Benarkah Kita Ingin Anak Mandiri?

Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya menjadi pribadi yang memiliki kemandirian. Akan tetapi terkadang justru sikap over protektif orang tua dalam mendidik anak menjadikan anak menjadi pribadi yang manja. Hal ini disebabkan oleh banyaknya kebutuhan anak yang dipenuhi orang tua. Orangtua pasti berdalih ini bentuk kasih sayang. Bagaimana Komunitas Guru Belajar memandang kemandirian anak ini? Selamat malam sahabat Ria di manapun berada, kami dari komunitas guru belajar (KGB) Solo Raya melihat fakta yang sama di lapangan, bahwa terkadang justru over protective kita sebagai orang tua dalam mendidik anak akan menjadikan mereka pribadi yang manja dan jauh dari kemandirian. Tidak ada yang salah sebenarnya, asalkan tidak over (berlebihan). Seperti pada pertemuan di bulan Juni tentang generasi Z dan Alfa, bahwa sebenarnya anak-anak zaman sekarang ini sudah memiliki naluri untuk hidup mandiri. Tetapi kita sebagai orang tua juga tetap harus melatih anak-anak kita menjadi pribadi yang mandiri agar mereka siap menghadapi apapun tantangan hidup saat mereka jauh dari kita. Sehingga kami memandang bahwa kemandirian sangat penting untuk dilatih ke anak-anak. Kapan Kemandirian dilatihkan? Kemandirian sangat penting untuk dilatihkan sejak dini. sejauh mana kita bisa mengetahui bahwa anak-anak sudah mandiri? Apakah ada ciri-ciri yang menunjukkan hal tersebut? Kita bisa mengenali bahwa seorang anak menunjukkan kemandirian berdasarkan beberapa hal. Menurut banyak ahli ada hal-hal yang kasat mata bisa kita lihat sebagai ciri kemandirian anak, antara lain: Kepercayaan pada diri sendiri. Rasa percaya diri, atau dalam kalangan anak muda biasa disebut dengan istilah ‘PD’ ini sengaja ditempatkan sebagai ciri pertama dari sifat kemandirian anak, karena memang rasa percaya diri ini memegang peran penting bagi seseorang, termasuk anak usia dini, dalam bersikap dan bertingkah laku atau dalam beraktivitas sehari-hari. Anak yang memiliki kepercayaan diri lebih berani untuk melakukan sesuatu, menentukan pilihan sesuai dengan kehendaknya sendiri dan bertanggung jawab terhadap konsekuensi yang ditimbulkan karena pilihannya. Kepercayaan diri sangat terkait dengan kemandirian anak. Dalam kasus tertentu, anak yang memiliki percaya diri yang tinggi dapat menutupi kekurangan dan kebodohan yang melekat pada dirinya. Oleh karena itu, dalam berbagai kesempatan, sikap percaya diri perlu ditanamkan dan dipupuk sejak awal pada anak usia dini ini. Motivasi intrinsik yang tinggi. Motivasi intrinsik adalah dorongan yang tumbuh dalam diri untuk melakukan sesuatu. Motivasi intrinsik biasanya lebih kuat dan abadi dibandingkan dengan motivasi ekstrinsik walaupun kedua motivasi ini kadang berkurang, tapi kadang juga bertambah. Kekuatan yang datang dari dalam akan mampu menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang diinginkan. Keingintahuan seseorang yang murni adalah merupakan salah satu contoh motivasi intrinsik. Dengan adanya keingintahuan yang mendalam ini dapat mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang memungkinkan ia memperoleh apa yang dicita-citakannya. Dengan keinginan dan tekad yang kuat, orang biasanya menjadi lupa waktu, keadaan, dan bahkan lupa diri sendiri. Mampu dan berani menentukan pilihan sendiri. Anak mandiri memiliki kemampuan dan keberanian dalam menentukan pilihan sendiri. Misalnya dalam memilih alat bermain atau alat belajar yang akan digunakannya. Kreatif dan inovatif. Kreatif dan inovatif pada anak usia dini merupakan ciri anak yang memiliki kemandirian, seperti dalam melakukan sesuatu atas kehendak sendiri tanpa disuruh oleh orang lain, tidak ketergantungan kepada orang lain dalam melakukan sesuatu, menyukai pada hal-hal baru yang semula dia belum tahu, dan selalu ingin mencoba hal-hal yang baru. Bertanggung jawab menerima konsekuensi yang menyertai pilihannya. Di dalam mengambil keputusan atau pilihan tentu ada konsekuensi yang melekat pada pilihannya. Anak yang mandiri dia bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya apapun yang terjadi tentu saja bagi anak Taman Kanak-kanak tanggung jawab pada taraf yang wajar. Misalnya tidak menangis ketika ia salah mengambil alat mainan, dengan senang hati mengganti dengan alat mainan yang lain yang diinginkannya. Menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Lingkungan sekolah (Taman Kanak-kanak) merupakan lingkungan baru bagi anak-anak. Sering dijumpai anak menangis ketika pertama masuk sekolah karena mereka merasa asing dengan lingkungan di Taman Kanak-kanak bahkan tidak sedikit yang ingin ditunggui oleh orang tuanya ketika anak sedang belajar. Namun, bagi anak yang memiliki kemandirian, dia akan cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Tidak ketergantungan kepada orang lain. Anak mandiri selalu ingin mencoba sendiri-sendiri dalam melakukan sesuatu tidak bergantung pada orang lain dan anak tahu kapan waktunya meminta bantuan orang lain, setelah anak berusaha melakukannya sendiri tetapi tidak mampu untuk mendapatkannya, baru anak meminta bantuan orang lain. Seperti mengambil alat mainan yang berada di tempat yang tidak terjangkau oleh anak. Ciri ciri kemandirian anak berkebutuhan khusus ditambah 2 komponen lagi yaitu: Mandiri sehubungan dengan kekhususannya. Mampu menghadapi tantangan sehubungan dengan kekhususannya. Upaya Menumbuhkan dan Menjaga Kemandirian Anak Melihat banyaknya ciri-ciri yang dapat kita lihat tersebut, bagaimana upaya yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan dan menjaga kemandirian anak? Sahabat ria yang berbahagia, untuk mendorong pertumbuhan dan kemandirian anak, Tracy Hogg dan Melinda Blau dalam bukunya “Secrets of the Baby Whisperer for Toddlers” memperkenalkan konsep baru yang disebut dengan HELP (Hold yourself back, Encourage exploration, Limit, and Praise), menjelaskan lebih lanjut bahwa:  Dengan menahan diri kita akan mengumpulkan banyak informasi dengan memperhatikan, mendengarkan, dan menyerap seluruh gambar untuk menentukan apa dan siapa anak kita, sehingga kita dapat mengantisipasi kebutuhan dan memahami bagaimana respon anak tersebut pada lingkungan sekitar. Dengan menahan diri, kita juga dapat mengirimkan sinyal bahwa ia kompeten dan kita mempercayainya anak melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya. Dengan mendorong penjelajahan, kita menunjukkan pada anak bahwa kita percaya pada kemampuannya untuk mengalami apa yang ditawarkan oleh kehidupan yang ia alami, dan kita ingin agar anak kita bereksperimen dengan benda-benda, orang, dan pada akhirnya ide-ide yang baru. Dengan demikian anak akan lebih terdorong untuk melakukan semua tindakan tanpa merasa takut dihantui oleh kita sebagai orang tuanya. Kegiatan membatasi (limit), orang tua mengemukakan dengan benar peran kita sebagai orang dewasa, menjaga anak dalam batas aman, membantunya membuat pilihan yang tepat, dan melindungi anak tersebut dari situasi berbahaya baik secara fisik maupun secara emosional. Dengan memuji (praise), kita mengukuhkan pembelajaran yang telah kita berikan, pertumbuhan, dan perilaku yang bermanfaat bagi anak ketika ia memasuki dunia dan berinteraksi dengan anak-anak dan orang dewasa lainnya. Hasil riset menunjukkan bahwa anak-anak yang diberikan pujian dengan benar, ia semakin terdorong untuk belajar lebih, dan dapat menikmati kerjasama yang terjalin antara dirinya dengan orang tuanya.  Tips Melatih Kemandirian Anak Pada sesi terakhir ini, … Read more

Administrasi Menumpuk, Mengajar Saja Sudah Jadi Sibuk, Guru Masih Harus Belajar?

