya langsung pada kami, Bu Titin pun menegaskan cara-caranya, yang meliputi: 1. Di tengah cerita, guru mengajak siswa membayangkan kelanjutan ceritanya, sehingga memungkinkan lahirnya cerita yang sangat variatif dari siswa. 2. Di akhir cerita, guru mengajak siswa menentukan tokoh yang disukai dan alasannya. 3. Lalu mengajak siswa berandai-andai, bila siswa menjadi salah satu tokoh di cerita tersebut, apa yang akan dilakukan dan mengapa. Bu Titin memberi contoh untuk poin nomer 3,  Bu Titin berkata, “Pada cerita Malin Kundang, bila kamu menjadi istri Malin, apa yang akan kamu lakukan dan mengapa?” Mendengar pertanyaan tersebut, sontak peserta TPD terkejut karena merasa belum pernah mendengar pertanyaan seperti itu sebelumnya. Bu Titin menyimpulkan prinsip melatih berpikir kritis adalah bertanya dengan hal yang berbeda, bukan hanya menerjemahkan atau men-translate-nya. Bu Titin pun menceritakan cerita tentang siswanya, sebagai hasil dari kebiasaan praktik baik yang dilakukannya. Singkat cerita, lahirlah siswa yang percaya diri untuk bercerita, yang merasa aman bercerita, yang bercerita tanpa merasa tertekan atau terpaksa. Dan pada sesi inilah tiba-tiba ruangan menjadi sangat hening. Bu Titin bercerita dengan mata berkaca-kaca. Peserta TPD ada yang sempat membayangkan, andaikan dirinya dulu memiliki guru seperti Bu Titin, sebagai siswa tentu akan merasa sangat bahagia. Karena saat itu, terasa bahwa ia mengajar dari hati. Disini Bu Titin berhasil menunjukkan bahwa dongeng itu dapat menyentuh hati. Keheningan kami pun disadarkan dan dipecahkan oleh moderator yang akan membuka sesi tanya jawab. Dan alhasil gaya kepengajaran Bu Titin yang mengajak kami berpikir kritis, menstimulasi antusias para peserta bertanya. Dengan kompak kami mengacungkan tangan, kami bergiliran untuk bertanya, ada yang mengalah bertanya di akhir, ada yang bertanya lebih dari satu pertanyaan, dan bahkan ada yang bertanya melebar dari topik hingga perlu dibatasi. Sebagai penutup, Bu Titin membagikan quote dari Fisher (2008) : “Good Teacher makes you think even, when you don’t want to”. Dan catatan saya menulis, “Kita bukan penyampai materi, kita tidak akan kalah dengan google, sang mesin pencari informasi.”

Di Jalan Sepi, tapi Selalu Ada Teman

“Kulakukan itu dalam waktu berbulan-bulan, mondar-mandir kesana-kemari cari informasi dan partisipasi dari banyak orang yang kiranya memiliki kepedulian kepada kaum difabel. Saat itu, aku hampir saja putus asa. Karena kegiatan itu sedikit banyak memakan jadwal kuliahku. Ditambah lagi tidak banyak orang yang ternyata sulit untuk bekerjasama denganku. Bahkan sebagian memberi syarat yang bagiku berat agar aku bisa mendirikan organisasi difabel.” tulis Cindy Ayu Anggraini, mahasiswa tuna rungu di Universitas  Negeri Sebelas Maret Surakarta​ (UNS), Jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) dalam esai yang ia tulis. Tulisan Cindy mengenai perjuangannya mengaktifkan kembali Gerakan Peduli Indonesia Inklusi (GAPAI) di UNS berhasil menyentuh banyak orang. GAPAI yang ia aktifkan kembali adalah sebuah komunitas mahasiswa yang membantu, memantau, mengidentifikasi mahasiswa difabel di UNS. Misalnya ada mahasiswa difabel yang kesulitan dalam membaca, relawan GAPAI yang akan membantunya dalam membaca. Di jalan yang sepi, UNS terus berjalan untuk pendidikan untuk semua. Selain mendirikan  Pusat Layanan Difabel (PLD) yang kemudian mendirikan Gerakan Peduli Indonesia Inklusi (GAPAI), kiprah UNS dalam mewujudkan pendidikan inklusi tidak main-main. Setiap mahasiswa di  Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) mendapatkan 2 SKS mata kuliah pendidikan inklusi. Harapannya calon-calon guru dari UNS memiliki bekal pendidikan inklusi ketika menjadi guru nanti dan menerapkan inklusivitas yang didapatkan saat berkuliah. Keinklusivitasan UNS itulah menjadi salah satu alasan kami untuk menjajaki kerjasama program #PendidikanUntukSemua . Selasa pagi (5/3/2019), tim Kampus Guru Cikal yang diwakili Bukik Setiawan dan Rizqy Rahmat Hani bertandang ke UNS. Memasukki UNS kami disambut oleh pohon yang rindang dan tertata rapi. Melihat kepedulian UNS terhadap lingkungan dan fasilitas, membuat kami langsung jatuh hati. Kami pun memasukki gedung Rektorat lantai 2 untuk bertemu Rektor UNS, Prof Dr Ravik Karsidi MS. Selain bertemu rektor, dalam audiensi tersebut ada pula Dr. Munawir Yusuf, M.Psi. selaku Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Kependidikan dan Asri mewakili Drs. Subagya, MSi (Ketua Pusat Layanan Difabel) yang berhalangan hadir. Bukik Setiawan selaku Ketua Kampus Guru Cikal menyampaikan tujuan kedatanganya ke UNS, bahwa ingin mengajak UNS berkolaborasi. Harapannya dengan kiprah UNS di pendidikan inklusi selama ini bisa memfasilitasi murid-murid disabilitas yang kami seleksi dalam Program Pengembangan Murid Disabilitas. Program Pengembangan Murid Disabilitas disambut baik, Dr. Munawir Yusuf, M.Psi. menceritakan tantangan yang UNS hadapi selama ini dalam menjalankan pendidikan inklusi salah satunya adalah seleksi calon mahasiswa. Selama ini ujian masuk mahasiswa difabel ke UNS bersamaan dengan jalur umum, baik melalui SMPTN, SBMPTN dan UM, tidak ada jalur khusus. Setelah melewati ujian tersebut, kemudian calon mahasiswa difabel diwawancara untuk bisa lolos menjadi mahasiswa UNS. Namun menurut Munawir hal tersebut kurang efektif, karena ada beberapa kasus mahasiswa difabel di tahun ketiganya tidak mau kuliah. Program yang ditawarkan Kampus Guru Cikal disambut baik, seperti jembatan murid difabel dan kampus. “Saya mengapresiasi program ini, program ini seperti jembatan murid difabel dan kampus yang menyediakan layanan pendidikan tinggi. Calon mahasiswa sudah dilatih, lalu diseleksi oleh Kampus Guru Cikal dan  siap belajar di perguruan tinggi” tutur Munawir Di jalan yang sepi, tapi selalu ada teman …