Erna Sugiarti: Narasumber kita malam ini adalah Rizqy Rahmat Hani, knowledge coordinator Kampus Guru Cikal, akrab dipanggil dengan Pak Rizqy. Beliau 7 tahun menjadi guru di sekolah menengah atas.  Selain guru, beliau juga seorang youtuber yang mengembangkan saluran tentang pendidikan dan pengajaran, serta saluran apresiasi bakat murid. Bisa teman-teman ikuti di YouTube Channel: Rizqy Rahmat. Ide-ide kreatif pembelajaran beliau juga mengantarkan beliau menjadi narasumber di berbagai acara, termasuk diundang di TV lokal maupun nasional.  Rizky Rahmat Hani: Sebelum saya sharing praktik baik belajar. Saya mau tanya, bagaimana dulu pertama kali masuk kelas?  Erna Sugiarti: Deg-degan  Teguh Prasetyo: Pertama kali, modal masih terbatas. Bawaan masih kaku, dan kurang memahami karakter siswa yang ternyata heterogen  Wayan : Grogi jadi ngomong nya belepotan  Rizky Rahmat Hani: Baiklah cukup yaaah manteman…  Aku mau berbagi cerita dulu..  Aku masih ingat benar kapan pertama kali masuk kelas dan menjadi guru, Senin 11 Juli 2010. Saat yang sangat mendebarkan bagiku tentunya. Apalagi mengajar murid menengah atas. Namun kucoba untuk menenangkan diri. Sehari sebelum hari H sudah kupersiapkan semua, apa yang harus disampaikan, diawali dengan apa. Sudah kutonton juga film-film pendidikan seperti Laskar Pelangi dan juga Great Teacher Onizuka. Mencoba memposisikan diri menjadi bu Muslimah dan pak Onizuka.  “Bisalah pasti!” aku mencoba menenangkan diri.  Dengan kemeja keki dan sepatu pantofel, aku menuju kelas XI IPA 3. Kelas pertama yang bakal aku masukki. Sebelum menuju kelas itu, di perjalanan banyak murid kelas lain yang melihatku dengan pandangan aneh.  “Halo Pak guru, baru ya di SMA Sragi?” tanya salah satu murid  “Iya..” jawabku  Pandangan anak-anak itu membuatku lebih gemetaran, keringat pun mulai bercucuran. Kelas yang dituju pun sudah di depan mata.  “Selamat pagi..” sapaku membuka kelas.  “Pagi Pak” yang jawab salamku hanya segelintir anak.  Beberapa anak lain ada yang sedang main dan ngobrol di belakang kelas. Buyar sudah apa yang sudah aku rencanakan untuk pembukaan.  Kelas menjadi riuh, beberapa murid mengobrol seenaknya, tertawa keras. Aku tak dihargai.  Apa yang aku bayangkan asyiknya menjadi guru seperti Onizuka ataupun guru Muslimah dalam mengatur murid ternyata tidak. Di awal membuka kelas saja aku sudah tak dihargai. Apa yang harus aku lakukan?  “Kesanku terhadap guru dihancurkan oleh siswa-siswa yang tak menganggapku ada di depan kelas”  Sepulang mengajar aku benar-benar frustasi. Ternyata sulit menjadi guru. Mengondisikan siswa saja aku tak bisa. Hari-hari penuh derita pun aku jalani saja. Masuk kelas – menyampaikan materi – dicuekin murid – memberikan tugas – pulang. Begitu seterusnya, tiap hari, tiap bulan.  Sampai akhirnya ada seorang muridku yang nyeletuk “Bisa ngajar nggak Pak!”. Kata-katanya walau terdiri atas beberapa kata saja, menukik dan menancap dalam hatiku. Ia membuatku sakit.  Salah satu yang membuatku kesulitan dalam mengajar adalah keterampilanku dalam berbicara. Aku sendiri adalah orang yang introvert dan jarang berbicara di depan umum. Padahal profesi guru mengharuskanku memiliki keterampilan itu.  Ada satu kisah yang menunjukkan bahwa berbicara adalah kelemahanku. Saat kuliah semester 5 ada pembelajaran bernama retorika, pembelajaran yang melatih untuk berbicara. Mungkin salah satu mata kuliah dasar menjadi guru. Bahwa guru memang dituntut menguasai itu. Namun karena dasarnya kurang berminat, maka tidak pernah memperhatikan saat kuliah berlangsung.  Permasalahan timbul saat ujian praktik berbicara di depan kelas dilihat oleh dosen dan mahasiswa lain. Aku tak bisa berbicara apa-apa, waktu 5 menit untuk aku bicara hanya terucap “Assalamualaikum…” selebihnya adalah diam, dan mencoba merangkai kata namun selalu gagal. Alhasil, nilaiku D di mata kuliah retorika, itu artinya harus mengulang lagi tahun depan.  Dan itu terjadi lagi saat aku menjadi guru. Kadang ada rasa menyesal, mengapa dulu waktu kuliah tidak benar-benar belajar. Ah rasanya ingin kembali ke masa-masa itu. Ingin benar-benar memperhatikan dosen, membaca buku tentang berbicara. Aku tak mau lagi terlihat tidak profesional di depan anak-anak. Gagap bahkan terlihat tidak bisa menguasai kelas.  “Apa bisa ya kemampuan berbicara itu ditingkatkan?” tanyaku pada salah satu teman.  “Bisa kok, coba deh Kamu tonton film The King Speech”  Film The King’s Speech bercerita tentang Duke of York (raja George VI) yang menggantikan ayahnya raja George V. Sebagai pimpinan tertinggi ia harus sering berbicara dengan rakyat atau bawahannya baik dengan pertemuan langsung ataupun pidato.Masalahnya adalah ketika berbicara ia gagap, gugup dan selalu mandi keringat.  Menonton adegan awal saja sudah membuatku tersenyum. Seperti layaknya diriku yang mengajar di depan kelas. Melihat hal tersebut banyak cara ia lakukan agar ia bisa terampil berbicara, mengundang dokter hingga psikiater profesional. Berbagai metode dari dokter dan psikiater tersebut tak mempan. Ia masih gagap. Sampai adegan ini aku mengiyakan apa yang aku pikirkan sebelumnya “Nah bener kan, nggak bisa keterampilan berbicara itu ditumbuhkan. Bawaan lahir”.  Film terus berlanjut.  Akhirnya istrinya membawa Lionel Logue seorang psikiater yang sebenarnya tidak memiliki sertifikat psikiater. Lionel sebenarnya adalah seorang aktor yang sudah tak laku, ia membuka praktek terapi bicara untuk tentara Inggris pada perang dunia I. Dengan terapi yang Lionel berikan secara berkala, Duck of York mampu mengatasi kegagapan dalam berbicara.  Aku mulai menyadari bahwa kemampuan berbicara bisa ditumbuhkan, yaitu dengan latihan- latihan. Selanjutnya aku merancang program latihan berbicara yaitu menggunakan media Facebook dan Youtube. Dua media tersebut aku gunakan untuk mengunggah video-video latihan berbicaraku. Jadi konsep videonya adalah sebagai pembicara aku akan berbicara apa saja selama 10 menit di depan kamera, tanpa dipotong, tanpa jeda, nge-roll berbicara selama 10 menit. Di akhir aku akan melihat bagaimana caraku berbicara, dari keefektifan kalimat, pemilihan diksi hingga gayaku berbicara. Kemudian aku unggah ke facebook dan youtube untuk mendapat umpan balik dari penonton videoku.  Umpan balik itulah yang menjadi catatanku dan akan aku gunakan sebagai acuan untuk perbaikan caraku berbicara di video episode berikutnya.Berkat acara itu pulalah aku mulai sedikit bisa berbicara, tidak gagap dan gemetar lagi kalau di depan kelas.  Dari cerita ini, point utamanya adalah belajar. Belajar yang bukan sekadar belajar. Kenapa bukan sekadar belajar? Karena belajar selama ini juga banyak salah kaprahnya. Di antaranya adalah :  1. Guru cuma belajar kalau dia dapat insentif, motivasinya eksternal.  https://www.facebook.com/watch/?v=1689909134642453  2. Guru cuman bisa belajar dari pakar atau ahli  https://www.facebook.com/watch/?v=1690357227930977  3. Guru cuma belajar cara/resep https://www.facebook.com/KampusGuruCikal/videos/1691003331199700/ 4. Guru belajar tidak butuh waktu lama  https://www.facebook.com/watch/?v=1691985334434833  5. Guru bisa belajar sendirian  https://www.facebook.com/KampusGuruCikal/videos/vl.139859363198931/1691985334434833/ Di Kampus Guru Cikal, kami menyebutnya untuk melawan miskonsepsi … Read more

Literasi di Kelas Matematika?

Bagaimana sih penerapan literasi di kelas Matematika? Yuk simak liputan Temu Pendidik Daring KGB Semarang berikut ini. Ika RizqiyaSaya perkenalkan Narasumber kita kali ini ya. Beliau Pak Teguh, Alumni Unnes. Sekarang beliau merupakan seorang Guru di SDIT Bina Insani. Pengalaman beliau luar biasa sudah mengajar 8 tahun. Domisili di Tembalang dan alhamdulillah sudah dikarunia 3 anak. Ika RizqiyaSilakan Pak Teguh bisa membagikan ilmunya tentang tema diskusi kita malam ini Teguh PrasetyoBapak Ibu semua luar biasa, baru saya temui komunitas yang spirit belajarnya sekuat ini. Tanpa surat tugas, tanpa uang perjalanan dinas, dan tanpa paksaan dari pimpinan sekolah. Merdeka Belajar. Kata literasi sangat familiar sekali baik di media online maupun di pertemuan diskusi guru di beberapa tempat.  Literasi seringkali dikaitkan dengan tuntutan zaman di abad 21. Yang mana kita diberi tanggung jawab untuk mengondisikan peserta didik kita memiliki 4C. Teguh PrasetyoLalu dimanakah posisi matematika? “Mathematics is the queen as well as the servant of all sciences” Matematika adalah ratu sekaligus pelayan semua ilmu pengetahuan. Matematika itu punya landasan, pondasi untuk dirinya sendiri, dan di sisi lain matematika juga membantu disiplin ilmu lainnya untuk semakin berkembang. Baik dalam riset dan penelitian kuantitatif disiplin ilmu lainnya, maupun terkait data dan statistiknya.Matematika memiliki simbol-simbol angka, matematika itu kumpulan konsep. Yang sering kali simbol dan konsep matematika muncul dalam tulisan/ berita di surat kabar. Ika RizqiyaMenarik Pak materinya, waktu zaman kecil dulu sampai sekarang paling malas belajar matematika, berharap semoga kemalasan saya ini tidak tertular pada anak-anak dengan penyampaian matematika yang menarik dan tidak membosankan, anak-anak bakal tertarik seperti kata pak Teguh “Mathematics is the queen as well as the servant of all sciences” Pentingnya Literasi Numerasi Teguh PrasetyoDi surat kabar kita sering mendapati tabel, grafik, prosentase yang mengandung makna.  Dan disinilah literasi numerasi di kelas matematika dibutuhkan. Apa jadinya jika murid kita katakanlah kelas 6, belum kenal cara membaca tabel, belum tahu arti perubahan diagram batang. Mereka tidak bisa bertahan dalam dinamika informasi zaman dan teknologi. Bahkan kita sebagai guru perlu belajar lebih cepat tentang apa itu 6 literasi dasar. Untuk menunjang kecakapan di abad 21. Dikabarkan Indonesia akan mengalami “bonus demografi”. Banyaknya usia produktif, dan mereka adalah murid kita yang saat ini masih duduk manis  (jika gurunya cool). Duduk bolak balik kesamaan kemari jika gurunya kreatif dan inovatif. Masa depan mereka ada di tangan bapak ibu sekalian. Pembelajaran matematika pun menjadi menarik untuk diperbincangkan. Pemerintah telah menyelaraskan desain pembelajaran matematika terhadap kebutuhan ke arah skill abad 21 melalui kurikulum 2013 (tematik). Ika RizqiyaMateri pembukanya sangat menarik agar teman KGB semakin semangat dan penasaran. Materi pembuka diskusi mungkin sampai sini dulu. kayaknya teman-teman KGB sudah tak sabar bertanya. Teguh PrasetyoAda beberapa hal yang perlu kita tekankan dalam mengajarkan matematika. Matematika berhubungan dengan konsep materi, konteks masalah, dan konten. Murid akan mudah menyelesaikan soal manakala paham akan konsep, paham bahasa yang ada dalam soal (tahu maksudnya) dan tertantang/ tertarik menyelesaikannya. Dalam memberikan soal kita perlu bertahap. Mulai dari konsep yang mudah dahulu, sedang, dan perlu berfikir beberapa tahap. Contoh Penerapan Literasi di Matematika Ika RizqiyaMungkin bisa dikasih contoh yang pernah Pak Teguh terapkan. Teguh PrasetyoPerlunya literasi adalah murid punya pemahaman tentang konten kosakata yang ada dalam soal tersebut. Mati artinya berkurang, membeli lagi artinya bertambah. Contoh literasi di matematika yang saya terapkan tentang perkalian, langkahnya: Beri tahu judul materi Kebermanfaatannya dalam kehidupan sehari hari Berikan contoh implementasi materi Masuk ke materi Misal begini ya, anak-anak  (kelas 2 SD) hari ini pak teguh akan mengajak kalian bermain. Tapi tidak sembarang bermain kita di sana akan belajar. Anak: di sana mana?Saya: ada deh, tempatnya asik, sejuk.Kita hari ini akan belajar perkalian, mudah sekali. Cukup menambah berulang.Anak: tapi aku belum hafal perkalian pak.Saya: oh tidak papa, yang penting ikut bermain dan ikuti instruksi pak guru Kita ajak mereka ke suatu objek yang dapat mengantarkan materi pada konteks benda konkret yang bisa dikalikan.  Untuk pembelajaran matematika kita bisa mendekatkan murid pada objek konkret. Atau benda yang konkret yang kita dekatkan pada murid. Apalagi kalo objeknya makanan, saya pernah menerapkan dengan kacang atom. Setelah pembelajaran saya nyatakan selesai, mereka boleh makan sepuasnya, asal tidak berebut. Arti Literasi WiwinJika kita mengajarkan anak-anak  matematika yang bentuknya soal cerita apakah itu sudah termasuk literasi? Contoh:  Tentang hitung campur. Maya mempunyai 5 ekor ikan kemudian mati 3 lalu ia membeli lagi 15 ekor ikan. Berapa seluruhnya? ( Ini soal blum HOTs ya). Seperti yang tadi pak teguh paparkan ada anak yang belum bisa menghafal perkalian. Jika guru meminta anak menuliskan kembali semacam refleksi apakah itu jg termasuk literasinya pak? Teguh PrasetyoYa literasi itu artinya bagaimana kita menjadikan yang kita pahami sebagai bekal untuk memecahkan problem. Literat. Literasi (melek) memahami konteks pembicaraan, memahami esensi informasi, untuk memecahkan masalah yang kita hadapi. Kekeliruan pengajaran matematika adalah kita menghafal rumus tanpa paham konsep. Misal Masalah kita orang dewasa, kita mau ke luar kota besok siang tapi naik kereta ke Surabaya. Apa yang kita lakukan? Orang yang tidak literat dia akan datang ke stasiun, kemudian bertanya pada bagian tiket. Saya mau ke Surabaya, besok siang, apakah ada kereta kesana? Tapi jawaban petugas adalah tidak ada, atau ada tapi sudah habis. Ada tapi uang anda tidak cukup. UN menjadi horor manakala kemampuan literasi (melek kalimat cerita, melek konsep, melek operasi hitung matematika kurang dimatangkan) Oleh karena itu perlu dipahamkan secara berangsur-angsur tentang konten matematika (paham konsep, tahu objek yang diperhitungkan, masalah dan keputusan yang perlu diambil bila soalnya penalaran). Kolaborasi sifatnya pengulangan materi. Berlatih untuk Meningkatkan Kompetensi AhyuniKetika anak konsep sudah memahami, tetapi waktu untuk mengerjakan soal mereka itu butuh waktu yang lama dalam menyelesaikan hitungannya. Apa yang harus kita lakukan pak? Teguh PrasetyoYang kita lakukan adalah melatih kecepatan dengan banyak latihan, misal: anak-anak, pak teguh kasih kertas kecil (F4 dibagi 4). Lihat ada 10 soal perkalian. Dalam waktu 5 menit siapa yang berhasil mengumpulkan dengan hasil yang tepat. 28 murid kita bagi dalam waktu yang sama. Kita jelaskan ini latihan kecepatan, yang sudah segera taruh di meja pak guru. Hitung. Setelah hitungan 3 baru boleh dikerjakan, satu, dua, Siap, Tii, belum. Tiiii ga. Ika RizqiyaTernyata ada prasyaratnya … Read more

Merdeka Belajar, Mengapa Guru Harus Belajar?

Mengapa guru harus belajar? Kalimat tersebut membuka sesi Nobar di SDIT Bina Insani kali ini. Membersamai murid dalam kegiatan demi kegiatan pasti menemukan dinamika pertumbuhan dan perkembangan mereka. Hal-hal baru tentang murid bisa jadi guru temui tanpa disadari. Guru merasakan perubahan tingkah laku murid, guru mendapati nilai ulangan semakin membaik, guru mengerti betul kronologi murid yang semakin dewasa. Itu semua merupakan perubahan-perubahan yang perlu disikapi dengan baik dan tepat. Jika perubahan murid yang positif saja perlu penyikapan yang tepat agar bertahan dan bertambah baik, apalagi perubahan peserta didik kita yang justru makin buruk. Tentu saja kedua fenomena tersebut perlu kompetensi guru yang semakin meningkat. Belajar Bersama Komunitas Guru Belajar Tanggung jawab kita untuk memberi pelayanan yang tepat tentunya membutuhkan kemampuan yang sesuai dengan perubahan yang terjadi. Apalagi jika kita punya keinginan menjadi guru yang semakin profesional. Kita perlu merespon semua perubahan dengan lebih tepat. Itulah alasan mengapa kita masih perlu belajar bersama Komunitas Guru Belajar. Komunitas Guru Belajar Semarang mempersembahkan Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar dan Manajemen Kelas. Kami bukanlah kekuatan satu-satunya, kami KGB Semarang hanyalah satu dari sekian komunitas yang peduli akan pergerakan pendidikan pun dimulai dari langkah yang terkecil yang banyak digandrungi dan tak bisa ditolak orang. Ya, nonton bareng. Nonton Bareng GMB ini diselenggarakan di Aula SDIT Bina Insani pada hari Sabtu, 7 September 2019. Nonton bareng ini dihadiri oleh kurang lebih 50 peserta yang terdiri dari para guru TK, SD dan manajemen Bina Insani.  Acara nonton bareng guru merdeka belajar ini berlangsung kurang lebih selama 2,5 jam. Nobar ini dikoordinatori Pak Teguh, salah seorang guru SDIT Bina Insani, dipandu dan diliput oleh Elvrida Rosalia Indraswari, salah satu penggerak dan host KGB Semarang. Dari 2,5 jam yang ada, acara ini diawali dengan pembukaan dan ice breaking. Pemandu lantas memberikan cuplikan kata singkat tentang merdeka belajar, apa yang diketahui peserta tentang merdeka belajar dan mengapa penting. Mengapa kita harus menjadi guru yang merdeka belajar. Berbekal Surat Kabar Guru Belajar edisi 6 dan 7 tentang merdeka belajar dan refleksi belajar, sejak dari awal acara ini sudah sangat menyita perhatian para peserta. Kemudian tentunya sesuai judul maka selanjutnya adalah sesi nonton bareng. Video berdurasi 15 menit yang cukup menggugah hati ini disaksikan secara hitmat oleh 15 pasang mata yang ada. Salah satu komponen yang dibahas adalah komponen dari merdeka belajar itu sendiri. Ibu Najeela Shihab mengemas kata-kata yang cukup menggelitik para peserta dan hatinya. Sesi terakhir yang tentunya berlangsung cukup lama dan interaktif adalah pada sesi diskusi dan refleksi. Para peserta diajak untuk merefleksikan apa yang sudah dipahaminya dari menonton video tadi.  Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan yang kami bahas pada sesi refleksi: 1. Di antara semua miskonsepsi tadi, mana yang paling menggambarkan diri Anda? 2. Ciri Guru Merdeka Belajar adalah Komitmen pada tujuan, Mandiri terhadap cara belajar dan Melakukan refleksi. Apakah Anda setuju dengan pernyataan tersebut ? Apa alasannya?3. Apakah Anda ingin menjadi Guru Merdeka Belajar ? Apa alasannya?4. Sebagai Guru Merdeka Belajar, apa perubahan yang ingin Anda lakukan di kelas?5. Sebagai Guru Merdeka Belajar, apa pengembangan diri yang ingin Anda lakukan bersama Komunitas Guru Belajar? Selama kurang lebih 2 jam yang tersisa kami berusaha membuat sesi refleksi ini bermakna, tak hanya memainkan pemikiran kami tapi juga membuat hati kami lebih bergelora, memaknai setiap pertanyaannya sebagai suatu pembelajaran yang dikemas melalui konsep nonton bareng. Diantara miskonsepsi yang disebutkan dalam video nobar, sebagian besar adalah sama pada dikejar target dinas. Lalu apakah peserta setuju bahwa ciri dari guru merdeka belajar adalah 3 tersebut? Ya, mereka sangat setuju. Karena berawal dari tujuan yang jelas dan komit akan tujuan tersebut, seorang guru akan mandiri untuk belajar dan kemudian merefleksinya untuk suatu progres yang semakin baik. Ketika ditanya apakah ingin menjadi seorang Guru Merdeka Belajar? Maka tampak dari bibir dan sorot mata para peserta berkata “Ya”. Penuh semangat yang bergelora, tergambar dari sorot mata dan refleksi ini. Para peserta semakin belajar bahwa guru harus belajar, memanajemen kelas sebaik mungkin, menjadi guru yang merdeka belajar. Peserta berucap syukur sebab memahami merdeka belajar. Kami mengakhiri nonton bareng ini dengan memekikkan semangat kemerdekaan, sebagai titik balik bahwa kami sudah berada di depan gerbang merdeka belajar dan siap untuk berpetualang. Foto bersama pun semakin mempermanis sesi nobar kami kali ini. Anda masih penasaran tentang merdeka belajar? Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 6Unduh GratisKlik:

Tutor Merdeka Belajar – Memang Bisa?

Pendidikan Kesetaraan kian diminati oleh masyarakat Banda Aceh. Selain proses belajar yang efisien, materi pelajaran yang diajarkan juga tidak terlalu menuntut peserta didik, tidak seperti sekolah formal pada umumnya. Sehingga kebanyakan peserta yang mendaftar ialah yang sedang bekerja. Melihat kondisi ini, sangat diperlukan Pengajar / Tutor yang tidak biasa pula, tutor yang merdeka belajar. Namun faktanya, Tutor di tempat saya mengajar masih sangat konservatif dan meremehkan kepentingan tujuan dasar pendidikan, bahkan termasuk saya sendiri. Hal ini pula yang mendasari saya mengajak rekan-rekan Tutor, baik yang di Sekolah Pendidikan Non Formal (SPNF) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Banda Aceh maupun tidak, agar bergabung dengan Komunitas Guru Belajar (KGB) untuk saling membagi ilmu, mengamalkan ilmu, dan menyerap ilmu. Nonton Bareng (Nobar) Guru Merdeka Belajar adalah kegiatan pertama yang berhasil saya adakan pada tanggal 06 September 2019 di SPNF SKB Kota Banda Aceh. Kegiatan ini diikuti oleh Tutor-tutor Bantu sebagai tenaga pengajar di lembaga tersebut. Saya belum bisa mengundang Tutor dari lembaga lain karena instruksi yang diberikan oleh Kepala Sekolah SPNF SKB Kota Banda Aceh, Pak Budi Pramono, agar kegiatan nobar merdeka belajar ini dikhususkan kepada tutor di lembaga sendiri terlebih dahulu. Mungkin untuk tahap selanjutnya akan diadakan dalam skala luas.  Rangkaian acara yang direncanakan akan dimulai pukul 09.00 WIB telah saya persiapkan mulai dari pembukaan, ice breaking, materi yang akan disampaikan, slide presentasi, refleksi yang akan ditampilkan, perkiraan pertanyaan serta jawaban yang akan diberikan. Akan tetapi, ketika saya tiba di kantor, rekan-rekan saya mengajak untuk nongkrong terlebih dahulu. Maka berubahlah ide ice breaking tadi menjadi bersantai di warung kopi sambil menikmati pemandangan dan sarapan. Dan ternyata sangat membantu saya dalam menyampaikan materi ketika acara dimulai.  Sekitar pukul 10.00, kami sudah tiba kembali di kantor. Saya langsung mempersiapkan segala alat yang diperlukan; proyektor, laptop, speaker, dan alat tulis untuk refleksi. Alhamdulillah, rekan Tutor membantu saya menyiapkan tempat duduk dan perlengkapan juga untuk mendukung nobar merdeka belajar. Sebelum saya membuka acara, saya pastikan terlebih dahulu teman-teman sudah siap mendengarkan apa yang akan disampaikan. Ada yang sudah siap dengan memeluk bantal, dengan melipat tangan di atas meja, bahkan ada yang sudah santai dengan kaki terlipat di bangku depan. Setelah memastikan peserta siap mendengarkan, saya memulai acara dengan pembukaan salam dan menanyakan kabar. Dikarenakan pesertanya juga teman-teman saya sendiri, maka gaya yang saya bawa pun santai dan tidak terlalu menekan. Pertama, saya memulai acara nonton bareng ini dengan menanyakan teman-teman saya apa itu merdeka. Berikut jawaban yang diberikan teman-teman: “Bebas, Mentari” jawab Pak Ade, Tutor Penjas. Bu Laida, Tutor Sosial, menjawab “Tanpa ada ikatan!”  “Tidak ada hambatan”, ujar Pak Munawir, Tutor Penjas. Saya membenarkan untuk semua jawaban yang telah diberikan. Kemudian saya mengaitkannya dengan Guru Merdeka Belajar untuk membuat teman-teman lebih paham mengenai makna Guru Merdeka Belajar (GMB). Setelah itu, baru saya jelaskan kaitan GMB, KGB dan Temu Pendidik. Dari sesi penjelasan pertama ini, banyak yang menyela untuk memastikan keyakinan pemahaman mereka. Jadi, sesi Nobar Merdeka Belajar ini lebih seperti diskusi sesama tutor. Walaupun demikian, teman-teman saya kelihatan agak sedikit ragu dengan penjelasan saya mengenai temu pendidik dan guru belajar. Terlihat jelas dari raut wajah tak percaya mereka seolah bertanya memang bisa?. Solusinya menurut saya adalah dengan menonton video Guru Merdeka Belajar yang disampaikan oleh Ibu Najelaa Shihab. Video berdurasi kurang lebih 14 menit yang membahas tentang kunci sukses menjadi Guru yang merdeka belajar serta miskonsepsi kebanyakan guru di Indonesia saat ini.   Pada awal pemutaran video ini, teman-teman saya memperhatikan dengan kurang penuh perhatian. Hilir mudiknya pendatang yang keluar masuk pintu, pendatang yang masuk selalu bersuara dan bertanya, dan anak-anak yang berlalu lalang berhasil memecah konsentrasi teman-teman saya yang sedang menyaksikan Ibu Elaa berbicara. Fokus teman-teman saya itu kembali ketika Bu Elaa sedang membahas mengenai miskonsepsi yang selama ini hinggap pada guru-guru di Indonesia. Guru hanya mau belajar jika mendapat insentif, guru harus belajar dari ahlinya, guru hanya belajar jika disuruh, guru hanya belajar jika dipaksa, dan guru belajar hanya untuk diri sendiri. Mereka semuanya terdiam dan fokus sekali pada apa yang dikatakan oleh Ibu Elaa tentang bagaimana ada guru di luar sana yang melakukan hal yang berlawanan dengan miskonsepsi di atas. Alhamdulillah, sampai video selesai, fokus mereka tidak hilang dan tetap fokus pada pemaparan Ibu Elaa.  Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Video selesai diputar dan saatnya sesi tanya jawab. Ada beberapa pertanyaan yang muncul.  Bu Laida bertanya, “Berarti Mentari, di kegiatan ini, kita gak akan belajar dari ahlinya?” Saya menjelaskan kembali konsep yang saya paparkan di awal ketika pembukaan kegiatan ini. Bahwa fungsi dari terbentuknya forum temu pendidik ini ialah sharing ilmu dan pengalaman sehingga bisa saling memberikan manfaat dan membantu. Saya memberikan contoh bagaimana metode Bu Laida pernah mengajar di kelas. Nanti metode itu diceritakan ke teman yang lain, yang mana tau bisa digunakan di kelas juga. Bahkan kita bisa belajar dari PKBM lain yang ada disekitar kita seperti PKBM Ruman Aceh dan PKBM Kiat Usaha. Oleh sebab itu, sangat bermanfaat jika ada forum tutor ini. Bila ada dukungan, bisa jadi kita mendatangkan ahli juga untuk menguatkan apa yang telah dilakukan. Bu Laida juga bertanya lagi mengenai konsep kemitraan di poin pembahasan mengenai kemandirian guru merdeka belajar. Saya mencoba menjelaskan dengan contoh yang memang sudah pernah teman-teman lakukan di kantor. Yaitu bagaimana kebingungan Bu Amidiah ketika dibebankan pelajaran keterampilan. Bu Laida dan Bu Zuhra sepakat sama-sama akan membantu Bu Amidiah untuk mengisi kelas. Sudah dilakukan, Bu Elaa hanya menyampaikan dalam bentuk bahasanya saja, yaitu kemitraan. Pak Ade tidak bertanya, hanya memastikan kembali mengenai tangga kemandirian. Bahwa kemandirian guru selama ini baru sampai pada tahap konsultasi saja. “Guru yang merdeka belajar akan memberdayakan dan memegang kendali atas proses belajar yang kita lakukan” begitu kata Bu Elaa. Setelah selesai sesi tanya jawab, dilanjutkan dengan sesi refleksi. Saya memberikan empat pertanyaan yaitu: Diantara semua miskonsepsi tadi, mana yang paling menggambarkan diri teman-teman? Ciri Guru Merdeka Belajar adalah komitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara belajar, dan melakukan refleksi. Apakah teman-teman setuju? Mengapa? Apakah teman-teman ingin menjadi Guru Merdeka Belajar? Mengapa? Sebagai Guru Merdeka Belajar, apa perubahan yang ingin teman-teman lakukan di kelas? Mungkin dikarenakan jam sudah menunjukkan … Read more

Disiplin Tak Dipatuhi, Dihukum Malah Mengulangi, Solusinya?