Menemukan Teman Seperjalanan di Jalan Sepi #PendidikanUntukSemua

Hamzah (32 tahun) seorang tuna netra dari Makassar, mengatakan ia sering menerima komentar negatif dari para guru yang mengeluhkan kinerjanya di kelas tetapi ia tidak pernah mendapatkan dukungan atau materi yang disesuaikan untuk membantu dirinya untuk terlibat. Meskipun kurangnya dorongan dari gurunya, Hamzah bersikeras untuk mengejar pendidikan tinggi seperti teman-temannya yang tidak cacat, dan bermimpi menjadi guru di sebuah sekolah Islam. Tetapi Hamzah ditolak pada tahun 2003 oleh fakultas pendidikan (tarbiyah) di Alauddin UIN. Dia diberi tahu bahwa orang buta tidak bisa menjadi guru dan institut itu tidak bisa menampungnya. Dia akhirnya diterima ke departemen sastra Inggris di UNM. Sosok Hamzah yang dituliskan oleh Dina Afrianty, peneliti La Trobe University, Australia dalam artikel berjudul “People with Disability: Locked out of Learning?” adalah salah satu contoh berhasil seorang disabilitas bisa mengenyam pendidikan tinggi. Namun masih banyak pekerjaan rumah berkait dengan akses masuk perguruan tinggi bagi murid disabilitas. “Usaha-usaha memang sudah dimulai, tapi di seluruh Indonesia belum banyak. Hanya beberapa perguruan tinggi yang mampu menyediakan fasilitas yang memudahkan civitas academica dalam belajar dan mencapai semua tempat dengan menjaga keselamatannya,” kata Staf Ahli Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) bidang Akademik, Paulina Pannen. Itulah salah satu alasan program #PendidikanUntukSemua dijalankan, memberikan akses perguruan tinggi kepada murid-murid penyandang disabilitas. Tantanganya adalah mencari perguruan tinggi yang sudah menjalankan pendidikan inklusi. Selasa (19/2/2019) Kampus Guru Cikal mulai melakukan audiensi dengan berbagai perguruan tinggi di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Audiensi ini bertujuan untuk mempelajari, sejauh mana perguruan tinggi tersebut peduli dengan mahasiswa penyandang disabilitas. Perguruan tinggi yang menjadi kunjungan awal oleh tim Kampus Guru Cikal adalah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pemilihan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta karena perguruan tinggi tersebut yang menjadi pelopor perguruan tinggi yang memfasilitasi penyandang disabilitas sejak tahun 2007. Dalam audiensi tersebut tim Kampus Guru Cikal diwakili oleh Bukik Setiawan selaku ketua Kampus Guru Cikal dan Rizqy Rahmat Hani selaku ketua program #PendidikanUntukSemua . Audiensi dilakukan di gedung PAU lantai 2 UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Kami disambut dengan hangat oleh bapak Waryono, selaku wakil rektor bidang kerjasama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Arif Maftuhin selaku ketua Pusat Layanan Difabel (PLD) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Keseriusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam menjalankan pendidikan inklusi di perguruan tinggi tidak main-main. Pusat Layanan Difabel menjadi tonggak dalam memperjuangkan pendidikan inklusi. “Mahasiswa difabel belajar bersama mahasiswa lainnya, tidak ada kelas khusus, tidak ada program khusus bagi mereka. Tugas Pusat Layanan Difabel adalah memastikan bahwa proses mereka dalam kegiatan belajar mengajar dan kegiatan akademik yang lain itu dapat terlibat secara penuh.  Misalnya kalau ada mahasiswa tuli, kita mengirimkan pendamping, baik berupa no taker maupun juru bahasa isyarat. Misalnya ada mahasiswa tuna netra, kita memfasilitasi mereka untuk mengakses materi-materi kuliah dengan proses digitalisasi. Kita mencoba agar proses menjadi inklusif itu bisa benar-benar dirasakan oleh mahasiswa yang belajar di UIN SUKA.” kata Arif Maftuhin. Dalam audiensi tersebut Kampus Guru Cikal juga menjajaki kemungkinan kerjasama untuk program #PendidikanUntukSemua dengan memberikan beasiswa NusantaRun Enam kepada murid penyandang disabilitas potensional. Gayung bersambut, PLD juga mengakomodir beasiswa untuk mahasiswa penyandang disabilitas. Namun selama ini mengalami kendala, sedikit yang mengikuti seleksi tersebut. “Kami sudah lama membuka pendaftaran mahasiswa difabel, bahkan sudah ada jalur khusus dan berbeasiswa, tapi justru yang daftar tidak banyak. Ada kuota 15, pendaftar maksimal 20” ujar Waryono. Hal tersebut dikarenakan orangtua yang masih merasa takut dan tidak percaya bahwa anaknya mampu melanjutkan ke perguruan tinggi. Tantangan ini terjawab oleh program #PendidikanUntukSemua yang menyiapkan guru, orangtua dan murid penyandang disabilitas untuk siap melanjutkan ke perguruan tinggi. “Jadi yang lebih penting sebenarnya adalah adaptasi kelas itu terhadap difabel, bukan pada prasarana fisik atau apa yang mungkin jika disiapkan belum tentu digunakan.” ujar Arif mengakhiri sesi audiensi siang itu. Apa yang UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta perjuangkan selama ini sesuai dengan program #PendidikanUntukSemua Kampus Guru Cikal, pertemuan ini seperti menemukan teman seperjalanan di jalan sepi #PendidikanUntukSemua.

Cikal PYP Exhibition : Proyek Murid yang Bermakna

“Melihat proses belajar di Cikal PYP Exhibition ini dekat sekali dengan kehidupan. Latar belakang murid membuat sebuah proyek tidak jauh dengan kehidupan mereka” ujar Ahdiyat seorang guru dari SMP Fitrah Insani yang datang bersama murid-muridnya. PYP (Primary Years Program) Exhibition adalah kegiatan tahunan bagi kelas 5 Sekolah Cikal dalam bentuk pameran. Sebelum pameran ada tahap penelitian yang dilakukan murid kelas 5. Dimulai dari menemukan isu dan masalah dalam kehidupan sehari-hari dan memikirkan solusi untuk kontribusi kepada masyarakat. Bagaimana agar murid kelas 5 SD bisa menemukan isu yang ada dalam kehidupan sehari-hari? Serunya di sini, isu yang diangkat murid tidak tiba-tiba muncul, ada tahapan bernama Tuning In. Dalam #CikalPYPX tahun ini yang bertema sains, guru-guru mengajak murid untuk berkunjung ke museum IPTEK. Dengan pertanyaan-pertanyaan esensial, guru mencoba menggali inkuiri murid. Setelah Tuning In, ada tahapan Finding Out, murid mencari informasi awal berdasar pertanyaan esensial. Sorting Out, memikirkan, menganalisis, dan memvisualkan hasil observasi. Dan terakhir adalah Going Futher, tahapan di mana murid memikirkan dan merencanakan tindakan dari hasil olahan informasi. Sampai akhirnya karya bisa dilihat dalam pameran. Karena bertema sains, maka karya-karya yang ditampilkan pada Rabu dan Kamis (13 dan 14 Februari 2019) ini memiliki konsep sains. Dari proyek membuat alat untuk menurunkan kecemasan murid, kertas yang terbuat dari ubi kuning, robot yang bisa diajak latihan anggar, tangan elektronik yang dibuat karena terinspirasi atlet disabilitas, sarung tangan yang berfungsi sebagai remote control mobil, es krim yang terbuat dari sayuran dan masih banyak yang lainnya. Murid yang mengerjakan proyek ini dengan antusias menjelaskan bagaimana karya ini bisa jadi kepada pengunjung yang notabennya dari berbagai kalangan. Di sini terlihat murid memang menguasai apa yang ia lakukan. Selain itu murid tak canggung menyampaikan kegagalan yang ia lakukan selama mengerjakan proyek. Dan menuliskannya dalam kolom refleksi. Dan juga meminta umpan balik kepada para pengunjung. “Saya berharap kalau hari ini sekedar prototipe, maka suatu hari nanti apa yang dibuat anak-anak ini bisa diteruskan menjadi karya yang berdampak” ujar Emil, salah satu orangtua murid Sekolah Cikal. Apa yang saya lihat hari ini mengingatkanku kepada dua hal. Satu, teringat adegan terakhir film 3 Idiots, di mana murid-murid di sekolah yang Rancho buat, berkarya membuat alat-alat yang berguna bagi kehidupan. Kedua, teringat akan puisi karangan WS Rendra berjudul “Seonggok Jagung”. Seonggok JagungWS Rendra Seonggok jagung di kamar Dan seorang pemuda Yang kurang sekolahan Memandang jagung itu Sang pemuda melihat ladang Ia melihat petani Ia melihat panen Dan suatu hari subuh Para wanita dengan gendongan Pergi ke pasar Dan ia juga melihat Suatu pagi hari Di dekat sumur Gadis-gadis bercanda Sambil menumbuk jagung Menjadi maisena Sedang di dalam dapur Tungku-tungku menyala Di dalam udara murni Tercium bau kue jagung Seonggok jagung di kamar Dan seorang pemuda Ia siap menggarap jagung Ia melihat menggarap jagung Ia melihat kemungkinan Otak dan tangan Siap bekerja Tetapi ini Seonggok jagung di kamar Dan seorang pemuda tamat S.L.A Tak ada uang, tak bisa jadi mahasiswa Hanya ada seonggok jagung di kamarnya Ia memandang jagung itu Dan ia melihat dirinya terlunta-lunta Ia melihat dirinya ditendang dari discotheque Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase Ia melihat sainganya naik sepeda motor Ia melihat nomer-nomer lotere Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal Seonggok jagung ia di kamar Tidak menyangkut pada akal Tidak akan menolongnya Seonggok jagung di kamar Tak akan menolong seorang pemuda Yang pandangan hidupnya berasal dari buku Dan tidak dari kehidupan Yang tidak terlatih dalam metode Dan hanya penuh hafalan kesimpulan Yang hanya terlatih sebagai pemakai Tetapi kurang latihan bebas berkarya Pendidikan telah memisahkanya dari kehidupanya Aku bertanya : Apakah gunanya pendidikan Bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing Di tengah kenyataan persoalanya?? Apakah gunanya pendidikan Bila hanya mendorong seseorang Menjadi layang-layang di ibukota Kikuk pulang ke daerahnya?? Apakah gunanya seseorang Belajar filsafat,teknologi,ilmu kedokteran,atau apa saja. Ketika ia pulang ke daerahnya,lalu berkata : “disini aku merasa asing dan sepi”

Kalau Guru Senang Main Game, Bagaimana Perasaan Muridnya?