Nurlina : narasumber pada malam ini adalah Nur Hamidah sebagai guru di SDI Ma’mur Ni’mah. Selain itu, seorang Ibu yang diamanahi lima buah hati dua diantaranya kembar special needs. Beliau sangat senang membaca dan menulis.  Motto “Sesungguhnya mengajar itu belajar”  Nur Hamidah: Pernahkan bapak/ ibu mengalami hal semacam ini? Ragil: Hampir setiap hari M. Z Nisa: Pernah, setiap hari setiap pagi  Nur Hamidah: Hampir setiap hari kan? sama berarti, lalu bagaimana sikap kita? langkah apa saja yang kita ambil? apakah langsung memberikan hukuman tanpa klarifikasi terlebih dahulu? anak/ peserta didik langsung di strap?  Amikamizar35: klarifikasi dulu, cari tahu pangkal masalah M. Z Nisa: Pendekatan personal untuk melakukan klarifikasi Nur Hamidah: Dulu saya mengalami bahkan saat ini pun masih saya terus belajar dan memperbanyak referensi membaca tentang disiplin positif tanpa hukuman. Dulu ketika anak tidak mengerjakan PR, tidak piket saya suruh lari mengitari halaman sekolah bahkan pakai denda akan tetapi tidak juga berubah bahkan anak- anak lebih suka memberikan uangnya di kaleng kecil daripada menyapu dan terus mengulanginya. Dan efek hukuman tidak membuat jera malah mengulanginya lagi. Erna: Malah lebih memilih melakukan hukumannya, yah Bu? Nur Hamidah: Iyess, dan yang pertama adalah manajemen emosi kita ketika memulai mengajar harus stabil terlebih dahulu, karena setiap peserta didik itu berbeda- beda, karena “Emotions are at the heart of teaching”. Jadi seorang pendidik itu harus selesai dengan dirinya sendiri terlebih dahulu.  Amikamizar35: betul Bu, kalau belum selesai dengan dirinya pasti nanti emosi menghadapi siswanya Nur Hamidah: Emosi itu sangat mendukung kita dalam mengajar dan kepribadian kita siap tidak untuk menjadi guru karena kalau belum siap yang menjadi guru. Lalu apa solusinya? karena seringnya anak- anak tidak menaati aturan? Praktek yang saya lakukan, yaitu : Pendekatan kepada kedua orangtuanya. Karena ada grup WA untuk memudahkan berkomunikasi. Saya bertanya kepada para Ibu apakah di rumahnya ada jadwal sederhana keseharian anak- anaknya? ketika mereka menjawab “ada” maka saya suruh menuliskan jadwalnya dan dibawa ke sekolah, selanjutnya di cek satu persatu. Saya pilih 5 terbaik jadwal harian anak, dari 5 terbaik itu saya share ke ibu- ibu yang lain. Tidak selesai sampai disitu saya cek lagi untuk ditempel di rumahnya dan harus dipraktekkan  Menulis di sticky notes nama anak. Semua saya suruh temple di rumah dan diingat hari apa tugas piketnya. Setelah mereka selesai piket saya suruh menuliskan namanya lalu ditempel di dinding sekolah. Dan ternyata sangat senang tanpa disuruh pun dilaksanakannya.  Menerapkan kedisiplinan bukan hukuman. Hukuman dibangun atas ketidakpercayaan guru atau orangtua bahwa anak dapat mengembangkan perilakunya dan dapat bertanggung jawab akan tindakan yang dipilihnya. Sementara disiplin dibangun atas relasi kepercayaan guru atau orangtua pada anak. Hukuman bersifat jangka pendek, spontan, negatif, dan pasif. Sementara disiplin bersifat jangka panjang, positif, dan aktif. Jika antara disiplin dan hukuman ada perbedaannya. Hukuman memberikan alternatif lain pada anak, memberikan instruksi larangan pada anak, mengakui dan menghargai upaya anak dan tingkah laku mereka. Baik menanggapi perilaku negatif anak dengan cara yang kurang baik dalam mentaati peraturan. TERMIN DISKUSI M. Z. Nisa: Saya sering menemui anak- anak yang sering melanggar aturan di sekolah. Misalnya, bermain melebihi area sekolah dan dilakukan setiap pagi. Klarifikasi secara personal sudah dilakukan. Dan kami refleksi. Tapi pagi hari masih saja keluar batasan. Akhirnya saya mencoba menerapkan kesepakatan kelas bersama anak. Tapi bagaimana itu juga agar bisa berdampak ke anak? karena sampai detik ini kesepakatan yang dibuat bersama anak masih dilanggar. Nur Hamidah: Kasus seperti ini hampir terjadi di semua sekolah. Di tempat mengajarku juga seperti itu. Kita terapkan prinsip yang keempat, yaitu dialogis. Kita ajak anak- anak berdialog dan lagi- lagi dengan tidak nada emosi dan saya pun masih terus belajar dengan manajemen emosi. Karena di depan siswa kita harus menampilkan emosi positif sebab kita tidak mau kan dilabeli seorang guru yang galak atau jutek.  M. Z Nisa: dialogis ini kira- kira ada tahapannya? juga terkait penggunaan bahasa yang bisa dipahami siswa kelas 1 – 3 sekolah dasar? Nur Hamidah: dialogis ini untuk semua umur dan tentunya penggunaan bahasa yang dipahami anak SD. Karena relasi hangat antara guru dan murid menumbuhkan kebahagian kepada kedua belah pihak. Ada istilah “Ibu bahagia anak juga bahagia” dan ini berlaku pula untuk kita sebagai guru. Makanya kita harus selesai dengan diri kita dulu. Danu: Bagaimana upaya supaya anak-anak menyadari akan ketidak disiplinannya? Padahal ruang diskusi dan peringatan sudah dilakukan.  Nur Hamidah: Untuk bapak Danu sebelumnya saya bertanya peserta didiknya kelas berapa? Kalau untuk anak- anak kelas 1- 2 SD untuk berdiskusi masih harus didampingi karena anak seumuran mereka bisa duduk anteng (tenang), menurut paling lama sekitar 15 menit saja, setelahnya akan ribut lagi. Kalaupun untuk umur 8 tahun ke atas berdiskusi masih ramai berarti ada yang kurang motoriknya.  Danu: peserta didiknya tsanawiyah dan aliyah Nur Hamidah: kalau untuk tsanawiyah dan aliyah ada empat prinsip konsekuensi yang diberikan, yaitu berhubungan (related), menghormati anak (respect), logis (reasonable), dialogis. Konsekuensi logis menekankan kekuatan otoritas personal mengekspresikan realitas kehidupan, saling menghargai. Misalnya dengan menggunakan kata atau kalimat yang baik tanpa ada rasa emosi. Contoh Ahmad tolong selesaikan diskusinya dengan tenang yah, waktu sudah hampir menunjukkan jam istirahat.  Ami Bagaimana mengatasi anak yang sudah tahu bahwa itu salah tapi tetap melakukannya. Dan untuk menutupi kesalahannya dilakukan dengan berbohong dan mengajak beberapa temannya untuk meyakinkan guru bahwa dia tidak bersalah.  Nur Hamidah: Untuk mengatasi anak-anak yang seperti ini kita harus mengetahui latar  belakang keluarganya terlebih dahulu, adakan pendekatan jangan langsung memvonis karena kemungkinan besar anak yang suka berperilaku tidak baik sebenarnya minta untuk diperhatikan karena di lingkungan keluarganya terabaikan, kurang perhatian dari kedua orangtuanya. Jadi berat tugas fasilitator zaman milenial tetapi tetap semangat kita memang dituntut jadi fasilitator dan konselor. Ami: sebenarnya saya sudah berbicara dengan Bundanya, perilaku ini dimulai sejak kelas 1 dan berlanjut sampai sekarang. Saya menyarankan ke orangtuanya agar ada kesamaan kebijakan antara Ayah dan Ibu ketika mengevaluasi sikap anak. Sikap anak terhadap gurunya cukup kurang sopan, terkadang bahasa yang digunakan kurang bagus, egonya cukup tinggi. Sampai saat ini saya belum bisa memberi nasihat secara langsung, jika si anak berbuat tidak baik kepada temannya karena setiap saya mulai memanggilnya dia sudah pasang barrier … Read more