Seruuu!!! Itu komentar yang tercetus dari para peserta Mudik KGB Surabaya edisi 11 kali ini. Temu Pendidik yang dilaksanakan pada 2 Desember 2018 di Loop Station ini diikuti oleh sekitar 26 guru yang tergabung dalam Komunitas Guru Belajar Surabaya maupun dari luar KGB. Ketika para anggota KGB tahu bahwa tema mudik kali ini adalah Board game, banyak guru yang bersemangat untuk mendaftar. Banyak peserta yang ingin tahu, seperti apa sih board game itu? Bagaimana board game itu bisa diaplikasikan pada pembelajaran di kelas? Atau bahkan pertanyaan yang inspiratif seperti bagaimana / games apa yang bisa menarik perhatian anak-anak ketika lab komputer atau jam pelajaran Komputer tidak ada? Karena temanya adalah boardgame, maka narasumber mudik kali ini sangat istimewa yaitu Guru Adhi Wiryawan. Beliau adalah pencipta games LINIMASA, sebuah board game yang digunakan untuk belajar sejarah. Game LINIMASA ini telah dicobakan pada siswa kelas 5 SD dan hasil penelitian menunjukkan bahwa game ini mampu meningkatkan minat membaca siswa pada sejarah Indonesia. Kegiatan diawali dengan pertanyaan pemantik yaitu kenapa sih harus bermain? Guru Adhi menjelaskan bahwa dengan bermain kita bisa belajar banyak hal. Contoh sederhana adalah ketika kita bermain sembunyi-sembunyian. Dalam permainan itu kita bisa merangsang indera kita, mengatur taktik atau strategi, melatih visual kita, belajar untuk memahami aturan permainan, dan disiplin diri. Ketika kita bermain, hormon kitapun terlibat yaitu hormon dopamine atau hormon yang berhubungan dengan kesenangan sehingga dapat merangsang kita untuk eksplorasi terhadap permainan. Bermain juga dapat menjadi jembatan untuk memfasilitasi berbagai gaya belajar di kelas. Guru yang kadang cenderung visual harus berhadapan dengan gaya belajar siswa yang auditory atau malah kinestetik. Dalam 21st century learning outcome, anak diharapkan punya pemikiran kritis, mampu berkolaborasi, mampu beradaptasi, memiliki kelincahan (agility), punya inisiatif dan efektif dalam berkomunikasi secara lisan ataupun tertulis. Kemampuan ini dapat dipelajari melalui bermain.   Game LINIMASA adalah game yang baru dikembangkan ini berisi berbagai tokoh dan peristiwa sejarah. Salah satu cara dalam bermain adalah dengan mengurutkan peristiwa sejarah dari gambar yang ada.   Pemaparan dari Guru Adhi memantik diskusi yang seru. Guru Hariadi sebagai salah satu peserta mudik bertanya bagaimana caranya memadukan boardgame dengan mata pelajaran di level SMP? Guru Adhi kemudian menjelaskan bahwa sebelum menemukan game yang akan dipakai, maka guru harus melihat tujuan pencapaian pembelajarannya dulu. Setelah tahu tujuan pembelajarannya, maka game bisa dicari, baik dengan cara membuat sendiri dari sesuatu yang baru ataupun modifikasi dari permainan yang sudah ada. Melihat banyak peserta yang tampak antusias untuk menggunakan game sebagai salah satu model belajar, Guru Adhi menyarankan guru untuk bekerja sama dengan game designer sehingga bisa menciptakan game yang dapat dimainkan di kelas . Guru Adhi juga memberikan tips membuat game dengan sederhana yaitu belajar secara otodidak (belajar tentang games design) dan guru harus banyak bermain juga supaya punya referensi permainan yang mungkin bisa digunakan di kelas. Dari kegiatan yang seru ini, ternyata ada juga guru seru yang sudah mengaplikasikan boardgame sebagai project siswa. Guru Ratih dari level SMU mengajak para muridnya yang berada di kelas 12 untuk menciptakan boardgame sebagai tugas belajar mereka. Mereka harus melalui proses yang tidak mudah karena harus direvisi berkali-kali. Namun walau prosesnya tidak mudah, tetapi mereka tidak menyerah. Kini boardgame hasil dari anak-anak telah dapat dimainkan di kelas mereka. Puncak dari kegiatan ini adalah saat guru mencoba ikut bermain game LINIMASA. Para peserta yang mayoritas adalah guru, harus mampu menebak urutan peristiwa sejarah kemerdekaan Indonesia. Suasana sangat riuh dan seru saat permainan mulai dijalankan. Guru Herlina berkata “Gamenya seru dan bikin gak takut salah, karena ini kan permainan”. Guru Fifi ikut menimpali “Gamenya jadi bikin pengen baca lagi buku sejarah”. Kalau guru saja senang main game maka bisa dibayangkan bagaimana perasaan muridnya. Salah satu refleksi dari kegiatan ini adalah bahwa bermain tidak hanya untuk senang-senang tapi dapat juga diaplikasikan dalam kegiatan pembelajaran. Dari aktivitas ini peserta juga makin tertantang untuk lebih berani berkreasi dalam pendidikan dan mampu menyimpulkan bahwa guru bukan menjadi pekerjaan yang monoton jika kita mampu lebih kreatif dalam mengajar. Jadi, apa game kita di kelas hari ini?

Merayakan Kebaikan

“Menyenangkan hatiMenempati lazuardi, melintasiAnganku cemerlangBerhiasakan warna-warna..” Lirik lagu berjudul Warna-Warna yang dinyanyikan Andien menjadi pamungkas yang tepat untuk acara Rayakan Kebaikan. Dengan berbagai warna-warna kostum bertema pantai, para pelari, media, pihak yang terlibat dalam penggalangan dan penyaluran dana berkumpul di ONBC NISP Tower, Kuningan Jakarta Selatan pada Sabtu, 9 Februari 2019 untuk merayakan kebaikkan. Acara ini diadakan dalam rangka penyerahan donasi kepada Kampus Guru Cikal yang dipercaya untuk merancang dan melaksanakan program Pengembangan Murid Disabilitas di Jawa Tengah dan DIY. Seperti nama acaranya Rayakan Kebaikkan, runtutan acara pun memperlihatkan kebaikan-kebaikkan yang ada dalam proses penggalangan dana oleh para pelari. Cerita pak Rahmat salah satu pelari tertua yang berhasil menyelesaikan 169 Km, cerita para relawan yang dengan sigap membantu para pelari, cerita media tentang event ini, cerita Jurian Andika dan Cristopher Tobing sebagai founder NusantaRun tentang awal mula mereka melakukan ini, cerita Syn film mengapa mereka mau berkontribusi dalam event ini, cerita yayasan IOA tentang apa yang mereka lakukan dalam program sebelumnya, cerita Kampus Guru Cikal tentang program yang akan dilakukan dan cerita Andien melalui lagu Warna-Warna yang menyiratkan bahwa kontribusi dari berbagai warna akan disalurkan kepada murid-murid disabilitas dengan berbagai warna. Dana yang terkumpul dari penggalangan dana pelari sebesar Rp 2.650.073.357. Dana tersebut akan digunakan oleh Kampus Guru Cikal untuk program Pengembangan Murid Disabilitas di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Program ini dilakukan karena hanya 54,26% penyandang disabilitas yang berpendidikan SD ke atas, bandingkan dengan non disabilitas yang mencapai angka 87,31%.  Selain itu penyandang disabilitas yang berpartisipasi dalam pasar kerja hanya 51,2 %, bandingkan dengan non disabilitas yang mencapai 70,40%. Beberapa penyebab mengapa ada angka-angka tersebut salah satunya karena faktor persepsi keluarga, guru dan masyarakat yang menjadi hambatan utama bagi penyandang disabilitas untuk mendapatkan akses pendidikan dan pekerjaan. Faktor lain: perlakuan diskriminatif, sarana dan prasarana yang tidak menunjang. Oleh karena itu dalam program ini, Kampus Guru Cikal tidak sekadar fokus kepada murid penyandang disabilitasnya, namun sistem pendukungnya juga akan menjadi fokus program ini. Guru, orangtua, lingkungan sekolah, perguruan tinggi akan menjadi fokus program Pengembangan Murid Disabilitas Jawa Tengah dan Yogyakarta. Harapan dari program ini antara lain : Adanya kesadaran sekolah, guru dan orangtua untuk memberikan dukungan bagi anak penyandang disabilitas Adanya guru bimbingan karier yang bisa mengarahkan dan memberi dukungan bagi anak penyandang disabilitas Adanya komunitas guru belajar bimbingan karier sebagai sistem dukungan bagi anak penyandang disabilitas Pengembangan diri dan penyediaan beasiswa pendidikan tinggi bagi murid penyandang disabilitas. Adanya kerjasama dengan perguruan tinggi yang bersedia menerima dan mendukung murid penyandang disabilitas Tongkat estafet yang diberikan oleh para pelari ini masih panjang perjalanannya, ada banyak tantangan di depan dalam menjalankan program ini. Namun kebaikan teman-teman akan menjadi semangat bagi Kampus Guru Cikal.

Kecerdasan Potensial Anak?