Merdeka Belajar – Terus Menerus Belajar

Seru dan menyenangkan. Itulah kata-kata yang dapat menggambarkan kegiatan Nonton Bareng (Nobar) Guru Merdeka Belajar Komunitas Guru Belajar (KGB) Binjai pada hari Selasa, 27 Agustus 2019 lalu. Kegiatan ini adalah kerjasama KGB Binjai dengan salah satu organisasi mahasiswa Kota Binjai yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Binjai dan dilaksanakan di Sekretariat HMI Cabang Binjai Jalan T. Amir Hamzah Binjai. Karena menggandeng HMI sebagai organisasi mahasiswa, maka awalnya acara nobar ini dilaksanakan dengan target peserta yaitu mahasiswa-mahasiswa jurusan kependidikan dari universitas dan sekolah tinggi ilmu pendidikan yang ada di Kota Binjai. Namun ternyata antusiasme guru-guru Kota Binjai terhadap kegiatan ini cukup baik, yang ditandai dengan hadirnya peserta guru selain mahasiswa. Bahkan sebagian besar mahasiswa yang hadir pun ternyata bukan hanya mahasiswa yang kuliah di kampus semata, namun juga mahasiswa yang sudah terjun sebagai guru honorer dan sudah mengajar di sejumlah sekolah di Kota Binjai.  Kesempatan ini dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Moderator Acara sekaligus calon penggerak KGB Binjai, Surya Herdiansyah untuk melakukan jaring pendapat dari seluruh peserta. Kegiatan yang awalnya hanya diperuntukkan untuk sosialisasi KGB Binjai dan memperkenalkan konsep Guru Merdeka Belajar lewat Nonton Bareng (Nobar) kepada mahasiswa, akhirnya diarahkan menjadi diskusi interaktif seputar permasalahan mengajar yang dihadapi guru dalam kesehariannya. Setelah nobar selesai, acara menjadi seru dan menyenangkan karena hampir seluruh peserta terlibat secara aktif dalam diskusi.  Diskusi interaktif diawali dengan diskusi mengenai merdeka belajar. Menurut Hayatus Sahidah, guru dari SDIT Al Fityah Binjai, merdeka belajar itu adalah merdeka belajar kapanpun dan dimanapun. Guru harus terus menerus belajar dan tidak mengenal kata berhenti belajar. Belajar juga bukan harus terbatas pada pelatihan-pelatihan kedinasan yang diadakan, tapi guru harus tetap membuka diri untuk belajar hal-hal baru kapanpun dan dimanapun.  Menurut Lusiana Matondang, guru dari SMPIT Al Fityah Binjai, merdeka belajar adalah kondisi ketika guru tidak hanya terpaku pada buku teks. Merdeka belajar selaras dengan ruh dari Kurikulum 2013 (K13/ Kurtilas) dimana murid yang lebih aktif daripada guru. Demi merangsang keaktifan murid, guru tidak boleh hanya terjebak di metode ceramah saja. Guru yang merdeka belajar berarti mampu memfasilitasi murid untuk juga merdeka belajar dengan berbagai metode.  Menurut Yusi Wijayanti, pengurus KOHATI HMI Cabang Binjai, merdeka belajar adalah kondisi dimana guru mampu melaksanakan proses belajar mengajar dengan menggunakan hati nurani/ perasaan sehingga guru akan peka dan memahami apa yang murid butuhkan. Bila guru memahami kebutuhan murid, maka kreatifitas murid dapat ditingkatkan sesuai dengan potensi, minat dan bakat murid tersebut.  Mayoritas para peserta menarik sebuah kesimpulan bersama bahwa sebagai guru merdeka belajar, maka pengembangan diri yang dapat dilakukan oleh seorang guru adalah tidak bergantung kepada minimnya sarana dan prasarana sekolah, atau halangan lainnya, melainkan harus berupaya memberdayakan diri sendiri untuk bisa melakukan yang terbaik bagi peserta didik.  Selain berdiskusi tentang merdeka belajar, ada pula sharing moment mengenai permasalahan mengajar dari mahasiswa yang juga menjadi guru honorer, Maya dari SMA Karya Agung, yang bertanya mengenai bagaimana tips dan trik menghadapi murid yang lebih sering memperhatikan guru daripada memperhatikan mata pelajaran yang diajarkan oleh guru. Usia peserta didik yang tidak terlalu jauh dengan usia guru honorer ini membuat guru Maya terkadang gelisah dengan perhatian berlebihan para muridnya ketika ia mengajar.  Ada beberapa saran dari guru-guru yang hadir. Susiana, guru SMPIT Al Fityah menyampaikan bahwa guru perlu mematut diri di cermin dan mempertimbangkan gaya/ style yang menunjukkan kewibawaan seorang guru sebelum masuk ke ruang kelas. Gaya/ style ini bukanlah gaya jaim yang berjarak dengan murid, namun seperti yang disampaikan salah seorang penggerak KGB Binjai yang hadir, Lisza Megasari dari SLB Negeri Binjai, gaya yang dimaksudkan dapat dianalogikan dengan gaya tarik ulur ketika bermain layangan. Bila selalu ditarik, maka layangan tidak akan terbang tinggi. Namun bila selalu diulur, maka layangan akan lepas dan malah tidak bisa dimainkan. Bermain layangan membutuhkan proses seimbang antara gaya tarik dan ulur yang disesuaikan dengan arah dan kecepatan angin ketika bermain layangan. Begitulah kira-kira analogi dari hubungan guru-murid yang terjadi selama pembelajaran maupun selama berinteraksi di luar jam pembelajaran. Sejalan dengan hal ini, Lusiana Matondang dari SMPIT AL Fityah Binjai menyampaikan bahwa guru perlu untuk menyeimbangkan kapan waktu menegakkan aturan yang tegas. Apapun yang dilakukan guru perlu didasarkan kepada keinginan luhur untuk mendukung murid menjadi pribadi yang lebih baik. Proses belajar mengajar bukan hanya transfer ilmu dari guru kepada murid, tapi yang lebih penting adalah dalam rangka pembangunan karakter positif pada diri murid. Salah satunya dapat dilakukan lewat Kontrak Belajar di hari pertama kegiatan pembelajaran (di Komunitas Guru Belajar, istilah Kontrak Belajar ini lebih dikenal dengan Kesepakatan Kelas).  Di akhir acara, moderator mengarahkan peserta untuk berdiskusi seputar literasi. Apakah peserta menganggap bahwa literasi adalah sama dengan membaca buku semata? Itu pertanyaan yang diajukan ke forum acara. Peserta diajak untuk mengkritisi praktik literasi yang pada pelaksanaannya cenderung terbatas pada membaca 15 menit sebelum memulai kegiatan pembelajaran di kelas.  Mayoritas peserta ternyata memiliki pemahaman yang menarik mengenai literasi. Devi Agustina, guru dari SMPIT Al Fityah menyampaikan bahwa saat ini terjadi masalah besar bagi anak-anak Indonesia, yaitu turunnya minat anak untuk membaca buku. Dan menurut Lisza Megasari, guru SLB Negeri Binjai, orangtua di Indonesia cenderung berlomba-lomba agar anaknya sudah bisa membaca di usia balita. Para balita ini diajari membaca huruf demi huruf, kata demi kata dan bukannya diajarkan untuk menyukai membaca lewat buku bergambar dan metode yang menarik lainnya. Sehingga budaya cinta membaca bertukar menjadi budaya cepat-cepat balita bisa baca. Padahal baca tulis hitung (calistung), idealnya diajarkan di bangku SD di usia lebih dari 6 tahun (bukan balita).  Menyikapi diskusi tentang minat baca di Indonesia yang rendah, Ramadhani, guru dari SDIT Al Fityah menyampaikan bahwa ada perbedaan besar antara belajar membaca dan membaca untuk belajar. Belajar untuk membaca hanya akan memberikan tuntutan bagi anak untuk bisa cepat baca, sedangkan membaca untuk belajar adalah sebuah upaya menjadikan membaca sebagai salah satu cara belajar. Belajar perlulah dilakukan seumur hidup. Karena itu, membaca juga idealnya dilakukan bukan hanya pada buku-buku teks pelajaran sekolah, tapi lebih dari itu semua. Bagi Ramadhani, literasi itu lebih dari sekedar membaca semata, literasi adalah sebuah keterampilan mengolah informasi secara lebih bijaksana.  Andrian Firdaus, mahasiswa dari STKIP Budidaya Binjai yang juga guru SMP Karya Agung, … Read more

Merdeka Belajar – Apakah Merdeka Berarti Bebas?

Pada tanggal 10 september 2019 kemarin, saya Intan Rizki dan rekan saya Suhaimi mengadakan kegiatan nonton bareng Guru Merdeka Belajar bersama seluruh guru di sekolah tempat kami mengajar yaitu IVS ALFATA Banda Aceh. Alhamdulillah, turut serta hadir salah satu guru dari Al-Fityan Islamic School Banda Aceh yang bernama Bu Dian. Di awal saya informasikan kepada teman-teman mengenai kegiatan ini, banyak diantara mereka yang bingung, sehingga ada yang bertanya: “Nonton bareng?” “Film kah?”, atau “Ohh.. nonton bareng film yang ada unsur pendidikannya ya?” dan berbagai pertanyaan lainnya.  Sedikit informasi, di sekolah kami yang namanya upgrading ilmu bagi guru-guru bukanlah hal yang langka. Setiap hari kamis merupakan hari training bagi guru-guru di sekolah, yang dipimpin langsung oleh Ketua Yayasan dan Kepala Sekolah dengan berbagai materi kependidikan dan ilmu pola asuh.  Nah, ketika kami (pihak penyelenggara) menyampaikan tentang judul nobarnya yaitu Guru Merdeka Belajar, semua teman-teman guru sangat excited dengan kata MERDEKA. Sehingga memunculkan pertanyaan “Apakah karena kita baru saja merayakan 17 Agustus sehingga judulnya seperti itu?” atau “merdeka apa ini?” Saat nonton bareng di mulai, saya melemparkan beberapa pertanyaan pemantik bagi para peserta yaitu: Apa itu merdeka? Kebebasan seperti apa ? Lantas, apa kaitannya merdeka dengan belajar? Awalnya mereka sedikit bingung dan takut untuk menjelaskan maksud dari merdeka itu sendiri. Akhirnya setelah saya persilakan satu per satu baru ada yang menjawab bahwa merdeka itu adalah bebas. Ms. Nisa, salah satu peserta saat itu menjelaskan bahwa merdeka belajar itu adalah kebebasan seseorang dalam proses belajar mengajarnya. Ms. Julika juga menambahkan makna dari merdeka belajar adalah kebebasan seorang anak dalam belajar sehingga tidak ada intervensi dari orang tua, keluarga, lingkungan hingga siapapun, dan jawaban-jawaban serupa dari para peserta lainnya, sehingga menimbulkan diskusi dan tanya jawab diantara para peserta. Menarik! Nah, untuk lebih memantapkan lagi diskusi ini, kami pun langsung saja memutarkan video dari Ibu Najelaa Shihab mengenai apa itu guru merdeka belajar. Video berdurasi 15 menit ini berhasil mencuri hati dan mengalihkan sudut pandang beberapa orang peserta. Maklum saja, di sekolah kami ada guru-guru yang fresh graduated sehingga banyak sekali informasi-informasi dan ilmu-ilmu baru bagi mereka atau bahkan ada yang belum pernah mereka dapatkan sebelumnya. Setelah menonton video ini, kegalauan dan kebimbangan mulai terlihat di raut wajah peserta. Langsung saja kami selaku pihak penyelenggara menunjukkan pertanyaan refleksi yang tersedia sebagai ajang refleksi bagi diri sendiri. Para peserta sudah mulai mesem-mesem sendiri, karena mereka mulai menilai ke diri mereka masing-masing. “Ternyata banyak sekali miskonsepsi yang terjadi di diri kita selama ini” papar salah seorang dari mereka. Diantaranya adalah masih adanya rasa ego yang tinggi dalam menuntut ilmu dan mengembangkan ilmu; sehingga terkesan seperti sedang berkompetisi satu diantara lainnya yang tujuannya adalah untuk terlihat hebat di mata teman atau atasan. Kemudian, masih adanya pemahaman belajar kepada yang lebih senior tanpa mempertimbangkan kesesuaian ilmu tersebut apakah layak atau tidak untuk diterapkan di era seperti sekarang ini. Ada juga guru yang ilmu dan pemahamannya akan pendidikan sudah mumpuni, namun kurang cukup waktu untuk merefleksi diri dikarenakan banyaknya pekerjaan sampingan yang ingin mereka kerjakan. Maka dari itulah, miskonsepsi ini terus terjadi di lingkungan tenaga pendidik.  Situasi semakin jelas, ketika mereka mulai menuliskan jawaban atas pertanyaan refleksi yang kami berikan. Sesi refleksi ini, menjadi ajang muhasabah diri bagi para peserta. Alhasil, membutuhkan waktu lebih dari 20 menit. Di tengah-tengah kegiatan, Bu Dian, pamit undur diri dari acara ini karena mendapatkan kabar bahwa anaknya sakit. Sehingga, Bu Dian tidak bisa menyelesaikan tulisan hasil refleksi pada saat itu. Yang di kemudian waktu, dikirimkan melalui pesan whatsapp kepada kami.  Setelah sesi menulis refleksi selesai, para peserta terlebih guru-guru fresh graduated mulai menyadari kendala yang mereka dapatkan di diri mereka selama ini, yaitu selama ini mereka “dibesarkan” dengan pemahaman konservatif yang membuat mereka sendiri belum merdeka belajar. Sehingga semua peserta sangat setuju sekali dengan istilah Guru Merdeka Belajar. Yang mana tidak memenjarakan diri akan keingintahuan suatu ilmu dan mematikan kreativitas seseorang yang mengikuti alur miskonsepsi selama ini.  Diakhir acara, para peserta menyimpulkan bahwa mereka sangat setuju dengan 3 poin penting yang dipaparkan Ibu Najelaa Shihab, yaitu: 1. Komitmen pada tujuan Bahwa selama ini, para peserta belum sepenuhnya berkomitmen pada diri sendiri apa tujuan akhir mereka belajar. Pun, apa tujuan mereka menjadi guru selain karena mengikuti jejak orang tuanya yang berprofesi guru dan menambah pendapatan bulanan. 2. Mandiri terhadap cara belajar Selama ini begitu banyak kita menjiplak gaya dan cara belajar seseorang yang tanpa kita sadari sebenarnya kita bisa saja lebih menarik daripada itu. Secara otomatis kita lupa, bahwa Tuhan menciptakan manusia itu penuh dengan keunikan dan keberagaman sehingga di setiap diri seseorang terdapat gayanya sendiri dalam belajar atau mengajar. 3. Melakukan refleksi Inilah poin yang sangat sulit atau bahkan hampir tidak pernah dilakukan oleh tenaga pendidik yaitu merefleksi diri. Terkadang kita terlalu bangga akan status guru yang melekat di diri kita sehingga kita merasa tidak ada yang kurang atau salah pada diri seorang guru. Padahal dengan melakukan refleksi diri kita bisa terus berubah dan berbenah diri untuk kemajuan anak didik kita nanti. Inilah tiga poin penting yang mengubah sudut pandang para peserta. Yang mana di akhir acara mereka masih mendiskusikan ilmu dan pemahaman yang luar biasa ini. Semoga dengan adanya kegiatan nonton bareng ini, para peserta menjadi paham akan esensi mengembangkan semangat belajar bagi tenaga pendidik seperti kita. Sebagai kalimat penutup, saya mewawancarai salah satu peserta dengan bertanya “Apa pengembangan diri yang ingin mereka capai sebagai  Guru Merdeka Belajar?” Sebuah jawaban yang meluluhkan hati saya yaitu “Saya ingin peserta didik saya merasakan kebermaknaan dari apa yang ia pelajari”. Ya inilah, Merdeka Belajar!

Guru Merdeka Belajar adalah Pelajar Sepanjang Hayat

Siang terik tak menyulutkan semangat pada calon penggerak untuk melaksanakan kegiatan Nobar Merdeka Belajar, TPD III – Komunitas Guru Belajar Sidoarjo (KGB). Perubahan kondisi tempat, membuat ide-ide kreatif calon penggerak untuk tetap mempersiapkan acara Nobar tetap terlaksana, mulai dari mengkondisikan tempat, menyiapkan perlengkapan yang unik karena layar proyektor menggunakan kain polos kepunyaan pendidik yang tergabung dalam KGB yang kemudian disandarkan pada etalase Warung Barokah yang di atasnya diberi tumpukkan minuman supaya kain tidak bergeser tempat. Selain itu, tidak lupa menyiapkan camilan dan minuman sederhana yang nantinya akan menemani kegiatan sampai selesai, dan dibeli dari dana pribadi pak Zen penggerak KGB Sidoarjo.  Saya hanya berdecak kagum dalam hati, begitu berdaya teman-teman calon penggerak yang mau ikut berkontribusi agar acara bisa terlaksana. Agenda nonton bareng Film Merdeka Belajar hadir untuk memfasilitasi para pendidik merefleksikan diri dan berbagi solusi tentang keresahan yang dihadapi saat pembelajaran dikelas. “Agenda nonton bareng ini tidak hanya sekadar menjadi agenda nonton bareng, tapi punya aspek yang bermanfaat lainnya, yang berguna bagi para pendidik yang tergabung dalam KGB,” ungkap Zen Penggerak KGB Sidoarjo.  Ternyata kegiatan nonton bareng ini mampu menghidupkan forum, untuk bersama-sama sesama pendidik merefleksikan diri dan berbagi pengalaman bagaimana menjadi guru merdeka belajar. Satu persatu teman pendidik menyampaikan bahwa apa motivasi mereka mengikuti kegiatan nonton bareng yang difasilitasi KGB Sidoarjo, seperti halnya bu Ainun yang menjawab “Motivasi saya ikut kegiatan nonton bareng KGB Sidoarjo adalah agar bisa belajar dan mempunyai motivasi menjadi pembelajar”. “Belajar tidak memandang usia, karena usia bukan pembatas untuk berhenti belajar”, ujar Bu Nafisa guru dari sekolah AN-NAHL Sidoarjo.  “Jejaring komunitas seperti ini, ibarat lilin seketika lilin yang menyala salah satunya padam, maka masih ada lilin lainnya yang tetap menyala dan menyinari”, ungkap Bu Anggi calon penggerak KGB Sidoarjo. Kegiatan yang membawa manfaat ini sangat berdampak bagi kami yang siang itu datang mengikuti kegiatan nonton bareng video Merdeka Belajar sampai selesai. Guru Merdeka belajar mempunyai 3 makna yaitu komitmen, mandiri dan refleksi. Komitmen terkait pengakuan dalam diri untuk mampu dan mau menjadi guru pembelajar dengan ikhlas ingin memberikan ilmu yang bermanfaat, mandiri dalam arti bagaimana mencari solusi keresahan yang dialami pendidik, menggali kebutuhan dan minat belajar murid. Yang ketiga adalah refleksi, dan mempunyai makna bahwa setiap pendidik harus bercermin apakah model, media, cara pembelajaran yang sudah diterapkan sesuai atau tidak dengan kebutuhan peserta didik, sudah nyamankah mereka belajar bersama kita di dalam kelas.  Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Masuk pada sesi refleksi ada ungkapan yang mendalam diucapkan oleh beberapa pendidik terkait pertanyaan moderator yaitu “Apa perubahan di dalam kelas yang ingin dilakukan setelah mengikuti KGB?”.  “ Komitmen terkait menjaga dan menata niat kita, yang mengutip pernyataan KH. Maimoen Zubair, bahwa ketika kita menjadi guru jangan menuntut murid kita pintar, nanti yang ada malah kita marah-marah, cukup doakan saja agar kelak dia bermanfaat”, ungkap Bu Ainun.  Rangkaian kegiatan hari ini yang begitu membawa banyak manfaat bagi teman-teman pendidik maupun diri saya pribadi, bahwa dengan bersama-sama merefleksikan diri secara tidak langsung kita bergegas dan bergerak menjadi Guru Merdeka Belajar. Dan mulai sekarang kami bersepakat bahwa menjadi guru merdeka belajar adalah mengawali diri untuk mau menjadi guru pembelajar sepanjang hayat bukan hanya memenuhi kewajiban tetapi berkomitmen menjalankan kewajiban untuk ikut berperan dalam tujuan pendidikan nasional. Terima Kasih KGB Sidoarjo, terima kasih teman-teman pendidik, terima kasih Kampus Guru Cikal yang telah mempertemukan dan memfasilitasi kami para pendidik dengan kegiatan yang sangat bermanfaat. Salam Guru Merdeka Belajar Ingin Tahu Bagaimana Praktik Merdeka Belajar di Kelas? Klik link di bawah ini