Komunitas Guru Belajar Binjai mengadakan Temu Pendidik (Mudik) Daring di tengah masa liburan. Tidak disangka, banyak yang tertarik untuk berpartisipasi pada mudik 27 Desember 2018 lalu. Diskusi bahkan masih berlangsung setelah waktunya selesai. Ada yang kesulitan sinyal karena sedang hujan deras. Namun syukurlah mudik berjalan dengan baik. Narasumber kita kali ini adalah Guru Ayu. Guru Ayu adalah lulusan UIN Jakarta. Saat ini mengajar di SMP PABA Binjai, Pelajaran Prakarya dan Pendidikan Kewarganegaraan, juga bertanggung jawab di bidang kesiswaan. Guru Ayu memulai materi dengan memberikan sebuah pertanyaan menarik. Apa itu kecerdasan? Beberapa peserta mencoba memberikan jawaban. Selanjutnya Guru Ayu menjelaskan, menurut seorang psikolog, yaitu Dr. Howard Gardner, manusia itu bisa memiliki lebih dari satu kecerdasan atau yang sekarang kita kenal dengan teori multiple intelligence/kecerdasan majemuk. Dengan mengetahui potensi kecerdasan yang dimiliki oleh anak, akan membantu pendidik dalam mendukung perkembangan kecerdasan anak dengan lebih baik lagi. Ada 9 kecerdasan yang berpotensi dimiliki oleh seseorang: Kecerdasan Linguistic  Kecerdasan ini menjelaskan tentang kemampuan anak dalam memahami, mengolah dan mengutarakan kata. Anak mampu memahami bahasa dengan mudah, daya ingat terhadap kosa kata banyak, suka membaca , dan lainnya. Kecerdasan Logic-Math Dikenal juga sebagai kecerdasan logis matematik. Kecerdasan ini menerangkan kemampuan anak dalam berfikir logis, mampu berfikir secara matematis, cepat dalam hitung menghitung, mampu memahami data yang berkaitan dengan angka, mampu merespon dan memproses data secara spontan dan cepat. Kecerdasan Visual Spatial Kecerdasan ini menjelaskan kemampuan anak dalam mengingat letak, bentuk, warna suatu objek. Anak mampu memvisualisasikan hal-hal yang pernah dilihat ataupun dialami dan punya kemampuan navigasi yang baik. Kecerdasan Musical Kecerdasan ini berkaitan dengan kemampuan anak mengenali nada, suara, ritme, dsb. biasanya apapun yang dilakukan anak, akan terasa lebih baik jika dibarengi dengan musik. Kecerdasan Kinesthetic Kecerdasan ini menjelaskan tentang kemampuan anak dalam menggunakan anggota tubuhnya sesuai fungsi. Kemampuannya mengontrol gerak tubuhnya, mengkoordinasikan segala gerak tubuh sesuai dengan kebutuhannya. Kecerdasan Interpersonal Kecerdasan ini menjelaskan tentang kemampuan anak dalam memahami orang-orang di sekitarnya. Kemampuan anak dalam memilah sikap dan tindakan dalam bersosialisasi maupun dalam menanggapi orang-orang di sekelilingnya. Melalui kecerdasan ini, sikap empati anak timbul. Kecerdasan Intrapersonal Kecerdasan ini menjelaskan tentang kemampuan anak dalam memahami kebutuhan diri, mengontrol dirinya dan mengetahui apa yang harus dia lakukan untuk membuat perubahan. Kecerdasan Naturalis Kecerdasan ini berkaitan dengan kemampuan anak dalam memahami bahwa kehidupan di alam ini merupakan elemen yang saling terhubung dimana makhluk hidup lain juga memiliki perasaan yang sama, yaitu rasa ingin disayang, dilindungi, merasa aman dan damai. Dengan kesadaran itu membuat anak faham bahwa apa yang dia lakukan terhadap alam akan berdampak pula pada kehidupannya. Kecerdasan Spiritual atau Eksistensi Kecerdasan ini menjelaskan tentang kemampuan anak dalam memahami tujuan hidupnya berdasarkan kaidah spiritualnya. Anak memahami apa yang harus dan yang tidak harus dia lakukan sesuai dengan tingkat spiritualnya (hubungannya dengan tuhannya). Kecerdasan ini sebenarnya melingkupi kedelapan kecerdasan sebelumnya karena setiap kecerdasan sebelumnya pada akhirnya akan mengembalikan pola pikir anak tentang spiritualitasnya (keimanannya). Nah, termasuk kecerdasan manakah anak didik kita? Dengan mengetahuinya, akan lebih mudah bagi kita untuk mengarahkan anak didik untuk belajar dengan menggunakan kecerdasan yang dimilikinya. Untuk mengetahui kecerdasan potensial anak, ada yang menganalisa melalui sidik jari dan ada juga tes lainnya. Namun penting untuk diperhatikan, walaupun kita mengetahui kecerdasan potensial anak melalui berbagai tes, kecerdasan itu tidak akan berkembang jika lingkungan tidak mendukung. Jadi Bapak Ibu pendidik, mari kita mengamati dengan lebih baik lagi anak-anak didik kita. Apa potensi yang mereka miliki? Bagaimana kita membantu mereka mengembangkan potensi tersebut? Temu Pendidik dilanjutkan melalui sesi tanya jawab Guru Gusik : Dalam diri seorang anak terdapat berapa kecerdasan ya Bu Widayu?Apakah semuanya ada ataukah beberapa saja? Guru Ayu : Dalam satu individu bisa saja memiliki kesembilannya. Tapi jikapun memiliki kesembilannya, pasti ada yg lebih dominan diantara semuanya. Namun pada umumnya, setiap orang pasti memiliki kecerdasan lebih dari 1 kecerdasan. Guru Gusik : Untuk mengetahui dominan yang mana apakah ada test ataukah hanya