Harapan Menuju Merdeka Belajar

Keberhasilan pendidikan tidak mutlak berada di tangan guru. Tetapi membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa guru memegang peranan penting. Keberhasilan pendidikan akan mudah dicapai apabila tercipta Merdeka Belajar. Untuk menciptakan kondisi tersebut, maka perlu pemahaman tentang Merdeka Belajar. Setelah aktif mengikuti akun media sosial  Kampus Cikal Guru, saya tergerak untuk bergabung membuat perubahan menuju Merdeka Belajar. Khususnya di daerah tempat tinggal saya, yaitu di Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara. Sebagai langkah awal, saya mengajak guru-guru di Langkat untuk nonton bareng video motivasi dari Kampus Cikal Guru. Ajakan saya tujukan kepada guru-guru yang mengajar di sekolah tempat saya mengajar. Undangan untuk nonton bareng juga saya sebarkan melalui grup MGMP IPS Langkat, sesuai mapel yang saya ampu. Guru-guru di sekolah kami sangat antusias untuk nonton bareng. Hal tersebut menjadi cambukan semangat buat saya. Sementara guru-guru yang tergabung dalam MGMP IPS Langkat, tidak hadir. Karena keterbatasan jarak dan waktu. Acara nonton bareng diadakan pada hari Sabtu tanggal 24 Agustus 2019. Saya sebagai tuan rumah menjadi moderator pada Temu Pendidik ini.  Untuk bantuan teknis dukungan diberikan oleh operator sekolah. Kegiatan nonton bareng ini diadakan di aula kantor guru di SMP Negeri 2 Tanjung Pura. Setelah banyak guru yang sudah berkumpul, acara langsung saya mulai. Sebagai kata-kata pembuka, saya menggugah rasa ingin tahu peserta nonton bareng. Sebagian besar peserta tergelitik mendengar judul Merdeka Belajar. Mereka menduga, kegiatan ini terkait dengan HUT RI ke 74. Karena kegiatan ini diadakan bertepatan dengan momen peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Sebagian besar peserta berpendapat bahwa “Merdeka” berarti bebas dari penderitaan.  Dan “Merdeka Belajar” mereka tafsirkan sebagai kebebasan dalam belajar yang tanpa aturan. Ibu Umi Hidayah, Guru mapel Matematika, mengatakan : “Merdeka Belajar berarti libur, tidak ada pembelajaran.” Dan hal tersebut mengundang gelak tawa peserta yang lain. Pemutaran video pun segera dimulai. Saya ajak peserta untuk menyaksikan video dengan seksama dan meresapi setiap kata-kata ibu Najelaa Shihab selaku pembicara dalam video tersebut.  Setelah video selesai diputar, sebagian besar peserta mengungkapkan sedikit kekecewaan. Karena video yang ditayangkan terasa sangat singkat. Mereka butuh lebih banyak penjelasan. Mereka butuh contoh konkrit untuk mewujudkan “Merdeka Belajar”. Mereka menyadari banyak miskonsepsi yang mereka lakukan selama ini. Terlihat dari gerak mulut dan sedikit suara “Oo…” pada saat mereka menonton bagian miskonsepsi. Pada sesi refleksi, saya mengajak peserta untuk kembali mengingat miskonsepsi  yang dijelaskan dalam video. Lalu saya bertanya kepada mereka :” Di antara semua miskonsepsi tadi, mana yang paling menggambarkan diri Anda?”. Beberapa peserta mempunyai jawaban yang sama yaitu belajar perlu insentif eksternal. Sebagai pembelajar Andragogi, guru perlu motivasi yang dianggap menguntungkan secara ekonomi agar mau belajar. Dan melalui forum nonton bareng ini, mereka menyadari bahwa belajar sebagai kebutuhan alamiah. Mereka bersedia hadir mengikuti kegiatan nonton bareng tanpa imbalan insentif ataupun sertifikat. Mereka aktif mengikuti sesi refleksi dan tanya jawab. Tanpa mereka sadar bahwa kegiatan ini juga merupakan suatu pembelajaran. Pak Gunawan, wakil kepala sekolah berkata: “Miskonsepsi yang paling menggambarkan diri saya yaitu beranggapan bahwa kompetensi bersifat individual. Karena karakteristik manusia itu berbeda-beda. Dan pastinya tingkat kompetensinya juga berbeda.” Pernyataan Pak Gunawan ditanggapi oleh Pak Syufri Effendi, guru mapel Bahasa Inggris, “ Saya juga sependapat dengan Pak Gunawan. Apalagi dengan pernyataan bahwa Guru adalah kunci. Saya rasa hal itu  benar. Tanpa guru, maka pendidikan tidak akan berhasil, maka guru adalah kuncinya”. Saya memberi tanggapan terhadap pernyataan mereka. Jika guru adalah kunci, berarti output pendidikan yang dihasilkan menjadi tanggung jawab guru. Jika baik hasilnya, berarti kuncinya baik. Jika buruk hasilnya, maukah guru dikatakan tidak baik? Mereka serempak menjawab.”Tidak!!”. Oleh karena itu, saya ajak peserta untuk bersama memahami miskonsepsi yang selama ini terjadi. Dan berusaha untuk merubah miskonsepsi tersebut. Dalam video dijelaskan bahwa ciri Guru Merdeka Belajar adalah Komitmen pada tujuan, Mandiri terhadap cara belajar, dan Melakukan refleksi. Sebagian besar peserta setuju dengan pernyataan tersebut. Karena ketiga hal tersebut merupakan kunci menjadi guru yang baik bagi sebagian besar peserta.  Namun ada tantangan di balik pernyataan mereka. Tantangan yang sedikit menciutkan semangat saya untuk melakukan perubahan. Mereka beranggapan bahwa usia merupakan hambatan menuju Guru Merdeka Belajar. Sebagian peserta adalah guru yang sudah mengabdi puluhan tahun di sekolah kami. Mereka mendukung gerakan Guru Merdeka Belajar. Tetapi mereka pesimis dengan kemampuan mereka. Karena usia yang sudah tidak muda lagi. Dan tidak cakap dalam penguasaan IT. Mereka sudah beberapa kali mengikuti pelatihan untuk mengasah kompetensi pedagogik maupun profesional. Hasilnya hanya beberapa yang mereka terapkan dalam proses pembelajaran. Dan akhirnya kembali ke metode pengajaran konvensional. Karena rasa pesimis yang begitu besar. Walau kadar semangat menurun, saya berusaha bangkit. Kembali menyampaikan motivasi bagi mereka. Saya kaitkan dengan pernyataan pembicara dalam video.  Saya harus yakin bahwa ada setitik asa untuk mewujudkan perubahan dalam pola pikir mereka. Salah satu nya yaitu kesediaan mereka untuk hadir dalam forum ini. Dan juga dukungan dari beberapa orang guru baru di sekolah kami. Kehadiran 4 orang guru baru di sekolah kami, membawa angin segar dalam mewujudkan gerakan Guru Merdeka Belajar. Selain karena usia yang masih muda, semangat mereka juga masih menyala. Mereka menyatakan ingin menjadi Guru Merdeka Belajar. Bu Risma Muntia dan Pak Surya Aldi menyatakan kesiapan mereka menjadi Guru Merdeka Belajar. Alasan Bu Risma adalah karena dirinya belum memiliki banyak pengalaman dalam dunia pendidikan, sehingga ingin sekali belajar lebih banyak lagi. Sementara alasan Pak Surya ingin menjadi Guru Merdeka Belajar adalah karena dia ingin siswanya merasakan Merdeka Belajar. Belajar tanpa paksaan. Bu Wahyuni Hasibuan berkata: ”Saya sangat ingin menjadi Guru Merdeka Belajar. Saya akan berusaha membuat teknik mengajar yang menyenangkan. Dan menyelipkan ice breaking di sela-sela pembelajaran. Sehingga siswa tidak jenuh.” Sementara Pak Edy Hermawan menyatakan akan menciptakan suasana kelas yang nyaman, bersih dan indah. Sehingga siswa betah belajar dalam ruangan. Dia juga akan membuat pojok baca di dalam kelas, yang didesain unik dan menarik. Sehingga memotivasi siswa untuk tertarik berliterasi. Mendengar pernyataan dari beberapa guru baru tersebut, sedikit mengubah mindset guru yang lain. Terlihat dari pernyataan Bu Debbie Sukraini yang bertanya  tentang kelanjutan kegiatan ini. Apabila ada forum lanjutan ataupun komunitas penggerak Guru Merdeka Belajar, ia bersedia untuk bergabung. Bu Zulfah Riza juga menyatakan kesediaannya untuk mengikuti forum lanjutan. Dan akan menyebarkan informasi … Read more