dengan pengamatan saja bu? Guru Ayu : Sejauh ini saya melakukannya melalui analisa. Kalaupun tes, biasanya saya tesnya non formal. Guru Rianty : Apakah faktor gen dari orang tua dominan mempengaruhi kecerdasan potensial anak? Guru Afrida : Apakah kecerdasan seorang anak bisa terbentuk dari lingkungan nya ataupun berdasarkan pengalaman ? Guru Ayu : Kalau menurut saya,, gen bisa mempengaruhi,, tapi lingkungan dan pengalaman lapangan lebih banyak mempengaruhi,, buu.. Guru Rianty : Oke Bu terima kasih, jadi lingkungan dan pengalaman yg seperti apa yg sangat mendukung dalam terbentuk nya kecerdasan seseorang anak ? Guru Ayu : Standar atau patokan bakunya tidak ada buu.. Krna ada orang yg bisa memiliki kecerdasan majemuk dg baik di lingkungan yg krg baik dg pengalaman yg berat (menurut kita).. Ada juga yg memiliki kecerdasan majemuk di lingkungan yang serba nyaman dan pengalaman lapangan yg tidak lbh berat. Guru Afrida : Berarti belum bisa jadi penentu ya Bu ? Cerdas atau tidaknya mereka ? Guru Ayu : Tidak ada patokan yang baku, semuanya masih relatif. Bergantung kita (sebagai pengarah) mengarahkan anak pada kecerdasan potensial yang mana yang dimiliki anak. Guru Afrida : Berapa besar persentase pengaruh gen dan lingkungan?  Karena saya pernah mendapatkan murid yang secara kemampuan menceritakan tentang game yang disukainya sangat berbeda dengan kecerdasan emosionalnya. Guru Ayu : Kalau persentase, saya belum pernah mengambil data, jadi saya belum bisa menjawab Guru Rinesha : Ada anak remaja suka sekali dengan olah raga (kecerdasan kinestetik), namun tidak tertarik atau  merasa stress dengan pelajaran matematika. Apakah kita harus memfokuskan pada kinestetik saja untuk mengoptimalkan kemampuannya dan tidak terlalu menekannya dalam matematika? Mengingat di Indonesia, kurikulumnya begitu berat, banyak sekali mata pelajarannya dan ada KKM pula. Guru Ayu : Kita harus pahami dulu, apa yang membuatnya merasa stress ketika menghadapi Matematika? Setelah tahu, kita baru bisa menentukan pendekatan yang membantu dia untuk memahami materi Matematikanya. Meski tidak sepenuhnya memenuhi yang sesuai kurikulum, setidaknya kita buat dulu dia nyaman dan enjoy, baru kita bisa menemukan lagi cara untuk meningkatkan kemampuan Matematikanya. Sedangkan untuk kinestetiknya tetep difokuskan, tapi dengan kontrol juga, tidak dilepas begitu saja.. Guru Ayu memberikan satu quote sebagai penutup Dalam diri setiap anak, pasti ada minimal satu kecerdasan, jangan biarkan satu anak pun terabaikan. Mari terus semangat … Read more

Budaya Literasi Pendidik

Semua proses pembelajaran itu pahit. Mengapa pahit? Karena ada proses panjang dan tidak enak harus dilalui untuk meraih sebuah tujuan. Mereka yang ingin bergabung di dunia pendidikan adalah mereka yang rindu dengan masa lalu. Masa lalu saat awal belum mengenal baca dan tulis sampai akhirnya meraih impian yang sejak dulu di impikan baik sesuai cita-citanya maupun berbeda dengan cita-citanya. Ketika melihat gurunya, ia akan ingat masa lalu saat masih sekolah. Ketika melihat anak bersekolah, ia akan ingat kenangan masa lalu. Kenangan mengingat siapa itu guru, mengingatkan saya waktu masih duduk di kelas 3 SD, ada sebuah kegiatan yang dilakukan yaitu “Setor Moco” apa itu? Ya. Karena di kelas 3 nantinya ada tes kemampuan dasar, setiap 5 hari sekali kami harus menyetorkan buku fiksi yang harus selesai kami baca dan dibuat resume, awalnya memang terasa sangat malas, membosankan, menghabiskan waktu bahkan mengurangi jam bermain. Ternyata, setelah dilaksanakan asyik juga, maklum saja buku fiksi merupakan salah satu buku yang menjadi favorit anak karena terdapat gambar dan alur cerita yang seru. Semenjak itu saya juga suka bercerita dan mengekspresikan apa yang saya alami ke dalam sebuah cerita yang sering kita sebut dengan buku diari. Ternyata melalui sebuah pembudayaan dapat memberikan dampak positif bagi kita. Pengalaman waktu masih SD dulu tentang membaca, coba saya terapkan saat menjadi guru, bagaimana cara mengajak anak untuk menyukai bacaaan, menyukai judul buku, menyukai isi buku, bahkan beberapa yang awalnya sama sekali tidak tertarik untuk melihat buku, sekarang menjadi terbiasa untuk membaca. Bukan hanya sekedar membaca tetapi memahami isi bacaan buku, menjadi aktif membaca. Pernah suatu ketika saya sangat malas mengajak anak untuk membuka buku cerita yang tersedia di lemari, biasanya sebelum istirahat ada waktu “Semaan Baca” seperti kegiatan membaca anak satu persatu, lalu ada anak yang mendekat dan bilang “Bu, kenapa saya tidak disuruh untuk membaca? Saya tidak mau istirahat sebelum diminta untuk membaca”. Semenjak saat itu membaca bukan lagi sebuah keharusan tetapi menjadi sebuah kebudayaan yang melekat bagi anak. Kebudayaan yang sering kita sebut dengan budaya literasi. Melalui Temu Pendidik Daerah Komunitas Guru Belajar Kudus yang dilaksanakan pada 13 Januari 2019 yang lalu, Guru Galih Adhyatomo sebagai narasumber mengajak membahas topik budaya literasi ini. Literasi, Sebagian besar orang  hanya menganggap bahwa literasi identik dengan membaca, sebenarnya lebih dari itu literasi bukan hanya tentang membaca. Dengan literasi seorang mampu membaca sekitar. Setelah melihat,  membaca dan memahami ia mampu memprediksi isi bacaan, latar belakang penulis bahkan dapat diaplikasikan dalam tulisan maupun kehidupan sehari-hari. Dengan mengembangkan literasi maka akan berkembang pula skill seseorang dalam membaca aktif. Bagaimana ia mampu  mengaplikasikan hasil bacaan baik dengan buku maupun tidak. Semakin banyak sumber yang dibaca seseorang, maka semakin banyak pula kosakata yang di miliki. Sebagian besar orang mengukur kecakapan atau kemampuan seseorang dari bahasanya. Sebenarnya semua orang sama, tidak ada yang cerdas dan tidak. Hanya saja orang yang cerdas sering mendengar, melihat, dan memahami bahasa orang lain serta mampu menyinkronkan keduanya menjadi tulisan dan rangkaian kata. Salah satu cara pengaplikasikan budaya literasi memang sedikit sulit untuk diterapkan. Dibutuhkan keseriusan serta kesabaran untuk mengajak membudayakan literasi. Murid merupakan gambaran dari gurunya. Guru perlu mampu untuk menjalin hubungan dengan murid secara memanusiakan. Memanusiakan hubungan itu perlu. Apalagi hubungan berdasarkan emosi, sosial, hubungan guru, anak, orang tua dan steakholder. Belajar membaca Membaca dimulai dari mengenal huruf, mengenal kosa kata, mengenal kata, dan mengenal kalimat. Baru mengenal membaca secara aktif. Berdasarkan data tentang literasi yang dikumpulkan oleh beberapa lembaga survey menunjukkan bahwa warga Indonesia lebih mempercayai media sosial dan langsung menjadikannya sebagai sumber tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu. Dan yang lebih mencemaskan lagi warga Indonesia dalam kurun waktu 1 tahun hanya mampu menghabiskan 2 buku untuk dibaca. Ini menunjukkan bahwa minat baca warga Indonesia sangat rendah. Untuk apa murid kita diminta untuk membaca banyak tanpa mengetahui isi bacaan dan hanya sekedar membaca. Dibutuhkan panutan seperti guru yang mampu mendorong murid untuk mau membaca. Mudik dilanjutkan dengan sesi pertanyaan Sebagai penanya pertama Guru Etika Puspa Sari mengajukan. “Bagaimana cara membudayakan kebiasaan literasi bertahan lebih lama?” Di sekolah saya setiap hari sabtu diadakan pojok literasi, siswa bisa membaca buku yang mereka bawa sendiri dari rumah. Kegiatan membaca hanya bertahan beberapa menit saja dan selebihnya ramai sendiri, bagi yang memang memiliki hobi membaca ia akan melanjutkan bacaannya namun yang tidak memiliki hobi membaca meraka akan gaduh. Guru Galih Adhyatomo sebagai narasumber memaparkan bahwa anak SMP dan SMA merupakan masa dimana anak berada di tahap peralihan jati diri, rasa ingin tahu tinggi terhadap segala hal, kembali kita sebagai guru mencoba msauk ke dunia mereka, karena mereka berada di fase peralihan dari Tayo-Tayoan ke Black Pink. Buat mereka menyukai dulu apa itu membaca, buat mereka menceritakan dalam tulisan apa yang merekan sukai kemudian memaparkan isi cerita tersebut ke depan kelas, pasti sangat seru dan menyenangkan. Diskusi dilanjutkan melalui pertanyaan kedua Guru Shofi. “Bagaimana menerapkan budaya literasi yang lebih identik dengan membaca aktif untuk kelas 1 dan 2, yang notabennya ada beberapa anak yang belum bisa membaca?” Menurut Guru Galih, untuk kelas rendah bisa dengan cara mendongeng atau guru mencontohkan. Karena pada fase ini anak lebih banyak meniru dan melihat, belum mampu menuliskan lewat kata-kata. Kita bisa memancing mereka dengan hal-hal yang ringan dulu yang menjadi kesukaan meraka. Seperti tayo-tayo, spiderman, dan lain-lain. Sesekali pancing mereka untuk bercerita sebelum masuk materu yang berat-berat. Kalau kadang orang dewasa saja merasa malas untuk membaca buku yang tebal apalagi anak-anak. Anak lebih tertarik dengan buku yang memiliki warna dan gambar yang beragam. Tanggapan datang dari Guru Arif tentang cara untuk menyesuaikan pada perkembangan anak kelas bawah. Anak bisa menonton tayangkan film yang mengacu untuk berpikir lebih kritis. Seperti pada film anak “Jalan Sesama” ada salah satu tokoh yang bernama Jabrik, dalam cerita di jelaskan bahwa jabrik akan pergi ke stasiun untuk melihat peswat terbang, kemudian salah satu temannya menegur jabrik bahwa di stasiun tidak ada pesawat terbang. Dan di akhir cerita baru diketahui bahwa di stasiun jabrik ingin melihat pesawat terbang yang dibawa oleh pamannya. Pada certia tersebut dapat dijadikan sebagai pemacu anak untuk lebih menalar. Sebagai penanya terakhir Guru Nailil turut bertutur tentang pengalaman dirinya. Saya mengajar di … Read more